SCP-084-ID
rating: +6+–x




Bulan bersinar terang di langit malam yang cerah. Jikalau tidak dikalahkan cahaya buatan manusia di bawahnya yang memenuhi tanah malam, tentu ialah yang saat ini menjadi sumber cahaya satu-satunya bagi orang-orang. Tiada yang menghargai cahaya bulan sampai semua lampu lain padam.

Disekelilingnya bertebaran bintang-bintang bermiliaran kilometer jauhnya di luar sana. Tetapi di sini mereka hanya berakhir menjadi bintik terang kecil yang berkelap-kelip. Langit lumayan bersih tanpa awan ataupun asap buatan sehingga mereka tetap bisa menampakkan diri mereka.

Tempat baik untuk mengamati langit malam adalah jauh dari pemukiman. Di pegunungan atau di lautan, tiadalah terganggu kehidupan malam manusia. Tempat terbaik kedua adalah di tengah perbatasan alam tersebut. Pantai merupakan pilihan terbaik untuk kategori tersebut. Angin lembut mengayunkan pepohonan di pinggir pantai, menghasilkan suara gemerisik pelan dari jauh. Geburan ombak dari lautan yang menghantam pantai, menghasilkan suara gemuruh keras dari dekat. Semua untuk menemani orang yang ingin mengamati langit malam yang cahayanya dipantulkan lautan.

Tetapi bagaimana dengan pelabuhan kalau begitu. Perbatasan alam buatan manusia. Suara mesin kapal dan derek jangkung menggantikan suara pepohonan. Arus laut langsung menghantam dermaga dan kapal, tidak sempat membentuk gelombang besar. Terlebih lagi puluhan lampu di sepanjang pinggiran sampai ke deretan kapal yang berjejer. Semua yang dapat menghalangi orang menikmati malam dengan tenang.

Tetapi jika saja semua itu tadi tidak ada, maka apakah berbeda.

Seorang pria tengah berdiri di tepi bangunan. Rambut hitamnya tertiup pelan angin yang berhembus di ketinggian itu. Dia mengamati dirinya tengah berdiri di atas atap sebuah gedung tua setinggi lima lantai. Area sekelilingnya lumayan terbengkalai, kapal-kapal besar berada jauh di sisi lain tempatnya berada. Listrik di daerah ini sudah lama padam, menyelimuti tempat itu dalam kegelapan malam.

Tetapi itu tidaklah masalah baginya. Cahaya bulan sudah cukup untuk dirinya nikmati. Tidak ada suara selain derit besi berkarat yang tertiup angin entah di mana di bangunan ini. Ombak laut jauh menggempur di bawah, terdengar samar tiap hantamannya.

Dalam kesunyian itu dia bisa mendengar suara langkah kaki terdengar dari kejauhan, semakin mendekat tiap langkah. Pada akhirnya terdengar suara pintu terbuka dengan keras. Pria itu berbalik dan mengamati beberapa orang berseragam biru gelap berlapis rompi menodongkan pistol dengan tangan kanan mereka dan senter taktis di tangan kiri mereka. Seorang pria memakai kemeja hitam berdiri di tengah mereka. Dia terlihat sangat tidak senang.

Pria di tepi bangunan menatap mereka dengan tatapan yang sama yang selalu dia berikan, bosan tanpa ekspresi. Dia berbalik kembali ke arah laut dan memejamkan matanya.

Dan dia mulai berlari.


“Jadi, saya rasa kita bisa memulai sesi kita untuk kali ini, Zakaria?”

Seorang pria berkata selagi menyiapkan buku catatannya. Dia mengamati lawan bicaranya yang duduk di seberangnya. Dia hanya menunduk, pikiran jelas memikirkan hal lain.

Pria pertama mengembuskan nafas selagi menjentikkan jarinya beberapa kali. Dia tidaklah suka waktunya terbuang sia-sia tanpa mempelajari apa-apa. Dia segera berkata, “Zakaria, kita langsung saja ke pertanyaan pertama: ceritakan saat kau awalnya ditugaskan untuk misi itu. Kita bisa mulai dari situ setidaknya… Jadi bagaimana reaksi awalmu?”

Zakaria perlahan menatap ke arahnya.


Sebuah ketukan pintu terdengar. Seorang pria yang mengenakan kemeja putih segera berjalan mendekati pintu dan membukanya. Setelah dibuka, seorang pria yang mengenakan kemeja hitam berada di depan ambang pintu.

“Robert! Ada apa ya sampai kau datang kemari?” Yang membukakan pintu berkata.

“Aku akan ke Jakarta besok bersama sisa anggota tim seperti yang kubilang sebelumnya.” Dia berkata. Dia hanya diam di ambang pintu, tidaklah berjalan lebih jauh dari sana.

“Ya, jadi ada apa mengenai itu, ya?” Lawan bicaranya bertanya lagi.

Robert hanya menunjuk ke dalam ruangan. Ada seseorang lagi di ruangan tengah sibuk menulis, tidak memedulikan tamu yang datang.

“Aku akan menyertakan asistenmu untuk misi di sana, Dirgo.” Robert berkata.

Perkataannya tidak hanya menarik perhatian Dirgo, asistennya itu ikut menoleh begitu mendengar perkataannya dari kejauhan.

“Apa… apa instruksi Sang Engineer sudah ada?” Dirgo bertanya untuk ketiga kalinya.

Robert menggeleng sebagai jawaban. “Tidak, kemauanku sendiri. Sudah kubilang aku ingin agen, bukan pekerja kantoran.”

Dirgo terlihat berpikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia mengangguk dan berkata, “Baik, dia milikmu.”

Robert mengangguk atas keputusannya dan akhirnya melangkah masuk ke dalam.


“Awalnya aku tidaklah memedulikan saat dia menghampiri dan mengikutkanku dalam misi,”

“Aku kembali ke Jakarta, untuk melihat mereka membunuh orang lain, sebuah eksekusi.”

“Ku pikir, ‘apa bedanya?’ Melihat orang membunuh orang lain, bagiku itu sama saja.”

“Aku tidak menduga… Aku benar-benar tidak menduga hidupku berubah selamanya… Karenanya.”


Sekitar dua belas orang berada di dalam sebuah ruangan kecil. Satu-satunya cahaya berasal dari proyektor yang berada di tengah ruangan. Seorang pria berdiri di ujung ruangan, di samping layar presentasi. Sebelas orang lainnya duduk mengamati di sisi lainnya.

“Saya rasa kita bisa memulai briefing misi kita sekarang.” Dia berkata selagi menekan tombol untuk mengubah slide. Gambar bintang biru khas GOC berganti menjadi foto seorang perempuan yang sepertinya diambil dari jauh dan diperbesar. Hanya 2/3 wajahnya yang terlihat karena dia tidak menghadap ke kamera, tetapi bisa terlihat kalau rambutnya itu hitam panjang.

“Target kita adalah seorang Tipe Biru bernama Rosalina Dhara. Dia mampu melakukan taumaturgi cuaca dengan ritual mendatangkan hujan sederhana dengan keris warisan yang dimilikinya.” Jelasnya. “Dia memang bukan ancaman rendah berdasarkan sejarah dokumentasi kita, tetapi itu berubah saat kami mengamati dia tengah sibuk membuat sesuatu sejak beberapa hari yang lalu.”

“Kami mengamati jumlah pembelian beragam besi dan mesin darinya dan tentu saja kami memantaunya untuk beberapa hari.” Sang pembicara berkata sebelum menekan tombol dan mengubah tampilan layar. Kini terdapat foto siluet dua orang tengah berdiri di dalam gang kecil. Dari rambutnya yang panjang, sosok yang di kiri sepertinya merupakan perempuan sebelumnya.

“Pengintai mengatakan dia didatangi seseorang saat itu. Identitas orang kedua ternyata adalah KTE-1910-Blue-Warhol-Freud atau dikenal sebagai ‘Sijjin’. Dia pelaku yang dulu pernah membuat penghuni satu hotel di kota ini saling bunuh saat tengah mengadakan pameran seni. Untungnya kita duluan yang mengamankan situasi di sana sebelum Yayasan datang. Sekarang dia dicurigai sebagai salah satu orang yang berpengaruh di organisasi teroris AWCY.”

“Jadi dengan dirinya menarik perhatian seseorang sepertinya, ini jelas tidak bisa diabaikan lagi.” Sang pembicara kembali mengganti tampilan layar. Kini gambar berubah menjadi sebuah peta. Peta kota Jakarta Utara, berdasarkan keterangan di sampingnya. Terdapat dua buah titik merah diikuti beberapa titik kuning di sekelilingnya, sedikit berpusat di daerah pinggiran.

“Kalian akan terbagi menjadi tiga tim. Tim pertama terdiri dari lima orang.” Dia berkata selagi mendekati layar. Dia menunjuk ke titik merah yang berada sedikit lebih dekat ke pusat kota. “Tugas kalian adalah melacak K1. Titik merah merupakan lokasi terakhir dia terlihat, sedangkan titik kuning di sekelilingnya merupakan kemungkinan lokasi yang dia lalui berdasarkan pengamatan sebelumnya.”

“Tim kedua terdiri dari tiga orang,” lanjutnya, “Kalian yang akan mengurus P1. Lokasi terakhirnya adalah di titik ini, dekati dan dapatkan informasi mengenai apa yang tengah dia buat.”

“Dan tim terakhir mengurus sisanya: keamanan operasi, respon cepat dan mewaspadai Yayasan. Kita berada di teritori Situs-118 Yayasan, jadi usahakan kalian semua tidak menarik perhatian.” Dia mengakhiri penjelasannya. Dia mengamati orang-orang yang sedari tadi memperhatikan penjelasannya. Akhirnya dia berkata, “Baik, apa ada pertanyaan?”

Satu tangan terangkat. Pemiliknya adalah seorang pria yang mengenakan seragam kemeja putih standar. Sang pembicara memberikan gestur silahkan bertanya, jadi pria tersebut menurunkan tangannya dan berkata, “Ya. izin bertanya Pak Robert, kenapa untuk tim kedua tidak ditangani dengan jumlah anggota tim yang sama dengan tim pertama?”

Beberapa orang menatapnya saat bertanya. Pria tersebut yakin dirinya baru saja menanyakan sesuatu yang dianggap mereka bodoh, tetapi dia tidaklah memedulikan hal tersebut. Dia baru dalam urusan ini, dan dia tidak akan mengambil risiko untuk diam mengamati situasi semata.

“Karena meskipun dia target kita, level ancamannya cuma satu. Dia cuma bisa ritual pemanggil hujan, bisa apa dia?” Robert menjawab selagi terkekeh.

Pria tersebut mengangguk mengerti. Tetapi dia merasa orang-orang di sini terlalu meremehkannya. Dia memang bukanlah agen seperti orang-orang di sini, tetapi tetap saja sedikit waspada bukanlah masalah.

“Jadi selanjutnya adalah pembagian anggota tiap tim.” Robert mematikan proyektor dan mulai berjalan ke arah meja.


“Baik, jadi, kenapa aku masuk tim pengintai Rosalina?” Pria tersebut mengangkat tangan dan bertanya lagi begitu pembagian telah dilakukan. “Ini pertama kalinya saya di lapangan, bukankah berada di tim tiga lebih cocok untuk meningkatkan kesuksesan misi?”

Para agen kembali menatapnya begitu bertanya. Berbeda dari sebelumnya, mereka lebih ke arah terkejut kenapa dirinya menanyakan hal tersebut. Dia tetap saja tidak memedulikan hal seperti itu, dia merasa itu hal yang masuk akal untuk ditanyakan.

“…Jika kau cuma agen biasa, kau akan kukeluarkan dari misi saat ini juga karena berani menanyakan hal itu.” Robert berkata. “Tetapi yah… aku yang mengikutkanmu ke misi ini, jadi akan ku jawab.”

Dia berjalan mendekati pria yang bertanya tadi sampai dirasanya cukup dekat untuk saling berhadapan. “Ingat saat aku bilang kita perlu mendekati target? Ku rasa seorang psikolog sepertimu seharusnya bisa melakukan hal tersebut dengan mudah.”

Begitu ya… Pikir pria tersebut.

Robert berjalan menjauh darinya setelah itu. “Jika kau takut berada di luar sana, bilang saja dan akan kupulangkan kau kembali ke fasilitas, Zakaria.” Dia berkata. “Aku pernah berkata dulu, aku perlu agen, bukan pekerja kantoran.”

Itu bukan pilihan yang buruk bagi Zakaria. Dia di sini bukan karena instruksi Sang Engineer, tetapi cuma karena kemauan pribadi Robert.

Tetapi dia merasa kalau tugasnya cuma mendekati target, dia rasa itu di dalam kemampuannya. Dia pernah meyakinkan orang membunuh, apa sulitnya sekedar mendekati orang semata. Dia merasa penasaran akan kemampuannya sendiri.

“Aku cuma perlu alasan ditempatkan di tim. Dan aku merasa alasan tersebut dapat diterima.” Zakaria berkata di belakang Robert.

“Tidak ada lagi pertanyaan, aku menerima tugasku.”


“Ku kira mendekatinya adalah hal termudah.”

“Tetapi tetap berada di dekatnya adalah bagian tersusah.”

”Aku terlalu menggampangkan misi saat itu.”

“Kau harus tahu, dia keras kepala seperti batu.”


“Ini ide bodoh…”

Salah seorang pria berpakaian biasa dan mengenakan jaket kain kumal berkata. Dia mengatakannya kepada seorang pria lain di depannya yang berpakaian lebih rapi, dengan kemeja berlapis jaket hijau tua dan celana jean biru tua.

“Kau punya ide yang lebih bagus untuk mendekatinya?” Yang memakai kemeja berkata.

Pria yang pertama mengangkat bahu. “Mereka menunjukmu sebagai ketua misi, Zak. Aku cuma memberikan pendapat. Memikirkan ide lain itu tugasmu.”

Zakaria mengembuskan nafas. Dia memang ditunjuk Robert sebagai pemimpin tim ini. Dan ini cara terbaik yang bisa dia pikirkan berdasarkan pengalamannya.

Di depannya, dua orang agen yang berada di timnya dia suruh berpakaian kumuh dan sebentar lagi mereka berdua akan diperintahkannya untuk mencoba merampok target mereka.

“Dengar, Pak Robert sudah mengatakan dia cuma tipe biru lemah. Kalian berdua akan menyerangnya dan aku akan di sana mencoba melawan kalian. Dia akan berterima kasih kepadaku dan misi berjalan lancar.” Zakaria menjelaskan. Dua orang agen di depannya hanya menatapnya dengan tidak yakin. Zakaria sendiri cukup percaya diri dengan rencananya. Berdasarkan yang dia pelajari dulu, konsep saling balas budi atas kebaikan merupakan fondasi keberlangsungan manusia sejak dulu. Quid pro quo.

Tentu dia juga memikirkan apa yang terjadi jika dibalas dengan air tuba, tetapi dia bisa mempermainkan logikanya tergantung kondisi nanti.

“Kalian cuma perlu pura-pura jadi preman dan aku akan urus sisanya. Jika aku sukses mendekatinya, praktisnya tugas kalian selesai dan kalian bisa santai, kan?”

Kedua agen tersebut saling tatap sebelum mengangkat bahu dan menerima penjelasannya. Kini mereka bertiga diam menunggu di sebuah gang sempit. Sepertinya karena alasan ekonomi, target mereka lebih memilih jalan kaki saja untuk bepergian. Itu mengingatkan Zakaria kembali ke pertanyaan bagaimana dia dapat uang untuk hidup selama ini, tetapi dia memilih tidak memikirkan itu lebih lanjut. Dia lalu kembali merancang apa yang akan dia lakukan dan katakan saat momennya nanti.

Salah satu agen mengamati situasi di balik gang dengan cermin kecil yang dia pasang. Pada akhirnya dia memberikan sinyal kalau target mereka sudah dekat. Zakaria segera menjauh supaya tidak terlihat olehnya. Dia bersembunyi di ujung gang satunya dan menunggu suara teriakan targetnya.

Zakaria bisa mendengar suara samar dari kejauhan. Suara-suara intonasi tinggi dan singkat jelas berasal dari para agen yang tengah mengancam target. Dia lalu mendengar suara ribut seperti suara benturan. Zakaria mulai ragu, dia tidaklah menyuruh para agen menyakiti target, cukup mengancamnya saja. Dia berpikir apakah target tengah melawan sehingga para agen harus mengambil langkah kekerasan.

Pada akhirnya tidak terdengar suara apa pun. Zakaria merasa sudah waktunya untuk memunculkan dirinya. Dia perlahan melangkah dan mengamati gang. Dia tertegun akan apa yang dia lihat.

Dua orang agen yang berpura-pura jadi preman tadi kini terbaring kesakitan sementara perempuan yang jadi target mereka perlahan mencoba berdiri, jelas kelelahan. Mata kanan Zakaria tanpa sadar berkedut melihat skenario di luar rancangannya ini.

Apa- bagaimana- Zakaria terdiam di sana mengamati bagaimana para agen bisa gagal melakukan tugasnya. Tiba-tiba Zakaria tersadar dia masih berdiri di depan gang tanpa melakukan apa pun, jadi dengan cepat dia berseru, “Hei! Apa yang kau lakukan!?”

Perempuan tersebut jelas terkejut mendengar teriakannya dan segera lari menjauh. Zakaria segera berlari dan mencoba mengejarnya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelahnya mengingat skenario rancangannya gagal, tetapi setidaknya dia bisa mengejarnya dulu dan mengajaknya bicara.

Tetapi Zakaria baru sampai di lokasi kejadian ketika perempuan tersebut sudah hilang dari pandangan. Dia melirik ke salah satu agen yang duduk terbaring dan berkata, “Apa-apaan kalian ini? Kenapa kalian kalah darinya?”

“Ku kira dia tidak akan melawan! Aku masih mending dipukulnya di wajah, meski kepalaku membentur dinding karenanya.” Agen tersebut berkata dengan kesal.

“Bagaimana dengan temanmu ini?” Zakaria bertanya selagi mengamati agen satunya yang terbaring kesakitan membelakanginya.

“Oh, kau tak akan mau tahu dia ditendang di mana…” Agen tadi menjawab. Zakaria mengangguk mengerti. Melihat kedua orang yang menemaninya tidaklah berguna. Dia berkata, “Aku akan mengejarnya.” dan tanpa menunggu respon mereka, dia segera berlari.

Sampai akhirnya dia mencapai titik terakhir dia melihat perempuan tadi selagi mencoba bernafas. Dia tahu dirinya memang pekerja kantoran, tetapi dia lebih suka menganggap perempuan itu yang tidak normal mengingat dia mengalahkan dua orang agen terlatih.

Dia menyerah dan berjalan kembali ke dua orang agen yang dilihatnya kini perlahan berdiri kembali. Dia bisa mendengar salah satu dari mereka berteriak sumpah serapah.

“Kita kehilangan dia untuk hari ini.” Zakaria berkata. “Semoga kita bisa mencoba ini lagi besok. Setidaknya kalian punya alasan bagus untuk menyerangnya nanti.”

“Jadi bagaimana sekarang?” Salah satu agen bertanya.

“Sekarang kalian kembali ke rumah aman dan jika ada yang bertanya, jelaskan bagaimana kalian bisa gagal atau apa. Aku akan mencoba mencari target kembali.” Jawab Zakaria.

“Kenapa tidak kita semua saja yang cari?” Agen itu bertanya lagi.

“Pertama, kalian baru saja dihajar perempuan.” Zakaria berkata. Salah satu agen jelas sangat kesal mendengarnya. “Kedua, jika dia melihat dan mengenali kalian, dia akan lari lagi dan meminimalkan kemungkinan kita bisa menemukannya nanti.”

“Dan ketiga,” Zakaria berkata, kali ini dengan senyum. “Aku ketua tim ini, sudah tanggung jawabku untuk menyelesaikan tugas kita. Jadi kalian istirahat saja sana sementara aku mencarinya.”

Dua orang agen tersebut saling menatap sebelum akhirnya salah satunya mengangguk dan melangkah pergi, diikuti agen lainnya. Zakaria menatap mereka berjalan menuju mobil yang mereka parkir cukup jauh dari lokasi. Zakaria tidaklah masalah nanti harus memakai ojek untuk kembali. Lebih tepatnya, dia kini berbalik dan tersenyum mengetahui rencananya memisahkan diri dari anak buahnya berhasil.

Dia memiliki pelacak, jadi dia tidak bisa ke tempat hiburan atau semacamnya, tetapi setidaknya dia bisa jalan santai melihat-lihat kota.


“Hah…”

Zakaria mengembuskan nafas. Dia memandangi kursi kosong di depannya sebelum memandangi ke luar jendela. Sesekali dia melirik ke makanan di depannya apakah sudah berhenti mengepulkan asap atau tidak.

Dia kini berada di restoran kecil di dekat tempatnya beroperasi tadi. Setelah hari sudah gelap, dia rasa sudah waktunya dia kembali ke rumah aman. Dia dan anggotanya ditempatkan di rumah kost yang telah disewa GOC, terpisah dari tim lain. Dia sejujurnya lebih memilih tidur di kamar mess berdinding beton abu-abu dingin di dalam fasilitas dibanding berbaring di ranjang tipis kamar berdinding kayu di sana. Sesuatu mengenai hal itu mengingatkannya akan masa kecil sialannya.

Dia mengamati ke luar jendela. Hari sedikit gerimis saat dia masuk tadi, menilai dari jumlah tetes hujan yang menghantam di luar sekarang, hujan tadi semakin lebat. Itulah kenapa dia memesan makanan hangat tadi.

Dia mulai menyuap makanan di depannya selagi melirik ke arah kaca yang berdampingan dengan jalan trotoar. Dia ingat kalau mengamati hujan dan menikmati suara gemerisiknya merupakan terapi yang bagus untuk menenangkan pikiran.

Zakaria merasa sudah saatnya dia benar-benar bersantai. Dia tahu dia sama sekali tidaklah bekerja dan cuma jalan-jalan semata, tetapi sudah saatnya dia tidak memikirkan mengenai target mereka yang hilang. Dia mengambil teh hangat di depannya dan mulai meminumnya.

Seseorang tiba-tiba melintas menerobos hujan di luar sana. Melihat pakaian dan rambut hitam panjangnya yang terayun, Zakaria langsung menyemburkan minumannya.

Dengan segera dia berlari ke pintu keluar. Dia mengeluarkan dompetnya dan langsung meraih 100.000 rupiah. Diletakannya di kasir selagi menyebutkan nomor mejanya dan kalau dia harus buru-buru. Dia tidaklah ingat lagi kalau dia cuma memesan nasi goreng dan teh hangat yang seharusnya cuma seharga 30.000 rupiah saja. Dia bahkan langsung menerobos hujan yang semakin deras selagi melepas jaketnya untuk naungan.

Untungnya kali ini sepertinya perempuan di depannya sudah kelelahan sehingga cukup lambat. Dia cuma memakai kaus biru muda dan jeans biru tua, dan saat ini pakaiannya tersebut sudah basah kuyub. Entah sejak mana dia mulai menerobos hujan, tetapi tujuannya jelas dekat.

“Tunggu!" Zakaria mencoba berteriak. Dia jelas membuat perempuan itu menoleh sehingga dia bisa mendekatinya.

“Kau menerobos hujan sudah sejauh apa sampai seperti itu?” Katanya selagi menyodorkan jaketnya. “Kita coba mencari tempat berteduh. Hujan ini hanya akan semakin deras saat ini.”

Perempuan tersebut menatapnya dan mencoba berpikir apakah dia mengenalnya, sampai akhirnya dia tidak memedulikan itu dan segera berlari, diikuti Zakaria.

Mereka akhirnya sampai di gang kecil tempat Zakaria mencoba menyerangnya. Perempuan tersebut melirik sekilas ke sana, jelas masih ingat akan kejadian sebelumnya. Tetapi kemudian dia memasuki gang tersebut. Di sana memang memberikan naungan karena atap dua buah bangunan besar yang menghimpitnya. Sepertinya dia tidaklah masalah memasuki lokasi dirinya diserang tadi. Zakaria mengikuti di belakang.

“Jadi, pertama aku ingin kau mendengarkanku dulu.” Zakaria berkata duluan, mengamankan kesempatan dirinya bicara.

“Tentu, gue bingung lu kenapa baik amat ngasih jaket buat gue.” Perempuan tersebut membalas. Dia jelas terlihat ingin penjelasan dan tak sabar akan hal itu.

“Yeeesh, tidak bisakah seseorang menolong tanpa dipertanyakan…” Zakaria mengguman. “Jadi gini, uhm… kau ingat menyerang dua orang di tempat ini?”

Zakaria bisa melihat dia tertegun mendengar hal itu. Dia mulai mengepalkan tangan kanannya, jadi Zakaria dengan segera berkata, “Tenang dulu, biarkan aku menyelesaikan.”

“Gak usah banyak omong, dah. Kalau kau kira gue yang nyerang duluan, mereka yang sebenarnya duluan nyerang gue. Gue gak mau urusan ke kantor polisi jadi tolong jangan coba bawa gue ke sana.”

“Percayalah aku juga tidak ingin berurusan ke sana. Jadi mengenai itu, saat aku melihat siapa yang menyerangmu… ehm…” Zakaria berusaha keras memikirkan perkataan berikutnya. “Mereka teman kuliahku.”

“Apa?” Perempuan tersebut jelas bingung mendengarnya.

“Ya, mereka- kami satu angkatan dulu, mereka berdua berhenti pada semester tiga. Kehidupan bebas dan semacam itu.” Zakaria mencoba sebisanya terlihat seakan dia memang gugup karena menceritakan itu dan bukannya gugup karena mengarangnya seketika.

“Baik, jadi apa maksud lu ngedatangin gue kalau gitu?” Dia bertanya dengan tangannya dilipatnya.

“Pertama, kau sepertinya sudah memberi mereka pelajaran untuk tidak mencoba merampok orang.” Zakaria berkata, “Kedua, ku rasa aku harus meminta maaf padamu untuk mereka.”

Zakaria menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Perempuan tersebut sepertinya ragu untuk melakukannya. “Huh… Baik?” Dia berkata selagi menjabat tangannya.

“Kau bisa memanggilku Zakaria. Siapa namamu?” Zakaria bertanya. Dia jelas sudah tahu identitas targetnya, tetapi dia juga harus mengetahuinya langsung darinya.

“Rosalina Dhara. Pakai H setelah D.” Dia menjawab selagi perlahan melepas jabat tangannya.

“Jadi apa yang kau sebelumnya lakukan sebelum diserang tadi? Apa kau ingin ke suatu tempat tadi?” Zakaria perlahan mengarahkan arah pertanyaannya.

“Uhh… gue cuma mau pulang kok tadi.” Rosalina menjawab perlahan.

“Oh ya, mengenai itu…” Tidak membutuhkan Zakaria waktu lama untuk memikirkan perkataan selanjutnya karena begitu melirik ke luar gang, dia segera melanjutkan, “Bagaimana kalau kau kuantar pulang? Aku memang naik ojek tadi, tapi aku bisa membayarkannya untukmu. Anggap itu sebagai-”

“Ah… Gak usah. Gue bisa pulang sendiri kok.” Dia mencoba tersenyum meski dia jelas gugup akan hal itu.

Zakaria tidak akan membiarkan kesempatan mendapatkan lokasi rumah targetnya lewat begitu saja. “Hujan masih deras. Kau tak mungkin berjalan lebih jauh di kondisi seperti ini.” Zakaria membujuknya.

Rosalina sepertinya mempertimbangkan sarannya. Dia perlahan melangkah mengamati hujan yang berada di luar gang. “Nih, pegang dulu.” Dia berkata selagi menyerahkan jaket yang dipegangnya kembali ke Zakaria.

Dan tiba-tiba dia berlari menerobos hujan. “Makasih buat jaketnya tadi!” Teriaknya selagi menjauh. Zakaria hanya menatapnya berlari menjauh. Dia tidak akan mengejarnya dalam hujan sederas ini. Tetapi dia merasa dia perlu berbangga karena setidaknya dia setengah berhasil mencoba mendekatinya.

Sesuatu kemudian terlintas di pikirannya selagi mengamatinya menghilang di tikungan. Dia berkata saat pertama diserang, dia sedang menuju ke arah rumah. Tetapi kenapa dirinya awalnya datang dari arah rumahnya mengganggu pikiran Zakaria. Dia jelas berbohong akan lokasi rumahnya.

Memikirkan hal tersebut, Zakaria segera berlari ke sisi seberang gang. Begitu sampai, dia melihat sekeliling dan tidak menemukan apa pun. Dia duduk menunggu dan mengamati dari kejauhan. tetapi jalanan cuma diterangi lampu jalanan. Dia hanya bisa melihat siapa pun yang melintas di depannya.

Setelah beberapa saat dia mengamati jalanan yang masih diguyur hujan. Dia merasa sudah waktunya memesan ojek.


“Itu percobaan pertamaku, upaya terbaikku”

“Setidaknya aku mendapatkan sesuatu hari itu”

“Ku kira akan berhasil di percobaan ketiga jika bukan percobaan kedua.”

“Tetapi tentu saja, tak ada yang menduga apa yang terjadi di luar sana.”


“Dia masih belum lewat?”

Dua orang pria tengah mengamati jalanan dari kaca gelap mobil yang mereka naiki. Itu merupakan jalan tempat mereka mencegat target untuk pertama kalinya. Sudah lewat beberapa puluh menit, tetapi dia tidaklah terlihat.

“Tungguin saja dua-tiga jam” Salah satu pria menjawab pertanyaan pertama tadi.

“Kau tak mengatakan sesuatu yang mencurigakan kemarin itu, kan Zak?” Yang pertama bertanya tadi bertanya lagi, kali ini ke orang ketiga di dalam mobil itu.

“Pertama, ku harap kau mau memanggilku ketua, setidaknya selama misi ini.” Zakaria di kursi belakang menyahut. “Dan untuk pertanyaanmu, ya. Aku mencoba mendapatkan alamatnya dengan alasan ingin mengantarnya pulang. Dia menolak.”

“Heh, ku rasa itu sesuatu yang mencurigakan untuk ditanyakan.” Pria tadi membalas.

“Dia akan lebih ragu melalui jalan ini mengingat kalian berdua mencegatnya di sana. Meski ku harap dia akan lebih percaya diri mengingat dia sudah mempermalukan kalian berdua.” Zakaria menyanggah.

“Tch.”

Zakaria tersenyum selagi melirik ke jendela. Target mereka memang belum terlihat. Tidak ada jaminan dia akan melewati mereka. Dia ingin menyarankan anggota timnya berpencar, tetapi mereka cuma punya satu mobil untuk bersembunyi. Seharusnya mereka membawa topi tadi.

Tiba-tiba, radio berderak. Salah satu agen mengangkatnya dan merespon.

“Kami menemukan P1 bersama seseorang tak dikenal. Sekitar stasiun. Lokasi akan dikirimkan.” Radio berkata dengan singkat. Tetapi itu cukup untuk orang-orang di mobil seketika bersiap.

Zakaria tidaklah menduga tim lain yang menemukannya. Lokasinya juga lumayan dekat. Agen yang mengemudi segera menginjak gas sementara agen satunya membuka perangkatnya untuk melihat lokasi tepatnya. Zakaria sendiri duduk di belakang, memikirkan skenario yang mungkin terjadi dan apa yang harus dia lakukan di sana.

“Kami di Lagoa Kanal, ETA 2 menit.” Salah satu agen merespon.

Dengan kecepatan mereka, mereka sampai di lokasi dalam hitungan menit. Mereka mengamati lokasi yang ditandai, mencoba mencari target mereka. Sesuatu menangkap perhatian Zakaria di kejauhan. Dia melihat seorang perempuan berambut panjang di pojokan bersama seorang pria berjaket kulit coklat. “Itu, di sana!” Dia berteriak.

“Kau mau kami mencegatnya lagi?” Salah satu agen bertanya.

“Nah, aku saja yang mendekatinya.” Dia membuka pintu mobil dan segera turun. “Kalian terus pantau dari kejauhan.”

Para agen mengangguk mengerti selagi Zakaria menutup pintu. Dia segera berjalan cepat ke arah mereka berdua, mencoba tidak terlihat mencurigakan.

Tetapi saat semakin dekat, dia menyadari pria tak dikenal yang bersama target sepertinya menggenggam kedua pergelangan tangan target. Dilihat lagi, targetnya sepertinya mencoba menjauh.

“Hei! Apa yang kau lakukan!?” Zakaria berteriak selagi mulai berlari. Pria yang bersamanya terlihat terkejut dan mendorong target menjauh sebelum lari. Dia segera mencoba menolong target.

“Apa yang- lu lagi?” Dia terkejut melihat Zakaria untuk kedua kalinya. Sedikit kesal juga, sepertinya.

“Rosalina, kan? Aku kira temanku membuat ulah lagi, tapi aku tidak kenal siapa dia tadi.” Zakaria menjawab.

“Bukan. Sudah ku hajar toh kemarin. Yang tadi itu kenalan gue.” Dia menjawab, tetapi pandangannya berfokus ke arah stasiun, ke arah pria tadi lari sebelum hilang di samping bangunan.

“Yeesh, cukup banyak yang ingin menghajarmu, ya?” Komentar Zakaria.

Rosalina menatap dengan kesal seraya berkata, “Ga usah ngurusin urusan gue.”

“Baik,” Zakaria mundur menunjukkan dirinya tidaklah lagi akan menanyainya. “Tapi bicara mengenai itu, aku benar-benar khawatir kalau dua orang itu dendam padamu.”

Zakaria merogoh saku di kemejanya dan mengeluarkan sebuah pulpen. Dia lalu merogoh kantong celananya mencari sesuatu sampai dirinya menemukan struk belanja warung kemarin. Dia mulai menulis di sisi belakang struk itu.

“Jadi, kau telepon nomorku jika kau dihadang mereka. Kau bisa lapor polisi, tapi aku bisa mengenali tempat tinggal mereka.” Kata Zakaria setelah akhirnya selesai menulis dan menyerahkannya ke Rosalina.

“Gak, ah. Ngapain.” Kata Rosalina segera. Tetapi dia sudah keburu menerimanya dan Zakaria menolak mengambilnya.

“Simpan saja jika kau ada perlu. Aku masih ngerasa ada hutang budi lah.” Zakaria berkata selagi menjauh. “Aku duluan, ya.”

Zakaria segera berjalan kembali menuju mobil. Rencana di otaknya saat ini adalah merencanakan serangan kedua sehingga perempuan tersebut menelponnya. Dia seharusnya bisa mengonfirmasi lokasi rumahnya nanti begitu memiliki nomor teleponnya.

“Tunggu,”

Tiba-tiba terdengar suara di belakangnya. Zakaria berhenti dan segera menoleh; Rosalina menatapnya dengan nomor telepon pemberiannya masih ditangannya. Zakaria khawatir dia akan menolak menerimanya kembali sehingga dia dengan perlahan berkata, “Ya, ada apa?”

Rosalina sendiri sepertinya ragu-ragu mengatakan apa yang ingin dia sampaikan, tetapi akhirnya dia berkata, “Kalau lu emang mau bantu, gue perlu bantuan pindahin barang.”

Zakaria tidak tahu apa yang dia maksud mengenai itu, tetapi dia punya firasat.

“Oh, tentu!” Dia berkata selagi tersenyum. Dan itu senyum murni.

Dia punya firasat yang baik.


“Cukup… jauh juga… yah…” Zakaria berkata selagi mencoba mengontrol nafasnya. Dia sudah berjalan mengikuti Rosalina menyusuri jalanan pinggiran Jakarta selama beberapa puluh menit.

Dia mengamati matahari siang yang cukup terik untuk hari ini dan berharap awan akan menutupinya nanti. Dia menyukai cuaca cerah seperti sekarang, tetapi dia juga biasanya tidaklah berjalan di tengah siang hari seperti ini.

“Bentar lagi sampai kok. Itu area gudangnya.” Rosalina berkata selagi menunjuk ke arah depan. Mereka kini telah sampai di area pelabuhan. Zakaria sudah memastikan anggota timnya yang di mobil tadi untuk mengikuti mereka.

“Seingatku kau kemarin ku lihat juga jalan kaki saja, kau tak pesan ojek?” Zakaria bertanya di tengah upaya bernafasnya.

“Yee, mending buat makan.” Balas Rosalina. Zakaria mengamati bahwa selain dia masih mengenakan kaus biru meski yang ini sedikit lebih kehijau-hijauan, dia selalu mengenakan celana jeans pendek. Dia pernah dengar kalau itu membantu orang untuk berlari lebih cepat, dan jika ada sesuatu yang dia ingat, itu adalah targetnya pelari yang sangat cepat.

Tetapi sepertinya dia cuma berjalan cepat. Dia tidaklah lari ataupun berjalan santai. Sepertinya dia tahu Zakaria tengah kelelahan saat ini.

Mereka segera memasuki kumpulan gudang penyimpanan yang tengah sepi minim orang. Masuk akal mengingat cuaca di luar. Terdapat beberapa mobil box putih terparkir di sepanjang bangunan. Beberapa rolling door gudang terbuka, sebagian besar tertutup.

“Kau… tinggal di sini?” Zakaria mencoba bertanya selagi mengamati tiap gudang.

“Nggak, lah. Ini cuma gudang nyimpan barang. Gue teknisnya minjem punya teman.” Rosalina menjawab selagi terkekeh.

Zakaria mengangguk mendengar itu. Ini bukan rumah target, tetapi sepertinya lebih baik dari itu. Jika dugaannya benar, di sinilah tempat dia menyimpat alat incaran mereka.

Rosalina berjalan duluan ke arah salah satu gudang dan mendekati pintunya. Terdapat mobil box juga di depannya. Dia membuka pintu tersebut dan mengangkatnya ke atas. Zakaria mengikutinya masuk ke dalam gudang.

Begitu lampu dinyalakan, saat itulah Zakaria bisa melihatnya.

Sebuah mesin kira-kira satu meter lebih tinggi darinya. Terbuat dari besi, terdiri dari banyak bagian mencuat. Bagian dalamnya masih terbuka, menunjukkan struktur mesin tersebut.

“Kau mau aku memindahkan… ini?” Zakaria bertanya kepada Rosalina yang kini mulai mengutak-atik mesin tersebut.

“Gak, bukan. Bawa barang gue yang di sana,”Dia menggeleng dan menjawab selagi menunjuk ke pojok ruangan. Di sana ada sekumpulan perabotan seperti laptop, lampu meja, kipas angin, bahkan sebuah kasur dengan beberapa bantal. Beberapa kaus tergantung juga di pojok. “Taruh di mobil box di luar. Kuncinya di meja.”

“Ah, baik.” Zakaria mengangguk mengerti selagi segera berjalan ke arah pojok. Dia mengambil apa yang dia bisa dan segera mengambil kunci mobil yang disinggung tadi. Dia mengamati Rosalina membongkar mesin besar itu, cabang demi cabang diturunkannya. Jelas mesin itu tidak akan muat jika tidaklah dipotong setengah ukurannya.

Zakaria ingin bertanya mengenai apa mesin itu, tetapi dia rasa sebaiknya dia selesaikan dulu tugasnya supaya dia tidak dirasa terlalu banyak bicara.

Sayangnya Rosalina lebih cepat dalam membongkar mesinnya dan memasukkannya ke dalam sehingga dia ikut membantu Zakaria. Zakaria sendiri tidaklah masalah, setidaknya dia tidak perlu bekerja serius sekarang.

Setelah semua selesai, Rosalina menutup dan mengunci pintu gudang dan bergegas ke mobil. Zakaria sudah menunggu di samping pintu, mengamatinya mendekat. Dengan segera mereka berdua masuk ke mobil, dengan Rosalina yang mengemudikannya.

“Kau yang punya mobil ini?” Zakaria bertanya selagi mesin dinyalakan.

“Bukan, sudah gue bilang ini punya teman beserta gudangnya. Dia tukang antar di sini, tapi akhir-akhir ini ada masalah ama matanya, makanya gue yang ambil alih tugasnya. Lumayan dapat duit tambahan juga.” Jelasnya.

“Begitu ya…” Zakaria membalas selagi mengamati mereka perlahan keluar dari area parkiran. Mereka kini di luar area gudang dan berada di jalan raya.

Awalnya dia mengira tujuan mereka lumayan jauh, tetapi beberapa saat kemudian, Rosalina membelokkan mobilnya kembali ke arah area pelabuhan. Mereka memasuki area gudang berbeda, meski bangunan gudang di sini lebih kecil.

Mobil mereka mulai melambat dan mendekati sebuah gudang baru dengan perlahan sebelum berhenti di depan pintunya. Rosalina segera keluar dari mobilnya dan membuka rolling door di sana. Zakaria ikut turun dan mengamatinya.

“Lu bisa bawa masuk yang lu angkat tadi.” Dia berkata selagi kini berjalan ke arah mobil boxnya.

“Lah-“ Zakaria mencoba menyanggah, hanya untuk tersadar kalau dia seharusnya mencoba membantunya untuk mendapat kepercayaannya. “Ehm, tentu.” Dia meralat.

Dan dengan hembusan nafas kesal – dia mencoba agar tidak terdengar olehnya – dirinya ikut mulai menurunkan barang dan memasukkannya ke dalam bangunan.

Saat memindahkan kasur, Zakaria memutuskan untuk bertanya, “Izin bertanya, tetapi kasur ini untuk apa, ya? Kau punya rumah, kan?”

Rosalina menoleh dan berkata, “Oh, gue jarang pulang sih. Ada kerjaan, jadi tanggung gitu buat pulang. Mending di sini aja.”

Zakaria mengangguk mengerti. Itu menjelaskan arah pulangnya dulu yang membingungkannya. Itu juga menjelaskan tumpukan pakaiannya tadi. Artinya lokasi yang didapatkannya ini adalah hal terbaik yang bisa dia dapat karena alamat rumahnya praktis tidak berguna karena itu. Dia akan menyampaikan itu nanti dengan ketua timnya.

Setelah akhirnya meletakkan seluruh barang-barangnya, akhirnya Zakaria merasa inilah kesempatannya untuk bertanya. Dengan perlahan dia mendekatinya, berdiri di belakangnya, mengamati mesin yang tengah dipasangnya, dan akhirnya berbicara, “Jadi, apa yang kau tengah buat ini?”

“Oh, uh, ini?” Rosalina menoleh ke arahnya. “Ini proyek iseng saja mumpung gue kerja di sini.”

“Iseng? Kau lumayan serius saat menanganinya. Kau yakin ini cuma proyek iseng?” Zakaria menekannya. Benda ini praktisnya seperti sebuah prototipe Dalek raksaksa dengan sepuluh tangan. GOC punya seluruh alasan yang tepat untuk khawatir dengan apa pun yang tengah dia kerjakan.

Rosalina sepertinya termenung sebelum menjawab. Dia menatap mesin yang tengah dirangkainya selagi berkata, “Gak juga sih… Ini… Ini kayak proyek impian gitu sih.”

“Huh, jadi begitu.” Zakaria menanggapi selagi mulai berkeliling mengamati mesin tersebut. Dia merasa bagian dalamnya mengingatkannya akan bagian mesin mobil yang pernah dia lihat saat dibongkar di bengkel. Dia mengamatinya dengan seksama, mencoba mencari sesuatu yang janggal, sesuatu yang anomalus untuk disinggung. “Jadi apa fungsi mesin ini? Ku lihat banyak bagian di dalamnya.”

“Ah, dia cuma mutar-mutar doang, kok.” Rosalina berkata.

“Tidak mungkin ‘proyek impian’mu cuma terdiri dari sebuah mesin yang cuma memutar-mutar batangan ini seperti komidi putar. Kecuali ini memang komidi putar mini.” Zakaria menanggapi dengan tatapan tak percaya. Tangannya memegang salah satu dari sepuluh batangan besi yang mencuat, terhubung ke mesin. Di ujung tiap batangan berbentuk lingkaran dengan lubang di tengahnya cukup untuk memasukkan atau menahan sesuatu. Dia mendorongnya dan mengetahui bahwa Batangan tersebut memang bisa berputar.

“Gak, bukan. Bukan gitu.” Rosalina membantah. Tetapi dia jelas terlihat berpikir mengenai balasannya selanjutnya. Zakaria menatapnya yang masih terdiam selagi menunggu jawaban. Dia yakin Rosalina akan terpaksa menjelaskan kemampuan taumaturginya karena tanpa itu, ini memang mesin tidak berguna.

“Ah, lu gak bakal paham, deh.” Rosalina akhirnya berkata dengan kesal, di luar dugaan Zakaria pula.

“Oh, ayolah. Tidak apa kok menjelaskannya kepadaku. Aku sudah menolongmu sejauh ini, ku rasa menyimpan rahasia bukanlah hal berat dibanding itu.” Zakaria menccoba membujuknya.

Rosalina diam mendengar itu dan kembali berpikir. Pada akhirnya dia berjalan menjauh menuju barang-barangnya yang tadi diangkut ke sana oleh Zakaria. Dia meraih sesuatu di kotak tempat Zakaria menaruh pakaiannya. Ternyata dia mengambil jaket parasut biru tua. Dia segera mengenakannya.

Dia kemudian mendekati sebuah kotak kardus yang masih tersegel lakban. Dia membukanya – langsung tanpa gunting, mengakibatkan kardus sedikit rusak – dan meraih ke dalamnya sebelum mengeluarkan sesuatu yang panjang dari sana.

Saat Rosalina cukup dekat, Zakaria akhirnya menyadari bahwa itu adalah sebuah keris, masih dalam sarungnya.

“Ini akan terdengar konyol, jadi lu jangan coba tertawa.” Rosalina berkata dengan serius.

Zakaria hanya mengangguk sebagai tanda mengerti. Dia tahu apa yang akan bicarakan. Dia sudah selangkah di depannya.

“Gue… gue bisa nurunin hujan.”

Meh. Sudah tahu itu.

“Heh, bagaimana caranya, kalau begitu?” Zakaria menyilangkan lengannya, sengaja menunjukkan ekspresi tidak percaya. Dia sebenarnya juga penasaran akan bagaimana taumaturgi bekerja.

Rosalina menunjukkan kepadanya keris yang dipegangnya sedari tadi. “Ini keris punya bapak dulu. Gue tahu ritual pemanggil hujan sederhana pakai ini.”

“Kau percaya hal mistis kayak gitu?” Zakaria bertanya.

Rosalina hanya menggeleng. “Gak. Gue beneran bisa, kok. Lu mau liat?”

Zakaria tersenyum. “Tentu, coba aja.”

“Gak masalah kalau nunggu sebentar, kan?” Rosalina berkata selagi berjalan keluar. “Biasanya gue matok biaya buat ginian.”

“Ah, jadi itu kerjaan aslimu.” Zakaria menanggapi selagi terkekeh.

“Lu bakal kaget kalau tahu banyak orang minta gue ngegagalin nikahan orang pake hujan.” Rosalina hanya membalas. Dia jelas terlihat tidak sabaran untuk membungkam mulut Zakaria dengan membuktikan keahliannya.

Mereka berjalan selama beberapa saat menyebrangi jalan mobil barang sebelum sampai di sebuah tanah lapang tanpa rumput.

Begitu di luar, Rosalina segera berlutut dan meletakkan keris miliknya di hadapannya. Dengan perlahan dia membuka sarung kerisnya dan mengangkat keris hitam tersebut…

…Sebelum menikamkannya berkali-kali secepat yang dia bisa, awalnya sambil berteriak pula.

“Apa yang…” Bahkan Zakaria kebingungan mengamati apa yang tengah dia lakukan.

“Apaan?! Gue kudu gini kalau mau hujannya cepat terkumpul!” Rosalina berkata keras selagi terus menikam tanah.

Zakaria hanya menatap perempuan di depannya terus menikam tanah seperti orang gila. Dan orang membayar untuk ini? Zakaria berpikir. Meski ku akui, GOC punya alasan yang baik mengkhawatirkan ancaman dari orang… tidak wajar seperti dia ini.

“Baik! Sudah… seratus kali…” Rosalina akhirnya berkata selagi berdiri.

Zakaria menatap ke arah langit yang masih cerah sebelum berkata, “Jadi, mana-“

Sebelum drinya sempat bertanya, Rosalina segera lari ke arah kiri. Begitu sampai di pojok lapangan, dia kembali berlutut dan dengan seksama melepas perlahan keris tadi dari sarungnya…

…sebelum menikamnya lagi dengan cepat.

Zakaria yang akhirnya sampai ke tempatnya setelah berlari mengikutinya memutuskan untuk bertanya, “Apa… apa-apaan tadi?”

“Gue kudu ngelilingi lapangan ini supaya cepat turun! Kalau gue cuma ngelakuinnya di satu titik bakal makan waktu seharian!” Jawabanya segera.

“Dan berapa lama tepatnya hujan akan turun jika kau melakukan itu?” Zakaria bertanya kembali.

“Kira-kira sejam lebih dikit kelar kok!” Dia berkata meyakinkan.

Zakaria mundur memikirkan itu. Orang ini akan berkeliling lapangan selama satu jam di tengah terik panas matahari ini.

“Semoga beruntung kalau gitu.” Zakaria berkata selagi melambai dan menjauh. Dia akan berjalan kembali pinggir lapangan tempat mereka awal datang. Ada pohon di sana dan dia bisa beristirahat di sana selagi menunggu.


“Kau harus tahu aku mencoba untuk tidak tertawa.”

“Tetapi dipikir lagi, itu yang membuatku tertarik padanya.”

“Jika dia berusaha,”

“Dia mengerahkan segalanya.”

Zakaria memandangi tanah lapangan berpasir milik perusahaan yang dia tidak tahu kenapa ditimbun di pelabuhan. Bukannya dia peduli akan hal itu, tetapi kebosanan membuat seseorang mempertanyakan hal tak berguna.

Dia mengamati dengan seksama ke ujung lapangan. Dia bisa melihat seseorang tengah berlari dan berhenti di pojok kanan sisi seberang lapangan. Dia Rosalina, seseorang yang memproklamasikan dirinya bisa menurunkan hujan. Dan yang tengah dia amati selama hampir dua jam terakhir adalah bagaimana cara dia melakukannya.

Dia sudah tidak menghitung berapa lama dia berlari mengelilinginya atau terbaring kelelahan di tengah larinya karenanya, tidak juga menghitung berapa kali dia sudah menikam keris warisannya ke tanah. Tetapi harus dia akui, apa pun yang tengah dia lakukan sedari tadi, itu sepertinya bekerja.

Zakaria menatap ke arah langit. Kini ada awan kelabu yang tengah menaungi mereka. Tidak sebesar awan kumulonimbus pada umumnya dan cakupannya mungkin hanya seluruh pelabuhan ini saja, tetapi ia terlihat cukup gelap untuk siap menjatuhkan tetes hujan kapan saja.

Rosalina kini berada di pojok kanan sisinya, masih melakukan ritualnya. Zakaria kini mulai bertanya-tanya kenapa GOC lumayan khawatir dengannya. Selain mesin tadi, dia adalah tipe biru pertama yang Zakaria rasa cukup menyedihkan. Jika ada satu hal yang terjawab itu adalah bagaimana Rosalina bisa mendapat fisik atletiknya.

Sesuatu tiba-tiba terasa di lengan Zakaria, membuyarkan lamunannya. Dia mendekatkannya dan mengamati bahwa terdapat tetes air di lengannya. Tiba-tiba dia bisa merasakan tetesan air juga di kepalanya. Pada akhirnya, hujan turun.

“Akhirnya!” Terdengar suara senang Rosalina dari kejauhan.

Dia lalu bergegas ke arah Zakaria sebelum merebahkan dirinya di pohon tempat Zakaria bersandar. “Lihat! Hujan!”

“Dan kau yakin ini bukan kebetulan?” Zakaria bertanya selagi terkekeh.

“Lu bercanda?! Lu liat betapa panasnya hari tadi! Gak mudah munculin awan tiba-tiba woy!” Rosalina membalas dengan kesal.

“Bercanda, kok. Aku percaya itu.” Zakaria menenangkan selagi menahan tawanya. “Saat ku dengar kau bisa ritual, ku kira itu akan elegan seperti yang sering muncul di televisi, wajar saja aku tidak percaya melihat betapa… sederhananya metodemu.”

“Sebenarnya seperti itu cara yang benar sih.” Rosalina berkata. “Seharusnya ritual manggil hujan jika dilakuin dengan benar itu cuma makan waktu setengah jam, tapi bapak gak pernah ngajarin rapalannya. Gue cuma tahu ritualnya doang. Awalnya gue nyoba manggil hujan pakai cara yang benar, gak berhasil sama sekali. Bertahun-tahun gue otodidak ngerangkai sendiri urutan ritualnya.”

Rosalina menunjuk ke arah awan mendung di atas mereka berdua. “Cara tercepat buat tahu ritual bekerja atau tidak itu jika sudah ada awan mendung di atas. Pas bagian nusuk tanah, hujan langsung turun. Jadi itu yang gue ambil.”

“Tapi kenapa kau harus lari?” Zakaria bertanya.

“Jadi gini,” Rosalina sepertinya mencoba menyusun kata. “Yang beneran bisa nurunin hujan di Jakarta ini bukan gue doang. Awalnya gue buntu kenapa perlu seharian buat nurunin hujan kecil kayak gini. Gue tanya-tanya ama pawang lain yang kebetulan bisa ditemui, ada beberapa yang bilang kalau dalam salah satu bagian ritual yang gue buang itu ada mantra buat menentukan seberapa luas area cakupan hujannya. Kalau gue modal bacok tanah doang, energi buat ngumpulin hujan bakal terfokus di satu titik saja. Seharusnya semakin menyebar cakupan efeknya itu semakin mempercepat terkumpulnya air buat hujan.”

“Kau… tak mencoba belajar dari mereka?” Tanya Zakaria kembali.

Rosalina hanya menggeleng. “Rahasia dagang, kampretnya.”

Zakaria mengangguk mengerti. Dia mengamati hujan yang turun selama beberapa saat. Naungan pohon tidaklah cukup untuk menahan tetesan hujan yang semakin deras. Dia ingin berdiri dan mencari tempat berteduh yang lebih layak, tetapi Rosalina sepertinya terlalu kelelahan untuk berdiri. Jadi dia memutuskan untuk tetap berbaring di sana bersamanya.

Dia akhirnya mencoba menanyakan itu kembali.

“Jadi, apa gunanya mesin yang kau buat di gudang tadi?”

“Ah, ya! Gue lupa!” Rosalina tersentak begitu diingatkan. “Jadi mengenai mesin tadi… itu ada sepuluh wadah di sana, kan? Gue cuma perlu lari keliling lapangan buat ngumpulin tanah lalu gue taruh di tiap wadah di sana. Mesin itu nanti seharusnya bakal bisa ngebacok tanah dengan cepat. Gue gak perlu keliling lagi, kan?”

Zakaria mengangguk selagi memikirkan itu. Itu memang merupakan solusi yang bagus untuk masalahnya. Jika sesuatu hanya bisa dicapai dengan brute-force, kenapa tidak mencoba membuatnya efisien.

“Tetapi kenapa harus pakai mesin? Kalau kau ambil tanah di sekeliling lapangan lalu taruh di wadah, bukannya kau bisa menikam sendiri tanah itu di satu tempat?” Zakaria bertanya lagi.

Rosalina diam tak menjawab. Dan dia diam untuk waktu yang cukup lama.

Zakaria sendiri menunggu jawabannya, meski perlahan dia mulai menyadari kalau dia bisa menebak jawaban sebenarnya.

“…Intinya gue gak perlu lagi ngebacok tanah sendiri! Otomatisasi, seperti kata orang-orang pembisnis itu. Ehe…” Rosalina akhirnya menjawab.

…Kebodohan alami, ya… Pikir Zakaria selagi mengangguk mengerti.

“Jadi cuma itu yang mesin itu lakukan? berputar dan menusuk tanah?” Zakaria memastikan jikalau ada fitur lain yang belum disinggungnya.

“Ya, tapi itu ide hebat, bukan? Gue menamainya, ‘Mesin Megasenja’!” Rosalina kembali terdengar bersemangat, jelas mengalihkan pikirannya dari pertanyaan sebelumnya.

“Begitu, ya…” Zakaria tidaklah memedulikan itu. Dia cuma perlu tahu fungsinya. Akan dia laporkan itu nanti.

Mereka bersandar di bawah pohon selama beberapa saat, jelas basah kuyup. Rosalina sepertinya menikmati terkena tetesan airnya dengan merenggangkan kedua tangannya, sementara Zakaria menahan diri sebisanya untuk tidak lari meninggalkannya dan berteduh. Mereka di sana untuk beberapa puluh menit.

Pada akhirnya hujan berganti menjadi rintik gerimis kecil. Zakaria hanya menutup matanya, mencoba terlelap menunggu hujan reda. Dia membuka sedikit matanya, Rosalina duduk termenung menatap langit seakan dia menunggu sesuatu.

Mungkin dia menunggu hujan reda juga. Pikir Zakaria. Mungkin dia akhirnya menyadari kita berdua terjebak di sini menunggu hujan buatannya reda agar bisa pulang.

Dia mengamati jam tangannya, sudah pukul empat sekarang.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” Zakaria memutuskan untuk bertanya kembali.

“Yah, ngelanjutin proyek gue tadi. Gue masih nyoba supaya gerakan ngebacoknya pas seratus kali sebelum berputar. Dan gue juga nanti nyoba supaya bisa diatur kecepatannya supaya lebih cepat lagi tetapi tetap mulus gerakannya.” Jelasnya.

“Ah… sayangnya aku gak paham permesinan, jadi aku tidak bisa membantu.” Zakaria membalas. “Tapi apa aku bisa melihat-lihat nanti? Sebenarnya aku agak senggang akhir-akhir ini sehingga banyak waktu luang.”

“Oh, ehm… bisa? Jujur aja, selain teman gue atau klien, gak ada yang tahu mengenai… semua urusan nurunin hujan ini lah. Biasanya gue kerja sendiri, tapi kelihatannya bakal enak kalau ada yang diajak ngobrol.” Rosalina menjawab dengan ragu, tetapi dia terlihat senang akan tawaran itu.

Zakaria memutuskan sudah saatnya untuk berdiri. Dia mengulurkan tangannya dan menilai rintik hujannya yang sepertinya reda.

“Yah, ku rasa sudah waktunya aku pulang. Mungkin besok aku ke sini lagi untuk melihat-lihat.” Zakaria berkata selagi berjalan menjauh.

“Tunggu,”

Zakaria menoleh mendengar suara di depannya. Rosalina masih duduk di tanah menatapnya. “Lu… mau bayar untuk ini?”

“Maaf?”

“Oh ayolah! Lu tau gue capek keliling lapangan siang-siang tadi, kan? Bayarin dikit kek buat usaha gue.” Rosalina mencoba memelas.

“Lah, kan kau yang menawarkan diri untuk bikin hujan tadi?” Zakaria mencoba membantah. Uang saku mingguannya untuk misi ini jumlahnya terbatas, dan dia tidak akan merogoh uang gajinya apa pun yang terjadi.

“Please…” Rosalina masih berusaha membujuknya.

Zakaria menatapnya selama beberapa saat sebelum mengeluarkan dompetnya. Demi misi. Pikirnya. “Biasanya tarifnya berapa?”

“Ehe, biasanya sih… lima ratus ribu.” Jawabnya.

“Apa bisa ditawar jadi tiga ratus?” Zakaria mencoba.

Rosalina mengangguk selagi tersenyum. Sepertinya mendapat uang saja sudah cukup baginya.

Zakaria menghela nafas dan mengembuskannya perlahan. Demi misi. Pikirnya selagi mengeluarkan lembaran yang diperlukan.

“Hehe… Trims, ya!” Dia berkata dengan senang selagi memasukkannya ke kantongnya. Zakaria hanya menggeleng melihatnya selagi berjalan menjauh. Setidaknya dia berhasil mengamankan kontak rutin dengannya.

Dia tersenyum untuk itu.


“Begitu ya…”

Zakaria kini tengah duduk bersama ketua misinya di sebuah rumah aman yang jadi markas misi mereka. Dia baru saja menyerahkan laporan pertemuannya dengan target pantauan mereka, Rosalina.

Zakaria mengamati meja sang pimpinan misi. Meski cuma sementara bekerja di sini, ketua tetap membawa dan meletakkan plakat namanya di meja kerjanya.

Robert Shaw

Orang di depannya tengah membaca laporan yang sudah dia cetak. Dia sepertinya tidaklah terlalu tertarik dengan informasi di sana.

Akhirnya dia melempar laporannya ke meja dan berkata, “Sementara kau pantau target sementara kami mencoba melacak orang-orang yang tertarik dengannya. Kenapa dia didatangi orang-orang dari AWCY? Itu yang harus kau cari tahu.”

“Baik.” Zakaria meraih laporannya tadi dan beranjak ke luar ruangan. Selagi berjalan, dia mengamati bukti foto dirinya dan Rosalina yang ditangkap dua orang agen yang ditugaskan bersamanya. Setidaknya dia tahu kedua orang itu bekerja dan bukannya santai saat dia kehujanan di luar.

Zakaria tersenyum menatapnya. Cukup aneh baginya untuk bersemangat melakukan misi, tetapi dia rasa dia akan mengunjungi perempuan itu lagi hari ini.


“Misi ini mengingatkanku akan sesuatu,”

“Dulu aku benci langit mendung nan kelabu.”

“Tetapi perempuan ini, dia malah menyukainya.”

“Masa lalu memang menjadi pembeda segalanya.”

“Kampret, masih terlalu cepat…” Rosalina berkata. Dia tengah mengotak-atik mesinnya. Zakaria duduk tak jauh darinya, mengamatinya. Dia melihat Rosalina mematikan genset yang merupakan sumber tenaga mesin itu sebelum kembali membongkarnya.

Sudah hampir seminggu sejak Zakaria mendarat di Jakarta untuk misi ini, dan di sinilah dia mengamati orang yang merupakan targetnya tengah bekerja mengurus mesin yang jadi alasan dia diamati sejak awal.

Zakaria tidaklah mengerti hal teknis yang perempuan itu tengah kerjakan. Rosalina bilang dia pernah bekerja di bengkel saat SMA, itulah kenapa dia yakin mampu mengerjakan mesin itu. Jika ada satu hal yang Zakaria pahami adalah setidaknya dia bisa melihat proses bongkar pasang mesin itu dan memastikan tidak adanya metode taumaturgi yang lolos dari pengawasannya.

Memikirkan mengenai itu, dia sudah menanyakan dengan menyeluruh bagian-bagian mesin itu selama beberapa hari terakhir dan yakin tidak ada lagi hal baru yang bisa dia ketahui. Dia tidak tahu apalagi yang harus ditanyakannya.

Itu membuatnya memikirkan atasannya di Kalimantan. Dia senang bertanya mengenai masa lalunya untuk penelitiannya. Mungkin dia bisa coba melakukan hal yang sama.

“Jadi…” Zakaria berkata, “Kenapa kau memilih jadi pawang hujan? Maksudku, ada pekerjaan lain yang lebih umum seperti pekerjaanmu dulu dan sampinganmu saat ini?”

“Yah… karena gue suka sih. Gue suka melihat awan, apalagi awan mendung.” Rosalina menjawab.

Zakaria tidaklah terlalu suka jawabannya. “Di antara semua cuaca yang ada… Sayangnya aku tidak suka mendung. Petirnya sangat nyaring, dan hujannya sangatlah mengganggu jika kau punya atap seng.”

“Apa lu kata?” Rosalina tidak terima atas jawabannya juga. “Semua tanaman perlu hujan buat hidup, orang-orang juga akan lebih milih musim hujan daripada musim kemarau. Gue gak punya atap seng sih, tapi selain itu, mereka menenangkan buat didengar. Kau tahu bau unik saat awal hujan kena tanah itu? Nah itu juga sisi bagusnya hujan.”

“Aku lebih memilih hari cerah dibandingkan langit tertutup awan walau cuma sesaat. Persetan kepanasan, setidaknya aku tahu hari itu akan baik-baik saja.” Zakaria menekankan kalimat terakhirnya.

Rosalina sepertinya menangkap sesuatu di akhir kata-katanya. “…Apa… apa ada alasan pribadi lu gak suka mendung?”

Zakaria tertegun menatapnya, menyadari dia terlalu banyak bicara. Dia diam beberapa saat, berharap Rosalina tidaklah memedulikan itu lagi, tetapi Rosalina sepertinya serius ingin tahu.

Sedikit terbuka mungkin tidak masalah… Pikir Zakaria.

Dengan itu Zakaria kemudian berkata, “Banyak hal buruk terjadi pas mendung dulu.”

“Banyak?”

“Yah, biasa. Ayah ngamuk di rumah, mukulin ibu, semacam itu.” Zakaria mengangkat bahu.

Rosalina termenung mendengarnya. “Sepertinya pengalaman berbeda menghasilkan reaksi yang berbeda, ya?”

“Uhh, Ya? Surga seseorang adalah neraka lainnya. Itu sudah jadi hal biasa.” Tanggap Zakaria.

“Ish, lu bisa pakai pribahasa lain, kagak?” Rosalina membalas dengan kesal. Tetapi akhirnya dia berkata pelan. “Bapak gue yang pertama mengenalkan ritual manggil hujan itu. Sayangnya dia gak sempat ngajarin cara yang benar. Gue… gue lumayan suka sama hujan sejak saat itu.”

“Mhm, kau menyukainya karena kau bisa mengontrol langit dengan itu, ya…” Zakaria mencoba menebak alasannya.

“Gak, gue gak yakin ritual gue bisa dibilang bisa mengontrol langit. Cuma senang aja kok, bisa nurunin hujan. Bisa menikmatinya turun, dan…”

Rosalina tiba-tiba berhenti di tengah penjelasannya. Dia menggeleng sebelum berbalik segera dan berkata, “Akh, nanti gue ceritakan lagi. Sementara gue kelarin ini dulu.”

Zakaria heran melihat perubahan sikapnya, seakan ada satu hal lain yang tengah disembunyikannya. Dia ingin bertanya mengenai itu, tetapi Rosalina sekilas berbalik dan berkata dengan tersenyum,

“Nanti gue tunjukkin aja deh.”

Dan dia kembali mengerjakan mesinnya. Zakaria memutuskan untuk tidak menanyainya lebih lanjut. Dia memilih untuk kembali memandanginya berkutat dengan mesin di depannya.


Saat Zakaria berjalan mendekati area gudang tempat Rosalina menyimpan mesinnya untuk mengamatinya seperti biasa pada hari itu, dia melihat bahwa perempuan itu berdiri di depan mobil boxnya. Pintu gudang tidaklah terbuka seperti biasanya.

Begitu melihat Zakaria, Rosalina segera melambai dan memanggilnya untuk mendekat. Zakaria segera mempercepat langkahnya.

“Woi, Zaka!” Rosalina berteriak begitu Zakaria sudah cukup dekat.

“Ya? Ada apa ya?” Balasnya saat akhirnya dia berada di dekatnya. “Rolling door-nya macet atau apa?”

“Gak, bukan.” Jawabnya. “Jadi gini… ehm, gue agak buntu saat ini, jadi gue ngajak lu jalan-jalan ke puncak.”

“Maaf?” Hanya itu yang Zakaria katakan.

“Halah bentar aja kok, paling dua jam lebih dikit.” Rosalina mencoba membujuknya.

Zakaria menatapnya yang tengah memohon sungguh-sungguh. Dia ragu-ragu apakah Rosalina tengah merencanakan sesuatu yang berbahaya kepadanya. Kemungkinan terburuk adalah dia tahu identitas aslinya dan akan mengeksekusinya di sana. Secara fisik dia mungkin menang. Zakaria mengutuk dirinya tidak diizinkan membawa pistol untuk misi ini.

Tetapi dia melirik ke arahnya lagi, dia benar-benar berharap Zakaria untuk ikut serta dengannya. Melihatnya seperti itu, Zakaria memutuskan untuk mempercayainya berdasarkan seluruh pengalaman bersamanya selama beberapa hari terakhir.

Setelah dia menelpon ketua misi terlebih dahulu.

…

“Ya, jadi dia memintaku ikut.” Zakaria berkata, dia mengamati ke samping bangunan. Dia berada cukup jauh dari Rosalina, mengatakan bahwa dia perlu ke kamar kecil sebentar.

“Setelah ku pertimbangkan, kau kuizinkan untuk ikut bersamanya.” Ketua misi membalas permintaannya.

“Baik… baik. Pastikan timku mengikuti kami.” Dengan itu Zakaria menutup panggilannya. Dia mengantongi teleponnya dan segera bergegas kembali ke tempat Rosalina.

“Yah, ku rasa aku cukup luang saat ini. Tentu, aku ikut. Kenapa tidak?” Katanya.

“Ah, baguslah. Gue kira lu gak biasa jalan jauh gitu.“ Rosalina sepertinya lega dan senang mendengarnya.

“Tch, bisa kok. Cuma memastikan jadwalku kosong saja.” Balas Zakaria, mencoba menyembunyikan kekesalannya. “Aku langsung saja naik, kalau begitu.”

“Tentu!” Rosalina membalas selagi ikut naik juga.


“Dia mempercayaiku sepenuhnya.”

“Dan sejujurnya? Aku juga sama.”

“Tetapi nasib akhirnya mengingatkan,”

“Apa yang sebenarnya harus ku lakukan.”

Zakaria menatap pemandangan yang dilaluinya. Dia selalu melakukan itu untuk menghilangkan rasa bosannya karena menatap ponselnya untuk waktu lama terutama di jalan tak rata seperti ini hanya akan membuatnya pusing.

Rosalina jelas tidaklah fokus dalam menyetir. Dia menikmati alunan lagu yang ada di radio. Genrenya menurut Zakaria sangatlah lokal, bahkan sesekali suaranya berubah menjadi statis karena lokasi yang dilalui.

Zakaria mengamati area persawahan di bawah. Tidak ada orang di sana, jelas tidak ada yang mau di lapangan terbuka saat panas terik seperti ini. Dia cuma melihat orang-orangan sawah melambai dan bergoyang tertiup angin lembut.

Dipikirnya lagi, mereka sudah cukup jauh berkendara. Awalnya pemandangannya adalah hutan beton perkotaan yang selalu dia lihat. Kemudian bangunan semakin pendek, semakin minim sebelum mereka mencapai jalan tol. Mereka lalu beralih ke jalan kecil seperti sekarang.

Dan kini mereka perlahan menaiki tanjakan demi tanjakan. Rosalina jelas pernah ke sini beberapa kali. Zakaria harus mengakui, mengendarai mobil box ke jalan kecil tanpa aspal menanjak ini perlu bakat.

Sampai akhirnya jalan benar-benar berhenti bagi mobil beroda empat biasa. Mereka memasuki jalur hiking. Mobil Jeep seharusnya bisa naik ke atas sana, tetapi Rosalina sepertinya tidak ingin mengambil risiko dengan mobil box temannya. Zakaria hanya menatapnya mematikan mesin sebelum memandangi jalan setapak di depannya dengan pasrah. Dia tahu dia harus naik gunung, tetapi awalnya dia punya harapan kecil kalau rute ke atas bisa dituju sepenuhnya dengan kendaraan mereka. Dia tidak akan memuji kemampuan mengemudi Rosalina kalau bukan untuk itu.

Rosalina merupakan yang pertama turun, diikuti Zakaria. Dia dengan bersemangat menunjukkan rutenya selagi Zakaria mengikuti di belakang. Dia beruntung menemukan ranting yang ukurannya sedang untuk membantunya mendaki.

Mereka hanya memakan waktu beberapa puluh menit, tetapi bagi Zakaria dirinya sudah di sana selama setengah jam. Tempat itu lumayan sepi, sepertinya bukan spot yang populer untuk didatangi pendaki. Terlebih lagi ini bukan akhir pekan. Rosalina sepertinya tidaklah memedulikan itu. Dia selalu melakukan apa yang dia inginkan tanpa orang lain mempengaruhinya.

Pada akhirnya mereka sampai di area yang cukup luas dengan beberapa bangunan disini. Ini jelas merupakan area camping jika sudah malam. Dia bisa melihat seluruh kampung dari sini, bahkan perkotaan jauh di ujung sana. Agak kurang jelas terlihat saat siang hari seperti ini, tetapi jika malam seharusnya cahaya lampu tiap rumah di bawah sana akan terlihat indah.

“Jadi, kita mau apa di sini?” Zakaria akhirnya memutuskan untuk bertanya.

“Yah, santai aja. Gue biasanya nikmatin langit di sini.” Rosalina menjawab dengan enteng selagi mulai berbaring di dekat sebuah pohon. Zakaria berdiri di sampingnya dan memutuskan untuk bodoh amat dan ikut berbaring di sampingnya.

“Bukankah mereka indah?” Rosalina tiba-tiba berkata.

“Apa? Pemandangannya? Yah lumayan.” Zakaria menjawab. Dia memang jarang keluar fasilitas sejak pertama bekerja, jadi dia rasa dia bisa mencoba menikmati pemandangan ini.

“Bukan, awannya!” Ralat Rosalina dengan cepat.

Zakaria mengalihkan pandangannya ke arah langit. Dia bisa melihat deretan awan kumulonimbus di kejauhan. Itu yang sepertinya Rosalina bicarakan.

“Lu lihat bagaimana mereka seperti perbukitan di langit. Kontrasnya bayangan gelap dan terangnya. Gue membayangkan mereka kayak negeri terapung, dengan kota mungkin tersembunyi di baliknya.” Dia mencoba menjelaskan keindahannya.

Zakaria hanya mengangguk mengiyakan. Dia bisa memahami daya tarik pemandangan itu. Awan-awan tersebut memang terlihat besar dan megah, mengingatkannya dengan awan jamur hasil ledakan bom atom yang pernah dilihatnya di video dokumentasi. Sesuatu yang berukuran sangat masif sehingga dari jarak sejauh ini masih bisa terlihat bentuknya.

“Lu tau gak, alasan gue mau ngajak lu?” Dia berkata lagi.

“Mhm?” Zakaria menanggapi.

“Lu ingat kata gue kemarin, kalau pengalaman berbeda menunjukkan reaksi berbeda. Nah, gue pengen ngeganti pengalaman jelek lu ama mendung dan hujan dengan ngajak lu ke sini.” Rosalina berkata pelan.

“Cuma mendung, sebenarnya. Saat hujan, aku percaya apa pun hal buruk yang terjadi akan berakhir.” Koreksi Zakaria begitu mendengarnya. “Tetapi… terima kasih karena memikirkan itu. Serius.”

Mereka lalu hening, kembali menikmati alam. Zakaria kembali menatap langit, merasakan angin lembut yang mengenainya, yang mengayunkan pohon di atas mereka. Dia bisa melihat awan di depan mereka sepertinya semakin dekat. Sepertinya arah angin memang mengarah ke arah mereka.

Dia menatap ke arah awan-awan di atasnya. Dia menemukan bahwa dirinya mulai setuju dengan Rosalina. Dia sudah sejauh ini dalam hidup. Masa kecilnya jauh di pulau seberang. Sudah saatnya dia menikmati kehidupan bebasnya sebanyak yang dia bisa.

Tidak terasa sudah beberapa jam berlalu dengan mereka berdua santai di sana. Rosalina terus mengoceh mengenai awan dan sebagainya. Zakaria hanya berbaring dan sesekali terlelap. Dia mengamati jam tangannya dan menyadari sudah pukul empat sore.

Dia melirik ke arah langit. Matahari sudah berada di ujung sana, sedangkan awan mendung tadi kini di atas mereka. Dia tiba-tiba mendengar suara di sampingnya. Dengan cepat dia menoleh dan mendapati Rosalina tengah menusuk tanah dengan kerisnya.

“Oh ayolah, kau sedang apa?” Zakaria segera duduk dan menatapnya tak senang.

“Ya ngebuat hujan. Karena awannya sudah di atas kita, gue cuma perlu waktu kira-kira sepuluh menit buat nuruninnya! Gue bahkan gak perlu keliling, cukup jatuhin isi awan di atas.” Rosalina menjawab selagi terus bekerja.

“Tapi ku kira kita di sini untuk memandangi langit?”

“Ya! Semua aspeknya termasuk hujan! Lu tunggu saja nanti!” Dia semakin tidak sabaran bekerja. Zakaria hanya mengangkat bahu dan menyandarkan diri ke pohon, memandanginya bekerja.

Memang memakan waktu tak lama karena tetes hujan mulai turun. Rosalina semakin bersemangat bekerja, tetapi Zakaria segera menyeretnya berteduh, tidak ingin basah kuyup seperti yang lalu. Mereka berteduh di salah satu bangunan warung di sana.

Zakaria memesan teh hangat dua gelas sementara Rosalina masih menatap langit yang semakin deras menjatuhkan tetesan hujan. Akhirnya dia duduk di samping Zakaria dan berterima kasih atas tehnya.

“Jadi, lu suka dengan hujan, kalau gitu? Berdasarkan ceritamu tadi.” Rosalina berkata.

Zakaria mengangkat bahu. “Lebih ke arah lega sih. Tapi yah, aku menyukainya turun.”

“Hmm, gue rasa yang perlu lu lakuin adalah belajar menikmatinya sekarang.” Rosalina menanggapinya. “Dengarkan tetes hujan di luar sana, lihat bagaimana tiap tetesnya jatuh membasahi tanah.”

Zakaria menurut dan mengamati pemandangan sekarang. Suara hujan menghantam tanah memang memenuhi sekelilingnya. Tetapi harus dia akui, mengamati tiap dedaunan bergoyang terkena tetesan hujan, mengamati genangan air terbentuk dan beriak, semuanya memang terasa menenangkan.

Mereka mengamati hujan turun sampai mulai mereda. Zakaria mengamati bahwa sudah pukul lima lewat beberapa puluh menit. Waktu memang berjalan cepat jika diisi kegiatan, tetapi Zakaria baru tahu kalau mengamati pemandangan terhitung juga. Mungkin dia harus merujuk ke pepatah aslinya yang lebih umum. Waktu berjalan cepat jika dinikmati, itu kata mereka.

Rosalina memutuskan untuk jalan-jalan ke luar meski hari masih gerimis kecil. Zakaria memilih untuk tetap berteduh. Dia mengamati Rosalina berkeliling mengamati sekitarnya seakan dia mencari sesuatu. Tetapi dia tiba-tiba diam saat melihat ke arah langit di atasnya. Sebuah senyum perlahan muncul darinya.

“Zaka! Sini bentar!” Dia berkata dengan semangat. Zakaria tidak melihat pilihan lain selain mendekatinya.

Sebelum Zakaria sempat bicara, Rosalina berkata dengan semangat, “Lihat tuh!”

Zakaria mengikuti arah tunjukkannya dan melihat ke langit di belakang warung tempatnya berteduh tadi.

Terdapat pelangi di sana.

“Itu! Itu yang pengen gue lihat tiap nurunin hujan! Itu!” Rosalina terdengar sangat senang selagi memegang pundak Zakaria.

“Woah, tenangkan dirimu.” Tanggap Zakaria. “Jadi, sebuah pelangi, eh?”

“Waktu gue kecil, itu hal paling membekas saat bapak dulu manggil hujan. Gue dulu mikir bapak gue sengaja munculin itu buat gue. Itu, itu alasan gue pengen jadi pawang hujan! Gue pengen munculin itu dengan usaha sendiri!” Jawab Rosalina dengan serius.

“Tapi itu hal mudah untuk dilakukan, bukan? Kau hanya perlu membuat hujan saat matahari hampir terbenam- ah.” Sesuatu tiba-tiba terlintas di pikiran Zakaria dan dia mengangguk mengerti, mengagumi pemikiran cerdasnya untuk sesaat.

“Mesinmu itu, jadi itu alasanmu menamainya ‘Megasenja’?” Tebaknya.

Rosalina mengangguk. “Namanya kuambil dari kamus. Awan Senja, itu artinya! Dengan mesin itu, aku bisa membuat pelangiku sendiri setiap sore!”

“Jadi itu tujuan proyek impianmu yang sebenarnya? Yang kau enggan sebutkan di gudang dulu.” Zakaria berkata.

“Gue bilang bakal lebih mudah dipahami jika dilihat langsung, kan?” Rosalina menjawab. Zakaria tidaklah masalah dengan itu.

“Yah, itu Impian yang baik.” Balasnya.

Dan mereka berdua diam menatap pelangi di langit sampai ia hilang beserta hujan yang memunculkannya.


Begitu kembali ke Jakarta, Zakaria tiba-tiba mendapat perintah untuk ke markas segera. Hari sudah gelap saat Zakaria sampai di markas sementara mereka untuk misi.

Dia melewati beberapa agen yang berada di koridor sebelum akhirnya sampai di ruang ketua misi. Pak Robert sudah menunggunya.

“Silahkan duduk dan tunggu sebentar.” Katanya. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan sepertinya menelpon seseorang. Beberapa saat kemudian, dia menyerahkan telepon itu ke Zakaria.

“Terhubung di sini adalah seorang profesor taumaturgi kita di ICSUT Singapura. Dia bisa Bahasa Indonesia, jadi tidak apa bicara normal. Harap dengar penjelasannya dengan seksama.” Katanya.

Zakaria mengangguk dan mendekatkannya ke telinganya.

“Halo, anda yang ditugaskan mengawasi KTE 1804-Blue-Zeus, bukan?” Terdengar suara pria tua.

“Ya, benar.” Zakaria membalas. “Tetapi saya kira statusnya masih PTE?” Dia berkata dengan bingung selagi menatap ke arah Robert. Robert sendiri memberi gestur dengarkan suara di telepon.

“Itu karena setelah menyelidiki tentangnya berdasarkan informasi yang kalian berikan, keris yang dimilikinya itu adalah artefak yang sangat berbahaya.” Jawab suara di telepon.

“Jelaskan kenapa? Karena sejauh yang ku lihat, dia perlu waktu berjam-jam memunculkan awan dengan itu.” Zakaria berkata dengan tidak percaya.

“Karena kita beruntung dia tidak tahu ritual yang benar! Jika dia bisa melakukannya dengan benar, dia bisa menurunkan hujan dalam hitungan waktu sepuluh menit. Mesin yang dibuatnya itu bisa memaksa potensi keris itu muncul dengan kecepatan serupa.” Suara tersebut menjawab kembali.

“Baik, jadi apa itu hal yang buruk?” Zakaria kembali bertanya dengan bingung.

“Tentu saja! Darimana menurutmu dia mendapatkan air untuk membuat awan dalam waktu sepuluh menit di tengah kota?!” Suara dari telepon semakin nyaring.

Zakaria terdiam sejenak dan berpikir. Setelah beberapa saat, dia akhirnya menyadari apa yang tengah orang-orang ini khawatirkan dari tadi.

“Apa… apa dia bisa mengambil darah manusia untuk membuat awan?” Zakaria bertanya dengan pelan.

“Dan cukup banyak sampai bisa membuat hujan. Jika dia menyalakan mesin itu di tengah kota, bahkan Yayasan akan membunuhnya jika bisa!” Suara di telepon mengonfirmasi.

“Itu menjelaskan ketertarikan AWCY kepadanya.” Robert ikut menambahkan.

Zakaria diam memikirkan hal itu. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya, “Jadi, apa yang harus saya lakukan?”

“Bunuh dia, lalu ambil kerisnya!”

Perintah di telepon cukup singkat, tetapi entah kenapa Zakaria sudah duluan merasa tak sanggup melakukannya. Dia hanya mengangguk mengerti meski tahu orang di telepon tidak dapat mengetahuinya dan menyerahkan telepon itu kembali ke Robert.

“Jadi, kau bisa melakukannya?” Robert bertanya.

Zakaria reflek menggeleng. Dia berpikir sejenak memikirkan alasan. Akhirnya dia berkata, “Dia masih belum memercayakan diriku dekat kerisnya. Beri aku waktu untuk mendapatkan keris itu darinya. Kuusahakan agar dia tidak harus mati.”

“Huh…” Robert menanggapi dengan pelan. Dia menatap tajam ke arah Zakaria sebelum berkata, “Kau peduli dengannya?”

Zakaria tersentak mendengarnya. Dengan cepat dia berkata, “Tidak! Jelas tidak!”

Dia mengatur nafasnya selama beberapa saat. Akhirnya dia berkata, “Aku cuma belum pernah membunuh orang. Dan aku ingin tetap seperti itu kedepannya.”

Robert hanya menatapnya selama beberapa saat sebelum mengalihkan pandangan darinya. “Dasar pekerja kantoran.”

Zakaria tidak memedulikan itu. Dia harus menemui Rosalina lagi besok secepatnya. Dia harus mengamankan keris itu sebelum terlambat.


“Jika ada hal yang ku ketahui,”

“Meski dia itu bodoh, keinginannya memang murni.”

“Jika diibaratkan, dia hanyalah seekor domba.”

“Dan itu artinya, dia pasti diincar serigala.”

Zakaria mengamati jam tangannya selagi dia berjalan menuju area gudang. Sudah pukul delapan pagi, tetapi hari masih gelap karena mendung. Dia tahu itu kabar buruk, tetapi dia berusaha untuk tetap positif tidak ada hal buruk yang akan terjadi.

Dia percaya padanya.

Dia bisa melihat pintu gudang terbuka dari kejauhan. Rosalina sering begadang di sana, tetapi melihat rolling door itu terbuka merupakan indikasi pasti bahwa dia di dalam. Zakaria segera mempercepat langkahnya.

Dia hampir masuk ke dalam gudang saat dia mendengar suara berisik di sana.

Dengan perlahan Zakaria merapat ke bangunan. Dia menghidupkan ponselnya dan menyalakan fitur merekam. Dia mendekatkannya ke pintu masuk selagi dirinya sendiri mempertajam pendengarannya.

“…Kayak, potensi sia-sia banget!”

Dia bisa mendengar suara laki-laki di dalam. Zakaria memutuskan untuk perlahan mengintip dan melihat seorang pria yang mengenakan jaket kulit, slayer dan beaner serba hitam tengah berdiri berhadapan dengan Rosalina. Dan Rosalina sendiri terlihat sangat marah kepadanya.

“Gue gak peduli! Ini bukan proyek seni bajingan kalian!” Rosalina berteriak.

“Gue gak peduli juga! Gue pengen masuk dan bakal gue pakai mesin lo sebagai tiketnya!” Pria tersebut ikut berteriak.

Zakaria merasa ingat pernah melihat orang itu. Dia akhirnya teringat pernah meneriaki seseorang di stasiun dulu. Rosalina berkata dia kerabatnya, tetapi sekarang Zakaria tidaklah yakin mengenai itu.

“Lu langkahin dulu mayat gue!” Rosalina berkata selagi mengacungkan kerisnya ke arah pria itu.

“Ngg… Dasar…” Pria itu berkata. Zakaria bisa melihat tangan kiri pria itu perlahan meraih sesuatu yang terselip di belakangnya.

Kemungkinan terburuk adalah dia mengeluarkan pistol. Zakaria segera keluar dari persembunyiannya dan berkata keras, “Woy! Berhenti!”

Pria tersebut menoleh cepat dan terkejut melihatnya. Rosalina juga sehingga dia berteriak, “Zaka?!”

Pria itu segera berlari ke arah Zakaria dan mengeluarkan apa pun yang dipegangnya di belakang tadi. Ternyata itu sebuah kertas penuh gambar abstrak. Itu yang awalnya Zakaria pikirkan sebelum beberapa detik kemudian mengalami pusing kepala hebat. Dia langsung berlutut dan berteriak.

Dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.

…

Yang pertama dia lihat setelah kepalanya terasa sedikit lebih baik adalah selembaran kertas dengan motif abstrak. Rosalina memegang kertas tersebut dengan khawatir.

“Zaka! Gimana keadaanmu sekarang?” Dia bertanya segera.

“Akh… Lobotomi aku. Rasa sakit tadi… apa-apaan itu?” Zakaria berkata selagi memegangi kepalanya. Dia bisa merasakan darah keluar dari hidungnya juga.

“Dia bisa membuat gambar terkutuk gitu. Jika lu melihat gambarannya, efeknya banyak tergantung gambar yang dia kasih apaan. Semuanya mematikan. Yang gue pegang ini kayak penawarnya, gue hajar dia buat ngambil ini, tapi dia berhasil lari.” Jelas Rosalina.

Bahaya kognitif… Zakaria menyimpulkan. Dia perlahan mencoba duduk. Rosalina ikut membantunya juga. Dia mengamati ke arah luar. Di luar sana tengah hujan deras. Sepertinya alami karena Rosalina jelas tengah fokus menolongnya.

“Jadi, siapa orang tadi? Dia yang memegang tanganmu di stasiun dulu, kan?” Zakaria memutuskan untuk menanyakan hal itu. Orang itu jelas sudah lari jauh dan dia tidak sempat memperingatkan anggota timnya di luar, jadi informasi mengenainya cuma bisa dia dapat dari Rosalina sekarang.

Rosalina hanya diam selama beberapa saat. Akhirnya dia mencoba tersenyum dan berkata, “Pertengkaran kerabat doang, kok.”

“Pria itu hampir mengeluarkan kertas itu kepadamu kalau tidak aku alihkan perhatiannya! Dia hampir membunuhmu dan kau siap mati melawannya! Kau pikir aku tidak dengar!” Zakaria berkata keras. Mungkin efek sakit kepalanya, tetapi dia tidak tahan lagi dengan kebohongan kecilnya.

Rosalina tertegun melihat Zakaria mengatakan itu. Dia dengan pelan bertanya, “Seberapa banyak yang kau dengar?”

“Ku dengar dia ingin memakai mesin itu untuk sesuatu yang berbahaya. Pembunuhan masal atau apa, tetapi tolong jujur padaku mengenai itu.” Zakaria berkata. Jika ada satu hal yang dia tahu adalah Rosalina tahu kalau mesinnya berbahaya sejak awal. Dia mencoba membuat Rosalina mengakui itu secepatnya.

Rosalina diam selama beberapa saat. Akhirnya dia memberanikan diri berkata, “Mesin itu agak tidak aman jika kupakai saat ini.”

Zakaria menatapnya, menunggu lebih banyak penjelasannya. Rosalina melanjutkan, “Jika kuhidupkan dan kupaksa menyelesaikan ritual dalam beberapa menit, ritual akan mengambil cairan apa pun untuk menciptakan awan.”

“Jadi itu artinya dia bisa mengisap darah manusia? Seperti itu?” Zakaria menekan poinnya. Rosalina terlihat terkejut Zakaria bisa sampai pada kesimpulan itu, tetapi akhirnya dia hanya mengangguk.

“Hancurkan mesin itu dan kembali ke ritual biasamu.” Zakaria mengembuskan nafas. “Setidaknya kau berusaha untuk menciptakan hujan dengan benar.”

“Gak!” Rosalina melawan. “Gue gak bakal makai itu buat klien biasa kok! Gue bakal makai di sini saja buat pribadi! Air laut banyak di sini, pasti dia akan mengambil di sana!”

“Pasti? Kau yakin itu? Kau ingin mempertaruhkan nyawa orang-orang untuk impianmu itu?” Zakaria mematahkan argumennya. “Mungkin kau tidak jauh beda dengan orang tadi.”

“Gak!” Rosalina secara reflek memukul Zakaria, membuatnya terbaring lagi. Rosalina segera sadar dan menutup mulutnya, terkejut akan apa yang dia lakukan. Zakaria sendiri tertegun sebelum perlahan mencoba berdiri.

Dia menatap ke arah Rosalina yang masih duduk di lantai. Perlahan dia berjalan menjauh.

“Zak, maafin gue. Itu tadi gak sengaja! Zaka!” Rosalina terdengar putus asa.

Zakaria hanya berbalik dan berkata, “Pikirkan solusi agar tidak ada korban jiwa karenamu. Itu termasuk dirimu.”

Dia melangkah keluar dari gudang dan menerobos hujan, dia lebih memprioritaskan mencoba meredakan sensasi sakit kepalanya dulu.


Selama seharian penuh Zakaria tidak keluar dari rumah tempat timnya ditempatkan. Dia duduk termenung di ranjangnya. Dua anggota timnya dia minta mengawasi Rosalina sementara dia di sana. Setengah yang dia pikirkan adalah bagaimana mendapatkan keris itu, setengah lagi adalah mengenai ancamannya terhadap Rosalina tadi.

Dia merebahkan dirinya di kasur. Yang tadi itu mungkin terlalu keras. Dia tahu Rosalina memiliki hati murni dibalik sifat blak-blakannya, yang jadi masalah adalah dia berani mengambil risiko berbahaya untuk mimpinya.

Zakaria menyadari bahwa dia baru saja mengancam Rosalina dengan dua pilihan, hentikan mimpimu atau hadapi konsekuensinya. Dia tahu konsekuensinya adalah GOC keluar untuk membunuhnya, tetapi Rosalina menganggap kehilangan dirinya adalah konsekuensinya.

Apa pentingnya diriku… Dia merebahkan diri ke samping. Aku cuma pekerja kantoran biasa…

Dia terlelap memikirkan itu.


“Hal paling bodoh dan fatal saat seseorang menyelam,”

“Adalah terlambat sadar kalau dia sudah terlalu dalam.”

“Di tengah permainan hidup aku tidak menduga,”

“Kalau sudah saatnya kartu-kartu untuk dibuka.”

Malam telah berganti menjadi hari baru. Zakaria sekali lagi kembali ke area gudang pelabuhan. Anggota timnya melaporkan Rosalina tidaklah keluar dari gudang sejak kemarin. Zakaria merasa hal pertama yang harus dia lakukan nanti adalah meminta maaf mengenai kemarin. Dia akan menyalahkan sakit kepalanya untuk itu.

Pintu gudang masih tertutup. Jika laporan anggota timnya benar, maka Rosalina masih di dalam. Zakaria menatap pintu itu untuk beberapa saat sebelum mengetuknya beberapa kali.

“Rosalina! Kau di dalam?” Katanya.

Selama beberapa saat, dia tidak melihat pintu itu bergerak. Jadi dia memutuskan untuk mengetuk lagi. Tiba-tiba, rolling door pintu itu terangkat dan Rosalina berada di depannya.

“Ah, Zaka! Syukurlah kau datang!” Dia terlihat lega.

Zakaria melirik ke arah tempat Rosalina mengerjakan mesinnya. Mesin besar itu kini tertutup terpal. Apa dia benar-benar menghentikan mimpinya? Pikir Zakaria.

Tiba-tiba dia tersadar apa yang rencananya dia lakukan begitu bertemu, jadi dia berkata, “Dengar, mengenai kemarin, maaf kalau aku agak keras denganmu. Kau harus paham kalau sensasi sakit kepalanya itu sangat menyakitkan.”

Rosalina menggeleng cepat, “Gak, kok. Lu benar. Kalau gue berkomitmen ingin mewujudkan mimpi gue tanpa membahayakan siapa pun, gue harus berusaha lebih keras lagi.”

“Oh, ehm… Bagus kalau begitu.” Zakaria berkata. Dia merasa lega setidaknya Rosalina menerima sarannya.

“Jadi gue kemarin itu nyoba nyari orang pintar melalui kontak gue. Ada satu katanya tinggal di Sukabumi. Nah, hari ini rencananya gue mau ke sana.”

“Ah, jadi kita jalan-jalan lagi, ya.” Zakaria mengangguk mengerti. “Bentar aku ke belakang dulu kalau gitu.”

Setelah membuat panggilan singkat dan mendapat persetujuan dari ketua timnya, Zakaria dengan tersenyum berkata, “Baik, ayo berangkat.”

Mereka kembali berkendara melalui perkotaan, melalui jalan tol, melalui perkampungan. Rosalina masih santai mengemudikan mobil boxnya, mengikuti alunan lagu apa pun yang tengah diputar di radio. Zakaria mendengarkannya selagi menatap ke pemandangan di jalanan. Pada akhirnya dia dengan perlahan ikut bergumam menyanyi di jalan.

Kali ini tujuan mereka lebih jauh dari sebelumnya. Orang yang ingin ditemui Rosalina berada di Sukabumi. Rosalina mungkin pernah berkendara sejauh ini, tetapi ni merupakan pengalaman pertama Zakaria ke kota itu. Tetap saja, dia yakin itu akan menjadi pengalaman baik.

Mereka kini sudah mencapai kotanya, tetapi Rosalina berkata tujuan mereka masih jauh. Masuk akal bagi Zakaria kalau seorang pengguna Taumaturgi yang cukup dikenal bahkan oleh seorang amatiran seperti Rosalina memilih tinggal di tempat terpencil. Mereka segera memasuki area hutan Sukabumi yang letaknya semakin jauh di pinggiran kota.

Setelah beberapa saat mengemudi, mobil mereka mulai melambat di tengah jalan. Rosalina mulai menelpon dan sepertinya mencoba mencari alamat tepatnya dari orang yang ingin ditemuinya.

Dia menjalankan mobilnya seperti itu sampai akhirnya dia berkata, “Ah, ya! Gue liat lapangannya. Trims, ya!” dan mengantongi ponselnya.

Zakaria melihat ke arah jalanan di depannya. Di antara pepohonan yang tumbuh, terdapat sebuah area tanah lapang yang hanya dipenuhi rumput. Semakin mendekatinya, Zakaria menyadari adanya sebuah tiang besi menjulang cukup tinggi untuk bisa terlihat. Di dekatnya terdapat sebuah gubuk kayu di ujung tanah lapang sana.

Rosalina memarkirkan mobil boxnya di tepi jalan dan mematikan mesin. Dia segera turun dari mobil, diikuti oleh Zakaria. Mereka berdua berjalan mendekati gubuk tersebut.

“Jadi, siapa tepatnya yang kita temui ini?” Zakaria akhirnya bertanya.

“Orang-orang memanggilnya Mbah Sudarman. Katanya dia bisa nolongin gue dengan ngajarin ritual yang benar.” Rosalina menjawab dengan semangat.

“Dukun yah… Pada titik ini aku tidak heran lagi kalau dia benar-benar sakti.” Zakaria menanggapi. Dia akan melaporkan orang ini ke ketua nanti. Mungkin akan melaporkannya nanti, dia ingin menilai dulu apakah dia berbahaya atau tidak.

Dia mengamati sekeliling tanah lapang. Dia bisa melihat ada sekumpulan bunga mekar di pinggiran sana. Dia ingin melihat lebih dekat, tetapi terlalu jauh. Dia akan jalan-jalan ke sana nanti setelah urusan mereka selesai.

Rosalina merupakan yang pertama mencapai gubuk kayu itu dan mengetuknya. Zakaria mengikuti dari belakang, mengamati bahwa meskipun terlihat terbengkalai, tetapi tidak terlalu banyak tanaman merambat di beberapa tempat seperti dekat jendela.

Pintu akhirnya terbuka dan keluarlah seorang kakek tua yang mengenakan kemeja putih dan sarung coklat. Dia bekata, “Ah, Rosalina Dhara, bukan? Sini masuk-masuk!”

Mereka berdua segera masuk ke dalam gubuk sederhananya. Zakaria mengamati ke sekeliling, dia bisa melihat dapurnya dari ruang tamu. Dia tahu orang ini mencoba hidup terisolir, tetapi tempat ini terlalu kecil untuknya.

Tidak ada sofa, mereka semua satu persatu duduk di lantai yang berlapis tikar plastik cokelat. Kakek itu ke dapur untuk beberapa saat sebelum mengeluarkan minuman teh.

“Siapa yang bersamamu ini, Rosa?” Dia bertanya selagi menunjuk ke arah Zakaria, tetapi dari ekspresinya itu hanya murni penasaran.

“Ah, teman gue. Dia yang nemanin gue ngerjain mesin itu.” Rosalina menjawab. “Dia tahu sihir, kok. Gak apa.”

“Ah, ini yang saya suka.” Kakek tua tersebut sepertinya senang mendengar itu. “Sihir itu memang tidak seharusnya disembunyikan! Lihat kalau ditunjukkan, orang-orang biasa menerima saja, kan?”

Zakaria hampir ingin membantahnya, tetapi dia menahan diri ketika melihat Rosalina mengangguk setuju. Dia hanya mengembuskan nafas.

“Di telepon sebelumnya tadi, mbah bilang mbah tahu cara membuat ritualku aman, kan? Gimana caranya tuh?” Rosalina akhirnya bertanya.

“Saya sebenarnya tidak tahu banyak mengenai taumaturgi cuaca, tetapi saya tahu cara agar bisa mempelajarinya lebih dalam.” Dia berkata. Zakaria tertegun menyadari dia menggunakan istilah itu. Dia jelas berpengalaman banyak dalam urusan ini.

“Nah, apa anda pernah mendengar suatu tempat bernama ‘Perpustakaan Pengelana’?” Dia bertanya.

Rosalina menggeleng. Zakaria juga.

“Di sana itu tempat berkumpul semua orang di berbagai dunia dan realita, menimba ilmu di bidang taumaturgi dan segalanya yang kau bisa pikirkan.” Kakek itu berkata dengan bersemangat.

Apa-apaan tempat itu… Zakaria diam memikirkan hal tersebut. GOC pasti tahu tempat semacam itu ada, paling tidak jajaran atasnya. Apa dia sudah terlalu dalam di penyelidikan ini? Apakah dia berhadapan dengan perekrut dari kelompok lain yang lebih besar dari AWCY?

“Apa tempat seperti itu beneran ada?” Rosalina terlihat tidak percaya juga.

“Ya! Tetapi hanya yang terpilih saja yang diberitahukan lokasi-lokasi di mana anda bisa mengaksesnya. Saya salah satunya yang memilah apakah seseorang pantas tahu mengenai Perpustakaan Pengelana atau tidak, dan saya rasa anda bisa saya izinkan mengetahuinya.”

“Beneran?” Rosalina terlihat bersemangat.

“Ya! Di luar sana itu,” Kakek tua itu menunjuk ke arah luar. “Kalian lihat tiang besi itu? Itu merupakan syarat memasuki Way atau pintu menuju Perpustakaan Pengelana.”

Mereka berdua melihat ke arah luar. Zakaria memutuskan untuk bertanya, “Kau bilang syarat?”

Kakek itu mengangguk. “Setiap Ways memiliki syarat berbeda agar bisa dimasuki. Saya yang memantau dan mengoperasikan Way yang ini.”

“Jadi apa syaratnya?” Zakaria lanjut bertanya.

“Untuk yang ini, bunuh sesuatu di ketinggian 15 meter atau lebih dekat sini.” Kakek itu menjawab. “Sangat sulit, dulu saya memakai panah dan menembaki burung yang terbang, makanya sekarang saya bangun tiang itu sehingga saya cuma perlu mengikat makhluk hidup seperti ayam di atas sana. Bahkan Way itu akan terbuka sampai apa pun yang diikat tadi diturunkan! Dulu hanya ada batas waktu kurang dari semenit untuk berlari masuk.”

“Cukup cerdas juga…” Zakaria mengangguk mengerti. “Berapa lama kau mengurus Way itu?”

“Sejak saya bersembunyi di sini.” Dia menjawab. “Saya dulu dosen sebuah kampus milik organisasi anti-taumaturgi di Singapura sebelum memilih berpihak pada Serpent Hand, pengurus Perpustakaan Pengelana. Orang-orang biadab itu mencariku habis-habisan dulu.”

“Wih, keren amat!” Rosalina terdengar bersemangat. Zakaria tidak. Dengan perlahan dia bertanya, “Ada organisasi anti-taumaturgi? Apa namanya, ya?”

“United Nation Global Occult Coalition atau GOC. Mereka menggunakan taumaturgi untuk kepentingan mereka sendiri! Mereka pernah dulu sekali berhasil masuk ke Perpustakaan Pengelana dulu dan membunuh banyak orang! Sampai sekarang mereka selalu mengawasi para pengguna taumaturgi, mengamati gerak-gerik mereka sampai dirasa perlu untuk dibunuh!” Kakek itu bercerita bak dia veteran perang.

Zakaria hanya menelan ludah, dia telah masuk terlalu dalam.

“Rosa, mengetahui proyekmu itu, ku kira seharusnya GOC mulai mengawasimu. Apa kau merasa diawasi akhir-akhir ini?” Kakek itu berkata kepada Rosalina.

Rosalina hanya menggaruk kepalanya dan berkata, “Yang gue tahu ya anak-anak anartis itu yang ngincer proyek gue. Gak tau kalau GOC ini.”

“Ya, baguslah! Mumpung mereka gak mengawasimu, saya akan memasukan anda ke Perpustakaan Pengelana sana! Dijamin anda bakal aman menyelesaikan proyek anda dari gangguan mereka!” Kakek tersebut berkata selagi bergegas keluar.

“Ya, tentu!” Rosalina segera mengikutinya. Zakaria hanya mencoba tersenyum selagi mengiringi dari belakang.

Kakek itu segera mengambil tangga dan membawanya ke tiang itu. Dia memasangkannya di tiang dan kembali ke belakang gubuk. Setelah menunggu beberapa saat, dia keluar membawa tali dan seekor ayam yang sudah diikat. Dengan sigap dia naik ke tangga tersebut seakan dia sudah melakukan ini puluhan kali. Dia mengikatnya di atas tiang dan segera turun.

“Bentar dulu, saya ambil panah saya.” Kakek itu berkata. Rosalina dan Zakaria mengamatinya masuk kembali ke gubuk.

“Hey Zaka, lu mau nyoba nimpuk tu ayam gak?” Rosalina berkata padanya selagi mulai mengambil batu di tanah.

“Untuk apa?” Zakaria bertanya keheranan.

“Ya, ngetes akurasi ngelempar sih. Gue sering latihan ngelempar supaya akurat. Jika kena badannya, tu ayam bakal bunyi.” Rosalina terkekeh selagi mengambil ancang-ancang.

Dan kemudian dia melempar batu tersebut. Tanpa ayam itu bersuara kesakitan, Zakaria sudah bisa melihat sendiri kalau lemparan Rosalina tepat mengenai badannya, membuatnya terkesan.

“Giliranmu.” Katanya selagi menyikut bahu Zakaria. Zakaria menatapnya dan ayam di atas sebelum mengembuskan nafas dan meraih batu juga. Dia segera mengambil ancang-ancang dan melemparnya. Meleset jauh, sayangnya.

Zakaria merasa dia sudah dapat mengetahui di mana dia harus melempar, jadi dia ambil batu lagi dan mulai melempar. Sayangnya yang itu meleset juga meski semakin mendekati target. Rosalina hanya tertawa pelan, membuat Zakaria bersemangat untuk membungkamnya dengan batu ketiga yang dia usahakan tepat sasaran. Masih meleset. Dia akhirnya ikut tertawa pasrah.

Tetapi akhirnya terdengar suara di belakang. Mereka menoleh dan mendapati kakek tua tadi memegang busur panah di satu tangannya dan sebilah panah di tangan satunya.

“Saya ingin melakukan satu hal dulu sebelum membawamu ke sana.” Dia berkata kepada Rosalina. Rosalina hanya mengangguk dan menunggu apa yang ingin dia lakukan.

“Kemampuan taumaturgi saya adalah memprediksi masa depan. Sudah jadi kebiasaan saya untuk mencoba menebak bagaimana nasib orang-orang yang nantinya selesai menimba ilmu di Perpustakaan Pengelana.” Katanya selagi mengulurkan tangannya. “Anda mau masa depan anda diramal?”

“Oh, tentu! Bisa kok!” Rosalina dengan bersemangat mengulurkan tangannya juga untuk dipegang.

Kakek itu memejamkan matanya dan diam untuk beberapa saat. Dia tersenyum sesekali. Akhirnya dia membuka matanya dan berkata, “Saya rasa anda nanti bisa menyelesaikan mesin itu dan menciptakan pelangi yang indah, Rosa.”

Rosalina jelas senang mendengar itu sementara Zakaria cuma berkata, “Kau ’rasa’?”

“Heh, masa depan itu sesuatu yang tak pasti. Itu tebakan terbaikku.” Kakek itu membalas. Zakaria hanya mengangkat bahu.

“Zaka, lu coba!” Rosalina kembali menyikutnya. Zakaria menggeleng dan mengangkat tangannya selagi berkata, “Ah, tidak perlu. Kau saja sudah cukup, kok.”

“Udah, cobain aja!” Rosalina memegangi lengan Zakaria dan mengulurkannya ke kakek itu. Zakaria mencoba menariknya, tetapi Rosalina juga berusaha menahannya.

“Tidak apa, masa depan itu bukanlah sesuatu yang harus dihindari, cuma perlu anda persiapkan sebisanya.” Dia berkata selagi memegangi tangan Zakaria.

Kakek itu kembali terpejam, tetapi kali ini dia mengerutkan dahinya. Perlahan, keringat muncul di wajahnya. Dan akhirnya, tiba-tiba dia melepaskan pegangannya dan berteriak selagi menjauh segera.

“Pembakar Buku! Pembakar Buku! Pembakar Buku Gila!” Teriaknya.

Rosalina bergegas lari ke arahnya dengan khawatir sementara Zakaria terkejut akan reaksinya dan melangkah mundur.

“Mbah, mbah gak apa?” Rosalina berkata selagi jongkok di dekatnya.

“Rosalina! Kau bodoh! Dia seorang Pembakar Buku! Dia agen GOC!” Kakek itu berteriak.

“Apa yang-“

“Dia bohong! Aku sedang memikirkan mengenai GOC yang disinggungnya tadi saat dia memegangku!” Zakaria ikut berteriak dengan panik.

“Pembohong! Saya bisa melihat masa lalu orang! Saya melihat masa lalu Rosalina, anak Bunowo Dhara! Dan saya melihat masa lalumu, Zakaria! Anak yatim piatu didikan orang gila dari Chaos Insurgency! Dan sekarang kau bekerja dengan orang-orang biadap GOC untuk mengawasinya! Kau tidak akan pernah diizinkan di sini!” Kakek itu masih berteriak.

Rosalina menatapnya dengan tidak percaya.

“Aku… aku bisa-“

“Rosalina! Dengar baik-baik! Orang itu diperintahkan untuk mendekatimu supaya dia bisa membunuhmu dan mengambil kerismu! Dia akan membunuhku juga! Kita berdua harus lari ke Perpustakaan Pengelana sekarang!” Kakek itu memegangi Rosalina selagi mengatakan itu sebelum dia melepaskannya dan mengambil ancang-ancang. Dia segera menembakkan panah tersebut ke ayam di atas tiang dan membunuhnya.

Rosalina sendiri perlahan berdiri dan menatap ke arahnya. “Apa yang dikatakannya benar? Selama ini lu bersama gue cuma untuk… cuma untuk ini?” Dia bertanya selagi mengeluarkan keris warisannya.

Zakaria menatapnya, tidak tahu harus mengatakan apa. Dia ingin menenangkannya, tetapi tiba-tiba Rosalina berteriak, “Jangan bohong ama gue!!”

Dia mengusap matanya dan berkata dengan suara serak, “Selama ini gue kira… gue kira lu murni tertarik sama mimpi gue… Murni mau ngebantu gue ngewujutinnya… Teganya…”

“Kau diincar AWCY! Mereka berencana membunuh orang dengan-“ Zakaria mencoba menjelaskan, hanya untuk dipotong Rosalina yang berteriak, “Bacot!”

Dan dengan itu dia berlari menjauh, kembali ke arah mobil.

“Rosalina! Tunggu!” Teriak Zakaria dan kakek tadi secara hampir bersamaan. Zakaria menatap ke arah kakek tersebut yang sudah siap lari.

“Aku akan menghabisimu nanti!” Zakaria berteriak kepadanya sebelum berlari mengejar Rosalina.

Tidak peduli seberapa cepat dia mencoba lari, dia sudah mendengar suara mobil di kejauhan. Dia hanya bisa diam mengamati mobilnya menjauh dengan segera.

Dia memutuskan untuk lari kembali ke tiang tadi, dia akan menyelesaikan urusannya dengan kakek itu. Tiba-tiba dia mendengar suara benda jatuh. Zakaria akhirnya sampai dan menemukan bangkai ayam tadi sudah jatuh ke tanah. Kakek tadi tidak terlihat di mana pun.

Dia segera meraih ponselnya.

“Respon Level 3, Rosalina…”


Setelah beberapa jam, lapangan tersebut segera dipenuhi agen mereka. Beberapa menggeledah gubuk sementara yang lain mencari ke sekeliling.

“Kakek tua tadi itu…” Robert mendatangi Zakaria yang mengamati aktivitas para agen berkata, “Nama aslinya adalah Citrus Letcherman. Dia memang mantan dosen di ICSUT Singapura, keluar dari organisasi setelah terafiliasi dengan Serpent Hand.”

“Persetan siapa namanya, apakah kalian berhasil menemukan kakek itu?” Zakaria berkata.

“Kemungkinan besar lari ke Wanderer’s Library, berdasarkan penjelasanmu tadi. Sisi baiknya adalah kau menemukan titik Way baru yang tidak kami ketahui.”

“Sisi buruknya aku membiarkan Rosa mengetahui kebenarannya. Apa area gudang sudah diamankan?” Zakaria berkata.

“Sayangnya area gudang sedang sibuk dipakai perusahaan sipil, jadi agen kita tidak bisa membobol gudang itu tanpa menarik perhatian dari penjaga gudang. Lagipula, target utama kita adalah kerisnya, yang saat ini berada bersamanya. Pilihan terbaik kita adalah menunggu dia kembali ke gudang dan mengeksekusinya.”

“Menangkapnya.” Ralat Zakaria. “Kita cuma perlu merampas kerisnya. Itu saja.”

Robert hanya menatapnya setelah dirinya mengatakan itu. Akhirnya dia berkata, “Kita kembali ke Jakarta dalam sepuluh menit. Kita berada di teritori Situs-79 Yayasan.”

Zakaria menangguk. Mereka hanya bisa menunggu.


Tetapi Zakaria tidaklah bisa sabar dalam menunggu. Dia begadang semalaman, duduk di ranjang menunggu kabar dari radio sementara rekan timnya tidur di kamar lainnya. Dia mencoba tidur, tetapi dia tak hentinya memikirkan nasib Rosalina. Dia sama sekali tidak tahu apakah saat ditemukan dia akan dibunuh atau tidak.

Membuat Zakaria berpikir, kenapa dia peduli dengannya?

Dia hanya pengguna taumaturgi amatiran…

Itu alasan yang pertama dipikirkannya.

…Yang hanya bisa menurunkan hujan melalu kerja keras…

Dia terus berpikir.

…Tak kenal lelah untuk mewujudkan mimpi konyolnya…

Dia terbaring di ranjangnya.

…Yang entah kenapa membuatku ingin berdiri di sampingnya dan membantunya…

Terbaring diam menatap langit-langit kamar.

…Ingin melihatnya mewujudkan mimpi kecilnya…

Dia memejamkan matanya.

…Yah, alasan yang aneh, tetapi entah kenapa kurasa masuk akal.


Dia tersentak ketika seseorang membangunkannya. Zakaria perlahan menyadari dia anggota timnya. Dengan cepat orang itu berkata, “Laporan masuk di lapangan, Zak! Target membobol gudang penyimpanan dan menghabisi agen-agen yang menghentikannya!”

“Apa yang…” Zakaria yang masih setengah sadar segera mengusap matanya dan bangun segera. Dia mendengar suara di kejauhan, kemudian menyadari itu suara guntur.

Dia segera bergegas ke luar ruangan mengikuti agen yang bersamanya tadi.

…

“Kau lihat atap bangunan itu?” Seorang agen berteriak agar terdengar sampai ke belakang.

Zakaria perlahan berjalan mendekati pintu terbuka dengan seorang agen sudah siap menembak menggunakan senapan runduk.

Dia merasakan hantaman angin dan tetesan air di udara seketika, tetapi sekilas bisa melihat sekeliling pelabuhan yang diguyur hujan di atas helikopter yang dia tumpangi.

Dia ingat yang dikatakan Robert sebelum menaiki helikopter ini tadi; sekarang adalah operasi eksekusi. Yayasan tidak akan mencampuri urusan eksekusi mereka sampai selesai, jadi mereka bisa mengerahkan lebih banyak perlengkapan asal tidak menarik perhatian lebih dari publik.

Dia kini ditugaskan untuk mengawasi situasi dari atas sana.

Dengan cermat dia mengamati bangunan yang ditunjuk pilot sebelumnya. Sebuah atap bangunan tua yang terdiri dari lima lantai. Dia mengambil binokular yang dibawanya dan mengamati dengan seksama.

Dia bisa melihat Rosalina yang mengenakan jaket parasut biru tuanya sudah berdiri di depan mesinnya yang tengah menyala, menusuk tanah demi tanah di wadah dengan cepat.

“Sebentar lagi lima agen kita akan menyerbu masuk dengan lima lagi standby di belakang mereka.” Pilot tersebut berkata.

Zakaria mengamati sekeliling pelabuhan yang diguyur hujan. Sekarang seharusnya sudah pukul empat sore, tetapi langit masih diguyur hujan. Sesuatu tiba-tiba terlintas di pikirannya.

“Sebentar, sudah berapa lama hujan ini terjadi?” Tanya Zakaria selagi menurunkan binokularnya. Dia ingat keluar dari kost sementara di tengah hujan ringan sekitar pukul sembilan pagi. Sekarang sudah menjadi hujan deras.

“Sejak target menyalakan mesin itu!” Pilot menjawab.

“Tunggu, tunggu! Itu artinya mesin itu tidak berbahaya! Rosalina benar! Mesin itu bisa mengambil air laut untuk hujannya!” Zakaria berkata dengan senang.

Sang pilot hanya terkekeh. “Apa pedulimu! Target sudah dinyatakan harus mati. Kita hanya perlu menjalankan perintah!”

Tidak… Zakaria segera mengangkat binokularnya kembali dan mengamati ke atap.

Dan benar saja, Zakaria bisa melihat dari pintu akses atap bermunculan agen satu persatu menodongkan senjata padanya. Mereka langsung menembaki Rosalina seketika.

Zakaria menurunkan binokularnya seketika. Entah kenapa dia tidaklah mau melihatnya ditembak. Dia menjauh dari pintu helikopter perlahan.

Tiba-tiba, kilat menyambar di luar diikuti suara guntur yang keras. Pilot jelas terkejut dan sesaat hilang kendali. Zakaria menjaga keseimbangannya sebelum mengamati keadaan di atap dengan binokularnya kembali.

Lima agen tadi tergeletak di tanah yang sepertinya menghitam. Mereka semua tersambar petir. Rosalina terlihat berlari ke arah mereka dan mengambil sesuatu di lokasi petir menyambar.

Dia terlihat berlari zigzag dan berlindung ke belakang mesinnya yang sepertinya sudah mati. Zakaria mengalihkan pandangannya ke pintu ke atap dan mendapati lima agen cadangan keluar dan menembakinya. Rosalina sepertinya mengambil ancang-ancang. Zakaria mengamati dengan cermat kalau yang dipegangnya dari tadi adalah kerisnya sendiri. Dengan cepat dia lempar keris itu tepat di badan salah satu agen. Petir menyambar atap gedung itu seketika.

Semua agen yang dikirim ke sana tergeletak tewas.

“Target menghabisi seluruh agen di bangunan!” Pilot berkata. “Lanjut ke rencana kedua, tembak dia!”

Agen yang berada di samping Zakaria mengangguk dan mempersiapkan senapan runduknya. Dia tiarap dan bersiap untuk menembaknya.

Zakaria berdiri diam di sampingnya, masih memproses apa yang baru saja terjadi dan apa yang akan terjadi.

Tetapi hatinya memiliki prioritas, meyakinkan otaknya untuk memikirkan sebuah aksi dan konsekuensinya secepat yang dia bisa.

Setelah Keputusan dibuat, dia melakukan apa yang menurutnya harus dilakukan.

Dengan cepat dia menendang kepala agen tersebut, membuat tembakkannya meleset. Zakaria dengan cepat menginjak lengan agen tersebut dan sebelum dia sempat menyadarinya, merampas senapan runduk miliknya. Dia tidak pernah menggunakan senapan runduk sebelumnya, tetapi dia punya waktu cukup untuk mencoba dan menembaknya dari jarak dekat.

Dan dia berhasil melakukannya dengan cepat. Efek tolak balik pertamanya mengejutkannya, tetapi untungnya lawannya sudah tak bergerak untuk memanfaatkannya.

“Hei! Apa-apaan yang terjadi di belakang sana!” Sang pilot berteriak bingung.

Zakaria segera menyiapkan senapannya dan menodongkannya ke arah sang pilot. “Turunkan aku dekat bangunan itu atau kau kutembak dan kita berdua mati.”

Sang pilot menatap ke arahnya dengan tatapan marah, tetapi sepertinya dia ingin tetap hidup sehingga dengan segera dia menurutinya. Mereka segera mendarat di parkiran sisi terbengkalai pelabuhan itu.

Zakaria segera turun setelah dia menembak kedua agen di helikopter itu dan mengambil pistol dan amunisi mereka. Dia segera berjalan melawan hujan yang mengguyurnya, berusaha secepatnya mencapai gedung tersebut.

Dia masuk ke dalam bangunan dan mendapati sama seperti area pelabuhan ini, tempat ini cukup terbengkalai. Sepertinya tempat ini bekas kantor sebelum pindah ke sisi lain pelabuhan. Dia mengamati tangganya yang terbuat dari beton. Terdapat sekumpulan triplek panjang yang berada di tengah ruangan. Sepertinya Rosalina menggunakan itu untuk mengangkat mesin itu keatas sebelum para agen yang datang membuangnya.

Dengan cepat Zakaria berlari lantai demi lantai. Pada lantai kelima dia mengatur nafasnya sebelum menaiki tangga terakhir ke atap. Dia lalu perlahan menaiki tiap anak tangga dengan pistolnya di tangan. Setelah sampai di depan pintu atap yang terbuka, dia mengamati pistol di tangannya selama beberapa saat.

Dia mengantonginya dan melangkah perlahan ke luar.

“Rosalina!” Teriaknya.

Dengan segera dia mengangkat tangannya. Rosalina hampir melempar kerisnya, hanya untuk menatapnya. Saat itu dia menyadari kalau warna mata Rosalina entah kenapa bukannya berwarna hitam, tetapi kini berwarna merah terang.

Zakaria berdiri di depannya, menunjukkan seragam kemeja GOC birunya yang dilapisi rompi antipeluru standar, menunjukkan siapa dirinya sebeneranya. Sebuah hutang yang dia terlambat lunaskan.

Dia menatap Zakaria dengan marah. Keris di tangan kanannya memercikkan kilat sesekali, siap dilemparnya kapan saja. Sekilas Zakaria melirik para agen sebelumnya yang tergeletak tak bernyawa di sekitarnya, memikirkan betapa pantasnya dia bergabung bersama mereka.

Tetapi Rosalina menahan diri. Dia malah berteriak, “Ngapain lu bajingan!”

“Teorimu benar!” Balas Zakaria segera. “Mesinmu berhasil menciptakan hujan tanpa mengisap darah!”

“Apa pedulimu! Lu pengen ngebunuh gue kan! Ngambil keris ini, kan!” Rosalina berkata. Tangannya tetap terangkat tetapi tak kunjung dilemparnya kerisnya, seakan dia menunggu jawaban yang bisa menjustifikasi lemparan mematikannya.

“Dengarkan aku!” Zakaria dengan perlahan melangkah maju, langkah demi langkah. “Maaf tidak memberitahukanmu mengenai identitasku! Biarkan aku menjelaskan semuanya!”

“Jangan!” Rosalina mencoba teriak, tetapi sedikit tidak jelas karena suaranya serak. Hujan membuat Zakaria tidak tahu dia tengah menangis atau tidak. “Jangan mendekat!”

Zakaria diam di tempat, masih mengangkat tangannya. Dia merasa dia sudah dekat dengannya. Dengan cepat dia memutuskan untuk lari. Rosalina reflek melempar kerisnya ke arahnya selagi berteriak marah.

Zakaria tahu lemparan Rosalina akurat; dia sengaja berlari ke arah kirinya tadi. Dia reflek melompat ke kanan sejauh yang dia bisa. Keris itu menghantam tanah, tetapi hanya memunculkan percikan kecil sebelum terpental ke samping. Tidak ada petir yang menyambar.

Rosalina sepertinya terkejut mengetahui lemparannya meleset. Dia menatap Zakaria yang segera mencoba berdiri di dekatnya sebelum berlari ke arah kerisnya. Zakaria tahu itu dan segera melompat lagi dan menahan kaki Rosalina. Dia jatuh seketika dan meringis kesakitan.

“Dengarkan aku!” Zakaria mencoba bicara kepada Rosalina yang tengah meronta. “Aku tak akan membunuhmu! Aku ingin menolongmu menyelesaikan mimpimu, kau mengerti!”

“Gak! Lu sama dengan orang-orang yang datang tadi! Gue- gue gak mau ngebunuh siapa pun! Makanya gue pilih nyalainnya di sini! Kenapa kalian gak mengerti!” Rosalina berkata selagi terisak.

“Tidak! Aku sangat mengerti dan sangat senang kau melakukannya. Aku sudah bersamamu sejak awal, aku mengetahui mimpimu dan mengagumi kemauanmu yang tak terhentikan itu.” Zakaria membalas. Dan itu perkataan tulus darinya.

Zakaria perlahan melepas pegangannya. “Sayangnya sisa agen GOC lain mendapat perintah jelas untuk membunuhmu. Aku tidak bisa menghentikan mereka semua, tetapi aku bisa menahan mereka sampai kau menyelesaikan hujan ini.”

Rosalina hanya menatapnya dengan bingung. “H- Huh?”

Zakaria segera berdiri dan berkata. “Kau ingin melihat pelangi pertama dari hujan buatanmu, kan? Aku akan mengawalmu sampai hujan ini selesai.”

“Tapi kenapa? Kenapa lu ngekhianatin mereka?” Dia bertanya dengan bingung.

Zakaria hanya mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. “Karena aku ingin melakukannya. Aku ingin kau melihat kau mewujudkan mimpimu.”

Rosalina hanya menatapnya selama beberapa saat. Akhirnya dia perlahan berdiri tanpa meraih tangan Zakaria dan berkata, “Gue masih belum mau ngemaafin elu…”

Zakaria tak mempermasalahkan itu. Rosalina berjalan ke arah kerisnya yang dilemparnya tadi dan meraihnya. Dia berjalan melalui Zakaria tanpa melihat ke arahnya. Zakaria sendiri hanya mengangkat bahu dan mengeluarkan senapan yang dia bawa tadi. Dia mulai mengamati sekeliling melalui scope-nya.

Mereka tidak bicara selama beberapa saat. Hujan mulai perlahan mereda menjadi gerimis. Zakaria menatap ke arah Rosalina yang enggan untuk melihatnya. Dia menghela nafas.

“Jadi, sejak kapan kau bisa menyambar orang dengan itu?” Zakaria memutuskan untuk duluan membuka pembicaraan.

“Lu disuruh mereka buat nanya-nanya ama gue?” Rosalina enggan menjawab pertanyaannya.

“Tidak, aku memang suka bertanya. Aku tidak perlu orang untuk mengaturku bicara.” Balas Zakaria.

Rosalina sepertinya tidaklah ingin menjawab, tetapi akhirnya dia berkata, “Sejak dulu. Gue gak bakal lakuin kalo gak terpaksa kayak gini…”

Zakaria mengamati warna mata Rosalina dengan seksama, menyadari bahwa sebenarnya mereka berwarna merah mawar. “Dan matamu itu?” Dia lanjut bertanya.

“…Efek sampingnya. Gue tak pernah menyukainya.” Jawab Rosalina dengan nada tak senang sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Zakaria tersenyum. Dia sudah bersamanya cukup lama untuk mengetahui alasannya tak menyukainya karena petirnya berbahaya. Warna matanya bak pengingat kalau dia menyambar orang dengan kemampuannya. Dia sendiri sebenarnya menyukainya. Terlihat unik dan entah kenapa cocok untuknya.

“Jadi lu mau ngejelasin apaan tadi?” Kini giliran Rosalina yang bertanya, mengamati langit dengan tangan bersilang.

Zakaria menghela nafas sebelum berkata, “GOC mencurigai kau tengah membuat sesuatu yang berbahaya karena ada petinggi dari AWCY yang tertarik pada proyekmu. Kau tahu itu, kan?”

“…Yang pertama nemuin gue itu, doi bilang namanya ‘Sijjin’. Katanya pengen ngajak gue gabung komunitasnya kalo gue hidupin itu mesin di tengah kota. Gue gak bodoh amat, gue memang tau kalau mesin ini bakal maksa nyari air, cuma… gue dulu gak mikir kalau bakal ngambil darah manusia.” Rosalina mengaku pelan.

“Ya, tapi GOC tahu itu. Mereka mengirimku untuk mengonfirmasi keberadaan dan tujuanmu membuat mesin itu.” Balas Zakaria.

“Itu alasan lu gigih amat pengen nolongin gue dulu, kan?” Rosalina berkata dengan kesal.

Zakaria hanya terkekeh. “Kau orang yang cukup keras kepala. Tetapi aku akhirnya tahu lebih dalam mengenai dirimu.”

“Ya, karena gue memang jujur sama lo! Gue bilang mimpi gue, gue ajak lo kemana-mana, gue buka semuanya karena gue kira… gue kira lu juga sama…” Dia akhirnya tidak bisa menahan perasaannya lagi. Dia kembali menangis.

Zakaria diam menatapnya. Dia mencoba berkata, “Maaf. Aku hanya tidak tahu apakah aku harus mengatakan kalau aku agen GOC. Aku tak ingin merusak segalanya dengan itu.”

“Ya, sebaiknya lu harus karena gue terlambat sadar kalau gue sudah diintai sejak awal! Mbah Sudarman benar…” Dia membalas dengan kesal sebelum kembali terisak.

Zakaria ingin menyusun kata-kata lagi, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara. Dia segera berbalik ke pinggir atap dan mengamati setidaknya tiga mobil hitam mendekat. Zakaria mengamati seluruh agen keluar dari mobil dengan khawatir, dia tahu GOC kini mengerahkan segalanya untuk misi ini.

“Tiga mobil mendekat!” Zakaria berkata selagi bergegas ke arah Rosalina yang tersentak. “Tiga belas agen memasuki bangunan. Tadi aku pakai papan triplekmu untuk membuat barikade di tangga, entah berapa lama bisa menahan mereka.”

Rosalina hanya diam sementara Zakaria mengambil ancang-ancang. Dia menyiapkan senapan runduknya dan siap untuk menembak ke arah pintu.

Tiba-tiba Rosalina menyentuh pundaknya dan berkata, “Tolong tangkap saja gue.”

“Apa?”

“Pikir aja, lu gak mungkin ngalahin semua agen itu. Setidaknya lu bisa nangkap gue supaya gak kena masalah.” Rosalina sepertinya sudah pasrah.

Zakaria melirik ke belakang dan menyadari bahwa meski langit masih mencurahkan hujan, matahari sore berhasil menampakkan cahayanya. Dia dengan cepat menoleh ke depan dan mencari dengan liar ke arah langit. Akhirnya dia melihat apa yang dia cari, dan dia tersenyum senang.

“Rosalina, lihat!” Zakaria segera menunjuk ke arah langit di depannya. Pelangi berhasil terbentuk. “Kau berhasil!”

Rosalina hanya tersenyum, tetapi matanya menunjukkan kesedihan. Dia memegangi tangan Zakaria sebelum melepasnya. Zakaria hanya menatapnya dengan bingung.

Tiba-tiba, dia memeluknya. Dia berkata pelan,

“Terima kasih… Terima kasih sudah membantuku mewujudkannya.”

Dengan perlahan dia melepaskan pegangannya. Dia berkata, “Gue gak ingin berpisah denganmu…”

Dia menatap Zakaria dan berusaha tersenyum sekuat tenaga seraya melanjutkan, “…tapi takdir yang memaksakannya…”

Rosalina berjalan mendekati tepi bangunan yang berhadapan langsung dengan lautan. “Gue yang akan pergi. Hancurkan saja mesin gue supaya mereka gak curiga sama mu.”

Zakaria menggeleng. Dia menggeleng kuat selagi berjalan mendekati Rosalina dan memegangi tangannya.

“Kita akan keluar dari sini bersama-sama.” Zakaria berkata dengan yakin. “Aku akan menembaki tim awal dan menghabisi sebanyak mungkin agen sementara kau bersiap di belakang untuk lari dan memakai mobil mereka untuk pergi dari sini.”

“Tidak, lu gak perlu mengikutin gue lebih jauh lagi! Lu sudah melihat gue berhasil, kan? Sekarang pergi sebelum mereka ngehabisin lu juga!” Rosalina masih memaksa dan menjauh darinya.

Mereka berdua saling menatap selama beberapa saat.

“Menurutmu apakah kita diberi sesuatu hanya untuk itu diambil pergi?” Zakaria berkata.

Dia memeluk Rosalina dan berkata, “Jika kita mempertahankannya, apakah itu hina?”

Dengan perlahan dia melepaskan pelukannya dan berbalik. “Ataukah itu mulia?

Senapannya siap, dia bisa mendengar langkah kaki mendekat. Dia tidak lagi melirik, tetapi dia berkata, “Apa jawabanmu?”

Rosalina hanya menatapnya dengan tangannya yang memegang keris bergetar hebat.

“HUUUAAAAAAA!!!”

Dia menikam Zakaria di punggungnya dengan kerisnya dan menyetrumnya selagi berteriak penuh penyesalan dan keputusasaan.

Zakaria berteriak kesakitan sebelum terbaring. Asap membumbung dari bekas lukanya yang seperti tersambar petir. Rosalina tidaklah sempat melihat itu semua karena dia sendiri meloncat mundur dari bangunan.

Aku akan menghilang jauh darimu… Kau tak akan melihat sehelai rambutku…

Dia jatuh dengan cepat ke permukaan, wajahnya menatap langit keemasan sore.

Tetapi semoga suatu saat nanti…

Dia tidaklah menghantam tanah. Bangunan itu terlalu dekat dengan laut. Rosalina akhirnya menghantam laut.

…kita… …dapat… …bertemu… …kembali...


Zakaria tersontak bangun. Matanya dengan cepat mengamatinya ke sekelilingnya. Ada banyak agen mengelilinginya. Seorang agen memegang defibrilator di sampingnya. Dia menyadari kemejanya terbuka dan dia akhirnya sadar mereka baru saja menyetrumnya.

Robert muncul dan berkata, “Untungnya kau masih hidup.”

“Apa yang baru saja terjadi?” Zakaria bertanya pelan.

“Kami datang dan menemukanmu tergeletak di sini. Kami sudah dapat laporan target menyambar korban dan untungnya kami membawa AED untuk itu. Kau sepertinya melawan cukup baik, eh?” Robert menjelaskan.

Tunggu…

“Di… di mana Rosalina?!” Zakaria mulai panik.

“Dia hilang. Kemungkinan loncat ke bawah. Kami masih mencari tubuhnya.” Jawab Robert.

“Tubuhnya? Apa maksudmu?!” Zakaria kembali bertanya.

Robert menatapnya dengan heran. “Loncat dari ketinggian ini untungnya mematikan. Sayangnya dia tidak menghantam tanah, jadi semoga saja dia pingsan dan mati tenggelam di laut.”

Tidak…

Zakaria mencoba mendekati tepi bangunan, tetapi dia hanya bisa merayap.

Tidak, tidak, tidak…

Dia hanya perlu satu tangan untuk menyeretnya. Dia terus mencoba.

Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak!

Para agen hanya menatapnya. Robert sendiri perlahan mendekatinya.

Zakaria akhirnya sampai di tepi bangunan dan mengamati ganasnya ombak air malam pasca hujan tadi. Hantaman ombak menghantam pinggir bangunan tanpa henti.

“Dinyatakan mati. Kau harus bangga dengan pencapaian pertamamu itu.” Robert menepuk pundaknya.

“Tidak! Tidak! Tidak!” Zakaria mulai berteriak dan menghantam pinggir atap.

“Tenang saja, lain kali akan kutugaskan kau dan kau bisa mencoba membunuh target lagi. Tunggu saja.” Robert berkata dengan senyum. Dia melangkah menjauh diikuti agen lain, tidak memedulikan teriakan marah Zakaria di pinggir atap.


“Dan itulah akhir ceritanya.” Dirgo berkata.

“Itulah akhir ceritanya.” Zakaria menggumam.

“Untuk saat ini.” Tambah Dirgo.

Zakaria menatap Dirgo dengan bingung. “Maksudmu?”

Dirgo hanya tersenyum. “Menurutmu dia masih hidup?”

Zakaria menggeleng selagi terkekeh. Dia tidak yakin Rosalina masih hidup. GOC sudah menyatakannya terlikuidasi berdasarkan fakta di lapangan.

Tidak, Zakaria tahu mereka tidak berhasil menemukan mayatnya di lapangan. Mereka menyatakan misi selesai agar bisa berganti ke misi selanjutnya tanpa simpul longgar yang membayang-bayangi mereka.

Dia tidak tahu Rosalina masih hidup atau tidak.

Itulah kenapa…


“Zakaria tunggu!”

Pada malam hari itu, dia melompat jatuh dari atap bangunan setinggi lima lantai mengikuti jejak Rosalina.

Hal terakhir yang dia bisa lakukan adalah mengikuti langkah terakhirnya.

Dan dengan itu, dia menghantam lautan malam.

Hening setelah percikan air hilang. Para agen yang mencoba menghentikannya segera menyinari laut malam, mengalahkan cahaya bulan yang terpantul di laut.

Tiba-tiba, sebuah tangan muncul dari laut, disusul oleh tangan lainnya yang segera meronta mencoba berenang.

Zakaria muncul di permukaan. Dia tidak tahu apa yang tepatnya tengah dia rasakan. Tetapi satu hal yang pasti, dia telah mengonfirmasi sebuah kebenaran.


“Dia masih hidup. Dia masih hidup di luar sana.” Zakaria berkata pelan.

“Dan apakah kau ingin mendapatkannya kembali?” Dirgo lanjut bertanya.

Zakaria diam. Dia sudah tahu Rosalina masih hidup. Setidaknya dia sangat mempercayai itu. Tetapi perkataan Dirgo membuatnya berpikir, apakah dia hilang dari hidupnya itu memang keinginannya. Dia tidak tahu apakah ini keputusan terbaik untuknya. Dan apakah ini keputusan terbaik untuk Rosalina.

Dirgo menatapnya yang masih diam. Akhirnya dia berkata, “Jika seorang anak kehilangan sebuah balon yang terbang dari genggamannya, apa yang anak itu lakukan?”

Zakaria menatap Dirgo. Sesaat kemudian dia menjawab, “Dia akan membiarkannya terbang. Tahu dirinya tak akan pernah menggapainya kembali.”

Dirgo tersenyum dan mengeluarkan kembali bukunya. “Dan bagaimana jika seseorang menggapai balon itu dan menyerahkannya ke anak tadi? Atau balon itu tersangkut di pohon yang bisa anak itu naiki?”

Zakaria terkekeh. “Tidak mungkin…” Katanya pelan.

Tetapi Dirgo menatapnya dengan serius, mendapatkan perhatian Zakaria. “Suatu hari, GOC akan menemukannya, atau suatu hari kau akan bertemu kembali dengannya. Pertanyaannya, apa yang akan anak itu lakukan jika dia mendapatkannya kembali?”

Dirgo diam menatap Zakaria yang awalnya menunduk, kini perlahan bangkit dan menatapnya dengan penuh keseriusan dan determinasi.

“Anak itu akan memegangnya dengan erat, tak akan melepaskannya lagi selamanya.”

Dirgo tersenyum mendengar jawaban Zakaria. Dia mulai mencatat di buku catatannya.

”Semoga beruntung dengan perburuanmu.”

“Tentu.”

Kronik Situs-79

Lokacipta Teja



Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License