173
Ia berdiri
bak raja
atas semua yang pernah ia dambakan; sudut berselimut bayang
di sel berbau busuk.
Hidup
tiad arti bagi batu.
Gunung terkikis.
Lereng bukit runtuh.
Baginya, semua berlalu secepat bisikan manusia
yang matanya
telah
mengandaskan
mereka.
Jeroan terburai dari kakinya,
busuk, menyengat,
membuat mata yang tak siap berair—
jauh lebih cepat,
batu.
Batu tak peduli akan kehidupan
dan batu ini lebih tak peduli lagi,
kecuali pada kecepatan,
erosi
halus
lembut
dari patahnya tulang demi tulang.
"Tinggalkan segala harapan, hai siapa pun yang masuk ke sini."
Batu tak peduli.
Jangan berkedip.
page revision: 1, last edited: 28 Sep 2026 09:49




