Dini hari ini
Sekali lagi, untuk malam ini, Harper menyaksikan kembali pemandangan familiar ruang utama rumah sakit yang menjadi kover situs mereka. Lampu artifisial ruangan menyala terang menyinari dinding putih yang mengelilinginya.
Tetapi permukaannya terlihat basah, sudah terkena siraman bensin selayaknya lantainya yang kini tergenang karenanya. Harper bisa melihat itu karena setengah wajahnya terendam di sana selagi dia terbaring di lantai.
Lebih tepatnya, dia dipaksa berbaring di lantai. Dia tahu dua orang personel Situs-79 tengah menahannya agar tetap terbaring. Dia hanya menatap tak berdaya seraya pintu resepsionis terbuka dan beberapa orang melangkah masuk dan mendekat.
Pemandangannya samar-samar, tetapi Harper ingat tiap orang yang berada di sana. Orang paling mencolok di depannya memiliki warna rambut kekuningan. Harper selalu menyukai warna itu. Mungkin dia dan direktur pertama situs ini memiliki kecocokan lebih dari itu. Orang tersebut melangkah mendekati Harper yang masih terbaring di lantai. Setelah beberapa saat, dia cuma bisa melihat kakinya semata.
Baru saat orang itu berlutut dan memandangnya, Harper bisa menatap balik wajahnya. Dalam hati dia berkata pelan,
Lucy
“Kita bertemu lagi, Harper.” Lucy berkata. Dia terlihat bosan dan sama sekali tak tertarik akan reuni ini.
Kenapa kau bersama mereka?
Harper ingin berteriak lebih dari suara pikirannya itu, tetapi dia cuma dapat menatapnya tanpa bisa bergerak. Persis seperti malam itu.
Lucy hanya menatapnya tanpa ekspresi. Dengan pelan dia berkata, “Kau masih tak berguna ya…”
…Apa?
“Lagi-lagi, kau hanya diam tak melakukan apa-apa. Apa kau memang perlu bantuan agar bisa berdiri dengan sendirinya?” Lucy melanjutkan.
Aku… aku tak lagi diam seperti dulu! Aku sudah menstabilkan situs ini, menyatukan situs-situs lain agar bersatu bersamaku! Semua… untuk mendapatkanmu kembali…
Seakan mendengar bantahan batin Harper, Lucy menggeleng pelan. “Meskipun kau mengatakan itu, pada akhirnya kau tetap terbaring di bawah sana, tak berdaya di bawah injakan Situs-79.”
Harper melihat Lucy menurunkan pandangannya. “Sama sepertiku…” Bisiknya pelan.
Tidak, kau harus melepaskan diri dari mereka! Kau bisa melawan ketidakadilan situs ini! Kau pasti bisa mengalahkan pengaruh Situs-79 juga! Harper memohon padanya.
Lucy menatapnya, entah kenapa dengan ekspresi terganggu. Dia mengembuskan nafas kecewa dan membalas, “Tak kusangka kau memang tak berguna.”
Mendekatkan dirinya ke Harper yang menatap heran, selagi dirinya mulai meneteskan air mata Lucy berkata, “Aku tak bisa melawan mereka, Harper. Aku milik mereka sekarang. Kau tahu itu saat kita terakhir bertemu.”
Harper mengalihkan pandangan. Dia tahu itu, dia sangat tahu itu. Begitu dia kembali menatap ke depan, Lucy perlahan berdiri kembali.
“Jika aku saja tidak bisa melepaskan belenggu Situs-79, sepertinya kau pun tak akan bisa lepas dari injakan kaki mereka.” Lucy berkata. Dia berbalik dan perlahan mulai melangkah menjauhi Harper, berjalan kembali ke gerombolan orang asing di depannya.
Di tengah jalan, Lucy berpapasan dengan seorang pria yang kini gantian melangkah mendekati Harper. Dia lumayan tinggi dan mengenakan seragam peneliti. Harper sangat mengenalinya sebagai orang yang menghajarnya di ruang interogasi. Pria yang dengan kasarnya mendekap Lucy yang tak berdaya dan menyeretnya kembali ke Situs-79.
Harper perlahan mencoba mendongkak dan mengamati wajahnya dengan tatapan penuh kebencian. Pria di depannya itu merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan sekotak rokok. Dia mengambil pematik dan satu batang dari kotak tersebut sebelum menyalakannya. Dia menunduk dan menatap Harper dengan senyum puas di wajahnya.
Setelah beberapa saat, asap keluar dari mulutnya dan dia memegang kembali rokoknya. Seketika dia lempar di dekat kepala Harper seraya dia berbalik tak peduli. Dengan itu, lantai yang sudah tergenang bensin terbakar.
Setengah wajah Harper jelas tengah dihantam api, tetapi dia tak merasakan apa pun dari itu. Dirinya fokus menatap Lucy yang perlahan mengikuti gerombolan orang di depannya pergi meninggalkan ruangan. Hanya Harper yang mendengar isakan pelan Lucy selagi dirinya yang terakhir memegang daun pintu sebelum keluar.
“Selamatkan aku, Harper. Tolong selamatkan aku.”
Sebisanya Harper mengulurkan tangannya ke arah pintu, mencoba meraihnya selagi ia tertutup. Tak peduli meskipun itu, meskipun dirinya, seperti yang Lucy katakan, tidaklah berguna.
Aku akan mengeluarkanmu dari sana… jadi tunggu saja…
Pemandangan gelap langit-langit kamar pasien kover situsnya merupakan pemandangan yang menyambut penglihatanannya setelahnya. Harper menatap langit-langit selama beberapa saat sebelum perlahan duduk di ranjang pasien yang ditempatinya.
Dia diam selama beberapa saat, memikirkan kembali apa yang baru saja dia mimpikan. Sebuah pengingat akan kegagalan terbesarnya malam itu kembali untuk menghantuinya lagi malam ini. Tentu saja itu tak akan sesering itu muncul jika Harper tidaklah selalu memikirkannya setiap saat. Dan bagaimana bisa dia tidak memikirkannya sampai pada titik ini, itu adalah pengingat akan ketidakberdayaannya di bawah injakan kaki personel mereka seraya mereka menumpahkan api membara ke situs dan wajahnya sendiri.
Tak peduli apa yang telah dirinya capai sejauh ini, Lucy dalam pikirannya benar, dia masih tak bisa apa-apa menghadapi Situs-79. Maka tentu saja dia harus diingatkan kembali oleh dirinya sendiri. Harper perlahan mengenggam erat ranjangnya tanpa sadar.
Meski begitu, detail mimpinya sudah lama terdistorsi seiring tiap mimpi, mengikuti ketidakstabilan emosi dan obsesinya. Dia mampu mengingat kalau bukanlah Lucy yang muncul dari balik pintu resepsionis bersama gerombolan orang di malam itu, tetapi pada titik ini, dia lebih memilih meyakinkan dirinya bahwa Lucy lah yang di sana, menatapnya yang tak berdaya.
Tentu saja Harper ingat malam itu perempuan bertopi itu juga ada, tetapi dalam mimpinya dia cuma sesekali muncul tiba-tiba di dekatnya. Meski dia memiliki topinya, dia berambut hitam, hasil ingatan Harper yang fokus meneliti latar belakangnya dulu yang masih memakai foto lamanya. Sepertinya kali ini dia tidak muncul di mimpinya, tetapi sebelum-sebelumnya, Sang Mad Hatter itu memaksa Harper melihat Lucy diseret gerombolan personel Situs-79 kembali ke kastil merah mereka. ‘Alice telah ditangkap! Alice telah ditangkap!’ itu yang dikatakannya di sampingnya dengan nada gila.
Sebuah detail absurb lain yang mengaburkan ingatannya. Harper melirik ke arah meja di samping ranjang. Terdapat sebuah lampu di meja tersebut. Harper perlahan bergeser dan mendekati lampu itu, mengulurkan tangannya untuk menekan sakelarnya. Begitu menyala, dapat terlihat benda-benda lain di meja. Perban, beberapa dokumen terpasang di klip kertas, senjatanya juga.
Dan di tengah itu semua terdapat sebuah buku. Alice's Adventures in Wonderland, karya Lewis Carroll. Buku itu tersebar dari meja ruang tunggu kover mereka sampai perpustakaan situs di bawahnya atas perintah direktur pertama situs mereka. itu buku favoritnya, atau mungkin putrinya.
Harper belum ada di situs saat itu, tetapi berdasarkan cerita personel terdahulu, pasca kematian putrinya meskipun sudah dirawat di rumah sakitnya sendiri, sang direktur mulai melarutkan pikirannya dengan membaca buku cerita itu setiap saat. Normalnya dia dikategorikan sudah gila, tetapi dia masih mampu menjalankan tugas administratifnya sebagai direktur. Harper merasa kata yang personel dulu cari sebenarnya adalah obsesif. Dan direktur terdahulu dikenal sangat terobsesi dengan cerita itu.
Entah kapan itu bermula, tetapi mulai diketahui kalau sang direktur pertama mereka memberi perhatian lebih kepada personel perempuan berambut pirang. Itu yang kabarnya memicu hampir semua personel perempuan mereka mewarnai rambutnya dengan warna kekuningan demi memanfaatkan keadaan mental sang direktur. Bahkan pasca sang direktur pertama mereka tiada, tren itu terus berlanjut berlandaskan teori itu semata.
Tentu saja, seiring waktu personel perempuan yang lebih senior tak lagi melanjutkannya, tetapi sekarang para personel junior yang menghidupkan tren itu meski hanya sekali saja untuk sekedar mengikuti personel terdahulu semata.
Dan salah satu diantara personel junior itu adalah orang yang paling dikasihinya, Lucy.
Dia ingat hari saat pertama mengenal Lucy secara personal. Saat di mana dia meminta bantuannya menyelidiki kasus yang menarik perhatiannya. Harper perlahan merasa tertarik, yang kemudian berubah menjadi kagum saat dia ikut mendampinginya dalam susah maupun senangnya. Berada di sampingnya sampai pengadilan tak mungkin itu dan memenangkannya. Dan terus mengikutinya sampai dia harus terseret ke Situs-79.
Harper perlahan meraih buku cerita tersebut dan membacanya. Pasca insiden malam itu, awalnya dia cuma membaca buku tersebut untuk mencari apakah ada pola atau petunjuk yang bisa dia temukan untuk memprediksi serangan berikutnya. Tetapi seiring waktu, dia mulai merasa apa yang dialami Lucy sangatlah mirip dengan Alice. Kisah hidup, apa yang dijalaninya, Harper menarik koneksi yang tak dimaksudkan ada antara cerita itu dan menyambungkannya dengan pengalaman Lucy. Entah karena ilustrasinya yang berwarna, entah karena kacaunya pikirannya yang sudah terbelah, seiring dia membalik halaman, semakin yakin dirinya akan itu.
Sampai saat dia mencapai halaman-halaman terakhir, saat di mana Sang Alice bangun dari mimpi anehnya dan melanjutkan hidupnya. Koneksi itu berhenti di sana. Harper sangat terganggu karena itu, saat ini Lucy berada di kastil merah berlumur darah mereka dan dia perlu tahu apa yang terjadi di sana. Ini bukan dunia fantasi, cerita tak berhenti dengan bangun semata jika sedari awal tak ada yang tidur. Apa yang Alice lakukan.
”Aku tak bisa melawan mereka, Harper.”
Harper tersentak, diam memikirkan kalimat itu. Lucy benar, jika bukan karena itu cuma mimpi semata, Alice tak akan mampu keluar dari kastil itu sendirian. Alur cerita dipaksa berlanjut, jadi dia harus memikirkan sambungannya.
Harper menutup bukunya dan beranjak berdiri. Dia sudah tahu harus apa. Membangun sendiri kastil putih, mengumpulkan semua bidak yang ada, dan bersatu sebelum hari frabjous tiba. Sudah waktunya teman-temannya menyelamatkannya keluar dari sana dan menghentikan sang kerajaan merah itu untuk selamanya.
Sekarang
Pintu ruang direktur di sublantai terbuka keras di tengah kesunyiannya. Harper melangkah masuk diiringi Hilda yang mengawalnya. Di hadapan mereka, beberapa penjaga berdiri, menjaga seorang perempuan tua yang terlihat dipaksa duduk di kursi direktur, tak mampu bergerak dengan banyaknya baton listrik diarahkan kepadanya.
Jadi di sanalah dia, hanya bisa duduk dan menatap Harper yang melangkah mendekatinya. Harper balas menatap sang wakil direktur situsnya itu. Pandangan perempuan itu tidaklah penuh amarah. Harper punya firasat dia sebenarnya punya, namun hebat menyembunyikannya, tetapi perempuan tua ini tak pernah sekalipun menunjukkan amarah. Dia cuma menatapnya dengan tatapan kecewa. Mampu terlihat iba juga. Harper tak peduli itu.
Begitu Harper sudah berdiri tepat di depan meja perempuan itu, dia berkata, “Dalam beberapa saat lagi, agen Situs-79 akan menyerbu masuk tempat ini. Aku, tentu saja, akan melawan mereka. Jika aku dibunuh mereka, sudah kuperintahkan personel yang tersisa untuk menjadikanmu kembali menjadi direktur sementara. Terserah kau mau apa dengan setan-setan itu, Miriam.”
Miriam segera berkata, “Jika kau tahu inilah akhirnya, kenapa kita tidak menyerah saja sekarang? Kau tak harus mati untuk ini!”
Harper cuma menggeleng. “Jika ada satu hal yang sampai saat ini tak kupahami darimu, Bu Miriam, kau bersikap simpatis tetapi pola pikirmu pragmatis. Aku punya alasanku untuk melakukan ini, alasan yang baik, dan tentu saja aku akan mati untuk itu. Makanya ku bilang, terserah kau mau apa setelahnya.”
Dia lalu berbalik sebelum melanjutkan, “Jadi sabar saja, mereka akan menyerbu beberapa saat lagi.”
Dia mengisyaratkan sisa penjaga untuk keluar. Dia juga mengisyaratkan Hilda untuk keluar. Hilda menatapnya selama beberapa saat, dibalas anggukan yakin Harper sebelum dirinya keluar. Setelah ruangan kosong selain oleh mereka berdua, Harper berkata pelan, “Percayalah, aku tahu. Aku menyedihkan…”
Miriam hanya diam, tak tahu harus mengatakan apa. “…Tapi semua yang sudah aku lakukan, mereka pantas mendapatkannya.” Harper melanjutkan
“Harper…” Hanya itu yang bisa dikatakan Miriam.
“Bagimu, bagi mereka, aku penjahatnya, tetapi itu tak masalah!” Harper tiba-tiba berkata lebih keras. “Karena itu bukan salahku! Dan sudah saatnya keadilan ditegakkan untuk itu.”
“Harper, tolong…” Miriam kembali berkata, kali ini mencoba lebih keras untuk meyakinkannya berhenti. Dia sudah bersama Herman selama puluhan tahun, apalah artinya itu jika dia tidak bisa meyakinkan orang lain sepertinya.
Tetapi Harper mengangkat tangan kanannya, menyudahinya seketika. Setelah menurunkan tangannya, dia berkata, “Sekarang… antara aku terus melangkah maju, atau segalanya akan sia-sia. Tentu saja, hanya ada satu jawaban untukku.”
Harper berbalik menatap Miriam dan melanjutkan, “Jadi aku akan ke luar sana, karena aku tahu… aku benar. Aku sudah siap untuk ini.”
Dia lalu melangkah keluar, tak memedulikan Miriam yang masih mencoba menghentikannya. Harper segera menutup pintu ruang direktur dan menguncinya kembali. Dia menatap kunci ruangan selama beberapa saat sebelum menjatuhkannya ke lantai, tepat di depannya sendiri. Tak akan ada personel di sini, dia sudah memerintahkan mereka semua untuk memposisikan diri di seluruh lantai kover. Personel Situs-79 akan mengincarnya, jadi bangunan kover lima lantai tentu lebih memberi tantangan dibanding sublantai semata.
Dia merogoh senjatanya dan menatapnya, memastikan kembali tidak ada kendala. Tetapi ini mengingatkannya kembali, memang inilah akhirnya. Dia tidak berhasil menghabisi Situs-79, dan mereka akan kemari menghabisinya. Dia tak akan mampu menemui Lucy dan mungkin kesempatannya sudah lewat.
“…Aku siap. Siap seperti biasa”
Tetapi dia tetap menggenggam erat senjatanya dan melangkah yakin ke depan. Lucy berhasil melawan konspirasi kasus pembunuhan yang ditanganinya, Alice berhasil keluar dari pengadilan tak masuk akal ceritanya, sekarang giliran Harper untuk percaya akan ketidakmungkinan.
Apa yang salah jika rencananya gagal total, dia sudah siap dengan alternatifnya. Dia selalu siap untuk langkah selanjutnya, apa pun yang terjadi.
“Perhatikan aku, Lucy…”
Lampu sorot rumah sakit yang merupakan kover Situs-84 menyala terang dan bergerak cepat mengamati jalanan gelap di depannya. Tentu saja terdapat lampu sorot lain di setiap sisi bangunan termasuk di hutan. Cahayanya menggantikan sinar bulan yang saat ini tengah tertutup awan. Malam ini tidaklah mendung, malah langit cukup ditaburi beberapa bintang. Hanya saja saat ini sang bulan tengah berusaha bersinar menghadap kumpulan awan yang lewat. Meski mereka kecil, mereka mampu menyembunyikan sang bulan. Tentu tidaklah sepenuhnya, karena dapat terlihat siluet bercahayanya, tetapi tentu saja ia terkurung di baliknya.
Meski tersembunyi, tetap ada seseorang yang memperhatikan bahwa sang bulan ada dan tetap berjuang untuk bersinar. Seorang perempuan dengan rambut panjang kekuningan. Dia menatap ke langit berawan itu selama beberapa saat sebelum menurunkan pandangannya ke lantai puncak rumah sakit di depannya.
Terdapat lampu sorot di atap yang sepertinya akan mengarah menyorot dirinya. Jadi dia melangkah maju dan ikut berlindung di balik pagar tinggi yang mengelilingi rumah sakit itu bersama sisa agen lain. Meski banyaknya lampu sorot di halaman depan rumah sakit, seluruh personel Situs-79 yang sudah di lokasi memilih untuk menerobos masuk melalui jalur depan.
Dia teringat pengarahan yang mereka terima dari Birmanto. Sisi samping dan belakang rumah sakit memang sekilas membantu mereka lebih tersembunyi dan terlihat mendapat perhatian lebih rendah dibandingkan arah depan, tetapi katanya Harper pasti sudah mengantisipasi itu, kemungkinan dengan jebakan dan sebagainya. Jadi mereka memilih mengambil risiko memakai jalur depan. Dengan ia dijadikan lokasi deretan tenda personel gabungan dan perlengkapan mereka, tak mungkin halamannya ditaburi jebakan.
Lucy mengamati sekilas ke balik pagar begitu lampu sorot berhenti menyoroti posisi mereka, kembali melihat ke arah lantai lima. Salah satu rintangan terbesar mereka sekarang adalah berhasil mencapai pintu depan rumah sakit. Jadi jika mereka berhasil melalui penjagaan di halaman, mereka akan mendapat pijakan untuk langkah selanjutnya dengan memanfaatkan lokasi strategis di tiap lantai. Lucy sudah memberikan denah kover situsnya sebelum ini, jadi mereka tahu harus mengecek ke mana nantinya.
Tugas mereka adalah menghentikan Harper. Hidup, atau mati jika tak ada jalan lain nantinya.
Lucy meraih sesuatu di belakangnya. Dia mengeluarkan pistol revolver yang selama ini bersamanya. Saat ini, ia terisi penuh keenam ruangnya. Yang mengisinya adalah Hidayat saat dirinya menyerahkan revolver itu kembali kepadanya untuk kedua kalinya. Lucy sempat ragu untuk menerimanya, mengingat untuk apa dia memakainya, tetapi dia ingat Hidayat cuma berkata, ‘Semoga beruntung’.
Baik Birmanto dan Hidayat tidaklah ikut kemari. Mereka beserta Herria dan agen-agen lain yang lebih berpengalaman bertugas mengalihkan perhatian seluruh personel gabungan sejauh mungkin dari situs. Itulah kenapa tugas penyusupan dilakukan oleh tim kecil mereka.
Lucy melirik ke arah depan. Ketua tim mereka yang ditunjuk untuk memimpin operasi ini adalah…
Kemarin
“Agen Senior Ermes.”
Hansel berkata. Dirinya sendiri baru diangkat menjadi ketua agen Situs-79 secara keseluruhan. Mereka semua tengah berkumpul di ruangan Birmanto kali ini, membahas secepatnya rencana menghentikan tim gabungan Situs-84 sekaligus menghentikan eksekusinya. Tentu saja Lucy terkejut mengetahui rencana pengeksekusian Situs-84, tetapi dia lebih tak menyangka Birmanto ingin membantu menyelamatkan situs asalnya. Dia menatap pria tua itu meski sesekali tertawa gila, sepenuhnya fokus akan merancang rencana.
Dan Lucy juga terkesan dia mampu mengatasi dua masalah ini sekaligus tak lama setelah mendengar kabar eksekusi itu, terlebih dia berencana mengakhiri keduanya besok itu juga.
Yang jadi pembahasan sekarang adalah pembagian personel. Pembagian untuk menghadiri pertemuan dan menghadapi personel gabungan setelahnya sudah siap. Mereka saat ini tengah membahas tim untuk rencana penyusupan ke Situs-84 begitu tim pertama berhasil menjalankan tugas mereka.
“Kau memilih Ermes untuk ketua tim kedua?” Tanya Hidayat.
“Dia cukup kompeten menjadi agen lapangan di antara sesama agen Jerman lain, bukan?” Hansel membalas.
“Lebih tepatnya dia salah satu yang hukumannya lebih ringan dibanding transferan Jerman lain. Bisa dikatakan, baik di situs Jerman itu maupun di sini, dia cuma… pelengkap.” Hidayat mengomentari. “Aku tak akan menyarankan dia memimpin.”
“Dia tak punya karisma sepertimu atau Dilan, kemampuan bertarungnya hanya rata-rata, bahkan dia tak terlalu termotivasi untuk melibatkan dirinya dalam operasi berbahaya seperti ini. Tentu saja dia ikut tim kedua, tetapi sebagai ketua? Aku tak menyetujui itu.” Herria yang tengah menulis ikut bersuara.
“Yah, maksudku, kita tak mungkin menjadikan Peneliti Senior Onyx sebagai ketua, kan? Meski kemampuannya diperlukan untuk ini, tetapi dia tetap seorang peneliti!” Tanya Hansel dengan heran. Opsi mereka tak banyak. Agen lapangan senior mereka habis untuk tim pertama selain Ermes. Distraksi harus terlihat sebagai kekuatan penuh.
Birmanto sudah berkata di awal pertemuan bahwa tujuan dibuatnya dua tim ada dua. Pertama, untuk mengalihkan bantuan utama Situs-84, yang berupa Situs-118, sejauh mungkin setelah pertemuan selesai. Dengan sebagian besar kekuatan personel gabungan di luar, Situs-84 rentan akan serangan.
Alasan kedua adalah Harper tak akan menduga mereka mau mengambil risiko sebesar ini. Dan untuk membuatnya tetap tak memberi perhatian lebih akan itu, dirinya dan personel penting lainnya akan berada di tim pertama dan menunjukkan diri mereka sejelas mungkin. Ini menyisakan personel cadangan dan kartu liar di tim kedua seperti Onyx, Bale, dan Lucy sendiri.
Setelah berpikir selama beberapa saat, Hidayat menjentikkan jarinya dan dengan senyum membalas, “Sama sepertimu Hansel, sepertinya kita harus mengikutkan personel keamanan jadi agen lapangan sementara!”
“Siapa?” Tanya Hansel dengan heran. Dia mencoba memikirkan beberapa kandidat yang cocok untuk itu. Satu agen tiba-tiba terlintas di pikirannya.
“Apa Agen Senior Vec-“
“Tidak, tidak!” Hidayat mengibaskan tangannya seraya terkekeh, membiarkan Hansel dan yang lainnya menatap keheranan. Tetapi setelah selesai tertawa pelan, dia menatap Hansel di balik kacamata hitamnya dan berkata, “Dia pertahanan terakhir situs kita bersama dengan Karun.”
“…Tapi aku juga tak tahu siapa. Secara karisma dan kemampuan, sebagian agen senior situs kita cuma bagus di satu aspek dan kurang di aspek lainnya. Antara terlalu banyak bicara atau terlalu banyak menghantam.” Herria ikut bertanya dengan penasaran.
“Tidak,” Hidayat menggeleng, “Ada satu yang menurutku layak. Kebetulan dia juga dididik Vector sendiri.”
Hidayat mengamati ke arah pintu keluar ruangan. “Tetapi kita perlu mengeluarkannya dari sel sementara dulu.”
Sekarang
Lucy menatap ke arah agen paling depan yang tengah memberikan pengarahan. Dia seorang perempuan. Lucy tak menebak itu dari rambut hitam panjangnya, tetapi karena dia memang tak mengenakan helm taktisnya. Tentu saja, agar dia dapat mendengar musik dari headphone-nya.
“Baik, kita semua sudah di sini, sekarang tinggal eksekusi!” Perempuan itu berseru. “Aku Agen Senior Natalia Trisna! Aku yang akan memimpin kalian menerobos maju ke dalam sana!”
“Maaf, kau tak harus berteriak, bukan?” Bale komplain segera seraya mencoba melirik ke balik pagar.
“Oh, terlalu nyaring ya. Persetan dengan itu, kita akan menerobos masuk semenit, jadi masuk kembali ke mobil kalian.” Natalia membalas enteng.
“Tunggu, apa?”
“Rencana kita sederhana! Kita pakai mobil kita dan hantam pintu depan dengannya! Masuk dan amankan akses antarlantai, lalu naik ke lantai berikutnya dan ulangi!” Natalia menjelaskan dengan semangat, sepertinya tak sabar ingin mencobanya sendiri.
“Izin ketua, kita tidak mencoba menyusup dengan berjalan?” Salah satu agen bertanya segera.
Natalia melirik ke arah lampu sorot yang bergerak liar di kejauhan. Entah apa yang Harper ajarkan kepada mereka, tetapi dia sendiri pun tak mampu memprediksi polanya setelah mengamatinya sejak awal.
“Jika salah satu dari kalian ketahuan, kita baku tembak seketika. Aku ingin menundanya sampai kita masuk setidaknya.” Balas Natalia.
“Kita bawa granat asap, kan?” Bale kembali berkata. “Jika kita tutupi halaman dengan asap, kita bisa menyusup ke sana, kan?”
“Terserah saja sih, kalian mau mengambil risiko kena hujan tembakan dengan atau tanpa mobil antipeluru kita?” Natalia balik bertanya seraya mengangkat bahu, menyerahkan pilihan kepada timnya. Tak ada lagi agen yang bertanya setelah itu.
“…Mungkin mobil pertama bisa lolos, tetapi bagaimana dengan mobil kedua dan ketiga?” Bale mempertanyakan strateginya kembali. “Jika mereka memfokuskan tembakan pada mobil kami, bahkan bahan mobil Yayasan tak mampu menahan tembakan mereka semua terlalu lama. Kita belum mempertimbangkan senjata berat seperti RPG juga. Jadi bagaimana?”
“Ah…” Natalia mengangguk mendengarnya. Dia tersenyum, sepertinya punya jawaban bagus akan pertanyaan itu. Dia diam sejenak seraya memejamkan matanya dan menahan dagunya dengan tangannya.
“…tch.”
Mereka semua bisa mendengar suara frustrasi perempuan itu yang jelas terlihat buntu akan jawaban. Natalia melirik ke sekelilingnya selagi masih memikirkan jawaban. Pandangannya diam tertuju ke jalan arah mereka datang tadi.
“…Kita perlu momentum dulu.” Natalia berkata pelan, kini mulai terdengar serius. “Kita perlu mencapai kecepatan tinggi tetapi tetap mampu belok setajam mungkin ke pintu depan bangunan untuk mengejutkan mereka…”
Dia mengintip perlahan ke arah halaman rumah sakit. “…Jika terlalu cepat, kita akan menghantam tenda-tenda itu dan jadi sasaran penembak mereka juga…”
Natalia mengamati ke arah jalanan, lalu mengintip kembali ke dalam. Setelah beberapa saat bolak-balik mengamati sekelilingnya, dia mengeluarkan pisaunya dan mulai menggores-gores sesuatu di tanah. Dia juga mengeluarkan ponselnya dan sepertinya tengah mencari sesuatu di internet.
Di tengah kesibukannya, dia menggumam pelan, “…Seharusnya ini kerjaan lu, Bagas…” Tetapi tak ada yang mendengarnya.
Setelah sepertinya selesai. Natalia berdiri dan kembali menghadapi seluruh timnya yang lama menunggu dengan heran dan tak sabar. “Kalian perlu mencapai kecepatan 30 km/jam. Bahkan amatir pun bisa belok tajam dengan aman dalam kecepatan itu. Nih aku tandain titik beloknya.”
Dia menancapkan pisau di tangannya tadi ke trotoar. Kekuatan lemparannya cukup untuk berhasil menancapkannya ke sana meski jelas terlihat tadi hantamannya nyaris memecahkan pisau itu menjadi serpihan.
“Setelah masuk, mobil dua dan tiga tancap gas dan sejajarkan posisi. Mereka tak akan sempat bereaksi.” Dia mengakhiri dengan senyum puas. Dia menepuk tangannya dan melanjutkan, “Baik, baik. Cukup penjelasannya, bukan? Sekarang ayo kita berangkat!”
Para personel saling tatap dan berbisik mengenai rencananya. Sedari tadi, sebenarnya Natalia meladeni mereka dengan tak sabaran. Mereka terlalu lambat dan berbelit-belit dalam merumuskan strategi. Dia setuju berada di sini bukan sekedar untuk menjadi pengasuh mereka semua. Dia punya tujuan juga, dan takutnya itu mendesak.
Tak mampu menunggu lebih lama lagi, dia segera meraih satu lagi senjata yang dia bawa. “Aku sumpah demi pedang ini, jika kalian benar-benar ingin ikut misi ini, cepat naik sana!” dia berseru seraya mengacungkan senjatanya yang berupa pedang panjang ke arah mereka. Dia tentu membawa senapan juga di punggung dan pistol di pinggang seperti agen lainnya, tetapi pedang ini merupakan senjata standar kultus Brethenitas yang sengaja dia minta dari Birmanto. Dia selalu ingin memakainya langsung.
Dia menyandarkan pedang itu ke punggungnya seraya memberi pertanyaan terakhir, “Jadi, kalian siap atau tidak?”
Tentu saja, para agen seraya membalas siap seraya bergegas kembali ke mobil masing-masing, termasuk agen yang semobil dengannya. Natalia memandang sejenak kumpulan peneliti yang sengaja Birmanto ikutkan berjalan paling belakang menuju mobil mereka – perbedaan seragam mereka sangat mencolok – sebelum masuk ke mobilnya sendiri. Dia yang mengemudi kendaraan mereka.
Selagi menghidupkan mesin kendaraannya, Natalia menatap ke cermin belakang, mengamati ekspresi agen di kursi penumpang yang gugup. Natalia menggeleng melihatnya dan berkata dengan percaya diri, “Aku sudah menyiapkan segalanya untuk operasi ini. Kalian bisa percaya padaku, kau tahu.”
Di luar mobil ketiga, Lucy masih menatap ke arah bangunan rumah sakit kover situsnya. Sedari tadi pikirannya terpaku ke sana, dia tak memperhatikan percakapan para agen tadi sama sekali. Sekali lagi, dia pulang kembali kemari.
Ada sebuah tradisi, meski sekarang lebih disebut sebagai tren, di Situs-84. Peneliti junior perempuan biasanya mewarnai rambutnya warna kuning, sebuah penyambutan khas mereka ke sana. Tentu saja, Lucy merasa tertarik mencobanya. Dia sudah dapat gambaran akan ketertarikan situs ini dengan buku cerita Wonderland. Hilda dan Harper menjelaskan sejarah tren itu lebih jauh kepadanya setelah mereka menjadi teman, jadi dia tahu mengenai seluruh cerita tentang obsesi direktur dan mereka yang memanfaatkannya.
Itu membuat Lucy bertanya dulu, lalu setelah direktur tiada, apa yang menghidupkannya? Makna apa yang berada di belakangnya sekarang. Dulu Lucy hanya menaruhnya di belakang benaknya dan terus hidup dengan warna kuning rambutnya. Tetapi sekarang, di tengah renungan konstannya, mungkin dia dapat jawabannya.
Selamat datang di Yayasan, dunia mimpi absurb umat manusia yang menjadi nyata. Ketidakmungkinan menjadi mungkin, dan pemimpi mungkin jadi pemimpin. Personel baru bagaikan Alice kecil dari buku cerita mereka, menatap kagum akan sekelilingnya. Tentu saja, seiring waktu kekaguman berubah menjadi keheranan, dan kemudian berupaya mencari jawaban untuk melawan kemustahilan.
Rambut kuning merupakan simbolisme polos mereka yang masuk dan mengikuti arus tren ketidaklogisan dunia baru mereka, tetapi seiring waktu, sudah waktunya membiarkannya kembali hitam, kehilangan emosi menjadi peneliti dingin Yayasan seperti senior mereka.
Itulah kenapa Lucy mewarnai kembali rambutnya menjadi kuning keemasan. Dia ingin menutupi hitamnya hidupnya sekarang dan kembali menjadi Lucy dari Situs-84 dulu. Mungkin dia bisa meyakinkan Harper untuk menghentikan segalanya dengan itu.
Meski dia tahu itu mustahil, dia ingin melihat hasilnya setidaknya.
Lucy tak sadar dia menatap rumah sakit di depan mobil terlalu lama. Onyx keluar dari mobil dan menatapnya dari sisi seberang mobil seraya bertanya, “Lucy, kau baik-baik saja?”
Akhirnya tersadar dari lamunannya, Lucy menoleh dan menggangguk mengiyakan. Onyx sendiri menatapnya selama beberapa saat, sepertinya dapat melihat Lucy memaksakan wajah percaya dirinya. Dia akhirnya berkata, “Lucy… apa kau yakin kau bisa melakukan ini?”
Lucy diam tak segera menjawab. Dia menatap kembali ke arah rumah sakit selama beberapa saat. Akhirnya dia menoleh ke arah Onyx dan menjawab, “Kurasa… dengan kalian semua, mungkin kita akan berhasil.”
Onyx memandangnya dengan ragu, tetapi senyum lemah Lucy membuatnya tak enak mempertanyakannya lebih jauh lagi. Dia hanya mengangguk dan kembali masuk ke mobil. Lucy menoleh untuk terakhir kalinya ke arah rumah sakit.
“Akan kuselamatkan situs kita… dan kalian juga.” Lucy menggumam sebelum masuk ke dalam mobil mereka.
Dengan itu, mobil mereka mulai menyala, perlahan bergerak mengikuti dua mobil sebelumnya yang terlebih dahulu mengambil posisi sejauh mungkin. Mereka semua menunggu dan mengikuti arahan mobil pertama yang dikemudikan Natalia.
Begitu dirasa cukup jauh, dia memutar balik mobilnya dan mulai mengambil persiapan. Mobil lain di belakangnya menunggu dengan siaga. Dari jarak sejauh ini, tak ada salahnya Natalia membiarkan mobilnya meraung tak sabaran. Dia mengetuk-ngetuk kemudi dan kakinya terangkat naik turun siap menginjak gas. Dia sudah menyetel lagu bagus untuk ini di headphone-nya, sekarang tinggal menunggu waktu yang pas untuk mengeksekusinya.
“So light ‘em up, up, up!~~”
Dia menginjak pedal gas sekuat yang dia bisa selagi bernanyi nyaring. Tiga buah mobil melaju menyusuri jalanan kosong lurus sampai menuju target mereka. Meski Natalia menyarankan kecepatannya sebesar 30 km/jam, dia menancap gasnya melebihi itu.
Begitu berada di titik yang ditandainya sendiri, Natalia memutar kencang setir mobilnya dan segera menyeret rekan di sampingnya ke kursinya. Dia sudah menginstruksikan timnya untuk menjadi pemberat di sisi berlawanan, jadi meski sempat terangkat sisinya, mobil mereka berhasil belok tajam.
Ketiga mobil itu melaju kencang menuju halaman rumah sakit. Tembakan segera dilepas, tetapi tak satu pun di antara mobil-mobil itu yang berhenti. Tiba-tiba sebuah peluru menghantam keras kaca antipeluru mobil Natalia, praktisnya tertancap di sana tepat berhadapan dengannya. Hanya senapan runduk yang mampu membuat kerusakan separah itu, dan semakin banyak peluru yang menghantamnya.
“Woah-oh-ouoh-oh-ouoh-oh-uooh!~~” Natalia hanya bernyanyi penuh semangat. Dia meraih senapannya dan dengan segera membuka sedikit kaca sampingnya. Dia mulai menembak liar ke arah lantai tembakan-tembakan itu berasal selagi mereka terus melaju.
Tak mencapai waktu lama, mereka sampai tepat di depan pintu masuk. Natalia ingin menghantamkan mobilnya ke bangunan di depannya, tetapi musiknya habis. Lagi pula, mereka hanya akan menghalangi akses masuk mereka sendiri. Jadi dia keluar segera dari mobilnya diikuti agen lain yang bersamanya. Masih terdapat beberapa tembakan liar dari atas, para agen di sana cuma bisa mengulurkan tangan mereka dan bermodal firasat saja untuk menembak. Tembakan agen Situs-79 tentu saja lebih akurat dan tak lama bagi mereka untuk menetralisir penembak dari bawah meski berada di tengah hujan tembakan.
Beberapa agen mencoba masuk, tetapi akses masuk ke rumah sakit tertutup jeruji besi kokoh dengan lubang kuncinya sudah dilelehkan, belum lagi ia diblokade furnitur di dalam sana. Para agen memasang perisai antipeluru selagi mereka memotong jeruji itu segera. Saat itulah para penjaga Situs-84 mulai berdatangan, membawa serta anjing penjaga yang menggonggong nyaring tak sabaran ingin dilepas dari kekangnya yang digenggam erat.
Mereka mulai terlibat baku tembak. Tim Natalia akhirnya berhasil memotong jeruji besi penghalang pintu dan melemparnya menjauh. Mereka mencoba memecahkan pintu kaca dibaliknya, tetapi ternyata ia berbahan kuat bak kaca antipeluru juga.
“Beneran aja?!” Natalia berseru kesal. Dia menembak pintu kaca tersebut beberapa kali, yang seketika memantulkan pelurunya ke belakang, tepat mengenai dua ekor anjing yang dikirim menyerbu mereka serta pawangnya. Setelah bosan menembak, dia mulai menghantam titik tengah pintu kaca itu dengan tangan kosong. Menyadari masih kurang, dia lalu beralih ke menendang pintu kaca itu sekuat mungkin untuk kekuatan lebih. Para agen juga mulai ikut menendang.
Berbeda dengan jeruji besi pelindung tadi, sebagai pintu tentu ia didesain untuk terbuka meski saat ini terkunci. Tak peduli bahannya besi sekalipun, mereka cukup memaksanya terbuka. Perlahan tapi pasti, pintu bergeser terbuka, mendorong mundur furnitur di belakangnya.
Begitu dirasa muat, para agen mulai masuk secepat yang mereka bisa, diiringi Lucy dan rekannya. Natalia merupakan yang terakhir masuk setelah dia puas menembaki penjaga yang terus berdatangan dari luar.
“Lihat, sederhana bukan?” Natalia berkata dengan percaya diri seraya melangkah masuk. Tetapi dia diam seketika seperti agen-agen lainnya begitu melihat pemandangan di depannya.
Dua orang personel keamanan Situs-84 berdiri di depan mereka. Yang paling depan menodongkan senapan serbunya ke arah mereka. Normalnya dia seharusnya sudah ditembak begitu terlihat para agen yang masuk. Dan memang benar, dia sudah ditembak.
Dia sudah tewas, puluhan lubang peluru menghiasi rompi seragamnya yang hitam kemerahan. Helm yang dikenakannya sudah kehilangan visor kuningnya yang hancur, menyisakan wajahnya yang mengalirkan darah, meneteskannya ke lantai sampai mulai menggenang, tak dapat dikenali lagi.
Tetapi di sanalah ia berdiri. Menjadi perisai bagi orang kedua di belakangnya yang sedari tadi memandangi mereka dengan visor terangkat. Dia membawa senjatanya sendiri, tetapi saat ini tangan kirinya kosong tak memegang apa-apa. Tangan kanannya malah memegangi bagian belakang penjaga di depannya agar tetap berdiri.
“Sudah semua? Bagus.” Dia berkata. Tiba-tiba dia menjatuhkan penjaga di depannya seakan tak memerlukannya lagi. Begitu ia jatuh, dapat terlihat bahwa senapan yang dipegang penjaga itu diikat di kedua tangannya oleh selotip, terikat erat tak lepas selagi ia terbaring di sana.
Setelah melepaskan penjaga tadi, dapat terlihat bahwa tangan kanannya tertutup boneka dari kain yang menyerupai pria kecil berseragam personel keamanan beserta dengan helmnya tanpa visor.
“Dominik berada di lantai lima, ruang utama resepsionis pasien kelas VIP.” Penjaga itu berkata, atau mungkin lebih tepatnya boneka yang dipegangnya yang mengatakan itu, melihat mulutnya digerakkan karenanya. “Ikut aku, akan kutunjukkan tangganya.”
Para agen menatap pria di depannya mulai melangkah menjauh dengan ragu. Bale melirik ke Lucy dan bertanya, “Lucy, kau kenal orang itu?” Lucy hanya menggeleng sebagai jawaban.
“Ini baru pertama kalinya aku bekerja kembali setelah bertahun-tahun,” Pria itu berkata. “Sebelum ini, kantorku di sel isolasi.” Atau bonekanya yang mengatakan itu.
“Tak mengherankan sejujurnya” Kali ini Natalia yang menanggapi. “Itu alasanmu mengkhianatinya?”
Pria itu tertegun, tepat di depan pintu ruang utama. Selagi terkekeh pelan dia membalas, “Heh, lebih dari itu sebenarnya.”
Begitu dia membuka pintu, mereka disuguhi pemandangan yang cukup menakutkan meski ruangan diterangi cahaya artifisial di atasnya. Sepanjang ruangan besar itu, di sisi kiri dan kanannya dipasang deretan puluhan kursi yang diisi para penjaga berlumuran darah, jelas sudah tewas, sebagian besar ditembak. Mereka semua menodongkan beragam pistol maupun senapan yang diikat di lengan mereka seperti penjaga pertama tadi.
“Kau tahu, aku yang membantu Harper diusung jadi kepala keamanan.” Pria di depan mereka masih bicara melalui bonekanya. “Semua itu dan ini yang ku dapatkan sebagai balasan.”
Dia akhirnya berhenti di tengah-tengah ruangan dan berbalik ke arah para personel Situs-79 yang mengiringinya. “Yahh… wajar saja sih, karena sejak awal itu semua memang rencana Birmanto”
Sebelum ada yang bertanya, dia melanjutkan, “Yah, sudah merupakan rencana Situs-79 untuk memasang personel kita ke posisi penting di situs ini. Semua akan lebih mudah jika saja Miriam mau menurut menjadi direktur, tetapi perempuan itu tak pernah berubah… …tidak, tepatnya mungkin sebaliknya… Yah, setidaknya dia tetap memastikan relasi kita baik-baik saja. Sampai sekarang.”
Dia mencondongkan bonekanya ke depan sedikit. Jika diperhatikan, dia mendekatkannya ke arah Lucy tengah berdiri. “Aku yang ditugaskan untuk mengusulkan Harper menjadi kepala keamanan pasca kasusmu, Lucy. Tugasku praktisnya selesai di sini sekarang.”
“Baiklah, akan kuberitahukan Birmanto nanti.” Natalia hanya mengangkat bahu tanda tak peduli. “Kau bisa urus saja sisa personel di luar selagi menunggu kami selesai.”
Baru beberapa langkah Natalia berjalan, pria di depannya mengeluarkan senapan serbunya di tangan kirinya. “Ahh… personel Situs-79 semakin bangsat tiap harinya, ya? Apa kau tahu betapa susahnya memberitahukan kondisiku kepada Birmanto bermodalkan kain flanel semata dari sel isolasi, hanya untuk balasannya adalah tetap di sini dan tunggu kabar selanjutnya? Selama bertahun tahun??”
Pria itu meski sedari tadi berdiri diam, lumayan ekspresif dengan bonekanya yang digerakkannya ke mana-mana selagi dia berseru kesal sekaligus tertawa karenanya. Setelah sepertinya tenang kembali, dia berkata, “Dia mengontakku kembali beberapa hari yang lalu lewat seorang perempuan. Katanya penantianku sudah selesai, tugas terakhirku adalah untuk membantu kalian mengamankan Harper sebelum diizinkan pensiun. Harus kuakui, aku lumayan tak menduga keputusan Birmanto menjadikanku aset lebih lama terbukti berguna.”
“Tetapi aku juga manusia. Dan aku sangat, sangat kesal… Heh, tugasku sebagai agen Situs-79 selesai, tetapi tugasku sebagai personel Situs-84 masih belum sampai Harper kalian amankan.”
“Katakan saja intinya apa, orang gila. Aku tak ditugaskan untuk mendengar ocehan ini.” Natalia memotong tak sabaran.
Pria itu hanya menghela nafas. “Aku cuma bisa mengizinkan Lucy dan teman-temannya itu untuk naik. Harper tahu kau kemari, Lucy. Ambil tangga darurat di belakang. Sayangnya kau harus mengambil tangga darurat baru di samping bangunan untuk ke lantai selanjutnya nanti. Kau akan paham nanti saat melihatnya langsung. “ Dia berkata seraya membuat bonekanya menunjuk ke belakang.
Lucy perlahan mengambil langkah ragu ke depan, sebelum bergegas ke arah yang ditunjuknya. Natalia mendorong Onyx dan Bale maju mengikutinya. “Kalian juga, maksudnya.” Dia berkata kepada mereka.
Setelah ketiga peneliti tadi melalui pria tersebut. Natalia mengeluarkan pedangnya dan berkata, “Baik, jadi… kami harus menghabisimu kalau begitu?”
“Tidak, kau juga naik ke atas.” Pria itu terkekeh selagi mengatakannya. “Kau ketua tim, bukan? Aku bisa menebaknya. Dan aku bisa mengira kalau aku bukan lawan yang sepadan. Heh, tenang saja, kita punya lawan yang tepat di atas, jadi naik sana.”
“Tch,” Natalia menggerutu kesal tak bisa melampiaskan ketidaksabarannya. Dia berjalan malas-malasan melewati pria itu. Tepat saat dia berada di belakangnya, Natalia mencoba mengayunkan cepat pedangnya tepat ke leher pria tersebut.
BANG
Sesuatu mengenai pedang Natalia sampai mendorongnya mundur. Natalia melirik dan melihat asalnya berasal dari tembakan salah satu senapan yang dipegang mayat di sampingnya.
“Jangan salah mengartikan keenggananku sebagai kelemahan. Kau tak akan keluar dari ruangan ini tanpa setidaknya sepuluh lubang tembakan. Dan percaya padaku, kau perlu naik ke atas dalam keadaan utuh.” Pria itu berkata pelan.
“Tch, tak asik…” Natalia melangkah malas-malasan ke atas, meninggalkan pria tersebut.
Pria tersebut menatap ke arah empat orang yang dibiarkannya pergi tadi sebelum kembali menoleh ke depan. Kini tersisa sebelas agen Situs-79 yang tengah menodongkan senapan mereka ke arah agen itu. Tiba-tiba, seluruh senapan mereka ditembak dari berbagai arah oleh para mayat di kiri dan kanan personel tersebut. Beberapa malah terkena tembakan langsung juga.
“Dalam pertunjukan, diperlukan figuran dalam jumlah besar untuk menghidupkan sebuah cerita.” Pria itu kembali bicara. “Kita serahkan adegan berikutnya ke pemeran utama, biarlah kita saling cabik di bawahnya.”
Salah satu agen Situs-79 terdepan segera membuang senapannya yang telah hancur. Dia mengeluarkan pisau taktisnya dan berkata, “Kami bukan figuran semata. Aku wakil ketua tim, Agen Senior Ermes Scherz. Aku sendiri pun cukup untuk menghabisimu.”
Pria di depannya terkekeh. Tiba-tiba rentetan tembakan terlontar kembali, tetapi kali ini seluruh agen yang bisa bergerak berlari maju ke arah pria itu. Ermes segera mengayunkan pisaunya ke arah pria itu, hanya untuk ditangkisnya dengan senapannya. Salah satu mayat mulai menembak ke arahnya, tetapi Ermes terlebih dahulu mundur dan bersiap mencari kesempatan lagi. Para agen juga mulai mengelilinginya.
“Not bad…” Pria itu terkekeh. “Aku perkenalkan diriku sekali lagi kalau begitu. Aku Agen Albert, semoga figuran terbaik terpilih jadi pemeran pendukung.”
Lucy segera bergegas menuju pintu darurat yang dimaksud, menuntun sisa personel yang mengikutinya. Mereka segera naik, tetapi begitu mencapai lantai berikutnya, langkah mereka terhenti. Pada titik ini tangga naik tertutup reruntuhan konstruksi. Jaraknya terbentang sampai ke atas sepertinya. Bahkan Natalia tak berani mengambil risiko membongkar bongkahan tak stabil di depannya. Mereka mau tak mau melirik ke pintu keluar menuju lantai kedua.
Di depan mereka berdiri seorang penjaga tinggi dan kurus. Satu-satunya yang menandakan dia penjaga adalah seragam putihnya semata. Dia tidak mengenakan rompi bahkan helmnya, menunjukkan rambutnya yang panjang tak terawat. Dia memegang erat sebuah besi beton, sepertinya merupakan alat bantu berjalannya. Dia tertawa tiba-tiba begitu melihat mereka masuk.
“Bagus, lebih banyak orang gila. Dan aku ditugaskan di neraka kata mereka.” Natalia menghela nafas lelah. “Lucy, kau kenal yang ini?”
Sekali lagi, Lucy menggeleng. “Tahanan isolasi juga, mungkin…”
Mereka menatap selagi pria di depannya tertawa liar. “Ahaha~ Serahkan padaku, Harper! Tiada raja maupun kudanya yang dapat melewati Hafi!”
Tanpa basa-basi lebih jauh, dia langsung berlari maju. Terlihat jelas dia kesulitan menggerakkan salah satu kakinya, tetapi dia dibantu besi beton yang dipegangnya dengan erat. Natalia langsung menebaskan pedangnya, tak ingin membuang waktu lebih lama, tetapi di luar dugaannya, pria itu berhasil meluncur melewatinya.
Begitu dalam jangkauan, dia langsung mengayunkan besi beton itu langsung ke arah Lucy yang tak sempat bereaksi. Lucy hanya sempat menutup matanya.
Tetapi suara erangan tiba-tiba membuatnya membuka mata kembali. Onyx menahan hantaman besi beton itu dengan lengannya semata. Bahkan pria yang menyerangnya terkejut melihatnya.
“Dinding kokoh!?” Pria itu segera mundur. Dia menggenggam lebih erat besi betonnya. “Tidak, hal seperti itu tak ada! Kau akan jatuh, hancur, dan tiada!” Serunya seraya bersiap menyerang lagi.
Onyx perlahan berjalan menghadapinya. “Kalian semua pergi sana ke tangga darurat kedua. Aku yang akan melawannya.”
Lucy akhirnya dapat bereaksi, tetapi yang dikatakannya cuma namanya. “…Tetapi, Kak Onyx…”
Onyx tak berbalik, tetapi dia berkata, “Akan kulakukan apa yang bisa kulakukan, jadi pergi sana dan lakukan apa yang kau percayai benar!”
Lucy menatapnya selama beberapa saat dengan ragu, tetapi dia segera lari menuju tangga darurat berikutnya. Bale segera mengikutinya, Natalia sepertinya terpaksa harus mengikuti mereka juga. Dia mendekati Onyx sejenak dan berkata, “Ada yang ingin kubicarakan padamu nanti, jadi terapkan hasil latihanmu sungguh-sungguh dan jangan mati.”
Onyx meliriknya heran sebelum mengangguk mengiyakan. Natalia balas mengangguk sebelum lari mengikuti kedua peneliti tadi.
“Aku Peneliti Senior Onyx Pramono, aku yang akan jadi lawanmu.” Onyx berseru seraya siap-siap menyerang.
Pria tersebut menancapkan besi beton yang dipegangnya. “Haha~ Agen Hafi Dafa sebagai penjaga, lawannya akan tiada, dan tak akan ada raja maupun kudanya yang bisa menyelamatkannya!”
Lucy dan sisa personel Situs-79 berkeliling koridor rumah sakit, berlari cepat melalui kamar-kamarnya yang kosong. Jangankan lokasinya, Lucy tak tahu mereka punya tangga darurat baru. Dia berlari ke arah balkon samping dalam upayanya menebak. Begitu sampai, dia mendapati pintu ke balkon dikunci dengan jeruji besi. Meski begitu kuncinya tergantung tak jauh darinya. Lucy segera memakainya dan membukanya.
Dia merasakan hembusan angin malam menghantamnya seketika. Lucy menoleh ke atas, meski langit tak memiliki banyak awan, tetapi saat ini tengah ada awan besar menutupi bulan. Ditambah angin kencang, kemungkinan awan ini akan menjatuhkan rintik hujan beberapa saat lagi.
Lucy menyadari satu hal lain, di sampingnya terpasang tangga monyet besi mengarah ke balkon lantai di atasnya. Dengan cepat Lucy memanjat naik ke atas diiringi rekannya. Begitu sampai, sepertinya tak ada lagi tangga serupa, yang artinya mereka bisa kembali memakai tangga darurat biasa. Mereka membuka kembali jeruji besi penghalang dengan kunci yang mereka dapatkan, seakan seluruh jalur mereka sudah ditentukan sedari awal.
Begitu sampai, Lucy memilih lewat koridor kiri menuju tangga darurat situs. Di tengah jalan, mereka dihalangi seorang penjaga baru.
“Lagi?!” Natalia mengembuskan nafas kesal seraya memegangi kepalanya. “Apa kau tak tahu betapa susahnya memilih lagu tiap orang gila baru muncul?!”
Lucy dan Bale hanya diam menatapnya. Ah, ternyata itu alasan dia kesal…
Berbeda dengan penjaga sebelumnya. Pria itu berseragam lengkap minus helmnya yang tak memiliki visor, menunjukkan bahwa dirinya memakai kacamata bingkai kotak. Terdapat juga dasi kupu-kupu biru tua di kerahnya. Satu tangannya memegang radio seraya dirinya berkata, “Oi Dum, mereka di koridorku.”
Tangan satunya mengaktifkan baton listrik yang dipegangnya.
“Tunggu…” Lucy tiba-tiba berkata, “Kau Agen Duman, bukan? Yang sering Harper komplain itu?”
“Teriawan yang salah. Gue Devi.” Pria itu mengoreksi dengan malas.
Natalia mendekati Lucy dan bertanya, “Apa kita harus mengkhawatirkan kemampuannya?”
Dengan ragu Lucy membalas, “Uhh… tidak? Dibandingkan personel Situs-79, dia cuma pembuat onar semata.”
Natalia mengangguk mengerti. Dia mendorong Bale ke depan dan berkata, “Baik Bale, ini tugasmu!”
“H- Huh?!” Bale berseru heran.
“Menurutmu kenapa kau diajak kemari? Tugas kita semua menahan Harper, yang artinya kita semua berkontribusi untuk itu. Jadi lakukan tugasmu dan lawan dia. Kau bisa menanganinya, bukan?”
Lucy sekilas melihat Bale bergetar sedikit mendengarnya. Akhirnya dia mengeluarkan salah satu kapaknya dan membalas, “Pergi sana, kalau begitu.”
Natalia menangguk dan menuntun Lucy yang mengarahkan mereka ke pintu darurat. Mereka berlari melalui pria di depannya tadi, meninggalkannya sendiri bersama Bale.
“Hahh… di sini ya…”
Bale menoleh. Di belakangnya, seorang personel dengan wajah mirip dengan pria di depannya muncul. Dia bahkan juga memakai kacamata, tetapi dia terlihat lebih malas-malasan dibandingkan pria di depannya. Dia mengaktifkan baton listriknya dan mulai mengayunkannya dengan kasar.
“Kembar ya… bukankah seharusnya ini satu lawan satu?” Bale terkekeh akan nasibnya. Dia mengeluarkan kapak keduanya. “Tetapi sejujurnya, aku lebih lemah jika seperti itu.”
Bale memposisikan kedua kapaknya di depan, “Aku Peneliti dengan kode nama Balefire. Meski merupakan peneliti, aku terlatih untuk mengatasi situasi seperti ini.”
Penjaga di belakangnya hanya terkekeh. Tetapi penjaga di depannya membalas, “Agen Devi Teriawan.” Baton listriknya siap di tangannya.
Melihat saudaranya mengenalkan diri, penjaga di belakang berhenti mengayunkan batonnya sejenak seraya ikut berkata, “Heh, Agen Duman Teriawan, ingat itu saat kusetrum kau nanti sampai berhenti menjerit. Hehe…”
Dugaan Lucy benar. Tangga darurat tak lagi terhalang reruntuhan pada titik ini. Mereka segera naik ke lantai. Tetapi begitu sampai di lantai keempat, mereka menemui seorang penjaga berada tepat di tengah jalan.
“Pada titik ini cuma Lucy yang boleh naik.” Pria itu berkata. Dia tak mengenakan rompi maupun helm, menunjukkan poni rambutnya yang disisir rapi ke samping. Dia juga memiliki kumis lurus nan tipis.
Bukannya rompi, dia mengenakan jas merah besar yang terikat ke badannya dengan bantuan rantai. Salah satu tangannya memegang pedang model sabel. Tangan satunya merupakan kait besi.
“…Jadi kau ya…” Natalia menggumam. Lucy menatap heran seraya Natalia menurut dan melangkah menuju pintu keluar. “Pria di lantai dasar tadi lumayan memperingatiku untuk serius melawan pria ini. Maaf, Lucy. Normalnya aku harusnya menyertaimu ke lantai atas, tetapi aku sangat tertarik untuk melawannya sebentar.”
Lucy diam dan mengangguk sebagai balasan. Perlahan dia terus naik meninggalkannya.
Natalia dan pria tadi segera masuk ke lantai keempat. Di dalam, seorang perempuan telah menunggu mereka. dia mengenakan seragam penjaga juga, tetapi cuma itu yang dia kenakan. Dia memakai kacamata bingkai bulat dan bandana untuk menutupi rambutnya. “Cuma satu yang mengawalnya?” Perempuan itu bertanya, menatapnya dengan remeh.
“Jangan salah, Mei. Aku merasa dia sendiri lumayan berbahaya.” Pria tadi berkata seraya mengambil posisi. “Kita hadapi dia dengan profesional. Setel estimasi 60 detik per jeda. Siap-siap, Ms. Smith”
“Aye, kapten.” Rekan perempuannya membalas, mengeluarkan sebuah pistol model flintlock cokelat keemasan.
“Sepertinya kita langsung saja mulai ya,” Natalia berkata dengan semangat. Tangan kanannya menggenggam pedang Brethenitasnya, sedangkan tangan kirinya memegang pistol standar. “Aku Agen Senior Natalia Trisna, tunjukkan kemampuan kalian!” Dia berseru dengan semangat.
“Agen Senior Gator Lukman.” Yang pria berkata, menyiapkan pedang sabel dan kaitnya.
“Agen Senior Meiling Smith.” Yang perempuan menambahkan, mengeluarkan pistol flintlock-nya. “Siap-siap melangkah ke papan, jalang.”
Lucy menatap pintu keluar lantai kelima. Seluruh petunjuk dan personel mengisyaratkan bahwa Harper berada di lantai ini. Dia awalnya percaya diri naik ke atas sini karena awalnya dia naik bersama. Sekarang cuma dia sendiri yang harus menghadapi Harper. Tangannya bergetar tak siap memegang gagangnya
Setelah diam selama beberapa saat, Lucy akhirnya dapat berhenti gemetar dan memegang erat gagangnya. Dia akan membujuk Harper menghentikan serangan ini, bagaimanapun caranya.
Dia membuka pintu keluar tersebut dan melangkah masuk. Setelah menyusuri koridor singkat jalur darurat, dia sampai di ruang resepsionis utama lantai tertinggi mereka. Di ruangan tersebut Harper berada, beserta seorang perempuan di belakangnya. Senapan runduk model lama tergantung di punggungnya.
“Alice,” Harper berkata tak percaya, “Apa… apa itu benar-benar kau kali ini?”
“Harper…” Lucy tak memedulikan Harper yang memanggilnya dengan nama itu. Dia berusaha sekuat yang mentalnya bisa untuk bicara dengannya “Tolong, hentikan semua ini.”
Harper tertegun mendengarnya, tetapi perlahan tatapannya berubah menjadi terfokus kembali, menatap diam ke arah Lucy. “Kenapa?” Tanyanya singkat.
“Tak bisakah kau lihat semua yang kau sudah lakukan?!” Lucy berseru marah seakan jawabannya sudah jelas. “Semua perang ini, sudah waktunya kau hentikan semua kegilaan ini!”
“Tak bisakah kau lihat itu yang tengah kulakukan!?” Harper membalas, “Aku mencoba menghentikan kegilaan terbesar Yayasan bernama Situs-79 itu di luar sana!”
“Tidak harus seperti ini, Harper! Kita bisa membicarakan insiden-”
“Kita?” Harper memotong seraya sepertinya meraih sesuatu di belakangnya. “Kau… benar-benar Alice?”
Harper mengeluarkan pistol standar dan menodongkannya ke Lucy. “Atau kegilaan Situs-79?”
Tentu saja Lucy terkejut dan reflek mundur, tetapi Hilda juga sepertinya tak menduganya sehingga dia segera berseru, “Harper! Apa yang kau lakukan!?”
“Apa dia benar-benar Alice kita?!” Harper berseru liar. “Kau tahu dia tak akan berpihak pada kegilaan ini!”
“Harper sadarlah!” Lucy balas berteriak. “Ini aku! Lucy! Berhenti memanggilku Alice!”
“Diamlah! Lucy yang ku kenal selama ini tak akan pernah berpihak ke Situs-79. Tidak, bahkan jika dia diseret ke sana dan dikunci di dalamnya, dia akan tetap melawan mereka sampai tiada…” Harper berkata, sekuat yang dia bisa menolak mengakui kehadiran Lucy. Meski begitu dia tetap menatap lurus kearahnya. “…Entah itu raga atau pikirannya.”
Harper perlahan menurunkan pistolnya, tetapi dia hanya menatap khawatir Lucy seakan menyadari sesuatu yang baginya sangat mengerikan.
“Jadi katakan padaku, Lucy… Apa kau sudah gila karenanya?”
Lucy balas menatap Harper. Meneguhkan tekadnya sekali lagi, dia membalas, “Kau yang gila, Harper. Sekali lagi tolong, lihat apa yang telah kau lakukan.”
Harper menggeleng pasrah seraya setengah tersenyum. “Orang tergila tak akan menyadari dirinya gila. Sepertiku, dan sepertimu. Kau sudah dihancurkan mereka, Lucy. Aku sudah tahu sejak kau tak berdaya dikelilingi mereka hari itu.”
“Oleh siapa? Kau masih membawa-bawa temanku saat kunjungan hari itu?!” Lucy bertanya heran, sebelum berubah marah kembali, “Jangan… Jangan bilang kalau ini balasanmu atas penolakanku hari itu! Karena ini tindakan paling menyedihkan yang pernah kau lakukan kalau begitu!”
“Oh tolong, alasanku tak seremeh itu.” Harper menepis seketika.
“Tunggu, apa yang dia bicarakan?”
“Apa-“ Harper hendak membalas, tetapi dia berhenti bicara begitu menyadari siapa yang bicara. Hilda yang sedari tadi siap berjaga tengah menatapnya keheranan dan terlihat sangat perlu jawaban. Dengan segera Harper menjawab, “Kau ingat waktu Situs-79 menyerang kita untuk kedua kalinya? Waktu itu aku mencoba membuat Lucy tetap di situs kita-“
“Harper! Kau mencoba melamarku saat itu!” Lucy mengoreksinya segera. “Kau melakukannya tepat di tengah-tengah kacaunya situs, jadi tentu saja aku menunda jawabanku. Lalu dengan gampangnya kau menyalahkan teman-temanku seketika!”
“Kau tahu mereka yang mengebom direktur! Kau di sana! Sudah ku bilang mereka bukan temanmu! Mereka ingin kau mati!” Elak Harper setelahnya. Dia menoleh ke Hilda dan melanjutkan, “Kau lihat, mereka bersedia melakukan segalanya untuk rencana keji mereka, termasuk mengebom Lucy setelah menggodanya dan membuatnya tak berdaya!”
“Ku kira… Kau bilang… kau bilang kita melakukan ini… untuk menegakkan keadilan, bukan?” Hilda berkata dengan gemetaran. “Ini bukan… hanya sekedar balas dendam, kan?”
Harper segera melangkah ke Hilda, membuatnya nyaris reflek mengarahkan senapan runduknya ke Harper jika saja dia tidak lebih cepat menarik rompinya.
“Balas dendam tidaklah serta-merta meniadakan penegakan keadilan. Itulah kenapa ada pribahasa menembak dua burung dengan satu senapan!”
Dia melepaskan Hilda dengan kasar sebelum kembali menoleh ke arah Lucy kembali. “Lalu kenapa jika aku ingin bajingan itu mati? Apa yang kulakukan tetaplah keadilan!”
“Tidak! Bukanlah keadilan kalau kau hanya melakukannya untuk dirimu sendiri!” Lucy membantahnya.
“Aku melakukannya untukmu! Untukku! Dan bahkan untuk seluruh situs di pulau ini!” Harper membalas bangga. Dia menatap tajam ke Lucy dan menekankan itu padanya. “Kau melakukan ini untuk siapa kalau begitu? Situs-79?”
Lucy diam, tak bisa menjawab itu.
“Siapa yang kau representasikan di dalam ruangan ini sebenarnya, Lucy? Apa kau masih teman kami, personel Situs-84, atau sudah sepenuhnya berpihak ke orang-orang di Situs-79 itu?”
Lucy memikirkan jawabannya dalam diam. Perlahan dia mengangkat revolvernya dan menodongkannya ke Harper. “Pihak manapun yang maju untuk menghentikanmu.”
Harper hanya menunduk, terlihat kecewa dan pasrah. “Ya… silahkan lakukan apa yang kau disuruh lakukan kalau begitu.”
Dia mendekati Hilda dan memegangi pundaknya. “Kita harus menghentikannya. Menghentikan mereka. Ingatlah bahwa ini yang Lucy yang dulu kita kenal inginkan.”
Lucy tak dapat melihat ekspresi Hilda di balik perban mukanya, tetapi dia memejamkan matanya selama beberapa saat sebelum dengan bergetar membalas, “Baik, Pak.”
Tak ada yang lagi yang dapat disampaikan, tak ada yang dapat dilakukan. Lucy dan Hilda mengambil posisi dan siap menunggu perintah.
“Lucia Amelia…” Lucy berkata pelan. Revolvernya siap ditembakkan.
“Agen Hilda Wulandari.” Hilda membalas tegas. Senapan runduknya digenggamnya dengan erat.
“Yer impressed me, kid!”
Albert masih berdiri di ujung aula ruang utama. Helmnya sudah lama retak, jadi dia melepaskannya. Tidaklah membantu begitu melihat pria itu sepanjang pertarungan kebanyakan menunduk seakan tengah tidur.
Berlawanan dengan itu, boneka di tangannya masih seaktif sebelumnya, beserta senapan di tangan satunya.
“But yer outta crew now.”
Di ujung lain aula, kini tersisa tiga agen Situs-79, dengan Ermes berada di tengah. Mereka semua tengah memegang mayat rekan mereka yang telah tertembak. Satu-satunya alasan mereka melakukannya adalah sebagai perlindungan dari rentetan tembakan yang selama ini mereka tahan.
“Harus kami akui… memakai mayat yang terikat ke kursi dan senapannya sangat menyusahkan.” Ermes membalas dari balik pelindungnya. “Tak bisa ditembak mati, tak bisa ditarik pergi. Granat kami habis hanya untuk sisi kiri semata, dan kau masih bisa memakai mereka untuk menembak.”
Dia melirik ke sampingnya. Sebagian besar mayat personel di kiri telah berhasil dijatuhkan dengan granat-granat mereka. Mayat-mayat itu masih bisa menembak, tetapi moncong senapannya tak lagi mengarah tepat ke arah mereka. Dengan setengah sisi aman dari tembakan terarah, mereka cukup mengkhawatirkan sisi kanan.
Pria di depannya jelas mengendalikan senapan mereka semua, sepertinya lewat bantuan personel lain. Sebuah teater tembakan bayangan yang arahnya bisa berasal dari mana saja di seluruh ruangan, Albert jelas sangat percaya diri akan kemampuannya sampai berani menyiapkan ini semua untuk menyambut dan menghabisi mereka. Tetapi meski begitu, pada akhirnya mereka berhasil membuatnya terpojok di ujung sana.
“Tetapi, Al. Mag senapan serbu standar kita sekitar 20 peluru, bukan?” Ermes lanjut berkata. “Terdapat 20 personel di sisi kanan dan mereka sudah menembaki kami selama beberapa puluh menit ini.”
Ermes mengarahkan pisau taktisnya yang setengah hancur ke arah Albert. “Waktumu di panggung hampir habis, boneka sialan.”
Albert hanya terkekeh, tak khawatir sedikitpun. “Kita lihat saja siapa yang tersisa nanti saat tirai tertutup.”
Ermes ikut terkekeh selagi bersiap untuk menyerang kembali, “Ja.”
Rentetan peluru kembali terlontar selagi Ermes dan sisa timnya maju menyerang.
“Jatuhlah! Jatuhlah!”
Hafi menusuk liar besi beton tajam yang dipegangnya bagaikan tombak, meski dia harus melakukannya sekuat yang dia bisa karena beratnya. Itulah kenapa sedari tadi dia berteriak frustrasi selagi menyerang.
Itu juga membuat Onyx yang menjadi lawannya dapat menghindari tikamannya. Bukan rahasia lagi bagi personel Situs-79 kalau Onyx sangatlah kompeten dalam bertarung. Jika dia bisa memotong jarak antara mereka, dia akan mengakhirinya seketika. Dia tengah mencari kesempatan yang pas untuk itu.
Pada tusukan selanjutnya, Onyx menghindar ke samping dan berhasil berhadapan dengan besi betonnya. Dengan cepat dia meraihnya dengan satu tangan dan menahannya dengan tangan lainnya. Dia berhasil menangkapnya.
“Aiieeehhh!!??” Hafi berseru panik begitu Onyx menarik besi beton yang digenggamnya. Begitu cukup dekat, dia langsung mengangkat tangan kanannya dan mendaratkan hantaman tepat di muka Hafi. Tak berhenti di situ, tangannya yang lain segera mengikuti dengan hantaman uppercut, diakhiri haymaker terakhir tangan kanannya.
Meski menerima seluruh hantaman itu, Hafi masih berdiri meski dia sebisanya menjaga keseimbangan. Menyadari itu, Onyx menendangnya dengan tendangan roundhouse seketika di badan untuk mengakhirinya. Hafi terpental jatuh ke lantai sejauh beberapa meter.
Onyx membuang besi beton Hafi ke lantai setelahnya. Dia merapikan jas lab dan kemejanya seraya melangkah pergi. Terdapat beberapa noda kecokelatan bekas hantaman besi beton itu, tetapi tak ada sobekan luka sedikitpun di badannya.
Dia berencana pergi untuk menyusul Lucy segera jika saja Hafi tidak secara tiba-tiba berdiri dan berlari ke arah besi beton yang dilemparnya. Meski penuh memar dan darah, Hafi berseru marah seraya mengayunkan besi betonnya dengan liar dan penuh tenaga ke arah Onyx.
Onyx lumayan tak menduga dia masih sadar, apalagi mampu melawan kembali. Dia berencana menangkap besi betonnya kembali, tetapi dia perlahan menyadari kalau gaya bertarung Hafi mulai berubah.
Hafi mulai menjaga jarak dan hanya menyerang Onyx dengan ujung besi betonnya. Itu dapat dicapainya dengan ayunan cepat beruntunnya.
Onyx harus menahan hantaman terlebih dahulu sebelum mencoba meraihnya, tetapi karena Hafi menghantamnya dengan ujung senjatanya, dia tak punya banyak kesempatan.
“Jatuhlah…” Hafi kini mulai tersenyum kembali meski mulutnya masih meneteskan darah. “Kita semua jatuh di sini…”
Onyx mengambil ancang-ancang, dengan gaya bertarungnya berubah, sepertinya dia bisa memotong jarak mereka dengan menyerbu maju sekarang. “Tidak, aku punya tujuan setelah ini.”
Dan dengan itu dia berlari seketika ke arahnya.
“Gimana bisa lu masih bisa berdiri sih?!”
Duman melangkah mundur setelah mendaratkan satu lagi hantaman baton listriknya. Sayangnya sekali lagi, serangannya ditangkis salah satu kapak yang digenggam erat Bale. Saudaranya Devi segera menyerang dari belakang, tetapi Bale mengayunkan kapak keduanya segera untuk menjaga jarak.
“Maaf tuan-tuan, tetapi aku lebih berpengalaman menghadapi lawan yang lebih kompeten dari kalian.” Bale membalas.
Tetapi yang tidak kedua agen itu ketahui adalah Bale sendiri mulai kewalahan menghadapi mereka. Tiap sengatan baton mereka terasa, dan itu terus menurunkan kemampuannya menahan serangan.
Berdasarkan pengalamannya, melawan seseorang satu lawan satu seperti Toni dulu lebih menyulitkannya dibanding melawan banyak orang sekaligus, tetapi saat ini, sepertinya melawan dua orang di saat bersamaan juga sama sulitnya. Yang memudahkannya dulu menghadapi kerumunan orang adalah minimnya koordinasi antarmereka. Bale bisa menyerang yang terlemah dan tak akan ada balasan terarah setelahnya.
Tetapi berbeda dengan mereka berdua. Dia tak akan merujuk ke stereotip, tetapi fakta bahwa mereka berdua merupakan saudara kembar jelas membiasakan koordinasi terarah mereka selama bertahun-tahun, terlebih dalam menyerang lawan. Begitu salah satu menyerang, saudaranya membalas di belakang.
Bale melirik ke belakang. Awalnya mereka mengenakan dasi kupu-kupu saat mereka datang, tetapi ia dikantongi mereka begitu mulai menyerang. Meski begitu, Bale dapat melihat sifat kedua bersaudara ini memang cukup berbeda. Yang satu lebih terarah dibandingkan saudaranya yang lain. Yang aktif adalah pria di depannya ini sedangkan yang dibelakang memberi balasan.
Bale tersenyum. Dia akhirnya menemukan yang terlemah.
“Kau cuma peneliti! Peneliti seharusnya nurut pada agen!” Duman berseru kesal seraya mulai mengayunkan batonnya kembali. Seperti yang Bale duga, saudaranya hanya berperan sebagai balasan setelah serangannya ditangkis.
“Heh, sayangnya kalau di Situs-79, kalianlah yang menjadi bawahan.”
Bale maju dan memfokuskan seluruh serangan kedepannya kepadanya.
“Jalang gila…”
Lukman mengasah pedangnya dengan kaitnya sebentar sebelum bersiap menyerang kembali. Pedang sabelnya kembali berbenturan dengan pedang Brethenitas yang digenggam Natalia, satu benturan per detik.
Begitu dua puluh detik telah lewat, Lukman akan menyingkir, memberi ruang bagi Mei untuk menembakkan flintlock-nya ke arah Natalia sebelum mengisi ulang mesiunya. Setiap 1 menit, mereka mengambil jeda lima detik untuk mengamati apakah perlu pengaturan pola baru. Gerakan mereka tejadwal rapi dan terorganisir.
Masalahnya lawan mereka sangatlah tak terprediksi. Natalia kebanyakan memakai pedangnya untuk bertarung, tetapi tiba-tiba saja dia mengeluarkan pistolnya untuk menembak. Sejauh ini Lukman berhasil membuatnya tetap fokus pada dirinya sehingga Mei aman di belakang, tetapi Natalia jelas mencoba mencari kesempatan untuk menembaknya.
Tetapi anehnya, bahkan dalam jeda sedetik dia menyingkir agar Mei dapat menyerang, Natalia fokus memakai pedang semata. Dipikir lagi, seluruh gayanya menyerang tidaklah berpola. Kadang dia menjaga jarak dan hanya menebas sesekali sebelum tiba-tiba maju dan menebas secara agresif, belum lagi dia tiba-tiba mengeluarkan pistol di tengah duel mereka.
Dan terkadang dia menggumamkan sesuatu seperti kata ‘Pas’. Lukman tak paham pola bertarung perempuan itu sama sekali.
Dia kembali menghantamkan pedangnya ke Natalia, sepertinya kali ini dia dalam mode siaganya. Tetapi perlahan dia menyadari perempuan ini mulai mempercepat serangannya, jadi pada detik berikutnya dia segera maju menekan pedangnya dengan kaitnya sedekat mungkin dengan Natalia. Niatnya menjatuhkan perempuan ini ke lantai.
Sepertinya Natalia cukup kuat untuk menahannya, tetapi dia pun sepertinya tak menduga itu sehingga headphone-nya sedikit terlepas. Sejujurnya Lukman sudah berhenti mempertanyakan itu sejak awal-awal mereka bertarung, mengira itu tak berefek banyak kepada kemampuannya.
Tetapi saat Natalia mengangkatnya sedikit untuk memperbaiki posisinya, Lukman tak sengaja mendengar musik yang dimainkannya.
Begitu mendengarnya, dia tertegun dan segera memberikan tebasan terakhir sebelum mundur. Dia berdiri diam menatap Natalia, melewatkan momentumnya. Itu membuat Mei heran melihatnya. Ekspresi Lukman ternyata juga sama, meski perlahan, terlihat jelas kalau sesuatu membuatnya kesal.
“Jalang ini…” Lukman mulai emosi. “Beraninya kau memainkan TiK ToK dari Kesha!”
“Heh, aku tak menyangka kau mengenali lagu ini.” Natalia membalas, malah dengan nada senang dan bangga. “Tak heran sih, mengetahui tendensimu dengan tempo sepertiku.”
“Kau akan membayar untuk penghinaan ini!” Lukman masih kesal seraya mengarahkan pedangnya ke Natalia. “Ms. Smith! Lupakan melempar dia dari gedung pakai papan, kita langsung keelhaul jalang ini setelah selesai! Ikan di bawah lebih suka daging parut, bukan?!”
“Aye, kapten!” Mei membalas, baru selesai mengokang senjatanya kembali.
Natalia hanya menggeleng, “Ku kira kita bisa sepakat akan sesuatu… tenang saja, akan kubuat kau mengerti betapa superiornya menikmati musik dalam pertarungan!”
Dan dengan senyum semangat, dia kembali menghantamkan pedang dan membiarkan percikan api dan peluru terbang.
Keadaan hening di ruang resepsionis lantai lima.
Lucy memegang erat revolvernya, menenangkan tangannya agar tak gemetar. Tatapannya lurus, penuh antisipasi meski masih memiliki harapan.
Di depannya, Hilda memegang erat senapan runduknya dengan kedua tangannya. Tanpa helmnya, dia dapat melihat Hilda menatap balik kearahnya.
Dan dibelakangnya, Harper menatap mereka berdua bagaikan dia seorang raja, mengadu domba mereka berdua dalam duel maut. Tak sabar menunggu hasilnya.
Harper tak lagi bisa diajak negosiasi, jadi Lucy kini menaruh harapannya pada Hilda yang masih memegang rendah senapannya.
“Hilda, kau tahu ini salah! Kau tak harus menurutinya!” Lucy mencoba memohon sekali lagi.
Hilda memandangnya dengan ekspresi iba. Perlahan dia menurunkan senapannya. Selagi menatap Lucy yang terlihat mulai lega, dia berkata, “Maaf Lucy. Tetapi aku memilih membantu Harper.”
Dan dia mengangkat tinggi senapan runduknya, posisi siap menembak.
“Ke- kenapa?!” Lucy bertanya heran dan takut. Hilda tak menjawab, dia mencoba mempererat dan menstabilkan genggamannya. Dia siap menembak.
Lucy mau tak mau mengeluarkan revolvernya dan siap menembak juga. “Hilda! Ini aku! Ingat semua yang kita sudah lalui! Kau benar-benar ingin mengakhiri semuanya untuk dia semata?!” Lucy masih memelas.
“Tenang saja, Lucy. Aku mengincar titik nonfatal. Kami… harus menjagamu di sini. Entah kau mau atau tidak.” Hilda membalas, sedikit tak yakin. “Ya… demi kebaikanmu.”
Dia terdengar seperti tengah meyakinkan dirinya sendiri juga.
“Hilda tolong!” Lucy masih menodongkan pistolnya, semakin mempererat jemarinya di pelatuk. Keringat mengalir deras di wajahnya. Dia tegang dan gugup menanti kapan Hilda mulai menembak, karena tembakannya pasti akan melumpuhkannya segera. Dia tak boleh tergeletak tak berdaya sekarang. Dia harus menghentikan Harper.
Bagaimanapun caranya.
BANG
Suara tembakan berbunyi, diiringi suara jatuh. Asap keluar dari senjata penembaknya, berasal dari pistol revolver semata.
Lucy menurunkan perlahan revolvernya setelah menembak. Tatapan tegangnya tak lepas dari Hilda yang tengah berlutut, memegangi bahunya yang dia tembak. Meski begitu, dia segera mencoba berdiri kembali dan mengambil posisi menembak, mengabaikan lukanya.
“Hentikan kegilaan ini, Hilda!” Lucy segera menembak kembali, kali ini ke arah kakinya. Setelah letupan tembakan terdengar dan berhasil melukai kaki Hilda, perempuan itu langsung tersungkur jatuh.
“Aku… ngghhh… tak bisa, Lucy. Inilah takdirku, inilah takdirmu…” Hilda membalas sebisanya. Tetapi sepertinya dia mendapat keyakinan yang dia cari pada akhirnya. “Benturan kita tak terhindarkan, jadi yang kita bisa lakukan… hanyalah berjalan sampai akhir…”
Hilda masih mencoba mengambil posisi menembak, mengejutkan Lucy. Melihatnya merangkak di lantai sekuat tenaga ingin menembaknya mengingatkannya kembali akan pria itu dulu. Lucy dengan reflek menembak sekali lagi, tetapi untungnya kesadaran kecil dalam refleknya membuatnya meleset dari kepala Hilda beberapa sentimeter.
Hilda tersentak menyadari nyarisnya tembakan tadi. Setelah beberapa saat, dia mengangguk dan menjauhkan senapan runduknya sebelum terbaring di lantai. Dia menyerah.
“Sangat disayangkan kau tetap dalam kendali mereka sampai akhir…” Harper berkata dari belakang Hilda. “Sampai membuatmu menghabisi kami temanmu sendiri.”
“Buka matamu Harper! Kau yang memaksa Hilda menghabisiku!” Lucy berseru penuh amarah selagi menembak ke arah Harper. Harper sendiri segera lari menghindar, keluar dari area.
“Tenang saja, Lucy. Aku akan menghabisi Sang Jabberwock untukmu! Mengakhiri mimpi burukmu untuk selamanya!” Dia berseru seraya pergi dan menghilang di sudut ruangan.
Lucy berteriak marah seraya berlari mengikutinya, tetapi kakinya ditahan sesuatu sehingga dia hampir terjatuh. Lucy menodongkan senjatanya kembali ke arah Hilda yang memegang erat kakinya. “Lepaskan.” Dia berkata pelan meski jelas tak sabaran.
“Tenang saja, kau sudah menang…” Hilda terkekeh selagi menuruti permintaan Lucy. “Jadi aku merasa perlu… memberitahukan padamu apa… yang Harper rencanakan.”
Itu mengejutkan Lucy, cukup sampai membuatnya tanpa sadar berhenti menodongkan senjatanya.
“Dengar… Harper berhasil mendapatkan sejumlah rudal dari Situs-118… Dan dia berencana menembakkan mereka ke Situs-79, mengambil risiko mengoyak veil karenanya…”
“Tak mungkin…” Lucy hanya bisa menggumam pelan.
“Harper berniat memancing kalian semua ke atas… agar personel di bawah bisa bersiap meluncurkannya… Dia ingin kalian melihat rudal itu terbang…” Jelasnya sebisanya.
Dia menatap Hilda yang masih tergeletak di lantai. Perlahan dia bertanya kembali, “Kenapa… kenapa kau tak hentikan dia?”
Hilda hanya terkekeh. “Karena itu yang harus dilakukan…”
Lucy mendekatkan dirinya ke Hilda selagi berseru, “Kau tahu dia melakukan ini untuk balas dendam semata, kan?!”
“Aku tahu…” Jawabnya, memberi jeda beberapa saat sebelum melanjutkan. “Dan sejujurnya… aku iri padamu karena itu…”
Hilda membalikkan badannya dan berbaring. Bahu dan kakinya yang tertembak mulai menodai sepenuhnya seragamnya dalam merah. “Aku mengagumi Harper sejak dulu, kau tahu… tetapi aku tahu dia lebih mencintaimu… Sejujurnya, saat itu aku mencoba bersaing melawanmu… membuktikan diriku sendiri…”
Hilda tertawa lemah. “Kau cocok dengan Harper, kau tahu. Sayang sekali takdir kalian bertabrakan…”
Lucy hanya menatapnya seraya dia berlutut di samping Hilda. Dengan pelan dia bertanya, “…Apa yang harus ku lakukan, Hilda?”
Hilda diam sejenak, menatapnya dengan iba seperti sebelumnya. “Terus melangkah maju… menangkan dirimu…”
Dia lalu memejamkan matanya seraya mengakhiri dengan berkata, “Aku memilih mendukung Harper, tetapi aku tetap berharap… pilihanmu merupakan yang terbaik untukmu… Pergi sana, aku mulai kesakitan…”
Lucy diam menatapnya diam terbaring. Perlahan dia berdiri sebelum mengecek revolvernya. Sisa satu peluru tersisa. Lucy memutarnya sebelum memasukkannya dengan kasar.
“Aku mengerti…”
Tatapannya tajam penuh determinasi… dan amarah.
“Fick dich!”
Ermes berseru kesal. Dia memegangi lengannya yang penuh luka tembak. Dia jelas tak mampu lagi memegang pelindung apa pun sekarang. Saat ini, cuma dirinya yang berdiri di tengah genangan darah sisa agen Situs-79.
“Sebuah boneka tak bisa komplain akan perannya.”
Albert membalas dengan nada mengejek. Meski lukanya tak separah Ermes, dia mencoba berdiri dengan senapannya yang moncongnya sudah hancur, kini diganjal seadanya dengan pisau taktis di ujungnya.
“Bagaimana bisa kau memaksakan pistol itu di mulut mereka!” Ermes kembali mencela.
Sekumpulan mayat yang tersisa di sisi kanannya sudah kehilangan visor kuning mereka, menunjukkan rahang mereka yang dihancurkan agar dapat disusupi pistol standar Yayasan. Luka bakar di wajah mereka masih segar, bekas Albert mengaktifkan senjata mereka tiba-tiba.
Albert hanya mengangkat bahu. “Aku tetap seorang mantan personel Situs-79, ingat. Jangan bilang standar teatrikal kalian turun sekarang…”
“Nein, nein…” Ermes menggeleng, mencoba menyiapkan tenaganya untuk menyerbu sekali lagi. “Lihat saja apa yang akan kulakukan pada mayatmu nanti!”
Ermes mencoba lari, tetapi pistol yang tertanam pada mayat di kursi kembali menembakkan dirinya, kali ini mendorongnya jatuh ke samping.
Ermes mencoba berdiri sebisanya dari lantai kemerahan tergenang darah di bawahnya. Tetapi perlahan Albert melangkah mendekat dan menodongkan senapannya yang hancur ke arah kepala Ermes.
“Sebaiknya kau menyerah saja dan lucuti dirimu sekarang. Jika kau mencoba berdiri kembali, akan kugantung kau di luar sebagai dekorasi, capeesh?”
“Menyerahlah! Aku tak harus membunuhmu!”
Onyx masih berdiri dengan posisi siap menyerang jika lawan cukup dekat. Jas labnya yang putih kini kotor penuh noda. Terdapat sedikit noda merah di kedua lengannya bekas menahan hantaman, tetapi selain dari itu, dia masih dalam kondisi prima.
Berlawanan dengannya, Hafi berdiri jauh di ujung koridor. Wajahnya babak belur dan kemeja putihnya yang sudah berantakan kini ternodai warna merah darahnya sekarang. Meski begitu dia masih berdiri, meski sekuatnya menahan dirinya memakai besi betonnya.
“Tak Hafi sangka harus terpaksa memakai metode ini…”
Dia perlahan melangkah ke depan. Onyx hanya menghela nafas seraya ikut berjalan mendekat. Dia harus mengakhiri ini segera agar dapat bergabung dengan yang lain di atas. Hafi berjalan lambat dan terkesan minim keseimbangan. Onyx menduga itu karena pukulannya.
Tiba-tiba di tengah berjalan, Hafi akhirnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Anehnya dia langsung terbenam ke tanah.
Onyx tersentak menyadarinya dan reflek mundur, mencoba memproses apa yang dia lihat. Pria itu benar-benar hilang ditelan lantai seketika begitu jatuh.
Belum sempat pulih dari kagetnya, dia melihat sesuatu melesat cepat ke arahnya. Terlalu cepat untuk dilihat, tetapi Onyx mampu menangkap kalau itu merupakan bagian bawah sepatu yang dikenakan Hafi. Jika dia dapat melihat lebih jelas lagi, dia akan menyadari sebuah logam besi menyala di bawahnya.
Sayangnya dia tak sempat melihat itu karena tiba-tiba Hafi muncul dari lantai secepat kilat dan menusukkan besi betonnya ke badan Onyx. Onyx mengerang kesakitan seraya mereka terangkat beberapa meter ke udara karena tusukkan kecepatan tingginya.
Begitu mendarat, Onyx terhempas ke lantai dan membuat retak keramiknya. Hafi sendiri melepaskan besi betonnya dan mengambil jarak darinya.
“A… pa yang…” Onyx bertanya keheranan seraya menahan rasa sakitnya.
“Kejatuhan.” Hafi berkata penuh percaya diri sebelum menjatuhkan dirinya sendiri ke belakang. Sama seperti tadi, dia tak menghantam lantai dan tiba-tiba saja tenggelam dalam lantai.
Yang tersisa cuma sepatunya yang bergetar hebat, tiba-tiba bergerak cepat ke arah dinding. Ia dengan segera naik ke atas menuju langit-langit koridor. Begitu sampai, tiba-tiba Hafi muncul kembali dari dalam dinding dengan kecepatan tinggi serupa, meluncur tepat ke arah Onyx yang masih terbaring.
Onyx berguling cepat ke samping, nyaris gagal menghindari tusukan fatal besi betonnya yang membuat retakan luas di keramik lantai.
“Apa-apaan kau ini…” Onyx mencoba sebisanya berdiri.
Hafi hanya tersenyum puas. “Katakan padaku, pernahkah kau menari di atas dinding dengan nyawamu dipertaruhkan?”
“Ayolah, berhenti menghindar!”
Bale menebaskan kapaknya sebanyak yang dia bisa ke arah Duman. Duman sepenuhnya fokus ke menghindar sepenuhnya, tak lagi bisa mencoba menyerang.
Bale bersiap menebas vertikal kapaknya dari atas, membuat Duman harus menahan serangannya dengan kedua tangannya. Tetapi Bale memanfaatkan kesempatan itu untuk menendangnya seketika. Dia mundur beberapa langkah seraya mencoba menjaga keseimbangannya segera, tetapi saat itulah dia menyadari batonnya ditarik jatuh oleh Bale dengan cara mengaitnya dengan kapaknya.
Tentu Bale juga bersiap untuk serangan balasan dari saudaranya segera. Mereka saling menghantamkan senjata kembali. Bale melirik ke belakang, memastikan saudaranya tetap tak berdaya di sana.
Tetapi ternyata Duman hendak menyerangnya menggunakan taser genggam. Bale langsung berbalik dan mengayunkan kapaknya untuk menjaga jarak. Tetapi tiba-tiba dia merasakan sengatan di punggungnya. Saudaranya menyetrumnya sekuat tenaga dengan batonnya.
Tak cukup sampai di situ, Duman maju begitu ada kesempatan dan ikut menyetrumnya dari depan. Saat itulah Bale merasa kalkulasinya salah, tak ada gunanya menyerang titik terlemah kalau serangan balasan tetap terjamin dilakukan.
Duman mendekatkan dirinya dan tasernya ke badan Bale. “Sekarang menjeritlah!”
“Akh, diamlah!”
Natalia mengayunkan pedangnya dengan kesal. Musik di headphone-nya sudah disetel senyaring mungkin, meski tetap dalam level nyaman. Tetap saja dia tak bisa mengikuti tempo gerakan idealnya.
“Ada apa? Bukannya kau bilang menggunakan musik untuk bertarung itu superior?” Lukman mengejeknya. Dia bersiap-siap untuk menyerang kembali dengan pedangnya. “Ms. Smith!”
“What will we do with a drunken sailor? What will we do with a drunken sailor?~”
Lukman dan Mei tengah mencoba bernyanyi senyaring yang mereka bisa selagi menyerang. Mengabaikan tempo per detik, mereka memilih mengikuti metode Natalia. Dan harus Lukman akui, selain sama terarahnya, ia cukup membangkitkan moral.
“Kau sebut pencemaran suara ini musik?” Natalia membalas kesal.
Sejujurnya, dia tak masalah mereka memainkan musik apa pun seperti dirinya. Sekali lagi, meski headphone-nya tua, kualitasnya tetaplah bagus. Yang jadi masalah di sini adalah mereka menyanyikannya.
Menghabiskan sebagian besar waktunya mendengarkan musik dan wawancara sekitarnya, dia secara otodidak memiliki kemampuan membaca perkataan seseorang dari bibir mereka. Dan saat ini dia tak bisa mendengarkan dengan seksama musiknya sendiri karena melihat mulut Lukman yang menyanyikannya dengan ekspresif. Sama sekali tak bisa bahkan dengan volume nyaring sekalipun.
Lagi pula, dia tak suka lagu jenis seperti ini. Dia lebih suka yang modern. Sebuah siksaan ketidaknyamanan yang sempurna baginya.
“What will we do with a drunken sailor early in the morning~”
Jauh dari hiruk pikuk lantai di bawahnya. Atap kover Situs-84 sunyi selain dari hembusan angin malam.
Harper melangkah perlahan ke tengah-tengah atap. Dia masih terengah-engah setelah berlari sebelumnya. Perlahan dia menyadari cuaca malam itu dan menatap ke arah langit nan gelap.
Rintik hujan mulai turun perlahan. Dia mengadahkan satu tangannya untuk merasakannya.
Tiba-tiba di belakangnya, bunyi hempasan pintu terdengar. Harper tak berbalik. Dia tak perlu. Dia tahu siapa yang sudah tiba.
“Kenapa… kau bersikeras melawanku? Yang semampuku melakukan segalanya untukmu?” Harper bertanya pelan. “Kemana Aliceku?
“Kau tahu apa yang harus kau lakukan?” Lucy berkata pelan dan penuh kebencian. “Kembalikan Hilda yang dulu, kembalikan Harper yang ku kenal dulu…”
Harper berbalik dan membalas tatapan marah Lucy. “Harper yang kau kenal dulu adalah topengku.”
Dia berbalik dan merasakan rintik hujan mengenai wajahnya. “Dulu aku bisa mendapatkan segalanya. Tetapi orang lain merupakan bayarannya. Diriku yang dulu menukar keberanianku dulu dengan topeng ketidakberdayaan, hanya agar dapat dekat dengan kalian.”
Harper mengembuskan nafas pasrah. “Tetapi seperti yang kau buktikan, dia tak berdaya mendapatkan apa-apa pada akhirnya.”
Dia berbalik ke arah Lucy. Tangannya menggenggam erat perban mukanya. Seketika dia mencabut paksa perbannya yang terjahit ke wajahnya, menunjukkan luka bakarnya sepenuhnya untuk Lucy lihat. “Inilah aku yang sebenarnya. Aku egois, dan aku mendapatkan apa yang kuinginkan apa pun caranya.”
Lucy menodongkan revolvernya sekali lagi. “Akan kutembak dirimu, dan mengembalikan Harper yang dulu.”
Harper menggelengkan kepalanya. “Satu-satunya alasan kau terpaku padanya adalah kau mengenakan topeng serupa.”
“Aku sudah membaca dokumen Peneliti Senior Robert yang kusita. Aku mendapatkan relasimu dengan CI. Kau adalah agennya, itu menjelaskan bagaimana kau bisa bertahan di Situs-79. Kalian semua sama di sana.“
Lucy jelas tertegun mendengar itu. Sesuatu yang sedari awal dia coba hindari, alasan utama dia ingin kembali, dan Harper malah ungkit di sini. “Tidak, aku- Aku bukan agen CI! Aku personel Yayasan!“
“Aku tak tahu siapa kau sejak hari itu.” Harper berkata dingin. “Dan aku tak peduli. Aku cuma peduli akan Lucy, dan sekarang aku sudah membiarkannya pergi karena sepertinya dia tak akan kembali.”
Harper menodongkan pistolnya. “Aku personel Yayasan atas nama Harper Dominik. Berdasarkan hukum Yayasan, agen ganda harus dihabisi jika ditemukan.”
Lucy reflek menekan pelatuknya, ingin mengakhiri kegilaan ini seketika. Targetnya diam tak bergerak, bidikannya selalu tepat.
Satu-satunya yang kurang adalah tidak adanya peluru yang terlontar.
BANG
Lucy merasakan rasa sakit seketika di badannya. Peluru Harper berhasil mengenainya. Harper terus menembak, membuat Lucy berlari menghindar di tengah gerimis yang semakin deras. Dia tak melihat dirinya berada di ujung railing besi pembatas pinggiran atap. Itulah kenapa dia menghantamnya dan terguling ke sisi seberang karena tinggi railing yang memang pendek.
Lucy sekuat yang dia bisa memegangi salah satu jerujinya. Tetapi tiba-tiba tembakan menghantam railing, membuat percikan dan mengejutkan Lucy sampai melepaskan pegangannya.
Dia terjatuh dari atap gedung lima lantai.
Harper memandang ke arah Lucy jatuh cukup lama. Perlahan dia meraih radionya dan memberi perintah pada pendengarnya. Dia menaruhnya kembali ke samping begitu selesai.
Dia menatap kembali ke langit malam yang semakin mengguyurkan hujan deras.
“Tinggal giliranku untuk mati.”
Lucy jatuh ke sisi belakang kover, di mana banyak pohon di sekitarnya. Dia sangat beruntung menghantam keras deretan ranting pohon tinggi di dekatnya sampai menghantam tanah dengan lutut dan lengannya.
Semuanya memar dan berdarah, membuat Lucy tergeletak seketika. Hujan yang seharusnya deras juga dipilah ranting dan daun pohon yang sama sehingga hanya gerimis lembut yang menghampirinya.
Lucy membalikkan badannya sehingga dia berbaring, membiarkan tetes hujan membasahi dirinya untuk membasuh luka-lukanya.
Di tengah guyuran itu, air matanya tersamarkan. Di tengah ekspersi sakitnya, kesedihannya juga tersamarkan. Dan gumaman pelannya hanya bisa didengar olehnya semata.
“Siapa aku… sebenarnya?”
Kronik Situs-79
Bab 8: Dunia Imaginer(2)
« Anak-anak Catur Yang Ada | Netralisir Sang Raja Pemimpi | Dan Benar, Bergelora, dan Berbahagialah Hari itu! »




