Matahari pagi perlahan menyinari perkotaan dengan cahayanya, menembus hutan urban berupa gedung-gedung menjulang tinggi. Orang-orang mulai memenuhi jalan, dengan kendaraannya atau bahkan dengan kaki mereka sendiri, saling melangkah menuju tujuan mereka masing-masing. Siluet bayangan mereka mulai terlihat, semakin jelas seiring pagi menjelang.
Cahayanya tak luput menembus lembut dedaunan dan ranting di pepohonan. Di tempat luas seperti taman, garis-garis cahaya pagi menembus tiap celah yang ada. Menerangi aktivitas warga kota yang berkeliaran di sepenjurunya. Tak mengecualikan sebuah taman berukuran sedang di kota itu.
Normalnya orang-orang sekarang tengah ke tempat mereka bekerja atau berkepentingan, dan taman bukanlah tempat yang cocok untuk itu. Tetapi saat ini, tengah terdapat sekumpulan orang di area tengah berada di sana. Mereka juga kebanyakan berseragam taktis, beberapa malah memakai aksesoris tak konvensional. Tetapi satu hal yang pasti, mereka semua dari organisasi yang sama.
Beberapa orang tengah bolak-balik mengangkat kotak besar. Saat kotak pertama diturunkan, terdapat tiga panah menusuk sebuah lingkaran sebagai logonya. Kotak barang standar Yayasan.
Para personel Yayasan itu terbagi menjadi dua sisi, terpisahkan jalan sepatak kecil yang mengitari taman.
“Baik, kita mulai saja,”
Di satu sisi yang membelakangi hutan kecil taman tersebut, terdapat salah satu di antara bangku taman panjang yang terpasang. Di sana duduk seorang perempuan tua berseragam hitam agen lapangan Yayasan, dengan sebuah kain hitam terikan. Dia duduk sendirian, meski beberapa agen perlahan menumpuk kotak barang di samping kiri dan kanannya. Terdapat tiga orang di belakangnya. Dua orang mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh badan, lengkap dengan tudungnya yang menyelimuti wajah mereka dalam bayangan. Satu lagi tidak, tetapi dia merupakan seorang pria yang mengenakan seragam putih berlapis apron barber yang diikat sabuk kain hitam. Dia cukup jauh sedikit karena bersandar di pohon di belakang kursi, menatap dengan senyum ke depan.
“Wakil Direktur Situs-414, Jennifer, mewakili Situs-414.” Perempuan tua itu berkata dengan senyum percaya diri serupa. “Mendampingiku di sini kedua gadis favoritku, Aset Khusus Connie dan Rita, serta Agen Senior Suani di pojok belakang sana.”
Di sisi lainnya yang membelakangi danau kecil, merupakan kumpulan personel berbeda. Mereka sebagian besar mengenakan seragam agen lapangan dengan rompinya, tetapi yang paling depan merupakan seorang pria yang terlihat tua berseragam hijau tua lengkap dengan baretnya yang tak rapi dipasangkannya. Dia duduk di salah satu kotak barang yang diseret personel mereka, yang tak banyak sehingga sisanya berdiri.
Mereka semua memiliki noda darah yang beberapa masih segar di seragam mereka, dan mereka diam menatap tegang ke depan.
“Asisten Direktur untuk Penahanan, Birmanto Teladan, mewakili Situs-79.” Pria itu membalas. “Mendampingiku Asisten Direktur untuk SDM Hidayat, Asisten Direktur untuk Keamanan Herria Ditya, dan Ketua Agen Lapangan Hansel Löwe.”
Tentu saja perwakilan masing-masing situs tak hanya mereka semata. Sebagian besar mengawasi dengan tegang pertemuan kedua situs tersebut dari kejauhan. Mereka yang tak tengah mengurus bongkar muat barang dari truk yang mereka parkir di kejauhan, ditugaskan memantau dengan senapan siap digunakan.
Masalahnya, hanya para personel Situs-79 yang terlihat di taman. Sisi Situs-414 benar-benar hanya berisi mereka berempat. Meski begitu, Birmanto sudah mengingatkan mereka untuk menganggap kalau empat orang itu sudah cukup untuk menghabisi mereka semua.
“Jadi selagi kita nunggu, ku lihat kalian cukup sibuk sebelum ke sini, Bio.” Perempuan itu berkata enteng mengamati mereka.
“Sibuk bukanlah kata yang tepat…” Birmanto membalas dengan nada tak senang. “Kau mungkin senang mendengar ini, Jane. Kami menghabisi seorang Sicario tadi malam. Beberapa Soldado juga.”
“Huh, serius?!” Perempuan tua itu terlihat bersemangat, “Aku selalu ingin menghadapinya satu lawan satu. Kau membuatku iri, Bio.” Katanya seraya terkekeh.
“Ya, ya. Kami ajaibnya masih hidup. Terima kasih perhatiannya.” Birmanto membalas, sedikit kesal sekarang. Dia tahu kemampuan seluruh personelnya kalah dibandingkan Jane, tetapi perempuan tua ini setidaknya bisa sedikit kasihan kepada mereka.
“Oh, tak perlu terlalu serius, Bio. Itu yang menyebabkan kau terlihat sama tuanya denganku, kau tahu.” Jane berkata dengan enteng.
Birmanto sendiri terkekeh. Tetapi dia membalas, “Sayangnya aku menjanjikan anak buahku kalau aku akan serius kali ini.”
Jane menatapnya dengan tertarik seakan mengamati kebenaran kalimatnya. Akhirnya dia berkata, “Kembali ke tujuan awal kita di sini, kalau begitu. Kalian kemari untuk menyerahkan semua rahasia kalian kepada kami, jadi kenapa kita tidak mulai dari ini sebagai pembuka,”
Jane mencondongkan dirinya ke arah Birmanto. “Bagaimana kalian mengalahkannya?”
Birmanto berpikir sejenak sebelum menjelaskan teorinya, “Pertanyaan tepatnya adalah bagaimana seorang Sicario yang seharusnya bisa menghabisi satu situs seakan itu ruko kartel kecil bisa kalah.”
Birmanto menunjuk ke kepalanya. “Ada yang salah di otak mereka. Direktur Nima Muroda melaporkan mereka tak kembali ke bandara dan dinyatakan hilang sejak kemarin, lalu mereka tiba-tiba saja terlibat operasi gabungan Situs-84. Harper bukan bos situs atau organisasi besar, jadi dia tak mungkin membayar mereka. Tetapi dia kepala situs spesialis amnestik. Dia berhasil meracik kombinasi amnestik G yang pas dan memberikannya pada agen-agen luar negeri itu sehingga mereka mau membantunya.”
“Oh, menarik sekali… sepertinya Harper ini lebih menarik dari despot situs biasa.” Jane menanggapi.
“Dia kupilih sendiri jadi kepala keamanan melalui asetku di sana, jadi tak ku sangka hasilnya akan seperti ini…” Balas Birmanto dengan nada menyesal. “Sayangnya dia tak melakukannya tanpa mengenal lebih baik personel yang hendak dikendalikannya. Augmentasi personel setingkat Sicario sudah pada peningkatan tiap indra di otak, jadi dengan otaknya dibom dengan amnestik, kemampuan menghindar mereka kacau.”
Jane mengangguk mengerti, tetapi dia lalu berkata, “Seharusnya itu tak cukup untuk mengalahkannya. Personel berpengalaman seperti dia sudah secara insting menghindar dan menyerang…”
Dia menatap ke telapak tangannya sendiri selama beberapa saat sebelum kembali menatap Birmanto. “…Jadi dia pasti terdistraksi parah.”
“Yah, kami ada banyak.” Birmanto membalas singkat dan enggan.
“Oh,” Jane perlahan tersenyum, dan Birmanto tak suka itu. “Jadi berapa banyak yang tewas?”
“Tch…” Birmanto menutup matanya, tak ingin memikirkannya terlalu jauh. “Banyak.”
Jane terkekeh seraya menatap ke sisa personel Situs-79 yang ada di dekatnya. Mengamati kalau mereka semua selain penuh luka, juga sangat kelelahan. “Jadi berapa banyak personel kalian yang selamat kemari?”
Birmanto tahu Jane seharusnya sudah menghitung semua personelnya sejak mereka memasuki kota, tetapi dia tetap harus membuat perempuan tua ini senang. Dengan senyum terpaksa, dia menjawab, “Tujuh agen, mengecualikan mereka berdua.”
Jane tertawa mendengarnya seraya menepuk tangannya dengan terkesan. “Kau bersedia melawan seorang Sicario dan sekarang menghadapi kami dengan personel seadanya, hanya untuk despot itu? Biasanya kau tak akan bertaruh sebesar ini, Bio.”
“Seperti kataku, aku yang menaruh Harper di posisi itu, jadi aku yang akan bertanggung jawab atas kekacauan yang ditimbulkannya.” Birmanto membalas yakin, meski tangannya tak hentinya gemetaran. “Menghadapi kalian pun… akan ku lakukan.”
Jane diam mendengarnya, tetapi dia tersenyum tertarik, “Oh… seperti yang kuharapkan darimu, kau sepertinya punya rencana untuk membalikan keadaan, kan?”
“Tidak, tidak mungkin.”
Satu personel berjubah yang Jane panggil gadisnya tiba-tiba berkata, “Personel kalian terlalu sedikit dan tidak dalam kondisi optimal, kemungkinan menang kalian menghadapi kami nol persen.” Dia terdengar yakin.
Jane menoleh ke arahnya dan membalas dengan senyum, “Connie, sudah ku bilang untuk tidak meremehkan lawanmu, siapa pun itu. Itulah kenapa kau kalah dengan Rita pertama kalinya, bukan?”
Teman di sampingnya tertawa, sedangkan gadis itu membalas kesal, “Asumsiku dulu dia cewek normal! Kalkulasiku dulu gak memperhitungkan abnormalitas anatominya!”
Setelah terkekeh, Jane melanjutkan, “Dengar Connie. Personel-personel di depanmu ini bukanlah agen lapangan biasa. Bio tidak pernah memilih asal tim terbaiknya.”
Dia melirik ke arah masing-masing personel yang mendampingi Birmanto. “Yang pirang itu, dia salah satu penyintas STG lokal Iota-4, spesialis menjarah markas organisasi anomalus. Satu persatu agen mereka tewas atau gila mengurus daftar panjang anomali liar organisasi buruan mereka, dan pria itu berhasil hidup sampai STG dibubarkan. Jabatan terakhirnya Adalah ketua STG, menggantikan ketuanya terdahulu. Dia bisa hidup tenang mengurus traumanya dengan itu, tetapi dia lebih memilih menyelesaikan misinya. Dia menghabisi semua informan terkait kasusnya yang diamankan Yayasan sebelum dihentikan dan dikirim ke Situs-79.”
“Itu… tak terdengar mengesankan?” Salah satu perempuan bertudung yang mendampingi Jane menanggapi.
Jane hanya terkekeh, “Dia membunuh mereka di rumah aman Yayasan, Rita, dan keamanan semakin ditingkatkan seiring jumlah korban yang diakibatkan. Pria itu praktisnya menghadapi tim gabungan berisi puluhan agen senior di rumah aman terakhirnya malam itu.”
Jane menatap Hansel yang memegang pisaunya dengan tegang. “Apa malam itu, kau memang sudah menghabisi mereka semua?”
Hansel menatapnya, membuatnya teringat akan penyintas terakhir organisasi incarannya. Dia perlahan menurunkan pisaunya dan tanpa sadar tersenyum. “Tidak, aku merasa sudah cukup.”
Jane tertegun menatapnya, tetapi kemudian dia mengangguk mengerti. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke personel lain. “Dan yang pakai topi abu-abu itu, dia pernah ditugaskan di Siberia. Kemampuan menembaknya lumayan setara dengan agen senior kita.”
“Eh, dia terlihat seperti pemabuk bajingan bagiku.” Pria yang bersandar di belakang Jane berkomentar. “Dia sepertinya tak akan sadar aku menyelinap di belakangnya dan menyayat lehernya, seperti bajingan lainnya.”
Jane kembali terkekeh, “Kau juga ya, Suani… Yah, memang dia terlihat seperti asisten direktur korup yang biasa kau tangani.”
Dia melirik kembali ke Herria yang menatap tajam ke arahnya. “Tetapi beberapa tahun silam di sana, dia merupakan satu-satunya personel yang memilih tinggal di situs teraifiliasi GRU-P. Lebih dari itu, dia berhasil kabur setelah situsnya hampir dikuasai Yayasan dengan mengendalikan zeppelin buatan GRU-P dan mengebom infrantri agen Yayasan di bawahnya, menyerukan ‘Kirov reporting’ melalui pengeras suara setiap menjatuhkannya. Dia tentu saja ditembak jatuh, dan ajaibnya berhasil selamat dengan parasut. Untungnya dia orang Indonesia, jadi setelah proses panjang, dia cuma dideportasi meski langsung diberi disipliner dengan dikirimkan ke Situs-79.”
Jane mengakhiri ceritanya dengan berkata, “Dia mungkin orang Indonesia, tetapi di Rusia sana, dia diberi julukan ‘Последний Товарищ’, ‘Kamerad Terakhir’. Satu-satunya yang setia melawan Yayasan itu sendiri hanya untuk beberapa pengkhianat semata.”
Herria memecahkan botol minuman keras yang sedari tadi dipegangnya. “Pengkhianat bagiku… bukan mereka yang melawan organisasi atau ideologinya. Pengkhianat sebenarnya adalah… dia yang meninggalkan kameradnya dan tetap hidup di atas mayat mereka semua…”
Jane mengangguk mendengar gumamam pelan Herria. Dia terakhir melirik ke arah Birmanto dan Hidayat yang duduk di sampingnya. “Dan tentu saja, Sang Jendral Tertawa itu sendiri, Bio dan asistennya Hidayat. Ku tebak kau juga membawa si penyintas Alpha-4 itu juga, kan… Intinya, mereka semua penyintas, spesialis dalam membalikkan keadaan dalam sekejap atau mati mencobanya.
Jane menoleh ke belakang, ke arah perempuan yang dipanggilnya Connie tadi, “Jadi jika kau lengah sedikit, kau harus siap menerima kekalahan keduamu.”
“Tentu saja aku memperhitungkan itu semua, Bu.” Connie membalas kesal. Dia mengetuk dahinya dengan jarinya yang tertutup sarung tangan hitam. Tudungnya masih menutupi wajahnya dalam bayangan, tetapi dapat terdengar bunyi logam nyaring saat dia mengetuknya. “Aku sudah menganalisis mereka sepenuhnya sejak awal.” Katanya. Terdapat kilatan cahaya di area mata kanannya.
Jane terkekeh seraya kembali mengalihkan perhatiannya ke Birmanto dan timnya. “Situs-79, situs yang aku akui merupakan ancaman sepadan berkat strategimu semata. Reputasimu dulu sangat mengesankan, Bio. Di tengah ombak merah upaya dominasi beragam situs dulu, bahkan oleh situs terafiliasi Triad, kau berhasil mengendalikan seluruh situs di Jawa.”
Jane menunduk perlahan dan menghela nafasnya. “Sayangnya sepertinya itu di masa lalu semata. Cukup mengejutkan melihatmu memohon untuk mengadakan pertemuan ini. Aku tentu saja jadi punya keraguan apakah kau masih kompeten seperti dulu, dan melihat kalian menyeret diri kalian yang penuh luka ke taman ini cukup… menyedihkan.”
“Aku selalu bilang, aku tak cocok untuk seluruh urusan ‘Lingkaran Neraka’ ini” Birmanto membalas pasrah. “Ku rasa memang sudah saatnya dominasi Situs-79 berakhir.”
“Sebenarnya ada lagi yang ingin ku konfirmasi darimu,” Jane memberi jeda seraya melirik para personel di samping Birmanto. “Tetapi level izin mereka rendah. Mungkin setelah perundingan ini selesai, kita bisa bicara santai berdua.”
“…Tentu.”
Jane tersenyum seraya meraih salah satu dokumen di kotak di sampingnya dan mulai membacanya. “Itu jika perundingan ini sukses, sih.”
Birmanto menelan ludahnya dan berdoa.
Cahaya matahari perlahan semakin terang mendekati siang. Bayangan orang-orang dan sekelilingnya memendek mengikuti sumber cahaya di atasnya. Suasana jalanan mulai padat, dengan tiap kendaraan saling membunyikan suara dan teriakannya tak peduli jumlah rodanya. Kemacetan kadang terjadi di tengah teriknya matahari, dan para pedagang berjalan mulai keluar dari naungan bangunan karenanya.
Meski hiruk-pikuk perkotaan di sekelilingnya, taman yang dijadikan lokasi pertemuan dua situs Yayasan sebelumnya tidaklah terpengaruh sedikitpun. Orang-orang melaluinya seakan tak ada yang mengherankan di dalam sana. Dan memang tidak, aktifitas Yayasan dilakukan jauh di dalam taman, tersembunyi di balik deretan pohon di depan.
Meski begitu, itu mungkin tak akan mampu menutupi tumpukan besar kotak-kotak yang Situs-79 angkut dalam tiga truk berbeda. Mereka baru saja selesai menurunkan kotak-kotak terakhir di sana dan kini tinggal menunggu hasilnya.
Birmanto menatap ke arah Jane yang tanpa henti mengamati dokumen-dokumen dari kotak di sampingnya masih dengan ekspresi tertarik, dan kini sudah ada sekumpulan kotak tadi yang dihabiskannya. Tiap kotak seharusnya berisi skandal satu situs. Dia tak pernah setengah-setengah dalam mengumpulkannya, setiap kotak memiliki detail transaksi dan catatan keuangan atau laporan insiden dan transkrip lengkap, apa pun yang disembunyikan situs tersebut dari Yayasan seluruhnya termasuk pusat.
Itu adalah hasil kerjanya selama bertahun-tahun. Kepala penahanan hanyalah gelar formalitas semata, karena kerjaaan aslinya adalah memastikan agar situsnya tetap membayangi situs lain dalam genggamannya, agar situs lain tetap tunduk padanya.
Tidak, mungkin dia memanglah pantas merasa dirinya memiliki jabatan kepala penahanan, karena satu-satunya caranya untuk menjamin keberlangsungan situsnya dan seluruh pulau adalah dengan terus memegang erat kekang situs lain sampai tangannya berdarah.
Dia melihat Jane menurunkan tumpukan kertas yang digenggamnya kembali ke kotak. Perempuan itu menoleh ke arahnya dan berkata, “Ini mulai membosankan…”
“Y- yah, kan aku punya banyak. Masih ada setengah lagi untuk dicek.” Birmanto membalas segera dengan gugup.
“Ini situs-situs kecil semua. Situs penyimpanan, finansial, produksi… Tak banyak situs besar yang ku kenal selain punya Situs-118 dan situs terafiliasi Triad seperti Situs-283. Bagaimana dengan Situs-188 dan sebagainya? Situs-114? Kan kalian baru diserang Sicario juga, jadi ku rasa seharusnya ada rahasia gelap lain yang bandara itu sembunyikan…”
“Kalian terlambat beberapa hari, masalahnya.” Birmanto menjawab pasrah. “Saat aku sibuk mengatasi serangan awal tim gabungan Situs-84 dan -118, Beberapa situs seperti Situs-188 mau membantuku dengan syarat berupa diberinya dokumen rahasia situs lain dan mereka sendiri. Hmm… untuk kasus Babel seharusnya ada sih detail lengkap mereka terlibat upaya pengambilalihan pemerintahan kita dalam skala masif, gagal sih gegara konspirasi internal sampai berhenti total karenanya.”
“Nah, itu terdengar menarik…” Jane kembali terdengar senang seraya meraih kotak berikutnya untuk membukanya.
Birmanto hanya diam menatapnya. Seperti katanya, selain dia menjadikan asetnya sebagai bahan transaksi, memang tak banyak situs berpengaruh dengan rahasia gelap yang dimilikinya. Dia memang punya beberapa untuk situs terkenal sekelas 86 sekalipun, tetapi cuma sedikit dan tidaklah signifikan. Situs normal dan terkenal dalam artian baik memiliki backing kompeten juga, baik dari situs lain sampai pusat sekalipun. Dia cuma menyimpannya sebagai deterrent semata. Selain dari itu, situs-situs dalam kendalinya kebanyakan sama kotornya dengan situsnya.
Kini dia menyerahkan kekangnya ke mereka. Meski terlihat banyak, situs-situs yang dimilikinya sebagian besar tak jauh beda dengan anjing kampung semata. Semoga saja mereka menyukai anjing-anjingnya.
Matahari terus bersinar tanpa terhalang awan tebal. Bumilah yang terus berputar sehingga kini matahari kembali terlihat turun. Langit mulai kekuningan, seperti awal mereka tiba.
Sudah pukul lima sore. Jane tengah menyortir kotak terakhir. Setelah seharian penuh di taman ini, mereka akhirnya selesai mengadakan pengecekan. Entah bagaimana mereka akan membawa setumpuk besar kotak-kotak itu, tetapi itu bukan masalahnya lagi. Birmanto sedikit lega tak ada komplain lagi dari Jane. Dia tahu dia cuma bisa berharap yang terbaik, tetapi tak ada salahnya tenang sedikit.
Dia melihat Jane selesai membaca dokumen di tangannya dan perlahan menaruhnya kembali ke kotak. Jane sendiri menoleh ke arahnya seraya berkata, “Akhirnya itu sudah semua… Meski kurang dari ekspektasiku, jumlahnya tetap sangat mengesankan, Bio.”
“Senang mendengarnya, Bu.” Birmanto membalas hormat.
“Dengan ini pertemuan kita selesai, kan. Kalian boleh pergi.” Katanya.
Birmanto melirik ke arah para personelnya seraya mengangguk. Dia pun perlahan berdiri setelah sekian lama duduk di kotak yang kini telah kosong. “Terima kasih kau mau menerima penawaranku.”
Jane tak menanggapi, dia hanya tersenyum ke arahnya. Birmanto sendiri setelah saling tatap dengannya selama beberapa saat akhirnya mengisyaratkan timnya untuk mengikutinya pergi.
Meski dirinya masih waspada mengamati sekeliling jikalau perempuan tua itu menyiapkan ‘kejutan’ berupa sergapan, dalam hatinya dia merasa lega satu masalah setidaknya sudah selesai. Rencananya selanjutnya setelah meninggalkan taman adalah secepatnya kembali ke Sukabumi. Tugas mereka baru setengah selesai.
Situs-414 sudah bermurah hati menerima tawarannya agar tak menghancurkan Situs-84 meski dengan bayaran situsnya sendiri, sekarang mereka harus memanfaatkan satu-satunya kesempatan yang diberikan sebaik mungkin. Mereka harus mengambil rute Bogor dan mengakhiri blokade tim gabungan Situs-84 dan Situs-118. Setelahnya adalah entah bagaimana menghentikan Harper dari mengendalikan situs.
Entah kenapa tadi saat memikirkan rencananya, Birmanto merasa ada yang janggal di awalan.
Begitu mereka sudah melangkah cukup jauh, tiba-tiba Birmanto mendengar suara di belakang.
“Sesuai perjanjian, dengan ini kami tak akan memusnahkan Situs-84.”
Birmanto menoleh dan mendapati Jane masih duduk di kursi itu seakan urusan mereka belum selesai. Dengan ragu Birmanto membalas, “Ya, itu perjanjiannya. Sudah ku minta rekam dan siarkan ke Situs Notaris selama pertemuan secara tersembunyi, jadi jangan kira kau bisa mengakalinya.”
Jane hanya terkekeh seraya menggeleng. “Tidak, tidak akan. Sejujurnya aku merasa kasihan juga melihatmu sekarang.”
Birmanto menatapnya selama beberapa saat sebelum kembali berbalik, mencoba tetap percaya diri semuanya masih berjalan lancar.
“Tujuan kita sekarang adalah membunuh tiap personel Situs-84 kalau begitu.”
Dan dengan itu langkah dan nafasnya terhenti sejenak mendengarnya.
“Apa maksudmu Jane!?” Birmanto berseru marah. Dia melangkah cepat dan berdiri tepat di depan Jane. Anehnya dia dan personel yang bersamanya tak bereaksi akan itu. “Kau tak dengar apa yang ku katakan??”
Jane masih tersenyum tenang. “Aku mendengarnya. Tetapi apakah kau mendengar apa yang ku katakan?”
Birmanto memang emosi, tetapi dia bisa berpikir cepat. Dia menganalisis kembali perkataan Jane. Dalam sekejap dia menyadari kesalahan fatal yang telah dia buat sejak awal membuat perjanjian. Keringat dingin mulai menetes di dahinya dan dia tak mampu menyembunyikan ekspresi paniknya.
“Awalnya aku kemari dengan asumsi ini adalah pertemuan antara dua situs yang setara.” Jane berkata pelan. “Tetapi lihat kalian. Membawa barang loak ini dengan susah payah dan berharap kami ingin menuruti keinginan kalian…”
Perlahan senyumnya memudar selagi dia terus bicara. “Melihat kalian… tak jauh beda dengan melihat direktur situs korup yang kami biasa eksekusi, memohon dengan hina akan hidupnya diampuni. Tujuan kalian memang mulia, tetapi tak kusangka kalian tak mampu menjamin hasilnya.”
Birmanto diam, dalam hati memang mengiyakan perkataannya. Situsnya spesialis urusan dominasi lewat manipulasi, bukan kekuatan mentah seperti Situs-414. Sedari awal, situs itu bukan lawan yang situsnya bisa hadapi tanpa persiapan.
Tetapi itu kesalahan perempuan ini. Ini kesalahan semua orang yang pernah menghadapinya. Birmanto selalu membuat persiapan matang bahkan di saat terdesak.
Birmanto tak langsung menjawab ejekan Jane. Dia berkata pelan, “Mana Hidayat?”
“Sudah kuambil.” Hidayat ternyata baru saja kembali dari luar taman, sepertinya habis lari juga. Dia membawa sebuah kotak baru. “Tak kusangka kita benar-benar harus memakai rencana B…”
“Maaf, aku tak mengharapkan untuk memakai ini,” Birmanto berkata seraya Hidayat berdiri di sampingnya. “Tetapi jalang ini perlu tahu tempatnya.”
Hidayat terkekeh seraya meletakkan kotak yang dipegangnya di samping Jane dengan kasar. “Haha, setuju. Ini sepadan.”
“Oh, melihatmu masih punya kepercayaan diri sampai berani mengatakan itu, sepertinya isinya akan menarik, bukan?” Jane dengan gestur meremehkan meraih salah satu dokumen teratas di kotak terbuka tersebut.
Dia membacanya dengan pandangan tertarik. Tetapi perlahan, seperti yang Birmanto harapkan, dia mulai serius membacanya. Birmanto awalnya tak mengharapkannya, tetapi Jane ternyata mulai berkeringat juga karenanya. Dia juga menggumam, dan meskipun terlalu pelan, Birmanto bisa menebak apa yang dia katakan.
“Tidak mungkin…”
Setelah selesai membaca, Jane mencoba menenangkan dirinya sebelum berkata, “Bahkan jika entah bagaimana ini asli, kau tak bisa sembarangan menyebarkan ini atau menyerahkannya ke situs administratif kita sekalipun. Ini operasi gelap Yayasan pusat yang hanya bisa ditangani situs seperti kami. Tak peduli bagaimana kau bisa sampai memiliki ini, kau tak bisa menyerahkannya ke O5 tanpa mengambil risiko mengungkapkan kalian mendapatkan detail operasi gelap mereka secara ilegal. Ini bukan proyek pribadi Rufus, jadi kau tak bisa menyerahkannya ke siapa-siapa”
“Tidak, meski salinan, itu didapat dengan legal.” Hidayat berkata seraya merogoh sesuatu di kantongnya. Dia mengeluarkan dompetnya seraya menghembuskan nafas pasrah. Akhirnya dia mengeluarkan sebuah kartu kecil dari plastik yang diserahkannya kepada Jane. “Dan aku bisa memanfaatkannya.”
Jane menatap kartu yang diterimanya selama beberapa saat. Perlahan dia terkekeh, lalu menjadi tawa nyaring. Selagi menyerahkan kartu Hidayat kembali, dia berkata, “Tak kusangka! Bio, kau tak pernah berhenti mengejutkanku! Memang tak salah untuk bermain sedikit denganmu.”
Setelah tawanya mereda, Jane melanjutkan pelan, “Haah… tetapi kau tahu, ini jadi masalah sekarang. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya, kan?”
Birmanto tanpa ragu membalas, “Ya. Aku tak punya pilihan lain lagi. Dengan ini, aku memeras kalian. Jangan sentuh Situs-84 serta personelnya, atau itu akan masuk rapat Komite Etik pusat selanjutnya.”
“Tentu.” Jane membalas enteng. “Tetapi sebagai tanda permusuhan, kalian tak masalah kami musnahkan, kan?”
Semua personel di belakang Birmanto segera menodongkan senjatanya dengan tegang. Birmanto sendiri membalas tenang, “Kita tak harus melakukan ini, kau tahu? Ini semua salinan yang kupunya, jadi terima tawaranku dan semua orang akan keluar dari sini hidup-hidup. Akan kuamnestik diriku sebagai tambahan.”
Jane menggeleng. “Sayang sekali, kalian tetap tak boleh mengetahui rahasia ini sedari awal. Bahkan kau, ‘Hidayat’. Kau sudah baca dokumennya, kan? Jadi kau tahu apa yang kami lakukan untuk mengubur bukti itu.”
Perlahan dia berdiri dari kursi taman setelah sekian lama. Dan seketika, puluhan cahaya laser tertuju ke arah tiap personel Situs-79 yang ada, menutupi badan mereka bak cacar. Dari sekeliling luar taman, tak ada pejalan kaki biasa, tak ada pengendara biasa, tak ada pedagang biasa, semuanya menenteng senapan dan mengarahkannya ke arah tiap personel Situs-79.
Para agen yang mengawal Birmanto memang reflek terkejut mendapatinya, tetapi Birmanto sudah terlebih dahulu memberitahukan kemungkinan kondisi terburuk nantinya. Meski sempat gugup, mereka tetap menodongkan senapan hanya ke arah Jane dan timnya.
“Jadi ini Situs-414…” Hansel menggumam.
“Ya,” Birmanto membalas singkat. “Situs berjalan, situs bayangan, Situs-414.”
Seisi bagian kota ini tengah dihidupkan oleh personel Situs-414 semata.
“Kau tahu, Pak… aku lebih terkesan akan situsnya Tuan Zulkifli.” Herria mencoba menenangkan dirinya agar tak bergetar.
“Seperti yang kalian semua lihat, kita adalah neraka berjalan yang selalu diseret O5 untuk melangkah ke mana medan perang manapun yang dikobarkan.” Jane berkata.
“Neraka kami adalah pemandangan konstan rentetan peluru dan genangan darah tak peduli apakah di gunung, di hutan atau di perkotaan, tak akan pernah tahu kapan itu akan jadi pemandangan terakhir kami.” Jelasnya. Anehnya dengan nada bangga.
Dia mengulurkan tangannya ke arah Birmanto. “Tunjukkan padaku! Tunjukkan padaku apa yang akan kau lakukan untuk menghadapi kami semua dengan jumlah personel kalian sekarang!”
Birmanto diam. Dia tak melakukan apa pun. Timnya juga, Birmanto Sudah terlebih dahulu memberi mereka semua arahan. Mereka cuma perlu memancing Jane menunjukkan eksistensi asli Situs-414. Sekarang mereka hanya bisa menunggu. Dan berdoa.
Jane sebenarnya penasaran kenapa meski tengah menodong dirinya, para agen di belakang Birmanto tak melakukan apa-apa. Birmanto sendiri hanya menatapnya dengan gugup. Seakan ada yang ditunggu mereka. Pikiran Jane kini mulai dipenuhi konsiderasi akan apa tepatnya itu. Selain Situs-79, ancaman paling besar pulau ini hanyalah situs terafiliasi Triad. Tetapi karena serangan Situs-84, seharusnya mereka akan enggan membantu Situs-79.
Sebelum Jane sempat selesai untuk berpikir, tiba-tiba arah bidikan laser pada tiap agen mulai berantakan. Jane menoleh ke sekelilingnya, jelas sesuatu tengah terjadi di luar taman.
“Bu, kita kedatangan personel dari situs lain!” Connie berkata segera seraya mengamati sekelilingnya.
“Tumben baru sadar.” Jane berkomentar. Dia tidaklah terlalu memikirkan itu karena sepertinya lawan baru mereka baru saja tiba dan menyerang seketika. Pertanyaannya adalah situs mana yang Birmanto korbankan untuk menyerang mereka tanpa tahu kemampuan asli tiap personelnya. Seharusnya dia akan tahu sebentar lagi, mengasumsikan personel Situs-414 tak akan kesulitan sedikitpun mengatasinya.
Tiba-tiba Connie menoleh ke samping, ke arah masuk taman. Jane mengikuti arah pandangannya karena dia juga menyadari ada yang tengah berlari masuk.
“Maaf harus melibatkan kalian pada akhirnya.” Birmanto berkata seraya ikut menoleh.
Mendatangi mereka semua, seorang perempuan berseragam agen lapangan Yayasan berlari masuk. Kemeja gelapnya sedikit lebih panjang dari biasa, bak jas. Rambutnya pendek, dan dia mengenakan kacamata model olahraga berkaca hitam. Tangannya menenteng senapan runduk terikat kain putih. Mengiringi di belakangnya beberapa personel berseragam taktis dengan senjata mereka juga terbalut kain putih serupa.
Begitu cukup dekat, dengan hormat perempuan tersebut membungkuk dan membentangkan salah satu tangannya. “Ah, tidak, tidak! Saya sangat senang akhirnya bisa secara langsung membantu anda, Tuan Birmanto! Sekalian sebagai tanda terimakasih menyelamatkan kakak saya!” Dia berkata dengan semangat begitu selesai memberi hormat.
“Deteksi selesai, dia Agen Senior Nayla Braja.” Connie segera berkata. “Dan situs yang menyerang kita-“
“Ketua Agen Lapangan Situs-231, ‘Psalm’.” Jane memotong. “Pilihan cerdas, Bio…”
Birmanto terkekeh. “Aku tahu untuk pertemuan kecil ini kau cuma akan membawa personel biasa. Itu pun masalahnya masing-masing sama kuatnya dengan kepala agen ini.” Katanya seraya memegang pundak Hansel.
“Satu-satunya cara membuat personel biasa kalian bisa secepat dan sekuat itu dalam jumlah masif adalah dengan augmentasi darah paranormal, meski dalam dosis kecil. Dan situs spesialis paranormal dan purifikasi merupakan lawan yang sepadan, bukan?”
Jane mengamati baik-baik sekelilingnya. Meski yang dikatakan Birmanto benar adanya, tak mungkin bantuan yang hadir cuma tim elit semata. Birmanto tak mungkin tidak mengatakan kalau lawan mereka satu situs berjalan.
Saat itulah dia mengamati sekelilingnya baik-baik. Personel mereka menguasai jalanan, tetapi begitu dia melihat ke atap deretan ruko dan bangunan di sekeliling taman, dia bisa melihat puluahan personel berbeda, satu persatu meluncur turun menggunakan tali yang diikat di sepanjang permukaan tiap bangunan. Cahaya sore hanya membuat mereka terlihat seperti siluet semata, tetapi pantulan cahaya dari senapan dan kacamata mereka terlihat jelas karenanya.
Sepertinya Birmanto memang menyiapkan sebuah situs untuk melawan situs lainnya. Sepengetahuannya, Situs-231 adalah situs aktif dalam urusan eksorsisme dan pemusnahan kultus dan memang memprioritaskan jumlah agen lapangan lebih besar dari penjaga situs. Lagipula, seperti yang Birmanto katakan, persenjataan mereka ampuh melawan augmentasi personelnya.
Cuma satu hal yang membuat Jane tak mempertimbangkan kehadiran mereka.
“Bagaimana kalian bisa di Jakarta secepat ini?” Jane bertanya.
“Tentu saja karena kebrilianan Tuan Birmanto!” Nayla menjawab dengan semangat. Tetapi dia perlahan menoleh ke Birmanto sendiri dan berkata, “Uhh… Pak? Jelaskan kebrilianan Bapak kepada mereka! Bagaimana tiap rencana anda, mulai dari perizinan sampai keberangkatan cepat Sumatera-Jakarta berjalan mulus bak Tuhan sendiri memberkati kita!”
“Haah… tenanglah Nayla. Sebenarnya tidak benar-benar sesusah itu.” Birmanto menggeleng meski sebenarnya dia senang mendengarnya. “Tetapi memang, semua secara detail kusiapkan sejak awal tawaran kubuat kemarin.”
Kemarin malam
Dua orang pria tengah berjalan menyusuri hutan lebat. Salah satunya memegang obor, menyinari mereka dan rombongan yang mereka bawa. Di belakang mereka berdua merupakan puluhan orang berbaju lusuh seadanya. Beberapa bahkan tak pakai baju dan hanya bermodalkan celana pendek dan sarung semata. Kepala mereka semua tertutup karung goni dan tangan dan kaki mereka terikat satu sama lain menjadi satu barisan panjang oleh tali tambang yang dituntun oleh dua orang pria di depan.
Salah satu di antara mereka berdua – yang lebih pendek – merupakan yang memegang obor. Meski obor itu mampu menerangi kemeja putihnya yang tertutup jubah hitam dengan jelas, ia juga menekankan kontras perbedaan warna yang signifikan dengan kulit badannya yang gelap. Dapat terlihat setidaknya wajah serta rambutnya yang pendek dan keriting.
Rekannya yang mendampinginya lebih tinggi darinya. Mungkin itu karena selain mengenakan pakaian panjang serba hitam, dia entah kenapa mengenakan topi tinggi Gat juga. Obor tak dapat menerangi wajahnya, karena ia tertutup topeng putih polos yang hanya menunjukkan dua lubang hitam di area matanya.
Mereka berdua terus melangkah lurus menyusuri jalan setapak samar di tengah-tengah hutan lebat. Akhirnya setelah cukup lama berjalan, mereka melihat cahaya di kejauhan. Deretan cahaya artifisial.
Pada ujung jalan setapak yang mereka pijak adalah sebuah jalanan beraspal nan sepi. Tetapi tiap lampu jalanan sederhana yang terpasang mampu menerangi dengan jelas setidaknya tiga bus hitam panjang yang tengah menyala, siap untuk berangkat.
Di depan bus terdepan, tengah menunggu seorang perempuan yang mengenakan seragam agen lapangan Yayasan meski agak panjang di bawahnya bak jas. Rambutnya yang hitam dikepang panjang dan disandarkannya di bahunya. Matanya tertutup kacamata bingkai kotak tebal yang terkena refleksi cahaya obor.
“Lebih awal dari jadwal. Bagus.” Perempuan itu berkata dengan senyum. Baru terlihat bahwa dia kehilangan beberapa gigi depan.
“Tuan Birmanto selalu mengajarkan kami untuk lebih awal.” Pria yang lebih tinggi membalas.
Dia menyodorkan tali tambang yang sedari tadi dipegangnya. “Seperti yang kami janjikan, seratus tahanan pelaku pemerkosaan untuk stok Kelas-D kalian.”
Perempuan itu tersenyum seraya melangkah pelan ke depan. Dia melalui kedua pria di depannya tanpa memedulikan mereka dan terus berjalan ke hadapan tahanan terdepan.
Perempuan itu memegang lembut tangan tahanan di depannya yang terikat, memastikan dia merasakan tiap belaian perempuan itu. Dengan nada lembut dan menggoda dia berkata, “Pak tua, anda tak perlu terlalu gelisah. Aku akan menjamin mulai sekarang kalian akan menerima… kenikmatan yang selama ini kalian familiar berikan~”
Dia meraih lembut ke dalam karung goni yang menutupi wajah tahanan itu. “Kau ingin merasakannya? Aku tahu kau dilakban, jadi mengangguk sekuat yang kau bisa~”
Tahanannya mengangguk cepat. Kedua pria di depan tadi hanya menggeleng sementara perempuan di depannya yang terkekeh. Salah satu tangannya segera meraih sesuatu di kantongnya sementara tangan yang lain perlahan membuka lakban di mulut tahanan.
“Sebelum kita bersenang-senang, kau bisa kunyah ini dulu selagi di perjalanan.” Dia menggoda. Tangannya mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi puluhan pil putih. Dia membukanya dan mengambil sekumpulan pil sebelum menyodorkannya masuk ke mulut tahanan. “Gak apa, dimakan saja ini dulu, sayang~” dia berkata seraya praktisnya memaksanya menelan semuanya.
Setelah selesai, dia tertawa lembut seraya menyeret tali tambang para tahanan. Beberapa agen lain – kali ini berseragam taktis lengkap – mulai keluar dan ikut membantu membagi tiap tahanan ke bis yang ada dengan kasar.
“Kalian tak harus melakukan ini sebenarnya. Jadi ku rasa aku bisa berterima kasih untuk ini.” Perempuan itu berkata, kini dengan nada normal.
Pria bertopeng putih tadi segera menggeleng cepat seraya berkata, “Ah, tak apa Bu Suki. Birmanto benar-benar perlu seluruh agen lapangan Situs-231, jadi kami sangat bergantung pada izin anda sebagai wakil direktur Situs-66. Sudah seharusnya kami yang berterimakasih.”
“Yah, kalau begitu kami pergi dulu. Sampaikan salamku ke Bio, ya.” Perempuan itu berkata seraya tersenyum. Kali ini pria itu tahu senyumnya tulus.
Mereka berdua melambai selagi deretan bus hitam di depan mereka satu-persatu bergerak maju, menerobos gelapnya malam. Setelah cukup jauh, baru mereka berdua menurunkan lengan mereka. Yang lebih pendek mengembuskan nafas lega. “Untung lancar tanpa kendala ya, Pak Indra.”
Indra ikut mengembuskan nafas lega di balik topeng putihnya. Selagi dia meraih ponselnya, dia membalas, “Untungnya Situs-66.6 banyak minta nitip anomali ke kita. Yah, meski situs kita yang makin bahaya karenanya.”
“Tapi yang benar saja? Seratus? Kita maraton transaksi ke puluhan lapas berbeda pun masih kurang dua puluh orang. Untung dia gak sadar sisanya tahanan biasa yang dirasuki arwah.” Rekannya masih komplain
“Mau gimana lagi, Usrir. Kau tak boleh meremehkan sikap santainya. Tak peduli ekspresinya, perempuan itu selalu penuh kebencian akan manusia. Tak ada cara lain mendapatkan izin operasi kita tanpa memuaskannya dulu.” Indra menanggapi. Dia menekan beberapa tombol di ponselnya dan mulai mendekatkannya ke telinga untuk menelpon. “Berdoa saja operasi Birmanto selesai sebelum mereka menyadarinya.”
Usrir sendiri diam memikirkan perkataan Indra. Setelah beberapa saat, dia melanjutkan berkata, “Sepanjang karir kita keliling Indonesia meneliti setan, terkadang mereka adalah manusia itu sendiri, yah… Untuk segampang itu menginginkan seratus mainan untuk disiksa sepuasnya…”
Indra mengamati rekannya selama beberapa saat. Akhirnya dia membalas, “Siapa kita sekarang diciptakan bukan hanya oleh kita sendiri, tetapi orang-orang dan lingkungan di sekeliling kita. Wakil Direktur Suki tercipta dari aspek terburuk manusia. Bukan dari para pendosa, tetapi orang-orang yang merasa lebih suci darinya. Dia tak punya siapa-siapa untuk berpegang di saat terendahnya dan karenanya dia tenggelam pada gelapnya hatinya. Amalgamasi seluruh kejahatan mereka menjadikannya manifestasi kebencian itu sendiri.”
Indra menoleh ke arah tujuan rombongan bus hitam tadi bergerak. Dia tahu mereka semua sudah mati di saat mereka memasuki keranda besi itu, jadi dia hanya bisa menatap dengan iba. “Di situs itu tak ada lagi manusia. Hanya ada setan yang memakai kulitnya. Untungnya kau tak memiliki penglihatanku. Aku bisa melihat jelas di langit, ratusan arwah Kelas-D mereka masih menggeliat tersiksa, sengaja dibuat tergantung di antara akhirat dan dunia.”
Usrir menelan ludah, tahu akan kemampuan spiritual rekannya. “Benar-benar neraka…”
“Di Situs-79, para pendosa memang saling bunuh, tetapi setidaknya mereka hidup dan mati karena keinginan mereka sendiri. Situs-66.6 adalah neraka sesungguhnya bagi manusia manapun, surga bagi makhluk lainnya.” Indra mengakhiri seraya mengalihkan pandangannya membelakanginya.
Mereka diam dalam keadaan canggung, dengan Ursrir menatap ke arah Situs-66 di kejauhan sana. Menatap rekannya, dia merasa perlu mengubah suasana. “Jadi, ke mana Birmanto mengirim kita setelah ini?” Usrir mencoba mengalihkan topik.
“Ah, sebenarnya untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia meminta kita ikut tim Situs-231 ke Sukabumi.” Indra berkata, perlahan terdengar bersemangat. “Kita akan pulang.”
“Eh, serius, Pak?!” Usrir kini ikut senang. “Selamat, Pak! Anda akhirnya bisa bertemu tunangan anda lagi!”
Indra hanya menghela nafas. “Ah, itu… aku tak yakin. Tetapi setidaknya aku bisa melihatnya kembali meski dari kejauhan.”
“Begitu ya…” Usrir membalas. Dia sebenarnya tak tahu pasti apa yang menghalangi rekannya dari menemui langsung perempuan yang sepanjang perjalanan panjang mereka selalu dicintainya sepenuh hati.
“Persetan dengan Jahanam dan Triad, aku akhirnya pulang!” Indra akhirnya tak bisa membendung nada senangnya dan berseru seraya mulai berlari menyusuri jalan beraspal.
“Eh, Pak! Kita tunggu mobil lewat aja dulu, Pak!” Usrir segera mengejarnya di belakang.
Tetapi Indra tak sabar lagi. Dia bahkan reflek melompat seraya mengangkat satu tangannya yang dikepal, mengesampingkan seragam jubahnya yang seharusnya terlihat berwibawa. “Akhirnya aku pulang, Heliza!”
Sekarang
“Dan dengan memanfaatkan insiden Sicario, aku bisa meminta Direktur Nima mengosongkan dua penerbangan komersil segera untuk personel Situs-231.” Birmanto mengakhiri penjelasannya.
Jane menangguk terkesan mendengar penjelasan Birmanto akan seluruh transaksi Kelas-D yang mereka lakukan. Sejujurnya dia sendiri tak pernah suka Situs-66 meski mereka sama-sama toleran kepada anomali. Dibandingkan situsnya yang mempekerjakan anomali bersama mereka, Situs-66 hidup dan berpesta bersama anomalinya.
“Oh ya, Peneliti Senior Indra dan asistennya tak bersama kalian?” Birmanto bertanya ke Nayla. Nayla sendiri menggeleng seraya membalas, “Tidak, mereka langsung ke situs.”
Birmanto mengangguk, “Tak masalah sih karena Heliza bersama kita.”
“Oh ya, boleh aku menjenguk kakak?” Nayla balik bertanya.
Birmanto kini menggeleng, “Kita… selesaikan urusan kita dulu di sini.”
Perhatian mereka semua kini beralih ke arah Jane yang masih terlihat tenang. “Tetapi aku terkesan pada kalian juga.” Dia berkata, “Kalian berhasil memasuki kota tanpa ketahuan. Apa sesuatu terjadi sehingga kemampuan menyusup kalian meningkat drastis sekarang?”
“Bukan, itu bantuan mereka.” Birmanto berkata seraya menunjuk ke arah samping Jane.
Jane sendiri sepertinya baru menyadari ada langkah kaki lain mendekat. Dia segera menoleh ke arah tunjukkan Birmanto dan mendapati dari arah berlawanan dari pintu masuk taman, muncul sekumpulan personel baru. Mereka berseragam taktis lengkap, dengan satu-satunya perbedaan adalah seragam dan perlengkapan mereka memiliki label ‘Polisi’ di beberapa titik.
“Bu, kita kedatangan personel Situs-188 juga!” Connie kembali berseru.
“Tch, seharusnya kau perhatikan sekeliling, Connie.” Jane reflek berkata, kini mulai menyadari lambatnya deteksi anak buahnya.
Situs-188 mengontrol keamanan kota sebagai situs spesialis agen samaran. Sepertinya beberapa berhasil menyusup di antara personelnya sendiri, sehingga Situs-231 bisa memasuki area sekeliling taman tanpa terdeteksi.
“Sore, Saudara Birmanto.” Personel terdepan melangkah seraya memberi hormat santai. Dia merupakan pria besar yang menenteng senapan serbu standar Yayasan dengan bayonet yang terpasang di bahunya dan perisai antipeluru kepolisian di tangan satunya. Keduanya berlumuran darah sampai mengaburkan label yang tertulis di perisainya. Meski begitu, dia tak peduli untuk membersihkannya dan malah mulai merokok juga.
“Maaf melibatkan kalian juga.” Birmanto kembali berkata.
“Yah, seharusnya kami pergi setelah para pendeta itu berhasil masuk, tetapi personel-personel kalian terlihat sangat empuk untuk ditembak.” Personel itu berkata dengan nada puas.
“…Sekarang bagaimana caranya kalian bisa mendapat bantuan dari Situs-188.” Jane bertanya kembali, mengabaikannya.
Birmanto menunjuk ke tumpukan kotak dokumen yang menggunung seraya menjawab, “Sebenarnya ada satu kotak yang tak jadi ikut kutumpuk di sana. Sebelum kami diserang Sicario, kami diserang terlebih dahulu oleh kumpulan personel tanpa afiliasi. Salah satunya adalah tim penyerang lokal bernama ‘Kompeni Bajingan’. Nah, kotak yang kuambil duluan itu adalah data mengenai identitas asli situs pemilik Kompeni itu. Kujual saja datanya ke Situs-188, sekalian data situs mereka sendiri sebagai bayaran ekstra.”
“Heh, seumur hidup kami mengejar bajingan-bajingan itu, tak ku sangka Birmanto selama ini memilikinya. Seharusnya kami tak heran sih.” Personel itu berkata. “Tetap saja, Birmanto membayar terlalu banyak, kami akan merasa bersalah jika tidak ikut baku tembak.”
“Kalian berani mengizinkan kami masuk dan mengkhianati kami dari belakang seperti ini?” Jane bertanya kepadanya, masih tersenyum tetapi jelas nadanya tidak.
Ternyata hanya pertanyaan retorika karena Jane kembali menoleh ke arah Birmanto dan melanjutkan. “Harus kuakui, kau kembali membuatku terkesan, Bio. Jika saja kau lakukan ini tadi, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk melepaskan Situs-84. Tetapi kau tetap membuat kesalahan fatal mencoba memeras kami. Dua situs ekstra mungkin akan membantu melawan personel kami di luar, tetapi kami lebih dari cukup untuk memusnahkan kalian semua.”
Birmanto hanya tersenyum gugup, “Kau yakin tak ingin mempertimbangkannya? Kita benar-benar akan saling bunuh di sini.”
Jane menggeleng pelan. Dia masih tersenyum, tetapi tatapannya jelas sangat-sangat marah. Nayla perlahan melepaskan kacamata hitamnya, menunjukkan tatapan tajam mirip seperti punya kakaknya selagi dirinya dan agen-agen di belakangnya membidik dan siap menembak. Para personel Situs-188 juga mulai membuat formasi bertahan seraya tetap membidik mereka. Birmanto sendiri menelan ludah, hanya dia yang tahu kalau rencananya sudah habis. Dan kini tak ada pilihan lain selain personelnya ikut habis juga.
Di saat keheningan menegangkan itulah, dia mendengar suara pelan. Suara familiar yang dia dengar malam sebelumnya. Suara yang tak percaya akan dia dengar kembali. Beberapa personelnya dan bahkan Jane sendiri menyadari ada satu kelompok baru lagi yang datang.
Ditandai dengan gonggongan puluhan anjing dari kejauhan.
Menerobos pagar taman merupakan seekor kuda hitam besar yang ditunggangi seorang pria tegap. Jas cokelat kusamnya terayun kasar saat kudanya meloncati pagar tinggi taman itu. Dengan cepat ia berlari menuntun tuannya ke depan perkumpulan personel di taman itu.
“Zulkifli…”
“Senang melihat anda lagi, Tuan Birmanto.” Pria di atas kuda itu berkata. Nadanya berat, tetapi penuh hormat.
“Lagi?” Jane menanggapi. “Heh, jadi dia rencana terakhir kalian?”
Birmanto inggin menjawab iya, tetapi dia lalu teringat alasan sebenarnya Zulkifli ada di Sukabumi sebelumnya. Jadi dia menggeleng dan berkata, “Apa… apa yang Situs-283 lakukan di sini?”
“Keputusan Triad mengenai nasib Situs-84 sudah diambil siang tadi.” Dia menjawab dengan singkat.
Birmanto menelan ludah sebelum memberanikan diri bertanya, “Dan hasil keputusannya?”
Mereka berdua saling tatap. Sulit bagi Birmanto menebak ekspresi Zulkifli yang selalu terlihat muram. Dia cuma bisa berharap hasilnya sesuai dengan prediksinya.
Pagi kemarin
“…Jika saya boleh memberikan pendapat akhir saya, ini tidak perlu dilakukan.”
Sepuluh orang berseragam resmi duduk mengelilingi meja panjang yang melingkar membentuk persegi panjang memenuhi ruang besar yang tengah mereka tempati. Dinding mereka putih pucat, tak jauh beda dari dinding situs biasa, tetapi pencahayaan ruangan sengaja diredupkan dan hanya diisi oleh cahaya lampion merah yang digantung mengelilingi pinggiran ruangan.
Di satu sisi meja, hanya diisi oleh sebuah kursi semata. Seorang perempuan paruh baya yang mengenakan jas resmi serupa. Rambut hitam panjangnya diikat oleh setidaknya enam tusuk rambut panjang keemasan, lengkap dengan tali hiasan di tiap ujungnya. Di tengahnya terpasang mahkota keeamasan kecil. Seragamnya selain memiliki hiasan naga keemasan di sisinya, terdapat logo keemasan Yayasan di saku kirinya.
Di belakang perempuan itu terpampang sebuah lukisan besar, sebuah gambaran mengerikan akan representasi neraka, atau tepatnya Naraka agama Buddha. Sebenarnya merupakan sebuah salinan dari lukisan asli di sekesel yang mereka punya di ruang utama situs, tetapi tetap mengirimkan pesan yang sama.
Terpampang jelas di atas lukisan itu sebuah tulisan lain,
Site-67
“Asisten Direktur untuk Finansial Lipa Nadia Kadwita, apakah penghitunganmu sudah benar?” Dia berkata pelan.
Berbanding terbalik dengan dirinya, orang yang dirujuknya tadi merupakan perempuan yang meski sama-sama memakai kacamata, memiliki rambut hitam panjang yang berantakan. Seragamnya pun hanya jas lab khas peneliti biasa. Perempuan itu membungkuk hormat sebelum berkata, “Catatan saya sudah dihitung tiga kali. Situs-84 sudah mengobarkan perang dengan situs kakaknya, jadi mereka yang akan menanganinya. Kita bisa mengirim Situs Asisten, tetapi intervensi dengan Situs-79 akan berdampak buruk pada relasi kita. Mereka memegang sedikit kendali akan beberapa penghasil uang kita di sana. Jika saya boleh memberi pendapat akhir saya, risikonya tidak sepadan sama sekali.”
Para personel yang hadir sebagian besar mengangguk setuju. Mengirim personel mereka untuk sesuatu seremeh itu satu hal, tetapi ikut mengintervensi urusan situs lain adalah hal lainnya yang lebih berisiko.
Tetapi tak peduli jikalau pun semua asisten direktur dan akuntan penting di ruangan setuju, perempuan di depan mereka semua tetap memilih pilihan berbeda.
“Meski pendapat kalian semua, saya tetap berpegang teguh untuk menghabisi Situs-84. Ini bukan urusan biaya atau relasi, ini urusan kehormatan kita yang berani disentuh oleh situs kecil sepertinya. Kita harus membalas dan balasannya harus dua kali lipat. Rumuskan kembali biaya yang akan kita habiskan dengan memfaktorkan retaliasi Situs-79.”
Dan ruang pertemuan kembali dipenuhi sanggahan, masing-masing memiliki protes yang sama. Meski begitu, perempuan yang memimpin tetap menatap mereka semua dengan dingin. Pertemuan tetap berjalan, dan keputusan tetap akan dibuat.
Setelah berjam-jam ruang pertemuan tersebut tertutup, akhirnya ia terbuka dan para personel di dalamnya melangkah keluar menenteng koper masing-masing. Mereka semua tak lagi memancarkan aura berwibawa seiring seragam mewah mereka, tetapi hanyalah ekspresi kelelahan seperti pekerja kantor yang dipaksa lembur pada umumnya.
Terdapat juga para personel lain di luar memakai seragam personel kebersihan, menunggu dengan sabar tiap personel keluar. Mereka siap untuk merapikan ruangan setelah selesai digunakan. Setelah pria terakhir melangkah keluar, seorang personel kebersihan segera melangkah masuk.
“Ah,”
Personel tersebut hampir saja menabrak seorang perempuan berkacamata dengan rambut berantakan yang ternyata masih tertinggal di dalam dan baru mau keluar. Perempuan itu terkejut hampir menabraknya, tetapi perlahan dia terlihat kesal.
“Beraninya personel rendahan sepertimu tak menungguku keluar terlebih dahulu.” Dia berseru marah. Personel kebersihan itu sepertinya tak fokus mendengarkan karena dia tengah menatap takut akan apa yang dia lihat.
Setengah badan perempuan itu merupakan bagian bawah dari seekor lipan dengan kaki kuning berukuran besar dan panjang. Ia diiringi ratusan lipan yang lebih kecil yang bergerak di badan dan lantai di sekitarnya seraya mengikutinya.
Dia tak sempat bereaksi karena secepat kilat lipan itu melilit badannya. Tak lama kemudian, lipan-lipan yang lebih kecil segera menyerbunya. Teriakannya hanya berhenti saat mereka memenuhi seluruh wajah dan badannya. Para personel kebersihan lain hanya memilih menundukkan kepala mereka dengan ekpsresi takut.
Mereka tak berani berkata apa-apa. Bahkan jika perempuan di depan mereka bukan monster mengerikan, personel tadi memang pantas dibunuh karena lancang masuk terburu-buru ke dalam. Mau bagaimana lagi, mereka sudah berjam-jam berdiri di sini dan hanya bisa bersandar di dinding meski tetap harus berdiri. Mereka tak berhak mengotori lantai dengan duduk di atasnya.
Perempuan itu terlihat tak peduli dan perlahan mulai berjalan dengan puluhan kakinya seraya menyeret korbannya tadi. “Direktur masih di dalam ruangan. Ku sarankan kalian tunggu di luar. Tak masalah kan, lanjut berdiri beberapa saat lagi asal kalian tetap hidup karenanya.” Katanya, ternyata masih peduli dengan mereka.
Setelah cukup jauh, perempuan itu merogoh ponselnya di jas labnya. Dia menekan beberapa tombol dan segera membuat panggilan. Tak berselang lama, lawan bicaranya mengangkat telepon.
“Maaf, Bio. Aku sudah berhasil meyakinkan hampir semua personel lain, tetapi direktur tetap bersikeras untuk memberi balasan. Dia meminta kami memperhitungkan keterlibatan kalian sekarang.” Perempuan itu berkata. “Ku sarankan kau berdoa sekarang untuk dua direktur situs lainnya. Berdoa keajaiban terjadi dan Sang Meneer entah kenapa memilih menolak. Jika votingnya 2-1, kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, bukan.”
Pria di telepon tak terdengar senang mendengarnya. “Tch, gagal ya, Ya sudah. Kau sudah berusaha.”
“Jangan lupa janjimu. Aku sangat perlu makan mewah itu setelah stresnya rapat tadi.” Tagih perempuan itu.
“Masih kami usahakan. Tetapi dengan pertemuannya gagal, ku rasa aku bisa menawar, kan?” Balas pria di telepon.
Perempuan itu hanya terkekeh, “Yah, aku kasian juga sih ngeliat kalian. Ya sudah, umur anaknya bebas saja gak harus pas sembilan, tapi aku minta mayat dua perempuan hamil kalau gitu.”
“Ini alasan kenapa aku lebih suka adikmu, Kadwita… Dia tak pernah minta macam-macam, apalagi sesadis ini.” Pria di telepon komplain kepadanya.
“Ya beda situs, beda tekanan. Kau tahu itu, kan?” Perempuan itu menyanggah dengan nada tak senang. “Meski emak pengen kami berlima hidup berdampingan dengan kalian, tetapi pada dasarnya kami tetap keturunan lipan pemakan daging manusia. Masih bagus mayat lebih enak.”
“Udah, udah. Kau terdengar seperti kakakmu sekarang. Ya sudah kami usahakan.” Pria di telepon mengiyakan meski dengan nada tak senang. “Aku cuma ingin kalian… lebih ramah. Adikmu merupakan anak baik, kau tahu. Itu membuatku berharap kalian juga memiliki potensi yang sama.”
Perempuan itu diam sejenak memikirkannya. Tanpa sadar dia melepaskan lilitannya di belakang, mengesampingkan mayat personel yang dimangsanya tadi, kini tengah tercabik hebat dan kehilangan seluruh kulitnya. Dia tak menoleh, tetapi dia terus berjalan meninggalkannya diiringi lipan kecil lainnya. “Yah… masih ku usahakan. Mungkin suatu hari nanti setelah perempuan itu mati dan direktur selanjutnya lebih ramah juga. Ah, tetapi aku tetap perlu kiriman mayat itu! Aku mungkin lembur lagi ngurus lima komputer sekaligus dan makanan di sini kurus semua. Tapi mengenai pesananku tadi, ganti jadi dua Kelas-D gemuk saja tak apa.”
“Heh, tenang saja, akan kami kirimkan, kok.” Pria di telepon meyakinkan.
Perempuan itu akhirnya tersenyum. “Sampaikan salamku ke Kartika, ya.”
“Ya.” Balas pria di telepon itu sebelum mengakhiri panggilan. Perempuan itu menatap ponselnya selama beberapa saat sebelum mengantonginya dan segera berjalan kembali.
“…Dan semoga beruntung, Bio…”
Malam kemarin
“Apa yang Sang Nuwang pikirkan…”
Hari sudah larut malam, dan langit dipenuhi taburan bintang. Tiada satu pun ternoda cahaya buatan manusia jika dilihat di tengah hutan belantara. Di tengah hutan tengah berkumpul beberapa orang, hanya bermodalkan puluhan lilin kecil yang terpasang di pepohonan sebagai penerangan.
Orang-orang yang berkumpul mengenakan seragam agen lapangan Yayasan, tetapi mereka lapisi dengan rompi kain merah berukir. Beberapa agen tengah duduk di tanah komat-kamit menggumamkan sesuatu sementara yang lainnya berdiri mengawasi dan berjaga.
Seorang pria berambut pirang rapi tidaklah mengenakan perlengkapan taktis selain rompi tadi seperti yang lain. Dia berdiri mengawasi mereka didampingi seorang personel lain, juga tak mengenakan seragam serupa bahkan tidak dengan rompinya juga. Dia mengenakan jas hitam dengan sedikit hiasan emas di ujungnya semata.
“Jadi apa keputusan anda sebagai Direktur Situs-274, Pak?”
“Tch… kami sibuk beberapa hari kedepan masalahnya…” Pria itu terlihat frustasi. “Saya terpaksa harus menolaknya.”
“Tunggu, serius, pak?!” Lawan bicaranya yang memegang perekam bertanya keheranan seakan tak menduga itu.
“Meskipun aku tak masalah menguji coba beberapa ritual kami ke subjek baru di sana. Kalian meminta ini di saat yang tidak tepat. Kami tengah dalam operasi penyempurnaan taktik perang gerilya kami dengan mengintegrasikan ritual kami yang sudah disempurnakan berkat intel terbaru kami baru-baru ini.”
Seakan menegaskan itu, dia berteriak ke bawahannya, “Bagaimana statusnya?”
Dari kejauhan terdengar balasan. “Tebasan kepala bersih. 100% pendatang dan 0% lokal!”
“Masih gagal… Kebencian Damang halau sangat mengesankan sampai bidikan taumaturgi mereka seakurat ini sampai sekarang…” Pria tersebut menggumam dengan nada terkesan. Dia mengalihkan perhatiannya ke lawan bicaranya tadi dan melanjutkan, “Kami baru saja mendapat terobosan seadanya bermodalkan eksperimentasi taumaturgi khusus suku lokal terbaru dan masih dalam proses mengutak-atiknya dengan ritual pendatang yang lama untuk kombinasi mutlak. Ini pun sepertinya masih perlu pengawasan mendalam kembali secara diam-diam, jadi pasti akan memakan waktu berbulan-bulan.”
Dia mendekati lawan bicarannya dan berkata, “Jika keputusannya bulat pun, kami cuma bisa mengirim satu tim taumaturgi elit semata, serta Mandau modifikasi kami sebagai ekstra. Semoga kalian beruntung dengan Sang Sultan. Agak berat membujuknya.” Sebelum dia berbalik.
“Oke, lanjut serangan terakhir sebelum ritual penutup! Jumlah Kelas-D-nya masih sama dengan rasio ganti jadi 0.5:4.5:5 untuk pendatang, campuran, dan lokal. Dan kita belum coba target luar negeri juga…”
Pagi tadi
“Jadi kami tiebreaker-nya ya…”
Cahaya matahari perlahan tapi pasti mulai menerangi kehidupan tenang kota kecil nan masih asri dikelilingi hutannya. Air sungai mengalir lembut menyusuri tiap jenjang kota, mungkin memang seribu jumlahnya. Kehidupan baru dimulai dan para warganya saling naik motor tua menyusuri jalanan ke tempat kerja mereka masing-masing. Suara mesin perahu pedagang dan nelayan mengiringi mereka di samping tiap jalanan.
Cahaya matahari itu menerangi masuk sampai ke dalam sebuah gedung amphitheater dalam ruangan terbesar kota itu. Di dalamnya seharusnya sunyi tanpa kehidupan, hanya digunakan jika ada festival atau acara besar seperti pernikahan.
Tetapi saat ini lampu panggung besar ruangan itu menyala, menerangi seorang pria berkacamata yang mengenakan jas hitam rapi tak terkancing yang melapisi kemeja putihnya. Logo Yayasan terpampang di jas bersihnya. Di bawahnya, terikat kain kuning berukir mengitari pinggangnya.
Dia menabuh pelan rebana yang dipegangnya di bawah cahaya lampu sorot panggung seraya tersenyum menghadapi mikrofon yang terpasang di depannya. Permainannya kecilnya bukan tanpa penonton, ada dua orang yang setidaknya tengah menyaksikan pertunjukkannya.
Salah satu yang merupakan pria yang lebih tua dan gemuk, selain mengenakan kain kuning serupa juga mengenakan hiasan kepala kuning berukir tambahan yang menutupi rambutnya. Dia menikmati pertunjukkan dan ketiadaan penonton lain selain dirinya dan lawan bicaranya di ruangan itu. Lawan bicaranya sendiri meski mengenakan jas hitam serupa, dia tak memakai aksesoris yang sama dan malah memiliki hiasan keemasan di ujung jasnya.
Pria yang lebih tua tadi meraih tongkat bantu berukir dari kayu di sampingnya sebelum menghantamkannya pelan ke tanah, “Kaya apa menurutmu, Mang?”
Pria berkacamata di panggung mulai meningkatkan irama pukulan rebananya selama beberapa saat seraya mulai bersuara merdu,
"Ulun sarankan kita kada usah kisah harat,
handak mambalas kalakuan lapan-ampat.
Sampai tasalah, situs kita nang malarat
Maski sadikit, urang kita jua nang sakarat.
Urusan kaluarga jangan dicamuhakan,
Balasan tujuh-sambilan diganangakan.
Biaya dan urang nang habis kaganalan,
Sudah sabaiknya risikonya ditinggalakan~"
Setelah tepukan cepat selama beberapa saat, dia menepuk rebananya untuk terakhir kalinya sebelum menatap ke panggung dengan senyum, menandakan puisinya selesai.
Pria tua tadi tersenyum seraya melirik ke lawan bicaranya tadi. “Seperti kata wakil direkturku. Kami tak tertarik dengan rencana menuntut balas kalian.”
Lawan bicaranya hanya mendehem keras, “Perlu saya ingatkan kalau Triad mencakup situs anda juga. Jadi mohon diseriusi sedikit karena keputusan akhir yang diambil nantinya mencerminkan sikap ketiga situs kita.”
“Aku tahu itu, nak.” Pria tua itu membalas santai. “Orang-orang Pontianak sana memang ahli dagang, tetapi Kami lah pemasok sumber daya mereka. Di luar sana Situs-67 mengurus pengambilalihan dan sumber daya kita, tetapi Kami yang bekerja di balik layar untuk mengurus logistik puluhan perusahaan cangkang mereka termasuk bahan bakarnya. Persenjataan dan augmentasi kita juga disediakan oleh Situs-274 di Kalteng sana. Tiga situs yang saling melengkapi dengan kelebihan mereka masing-masing, itulah tujuan utama terbentuknya Triad dulunya…”
Pria tua itu memberi jeda sebelum berkata pelan, “…Sampai semuanya hanya untuk urusan dominasi bisnis semata karena Sang Nuwang.”
Dia mengalihkan perhatiannya kembali ke lawan bicaranya, “Keputusan akhir Triad adalah satu setuju, dua menolak. Catat itu dan serahkan ke direktur situsmu.”
Lawan bicaranya diam menatap pria tua di depannya. Pria tua itu tak peduli dan fokus menikmati pukulan pelan rebana wakilnya. Sebagai pembawa pesan situsnya, atasannya pasti akan memberi hukuman padanya jika mengacaukan seluruh rencana mereka. Dia perlahan berdiri dan memberanikan diri berkata, “Sang Direktur tak akan senang mendengar keputusan ini, jadi semoga saja kalian siap akan akibatnya.”
Pria tua itu melirik pelan ke arah lawan bicaranya itu. “Hooh… kau berani mengancamku?”
Tiba-tiba pukulan lembut rebana di panggung hilang digantikan suara nyaring serunai yang memekakkan telinga. Di saat yang bersamaan, puluhan agen berseragam taktis muncul dari balik deretan kursi kosong di sekitarnya. Mereka semua mengarahkan parang dan tekpi yang mereka pegang ke arah pria yang berdiri tadi.
Pria itu sendiri reflek mengangkat tangannya. Meski dia gugup karena salah bicara, dia masih memberanikan diri untuk setidaknya mencoba mengoreksi kesalahan fatalnya. “Aku- aku cuma membawa pesan! Tak ada salahnya memberi peringatan terkaitnya juga, bukan?”
“Begitu ya, jadi pesan Sang Nuwang sebenarnya adalah dia berani mendeklarasikan perang internal jika kami menolak setuju? Tak masalah, tetapi kami akan perlu kepalamu untuk pesan balasan.” Pria tua itu menanggapi santai seraya kembali melirik ke panggung.
“Ma- maafkan aku kalau begitu!” Pria itu segera bersujud memohon ampun. “Aku yang lancang mengasumsikan itu bagi kalian!”
Pria tua tadi mengangkat bahu. “Tak masalah. Tetapi kami harus membuatmu ingat satu hal,”
Para agen yang mengelilingi mereka segera mencengkram leher pria tadi dan dengan paksa membuka mulutnya.
“Di Situs-152, kau harus hormat kepada orang yang lebih tua. Kita orang-orang beradab di sini.”
Suara teriakan terdengar menggema memenuhi amphitheater, mencoba menyaingi nyaringnya serunai.
“Akan kuberi saja surat resmi keputusan kami nanti, mengingat kau tak akan bisa bicara sampai diberi Susu Murni untuk lidahmu nanti.” Pria tua itu terkekeh seraya terus menikmati panggung.
Sekarang
“Jika keputusan akhirnya menolak intervensi, lalu apa yang kau lakukan di sini sekarang, Kipli?” Birmanto bertanya setelah mendengar penjelasannya yang memakai versi singkat.
“Tentu saja karena sudah melakukan kontak, tidaklah sopan untuk tidak memberitahukan keputusan akhirnya dengan kalian.” Zulkifli menjawab. “Tetapi sepertinya kalian agak sibuk sekarang.”
Dia melihat sekelilingnya, mengiringi pelan arah tembakan semua orang. Dia akhirnya saling tatap dengan Jane. Perempuan tua itu menatap Zulkifli, tahu direktur situs ini merupakan mantan agen dengan reputasi berbahaya dulu dan mengerikan sekarang.
Zulkifli sendiri tak memedulikannya dan berkata, “Aku belum sempat benar-benar memberi kompensasi atas kelancangan pelayan-pelayanku, jadi bagaimana jika Situs Asisten yang menyerang kalian tadi ikut membantu. Saya cuma menyesali mereka kurang dari 250 personel saja pascaeksekusi.”
Birmanto hanya tersenyum puas, “Tentu, Kau anak yang sangat baik, Kipli.”
Kini perhatian mereka semua tertuju ke Jane dan timnya. Dengan datangnya bantuan dalam jumlah yang sangat signifikan, mereka – tanpa Birmanto sangka – perlahan merapat dan mengambil formasi defensif.
“Tak kusangka harus memakainya di sini…” Jane – meski masih bisa tersenyum – menggumam dengan nada tak senang. Tanpa berbalik, dia memberi perintah singkat, “Connie, engage mode level 3 sekarang. kita perlu membersihkan lapangan.”
“Eh?”
Jane segera menyadari ada yang salah dan berbalik seraya bertanya, “Ada apa? Keluarkan senjatamu.”
Dia mengangkat cepat lengannya dengan kasar dan mengakibatkan jubah yang menutupi wajahnya terbuka, menunjukkan wajah seorang perempuan muda dengan rambut pendeknya berwarna putih keperakkan, berkilauan terkena cahaya sore. Syal tebal berwarna hitam juga ternyata menutupi leher dan sedikit dagunya.
Tetapi itu tak menutupi separuh kanan wajahnya yang dipasangi semacam perangkat deteksi dengan sebuah lensa panjang terletak di mana mata kanannya seharusnya berada. Lensa itu juga ternyata bisa mengeluarkan cahaya merah terang, entah apa indikasinya.
Tangan kanan yang diangkatnya tadi juga dipasang perangkat yang lebih drastis, mungkin tepatnya digantikan malah. Secepat kilat lengan sampai ujung telapaknya terbuka dan berubah, menunjukkan bagian internalnya yang berwarna keperakan penuh mekanisme berjalan. Dengan cepat keluar deretan silinder panjang menyerupai laras senapan terpasang menggantikan panjang lengannya tadi. Dengan beberapa bunyi klik, mereka terpasang dan perlahan berputar bak minigun.
“Eh, bukan aku yang mengatakan itu!” Connie meralat cepat dan panik perkataannya sendiri.
Dengan cepat Jane melirik ke arah Birmanto, yang di mana dia entah kenapa terlihat lega akan situasi ini. “Ini baru.” Komentarnya dengan singkat.
“Rita! Suani!” Jane memanggil mereka segera.
Bak bergerak bersamaan seiring perkataannya, seorang anggota timnya segera melesat dan secepat kilat menyelinap di belakang Connie. Ini menyebabkan tudungnya terbuka juga, menunjukkan kalau dia juga perempuan, meski terlihat sedikit lebih tua dan besar serta memiliki rambut hitam pendek. Terdapat ikat kepala hitam di dahinya juga.
Dia dengan segera membuka seluruh jubahnya dan menunjukkan kalau dia cuma mengenakan tanktop dan celana jeans pendek. Dengan itu dia menahan kedua lengan dan kaki Connie dengan dirinya sendiri. Tangan dan kaki perempuan itu entah bagaimana mampu melilit badan Connie seakan tak ada tulang di dalamnya, dan sepertinya lilitannya cukup kuat sampai lengan bersenjata Connie perlahan diturunkan agar tak membidik kedepan.
Seakan menunggu Rita selesai, Pria yang bersandar tadi bergerak secepat kilat dari bawah pohon tiba-tiba saja sudah di samping Connie dalam sekali gerakan. Tiba-tiba saja tangan pria itu sekarang memegang sebuah pisau cukur.
Dalam beberapa detik awalnya tak terjadi apa-apa, tetapi tiba-tiba saja laras senjata Connie hancur, terpotong dengan bersih. Pria tadi mengayunkan pisau cukurnya dengan santai kembali ke apronnya.
“Ah, aku tak bisa menghentikan itu juga, Bu!” Connie kembali menambahkan perkataannya sendiri segera.
“Bu, aku tutupin aja mulut Connie, ya!” Rita menanggapi. Connie terlihat ingin memprotes, tetapi lengan Rita yang tak menahan senjata melilit erat mulutnya dengan rapat.
Mengamati keadaan timnya, Jane tertawa lepas, membingungkan semua orang di taman yang menatapnya dengan heran dan tegang. Setelah beberapa saat, tawanya mereda dan dia pun berkata, “Maaf, maaf. aku cuma ngerasa lucu saja…”
“…Aku ke sini awalnya cuma ingin bermain-main saja dengan teman lama, bukan untuk bekerja seperti biasa.”
Jane memasang kuda-kuda silat yang Birmanto sekilas pernah lihat digunakan untuk menghabisi seluruh tim kover situsnya, tetapi baru kali ini dia melihat Jane dengan tatapan siap membunuh. Para personel situs lain pun juga merasakan kepanikan baru serupa sehingga kembali siaga sepenuhnya.
Tetapi perlahan dia menurunkan kembali lengannya. “Jadi ku rasa sudah waktunya kita akhiri pertemuan kecil ini sebelum terlambat. Turunkan senjata kalian.”
Tentu saja, hanya sepertiga yang berani melakukannya. Jane sendiri tak terlalu memedulikan hasilnya. Dia menoleh ke Birmanto dan berkata, “Seperti kataku sebelumnya, aku di sini untuk mendapatkan semua rahasiamu, Bio. Seseorang akan menunjukkan seluruh dirinya hanya jika dia mendekati akhir hayatnya. Kau tahu sendiri itu, bukan?”
Dengan ragu Birmanto mengiyakannya.
Jane perlahan melangkah mendekati Birmanto, meski dia tengah ditodong puluhan personel gabungan seakan dia bisa menghindari mereka semua. Dia tak berhenti sampai dia berada tepat di hadapan Birmanto seraya tersenyum dan berkata, “Saya mewakili Situs-414 berjanji akan membatalkan serangan terhadap Situs-84 dan akan meninggalkannya sepenuhnya.”
Dan dengan itu dia melangkah melalui Birmanto. “Rita, lepaskan Connie. Ayo kita pergi.”
Para personel timnya mengangguk mengerti dan segera mengikutinya keluar taman. Beberapa personel Situs-414 akhirnya menunjukkan diri mereka dengan memasuki taman untuk mengangkut ratusan kotak di dekat bangku. Mereka mengenakan seragam taktis lengkap agen lapangan dengan kain hitam terikat di lengan mereka. Mereka berjalan sangat cepat dan mampu mengangkat sekumpulan besar kotak sekaligus masing-masingnya. Entah kenapa warna kulit mereka jauh lebih pucat dari umumnya. Nayla terlihat menatap penuh kebencian seraya menggenggam erat senapannya.
Jane membiarkan mereka bekerja selagi dirinya terus berjalan. Di tengah langkahnya, dia menyempatkan diri berhenti dan mengakhiri pertemuan mereka sepenuhnya dengan berkata, “Semoga ini terakhir kalinya kita bertemu, Bio, jadi aku akan merindukanmu sekarang. Semoga beruntung mengakhiri Proyek Rantai, dari sesama yang dikekangnya.”
Birmanto menatapnya melangkah menjauh sampai hilang dari pandangan. Tiba-tiba radio kedua perwakilan situs lain yang bersamanya berderak, saling melaporkan personel Situs-414 seluruhnya meninggalkan area. Sepetak kota itu kini perlahan kosong, mengecualikan sisa personel gabungan yang diam kebingungan menyikapinya.
“Yah, kami rasa urusan kami sampai di sini, Saudara Birmanto.” Perwakilan Situs-188 berkata seraya beranjak pergi sambil melambai. “Senang berbisnis dengan kalian.”
“Saya ingin membantu, tetapi takutnya Sang Nuwang sadar akan keterlibatanku jika aku memakan waktu lebih lama dari ini.” Zulkifli berkata dengan nada berat seperti biasa. Dia mengarahkan kudanya, kali ini ke arah keluar taman. Dia tak mengharapkan keberuntungan pada mereka karena dia tahu itu tak diperlukan.
Birmanto tak membalas perpisahan mereka, tetapi dia mengangguk sebagai tanda terimakasihnya. Pandangannya tertuju ke Nayla yang sudah memasang kembali kacamata hitamnya. “Kami ikut anda, Pak!” Dia berseru.
“Kita langsung saja, semua.” Birmanto bergegas pergi meninggalkan taman juga. Para personel lain mengikutinya.
Nayla mendekatkan diri ke samping Birmanto dan bertanya, “Jadi, Pak. Apa rencananya?”
Birmanto, setelah segala kegilaan barusan, akhirnya bisa terkekeh santai seperti biasa. “Heh, kita menjepit Situs-84. Akhiri segalanya malam ini juga. Kau sudah tahu Situs-118 termasuk, kan?”
Nayla mengangguk. “Ya, Pak! Kami akan bantu personel anda menerobos mereka.”
Birmanto malah menggeleng. "Tidak, tidak. Kita hanya distraksi semata."
Tak memedulikan kemungkinan tatapan bingung Nayla di balik kacamatanya, Birmanto terus berjalan. "Tugas kita adalah memancing musuh ke luar situs selama dan sebanyak mungkin."
"Mereka sangat bergantung ke kita untuk itu."
"Pak! Situs-79 melakukan pergerakan kembali! Mereka sekarang memakai jalan langsung kemari! Terdapat juga personel dari situs yang tak kami ketahui, estimasi lebih dari lima puluh agen baru!"
Seorang personel setelah lari menaiki tangga melalui beberapa lantai melaporkan dengan tergesa-gesa. Ruangan demi ruangan kover situs yang awalnya merupakan rumah sakit biasa kini tak dapat dikenali dengan sedikitnya penggunaan lampu untuk tiap ruangan. Telah berubah menjadi markas darurat masa perang.
Di samping koridor yang ditempatinya, terdapat deretan kaca jendela yang kini sudah diberi jeruji seadanya untuk keamanan. Di bawahnya dapat terlihat puluhan tenda yang telah lama dipasang untuk menampung seluruh agen tim gabungan mereka sejak awal dibentuk, diterangi lampu sorot tinggi yang mencolok dilihat dari lantai lima kover nan gelap.
Lawan bicaranya merupakan seorang pria muda mengenakan jas cokelat usang melapisi seragam agen Yayasannya. Dia menatap kosong ke samping kirinya yang merupakan kaca.
"Si pak tua itu berhasil mendapat bantuan di Jakarta sana, ya…" Dia menggumam. "Betapa liciknya mereka menyeret situs lain untuk urusan ini… Situs malang…"
Dia menoleh ke arah personel yang melapor tadi, menunjukkan separuh wajahnya yang lain yang ditutupi perban kemerahan, hanya menyisakan tatapan bola matanya semata. "Kita cuma bisa mengakhiri penderitaan mereka dengan kematian, sekarang. Mobilisasi sisa tim gabungan menahan pergerakan masuk mereka. Lalu persiapkan pertahanan internal."
Personel tadi mengangguk mengerti. Tetapi sepertinya ada yang mengganjal di pikirannya sehingga dia masih berdiri di depannya. Pria tadi menatapnya dengan sabar untuk menunggu apa yang akan dia sampaikan.
"….Pak, apa mereka… ….Akan berhasil kemari?"
Pria itu diam sejenak, tetapi tak lama kemudian tak sengaja terkekeh. Menatap reaksi bingung personel tadi, dia memperjelas, "Mereka akan kemari sebentar lagi."
"…Maaf?"
Pria tadi menatap kembali ke jendela, mengamati tenda-tenda yang sebenarnya sudah lama kosong sedari awal, kehabisan personel.
"Jika aku benar, Birmanto akan memakai strategi penjepit dengan bantuan personel baru dari arah situs. Tetapi dengan semua personel penting Situs-79 dilaporkan terlihat di sana, siapa yang mampu memimpin serangan kedua…"
Tiga buah mobil hitam standar Yayasan perlahan melambat tak jauh dari halaman runah sakit. Dengan senyap satu-persatu agen berseragam taktis keluar dari mobil dan segera menyusur maju bermodalkan perlindungan pagar semata.
Pintu belakang mobil ketiga terbuka perlahan. Dari dalam keluar seorang perempuan yang, mengesampingkan sisa personel di depannya, tetap mengenakan jas biru tuanya untuk menyembunyikan rompi antipelurunya.
Rambut panjangnya awalnya berwarna hitam mengecualikan ujungnya yang masih sedikit kekuningan. Sekarang diwarnainya menjadi kuning pirang kembali seutuhnya.
Di hadapannya, diterangi bulan yang sekilas terlihat terang sebelum kembali tertutup awan, merupakan kover Situs-84.
Dan selagi perlahan menutup pintu mobil, perempuan itu tak berhenti menatap ke atasnya dengan tatapan penuh determinasi
dan harapan.
Kronik Situs-79
Bab 8: Dunia Imaginer(2)
« Larilah Menyusuri Taman Ilalang | Anak-anak Catur Yang Ada | Netralisir Sang Raja Pemimpi »




