Larilah Menyusuri Taman Ilalang
rating: 0+x

Beberapa hari yang lalu

Suara hantaman keras baton memenuhi tengah koridor situs. Akses yang seharusnya digunakan untuk lalu-lalang para personel situs saat ini diblokir sepenuhnya di beberapa titik dengan beragam meja dan perabotan lainnya. Para personel keamanan situs malah saling menghantamkan senjata mereka satu sama lain. Dari posisi semua personel keamanan yang ada dikoridor itu, jelas mereka tengah terbagi menjadi dua pihak.

Sayangnya pihak yang hendak menerobos koridor semakin banyak jumlahnya.

Suara senapan sesekali terdengar. Tembakan sudah melampaui batas peringatan, kini tiap peluru ditargetkan ke personel keamanan yang masih bertahan di depan barikade seadanya buatan mereka. Darah mulai menodai lantai karenanya.

Di balik barikade itu, tidak hanya para personel keamanan yang berlindung, beberapa orang berseragam putih peneliti juga ikut membantu merawat mereka yang terluka.

Salah satu diantara mereka mengintip di balik barikade. Personel keamanan yang tersisa perlahan tumbang satu persatu, tak bisa menahan tembakan. Peneliti itu mundur dan menatap ke sisa rekan mereka. Dia menggeleng pelan. Para rekannya hanya menatap pasrah.

Dia perlahan meraih sebuah tongkat dengan jas lab terikat di sana. Simbol penyerahan diri mereka, sudah dibuat terlebih dahulu karena sejak barikade ini dibuat tepat di depan ruang terakhir yang belum dikuasai lawan, mereka tahu ini pertahanan terakhir mereka.

Tetapi sebelum peneliti itu mengangkatnya tinggi, seorang peneliti lain segera melangkah melewatinya yang masih menunduk di lantai. Peneliti itu terkejut dan mendongkak, mengamati sisi belakang orang yang berani melangkah ke depan barikade, hanya untuk melihat rambut hitam panjangnya yang sedikit berantakan menutupi setengah jas labnya di belakang.

Para personel keamanan di sisi seberang sepertinya sudah selesai mengurus sisa perlawanan yang tersisa di depan barikade. Mereka kini memusatkan pandangannya ke satu-satunya orang yang tersisa; seorang perempuan tinggi berseragam peneliti dengan rambut tebal yang separuhnya menutupi sisi kanan wajahnya, menyisakan separuh sisanya yang menunjukkan beberapa luka di sana.

Dia menatap ke kumpulan penjaga di depannya dengan penuh determinasi. Para penjaga itu sendiri hanya menatap balik saat ini, menunggu perintah untuk menyingkirkannya juga. Akhirnya seorang peneliti dari pihak mereka melangkah keluar dari kerumunan. Dia seorang pria yang mengenakan kacamata bingkai persegi dengan rambut hitamnya sedikit panjang dan tajam.

“Apa yang kau lakukan, Erlina.” Pria itu berkata sinis, hampir mengejek.

Erlina sendiri tak menjawab, bak alasannya sudah jelas. Pria itu terlihat kesal karenanya.

“Sangat disayangkan kau tak ingin bergabung. Tunggu, dipikir lagi aku senang kau memilih tidak. Untuk pertama kalinya, kau terlihat bodoh bukan?” Pria itu mengoceh, meski masih ingin memicu reaksi darinya.

Perempuan di depannya hanya menghela nafas. Akhirnya dia berkata, “Kau tak harus mengikuti Harper, Tuan Feng. Kau hanya berjalan ke kehancuranmu sendiri.”

Pria itu hanya terkekeh seraya memperbaiki posisi kacamatanya. “Kau mengatakan itu tanpa melihat posisimu sekarang? Berhenti mempermalukan dirimu, Erlina… Lihat keadaan situs ini. Selain diriku, asisten direktur lain sudah semuanya memilih memihak Harper. Dengan direktur masih tak sadarkan diri, langkah terbaik adalah berdiri di belakangnya sekarang.”

“Hanya karena dia menguasai para agen bukan berarti dia menguasai kita para peneliti juga! Kita punya Bu Miriam!” Erlina menyanggah keras.

Feng hanya menggeleng, kali ini ekspresinya serius. “Itu masalahnya, Erlina. Dia menguasai agen situs ini. Kau tak seharusnya mengharapkan kami melawan itu.”

Erlina tak mengatakan apa-apa. Dia menunduk, perlahan memikirkan nasib mereka semua saat ini. Tetapi dia tidaklah ingin terlalu lama diam. Dia segera mendongkak kembali ke depan dan berkata, “Biarkan aku yang melawannya kalau begitu.”

Feng tertegun, tetapi perlahan dia menggeleng dan kembali terkekeh, “Jangan terlalu berlagak! Kau bukan di Triad lagi! Kau cuma peneliti biasa di sini sekarang!” Dia tiba-tiba berteriak kesal. “Apa yang bisa kau lakukan menghadapi ini semua?!”

“Itu masalahnya, Tuan Feng. Aku tak ingin di neraka itu lagi.” Erlina berkata dengan yakin. Feng sebenarnya sudah tahu itu. Dia dan para personel keamanan bisa melihat Erlina tengah memegang sesuatu di tangan kanannya sedari tadi. Sebilah panjang kaca tebal yang dipertajam di ujungnya, yang digenggamnya dengan aman menggunakan pelindung sarung tangan cokelat tebalnya.

“Sudah berapa lama kau menyimpannya?” Feng bertanya dengan nada meremehkan.

“Sejak hari itu. Ini potongan kaca terbesar yang menikamku di ruang itu. Meskipun pecah, ini tetap pecahan kaca antipeluru standar Yayasan. Menajamkannya saja memakan waktu berbulan-bulan…” Mata kiri Erlina yang tak tertutup rambut menatap ke arah bilah kaca yang dipegangnya.

“…Kau menyimpannya untuk momen ini?”

Erlina menggeleng pelan. “Pengingat. Pengingat bahwa mungkin… aku tak pernah bebas dari Triad. Mungkin hari itu peringatan dari mereka. Mau bagaimana pun, aku membayar pengkhianatanku dengan ragaku.”

Erlina kini berhenti mengamati bilah kaca di tangannya. Perlahan, dia mengarahkannya ke arah mereka. “Kini aku menyerahkan ragaku sekali lagi… Tetapi kali ini, sebagai bentuk kesetiaanku.”

Feng menatapnya selama beberapa saat. Akhirnya dia menepuk salah satu penjaga di sampingnya dan berkata pelan. “Urus dia.”

Para penjaga segera maju menyerang, sedangkan dia sendiri segera bergegas pergi dari koridor. Saat melewati penjaga terakhir, penjaga itu menghentikannya dan berkata, “Kau mau ke mana? Hanya karena kau gagal membujuknya bukan berarti kau boleh pergi.”

“Aku ngambil sesuatu bentar. Kalian tahan aja dia kalau bisa.” Feng tak berhenti berjalan, menjawab tanpa berbalik.

Penjaga tadi diam mengamatinya kini mulai berlari menyusuri koridor. Setelah beberapa saat, dia kembali menoleh ke depan.

Setelah saling siaga untuk menunggu reaksi pertama, salah satu penjaga segera menyerang Erlina dengan batonnya, tetapi perempuan itu segera menikamnya terlebih dahulu di dekat bahu menggunakan senjatanya. Jelas tak akan menembus rompi, tetapi cukup untuk mendorongnya untuk menjaga jarak. Erlina tak memakan waktu lama dan segera menariknya, kini menebas kaki penjaga itu. Kali ini dapat terlihat luka nyata di kakinya yang mencipratkan darah karena tebasannya.

Satu serangan sudah cukup, jadi Erlina segera mengalihkannya kepada dua penjaga lain yang mendekat. Dia segera mengulangi menebas kaki salah satu penjaga terdekat dan sepertinya berhasil melukainya juga. Penjaga ketiga mencoba mengayunkan batonnya, tetapi Erlina berhasil menghindar dan segera menikam kaki penjaga itu. Bilah kaca panjang itu ternyata mampu menembus sedikit kakinya, sejujurnya mengejutkan Erlina sendiri, terlebih penjaganya yang mengerang kesakitan.

Erlina segera mencabut senjatanya dan berhasil menghindari ayunan balasan penjaga marah itu. Dengan tiga penjaga sudah dilukainya, dia mengalihkan pandangannya ke arah sisa penjaga lainnya. Sayangnya yang dia lihat adalah dua orang penjaga yang maju ke depan dan menodongkan pistol mereka ke arahnya. Seorang penjaga lain yang berada di tengah mereka mengangkat tangannya sebelum menurunkannya dan berkata dengan suara serak, “Tembak”

Tanpa ragu mereka mulai menembak. Bukan peluru berujung karet, tetapi peluru asli, diotorisasi pemimpin mereka. Erlina tak bergeming, dia segera mengangkat lengan kirinya. Para penjaga dapat melihat kenapa, di lengannya terikat erat sebuah panci besi berwarna gelap. Dia menghadapkan kepala panci itu di depan kepala dan dadanya selagi dia menunduk. Pantulan salah satu peluru mengenai tangannya, tetapi peluru kedua menghantam panci itu dan tak berbekas sedikitpun.

Perempuan itu terus maju seraya membentangkan bilah kaca yang digenggamnya untuk memperbesar jangkauannya. Penjaga di tengah tadi mundur selagi dua penjaga mencoba bertarung jarak dekat. Salah satu penjaga menahan serangan Erlina sedangkan yang lainnya segera menembak. Tembakannya mengenai kakinya, tetapi Erlina menahan rasa sakitnya dan terus menyerang.

Ini membuat para penjaga di sisi barikade jadi termotivasi dan keluar dari barikade untuk ikut membantu melawan mereka. Koridor kembali berisik akan suara baton berbenturan dan tembakan dilontarkan.

Penjaga yang di tengah tadi mengamati keadaan di depannya. Semakin banyak penjaga yang maju, tetapi Erlina masih belum tumbang. Dia sebenarnya sudah tahu sejak awal kalau akan ada perlawanan. Dengan direktur tidak sadarkan diri, halangan terbesar Harper sekarang adalah wakil direktur mereka, Miriam. Tentu saja secara otomatis dia merupakan pemimpin para peneliti yang tersisa, dengan Erlina pejuang terkuatnya saat ini.

Dia juga tahu peneliti biasa ini tidaklah benar-benar biasa. Asisten Direktur Finansial dan Fasilitas, Feng Jian sudah memperingatkannya kalau Erlina merupakan ‘outlaw Triad’. Dia tidak paham apa itu, tetapi sepertinya dia semacam personel yang berhasil ‘pindah’ dari sebuah situs elite di Kalimantan sana. Feng sendiri terdengar sangat iri dengannya karena itu meski dia sendiri adalah seorang peneliti senior sekaligus asisten direktur, dan sekarang mereka sepertinya punya isu personal karenanya.

Dan berpikir mengenai peneliti itu, penjaga tadi menoleh ke belakang, heran ke mana Feng pergi tadi.

Dia tidak menduga akan melihat jawabannya tengah berjalan cepat ke arahnya.

“Bantu aku, akan ku alihkan perhatiannya.” Feng berkata singkat. Di tangannya adalah pedang bermata tunggal yang segera dia cabut dari sarung hitamnya. Dan dia berjalan tepat ke arah Erlina yang sudah kesusahan mengatasi penjaga lain yang menyerangnya.

Begitu Erlina selesai mendorong salah satu penjaga menjauh dengan tikaman horizontal cepat, tepat di sampingnya Feng memotong ke bawah dengan pedangnya. Erlina jelas terkejut dan menahan serangannya segera dengan kedua tangannya menggenggam bilah kacanya.

“Ini… kaca antipeluru… jadi kenapa mencoba memakai pedang?” Erlina mencoba mengejeknya, mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit yang mulai menumpuk di badannya.

“Aku tak mengincar benturan…” Feng tak fokus bicara dikarenakan dia lebih fokus memberikan tekanan ke senjata Erlina. Tiba-tiba dia menariknya,

“…Tapi tebasan!”

Dan dia segera mengantarkan tebasan demi tebasan ke arah Erlina. Dia tak mengincar kepala, tetapi badannya. Erlina berupaya sekuat yang dia bisa menangkis tiap tebasan ke sampingnya dengan kacanya. Senjatanya memang kuat, tetapi tidak lengannnya.

“Sekarang!” Feng tiba-tiba berteriak.

Erlina tak tahu apa maksudnya, tetapi dia tiba-tiba merasakan tikaman di punggungnya. Dia tak perlu menoleh, dia bisa melihat warna merah di depan seragamnya juga.

BANG BANG BANG

Tiga tembakan dan Erlina akhirnya tersungkur jatuh. Penjaga di belakangnya tadi hanya diam menatapnya. Tangannya perlahan menurunkan senapan runduk cokelat tua yang digenggamnya. Pisau yang dipasang di ujungnya masih berlumuran darah. Jika ada yang memperhatikan, tangannya gemetaran saat menggenggamnya.

Feng hanya menatap punggung berdarah Erlina yang tergeletak diam. Darah mulai menggenang di sekitarnya. Dia tak mengatakan apa-apa. Tak ada kebencian yang tadi dia tunjukkan, tak ada kepuasan juga.

Dia akhirnya mendongkak dan menatap ke arah penjaga yang memegang senapan runduk tadi. “Kau tak harus menembaknya juga. Kau panik?” Feng bertanya seraya memperbaiki posisi kacamatanya.

“Diamlah.” Penjaga itu berkata, jelas terdengar dia gemetaran. “Kau yang minta bantu, bukan?”

“Hey, aku tak meminta kau dengan liciknya menikam orang di belakang.” Feng hanya mengangkat tangannya. “Tak kusangka penjaga sepertimu bisa melakukan itu.”

“aku… Apa pun untuk mengakhiri bentrokan ini. Dia tak akan berhenti jika aku tak bertindak…” Penjaga itu berkata padanya, “situs ini tak akan pernah aman sampai ada yang bertindak…” Meski dia terdengar lebih ke arah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Feng hanya terkekeh. “Jangan bilang kau memakan justifikasi Harper semudah itu…” Tetapi mata sipitnya menatapnya tajam. “…Memalukan…”

“Dia… dia melakukan semua yang dia bisa untuk situs ini, kau tahu dia memedulikan nasib situs ini di hatinya!” Penjaga tadi masih berupaya meyakinkannya, atau dirinya sendiri. Tanpa sadar dia menodongkan senapan runduknya ke Feng.

Feng tak bergeming. Dengan pelan dia menegaskan, “Lihat sekelilingmu. Jika kau masih percaya itu, kau segila dirinya kalau begitu.”

“Aku…” penjaga itu kini sepenuhnya ragu. Dia perlahan menurunkan senapan runduknya dan diam memikirkannya.

Itu membuatnya tak menyadari ada banyak langkah kaki di belakangnya.

“Diamlah, Feng.” Seorang pria dengan jas cokelat berjalan mendekati mereka, diikuti rombongan baru personel keamanan. Wajahnya separuh tertutup perban kemerahan. “Jika kau tak mengerti, diam dan coba pahami. Jika tidak, aku terpaksa harus mengurus itu juga.”

“Maaf, Pak Harper!” Feng seketika berubah sikap menjadi penurut saat membalasnya.

Harper kini melirik penjaga di sampingnya yang masih diam. “Bagaimana status Miriam saat ini, Hilda?”

“Masih di dalam…” Penjaga itu berkata pelan.

Harper hanya menghela nafas. “Mau bagaimana pun, tetap serba aku yang harus melakukannya, ya…”

“Maaf, Pak.” Hilda dengan menyesal membalas.

“Tak apa, kau istirahat saja sana. Aku ambil alih dari sini.” Harper mengibaskan tangannya seraya dia melangkah maju. Saat dia tiba, koridor sudah hening kembali kecuali dari suara erangan kesakitan semua personel yang terlibat.

Dia melangkahi Erlina tanpa peduli. Diiringi rombongan penjaga di belakangnya. Mereka segera merobohkan sisa barikade yang dijaga mati-matian sebelumnya. Di baliknya, terdapat deretan pintu ruang kantor pribadi.

“Lagipula… aku ingin berhadapan langsung dengannya.” Harper berbicara sendiri seraya tersenyum selagi dia terus melangkah.


Wakil Direktur Situs-84 Miriam tengah duduk diam menatap pintu. Dia tahu mereka akan datang. Harper menginginkannya. Tentu saja dia tak akan menyerahkan dirinya sendiri, jadi di sinilah dia bertahan sementara sisa personel yang mendukungnya menahan mereka.

Dan kini tinggal dia sendiri di ruangan ini. Dia tahu tak peduli sesetia apa sisa personel di luar sana, mereka tak akan bisa menghentikan keadaan ini. Sejujurnya dia sendiri skeptis tentang itu, tetapi tentu saja dia tak akan menunjukkannya.

Dia sedari tadi memikirkan apa yang harus dilakukan begitu pintu itu dibuka. Dia melirik ke samping. Salah satu laci di meja telah dibukanya.

Terdapat pistol di sana. Direktur terdahulu menyimpan senjata di lacinya, tentu saja dia juga sama.

Dia sudah tahu dia tidaklah akan bisa meyakinkan Harper. Dia tahu pria itu penuh determinasi sekarang, jadi dia sedari tadi menimang apakah dia perlu menembak Harper untuk mengakhiri ini semua. Itu akan sangat mudah, dan dia pasti akan dikenang dengan baik dalam sejarah situsnya. Tetapi itu bukanlah yang Miriam akan lakukan. Dia tidak tahu apa lagi selain itu.

Miriam menghela nafas, memikirkan apa yang orang lain akan lakukan di situasinya ini.

Miriam tahu suaminya tak akan kesulitan dalam bereaksi. Dia entah bagaimana akan bisa meyakinkan mereka untuk bukan hanya menghentikan serangan, tetapi membuat mereka kembali berpihak padanya, hanya dengan percakapan semata. Selalu seperti itu.

Tidak peduli dulu, bahkan sekarang, mereka tidaklah sama. Tak peduli berapa lama dia dengannya, bahkan jika mereka akhirnya tiada bersama, dia tidak yakin dia akan pernah setara dengannya. Dibandingkan dirinya, dia selalu lebih berpengalaman dalam urusan ini.

Bahkan mengingat mereka berdua memulai ini dari nol.

“Apa yang akan kau lakukan, Miriam…” Dia berbisik pelan.

Tiba-tiba pintu di depannya didobrak keras. Enam orang personel keamanan segera mengelilingi sisi kiri dan kanannya. Beberapa menodongkan pistolnya ke arahnya.

Miriam diam mengamati sekelilingnya. Dia menghela nafas sebelum melirik sekali lagi ke arah laci.

BANG BANG

Dia menembak tepat ke arah Harper, siap mengakhiri segalanya. Dia sama sekali tak punya pengalaman menembak, tetapi pada jarak sedekat ini, tembakan ke dada tidaklah mudah terhindarkan. Sayangnya entah Harper memprediksi ini atau dia memang paranoid, dua orang penjaga yang masuk duluan segera melindungi Harper dan memakan mentah tembakan tersebut sampai terjatuh. Tembakan bahu dan rompi sayangnya, jadi mereka tak terlalu terpengaruh. Beberapa penjaga segera menembaki tangannya sebagai peringatan.

“Tahan!”

Perlahan melangkah, Harper memasuki ruangan.

Miriam menatapnya seraya menahan rasa sakit di tangannya yang akhirnya dia biarkan bergelantungan, meneteskan darah dan menodai lengan kemeja putihnya. Dia tak bisa menembak Harper dengan keadaannya sekarang, jadi dijatuhkannya senjatanya juga.

“Seharusnya kau menyerahkan diri saja sejak awal. Kita kehilangan beberapa personel karena pemberontakanmu itu, juga koridor jadi kotor karenanya…” Harper berkata dengan nada terganggu.

“Aku mengenalmu bukan sebagai orang yang meminimalkan nyawa menjadi statistik dan gangguan, Harper. Aku sangat kecewa denganmu yang sekarang.” Miriam berkata dengan ekspresi tegas. “Kau tak seharusnya diangkat jadi kepala keamanan kalau begini akhirnya.”

“Kau tak tahu apa yang kau bicarakan, Miriam.” Harper membalas remeh. “Justru aku yang pertama meratap dan menyesali kematian seluruh personel kover kita. Nyawa pengkhianat di luar sana tidaklah berarti seonggok pun dibandingkan mereka yang tewas malam itu.”

Miriam diam mendengarnya. “Dan aku pengkhianat terakhirmu, bukan. Silahkan kalau begitu.” Merasa tak ada lagi yang bisa dia katakan padanya, dia mengakhiri pembicaraan mereka.

Harper menggeleng, “Tenang saja, aku tak akan menyakitimu, Bu.”

Dia lalu berbalik dan melangkah pergi. “Rawat lukanya dan pastikan dia tetap di sini.” Perintahnya kepada penjaga di ruangan tanpa berbalik.

Begitu dia di luar, dia melihat Hilda, kini telah melepas helmnya, berdiri di depannya. Bagian mulutnya masih tertutup perban sepertinya. Tentu saja Harper tak bisa melepasnya sampai beberapa bulan, tetapi luka sobekan Hilda seharusnya bisa lebih cepat sembuh.

“Harper… boleh aku menanyakan sesuatu?” Dia bertanya dengan tatapan serius.

Harper hanya mengangkat bahu dan membalas, “Tentu, kau perlu apa?”

Hilda melirik ke belakang. Kekacauan pemberontakan sebelumnya sudah jauh di belakangnya, tetapi jelas sesuatu darinya masih terngiang di belakang kepalanya.

Dengan itu, dia kembali bertanya, “Semua yang kita lakukan ini… Ini benar-benar perlu, kan? Untuk menjaga keamanan situs ini kembali?”

Harper hanya tersenyum remeh. Dengan yakin dia membalas, “Tentu saja! Hanya setelah kita mengatasi masalah internal sepenuhnya baru kita bisa membalaskan serangan mereka.”

Dia perlahan mendekati Hilda. “Baru kita bisa menyelamatkan Lucy dari mereka.”

Seketika setelah Harper menyinggung nama itu, Hilda terlihat tertegun sekilas, sebelum tatapannya berubah menjadi penuh determinasi.

Harper berdiri di sampingnya. Matanya yang tidak rusak menatap Hilda yang kini kembali penuh semangat. Dia tersenyum selagi dirnya melangkah melewatinya.

“Kita akan dapatkan Alice kita.”

Hilda sebenarnya heran kenapa Harper mulai terobsesi dengan buku dongeng populer yang dimiliki perpustakaan situs mereka. Dia tahu selain berubahan drastis sifatnya, obsesinya dengan kata itu dimulai sejak malam serangan itu.

Dia tahu perempuan pirang dari Insurgent di malam itu memanggil dirinya sendiri Alice, dia tahu perempuan itu melakukan sesuatu pada Harper. Sesuatu yang membuatnya menjadi lebih agresif dan dominan dalam mengambil keputusan sekarang, sesuatu yang membuatnya rela melakukan apa saja…

…untuk situsnya, bukan?

Hilda menoleh ke belakang, mengamati Harper yang semakin jauh.

Samar-samar, dia bisa mendengar dia tertawa.

Hilda menggeleng dan melangkah maju. Diam di sini dan memikirkannya tak akan mengubah apa pun. Lagi pula, sekarang Harper masih tetap seorang yang aktif melakukan apa pun bagi situsnya, masih seperti Harper yang dia diam-diam kagumi dari dulu, meski metodenya berubah drastis.

Dengan itu dia memilih diam kembali. Tetap lanjut mengikuti apa pun keinginannya. Dengan segera dia melangkah mendekati pintu yang terbuka di depannya. Wakil Direktur Miriam masih duduk berbaring di ujung saja sementara para penjaga mengawasinya.

Jika Harper menganggapnya pengkhianat sekarang, maka dia tak boleh memedulikannya lagi.

Dan dia pun menutup pintu ruangan, yang berbunyi keras saat tertutup.


Sekarang

“Hey, Hilda!”

Hilda tersadar dari lamunannya. Dia melirik ke sekelilingnya dan teringat dia dan beberapa penjaga tengah berbaris di belakang kover situs mereka. Harper berdiri tepat di depannya dengan satu matanya menatap heran.

“Maaf, Pak. Aku… ada yang ku pikirkan tadi…” Hilda berkata pelan, tak bisa membuat alasan bagus untuk lamunannya.

Untungnya Harper tak terlalu memedulikannya dan melanjutkan bicara, “Jadi seperti kata ku, meeting selesai. Tim gabungan telah dibuat dan sekarang tinggal eksekusi. Tim dari Situs-118 berjanji akan menyelesaikan bom itu sebelum tengah malam, sisanya menyiapkan pengepungan di kedua rute yang ada.”

Harper melirik ke samping. Halaman parkir di depan kover mereka telah diisi beragam tenda besar tempat para personel dari beragam situs yang membantu mereka berkumpul dan bagi tugas. Dia mengumpulkan personelnya sendiri ke belakang sini untuk sedikit privasi.

“Personel mereka akan mengurus penyerangan, personel kita yang akan mengurus pertahanan. Kalian tim penjaga perimeter. Ketua kalian si Hilda ini, dia penembak jitu terbaik yang ku tahu.” Dia berkata.

Hilda senang mendengarnya, tetapi dia menyimpannya dalam hati dan tetap fokus mendengarkan. “Kalian dapat posisi jaga paling atas. Dua di antara kalian menjanjikan untuk dijadikan penembak jitu juga, tetapi kalian sisanya bertugas memberikan hujan peluru jika terjadi serangan. Jangan biarkan musuh mendekati pintu rumah sakit.” Harper melanjutkan.

Tiap penjaga di sekeliling Hilda tengah memegang senapan serbu standar Yayasan. Dia tak pernah melihat persenjataan selengkap ini digunakan dalam sejarahnya bekerja. Sesuatu yang dia bayangkan akan dia lihat di Situs-79, tak dia sangka malah pertama kalinya dia lihat di sini.

Tetapi tentu saja, ini diperlukan. Harper selalu mengatakan Situs-79 pasti lebih beringas dari ini. Situs biadab yang akan menghancurkan mereka jika diberi malam selanjutnya untuk ada. Itulah kenapa semua bak bergantung di tengah malam ini untuk mengakhiri segalanya.

Entah bagaimana nasib Lucy di sana, Hilda selalu mengkhawatirkan itu.

Menyadari dia melamun kembali, kali ini dia segera tersadar. Tetapi yang dia lihat adalah Harper malah berdiri diam. Dia tidak terlihat kelelahan atau apa, dia praktisnya berdiri diam menghadap dinding kover situs tanpa bergerak.

Salah satu penjaga memberanikan diri bertanya, “Pak?”

Harper menoleh ke arahnya dan dengan pelan berkata, “Siapkan senapan kalian, set ke otomatis, dan jangan menarik perhatian.”

Hilda tak bisa melakukan itu dengan senapan runduk tradisionalnya, tetapi tetap saja dia menyiapkan senapannya juga. Harper sendiri perlahan mengeluarkan pistolnya.

“Kalian lihat hutan di belakang kita. Siap-siap menembak ke arah aku menembak.” Harper berkata dengan pelan dan ambigu. Tetap saja Hilda dan para penjaga bersiap menurutinya.

Begitu mereka siap, Harper perlahan berbalik selagi melangkah. Tiba-tiba dia menembak ke arah salah satu pohon di depannya. Hujan tembakan segera menghujani pohon itu. Entah apa yang mereka tembak, tetapi Harper perlahan menembak ke bawah. Setelah beberapa saat menembak, Harper berteriak untuk menghentikan tembakan mereka.

“Pak, apa yang kita tembak tadi?!” Seorang penjaga bertanya keheranan seraya menurunkan senapannya.

Harper tak menjawab. Dia segera berlari mendekat pagar pembatas antara kover situs dan hutan di belakangnya. Dia terlihat mengamati tanah di bawahnya selama beberapa saat. Dia juga memberi isyarat bagi mereka para penjaga untuk mendekat.

Begitu dirasa mereka cukup dekat, Harper akhirnya dia berkata, “Aku perlu kalian mengecek perimeter hutan sana segera.”

“Ya, tapi apa yang kita tembak tadi??” Penjaga tadi masih keheranan.

Tanpa ragu Harper membalas, “Tupai.”

Tentu saja, keheningan sesaat selagi para penjaga memproses apa yang Harper katakan.

“Maaf?”

“Iya, kalian tak salah dengar.” Harper menegaskan.

“Maaf, Pak. Kau menyuruh kami menghabiskan setengah magasin untuk tupai saja!?” Seorang penjaga lain segera memprotes. “Apa kau beneran gila?”

Tetapi sebelum Harper menjawab, Hilda segera berserua, “Jika kau tak mengerti, diam dan coba pahami!”

Dia bahkan reflek menodongkan senapan runduknya ke penjaga tadi seraya melanjutkan, “Jika tidak… aku terpaksa akan mengurus itu untukmu, Pak.”

Harper tertegun, tetapi perlahan dia tersenyum. “Yah, turunkan senjatamu Hilda. Kau juga perlu penjelasan.”

Dia lalu berbalik mengamati area hutan sekali lagi. “Patroli luar untuk pagi, siang, dan malam sudah jadi rutinitasku, dan sepanjang karirku sebagai personel situs ini, aku tak pernah melihat seekor pun tupai di hutan itu. Aku pernah melihat ular dan burung beberapa kali sih.”

Dia mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan. “Tupai itu sudah diam mengamati briefing tadi entah berapa lama. Jelas ada yang tak normal dengan itu.”

Hilda mencoba melirik ke arah hutan seraya mendengarkan. Di bagian atas beberapa pohon jelas terlihat daun yang bolong atau ranting dan batang pohon yang rusak terkena tembakan.

Begitu dia melihat ke bawah, dia bisa melihat sedikit warna kemerahan di kejauhan.

“Jadi untuk jaga-jaga kita menembaknya kan, Pak?” Hilda mengonfirmasi.

Harper mengangguk. Sebelum Harper melanjutkan, Hilda segera pergi seraya berkata, “Akan ku cek.”

Harper hanya tersenyum senang mengetahui Hilda mau bagaimanapun selalu menjadi yang pertama setuju dengannya. Dia kemudian melirik ke sisa penjaga di depannya. “Kalian nunggu apa? Cek perimeter di depan! Anggap sebagai latihan. Kita tak pernah tahu rencana busuk apa yang Situs-79 siapkan.”

Beberapa ragu, beberapa mengeluh, tetapi para penjaga di depannya perlahan bubar dan segera ikut ke arah hutan.

Harper sendiri diam mengamati mereka bekerja. Dia sebenarnya tak akan mencurigai hal sekonyol itu juga. Masalahnya, Situs-118 memperingatkannya kalau Situs-79 jelas punya metode tidak konvensional dalam pengumpulan informasi untuk pemerasan. Itu menambah paranoia dan ketidakpercayaan Harper yang sekarang harus mempertimbangkan segala kemungkinan perilaku yang tak wajar juga karenanya.

Dan dalam hati dia tahu, perlahan dia merasa mulai gila karenanya, dibuat gila karena Situs-79 terkutuk yang menyimpan Alicenya.


Pagi tadi

Dua orang pria tengah mengamati dengan seksama langit-langit ruang kantor tempat mereka berada. Terdapat sebuah ventilasi udara yang seharusnya ada di setiap ruang kantor pribadi. Tetapi berbeda dengan kantor lain, yang ini diberi jeruji besi ekstra. Mereka yang menambahkannya beberapa jam yang lalu, dan kini mereka sedang menatapnya selagi duduk.

“…Dengar, gue rasa kita bisa dengan aman meninggalkannya sekarang, bukan?” Salah seorang di antara mereka berkata dengan nada bosan. Dia merupakan seorang pria paruh baya yang mengenakan jaket hoodie abu-abu, melapisi seragam putih standar personel Yayasannya. Dia juga memiliki janggut lurus tipis di dagunya.

“Kau tak ada kerjaan juga kan, Theo. Kau cuma ngegambar aja di kantor seharian.” Balas pria satunya. Dia lebih tua dari lawan bicaranya, dengan jangut brewok serta mengenakan pakaian lebih rapi dibandingkannya berupa jas hitam untuk melapisi kemeja putihnya.

“Apa pun itu lebih baik dibandingkan memandangi lubang kosong ini lebih lama lagi.” Pria pertama berkata dengan dana protes. Dia meraih sebuah botol kemasan biru di meja dan mulai membukanya. Terlihat dari sisa airnya bahwa ia sudah diminum sebelumnya beberapa kali.

“Inilah teori. Aku juga tak yakin apa perempuan itu benar-benar menggunakan ventilasi ini tiap menyusup ke kantorku, tapi aku sadar aku selalu mendengar bunyi benda jatuh sebelum perempuan itu menyekapku atau istriku.” Pria kedua mencoba meyakinkan.

Pria yang pertama tak membantah itu. Dia sendiri merasa penasaran juga akan apa yang selama ini dipertanyakan rekan di sampingnya. Dia kembali meneguk botol minumnya. “Hey, ini mengingatkanku, kau ingat dia punya hewan peliharaan?”

“Yang ular itu?” Pria kedua bertanya.

“Bukan, ingat saat kita tahu dia punya kandang tupai?”

Pria kedua mengangguk. “Dan kandang itu kosong. Perempuan itu sendiri yang bilang itu kendang tupai, tetapi saat peneliti itu bertanya di mana, dia bilang ‘tebak sendiri’ seraya mencondongkan kepalanya ke kaca ular koleksinya. Perempuan sadis…”

“Heh, bilang itu ke istrimu.” Pria pertama terkekeh, hanya dibalas tatapan kesal pria kedua. Pria pertama setelah puas tertawa melanjutkan, “Tapi aku jadi berpikir, apa mungkin saja dia benar-benar punya peliharaan lain? Apa mungkin… ia memang sengaja dilepas di situs? Jika benar, pasti ada relasi antara hewan itu dan caranya selalu menyusup masuk.”

“Apa pun itu, kita akan mengetahuinya hari ini.” Pria kedua berkata dengan percaya diri.

Pria pertama mengangguk setuju. Dia meneguk minumannya kembali dan menatap dirinya yang masih duduk menunggu sebelum akhirnya sadar akan sesuatu. “Tapi memang ada kemungkinan dia bakal ke sini hari ini?” Dia bertanya kembali.

Sayangnya setelah diam beberapa saat, pria kedua menjawab, “Sejujurnya, tidak. Aku cuma berharap dia tertarik mendengar suara bor kita tadi saat memasang jeruji.”

Pria pertama hanya menghela nafas. Setelah kembali meneguk botol minumnya sampai habis. Kesabarannya sepertinya juga ikut habis dan dia pun perlahan berdiri. “Keknya kalau tertarik pun, dari jauh udah keliatan penghalang baru kita. Dah gue balik ke kantor.”

Pria kedua akhirnya pasrah menerimanya. “Yah, duluan saja.”

“Tuh gue sisain botol-botol Deja Blue gue di meja.” Pria pertama berkata seraya beranjak pergi meninggalkan rekannya yang masih menatap ventilasi di langit-langit. Dia tahu rekannya ini kalau tertarik dalam penelitian kadang akan terlalu fokus dan perfeksionis akan hasilnya. Bukan masalah situs jika saja dia tidak ikut memaksa bawahannya untuk memiliki dedikasi serupa. Untungnya dia bukan bawahannya.

Begitu dia hampir mendekati pintu keluar, terdengar suara pintu diketuk, sedikit membuat pria itu tersentak. “Woy Rickey, ni istri lu keknya udah datang! Minta dia aja temenin lu.” Pria itu berseru agar terdengar. Rekannya hanya melambai.

Pria itu hanya mengangkat bahu tak peduli, memutuskan lanjut pergi. Begitu dia membuka pintu, dia mengira dia akan mendapati seorang perempuan yang dia kenal merupakan tunangan rekannya itu.

Asumsinya benar, tetapi dia tidaklah menduga perempuan di depannya tengah ditahan di leher oleh perempuan lain di belakangnya dengan pisau.

“Selamat pagi, Theodore! Frederick juga ada di dalam, kan?”

Pria di depannya tersentak kaget dan segera berseru, “B- Bu Heliza?”

Rekannya yang tadi tengah fokus menatap langit-langit juga terkejut mendengar Theodore menyebut nama itu sehingga dia segera mendekat.

“Kebetulan kalian berdua di sini. Kau keberatan mundur dulu? Aku dan Cyra perlu masuk.” Heliza berkata seraya perlahan mendorong perempuan di depannya masuk. Theodore sendiri tak punya pilihan lain selain kembali masuk.

“Lepaskan Cyra, bajingan!” Rekan Theodore berkata dengan marah. Cyra sendiri yang tengah ‘disandera’ menunjukkan ekspresi takut dan menggeleng cepat. Keringat bisa terlihat mulai menetes di wajahnya. Theodore menangkap itu dan segera menahan rekannya agar tak melakukan tindakan ceroboh.

“Ah, tenanglah, Frederick. Aku cuma perlu tunanganmu bentar.” Heliza berkata dengan tenang.

“Baik. Kenapa lagi kau ke sini kali ini?” Theodore tanpa membuang waktu langsung bertanya.

Heliza hanya tersenyum. Tangan kirinya masih menyekap leher Cyra, tetapi tangan kanannya dibentangkannya.

I’m a squire,” Heliza menunduk sedikit dengan tangan kanannya di dada. “I’m here to inquire what has been transpired~” Dia menegakkan dirinya kembali dan mengulurkan tangan kanannya ke arah mereka berdua.

Frederick memandang Theodore dengan ekpresi terganggu, hanya untuk mendapat balasan ekspresi serupa. Mereka sudah lama tahu Heliza senang melakukan itu jika dia merasa momennya pas.

“Jadi,” Tak ada yang tahu arah tatapan mata tajam Heliza di balik kacamata hitamnya, tetapi saat dia melanjutkan, mereka bisa menebaknya. “Sejak kapan kalian memberi pengamanan ekstra ke ventilasi itu?” Heliza bertanya pada mereka.

Kedua pria tersebut kembali saling pandang. Frederick tersenyum tipis sebelum menatap balik ke Heliza. “Kantor kadang disusupi orang, entah siapa. Aku sebenarnya tak yakin itu orang, mengingat ukuran ventilasinya yang kecil. Tetap saja, aku mengambil pengamanan terhadap itu ke depannya.”

Heliza tak membalas. Dia masih tersenyum selagi dirinya menatapnya.

“Aw aw aw! Maaf, maaf!” Cyra tiba-tiba berseru. Dapat terlihat darah sedikit menetes di lehernya yang terkena tekanan pisau.

“Bajingan!” Frederick berseru marah, tetapi dia ditahan Theodore kembali. Untungnya dia segera mengerti dan menenangkan dirinya.

“Jadi, kau ingin itu dilepas?” Frederick mencoba bertanya.

Heliza tanpa terduga hanya tertawa seraya menggeleng. “Tidak-tidak. Simpan saja. Aku cuma penasaran.”

“Jadi kau sebenarnya mau apa?” Theodore kini bertanya, nadanya jelas tak sabaran lagi.

“Hah… ada yang ingin kusampaikan, tetapi kita menunggu satu orang lagi.” Heliza berkata seraya menoleh ke arah pintu. Dua orang pria itu mengikuti arah pandangannya dengan heran.

Benar saja, tak lama kemudian ada seseorang lagi masuk. Meski dia juga memakai jas hitam, dia melapisinya lagi dengan jas lab putihnya. Dia jauh lebih muda dan kurus dibandingkan Frederick dan berbeda dengannya, dia memakai kacamata.

“Tak ku sangka akan menginjakkan kaki di kantormu, Pak Frederick.” Pria yang baru datang berkata. “Jika Kak Heliza tak menyandera istrimu, aku tak akan berani kemari.” Pria itu terlihat agak puas saat masuk seraya dia memperbaiki posisi kacamatanya.

“Christopher, hanya karena kau aman masuk ke sini bukan berarti kau tak akan kurendam di dalam larutan piranha besok, jadi diam sana.” Frederick mengancam dengan dingin.

Pria itu langsung diam dan menunjukkan ekspresi terganggu selagi dia perlahan berdiri di samping Heliza. Perempuan itu tersenyum memperhatikan mereka. Dia kemudian memutuskan untuk melepaskan Cyra dari sekapannya. Cyra langsung menjauh dan berdiri di balik Frederick.

Heliza sendiri menepuk tangannya dan berkata, “Nah, sekarang karena semuanya sudah di sini ada yang mau ku katakan.”

Dia memandangi keempat peneliti senior di depannya. “Efektif mulai sekarang, kalian diminta menghentikan perselisihan kalian.”

Tentu saja, mereka semua lumayan terkejut dan perlahan saling pandang. “Akhirnya! Kalian dengar itu! Sudah waktunya kalian berhenti membobol kantorku.” Pria berkacamata paling ujung berseru sombong.

Ketiga personel lain di sampingnya tak terlalu memperhatikannya. Mereka menatap Heliza dengan tatapan curiga. Heliza sendiri menyadari mereka menatapnya dan hanya tersenyum dan berkata, “Kalian punya komentar?”

Frederick mengangkat bahu dan merupakan yang pertama membalas. “Tidak. Bagus saja kok.” Dia lalu melirik ke arah pria tadi dan berkata, “Lagi pula, kami tak digaji untuk ini.”

“Sekarang, aku perlu kalian menginformasikan itu kepada anggota faksi kalian masing-masing. Dimulai dari kalian.” Heliza melanjutkan seraya memandang ketiga orang di depannya.

“Yah… selain Theodore di sini, cuma ada pasangan peneliti itu yang jadi petarung aktif. Si Rukminah juga, tapi dia ga guna selain buat penelitian. Tim kami yang kompeten kebanyakan mati saat insiden layangan itu sayangnya.” Frederick membalas.

“Ah, aku baru mau ngabarin! Panji kena tembak istrinya tadi pagi.” Cyra tiba-tiba menambahkan.

“Beneran?? Perempuan itu akhirnya sudah waras?” Theodore lumayan terkejut mendengarnya sehingga langsung bertanya. Frederick sendiri terlihat lumayan terkesan.

Cyra menggeleng dan membalas, “Tidak, gak sengaja nembak. Makanya yang kena kaki bawahnya doang. Dia masih nangis pas aku cek tadi.”

“Masih masokis dipukulin Panji, yah..” Theodore berkomentar. Cyra hanya mengangguk mengiyakan pendapatnya.

“Baik, sepertinya faksi kalian teknisnya juga tak bisa aktif dalam konflik saat ini. Jadi kita anggap faksi Livington dalam kendali kalau begitu.” Heliza menanggapi. “Bagaimana denganmu, Louis?”

Louis sendiri mulai berpikir. Setelah menunduk selama beberapa saat, dia membenarkan posisi kacamatanya dan berkata, “Kebanyakan dari faksiku peneliti biasa seperti Jerry dan Samuel. Ah, ada sih, Peneliti Senior Darel baru gabung. Hmm… dibilang gabung gak terlalu cocok sih karena dia ga aktif neliti, lebih buat konsultasi penahanan doang.”

“Ku dengar dia di luar situs saat ini.” Heliza berkata.

“Huh, gitu ya. Nanti aku temui dah.” Balas Louis tak terlalu peduli.

“Kau tahu, biar aku saja yang kabarin dia. Aku mau keluar situs nanti.” Heliza terlihat berpikir. Dia kembali menatap keempat peneliti di depannya dan berkata, “Jadi, ku rasa kalian bisa mulai mencoba berbaikan sekarang! Aku percaya kalian bisa melakukannya.” Dengan nada positif.

Dia pun melambai pergi seraya mengucapkan selamat tinggal dengan senyum. Setelah dia menutup pintu, keempat orang di ruangan saling pandang.

“Yah, aku akan kembali ke kantorku.” Louis berkata seraya mengikuti langkah Heliza. “Ingat, tak ada lagi pembobolan kantor! Atau pengancaman penelitiku!”

“Tentu, permainan ini sudah lama membosankan.” Cyra menanggapi seraya melangkah pergi ke mejanya.

Sebelum Louis keluar, Frederick menghentikannya sejenak dengan berkata, “Sebagai tanda iktikad baik, biar kuberi kau satu peringatan.”

“Apa? Jangan sampai kena bakon, kena siram air keras, atau kena paksa minum air segalon?” Louis dengan sarkas bertanya.

Frederick tak terlalu memedulikan sikapnya. Dia tetap memperingatkan, “Tetap waspada dengan gerak-gerik Heliza.”

Louis tak menduga itu. Dia akhirnya menyadari tatapan serius Frederick. “Tentu.” Dia berkata pelan seraya menutup pintu.

Begitu tersisa mereka bertiga, Cyra memutuskan bertanya, “Jadi, untuk apa jeruji itu?”

Frederick dengan bangga menjawab, “Seperti yang kau lihat, sayang, teoriku benar! Perempuan itu tak bisa menyelinap lagi ke kantor ini. Jadi dia terpaksa harus menyanderamu untuk masuk.”

Cyra hanya menatap ragu seraya berkata, “Tidak… jelas kebetulan. Hmm… mungkin juga tidak.”

Theodore hanya mengangkat bahu dan berkomentar, “Yang jelas sepertinya itu tak penting lagi. Aku ragu dia akan mendatangi kalian kembali mengingat dirinya sendiri yang mengatakan konflik sudah berakhir. Bukan berarti aku takut dengannya, tetapi tak ada gunanya lagi mempertahankan ketegangan faksi sendiri. Kita tidak digaji untuk ini dan sekarang kita tidak diancam untuk ini.” Dia melirik ke arah Cyra dan menambahkan pelan, “Tak peduli betapa kau ingin membakon Louis atau peneliti-penelitinyanya, konflik ini tak sepadan untuk dilanjutkan.”

“Heliza tak menyuruhku melepaskan babi-babiku sendiri juga bukan? Jadi aku masih boleh main bakar-bakaran jika mood.” Cyra membalas dengan senyum enteng. Tetapi kemudian sesuatu sepertinya terlintas di pikirannya sehingga dia diam memikirkannya.

“Kalian tahu, saat aku memasuki kover, entah kenapa penjagaan menjadi lebih banyak dari biasanya. Aku melihat orang-orang pabrik memenuhi perimeter kover. Senjata api juga ditumpuk di dalam.” Cyra mengungkapkan. “Ingat berita beberapa hari yang lalu, yang kebakaran itu? Mungkin saja sesuatu memang akan terjadi ke Situs-79 nanti.”

Mereka saling diam memikirkan perubahan situasi mereka. Frederick akhirnya berkomentar pelan, “Kita benar-benar tak digaji untuk ini…”


Sekarang

Tiga truk hitam besar tengah terparkir di halaman kover situs. Para personel kover sudah selesai melakukan bongkar muat. Normalnya, truk mereka digunakan untuk pengantaran produk kover mereka yang merupakan pabrik, tetapi tak jarang salah satunya diisi properti Yayasan. Tetapi kali ini, ketiganya digunakan untuk keperluan Yayasan, tepatnya keperluan situs mereka. Mengelilingi truk itu adalah sekumpulan mobil hitam yang akan mengawal mereka.

Hujan telah lama reda, meski matahari belum bisa menunjukkan dirinya di tengah awan gelap yang masih tersisa. Kini lapangan basah pabrik yang luas dipenuhi pergerakan personel dengan seragam taktis serba gelap. Tanah yang kemerahan sebelumnya karena pertempuran kini bersih dari mayat. Di pojok pabrik, hanya bermodalkan perlindungan kain kotor kemerahan, beberapa personel tengah mengadakan operasi darurat, hampir selesai memuaskan impulsi panen organ mereka.

Tak jauh dari tirai kain kotor itu, puluhan perlengkapan dan persenjataan mayat personel yang tewas sebelumnya diletakkan. Kini hanya beberapa yang tersisa, para personel telah memuat sebagian besar ke kendaraan mereka untuk suplai dan masih bolak-balik melakukannya.

Di tengah lalu-lalang kesibukan personel, beberapa orang berkumpul di tengah lapangan dekat salah satu mobil. Perlahan, seorang lagi melangkah mendekati mereka. Berbeda jauh dari sisa personel di lapangan, selain dia lebih tua, dia mengenakan seragam hijau tua dengan baretnya.

“Semua sudah di dalam, Hidayat?” Pria tua itu bertanya.

“Ku kuras habis, bahkan yang dikantorku juga.” Hidayat berkata. Kemejanya lebih hitam dari seragam standar agen lapangan, sehitam kacamatanya. “Jelas tak bisa kusembunyikan, jadi akan ada banyak pertanyaan begitu kita kembali nanti.”

“Heh, itu jika kita bisa kembali.” Pria tua itu terkekeh. “Bagaimana denganmu, Herria? Personel sudah siap semua?”

Herria menegak habis botol di tangannya sebelum menjawab, menikmati rasanya seraya dia menunduk. Akhirnya dia membenarkan posisi topinya dan menjawab, “Sudah kupilih yang terbaik, tetapi apa kau yakin? Kita memang perlu agen lapangan ekstra, tetapi aku tak memercayai mereka melakukan hal cerdas dengan senjata aktif.”

Pria tua itu tersenyum seraya membalas, “Itulah kenapa kita jadikan dia ketua agen lapangan.”

Mereka menoleh ke samping. Seorang lagi personel berseragam lengkap agen lapangan melangkah mendekati mereka. Dia melepaskan helmnya, menunjukkan rambut pirangnya. “Lapor Pak Birmanto, tim Agen Wilman sudah selesai bekerja.”

“Bagus, Hansel.” Birmanto membalas senang. Dia lalu melihat ke sekeliling seakan mencari seseorang. Akhirnya dia menemukannya dan segera berteriak, “Lira! Kemari sebentar!”

Menanggapi panggilannya, seorang perempuan dengan rambut ponytail dan mengenakan kaus putih melangkah cepat mendekat seraya mengganti sarung tangan medisnya. “Ya, Pak?” dia bertanya.

“Kau tak bertugas sendiri di lapangan nanti, pergi ke pojok dan temui Agen Senior Wilman. Dia dan timnya masuk jadi asistenmu.” Birmanto menjelaskan. “Juga, atur kapan dia boleh panen organ. Kita tetap perlu uang setelah ini – peluru ekstra hasil selundupan itu mahal – tetapi perkirakan apakah timnya bisa aman untuk memanen.”

“Tentu,” Lira mengiyakan, meski dia terlihat tak terlalu menyukainya.

Birmanto sepertinya menyadari itu dan berkata, “Ingat, prioritaskan personel kita saja. Jangan melakukan hal bodoh; siapa pun lawan kita, mereka punya tim medis sendiri, dan jikalau pun tidak, itu bukan tugasmu.”

Lira mengangguk mengerti, membenarkan posisi kacamatanya selagi dia pergi. Birmanto kemudian berjalan ke tengah-tengah lapangan sebelum berteriak, “Baik semua! Kita berangkat dalam lima menit! Masuk ke mobil masing-masing!”

Semua personel di lapangan segera bergerak dan dalam beberapa menit, lapangan mulai kosong dan kendaraan mulai menyala. Birmanto dan timnya sendiri ikut masuk ke mobil juga. Tiga mobil maju duluan sebelum diikuti oleh truk mereka. Jauh dibelakang konvoi, mobil Birmanto mengikuti. Mereka semua saling menjaga jarak agar tak terlihat mencurigakan.

Iring-iringan mereka melalui jalanan kecil yang menghubungkan situs dengan jalan raya. Setelah beberapa saat, sampailah mereka di depan jalanan umum. Tujuan mereka adalah Jakarta, jadi seharusnya mereka belok ke kanan, tetapi mobil terdepan segera belok kiri. Mobil lain mengiringi, diikuti truk dan sisa mobil lainnya. Inilah rencana mereka.

“Jadi Pak, anda bilang jalan normal ke Jakarta dikuasai Situs-84, tetapi apa tepatnya yang mereka lakukan? Kan itu jalanan umum?” Hansel bertanya. Dia yang mengemudi

“Saat ini mereka pura-pura mengadakan semacam ‘razia’. Bagi pemukim di sana, mereka sudah mengevakuasi semuanya. Alibi mereka solid; kebocoran gas karena kebakaran hebat itu, jadi bahkan LEMRUSAN sekalipun tak akan memperhatikan itu.” Birmanto menjelaskan. “Jika pun mereka mengecek, Harper bisa mengatasi mereka agar tak meluas.”

“Jika Yayasan juga yang menguasai jalanan, apa kita tidak… mencoba menerobos saja?” Hansel kembali bertanya.

“Kita sudah mencoba.” Kini giliran Herria yang menjawab. Dia terlihat tak senang mengatakannya. “Begitu kita terobos, mereka praktisnya mengebom jalanan dengan gas, kemungkinan amnestik dari warnanya. 118 juga terlibat karena tombak mereka menghantam mobil agen kita agar tak bisa bergerak. Mereka ditarik keluar dari mobil sebelum kamera tersembunyi di sana ditemukan dan dirusak.”

“Situs-84 bisa dianggap markas personel gabungan Harper sekarang. Jadi persenjataan di sana kelas berat.” Hidayat menambahkan.

“Meski begitu Situs-414 tak akan kesulitan menetralisir mereka semua. Kutebak divisi yang dibawa Jane adalah Divisi Manguni, jadi kupastikan situs mereka akan jatuh tanpa suara tembakan sedikitpun.” Birmanto ikut berkomentar. “Kita juga mungkin bisa melewati mereka, tetapi tak ada gunanya mengambil risiko sebesar itu, jadi kita akan mengambil jalan memutar.”

Ja, mengitari Gunung Pangrango dan Gede, kan?” Hansel memastikan. “Perjalanan dua jam berubah menjadi perjalanan enam jam…”

Dia melihat ke arah langit, masih gelap seperti saat mereka berangkat. Jadi dia melihat jam tangannya, sudah mendekati pukul enam sore. “Tapi kenapa kita perlu berangkat segera? Kita bisa berangkat pagi-pagi, kan?” Hansel bertanya lagi.

“Semakin cepat semakin baik.” Birmanto membalas. “Aku tak suka mengadakan pertemuan tanpa setidaknya mencoba melakukan persiapan sebelumnya.”

Hansel akhirnya mengangguk mengerti. Meski begitu, dia sebenarnya punya satu pertanyaan lagi. Kenapa mereka perlu tim medis? pikirnya. Tetapi dia bisa menebak jawabannya sama dengan kenapa mereka membawa banyak agen lapangan berpengalaman sampai merekrut penjaga situs seperti dirinya.

Ketika ada harga di kepalamu, tentu saja akan ada yang mencoba mengambilnya.

Hari semakin gelap selagi mereka menyusuri jalan.


Sudah dua setengah jam rombongan konvoi Situs-79 berada di perjalanan. Suasana sudah gelap, dan ia gelap gulita karena langit masih diselimuti awan. Angin malam alami pemukiman asri nan dingin tidaklah terasa, kaca tiap mobil yang antipeluru tertutup rapat untuk jaga-jaga. Pemandangan sawah dan gunung di kejauhan tidaklah dapat terlihat dengan jelas.

Meski begitu, tidak ada perubahan signifikan dalam perjalanan mereka. Mereka setidaknya sudah menempuh ¼ rute mereka. Pusat kota Sukabumi telah dilewati dan kini mereka mendekati ujung pusat Cianjur. Untungnya tiada hambatan dan kendala sejauh ini, jadi konvoi mereka terus melaju tanpa berhenti.

Kini rumah mulai tiada, dan hutan lebat mulai menggantikan sisi jalanan. Lampu jalanan merupakan satu-satunya sumber cahaya selain kendaraan mereka sendiri. Seharusnya cuma sementara sebelum kumpulan perumahan muncul kembali setengah jam perjalanan lagi.

Mereka tidaklah bodoh untuk tidak menyadarinya; entah kenapa tak banyak mobil yang lewat dari arah berlawanan. Hening dan gelapnya suasana di dalam mobil selain dari mesinnya membuat ketegangan merupakan hal konstan. Keringat tetap mengalir meski AC mobil berdesis.

Dan akhirnya, keheningan panjang itu dipecah suara radio berderak. Entah kenapa berbeda saat masih di area kampung dan kota, suara radio yang ini membuat khawatir.

“Ada upaya penyusupan di truk dua. Dua- tiga orang, seragam serba hitam. Mereka di atas kontainer.”

“Bajingan…” Birmanto berkata pelan. Mereka tak dapat melihat truk dua dari sini. “Pakai peredam, semi-otomatis. Buka jendela sesedikit mungkin lalu tembak mereka.”

“Pak? Kita tak memberikan tembakan peringatan?” Hansel mencoba bertanya.

“Mereka personel Yayasan juga.” Birmanto membalas dengan ambigu.

Sebelum Hansel kembali bertanya, suara sesuatu jatuh dapat terdengar di depan. Ini diikuti suara ribut yang tiba-tiba berhenti mendadak. Hansel dapat melihat sesuatu tergeletak di jalanan. Sayangnya perhatiannya langsung teralihkan karena hujan tembakan berderet dari arah kanan jalanan, dari hutan nan gelap.

Ketiga truk langsung berhenti di tempat. Mobil-mobil di sekitarnya membentuk pelindung melingkar dengan memakan sisi jalan berlawanan. Para agen langsung keluar dari sisi kiri mobil dan menyiapkan posisi. Lampu jalanan telah ditembak saat peluru menghujani mereka.

“Kita perlu ilham!” Herria berteriak dengan tak jelas. Para agen sepertinya paham maksudnya dan segera membuka sebuah truk dan mengeluarkan deretan lampu sorot dan genset. Setelah beberapa saat menyiapkan, jalanan langsung terang dengan cahaya membanjiri seluruh hutan.

Tanpa menunggu reaksi, para personel yang sudah siap langsung menembak tiap orang yang mereka lihat. Ini tak menghentikan tembakan balasan, bahkan beberapa dari personel asing itu maju mendekat dengan cepat.

Mereka segera menembakkan pistol ke lampu sorot yang terpasang, tetapi untungnya mereka terlindung jeruji besi untuk keamanan. Sayangnya itu tak menghentikan mereka untuk meloncati kap mobil dan mulai bertarung jarak dekat dengan linggis.

Dilihat dari dekat, mereka juga mengenakan seragam agen lapangan serupa, tetapi mereka melapisinya di balik kain hitam lusuh yang menutupi rompi, helm, logo, dan properti penanda Yayasan lainnya. Mata mereka terlindung di balik kacamata inframerah menyala. Untungnya mereka dapat dengan mudah dilumpuhkan.

Salah satu diantara mereka hendak lompat menyerang Herria. Herria sendiri sudah siap menembaknya, tetapi sebilah pisau taktis terlebih dahulu menikam dagu penyerang itu. Hansel memberikan beberapa tikaman cepat sebelum menjatuhkannya ke tanah berlumuran darah. “Pak, ini Situs-84 atau 118?” Dia menyempatkan bertanya. Herria menggeleng tanda tak tahu.

“Tidak satupun.” Terdengar suara menjawab. Ternyata dari Birmanto yang masih duduk menghadapi mereka di kursi penumpang depan mobil yang pintunya terbuka.

“Maksud anda, Pak? Herria kemudian bertanya.

“Mereka personel Yayasan, agen lapangan juga, tetapi tak ada yang tahu afiliasinya dari situs mana. Yang jelas adalah mereka spesialis menjarah konvoi situs lain di tengah jalan. Kau tak akan banyak mendengar tentang mereka secara umum, karena jika mereka sukses, mereka akan memberimu amnestik dan penjarahan seakan tak pernah ada, sekaligus barang yang kalian bawa. Tetapi tetap saja, tak peduli seteliti apa operasi mereka, eksistensi mereka tetap ada meski jadi sekedar rumor semata. Panggilan mereka adalah ‘Kompeni Bajingan’.”

“Bajing loncat ya…” Hansel mengangguk mengerti. “Aku pernah dengar itu waktu masih jadi STG.”

“Sejujurnya aku sudah menduga mereka akan muncul. Tetapi aku tak menduga mereka akan melakukannya mati-matian.” Birmanto berkomentar. “Kalau bukan karena itu, kita tak perlu berhenti tadi.”

Dia melirik ke sekeliling. Suara tembakan mulai mereda sedikit. Merupakan hal normal mengetahui peluru sangatlah terbatas bagi situsnya dan situs mereka. Semakin banyak teriakan sekuat tenaga, yang artinya mereka pasrah menyerbu maju. Pada titik ini satu agen Situs-79 pun dapat mengatasi tiga dari mereka sekaligus. Perbandingan kekuatan mereka sudah sedari dulu beda jauh.

“Baik, kita siap-siap berangkat…” Birmanto keluar dari mobil dan melihat ke sekeliling, berniat memberitahukan para personel yang ada.

Tetapi dia tiba-tiba menyadari beberapa agen mulai menerima serangan kembali.

Tak ada suara tembakan signifikan, tetapi agen mulai mengerang kesakitan. Lampu sorot masih bekerja, tetapi hanya tinggal beberapa. Birmanto menatap dengan seksama salah satu agen di tengah jalan. Dia sepertinya melihat sesuatu di kejauhan sebelum ada yang melesat dan menancap di kepalanya.

Sebuah pisau.

Banyak lemparan pisau.

“Jackrabbit?!” Hansel reflek berkata saat mengamati salah satu pisau terpental ke jalan.

“Tidak, bukan…” Birmanto menjawab. Dia melangkah perlahan melalui barikade mobil menuju ke tengah jalan.

“Pak, kita kedatangan orang. Banyak orang!” Herria mengikutinya seraya menyiapkan senapannya.

Di hadapannya, dari arah jalan yang berlawananan, beberapa mobil pick-up mendekat. Mereka tak menyalakan lampu mereka, hanya dengung mesin kendaraan yang jadi pertanda kehadiran mereka. Dari bak terbukanya, turun sekumpulan orang segera. Mereka tidak terlihat seperti agen Yayasan.

Mereka mengenakan jas hitam yang melapisi seragam putih mereka. Dapat terlihat dasi kupu-kupu hitam di kerah serta kain putih di saku jas mereka karena kontras warnanya. Terlihat beberapa perempuan juga, sangat mencolok karena mereka sepertinya mengenakan gaun hitam panjang dengan apron putih berhias ruffle di lengannya. Satu kesamaan adalah adanya tas cokelat terikat di kedua sisi pinggang mereka.

Mereka perlahan melangkah mendekat. Beberapa orang terdepan menggenggam lilin sehingga mereka tak sepenuhnya melangkah dalam kegelapan. Cahaya samar tersebut membantu memantulkan kilauan garpu taman dan tongkat lain yang digenggam sisanya.

“Heh, mengingatkanku saat kunjungan ke situs mereka dulu…” Birmanto terkekeh saat melihat prosesi sunyi mereka yang semakin mendekat.

“Pak? Apa mereka… dihitung Yayasan juga?” Herria bertanya seraya berdiri di sampingnya, siap memberi instruksi.

“Oh, tidak. Triad tak akan suka itu…” Birmanto menjawab pelan. “Anggap mereka… lebih hina dari personel biasa, tak peduli kau menyukainya atau tidak.”

Menerapkan sarannya sendiri, Birmanto maju di tengah kegelapan dan berteriak, “Apa yang pelayan hina seperti kalian lakukan di luar rumah tanpa majikan kalian!”

Seorang pria maju di antara kerumunan personel yang baru datang itu. Dia juga mengenakan seragam serupa, tetapi kancing jasnya dilepas, menunjukkan masih ada rompi jas hitam yang melindungi kemeja putihnya. Rambutnya yang abu-abu tipis kebelakang dan sebuah monokel terpasang di mata kirnya.

Dia membungkukkan diri dan membentangkan tangan kirinya. Tangan kanannya tetap di area perutnya karena menahan kain putih di bagian lengannya. Setelah berdiri tegak kembali, dia berkata, “Izinkan saya untuk mewakilkan seluruh pelayan Situs Asisten kami dalam menyampaikan tujuan. Kami di sini untuk membersihkan, tentu saja. Itu saja yang layak kami lakukan.” Pria itu berkata. “Membersihkan eksistensimu adalah untuk membersihkan hutang pelayanan kami.”

“Namamu bukan Sebastian, kan?”

Hening sejenak, disusul hanya oleh tawa keras Hidayat semata. “Nama saya Yusuf, Tuan. Mantan Wakil Direktur Situs, Yusuf.” Pria itu berkata tegas, meski dapat terdengar amarahnya yang ditahan sekuat tenaga. “Sebelum dikhianati jalang itu…”

“Serius, Pak?” Herria menatap ke samping dengan tatapan menghakimi lawakannya tadi.

“Apa? Probabilitasnya 50:50.” Birmanto hanya terkekeh.

“Cukup penundaannya.” Yusuf terdengar tak sabaran. Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah bel logam. Dia membunyikannya dan berkata, “Mulai pelayanan.”

Dan seketika seluruh pelayan di belakangnya maju serentak dengan keseragaman gerakan yang akurat. Bak sudah terlatih, mereka menyebar secara terkoordinat seraya terus berlari mendekat.

“Pak, perintahmu?” Herria bertanya segera.

“Tembak. Tembak mereka segera! Berbeda dengan Kompeni Bajingan, mereka sangat mematikan dalam jarak dekat. Aku benci Situs Asisten karena itu…” Birmanto membalas.

Para agen mulai melontarkan tembakan. Beberapa personel berinisiatif berlari ke hutan, berniat menjarah sisa senjata penyerang sebelumnya. Sayangnya mereka tak menduga tiba-tiba akan mendapat hujan tembakan dari arah hutan.

Sisa tim segera menoleh kembali ke arah hutan begitu mendengarnya. “Sialan bajing-bajing itu masih di sini…”

Arah tembakan dan lampu sorot kini terbagi dua. Ini mengakibatkan beberapa pelayan berhasil menyusup mendekat. Agen Situs-79 lumayan dapat menahan serangan cepat pelayan-pelayan di depannya, tetapi beberapa mulai mengeluarkan taser dan menghantamnya dari segala arah. Garpu taman mereka tak dapat menembus rompi para agen, tetapi tetaplah bisa menikam lengan dan kakinya sampai dia kesulitan bergerak. Seorang pelayan perempuan melompat tinggi dari atap mobil dan melemparkan beberapa pisau ke arah agen tersebut. Semuanya mengenai kepalanya dan akhirnya dia tumbang.

Untuk setiap agen lapangan Situs-79, mereka menghadapi sepuluh pelayan. Itu tak menghitung tembakan acak personel Kompeni Bajingan.

Dari jarak dekat, satu-satunya yang mereka dapat ketahui selain kemampuan bertarung mereka adalah bahwa leher mereka dikekang kalung besi.

Mengamati kekacauan di depannya, Birmanto sepertinya menyadari sesuatu. “Tunggu sebentar…” Dia menggumam. Tak berselang lama, dia segera menoleh ke arah Hidayat yang mencoba menghindari tiap pelayan yang mendekatinya. “Hidayat! Telepon Situs-283 sekarang!”

Tanpa banyak bertanya, Hidayat segera mengeluarkan ponselnya dan mulai menelpon. Selagi dia menelpon, jumlah pelayan yang menyerbu semakin banyak.

“Pak, berapa banyak kira-kira pelayan ini?!” Hansel memberanikan diri bertanya. Dia tengah membersihkan pisau taktisnya seraya berlari mendekat.

“Kisaran lima ratus?” Birmanto menjawab enteng di tengah serangan konstan para pelayan.

“Maaf, apa?!” Herria beseru seraya menghalau mereka dari Birmanto. “Tim macam apa yang kita hadapi?!”

“Bukan tim, situs.” Birmanto membalas. “Seluruh situs. Atau bekas situs sekarang. Situs Asisten adalah trik kotor Situs-67 untuk mengklaim kepemilikan situs kecil yang bangkrut. Seluruh personel menjadi pelayan situs pemiliknya sampai hutang mereka terpenuhi.”

“Bagaimana… situs bisa bangkrut?” Hansel bertanya heran.

“Tanyakan itu ke Triad. Mungkin korban perjudian, pemerasan, bahkan mungkin pencurian, intinya jika situs tak bisa lagi beroperasi bahkan dengan dana bulanan standar dari pusat, situs bukan hanya ditutup, tetapi dinyatakan gagal dan personelnya tak layak bekerja di situs manapun. Di situlah mereka menawarkan situs asisten sebagai jalan keluar.”

“Seperti neraka…” Herria menggumam.

Birmanto tak menanggapi itu, karena dia pun setuju.

Mereka mengamati serangan masih berdatangan. Sepertinya lawan mereka di hutan sudah berhenti menembak. Mungkin mereka kehabisan peluru, mungkin mereka tahu mereka cuma perlu menunggu. Sama sepertinya sekarang.

“ETA setengah jam!” Hidayat berteriak. Birmanto mengerti apa maksudnya itu. Sayangnya, mereka harus lebih serius jika mau bertahan selama itu. Dia menoleh ke arah Hidayat. Meski mengenakan kacamata hitam, sepertinya mereka berhasil saling tatap. Birmanto memberi isyarat menunjuk ke jam tangannya dan mengibaskan tangannya. Hidayat mengangguk dan mencondongkan kepalanya ke arah truk bak memberi izin akan sesuatu. Birmanto menerima pesannya dan segera memberi perintah singkat. “Herria, sudah waktunya mengeluarkan Dosa.”

Herria tertegun sesaat, tetapi dia mengangguk mengerti. Dia segera berbalik dan berteriak, “Bawa keluar Dosa!”

Beberapa personel bergegas mendekati salah satu truk yang sedari tadi mereka kawal. Beberapa membersihkan jalan dan menjaga para pelayan agar tak mendekat sementara sisanya masuk ke kontainer. Beberapa saat kemudian, mereka mengeluarkan beberapa kotak berisi tabung gas beragam ukuran.

Beberapa personel lain satu-persatu mengeluarkan semacam jaket penampung tabung mirip seperti yang biasa dipakai untuk menyelam. Mereka memasangkan tabung gas tadi ke belakang jaket khusus itu dan melengkapinya dengan selang dan maskernya.

“Hansel, kau baca berkas tiap agen di sini, kan?” Herria berkata. Hansel mengangguk mengiyakan meski itu hampir seratus berkas seingatnya.

“Pilih lima yang menurutmu paling pantas untuk mati sekarang.” Herria memberi instruksi singkat. Hansel tertegun, tetapi dia perlahan mengangguk kembali. Dia memanggil beberapa nama dan tak berselang lama, mereka mendekat.

Hansel mengisyaratkan beberapa anak buahnya itu untuk segera memakainya. Selagi mengamati mereka, Hansel akhirnya memberanikan diri bertanya. “Jadi… apa sebenarnya Dosa itu?”

“Secara kiasan, tindakan amoral yang kita akan lakukan. Secara literal, gas buatan yang mampu meningkatkan adrenalin manusia sampai ke puncaknya sehingga dia tidak dapat merasakan rasa sakit dan terus bergerak.” Giliran Birmanto yang menjawab. “Dirancang oleh peneliti terbaik situs dahulu, mendiang Dr. William Ratchet dan disempurnakan oleh Peneliti Senior Frederick Livington, ia diatur agar dapat melipatgandakan hanya satu perasaan semata, amarah. Sensasi sakit dan adrenalin membuat penghirupnya mengalami peningkatan sensitivitas, agresivitas dan gejala psikosis, menjadikan mereka liar dan haus darah.”

Mereka melihat buktinya dengan beberapa personel yang tengah memakainya berteriak kesakitan. Mereka menggenggam erat pisau standar mereka dan dengan segera lari menerjang kumpulan pelayan di depannya dengan kecepatan tinggi. Setruman taser dan tikaman pisau tak lagi dapat menghentikan mereka.

“Kaca di maskernya itu bukan sekedar kaca biasa, tetapi semacam kacamata AR yang praktisnya menghilangkan visual seluruh personel Situs-79 atau personel lain yang terdaftar di basis datanya, jadi penghirupnya hanya akan menarget sisanya.” Lanjut Birmanto selagi dia mengamati pemakainya dengan liar menyerang membabi buta.

“Itu… kubaca adalah kreasi Peneliti Toni Ivansyah.” Herria berkata pelan. “Tertulis kalau dia mengambil inspirasi model dari SCRAMBLE dan mengaplikasikannya untuk masker itu.”

“Tentu saja, perangkat di belakang mereka juga tetap diberi sedatif poten dan peledak yang diaktifkan via ponselku atau Hidayat untuk jaga-jaga.” Birmanto menambahkan.

Hansel hanya bisa menatap agen-agen liar di depannya mulai jatuh satu-persatu karena kehabisan darah. Meski begitu, mereka tetap menggeliat dan mencabik-cabik siapapun yang bisa mereka cengkram. Beberapa personel juga sepertinya mulai menyadari erangan agen-agen itu dan tertegun.

“Selama menjadi penjaga di situs, bahkan aku pun tak pernah melihat sesuatu seperti ini.” Hansel berkomentar pelan.

“Memang tidak.” Birmanto berkata seraya mengeluarkan ponselnya. “Dosa tak pernah dipakai di lapangan sampai sekarang dan itu untuk alasan yang bagus.”

“Umumnya, agen lapangan berhadapan dengan anomali atau organisasi lain, dan untuk itu Yayasan sudah menyediakan strategi untuk tiap skenarionya.” Dia menjelaskan. “Tetapi bagaimana jika seandainya dia berhadapan dengan agen dari situs lain?”

Birmanto mengangkat bahu, “Biasanya, STG luar negeri sana yang mengurus konflik antarsitus. Tetapi, heh… kita cuma situs negara kecil yang terlalu insignifikan untuk diurus mereka. Yayasan pusat tentu saja menyerahkan urusan penyelesaian konflik di sini ke direktur masing-masing.”

Birmanto tersenyum, mencoba menahan tertawa frustasinya. “Di situlah augmentasi dan persenjataan nonstandar dikeluarkan. Contoh yang mungkin kau lihat adalah persenjataan Situs-118. Tombak-tombak bertenaga tinggi itu bisa untuk penanganan anomali, tetapi juga bisa untuk menyerang organisasi atau situs lain.”

Dia mengutak-atik sesuatu di ponselnya. “Secara teori, Dosa adalah augmentasi terbaik Situs-79. Peningkatan panca indra dan pergerakan, integrasi formula regenerasi konstan, serta penghilang rasa sakit. Dengan menghirupnya, seorang agen biasa pun bisa setingkat agen STG yang mampu menghabisi 20 orang sekaligus.”

Dia melirik ke salah satu agen liar yang hanya bisa merangkak pelan dengan satu tangan semata. Dia masih mengerang kesakitan bak hewan. Birmanto memejamkan matanya sebelum kembali menatap ponselnya. “Dan dengan meledakkannya, dia bisa menghabisi beberapa orang lagi. Gasnya mudah terbakar, kau tahu.”

Dia menekan sebuah tombol. Tak berselang lama, ledakan hebat muncul dan beberapa pelayan terpental karenanya.

“Perlu ku katakan, informasi terkait ini memerlukan izin level 4, jadi tiap agen selain dirimu akan kena amnestik kelas C nanti. Kau ingin diberi amnestik juga?” Birmanto menawarkan seraya mengantongi ponselnya.

“Tidak. Aku harus mengingat ini. Mengingat mereka.” Hansel berkata.

Herria melirik ke arah Hansel. “Kau lumayan berubah, Hansel.”

“Sering dengar itu.” Hansel menanggapi.

Untuk beberapa puluh menit, mereka dapat membiarkan para agen penghirup Dosa yang bekerja. Tetapi satu demi satu, mereka tak bisa lagi bergerak dan Birmanto terpaksa meledakkan mereka. kini tersisa satu agen tersisa.

“Siapkan seluruh agen, kita kembali menembak seperti tadi.” Birmanto berkata.

“Anda tak memakai Dosa lagi?” Hansel bertanya seraya berdiri bersama Herria mengawal di depan Birmanto.

“Tidak.” Jawabnya. Dia menoleh dan mengamati agen-agen masih tegang memegang senjata mereka dengan tangan gemetaran. Beberapa masih menatap jalanan penuh darah dan mayat dengan mata terbelalak. “Alasan lain aku tak ingin memakainya jika tak terpaksa adalah… ia cukup menurunkan moralitas. Jelas tak ada yang bersedia mau memakainya sekarang, jadi kita simpan metode paksaan jika kita benar-benar hampir mati nantinya. Itu resep pemicu pembangkangan internal.”

Setelah agen liar terakhir mereka tumbang dengan puluhan garpu taman dan pisau menancap di badannya, Birmanto akhirnya meledakkannya. Dilihat lagi dia lumayan ngeri dan terkesan mereka berhasil menghabisi kira-kira seratus personel lebih dengan lima personel semata dengan itu.

Tetapi sekarang para pelayan masih maju tanpa henti. Birmanto tahu mereka tak akan berhenti. Jangankan moralitas, dia tahu keinginan hidup mereka pun sudah direnggut. Mereka akan bersedia mati demi tujuan mereka. Berbeda dengan mereka, agen Situs-79 hanyalah psikopat biasa. Artinya mereka masih punya insting bertahan hidup, dan saat ini Birmanto dapat menebak insting mereka mengatakan mereka antara mati dihabisi atau mati diledakkan seperti tadi. Dominasi mereka sudah hilang sekarang.

Birmanto terkekeh. Tanpa sadar, dia sudah menemukan solusinya. Dia segera berbalik dan berteriak, “Apa yang kalian lakukan gemetaran seperti itu! Kita akan mati, tapi jangan bilang kalian mau mati ketakutan!”

Dia segera berjalan ke salah satu agen terdekat. Dengan cepat dia mencengkram kerah agen tersebut. “Kalian sudah dihukum di neraka bernama Situs-79! Apakah begitu diangkat kembali ke bumi, setan-setan seperti kalian kehilangan taring dan cakarnya?!”

“Jangan… sembarangnya, pak tua…”

Meski gemetaran, Birmanto dapat melihat wajah agen tersebut. Meski tertutup sebo hitam standar, dia menatap tajam penuh amarah ke arahnya. “…Akan kuhabisi mereka, lalu kuhabisi lagi beberapa sebagai ekstra!”

Beberapa orang di belakang agen itu saling pandang. Beberapa menggenggam erat senjata mereka. “Ya! Kita habisi mereka!” Mereka mulai berteriak. Tetapi sayangnya masih hanya sebagian yang bersemangat. Birmanto tahu mereka perlu lebih dari itu.

"Wir sind die Nachfolger der Jäger, verdammt! Der Führer wird dir bis aus Valhalla ins Gesicht spucken, wenn er es könnte, wegen deiner Feigheit!" Hansel mencoba memotivasi anak buahnya yang jadi agen. Dia menepuk tangannya dengan keras dan loncat ke salah satu kap mobil. Dengan mengangkat tinggi senjatanya yang terpasang pisau, dia berteriak, "Komm schon! Bring den Krieg! Sei der Krieg selbst! Krieg! Krieg! Krieg!"

Sepertinya itu sangat efektif, karena bukan hanya anak buah Hansel, beberapa agen lain ikut berteriak juga. “Serahkan ke orang Jerman untuk membuat pidato perang…” Herria berkomentar, meski dia pun terkesan. Dia tahu Hansel tidak akan dapat menguasai para penjaga situs tanpa kemampuannya itu.

Hujan perlahan mulai turun, bak tertarik mendengar teriakan bersemangat mereka. Angin malam berhembus semakin keras dan tetesan air mulai jatuh dengan lebat. Senapan tak lagi efektif, tetapi itu bukan masalah karena tiap agen memegang erat pisau mereka. Air mulai menyapu bersih darah di jalanan seakan memberikan jalan untuk babak final.

Dan di tengah kekacauan cuaca itu, Birmanto samar-samar mendengar sesuatu. Tiba-tiba, dia terbelalak begitu menyadari apa yang dia tengah dengar. Petir menyambar tak jauh dari mereka, menyinari medan perang.

Para pelayan terlihat ketakutan, mereka menyadarinya juga.

“Apa itu…” Herria dan agen-agen lain juga perlahan mendengarnya. “…Suara gonggongan anjing?”

Belasan gonggongan anjing menggema jalanan yang kini sunyi mati. Cahaya kekuningan baru dapat terlihat mendekat. Banyak cahaya kekuningan. Para pelayan di depan mereka terdengar berteriak dan berlari ke samping seakan memberi jalan.

“Maaf, tetapi sepertinya pidatomu akan sia-sia Hansel.” Birmanto berbisik pelan.

“Kenapa?” Hansel bertanya heran selagi dia mendekat, masih menggenggam senapannya dengan tegang.

Birmanto dapat mendengar di tengah kekacauan itu sebuah suara singular nan dominan. Sebuah suara tapak kuda.

“Tuan mereka sudah datang.”

Petir menghantam sekali lagi. Terlihat siluet seorang penunggang kuda yang merupakan pria berpostur tinggi berada di tengah-tengah mereka. Dari siluetnya, rambutnya panjang dan berantakan tertiup angin. Dia juga sepertinya mengenakan jubah yang terayun kasar di atas kudanya.

“Apa yang kalian lakukan di luar rumah?” Dia bertanya dengan suara berat.

Dia memberi gestur merentangkan tangannya ke depan. Tiba-tiba, seseorang di antara mereka terseret maju ke depan entah bagaimana. Samar-samar dia terlihat memegangi kalung di lehernya dan terdengar sesak nafas karenanya.

“Terkutuk… kau…” Terdengar suara tersengal-sengal Yusuf. “…Neli…”

“Beraninya kau menentang tuanmu.” Dia berkata. Dia memberi gestur mengayunkan lengannya tadi ke samping. Tiba-tiba, sesuatu seakan menarik leher Yusuf melayang naik. Kalung besi di lehernya menghantam keras lampu jalanan rusak dan di sana dia tersangkut karenanya. Dia mencoba mengatakan sesuatu di tengah upayanya bernafas, tetapi pada akhirnya dia mengembuskan nafas pasrah terakhirnya. Petir menyambar kembali memperjelas siluetnya.

Hening selama beberapa saat. Tak ada personel yang berani bergerak, bahkan Birmanto sekalipun. Pria tadi perlahan mengarahkan kudanya mendekati mereka. Dapat terlihat bahwa dia menunggangi kuda hitam, sayangnya selain jas dan celana kusamnya, hujan mengaburkan sisa detail wajahnya.

“Aku berterima kasih kepada kalian telah memberitahukan pembangkangan pelayanku, dan aku meminta maaf mereka telah lancang menyentuh agen-agenmu.” Pria itu berkata dengan hormat. “Aku akan menggantung sisanya saat di situs nanti.”

“Ah, kau tak perlu merepotkan diri menyampaikan detailnya, Kipli.” Birmanto berkata dengan gugup seraya mengibaskan tangannya. “Kami yang berterima kasih kau sudah bersedia tiba secepatnya untuk mengurus masalah ini. Untuk menghemat waktumu untuk… eksekusimu, ku rasa kami bisa pergi sekarang, ya.”

Pria itu mengangguk dan segera memberi isyarat bagi para pelayannya untuk membuka jalan. Birmanto sendiri segera memberi isyarat para agen segera masuk ke kendaraan mereka masing-masing termasuk dirinya sendiri.

“Kipli?! Tolong bilang itu memang nama pria itu dan kau bukan sengaja memanggilnya begitu?!” Herria berbisik di dekatnya dengan khawatir.

“Zulkifli. Direktur Situs-283.” Birmanto menjawab. “Dia hutang koneksinya sekarang padaku. Anak itu dulu sangat temperamental, tetapi dia seharusnya sudah belajar mengendalikan amarahnya sekarang.”

Tepat sebelum mereka masuk mobil, Zulkifli berkata, “Kusarankan kalian bergegas pergi ke mana pun tujuan kalian. Triad merencanakan aksi balasan dari pengeboman Situs-183. Kami standby di rumah aman dekat gunung sini untuk itu.”

“Ah… itu menjelaskan bagaimana kalian bisa secepat itu dari Jawa Timur, dan bagaimana pelayanmu bisa ada di sini sejak awal.” Birmanto menanggapi. “Kau tahu aku baru sadar nomor designasi kalian mirip. Kebetulan yang menarik, bukan?”

Zulkifli tak memedulikan upaya humor Birmanto yang jelas hanya untuk meredakan ketegangannya. Dia lebih memilih berkata, “Saya tak akan mengharapkan keberuntungan pada kalian. Anda bisa membuat keberuntungan anda sendiri, bukan?”

Birmanto terkekeh selagi dia membuka pintu mobil. “Kan aku yang mengajarimu.” Dan dia terlihat percaya diri saat mengatakannya.

Dengan itu dia masuk kembali ke mobil. Setelah menutup pintunya, baru dia menyadari Herria dan Hansel menatapnya dari kursi depan.

“Pak, apa maksudnya kita kemungkinan akan diserang lagi?!” Hansel bertanya dengan tegang.

“Ku kira anda sudah mengurus urusan relasi dengan situs lain, Pak?!” Herria ikut bertanya dengan panik.

“Tenang dulu, Kipli di sini hanya untuk jaga-jaga semata sampai tiga situs Triad membuat keputusan akhir. Wajar saja karena dia penanggung jawab seluruh Situs Asisten di Pulau Jawa.” Birmanto menjelaskan. “Dan kupastikan keputusan itu tak akan dibuat, jadi tenang saja.”

Mereka menatap Birmanto dengan tatapan tak yakin. Hidayat memberikan anggukan bak menjamin pernyataannya. Meski masih ragu, mereka memilih percaya kepada perkataan Birmanto. Hansel perlahan menyalakan mesin dan segera mengikuti truk lain yang satu-persatu maju di depan mereka.

Mereka melewati deretan panjang para pelayan yang Zulkifli buat menepi di sepanjang jalan. Deretan lentera yang mereka pegang menjadi pencahayaan kecil mereka. Jumlah mereka sendiri di luar perkiraannya. Sepertinya Zulkifli sendiri membawa ratusan pelayan baru saat dia tiba tadi. Berbeda dengan pelayan yang mereka hadapi tadi, beberapa bahkan menenteng senapan berburu di punggung mereka. Mereka praktisnya akan habis jika sampai harus melawan mereka semua, bahkan jika memakai Dosa sekalipun. Gonggongan puluhan anjing di luar tak dapat diredam dan terdengar nyaring sepanjang jalan.

Дико…” Herria menggumam. Sebuah pemandangan yang menakjubkan dan menakutkan.

Mereka akhirnya selesai melalui deretan para pelayan itu dan kembali ke perjalanan. Dia melirik kembali ke jam tangan dan mendapati sudah pukul sembilan lebih sekarang. Hujan di depan mereka masih turun dengan derasnya, tetapi dia dapat melihat tak jauh dari sini deretean lampu jalanan yang tak terpengaruh konflik mereka tadi. Tak lama lagi, seharusnya mereka sampai di perkampungan kembali.

“Ada sebuah istilah lokal yang diciptakan oleh Situs-118.” Birmanto berkata, mengisi kesunyian di dalam mobil. “Tak bisa dibilang diciptakan sih, mengingat mereka mengutipnya dari tempat lain. Tetapi tetap saja, mereka memang yang pertama memakai istilah itu di sini.”

“Istilah yang digunakan jika sebuah kelompok yang merepresentasikan sebuah situs bertemu dengan kelompok serupa dari situs lain di sebuah lokasi di luar lingkungan Yayasan.” Birmanto menjelaskan. “Itu disebut gam.”

Dia menepuk kedua kursi penumpang di depannya. ”Selamat atas gam pertama kalian.”


Setelah setengah jam lagi di perjalanan, mereka akhirnya sampai di daerah berpenduduk. Kendaraan kini terlihat lalu-lalang di sekitar mereka. Sayangnya jumlahnya tak banyak karena kini sudah pukul sepuluh.

Setidaknya mereka dapat melihat cahaya kehidupan dari rumah-rumah di sekeliling mereka. Hujan sudah mereda, hanya rintik kecil yang tersisa. Jalanan di depan mereka berkilau karena pantulan lampu mobil yang menghantam permukaan licinnya.

Konvoi berjalan sedikit lebih lambat dari sebelumnya. Selain mewaspadai upaya serangan mendadak seperti tadi, mereka juga memperhatikan jalanan licin yang jelas berbahaya jika dilalui kendaraan berkecepatan tinggi.

Tetapi tiba-tiba, tak seharusnya mereka melambat lebih jauh dari ini.

Satu-persatu truk di depan mereka melambat dan berhenti bergerak. Sebelum mereka sempat mengecek, radio kembali berderak memecah kesunyian mobil. Hansel meraihnya dan segera bertanya ada apa.

“Pak, ada sebuah ambulan datang dari arah berlawanan.” Suara dari radio berkata.

“Lalu apa masalahnya?” Hansel bertanya heran seraya membuka

“Pak, itu ambulan dari Situs-84.”

Tak perlu mendengarkan lebih jauh lagi, seluruh personel di mobil segera keluar. Mereka, diikuti agen dari mobil di belakangnya dengan cepat berlari ke depan konvoi. Memang benar, terdapat sebuah mobil ambulan dan sebuah mobil hitam di dekatnya yang sepertinya satu rombongan.

Personel mereka sudah keluar dari mobil. Beberapa tentu saja menodongkan senjata ke arah mereka.

Beberapa lagi mengangkat tangan dan berteriak.

“Tenang! Tenang! Kami bantuan medis!” Seru salah satu di antara mereka.

Tentu saja agen Situs-79 tidaklah semudah itu menurunkan senjata. Herria maju ke depan dan berteriak, “Turunkan senjata kalian semua! Turunkan!”

Birmanto perlahan mendekati Hidayat. “Hidayat, pastikan Lira tidak keluar dari mobil apa pun yang akan terjadi.”

Hidayat segera mengangguk mengerti dan berlari ke belakang konvoi. Birmanto kini berbalik mengamati situasi di depannya. “Seseorang tolong jelaskan apa yang terjadi di sini!” Dia ikut berteriak.

Menjawab itu, seorang personel pria maju ke depan. Dia tidaklah mengenakan helmnya, dan terdapat ikatan perban merah bekas luka di lengan dan kakinya. “Kami… kami relawan untuk Situs-84. Kami cuma tim medis!”

“Turunkan senjata kalian, blyat!” Herria sedari tadi memerintah. Sayangnya mereka pun tegas dengan permintaan mereka sendiri.

“Turunkan senjata kalian dan biarkan kami pergi!” Mereka berteriak.

Herria perlahan mendekati Birmanto. “Pak? Apa kita perlu menggeledah mereka?”

“Menurutmu mereka mau kita mendekat?” Birmanto bertanya balik. Herria hanya mengangkat bahu dan kembali memerintah.

Di tengah keributan akan siapa yang harus menurunkan senjata. Beberapa mobil lagi muncul dari arah berlawanan, semakin memperkeruh keadaan.

“Sial, kalian menunggu backup?!” Herria berteriak dan menodongkan senjatanya.

Beberapa personel baru muncul, tetapi seragam mereka lebih kecokelatan dibandingkan seragam agen lainnya. Beberapa segera ikut menodongkan senjatanya.

¡Somos personal de la Fundación y necesitamos ir inmediatamente!

Birmanto terbelalak mendengarnya. “Yang benar saja…” Dia menggumam. Selagi Herria masih berupaya mengendalikan situasi meski dia pun bingung sendiri, Birmanto segera melakukan panggilan secepatnya.

Setelah mendengar bunyi panggilan selama beberapa saat, begitu terhubung dia langsung berkata, “Tolong katakan cara bilang ‘tahan senjata kalian’ dalam bahasa Spanyol!”

Begitu dia mendapat jawaban, dia segera berlari kembali ke samping Herria dan berteriak, “¡Esperen! ¡Esperen! ¡Bajen el arma!

Meski Birmanto meneriaki itu, para personel asing itu tetap terus berteriak balik seraya menodongkan senjatanya,

¡Nuestro equipo está herido y necesita ayuda rápido! ¡Hagan paso!

Relax! Relax!” Birmanto akhirnya tak sabaran dan beralih ke Bahasa Inggris semata seraya kembali ke panggilan. “Kau dengar itu kan, jadi bagaimana bisa mereka ada di sini?!”

Entah apa yang Birmanto dengar, tetapi sepertinya mereka tengah berdebat. “Aku tak main-main, Direktur Nima! Ini Zetas yang kita hadapi di sini! Kau tak menerima ajakan Harper bukan?! Bagus, cek penjadwalan pulang-pergi tamu kalian segera!”

Di tengah upayanya menelpon, terdengar suara tembakan. Birmanto langsung berbalik, di saat yang bersamaan keributan kembali pecah dengan kedua belah pihak saling berteriak kembali. Suara tembakan terdengar satu-persatu, sepertinya masih berupa peringatan.

“Apa? Dapat?!” Birmanto tiba-tiba berkata ke telepon. “Bagus, kau hutang budi kepadaku nanti.” Dia mengakhiri panggilan segera.

Dia segera mendekati Herria dan tanpa basa-basi, segera meraih senapan Herria dan menembaki mereka. Para agen terpaksa ikut menembak dan beberapa menerima tembakan balasan. Baku tembak pecah dan setelah beberapa saat, keadaan hening kembali. Sepertinya para agen sudah mengunci target mereka masing-masing tadi sebelum tembakan dilontarkan sehingga tak banyak perlawanan. Birmanto tahu itu, itu strateginya.

“Pak, apa-apaan itu tadi?!” Herria berseru marah.

“Itu jebakan.” Birmanto menjawab, membuat Herria terdiam. “Ini tadi jebakan!” Birmanto berteriak ke sisa agennya.

“Serius, menurutmu mereka mau ke mana dengan mengambil rute ini? Mereka tengah mencoba menyusup ke situs kita lewat jalan belakang, sama seperti kita!” Birmanto menjelaskan.

“Tapi mereka bisa saja memang dikirim untuk menolong… entahlah, para pelayan yang kita lawan tadi?” Herria menyanggah.

“Kalian dengar Kipli, kan? Mereka standby di sini untuk membalaskan serangan Situs-84. Selain pecahan yang kita lawan tadi, mereka tidak terafiliasi sedikitpun seharusnya.” Balas Birmanto.

Herria tak bisa membalas itu segera. “Dan itu membawa kita pada masalah yang lebih serius sekarang…” Birmanto menambahkan.

Dia melangkah ke depan, mengamati mayat-mayat personel di depannya. Dia menarik salah satu personel di kerahnya naik. “Situs-114 baru saja menemukan bahwa sekumpulan agen dari luar negeri hilang tanpa kabar sejak beberapa hari yang lalu.” Birmanto melanjutkan. “Kemungkinan terburuk adalah agen-agen hilang itu menerima tawaran Harper. Jika kita tak tembak mereka lebih dahulu tadi, kita dijamin mati!”

Birmanto menurunkannya dan menyandarkan dirinya di samping mobil ambulan yang masih menyala. Terlihat dia sendiri kelelahan memikirkan nasib mereka semua.

“Baik, kita perlu segera pergi ke Jakarta segera!” Birmanto memerintah kepada para agen. “Semakin lama kita di-“

Kata-katanya berhenti secara tiba-tiba. Birmanto diam tak bergerak, tetapi wajahnya menunjukkan dia kembali menyadari sesuatu. Dengan segera dia berlari ke belakang mobil ambulan itu.

“Terkutuk kau Harper!” Dia berteriak dari belakang.

Herria dan beberapa agen lain termasuk Hansel segera bergegas mengecek apa yang terjadi. Mereka menemukan Birmanto tengah tertawa pasrah di belakang. Pintu belakang ambulan sendiri telah terbuka. Herria dengan cepat membukanya lebih lebar agar dapat melihat isinya dengan jelas.

Dia juga mendengar bunyi detak itu.

Di depan mereka, terdapat beberapa tong dengan sebuah perangkat kendali di atasnya. Ia memiliki panel di permukaannya, menunjukkan enam digit slot angka berisikan 02:52:43 dalam warna merah. Terus menurun dalam hitungan detik.

Herria hanya bisa mengatakan dua hal, “Cука блять…”


“Jadi bagaimana?” Birmanto bertanya.

Empat orang agen di depannya satu persatu menggeleng. “Ayolah, kalian berdua bekas Gegana sebelum mengurus SCP-007-ID!” Birmanto memprotes tanda menyerah mereka.

“Terlalu rumit, Pak! Kita perlu ahli bom minimal satu lagi untuk memastikan kesuksesan.” Salah satu di antara mereka membalas.

“Sebenarnya ada salah satu penghirup Dosa tadi yang merupakan bekas kru David juga.” Hansel yang ikut mengawasi memberi pengakuan. “Mau gimana, ku lihat dia agak terobsesi dengan seseorang dan kemungkinan besar merencanakan pelanggaran penahanan SCP-007-ID lagi dalam waktu dekat. Mungkin dia tangan kanannya David…”

Birmanto lalu menoleh ke Herria di belakangnya. “Kau serius tak bisa menjinakkan bom ini?”

Herria hanya menggeleng. “Maaf, Pak. Pengalamanku di Siberia selain menembak berkisar di perakitan senjata api semata. Pernah menerbangkan pesawat dan Zepelin juga, sebagai tambahan.”

“Bagaimana dengan anda, Pak? Tak mencoba meminta Situs-188 ke sini saja daripada video call?” Herria balik bertanya.

“Kau tahu sendiri kan, kita cuma punya waktu sejam. Kita cuma bisa bergantung ke instruksi jarak jauh yang mereka dapat tadi. Tak ku sangka dengan itu pun masih bisa menemukan jalan buntu sampai mereka menyerah.” Birmanto membalas. “Tak bisa banyak membantu hanya bermodalkan video jarak jauh semata, ya…”

“Ku rasa kita cuma bisa menunggu sekarang.” Katanya dengan pasrah. Dia duduk di ban samping ambulan yang tetap mereka biarkan menyala; kata mereka jika mesin sampai mati akan memicu ledakan prematur.

Di tengah-tengah pekerjaan mereka, terdengar bunyi kendaraan dari kejauhan. Para agen kembali tegang dan dengan segera menodongkan senapan mereka kembali. Sekarang sudah pukul sebelas malam lebih. Mereka menghabiskan waktu menyebar amnestik ke rumah warga di sekitar jalanan selain mencoba menjinakkan bom. Moto Secure menjadi prioritas utama dibanding lainnya. Jadi wajar saja jalanan sepi selain oleh kendaraan mereka.

Cahaya lampu kendaraan asing itu samar-samar terlihat. Kelihatannya seperti dua buah motor mendekat. Herria menoleh ke Birmanto dan berkata dengan tegang, “Pak, apa kita tembak yang ini juga?!”

Birmanto menggeleng. “Tahan tembakan, mungkin mereka orang yang ku tunggu tadi.”

“Maaf?”

Kedua motor itu berhasil mendekat dengan aman, meski para agen yang tengah menodongkan senapan mereka. Seorang laki-laki mengendarai motor pertama dan seorang perempuan mengendarai motor kedua. Mereka masing-masing membonceng penumpang yang sepertinya bersandar di punggung mereka.

“Sampai juga akhirnya kalian” Birmanto berdiri dan mendekati mereka, menurunkan senapan Herria. “Panji, Judy.”

"Good t’ see ya, boss." Pria pengendara motor itu berkata seraya membuka helmnya. Wajahnya sendiri lumayan babak belur dan dia kehilangan beberapa gigi, entah baru saja atau sudah lama. Meski sekilas dia mengenakan pakaian kerja seragam putih dan celana hitam, pakaiannya cukup kotor penuh noda dan bercak merah bak dia pekerja kasar. “Bisa turunkan senjata kalian dulu sebelum kita bicara?”

“Peneliti Senior Panji? Apa yang kalian berdua lakukan di sini?” Herria bertanya. Para agen perlahan menurunkan senapan mereka juga begitu menyadari dia personel mereka.

"Nothin’ much, just fetchin' this bloke 'ere." Panji menjawab seraya menjatuhkan orang yang diboncengnya ke samping. Dia merupakan seorang pria yang mengenakan jas cokelat berkerah biru. Terdapat beberapa luka juga termasuk luka lebam di wajahnya. Mungkin itu penyebab kenapa dia tak sadarkan diri.

“Apa yang… Peneliti Senior Darel??” Herria menatap keheranan ke pria yang terbaring di jalan.

Oi, drop ‘er.” Panji berkata ke sampingnya. Perempuan yang bersamanya mengangguk dan menjatuhkan penumpangnya. Seorang perempuan juga, tetapi dia mengenakan jas hujan kuning kotor.

“Kalau ini Darel artinya itu Agen Anna, bukan?” Herria bertanya penuh kebingungan.

“Yeah.” Panji membalas singkat. Dia mendekati Darel dan segera memukul pipinya. Darel langsung tersadar karenanya. “Ow!”

Wakey wakey matey.” Katanya dengan nada mengejek. Dia juga memberi instruksi ke pasangannya untuk membangunkan Anna juga.

“Tapi bagaimana kalian semua bisa ada di sini?? Kan ada blokiran di jalur biasa.” Herria lanjut bertanya.

Simple.” Panji menjawab seraya membuka jok motornya. Dia mengambil jas labnya yang masih putih bersih di dalam dan mengenakannya. “Semua dimulai pagi tadi.”


Siang tadi

“Sayang, gak ada salahnya lu rawat lukanya. Udah diurus Kak Lira sebelum pergi tadi, tinggal rapikan aja jahitannya itu. Please Ulya, ya?” Seorang pria berkata. Dia tidaklah mengenakan baju karena bagian dadanya tengah dibalut diperban putih. Dia terbaring di ranjang, menoleh ke satu-satunya staf di ruangan itu, seorang perempuan berjilbab dan berbaju oka yang tengah mencatat perlengkapan bangsal medis lantai mereka di ranjang di seberangnya.

“Tapi Mas Saimu, lu tau kan aku gak mau.” Ulya memelas seraya melanjutkan catatannya.

“Tapi masa lu gak keganggu dari tadi ama Judy?” Saimun membalas seraya memberi gestur ke samping.

Ranjang disampingnya diisi seorang pria yang terbaring dengan kaki kirinya terangkat dan penuh luka jahit. Dia tak sadarkan diri karena anestetik selama perawatannya tadi. Di sampingnya, seorang perempuan yang mengenakan bonnet putih terisak dengan sedih.

Orang biasa mungkin akan iba dengannya sampai dia memperhatikan kalau yang disandarkan di apron putih perempuan itu merupakan sebuah senapan gentel yang dia punya, bagian stoknya masih memiliki noda darah.

"Oi'm finished!" Perempuan itu meratap seraya memegangi senapannya dengan gemetaran. "Wot'd I pull the trigger for, then! 'E's gonna kill me! Oi'm finished!" Dia terus menggumam tanpa memedulikan sekitarnya.

“Gak paham aku ama perempuan itu… Dia seakan nungguin dipukuli lagi.” Saimun menggeleng seraya menutup telinganya dengan bantal.

“Azab itu. Mentalnya jadi keganggu.” Ulya mengomentari. “Makanya aku ga berani ngurus. Pamali ntar.”

“Serius, Ulya. Lu ga bakal bisa pindah situs kalo milih-milih pasien mulu. Mayoritas peneliti di Yayasan itu Kristen.” Saimun berkomentar. “Gak bisa selamanya bergantung ama gue atau Kak Lira.”

“Yah… mau gimana mas? Aku… ga bisa aja gitu nyentuh langsung!” Ulya masih memelas.

Saimun hanya menghela nafas, sudah lama memaklumi religiosentrisme pasangannya. Selain dari itu, dia sebenarnya merupakan perempuan baik dan rajin, bahkan sangat rajin dibandingkan dirinya. “Ya sudah, sayang. Kita tungguin Lira aja yang rawat Panji entar, ya.”

Alhamdulillah, makasih banyak mas!” Ulya segera turun dari ranjang dan memeluk Saimun.

Tetapi di tengah kedekatan mereka berdua, seorang penjaga tiba-tiba memasuki bangsal medis. Dia memberi jalan untuk seorang lagi masuk ke dalam. Seorang perempuan yang mengenakan jas lab yang melapisi kemejanya. Berbeda dengan Lira, dia tidaklah memakai kacamata. Rambut panjangnya juga tidak dijadikan ponytail, tetapi dicepol.

Ulya yang melihatnya langsung berteriak, “Setan!” seraya hendak menerjang maju. Untungnya Saimun bertindak cepat dan menahannya meski itu sepertinya memengaruhi jahitan lukanya sendiri.

“Ngghhh… Radia?! Ngapain kau ke sini?!” Dia juga bertanya dengan nada tak senang.

“Lihat, Pak Penjaga! Sudah saya bilang saya tak yakin bisa aman di lantai ini.” Radia berkata dengan takut ke penjaga di sampingnya. “Entah apa yang Lira ajarkan ke mereka, tetapi mereka saja memusuhiku. Perang faksi mengerikan lantai ini membuat semua orang saling tak percaya…”

“Maaf meragukan anda tadi, Bu Radia. Saya akan coba diskusikan lagi untuk nambah orang.” Penjaga itu berkata dengan nada menyesal. Dia lalu menoleh ke arah dua orang staf yang ada di ruangan dan berkata, “Kalian berdua tolong dengar, Bu Radia di sini menggantikan Bu Lira sebagai kepala bangsal medis lantai ini dan lantai atas juga selama Lira di lapangan. Dia orangnya ramah, jadi tolong bersikap baik padanya ya.”

Ulya ingin membantah, tetapi Saimun menggelengkan kepalanya untuk menghentikannya. Setelah penjaga tadi bergegas pergi, Radia perlahan menutup pintunya.

“Ahh… sudah lama aku tak kemari~” Radia perlahan melangkah mendekati mereka. Berbeda dengan ekspresinya sebelumnya tadi, dia tersenyum puas mengamati sekeliling ruangan. Tangannya membelai lembut tiap pinggiran ranjang yang dilaluinya seakan dia merindukannya. “Sebelum kalian berdua tahu apa itu Yayasan, aku yang bekerja bersama Lira tersayangku~”

Dia memegang dokumen-dokumen yang diurus Ulya tadi di salah satu ranjang. Dipegangnya papan klip yang menahannya selagi dia membaca isinya dengan tersenyum. “Sampai dia mengkhianatiku.”

Tiba-tiba dia melempar papan klip itu ke arah meja Lira yang kosong, mengagetkan semua orang termasuk Judy yang tadinya masih menggumam sedih. "Oi, gak bisakah aku meratap dengan tenang?!” Dia komplain dengan marah.

Tetapi Radia tak memedulikannya selagi dia terus berjalan ke meja Lira. “Kau mempermalukanku, satu-satunya temanmu! Membuatku dikirim ke atas sana, terisolir sendirian tepat di samping ruang mesin yang menyala 24 jam!”

Dia mengambil salah satu pisau bedah di lemari dengan kasar. “Itu bukan salahku!” Dia berteriak seraya menghantamkan pisau itu ke meja. “Itu salahnya!” Dia terus menghantam meja dan menghasilkan puluhan bekas tikaman di sana.

Akhirnya setelah beberapa tikaman, dia hanya diam seraya mengatur nafasnya. Perlahan dia berbalik, masih menggenggam pisau bedah tadi. Ulya reflek berdiri di depan ranjang Saimun seraya berkata, “Apa- apa yang kau mau lakukan!? Aku sumpah jika kau sampai mau menyakiti Mas Saimun demi-”

“Gak, ngapain.” Radia tak memedulikan Ulya dan terus berjalan melewatinya, membuat Ulya dan Saimun heran. Dia mendekati ranjang di sebelahnya dan menatap pria yang terbaring. Dia menoleh ke Judy yang masih menggenggap senapan gentelnya dengan gugup dan waspada. “Mau apa kau?!"

“Merawat lukanya.” Radia berkata seraya mengamati badan pasien di depannya. Dia meraih perban dan benang yang sepertinya dia ambil di lemari sebelumnya seraya bersiap memakai pisau bedah tadi untuk memotong. “Kau Peneliti Senior Juanita Diana, kan? Dan ini suamimu Panji Emilio?”

Judy mengangguk mengonfirmasi nama lengkapnya dan pria di sampingnya. “Bagus. Aku perlu suamimu dirawat secepatnya.” Radia berkata seraya mulai membersihkan luka di kaki pria yang terbaring. “Aku dititipi pesan oleh Kak Heliza tadi. Dia punya tugas untuk kalian berdua di luar situs. Dua orang peneliti senior rupanya hilang tanpa kabar sampai sekarang. Dia bilang kalian kenal mereka, Peneliti Senior Darel Mahendra dan Agen Marianna”

Bollocks! Kak Heliza meminta kami pergi keluar sana dan mencari saingan kami? Mereka mengkhianati faksi kami sekarang!” Judy menyanggah.

“Ah, ya.” Radia menepuk kepalanya. “Heliza bilang sesuatu mengenai perang faksi ditiadakan sekarang. Kalian bisa konfirmasi ke atasan kalian Si… Peneliti Senior Frederick rasanya. Tanya aja dia nanti. Aku tak pernah peduli perang faksi bodoh kalian di sini atau pun di lantai atas sana, tetapi Heliza lumayan membantu mengajariku kerajinan tangan di tengah kebosananku.”


“Itu kata Radia.” Judy selesai menceritakan.

“Tch, dan harinya masih hujan lagi…”

Panji mengeluh. Segera setelah lukanya ditutupi seluruhnya dan dia bisa bergerak kembali, dia disuruh keluar situs untuk memulai pencarian. Dia membonceng istrinya seraya dirinya mengendarai motor menembus hujan yang masih mengguyur di siang hari itu.

Oh, Bloody Hell!” Panji tiba-tiba berseru.

Judy dengan panik bertanya, “Ada apa?”

Panji dengan kesal menjawab, “Razia. Mana gue ninggalin dompet di situs lagi!”

Di depan mereka, meski samar karena hujan, bisa dilihat semacam pos dan tenda berisi kumpulan orang-orang yang tengah berdiri mengamati jalanan. Tak banyak kendaraan yang antri di depan mereka – hanya beberapa motor dan satu mobil – sebelum akhirnya tiba giliran mereka.

Seorang pria berseragam gelap dengan rompi melindungi seragamnya mendekati mereka, masih terlindung di tenda. “Selamat siang, apa bisa cek surat-suratnya sebentar?”

“Jangan keceplosan pake Bahasa Inggris.” Judy berbisik pelan di balik jas hujan besar yang mereka kenakan.

I know, you-“ Panji hendak membalas kesal, tetapi tiba-tiba tersadar dia masih di tengah razia publik. Dengan segera dia menoleh ke arah pria berseragam gelap tadi dengan senyum memelas, “Ehem, maaf Pak. Tapi saya ketinggalan dompet di… rumah. Ini saya masalahnya buru-buru nih. Jadi apa bisa dibantu?”

Pria berseragam gelap itu menghela nafas seraya memberi instruksi tunggu sebelum berjalan ke rekan-rekannya yang tengah duduk di depan meja dengan laptop dan perangkat lainnya.

“Psst, Judy, kasih gue senapan lu.” Panji berbisik seraya tangannya meraba-raba ke belakang.

Hell nah! Ingat lu hampir di kursi listrik oi!” Judy reflek menjauhkan diri dan senapan gentel yang ditentengnya di bahu mundur sedikit ke belakang.

Why, you-“ Panji berkata kesal, tetapi tiba-tiba dia menyadari pria tadi berjalan ke arahnya. “Maaf pak, bisa hadap ke kamera di sana sebentar?” Pria itu menunjuk ke sebuah kamera yang terpasang di tripod depan meja, terhubung ke laptop.

Bloody hell… masuk data publik gue…” Panji berbisik pasrah seraya menghadap ke kamera. “Nanti Yayasan bisa ngehapus kok, meski kudu lapor ke Pak Herria ntar.” Judy membalas pelan.

Yang tak mereka ketahui adalah sebenarnya orang-orang di depan meja tengah menjalankan deteksi wajah dan tengah mencoba mencocokkannya dengan basis data Yayasan. Tetapi setelah beberapa menit pencarian, wajah penuh luka Panji yang kehilangan beberapa gigi tak cocok dengan foto resmi personel situs mana pun.

Begitu memberi sinyal dengan menyilangkan kedua lengan. Pria berseragam gelap di depan Panji berkata, “Baik, lanjutkan perjalanan kalian sana. Antrian jadi panjang karena kalian.”

Dengan kibasan mengusir dari pria tadi, Panji segera melaju melewati siluet bangunan rumah sakit familiar yang tak dia sadari telah dia berhasil lewati dengan aman. Setelah jalanan sedikit sepi akan rumah orang, Panji memelankan kendaraannya. “Judy, turun bentar.”

Judy keluar dari lindungan jas hujan Panji dan berdiri di sampingnya. Panji sendiri ikut turun dari motornya dan segera mengamati tanah di pinggiran jalan. Tak berselang lama, dia meraih sebuah ranting di tanah dan tanpa berpikir panjang menghantam kepala Judy dengan itu sampai patah.

That's the way to do it, ya bastard!” Panji melampiaskan kekesalannya.

You absolute muppet!” Judy balas berteriak dan menghantam Panji dengan stok senapan gentelnya. Mereka berkelahi di jalan selama beberapa menit sebelum keduanya cukup kelelahan dan melanjutkan perjalanan seakan tak terjadi apa-apa barusan. Bahkan mood mereka naik.


Tempat yang menjadi tujuan pencarian seharusnya merupakan bekas bangunan yang kini hanya tinggal reruntuhan besar dan puing semata. Meski begitu, keadaan di halamannya penuh akan orang.

Kerumunan besar orang-orang berseragam gelap yang beberapa memiliki perlengkapan taktis lengkap tanpa hentinya menyerbu dan menyerang bermodalkan baton sampai pukulan mereka. Dan lawan mereka hanyalah dua orang personel kelelahan di tengah-tengah lapangan.

Well, would ya look at that, then!” Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan. Panji, kini entah kenapa memakai helm London Bobby berkata seraya melangkah mendekat. Di sampingnya, Judy – mengenakan bonnet dan apron putih – mengiringi seraya memegangi payung untuk mereka berdua. “Si Romeo Darel, dan Julietnya Anna Sang Jackrabbit.”

“Panji?!” Darel berkata dengan heran di tengah upayanya menghantap para personel yang menyerang dengan tongkat kayunya. Anna, sayangnya, terbaring di samping Darel. Meski terpejam, dia masih hidup dan bernafas.

Nice to see ya both gettin' a proper wallopin’ this noon, innit?" Panji mengejek mereka, tak sadar dia tersenyum puas meski dengan wajah babak belur seperti biasa.

“Kami sedikit sibuk di sini! Jika kalian berdua sampai ke sini, artinya ada sesuatu yang penting yang harus kami tahu segera. Jadi ada apa?” Darel bertanya tergesa-gesa di tengah ayunan tongkatnya.

“Hahh… Heliza bilang perang faksi selesai sekarang. Dia meminta kami mencari kalian.” Jelas Panji.

“Oh, serius? Itu kabar baik, kau tahu!” Darel tersenyum senang di tengah usahanya melawan. “Tetapi, kau tahu? Kedatangan kalian adalah kabar yang lebih baik lagi.”

Beberapa orang-orang yang mengelilingi Darel dan Anna sepertinya mulai menyadari kehadiran Panji dan Judy. Mereka perlahan mendekati mereka.

“Kami sangat perlu distraksi.”

Panji dan Judy menatap gugup ke kumpulan orang yang kini mendekati mereka. “Uhh.. sebenarnya aku sudah dari tadi bertanya-tanya, tapi apa yang salah dengan mereka?” Judy bertanya gugup seraya mulai menarik senapan gentelnya.

“Haha… kami masih belum tahu persis jawaban akan itu. Mereka bekas personel situs ini, tetapi entah kenapa mereka tak merespon perkataan kami. Mereka hanya terus bertanya-“

Why tea served in the afternoon?” Salah satu orang yang mendekati mereka bertanya seraya terus melangkah.

“Huh?” Panji reflek berkata heran. “Apa maksudnya itu??”

“Sekali lagi, kami saja tak tahu jawabannya. Itu kode verifikasi spesial antarpersonel situs sepertinya.” Darel menebak.

“Oi Judy, kau bisa menebak jawabannya?” Panji berkata. Dia tak menoleh ke arah Judy, tetapi mengamati sekelilingnya.

Cor, 'ow would I know that?!” Judy membalas. “Uhh… Because it’s tea time?”

Orang-orang di depannya berhenti selama beberapa saat. Sayangnya hanya beberapa saat sebelum mereka sepenuhnya menyerbu maju untuk menyerang.

Judy ya bloody bastard!” Panji berseru kesal. Matanya akhirnya menemukan apa yang dia cari dan dengan segera tangannya meraih ke sisa puing-puing di bawahnya. Dengan cepat dia menarik sebuah potongan papan kayu dan menghantam keras orang terdepan dari rombongan.

It ain't me fault, ya muppet!” Judy membalas seraya mulai ikut maju menghantam lawannya juga dengan stok senapan gentelnya.

Berbeda dengan Darel dan Anna yang dikerumuni, kerumunan orang yang Panji dan judy lawan datangnya cuma dari satu arah saat ini, yaitu depan. Jadi mereka perlahan terus memaksa maju dengan memberi memar kepala dan badan pada tiap ayunan.

Panji melirik ke sekeliling. Sebanding dengan jumlah orang yang mengerumuni mereka, terdapat pula puluhan orang yang sudah terlebih dahulu tergeletak di tanah. Semakin banyak jumlahnya terkumpul di dekat Darel dan Anna. Terdapat beberapa pisau menancap di badan mereka, jadi sepertinya mereka tak akan bangun lagi. Bukannya mereka peduli akan itu, tetapi sepertinya jumlah orang yang mereka semua hadapi lebih dapat ditangani karenanya.

Dia melirik ke pasangannya Judy. Dia secara legal memiliki sekitar tujuh peluru untuk senapannya – awalnya delapan, tetapi satu sudah dihabiskannya pagi tadi tanpa sengaja. Dengan mempertimbangkan mereka boleh dibunuh, dia bisa meminta Judy memakainya untuk membersihkan lokasi. Masalahnya beberapa orang di depannya memakai rompi standar personel yang antipeluru. Setidaknya itu bisa membuat mereka terjatuh, jadi itu rencana daruratnya. Jika dia minta bidik lebih tinggi agar mengenai kepala saja, peletnya mungkin akan mengenai Darel tanpa sengaja. Terlalu berisiko baginya, konsekuensinya sama sekali tak sepadan.

Jadi mereka hanya bisa terus mengayunkan senjata mereka dari jarak dekat. Satu persatu musuh tumbang. Tak dipedulikannya apakah mereka bangun lagi atau tidak, mereka terus maju mencoba berkumpul dengan Darel dan Anna. Meskipun dia tak akan mengakuinya langsung, Panji tahu dia dan Judy hanya hebat dalam menerima pukulan dibandingkan mengantarkannya.

“Sejujurnya kau… ngghh, lumayan hebat bisa sejauh ini. Kalian berdua dinyatakan hilang seharian penuh, kau tahu?” Panji akhirnya bisa cukup dekat dengan mereka sehingga tak perlu berteriak.

“Hanya melakukan apa yang paling bisa aku lakukan.” Darel membalas seraya terus mengayunkan. Tetapi setelah melihat dari dekat, dapat dilihat dia sangat kelelahan.

Panji terkekeh melihat kegigihan Darel. “Apa? Menipu, mencuri, mencurangi faksi kami?”

“Ngghhh… Bukan,” Darel sedikit emosi mendengarnya. Itu membuatnya bisa mendorong menjauh lawan di depannya dengan tongkatnya. Dia menoleh ke arah Panji, tetapi tanpa sengaja, itu membuatnya sekilas melihat pergerakan tepat di sampingnya. Dia reflek segera mengayunkan tongkatnya dan menghantam lawannya yang ternyata berhasil menyelinap tepat di belakangnya dengan sebuah bongkahan puing besar terangkat, hampir saja berhasil menghantamkannya ke kepalanya. Karena reaksi cepat Darel, dia yang jatuh duluan.

Setelah kondusif, Darel baru bisa menjawab, “…Bertahan hidup! Gak di sini, gak di situs, aku cuma pengen tetap hidup, kau tahu!”

Darel akhirnya mengambil nafas dan menenangkan dirinya. “…Sepertinya aku pun tak bisa melakukan itu…”

Setelah bertopang di tongkatnya selama beberapa saat, Darel akhirnya kehilangan kesadaran dan ambruk. Tetapi tepat sebelum dia menyentuh tanah, Panji berhasil mencengkram kerahnya. “Rest assured. I'm the only one what can beat yer arse, ya bastard…”

Dengan itu dia membaringkan pelan Darel di samping Anna. Dia menatap mereka sekilas sebelum perlahan menggeser kepala mereka berdua agar saling berhadapan. Tak puas juga, dia mendekatkan tangan mereka berdua agar bersentuhan.

It’s like in the bloody tale, ain't it! Feels like I’m bloody Shakespeare already!" Panji berkata bangga.

Really sweet, that is. Now, why can't you be more like 'im, then?” Judy menanggapi seraya terus menghantam lawannya dengan stoknya.

Oh, shut it woman.” Panji membalas kesal. “Just blast 'em already!”

Alasan kedua mereka mendekati Darel dan Anna adalah skarang mereka bisa aman menembak tanpa konsekuensi. “Spare a couple o' bullets, alright.” Panji menambahkan.

Dengan cepat mereka bisa menghabisi sisa lawan mereka yang sudah sangat sedikit. Apa yang tersisa dari tembakan senapan gentel Judy dihabisi oleh Panji. Akhirnya, setelah perjuangan panjang area reruntuhan yang mereka pijak tenang tanpa pergerakan sedikitpun. Panji dan Judy duduk saling bersandar karena kelelahan. Mereka menatap langit yang meski masih gelap dipenuhi awan, perlahan meredakan hujan yang dicurahkannya menjadi gerimis semata.

Tetapi mereka tiba-tiba tersadar. Mereka mendengar ada pergerakan dan dengan cepat menoleh ke samping.

Bersembunyi di balik pohon, terlihat seorang pria berseragam agen lapangan tengah memegang radio. Dia sepertinya tak sadar kalau dia terlihat. Panji memberi instruksi ke Judy, yang dengan itu dia segera menodongkan senapan gentelnya. Dia perlahan mendekatinya sepelan mungkin sampai dia bisa dengan samar mendengarnya.

“…Akhirnya! Ini Agen Baker, kau dengar! Verifikasi?? Ini masih siang kan, jadi… Noon was given beforehand. Sekarang tolong dengar! Tolong dengar, ini status terbaru personel Situs-79!”

Menyadari dia tengah membicarakan mereka. Judy segera menyerbu untuk menembak.

The Snark was a-

BANG

Meski terlindung pohon, Panji dapat melihat tembakan Judy jelas menghancurkan kepalanya. Badan pria itu terpental ke samping sebagai tambahan. Selagi Judy mengamati senapannya, Panji melangkah mendekati mayat pria tadi.

Dari labelnya, dia dari Situs-84.

“Apa… kita perlu melaporkan ini?” Judy bertanya seraya menunjuk ke bawah.

“Yeah.” Panji membalas singkat seraya mulai meraih teleponnya.


Judy tengah menaungi Darel dan Anna dari gerimis yang perlahan makin reda. Dia tak tahu harus melakukan apa selagi Panji menelpon.

Panji sendiri sepertinya sudah selesai dan perlahan melangkah mendekati Judy. “Kabar buruk, kita gak bisa pulang.”

“…Huh?”

“Ingat razia tadi? itu sebenarnya upaya pemblokiran. Pak Birmanto bilang beberapa personel Situs-79 kebetulan mau menuju ke Jakarta juga tapi lewat jalan memutar, jadi kita akan numpang mereka nanti jika sudah sampai di sini.” Jelas Panji. “Sekarang angkat mereka berdua, baru kita cari hotel.”

“Ya sudah.” Judy akhirnya menerima keadaan mereka. “Kau bisa carikan motor kalau begitu? Orang tadi pasti markir motornya sekitaran sini saja. Hot-wire-kan sekalian.”

Do it yerself, woman.” Panji mengibaskan tangannya tak peduli

You absolute muppet!” Kali ini, jari tengah saja yang mewakili perasaannya. Mereka sudah cukup kelelahan. Setidaknya mereka bisa tidur di hotel setelah ini.


Sekarang

“Tapi kau malah meminta kami kemari larut malam begini.” Panji mengakhiri ceritanya dengan kesal.

Birmanto hanya terkekeh. “Keadaan membuatku terpaksa memakai semua kartu yang kupunya, termasuk kalian.”

Dia melirik ke arah mobil ambulan Situs-84 tadi yang kini sudah mati. para personel penjinak bom mereka tengah bersandar kelelahan di samping pintunya.

“Untungnya Darel peneliti spesialis mesin merangkap spesialis penahanan, dan Anna memiliki reaksi cepat untuk membantunya.”

Darel keluar dari belakang ambulan diikuti Anna. Dia saling tos ke para personel di sampingnya. Anna juga memeluknya senang. Mereka sukses menonaktifkan bom di dalamnya.

“Sepertinya kita bisa melanjutkan perjalanan dengan aman.” Herria berkata dengan lega.

Tetapi Panji menepuk kepalanya tiba-tiba. Dia segera berkata, “Ah, ya. Aku lupa. Ada alasan kenapa mereka berdua kubiarkan pingsan tadi.”

“Huh?”

Panji menunjuk ke arah mereka datang tadi. “Beberapa kilometer dari sini… ada konvoi besar-besaran seperti kalian. Mereka tak memperhatikan kami, mungkin karena kami datang dari arah yang sama. Tetap saja mereka kututupi jas hujan. Ah ya, aku juga ingat melihat truk kontainer Situs-118 juga. Mereka sangat besar, kau tahu.”

“Huh??”


“Pak Bankir, kru kita mulai tak sabaran.” Seorang personel dengan seragam agen lengkap penuh rantai khas Situs-118 berkata seraya mendekati seorang pria paruh baya dengan seragam serupa. Personel itu hanya mendapat gestur tunggu olehnya. Dia mengamati situasi sekeliling selagi memperbaiki kacamatanya.

Bankir sendiri merupakan nama panggilannya semata. Dia ahli logistik dan finansial di lapangan yang dipercaya untuk memimpin operasi ini. Sebuah tim gabungan Situs-118 dan Situs-84, juga beberapa tamu khusus yang mereka berhasil dapatkan. Dia sebenarnya tidak terlalu senang akan cara Situs-84 mendapatkannya.

Tetapi dia juga tak menolaknya. Mereka perlu semua keuntungan yang mereka bisa dapatkan. Lawan mereka di ujung jalan itu adalah situs yang di bawah gelapnya rumor yang beredar berhasil mendapat julukan Neraka.

Tugas mereka cukup berjaga di lokasi ini. Mereka juga punya tim serupa di pusat kota, tetapi karena di sini mereka hanya dikelilingi hutan, mereka bisa mengerahkan personel dengan jumlah besar. Jadi di sinilah mereka menunggu akan kedatangan mereka di balik barikade yang telah mereka pasang. Dia sendiri mengambil kebebasan untuk memberi dekorasi kecil dengan cat merah ke barikade mereka bagi tamunya nanti.

‘JOINT-OPERATION: SNARK HUNT’

Hutan lumayan sunyi kecuali oleh suara serangga dan gemerisik pohon semata. Tetapi di tengah kesunyian itu, mereka malah merasakan ketegangan. Udara malam dingin mengembus, tetapi mereka merasa panas penuh keringat.

Dan tiba-tiba di tengah keheningan mencekik itu, radio mereka berderak. Bankir menatap gugup. Bukan walkie-talkie, tetapi radio besar mereka yang didesain menangkap sinyal dari situs lain yang mendekat.

Suara dari radio pelan dan tenang. Meski Bahasa Italianya standar saja dan terkesan monoton – seakan sudah diulang berkali-kali, pesannya membuat semua personel yang menyadarinya tanpa sadar gemetaran memegang senjata mereka.

Vexilla regis prodeunt inferni"

Kode verifikasi Situs-79. Versi peringatan tak bersahabat.

Bankir secara personal langsung mendekati radio dan membalas, “From hell’s heart I stab at thee; for hate’s sake I spit my last breath at thee.

Kode verifikasi Situs-118, tak bersahabat.

“Si- siap-siap!” Bankir berteriak ke semua personelnya.

Kesunyian malam perlahan dipenuhi suara raungan mesin dari kendaraan yang perlahan mendekat. Dari kejauhan, terlihat kumpulan mobil mendekat cepat ke arah mereka.

Tinggi menjulang, di tiap kedua sisi mobil mereka terpasang dua buah bendera tinggi. Pinggiran atasnya terbakar, tetapi bendera panjang di bawahnya tidak. Terdapat simbol terukir di sana. Personel yang bisa melihatnya dengan jelas tiba-tiba merasa mual dan beberapa bahkan muntah, mengalami serangan panik seketika. Api menyala di atas tiap bendera, menerangi malam melebihi lampu jalanan yang awalnya menjadi teman mereka, menenggelamkan jalanan dalam suasana kemerahan

“Tombak! Serang mereka!” Bankir berteriak di tengah ketakutan yang mulai menjalar, mencoba mempertahankan kendali yang tersisa. Beberapa personel yang masih kuat mentalnya menyiapkan tombak mereka. Mereka mengambil ancang-ancang dan dengan sekuat tenaga melempar tombak panjang mereka. Sistem pelontar pendukung yang tertanam aktif seketika dan membuat tombak mereka melesat terbang menghantam targetnya dengan kecepatan mematikan. Beberapa berhasil menghantam mobil terdepan, tetapi ia tak berhenti dan terus berjalan. Tentu saja melumpuhkan Situs-79 tidak akan semudah itu.

Malah sekarang, mereka mulai mendapat tembakan balasan. Para agen tim gabungan segera berlindung di balik barikade.

“Maju! Maju!” Bankir berteriak. Mengikuti arahannya, para agen segera perlahan maju memegangi perisai standar situs mereka diiringi kendaraan berpelindung mengawal mereka. Mereka mulai mengeluarkan senjata api juga dan mulai menembak balik. Baku tembak dimulai dan kedua belah pihak semakin dekat.

Bankir bisa melihat personel Situs-79 akhirnya satu-persatu turun dari kendaraan dan segera berlari menyerang mereka di tengah tembakan. Tiap personel mereka merupakan pemandangan mengerikan; selain seragam taktis lengkap, mereka mengenakan jubah merah di punggung mereka yang berkibar seraya mereka berlari. Di helm mereka menyala samar dekorasi kepala tambahan berupa semacam mahkota daun keemasan. Di satu tangan mereka merupakan perisai standar, dan di tangan satunya merupakan senapan dengan pisaunya sudah terpasang.

Jarak antarmereka sudah habis, pertempuran jarak dekat tak terhindarkan. Pisau dan tombak saling mengklaim nyawa, Molotov mulai beterbangan dari satu sisi dan membakar barikade, dibalas selang meriam air dari sisi lainnya menghantam dengan tekanan tinggi. Jalanan umum tempat mereka berada berubah dengan cepat menjadi sepotong Neraka.

Dari kejauhan, Birmanto dan Herria mengamati medan pertempuran. Mereka juga ikut mengenakan aksesoris serupa.

“Apa anda yakin ini aman, Pak?” Herria bertanya seraya menunjuk ke mahkota daunnya.

Birmanto mengangguk. “Ya. Dibuat oleh mendiang Peneliti Senior Juno dari AO yang dia teliti, daun-daun itu mampu menenangkan kepanikan dan menjernihkan pikiran. Sempurna untuk menetralisir efek bahaya kognitif poten bendera itu. Tentu saja efek sampingnya membuatnya penggunanya harus benar-benar dalam situasi genting atau ia perlahan akan membuat penggunanya pasif. Itu berefek jangka panjang jika sampai kena.”

“Sama-sama berisiko, ya…” Herria mengeluhkan.

“Hey, ini alternatif yang lebih baik dari Dosa, bukan?” Balas Birmanto. Herria tak bisa mengelak itu.

Di sisi seberang, Bankir mulai merasa panik juga. “Turunkan Penombak Kelas 3 sekarang!” Dia berteriak kembali.

Dari kendaraan lapis baja yang mengawal mereka, segera keluar beberapa orang berpostur tubuh besar. Selain dari banyaknya jumlah tombak yang terikat di punggung mereka oleh rantai, tangan kiri mereka dibalut mesin berasap dan berdesis dengan tombak pendek terpasang di depannya. Tombaknya sendiri perlahan bergetar dengan bunyi raungan mesin mengiringinya.

Para agen perlahan mundur mengamati mereka mendekat. Beberapa mencoba menembak salah satu di antara mereka, tetapi dengan cepat dia melindungi badannya dengan senjata di tangannya dan praktisnya menghancurkan peluru mereka begitu menghantamnya. Ini membuat beberapa agen semakin mundur menjaga jarak.

“Ku asumsikan mereka beda dengan penombak biasa tadi?” Tanya Hansel yang perlahan mendekati Herria dan Birmanto.

“Ya, mereka Penombak Kelas 3.” Herria menjawab seraya fokus mengamati situasi. “Mereka agen senior khusus Situs-118.”

“Memakai teknologi pelontar tombak mereka dan menjadikannya senjata terpasang, hanya personel dengan fisik cukup kuat yang mampu memakai senjata itu.” Birmanto menambahkan.

Herria menyiapkan senapannya dan mulai membidik, “Tetap saja…”

Herria diam sejenak sebelum melepaskan satu tembakan. Bidikannya berhasil ditangkis, tetapi Herria tetap menembak dan mencoba beragam titik vitalnya. Herria menembak kembali, tetapi kali ini kena tepat di mesin berasap itu, membuatnya meledak seketika. Bensin di dalamnya berceceran beserta percikan apinya, dan tombak yang terpasang terpental, menghantam sisi kanan badan agen yang memakainya dan menembus hancur melaluinya. Dia tumbang seketika, mengakibatkan para personel lain menoleh ke arahnya.

“…Artinya mereka setara dengan personel terbaik kita.”

Hansel tersenyum seraya memperbaiki posisi mahkota emasnya. “Hanya itu yang perlu kudengar.”

Tanpa menunda lebih lama lagi, Hansel dengan cepat menerobos kembali ke depan medan terdepan seraya menebas cepat semua personel di hadapannya dengan pisau taktisnya. Beberapa agen lawannya melemparkan tombak mereka tepat ke arahnya. Hansel berguling ke samping menghindari salah satu tombak dan meloncat menjauh untuk menghindari tombak lainnya. Dia terus maju dan tak lama kemudian berhasil berhadapan dengan Penombak Kelas 3.

Meski tubuhnya besar, penombak itu sangat gesit dan berkali-kali mencoba menikam Hansel. Tetapi bermodalkan pengalaman bertahun-tahun sebagai mantan STG, dia berhasil menghindar dan semakin dekat tiap sentimeter.

Penombak itu memberikan serangan cepat sekali lagi, tetapi kali ini, Hansel berhasil menancapkan pisau taktisnya terlebih dahulu ke kepalanya. Dengan cepat dia mencabutnya dan mundur, membiarkan lawannya perlahan kehilangan keseimbangan sebelum ambruk.

Dia mengayunkan cepat pisaunya untuk membersihkannya sebelum lari ke penombak selanjutnya.

Kembali ke sisi Situs-79, tak semua personel ikut pertempuran brutal di jalanan. Lira dan beberapa agen lain tengah sibuk merawat personel yang terluka dan terus berdatangan. Beberapa lagi memang tak ada kerjaan.

“Jadi seperti itu serangan tombak Situs-118, huh.” Panji berkata. Dia tengah bersandar di depan salah satu mobil.

“Kita sebaiknya tetap di sini kalau begitu, atau habislah kita." Judy membalas. Dia bersandar tepat di sampingnya. Mereka berdua lalu mengangguk seakan setuju akan pernyataan itu.

“Kalian menyedihkan seperti biasa.” Darel menanggapi. Meski begitu, dia bersandar tepat di samping mereka berdua. Anna mengangguk setuju di sampingnya.

Well, feel free!” Panji memberi gestur mempersilahkan. "We ain't fightin' our live out there without a bloody shillin’ to show for it." Judy menambahkan.

Darel mengibaskan tangannya, “Sayangnya aku kelelahan. Anna tertarik, tetapi pisaunya habis. Kalian tak memungutnya, sayangnya.” Katanya. Anna sendiri memang mengamati pertempuran di depannya dengan pandangan tertarik dan tak sabaran.

Again, ain’t doin’ it if it ain’t worth it.” Judy mengangkat bahu.

“Bahkan kotak rokokku tertinggal di sana.” Darel masih mengeluhkan. “Setelah berhasil hidup melalui tadi, aku perlu itu.”

Oh, why didn’t you say so, then!" Panji berkata seraya merogoh kantongnya. Dia mengeluarkan kotaknya.

“Ooh, kau juga bawa koreknya?” Darel segera mengambilnya.

“Oh,” Panji jelas tak memikirkan itu. Setelah diam beberapa saat, dia menunjuk ke atas, ke bendera-bendera terbakar yang terpasang.

“Seperti kataku tadi, kalian menyedihkan seperti biasa.”

Bloody bastard…”

Mereka pun kembali diam mengamati pemandangan di depan mereka. Beberapa agen mereka sepertinya tengah mencoba menghadapi salah satu Penombak Kelas 3. Seorang agen berhasil menikamnya dari belakang, membuat penombak itu kesakitan dan mulai menusuk maju ke depan dan melukai kedua agen di depannya.

Dia terus maju, menyerang agen-agen di depannya. Untungnya para agen mereka cukup cepat dalam menghindar. Tetapi penombak itu terus maju dan menambah kecepatannya. Tak dipedulikannya darah mengalir di belakangnya, dia terus berlari ke depan.

“Uhh… apa dia-“ Judy bertanya singkat karena segera dipotong teriakan Panji yang membalas, “Ya!”

Keempat orang yang tadi berkumpul di depan mobil segera melompat menjauh. Penombak tadi menghantam tepat di mesin mobil tersebut, menghasilkan ledakan cukup besar dengan percikan apinya menyebar ke mana-mana. Kedua bendera tinggi yang terpasang di mobil itu tadi perlahan jatuh tumbang.

Suara ledakan dan jatuhnya sepasang bendera mereka jelas menarik perhatian agen-agen di jalanan termasuk agen Situs-118. Setelah keheningan selama beberapa saat, Bankir berteriak, “Maju! Formasi tombak, hantam kendaraan mereka!”

Kelemahan personel individualistis Situs-79 sepertinya adalah pergerakan terkoordinir dalam jumlah besar. Puluhan agen mereka segera mengabaikan agen Situs-79 dan berlari maju ke konvoi mereka yang terparkir. Beberapa agen bahkan melontarkan tombak mereka untuk membuka jalan. Bendera bahaya kognitif dikibarkan mendekat, tetapi lawannya belajar untuk menatap serendah mungkin ke tanah. Tak ada pilihan lain, agen Situs-79 dengan tergesa-gesa mencoba memotong pergerakan besar mereka.

Sayangnya beberapa penyerang berhasil lolos. Mereka kini berhadapan dengan para personel yang kebetulan ada di dekat konvoi.

"Oi! They’re closin’ in, they are!" Judy berteriak seraya bersiap menghantamkan senapan gentelnya. Pelurunya sisa satu dan para agen ternyata memakai senapan semi-otomatis.

‘Old up a sec, alright!" Panji balas berteriak tak jauh darinya. Akhirnya dia menemukan ranting yang cukup kokoh dan segera berlari ke depan.

Para agen Situs-118 di depannya tak bersenjata tombak besar, tetapi mereka tetap punya penembak harpun standar beserta pelurunya yang berupa harpun-harpun kecil. Panji dan Judy berteriak maju dan menyerang agen terdekat agar mereka tak sempat memakai itu. Para agen terpaksa memakai harpun mereka untuk menangkis dan menyerang dalam jarak dekat.

Beberapa agen yang mengamati perlawanan Panji dan Judy mengalihkan perhatian mereka ke Darel, yang tengah siaga mengarahkan tongkatnya ke arah mereka. Anna berlindung di belakangnya, atau tepatnya mungkin dilindungi olehnya. Mereka tersenyum melihat kelemahan itu dan segera menyerangnya.

Darel dengan sekuat tenaga melawan dengan terus mengayunkan tongkatnya, menangkis tikaman harpun mereka. Jika saja dia tak kelelahan bertahan sepanjang pagi tadi, mungkin dia memiliki kesempatan menang. Anna jelas terlihat kesal dirinya tak bisa apa-apa, tetapi dia memang sangat buruk dalam perkelahian tangan kosong, dan entah kenapa bidikannya sangat jelek jika bukan untuk pisau. Darel mencoba melindungi Anna, tetapi dia sendiri sebenarnya tak yakin apa dia bisa melindungi dirinya sendiri. Sekali lagi, dia berharap paling tidak tetap hidup semata sampai akhir.

Di tengah ayunan tongkatnya tiba-tiba Darel tersadar. Dia menoleh ke arah Anna, yang hanya menatapnya dengan bingung. Dia cuma buruk kalau bertarung dengan tangan kosong, kan?

“Judy!” Darel berteriak. “Kau bawa payung kan, tadi? Berikan payungmu sekarang!”

Judy menatap heran, tetapi dia segera berlari ke deretan mobil konvoi. Normalnya dia akan menolak hanya karena dia tak menyukai mereka, tetapi saat ini mereka semua berada dalam situasi yang sama. Jadi dia meraih payungnya tadi di motornya dan dengan cepat berlari sedekat mungkin sebelum akhirnya melemparkannya saja ke arah Darel agar lebih cepat.

Darel menangkapnya dan dengan segera menyodorkannya ke Anna. “Kau perlu senjata kan, sekarang kau punya.” Darel berkata.

Anna segera meraihnya, meski dia lalu sadar kalau dirinya sendiri bingung ia harus diapakan. Baginya ini berbeda jauh dari pisau. Gagangnya jelas lebih nyaman, tetapi sisanya tak berguna. Tetapi dia tak akan mau membuang pemberian Darel, apa pun itu. Dia segera mengutak-atiknya, mencoba memikirkan bagaimana mengintegrasikannya dengan cara bertarungnya yang terbiasa pakai pisau.

Sayangnya di tengah itu semua, seorang Penombak Kelas 3 berhasil lolos dari pencegatan personel lain dan mengarah ke arah mereka. Atas instruksi Panji, Anna memasukkan peluru terakhirnya dan menembakkannya. Liciknya, agen penombak itu dengan segera melempar salah satu mayat rekannya dan meskipun ia mengenakan rompi, ia hancur lembur begitu kena hantaman puluhan peletnya.

That ain’t fair, is it!” Panji terkekeh pasrah seraya menyiapkan ranting baru dan berdiri di depan Judy. Darel ikut berdiri di sampingnya, bersiap dengan tongkatnya.

Tiba-tiba, belasan harpun melesat dari belakang. Penombak itu terkejut melihat mereka mengarah kepadanya, tetapi tanpa alat tembak, harpun-harpun tersebut tidaklah melesat cepat. Reaksinya masih lebih cepat untuk menghancurkan tiap harpun yang dilemparkan. Sebelum Darel dan lainnya dapat melihat siapa yang melempar harpun itu, Anna berlari cepat dan memanfaatkan momen sang penombak tengah terdistraksi untuk menusuk kakinya dengan payung pemberian Darel tadi. Sepertinya dia berhasil menancapkan beberapa harpun di ujung payung, dan panjang payungnyanya membuatnya dapat menikamnya dengan kedua tangannya.

Dia memberi rangkaian tikaman cepat di kaki penombak itu. Begitu si penombak menyerang ke arahnya, panjang payung itu sekali lagi membantunya menghindar lebih cepat. dia bergerak ke belakang penombak itu dan menikam kembali kakinya dari belakang, kali ini tepat di lututnya.

Penombak itu kehilangan keseimbangan dan perlahan jatuh ke belakang. Di tengah itu semua, Anna mengakhiri aksinya dengan memutar cepat payungnya sebelum menikamkannya ke lehernya, efektif menjatuhkannya tanpa nyawa.

Setelah selesai, dia menatap ke arah Darel dan yang lainnya. Melihat mereka menatapnya dengan kagum, senyum bangga terukir di wajahnya dan selagi bersandar di payung itu, dia melambaikan tangannya dengan ekspresi senang…

…Sampai tiba-tiba payung itu patah, tak kuat menahan kelakuannya lebih jauh lagi dan membuatnya jatuh.

My bloody umbrella!” Judy berseru sedih.

Darel hanya terkekeh, menatap bangga Anna yang dengan cepat mencoba berdiri dan bersikap seakan tak terjadi apa-apa. “Ku rasa akan kubelikan payung yang lebih kuat dari itu…”

Ooh, go on then! Make it look posh n’ lovely, yeah!” Judy terlihat senang seketika.

Darel tersenyum seraya melangkah maju mendatangi Anna. “Aku tak bicara padamu. Minta ganti sama Panji sana!” Dia mengibaskan tangannya.

You absolute muppet!”

Dengan itu upaya menerobos ke pertahanan belakang gagal. Itu juga sepertinya merupakan blunder buruk karena para agen Situs-79 kini dapat memusatkan serangan mereka ke konsentrasi pergerakan agen tim gabungan. Penombak beragam kelas termasuk Kelas 3 mereka tewas satu persatu. Dengan jumlah agennya semakin sedikit, Bankir segera meraih radionya dan melaporkan keadaan.

“…Ini Agen Bankir dari Situs-118. Kode verifikasi malam, Night be addicted to it. Meminta izin menurunkan aset spesial!” Dia berkata ke radionya.

Sepertinya mendapat konfirmasi, dia segera berteriak, “Buka kontainernya!”

Para agen Situs-118 yang mendengarnya segera membuka kontainer truk yang menjadi salah satu barikade mereka. Tak lama setelah dibuka, beberapa orang melangkah turun dari kontainer. Mereka berseragam agen lapangan Yayasan juga, meski tak memiliki aksesoris rantai dan perlengkapan standar agen Situs-118. Mereka juga melangkah pelan seperti orang-orang yang Darel dan lainnya lawan sebelumnya.

Salah satu diantara mereka bertanya, “Why tea served in the afternoon?”

Agen di depannya membalas, “Night be addicted to it.”

Dan orang-orang itu pun diam. Salah satu agen Situs-118 segera berbisik kepada rekannya, “Berikan aku catatan perintah tadi.”

“Kau tak ingat lagi?” Rekannya bertanya.

“Gak mungkin aku bakal ingat perintah sespesifik itu sampai sekarang. Cepetan kertasnya mana?”

Rekannya tadi dengan segera menyerahkan kertas yang telah dilipat ke tangan agen itu. Dia membukanya dan segera membaca nyaring perintah di dalamnya. “Pejamkan mata kalian dan jatuhkan diri kalian!”

Orang-orang di depannya menurut dan segera jatuh di saat hampir bersamaan. Agen itu mengangguk mengamati hasilnya sebelum melanjutkan, “Tunggu sepuluh detik sebelum membuka mata kalian, ketika kalian membukanya, kalian akan lupa segalanya yang terjadi sejak kalian diberi sugesti. Yang kalian ingat adalah kalian merupakan anggota tim gabungan mewakili situs kalian, musuh kalian adalah Situs-79.”

Dan dengan itu para agen Situs-118 melangkah mundur. Agen yang bicara tadi melipat kertas yang dibacanya dan mengantonginya. “Aku tak percaya sampah ini bekerja…” Dia berkomentar.

“Gas amnestik spesial itu sudah jelas ilegal bahkan bagi standar Yayasan…” Rekannya menanggapi. “Menurutmu kita gak akan kena masalah karenanya, kan?”

Lawan bicaranya menggeleng, “Kebijakannya tetap sama; salahkan Situs-84. Kan mereka yang membuatnya.”

Sepuluh detik telah lewat dan satu persatu orang-orang di depan mereka terbangun. “Ughh… apa yang…”

Agen tadi segera berlari ke arah mereka dan berkata, “Woy, cepat bangun! Kita masih diserang!”

Mereka yang baru bangun tadi jelas kaget dan bertanya-tanya, jadi agen tadi memperjelas, “Kalian baru saja dihantam ledakan dari Situs-79! Mereka masih menyerang, jadi cepat kembali ke sana!”

Meski kebingungan, mereka mengangguk mengerti dan satu persatu berlari maju. Yang mereka tahu sekarang hanyalah bahwa musuh mereka Situs-79.

Agen tadi mengamati mereka pergi selama beberapa saat. Dia lalu menyenggol rekannya tadi seraya dirinya melangkah menjauh. Melangkah menuju kontainer kedua.

“Sayangnya yang ini tak paham Bahasa Indonesia, ya…” dia berkomentar selagi dirinya terus berjalan.

Dari sisi seberang, hanya Birmanto yang mengamati prosedur aneh yang dilakukan personel Situs-118 di sana. Dia tak dapat mendengar apa-apa, tetapi gerak-gerik personel yang keluar dari kontainer itu sangatlah aneh. Dia melirik ke belakang, ke arah Darel dan yang lainnya yang saling bicara. Dia sudah mendengar cerita aneh mereka melawan segerombolan personel dengan sifat tak wajar. Para personel baru yang dia amati jauh di depan bersikap sama persis di cerita, tetapi setelah berbaring sesaat sebelum bangun lagi, mereka tak jauh beda dengan agen lainnya yang tengah dihadapinya.

“Menarik…” Dia terkekeh.

Pandangannya menangkap pergerakan pada belakang kontainer truk kedua. Para personel yang berlari dari arah kontainer itu sangat dikenalinya.

“Sangat menarik!”

Para agen yang baru datang itu memakai seragam yang sedikit lebih cokelat meski sama-sama gelap. Mereka langsung membuka tembakan.

Birmanto segera berlari mendekati Herria. “Minta agen kita berlindung segera!”

Herria tanpa basa-basi segera memerintahkan mundur para agen yang ada. Mereka segera mencoba berlindung, tetapi secara tiba-tiba, beberapa jatuh ambruk. Darah mengalir cepat dari leher mereka. di tengah mayat-mayat itu, berdiri seorang agen berseragam kecokelatan yang tadinya tak ada di sana. Parangnya yang berlumuran merupakan bukti dia pelakunya. Tembakan terarah agen berseragam serupa di belakang melesat melewatinya untuk menyelesaikan sisa penyintas.

Tak sampai di situ, mereka kini mulai menembaki tiang panjang bendera mereka. Tembakan mereka sangat akurat sampai bisa memotong tiangnya sampai roboh.

“Pak, kecepatannya diluar nalar!” Herria berseru seraya mereka berlindung di belakang salah satu mobil. Hansel yang mendekat begitu melihat mereka berkumpul ikut menambahkan, “Pak, apa dia anomalus??”

Birmanto hanya terkekeh dan menggeleng. “Bukan, dia personel Yayasan.” Katanya singkat.

Dari kejauhan, agen asing itu berteriak, “¡Bajen las armas en nombre de la Fundación!

“Dia termasuk salah satu personel asing yang kita tembaki tadi??” Herria bertanya heran.

“Ya.” Birmanto mengangguk. “Mereka semua itu personel dari Meksiko. Ingat kataku saat Situs-114 menyadari kalau sekumpulan agen dari luar negeri hilang tanpa kabar, itu mereka.”

Herria mengintip dari balik mobil dan mengamati agen asing itu menghabisi puluhan agen mereka bermodalkan pisau semata, tembakan diberikan sebagai jaminan ekstra. Refleknya terlalu cepat sampai dapat menangkis tembakan balik personel yang ada.

“Pak, kurasa ini waktu yang tepat untuk bertanya kembali, apa tepatnya yang kita hadapi ini?!” Herria dengan segera kembali berlindung di balik mobil. “Aku tak pernah melihat ini bahkan di Siberia sekalipun.”

“Sama, tak segila ini juga di Jerman!” Hansel kembali menambahkan.

Birmanto hanya membalas dengan tenang, “Itu karena fokus kekuatan situs yang kalian lihat sebelumnya berbeda. Personel Siberia berdasarkan cerita merupakan ahli penyergapan dan penembakan jarak jauh. Personel Jerman bervariasi, tetapi untuk kasus situs lama anak buahmu, mereka spesialis taktik intimidasi.”

Birmanto kini gantian melirik dari balik mobil. “Mereka personel elite dari Meksiko. MTF designasi Zeta-66 atau bisa kalian panggil ‘Zetas’, mereka spesialis pertempuran kota.”

“MTF??” Herria bertanya. Dia tahu mereka memanggil MTF dengan STG di sini, tetapi STG hanya dipakai untuk merujuk ke tim lokal atau MTF secara umum semata. “Juga, Zetas seperti nama kartel terkenal itu?”

“Maksudmu Yayasan? Ya.” Birmanto menjawab. “Tebakanmu benar. Yang kita tembaki tadi di jalan dan yang tengah menembaki kita sekarang itu personel Kelas Soldado, kemampuan mereka dalam jarak dekat setara Agen Vector di lantai bawah. Tetapi masalahnya yang tengah berdiri itu, dia Kelas Sicario. Augmentasi yang dimilikinya sudah pada level modifikasi tubuh.”

Herria diam mendengar penjelasan itu. Hansel tidak, dia segera bertanya, “Jadi… seberapa besar kemungkinan kita menang?”

Birmanto menoleh ke arahnya dengan senyum pasrah. “Negatif.”

“…Kau bercanda, Pak?” Herria menatap tak percaya.

“Kau ingat Agen Jennifer pagi tadi?” Birmanto bertanya. Herria diam seketika begitu mendengarnya. “Jika kalian itu diibaratkan mencapai level 4 dalam segi bertarung, Jane itu level 6. Sicario Zetas level 7.”

Baik Herria maupun Hansel kini diam sekarang. Herria perlahan tertawa meski dia menggeleng. Hansel bertanya dengan putus asa, “Jadi kita harus apa? Mengeluarkan Dosa?”

“Pemakaian Dosa akan sia-sia jika mereka ditebas seketika di leher.” Birmanto menolak.

“Tapi pasti paling tidak kita bisa melakukan sesuatu, kan? Tak mungkin kau tak punya rencana sedikitpun, Pak!” Herria berseru seraya memegang kerah Birmanto.

Birmanto menatapnya selama beberapa saat. Dia memutuskan untuk kembali mengintip dari balik mobil. Perkataan Herria sebenarnya sedikit mengena padanya, dia tak mungkin menyerah secepat ini. Tidak pada Jennifer, dan tidak pada seorang Sicario. Dia mengamati pergerakan agen itu. Sesuatu yang sedari tadi mengganjal di pikirannya adalah bagaimana Situs-84 bisa mengendalikan mereka sejak awal, dan apakah dia bisa mendapatkan sesuatu dari itu.

Agen itu terus menghindar dan membalas sergapan agen Situs-79 yang mendekat, bahkan di saat yang bersamaan. Birmanto tahu dia sudah seharusnya bisa menangani puluhan agen senior sekaligus, tetapi entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang janggal saat dia bertarung.

Di tengah pengamatannya, dia menyadari sesuatu. Agen itu seakan perlu menghindar dulu dan tak akan melawan sampai dia berbalik dan mengamati penyerangnya. Dia tahu personel setingkat dia jauh lebih agresif dibandingkan itu. Seperti Jane, agen selevelnya bisa menghindari serangan dan memberi balasan dalam satu gerakan semata. Bahkan sepengetahuannya, lawannya tak seharusnya bisa sempat melancarkan serangan sejak awal.

Jika dia tidak memperhatikannya dengan seksama, pasti dia tak akan menyadari kejanggalan taktis itu. Otaknya mulai memikirkan kemungkinan kenapa itu bisa terjadi dan merancang secepatnya strategi berdasarkan apa yang dia amati. Perlahan – entah kenapa – dia tersenyum.

Dia bersembunyi kembali ke mobil, menatap ke arah Herria dan Hansel yang memandanginya dengan tegang. Meski gemetaran karena dia sendiri tak yakin akan kebenarannya, Birmanto berkata, “Mungkin… mungkin ada kemungkinan kecil kita bisa menang. Aku ada ide, tetapi kita hanya punya satu kesempatan jika ingin melakukannya. Tertarik?”

Tanpa ragu Herria dan Hansel mengangguk. Birmanto terkekeh seraya menyalakan radionya. “Jimmy, kita tak akan bisa sampai tepat waktu kalau seperti ini. Kau lihat agen yang menyendiri di tengah jalanan itu? Lakukan tanggung jawabmu dan habisi dia!”

Tiba-tiba, salah satu truk mereka meraung nyaring dan langsung tancap gas. Birmanto dan yang lainnya segera menghindar dari jalurnya, diikuti agen dan personel lain yang kaget melihatnya. Truk itu melaju secepat yang ia bisa, menyingkirkan mobil lain di hadapannya. Targetnya satu, Sicario di depannya.

Agen itu tentu saja berhasil menghindar, tetapi truk itu secara efektif membagi jalanan jadi dua sisi karena ukurannya. Para Agen Soldado kesulitan menembak dan terpaksa harus mengitari truk.

Seorang pria turun dari pintu kemudi. Dia mengenakan seragam personel logistik yang tak dikancing, menunjukkan kaus putihnya yang agak kekuningan di dalam. Rambutnya berantakan dan dagunya tak dicukur rapi. Dia menghidupkan sebatang rokok dan memakainya selagi dirinya menutup pintu truk. Beberapa Soldado mencoba menembakinya, tetapi pria itu lebih cepat dalam menembak mereka di kepala dengan revolvernya.

Dia berjalan dengan tenang dan terkesan malas-malasan ke arah Agen Sicario tadi. Agen itu secepat kilat mengarahkan parangnya ke kepalanya, tetapi pria itu berhasil menghindar dengan menjatuhkan dirinya ke belakang.

“Angsa…” Dia menggumam. Dengan reflek sama cepatnya, dia menembak balik meski dalam posisi hendak jatuh.

Agen Sicario tadi jelas segera menghindar, tetapi ternyata di samping kiri dan kanannya adalah Herria dan Hansel yang maju menyerang. Sayangnya reflek agen itu tak dapat diremehkan dan dia menghindar jalur tembakan. Pandangannya tertuju ke arah Hansel terlebih dahulu, secepat kilat ditebasnya parangnya ke arah Hansel, tetapi untungnya mereka berdua sudah siap untuk ini. Hansel menahan tebasan parang itu dengan senapannya. Senapannya sendiri pun tak lama kemudian hancur jadi dua.

Sebelum agen itu menyerang lagi, Herria di saat yang bersamaan dengan cepat mengalihkan perhatiannya dengan tembakannya. Agen itu kembali reflek menghindar sebelum menoleh ke arah berlawanan. Begitu melihat Herria, kini tebasan kedua diarahkan ke arahnya, tetapi dia juga berhasil menahannya dengan senapannya.

Tak memakan waktu lama bagi senapan mereka berdua untuk akhirnya hancur, tetapi mereka tidaklah panik; semua sesuai rencana. Mereka hanya distraksi semata.

Tangan agen Sicario itu tiba-tiba ditikam belati. Pria pertama yang menyerangnya tadi yang menancapkannya. “大好き…” Dia menggumam. Ternyata gagang belati itu adalah taser yang dimodifikasi. Dia menyalakannya dan berhasil menyetrum tangan agen tersebut.

Agen itu menarik tangannya segera, tetapi refleknya sudah dihabiskan untuk itu. Dia tak sempat menghindari Hansel yang secepat yang dia bisa menebaskan pisau taktisnya ke leher agen itu. Agen tersebut mengerang kesakitan seraya mundur beberapa langkah, menjauh dari kepungan mereka. Tangan kanannya menahan luka pisau tadi sedangkan tangan kirinya menggenggam erat parangnya.

Agen itu sepertinya menyadari sesuatu dan segera menoleh, Birmanto menembakkan peluru dari kejauhan ke arahnya. Dia tentu saja sempat menghindar, tetapi karena berbalik, Herria dan Hansel di saat yang bersamaan maju dan menyerangnya kembali dari dua sisi.

Normalnya dia bisa mengatasi keduanya bahkan ketiganya sekaligus, tetapi entah kenapa sedari tadi, terasa ada yang menahannya, pikirannya seakan memintanya untuk menganalisis situasi sekilas sebelum melakukan tindakan. Dia biasanya tak memikirkan itu; dia menebas orang sebebas yang dia bisa. Tetapi entah kenapa, sejak bergabung dengan tim gabungan, dia seakan selalu menunggu input dahulu sebelum bertindak. Memastikan dia membunuh orang yang benar. Mematuhi orang yang benar.

Dan karena itu, sekarang, otaknya tak sempat menghasilkan keputusan.

Dengan itu mereka berdua berhasil menebas leher agen itu sekali lagi. Darah mengalir tanpa henti dan perlahan agen Sicario itu berlutut. Pria yang dilawannya tadi perlahan mendekatinya. Dia mengeluarkan botol minuman keras dan menuangkannya ke kepala agen itu, membuatnya terkejut akan tindakan tak terduga itu sebelum dirinya merasakan kesakitan hebat di luka lehernya karena alkohol yang dituangkan.

Pria itu menyalakan koreknya. “Ombak…” Dia menggumam, menjatuhkan korek itu ke wajahnya yang berlumuran alkohol. Agen Sicario tadi sebisanya mencoba memadamkan api di wajahnya dengan tangannya, tetapi dia tak berhasil melakukannya. Dia ingin berteriak, tetapi lehernya setengah terpenggal. Kombinasi semua lukanya itu mengakibatkan dia mati secara menyakitkan.

Pria itu tak peduli dan melangkahi mayat agen Sicario tadi seraya dirinya mendekati Birmanto. “Tanggungjawabku hanya sebatas mengantar pengiriman sampai tujuan. Jangan melenceng dari itu.” Dia berkata dengan nada pelan namun tegas. “Aku bukan kapten lagi.”

“Dan dengan menetralisirnya, kau tetap menjalankan tanggungjawabmu. Sekarang amankan truk itu kembali.” Birmanto membalas dengan tenang.

Pria itu menatapnya selama beberapa saat sebelum melangkah mundur. “Juga, tolong… panggil aku James saja. Kecuali kau ingin mati juga.” Dia berkata pelan. Dia lalu melangkah dengan malas kembali ke truk seraya meminum minumannya. Dia menyempatkan diri menembak agen Soldado yang tersisa, sepertinya sebagai pelampiasan.

“Untungnya dia mau kooperasi…” Herria menyapu keringat di dahinya dan mengembuskan nafas lega begitu keadaan sudah terkendali.

“Jadi siapa agen itu? Seingatku dia tidak ada di daftar.” Hansel bertanya seraya membersihkan pisaunya.

“Memang tidak. Dia hanya staf logistik.” Birmanto menjawab.

Hanya?” Hansel jelas tak percaya.

Tanpa disangkanya, Herria menambahkan, “Ya. Sekarang dia hanya staf logistik.”

Hansel menatap mereka dengan tatapan curiga, tetapi dari ekspresinya, mereka sepertinya lebih ke tak ingin membicarakannya.

Lagipula, mereka baru saja menang.

Dengan aset khusus mereka dikalahkan, personel tim gabungan mulai panik dan beberapa melarikan diri dari pertempuran. Beberapa kendaraan mulai memutar balik di tengah tembakan. Truk-truk mereka mengikuti dari belakang.

Bankir bersandar di samping salah satu mobil mereka yang rusak. Dia tertembak di bahunya cukup parah sampai lengannya hanya tergantung semata. Kakinya tak kuat menahan rasa sakit sehingga dia perlahan duduk bersandar, menciptakan garis darah vertikal di samping mobil.

Dia mencoba menembak agen Situs-79 yang mendekat dengan pistolnya, tetapi tak berselang lama, pelurunya habis. Dia tak bisa mengganti peluru karena lengannya, jadi dia hanya menatap takut ke arah para personel yang mendekat.

Di antara mereka, Birmanto maju dari kerumunan setelah dituntun salah satu agennya. “Kata mereka kau ketua tim gabungan ini?”

Bankir menggeleng cepat. “Tidak! Aku cuma ketua operasi di sini! Ketua Operasi Snark Hunt sebenarnya adalah Agen Belman, dia dan sisa tim berada di pusat kota Bogor!”

“Sial, mereka sudah di sana ya…” Birmanto menanggapi dengan kesal. “Bersihkan tempat ini segera!”

Dia melangkah pergi, diikuti oleh agen lain segera. Mereka segera bekerja menarik mundur mayat-mayat di jalanan, memungut persenjataan yang ada, dan puing-puing lainnya. Mereka sepenuhnya meninggalkan Bankir sendirian di tengah jalan. Bankir menatap tak percaya, tetapi perlahan dia terkekeh senang.

Perlahan dia mencoba masuk ke salah satu mobil mereka yang masih bekerja. Dia menemukan satu, meski dua bannya kempis. Dia segera masuk ke dalam dan menyalakannya gasnya. Meski dia cuma bisa mengemudi dengan satu tangan, dia tertawa senang bisa hidup setelah segala yang terjadi tadi.

Tetapi tiba-tiba dia mendengar suara raungan mesin dari kejauhan. Salah satu truk mereka yang paling depan segera tancap gas dan maju dengan cepat. Bankir dengan panik mencoba mundur dan memutar kendaraannya menjauh, tetapi baru mundur beberapa meter, dia langsung ditabrak truk besar itu. Mesinnya mengeluarkan ledakan berapi karenanya.

“Bagus, terus kepinggirkan mobil-mobil rongsokan itu dan bersihkan jalan.” Birmanto berkata dengan senyum kepada radio yang digenggamnya. “Kita ambil yang kita bisa dalam waktu sejam!”

Dia berjalan ke arah mobil duluan, melalui Herria dan Hansel yang masih bekerja di lapangan. “Pak, bagaimana dengan mobilnya?” Hansel bertanya seraya dirinya memungut tombak yang tertancap di tanah.

“Akan ku kontak Kipli untuk membereskan sisanya.” Jawab Birmanto.

“Tolong berhenti melempari batu ke kematian, Pak. Kita nyaris mati saat menghadapi pelayan situsnya.” Herria mengeluhkan.

Birmanto hanya terkekeh. “Percayalah, dia akan senang memaksa pelayannya untuk membersihkan ini semua dalam semalam! Terlebih mengetahui dia boleh menyimpan semua barang yang tak bisa kita bawa.”

Herria menggeleng mendengarnya, tetapi dia tahu Birmanto mengatakan yang sebenarnya.

Dia tahu Birmanto tak akan membiarkan misi konvoi ini gagal.


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukan pukul dua dini hari. Mobil yang mengawal truk berkurang beberapa. Personel mereka yang sudah terpangkas setengah karena beragam insiden sebelumnya kini semakin terpangkas sampai pada jumlah yang mengkhawatirkan. Tetapi mereka tetap melaju menyusuri jalan. Mereka hampir sampai di pusat kota Bogor.

Mereka sangat tak mengharapkan akan adanya hambatan besar seperti tadi, tetapi jika cerita Bankir benar, sisa tim gabungan sudah ada di kota ini.

Mereka dengan waspada menyusuri jalanan malam kota nan sunyi. Tak ada kendaraan yang lewat, bak seluruh kota sudah dijadikan medan tempur Yayasan.

Benar saja, tak lama mereka memasuki kota, mobil terdepan melaporkan adanya barikade lagi di depan. Ia juga mengatakan sesuatu mengenai tumpukan mayat di depan barikade sebelum radionya dimatikan. Tanpa mendengar penjelasan lebih lengkap, Birmanto dan penumpang lainnya kecuali Hidayat kembali turun dari mobil. Mereka dengan cepat mendekat ke depan konvoi dengan senjata sudah siap.

Birmanto hampir sampai ke mobil terdepan, tetapi dia heran kenapa personel di depan mereka hanya berdiri tanpa menodongkan senjata. Mungkin mereka cuma melihat barikadenya semata, pikirnya.

Tebakannya salah, selain kawat berduri yang terpasang dan tumpukan mayat personel berseragam agen lapangan di tengahnya, terdapat seorang perempuan yang duduk di atas tumpukan itu. Dia tengah memainkan pisau kecil di tangannya yang bernoda merah, menunjukkan bahwa semua mayat itu hasil kerjanya. Rambutnya terurai panjang dan berantakan, separuh wajahnya bahkan tertutup rambutnya. Matanya menatap tajam ke arah mereka, dan dia tersenyum melihat mereka.

Hello, everyone… How are you?”

Tebakannya sangat salah. Dia mengenali perempuan ini. Bahkan tanpa jas lab yang sering dia kenakan. Bahkan dengan kacamata aviator hitamnya digantung di kerah kemejanya, dengan salah satu kacanya pecah.

“…Heliza?”

Perempuan itu tersenyum. “I’m fine, thank you…”

Kemejanya seharusnya putih, tetapi setengahnya berwarna merah. Terdapat luka yang menembus badannya seakan dihantam proyektil sebesar bola golf. Sebuah keajaiban dia masih bisa bicara meski mulutnya sedari tadi meneteskan darah karenanya.

I wish I were a bird…” Dia terkekeh setelah membuat lelucon itu sebelum akhirnya dia ambruk menghantam tanah.

Birmanto dan yang lainnya segera berlari mendekatinya. “Panggil Lira sekarang!” Dia memerintahkan ke agen di sekelilingnya. Mereka pun berlari cepat ke belakang tempat mobil medis berada. Birmanto sendiri membalikkan badannya perlahan dan mengecek lukanya. Dia tahu bagaimana dia bisa mendapat luka sebesar ini. Masalahnya dia punya pilihan terbatas mengenai cara menyembuhkannya.

Tanpa sadar dia terkekeh, hendak tertawa akan nasib mereka, akan kemalangan demi kemalangan yang mereka hadapi. Tetapi tiba-tiba kerahnya dicengkram Heliza. Dengan tatapan tajamnya tanpa kacamata, dia berkata pelan, “Sudah waktunya kau serius… bukan…”

Birmanto menatapnya sesaat. Senyumnya tadi perlahan hilang, kini digantinya dengan tatapan fokus. Setelah menurunkan perlahan tangan Heliza yang berlumuran darah, dia segera berdiri dan meraih ponselnya.

“Indra, ada yang perlu kuberitahukan.” Birmanto berkata pada telepon, “Heliza terkena serangan dalam misi, dan situasi saat ini cukup genting.”

Birmanto diam mendengarkan tanggapan khawatir di teleponnya sebelum melanjutkan. “Ya, tapi aku punya dua pilihan saat ini dan aku perlu kau untuk memilih untuknya.”

“Tentu saja, kita bisa memakai Susu Murni. Dia akan sembuh seketika, tetapi kau tahu risikonya memakai itu.” Birmanto berkata, pandangannya menatap salah satu truk di belakang.

Karena itu dia bisa melihat beberapa personel membawa tandu, diikuti Lira yang menyiapkan perlengkapannya selagi dia lari. “Tetapi aku juga membawa Lira untuk misi ini. Dia cukup kompeten untuk menyelamatkannya.”

Dia melihat Lira yang segera bekerja, dibantu para personel lain. “Jadi kau mau menaruh kepercayaan padanya, atau cara terjamin meski berisiko?”

Birmanto diam, sepertinya menunggu jawaban lawan bicaranya. Perlahan dia mengangguk menerima jawabannya. “Baik, kau berdoa saja seperti biasa.”

Dia segera mendekati Heliza yang terbaring di tandu, hendak diangkat. “Heliza, kau bisa mendengarku?”

Heliza menoleh lemah di tandunya seraya membalas, “Aku sekarat, Bio. Ringkas apa yang kau ingin katakan.”

“Aku tak tahu berapa lama kau berdarah, tetapi kau mungkin bisa selamat tanpa Susu Murni.” Birmanto mengatakan, kini mengikutinya seraya tandunya dibawa ke deret belakang konvoi.

“Tunggu… aku tak perlu meminum SCP-088-ID?” Heliza bertanya heran.

Birmanto menggeleng. “Mungkin. Ini Lira yang kita bicarakan. Kau tak percaya kemampuannya?”

Heliza melirik ke arah Lira yang mendampinginya digotong. “Jangan tersinggung, tapi kau benar-benar bisa?”

Lira memperbaiki kacamatanya dan mengamati luka Heliza. “Sejujurnya, Kak? Yang jadi masalah di sini adalah berapa lama kau berdarah di sana. Jika lukamu sebesar bola tenis, aku akan menyerahkan ini ke susu terkutuk itu.”

Heliza kini beralih ke Birmanto, “Bio… apa kau ada nelpon Indra?”

Birmanto mengangguk. “Dia berdoa untukmu, apa pun pilihanmu.”

“Begitu ya…” Heliza menanggapi. “Ada yang harus kusampaikan padamu sebelum aku dirawat, kalau begitu…”

“Persetan itu, kau istirahat saja sekarang. Akan kuhadapi mereka.” Birmanto mencoba meyakinkannya.

“Hey… aku tak menghabisi penjaga barikade hanya untuk disia-siakan, jadi dengar… Total personel kemungkinan seratus agen. Komposisi… sebagian besar personel Situs-118, tetapi ada juga… personel Situs-84 dan… relawan mereka meskipun sedikit. Mereka membuat blokade total di ujung kota.” Jelas Heliza.

Birmanto menatap ke arah jalanan sunyi di depannya yang hanya diisi cahaya lampu sebagai tanda kehidupan. “Penduduk sini… mereka dievakuasi?”

“Tidak, gas bius skala masif…” Balasnya. “Mereka menyebarkan beberapa personel di tikungan besar, jadi mereka akan mengikutimu jika kalian mengambil jalan lain… Juga, mereka jelas akan menyalahkan kalian jika sampai ada korban jiwa dari warga, kau tahu… Jangan memperluas medan…”

“Tentu. Akan kuhadapi mereka tepat di mana mereka berada.

Heliza tersenyum dan memejamkan matanya. “Aku percayakan padamu kalau begitu.”

Dan Birmanto pun berhenti mengikuti tandunya. Dia menatap ke arahnya selama beberapa saat sebelum berbalik kembali ke mobilnya. Sepertinya mereka sudah berhasil mengambil semua mayat yang ada dan menyingkirkan barikadenya. Dengan itu, mereka kembali melaju menuju titik terakhir pencegatan.


Agen Belman merupakan pria berusia 50-an yang sudah bertahun-tahun berpengalaman menjadi ketua tim whaleboat kelima Situs-118. Whaleboat sendiri awalnya merujuk ke tim yang ditugaskan ke kapal pengejar dan penyerang jarak dekat di lautan. Dengan Direktur Ahmad tiada, tim whaleboat tak harus berada di kapal dan di sinilah dirinya berada. Dia awalnya memimpin sembilan orang di tim penyerangnya, tetapi sekarang dia memimpin seluruh personel di depannya.

Dia dipilih memimpin seluruh anggota tim operasi gabungan antarsitusnya dan situs yang mengajak mereka bekerja sama. Dia sebenarnya tak terlalu suka metode ancaman Situs-84 dalam merekrut relawan, tetapi dia lebih tak suka Situs-79. Meski mengatakan dirinya berbeda dengan direktur sebelumnya, Direktur Aisha selalu dicurigai memiliki tendensi kebencian yang sama dengannya. Situs-79 adalah Leviathan-nya, jadi Situs-79 adalah musuh mereka juga sebagai kru kapalnya.

Dan dia adalah pengikutnya yang setia. Mereka adalah tim whaleboat kelima karena tim satu sampai empat tiada bersama direktur mereka terdahulu. Whaleboat sempat digantikan oleh dominasi agen kelas penjarah atau Flenser selama masa krisis ekonomi mereka pasca Direktur Ahmad sampai dibuat kembali begitu Penombak baru telah dilatih. Di antara tim lainnya, hanya mereka yang sempat mengikuti ambisi Direktur Ahmad. Dan dirinya sendiri masih dalam mantra perburuannya sampai sekarang.

Jadi tergantung padanya sekarang untuknya memobilisasi personel, berseru akan eksistensi mereka yang hina dan tak seharusnya ada, menghidupkan kembali semangat perburuan Direktur Ahmad. Itulah bagaimana timnya yang terpilih untuk memimpin. Mereka sepenuhnya paham akan Situs-84, mereka punya kapten dan dia senang menjadi ketua tim untuknya.

Terlibat dalam operasi ini bukan hanya dari Kelas Harpooner, tetapi dari Kelas Loader, bahkan sisa Kelas Flenser juga sebagai ekstra. Meski ini operasi Situs-84 aslinya, tetapi direktur mereka seakan punya firasat bagus akan operasi ini sehingga memberikan personel lebih. Jika direktur merestui, bukankah itu artinya kesuksesan terjamin sekarang.

Meski dia tahu Bankir tak lagi merespon panggilan dan personel yang bersamanya kembali ke situs mereka, meski dia tahu pagi tadi lokasi percobaan Situs-84 yang diawasi Baker tak lagi terisi satu pun orang, dia percaya Situs-79 sudah menerima terlalu banyak tombak untuk bisa menghantam dan membelah kapalnya.

Dinginnya malam menjelang pagi menusuk badannya, tetapi dia malah menemukan dirinya berkeringat. Dia tersenyum semangat tak sabar menunggu incaran mereka mendekat.

Radio antarsitus mereka akhirnya berderak, dan dia meraihnya segera.

Terdengar suara pelan dan monoton. “Vexilla regis prodeunt inferni"

Sebuah pesan peringatan. Merupakan adab wajib untuk memberitahukan kehadiran bagi sebuah kelompok representasi situs. Seiring waktu, beberapa situs yang lumayan dikenal memilih memberi kode verifikasi berupa pesan bermakna khusus agar aman dan ikonik.

Ini mengarah ke pembuatan pesan dengan maksud berbeda selain menandakan kedatangan. Pesan peringatan penyerangan. Jika sebuah situs menyerang situs lain secara tiba-tiba, itu akan mengantagoniskan mereka bukan hanya di mata situs lokal lain, tetapi ke RAISA sendiri sampai akan mengarah ke disipliner ekstrem. Tetapi dengan setidaknya memberi pesan peringatan dahulu, mereka akan mencatat bahwa setidaknya ada kontak dan tak memedulikan hasil akhirnya. Sistem yang sangat licik, tetapi memang hanya dipakai oleh situs-situs yang sudah kotor tangannya.

Dengan segera dia membalas, “From hell’s heart I stab at thee; for hate’s sake I spit my last breath at thee.

Kode balasan tak diperlukan sebenarnya, tetapi mereka selalu lakukan. Diam artinya merekalah yang jadi buruan, bersembunyi di balik semak belukar. Hanya dengan deklarasi perang dan tembakan maka mereka setara posisinya.

Saat di laut dahulu, mereka menanti dengan waspada sekelebat bayangan hitam di kejauhan. Lampu kapal terpaksa dimatikan agar tiada yang dapat melihat siapa-siapa, tiada mengetahui sedekat apa kedua belah pihak berada. Suara tidak manusiawi diiringi hempasan ombak di gelapnya malam merupakan satu-satunya penanda mereka.

Saat ini, angin malam perlahan berganti dari dingin menjadi berhembus hangat, diiringi cahaya kemerahan di ujung jalan seakan kota tengah terbakar. Situs-79 selalu mendapat julukan Neraka, dan mereka menerima identitasnya. Dan seperti tugasnya, ia hadir di depan para pendosa, siap membakar mereka dengan apinya.

“Di sana ia berkobar! Di sana ia berkobar! Api berkobar di atas tiang! Situs-79!” Belman berteriak dengan semangat. “Dengar kalian semua, dengar dengan seksama!”

Para agen menatap ke belakang, ke arah Belman. Dia mengeluarkan sebuah megafon dan mulai berbicara, “Yang kalian lihat di sana, hanyalah permukaan dari kegilaan. Bersembunyi di balik tipisnya dinding normalitas yang kita lalui, ia bisa setiap saat menekan menembusnya dan menjadikan hidup kalian lawakan mengerikan.”

“Jika seseorang ingin melawan, lawanlah menembus dinding tipis kewarasan itu! Serbu masuk menyebar dengan obor dan tombak untuk melihat apa yang bersembunyi dibaliknya. Bagaimana bisa seorang tahanan bisa lolos dari bayang-bayangnya jika tidak menghancurkan jerujinya, bahkan jika ia terbuat dari tawa dan hujan darah?”

“Bagiku, tiap baris jeruji itu adalah tiap personel yang akan kita lawan, semakin menekan mendekat. Terkadang aku tak tahu apa yang akan kita lakukan jika kita memang bisa menghabisi mereka, tetapi itu adalah hadiah yang menunggu nantinya. Sekarang, bayang-bayangnya cukup. Ia menggerakanku, ia memaksaku, aku melihat ketidakmungkinan menghadapinya, ditenagai ketidaktahuan yang mereka manfaatkan dengan liciknya.”

Belman menurunkan megafonnya selagi dia mengambil nafas. “Ketidaktahuan itulah yang kubenci…”

Dia menatap konvoi Situs-79 semakin mendekat. Mereka bisa melihat beberapa tiang terbakar dengan bahaya kognitifnya yang tersisa dari pertempuran sebelumnya. Solusi kognitif poten baginya adalah distraksi darinya. Sebuah pidato penuh semangat.

“Akan kulemparkan tombak penuh kebencian ke arahnya, dan kalian akan mengikutinya. Kita adalah para pemburu kegilaan itu. Karena kita bukan sekedar personel yang melawan situs lain semata. Kita adalah alasan, dipersenjatai cahaya tembakan.”

Dengan diturunkannya megafonnya, pidato Belman selesai. Dengan itu lemparan tombak mereka beterbangan menghantam lawan.

Personel Situs-79, sementara itu, kini lebih berpengalaman menghadapi lemparan tombak Situs-118. Kecuali mobil tepat di depan truk, mereka saling menghindar menghindari serangan. Para personel segera melepas tembakan balasan. Beberapa kini loncat turun dari kendaraan dan mulai menyerang dari jarak dekat, mengetahui mereka unggul di situ.

Salah seorang agen Situs-79 tengah mencoba menancapkan pisau taktisnya ke lawannya yang baru saja menjatuhkan penembak harpunnya. Tiba-tiba sebuah kait menarik lengannya jatuh menjauh. Agen tersebut segera mundur meski pisaunya jatuh. Dia mengamati lawannya kini mendapat pengawalan dari personel bersenjata dua kait besi panjang.

Lawan barunya dengan segera mengayunkan kedua senjatanya. Agen tadi berupaya sebisanya untuk menghindari kait di depannya. Tanpa sadar punggungnya menghantam sesuatu. Dia segera menoleh ke belakang, seorang personel lain ternyata menghalanginya dengan perisai besarnya. Agen tadi mencoba menghantam dan menghancurkan tamengnya agar bisa mundur, tetapi dia lalu menyadari perisainya memiliki mekanisme khusus yang membuatnya tertancap erat di tanah.

Dia segera berbalik dan menahan salah satu kait dengan tangan kosong, tetapi begitu kait itu ditarik ke bawah, ujungnya yang melingkar menusuk lengan agen itu. Agen itu mencoba mencabut kaitnya dengan ekspresi kesakitan, tetapi kait keduanya mengait lehernya sampai sobek.

Di kejauhan, Birmanto memantau keadaan. “Loader Kelas 1 dan 2… Bahkan sampai Flenser juga…” Dia menggumam.

Dia segera mendekati Herria yang tengah mengoordinasikan serangan. “Herria, kau lihat personel yang bawa kait itu, mereka Kelas Flenser, ahli jarak dekat. Jadi gunakan senapan untuk menghabisi mereka.” Birmanto menjelaskan. “Kelas Loader memiliki perisai modifikasi. Mereka tahan serangan, tapi masih bisa dihancurkan. Gunakan tombak rampasan kita.”

Herria mengangguk dan segera menyebarkan perintah dan strateginya. Tak memakan lama bagi Situs-79 untuk membalikkan keadaan. Jumlah mereka yang jauh lebih sedikit bukanlah masalah jika satu personel bisa mengatasi lima lawan sekaligus.

Tetapi tentu saja Situs-118 tidak selemah itu. Seorang personel mereka tengah melakukan pembunuhan beruntun. Dia bersenjata gada besi untuk jarak dekat, dan senapan berburu jika targetnya di luar jangkauan. Dia ahli dalam membolak-balikkan senjatanya sesuai kondisi. Salah satu agen Situs-79 mencoba menebasnya, tetapi selain seragam taktisnya dilindungi deretan rantai yang terpasang melingkari badannya, dia mengenakan jubah bulu hewan berwarna cokelat yang menyelimuti sampai ke helmnya, sepertinya sekuat rompi standar juga.

Hansel menghentikan pergerakan cepatnya dan mereka saling berhadapan. Dia didampingi dua agen lain, menjadikan mereka tiga orang menghadapinya.

“…Dengan kalian, totalnya sepuluh…” Dia menggumam.

Dengan cepat dia menembakkan senapan berburunya dengan satu tangan ke arah Hansel, secara mengejutkan nyaris mengenai kepalanya jika dia tidak menghidar. Di saat bersamaan, dia menghantamkan gadanya ke agen pertama beberapa kali di kepala sampai helmnya hancur. Dengan hantaman ketiganya, kepalanya yang hancur.

Agen kedua mencoba menebasnya lagi, tetapi lawannya mengayunkan gadanya secepat kilat ke belakang dan mematahkan lehernya. Agen ketiga yang maju adalah Hansel sendiri, memberi rangkaian tebasan cepat yang kesulitan ditangkisnya dengan gadanya. Dia meraih kembali senapannya dan menembak dari jarak yang secara menggelikan terlalu dekat sehingga Hansel bisa menghantam senapannya ke atas. Ternyata ini hanya distraksi karena dia bisa mengayunkan gadanya sebagai balasan. Sebelum itu terjadi, Hansel berhasil menendangnya menjauh, membuat mereka berdua saling menjaga jarak.

Kini hanya mereka berdua di tengah pertempuran jalanan yang berkobar. Hansel mengamati dengan seksama metodenya bertarung. Hantaman jarak dekatnya yang mematikan sangat mengingatkannya dengan lawannya dulu. Hansel cuma bisa bergantung dengan reaksi cepatnya semata. Lawannya menurunkan senapannya dan siap menembak lagi, membuat Hansel menghindar. Tetapi kali ini dia memperhatikan dengan seksama dan mendapati bahwa dia selalu menggunakan tembakan sebagai distraksi agar bisa mendekat. Meskipun akurasinya terlihat tinggi, dia tidaklah spesialis keduanya.

Sejujurnya itu juga masalahnya karena dia lebih bagus bertarung jarak dekat. Itu artinya dia harus memanfaatkan penggunaan senapannya dan memotong jarak mereka secepatnya. Sepertinya dia hanya menggunakan senapan jika dirinya terlalu jauh, jadi Hansel sengaja mundur beberapa langkah. Lawannya kembali mengarahkan senapannya dan begitu dia menarik pelatuk, Hansel maju seketika. Tembakannya memang tidak terkalkulasi dan terkunci ke posisinya sebelumnya saja, sehingga itu cukup bagi Hansel untuk mendekatinya.

Sebelum dia sempat mengayunkan gadanya, Hansel menikam pergelangan tangannya yang memegangnya dan memastikan dia tak bisa mengayunkannya segera. Dia tahu menebasnya tak akan bekerja karena rantai-rantai yang mengelilinginya dan lehernya terlindungi kain hewan yang sedari tadi dipakainya, jadi dia memutar pisaunya dan bersiap menikamnya sedalam mungkin. Dia mengincar celah rompi seperti biasa dan langsung menancapkan pisaunya di antara rantai-rantai renggang yang terikat.

Hansel tahu itu tidaklah cukup, jadi dia melukainya sebanyak mungkin sebelum mundur. Dia berhasil melukai lengan kanan yang dipakainya untuk memegang gada, membuatnya terpaksa beralih memakai tangan kirinya. Hansel tak lagi mencoba mendekatinya meski dia tahu lawannya kini lebih lemah sekarang.

Dia tahu lawannya kini tidak mungkin sama sekali bisa mengalahkan senjata api, dan berbeda dengannya, Hansel bisa menembak. Gantian dirinya yang menarik senapannya yang terikat punggungnya, dan dengan beberapa tembakan lawannya jatuh.

Dia terjatuh keras, menyebabkan helmnya terlepas. Ternyata dia seorang agen perempuan, tengah batuk berdarah. “…Kalkulasiku salah… ya…” dia menggumam seraya tersenyum seakan dia menerima nasibnya. Dia memejamkan matanya dan tak lagi bergerak.

Hansel menatapnya sejenak, menghormatinya sebelum berlari ke lawannya berikutnya.

Sama seperti Situs-79, personel tim gabungan juga sudah terpangkas juga karena barikade sebelumnya yang dipimpin Bankir. Aset spesial yang didapatkan Situs-84 untuk mereka sudah habis. Dengan Birmanto mengetahui kelemahan tiap kelas personel, Belman terpaksa ikut maju. Dia mengeluarkan sebuah tombak standar yang terikat padanya beberapa bel kecil. Dia menombak beberapa agen yang mendekat dengan ahli, tetapi tak memakan lama untuk melihat bahwa dia sangat kalah jumlah. Tembakan mulai menghujaninya dan dia tak sanggup menangkis mereka semua. Salah satu tombak personel mereka sendiri tiba-tiba melesat dan menghantam bahunya dan dia jatuh. Melihat efektifnya tombak, beberapa tombak lainnya melesat dan di sanalah Belman tertancap di truk mereka oleh sekumpulan tombak.

Birmanto perlahan mendekati Belman. Belman sendiri sekuat tenaganya mencoba meraih radionya. Dia berkata pelan, “Agen Belman… Status…”

Dia menatap ke arah Birmanto dengan tatapan penuh kebencian, tetapi juga penuh hormat karena dia berhasil mengalahkannya. Berbeda dengan kebencian murni Direktur Ahmad, sejujurnya dia cuma ingin kesempatan menghadapi hewan buas serupa.

Dengan senyum puas, dia berkata pelan, “The Snark… was a Boojum, you see…

Dan dengan itu dia menjatuhkan radionya ke tanah. Dia tak peduli apakah dia bahkan menekan tombol radionya menyala. Tugasnya sudah selesai.

Birmanto menatap Belman seraya menggeleng. Dia mengembuskan nafas berjalan menjauh, memberi isyarat agar mereka siap-siap pergi.

Keadaan perlahan tenang kembali, menjadi jalanan biasa nan sunyi. Para agen mengambil apa yang mereka bisa, menyisakan noda darah di jalanan untuk dibersihkan nantinya. Menit berlalu menjadi jam, mereka akhirnya selesai. Satu persatu mobil melalui sisa-sisa puing-puing dan kendaraan tim gabungan yang mereka lawan.

Tersisa di tengah jalan, kontainer tempat Belman tertancap. Di bawahnya, agen-agennya yang para personel anggap setia dibiarkan terbaring setelah rompi dan perlengkapannya diambil. Satu memeluk kain kulit binatang yang dikenakannya sebelumnya dengan senyum tak bernyawa.

Konvoi kembali berjalan, tujuan mereka sudah di depan mata.


Langit sudah menunjukkan warna cahaya begitu mereka sampai di Jakarta. Kehidupan sudah mulai muncul di jalanan. Mereka tetap melaju meski dengan kendaraan mereka dihiasi penyokan di beberapa sisi. Mereka sudah sangat kehabisan daya dan upaya untuk terus melaju setelah menghadapi deretan blokade di jalan.

Mobil yang ditunggangi Birmanto kini paling depan, menuntun jalan. Birmanto menaruh kepercayaan kalau situs yang akan mereka temui sudah membersihkan jalanan untuk pertemuan mereka.

Justru itu yang tidak dia suka. Mereka dengan terpaksa melaju menyusuri teritori yang telah dikendalikan sepenuhnya oleh lawannya. Itu pun sambil berdoa semoga situs yang mereka temui tidaklah sepenuhnya menjadi lawannya.

“Taman yang ini.” Birmanto berkata. Mereka tidak diberi tempat bertemu. Seakan pihak lainnya percaya sepenuhnya akan kemampuan Birmanto mencari kemungkinan terbaik lokasi bertemu mereka.

“Anda yakin, Pak? Tak ada banyak kendaraan di sekelilingnya.” Hansel memastikan seraya menatap ke jalanan.

“Jangankan publik, sesama situs pun tak akan menyadari mereka ada sampai terlambat.” Balas Birmanto.

“Jadi bagaimana anda tahu ini lokasinya, Pak?” Herria bertanya heran seraya mengamati sekelilingnya.

“Karena ini tempat terburuk untuk melakukan pertemuan.” Birmanto menjawab singkat.

Berbeda dengan di dalam ruangan, dalam pertemuan di luar ruangan segalanya bisa terjadi. Taman ini selain seingatnya berisi beberapa kursi taman bagus dan kolam, dikelilingi bangunan tinggi berdempet dan jalanan luas di beberapa sudutnya. Ada satu lagi yang membuat Birmanto mencurigai ini lokasinya, tetapi kecurigaannya didapat dari mengamati orang-orang yang lalu-lalang di sekitarnya, jadi mungkin saja itu cuma paranoianya.

Mereka memarkirkan kendaraan, diikuti sisa konvoinya. Birmanto melangkah masuk ke taman diikuti Herria, Hidayat, dan Hansel paling belakang. Mereka menyusuri pepohonan rindang yang berhembus meniupkan dedaunan tua ke tanah yang mereka langkah.

Cahaya Mentari pagi mulai muncul, dan di lapangan luas taman, sudah ada beberapa orang berkumpul di salah satu bangku panjangnya. Tebakan Birmanto benar, mereka benar-benar berseragam agen lapangan, meski cuma kemeja dan celananya saja tanpa perlengkapannya. Beberapa sepertinya memakai aksesoris ekstra.

Dan mereka semua kini menatap ke arahnya. Seorang perempuan tua yang duduk di kursi tersenyum ke arahnya seraya melambai.

“Jane…” Birmanto menggumam.

Dia tak ingin mengatakannya ke Herria dan lainnya, tetapi mereka sudah terlambat dan kalah jumlah. Ini mungkin gam terakhir mereka jika gagal.

Kronik Situs-79

Bab 8: Dunia Imaginer(2)
| Larilah Menyusuri Taman Ilalang | Anak-anak Catur Yang Ada »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License