Royalti Mereka Meminta Kepalanya
rating: +1+x

Beberapa hari yang lalu

Kepala keamanan Situs-84 Harper Dominik tengah duduk di kursi sofa dengan postur dan ekspresi tegang. Alih-alih mengenakan seragam keamanan situs, dia mengenakan seragam agen lapangan mereka, menggambarkan logo Yayasan di bahunya. Nomor situsnya sendiri tertulis di label kecil di sakunya. Awalnya dia mengenakan jas cokelat panjangnya saat kemari, tetapi sudah dia gantung di gantungan yang disediakan di ruangan. Punyanya bersebelahan dengan sebuah jaket hijau tua tebal dengan bulu tebal di bagian tudungnya

Dia tidaklah berada di situsnya, melainkan di situs orang saat ini. Sebenarnya dia tengah gelisah karenanya; meskipun dia dominan di situsnya sendiri, dia tahu dia bukan apa-apa di hadapan situs besar seperti Situs-79 maupun situs yang dia datangi ini. Ironisnya, dirinya yang dulu mungkin akan lebih berani dibandingkan dirinya sekarang karena tak peduli apa yang harus dia hadapi, dirinya yang dulu tak akan tinggal diam membiarkan ketakutan menjalar.

Jadi dirinya yang sekarang haruslah juga memiliki keberanian yang sama. Hanya saja, apa yang akan dia lakukan bisa dikatakan eksperimental, terlebih mengetahui siapa targetnya.

Setelah keheningan selama beberapa saat, Harper akhirnya membuka pembicaraan. “Jadi, Direktur-“

Sebuah tangan menghentikan perkataannya segera. Di depannya, seorang perempuan paruh baya mengenakan sweater abu-abu gelap duduk di kursi besar. Dinding dibelakangnya merupakan deretan jendela besar yang menunjukkan pemandangan langit cerah hari itu. Di atasnya, deretan figura foto direktur situs terdahulu berderet, sedikit samar karena terkena refleksi cahaya. Labelnya juga terlalu kecil untuk dibaca. Sebagian situs seperti situsnya menempatkan ruang direktur di sublantai, sebagian situs lainnya menempatkannya di lantai tertinggi kover mereka.

Perempuan itu mendekatkan dirinya, menunjukkan rambut hitamnya nya yang meski dikepang, masih sedikit menutupi wajahnya saking tebal dan banyaknya. Dengan tenang dia berkata, “Panggil aku Aisha. Kau ke sini dengan posisi setara denganku, bukan?”

“Ya, tentu.” Harper membalas cepat. Tanpa membuang waktunya lebih lama lagi, dia segera melanjutkan, “Jadi, tujuan saya ke sini adalah mengajukan permohonan transfer personel anda atas nama ‘Meiling Smith’. Surat-suratnya bisa anda lihat di map yang saya letakkan.”

Perempuan di depannya sudah membaca map itu tadi, Harper cuma perlu tanda tangannya di kertas itu sekarang. Idealnya dia perlu beberapa, tetapi tanda tangan direktur adalah yang paling berpengaruh kedepannya.

“Ah, ya. Aku ingat pasangannya, Agen Gator. Dia perencana yang kompeten, sayangnya Kelas Pengait yang dia pimpin sudah kutiadakan. Sayang sekali, padahal dia baru saja jadi personel senior saat itu.” Aisha bernostalgia, tak memedulikan Harper seraya dirinya menatap ke samping, menerawang.

“Maaf, Bu. Tapi saya agak kurang familiar dengan konsep pembagian tugas Situs-118. Lukman pernah menjelaskannya, tetapi sepertinya banyak yang belum ku ketahui, ya.” Harper mencoba menanggapinya.

“Kau memang tak perlu tahu.” Aisha membalas, “Jika kau ingin tahu, antara bergabung dengan kru ku atau curi itu dari situsku.”

“Aku- maaf, saya tak bermaksud menyinggung anda.” Harper segera berkata dengan khawatir seraya menundukkan dirinya.

Aisha hanya tertawa pelan. “Haha… terkadang tak semua hal dalam kontrolmu, Harper. Selalu bersiap akan variabel tak terduga. Tugas seorang direktur adalah mempersiapkan dirinya menghadapi tantangan seperti itu. Pertanyaannya adalah apa yang dia lakukan untuk itu.”

Dia lalu melanjutkan, “Aku sudah mendengar mengenai insiden malam itu, lalu kabar burung berkata kalau direktur kalian… tak bisa bertugas. Biasanya reaksi direktur situs biasa menghadapi krisis seperti itu adalah mengemis bantuan situs pusat lalu duduk diam meringkuk di sublantai mereka. Melihatmu di sini meminta personel situsku jelas menarik perhatianku.”

Akhirnya dia berbalik menghadap Harper. Dengan tersenyum dia berkata, “Kau sudah menjadi variabel tak terdugaku. Sekarang giliranku memberikan tantangan untukmu; yakinkan aku kenapa aku mau melepas Agen Smith.”

Harper menelan ludah saat mendengarnya. Dia seakan memberi lampu hijau untuk percobaannya. “Ba… Baik.” Harper mencoba tak gemetaran selagi dirinya mencoba mengeluarkan sesuatu dari tas besar bawaannya. Dia mengeluarkan dua buah kotak kardus, dengan satunya lebih kecil dibandingkan yang lain.

Harper membuka kotak yang lebih kecil terlebih dahulu, mengeluarkan dari dalamnya dua buah cangkir dan piring kecil sebagai alasnya. Aisha hanya tersenyum selagi Harper menyodorkan satu cangkir ke hadapannya selagi dia menaruh pasangannya di sisinya. Dia lalu meraih kotak yang lebih besar dan perlahan mengeluarkan teko hijau tua dari dalamnya.

“Kami di Situs-84 biasa membincangkan hal ini selagi minum teh. Biasanya sore, tetapi siang juga bisa.” Harper berkata seraya mengeluarkan termos dari dalam tasnya. Dia menuangkan cairan panas di dalamnya ke dalam teko itu. “Ini… ini agak memalukan, tetapi ini pertama kalinya aku mencoba menyeduhnya sendiri. Jika terasa aneh, bilang saja.”

Dia menuangkan teh ke kedua cangkir mereka; pertama ke direktur sebelum ke dirinya sendiri. Harper dengan senyum gugup mengangkat gelasnya dan berkata, “Silahkan, Bu.” Sebelum meniup pelan tehnya dan mulai meminumnya.

Aisha hanya menatapnya dengan tersenyum misterius, tak menyentuh tehnya sendiri. Harper setelah beberapa saat meminum tehnya akhirnya menurunkan cangkirnya, menunjukkan separuh isi cangkir telah diminumnya. “Maaf Bu, tetapi seharusnya tehku tak seburuk itu. Silahkan dicoba dulu, resep yang kupelajari seharusnya membuat peminumnya lebih rileks dan santai.”

Aisha hanya terkekeh. “Maaf, itu cara yang menarik untuk membujukku, jujur saja.” Harper sempatlah khawatir, tetapi akhirnya Aisha mengangkat cangkirnya. Baru saja Harper mengembuskan nafas lega ketika Aisha perlahan malah menghirup aroma teh dari cangkirnya.

“Kau mau meminum tehku dulu sebelum kita bicara?”

Harper mulai berkeringat dingin, dia dengan cepat berkata, “Maaf, tetapi tidaklah sopan bagi saya untuk meminum bagian anda, tetapi saya bisa jamin saya tidak mencoba meracuni dan membahayakan anda! Aku bersumpah anda tidak akan mati atau terluka karena itu dan saya bersedia mati untuk itu!”

Harper sejujurnya merasa dia terlalu panik saat itu. Tentu saja sumpah kecilnya tidaklah berguna karena Aisha masih menyodorkan pelan cangkir miliknya. Harper memutuskan untuk mengambil rencana B dengan berkata, “Maaf, tetapi sepertinya kita tidak bisa melanjutkan pembicaraan ini lebih lama lagi. Maaf, telah mengganggu waktu anda.”

Tetapi sebelum dia bisa bergerak dari kursinya, kumpulan personel keamanan di belakangnya langsung menodongkan penembak harpun mereka. Harper diam membeku selama beberapa saat, meski matanya menatap liar ke sekelilingnya dalam panik. Perlahan dia kembali duduk ke kursinya.

Aisha tetaplah tenang dalam kondisi ini. “Kau kira kau bisa pergi begitu saja setelah membujukku minum teh ini dengan nyawamu?”

Harper tahu tak ada yang bisa dia lakukan sekarang, jadi sekalian saja dirinya bersandar di sofanya dan berkata, “Hahh… bagaimana kau bisa curiga? Setidaknya beri tahukan itu sebelum aku mati.”

Di luar dugaan Aisha hanya tertawa kecil, “Untuk apa? Kau tak melakukan apa-apa… sejauh ini. Jadi, jawab pertanyaanku ini dan kau mungkin hidup. Apa yang kau isi di ruang kedua teko ini?”

Harper sebenarnya sudah curiga dia tahu akan teko tak wajar yang dipakainya. Begitu dia mengonfirmasinya, Harper hanya tersenyum. “Heh. Teh juga sebenarnya, tercampur dengan amnestik Kelas-G.”

Aisha sepertinya tak menduga Harper mengatakan itu. Dia menatapnya selama beberapa saat seakan memikirkan sesuatu. Dia perlahan bersandar di kursinya sendiri. Lalu, akhirnya dia tertawa.

“Hahahah… pantas kau berani bersumpah seperti itu.” Dia berkata di sela tawanya. Tangannya menutupi wajahnya sampai tawanya perlahan mereda. Dia kini menatap ke Harper menatapnya bingung, dirinya sendiri masih tersenyum.

“Jadi kau tahu itu assassin pot?” Harper berkata. Dia merasa jika dia akan mati, dia bisa mencoba setidaknya bertanya.

“Yah, mereka tak pernah mengganti desain pria tua itu. Kau benar-benar datang ke sini dan mengira kau bisa menipu direktur situs dengan ini?” Aisha bertanya dengan nada kagum akan kegilaannya.

Harper sendiri hanyalah mengangkat bahu dan menjawab, “Kau akan terkejut mengetahui betapa langkanya menemukan orang yang mengenali teko ini. Aku cuma kenal satu orang sejauh ini selainmu.”

Aisha mengangguk mengerti. Setelahnya adalah keheningan canggung, dengan Harper masih ditodong penembak harpun para pengawal direktur. Dia menatap Aisha, tak tahu apa yang dipikirkan perempuan itu. Perlahan Aisha meraih pulpennya dan menarik map yang tadinya disodorkan Harper, mulai membukanya dan menandatangani kertas di dalamnya. Harper jelas tak menduga itu.

“…Kenapa?” Harper memberanikan diri bertanya kembali dengan curiga.

“Kau meyakinkanku dengan usahamu, seperti kataku tadi. Kau adalah variabel yang sangat menarik bagiku.” Aisha berkata. Dia perlahan memutar kursinya membelakangi Harper. Aisha menatap bukan ke jendela di depannya, tetapi ke atasnya, ke deretan foto-foto direktur terdahulu.

“Kau mengingatkanku akan direktur situs terdahulu, kau tahu. Ku rasa kau kenal Direktur Ahmad? Aku masih staf biasa saat itu, tetapi aku beruntung, sangat-sangat beruntung bisa menyaksikan saat-saat terakhirnya di ruangan itu.”

Aisha diam selama beberapa saat, seakan mengingat kembali memori tentang itu. Akhirnya dia melanjutkan, “Aku hanyalah penonton dalam pengejaran butanya. Dan pada akhirnya, itulah pelajaran hidup yang kudapat; jangan mengejar peti matimu sendiri. Tentu saja, aku membenci bajingan itu… jika aku melihatnya, akan kuselesaikan apa yang pak tua itu mulai…”

Setelah cukup lama memandangi mantan atasannya, Aisha berbalik kembali ke arah Harper, “Aku memilih mengambil pendekatan berbeda untuknya, yang pada akhirnya menjadi salah satu filosofi situs ini sekarang.”

Dia menyodorkan kembali map Harper dan berkata, “Aku sangat membenci Situs-79, tetapi aku tak ingin mengejar peti matiku. Meskipun begitu, aku bersedia membantu perburuanmu, kapten.”

Harper hendak meraih kembali mapnya, tetapi Aisha menekannya ke meja. Saat Harper menatap ke arahnya dengan heran, Aisha mengeluarkan sebuah map baru dari lacinya. Dia meletakkannya di atas map Harper. “Satu-satunya alasan kami tidak berdaya melawan Situs-79 adalah karena orang-orang di dokumen ini. Mereka memeras banyak situs dengan menyimpan rahasia gelap mereka, termasuk kami. Jika kau ingin kru untuk peti matimu, ku sarankan kau pelajari dan singgung orang-orang ini untuk membujuk direktur situs lain nantinya.”

Harper perlahan menarik kembali map yang diterimanya dan berkata pelan, “Terimakasih.” Sebelum melangkah pergi. Para penjaga menurunkan senjata mereka. Aisha masih menatapnya dengan tatapan terkesan…

…Dan iba.


Sekarang

Seorang pria dengan kemeja putih perlahan melangkah menyusuri koridor mess. Dia perlahan mengenakan jas labnya selagi dia keluar. Dia tahu ini sudah pagi, tetapi tidak ada yang berbeda jika dia bekerja di sublantai situs, terlebih jika dia berada di sublantai tiga. Tempat ini sedingin ruang kantor pribadi dengan AC ruangan menyala semalaman.

Tidaklah membantu juga melihat kantor umum masih kosong. Penelitian tidaklah banyak dilakukan di lantai ini. Sepertinya selain dia dan atasannya, tak ada penelitian aktif lain tengah berlangsung. Tentu saja adalah naif untuk mengira semua anomali di lantai ini telah dipahami, tetapi sampai pola penahanan dilanggar, mereka dibiarkan terkurung rapat kembali untuk hari ini dan nanti.

Dia memutuskan untuk mencari makan dulu di kantin sebelum bermalas-malasan di mejanya nanti. Dia melangkah melewati ruang kantor umum dan kini berada di ruang tunggu lantai mereka. Sesuatu menarik perhatiannya di ujung penglihatannya; kumpulan personel keamanan berkumpul di depan televisi ruang tunggu. Sepertinya ada sesuatu yang menarik tengah atau telah terjadi sehingga akses televisi diberikan pagi-pagi.

Dia perlahan mendekati mereka. Tanpa sengaja, sesuatu terlihat familiar baginya. Awalnya tertutup pelindung bahu standar penjaga lengkap dengan tulisan ‘79’ di permukaannya, begitu dirinya mendekat dapat terlihat di tengah mereka seorang perempuan tengah duduk.

Tentu saja lantai ini tak kekurangan perempuan gila, tetapi dia mengenali yang ini. Rambutnya hitam panjang, tetapi semakin dia mendekat, semakin jelas terlihat bekas samar pewarna rambut kekuningan masih terlihat di ujung rambutnya. Meskipun dia mengenakan jas lab, pria itu dapat mengenalinya bermodalkan itu dan postur tubuhnya semata. Dia terlihat sangat fokus ke televisi pagi ini.

Setelah melalui beberapa penjaga yang menghalanginya, dia berada di samping belakang perempuan itu, meletakkan tangannya di sandaran kepala sofa usang lantai itu. “Sesuatu menarik perhatianmu, Lucy?”

Lucy reflek menoleh, melihat wajah tertutup masker gas yang dia kenal baik. “Bagaimana aku bisa tidak peduli?”

Pria itu melirik ke arah televisi. Saluran favorit Yayasan tengah menayangkan berita pascakebakaran. Bangunan yang ditunjukkan mendekati hitam warnanya. Seluruh kacanya hancur, digantikan rongga terbuka semata. Sekelilingnya hanya dipenuhi warna abu sisa puing bangunan itu.

Tajuk beritanya entah kenapa menuliskan ‘ledakan’ yang menimpa bangunan itu. Dan itu menjelaskan beberapa hal. Tajuk di bawahnya lebih ke arah mengkhawatirkan. Dia tahu pembuat berita dan pemilik saluran adalah Yayasan juga, jadi mereka pasti mengecek secara detail lokasi yang mereka beritakan sebelum diberikan ke publik. Ini cuma firasatnya, tetapi jika mereka menuliskan jumlah korban belum dapat dipastikan, itu adalah ekuivalen kotak hitam.

“Kebakaran lagi? Yah, setidaknya bukan situsmu lagi kali ni, eh.” Pria itu berkata, meski dia lebih tertarik menatap berita di televisi.

Lucy terlihat kesal mendengarnya dan berkata, “Dokter macam apa kau, Bale? Orang-orang kembali mati karena Insurgent biadab itu!”

“Huh, dari mana kau tahu itu?” Bale kini tertarik melirik ke Lucy yang juga menoleh ke arahnya.

Lucy sebenarnya juga tak tahu itu. Dia perlahan berbalik kembali menatap televisi. “Siapa lagi kalau bukan mereka? Organisasi jahat yang sama yang membakar situsku dan mencelakai direktur sekaligus menjebak kita!”

Bale diam memikirkan itu, perlahan mengangguk setuju. Meski begitu, dia berkata, “Tetap saja, kau hampir membunuhku karena prasangkamu sok sempurnamu itu.”

Lucy tak membalas. Dia tak ingin membicarakan itu. Sejauh yang dia tahu, Bale pantas mendapatkan itu, selayaknya dirinya pantas terkurung di lantai ini sampai waktu yang tak ditentukan. Mereka berdua telah bersalah dan sudah seharusnya menderita karenanya.

Tetapi orang-orang di sana, orang-orang di situsnya, teman-temannya tak seharusnya merasakan hal yang sama. Ini bukan lagi hukuman untuknya, tetapi tindakan kejahatan yang harus dihentikan sekarang. Tetapi dia tak bisa apa-apa, yang dia bisa lakukan hanyalah mengutuk mereka, mengutuk orang-orang jahat yang dengan tega melakukannya.

Mereka terus menonton televisi dalam diam, larut dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka tak menyadari orang ketiga melangkah mendekat. Mengenakan seragam serba hitam sampai ke kacamata bingkai bulatnya, seorang pria mendekati mereka dari belakang dengan tergesa-gesa. “Menikmati dosis realita kalian pagi ini?”

Bale dan Lucy segera menoleh, meski hanya Lucy yang segera berdiri dan berkata, “Pa- Pagi, Pak Hidayat.”

“Oh, kau masih di sini?” Hidayat berkata, meski dia tidaklah terkejut. “Baguslah, kalian berdua ikut aku ke ruang Birmanto, ku rasa kalian akan menyukai tambahan konten pagi ini.”

Lucy segera berlari mengitari sofa dan mengikuti Hidayat dan Bale yang sudah lebih dekat dengannya. Mereka kembali berlari kecil menuju ke area kantor pribadi, memasuki koridor ke dalamnya. Berderet pintu kantor yang sudah pernah mereka lalui sebelumnya, tetapi Hidayat menuntun mereka sedikit lebih jauh. Awalnya mereka berkumpul selama beberapa hari ini di ruangan Kepala Keamanan Herria, tetapi dari perkataannya tadi, mereka kini akan ke ruangan Birmanto selaku Kepala Penahanan.

Begitu Hidayat mencapai pintunya, dia mengecek jam dan segera mengetok pintu tiga kali. Dia memberi jeda beberapa detik sebelum mengetok pintu kembali sebanyak tiga kali. Dia kembali menunggu sejenak sebelum mengetok untuk terakhir kalinya. Setelah itu dia memegang gagang pintu dan berkata, “Kami akan masuk.”

Hidayat masuk terlebih dahulu. Dia entah kenapa menoleh ke kiri dan berkata, “Pagi, Ford.” Begitu Bale dan akhirnya Lucy ikut masuk mengikutinya, dia dapat melihat seorang personel keamanan berukuran besar tengah sedari tadi menatap ke arah mereka tepat di samping pintu. Jika Hidayat tidak menganggapnya ada, dia pasti akan berteriak terkejut melihatnya.

Fokus Lucy beralih ke depan. Birmanto tengah duduk di kursinya, tengah fokus menonton sesuatu di laptop standar Yayasan. Dia mendongkak mengamati rombongan orang yang masuk dan entah kenapa segera berganti ekspresi ke senyum santai.

“Ah, terimakasih.” Birmanto berkata kepada Hidayat. Dia lalu melirik ke arah Lucy dan Bale, “…tapi kenapa kau mengajaknya juga?”

Birmanto menunjuk ke arah Bale, yang hanya mengangkat bahu. Hidayat sendiri menjawab, “Kuputuskan mereka sepaket sekarang. Kau tak keberatan mengenai itu, bukan?”

Birmanto terkekeh, “Heh, terserah. Lucy, kemarilah.”

Lucy dengan ragu melangkah maju mendekat. Birmanto sendiri memutar laptopnya ke depannya. Lucy perlahan duduk di kursi yang disediakan, menatap halaman surel Yayasan. Terdapat sebuah pesan singkat ‘Ini untukmu.’ Diiringi sebuah berkas terlampir di bawahnya.

Begitu Lucy telah duduk, Birmanto menekan berkas tersebut dan sebuah video muncul. Lucy dapat mendengar orang-orang di belakangnya perlahan mendekat selagi Birmanto menekan tombol putar.

Latar belakang video putih polos, seakan direkam di ruangan kosong. Fokus utama rekaman adalah seorang pria yang berdiri di tengah ruangan, terekam dari atas kepala sampai bagian lututnya. Dia menunduk, menyembunyikan wajahnya dalam bayangan. Bahkan jika kecerahan video dinaikkan hanya akan tertutup perban yang menutup seluruh wajahnya.

Meskipun begitu, Lucy mengenali dengan jelas jas cokelat yang dikenakannya.

“Saya Harper Dominik selaku kepala keamanan sekaligus Direktur Sementara Situs-84 menujukan video ini untuk situs-situs Yayasan yang telah saya kontak sebelumnya.” Katanya.

“Saya tidak hanya mementingkan keamanan situs saya, melainkan memilih peduli kepada situs-situs kalian semua. Saya telah mengirimkan undangan dan permintaan, dan selayaknya hukum Yayasan yang telah terlampir dengan jelas di surat saya, sudah menjadi kewajiban kalian membantu situs kami dalam tujuan mulia ini.”

Harper mengangkat salah satu tangan dan mengepalkannya, “Musuh kita semua sama, Situs-79. Mereka tidak seharusnya dianggap sebagai situs Yayasan, dan tetap saja mereka ada. Situs-situs seperti kita juga tidak bisa menentang mereka, karena saya tahu, mereka punya kendali atas kalian sebagia direktur. Tentu saja, melalui metode biadap berupa pemerasan dan ancaman.”

“Kejahatan terbaru mereka sekarang adalah mencoba membunuh direktur situs kami, Dr. Ishak. Keparat-keparat menggunakan personel kami tercinta atas nama Lucia Amelia, memaksanya untuk memberi akses masuk untuk melancarkan kejahatan mereka.” Lanjutnya.

Lucy sendiri hanya menggeleng, sedari tadi berteriak menolaknya. Dia tak bisa berkata-kata seraya pidato Harper semakin parah. “Jelas Situs-79 telah berafiliasi dengan KdP Chaos Insurgency yang telah menyerang situs kami di malam sebelumnya dan membunuh seluruh personel kover situs kami. Besar kemungkinan mereka tengah bersembunyi jauh di dalam gelapnya situs itu.”

“Tetapi kalian mengindahkan itu,” Harper kembali berkata, “Kalian tidaklah percaya dan memilih mengabaikan ancaman nyata ini, percaya Yayasan akan melakukan sesuatu terhadapnya. Aku tidaklah berdaya menghadapi situs sebesar 79 sendirian, oleh karena itu aku telah memohon bantuan kepada kalian. Tetapi kalian enggan melakukannya, menolak kebebasan Yayasan darinya.”

Akhirnya dia memberi jeda seraya menunduk. Setelah beberapa saat, dia berkata pelan, “Malam tadi adalah peringatan keras yang telah kutuliskan. Aku tidak lagi akan diam dan membiarkan ini berlangsung lebih lama lagi.”

Dia lalu melangkah menjauh. Awalnya Lucy mengira video telah selesai, tetapi kemudian dia kembali membawa map. Dia membukanya dan berkata, “Awalnya ada dua cara yang ku tawarkan bagi kalian yang ingin membantu: kirim personel relawan kalian pada kami dengan jumlah yang kami telah tentukan sebelumnya, atau beroperasi sendiri menghadapi Situs-79 dengan jumlah bebas. Bagi yang tertarik untuk pilihan kedua, kalian memiliki target sebagai berikut: AsDir. Penahanan Birmanto Teladan, AsDir. SDM Hidayat, Peneliti Senior Dr. Heliza Braja…”

“Itu urutan daftar PoI Situs-118 bukan?” Hidayat berbisik, tetapi Birmanto memberi isyarat diam seraya tetap tersenyum.

Harper sendiri menutup map yang dipegangnya, menunjukkan kalau dia tengah memegang dua map. Dia memindah posisi map kedua dan mulai membukanya, “AsDir. Keamanan Herria Ditya, Peneliti Senior Dr. Onyx Pramono, dan Peneliti Zakariya. Silahkan mengecek mereka di database personel Yayasan untuk foto mereka.”

Harper akhirnya menutup map tadi, melempar mereka ke samping tanpa peduli akannya. Dia menatap ke arah kamera perekam. “Itu adalah pilihan kalian; antara kalian bisa membantu sesama situs Yayasan seperti kami, membantu melepaskan situs kami, situs kalian, dan situs-situs lain di pulau ini dari cengkraman jahat Situs-79, atau kalian bisa mengetes ancamanku lebih jauh lagi.”

Harper tak bergerak, pandangannya tetap lurus ke depan. “Aku punya… satu situs, dan itu cukup bagiku. Pertanyaannya adalah, antara aku mengerahkan segalanya yang kupunya untuk mengakhiri Situs-79, atau untuk situs kalian. Kalian telah melihat sendiri tadi malam, Yayasan menyerahkan ini semua ke kita – para direktur – sekarang. Kalian punya waktu sampai tengah hari sejak video ini diterima untuk merespon, apa pun itu. Kalian cuma punya satu situs juga, jadi pikirkan yang terbaik bagi situs kalian sendiri.“

Dan video tiba-tiba berhenti, telah selesai merekam deklarasi perang dan ultimatumnya. Tak lama setelahnya, layar laptop diturunkan Birmanto. “Jadi Lucy, apa pendapatmu?”

“Apa… siapa orang itu?” Lucy bertanya, jelas tidaklah sungguh-sungguh mengenai itu.

“Kau mendengarnya, dia Harpermu.” Bale memutuskan menjawab enteng bak itu fakta jelas, yang memang benar.

“Tidak, tidak… itu pasti Insurgent… ya, benar! Mereka pasti memalsukan video itu!” Lucy berseru meyakinkan mereka, meski lebih ke arah mencoba meyakinkan dirinya.

Birmanto menggeleng. Dia meraih sesuatu di lacinya dan segera meletakkannya di meja; kumpulan cetakan foto seukuran kertas A4 dengan gambar beberapa orang tengah berdiri menatap bangunan terbakar di malam hari. Tanggal di foto jelas menunjukkan malam tadi, dan seorang pria yang kebetulan berbalik menunjukkan dengan jelas setengah wajahnya yang tak terbalut perban.

“Bahkan jika mereka mencoba menyalahkan itu kita, aku punya bukti fotonya.” Birmanto berkata. “Sepertinya dia mengumpulkan tim penyerangnya sendiri untuk malam itu.”

Lucy menatapnya dengan terbelalak. Dia tanpa sadar menggeleng, sebelum menjauhkannya ke samping seraya berkata, “Gak, gak mungkin itu dia!”

Dia menunduk, masih menolak kenyataan yang dia kesampingkan. Tiba-tiba, dia berseru, “Mungkin kau yang membuatnya!” seraya menunjuk Birmanto.

Bale hendak bereaksi, tetapi Hidayat menghalanginya. Birmanto sendiri hanya tersenyum mengamatinya. “Apa untungnya bagiku melakukan itu?”

“Eh- entahlah, tapi kau melakukannya!” Lucy bersikeras, meski dia sendiri tahu dia tak memiliki alasan. “Mungkin- ah, mungkin kau agen Insurgent!”

Bale sepertinya tertarik akan itu sedangkan Hidayat mencoba menahan tawanya. Birmanto malah terlihat terganggu akan itu. “Ayolah, Lucy. Ini bukanlah dirimu.”

“Kau tak tahu apa-apa mengenaiku!” Balasnya. “Selayaknya kau tak tahu apa-apa mengenai Harper!”

Birmanto menatap Lucy, dirinya tak lagi tersenyum. Dia perlahan meraih telepon di meja dan menekan beberapa tombol sebelum mendekatkannya ke telinganya.

“Bawakan ponsel Lucy ke ruanganku segera.” Dia berkata, tak dengan nada santai biasanya.

Dia lalu meletakkan teleponnya dan kembali menatap Lucy. Mereka saling menatap, meski salah satu penuh ketidaksukaan. “Huh…” Hidayat berkata pelan melihat mereka, diikuti Bale yang tertarik mendengarnya bertanya, “Ada apa?”

“Dia tidaklah tertawa…”

Birmanto hanya menatap Lucy dengan sabar seraya menunggu permintaannya datang. Akhirnya, pintu diketuk beberapa kali sebelum seseorang melangkah masuk. “Pagi, Ford.” Herria berkata. Dia mendekati kumpulan orang di depannya dan menyadari Lucy ada di sana. Herria hanya menatapnya sekilas sebelum meletakkan ponsel ke meja Birmanto, ponsel Lucy.

“Coba kau kontak dia kalau begitu,” Birmanto berkata seraya menyodorkan ponselnya ke depannya.

Lucy segera meraihnya dan menghidupkannya. Setelah menyala, dia segera mengontak Harper dan menunggu balasannya. Tentu saja, dia menyetelnya ke suara luar supaya orang-orang di sini dapat mendengar percakapan mereka. Dia sangat ingin membuktikan betapa salahnya mereka, betapa benarnya asumsinya.

Tiba-tiba suara panggilan terhenti, berganti statis. Setelah gemerisik selama beberapa saat, terdengar suara tak bersahabat, “Dengan siapa aku berbicara?”

“Harper, ini aku! Lucy!” Lucy berkata segera.

“Oh, aku… tak menyangka mereka membiarkanmu menelpon,” Harper membalas. “Sebentar.”

BANG

Tiba-tiba, terdengar suara tembakan nyaring dari panggilannya. Karena dia memakai suara luar, Lucy reflek menjauhkan ponselnya dari telinganya meski terlambat. Para personel lain di ruangan tak banyak bereaksi juga, meski Bale sempat reflek mundur.

“Apa-apaan itu Harper?!” Lucy bertanya kaget.

Tak ada balasan sekilas, tetapi Harper akhirnya menjawab, “Mengecek apakah kau memakai suara luar. Dari respon cepatmu sepertinya tidak. Kau sendirian, kan?”

Lucy melirik ke sekelilingnya sekilas, lalu menjawab, “…Ya? Tapi kenapa kau menanyakan itu?”

“Maaf mengenai tembakan tadi kalau begitu, tetapi aku sangat senang mengetahui kau baik-baik saja. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan padamu di dalam sana, dan aku tak ingin membayangkannya.”

Lucy tertegun, “Apa maksudmu?” dia bertanya. Dalam pikirannya, dia mengira jikalau Harper tahu mengenai kasusnya sebagai agen ganda.

Tetapi Harper mengklarifikasinya dengan menjawab, “Lucy, kau berada di Situs-79 bukanlah dalam keinginanmu sendiri. Mereka tak membiarkanmu pergi bukan? Jadi apa kejahatan yang telah mereka lakukan padamu? Aku perlu itu untuk meyakinkan personel lain untuk mengeluarkanmu dari sana.

“Harper! Persetan reputasi mereka, Situs-79 tetaplah situs Yayasan. Mereka tidaklah melakukan apa-apa padaku…” Meski mengatakan itu, dia tahu kebenarannya bukanlah seperti itu, bahkan sejak pertama dia bergabung. Tetap saja, “…Sudah nasibku bekerja di sini.”

Dia juga tahu, dia di sana karena dirinya sendiri.

“Apa yang kau bicarakan? Kau di sana karena Si Robert itu! Apa dia di situs itu juga?” Harper bertanya kembali.

“Harper! Tak ada Insurgent… yang menyerang situs kalian di sini!” Lucy menjawab, meski dia tahu memanglah benar ada agen Insurgent di situs ini. Termasuk dirinya, sebagai alatnya Robert.

“Tidak, tidak. Mereka- orang-orang yang mendampingimu kemarin, mereka itu Insurgent, Lucy! Kepala penahanan dan SDM mereka dikabarkan direktur situs lain memiliki rahasia gelap situs mereka dan melakukan pemerasan bermodalkannya.” Harper membantah. “Aku tak tahu apa yang Si… Heliza ini lakukan, tetapi direktur Situs-118 menyatakan dia ikut andil dan perlu diwaspadai untuk itu.”

“Heh, sudah kubilang” Hidayat berbisik kembali dengan bangga, diikuti Birmanto kembali mengisyaratkan diam.

“Lalu tim yang bersamamu kemarin, mereka semua berbahaya secara fisik. Si Zakaria ini, entah apa yang dia lakukan tapi aku tak memercayai seseorang dengan masker gas sepertinya.”

“Oi.” Terdengar protes singkat di belakang.

“Tapi tak ada yang lebih berbahaya dari orang ini. Aku tahu kau dekat dengannya, Lucy, tapi pria bernama Onyx ini berbahaya! Dia menghabisi tim keamananku seorang diri semata! Tak mengherankan jika kau bilang padaku kalau dia mengawasi dan mengancammu kemarin agar tidak memberitahukannya padaku, tetapi aku tahu!” Harper berkata dengan nada penuh kebencian dan prasangka.

“Tidak kau tak tahu apa-apa, Harper!” Lucy mulai berseru juga, “Hentikan kegilaan yang kau lakukan! Ini bukan dirimu!”

“Tidak, Lucy. Hentikan kegilaanmu. Berhenti membelanya hanya karena dia dekat denganmu! Mereka pengaruh buruk, semuanya!” Harper malah membalas itu.

“Apa yang-“ Lucy tersentak, “…Harper, apa ini semua hanya untuk urusan personal?!”

Harper tanpa ragu membalas, “Aku hanya ingin yang terbaik bagimu, Lucy. Dia bukan pria yang baik, tidak. Dia berbahaya!”

Lucy sendiri memegang kepalanya dan menunduk, akhirnya dia berkata, “Aku tak percaya kau melakukan semua ini… hanya karena itu saja…”

“Lucy, tolong dengarkan baik-baik! Kau bekerja di Situs-79, tempat yang sama di mana personel kasar dan keji dibuang. Lihat dirimu dikelilingi siapa di situs itu! Mereka semua orang jahat! Katakan kau ingin kembali ke sini, di mana orang-orang baik dan waras berada!” Harper masih mencoba membujuknya

“Sedari awal ini bukanlah urusan baik dan jahat, kau hanya gila!” Lucy akhirnya tak tahan lagi untuk tak berteriak marah.

Hening setelah Lucy mengatakan itu. Bahkan Birmanto merasa penasaran dan sedikit mencoba mendekat, mengecek apakah mereka masih dalam panggilan. Tetapi kemudian, terdengar balasan singkat,

“…Yah, aku tak wajib masuk akal bagimu kalau begitu.”

Dan panggilan berakhir. Ruangan hening, dengan pandangan para personel menatap ke Lucy yang perlahan menurunkan ponselnya dan menunduk. Akhirnya dia meletakkan ponselnya ke meja. Dia menatap ke arah Birmanto dan berkata, “Aku tak diperlukan lagi di sini, kan?”

Birmanto secara mengherankan hanya menatapnya balik dengan ekspresi iba, tetapi tak lama kemudian dia tersenyum dan melambaikan tangannya ke depan, “Ya, pergilah sana. Menangislah atau apa, terserah.”

Lucy tak banyak merespon dan dengan segera pergi. Dia tak memedulikan penjaga pintu di sampingnya dan langsung membuka pintu keluar. Ruangan kembali hening.

Bale merasa sudah cukup lama berdiri sehingga dia mendekati meja dan berkata “…Jadi boleh aku pergi juga?”

Birmanto hanya terkekeh, “Heh, pergilah. Kau memang tak dibutuhkan sejak awal.”

Bale tak memedulikan kalimat terakhirnya dan segera melangkah pergi mengikuti Lucy. Kini tersisa dua orang saja di ruangan, tak menghitung si penjaga pintu.

“Jadi ku rasa aku…”

“Tetap di sini, kita punya banyak pemerasan untuk dilakukan mulai sekarang.”


Lucy duduk sendiri di tengah ruang tunggu lantai Keter. Dia tidak tahu sudah berapa jam berlalu, tetapi mendekati siang tadi, Hidayat menghentikan siaran televisi dan saluran kembali statis sebelum dimatikan. Kini dia di sini, duduk sendiri di depan televisi kosong di atasnya. Dia pun tidak sedang menatap kosong ke atas, melainkan menunduk ke bawah, seperti yang selalu dia lakukan.

Lift di sampingnya tiba-tiba berbunyi. Sebenarnya jika Lucy memperhatikan, itu jarang terjadi karena tak ada personel lain selain kepala bagian yang bolak-balik naik ke atas dan turun, jadi dia tidaklah menyadari ketika seorang dengan jas lab melangkah keluar dari lift dan mendekatinya.

“Lucy?”

Lucy sendiri tersentak mendengar suara familiar itu dan segera menoleh, “Kak Onyx?!”

“Woah, kau… tak apa?” Onyx tertegun menatapnya. Lucy yang menyadari itu segera mengusap matanya sampai kering.

“Ya, ya. Aku tak apa.” Lucy menjawab dengan senyum tipis. Meski begitu, dia tahu dia tidak bisa menyembunyikan pandangan sedihnya. Dia mencoba menjauhkan perhatian Onyx dari itu dengan berkata, “Kau… bisa turun ke bawah sini?”

“Aku personel senior, jadi aku diizinkan ke bawah. Tetapi tak ada penelitianku yang Keter.” Onyx menjawab. Dia melirik ke sekelilingnya dan menambahkan, “Sejujurnya aku tak terlalu suka berlama-lama di sini…”

“Kenapa?” Lucy bertanya, lebih ke arah mencari bahan pembicaraan lain selain dirinya.

“Lantai ini… tak bersahabat. Aku lebih memilih menghindari masalah yang tak perlu kudapat di sini.” Onyx membalas.

Sejujurnya Lucy tak menduga jawabannya seperti itu. Selama ini Onyx dilihatnya sebagai orang yang malah mencari masalah itu sendiri. Ternyata ada kualifikasi akan apa yang dianggapnya masalah tak penting, dan lantai ini entah kenapa memilikinya.

“Pantas Heru tak ke sini, ya…” Lucy menggumam seraya memikirkan itu.

“Ah, Heru tak pernah ke bawah sini?” Onyx tiba-tiba bertanya.

Lucy jelas terkejut menyadari kalimatnya terdengar Onyx. Dia dengan cepat menggeleng dan mencoba tersenyum seraya menjawab, “Ah, bukan di sini, tetapi di lantai Euclid. Dia sering ke lantai Euclid, kok!”

Onyx mengangguk. Tetapi dia kemudian kembali bertanya, “Jadi kau diperlukan untuk apa di lantai Keter ini? Ku kira kau di lantai Euclid.”

“Aku…” Lucy mencoba membuat alasan akan penahanan sementaranya di sini. “Birmanto memerlukanku di lantai ini… untuk urusan Situs-84.”

“Begitu ya…” Onyx mengangguk mengerti. Mereka lalu saling diam dengan canggung. Lucy masih mencoba untuk tidak mengungkit masalahnya saat ini, sedangkan Onyx malah melirik ke sekelilingnya, entah kenapa terlihat waspada.

“Senang mengetahui kau baik-baik saja, Lucy. Aku akan menjengukmu lagi nanti.” Onyx berkata seraya bersiap untuk beranjak pergi.

“Tunggu,”

Onyx berbalik. Lucy akhirnya tak mampu memendam masalahnya sendiri. “Bicara denganku
sebentar.”

Onyx mengamati sekeliling, cuma ada beberapa penjaga yang berkeliaran di ruang tunggu. Dia mengangguk setuju dan segera duduk di samping Lucy.

“Keadaan terasa… kacau saat ini, ya?” Lucy membuka pembicaraan. “Semua insiden di televisi, kunjungan kita kemarin ke situs asalku, semuanya.”

“Ah, jadi itu situs asalmu ternyata.” Onyx tiba-tiba mengomentari. “Pantas kau kenal dengan orang-orang di sana.”

“Serius? Kau tak sadar itu situs asalku?” Lucy hanya menggeleng menyadari kekurangan kepekaan Onyx. Tetapi dia memilih mengabaikan itu dan lanjut bercerita. “Kau ingat seorang pria yang sempat kau lawan? Yang punya perban di setengah wajahnya.”

“Tentu, Harper namanya, kan? Kau bilang dia temanmu, jadi aku mundur saat itu.” Onyx sepertinya masih mengingatnya sampai ke namanya, meskipun Harper bukanlah siapa-siapa baginya. “Oh ya, aku belum bilang ini, tetapi saat terjadi ledakan di hari itu, Harper tengah menahan kami. Jadi aku harus melumpuhkannya supaya bisa ke ruanganmu.”

“Pantas…” Lucy menepuk dahinya dengan pasrah. Tetapi sekali lagi, dia mengabaikan itu.

“Kondisi situs kita dan Situs-84 semakin memburuk sejak saat itu. Dan aku tak bisa berhenti memikirkan satu hal…” Lucy termenung sejenak sebelum akhirnya berkata, “Apa kita pihak yang salah dalam konflik ini?”

“Tentu tidak! Kau sendiri yang bilang kalau ada penyusup di ruangan itu yang hampir membunuhmu dan direktur Situs-84, kan?” Onyx membantah cepat.

“Tapi mereka tidak tahu itu! Dan bagaimana mereka mau percaya kepada kita? Di mata mereka, kita ikut andil dalam dua penyerangan ke situs mereka. Bagaimana kau bisa meyakinkan mereka?”

Onyx terdiam. Dia jelas tak punya jawaban mengenai itu. Jadi Lucy lanjut berkata, “Lagipula lihatlah situs ini, ‘neraka’ di mana semua personel bermasalah Yayasan dibuang. Kita pantas dibenci sedari awal…”

“Kau tahu itu tak benar, Lucy!” Onyx kembali membantahnya. “Buktinya dirimu sendiri, Heru, Pak Herman dan lainnya. Tak semua orang di sini personel buruk.”

“Onyx, kau menghajar habis penjaga mereka, aku pernah membunuh orang. Tak ada orang baik yang melakukan itu, tetapi kita semua di situs terkutuk ini melakukannya sebagai keseharian!” Lucy berseru, melampiaskan pikirannya. “Kitalah penjahat sebenarnya bagi mereka, dan bagi Yayasan sendiri.”

Onyx seketika diam melihat Lucy membantahnya sekeras itu. Dia duduk diam tanpa membalas. Lucy sendiri merasa sudah menyampaikan apa yang saat ini dipikirkannya, jadi dia mengakhirinya dan kembali diam, termenung menatap lantai.

“…Sebenarnya apa yang mendefinisikan itu?”

Lucy mendongkak, menatap Onyx yang menatap lurus ke depan. “Aku melakukan apa yang kulakukan karena aku tahu itu hal yang benar. Aku menghajar orang untuk melindungi Pak Herman.” Onyx berkata.

Dia melirik ke Lucy, “Kau menembak orang? Pasti ada alasan di balik itu bukan? Bahkan jika terpaksa, kau tahu itu tak ada tindakan lain yang lebih baik dari itu. Aku percaya itu, dan sudah seharusnya kau percaya itu.”

“Berhenti memikirkan orang lain dan lakukan apa yang kau percayai benar.” Onyx perlahan berdiri. “Aku mengenalmu cukup lama, Lucy. Aku tahu semua yang kau lakukan adalah untuk kebaikan semata.”

Lucy diam mendengarkan itu, diam memikirkan hal tersebut. Dia ingin membantahnya, tetapi dia tahu, tak peduli betapa salahnya dia, betapa banyak kesalahannya, dia akan tetap berusaha mencari kebenaran yang sebenarnya.Sejak pertama dia dikenal di Situs-84, mengungkap insiden SCP-007-ID di Situs-79, mengungkap kebenaran sebenarnya akan misinya di sini, dia tak pernah menyerah. Jadi dia berpikir, ‘apa alasannya berhenti sekarang?’.

Dia cuma perlu kesempatan. Satu kesempatan untuk bertemu kembali dengan Harper dan meluruskan segalanya. Menghadapinya dan memberikan percakapan sebenarnya yang dulu dia inginkan. Dia tak seharusnya lari menghindar saat itu, melainkan menghadapinya langsung saat itu juga.

“Terimakasih, Kak Onyx.” Lucy berkata.

Onyx ingin mengatakan sesuatu seraya tersenyum, tetapi tiba-tiba terdengar suara nyaring di ujung koridor.

“Pramono!”

“Sial…” Onyx untuk pertama kalinya bagi Lucy terlihat gugup dan segera menoleh. Dari arah koridor kantor pribadi, seorang pria yang mengenakan masker taktis – berbeda dari masker gas usang Bale – dan ponco hitam melangkah mendekat. Entah kenapa ada dua buah ‘X’ putih digambar di bagian matanya.

“Kau seharusnya bilang kalau berkunjung, Kawan! Sudah lama kita tidak tanding ulang!” Dia berseru dengan bersemangat. Masalahnya dia juga mengeluarkan dua buah pisau taktis dan memutarnya di tangannya dengan penuh keahlian.

“Senang bicara denganmu Lucy, tetapi aku harus pergi!” Onyx berkata seraya bergegas ke arah lift.

“Tunggu! Aku bahkan membawa linggismu waktu itu!” Pria misterius itu masih berupaya mengejarnya, tetapi Onyx sudah masuk ke lift. Setelah menekan tombol naik, dia melambai sekilas ke arah Lucy – yang Lucy balas dengan canggung – sampai pintu lift tertutup, tepat saat orang itu tadi sampai di depannya.

“H- Hey! Tinggalkan Kak Onyx sendirian!” Lucy mencoba menghentikannya dari menurunkan lift. Dia tak tahu apa hubungan pria dengannya, tetapi dia tahu Onyx jelas menghindarinya. Meski begitu, dia juga mencoba berpikiran positif, mengabaikan dua buah pisau taktis yang tengah digenggamnya.

“Ah, aku baru melihatmu di sini. Kau bekerja di lantai ini sekarang?” Pria itu malah bertanya.

“Tidak, aku cuma diperlukan di sini… untuk urusan Situs-84!” Lucy kembali menggunakan alasannya sebelumnya.

“Yah, baiklah…” Balas pria itu, entah kenapa terdengar kecewa. Lucy perlahan tertarik dengannya dan gantian bertanya, “Jadi… apa hubunganmu dengannya?”

Pria itu menyimpan kembali kedua bilah pisau taktisnya selagi menjawab, “Dia hebat bertarung. Lumayan langka bagi personel senior – apalagi seorang peneliti – untuk bisa beladiri sehebat dirinya, Sayangnya meskipun dia hebat muay thai sekalipun, dia masih belum sebaik diriku. Saat itu dia putus asa dan mulai memakai linggis, mengejutkan mengetahui dia juga hebat jika bersenjata meski tetap kalah.”

“O- oh… oke…” Lucy mengangguk perlahan, mengetahui ada orang di atas kemampuan bertarung abnormal Onyx yang sudah terdengar mengesankan.

“Kau terlihat dekat dengannya, jadi jika dia turun lagi, teriak saja! Dengan latihan konstan, dia akan sebaik diriku!” Pria itu berkata seraya melangkah menjauh. Lucy hanya menatapnya dengan heran dan sedikit terhibur akan tingkah absurbnya.

Mungkin, meskipun dinyatakan sebagai pendosa, beberapa tetap memilih menjadi manusia.


Suara pintu diketuk beberapa kali terdengar, sebelum seorang pria melangkah masuk ke dalam ruangan. “Malam, Reiss.” Herria berkata seraya memperbaiki posisi topi abu-abunya.

Dia melangkah ke hadapan meja Birmanto di depannya. Birmanto sendiri tengah memainkan setumpuk kartu poker di tangannya. Dia tersenyum dan tertawa seraya mempersilakan Herria duduk.

“Ah, Herria.” Dia membuka, “Sebagai atasanmu yang baik, aku- hehe… aku dan Hidayat sudah menangani sebagian besar situs yang mungkin menjadi ancaman bagi kita mulai besok.”

“Uhh, terima kasih, pak?” Herria merespon dengan bingung.

“Sama-sama. Sekarang, kita di sini perlu membicarakan sisa situs yang masih menjadi ancaman.” Birmanto berkata. Dia mengeluarkan dua buah kartu dari tumpukan kartu yang dipengangnya dan melemparnya dengan mulus ke meja, saling berdampingan satu sama lain.

8 hati dan 4 sekop.

“Tentu saja, Situs-84 menjadi ancaman terbesar kita. Dengan Harper memegang kendali situs, mereka akan lebih fokus ke penyerangan.” Birmanto menjelaskan.

“Baik… aku tahu mereka punya agen lapangan, tetapi bagaimana teknisnya mereka menyerang kita.” Herria berkata bingung.

“Secara frontal dari kover kita, tentu saja.” Birmanto berkata. “Tetapi yang perlu kau waspadai adalah, situs mereka tidaklah sendirian.”

Birmanto mengeluarkan tiga kartu kali ini, melemparnya tak jauh dari dua kartu sebelumnya.

As sekop, As dan 8 wajik.

“Situs-118, ya…” Herria berkomentar.

“Jika saja Harper tak menyinggung keterlibatan mereka, aku tak akan mempertimbangkan upaya penyusupan. Tak ada bedanya sih, tetapi pastikan insiden Hari Isthmia tak terulang lagi. Jangan izinkan akses masuk dari situs manapun sekarang ini.”

“Tentu.” Herria berkata.

“Sekarang, kemungkinan besar mereka akan mengirim agen lapangan ke situs kita. Pertanyaannya adalah, kelas apa yang dikirimnya?” Birmanto bertanya. Sebenarnya secara retoritis, karena dia tahu ini pertama kalinya Herria mendengarnya.

Dan tentu saja, Herria balik bertanya, “Kelas?”


Kover Situs-79 pagi itu sunyi. Produksi pabrik dinyatakan dihentikan sementara bagi publik. Tetap saja, sekumpulan pekerja berpakaian bebas lalu-lalang di sekitar pabrik. Mereka meski terlihat seperti pekerja kasar biasa, saling terkoordinasi dan mengamati sekelilingnya dengan seksama di tengah rutinitas palsu mereka di tengah naungan langit gelap tertutup selimut awan mendung di atas mereka.

Tak jauh dari pabrik, sekumpulan orang berseragam taktis hitam perlahan mendekat. Mereka berjumlah banyak, mendekati pabrik dari seluruh arah. Mereka memegang senapan harpun selagi mendekat, beberapa lagi memiliki tombak besi panjang diikat di punggung mereka dengan rantai.

Berada paling jauh dari mereka semua, dua orang pria berseragam taktis serupa mengamati situasi pabrik dari teropong mereka.

“Keadaan berjalan baik, Pak?” Yang lebih muda di antara mereka bertanya.

“Terlalu lancar…” Pria yang lebih tua berkata. Dia mengambil radionya dan menghidupkannya. “Halo, respon. Bagaimana kondisi di sana?”

Tak ada balasan. Pria yang lebih tua segera meraih teropongnya kembali. Meski dari kejauhan, dia bisa melihat warna-warna merah di kejauhan.

“Kita pergi dari sini!” Dia berkata cepat seraya mengemasi barang-barangnya. Yang lebih muda juga mulai membantu mengemas.

Sayangnya begitu yang lebih tua berbalik dari arah pabrik, di hadapannya berdiri kumpulan pekerja kasar pabrik itu, memegang parang tebas.

“Sudah lumayan lama sejak kalian mengunjungi kami, bukan?”

Di belakang mereka, seorang pekerja lagi mendekat. Jaket hoodie hitamnya penuh noda merah, terutama senjatanya yang berupa tongkat dengan dayung tajam kini berwarna merah. Dia tersenyum.


Dua orang pria berseragam taktis tadi perlahan diseret ke halaman pabrik oleh para pekerjanya. Yang lebih muda menatap dengan takut akan halamannya yang dipenuhi mayat sesama personel taktis di tanah. Sebagian besar kehilangan kaki atau lengannya, yang tergeletak di sekitarnya. Beberapa kehilangan kepalanya.

Dan di sinilah mereka berdua ditundukkan oleh para pekerja pabrik. Pria dengan jaket hoodie tadi berdiri di depan mereka memegang dayung besinya.

“Ya, sisa mereka berdua, cuma dua kelas Loader.” Pria itu berkata ke radio yang dipegang tangannya yang lain. “Selain mereka, semua Penombak Kelas 1 dan 2 sudah dinetralisir.”

Dia diam mendengarkan suara di radio. Akhirnya dia menatap ke kedua orang di depannya dan bertanya, “Jadi, apa Situs-118 menjalankan Dekrit Ahmad?”

“Tidak,” Yang lebih tua menggeleng pasrah. “Hanya Dektrit Aisha.”

“Heh, tit-for-tat kalau begitu.” Dia mengayunkan dayungnya, masih tersenyum ke arah mereka. “Tenang saja, aku akan membiarkannya hidup karena kemurahan hatiku. Kalian memberikan adrenalin yang lama kami inginkan, Johnny.”

“Tch…” Respon pria yang lebih tua. Dia menoleh ke pria yang lebih muda yang menatapnya dengan takut. “Maaf membuatmu melihat ini. Tutup matamu.”

“Aw, manis sekali.” Pria di depan mereka terkekeh.

Dan dalam beberapa saat, dia sudah selesai mengayunkan dayung tajamnya. Sang pria tua diam, tak tahu harus bereaksi apa mengetahui eksekusinya telah selesai. Kepalanya harusnya akan jatuh tak lama lagi.

Tetapi alih-alih kepalanya, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh di sampingnya. Dia segera menoleh ke samping dengan terkejut. “Tidak…”

Menyadari siapa yang baru saja dieksekusi, dia mencoba berdiri meski tangan dan kakinya terikat. “Kenapa dia, Karun!?”

Karun sendiri tersenyum, “Membunuh rekan seseorang yang ingin mati lebih memberi makna.”

“Sialan, akan kubunuh kau!” Pria yang lebih tua berteriak, mencoba mendekatinya sebelum jatuh ke lantai bernoda tanah dan darah. Para pekerja di sekelilingnya hanya menatap dengan senyum keji, menatapnya berusaha sekuat tenaga merayap di tanah.

Perlahan, tetes air hujan mulai turun satu-persatu, sebelum akhirnya menjadi hujan sepenuhnya yang membasahi mereka semua.

Seorang pekerja berjalan mendekati Karun dan berkata, “Hujan akan mempermudah kita mengaburkan buktinya, BTW.”

“Yah tentu.” Karun masih menatap pria tua di tanah dengan senyum yang sama. “Ku rasa itu bisa dihitung ‘upaya penyerangan’, kan?”

Dengan sebuah anggukan setuju, Karun kembali mengayunkan dayungnya, mencipratkan darah ke tanah yang segera memudar karena hujan.

Dan karena hujan juga, mereka terlambat sadar sampai terdengar suara tepat di depan pagar pembatas pabrik,

“Apa Situs-79 buka untuk umum pagi ini?

Para personel kover segera menoleh. Meskipun hujan, tak seharusnya mereka tak menyadari kalau ada orang asing berhasil mendekat.

Di depan pagar, dua siluet orang dengan samar dapat terlihat di balik hujan.


Malam sebelumnya

“Selain Situs-118, tak ada situs lain yang cukup berbahaya.” Birmanto berkata seraya meraih seluruh kartu di meja dan memasukkannya dalam dek lengkap kartu di tangannya. “Situs-situs besar lain seperti Situs-188 dan Situs-114 yang ku singgung tadi sudah ditangani aku dan Hidayat, mereka tak akan berpartisipasi dan Harper jelas tak akan bisa menyusup dan menyerang mereka.”

Dengan itu dia menyisihkan seluruh kartu-kartu besar: J, Q, K, dan As.

“Tetapi, kau tetap perlu mewaspadai situs-situs kecil ini.” Birmanto melanjutkan seraya menyebarkan seluruh kartu di tangannya ke meja dengan sekali ayunan. Dia mendorong satu kartu ke depan, ternyata merupakan As hati.

“Situs kita ibaratkan satu kartu ini, menghadapi semua kartu ini.” Birmanto berkata dengan nada terkesan.

“Sejujurnya, seluruh konsep situs menyerang situs lain ini… aku tak percaya benar-benar diizinkan Yayasan.” Herria berkomentar pelan.

“Semua diizinan dalam operasi gelap dan celah hukum Yayasan.” Birmanto terkekeh akan konsep menggelikan itu juga.

Herria melirik ke pojok meja, ke kartu-kartu yang dipinggirkannya. “Kau yakin mereka tak akan muncul, menurutmu? Situs-situs besar?”

Birmanto melirik ke samping, perlahan terkekeh kembali. Di luar dugaan Herria, dia menggeleng. “Tak ada yang pasti. Terkadang aku bisa sangat-sangat sial…”

Dan dia tertawa lepas. Herria menggeleng mengamati atasannya tertawa tak terkendali. Tetap saja, dia melirik dengan ragu ke kartu-kartu di pojok.

Kartu As Wajik berada paling atas.


Sekarang

Birmanto menatap ke tumpukan kartu di depannya. Berbanding terbalik saat Herria bersamanya, begitu dia sendirian di ruangan – mengecualikan penjaga yang menjaga pintu – dia menatap dengan gugup beberapa radio di depannya. Satu hal yang dia tidak katakan di depan Herria adalah dia juga khawatir akan ketidakpastian.

Di samping radio-radionya, kartu-kartu tadi malam masih ada, dirapikannya kembali menjadi satu tumpukkan kembali. Dia sudah menangani semua situs berpotensi berbahaya malam sebelumnya dengan Hidayat, jadi kenapa dia merasa khawatir, dia tidaklah tahu.

Tiba-tiba, salah satu radio berderak. Dia segera meraihnya dan mendekatkannya. “Heliza? Apa ada tamu menarik yang kau kenali?”

“Yang ini menarik karena aku tak mengenalinya!” Heliza berkata, entah kenapa terdengar panik. “Dia seorang perempuan berseragam taktis! Rambutnya panjang berwarna keabu-abuan, ada beberapa yang memutih! Kau mengenalinya?”

Entah kenapa Birmanto merasakan keringat dingin saat mendengarnya. “Mungkin? Apa yang dia lakukan?”

“Menghabisi personel kover kita! Sekarang cuma Karun dan dua orang penjaga tersisa!” Heliza berseru panik. “Tunggu, jadikan itu satu orang tersisa!”

Tak perlu mendengar lebih banyak lagi, Birmanto segera berlari keluar menggenggam radio. Dia menyusuri koridor dengan ekspresi panik untuk pertama kalinya. “Heliza, apa perempuan tua itu punya sabuk hitam di seragamnya? Di bagian mana pun di badannya?”

Selagi dia menunggu lift turun, Heliza sempat menjawab, “…Ya! Di lengan kirinya!”

“Menjauh sejauh mungkin darinya! Naik ke lokasi tertinggi yang bisa kau naiki!” Birmanto berseru selagi melangkah masuk ke lift.

Selama dia naik, hanya satu hal di pikirannya, Kenapa dia di sini!? Kenapa dia di sini!? Kenapa dia di sini!?

Kenapa mereka di sini!?

Begitu lift terbuka, Birmanto lari secepat yang dia bisa. Wajahnya boleh terlihat tua karena stresnya, tetapi fisik badannya masih paruh baya. Tak memakan waktu lama, dia sampai ke lift terakhir ke atas kover.

Dan begitu dia sampai di atas kover mereka. Situasi pabrik jelas sunyi. Seharusnya ada penjaga tepat di meja di depan lift, tetapi mereka semua tak ada. Birmanto segera keluar dari pabrik dan berdiri langsung di tengah hujan deras.

Karun tengah memegang erat setengah dayung besinya yang sudah patah, kini menjadi penyangganya berdiri. Dia berlumuran darah dan tangan kirinya terlihat terayun bebas bak tulang di dalamnya sudah hancur dan remuk. Kakinya sendiri seperitnya juga patah, tetapi dia tetap berdiri tegar dengan senyum merah karena darah.

Di depannya, seperti laporan Heliza, seorang perempuan tua berdiri dengan ancang-ancang khas silat. Berbeda dibandingkan Karun, seragam hitam taktisnya memiliki lebih sedikit noda darah, jelas dari fisik perempuan itu bahwa darah di seragamnya bukan dari badannya.

“Ah, Bio. Sudah lama sejak kita bertemu, bukan?” Perempuan itu berkata dengan ramah.

Birmanto ingin mendekat, tetapi dia mendengar suara, “Apa yang…”

Birmanto menoleh cepat ke belakang, ternyata Herria mengikutinya dari belakang. Herria sendiri tertegun melihat ekspresi panik Birmanto di tengah hujan sebelum menoleh ke arah depan, menyadari keberadaan perempuan tua di sana. “Siapa kau!” Herria berteriak dan segera berada di samping Birmanto, siap dengan pisaunya.

“Jane…” Birmanto berkata dengan gemetar, jelas bukan karena dinginnya hujan. “Apa… Apa yang Situs-414 lakukan di Jawa?”

Perempuan di depannya hanya tertawa. “Yah, aku ingin menjelaskannya ketika penjaga kalian ini mencegat kami.”

“Maaf…kan aku… Pak…” Karun berkata sebisanya sebelum mulai batuk darah.

“Sialan!” Birmanto berteriak seraya dirinya dan Herria membantunya berbaring. “Kau mau berkunjung atau mengajak perang? Karena jika ini ajakanmu, aku bisa menyanggupinya!”

“Tenang dulu, nak.” Jane hanya terkekeh. Dia memberi isyarat mendekat ke siluet orang di belakangnya. Benar saja, seorang pria perlahan muncul di balik derasnya hujan. Seorang pria paruh baya berseragam putih dan jas hitam dengan penutup mata di salah satu matanya.

“…Apa yang direktur situs notaris sepertimu lakukan bersamanya?” Birmanto bertanya heran.

Dengan mendehem dia berkata, “Nyonya Jennifer di sini telah membuat perjanjian duel satu-lawan-satu dengan Tuan Karun sebelum pertarungan dilakukan, tentu saja nonfatal. Begitu Tuan Karun terlihat kesulitan menangani serangan Nyonya Jennifer, sisa personel kover segera menyerbunya. Karena tidak tercatat dalam duel, aturan membela diri berlaku dan dia diizinkan menghabisi mereka yang mendekat, yang sayangnya hampir semua di sini.”

“Sialan Karun, kau sangat tidak siap untuk menghadapinya!” Birmanto berkata kesal. Dia hanya bisa mengutuk dirinya sendiri karena tak memperingatkan Karun mengenainya, karena dia sendiri tak mengharapkan perempuan itu di sini sama sekali.

“Tetapi harus ku akui, aku tak menyangka dia sehebat itu dengan dayungnya. Kau memang penuh kejutan, Bio!” Perempuan itu memujinya.

Birmanto malah menggeleng, “Meskipun dia personel terbaik kedua yang kupunya, dia tak ada apa-apanya di hadapanmu, bukan?”

Perempuan itu terkekeh dan menjawab, “Tidak juga.”

Dia menyodorkan tangannya. Birmanto baru sadar dia kehilangan beberapa jari dari tangannya. Dengan cepat dia menoleh kembali ke Karun dan berkata, “Kau berhasil melukainya?!”

“Heh… ya…” Karun menjawab pelan. Dia tiba-tiba meludah ke samping. Saat itulah dia bisa melihat dia memuntahkan sebuah jari. “Kami sempat… saling menyerang… di saat yang… bersamaan. Dia… meremukkan lengan kiriku… tetapi… di saat yang sama… aku menggigit jarinya. Cuma itu… yang bisa… kulakukan.”

“Tidak, tidak. Kau simpan jari itu karena itu pencapaian terhebat Situs-79 saat ini.” Birmanto entah kenapa terdengar bangga dan penuh harapan.

“Hey, agak tidak sopan membicarakannya di depanku kau tahu!” Perempuan itu berteriak di tengah hujan.

“Memangnya… dia siapa?” Herria akhirnya memberanikan diri bertanya dengan gugup.

Birmanto melirik ke Herria, berpikir setidaknya dia bisa memperingatkannya sebelum terlambat. “Dia… Wakil Direktur Situs-414. Tiap agen senior situs mereka rata-rata sehebat Karun, bahkan Vector. Tetapi seharusnya mereka di Sulawesi.”

“Mereka… salah satu situs besar yang kau bicarakan tadi malam, ya?” Herria kembali bertanya.

“Satu diantara yang terbesar…” Birmanto menjawab. Hanya dibalas Herria yang menelan ludahnya.

Setelah membiarkan Karun berbarik di lantai. Birmanto melangkah mendekat ke arah mereka berdua. Herria mengikuti dengan siaga di belakangnya meski dia tahu dia tak akan bisa apa-apa.

Begitu dia berdiri di depan perempuan tua itu, dia bertanya, “Jadi, apa yang Situs-414 lakukan di sini?”

Dengan senyum, perempuan itu membalas, “Ku dengar tengah ada kejadian menarik di daerah ini melibatkan kalian dan situs adik kalian.”

Birmanto menggeleng perlahan. “Tidak, tidak… kau tak mungkin tertarik akan tawaran Situs-84 untuk menyerang kami, kan? Kan?”

Perempuan itu tertawa mendengar tebakan putus asa Birmanto. “Haha… tentu saja tidak. Meski terdengar menarik untuk dicoba, kami cuma menerima kontrak berbayar saja. Aku ke sini untuk menyapamu saja.”

Birmanto hendak mengembuskan nafas lega, tetapi perempuan itu melanjutkan, “Kontrak kami di sini adalah untuk pemusnahan Situs-84.”

Birmanto hanya diam keheranan. Dia diwakilkan Herria yang segera bertanya, ”Tunggu sebentar! Apa itu karena mereka menyerang situs lain?”

Perempuan itu kembali tertawa akan tebakan Herria. “Ahaha… tidak! Itu pekerjaan kami sehari-hari. Tidak, mereka boleh melakukannya, kok. Kalian juga bisa!”

“Tapi…” Kini giliran Birmanto yang bertanya, “Kenapa kalian dikirim kalau begitu?”

Perempuan itu kini menatap serius ke arah dua orang personel di depannya sebelum menjawab, “Penggunaan amnestik Kelas G tanpa izin.”

Birmanto segera menepuk dahinya dan dengan tatapan tak percaya berseru, “Harper apa yang kau lakukan dasar bodoh!?”

“Amnestik? Itu saja?” Herria hanya membalas dengan bingung.

“Itu salah satu kesalahan fatal, nak.” Perempuan itu menggeleng. “Penggunaan amnestik tanpa izin dilarang oleh Komite Etik, terlebih oleh personel berpangkat tinggi, apalagi jika digunakan dalam skala masif. Jadi dengan Harper menjadi direktur sementara dan mendapat dukungan penuh personelnya, dia jelas melanggar hal itu.”

“Yang parah dari itu adalah adanya bukti dia menggunakan Kelas G atau Gaslight yang selain dilarang total Komite Etik, ia secara spesifik diharuskan mendapat persetujuan O5 langsung jika ingin digunakan bukan untuk urusan Securement, Containment, atau Protection. Dia otomatis dicurigai mencuci otak personel situsnya dengan itu.” Tambah perempuan itu.

“Dengan direkturnya melanggar tabu dan personelnya dikompromi, Situs-84 sekarang merupakan target operasi gelap pemusnahan total langsung dari O5.” Birmanto menambahkan begitu selesai memberi sumpah serapah. Dia melirik ke arah perempuan tua di depannya dan berkata, “Jadi itu tujuan Situs-414 di sini, kan?”

“Ya, cuma itu saja.” Perempuan itu membalas enteng. “Ku rasa sebaiknya ku kabari dulu kalian sebelum situs adik kalian musnah nanti. Tak akan memakan waktu lama kok, paling besok rumah sakit itu akan kami kosongkan total sebelum dirubuhkan. Semoga saja aku tidak perlu persenjataan berat nanti.”

Perempuan itu akhirnya berbalik dan melambaikan tangan. “Sampai jumpa, Bio! Senang bertemu denganmu. Sampaikan salamku dengan Heliza jika dia sudah turun.”

Birmanto diam menyaksikan mereka beranjak pergi. Hujan tidaklah berhenti membasahi mereka semua. Herria berdiri di sampingnya dan bertanya, “Sekarang… apa?”

Birmanto sejujurnya tak punya jawabannya. Semua kini di luar kendali siapa pun. Masalah Situs-84 akan ditangani oleh O5 sendiri, mereka sekarang bisa santai menunggu berita akan hancurnya sebuah rumah sakit swasta karena fondasinya lemah pasca kebakaran. Tak akan ada korban jiwa karena memang tak ada yang tercatat bagi publik.

Masalah yang dia timbulkan akan hilang dengan sendirinya.

Ah,

Pantas dia merasa bersalah.

“Tunggu!” Birmanto berteriak sekuat yang dia bisa. Dua orang personel di depannya tadi berhenti berjalan dan berbalik.

“Pak?” Herria bertanya dengan heran, tetapi Birmanto segera berlari ke arah mereka.

Begitu dia kembali di hadapan perempuan itu, dia berkata, “Apa yang bisa kubayarkan agar kalian batal menyerang Situs-84?”

Tak seorang pun di antara mereka menduga Birmanto menanyakan itu. Herria hanya menatap heran, sedangkan perempuan tua itu mulai tertawa.

“Ahaha… ini pertama kalinya kau memohon padaku, Bio.” Dia berkata dengan nada terkesan. Dia lalu mendekatkan dirinya ke Birmanto, membuat Herria tersentak dan waspada. Meski begitu, dia hanya berkata, “Ku kira kau ingin mengakhiri Proyek Rantai?”

Birmanto tertegun sejenak, tetapi dengan tegas dia berkata, “Dan apa hubungannya kehancuran Situs-84 dengan itu?”

Perempuan tua itu terkekeh seraya berdiri kembali di hadapannya. “Tentu, kita bisa menegosiasikan itu besok, kalau begitu.”

“Besok?” Birmanto ingin merasa lega, tetapi dia tahu ini jauh dari selesai.

“Di Kota Jakarta. Kami bermarkas di sana saat ini.” Perempuan itu menjawab, “Tetapi kami ingin bayaran awal untuk itu.”

“Tentu, katakan saja!” Birmanto kini mulai berani tersenyum lega.

Sayangnya, senyum perempuan itu meniadakannya kembali. Dia hanya mengatakan satu kalimat, “Kekuatan situsmu.”

“…Apa?”

“Yah, Triad punya jaringan finansial dan pekerja masif mereka, kami punya personel elit kami, Situs-66.6 punya anomali mereka, dan kau punya stok bahan pemerasan puluhan situs yang tengah ada.” Jelas perempuan itu. “Aku menginginkan mereka. Dokumen, foto, rekaman; mungkin tidak semuanya ku ambil, tetapi aku ingin melihat semua koleksimu sebelum itu.”

Herria melirik ke arah Birmanto, yang tengah memikirkan tawaran perempuan itu. Dia menunduk di tengah hujan selama beberapa saat dalam diam. Akhirnya dia mengangkat wajahnya dan menyodorkan tangannya. Wajahnya terlihat yakin saat dia berkata, “Setuju.”

Dengan lembut tangannya dijabat. “Ku sarankan kau bawa sebanyak yang kau bisa besok. Jika aku tak puas nantinya, mungkin saja perjanjian kecil ini batal.” Perempuan itu berkata sebelum melepas genggamannya.

Dan dengan itu, mereka melangkah pergi. Kali ini, Birmanto berbalik dan segera berjalan menuju situs mereka kembali.

“Pak… apa anda yakin dengan keputusan ini?” Herria bertanya dengan ragu di belakangnya.

“Ya. Kita akan siap-siap berangkat ke Jakarta segera.” Birmanto berkata tegas seraya dirinya terus berjalan.

Begitu sampai di bawah naungan pabrik kover mereka, Birmanto berbalik ke arah Herria. Herria sendiri baru menyadari sekarang, kalau atasannya tak lagi tertawa lepas, kini dia menatapnya dengan penuh tekad.

“Buka matamu baik-baik, Herria. Mulai saat ini, segalanya akan berubah.”


Hujan deras masih mengguyur kota pagi itu. Tetesan hujan jatuh mengalir di tiap bangunan di pinggir jalan, turun ke jalanan itu sendiri. Tak terkecuali ke sebuah bangunan rusak kehitaman, menyendiri jauh di dalam jalan kecil dari bangunan-bangunan lainnya di jalan besar.

Bekas reruntuhan bangunan yang terbakar masih berserakan di sekitarnya. Bangunan yang awalnya mungkin lima sampai enam lantai ini sekarang hanya terdiri dari satu dan mungkin setengah lantai sekarang. Semuanya kehitaman, tak ada yang tersisa dalam ledakan instan yang menimpanya.

Di bawahnya, dua orang mengamati reruntuhannya. Seorang pria mengenakan jaket cokelat muda dengan warna biru di kerahnya, melapisi kemeja putih dan celana hitam panjang yang dikenakanannya. Dia menatap ke depan selagi berpegang dengan tongkat bantu jalannya yang terbuat dari kayu berukir.

Meski di sekelilingnya hujan deras, dia tidaklah basah sedikitpun. Dia malah mulai menyalakan rokok yang diambilnya dari saku jasnya.

“Aku tak apa kok basah, Anna. Toh, aku yang lupa membeli payung. Pakai kembali jas hujanmu.” Dia berkata dengan senyum ke sampingnya.

Di sampingnya sendiri, seorang perempuan pendek dengan kaus putih polos dan celana hitam serupa tengah sekuat tenaga berjingkat setinggi yang dia bisa seraya memegangi sebuah jas hujan kuning tepat di atas pria itu agar dia tak basah. Karenanya dia basah kuyub dan jelas terlihat menggigil. Tetapi meski begitu, dia menggeleng dan tetap menaungi si pria.

“Tapi, kita ke sini karena kau ingin mengunjungi situs lamamu, bukan? Yah… bekas situs ini teknisnya… tapi kita ke sini untukmu, kan? Jadi masa malah kau yang tak menikmatinya?”

Perempuan itu masih menggeleng, tak mengatakan apa-apa. Si pria hanya menghela nafas dan perlahan melangkah mendekatinya. Si perempuan terkejut ketika pria itu mengambil alih jas kuningnya dan mengangkatnya tinggi tanpa kesulitan.

“Sekarang pandangi baik-baik bekas situsmu. Nikmati pemandangannya, Anna.” Pria itu berkata seraya kedua tangannya kini terangkat, menahan jas hujan itu agar tetap menaungi mereka berdua. Perempuan di bawahnya menatap bingung, sepertinya merasa tak enakan membiarkannya menahan jasnya, tetapi akhirnya dia mengangguk menurut dan menatap reruntuhan di depannya.

Dia kini mulai jongkok dan menatap ke depan. Dia meraih salah satu puing di tanah dan melemparnya ke bekas bangunan itu. Dia melakukannya beberapa kali. Pria di atasnya hanya menggeleng seraya tersenyum. Perempuan psikopat bisu di bawahnya ini sangat bersemangat begitu mendengar situs asal yang menendangnya ke Situs-79 hancur malam itu. Dia langsung mengajaknya pergi berkunjung pagi itu juga. Orang-orang situs selalu mengamati tingkah lakunya dengan pandangan aneh dan waspada, tetapi dilihat dari dekat, entah kenapa dia merasa lucu mengamatinya.

Tiba-tiba dia menoleh ke belakang. Meski di tengah hujan deras ini, dia dapat mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Begitu dia berbalik, dia mendapati sekumpulan orang perlahan mendekati mereka. Mereka semua mengenakan seragam hitam taktis Yayasan.

Perempuan di bawahnya juga menyadarinya dan perlahan berdiri. Si pria mencoba metode diplomasi terlebih dahulu dengan berkata, “Selamat pagi, tuan-tuan! Aku juga personel Yayasan atas nama Darel Mahendra, peneliti senior. Apa kalian tengah menjaga lokasi ini?”

Dari label di bajunya, dia bisa melihat mereka personel Situs-183, atau mantan personel sekarang, mengingat situs mereka sudah jadi puing. Sejujurnya dia percaya pasti paling tidak ada penyintas situs itu.

Masalahnya dia tidaklah menduga mereka perlahan mendekat dengan ekspresi kosong dan bersenjata baton.

Why tea served in the afternoon?” Salah satu diantara kerumunan personel itu berkata. Pria itu baru menyadari ada sebuah kartu poker terselip di helmnya.

“…Uhh, apa itu semacam kode verifikasi?” Pria itu menebak ragu. Sayangnya para personel taktis di depan mereka tak merespon dan tetap perlahan mendekat.

Why tea served in the afternoon?” Mereka kembali bertanya.

Pria itu menghela nafas dan segera menurunkan jas hujan yang sedari tadi diangkatnya. Dipasangkannya jas itu kembali ke perempuan di sampingnya sebelum dia meraih kembali tongkat berjalannya di tanah. Jumlah personel taktis yang berdatangan perlahan semakin banyak dan dari beragam penjuru, perlahan melampaui puluhan. Meski sebagian besar tertutup helm dan penutup wajah, tatapan mereka semua sama kosongnya.

“Anna, jika kita berhasil keluar dari sini, kau akan kubelikan eskrim.” Si pria berkata seraya mengayunkan tongkatnya dengan senyum ragu.

Anna sendiri hanya mengangguk. Meski dia sangat senang membayangkan hadiah berupa makanan langka yang tak ada di dalam situs mereka, dia juga tak membawa pisau yang cukup untuk jumlah orang sebanyak ini.

Why tea served in the afternoon?” Mereka bertanya untuk ketiga kalinya.

Why not?!” Pria itu berseru seraya maju.

Dan pertarungan sampai titik terakhir kini telah dimulai.

Kronik Situs-79

Bab 8: Dunia Imaginer(1)
« Ego Tinggi Meminta Tolong Eksekusi | Royalti Mereka Meminta Kepalanya |

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License