Sudah beberapa hari berlalu sejak Situs-84 diserang. Agen Senior Lukman melangkah menyusuri koridor putih kover situs mereka yang merupakan rumah sakit. Koridor yang awalnya rusak terbakar, kini sudah diperbaiki sepenuhnya. Atasannya bersikeras memfokuskan untuk memperbaiki situasi internal dulu sebelum melakukan tindakan apa pun di luar sana.
Dia baru saja berkeliling mengecek keadaan kover mereka. Meski seluruh rumah sakit telah diperbaiki, kover mereka masih belum dibolehkan beroperasi. Tentu saja, keadaan masih jauh dari kata normal kembali. Kover mereka bahkan tidak bisa dibilang normal juga, dengan keamanannya dilipatgandakan. Pengecekan identitas berkala, jam malam dengan tambahan lampu sorot, lebih banyak kamera dan gonggongan anjing tanpa henti jelas merupakan hal tak wajar dimiliki rumah sakit. Entah apa yang atasannya katakan kepada situs administratif di Jakarta sana untuk mengizinkan seluruh keamanan ekstra ini.
Dia menekan tombol lift ke sublantai situs mereka seraya menghela nafas. Hal paling mengganggunya adalah para personel mulai memakluminya. Entah apa yang orang-orang Situs-79 itu lakukan, tetapi kekacauan yang mereka buat adalah justifikasi terakhir yang atasannya perlukan. Tentu saja, dia tak menyukai mereka, dia tak pernah menyukai ketidakpastian, tetapi dia lebih tak suka atasannya semakin menjadi tak terprediksi.
Setelah lift terbuka, dia melangkah masuk. Dengan hari mendekati malam, sudah seharusnya dia istirahat. Normalnya seperti itu, tetapi itu bukanlah kenikmatan yang bisa dia nikmati sampai saat ini. Dia diserahi pengamanan luar sementara atasannya mengurus personel di bawah. Dia ingat harus mengamati personel konstruksi bekerja sampai tengah malam meski mereka sudah diverifikasi situs administratif. Setidaknya lift kembali bekerja, jadi dia tak lagi harus memakai tangga darurat.
Lift tidaklah memakan waktu lama. Setelah terbuka, dia segera melangkah keluar. Dia tidaklah melihat banyak personel di koridor. Tentu saja penelitian anomali kecil-kecilan mereka ditunda seluruhnya. Peneliti mereka teknisnya diberi libur kecuali beberapa yang diperlukan. Hanya tersisa personel keamanan dan agen lapangan yang mendominasi situs.
Meski kover atas terdiri dari tiga bangunan yang juga berlaku bagi sublantainya, situs mereka yang sebenarnya tidaklah terlalu besar selain itu. Spesialis mereka adalah gudang penyimpanan dan amnestifikasi masal. Jadi tidaklah lama baginya untuk melalui koridor sampai mencapai ruang utama situs.
Beberapa hari lalu, setelah para personel Situs-79 gagal terkejar pasca insiden yang mereka sebabkan, seluruh personel situs dikumpulkan di ruang utama ini. Meski tidak sebanding situs lain, jumlah personel mereka yang hampir mencapai 250 orang adalah alasan kenapa mereka masuk kategori situs, meski sekarang jelas hanya mencapai 100-an semata karena insiden malam itu dan para peneliti yang diliburkan. Tetap saja, ruangan itu penuh dan diadakan pertemuan bergiliran.
Sebuah pengumuman masif kepada seluruh personel, dan tepat di ujung sana atasannya berdiri, Agen Senior Harper selaku Kepala Keamanan Situs-84. Dia mulai menyalurkan secara luas pemikirannya akan kejahatan Situs-79. Akan segala keburukan yang selama ini mereka – selaku para personel – tahu selalu bicarakan secara tertutup di tengah minum teh sore mereka. Akan segala rumor buruk yang mereka selalu tukar di balik direktur mereka yang selalu menyanjung mereka.
Harper memberi mereka alasan untuk membuka pemikiran mereka sekarang. Lebih tepatnya, dia memberi alasan untuk mengubahnya menjadi kebencian sekarang, dengan direktur mereka ironisnya kini menjadi korban kejahatan mereka.
Dia mendengar penyelidikan yang dilakukan Harper menunjukkan bahwa sang direktur menerima ledakan tepat di depan dirinya. Sebuah keajaiban dia masih hidup, tetapi mereka jelas kehabisan keberuntungan sekarang dengan sang direktur kini dalam keadaan koma, masih tak sadarkan diri sampai sekarang.
Tentu saja, kepemimpinan situs harus berganti segera sampai dia sadar kembali. Harper sebagai kepala keamanan bisa memimpin situs dalam keadaan darurat. Untungnya itu jika wakil direktur juga tidak mampu untuk memimpin. Wakil Direktur mereka, Bu Miriam jelas tak akan mengizinkan tindakan balasan apa pun selain pemutusan kontak semata. Harper pasti sudah mencoba membujuknya tetapi sepertinya gagal.
Dia terus berjalan melewati ruang utama, menuju ruang personel keamanan. Selagi berjalan dia kembali melanjutkan lamunannya. Jelas tak memakan waktu lama sejak pertama Harper mengadakan pertemuan masal itu untuk menebak apa tujuan tersembunyi dia melakukannya selain daripada menjadi objek pelampiasannya.
Dia yakin Harper kini mencoba menguasai situs melalui popularitas. Itu jelas merupakan hal sulit sebenarnya dikarenakan Bu Miriam terkenal di seluruh situs akan keramahan dan kebaikannya. Tetapi Harper ternyata lebih cerdas dari yang dia duga, karena memakan waktu sehari bagi Lukman untuk menyadari alasan sebenarnya Harper menghentikan seluruh penelitian dan memberi libur bagi para peneliti; mereka jelas akan menjadi backing terbesar sang wakil direktur nantinya jika tidak.
Kini hanya tersisa personel keamanan yang tidaklah terlalu memedulikan tiap kebaikan yang telah Bu Miriam lakukan, dan dengan Harper sebagai kepala keamanan, hanya menunggu waktu sampai sebagian besar situs mengikuti Harper.
Lukman tanpa sadar akhirnya tersenyum. Setelah beberapa hari, Harper kini kembali bisa diprediksi. Dia kini memiliki rencana dalam mengatasi perubahan sikap baru Harper sekarang. Pertama adalah meyakinkan para personel keamanan terlebih dahulu dan membuat mereka mau membantunya untuk langkah kedua. Tak peduli seberapa seringnya dia mengumpulkan mereka, Harper tak pernah punya karisma nyata, bahkan sebagai kepala keamanan situs mereka sendiri.
Langkah kedua dalam rencananya adalah menghentikan Harper dengan menahannya terlebih dahulu sebelum dia sempat menyentuh wakil direktur. Dia tak mendapat balasan yang diinginkan dari kontak representasi komite etik, jadi dia sudah memutuskan untuk menyeret sendiri Harper ke situs administratif di Jakarta. Dia tidaklah peduli apakah itu diperbolehkan atau tidak, tetapi dia punya alasan bagus jika orang-orang di sana punya akal sehat.
Akhirnya dia sampai di depan pintu ganda personel keamanan. Dia membukanya dan segera mendapati ruang istirahat penjaga telah diisi beberapa personel. Tentu saja dia akan meminta mereka untuk memanggil yang lain nanti.
Malam ini, mereka akan melaksanakan langkah keduanya.
Lukman dan setidaknya sepuluh personel keamanan tengah berjalan pelan menyusuri koridor. Mereka tengah mengarah ke ruangan kepala keamanan, mewaspadai jikalau ada jebakan atau sergapan yang dia rencanakan. Dia sebenarnya ingin membawa lebih banyak orang, tetapi secara mengejutkan, sebagian besar agak ragu dengan rencananya ini. Dia memutuskan sepuluh orang yang benar-benar setuju dengannya seharusnya cukup untuk misi ini. Mungkin jika dia berhasil membawa Harper, personel lain akan mengikutinya.
Tetapi pada akhirnya mereka sampai di depan pintu kepala keamanan situs mereka tanpa hambatan. Lukman merogoh sakunya dan mengeluarkan jam sakunya, sedikit curiga mengetahui segalanya berjalan lancar. Dia menurunkan jamnya dan melirik ke arah pintu. Harper sebenarnya jarang di ruangannya dan biasanya lebih memilih santai di ruang istirahat personel atau ke luar dengan si Lucy itu. Dia pernah berkata dia merasa sendirian di dalam sana padanya, sayangnya wakil kepala keamanan ruangannya di ruang personel keamanan, bukan area kantor.
Tetapi akhir-akhir ini dia malah memilih menyendiri di ruangannya. Tidaklah masalah, itu memudahkan operasinya. Lukman sudah memastikan dia di dalam sana dengan mengirim orang untuk mengawasinya seharian.
Lukman kembali membuka jam sakunya. Dia sudah merencanakan seluruh operasi kecil ini sampai ke detiknya. Dan dia berencana mengakhiri ini di bawah 30 detik semata. Sesuatu terkait impulsif seseorang untuk melakukan satu tindakan tanpa ragu selama durasi itu saja. Lebih dari itu, para personel akan mulai ragu untuk menangkap kepala keamanan mereka sendiri, dan Harper jelas akan memanfaatkan itu.
Lukman menatap detik di jam sakunya perlahan mendekati angka 12. Dia menghela nafas sejenak sampai jarum detiknya tepat di tengah.
Tick Tock Tick Tock Tick Tock Tick Tock Tick Tock
Lukman segera mengantongi jam sakunya. Meski begitu, mulutnya membisikan rangkaian kata pelan yang hanya bisa samar-samar terdengar. Tangannya kemudian diangkat sedikit, sebelum dia akhirnya memberi gestur maju sekeTicka.
Tick Tock Tick Tock Tick Tock Tick Tock Tick Tock
Para personel segera maju dan mendobrak pintu kayu di depannya. Dalam beberapa tendangan keras dan mendadak, pintu terbuka paksa.
Tick Tock Tick Tock Tick Tock Tick Tock Tick Tock
Ruangan gelap, pertanda buruk bagi Lukman. Untungnya dia mencurigai kalau-kalau Harper mematikan lampu situs nantinya, jadi mereka sudah membawa senter. Para personel di depannya segera maju selagi menyalakan senter mereka.
Tick Tock Tick Tock Tick Tock Tick Tock Tick Tock
Mereka memasuki ruangan dengan cahaya senter yang saking banyaknya hampir menggantikan lampu ruangan. Tentu saja, tak menunggu lama sampai salah satu personel menemukan sakelarnya dan menyalakan lampu ruangan.
Tick Tock Tick Tock Tick Tock Tick Tock Tick Tock
Ruangan terang benderang, para personel kini mematikan senter mereka. Ruangan kantornya yang kecil ditambah dengan lampu ruangan yang kini telah menyala seharusnya menghabiskan sisa tempat bersembunyi yang ada di ruangan tersebut. Harper tidak ditemukan di mana-mana.
Tick Tock Tick Tock Tick Tock
Lukman menatap khawatir akan ketiadaan Harper di dalam. Jelas sepertinya dia tahu sedari awal dengan dimatikannya lampu ruangannya, tetapi di mana dia sekarang. Lukman menoleh segera ke belakang untuk menuntun upaya pencarian, hanya untuk menyadari tersisa satu orang personel keamanan di belakangnya. Dia menutup wajahnya dengan visor kuning helmnya, tetapi dari todongan senjatanya, cuma satu orang yang bisa dia duga.
Tick Tock Tick Tock.
Tiga puluh detik berlalu. Lukman menghela nafas dan mengangkat tangannya dengan ekspresi pasrah. Personel yang ikut bersamanya juga diam selagi mereka satu persatu ke luar ruangan, tetapi mereka sepertinya tak menyadari siapa yang tengah menodong Lukman. Dengan segera dia membuka visor helmnya, menunjukkan setengah wajah yang mereka kenal.
“Mendengar bisikan pelanmu mengingatkanku,” Harper berkata, masih menodongkan senjatanya. “Rule of Impulse itu 20 detik, Lukman. Kurasa sudah waktu yang tepat untuk mengoreksinya.”
“Tch…” Hanya itu yang Lukman katakan.
“Jadi, kalian mengkhianatiku?” Harper kini bertanya dengan nada tenang. Para penjaga yang bersama Lukman segera menggeleng cepat dan menurunkan senjata mereka. Mereka segera menunjuk Lukman dan menaruh segalanya padanya. Harper perlahan melirik ke Lukman sendiri, menatapnya dengan kebencian. Jelas itulah jawabannya.
“Aku mengerti.” Dia berkata pelan, entah kenapa tersenyum. Lukman hanya memiliki firasat buruk mengenai itu
Entah berapa lama Lukman berada di ruang gelap dan tertutup ini. Dia tahu mereka tak punya sel Kelas-D, tetapi mereka punya ruang isolasi di kover mereka untuk jaga-jaga. Di sinilah dia ditahan pasca upaya operasinya. Lampu tiap sel tidaklah semuanya terawat, dan sayangnya dia kebagian ruangan yang mati total.
Lukman menyandarkan dirinya ke dinding di belakangnya. Biasanya dia mengecek jam sakunya, tetapi Harper sudah menyitanya. Hitungan manualnya cuma bekerja dalam hitungan menit, bukan jam. Dan bicara jam, dia tidak tahu pukul berapa sekarang, terlebih berapa hari dia sudah terkurung di dalam.Dia sudah tidur dua kali, tetapi dia tidak tahu durasinya.
Tetapi tanpa dia duga, pintu ruangannya yang berbahan besi tiba-tiba berbunyi nyaring sebelum terbuka, membiarkan cahaya luar yang lebih terang memasuki ruangan, membentuk bayangan orang yang membukanya di tengah-tengah.
“Senang melihatmu kembali, Lukman.”
Harper berkata dengan senyum. Berbeda dari yang dulu, yang ini palsu. Lukman perlahan berdiri setelah sekian lama berganti antara duduk di lantai atau berbaring di ranjang. Dia menatap Harper dan berkata, “Giliranku untuk dieksekusi?”
Harper hanya menggeleng seraya berkata, “Tidak, tidak. Ikut aku keluar.”
Lukman dengan bingung tetapi tetap curiga dengan perlahan mendekatinya. Ada dua orang penjaga yang mendampinginya dengan membawa baton setrum siap diaktifkan di tangan mereka. Lukman meliriknya sekilas selagi dirinya mengiringi Harper berjalan.
Mereka tengah berjalan menuju apa yang personel sering panggil dengan kantin atas. Merupakan kantin untuk kover mereka serta personelnya, biasanya tempat ini sibuk akan aktivitas di siang hari. Personel Yayasan terutama para agen jarang makan di atas; meski harinya malam sekalipun, mereka harus melepas rompi dan seragam mereka yang memiliki simbol Yayasan sesuai prosedur.
Tetapi saat mereka melangkah masuk, ruangan hanya berisikan meja dan kursi-kursi kosong semata. Terkecuali satu meja persegi panjang untuk empat orang – yang, berbeda dari lainnya, kursinya ditaruh pada tiap sisi meja alih-alih masing-masing dua untuk dua sisi semata – di tengah ruangan, terdapat sebuah teko hitam di atasnya, dikelilingi beberapa cangkir kecil. Lukman mengembuskan nafas pasrah begitu menyadarinya.
“Silahkan duduk, Tuan Lukman.” Harper berkata seraya dirinya meraih teko di meja.
“Kau serius? Kau mencoba membujukku sekarang dengan percakapan teh sore? Sejujurnya aku tak tahu sekarang jam berapa…” Lukman membalas pesimis, tetapi dia tetap duduk.
“Ah tentu, pantas kita terlambat.” Harper reflek berkata setelah mendengarnya. Setelah menuangkan teh ke Lukman, dia segera merogoh kantongnya dan mengeluarkan jam saku keperakan yang selalu bersama Lukman. Dia menaruhnya di meja tepat di samping cangkir tehnya yang telah terisi.
Lukman menggeleng menatap teh yang disajikan Harper bahkan tak lagi mengeluarkan uap, jelas didiamkan terlalu lama. Dia lalu meraih jam sakunya dan memasangkan kembali rantainya ke celananya. Baru dia mengecek pukul berapa setelahnya.
Hampir pukul satu. Sepertinya memang masih waktu minum teh meski sedikit terlambat, pikirnya.
Lukman menggeleng dan segera mengantongi jamnya seraya bertanya, “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”
Harper menuangkan teh ke cangkirnya sendiri dan meminumnya sebelum menjawab, “Status situs ini. Aku akhirnya sudah berhasil mendapat kepercayaan para personel keamanan dan agen lapangan kita.”
“Tak mengherankan.” Lukman berkata seraya melirik personel di sekitar mereka. Satu hal yang dia sadari adalah mereka lebih pendiam dan patuh dari biasanya. Entah apa yang Harper katakan pada mereka, tetapi Lukman lebih tertarik memikirkan cara mengembalikan keadaan seperti semula. “Kau membunuh sisanya, bukan.”
Harper hanya terkekeh, “Lukman, aku kepala keamanan. Aku tak mungkin menyakiti bawahanku. Tidak, para penyerang itu pantas mendapatkannya bukan? Yang ku lakukan ke personel kita hanyalah pendekatan personal seperti ini semata. Tak ada yang bisa melunakkan hati seseorang selain pembicaraan santai dengan teh. Bicara mengenai itu, kau tak meminum tehmu?”
Lukman hanya menggeleng, “Tidak, aku tidak haus. Kembalikan saja aku ke ruang isolasi karena kau tak akan bisa meyakinkanku untuk mengikuti kegilaanmu lebih jauh lagi.”
“Kau bahkan belum melihat penawaranku.” Harper berkata seraya menjentikkan jarinya. Tak lama kemudian, seorang penjaga melangkah masuk menyeret seseorang yang hanya mengenakan kaus putih semata dengan celana hitam panjang. Penjaga itu segera mendudukannya di kursi ketiga di antara Lukman dan Harper. Orang tersebut selain kedua tangannya terikat ke belakang, entah kenapa kepalanya tertutup kotak karton bertuliskan ‘Fragile’ lengkap dengan simbol gelas retaknya.
Lukman awalnya menggeleng akan keabsurban itu sampai sang penjaga mengangkat karton itu dari kepalanya.
“Bagaimana?!!” Lukman reflek berdiri, tetapi disetrum seketika oleh salah satu penjaga di belakangnya. Orang ketiga mereka seorang perempuan dengan bandana merah yang terikat menutupi bagian atas rambut pendeknya, dia juga memakai kacamata berbingkai bulat meski retak. Mulutnya yang ditutupi kain mengeluarkan suara erangan begitu melihat Lukman disetrum.
“Tck Tck, tak ada sopan santun, bahkan setelah aku mengundangnya…” Harper menggeleng seraya meminum kembali tehnya.
“Dari mana kau tahu akan Mei!?” Lukman berteriak marah. Sesekali dia menatap ke arah perempuan itu dengan khawatir.
“Kau sendiri yang bilang kau transferan Situs-118 waktu kita pertama bertemu, bukan?” Harper berkata dengan tenang.
“Tapi aku tak pernah menyinggung Mei sama sekali!” Lukman membalas dengan frustrasi.
Harper meliriknya sekilas sebelum menjawab, “Cincin kawinmu di balik sarung tanganmu, pengecakan latar belakang, dan kau tahu apa? Aku tahu itu sejak pertama kita bekerja bersama.”
Lukman tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bersandar pasrah di kursinya. “Maaf melibatkanmu dalam ini…” Dia melirik ke pasangannya. Perempuan itu sendiri hanya mengangguk dan terlihat pasrah juga.
“Baik, buka ikatannya. Kita punya jadwal di sini.” Harper berkata kepada penjaga di belakang perempuan itu. Penjaga itu segera mengeluarkan pisau dan memotong ikatan mulutnya. Perempuan itu hanya menatap Harper dengan kebencian serupa selagi penjaga tersebut menunduk dan memotong ikatan tangannya. Meski dia bebas, dia tahu mereka berdua tak bisa ke mana-mana dan sepenuhnya berada dalam ampunan Harper.
Harper mengamati tatapan khawatir perempuan itu, jadi dia berkata kepada personel yang mendampinginya, “Kalian boleh pergi. Istirahatlah.”
Mereka semua mengangguk dan segera pergi, meski satu sempat diam dan menatap mereka selama beberapa saat sebelum berlalu. Kini hanya ada mereka bertiga di ruangan sunyi kantin.
“Baik,” Harper berkata seraya menuangkan teh ke cangkir perempuan itu. “Meiling Smith, mantan agen lapangan seperti Lukman. Jadi bagaimana ceritanya kau bisa berakhiran bekerja di gudang senjata?”
“Aku tak percaya kau benar-benar menculikku dari situs.” Mei tak menjawab pertanyaan Harper. Mata sipitnya menatap tajam ke Harper dari balik kacamata retaknya seraya melanjutkan. “Situs-118 akan menyeretmu untuk ini.”
Tanpa diduga, Harper terkekeh. Mei tidaklah tahu, tetapi itu kini menjadi pertanda buruk bagi Lukman. Selagi tertawa, dia merogoh sesuatu di jas cokelatnya. Dia lalu mengeluarkan selembar kertas yang telah dilipat. Begitu dia membuka lipatannnya, dia menyerahkannya ke Mei.
“Aku berhasil membuat perjanjian untuk mentransfermu ke situs kami efektif sejak kemarin. Ini surat transfermu, lihat bahwa itu ditandatangani Direktur Aisha sendiri. Hanya perlu pesta teh seperti ini untuk meyakinkannya, meski perlu beberapa hari untuk itu.” Harper berkata dengan percaya diri.
Baik Lukman maupun Mei tak percaya akan hal itu dan segera mendekati kertas yang disodorkan Harper. Tanda tangan sang direktur situs serta beberapa personel penting Situs-118 yang mereka kenali berada di sana.
“Baik, jadi kau memiliki kami berdua,” Lukman merupakan yang pertama bicara setelah menerima kenyataan keadaannya. “Sekarang apa?”
“Saat ku bilang aku punya dukungan personel kita, aku mengecualikan beberapa orang. Kalian berdua adalah salah satunya.” Harper berkata, kini nadanya mulai serius. “Aku cuma punya satu permintaan: bantu aku. Bantu aku menghadapi ancaman terhadap situs kita.”
Lukman melirik ke Mei sekilas. Dia hanya mengangguk. Lukman segera menatap Harper kembali dan berkata, “…Kami menolak. Kami berdua tak bisa menerima metode liarmu.”
Harper hanya menghela nafas. “Aku tak terkejut. Sejujurnya Lukman, aku tak pernah paham bagaimana cara membuatmu menghormatiku. Kau tak pernah menurutiku dulu dan kau tak setuju denganku sekarang. Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?”
Lukman sebenarnya tak menduga itu. Awalnya dia ingin menjawab, tetapi setelah dipikir lagi, inilah pertanyaan yang kadang muncul di pikirannya. Dia tahu kenapa Harper melakukan apa yang dia lakukan. Dia juga merasa dirinya dapat memakluminya. Tapi dia tidak pernah tahu kenapa dia selalu tak menyetujui apa yang Harper lakukan.
Dia menatap bayangannya di teh dinginnya di meja. “Kau tak bisa ditebak, Harper. Logika pemikiranmu tak bisa ditebak, baik dulu maupun sekarang. Hanya saja, sekarang kau memilih melakukannya tanpa peduli pendapat orang.”
Harper hanya mengangkat bahu, “Apa gunanya mengatakan apa rencanaku jika kau tak akan menurutinya?”
Lukman tak bisa menjawab itu. Harper memutuskan melanjutkan bicara, “Satu hal yang ku pelajari adalah kau terlalu overthinking, Lukman. Kau berpikir terlalu lama sebelum melakukan sesuatu, jadi kau memutuskan untuk tidak melakukan hal ekstrim atau tak terprediksi.”
Lukman masih diam. Tanpa diduganya, Harper sebenarnya benar. Dia tak pernah suka jika sesuatu melenceng dari kebiasaan. Dia punya kemampuan perencanaan yang baik, sampai ke detiknya dibantu jam sakuny, tetapi itu merupakan alasan yang sama dia sepasif ini. Dia tidak pernah menyukai Harper dulu karena tindakannya selalu spontan.
Tetapi mungkin itu hal yang benar, karena respon cepat jelas memberikan hasil. Lukman mengakui itu, meski dia tak pernah suka Harper harus melempar koin dulu untuk itu sebelumnya.
Melihat Lukman masih diam, Harper akhirnya mengakhiri dengan berkata, “Jadi biar kuganti permintaanku: percaya padaku. Aku akan menanggung akibat tindakanku sendiri, bahkan jika kau membantu. Jadi percaya padaku, dan aku akan percaya padamu dan membiarkan kalian berdua bebas.”
Lukman berpikir dalam diamnya. Mei sedari tadi menatap Lukman yang memejamkan matanya selagi dia berpikir. Saat dia membuka matanya, hal pertama yang dia lakukan adalah mengangguk.
“Lukman?” Mei bertanya keheranan dan tak percaya. Lukman tak menoleh dan fokus ke Harper.
Harper sendiri tersenyum dan melirik ke arah Mei. “Kalau kau tak percaya padaku, percayalah pada suamimu. Dia tahu apa yang dia lakukan.”
Dia lalu mengulurkan tangannya untuk Lukman jabat. Tetapi begitu mereka berjabatan, Harper menggenggam erat tangannya dan segera mengulurkan tangan kirinya. Lukman terkejut dan mencoba menarik tangannya, tetapi Harper bak menekan sesuatu di pergelangan tangannya dengan tangan kirinya. Tiba-tiba, suara klik terdengar dan Harper menyeret keluar tangan kanan Lukman, menunjukkan bahwa dia menggunakan tangan palsu standar Yayasan.
“Untuk garansi.” Harper berkata seraya menyimpan tangan palsunya.
“Sial, aku seharusnya tak mempercayaimu!” Lukman segera mundur dan memegang tangan kanannya yang kini tak ada. “Kembalikan tanganku atau perjanjian batal, kau bisa kembalikan saja kami ke sel kalau begitu!”
“Sejujurnya aku terkejut, ku kira saat kau bilang dulu kalau tanganmu dimakan kadal itu, kau cuma melebih-lebihkannya. Kau benar-benar terlibat saat transit antarbenua itu. Aku cukup terkesan, kau tahu.” Harper tak memedulikan perubahan rencana Lukman.
“Ku rasa inti pertemuan kita sudah tercapai sekarang.” Harper melanjutkan seraya tersenyum. “Sudah waktunya kalian meminum teh kalian, kau tahu. Aku belajar membuat teh untuk ini.”
Lukman menatap curiga ke arah Harper seraya mencoba meraih cangkirnya dengan tangan kirinya. Sejujurnya dia merasa perlu minum setelah serangkaian teriakan tadi. Dia meneguk sekali, tetapi kemudian sesuatu mengejutkannya.
“Bleh, teh macam apa ini?! Manis, tetapi ada rasa aneh… Kau membuatnya dengan apa??” Lukman memprotes.
“Daun herbal. Ku baca kalau itu membuat tenang orang. Aku masih belajar, kau tahu. Kau perlu menghabiskannya untuk merasakan efek tenangnya” Harper menjawab tenang seraya mengisi kembali cangkir tehnya. Lukman menatap Harper juga membuat ekspresi tak nyaman saat meminumnya, tetapi dia tetap meneguknya sampai setengah.
Lukman menatap cangkirnya sendiri, akhirnya dia mengangkat bahu dan menutup matanya sebelum meneguk kembali tehnya. Seperti katanya, tehnya lumayan manis, mungkin terlalu manis, tetapi itu tak cukup untuk menutupi rasa aneh di tehnya yang terasa seperti obat.
Lukman tanpa sadar menggeleng, jelas ini daun herbal yang Harper bicarakan. Tak ada alasan untuk tidak percaya itu.
Mei menatap heran Lukman yang terus meneguk tehnya. Dia menatap cangkir di depannya dan merasa penasaran juga. Setelah membenarkan kacamatanya, dia segera meminumnya. “Bleh, aku bisa membuat teh lebih baik dari ini.” Dia reflek berkata dengan ekspresi terkejut serupa.
“Oh, tidak perlu. Itu akan menghilangkan nilai pemberianku untuk kalian. Kalian temanku, bukan?” Harper tersenyum seraya mengibaskan tangannya.
“Uhh…” Mei membalas, tak tahu harus bersikap apa mengenai itu, jadi dia memutuskan untuk minum kembali. Sejujurnya dia juga merasa penasaran akan teh yang dia rasakan tadi. Tak terlalu parah sebenarnya jika dia mengabaikan rasa obat yang samar-samar terselip di tehnya. Dipikir lagi ini lebih mirip peppermint mungkin.
Dia memikirkan perkataan Harper dan merasa maklum, mengetahui setidaknya dia mencoba sendiri membuat teh untuk mereka. Terlebih sepertinya dia sampai membeli teko teh mahal untuk ini. Motif pria tua yang membentuk teko dan bahan keramiknya yang berwarna kehijauan bak replika giok jelas terlihat mewah.
Dia melirik ke sekelilingnya, ke Harper dan Lukman yang masih minum teh dalam diam. Dia sudah mendengar dari Lukman kalau ini semacam rutinitas sore di situs ini yang dipopulerkan direktur mereka, meski waktunya lebih dari tidak biasa. Tetapi dia kemudian menyadari adanya cangkir keempat, tak berisi teh tetapi ditempatkan di ujung kursi keempat yang masih kosong.
“Jadi… itu untuk siapa?” Mei bertanya seraya menunjuk kursi di seberangnya.
Harper menatap ke sampingnya seraya menghela nafas. “Itu… untuk Alice.”
“Heh, kau kira kau siapa, Mad Hatter?” Lukman terkekeh. Dia tahu siapa yang Harper maksud sebenarnya, tetapi dia merasa ingin bercanda mengenai itu.
“Kau serius?” Mei jelas tidak tahu siapa yang Harper bicarakan sehingga dia bertanya kembali dengan heran.
Tetapi sebelum Lukman menjelaskan, Harperlah yang menjawab, “Yang ku maksud Lucy, teman kita. Lucia Amelia.”
Lukman tersedak, jelas tak menduga apa yang dia dengar. “Tunggu, kau bilang itu nama panggilan perempuan gila itu! Si Allison itu!”
“Habiskan tehmu dan akan ku jelaskan.” Harper berkata. Lukman menatap ke Mei sekilas sebelum mengangkat bahu dan segera meneguk habis tehnya, merasa tak ada salahnya menuruti permintaannya. Lagi pula dia mulai penasaran juga. Melihat Lukman, Mei ikut meneguk habis tehnya juga.
“Jadi,” Harper mulai berkata setelah memastikan Lukman dan Mei selesai minum, “Jika kau pikirkan, tak ada bedanya di antara mereka berdua.”
“Tunggu, apa maksudmu?” Lukman jelas bertanya keheranan.
“Maksudku, rambut mereka diwarnai kuning, mengenakan sesuatu yang biru, dan mereka awalnya peneliti Yayasan. Jadi Lucy adalah Alice, kan?” Harper tanpa ragu menyampaikan pendapatnya, yang sejelas hari di terik matahari tak ada logika di tiap salad katanya.
Tetapi Lukman malah mulai mengangguk seraya memikirkan hal itu. Rambut kuning, pakaian biru, jelas merupakan gambaran serupa dengan ‘Alice’ yang dirinya baca di salah satu dari sekian banyaknya buku dongeng anak itu di ruang tunggu situs. Tak mengherankan baginya jika Harper menyamakan mereka.
“Jadi… Alice… ada dua?” Mei kembali bertanya. Berbeda dengan Lukman, dia tak punya konteks sama sekali akan percakapan mereka.
“Tidak, kita akan fokus ke tujuan kita nanti, teman kita Lucy semata.” Harper berkata dengan senyum seraya menuangkan kembali teh padanya. Minumlah.”
“Hmmm… Tujuan… Kita akan pergi setelah ini?” Mei menjawab, meski entah kenapa terdengar melantur.
“Uhh, ya. Setelah semua siap, kita akan menuju ke Alice- ah, maksudku Lucy, teman kita.” Harper berkata, tak koheren meski dia satu-satunya yang tak terlihat setengah mengantuk. “Sekarang kembali minum teh kalian dan percaya saja akan apa yang ku katakan.”
Mei meneguknya kembali tanpa bertanya, tetapi setelah beberapa tegukan, dia tiba-tiba terbaring di meja. Dan mengabaikan genangan sisa teh yang ditumpahkannya dari cangkirnya, dia tertidur. Lukman sekilas melirik ke Mei, tetapi dia tidak bisa fokus dan kembali menatap cangkirnya sendiri.
“Jadi kau ingin… menangkap Lucy?” Lukman berkata, mulai setengah sadar juga. Dia tak banyak minum dibandingkan Mei.
Harper berdiri dari kursinya. “Ya, karena Lucy malang kita jelas dipaksa oleh Robert untuk menyerang situs kita, tentu saja. Dan karena Lucy dikirim ke Situs-79, tentu mereka bekerja sama dengan Robert juga. Jangan lupakan mereka menyerang kita untuk memperjelas itu. Mungkin saja Robert ada di sana juga.”
“Jadi… kesimpulanmu?” Lukman membalas dengan lemah. Entah kenapa dia tidak merasa ingin berpikir rumit sekarang. Melihat Mei tertidur pulas di meja membuatnya ingin terlelap juga.
“Situs-79 adalah sumber segala kejahatan yang ada! Kita harus mengakhiri kejahatan mereka dan menyelamatkan Lucy kembali ke situs kita!” Harper berkata dengan percaya diri. “Kalian akan membantuku untuk itu, sebagai rekanku. Tak peduli apa yang kau katakan meski itu penolakan, pada akhirnya kau tetap akan membantuku, bukan? Karena jika bukan untukku, kau melakukannya untuk menyelamatkan temanmu Lucy itu.”
“Yeah tentu… terserah…” Merupakan kata-kata yang Lukman katakan selagi dirinya mengistirahatkan kepalanya di meja seperti Mei dan mulai tertidur juga.
Melihat kedua orang di depannya tertidur lelap. Harper menghabiskan sisa tehnya sebelum berjalan meninggalkan mereka. Ruangan sudah lama sepi tanpa orang selain mereka. Dia melangkah ke arah pintu keluar kantin. Begitu berada di koridor, dia melirik ke arah kedua sisi koridor kover yang sepi tanpa seseorang pun melaluinya.
Harper merogoh ponselnya dan menyalakannya. Wajar saja mengetahui ini hampir mendekati pukul dua dini pagi. Dia meletakkan ponselnya kembali ke kantongnya sebelum berjalan pelan mendekati deretan tempat sampah di seberangnya. Menggunakan rumah sakit sebagai kover, situs mereka tentu harus punya lima tempat sampah berbeda. Harper kembali merogoh kantongnya yang lain dan tak lama kemudian dirinya mengeluarkan beberapa botol berbahan plastik keras, dengan label mereka sepertinya dicabut. Dia menjatuhkan botol-botol tersebut ke tempat sampah berwarna merah.
Dia lalu kembali merogoh kantongnya dan kali ini mengeluarkan rangkaian kertas putih yang sepertinya label botol-botol tersebut. Dia melangkah pelan ke arah tempat sampah hijau dan menjatuhkan mereka ke dalam. Satu tersangkut di telapak tangannya, menunjukkan tulisannya. Dua terlihat paling menonjol di antara tulisan kecil yang tertera.
G
AMNESTIC AGENT
Harper mencabutnya, membiarkannya jatuh, terbuang bersama label-label lainnya. Dia memutuskan untuk membiarkan mereka tertidur di sana. Dia sendiri melangkah pergi, menyusuri koridor ke depan.
Dia tidaklah sadar tak jauh darinya, ada seorang penjaga yang berdiri tersembunyi, mengamatinya. Meski mengenakan visor, perban putih kusam dan sedikit kemerahan bergelantungan di bawah helmnya. Dia hanya diam mengamati Harper melangkah menjauh.
Terik cahaya pagi mulai menyinari dari balik jendela di ruangan yang memilikinya, meski dibarikade dengan jeruji. Rangkaian kamar dan kantor perawat dan dokter masih kosong, belum berani menunjukkan tanda kehidupan di rumah sakit privat ini.
Harper melalui tiap ruangan kosong itu dalam diam. Dirinya yang sebelumnya pasti sedih melihat betapa tak bergunanya dirinya karena menyebabkan ini semua, tetapi kini dia yang memegang kendali sepenuhnya. Dia tak akan mengulangi kesalahan serupa. Keamanan situs lebih utama daripada nilai moral apa pun yang dirinya yang dulu konsiderasikan.
Dan segalanya berjalan lancar sejauh ini. Kestabilan situs sudah terjamin untuk terpenuhi sepenuhnya tadi malam. Jadi dia sekalian saja menyebutkan rencana keduanya sekarang. Sebuah tujuan yang dirinya yang dulu gagal dapatkan.
Mendapatkan kembali Lucy-nya. Perempuan dengan rambut keemasan yang dulu dia selalu kagumi dari belakang. Dia kini mampu mengejarnya, berjalan sejajar dengannya sebagai setara.
Tidak. Dia bisa berjalan mendahuluinya sekarang, mengulurkan tangannya untuk memeluknya dari depan. Menyeretnya jika berlari ke belakang-
Harper tiba-tiba terdiam. Setengah wajahnya menunjukkan ekspresi tertegun sekilas sebelum dia memejamkan matanya dan kembali melangkah, tak lagi ingin memikirkan apa pun yang dipikirnya tadi.
Dia akhirnya sampai di kantin setelah istirahat di sebentar di salah satu kamar pasien. Dua orang personel yang nantinya akan jadi pembantunya masih terlelap di meja. Efek samping amnestik paling khas adalah kehilangan kesadaran, bahkan bagi Kelas G yang penggunaannya harus disertai percakapan.
Dia meraih tekonya yang sudah dia kosongkan dan memasukkannya kembali ke kotak karton yang dia pakai untuk menutup kepala Mei. Lucy tak akan terkena trik murahan seperti ini… Harper berpikir dengan kecewa selagi menatap mereka. Meskipun begitu, dia tahu puluhan percobaan kecil dengan tiap personelnya untuk mendapat kombinasi dosis yang tepat tidak bisa disebut ‘trik murahan’ begitu saja. Untungnya dia tahu penakaran dosisnya; untuk apa dia jadi kepala keamanan kalau tidak.
Setelah membereskan meja. Dia meletakkan ponselnya di tengahnya dan segera memainkan musik alarm standar ponselnya dengan keras. Lukman dan Mei langsung terkejut dan membuka mata mereka, perlahan beranjak kembali dan bersandar di sandaran kursi.
“Sudah pukul enam pagi. Kita punya kerjaan ntar.” Harper berkata santai begitu mereka tersadar.
“Sialan kau, Harper!” Lukman berseru kesal, kembali ke sifat asalnya. Dia sedikit tertegun begitu menoleh dan mendapati Mei di sampingnya tengah mengusap matanya. Tetapi dia sepertinya ingat apa yang terjadi tadi malam.
“Tunggu… kita tidur sepanjang hari?!” Lukman tiba-tiba bertanya keheranan. Sepertinya itu hal pertama yang terlintas di pikirannya.
“Jam sakumu cuma menunjukkan jam, bukan perbedaan antara siang dan malamnya.”
“Jadi… sial, kau gila, Harper…” Lukman berkata, sepertinya baru sadar kalau mereka mengadakan pesta minum teh pukul satu pagi. Tetapi setelah umpatan kasarnya, Lukman terdiam, sepertinya memikirkan kembali percakapan mereka.
Harper menyadari itu dan memutuskan sudah waktunya dia untuk bertanya, “Jadi, kalian berdua ingat perjanjian kita, bukan?”
Lukman dan Mei diam sejenak bak memikirkan sesuatu. Samar-samar, Lukman tersenyum tipis. Dia berdiri dari kursinya seraya berkata, “Kau… adalah atasan terburuk yang ku punya.”
Sebelum Harper sempat berprasanka, Lukman menambahkan, “…Bisa apa kau tanpaku. Tentu, tanpa kau suruh, akan kubantu kau selamatkan teman kita.”
Mei juga ikut berdiri dari kursinya. “Aku masih tak menyukaimu, tak peduli bahkan jika kau meminta maaf sudah menculikku. Tetapi teman Luk adalah temanku, dan jika dia ingin membantumu menyelamatkan temannya, maka tentu. Entah kenapa meski aku tak pernah melihat mukanya, aku juga menganggapnya temanku juga. Mungkin karena Luk sering berbicara mengenai dirinya…”
Mereka berdua, meski masih dirundung kebencian, tetapi dalam logika yang menyimpang sepenuhnya mendukungknya. Harper hanya mengangguk, tetapi senyum puas entah bagaimana terpampang di kedua sisi wajahnya.
“Baik, ku rasa teh terlalu pagi untuk ini, heh.” Harper mencoba mengakrabkan diri kembali ke mereka. “Jadi, kita langsung saja ke perencanaan kita selanjutnya untuk mengatasi ancaman Situs-79, dan menyelamatkan teman kita dari sana.”
“Setuju.” Mereka berdua berkata tegas.
“Baik, jadi ini yang kita akan lakukan…”
“…adalah apa yang kau katakan, tapi aku masih tak percaya kau segila ini…”
Lukman berkata seraya mereka melangkah menyusuri koridor kover mereka. Kali ini mereka menuju ke salah satu bangunan di samping bangunan utama. Koridor yang mereka lalui perlahan terasa terisolir. Lukman dan Harper jelas mengenali ke mana mereka melangkah; kembali ke koridor sel isolasi.
“Sudah ku jelaskan kita harus mengambil langkah ekstrem untuk menekan situs sebesar Situs-79. Tadi kau tak punya usul lebih baik, kan?” Harper membalas tanpa menoleh, terus melangkah ke depan.
“Bukan, bukan. Aku mempertanyakan kenapa kita perlu memilah-milah personel gila lainnya di sel-sel ini untuk melakukannya?” Lukman mengoreksinya.
Harper hanya terkekeh selagi mempersiapkan kumpulan kunci di tangannya. “Ada satu celah di buku peraturan Yayasan: kau bisa menghindari eksekusi jika cuma suruhan, seperti yang ku katakan tadi untuk kasus kalian, atau jika kalian dinyatakan gila.”
“Oh, jadi personel di sini yang akan melaksanakan misi nanti?” Kali ini Mei yang bertanya.
Harper menggeleng, “Nahh, kalian juga ikut. Sudah ku bilang, percaya padaku seperti biasa. Semua akan berjalan lancar sesuai rencana, seperti yang kau suka, Lukman!”
“Terserah.” Lukman membalas singkat, diikuti anggukan Mei di sampingnya.
Mereka berhenti di sebuah pintu besi. Harper mengecek label deret nomor di pintu sebelum memilah-milah kunci di tangannya. “Baik, yang pertama…”
Dia akhirnya menarik kunci yang tepat dan segera membuka pintu tersebut. Di dalamnya, duduk seorang pria muda. Rambutnya pendek tetapi berantakan, sama seperti kemeja putihnya yang kusut. Terdapat kacamata bingkai persegi di ranjangnya. Kacamata itu diambil dan dipasangnya begitu menyadari ada yang masuk.
“Sudah gue bilang, lu nahan Teriawan yang salah.” Dia berkata.
“Aku tak peduli kau yang mana, aku mengeluarkan kalian berdua.” Harper membalas singkat.
Dia jelas terkejut, “Tunggu, lu nahan kami berdua?” Tanyanya.
Harper hanya menghela nafas, “Lupakan itu dan keluarlah. Aku perlu membebaskan saudaramu.”
Mengabaikan pria di sel tadi yang segera melangkah keluar, Harper segera berjalan ke sel tepat di sebelahnya. Begitu dibukanya, terdapat seorang pria yang identik persis dengan pria pertama tadi sampai ke kemeja putihnya yang berantakan juga. Satu-satunya yang membedakan adalah dia telah memakai kacamatanya terlebih dahulu.
“Lu nahan Teriawan yang salah.” Dia berkata.
“Keluar sana, aku sudah mengeluarkan saudaramu.” Harper dengan malas mengulang kembali perkataannya.
“Tunggu, kau nahan kami berdua?” Dia bertanya.
Kembali menghela nafas, Harper membalas, “Lupakan itu dan keluarlah.”
Pria itu mengangguk mengerti dan segera melangkah keluar. Dia segera bertemu saudaranya dan keduanya saling berbicara sekilas. Sepertinya sudah mengonfirmasi nasib saudaranya, salah satu di antara mereka akhirnya bertanya, “Jadi, mengesampingkan kau sudah menahan kami berdua, lalu kenapa kami dibebaskan sekarang?”
“Aku punya tugas yang lebih layak untuk saudaramu selain diisolasi. Lagi pula, situasi sudah hampir terkendali, jadi tak ada alasan lagi aku tak melepaskan saudaramu.”
“Heh,” Salah satu diantara dua bersaudara itu terkekeh. “Yowes Dev, kita pergi.”
Sayangnya langkah percaya dirinya dihalangi Lukman yang berdiri di depan mereka. “Kalian bebas dari sel, bukan dari penahanan.” Lukman dengan senyum mengejek mereka.
“Heh, lu mau nyoba kelahi di sini? Minggir sono.” Yang paling depan malah semakin melangkah mendekat ke arah Lukman dengan senyum penuh percaya diri, tak sabaran akan sedikit aksi.
“Oi, Dum. Kau serius mau ngelawan Gator?” Saudaranya mencoba mengingatkannya, meski dia tetap maju mengikutinya.
“Napa? Dia cuma satu, kita ada dua neh.” Balas pria di depannya selagi menoleh ke belakang. Dia sepertinya berhasil meyakinkan saudaranya sehingga mereka berdua perlahan mendekati Lukman dengan intensi tak baik.
Harper tak melakukan apa-apa meski dia mendengar dan menoleh ke belakang karenanya. “Ku rasa kau bisa menangani mereka sendiri, Lukman?”
“Tch, ku coba…” Lukman membalas dengan tegang.
“Ingat, selesaikan dalam 20 detik kali ini.” Harper melambaikan tangan seraya melangkah pergi. Mei yang sedari tadi ikut memperhatikan juga menatap Lukman yang masih saling menatap dengan kedua saudara tadi selama beberapa saat sebelum dia mengikuti Harper.
Begitu dia di samping Harper, Mei bertanya, “Jadi siapa mereka?”
Tak mencapai waktu lama, mereka berada di sel kedua mereka. Selagi Harper memilah kunci di tangannya, dia menjawab, “Si kembar Devi dan Duman Teriawan. Si Duman terlalu sering membuat perkelahian, tetapi masalahnya Devi selalu mengaku sebagai Duman saat dicari, begitu pula sebaliknya. Ditambah mereka selalu berpakaian dan bergaya serupa sehingga sulit menentukan yang mana yang Duman. Harper tak pernah mau menahan mereka berdua meski itu bisa dilakukan atas alasan membantu kesalahan personel lain.”
“Pada akhirnya kau tahan saja mereka berdua, ya?” Mei mencoba mengonfirmasi.
“Ya, pagi hari pasca insiden malam itu, ku tahan saja semua personel berpotensi bermasalah seperti mereka berdua. Sebenarnya aku cuma menahan… lima atau enam orang di sini termasuk mereka.” Harper menjawab. Dia akhirnya menemukan kunci yang dia cari dan tersenyum. “Dan bicara mengenai itu, ini yang paling ku incar.”
Begitu membuka pintu sel isolasi, Harper membukanya. Cahaya redup ruangan menerangi seorang pria dengan kemeja putih kusam serupa tahanannya sebelumnya tengah berdiri. Rambutnya gondrong dan berantakan, dan salah satu kakinya sepertinya tak bisa digerakkan sehingga hanya diseretnya saat dia berbalik. Dia berpegang erat pada sebuah besi beton yang panjangnya mendekati langit-langit untuk berdiri, sedikit runcing di satu sisi.
“Apa… kau mau apa?” Pria tersebut berkata dengan gugup, ekspresinya menunjukkan dirinya sepertinya tak menduga pintu selnya akan terbuka.
Harper tanpa ragu melangkah ke sel redupnya. “Agen Hafi, senang melihatmu setelah sekian lama.” Dia berkata dengan nada seakrab yang dia bisa.
“Aah… Aah-” Hafi terbata-bata dan reflek mundur melihat Harper mendekat, “Hafi… tak percaya denganmu! Hafi baik-baik saja, tetapi tetap kau kurung di sini bertahun-tahun!”
“Ada apa dengannya?” Mei bertanya dengan penasaran seraya ikut mendekat juga, semakin membuat Hafi gugup dan sesekali kehilangan keseimbangan karenanya.
“Selain tendensinya bicara dalam orang ketiga, dia personel biasa saja. Sayangnya beberapa tahun lalu dia kena kecelakaan saat konstruksi pemasangan pelindung pinggiran atap. Aku tak ingat detailnya, tapi dikarenakan kesalahan pengeboran, pinggiran atap hancur saat dia berpijak. Dia jatuh dari ketinggian lima lantai. Dan setelah itu pun, dia terbenam tumpukan bata sisa atap yang jatuh mengiringinya. Sebuah keajaiban dia cuma kehilangan fungsi kaki kirinya.”
“Uhh… sepertinya dia mengalami lebih dari… kaki patah?” Mei berkata dengan ragu seraya mengisyaratkan kegilaan.
Harper hanya terkekeh, “Kau tahu, semua orang gila selalu punya alasan kenapa.”
Tak memberikan penjelasan lebih lanjut, Harper fokus kembali ke Hafi dan berkata, “Dengar, maafkan tindakan para personel dulu termasuk diriku yang memasukkanmu di sini.”
“Aah!” Hafi reflek bersuara. “Ki- kirim orang kalian dan kuda kalian! Tapi Hafi baik-baik saja! Tak ada yang salah dengan Hafi!”
Harper menghela nafas sekilas sebelum melanjutkan, “Tak ada yang salah denganmu! Bahkan, kami menemukan anomali yang kau bicarakan itu! Apa itu… oh ya, koridor-koridor itu! Mereka ada!”
“Tunggu… kau serius?!” Hafi sepertinya mulai terbujuk. “Heh, sudah Hafi bilang, tempat itu ada!” Dia berkata, kali ini bak mendapat dorongan kepercayaan diri.
“Ya, ya! Dan itu sudah ditangani Yayasan sekarang.” Harper mencoba tersenyum senang, sedikit kesulitan bahkan dengan setengah wajah saja. “Aku di sini untuk membebaskanmu! Kau bebas keluar sekarang sebagai personel waras dan baik-baik saja!”
“Akhirnya, memakan waktu terlalu lama, kau tahu!” Hafi sepertinya senang dan melangkah keluar melewati Harper dan Mei. Mei hanya menatap heran ke arahnya selagi ikut keluar sedangkan Harper akhirnya mengembuskan nafas pasrah.
Begitu mereka semua di luar, mereka melihat Lukman dan salah satu diantara Teriawan bersaudara tengah memapah saudaranya yang lain, sepertinya sedikit berdarah di wajah dengan beberapa sobekan di kemejanya.
“Ku asumsikan tak ada masalah dengan Duman sekarang?” Harper berkata dengan senyum ke arah Lukman.
“Y- Ya, Pak!” Saudaranya yang memapahnya menjawab gugup.
“Harus ku katakan, sudah lama aku tak memakainya, jadi aku agak ragu. Tetapi ternyata terasa tak ada yang berubah… meski hanya dalam pertarungan.” Lukman berkomentar.
“Ngghh… sejak kapan dia pakai kait buat-“ Sebelum Duman selesai bicara, Lukman mengangkat tangan kanannya dengan cepat, menunjukkan pergelangan tangannya yang hilang kini diganti kait besi tajam. Dia mendekatkannya ke leher Duman dan berkata, “Shhh… tolong berhenti berteriak tepat di telingaku.”
“Sejujurnya, ini mengingatkanku saat kita di Situs-118 dulu, Luk.” Mei berkomentar saat melihatnya. Dapat terlihat senyum tipis padanya.
“Baik, ku rasa itu sudah semua. Lukman, bawa Teriawan bersaudara ke kantin. Mei, ku rasa kau bisa damping Hafi ke sana?” Harper mulai memerintah. Lukman dan Mei, meski sedikit mengeluh, tetaplah menuruti Harper dan segera menuntun mereka pergi. Harper menatap mereka berlalu selama beberapa saat sebelum mengamati ke belakang, ke sisa koridor yang di ujungnya terdapat pintu ke ruang staf sini.
Ruang isolasi mereka tidaklah besar, hanya terdiri dari enam pintu dan selain mereka, seharusnya cuma ada satu atau dua orang yang tersisa. Seingat Harper, mereka sudah lama di sini dan dia sudah tahu kenapa.
Rasa penasaran perlahan mengalir di benaknya. Harper perlahan melangkah ke satu sel lagi dan mencari kunci untuk pintu besi tersebut. Setelah kunci dimasukkan ke lubangnya, dia membuka pintu tersebut. Di dalamnya, seorang pria lain duduk, lebih tua beberapa tahun dari Lukman, terlebih dirinya dan ketiga orang sebelumnya. Dia memiliki rambut gondrong seperti Hafi, tetapi rambut Hafi lebih mulus dan bergelombang dibandingkannya yang lebih tajam.
Diterangi lampu redup ruang isolasi, ruangannya sedikit lebih penuh dibandingkan yang lain. Terdapat rompi keamanan usang serta helm tanpa visornya tergantung di dinding. Lantai cukup dipenuhi potongan kain beragam warna. Ruang isolasi dulu dibuat untuk penahanan paling lama sebulan dua bulan, tetapi Hafi dan orang ini merupakan pengecualian sehingga kepala logistik harus menambah furnitur sel mereka.
Hafi tidaklah banyak menambah barang di selnya selain obat-obatan karena dia yakin akan dikeluarkan. Di meja orang ini, terdapat beberapa toples berisi peralatan menjahit, kapas, dan bola mata plastik. Terdapat dua gunting juga di sana.
Harper melangkah masuk, menginjak kain-kain di lantai. “Namamu Albert bukan? Agen Albert”
Pria itu duduk diam, matanya terpejam. Orang umumnya akan menganggap dia tengah tertidur, tetapi Harper tahu itu bukan kasusnya. Benar saja, tangan kanannya perlahan bergerak dan diangkatnya, menunjukkan tangannya tertutup boneka tangan yang menyerupai personel keamanan kecil, lengkap dengan helmnya dari kain. Dia masih terpejam, tetapi boneka tangannya dihadapkannya ke arah Harper.
“Kau memanggil?”
Mulut pria itu tak bergerak. Tentu saja mulut palsu boneka itu juga tidak, tetapi tetap muncul suara darinya. Penglihatan Harper tak seperti dulu, tetapi dia yakin pria ini tak sepenuhnya menutup mulutnnya.
“Ya. Aku Agen Senior Harper Dominik, kepala keamanan baru situs sejak beberapa tahun lalu.” Harper berkata. Dia seharusnya berjabat tangan, tetapi persetan akan kesopanan mengingat tahu apa boneka mengenai itu.
“Serius? Heh, aku tak akan merindukan pria tua itu sebenarnya.” Balas pria itu, atau teknisnya bonekanya. Mungkin kebalikannya berlaku juga.
“Jadi, perlu apa kau ke sini? Kau tertarik pada kasusku? Apa mungkin mereka akhirnya menerima kalau ini adalah anomali?” Boneka itu kembali bersuara.
“Maksudmu klaim bahwa… kau tiba-tiba berada di tubuh boneka tangan teman imajinermu?” Harper mengonfirmasi, meski dia terlihat tak tertarik.
“Hey, dia benar-benar ada, dan itu benar-benar terjadi! Bagiamana aku bisa bicara denganmu melalui ini kalau begitu?” Balas boneka itu, jelas terdengar kesal.
Harper hanya mengangkat bahu, “Kau yang punya bakat ventrilokuisme, jadi kau bisa jelaskan mengenai itu padaku.”
“Aku tak perlu mendengarkan itu darimu, Dominik. Ku kira kau diantara semua orang akan mengerti akan kasusku” Boneka itu membalas.
“Hey, panggil aku Harper. Aku masih baik tak menyuruhmu memanggilku Tuan juga sebagai atasanmu.” Kata Harper dengan nada terganggu.
Tetapi boneka itu menggeleng, “Tidak, itu nama kepribadianmu yang lain. Bicara mengenai itu, di mana dia?”
Harper jelas terkejut mengenai itu. Dia diam selama beberapa saat, memikirkan akan perkataan pria – atau boneka – di depannya. Akhirnya dia mencoba bertanya balik, “…Dari mana kau tahu itu?”
Boneka itu hanya terkekeh, meski jelas bukan tawa natural. “Aku sudah ada sebelum kau jadi personel Situs-84, jadi tentu saja aku tahu akan latar belakangmu. Seharusnya aku jadi agen senior sekarang jika bukan karena insiden terkutuk itu.”
Harper mengangguk, sebenarnya lumayan terkesan dia merupakan sebagian kecil orang di situs ini yang tahu kondisinya dulu. Memang benar pilihannya untuk mengecek orang ini. Dia lalu teringat pertanyaan pria itu dan dengan sedikit enggan membalas, “Sayangnya… sekarang cuma aku di sini. Aku juga tak mengharapkannya kembali.”
Boneka itu kembali terkekeh, “Kebalikannya, eh. Sebenarnya dulu aku penasaran psikolog mana yang kau temui untuk mengobati kondisimu. Sepertinya itu tak penting lagi melihat dirimu masih memiliki satu sama lain.”
“Aku sendiri sekarang!” Harper berkata keras. “Aku normal! Tak ada lagi suara-suara di kepalaku!”
Pria itu tersentak, bahkan badannya bergerak sedikit karenanya. “Ay, aku mengerti… Harper. tak perlu berteriak.” boneka itu akhirnya menenangkan dirinya. “Hahh… inilah kenapa kau jangan percaya psikolog Yayasan, Harper. Mereka mengatakan apa saja asal kau kembali bekerja seperti biasa.”
Harper sepertinya tersadar kembali dari emosinya dan segera membalas, “Yah, lupakan itu tadi. Bicara mengenai kerja, aku perlu tambahan personel sepertimu, jadi aku membebaskanmu keluar.”
“Akhirnya.” Boneka itu berkata. Tangan pria itu terangkat tinggi mengangkat boneka tangan itu. Boneka itu menoleh ke bawah dan melanjutkan, “Sial, aku lupa bagaimana menggerakannya…”
Dengan perlahan pria itu berdiri dari ujung ranjang dan tepat di depan Harper. Kedua matanya tiba-tiba terbuka, menatap ke arahnya. Dia jelas tersentak akan penampilan Harper sehingga tak lama kemudian berseru, “Goddamn, Dominik! Apa yang terjadi padamu?!”
“Insiden, dan panggil aku Harper!” Harper berkata kesal seraya segera memperbaiki perban wajahnya. “Akan ku katakan detailnya di luar nanti bersama yang lain, jadi ayo kita pergi.”
“Tentu.” Boneka itu mengerti dan pria yang memegangnya segera melangkah ke pintu keluar.
Begitu berpapasan dengannya, Harper tiba-tiba bertanya, “Tunggu, jika kau Albert, terus siapa pria yang mengangkatmu ini kalau begitu?”
“Pertanyaan macam apa itu?” Boneka itu bertanya dengan heran, “Dia bonekaku yang kuceritakan tadi, ‘Whisper’. Kunamai begitu karena dia tak pernah berhenti berbisik padaku, seperti temanmu itu. Sampaikan salamku padanya jika dia kembali nanti, ‘Harper’!”
Dan dengan itu Albert pergi keluar dengan membawa bonekanya. Membiarkan Harper berdiri sendirian di dalam. Dia masih tertegun akan perkataan Albert. Pria itu jelas kompeten melebihi ekpektasinya. Dia mulai ragu apakah keputusan yang tepat untuk ikut melepaskannya.
Alasan utama dia melakukannya sedari awal adalah betapa dia mengingatkannya akan dirinya sendiri saat dia membaca datanya sebelum memasuki koridor sel isolasi ini. Bicara dengannya membuatnya kembali memikirkan akan kondisinya. Akan dia, sebuah topeng yang diberikan padanya untuk memuaskan orang-orang di sekitarnya dengan sifat penurutnya bak anjing mereka. Tak peduli itu adalah sifat baik yang memberinya teman-temannya sekarang, tak peduli itu sifat yang membuat Lucy ingin bersamanya.
Persetan dengan itu sekarang, karena dia kembali memegang kendali akan hidupnya. Inilah dirinya yang sebenarnya dari dulu; seorang yang melakukan apa pun yang dia inginkan untuk dirinya seorang. Dia tak perlu lagi merasakan kompulsi untuk bersikap baik dan menuruti orang lain. Dia tidak perlu lagi berjalan mengikuti perbuatan Lucy yang dulu dia kagumi sekarang. Dia akan berjalan di depannya, menghadangnya, dan menjadikannya miliknya.
Dia tidaklah sadar bahwa obsesinya pada Lucy sekarang tetaplah berasal dari kepeduliannya dulu padanya, meski jika hanya satu arah semata.
Harper tersadar dari lamunannya dan segera meninggalkan ruangan. Memikirkannya semata tak akan menghasilkan apa-apa. Sudah waktunya untuk rangkaian tindakan panjang untuk mendapatkan keinginannya.
Ruang kerja Kepala Penahanan Birmanto hening seperti biasa. Hanya terdengar suara dia tengah menulis di dokumennya. Dia tidaklah menggunakan komputer, melainkan menulis langsung di kertas. Baru setelah dia selesai dia akan meminta satu-satunya personel di ruangannya untuk mengantarkannya ke luar. Tugas pria besar berseragam keamanan di samping pintu di depannya itu adalah untuk menjaganya semata selama 12 jam sebelum bergantian dengan rekannya. Entah kapan dalam hidupnya mereka berdua berhenti bicara dan menganggap dirinya sebagai patung deterrent semata sekarang.
Tiba-tiba terdengar bunyi nyaring dari arah meja Birmanto. Dia mengenali suara ringtone itu dan segera membuka lacinya. Di dalamnya terdapat beragam ponsel berbeda, dengan satu tengah menyala. Dia segera mengangkatnya dan mendekatkannya ke telinga, dapat terlihat label bertuliskan ‘188’ di belakang ponsel itu.
“Hei Sam, lama tak nelpon!” Birmanto mencoba terdengar gampang-gampangan seperti biasa, “Kalian mengalami sesuatu di sana?”
Dia tidaklah menyalakan suara luar, jadi hanya dia yang mendengarkan apa yang lawan bicaranya katakan. Sepertinya ada yang menarik sehingga Birmanto tiba-tiba menegakkan dirinya dan terlihat fokus akan pembicaraan mereka.
“Oh, kau yakin itu dari mereka? Ditujukan untuk Direktur Sudimo sendiri?” Birmanto masih terdengar santai.
Dia mendengar seksama penjelasan dari orang di sisi lain panggilannya. Ekpresinya semakin khawatir meski dia tetap menyimpan senyum palsunya. Setelah beberapa saat, sepertinya lawan bicaranya sudah selesai bicara. Birmanto akhirnya membalas, “Ku rasa ini memang ditargetkan untuk seluruh situs terdekat. Aku mewakili Situs-79 berterima kasih atas informasi penting ini kepada kalian semua personel Situs-188. Semoga bisnis kalian tetap lancar.”
Dan dengan itu dia menutup panggilan mereka. Dia memasukannya ke laci dan menutupnya kembali sebelum menatap langit-langit dalam diam. Itu tak berlangsung lama karena dia mulai tertawa. Dia tertawa sekeras yang dia bisa, melepaskan segala frustrasinya seperti yang selalu dia lakukan, seperti yang dia sarankan.
Perlahan tawanya mereda. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu seperti ventilasi terbuka, diiringi suara benda jatuh di belakangnya. Meskipun begitu, penjaga satu-satunya ruangan itu tidaklah bereaksi sedikitpun seakan tidak ada yang tak biasa dari itu. Birmanto juga tidaklah menanggapinya sampai tawanya selesai.
Baru setelahnya dia berkata, “Aku baru mau menelpon ruanganmu.”
Seorang perempuan paruh baya berseragam jas lab dengan kacamata hitam setengah tertutup poni rambutnya perlahan berdiri di belakangnya. “Sesuatu terjadi dengan Brethen?” Tebak perempuan itu seraya memperbaiki posisi kacamatanya.
Birmanto hanya menggeleng. “Heh, lebih buruk, Heliza. Sangat-sangat buruk. Jadi dengarkan baik-baik.”
Heliza sendiri perlahan terlihat gugup juga selagi dia bergegas ke depan Birmanto. “Aku perlu kau melakukan penyusupan cepat ke situs terdekat… Coba ke Situs-183! Aku perlu kau mengecek apakah ada upaya penyusupan lain tengah terjadi di sana, kemungkinan besar dari Situs-84. Jika kau pastikan tak ada, telepon aku dan akan kucoba perkirakan situs mana yang harus kau tuju selanjutnya.”
Heliza jelas bingung mendengarnya, tetapi dari ekspresi Birmanto tadi, dia jelas tak punya waktu menjelaskan. Dia cuma punya satu pertanyaan, “Kenapa Situs-183 duluan?”
Birmanto menyapu keringat di dahinya, “…Jika aku ingin mengebom situs, akan kupilih situs nonpenahanan dan kecil seperti Situs-183.”
Heliza mengangguk mengerti dan segera berlari ke pintu keluar. Pria besar dengan senapan di samping pintu segera membukanya, membuat Heliza sekilas berkata, “Trims, Reiss.” sebelum berlari cepat menyusuri koridor.
Begitu keadaan ruangan hening kembali, Birmanto perlahan duduk bersandar di kursinya. Dia memegangi dahinya dengan satu tangan seraya kembali mendongkak ke langit-langit.
“Akhirnya…” Dia berbisik pelan.
“Apa-apaan maksud mereka?!” Seorang pria berjas hitam melempar kasar sebuah amplop berisi surat ke lantai. Dia sendiri melangkah menjauh tak memedulikan kontennya yang tercecer keluar.
“Mungkin ini cuma gertakan?” Seorang pria dengan seragam serupa menebak ragu. Terlihat ekspresi tegang di wajahnya.
“Tidak,” Seorang pria lagi perlahan memungut kembali amplop di lantai dan mengeluarkan surat di dalamnya. “Ancaman penyerangan Situs-84 tidak bisa kita anggap main-main.”
“Gak, apa-apaan mereka itu! Serang Situs-79 atau kita yang mengambil tempatnya?! Siapa mereka sampai berani ngomong gitu!” Pria pertama berseru keras mengecam mereka.
“Mereka jelas tak bisa melakukan itu, kan? Maksudku, kita sama-sama situs Yayasan. Orang-orang di pusat sana pasti akan menghukum kepala keamanan mereka secepat kilat hanya untuk surat ancaman ini saja.” Pria kedua mencoba berpikir optimis.
Pria ketiga tak bicara apa-apa. Dia menatap surat formal dari Kepala Keamanan Situs-84 yang saat surat ini ditulis telah menjadi direktur sementara situs mereka. Dia telah mendengar mengenai berita kebakaran Situs-84 beberapa malam yang lalu, tetapi cuma sekedar itu saja; lagipula apa peduli mereka dengan sesama situs kecil sepertinya.
Pria ketiga itu perlahan membungkus kembali surat yang diterima mereka sore tadi. Sepertinya ada cerita lebih diantara situs itu dan situs kaka mereka, Situs-79. Tak ada yang normal jika menyangkut situs terkutuk itu. Sejujurnya dia sendiri heran kenapa situs semacam itu diizinkan ada oleh Yayasan. Situs itu memiliki segala kasus dan pelanggaran yang bisa personel lakukan. Itulah kenapa dia mengirim perempuan gila itu bertahun-tahun yang lalu; selembaran insiden kelam situs mereka.
Dia meletakkan surat itu di meja, bertanya-tanya apa tepatnya yang tengah terjadi sekarang. Kabarnya surat serupa juga diberikan ke direktur situs lain, jadi wajar saja situs kecil mereka yang hanya spesialis pencucian uang Yayasan bisa kena ancaman mereka juga. Yayasan pasti tak akan membiarkan seorang kepala keamanan semata bermain api dengan situs-situs mereka.
Dia tersenyum percaya diri, sudah lama mengabaikan pesan mereka. Sekarang sudah mencapai pukul 12 malam, dia tak akan repot-repot mengirim personel ke sana seperti permintaan, terlebih mengontak orang itu. Dia juga tak merasa perlu meningkatkan parameter situs mereka. Mereka dilindungi Yayasan, orang gila itu tak akan bisa menyentuh mereka. Pasti sekarang situs mereka terkena jarahan MTF khusus untuk kasus semacam ini, dengan orang itu diseret keluar dan dijadikan Kelas-D.
Itulah Yayasan yang mereka ketahui selama ini. Dalam abnormalitas variable dunia, Yayasan adalah konstanta kenormalan organisasi manusia di tengahnya.
Dan tiap lantai tiba-tiba mengeluarkan ledakan, hasil dari kebocoran gas yang telah mengaliri seluruh ruangan dan pematik yang kemudian dinyalakan. Gedung empat lantai mereka yang merupakan klinik kecantikan hancur sepenuhnya lantai demi lantai, sampai papan nama kover mereka jatuh dan hancur saat menghantam tanah.
Tak jauh darinya, sekumpulan orang menatap api yang mulai mengisi sisa-sisa ledakan. Mereka mengenakan jas hujan putih – meskipun malam itu tidaklah menurunkan hujan – yang melindungi seragam hitam agen lapangan Yayasan.
Seorang perempuan berambut pendek dengan perban putih menutupi separuh bawah wajahnya perlahan melangkah ke depan, ke arah seorang pria di depannya dengan perban menutupi separuh samping wajahnya, yang tengah menatap api yang berkobar hebat di sisa-sisa bangunan.
“…Pak, apakah ini… benar-benar harus dilakukan untuk mengalahkan Situs-79? Maksudku, apa yang akan mereka katakan nantinya?”
Dengan suara serak serupa, pria itu terkekeh seraya berkata, “Katakan saja kalau mereka… memberikan perlawanan.”
Perempuan itu mengangguk mengerti dan melangkah mundur. Tetap saja, meski wajahnya separuh tertutup perban, kedua matanya menunjukkan ekspresi takut…
…Dan khawatir.
Tak jauh dari kumpulan orang-orang itu, seorang perempuan duduk di salah satu ranting besar di atas pohon tinggi. Kacamata hitamnya menunjukkan refleksi cahaya api di depannya.
Dia seharusnya memperingatkan orang-orang di gedung itu mengenai ini, tetapi begitu dia sampai, dia sudah melihat orang-orang asing itu berkumpul bak menunggu sesuatu. Saat itulah dia sadar dia telah terlambat. Tak ada yang bisa dilakukannya lagi selain mencari tempat duduk. Tangannya yang memegang ponselnya kini didekatkannya ke telinga.
“Ini lebih, lebih buruk…” Dia menggumam, terdengar dari suaranya kalau dirinya pun gemetaran memikirkan tindakan mereka.
“So that’s how it is, eh…”
Seorang pria paruh baya dengan aksen amerika menatap layar putih kosong, sebuah kelir yang terpasang ke gawangan tempat pagelaran wayang kulit. Blencong baru saja padam dan dalang telah meninggalkan ruangan. Peristiwa Pagelaran malam ini telah selesai dipertunjukkan.
Dia menoleh ke belakang, ke arah kumpulan personel berseragam taktis lengkap yang tiap malam selalu mendampinginya tetap di belakangnya sampai dia meninggalkan tempat pertunjukan malam ini.
“Give 414 a ring, tell em’ a site shall fall.”
Kronik Situs-79
Bab 8: Dunia Imaginer(1)
« Di Mana Yang Tertawa Sekarang | Ego Tinggi Meminta Tolong Eksekusi | Royalti Mereka Meminta Kepalanya »




