Di Mana Yang Tertawa Sekarang
rating: 0+x

Tiga orang personel Yayasan saling menunggu dalam diam. Terdiri dari seorang pria yang bersandar di pojokan, mengenakan seragam serba hitam termasuk kacamatanya yang berbingkai bulat, mengamati dua orang yang tengah duduk di sofa yang disediakan di ruangan itu.

Saling duduk berseberangan adalah dua orang personel Yayasan. Seorang pria bermasker gas, dan seorang perempuan dengan jas biru. Dua orang yang sejauh ini menjadi fokus utamanya sebagai Kepala SDM situs terkutuk mereka. Dia tak tahu apa yang akan terjadi pada mereka kedepannya, tetapi justru itulah yang membuatnya tertarik meninggalkan ruangannya dan mengamati langsung mereka.

Dulu segalanya terasa sangat mudah diprediksi baginya. Herria tak pernah kreatif dengan personel yang dia seret ke kantornya. ‘Pembunuhan? Penyerang? Mungkin sekali-kali penyelundupan yang cukup parah sampai harus diperhatikan’ Adalah pertanyaan yang sering terlintas di pikirannya. Yang dia sendiri lakukan untuk itu hanyalah mendengarkan alasan mereka melakukannya dan menentukan apa yang harus dia lakukan setelah mendengarnya.

Mereka sudah terkutuk di sini, jadi biasanya tugasnya antara menambah catatan di buku dosa bernama rekaman disipliner yang mengikat mereka di situs ini atau pada akhirnya mengirim mereka untuk sepenuhnya dimusnahkan di 333. ‘Apakah nasib hidup mereka semudah itu diprediksi layaknya hidupnya sekarang?’ kadang dia pertanyakan.

Tapi akhir-akhir ini jelas tidaklah sama seperti puluhan tahun sebelumnya. Personel lain situs ini mungkin dapat melihatnya sejak beberapa bulan yang lalu, akan bagaimana observasi sederhana dapat membuat seseorang mempertanyakan kenapa mulai terjadi rangkaian insiden kecil dan menengah hanya dalam jarak bulanan semata. Tetapi beberapa orang seperti dirinya dapat merasakan adanya intensitas sejak bertahun-tahun lamanya. Sebuah peningkatan yang entah kapan mencapai puncaknya. 2002, 2004, 2012, 2013, 2018; rangkaian tebakan salah, tetapi merupakan indikasi akan adanya insiden besar nantinya.

Segalanya sudah di luar prediksinya. Sebenarnya, menurut semua yang tengah terjadi di situs ini kini terasa sudah di luar prediksi siapa pun. Semua berkat dua orang di depannya ini. Dia tahu persis rahasia mereka bak penonton permainan poker sejak pertama mereka duduk di kursi untuk bermain, menginvestasikan perhatiannya kepada mereka selama ini untuk menunggu apa yang terjadi ketika keduanya akhirnya saling membuka kartu mereka.

Dan sekarang, dia menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka berdua setelahnya.

Tiba-tiba dia merasakan getaran di kantongnya. Dia merogohnya dan segera mengeluarkan sumbernya yang berupa ponselnya. Begitu dinyalakan, dia menyadari bahwa dia menerima panggilan masuk.

“Herria, mereka berhasil menangkapnya?” Dia bertanya segera, menarik perhatian dua orang di ruangannya.

Mereka berdua tidaklah dapat mendengar apa yang Herria katakan, atau melihat matanya yang perlahan tertegun akan apa yang Herria katakan, tetapi mereka dapat melihat dia tertawa pelan seakan tak percaya akan apa yang dia dengar.

“…Kau serius?”

Entah apa jawabannya, tetapi dia tetap terlihat bersemangat. Dia kemudian bertanya kembali, “Boleh aku bawa dua orang ini ke atas juga?”

Dua orang personel di sofa tidaklah tahu apa yang sebenarnya tengah dia bicarakan, tetapi tiba-tiba setelah sepertinya mendapat jawaban atas pertanyaannya, dia menurunkan ponselnya dan berkata, “Peneliti Lucia dan Zakaria, kalian ikut dengan ku sebentar.”

“Ada apa, Pak Hidayat?” Lucy memutuskan untuk menyempatkan bertanya, tetapi Hidayat lebih fokus membuka pintu keluar. Melihat tak ada balasan, mereka berdua segera beranjak berdiri dan mengikutinya keluar. Mereka mengikuti Hidayat yang berjalan cepat menyusuri koridor kantor pribadi dan menuju ke ruang tunggu lantai Keter.

Ada beberapa orang tengah bersantai di sana, seluruhnya merupakan personel keamanan tanpa helm dan rompi mereka. Meski ada televisi di atas mereka, ia dalam keadaan mati. Mereka hanya duduk bersandar di sofa usang ruangan itu. Mendengar langkah kaki mendekat, beberapa menoleh dan mereka sepertinya menyadari kedatangan Hidayat. Mereka segera berdiri karenanya.

“Malam, tuan-tuan.” Hidayat berkata dengan senyum selagi melangkah cepat ke arah mereka.

“Malam, Pak! Perlu apa ya?” Salah satu penjaga segera berkata, tetapi Hidayat mengabaikannya sementara selagi dirinya perlahan naik ke sofa, jelas mencoba meraih ke televisi di atas.

“Hiburan malam, ngghh… tuan-tuan. Kesukaan kalian.” Dia berkata. Dia mencoba terdengar ramah seperti biasa meski jelas sedikit kesulitan mengutak atik bagian belakang televisinya. “Sedikit… nggh… realita.”

“Yeah!”

Dua orang penjaga perlahan bersorak, sisanya mengamati dengan tertarik. “Panggil yang lain, Lewis! Hidayat menyalakan tv!” Salah satu berteriak, membuat seorang di antara mereka segera berlari terburu-buru.

“Apa-apaan…” Lucy bertanya keheranan selagi mengamati Hidayat menyalakan televisi, menunjukkan tayangan statis bising semata.

“Apa? Kau tak pernah nonton tv di situs ini?” Pria bermasker gas di sampingnya bertanya.

“Tidak? Sejujurnya aku sudah jarang sih. Mending ke luar situs buat internetan.” Lucy menggeleng, tanpa sengaja menyadari kerumunan yang mulai membesar di sekitarnya.

“Yah, kau beruntung, kau tahu. Orang di bawah sini tak akan pernah ke atas sana kecuali diizinkan. Televisi di lantai ini sama seperti di lantai Euclid, bedanya adalah jangankan remotnya, cuma orang seperti Hidayat atau Herria yang bisa menyambungkannya agar ada sinyal sama sekali. Selain itu, semoga saja statis abstrak adalah tontonan favoritmu.” Jelas pria di sampingnya.

Lucy diam sejenak mendengar penjelasannya. “…Ku rasa kau pantas mendapatkan itu, Bale.”

“Apakah iya? Apakah itu yang Robert bilang?” Bale membalas.

Lucy ingin membantah, tetapi sekali lagi, dia hanya bisa diam. Dia sama, jika tidak lebih buruk darinya. Seorang naif yang diberi penutup mata dan senjata mencoba menentukan apa yang seseorang pantas dapatkan, itu menggelikan.

Tapi sekarang penutup matanya dilepas, dia tak lagi menjadi agen Robert atau CI. Untuk pertama kalinya, dia bebas. Tentu dia harus menanggung konsekuensinya nanti setelah Robert ditangkap, tetapi sekarang, dia adalah personel Yayasan kembali. Dia tidaklah yakin bisa bekerja lagi di Situs-84, mungkin saja dia tidak dibolehkan keluar juga tanpa syarat, tetapi dia akan menanggungnya. Dia cuma berharap bisa diberi kesempatan melihat mereka kembali paling tidak sekali sebelum menerima hukumannya nanti.

“…Ah, selesai!”

Begitu Hidayat mengatakannya, statis di televisi berubah menjadi tayangan koheren salah satu kanal yang tengah memberitakan sesuatu.

“…Kembali ke situasi terkini di lokasi, Rumah Sakit Cermin Permata masih terbakar hebat. Kami mendapat kabar bahwa kini api mulai menjalar di lantai tiga gedung utama.”

Suara sorakan menenggelamkan keheningan pikiran Lucy seketika begitu tayangan kover situs pertama tempat dirinya menjadi personel Yayasan yang kini tengah mengobarkan api memenuhi layar televisi. Tagar utama bertuliskan dalam huruf kapital membentuk judul sederhana, ‘rumah sakit terbakar, penyebab belum diketahui’.

“Gak- gak! Gak mungkin!” Lucy berkata tak percaya.

Teriakannya tentu saja larut di dalam gemuruh teriakan kumpulan personel yang mengelilinginya,

“Mereka tak mungkin selamat!”

“Tak ada yang selamat! Tak ada yang akan selamat!”

“Kebakaran! Kekacauan!”

罰! 地獄!

Ja! Ja! Ja!

“Diam!” Lucy berteriak marah ke belakang, hanya untuk menyadari seluruh personel yang mengelilinginya menatap layar dengan ketertarikan, kepuasan, kegembiraan. Bale tidaklah berbohong, semua personel di sini telah jenuh akan monotonisme rutinitas terisolir lantai Keter dan seakan menganggap ini momen langka dan bagai tak ingin melewatkannya, jadi mereka menikmatinya, merayakannya. Personel keamanan dan peneliti menunjukkan ekspresi asli mereka tanpa kebohongan.

Di tengah-tengah mereka adalah Bale yang sedari tadi di dekatnya. Dia tidaklah mengenakan masker gas, jadi Lucy dapat bertatapan langsung ke arah Bale yang hanya menatap balik dengan ekspresi tak peduli.

“Mungkin kau pantas mendapatkannya?”

Baru dia ikut tersenyum, jika luka sobekan di pipinya tidaklah terlihat seperti senyuman besar sedari tadi.

Lucy tak bisa berkata apa-apa. Dia perlahan menoleh kembali ke tayangan televisi di depannya, tak dapat mendengar apapun darinya karena sorakan beberapa personel di belakangnya. Dia memikirkan perkataan Bale tersebut. Untuk pertama kalinya, dia memutuskan untuk jujur layaknya mereka; dia membenci mereka semua.

Dan untuk pertama kalinya juga, dia tidak bisa membenci mereka juga karena dirinya tak jauh berbeda dari mereka. Dia tidaklah lagi layak untuk itu, jadi dia hanya bisa diam sekarang.

“Ge! No! Si! Da! Total mereka semua!!!”

Di tengah sorakan para pendosa, akhirnya Lucy kembali bersuara,

“Ha ha…”

Meski terkekeh, dia berlinang air mata.

Mungkin aku memang di neraka.

Dia menerima siksaannya sekuat yang dia bisa. Dia pantas mendapatkannya.


Setelah semua yang terjadi berjam-jam yang lalu, Kini mereka semua kembali berkumpul di ruang kepala keamanan. Lebih lengkap dari sebelumnya.

Herria tengah sibuk membuat panggilan telepon dan sesekali bersuara nyaring karenanya. Mejanya dipenuhi kertas laporan. Di bawahnya mulai berserakan botol minum; dia mulai minum untuk meredakan stres baru saja sejak sejam terakhir.

Hidayat kali ini mendampinginya dibandingkan bersandar di pojok mengamati dengan ekspresi tertarik, dia sekarang ikut sibuk menerima panggilan telepon juga seraya mengamati kertas yang dia ikut titip di meja Herria.

Bale dan Lucy saling duduk berhadapan di sofa ruangan. Meski begitu, Bale hanya bersandar di sandaran sofa, mencoba tidur setidaknya mengetahui betapa rumitnya situasi saat ini, sedangkan Lucy sudah mulai awal sejak mereka berkumpul kembali di ruangan tengah duduk termenung menatap lantai dalam sunyi.

Tiba-tiba pintu besi ruangan diketuk. Mereka melihat sekilas kecuali Lucy sebelum kembali sibuk ke urusan masing-masing. Herria setidaknya menyempatkan diri untuk berteriak mengizinkan siapa pun di balik pintu untuk masuk.

Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Seorang pria yang terlihat tua melangkah masuk. Dia tidaklah memakai seragam konvensional Yayasan, tetapi dia memakai jas hijau tua kusam melapisi kemeja putihnya, sewarna dengan topi beret di kepalanya.

“Ah, Pak Birmanto!” Herria segera berdiri dari kursinya. “Senang anda bisa bergabung sekarang, Pak.”

“Yah, sayangnya si tua Stefan tak ingin ikut sepertinya, heh.” Birmanto berkata selagi terkekeh. “Jadi bagaimana kondisinya saat ini?”

Herria melirik ke Hidayat yang menatap balik meski di tengah panggilan, dia hanya menggeleng. Herria hanya menghela nafas dan berbalik kembali ke Birmanto dan berkata, “Tidak ada kabar dari agen kita.”

“Hahaha!” Birmanto mulai tertawa seperti biasa. “Jadi kau memang mengirim agen Insurgent kita ke mereka tanpa sadar? Hah!”

“Dari mana ceritanya aku tahu kalau ada agen kita yang akan ikut menjarah!” Herria membantah keras. “Itu tugasnya dokter pengkhianat itu seharusnya!”

“Tunggu, untuk satunya aku memang terlambat, tapi kita sudah bersama Aliman dari tadi! Dan kalian mengetahui dia dari GOC sebelumnya, jadi ku kira wajar saja kode verifikasi bekerja padanya!” Bale mencoba mengelak.

“Sejujurnya aku terkesan dia mau kembali jadi Insurgent mengetahui dia terjebak di sini bertahun-tahun karenanya, jadi aku memaklumi itu.” Hidayat menyempatkan untuk mengomentari.

“Sudahlah Herria,” Birmanto akhirnya menyudahi perdebatan mereka setelah selesai tertawa. “Dengan menyingkirkan Toni, itu artinya ada sebelas Insurgent tersisa yang terlibat dalam operasi situs kita nanti, dengan tiga menjadi prioritas utama kita. Jadi itu artinya…”

Birmanto diam sejenak dengan kepalanya mendongkak, entah apa yang dipikirkannya. Tiba-tiba dia melangkah cepat ke meja Herria dan meraih salah satu kertas di meja. Mengabaikan protes terkejut Herria, dia segera meraih satu pulpen di meja dan mulai menulis.

“Jika… kedua agen Insurgent yang ditemui kepala keamanan Harper itu bukan dua orang target utama kita, seharusnya ada sembilan agen tersisa, dengan tiga merupakan target kita. Artinya kau perlu bersyukur Bale, probabilitasmu 28/165 untuk agen Insurgent berikutnya yang kau tangkap!” Birmanto berkata setelah selesai menuliskan penghitungan sederhana di kertas tersebut.

“Hah? Bukan 1/3?” Bale bertanya keheranan.

“Heh, itu jika pasti tidak ada satupun diantara dua orang Insurgent itu target utama kita. Dengan itu menjadi probabilitas juga, jadi nikmati hasilmu itu.”

“Sebaliknya…” Dia mengamati perhitungannya kembali, “Jika satu atau bahkan dua orang yang ikut penjarahan itu termasuk target utama kita, itu artinya sisa satu target utama tersisa di antara agen Insurgent kita. Dan itu kemungkinan Si Judas itu mengingat langkahnya adalah ‘memadamkan situs ini’.”

Dia menoleh ke Bale kembali, “Probabilitasmu 1/165 sekarang.” Katanya sebelum terkekeh.

“…Yeah terimakasih atas keputusasaannya, tetapi aku memilih mencoba menangkap mereka semua saja seperti rencana awal.” Bale menanggapi

“Tentu saja, aku cuma penasaran dan pemanasan sebelum kita mulai.” Birmanto membalas seraya merobek kalkulasi yang telah dia buat, meskipun protes terlambat Herria yang berganti ke kepasrahan akan catatannya di sisi sebelahnya. “Pertanyaannya sekarang adalah siapa Insurgent kita berikutnya?” Dia segera bertanya seraya menoleh ke Herria di belakangnya.

“…Tentu saja dengan Agen Adrian ikut hilang dan dicurigai ikut menyerang bersama Aliman, aku segera menanyai kakaknya. Tetapi dia bersikeras adiknya dijebak atau semacamnya.” Herria menjawab. “Sejujurnya ini pertama kalinya ku lihat dia bereaksi separah itu tadi. Memukuli orang itu satu hal, tetapi dengan dirinya mencoba keluar dari situs untuk mengecek sendiri hanya menambah kecurigaan padanya.” Tambahnya.

“Anehnya kode verifikasi tak bekerja dengannya, meski itu bekerja dengan Aliman sebelumnya.” Bale ikut menjelaskan. “Ku cek apakah dia memakai metode gigit lidah Toni, tetapi ternyata tidak. Tetap saja, bukan berarti dia bukanlah Insurgent.”

“Itulah kenapa ku kurung dia sementara di ruang interogasi di atas. Dia tidak banyak komplain setidaknya, asalkan headphone-nya tidak dilepas.” Herria mengakhiri.

“Jadikan itu prioritas rendah saat ini kalau begitu.” Birmanto berkata. “Sekarang bagaimana dengan kontak ke Situs-84 saat ini?”

Herria menggeleng. “Masih belum. Sejak penyerahan mayat sisa agen kita – yang harus ku katakan tidaklah secara hormat, mengingat mereka praktisnya membuangnya di halaman kover kita – Mereka menetapkan pemutusan kontak sampai mereka menyatakan situasi sudah terkendali. Bagaimana tanggapan direktur mengenai itu?”

“Heh, kau pikir pria tua itu peduli apa yang situs lain pikirkan?” Birmanto balas bertanya dengan sarkas.

“Bagaimana dengan Herman? Dia ahli relasi kita kan, Pak? Kenapa anda menolak mengajaknya ke sini juga?” Herria kembali bertanya.

Birmanto kembali menggeleng juga. “Mari kita… tak merepotkan Herman tersayang kita dengan blunder kita. Kalian berdua cukup untuk mengatasi krisis ini bukan?”

Herria mengangguk mengerti, tak mencoba membantah. Tetapi Hidayat hanya tertawa pelan dan berkata dengan senyum, “Tolong jangan mencoba melimpahkan ini ke kita berdua begitu saja, mengingat ini rencanamu juga, Birmanto. Kau tak mau mendebatkan itu, bukan?”

Birmanto hanya balas tertawa. “Haha, tentu! Tentu… Heh, sialan…” Dia berkata pelan di akhiran.

“Bagus,” Hidayat menepuk tangannya dengan senang. “Sekarang, bagaimana kita bisa mengecek situasi di Situs-84? Kita perlu kronologi detail insiden di sana dan sisa-sisa bukti yang mungkin ditinggalkan agen kita atau Robert, tentu saja tanpa memberitahukan mengenai masalah Insurgent kita. Pemutusan kontak ini membuat bahkan Herman sekalipun tak dapat mendekati situs mereka.”

“Aku bahkan tak tahu mereka bisa memutus kontak, terlebih menginginkannya.” Herria berkomentar sekilas. “Ku kira mereka perlu bantuan situs lain pascainsiden?”

Hidayat hanya mengangkat bahu. “Mereka teknisnya kebobolan personel situs kita, jadi itu dapat dipahami. Jika mereka percaya bisa mengatasi krisis sendiri tanpa bantuan, tak ada yang bisa kita lakukan meski ia merupakan situs adik kita.”

“Kau tahu, kau harus banyak keluar situs nanti, nak.” Birmanto ikut menanggapinya. “Itu hal teringan yang bisa mereka lakukan ke situs kita.”

“Sekarang kembali ke pertanyaanku, bagaimana kita bisa mengakses situs yang mengisolasi diri dari seluruh situs lain tanpa memperparah urusan relasi kita?” Hidayat kembali bertanya dengan tersenyum, jelas menatap Birmanto di balik kacamata hitamnya.

Birmanto mendongkak sekilas. Dia menghela nafas sebelum kembali menatap Hidayat dan mulai terkekeh. Matanya perlahan melirik ke arah kanannya.

“Kita punya personel mereka, bukan?”

Ke arah Lucy yang duduk termenung di sofa.


Seorang personel melangkah cepat menyusuri koridor putih rumah sakit. Bagian yang dia lalui untungnya aman dari kebakaran yang melanda bangunan mereka meski berada di lantai dasar. Meski begitu warna putih pucat dinding di sampingnya perlahan memudar menjadi gelap seiring dirinya mendekati area depan pintu masuk, sumber asal kobaran api malam itu.

Dia melewati pintu ke ruang depan yang sengaja dibuka, akhirnya sampai di meja resepsionis yang berhadapan dengan pintu kaca mereka yang sudah hancur. Di belakang meja resepsionis sudah tidak ada lagi stafnya seharusnya; dia masih tak berhasil melacak keberadaan mereka pasca kover situs dijarah, dia cuma bisa berdoa yang terbaik untuk mereka.

Tetapi meja resepsionis tidaklah kosong, terdapat seorang personel perempuan berseragam keamanan tengah melatih menembak ke luar menggunakan senapan runduk cokelat. Bagian wajahnya dibalut perban, warna merah secara samar merembes, mewarnai perbannya.

“Agen Hilda,” Personel yang baru datang tadi berkata seraya mendekat, membuat perempuan itu menghentikan tembakannya. Dia tahu Hilda sudah meminta izin menaruh target di halaman parkiran rumah sakit mereka. Dengan dirinya menembak di dalam ruangan, setidaknya itu mampu meredam suara tembakannya di luar jalanan yang sudah mereka kosongkan – kebakaran memudahkan itu. Dia hanya tak menyangka dia masih di sini mulai pagi dia diizinkan keluar ranjang sampai siang ini.

“Pak Lukman?” Hilda menoleh dan berkata dengan suara pelan, hampir berbisik karena kondisinya.

“Mana Harper?” Lukman tak membuang waktu langsung bertanya.

Dengan gestur menunjuk ke atas dengan dagunya, Hilda menjawab, “Di atap.”

“Pantas…” Lukman berkata seraya menghela nafas. Lift mereka mati; dia harus memakai tangga untuk mencapainya nanti. Sejujurnya dia ingin menghindari Harper saat ini, tetapi harus ada yang dia sampaikan padanya. Mengetahui dia harus menaiki tangga sampai atap hanya menurunkan keinginannya melakukannya.

Dia diam sejenak mengamati Hilda. Tangan kirinya merogoh kantong celananya mencoba meraih sesuatu. Akhirnya dia mengeluarkan jam saku besi yang terikat ke rantai kecil. Dia menekan bagian atasnya dan membuka jam tersebut, mengamati pukul berapa sekarang.

Masih ada waktu…

Dia memutuskan untuk bersandar di samping meja resepsionis dulu sebelum itu. Dia mengamati Hilda kembali fokus melatih tembakannya. Sebelum melihat ke meja, dia tahu seharusnya alokasi pelurunya hampir habis. Situs mereka sebenarnya punya banyak, hampir berlimpah karena dulu Harper membeli terlalu banyak, tapi untuk latihan Hilda cuma meminta secukupnya.

Dia mengamati Hilda terbalut perban yang sama yang membalut separuh wajah Harper. Membalut luka yang mereka dapat malam itu. Selain penampilan mereka, Lukman merasa ada yang berubah dari mereka sejak saat itu. Dia bisa memaklumi Hilda tidaklah banyak bicara sekarang mengingat kondisinya, tetapi dia tidak biasanya sefokus ini latihan, terlebih menggunakan senapan runduk.

Untuk kasus Harper lebih ekstrem lagi.

“Jujur saja, ada yang salah di kepala Harper.” Lukman berkata tiba-tiba.

Hilda berhenti membidik dan mengangkat senjatanya seketika. “Apa maksudmu?” Dia berkata, nadanya sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.

“Kenapa kau bertanya? Kau sudah dengar apa yang dia lakukan tadi malam, kan! Aku masih mencoba mengontak representasi Komite Etik mulai malam tadi sampai sekarang, tetapi masih belum ada respon dari mereka…” Lukman menjawab dengan kesal. “Dia harusnya dikurung saat ini dan bukannya berkeliling mengurus situs.”

Tiba-tiba Hilda menodongkan senjatanya ke arah Lukman seraya berkata, “Dia melakukan apa yang harus dia lakukan! Kau tak berhak mengkritiknya untuk itu, tidak setelah kalian memilih mengurung diri di bawah sedangkan Harper sendiri menghadapi mereka semua!”

Lukman entah kenapa tidak terlihat terkejut saat ditodong, lebih ke arah kesal. Dia segera memegang moncong senjata Hilda dengan cepat dan menariknya ke samping. “Ya memang tidak, itulah kenapa aku mengontak Komite Etik. Kita sudah melayani fantasinya sejak lama, tetapi jika dia mulai menembak orang karenanya, sudah waktunya kita mengakhirinya.”

Hilda mencoba menarik senapannya, yang akhirnya Lukman lepaskan. Dia menatap ke arah Lukman selama beberapa saat sebelum kembali meletakkan senapannya di meja untuk menembak. “Lagi pula mereka pantas mendapatkannya…” Dia menggumam.

Lukman menggeleng mendengarnya. Dia tak ingin mendiskusikan hal menggelikan ini lagi dan segera melangkah pergi. Selagi mengamati kembali jam sakunya saat dia menyusuri koridor ke tangga, sebuah pikiran terlintas di kepalanya.

Mereka pantas mendapatkannya ya…

Begitu sampai, dia segera melangkah naik. Undakan tangga ini cuma berada di satu tempat, tetapi menghubungkan kelima lantai mereka layaknya lift. Untuk ke atap dia harus naik tangga lain sayangnya.

Selagi melangkah, dia memikirkan kenapa dia peduli akan tahanan-tahanan mereka itu. Seperti yang Hilda katakan, mengetahui kejahatan yang mereka lakukan, mereka pantas mendapatkannya. Jadi dia bertanya-tanya kenapa dia mengungkit-ungkitnya.

Dia juga tak pernah mempedulikan akan kode etik sebelumnya sebagai penjaga. Biasanya itu urusan Harper. Tetapi dengan Harper melanggarnya, dia merasa dirinya yang harus memperhatikannya sekarang.

Di tengah-tengah perjalanannya, dia tiba-tiba kepikiran,

Apa Harper memang melanggarnya?

Harper merupakan atasan yang selalu memikirkan orang lain, meskipun merepotkan dia dan anak buahnya. Dipikir lagi, meskipun tindakannya tadi malam, dia memberikan alasan yang layak akan tindakannya meski dirasanya berlebihan.

Mungkin itu alasan dia peduli akan tahanan dan Komite Etik tiba-tiba. Semua mungkin hanyalah perasaannya. Ketika sesuatu di luar kebiasaan, bukankah normal reaksinya juga di luar kebiasaan. Harper yang biasanya selalu menunggu pendapatnya sebelum melakukan perubahan sekecil apa pun tiba-tiba mengambil inisiatif mematikan jelaslah di luar kebiasaan.

Larut dalam pikirannya, tanpa sadar dia sudah di lantai paling atas. Dia segera membuka pintu dan menyusuri koridor.

Yah, memang ada yang salah di kepalanya.

Dan akhirnya dia menemukan pintu ke arah atap. Berisi tangga kecil yang menuju ke atas, dia menaikinya sampai ke pintu di sisi seberang. Dibukanya pintu tersebut, menunjukkan pemandangan langit siang yang berawan. Tidaklah gelap, tetapi matahari tidaklah terlalu terlihat juga. Di ujung pagar besi pembatas, dia melihat Harper menyandarkan dirinya, tengah mengamati area parkiran.

Lukman melangkah mendekatinya, dan sepertinya Harper menyadarinya. Dia menoleh dan berkata, “Oh, Pak Lukman. Kau perlu sesuatu?”

Entah kenapa dia tersenyum polos seperti biasa, tetapi Lukman tak akan semudah itu melupakan tindakannya tadi malam. Jadi dia langsung saja berkata, “Orang-orang 79 meminta izin berkunjung ke situs kita lagi.”

Harper menggeleng mendengarnya. Dia perlahan berbalik memandangi lapangan parkir. “Kau tahu kita tidak bisa mengambil risiko dengan membawa mereka masuk untuk kedua kalinya, kan. Ini demi kebaikan kita…”

“Itu masalahnya,” Lukman berkata, “Mereka di sini atas permintaan personel kita di sana, Si Lucy itu.”

Harper tiba-tiba berbalik dan bertanya segera, “Tunggu, beneran?”

Begitu Lukman mengangguk dengan ekspresi heran akan antusiasmenya dia, Harper terlihat berpikir sejenak seraya mengguman, “Ayolah, tak ada salahnya bukan…”

Dia melirik ke arah Lukman yang masih menunggu jawaban. “Bentar,” Harper berkata seraya memberi gestur menunggu dengan tangan kanannya. Tangan kirinya segera merogoh kantongnya, sesaat kemudian dia mengeluarkan sebuah koin, membuat Lukman menghela nafas kesal melihat kebiasaan menjengkelkannya.

Tetapi alih-alih melemparnya dan bergantung pada hasilnya seperti biasa, dia menatapnya selama beberapa saat sebelum tanpa diduga mengantonginya kembali.

“Izinkan mereka.” Dia berkata akhirnya.

Lukman sebenarnya tak menduga dia tak jadi melempar koinnya, tetapi dia tidaklah terlalu memikirkan itu dan segera melangkah pergi, meninggalkan Harper kembali sendiri di atap.

Begitu dia mengamati Lukman menutup pintu atap, dia kembali termenung memandangi parkiran.

“Aku percaya pada Lucy. Itu cukup bagimu bukan?”

Dia menunduk selama beberapa saat.

“Terserah.”

Dia mengangguk akan jawabannya sendiri. Dia kembali mengamati lapangan parkir yang kosong, tiba-tiba menyadari ada yang melangkah di sana. Dengan pengelihatannya sekarang, butuh waktu baginya untuk menyadari kalau itu Hilda. Sepertinya dia sudah selesai latihan menembak dan kini tengah mengangkut targetnya kembali masuk. Mungkin dia akan minta target baru dan amunisi tambahan jika dia tidak puas akan hasilnya. Dia tidaklah masalah akan itu, mereka punya banyak yang masih tersisa.

Dia diam mengamati Hilda yang bagian bawah wajahnya ditutupi perban. Dia melirik ke samping, meski jelas tak akan mampu melihat perban di wajahnya sendiri.

“…Heh, menurutmu apa reaksi Lucy melihat kita?”

“Dia akan memaklumi tindakanmu, kau tahu itu.”

“Aku bicara ke Hilda, bajingan. Lagi pula yang ku maksud perban-perban ini.”

Dia terkekeh sendiri membayangkan dirinya yang selalu memperhatikan Lucy, tidaklah pernah sebaliknya. Dia tidaklah tahu apa yang akan Lucy katakan nanti karena itu. Itulah kenapa dia kembali diam, membayangkan pertemuan mereka nantinya.


Sebuah mobil hitam dengan pelan mendekati halaman rumah sakit besar di sampingnya. Di dalamnya, Herria sendiri yang mengemudi – kini dia mengenakan jas cokelat untuk melapisi kemeja putih polosnya – didampingi Hidayat. Di kursi belakang hanya ada Birmanto.

Begitu mendekati arah masuk rumah sakit, Herria segera merogoh radio di dekatnya. Hidayat mengeluarkan secarik kertas dan menunjukkannya kepadanya. Herria menghela nafas pasrah sebelum berkata, “Per me si va nella città dolente, per me si va nell’eterno dolore, per me si va tra la perduta gente.

Lalu mereka memasuki area rumah sakit.

“Kau perlu latihan lagi nanti. Lupakan irama puisinya, bahasa Italiamu buruk sekali bahkan google translate lebih koheren darimu.” Birmanto mengomentari seraya terkekeh.

Hidayat tanpa diduga tertawa karenanya, sedangkan Herria hanya menghela nafas. “Tch, mau bagaimana lagi, Pak. Aku tak pernah menduga harus membaca sendiri kode verifikasi situs kita.” Herria mengeluhkan, hanya untuk membuat Birmanto dan Hidayat terkekeh karenanya.

Mobil hitam tersebut ternyata tidaklah sendiri, diiringi oleh mobil hitam kedua. Di dalamnya, Bale masih mengenakan jas labnya, mengetahui dia cuma punya kemeja putih semata. Meski duduk di kursi depan, dia duduk di kursi penumpang. Di sampingnya yang jadi pengemudi merupakan personel dengan seragam serupa lengkap dengan jas labnya juga. Seorang personel yang Herria percaya untuk dapat ikut bersama mereka, ‘ekuivalen Herman tapi lebih berguna’, katanya. Peneliti Senior Onyx Pramono, personel yang merupakan lawan sepadan agen senior mereka. Lucy kabarnya dekat dengan orang ini.

Tentu saja, Lucy duduk di kursi belakang, termenung mengamati pemandangan rumah sakit yang seharusnya sangatlah familiar baginya, mengingat dia berasal dari sana. Situs-84.

Mereka semua keluar dari mobil setelah memarkirkannya di halaman situs. Enam personel Situs-79 melangkah perlahan menuju pintu masuk. Gonggongan anjing samar-samar terdengar semakin mereka mendekat. Lucy sepertinya terkejut akan itu, mengamati sekeliling halaman rumah sakit dengan keheranan. Dia sudah tahu akan apa yang menimpa situs asalnya, tetapi dia tidaklah pernah merasa mereka memakai anjing penjaga untuk pengamanan.

Personel keamanan situs perlahan bermunculan semakin mereka mendekat. Bukan satpam kover lagi, tetapi personel keamanan yang memandangi mereka dalam diam. Tangan mereka menggenggam erat baton mereka, dan terlihat bahwa itu bukanlah baton biasa dari kilatan kecil listrik yang dihasilkannya. Ini membuat Lucy semakin bertanya-tanya akan keadaan situsnya.

Begitu sampai di depan pintu, tentu saja sekumpulan personel keamanan telah berkumpul untuk ‘menyambut’ mereka. Di paling depan berdiri satu-satunya personel yang tak memakai helm, menunjukkan rambut hitamnya yang sedikit panjang dan bergelombang. Dia juga memiliki kumis tipis di wajahnya.

“Kami ucapkan selamat datang ke Situs-84, saya Agen Senior Gator Lukman selaku wakil kepala keamanan mewakilkan kepala keamanan kami untuk menyambut kalian.” Dia berkata.

“Terimakasih. Seperti yang kami diskusikan sebelumnya di telepon, kami punya beberapa hal yang perlu didiskusikan dengan petinggi kalian mengenai insiden yang terjadi tadi malam.” Herria berkata mewakili mereka semua.

“Tentu, kalian bisa menunggu di sini dulu selagi kami memberitahukan direktur kalau kalian sudah tiba.” Lukman berkata seraya hendak melangkah pergi.

“Tunggu,”

Lukman berbalik dan mendapati Lucy melangkah mendekat. “Apa aku boleh menemui Harper?” Dia bertanya.

Lukman menatap Lucy sejenak. Akhirnya dia menoleh ke sisa personel Situs-79 yang bersamanya dan berkata, “Kau tahu, Harper memberi pengecualian untuk dia. Kalian tak keberatan dia duluan masuk, kan?”

“Tapi-“ Bale hendak membantah, tetapi Herria menahannya. Dia mengangguk dan berkata, “Tentu, duluan saja.”

Lukman menerimanya dan segera berlalu pergi diikuti Lucy. Hanya mereka yang pergi, sisa personel keamanan situs diam mengamati tamu mereka dengan senjata masih tergenggam erat. Begitu mereka cukup jauh melangkah di koridor, Lucy akhirnya bicara, “Jadi sejak kapan kau memakai anjing penjaga untuk keamanan?”

“Kau bisa tanya pacarmu Harper itu.” Lukman berkata dingin.

“Heh, yang benar aja…” Lucy tertawa pelan. “Tapi serius, Harper mengizinkanmu? Ku kira dia tak ingin mengganggu pasien-”

“Bukan aku, Harper.” Potong Lukman seketika. “Itu idenya.”

Lucy tertegun mendengarnya. “Apa… apa maksudmu?”

Lukman hanya menghela nafas, “Dengar, ada yang salah dengan pacarmu itu sejak malam dia diserang. Dia…”

Lukman tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena dia menyadari ada yang melangkah mendekat di depannya. Dia diam seketika begitu menoleh ke depan.

“Serius, dia bukan pa…” Lucy yang awalnya ingin membalas juga terhenti begitu mengamati arah pandangan Lukman.

Di depan mereka Harper tengah melangkah mendekat. Seluruh sisi kiri wajahnya tertutup perban. Seingat Lukman warna perbannya saat dia masih di atap adalah kemerahan, tetapi perban baru yang menutupi seluruh bagian termasuk salah satu matanya itu putih bersih. Sepertinya dia menggantinya tadi selagi menunggu personel Situs-79 datang.

“Lucy! Senang melihatmu!” Harper berkata dengan semangat dan mengulurkan kedua tangannya, siap akan pelukan reuni. Tetapi sayangnya Lucy tidaklah punya banyak energi seperti biasanya, terlebih melihat keadaan Harper sekarang. Jadi dia hanya melangkah pelan seraya berkata, “Harper…”

“Lucy, kau baik-baik saja?” Harper menurunkan tangannya dengan ekspresi khawatir.

“Aku? Bagaimana denganmu?!” Lucy berkata kesal, tak percaya Harper lebih mementingkannya seakan tak terjadi apa-apa pada dirinya sendiri.

“Aku… akan menginformasikan Pak Ishak untuk naik.” Lukman berkata pelan seraya mulai menyingkir, meninggalkan mereka berdua di koridor.

“Lucy, aku…” Harper berkata pelan dan bingung akan kenapa Lucy marah.

Lucy menggeleng, menyadari dia reflek berkata keras tadi. Dengan segera dia berkata, “Maaf, aku hanya… apa yang terjadi denganmu, Harper?”

“Oh, ini.” Harper tertawa pelan seraya meraba sisi wajahnya yang tertutup perban. “Cuma luka dikit kok. Sementara perlu diperban doang. Kalau kau bagaimana?”

“Harper! Berhenti memedulikan diriku dulu dan lihat dirimu!” Lucy berseru kembali. “Berhenti bersikap seakan tidak terjadi apa-apa pada separuh wajahmu!”

Harper diam mendengarnya, selayaknya Lucy yang menatapnya dengan sedih. Bagi Lucy, luka itu adalah salahnya. Hukuman atas dosanya yang ditimpakan pada teman-temannya. Dan melihatnya lebih memedulikannya hanya memberatkan rasa bersalahnya.

Bagi Harper, dia mendapat pesan berbeda.

“Aku tahu Lucy…” Harper berkata pelan. “Ini hasil inkompetensiku selama ini sebagai kepala keamanan. Karenaku seluruh… situs menanggung akibatnya. Maaf membuatmu khawatir.”

“Harper, ini bukan…” Lucy hendak kembali menyangkalnya, mengatakan bahwa ini salahnya. Tetapi bagaimana bisa baginya untuk menjelaskan itu padanya.

Harper menggeleng akan kalimat tak lengkap Lucy, “Tidak, ini salahku. Dan kami berniat membenarkannya.”

“…Maksudmu?” Lucy perlahan heran akan apa yang dia bicarakan, perlahan dia ingat apa yang Lukman katakan mengenai anjing penjaga di halaman.

“Yeah, aku mencoba mengambil tindakan tegas akhir-akhir ini. Keamanan terlalu senggang di luar, personel kover tidak dilengkapi senjata memadai, kurangnya intidimasi, lalu-“

“Tunggu, tunggu.” Lucy memotong ocehan Harper. “Apa yang kau bicarakan? Senjata dan intimidasi? Sejak kapan kau berpikir seperti itu??”

“Sejak seluruh personel kover kita mati karena penyerang keparat itu, Lucy! Sejak situs kita dikhianati agen ganda Situs-79!” Harper berkata, sedikit keras dari tadi.

“Apa yang…” Lucy tak menduga Harper yang dia kenal selama ini mengatakan itu, dia tak bisa berkata apa-apa.

“Ya, sejujurnya Lucy, ku sarankan kau mulai menjaga jarak dari personel-personel itu. Mereka semua tak bisa dipercaya, orang buangan yang bersedia mengkhianati kita sebagai personel Yayasan dalam-“

“Diam!” Lucy reflek kembali berteriak. Yang ini murni reflek karena mau bagaimana pun, Harper seakan membicarakan dirinya. Dan meskipun rasa bersalahnya, dia tak sanggup mendengar tuduhan dan hinaan itu dari temannya sendiri.

Tentu saja, Harper terkejut Lucy tiba-tiba memotongnya dengan berteriak seperti itu. “L- Lucy?! Maaf, aku… Aku cuma mengatakan itu untuk kebaikanmu, kau tahu. Meskipun kau mungkin peduli dengan mereka-“

“Bukan, Harper.” Lucy menggeleng, akhirnya berhasil mengendalikan emosinya. “Ini… semua perkataanmu itu, ini bukan dirimu, Harper. Kau pria yang baik.”

“Baik tidaklah cukup!” Kini giliran Harper tiba-tiba memotong. “’Baik’ membuat tahanan-tahanan itu mengunci rapat mulut mereka dan tertawa dalam hati akan inkompetensinya. Hanya setelah kutembak rekan mereka baru mereka mulai bicara.”

“Tunggu, apa?”

“Dia menembak semua tahanan kita.” Lukman tiba-tiba berkata di belakang Harper. Dia perlahan melewati mereka, sepertinya sudah selesai memanggil direktur mereka. “Dia menghadapkan dua tahanan dan membuat mereka saling bicara sampai ada yang kehabisan informasi. Baru dia tembak yang kalah. Setelah itu selesai pun, dia menembak tahanan terakhir kita.”

“Kita di tengah percakapan di sini, keparat. Urus tugasmu.” Harper berkata dengan kesal.

Lukman hanya mengangkat bahu, “Dia pantas tahu.” Dan dengan itu dia melangkah pergi kembali ke depan.

“…Apa yang dia bicarakan itu, Harper?!” Lucy bertanya keheranan.

“Itu ide- ekhm, itu terpaksa ku lakukan. Kita harus menunjukkan kalau kita serius dalam menghadapi ancaman mereka.” Harper berkata dengan ragu, meski terdengar percaya diri pada akhirnya.

“Dengan menembak mereka semua?! Apa yang salah denganmu??” Lucy bertanya dengan kesal.

Tanpa diduga, Harper membalas keras, “Yang salah adalah diriku yang dulu! Apa-apaan dia membiarkan situs ini berjalan tanpa arahan? Kepala keamanan yang hampir tidak ada harganya di mata anak buahnya! Dan kau pikir aku akan membiarkan yang jelas-jelas musuh kita berpikiran serupa?”

“Harper…” Lucy tak tahu harus mengatakan apa selain namanya.

“Tidak, malam tadi adalah kali terakhir mereka bisa mengetesku. Kita memakai pendekatan berbeda, dan seperti yang kau lihat, sejauh ini sangatlah efektif.”

“Efektif dari segi apa? Apa yang Hilda katakan mengenai tindakanmu?” Lucy bertanya keheranan.

“Efektif membuat mereka menghormatiku, Lucy.” Harper berkata, entah kenapa dia tersenyum. “Hilda tentu saja memaklumi tindakanku. Personel lain juga seperti itu. Bahkan Lukman pun tahu dalam hati kalau mereka pantas mendapatkannya. Aku harus membuktikan aku bisa membuat keputusan kompeten mulai sekarang.”

“Kau… kau tak perlu itu semua, Harper. Ini bukanlah dirimu.” Lucy mencoba membujuknya.

Harper diam. Tetapi kemudian dia berkata, “Kau tak pernah peduli juga dengan diriku yang dulu.”

“Huh?” Lucy reflek bertanya dengan bingung.

“Aku tahu selama ini aku hanya merepotkanmu, Lucy.” Harper menerangkan seraya menghela nafas. “Aku tahu kau agak menghindariku. Hanya saja aku tak bisa melakukan apa-apa mengenai itu dulu.”

“Aku tidak-“

Sebelum Lucy selesai bicara, Harper melanjutkan, “Tak perlu mengelak lagi, karena aku tak akan menjadi beban bagimu lagi. Aku ingin kita setara sebagai teman-“

Harper menggeleng, “Tidak, bukan, sebagai pasangan.”

Lucy jelas terkejut akan apa yang Harper katakan. “Hah?!”

“Aku tak ingin menundanya lagi. Dengan dirimu di sini, ku rasa sudah waktnya ku katakan saja; aku menyukaimu sejak pertama kita mengurus insiden pembunuhan itu bersama-sama. Aku menyukai dirimu yang tak pernah menyerah menghadapi rintangan yang kita alami dulu.” Harper berkata, masih dengan ekspresi bersungguh-sungguh.

“Dengar Harper, ini bukan waktu yang tepat untuk itu!” Lucy mulai kesal kembali akan perubahan topik tak terduga ini. Dalam hati, dia masih tak menduga akan perkataannya dan tak siap akan itu.

“Separuh wajahku terbakar tadi malam! Entah apa yang terjadi esok, tetapi aku tak akan membuang waktu lagi!” Harper berkata seraya dirinya secara reflek menarik ke bawah perban yang menutup separuh wajahnya.

Lucy jelas terkejut melihat sekilas sisi terbakar wajah Harper yang kemerahan kehilangan kulitnya, menunjukkan satu bola matanya yang tak lagi diselimuti kelopaknya, menatap tajam ke arahnya. Lucy menutup wajahnya denga kedua tangannya selagi menatap syok. Harper sendiri setelah beberapa saat menyadari apa yang dia lakukan dan dengan segera menutup kembali wajahnya dengan perban.

“Ma- Maaf kau harus melihat itu.” Dia berkata dengan gugup. Tetapi kemudian dia melanjutkan, “Tapi mengingat insiden tadi malam membuatku memikirkan betapa nyarisnya aku hampir mati. Aku cuma merasa sudah waktunya kau tahu itu.”

“Harper, aku… dengar, ini benar-benar bukan waktu yang tepat untuk itu.” Lucy berkata. Dia tak bermaksud menolak. Dia bahkan tak tahu harus apa, dan justru itu masalahnya. Dia punya terlalu banyak untuk dipikirkan saat ini, salah satu yang paling utama adalah nasibnya dulu saat ini.

“De- Dengar, aku berjanji akan lebih kompeten lagi.” Harper perlahan mendekati Lucy. “Kau- kau perlu bukti, kan? Kami- aku akan mengusahakannya. Kami akan mengurus masalah situs ini sampai selesai, lalu kami akan menangani Al- Ehm, percaya saja padaku. Jadi, apa jawabanmu?“

“Serius, Harper. Aku tidak bisa membicarakan masalah seperti ini-“ Lucy tanpa sadar melangkah mundur, tetapi Harper tiba-tiba menggenggam tangannya.

“Tolak aku juga tak apa, aku bisa menebak jawabannya. Tetapi aku perlu tahu jawabanmu, Lucy. Aku tak mau mati tanpa mengetahui kepastian itu.” Harper berkata, kini mulai memelas dengan genggamannya ke tangan Lucy perlahan semakin erat.

“Harper!” Lucy jelas terkejut dan mencoba menariknya, meski tidak bisa.

“Hey!”

Terdengar suara teriakan nyaring dari ujung koridor. Harper dan Lucy segera menoleh dan mendapati seseorang segera berlari – bukan berjalan cepat, tetapi langsung berlari seketika – ke arah mereka.

“K- Kak Onyx!” Lucy reflek berkata.

“Apa yang kau pikir lakukan!” Onyx berkata marah seraya mendekati Harper.

“Oh, tak bisakah kalian mengurus urusan kalian sendiri?” Harper merespon dengan kesal. “Kita di tengah sesuatu di sini, jadi urus urusan kalian sana.”

“Aku tak peduli apa yang kalian bicarakan, tapi lepaskan dia!” Onyx berkata keras. Itu menyebabkan beberapa personel keamanan Situs-84 mulai siaga kembali. Tentu saja merasakan ketegangan mulai meningkat, personel Situs-79 yang baru saja diizinkan masuk mulai tegang juga.

Herria hendak mendekat untuk melerai mereka, tetapi dia dihalangi Hidayat dan Birmanto. Birmanto menggeleng seraya perlahan terkekeh, Hidayat sendiri menatap dengan tertarik akan keadaan di depan mereka. Bale menolak ikut campur dan hanya memasukkan tangannya ke kantong celana, tentu saja agar dapat meraih kapaknya jika diperlukan.

“Lucy…” Harper berkata pelan, “Kau kenal orang ini? Dia temanmu? Atau…”

Harper perlahan diam, tak melanjutkan kalimatnya. Lucy menatapnya dengan bingung dan khawatir selama beberapa saat sebelum memberanikan diri bertanya, “…Harper?”

“…Aku mengerti.” Harper berkata pelan. Dia melepaskan pegangannya begitu saja dan melangkah mundur.

Onyx segera mendekati Lucy dan berkata, “Kau tak apa? Dia tak melukaimu atau semacamnya?”

“Ah, aku… tidak apa. Tenang saja, dia temanku, Kak Onyx.” Lucy menjawab pelan, sekilas melirik ke arah Harper.

“Kau yakin?” Onyx berkata, mengamati tangan Lucy yang dipegang Harper tadi dengan khawatir.

“Sudahlah, Kak Onyx. Bukannya kita punya urusan di sini.” Lucy segera pergi melewatinya dengan terburu-buru. Dia mendekati Lukman yang sedari tadi menunggu mereka seraya berkata, “Tunjukkan arahnya.”

Lukman hanya mengangkat bahu seraya mulai berjalan. Lucy mengikutinya segera seakan ingin cepat pergi. Onyx menatapnya khawatir di kejauhan, tak sadar rombongan personel Situs-79 ikut berjalan mengikutinya.

“Ayo.” Hidayat berkata dengan senyum seraya praktisnya mendorong Onyx ke depan.

Tertinggal beberapa orang personel keamanan Situs-84 di belakang mereka. Di tengah mereka, Harper menatap mereka semua.

Perban yang tadi dengan tergesa-gesa dia perbaiki akhirnya jatuh kembali, menunjukkan sebagian sisi wajahnya yang rusak.

Menunjukkan tatapan tajam bola mata tanpa kelopak matanya.


Setelah menyusuri koridor kover selama beberapa saat, Lukman berhenti tak jauh dari lift masuk sublantai 1 mereka. Dia lalu berjalan ke depan sebuah pintu di depan mereka. “Untuk alasan keamanan, kita terpaksa akan mengadakan pertemuan di salah satu ruangan admistratif kover kita. Ruangannya sudah disiapkan dan sang direktur sudah menunggu di dalam.” Lukman berkata.

Mereka segera mendekat, tetapi tiba-tiba terdengar suara dari belakang, “Hanya Lucy saja dulu.”

Harper berjalan pelan mendekati para rombongan personel, diiringi rombongan personel keamanannya sendiri. “Kalian, personel 79, aku akan mengadakan pengecekan latar belakang sebentar dengan kalian.” Dia berkata.

“Ku kira kami sudah diizinkan?” Balas Bale dengan kesal. Tak ada yang tahu dia sedari tadi sudah siap membunuh untuk sebuah kursi semata. Kursi ruang utama mereka hancur, sepertinya karena serangan malam itu, dan dia tak mungkin jongkok atau duduk di lantai di tengah-tengah mereka. Singkatnya beberapa jam berdiri tanpa melakukan apa-apa membunuh kakinya terlebih dahulu.

“Kalian diizinkan masuk, bukan diizinkan menemui direktur.” Harper menjawab dengan tegas.

“Yah, kita turuti saja.” Hidayat mengangkat bahu dan melangkah duluan seraya tetap tersenyum. Birmanto perlahan tertawa selagi mereka berjalan. Harper sendiri mengamati mereka dengan ekspresi jijik sebelum berbalik untuk menuntun mereka menjauh.

Lukman sendiri menghela nafas, akhirnya dia menoleh ke Lucy dan berkata, “Ku rasa kau duluan saja sana kalau begitu. Aku perlu mengawasi orang ini…”

Dan dengan itu pun dia berlalu mengikuti ke mana Harper pergi, meninggalkan Lucy sendirian di depan pintu. Dia sejujurnya tak tahu harus apa. Dia di sini hanya agar personel Situs-79 bisa masuk. Dia tahu tempatnya sekarang, dan tugasnya hanya untuk menemani mereka semata. Jadi dia hanya berdiri diam di depan pintu.

Keheningan itu membuat Lucy melirik sekali ke koridor. Entah apa yang terjadi malam itu, tetapi sekarang ada yang salah dengan Harper dan dia jelas dapat melihat itu. Dia masih belum bertemu temannya yang lain, terutama Hilda. Tak mungkin dia setuju akan sifat Harper sekarang, tak peduli betapa jengkelnya dia dulu padanya.

Dipikir lagi, dia sudah lama tak bicara dengan sang direktur sendiri. Dia tak bisa masuk begitu saja, tidak saat mengetahui dirinya terafiliasi dengan Robert sebagai agen gandanya. Tetapi dia juga tahu direktur yang dikenalnya tak akan marah akan itu. Dia selalu ingin yang terbaik untuk personel Yayasan, tak hanya terbatas pada Situs-84, tetapi bahkan Situs-79 juga. Dia mungkin akan memakluminya, bahkan mungkin membantu permasalahannya.

Atau mungkin dia akan berubah juga layaknya Harper. Itulah alasan sebenarnya dia tak berani masuk. Menatap ke pintu kembali, tak terasa sudah beberapa saat dia diam di depan pintu. Lucy tanpa sadar bersandar di dinding dan perlahan duduk di lantai selagi menunggu personel Situs-79 selesai dicek.

Keheningan hanya membuatnya kembali memikirkan nasibnya. Dia tak tahu harus apa sekarang, masih bagus dia masih dianggap personel Yayasan. Masih bagus dia masih hidup. Tetapi apa sekarang, misinya sudah tiada dan hukumannya belum ada. Yang menantinya nanti bahkan merupakan neraka dingin Situs-79. Dia mulai merindukan masa dia aktif di Situs-84 dulu, tetapi dia tahu tak ada yang bisa dia lakukan sekarang selain diam.

“Heh, aku akan merindukan keributan yang kau buat, kau tahu.”

Lucy terkejut di tengah lamunannya, dia menoleh ke samping, hanya untuk melihat koridor kosong semata. Dia diam memikirkan apa yang tadi dia dengar dalam pikirannya. Hanya selama beberapa saat saja, karena kemudian dia tersenyum tipis.

Tentu saja…

Dia tahu ini bukanlah dirinya. Tak peduli dia bukanlah GOC, bahkan tak peduli jika dia bukan Yayasan sekalipun, dia bukanlah seseorang yang akan diam saja menerima keadaan. Dia akan menghadapinya, tak peduli apa konsekuensinya.

Dia segera berdiri. Dengan rasa kepercayaan diri baru yang dia dapatkan, dia memegang gagang pintu di depannya. Setelah menghela nafas sejenak, dia membulatkan tekat dan segera mendorongnya terbuka.

Di dalam ruangan, terdapat beberapa meja kantor yang ditata selayaknya kantor biasa, tetapi di pinggiran dindingnya berderet serangkaian properti setengah terbakar yang sepertinya disimpan di sini juga. Pencahayaan hanya berasal dari satu buah lampu di ujung yang sepertinya dipasang hanya untuk pertemuan ini saja. Deretan meja di kiri dan kanannya memberi ruang berjalan ke meja di ujung ruangan, di mana sang direktur tengah duduk.

“Masuk.”

Terdengar suara tegas darinya. Lucy seketika tahu itu tidaklah biasa dilakukan direktur. Sedikit keraguan terbesit sekilas, tetapi rasa untuk memberanikan diri berhasil melangkahinya, membuatnya melangkah maju memasuki ruangan. Tanpa sadar, dirinya sudah berada di depan meja sang direktur. Papan nama berbahan kayu berlapis plastik sang direktur terletak di mejanya. Lucy berhenti menatapnya dan segera menatap wajah sang direktur. Baru dia menyadari satu hal.

“Sudah lama aku tak melihatmu, Lucia.”

Meskipun prasangkanya, sang direktur tersenyum lemah kepadanya.

“Se- senang bertemu dengan anda, Direktur Ishak.” Lucy berkata lega meski masih sedikit gugup. Dia segera duduk di kursi di sisi seberang mejanya.

“Senang melihatmu masih baik-baik saja. Situs-79 pasti berat bagimu selama ini, bukan?” Dia berkata pelan.

Lucy tahu direkturnya tak terlalu suka kebohongan, jadi dia langsung saja berkata, “Sebenarnya, ya. Sangat… menekan, jika saya boleh bilang.”

Ishak tidaklah langsung berkata apa-apa. Dia hanya menunduk selama beberapa saat, dengan Lucy bertanya-tanya apa yang dipikirkannya. Pada akhirnya dia berkata, “Aku benar-benar meminta maaf telah mengirimmu ke Situs-79.”

Lucy tertegun. Mendengarnya merasa menyesal mungkin bukan hal langka, tetapi jika dia menyesali sesuatu tentang Situs-79, situs yang selama ini dia sangat ingin bantu, jelas ada yang salah. Hal pertama yang dipikirkannya adalah perubahan sikap drastis serupa yang dialami Harper. Rasa gugup mulai dia rasakan karenanya.

“Kenapa, Pak?” Lucy memberanikan diri bertanya pelan.

“Karena itu permintaan mantan atasanmu, Robert.” Ishak berkata dengan rasa bersalah. “Entah apa rencananya meminta itu dulu, tetapi aku jadi mengkhawatirkan nasibmu di sana setelah mendengar identitas aslinya.”

Lucy mengangguk pelan, perlahan mengerti apa yang tepatnya direkturnya sesalkan. Tetap saja, dia perlu memastikannya dengan berkata, “Ah, keadaannya tidak separah itu kok di Situs-79. Hanya… cukup dingin bagi personel setingkatku. Oh ya, aku juga bisa jadi peneliti biasa karena di Situs-79 juga, jadi tidak separah itu kok, Pak.”

Ishak hanya tersenyum. “Aku masih percaya dengan temanku Direktur Stefan. Tetapi tetap saja aku merasa bersalah mengirimmu bermodal permintaan Robert semata, jadi maafkan aku karena itu.”

Lucy mau tak mau menerima permintaan maafnya meski jelas dia tak berwenang untuk itu. Dia segera mencoba mengganti topik dengan bertanya, “Jadi… saya rasa anda mendengar kalau agen Situs-79 ikut andil dalam penyerangan kover malam itu.”

“Benar. Harper yang melaporkannya segera setelah dia diizinkan beraktivitas. Sayangnya aku tak setuju akan permintaannya untuk melakukan tindakan pembalasan ke Situs-79.” Ishak membalas.

Seharusnya perkataannya itu mengejutkan Lucy, tetapi dia sudah bertemu langsung dengan Harper tadi, jadi dia bisa menerima perubahan sikapnya yang drastis itu. “Jadi… anda tidak menyalahkan Situs-79 atas partisipasinya di insiden malam tadi?”

Ishak menggeleng dengan yakin. “Kita juga punya Robert dan Alice ikut berpartisipasi di insiden itu juga, kan? Tak adil cuma mereka yang disalahkan.”

“Maaf, Alice?” Lucy bertanya heran darimana nama itu tiba-tiba datang.

“Kau belum bertemu Harper? Tunggu, kau seharusnya sudah… Dia mungkin belum bilang saja. Malam tadi selain Robert, ada seorang peneliti junior yang Harper bilang ikut mendampinginya. Peneliti Junior Allison Ratchet, kabarnya dia dinyatakan hilang setelah tak kembali ke situs dan tak berhasil ditemukan setelah seminggu lamanya.”

“Begitu ya…” Lucy mengangguk mengerti. Dia tak pernah mendengar kasus itu, jadi sudah wajar dia tak tahu. Harper jelas tahu karena selain dia kepala keamanan, dia bukan tipe orang yang membiarkan begitu saja jika ada orang hilang.

Setidaknya itu dirinya yang dulu.

Tiba-tiba Lucy mendengar suara pintu dibuka di belakangnya. Dia menoleh dan mendapati seorang personel keamanan melangkah masuk membawa sebuah laptop hitam. Wajahnya ditutupi visor kuning khasnya, tetapi Lucy bisa melihat jelas dia memiliki rambut hitam panjang. Saat dia melangkah melewatinya, Lucy melihat angka 84 di lengannya.

“Permisi Pak, ada yang harus anda lihat. Ini terkait insiden tadi malam.” Perempuan itu berkata seraya meletakkan laptopnya di meja dan membukanya. Dari cahaya di seragam direktur, jelas laptop dalam keadaan sleep semata tadi. Perempuan itu menekan beberapa hal di laptop sebelum melangkah mundur.

“Saya permisi dulu.” Perempuan itu berkata seraya dirinya bergegas pergi. Sedikit tak wajar bagi Lucy, tetapi dia tidaklah terlalu mengherankan hal itu. Saat dia pergi, terdengar suara gemerisik hujan muncul dari laptop tersebut.

“…Apa yang ada di laptop itu, Pak?” Lucy tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

“Hmm… Hanya ada sebuah file audio. Tulisannya tadi… ‘065-ID-Sample-15.WAV’.” Ishak membalas seraya menatap monitornya dengan penasaran.

“Tunggu…” Lucy jelas ingat pernah mendengar itu. Dan tak berselang lama, dia menyadari sesuatu yang mendesak.

“Pak, itu suara SCP-065-ID!” Lucy berseru seraya berdiri dari kursinya.

“Benarkah?!” Ishak jelas terkejut dan segera menutup laptop di depannya seraya berdiri juga. Tetapi meski tertutup, suara gemerisik hujan masih terdengar.

“SCP-065-ID disimpan di Situs-79! Seharusnya akan ada suara kodok nanti dan itu bahaya kognitif- tidak, bahaya memetik!” Lucy menjelaskan selagi dirinya kini berada di samping Ishak untuk melihat keadaannya.

Mengamati suaranya tidaklah berhenti, Ishak membuka kembali laptopnya dan mendapati bahwa dia tidak bisa mematikan berkasnya. Waktu terus berjalan penuh antisipasi dan kepanikan yang mulai menjalar. “Separah apa bahayanya?” Ishak berkata seraya fokus mengamati laptop.

“Ia Keter! Tak bisa disembuhkan!” Lucy membalas singkat berdasarkan ingatannya saat membaca dulu.

Ishak sendiri sepertinya tak berhasil menemukan solusi mematikan laptopnya. “Kita harus keluar dari sini!”

Tanpa perlu balasan, mereka berdua segera lari ke pintu keluar. Tetapi begitu mereka mencoba menarik gagangnya, mereka tidak bisa membukanya. Dengan cepat mereka menyadari kalau mereka terkunci di ruangan kecil ini. Suara gemerisik hujan jelas menggema memenuhi ruangan.

Lucy masih mencoba membuka paksa pintu meski dia tahu itu usaha sia-sia, tetapi Ishak segera berlari kembali ke mejanya dan mencoba merogoh sesuatu di laci meja. Lucy menoleh dan mendapati dia mengeluarkan pistol dari laci dan segera menodongkannya ke laptop di depannya.

BANG

Suara tembakan singkat terdengar, tetapi ia hanya terdengar singkat karena tanpa diduga, muncul ledakan seketika dari laptop tersebut. Casing hitam laptop tersebut terpental ke belakang, menghantam dinding di samping Lucy sebelum memantul ke lantai dengan kasar. Tetapi casing-nya jelas berbahan kuat karena dampak ledakan laptop itu sepenuhnya terfokus pada bagian depannya, ke hadapan Ishak.

Sang direktur terdorong mundur sampai punggungnya dengan keras menghantam dinding karena ledakannya. Dia langsung tergeletak tak sadarkan diri. Lucy setelah reflek berteriak karena terkejut tadi dengan segera berlari mendekati direktur situsnya. Dia melewati sisa-sisa laptop di bekas meja yang hancur karena ledakan tadi, setidaknya tak lagi mengeluarkan bahaya kognitif tadi.

Dengan cepat dia berlutut dan mengecek keadaan Ishak. Begitu dia menyadari kalau sang direktur masih hidup, dia mengembuskan nafas lega. Di saat yang bersamaan, pintu tiba-tiba terbuka keras bak didobrak. Setidaknya enam orang personel keamanan memasuki ruangan. Tentu saja, hanya satu hal yang mereka katakan,

“Diam di tempat!”

Lucy segera berdiri dan mengangkat tangannya. Sang direktur masih tergeletak di sampingnya, para personel keamanan jelas dapat melihatnya sekarang.

“Dia mencoba membunuh Direktur Ishak!”

Terdengar suara teriakan perempuan di antara mereka. Lucy yang mendengarnya yakin itu perempuan yang sama yang menaruh laptop tadi. Tetapi sebelum Lucy dapat mengatakan apa-apa, semua personel keamanan di sampingnya langsung menyerbu masuk dan menyiapkan baton mereka. Lucy sekilas melihat personel yang berteriak tadi segera lari menjauh.

Tetapi lima orang personel keamanan di depannya lebih menyita perhatiannya. Lucy segera meraih ke revolvernya di belakang, hanya untuk menyadari kalau senjatanya sudah diambil malam itu. Dia hanya bisa mengangkat tangannya dan melindungi wajahnya seraya memejamkan matanya.

Terdengar bunyi hantaman dan teriakan, entah kenapa diiringi erangan juga. Setelah beberapa saat menyadari dirinya masih baik-baik saja, Lucy membuka matanya. Di depannya, seorang peneliti tengah menghantam rompi seorang penjaga dengan sikunya sebelum dengan cepat menghantam dagunya dengan uppercut dan memukulnya lagi dengan pukulan samping kepala dengan tangan yang sama, praktisnya menyingkirkannya ke samping.

Tanpa jeda, dia segera memberikan tendangan rounderhouse keras ke seorang penjaga di belakangnya sebelum menghantam kepalanya dengan tangannya kembali, menjatuhkan satu lagi penjaga. Rangkaian gerakan natural dan berbahaya, saat itulah Lucy menyadari di depannya, Onyx tengah menghentikan hampir seluruh penjaga yang tadi hendak menyerangnya.

Penjaga terakhir mengangkat batonnya dan berteriak, yang Onyx balas dengan menghindari ayunan kebawahnya diikuti pukulan cepat ke dagu penjaga itu dengan sikunya, menumbangkannya seketika. Setelah mengamati tak ada lagi penjaga yang bisa bangun, dia segera mendekati Lucy dan berkata, “Lucy! Kau tak apa?”

Lucy segera mengangguk dan melangkah mendekati Onyx, tetapi Onyx tiba-tiba menoleh ke arah pintu. Benar saja, tak lama seorang peneliti lagi melangkah masuk, tetapi mereka berdua jelas mengenali dia siapa dari masker gasnya.

“Apa… Ini bahkan belum lima menit!” Bale reflek berkata seraya mengamati sekelilingnya. “Persetan, cepat keluar!” Dia melanjutkan.

Onyx seketika menarik tangan Lucy keluar. Sayangnya dia sepertinya tak bisa mengatur tarikannya sehingga dia praktisnya menyeret Lucy yang kesulitan melangkah melalui para penjaga di lantai. Di depan, dia melihat sisa personel lain sudah menunggu, dengan Herria paling depan. Melihat Lucy sudah keluar, mereka segera berlari menyusuri koridor.

“Lucy, apa yang terjadi di dalam sana?!” Herria berteriak tanpa menoleh. Dia menggenggam pisau taktis standar di tangannya dalam keadaan siaga. Lucy melihat hanya dia yang bersenjata.

“Seorang personel- ngh, keamanan masuk ke ruangan pertemuan saat aku dan Direktur Ishak di dalam! Dia menaruh laptop yang memainkan audio SCP-065-ID dan lari sebelum kita menyadarinya!” Lucy berusaha keras menjelaskan sejelas yang dia bisa di tengah mereka berlari.

“065-ID? Bagaimana bisa?” Giliran Birmanto yang bertanya, meski dia masih terkekeh bak menganggap ini semua merupakan candaan keji.

“Nama file yang dimainkan perempuan itu, ‘SCP-065-ID-Sample… 15.WAV’! Ada suara gerimis juga!” Lucy mengonfirmasi.

“Heh, kita ada urusan dengan Brethenitas setelah ini, Herria!” Balas Birmanto sebelum mulai tertawa.

Двигайтесь!” Merupakan balasan reflek Herria selagi dia melirik ke belakang. Lucy ikut melirik dan mendapati beberapa personel keamanan Situs-84 kini mulai mengejar mereka. Tidaklah masalah melihat mereka sebentar lagi mencapai halaman depan.

Tetapi tanpa mereka duga, ternyata tepat di depan pintu terdapat seorang personel sepertinya baru masuk ke dalam. Mengesampingkan separuh bawah wajahnya dibalut perban, yang jadi masalah adalah dia menenteng senapan runduk meski model tua. Dia jelas menyadari rombongan personel Situs-79 yang berlari mendekatinya.

“Apa yang- tunggu…” Dia awalnya hendak meraih senapannya, tetapi dia sepertinya menyadari sesuatu – atau seseorang – di antara mereka. “…Lucy? Itu kau?” Dia bertanya dengan semangat.

“Hilda?!” Lucy reflek berkata, terkejut akan pertemuan tak terduga mereka. Para personel yang bersamanya terpaksa diam di tempat, tak tahu harus apa.

Sayangnya mereka tak bisa lama-lama karena dari belakang, para penjaga situs mulai mendekat. Hilda sepertinya dapat mendengar keributan yang mereka hasilkan sehingga dia bertanya, “Tunggu, kenapa kalian buru-buru ke sini tadi?”

Lucy melirik ke belakang sekilas sebelum kembali menoleh ke Hilda. “Dengar Da, ntar gue jelasin, tapi bisa biarkan kami pergi dulu?”

Hilda jelas heran mendengar Lucy mengatakan itu, terlebih melihat seluruh personel Situs-79 di sekitarnya menatapnya dengan tegang – kecuali satu orang. Dengan ragu dia menjawab, “Gue- Ehm… aku tidak bisa membiarkan kalian kalau Harper gak ngizinin.”

блядь! Dia cuma satu orang!” Herria berkata seraya menyerang maju dengan pisau taktisnya. Hilda begitu melihat pisau taktis seketika teringat pengalamannya malam itu. Dia berteriak takut meski segera meraih senapannya dan langsung menodongkannya ke Herria.

Tetapi Herria segera mengangkat tinggi laras senapan Hilda dan membuatnya menembak langit-langit. Herria dengan cepat menubruknya ke samping dan membuka jalan untuk sisa personel lain. “Двигайтесь!” Dia berteriak ke sisa personel lain.

Para personel Situs-79 segera keluar meninggalkan bangunan. Ketika Onyx menarik Lucy ke luar, dia sempat bertukar pandangan dengan Hilda yang menatap dengan tak percaya. Lucy sendiri tak bisa mengatakan apa-apa, bahkan kata maaf tak pantas dia ucapkan sebagai jawaban pengkhianatannya.

“Hilda!” Akhirnya Harper sampai di ruang depan bersama personel lain. Dia terlihat berantakan, dengan wajah memar bekas hantaman. “Mereka membom Direktur Ishak! Tembak mereka!”

Hilda jelas semakin tak percaya akan apa yang dia dengar, tetapi dia melihat sendiri barusan personel Situs-79 tanpa ragu menyerangnya. Dia tak membantah perintah Harper sedikitpun, bahkan dalam hati. Dia segera menodongkan senapan runduknya ke arah mereka. Hanya saja, begitu melihat warna kekuningan pudar di ujung rambut Lucy sebelum dia memasuki mobil mereka, Hilda mendapati dirinya tak bisa menarik pelatuknya. Akhirnya dia hanya diam menunduk.

“Kalian, kejar mereka sampai jalur masuk 79!” Harper berkata kepada para penjaga di sekelilingnya, membuat mereka segera bergegas keluar untuk pengejaran. Saat ruang depan akhirnya kembali sunyi, dia melangkah pelan mendekati Hilda.

“Kau membiarkan mereka lari.” Harper berkata menghakiminya.

Tak ada balasan dari Hilda, tetapi dengan dirinya cukup dekat dengannya, Harper baru sadar kalau Hilda tengah terisak.

“Tak… mungkin…” Hilda membalas pelan.

“Semuanya selalu tak mungkin sampai benar-benar terjadi, seperti bahwa situs kita tak mungkin diserang situs kakak sendiri.” Harper membalas dengan tak peduli. “Atau bahwa Lucy tak mungkin merupakan agen Robert hanya karena kita berteman dekat, mengesampingkan itu baru beberapa tahun saja.”

Hilda tak membalas, tetapi alih-alih menunggu balasan, Harper semakin mendekatkan dirinya dan berkata, “Mungkin kau perlu coba untuk percaya padaku mulai sekarang, tak ada salahnya melakukannya, bukan.”

Hilda masih tak menjawab, dia perlahan meletakkan kembali senapan runduknya di punggungnya dan berjalan pelan menjauh dengan pandangan menunduk.

“Kau kuizinkan istirahat di mess kosong situs sampai pikiranmu jernih kembali. Atau ranjang pasien kita kalau mau cepat. Kita punya banyak untuk dibicarakan mengenai perkembangan baru ini.” Harper berseru, meski tak mendapat balasan dari Hilda yang masih melangkah menjauh.

Harper sendiri memutuskan untuk tak mempedulikannya dan menoleh kembali ke area parkir rumah sakit di luar sana. “Aku benar, bukan?” Dia berkata.

“Tolong… biarkan aku berpikir dulu…” Hilda membalas pelan, jelas terdengar keputusasaan dari suaranya.

Harper memutuskan diam sampai dia merasa Hilda cukup jauh. Akhirnya dia berkata kembali, “Yang kumaksud kau.”

Hening tak ada jawaban, seperti seharusnya karena memang tak ada siapa-siapa selain dirinya, tetapi setelah beberapa saat, dia merasa tak sabaran dan berkata, “Hey! Jawab aku!”

Tak ada balasan karena memang tak ada yang membalas. Tetapi Harper bersikeras memanggil sesuatu – atau seseorang – selama beberapa saat. Pada akhirnya, dia berhenti melakukannya dan hanya menatap diam ke depan.

“Ha… Ha ha…”

Tanpa provokasi siapa-siapa, Harper mulai tertawa. Bukanlah tertawa gila, maupun tertawa keji, tetapi jika diibaratkan bak tawa kebebasan.

“Akhirnya! Giliranku!” Harper berkata pada dirinya.

Setelah beberapa saat, akhirnya dia berhenti tertawa. Senyumnya yang hanya setengah wajah masih tetap ada selagi dirinya merapikan jas coklatnya.

“Kau diam saja sekarang…” Harper berkata dengan pelan. “Akan kutangani masalah ‘Alice’ kita.”


Dua orang dengan seragam kantor tengah makan dengan tenang di tempat yang sepertinya merupakan restoran mewah. Dekorasi ruangan jelas bernuansa Tionghoa. Meski tempatnya yang sangat berkelas, tak ada seorang pun selain dua orang yang tengah makan mi di tengah-tengah. Salah satu yang tengah makan merupakan seorang perempuan dengan rambut hitam panjang, sedangkan satunya merupakan pria gendut. Kacamata sang pria ditaruhnya di sampingnya. Suasana restoran hanya berasal dari mereka berdua, karena tiada pelanggan dan pelayan lain berkeliling di sana.

Tetapi itu tak lama sampai seorang pria berseragam serba hitam melangkah masuk mendekati mereka berdua. Bagian bawah wajahnya tertutup sebo hitam. Salah satu tangannya menenteng sesuatu. Begitu sampai di samping meja mereka, dia meletakkan sesuatu berbentung panjang yang terbungkus kain putih di samping si perempuan. Dikarenakan warna putih bersihnya, dapat terlihat dengan mencolok sabuk cokelat tua mencuat di sampingnya, berguna untuk menenteng entah apa yang dibungkus kainnya.

Setelah meletakkannya, pria itu melangkah mundur. Dia berdiri diam di belakang mereka, tak ikut makan. “Waktu kalian sepuluh menit.” Dia berkata. “Kalian seharusnya tak memesan terlalu banyak.”

Sang pria yang tengah makan hanya mengibaskan tangannya dengan gestur mengusir. Pria dengan sebo hitam tadi mengangguk dan segera berbalik untuk beranjak pergi. “Nikmati udara segar sebisa kalian.”

Kedua orang di meja tak menggubris pesan ambigu orang tadi. Mereka tetap fokus makan tanpa henti. Yang pria kemudian menuangkan minuman dari botol di meja ke gelas pasangannya sebelum ke gelasnya sendiri. Mereka mengangkat gelasnya dan bersulang, tertawa lepas akan kebebasan sementara mereka.

Mereka menurunkan gelas mereka dan kembali makan. Di kejauhan nama restoran terpampang di depan mereka.

‘人生’

Kronik Situs-79

Bab 8: Dunia Imaginer(1)
« Nyaris Terlambat untuk ke Pesta | Di Mana Yang Tertawa Sekarang | Ego Tinggi Meminta Tolong Eksekusi »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License