Resepsionis Rumah Sakit Cermin Permata terlihat lenggang malam itu. Dua orang perempuan yang ditugaskan di meja itu tengah santai memainkan ponsel mereka selagi berbicara sesekali. Mereka sudah menghentikan operasi rumah sakit sejak lama karena baru saja mereka mengadakan operasi transfer sebelumnya. Kover ada untuk mengurus Situs, bukan sebaliknya. Jadi untuk malam ini semata, mereka bukanlah rumah sakit, melainkan gudang penyimpanan objek kelas Aman Yayasan.
Tiba-tiba telepon di meja mereka berdering. Staf terdekat menghela nafas seraya meraih gagang teleponnya. Mereka sudah sedari tadi menolak permintaan di telepon tersebut. Itulah tugas mereka sekarang dengan tidak adanya pasien atau pengunjung masuk.
“Ya, halo. Dengan Rumah Sakit Cermin Permata. Ada yang bisa saya bantu?” Perempuan tersebut berkata.
Perempuan itu memiliki ekspekstasi kalau yang menelpon adalah calon pasien atau sebagainya dan sudah siap mengalihkannya ke rumah sakit lain, tetapi dia tidak menduga balasan yang dia terima.
“Selamat malam, Nona cantik.” Terdengar suara pria di ujung telepon, meski entah kenapa sedikit terdistorsi bak kualitas teleponnya buruk, yang jelas tak mungkin.
“…Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?” Perempuan tersebut dengan ragu mengulang pertanyaannya.
“Oh, anda bisa membantu dengan pergi makan malam dengan saya.” Suara pria tersebut berkata.
“Maksud anda apa ya?” Perempuan tersebut segera membalas, kini mulai terganggu dan menganggapnya telepon iseng.
“Ayolah, wajahku ganteng kok, kekayaan jangan ditanya.” Suara tersebut masih menggodanya.
“Maaf, pak. Saya akan melaporkan anda ke polisi jika anda tidak segera meminta maaf atas ketidaksopanan anda.” Perempuan tersebut kini jelas kesal pada penelponnya. Rekan di sampingnya tertarik dan ikut mendengarkan selagi memanggil personel keamanan terdekat. Tidak setiap hari mereka menemui orang nekat yang tidak tahu dirinya tengah menelpon salah satu kover organisasi rahasia berskala internasional.
“Haha, obrolan hukum dan moral sudah jadi santapan tiap hari, nonaku.” Suara tersebut tak terdengar ragu dan terus menggodanya.
“Ini siapa sih?” Rekannya terkekeh mendengarnya.
“Orang-orang memanggilku bos eksekutif, nona-nona.” Suara tersebut tiba-tiba membalasnya, “Tokoh papan atas.”
Perempuan yang memegang telepon hanya menggeleng tak terkesan sedangkan rekannya tadi hanya tertawa. “Atas apaan memangnya?”
Suara tawa balasan muncul di sisi seberang panggilan.
“Atas segalanya.”
Tiba-tiba pintu masuk diserbu sekumpulan orang berpakaian preman. Mereka semua bersenjata benda tajam dan senapan rakitan. Para penjaga berseragam satpam terkejut dan tak sempat bereaksi karena beberapa di antara mereka mulai membuka tembakan. Teriakan mulai terdengar di ruang depan rumah sakit seiring dengan suara tembakan. Beberapa mulai menculik staf dan merampok meja resepsionis, beberapa lagi menembak kamera keamanan dan penjaga lain yang mendekat.
Pintu masuk masih diserbu orang, entah berapa banyak lagi yang tersisa. Telepon tadi terbaring di meja, masih terbuka.
“Sekali lagi,”
Dan suara musik mulai terdengar di meja resepsionis hancur itu.
Puluhan personel keamanan Yayasan segera bergegas menyusuri koridor mereka yang kini diterangi lampu merah alarm dan nyaringnya sirine. Mereka semua berada di sublantai satu, segera menuju lift yang mengarah lantai dasar situs mereka yang merupakan kover.
Begitu berada di depan lift, mereka segera membukanya, tetapi entah kenapa tidak bekerja. Personel terdepan berkali-kali mencoba menekan tombol ke atas, tetapi lift tetap tidak terbuka. Seorang personel keamanan mencoba menerobos ke depan deretan personel lain sampai dia mencapainya.
“Ada apa?” Dia bertanya segera.
“Kau tak lihat? Liftnya tidak mau terbuka!” Personel di depannya membalas.
Personel tadi berpikir sejenak, kemudian dia segera berkata, “Kita ke lift suplai segera!”
Sebelum ada balasan apa-apa, dia segera berlari kembali ke belakang. Sisa personel lain mau tak mau segera mengikutinya dari belakang. Setelah berlari ke sisi seberang lantai dan sampai di area suplai, mereka segera mendekati lift suplai yang ukurannya lebih besar dibandingkan lift yang sebelumnya mereka datangi.
Personel terdepan mencoba memakainya, tetapi setelah beberapa kali upaya, pintu lift tidaklah terbuka juga.
“Seseorang segera kontak lantai bawah, cek apakah lift juga mati di sana.” Personel di depan berkata. Salah satu personel segera menurutinya.
“Prosedur Lockdown belum aktif kan?” Salah satu di antara mereka bertanya. Personel paling depan mengangguk dan mengonfirmasinya. “Belum. Lift seharusnya masih hidup saat ini.”
“Itu artinya mereka yang melakukannya? Tapi kenapa? Apa tujuan mereka bukan untuk ke bawah?” Salah satu personel bertanya heran.
“Sejujurnya aku tak tahu apa yang mereka…” Personel tadi hendak menjawab, tetapi sesuatu terlintas di pikirannya segera. “SCP-022-ID, dia disimpan di mana sekarang?”
“Masih di atas.” Salah satu agen di dekat mereka berkata. “Agen Situs-79 masih di atas juga, kan.”
Personel yang pertama bicara menggeleng, “Kita tidak bisa mengabaikan mereka, Lukman. Mereka ada di situs kita dan kita akan menolongnya.”
“Menolong mereka bagaimana? Kita tidak bisa naik dan mereka tidak bisa turun juga! Tangga darurat perlu otorisasi direktur atau wakilnya!” Personel itu membantah.
Tetapi orang tadi tetap kukuh mencoba membuka sendiri liftnya. Dan sepertinya dia punya kemampuan teknis yang diperlukan untuk membukanya karena setelah berkutat beberapa saat, dia berhasil mendorong manual pintu lift, menunjukkan ketiadaan ruang di sana.
“Ayo!” Orang itu segera memanjat naik seraya mengajak sisa personel di belakangnya ikut.
Salah satu personel segera melangkah maju, tetapi bukannya mengikutinya, dia malah berseru, “Yang benar saja, Harper! Kita tak akan membahayakan diri di atas sana untuk mereka!”
Harper diam selagi menatap ke arah atas ronnga lift. Dia kemudian berkata, “Ya sudah. Aku tetap akan ke atas. Kalian bisa amankan lift ini dan yang di sana, tapi jika ada yang mau, kalian bisa bantu aku ke atas.”
Lalu dia berbalik dan berseru lagi, “Kalian dengar dia, ayo pergi!”
Dan dengan segera kerumunan personel keamanannya di belakangnya segera menjauh pergi. Harper tidaklah menoleh, dia tahu mereka jelas akan pergi. Tanpa memedulikannya dia perlahan memanjat ke atas. Tiba-tiba dia menyadari ada seseorang di bawahnya. Dia menoleh ke bawah dan tersenyum.
“Selalu kau yang tinggal, ya.”
Seorang penjaga ternyata mau mengikutinya naik. “Apa boleh buat, lu bikin kasian mulu.” Dia berkata.
Harper hanya tertawa kecil, mengabaikan sindirannya. “Trims ya, Hilda.”
Tak ada balasan di bawah. Mereka berdua fokus memanjat dan akhirnya sampai di pintu lift lantai dasar. Harper perlahan mencoba membukanya seperti tadi sedangkan Hilda membantu menjaga keseimbangannya di dekatnya.
Dan tak memakan waktu lama, Harper segera menyeret pintu lift agar terbuka sekuat tenaga. Mereka perlahan keluar dari lift kosong itu. Keadaan di luar sepi; alarm situs cuma berbunyi di sublantai mereka.
“Hilda, kembali ke bawah dan bilang ke personel lain kalau lift sudah kubuka.” Harper berkata seraya mengamati sekeliling mereka.
“Heh, lu yakin Lukman mau ikut manjat kayak kita tadi?” Balas Hilda dengan nada pesimis.
Harper hanya menggaruk belakang kepalanya seraya berkata, “Yah… Gak usah kalau begitu.”
Hilda hanya menghela nafas, “Serius, lu emang perlu tegas dikit, kan lu kepala keamanan.”
“Iya… ku usahakan.” Harper membalas, meski dia sendiri terdengar tak yakin.
Mereka menyusuri koridor lantai dasar yang merupakan rumah sakit mereka. Harper melangkah perlahan di depan, diikuti Hilda di belakangnya. Mereka cuma bersenjatakan baton standar personel keamanan. Harper melangkah gugup, tetapi dia tahu dia harus melakukan ini demi menyelamatkan sisa personel Situs-79 yang ada. Hilda, meski sedari tadi membantahnya, menaruh kepercayaan penuh padanya dengan mengikutinya.
Harper mengangkat salah satu tangannya mengisyaratkan mereka untuk berhenti, dia samar-samar mendengar suara di balik salah satu koridor. Dengan perlahan dia mengintip di balik dinding, mendapati ada beberapa orang berpakaian bebas – meski beberapa melapisinya dengan kemeja biru muda polos – menghalangi koridor. Mereka bersenjatakan kunci inggris, kunci pas dan perkakas lain. Semuanya berlumuran darah, jelas berasal dari beberapa orang yang tergeletak di lantai dekat mereka.
Harper perlahan menggenggam erat batonnya. Dia jelas kalah jumlah, tetapi mereka terlihat seperti preman pasar biasa. Dan meskipun itu benar, tidak ada alasan kenapa dia harus memancing perhatian.
Harper perlahan merogoh sakunya. Tidak ada alasan logis, setidaknya. Dia tetap punya alasan moral untuk menghentikan mereka semua. Dan dengan itu dia mengeluarkan uang koin.
“Harper, please jangan.” Hilda mencoba membujuknya, tetapi Harper dengan segera melemparnya dengan jempolnya bak membiarkan keputusan akhir diambil koin itu. Dengan cepat dia menangkapnya tanpa menimbulkan suara sebelum perlahan membuka telapak tangannya, menunjukkan koinnya mendarat di angka 500 rupiah.
“Head.” Harper berkata singkat sebelum bersiap. Hilda hanya menghela nafas selagi menyiapkan batonnya juga. Dengan segera Harper berlari lurus ke arah salah satu pria berparang dan menghantam kepalanya dengan batonnya.
Sebelum penyerang lain sempat bereaksi, Hilda sudah ada di belakangnya dan melakukan hal serupa. Kini keempat orang di koridor tadi mengetahui keberadaan mereka dan segera mengangkat senjata mereka untuk menyerang.
Hilda mencoba menahan serangan salah satu diantara mereka, tetapi begitu berhantaman, dia mendapati dirinya kesulitan menahan serangannya. Sejujurnya dia tahu dirinya tak terlatih untuk pertarungan jarak dekat, terlebih daya tahannya rendah.
Tetapi Harper dengan cepat menghantamkan batonnya ke wajah penyerang tadi dan membuatnya jatuh kesakitan. Dia segera mendorong batonnya lurus menghantam perut salah satu penyerang lain sebelum mengayunkannya ke sisi pinggang lawannya di samping.
Hilda diam, menatapnya dengan kagum. Dia merasa cuma dirinya yang menghargai kemampuan Harper sebagai kepala keamanan. Pada akhirnya dia tersadar dari lamunannya dan segera mengurus penyerang tadi. Dia merogoh rompinya dan mengeluarkan borgol plastik untuk kedua tangannya. Dia segera mengamankan seluruh penyerang yang telah Harper kalahkan.
“Sejajarkan di dinding untuk saat ini, kita harus pergi.” Harper berkata, yang dituruti olehnya.
Setelah selesai mereka kini kembali menyusuri koridor rumah sakit. Mereka melewati beberapa penyerang berpakaian bebas juga, meski beberapa lebih terlihat seperti preman. Selain perkakas, mereka ada yang membawa parang juga. Meski jumlah mereka banyak, semuanya satu persatu dikalahkan Harper yang dibantu rekannya.
“Gimana penjaga sini bisa kalah ama mereka?” Hilda bertanya heran selagi mengikat salah satu penyerang untuk belasan kalinya.
“Jumlah mereka banyak?” Harper mencoba menebak seraya mengambil nafas, jelas dia kelelahan.
“Gak mungkin sih…” Hilda menggeleng tak percaya. Dia tahu dirinya agak lemah, tetapi dia yakin penjaga lantai dasar yang menyamar sebagai satpam seharusnya bisa menangani mereka.
Tiba-tiba Harper menyiapkan batonnya dan berkata, “Ada yang mendekat.”
“Ya jelas, kan lu yang pancing mereka.” Hilda membalas dengan kesal seraya menyiapkan batonnya juga.
Di ujung koridor tepat di samping resepsionis, perlahan berjalan berjalan kumpulan orang. Meski masih jauh, Harper dapat melihat ada yang tak wajar dengan mereka dari cara mereka mendekat. Entah kenapa mereka cukup pelan dalam melangkah, tetap saja semakin dilihat jumlah mereka semakin banyak, mencapai sepuluh orang.
Pakaian mereka lebih aneh lagi. Awalnya Harper tak yakin mereka mengenakan apa, tetapi setelah mereka semakin dekat, baru dia menyadari mereka semua diselimuti kain hitam dengan beberapa di belakang ditempeli pelindung berupa potongan ban. Wajah mereka sepenuhnya tertutup kain hitam itu, hanya menunjukkan rambut hitam mereka semata.
Di deretan paling belakang, Harper bisa melihat seseorang dengan pakaian berbeda; dia mengenakan seragam biru muda meski jelas banyak noda hitam di mana-mana, terutama di lengannya. Entah kenapa di lengannya sepertinya masih menetes. Wajahnya hanya ditutupi kedok las gelap.
“Discharge, satu walker.” Harper bisa mendengarnya bicara. Dia tidak sempat memikirkan maksudnya karena pria itu segera menyalakan pemantik gas di tangannya dan membakar sesuatu di tangannya. Saat itulah Harper sadar kalau yang dia kira merupakan tetesan hitam ternyata adalah semacam tali panjang, dan entah kenapa ia mudah terbakar karena dengan segera ia menjalar sampai ke salah satu orang tertutup kain hitam di paling depan.
Orang itu terbakar, tetapi dia tetap perlahan melangkah ke depan. Baik Harper maupun Hilda tidaklah tahu harus apa menghadapinya. Harper memutuskan untuk mengambil inisiatif dan mulai menyerang kepala orang itu. Dalam sekali ayunan baton, serangannya kena telak, tetapi orang di depannya tak bereaksi sedikitpun dan kini merenggangkan tangannya untuk menangkapnya.
Harper mencoba berkali-kali menyerangnya selagi sesekali menghindar, tetapi dia terus maju. Pada titik ini mereka yakin orang-orang ini anomalus. Harper melirik ke arah pria paling belakang yang mengenakan kedok las. Dia mencoba mendekatinya, tetapi salah satu orang tertutup kain itu berhasil meraihnya. Harper mencoba melepaskan cengkramannya, tetapi tidak satu jari pun terangkat. Saat itulah dia perlahan menyadari mereka semua berbau bensin.
Dia mengamati lebih dekat dan mendapati tali hitam panjang serupa yang terhubung ke kepala orang itu. Dia berharap dirinya membawa benda tajam untuk mencoba memotognnya. “Hilda, tolong ambilkan pisau cepat!”
“Ya,” Balasnya cepat. Dia ternyata memilikinya di rompinya dan dengan segera dia melemparkannya ke Harper. Harper langsung mencoba memotongnya, tetapi ternyata tali itu lebih kuat dari yang dia duga meski ukuran diameternya yang kecil.
“Discharge, satu walker.” Pria paling belakang berkata lagi. Dengan segera dia menyalakan pembakar tadi dan tali yang terhubung ke orang yang memegangi Harper terbakar.
“Harper, buruan pergi!” Hilda berteriak dengan khawatir di belakangnya.
Harper jelas harus meloloskan dirinya segera. Dengan cepat dia menikam tangan orang yang mencengkramnya, tetapi tidak ada yang berubah, bahkan tidak ada darah. Entah kenapa dirinya merasa tikamannya tadi masuk terlalu mudah, jadi dia segera mencoba menyayat dan memotong pergelangan orang itu.
Api sudah sampai dan menjalar sepenuhnya di orang itu termasuk tangannya yang tengah menggenggam Harper. Lengan seragam penjaga Harper mulai terbakar, tetapi dia tidak menyerah dan tak berselang lama, dia berhasil memotong putus pergelangan tangannya. Harper segera mundur sejauh yang dia bisa, kembali ke samping Hilda.
“Ada yang salah dengan mereka…” Harper berkata pelan sambil memadamkan sisa api di lengan seragamnya.
“…Benarkah, ku kira melihat orang terbakar hidup-hidup dan masih tetap berdiri itu normal aja.” Hilda membalas dengan kesal akan hal dasar yang dikatakannya selagi mereka berdua mengamati kini ada dua orang yang terbakar tengah berjalan pelan ke arah mereka.
“Tidak, bukan.” Harper menggeleng, mengabaikan sindiriannya. “Saat kupotong tangannya tadi, seakan tidak ada daging di sana, seperti memotong kain saja.”
“Kita bisa mengeceknya nanti jika kita bisa menghentikan mereka dulu.” Hilda berkata selagi mereka perlahan mundur juga.
“Aku punya ide, tetapi kau harus cepat.” Harper tiba-tiba berkata. Hilda tertarik mendengarnya dan segera memintanya mengatakannya.
Harper menunjuk ke belakang dan melanjutkan, “Aku perlu kau mengambil senapan runduk di gudang senjata sublantai. Kita harus menghentikan orang paling belakang itu. Dia jelas yang mengendalikan mereka semua.”
“Tunggu, kita masih memiliki senjata pelatihan itu?” Hilda membalas dengan heran.
“Senjata kita. Kita punya gedung lima lantai, menurutmu kenapa aku mengadakan pelatihan senapan runduk.” Harper menjawab segera. “Sekarang cepat pergi, aku akan menahan mereka.”
Sejujurnya Hilda kagum akan pemikirannya ternyata sejauh itu. Dengan segera dia mengiyakan sebelum melesat pergi. Harper melirik ke belakang selagi tersenyum lega. Jika ada satu hal yang dia tahu darinya, itu adalah bahwa Hilda merupakan pelari yang cepat karena tubuh kecilnya.
Dia sendiri memutuskan untuk mengulur waktu dengan mencoba menghentikan kedua orang terbakar di depannya dengan batonnya. Dia tahu itu tidaklah berpengaruh apa-apa, tetapi dia menyadari dia bisa mendorong mereka mundur perlahan menggunakan hantaman cepat ujung batonnya.
Itu sampai salah satu diantara orang terbakar itu mampu meraih batonnya Harper dan menariknya. Harper mencoba sekuat tenaga mempertahankannya, tetapi orang kedua segera memegangnya juga dan itu cukup untuk membuat Harper pasrah dan melepaskannya.
Dia melangkah perlahan ke belakang. Dia berpikir untuk mencoba menendang mereka, tetapi dia tak yakin untuk mengambil risiko itu. Dia menoleh ke belakang, mengetahui tidaklah mungkin Hilda bisa datang lebih cepat mengingat jarak mereka ke arah lift tadi, terlebih mengetahui lift mati dan dia harus berlari ke sisi seberang sublantai.
Dia mengamati ke bawah, ke arah lengannya. Saat itulah dia menyadari kalau seragam penjaga Yayasan seharusnya bisa menahan api mereka sebelum dia melepaskan mereka. Harper perlahan melepas penahan rompi di belakangnya agar mudah dilepaskan nanti.
Dia mengambil nafas yang dalam sebelum berlari dengan berteriak ke arah salah satu di antara orang itu dan menubruknya. Dia tidaklah berhasil menjatuhkannya, tetapi Harper jelas mendorongnya beberapa puluh sentimeter ke belakang. Sebelum orang itu bereaksi, Harper segera melepaskan rompinya dan menjauh.
Kini dia menurunkan ritsleting seragam penjaga putihnya, menunjukkan kemeja putihnya di dalamnya. Dia melirik ke orang kedua yang masih terlalu dekat baginya, berniat melakukan hal yang sama kepadanya.
Dia mengambil nafas dan ancang-ancang, sebelum berteriak kembali seraya menubruknya mundur menggunakan sisi kanan badannya. Sepertinya orang itu berhasil mencengkram bagian belakang seragam keamanannya, tetapi Harper dengan cepat melepaskan seragamnya seraya dia mundur.
Harper tersenyum lega mengamati hasil usahanya meski nyaris tak seberapa. Rompi dan seragam penjaganya perlahan diinjak kedua orang terbakar itu selagi mereka berjalan mendekat. Harper perlahan mundur mengikuti pergerakan mereka. Setelah beberapa menit berjalan, dia menoleh ke belakang, mendapati sebentar lagi dia mencapai tempat dia dan Hilda mengikat para penyerang tadi.
Dia tertegun memikirkan bahwa mereka akan diambil kembali oleh para penyerang ini jika dia sampai mencapai mereka. Belum lagi dia sepertinya sudah sangat jauh dari rencana awal mereka untuk menyelamatkan agen Situs-79.
Dia tertawa pelan dan pasrah. Lukman dan para penjaga di bawahnya selalu berkata bahwa dia idealis dan menolak membantunya karena itu, tetapi dia selalu bertanya-tanya apa salahnya dengan itu. Baru kini dia menyadari ketidakberdayaannyalah yang salah. Gabungan keduanya adalah sebuah kontradiksi fatal yang hanya akan menghabisi keinginannya dan menjadikan prediksi terburuk realis menjadi kenyataan.
Harper merogoh kembali koin di sakunya dengan tangan kirinya. Dia lalu meraih pisau pemberian Hilda tadi dengan tangan kanannya. Dia berniat menerobos langsung kumpulan orang-orang di depannya. Harper menatap ke koin 500-an di tangannya, dia cuma butuh dorongan untuk melakukannya.
Sekali ini saja, doakan aku Lucy.
Dan dengan itu dia melempar koinnya ke udara. Dengan cepat dia menangkapnya dan melihat hasil akhirnya. 500-an.
Harper menatap hasilnya selama beberapa saat. Dua orang terbakar tadi kini berada di depannya, diikuti sekumpulan orang serupa yang belum dibakar. Harper mengantongi koinnya kembali dan kini menatap mereka dengan tatapan fokus. Dia mengambil nafas dalam dan bersiap menerobos mereka.
Dan seketika dia berteriak. Dia melalui dua orang terbakar di depannya dan langsung maju lurus ke arah orang di depannya. Dia berhasil melalui barisan orang yang pertama, tetapi sayangnya seseorang di antara mereka berhasil menyeret baju Harper. Ini diikuti cengkraman tangan yang familiar baginya.
Dari jarak sedekat ini, Harper kini bisa melihat seluruh tali hitam tadi sebenarnya terhubung ke pergelangan tangan pria di belakang mereka yang awalnya dia kira sebagai noda hitam. Tali-tali itu lebih terlihat seperti membungkus lengannya.
Tetapi sayangnya cuma itu yang dia bisa dapat. Harper tahu ini akhirnya sekarang. Jika saja ada beberapa penjaga bersamanya yang menjadi distraksi, mungkin dia bisa meraihnya.
Harper terkekeh, dia tahu meskipun itu terjadi, dirinya tak akan membahayakan satu pun bawahannya untuk ini.
“Discharge,” Pria di depannya berkata pelan, entah ke siapa dia bicara. “Satu-“
Tetapi sebelum dia selesai bicara, sebuah tembakan melesat langsung mengenai kedok lasnya, menimbulkan percikan api karenanya.
Harper menoleh ke samping dengan senang. Hilda berhasil menembak ke arah orang itu menggunakan senapan runduk yang dia bawa.
“Harper,” Hilda berteriak di kejauhan. Entah kenapa nadanya terdengar tak senang. “Ku kira lu beli senapan runduk beneran! Ini apaan woy!”
Yang dipegangnya merupakan senapan runduk sekali-tembak berwarna cokelat yang dilengkapi teropong. “Apa maksudmu? Itu yang kau pakai waktu latihan, kan?” Harper bertanya bingung.
Hilda menghela nafas seraya berkata, “Aku mengharapkan semi-otomatis, tapi sudahlah.”
Dia lalu mengisi peluru di senapannya dan segera membidik kembali. Kini tembakannya tepat di kaca kedok las pria itu, menumbangkannya seketika. Dan seakan mengiringinya, kumpulan orang di sekeliling mereka segera jatuh juga, termasuk kedua orang yang terbakar tadi. Harper mampu melepaskan tangannya dari pegangan orang tadi.
“Apa kau memang harus membunuhnya?” Harper berkata seraya mengamati pria yang tergeletak di lantai. Dibandingkan orang-orang di sekeliling mereka, dia mengeluarkan darah layaknya manusia pada umumnya, mulai menggenang di sekelilingnya.
“Kau ingin komplain sekarang?” Hilda membalas tak peduli. Dia tahu sejak dulu Harper tak akan tega melakukannya kecuali terpaksa. Dia memutuskan mengecek salah satu sosok yang tergeletak dan tak terbakar di depannya. Dia meraba kain yang menyelimutinya dan menariknya untuk melihat lebih dekat, sampai dia seketika menyadari seharusnya manusia tidak seringan ini untuk ditarik.
“Apa yang…” Hanya itu yang Hilda katakan seraya membuka bungkusan kain berbau bensin yang menyelimutinya. Tangan orang ini jelas tak memiliki daging, bahkan tulang; hanya ada kulit semata. Hilda segera membuka wajah orang itu yang juga tertutup kain. Dia mendapati tdak ada apa-apa di dalamnya; tak ada mata maupun gigi, hanya kulit kosong semata.
Dia perlahan berdiri seraya memproses apa yang dia lihat. Dia melirik ke arah Harper yang sepertinya juga menarik kesimpulan serupa seraya dia berdiri. Di bawahnya adalah penyerang dengan kedok las tadi. Harper sudah melepaskan pelindung wajahnya, menunjukkan wajahnya yang tertembak. Hilda memutuskan untuk mendekatinya sambil bertanya, “Kira-kira kita diserang siapa sih…”
Harper hanya menggeleng tak tahu. “Yang jelas kita harus menghentikan mereka. Tebakan orang-orang Situs-79 benar mengenai SCP-022-ID terlalu berisiko disimpan di sana saat ini. Sepertinya siapa pun yang mengetahui kemampuan destruktif layangan itu berhasil melacaknya ke sini. Kita harus ke lokasi SCP-022-ID diletakan segera.”
“Kau benar-benar percaya layangan itu masih ada?” Hilda berkata, kali ini dengan nada pasrah.
Tetapi Harper mengangguk dengan yakin. “Ayo!” Dia berkata.
Dan mereka segera melalui kumpulan sosok tergeletak di lantai. Mereka akhirnya sampai di ruang utama yang luas, menghubungkan seluruh ruangan lain di rumah sakit. Di samping mereka adalah ruang resepsionis. Harper memutuskan untuk tak mengambil risiko mengecek ke sana dan langsung mengamati peti hitam besar yang para personel taruh di tengah ruangan.
Selagi mereka berjalan, Harper berkata kepada Hilda, “Kau mencium bau bensin ini, kan?”
“Ya.” Hilda mengangguk. Selain baunya yang pekat, seluruh ruangan terasa sedikit licin juga. Tak hanya lantai, mereka bisa melihat dinding pun ikut basah karenanya.
Di depan mereka, peti penyimpanan barang jelas terbuka. Hilda tahu itu, tetapi dia tetap mengikuti Harper yang tetap ingin mengeceknya terlebih dahulu. Baru saat dia mengamati isiannya dia melihat objek yang mereka cari sudah tidak ada.
“Kita harus menginformasikan Situs-79 segera!” Harper berkata dengan khawatir setelah mengeceknya.
“Menurutku kita harus ngelakuin sesuatu dengan situs kita dulu, Har.” Hilda membalas seraya mengamati sekeliling. “Ini tinggal bakar bakal kelar situs kita.”
Harper mengangguk seraya berkata, “Ah, ya. Maaf, kau benar.” Hilda sendiri hanya menggeleng mendengarnya.
Tetapi dengan segera dia melanjutkan, “Hilda, aku perlu kau menyalakan sprinkler kalau begitu. Kau tahu tempatnya, kan?”
“Tentu, serahkan padaku.” Hilda mengiyakan. Dengan itu dia segera berjalan cepat keluar dari ruang utama. Harper sendiri mengamati kembali peti tadi.
Itulah kenapa dia tidak melihat ketika begitu Hilda keluar dari ruangan, sebuah pisau taktis langsung menikam wajahnya, mengenai pipi kirinya dan tembus ke kanannya.
“Ah-“
Sebelum Hilda sempat menyadari apa yang terjadi, pisau tadi langsung menebas keluar mulutnya. Ini diikuti tendangan tepat ke perutnya yang melemparkannya kembali ke ruang utama.
“Apa yang-“
Harper tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena di saat yang bersamaan, muncul sekelebat sosok gelap langsung berlari ke arahnya dan menjatuhkannya segera dengan kaitan kaki. Harper jatuh seketika dengan separuh wajahnya menghantam lantai yang basah akan bensin.
Perlahan beberapa orang muncul di dari arah ruang resepsionis. Harper sendiri mencoba berdiri, tetapi punggungnya diinjak penyerangnya tadi. Tetap saja, dia bisa melihat penyerang kedua yang tadi menyerang Hilda.
Dan dia tidak percaya akan apa yang dia lihat.
“…Ngh, …Kenapa…” Merupakan kalimat pertama yang dia ucapkan saat melihat seorang berseragam agen lapangan Situs-79 berjalan ke arahnya selagi membersihkan pisaunya, membiarkan Hilda menahan sakit di lantai seraya memegangi wajahnya.
“No hard feelin’, partn’r” Dia berkata begitu dia cukup dekat dengan Harper, membuatnya dapat melihat Balaclava yang dikenakannya bermotif tengkorak.
Harper mencoba melihat ke atas dan mendapati bahwa memang agen lapangan Situs-79 juga yang tengah menahannya agar tak berdiri. Yang ini memakai topi gelap.
Akhirnya dia melihat kumpulan orang yang datang. Sebagian besar mengenakan seragam bebas atau biru muda penuh noda hitam. Hanya ada tiga orang yang mencolok baginya diantara mereka.
Seorang perempuan berjaket kulit yang menenteng semacam gergaji daging raksaksa, seseorang lagi juga mengenakan jaket kulit, tetapi ia melapisi gaun biru yang dia kenakan, dan satu lagi merupakan seorang pria yang sangat dia kenal.
“Pak Robert?”
Robert mengenakan kemeja biru gelap tanpa jas lab khas Yayasan. Dia berjalan mendekati Harper seraya berkata, “Aku sebenarnya tidak mengira ada yang mau mengecek ke atas mengingat lift dimatikan. Aku baru ingat betapa persisten dirimu, Harper.”
Dia melirik ke arah Hilda dengan tatapan terkesan, “Terlebih mengetahui ada yang mau mengikutimu naik. Kau sedikit terlihat sebagai kepala keamanan sekarang.”
Harper berusaha berdiri meski gagal, tetap saja dia bertanya, “Kenapa anda bersama mereka, Pak?!”
Robert hanya terkekeh seakan itu tak perlu dijawab. Meski begitu dia tetap menunduk dan berkata, “Bisa dibilang sudah waktunya aku pindah tugas lagi. Dan sudah kebiasaanku untuk membersihkan situs terakhir tempatku bertugas.”
“Anda… anda agen ganda?!” Harper bertanya dengan ekspresi tak percaya.
Kali ini Robert hanya tertawa seraya perlahan berdiri dan melangkah menjauh. “Aku sangat suka kepolosanmu, kau tahu. Meskipun aku sangat ingin merekrutmu, sayangnya kau terlalu banyak bertanya. Coba saja kau bisa melakukan sesuatu mengenai itu.”
“Sifatnya yang banyak bertanya itu mungkin berasal dari trauma masa kecilnya.”
Salah satu diantara perempuan itu berkata. Robert terlihat berbalik dan membalas, “Ho… Kau bisa menebaknya?”
Awalnya Harper cuma fokus pada Robert yang berdiri di depan mereka, tetapi perempuan yang memakai gaun biru perlahan mendekati mereka. Dia bisa melihat lebih jelas kalau bagian bawah gaun dengan pita putih dipinggang yang dikenakannya rusak, sedikit menunjukkan bahwa dia juga mengenakan celana jeans biru panjang di dalam. Hal baru yang Harper sadari adalah dia ternyata berambut pirang panjang.
Lucy?
Harper sekilas menebak sebelum menyadari selain gaya rambutnya sedikit berbeda dari orang yang dikenalnya, rambutnya tertutup topi tinggi berwarna hitam dengan pita putih melingkari bawahnya. Pengelihatan Harper yang tajam dapat melihat sebuah kartu terselip di pitanya, membuat Harper hendak tertawa saat menyadarinya jika saja ini hanya candaan biasa semata.
Dia akhirnya sampai di depan Harper dan perlahan jongkok di depannya. Harper perlahan ingat siapa orang yang tengah tersenyum merendahkan di depannya.
“Kau… Peneliti Junior Allison, kan? Allison Ratchet.”
“Aku terkejut kau masih ingat, Tuan.” Perempuan itu berkata senang, tidak dengan nada ramah kepadanya. “Panggil aku Alice sebagai singkatan.”
“Kau sudah tak waras?! Apa yang kau lakukan dengan tiba-tiba hilang berbulan-bulan dan kembali bersama orang-orang ini?!” Harper bertanya, kini mulai marah.
Alice cuma tertawa, “Bukan urusanmu, Tuan. Urusanku adalah dengan Yayasan, Situs-79”
Harper menatapnya heran. “Apa… urusanmu dengan Situs-79?”
Tiba-tiba Alice menginjak kepala Harper sebagai jawaban. “Kenapa kita tidak melakukan sesuatu dengan afeksimu dengan pertanyaan?”
Harper tidak tahu apa yang terjadi selagi dirinya menahan sakit di kepalanya, tetapi dia mendengar sesuatu yang berisik di atasnya. Begitu Alice melepaskan injakannya, Harper dengan segera menatap ke arahnya. Dia kini mengenakan semacam sarung tangan yang dilapisi perangkat dengan setidaknya empat buah alat suntik di tiap jarinya. Lengan jaketnya yang agak panjang sepertinya dirobeknya untuk itu.
“Ini masih rancangan awal, yang penting ini praktikal.” Dia berkata dengan bangga.
“Apa yang-“ Belum sempat Harper menyelesaikan perkataannya, agen di atasnya segera menekan kepala Harper ke kembali lantai, merendamnya dalam genangan bensin sekali lagi.
Alice menunduk dan perlahan menarik belakang kerah kemejanya, membiarkan lehernya terbuka. “Aku mempelajari tiap personel situs ini, termasuk dirimu tak kulewati.” Alice berkata. “Kudengar masa kecilmu buruk sekali, apa itu alasanmu berakhir di sini?”
“Apa…” Harper mencoba bicara meski separuh wajahnya terendam. “Itu sudah lama sekali. Aku sudah melupakan perbuatan ayahku dulu. Aku sudah terapi dan segalanya. Aku sudah bebas darinya.”
“Tidak, kau tidak.” Alice menggeleng kasihan, tersenyum kepadanya. “Itulah penyebab kau selalu ragu apakah kau membuat keputusan tepat, alasan kenapa kau harus bertanya setiap saat.”
“Menarik…” Robert sepertinya tertarik dan perlahan mendekat kembali. “Kau yakin akan kesimpulanmu itu?”
“Lebih dari itu!” Alice berseru dengan antusian. “Aku bisa memperbaiki itu!”
Setelah mengatakan itu tiba-tiba saja dia menusukkan deretan jarum suntik yang terpasang di sarung tangan khususnya itu ke leher Harper. Harper mengerang sekilas saat itu terjadi, tetapi kemudian dia diam selama beberapa saat dengan tatapan kosong.
Dan tiba-tiba saja dia berteriak nyaring dan menggeliat hebat di lantai. Agen yang sedari tadi menginjaknya sedikit terkejut akan hal itu meski dia tetap berhasil mempertahankan posisinya.
“Ahha…”
Baik Robert dan Alice menoleh ke belakang, Hilda yang tadinya masih terbaring perlahan berdiri dibantu satu tangannya sementara tangan lainnya memegangi mulutnya, darah masih mengalir dari sana.
Mereka memandanginya mencoba berdiri sebelum Robert berbalik dan berkata, “Jadi menurutku sepertinya efeknya kurang lebih sama saja dengan punya kami dulu.”
Alice juga tak memedulikannya dan segera mengoreksi, “Tunggu, jangan terburu-buru. Kita masih punya waktu untuk itu! Bentuk injeksi hanyalah tambahan percobaanku, tetapi mimpi buruk di kepala korban seharusnya lebih koheren dari punyamu.”
Hilda perlahan berdiri dengan kedua kakinya dan berteriak nyaring, “Ahha hang haian… hahuhan hahaya!” Dia tak memedulikan rasa sakit di wajahnya dan memilih melampiaskannya dengan ekspresi marahnya.
Dia tidak lagi menunggu jawaban mereka, dia segera berlari dan mencoba meraih senapannya di lantai di depannya. Tetapi begitu dia menunduk untuk meraihnya, dia mendapat hantaman dengkul kaki dari agen yang tadi menikam mulutnya.
“Bless ya heart girl, Tapi tetap menunduk demi kebaikanmu.” Dia berkata. Hilda hanya dapat mengerang kesakitan di lantai kembali.
Robert sekali lagi berbalik dan berkata, “Seperti yang kau lihat, kita tidak bisa lama-lama di sini.”
“Tidak bisakah kita menangkap orang di jalan pulang kalau begitu?” Alice memohon kepadanya.
Robert hanya terkekeh, “Tidak dalam Langkah. Maaf.”
Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sekotak rokok. Dia mengambil satu dan menaruhnya di mulutnya.
“Hey,” Dia berbalik ke kumpulan orang yang sedari tadi di belakang mereka – yang tadi mengawal mereka – spesifiknya kepada perempuan yang menenteng gergaji raksaksa. “Namamu Arma, bukan? Bawa Alice dan sisa personel kita kembali ke mobil.”
“Baik, Pak!” Perempuan itu berkata dengan gugup sebelum menarik tangan Alice dan praktisnya menyeretnya menjauh. Dia sedikit meronta agar dapat melihat sampai akhir.
Robert sendiri meraih pematiknya dan menyalakan rokoknya. “Semua selalu sesuai Langkah… Bukankah Sang Engineer hebat?” Dia berkata kepada Harper yang kini berhenti teriak. Sekarang dia hanya bernafas cepat dengan mata terbelalak.
Robert tak mengharapkan jawaban. Dia hanya melangkah pergi setelah mengatakannya. Tepat sebelum di pintu keluar, dia melempar bekas rokoknya yang masih menyala ke lantai tergenang bensin.
Seluruh ruangan dengan cepat menyala terang akan kobaran api yang menyelimuti setiap permukaan. Harper yang terbaring di lantai jelas tak mampu berdiri untuk menghindar, menyebabkan sisi kiri wajahnya yang tergenang mulai terbakar.
“Hahher!” Hilda berteriak seraya mencoba berdiri kembali, mengabaikan seluruh rasa sakit di mulutnya dan dengan segera menyeretnya keluar dengan kedua tangannya. Sedikit demi sedikit, dia akhirnya berhasil menyeretnya ke koridor kembali.
Hilda tiba-tiba merasakan percikan air di punggungnya. Dengan cepat dia menoleh dan mendapati di antara deretan sprinkler yang jelas dirusak mereka, sepertinya ada satu yang terlewat dan kini menghujani mereka.
Hilda segera melepas rompi dan seragam keamanannya sebelum menaruhnya di wajah Harper untuk memadamkan apinya. Dia jelas sudah lama tak sadarkan diri, Hilda mengamati dari dadanya dan bersyukur bahwa setidaknya Harper masih bernafas.
Dan dia merasa sangat lega sampai tanpa sadar dia terbaring pingsan di sampingnya.
Suasana gelap menyelimuti ruangan yang hanya diterangi cahaya kecil beragam peralatan elektronik yang menyala di dalam. Tidak dapat disebut bahwa ruangan dalam keadaan hening jika dalam ketiadaan suara dominan masih terdapat suara desis dan dengung kecil mengisinya. Itu dan suara nafas pelan penghuninya.
“…Apa yang terjadi…”
Sebuah mata perlahan terbuka, meski kegelapan kamar tidaklah memberikan perubahan pandangan secara signifikan.
Tetap saja dia mengamati sekelilingnya. Ruangan mungkin gelap, tetapi dia perlahan sadar dan mulai heran kenapa dia cuma bisa melihat dari satu sisi saja. Dia tidaklah terlalu fokus akan hal itu, dia akhirnya mengenali dia tengah berada di salah satu ruang pasien di lantai dasar kover mereka.
Perlahan-lahan dia mencoba mengingat bagaimana dia bisa terbaring di sini.
“…!”
Dia mulai ingat, dan dia tidaklah menginginkannya lagi. Sayangnya sudah terlambat. Awalnya hal pertama yang dia ingat adalah awal insiden penyerangan situs mereka, mengenai pengkhianatan personel Yayasan yang disaksikannya, dan baru kemudian dia teringat masa kecilnya.
Dan dia ingin berhenti di situ, tetapi entah apa pun yang diinjeksi perempuan gila itu membuatnya melihat – bukan mengingat lagi, dia merasa bak dia melihat - masa lalunya dengan jelas. Dia bahkan dapat merasakan lemparan gelas ayahnya saat makan malam bak pesta teh gila. Dipikirnya lagi dia tak ingat pernah dilempari barang, biasanya ikat pinggang, tapi apa pedulinya jika dia tidak ingin mengingat keduanya, atau apa pun berkaitan dengannya.
Mungkin aku harus ambil amnestik nanti…
Sejujurnya, dia tidak yakin kenapa dia harus melupakan itu. Setelah menghadapi masa lalunya lagi sekarang, kenapa dia harus lari darinya. Dia bisa melawannya. Dia pernah melawannya dan menang. Dia pernah dominan.
Kau pernah dominan dulu, apa yang berubah sekarang?
Dia tidak bisa menjawab itu. Yang dia tahu adalah itu tidaklah baik. Dia tak pernah punya teman di panti karena itu, tidak, tepatnya dia punya bawahan karena itu. Mereka yang tunduk karena kekerasannya. Seharusnya dia tidak boleh mengingat hal itu. Itu adalah masa lalu yang harus dilupakan, dikubur dalam-dalam. Setidaknya itu yang mereka katakan.
Saat terapi panjangnya selesai, dia rasa dia mulai bisa mendengarkan orang lain tanpa mereka diam ketakutan atau di lantai berlumuran darah. Dia terus hidup seperti itu, masuk kepolisian karena itu pilihan baik baginya. Membuatnya tanpa sadar masuk daftar rekrutan Yayasan karena keahliannya. Membuatnya berhasil bekerja di Situs-84. Membuatnya bertemu rekan teman-temannya…
…yang dia gagal lindungi.
Membuatnya mengepalkan tangannya, memikirkan kegagalannya.
Bukan… Kau berusaha sebaik yang kau bisa.
Dia dan Hilda sudah berhasil sampai di tempat mereka menyimpan SCP-022-ID, mereka sudah mengalahkan tiap penyerang yang menghadang mereka,
“Hanya untuk para pengkhianat itu untuk merampasnya…”
Pengkhianat Yayasan yang dia susah payah dirinya upayakan naik ke atas untuk tolong hanya agar mereka dapat menyayat Hilda. Personel yang lama dia pedulikan sebagai sesama rekan dan lindungi sebagai tugasnya hanya untuk mereka berdiri dan tertawa di depannya.
“Pengkhianat… semuanya… Bahkan personel keamananku semuanya…”
Harper menggeleng. Hilda bersamanya sampai akhir, terluka untuknya. Dia tahu tidak semuanya. Tetapi apalah satu dari 99% melainkan hama nan hina semata bagi sisanya. Tidak, dengan prespektif berbeda, dialah penyintas yang beruntung hidup dibandingkan sisa jenisnya. Tidak, tidak, bukan berarti mereka semua pantas mendapatkannya, mereka hanya tak mau mendengarkannya saat dia memerlukan mereka semua ke atas. Kenapa dia harus bertanya?
Harper tertegun.
“Kenapa aku harus bertanya? Aku ini apa?”
Hening menunggu jawaban.
“Aku kepala keamanan situs keparat ini!”
Diiringi suara keras perangkat elektronik yang tak lagi berada di meja, melainkan dijatuhkannya di lantai, dia melirik ke samping, masih tak memedulikan bahwa penglihatannya cuma berasal dari satu mata semata. Mengamati lengannya yang ditutup perban yang praktisnya menyelimutinya, sama seperti separuh wajahnya.
“Aku mengambil luka ini untuk mereka… kenapa…”
“…karena ini tugasku…”
“Lalu kenapa mereka tidak melakukan tugas mereka dan mematuhiku!”
Diiringi hantaman ke meja. Dia mengabaikan rasa sakitnya sedari tadi, mungkin mereka menginjeksi anestetik sebelumnya. Yang jelas adalah meja perlahan berdarah, berasal dari lengannya yang kini dibalut perban kemerahan.
“…Ini salahmu…”
Dia mengamati lengannya. “Kau yang ingin berdarah bagi mereka. Selama ini selalu kau yang ingin menuruti mereka, tidaklah pernah sebaliknya. Apa didikan ayahmu benar-benar kau resapi?”
Tidak ada balasan, karena Harper memang tak memiliki jawaban untuk pertanyaannya sendiri. “…Mereka tak ingin membahayakan diri mereka sama sepertinya, tetapi tetap harus ada yang melakukannya. Bukankah itu hal yang benar?”
“Lihat apa yang terjadi padamu dan Hilda karenanya.”
Harper diam kembali, merenungkan hal itu.
Tiba-tiba pintu gelap ruangan dipenuhi garis cahaya dari pintu yang dibuka. Seorang personel yang mengenakan jas lab melangkah masuk. Bukan dokter yang mereka pekerjakan untuk kover di atas, Harper jelas mengenalinya sebagai personel Yayasan.
“Personel kover tewas semua?” Harper bertanya tiba-tiba.
Personel yang baru masuk itu jelas terkejut seraya membalas, “Harper, kau sudah-“
“Jawab pertanyaanku!” Dia memotong dengan tak sabar.
“Maaf, kau bertanya apa tadi?” Personel itu bertanya dengan ekspresi bingung, jelas masih tak siap akan pertanyaannya.
Harper hanya menatapnya dengan satu matanya selama beberapa saat. Akhirnya dia berkata, “Maafkan aku. Seperti yang kau lihat, suaraku agak serak. Mungkin kau mau mendekat ke sini supaya suaraku lebih jelas.” Dia melambai ke arahnya sebagai tambahan.
Personel tersebut segera melangkah ke samping ranjangnya. Tanpa dia duga, Harper tiba-tiba mencengkram bajunya dan menyeretnya sampai mendekati kepalanya yang terbaring di ranjang. “Pertama, kau bisa mulai memanggilku ‘Pak’ sebagai bentuk kesopanan, tidak?”
“A- Apa yang kau lakukan!?” Dia hanya dapat berseru panik.
“Disipliner, dan akan lebih parah dari ini jika kau mau mengetesnya.” Harper berkata sebelum mendorongnya. “Sekarang, status personel kover bagaimana sampai kita memakai personel sendiri di atas?”
“M- Mereka menembaki personel seluruh lantai! Untungnya yang jadi korban cuma staf shift malam.”
“Beruntung? Kau sebut itu beruntung?” Harper bertanya dengan marah. “Itu hampir tiga puluh orang termasuk beberapa dokter dan perawat kita! Dan bisa lebih banyak jika saja aku tidak meminta direktur memindah pasien ke rumah sakit lain sore tadi juga.”
“Aku tidak bermaksud…”
“Sudahlah, tolong bantu aku berdiri.” Harper segera menyudahinya. “Aku perlu jasku.”
“Mereka tak berguna…”
Seorang personel berkata seraya menunduk dan mulai menggeleng. Di depannya merupakan seorang pria berpakaian kaus dan jeans, berdarah di mukanya terutama dari mulutnya. Dia hanya menunduk di kursi yang mengikat tangan dan kakinya. Tangan kanannya yang diikat ke pegangan kursi disambungkan dengan kabel ke perangkat pendeteksi kebohongan mereka.
“Ini yang terakhir masalahnya, Lukman.” Salah satu personel di belakang tahanan mereka berkata.
“Ya mau gimana, jelas tidak mungkin dapat informasi lengkap dari sebelas orang preman saja.” Lukman berkata pasrah. “Kita akan serahkan ini ke situs administratif nanti. Sekarang kita cukup nunggu bantuan personel yang kita minta.”
Meski mengatakan itu, dia tahu menunggu di sini artinya mencapai berhari-hari. Prioritas bantuan bagi mereka sangat rendah karena selain situs mereka cuma gudang penyimpanan yang diglorifikasi, yang diserang adalah kover mereka, bukan situsnya. Bantuan yang mereka tunggu hanyalah biaya reparasi dan beberapa dokter malang yang akan ditugaskan sebagai personel baru untuk kovernya nantinya.
Mereka samar mendengar suara langkah kaki mendekat, tetapi Lukman mengabaikannya dan segera mengurus peralatan mereka di meja. Tetapi kemudian pintu terbuka dan baru mereka menoleh.
“Status.”
Para personel tertegun melihat sosok di depan mereka. Harper melangkah masuk dengan membawa seorang tahanan mereka yang tangannya terikat. Separuh wajahnya dibalut perban kemerahan, hanya menunjukkan matanya yang sepertinya kehilangan kulit yang mengelilinginya. Diperhatikan lagi dan terlihatlah bahwa itu termasuk separuh wajahnya. Dengan suara serak dia mengatakan itu seraya menatap tajam mereka dari sisi wajahnya yang tak terluka.
“By the Lord, Harper…” Lukman berkata pelan.
Meskipun kondisinya, dia tak dibantu siapa-siapa dalam berdiri. Dia bahkan mengenakan kemejanya yang kini bernoda merah gelap, dilapisi jas cokelatnya. Dengan tegas dia berkata, “Status kabar terkini, Lukman. Apa yang kalian dapat mengenai penyerang situs?”
“Baik…” Lukman jelas heran melihat Harper lebih mementingkan itu, tetapi keadaan situs mereka memang tidaklah normal. “Situs kita diserang oleh sekumpulan geng yang terafiliasi ke setidaknya dua perusahaan anomalus. Sayangnya itu saja yang mereka tahu, mereka hanya dibayar untuk menjarah tempat ini dan membunuh siapa pun yang terlihat.”
“Itu saja?" Harper bertanya tak puas. “Aku perlu nama perusahaan, lokasi berkumpul mereka, pemimpin mereka, tujuan mereka, dan langkah selanjutnya.”
“Ini.” Lukman menyerahkan catatan yang diambilnya dari meja tadi, “Aku cuma dapat nama perusahaan dan lokasi berkumpul. Agen kita tengah ke sana saat ini. Sisanya… mereka tak tahu.”
Harper meraihnya dan membacanya. Matanya mengamati tiap kalimat dengan seksama. Pada akhirnya dia menyerahkan dokumennya kembali ke Lukman. Dia lalu mendorong tahanan yang tadi dia bawa dan meletakkannya di kursi di seberang tahanan mereka sebelumnya.
“Jadi, apa yang kau ingin lakukan dengannya? Aku sudah interogasi yang ini.” Lukman bertanya keheranan.
“Kau tak akan keberatan ku urus mereka kalau begitu… Tidak, seharusnya aku tak perlu bertanya.” Harper membalas seraya berdiri di tengah-tengah mereka.
Kemudian dia mengeluarkan pistol semi-otomatis standar.
“Apa yang…”
“Sekarang aku ingin kalian beritahukan semua yang kalian tahu mengenai penyerangan ini. Siapa yang paling lengkap akan kubiarkan hidup.” Harper berkata selagi menatap mereka.
“Apa-apaan yang kau lakukan, Harper?!” Lukman memegang kerah jasnya dengan marah, tetapi Harper dengan cepat menghantam dagu Lukman dengan uppercut tangan kirinya sebelum mendorongnya ke lantai.
“Tugasku. Berdasarkan peraturan, hukuman bagi personel penjarahan secara dasar adalah dijadikan Kelas-D, terlebih kelas terbawah D-IV. Situs masih dalam situasi lockdown dan mereka tidak berada di sel mereka, heh, meskipun kita tak memilikinya. Jadi, itu artinya, mereka bisa diterminasi.” Harper menjelaskan.
“Logika macam… apa itu?” Lukman membantah meski dia masih kesakitan.
“Biasanya prosesnya panjang karena menunggu persetujuan kepala keamanan, yang di mana itu adalah aku.” Harper membalas. Dia meletakan pistolnya di meja, jelas tak bisa diraih kedua orang tahanan mereka yang terikat.
Dia memutar pistol itu. “Jadi yang perlu dilakukan sekarang cukup…”
Tangannya menahan putarannya seketika, membuat moncongnya mengarah ke tahanan di sebelah kirinya. “…eksekusi.”
Dan dia pun memegang kembali pistolnya dan menodongkannya di kepala tahanan yang dipilihnya, jelas panik karenanya. “Mulai bicara.” Dia berkata, setengah tersenyum di sisi wajahnya yang tak rusak.
Lukman dengan hidungnya yang masih meneteskan berdarah hanya menatap tak percaya akan ruangan di depannya. Sudah ada sembilan mayat tergeletak di samping kedua kursi dan meja mereka. Kini tengah duduk dua orang tahanan terakhir mereka dengan Harper berdiri
“Ayo, dia lebih unggul satu informasi semata darimu!” Harper menyemangati salah satu tahanan mereka dengan keji karena dia tengah menyodokkan moncong pistolnya ke kepala pria itu beberapa kali.
“Sumpah gue gak tau lagi harus ngasih tau apaan! Gue taunya banyak tangki doang di sana!” Tahanan tersebut bersikeras.
“Sayangnya orang ini sudah ngasih tahu itu.” Harper menolak seraya menendang pelan salah satu mayat di lantai. “Ayo, pikir lagi, apa ada yang kau rasa bisa kau sampaikan buat hidup?”
Tahanan mereka terlihat berpikir keras, “…Ah, ya! Ku dengar… ku dengar mereka mau menyerang lagi nanti!”
Tahanan di seberang segera berseru, “Gak! Dia bohong! Kita ga ada dikasih tahu rencana kedepannya!”
“Bacot, lu yang ga dengar!” Tahanan pertama membantah dengan putus asa.
Harper sendiri hanya menggeleng seraya mengarahkan senjatanya ke arah tahanan pertama. “Kan sudah ku bilang, kau cuma bisa bohong sekali doang seperti tadi. Yakin itu beneran?”
Tahanan mereka mengangguk cepat. “Iya, gue sumpah ada dengar mereka bilang ‘siap-siap buat serangan kedua ntar’ gitu! Gak tau kapan tepatnya wong gue ketangkap gini, tapi bentar lagi kali!”
Harper menatapnya selama beberapa saat. Akhirnya dia mengangguk dan berbalik ke arah tahanan kedua yang jelas menatap dengan pucat.
Bang
Terdengar suara tembakan. Harper menembak tahanan pertama di belakangnya tepat di kepalanya meski masih menghadap ke depan. “Sudah ku bilang padanya jangan bohong. Dah dua orang lho, dikira aku gak bisa baca layar…” Harper menghela nafas seraya menunjuk ke monitor di samping pendeteksi kebohongan mereka, sengaja dia senyapkan.
Dia mengalihkan perhatiannya ke tahanan terakhir mereka yang masih gugup, tak tahu harus lega atau apa. “Selamat padamu! Kau tahanan terakhir kami.”
“A… apa artinya gue boleh pergi, Bang?” Dia berkata pelan tetapi penuh harap.
“Tidak, situs ini tidak pakai Kelas-D.” Harper berkata dengan santai sebelum menembaknya di rahang, membuat tembakannya tembus ke atas kepalanya.
Harper menyimpan pistolnya dan segera mendekati Lukman yang sedari tadi memperhatikannya. Jelas ekspresinya penuh kebencian, Harper tahu dan tak lagi memedulikan itu. Tidak ada bedanya dari dulu.
“Ku lihat catatanmu jadi tiga- tidak, empat kali lipat lebih banyak dari tadi. Sama-sama. Sekarang kita tahu ini semacam konspirasi antara organisasi Chaos Insurgency yang bekerja sama dengan beragam grup perusahaan berbeda. Pemerintah juga terlibat meski kita tak bisa mengonfirmasi apakah yang mereka lihat itu memang personel LEMRUSAN.”
“…Kau bajingan, Harper.” Lukman akhirnya memberanikan diri berkata.
Harper menatapnya selama beberapa saat sebelum membalas, “Tak ada yang berbeda kalau begitu.”
Dia pun berbalik mengamati hasil kerjanya. Personel keamanan di samping Lukman perlahan menyenggol Lukman dan berbisik, “Apa… apa ini diizinkan, Pak?”
Lukman menggeleng. “Aku akan melaporkan ini ke Komite Etik, lihat saja.” Dia berkata seraya melangkah pergi. Kini cuma Harper yang berdiri sendirian di tengah ruangan. Tidak ada yang memperhatikan ekspresinya perlahan berubah. Tiba-tiba dia berlutut di lantai seketika.
“Apa…” Dia berkata dengan gemetaran. “…Apa yang telah ku lakukan…”
Dia menatap ke arah tangannya yang berlumuran darah yang sedari tadi menggenangi lantai dengan tak percaya. Setelah beberapa saat, meski mengatakan itu sebelumnya, perlahan dia menggenggam erat kedua tangannya menjadi kepalan.
“…Yang seharusnya.”
Dengan perlahan dia berdiri kembali dan menyapukan darah di tangannya ke baju mayat tahanan mereka yang masih terikat di kursinya.
“Kita masih punya banyak masalah internal untuk dibersihkan.”
Dia akhirnya meninggalkan ruangan, tidak memedulikan mayat di lantai ruangan. Dia sudah menggunakan mereka, jadi sekarang dia beralih ke targetnya selanjutnya. Tanpa sadar dia akhirnya menyentuh separuh wajahnya yang tertutup perban, merabanya perlahan dan membiarkan kemarahan kembali menjalar mengambil alih penuh akan kepribadiannya.
“Setelah kondisi situs sudah layak kembali, kita punya Alice untuk dikejar.”
Kronik Situs-79
Bab 8: Dunia Imaginer(1)
« Obat Gemetaran Baiknya Teh di Tangan | Nyaris Terlambat untuk ke Pesta | Di Mana Yang Tertawa Sekarang »




