Obat Gemetaran Baiknya Teh di Tangan
rating: +1+x

Kamar mess Lucy gelap gulita meski hari sudah mendekati pertengahan hari. Setelah selesai makan, Lucy segera tidur mengetahui tidak ada yang bisa dia kerjakan selain berdiam diri di kantor. Louis sepertinya belum ada rencana untuk mengirimnya ke lapangan seperti yang dia tugaskan pada asistennya sebelumnya, jadi sebagian besar masa shift malamnya dia habiskan terkunci di ruangan dinginnya.

Masih beberapa hari sebelum akhir pekan juga. Dia bisa keluar situs saat shift-nya selesai mengingat dirinya sudah menjadi peneliti biasa, tetapi dia hanya melakukannya untuk beli makan. Dia tidak terlalu punya seseorang untuk dikunjungi di luar. Dia punya teman di situs lamanya yang jaraknya cukup dekat – dia bisa saja melewatinya jika dia ingin cari makan di kota – tetapi mereka selalu janjian dengannya jika mau bertemu. Lucy tidak tahu jadwal mereka bebas, dan kadang jika mereka bisa, dia tidka tahu apakah dia juga sama. Perpindahan lantai dan upayanya menyesuaikan diri lumayan memenuhi pikirannya. Sejujurnya baginya dia sudah terlalu terdistraksi akan Situs-79 secara keseluruhan sejak dia di sini.

Jadi di sinilah dia tertidur nyenyak selagi menunggu alarmnya membangunkannya sore nanti. Ruangan sunyi selain dari suara nafasnya. Tetapi perlahan terdengar suara pintu diketuk. Awalnya cuma beberapa kali, tetapi kemudian suaranya semakin intensif setiap jedanya. Pada akhirnya suara pintu besi yang diketuk itu berhasil membangunkan Lucy. Dia perlahan mengusap matanya sebelum menyadari suara ketukan dan segera duduk di pinggir ranjangnya karenanya.

Dia mulai merapikan pakaiannya sekilas sebelum memegang gagang pintu dan membukanya, bertanya-tanya dalam hati siapa yang membangunkannya jam segini. Louis jelas bukan karena meski kadang saat hari-hari pertama bekerja dengannya dia sering membangunkannya untuk komplain, dia melakukannya dengan menelponnya. Mungkin itu Kak Heru yang sudah menyelesaikan misinya, pikir Lucy.

Di depannya adalah dua orang peneliti Yayasan. Lucy mengenali mereka berdua. “Kak Onyx dan… Kak Jones?”

Jones menurunkan tangannya, sepertinya dia yang mengetuk tadi. Kedua orang peneliti senior di depannya sekilas saling melirik. Dari ekspresinya, Lucy jelas segera menangkap ada hal buruk yang akan mereka katakan. Awalnya Lucy mengira Jones yang akan bicara, tetapi ternyata Onyx yang pertama mengeluarkan suara.

“Lucy, kau dekat dengan Agen Senior Heru Dani, kan?”

Lucy mengangguk dengan ekspresi bingung dan mulai gugup. “Iya?”

Saat itulah dia baru sadar Jones sedari tadi memandanginya dengan ekspresi iba. Onyx segera berkata, “Ada yang harus kami sampaikan mengenainya…”


Ruang tunggu lantai Safe saat ini tengah penuh dengan personel, sayangnya separuh adalah personel Yayasan dan separuhnya adalah kumpulan mayat personel yang kini dibungkus di kantong mayat. Di tengah deretan kantong mayat itu, dua orang personel berseragam personel keamanan berdiri. Yang satu tengah sibuk mencatat di kertas pada papan klipnya sedangkan yang satunya tengah menunduk dan mengidentifikasinya. Kumpulan personel berseragam agen tengah saling berdiskusi di dekatnya. Beberapa peneliti dan penjaga juga ada, meski mereka lebih ke arah menonton saja selagi berbisik.

Lift tiba-tiba terbuka, membuat beberapa orang menoleh. Yang pertama keluar adalah seorang perempuan yang mengenakan jas biru, meski tidak dikancing, menunjukkan kemeja putih kusutnya di dalam. Dia jelas tertegun melihat deretan kantong mayat sebanyak ini. Dua orang berseragam peneliti berjalan di belakangnya. Perempuan itu menutup mulutnya dengan ekspresi tak percaya.

“…Tidak…” Dia berbisik pelan.

Personel keamanan di tengah sepertinya menyadari kedatangan mereka sehingga dia berkata, “Kau siapa? Pacarmu mati di sini?”

Nadanya terdengar tak tertarik, tetapi Lucy tidaklah memikirkannya saat itu. “Di mana Kak- Agen Senior Heru?”

Penjaga itu melihat sekeliling sebelum menunjuk ke pinggir kanannya. Lucy tanpa membuang waktu segera mendekati kantong mayat yang ditunjuknya. Dia menunduk mengamatinya, sedikit sulit karena dia tak bisa membendung air matanya sedari tadi. Dia memegangnya pelan, hendak membuka pegangan ritsleting kantongnya.

Di sanalah dia, terbaring dengan noda darah masih membekas di mulut dan seragamnya meski mulai mengering. Matanya terpejam, jelas tak akan terbuka lagi karena dia sudah tiada. Lucy menunduk dan membiarkan dirinya menangis di badannya selama yang dia inginkan.

Tangisannya terganggu ketika dia mendengar suara lemparan keras. Dia menoleh ke belakang dan mendapati dua orang penjaga lain tengah menggotong satu kantong mayat dan segera meletakkannya di lift, menumpuk setidaknya tiga buah kantong di sana.

“Kalian… hiks, Kalian apakan mereka di bawah?” Lucy bertanya dengan serak selagi mengusap matanya. Dia perlahan baru ingat apa yang situs ini biasanya dengan personel mati.

“Tentu saja diolah di bawah. Kau personel baru atau semacamnya?” Penjaga di tengah menjawab dengan tak peduli. “Jika kau sudah selesai memfotonya atau apa, bilang nanti.”

“Kalian… kalian tidak mengubur mereka?” Lucy bertanya, kini mulai terdengar intonasi marah di suaranya.

“Tentu saja tidak! God, kau tak pernah diberitahu? Kami perlu tiap organ mereka, tiap darah mereka, bahkan kultus Brethen-“

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Lucy hampir saja memukulnya jika saja tidak dihentikan Onyx di belakangnya. “Setan! Mana rasa kemanusiaanmu!? Mereka manusia, kau tahu!”

“Manusia buangan, semuanya. Kita di neraka, kau ingat. Pacarmu itu pasti melakukan kesalahan cukup parah sebelumnya sampai berakhir di sini.” Penjaga itu berkata selagi menghela nafas. “Tak ku sangka ada lagi kejadiannya…”

“Bodoh amat!” Lucy kembali meronta dari pegangan Onyx yang sedari tadi memintanya sabar. “Gak akan kubiarkan kalian ngebuang Kak Heru begitu saja!”

Penjaga itu jelas terganggu dan setelah mengembuskan nafas kesal segera berkata, “Perempuan ini tengah histeris, tolong bawa dia itu pergi.”

Seorang personel keamanan perlahan mendekati mereka. Lucy hendak melawannya, perlahan meraih revolvernya, tetapi dia berhenti di depan penjaga itu dan berkata, “Kau seharusnya memberitahukannya mengenai opsi pemakaman, Wilman.”

Lucy mengenali suaranya, dia reflek berkata, “Hansel?”

Hansel menoleh sekilas meski tak mengangkat visornya dan berkata, “Guten tag Frau Lucy,” Sebelum kembali menatap kedua penjaga yang sedari tadi mengurus mayat di depannya. “Kembali ke tadi, Wilman. Setidaknya beritahu dia alternatifnya tak akan ada salahnya.”

Wilman terkekeh selagi mengangkat visornya, “Kau berubah akhir-akhir ini, Hansel. Dulu kau tak peduli ke siapa pun, bahkan kepada Dilan, terlebih ke personel baru ini.” Dia melirik ke arah Lucy. “Atau mungkin dia penyebabnya? Heh, we’ve got a harlot here, haven’t we now?

Hansel mengambil satu langkah mendekat dan berkata pelan, “Terus bicara dan mungkin kau tiba-tiba bangun dan mendapati dirimu terkubur hidup-hidup di makam temanmu Burkan nanti, atau kau bisa terima saranku sekarang. Tak ada salahnya memberitahunya, kataku tadi.”

Wilman reflek mundur sebelum berkata, “Oh bugger, fine!” dan menoleh ke arah Lucy seraya melanjutkan, “Kau juga bisa membiayai penguburannya di pemakaman khusus Yayasan.”

“Kenapa kau tidak mengatakan itu sebelumnya?!” Kini giliran Lucy yang bertanya dengan marah.

“Entahlah, kau punya tiga puluh juta untuk itu? Berdasarkan pengalamanku, sebagian besar tidak.” Wilman menjawab dengan kesal.

“Apa…” Lucy reflek menoleh ke Hansel dengan bingung.

“Itu memang biayanya dari pihak administrasi. Uang personel yang tewas dikirimkan ke keluarganya setelah dipotong administrasi yang mengurus alibinya, jadi penguburan harus dibiayai personel yang masih hidup. Umumnya situs lain yang mengurus semua, tetapi yah… kita memang bekerja untuk Situs-79, jadi apa boleh buat.” Hansel menjawab seraya mengangkat bahu. “Aku sudah bayar untuk Dilan tadi. Heh, Ich schuldete dem Wichser einen Gefallen… Jadi, apa kau bisa untuk Heru?” Hansel bertanya padanya.

Lucy berpikir sejenak. Akhirnya dia berkata, “Ya,” Sebelum menoleh ke arah Wilman dan berkata, “Akan kubayarkan!”

Wilman mengembuskan nafas sebelum menyenggol rekannya dan berbisik, “Ganti keterangannya tadi.”

Dia menoleh ke arah Lucy yang perlahan dilepaskan oleh Onyx. “Ini memakan waktu lebih lama karenamu…” Dia berkata sebelum kembali bersuara lantang, “Baik, selanjutnya Agen Samson! Ada yang mau membayar?”

Hansel mulai mundur menjauh. Tetapi sebelum pergi, dia menoleh ke arah Onyx dan berkata, “Onyx, tolong bawa Lucy pergi. Saranku, bawa dia ke ruang masuk situs.”

Onyx mengangguk, meski selama ini dia selalu berkelahi dengannya. Saat ini dia lebih memilih fokus membantu menuntun Lucy yang hanya bisa berjalan lemah keluar dari ruang tunggu.


Lucy tengah duduk diam di salah satu kursi di ruang masuk. Dia hanya menatap lemah ke lantai. Pikirannya sedari tadi mengenang waktunya bersama Heru, mengingat pertama kalinya dia memanggilnya selagi bersandar di dinding karena bosan, mengingat misi yang selama ini dia jalani bersamanya.

Dan sekarang dia tiada.

Onyx sudah lama meninggalkannya. Dia dan dirinya sendiri tahu dia perlu waktu sendiri saat ini. Sejujurnya sekarang dia merasa ingin berbicara dengan seseorang. Dia ingat pernah bicara mendalam dengan Lira, tetapi selain dia di lantai bawah, dia tahu asistennya masih marah dengannya.

Jones tidak bisa menemaninya terlalu lama, tetapi setidaknya dia memberi penyemangat untuk mencoba melaluinya. Onyx bisa, tetapi dia tidaklah terlalu yakin Onyx bisa menjadi teman bicara yang baik mengingat pengalamannya mendampinginya, jadi dia bilang padanya kalau dia perlu waktu sendiri.

Lucy kembali termenung. Penjaga ruang masuk tidak ada di posnya, sepertinya pergi istirahat atau melihat mayat-mayat di ruang tunggu. Lucy sudah berhenti menangis sedari tadi; isakannya baru saja berhenti total beberapa saat yang lalu. Jadi ruang masuk sunyi tanpa suara.

Tetapi tidak menunggu lama sampai terdengar suara pintu terbuka dari arah situs. Lucy reflek menoleh mendengar suara, tidaklah memiliki keinginan bertanya-tanya siapa yang membukanya.

Lucy lumayan tak menyangka siapa yang muncul.

“Bale?”

Di depannya, seorang peneliti yang sejauh yang dia lihat selalu mengenakan masker gas melangkah masuk. “Terakhir ku dengar, kau ditugaskan di lantai Euclid sekarang.” Dia berkata.

Lucy memutuskan untuk bersandar di kursinya dan membalas, “Ya, dan ku dengar kau di lantai Keter. Jadi kau perlu apa di atas sini?” Dia perlu mengalihkan pikirannya setidaknya, dan mungkin Bale merupakan teman bicara yang baik.

Bale sendiri hanya terkekeh di balik masker gasnya.


Beberapa jam yang lalu:

Bale tengah duduk mengamati monitor komputernya sambil mencari secara acak dokumen SCP di depannya. Saat ini penelitian mereka tertunda setelah insiden sebelumnya. Selagi Ratna mengurus sisi teknis apa pun dari penelitian mereka, di sinilah Bale menghabiskan waktunya. Dia sudah selesai mengurus dokumen-dokumen penelitian, jadi dia sekarang hanya mengamati laman basis data anomali Yayasan. Dia mencoba mencari beberapa anomali yang sempat dia baca waktu di teritori penahanan SCP-090-ID.

Saat melihat ke arah monitor, sudut pandangannya menangkap pergerakan seseorang berseragam penjaga yang perlahan mendekat ke arahnya. Bale mengalihkan pandangannya sepenuhnya dari monitor dan melihat bahwa dia memang berjalan mendekatinya.

Begitu penjaga itu di sampingnya, dia berkata, “Peneliti Bale, kau diperlukan di ruang tunggu lantai Keter segera. Tolong hentikan pekerjaanmu sekarang.”

Bale menatapnya sekilas sebelum mulai mematikan komputernya. Tebakannya saat ini adalah mungkin Herria ingin memberi pelajaran lanjutan untuknya. Bukan berarti dia bisa melawan jika mengetahui dirinya benar, dia hanya bisa menyiapkan dirinya untuk itu.

Setelah komputernya mati, dia segera berdiri dan mengikuti penjaga itu pergi. Dia kini meninggalkan area kantor umum dan memasuki ruang tunggu. Di sana terdapat beberapa penjaga sudah berkumpul. Satu-satunya yang Bale tidak duga adalah Peneliti Senior Herman berdiri di tengah mereka, terlebih sepertinya dirinya merupakan orang yang memanggil dan menunggunya sedari tadi.

“Selamat pagi, Nak Bale.” Herman berkata seraya mendekat. “Saya perlu bantuan anda untuk mendampingi observasi wawancara di lantai atas mengingat anda terkualifikasi sebagai psikolog.”

“Begitu ya…” Bale mengangguk. Tidak biasanya Herman meminta bantuannya. Tepatnya ini pengalaman pertama Bale bekerja dengannya. Tidak ada salahnya mengamati bagaimana rival mantan atasannya dulu bekerja, jadi dia mengiyakan.

Mereka segera memasuki lift dan dengan cepat menaiki lantai Euclid. Keadaan ruang tunggu kosong tanpa orang. Sekarang sudah sekitar pukul sembilan, jadi seperti dirinya tadi, seharusnya para peneliti biasa tengah bekerja di meja mereka. Semuanya masih seperti dulu di lantai ini. Mereka mencapai ruang pembatas dan melalui pos perbatasan yang dulu selalu Bale lewati kalau mau makan.

Mereka sekarang berada di koridor persimpangan menuju ke ruang pengujian. Melewati sel penahanan Kelas-D dan bangsal medis, Bale berjalan mengikuti rombongan personel ke arah ruang wawancara yang berada di samping ruang pengujian.

Ruang wawancara sudah diterangi lampu. Di dalamnya seorang penjaga sudah berjaga, dia menoleh begitu menyadari pintu ruangan terbuka. Yang dijaganya merupakan seorang pria yang kepalanya telah ditutupi karung hitam dan diikat pada kursinya.

“Jadi… mana kursiku?” Bale berkata karena cuma itu yang dia lihat. Dia ingat di ruangan ini ada kursi dan meja besi untuk wawancara. Dia akhirnya menemukannya disimpan di pojokan. Tetap saja dia bertanya kenapa bisa ada di sana.

“Ah, tidak perlu…” Herman berkata, sepertinya sedikit ragu untuk melanjutkan. “Saya perlu anda di sini… untuk mengawasi eksekusinya.”

“Huh, seingatku kau memintaku untuk mendampingi observasi.”

Herman terlihat tak nyaman, mungkin dia merasa bersalah tidak memberitahukan tujuan sebenarnya dia di sini.

“Teknisnya anda di sini akan mengawasi para penjaga ini memberikan injeksi mematikan dengannya. Dia korban efek SCP-022-ID, anomali terbaru situs ini. Ia merupakan sebuah layangan yang mampu membuat semua orang yang melihatnya jatuh menginginkannya dan membunuh semua orang yang ada sampai cuma dia yang tersisa untuk menangkapnya. Orang inilah yang memenangkan perkelahian besar itu saat kami menemukannya.” Jelas Herman.

“Ah begitu…” Bale mengangguk. “Maaf, tapi kau bilang injeksi mematikan? Bukan injeksi amnestik?”

Herman menghela nafas pasrah “Amnestik terbukti tidak mampu menghilangkan pengaruh SCP-022-ID. Subjek selalu merasa seakan ia bagian dari hidupnya.”

Bale mengangkat bahu, “Jadi, tembak saja dia?”

Herman menggeleng. “Tidak boleh seperti itu. Dia hanyalah korban semata. Dia tidak pantas ditembak dan sudah seharusnya ditiadakan dengan layak.”

Bale mengangguk mengerti. Dia kini diam mengamati orang di depannya menggeliat di kursinya. Agak aneh mengetahui kenapa dia tidak dibius dulu. Mungkin nanti.

Tetapi kemudian Herman segera beranjak pergi menuju pintu keluar bersama beberapa penjaga, meninggalkannya sendiri bersama seorang penjaga lain. Bale meliriknya pergi sambil bertanya hanya dalam hati; dia ingat jelas dia diminta mendampingi eksekusi, bukan mengawasi eksekusi.

Bale mengangkat bahu; mungkin dia kembali, mungkin tidak, apa pun itu dia pasti punya alasannya. Dia kembali menoleh ke depan, penjaga tadi kini telah selesai menyiapkan segalanya dan siap melaksanakan eksekusi.

“Nyalakan kameranya.” Penjaga itu berkata arahnya.

Mungkin bukan tepat ke arahnya. Bale menoleh ke belakangnya dan mendapati sebuah kamera di pojok, baru terlihat setelah kerumunan penjaga yang mendampingi Herman tadi pergi. Dia dengan segera menempatkan kameranya di tengah ruangan, menghadap tepat ke arah pria di kursi. Dia sudah biasa melakukan itu, meski ini pertama kalinya untuk eksekusi.

“Baik,” Bale memberi jeda sekilas sebelum memulai rekaman. Biasanya dia mengatakan kalau ini wawancara atau interogasi sekarang. “Eksekusi atas subjek yang terpengaruh SCP-022-ID akan segera dilaksanakan. Tolong penjaga mendekat dan tunjukkan peralatannya.”

Penjaga tadi mendekat dan mengeluarkan sebuah suntikan sederhana. Cukup besar, tetapi tetaplah suntikan biasa. Penjaga itu berdiri di belakang kursi, menunggu aba-abanya.

“Baik, lakukan dalam tiga… dua… satu.”

Dan dengan itu dia disuntik. Bale bisa mendengar jelas suara teredam di balik karung hitamnya. Mulutnya pasti ditutup di dalam sana. Dia terus meronta sampai akhirnya dia berhenti bergerak.

“Baik, sudah selesai.” Penjaga itu berkata.

“Baik, tunjukkan racunnya.” Bale melanjutkan.

“Dokter, sudah selesai.” Penjaga itu menegaskan.

Bale menatapnya heran di balik masker gasnya. Dia menekan tombol jeda di kamera dan segera mendekati penjaga itu sebelum bertanya, “Apa maksudmu sudah selesai? Kau langsung beri dia racunnya sebelum anestetik?”

“Ya. Sesuai perintahmu bukan?” Penjaga itu menjawab dengan tenang seraya mengembalikan suntikan tadi ke wadahnya.

“Tidak! Di mana-mana kau beri anestetik dulu supaya dia tidak ter….” Bale perlahan menghentikan kalimatnya karena dia mulai tahu apa yang terjadi. Dengan cepat dia mendekati korban di kursi. Dia segera memegang kantong hitamnya dan mencoba melepasnya. Begitu dia berhasil, dia bisa melihat mulut orang itu memang diberi lakban hitam cukup ketat. Pria ini jelas cuma bisa bernafas lewat hidungnya saja, dan dari matanya yang terbelalak, jelas dia tidak berhenti bernafas dengan pelan.

“Dokter Balefire, kau perlu memberi keterangan pascaeksekusi untuk laporan.” Penjaga tersebut berkata seraya menyodorkan alat perekam ruangan.

Bale menerimanya perlahan seraya sesekali melirik ke subjek di kursi. Saat melihat alat perekam, dia baru sadar tangannya sedikit gemetar. Dengan pelan dia berkata, “Subyek telah di terminasi. Ini demi kebaikannya.”

Hanya itu yang dia katakan. Dia mematikan perekam itu dan meletakannya kembali di meja. “Katakan,” Bale berkata, “Siapa yang menyuruh untuk melakbannya.”

“Aku sendiri.” Penjaga itu menjawab. “Pak Herman bilang dia tak merasa nyaman mendengar teriakannya. Aku melihat lakban di meja dan memutuskan untuk memakai inisiatif.”

Bale menatap ke lakban di meja dengan heran. “Dan siapa yang menaruh lakban itu?”

“Apakah itu penting?” Balas si penjaga. Dia sudah selesai memasukkan semua alat yang ada dan segera melangkah ke luar. Mereka memang ditinggalkan untuk diambil tim arsip nanti. Bale menatapnya menutup pintu, meninggalkannya bersama jasad di kursi.

Penting jika berkaitan dengannya. Pikir Bale selagi melangkah pergi mengikutinya.

Lagipula di mana Herman tadi?

Dia keluar ruangan dan segera melihat ke sekeliling. Koridor penahanan memiliki beberapa penjaga di depan pintunya. Dia mendekati penjaga terdekat dan bertanya, “Hey, kau melihat ke mana Herman pergi? Dia tiba-tiba meninggalkan ruangan tanpa bilang apa-apa. Mungkin kau tahu sesuatu tentang itu.”

Penjaga itu diam sejenak sebelum membalas, “Mungkin dia kembali ke lantai atas. Ku dengar keadaannya kacau di atas sana.”

Itu jelas menarik perhatian Bale yang segera bertanya, “Apa yang terjadi di atas?”

“Insiden dengan anomali layangan baru kita. Kabarnya personel di lapangan kena efeknya. Gila sih kau tak tahu itu.” Penjaga tadi menjawab.

Bale mengangkat bahu, “Yah, aku terkurung di lantai Keter dan langsung masuk ke ruang interogasi begitu sampai. Jadi Herman di atas?”

Penjaga itu mengangguk. Bale segera berjalan pelan menuju lift selagi mengamati sekelilingnya. Dia merasa tiap sudut ruangan sudah membekas di ingatannya karena selalu saja terjadi sesuatu dengannya di sana. Ruang teknisi, kantin, bahkan koridor yang tengah dia lalui. Tidak terasa sudah setengah tahun dia di situs ini.

Bale tanpa sadar menggeleng. Dia tidak mau merasa nyaman di tempat ini. Dia cuma punya waktu setengah tahun lagi. Dia ingin hidup, dia ingin keluar dari sini. Dia punya tujuan di luar sana, persetan semuanya.

Dia akhirnya sampai kembali di lift. Bukannya turun kembali, dia memutuskan menekan tombol panah ke atas. Dia akan ke lantai atas. Tidak ada pos di lantai Safe, tetapi saat dia mencoba jalan-jalan di lantai Safe dulu, ternyata ada penjaga suruhan Herria yang menghentikannya berjalan lebih jauh. Tentu saja, jika dia punya alasan yang tepat untuk berkeliaran di lantai yang bukan tempatnya ditugaskan, dia diizinkan melakukannya. Bale tersenyum selagi merasakan getaran lift, dia bisa memakai Herman untuk itu.

Akhirnya lift terbuka, dan di hadapannya adalah selusin lebih kantong mayat tengah disusun. Bale tertegun melihatnya. Tidak separah dulu… Dia berpikir selagi berjalan melewati kantong-kantong itu. Setelah berada di tengah, dia mengamati sekelilingnya.

Tetap saja…

“Hey, mencari sesuatu?” Tanya seorang penjaga yang sedari tadi di tengah bersamanya. Mereka ada dua, satunya tengah mencatat sesuatu di kertas tertempel pada papan klipnya. “Tunggu, masker gas itu, kau asistennya Louis, kan?” Penjaga itu berkata kembali, jelas mengenalinya sekarang.

Bale mengibaskan tangannya, “Mantan Asisten. Aku pindah lantai ke Keter sebulan lalu.”

Penjaga itu mengangguk mengerti. “Huh, kita sama lantai. mungkin jam makan siang kita berselisihan… Ah, ya. Namaku Wilman Hariyadi jika kita ketemu lagi di bawah, Agen Senior.” Dia berkata seraya mengulurkan tangannya yang mengenakan sarung tangan hitam. Bale menjabat tangannya.

“Awalnya ku kira ada tim Louis di sini, jadi apa tepatnya yang kau cari?” Dia bertanya lagi.

“Tidak, tidak ada. Aku cuma penasaran kenapa dikumpulkan di sini.” Bale menjawab seraya menggeleng.

“Ah, didata dulu. Biasanya jika ada yang mati mereka tinggal lempar ke bawah, tapi ini terlalu banyak, bukan? Jadi aku yang ke atas. Sejujurnya aku tidak suka banyak orang seperti ini…” Wilman menjelaskan, sedikit menggumam di akhir.

Bale menangkap itu dan segera bertanya, “Kenapa?”

Penjaga itu melihat sekeliling, mengamati beberapa agen lapangan masih mengangkat kantong mayat baru dari jauh dan personel lain yang mulai berkumpul. Dia perlahan mendekati Bale dan berkata, “Hal yang mengejutkan di situs ini adalah ternyata ada yang namanya kepedulian di sini. Orang-orang buangan ini, bisa kau bayangkan? Aku tidak bisa. Ah, ya. Jadi kadang ada saja yang meminta teman atau pasangannya dikuburkan saja dibanding diproses di bawah. Pemakaman normal memakan puluhan juta dan personel pengurus penguburan yang akan kenyang karenanya.”

“Ah, begitu ya…” Bale mengangguk, mulai memahami arah bicaranya. “Dan kau? Ku lihat kau cuma petugas pencatat saja, jadi kenapa kau peduli?”

“Oh, setelah kami mengamankannya di bawah, aku dan temanku itu akan membedahnya. Organnya bisa dijual di situs lain dan aku punya banyak kenalan sekarang untuk itu. Sisanya yah… jika kultus Brethen mau membelinya kami jual.” Jelasnya.

Bale mengangguk perlahan, meski sebenarnya dia tidaklah terlalu mendengarkan penjelasan ambisiusnya.

“Hey, kalian sudah selesai bicara? Aku ingin bayar pemakaman!”

Tiba-tiba terdengar suara di belakang. “Oh, bugger!” Wilman reflek berkata sebelum menoleh ke belakang. Terdapat seorang personel keamanan dengan visor tertutup di sana. “Satu untuk Ketua Tim, Dilan Bara.”

Bale merasa ingat suara itu. Dia ingat pernah mendengarnya beberapa kali selama waktunya bekerja dengan Louis dulu. Sepertinya penjaga itu menyadari tatapan Bale ke arahnya dan segera mengonfirmasinya dengan mengajaknya bicara, “Sudah lama sejak aku melihatmu, dokter.”

Belum sempat Bale membalasnya, Wilmanlah yang pertama berkata, “Hansel? Kau? Kau membayar pemakaman Dilan?”

Hansel hanya mengangkat bahu dan mengisyaratkan lanjutkan permintaannya. “Kau berubah akhir-akhir ini, jujur saja.” Wilman berkomentar. Dia lalu beralih ke rekannya yang sedari tadi mencatat seraya berkata, “Ganti keterangannya.”

Bale merasa tak ada lagi yang dia lakukan di sini, jadi dia beranjak pergi. Dia tidak tertarik akan urusan pemakaman itu sebenarnya, mengingat dirinyaa mengusahakan untuk tetap hidup sebisanya.

“Jadi apa urusanmu di lantai atas?” Hansel menyadari Bale tengah berjalan menuju area kantor.

Bale gugup sebelum teringat kalau dia memang punya alibi. Dengan senyum meski terlindungi masker gasnya dia membalas, “Oh ya, aku mencari Pak Herman di sini untuk melaporkan hasil observasiku. Jadi jika boleh, aku pergi dulu.”

Hansel mengangkat bahu tak peduli sebelum menjauh juga kembali ke kerumunan. Bale sendiri berjalan pelan menyusuri area kantor. Dia memutuskan berkeliling dulu di sini sebelum berkeliling di sisi lain ruangan.


Bale kini perlahan melangkah menelurusi koridor lantai Safe. Dia selalu melalui koridor ini tiap dia keluar situs, tetap saja selain dia jarang keluar, dia cuma tahu arah ke ruang masuk situs, dan itu pun bersama rombongan.

Dia sudah melihat-lihat ruang percobaan lantai Safe yang entah kenapa lebih besar dibanding lantai Euclid. Tetapi dia tidak melangkah lebih jauh ke ruang mesin, tidak yakin apakah penjaga di sana akan curiga dengannya.

Dia memutuskan untuk mencoba keluar situs. Dia mencoba mendorong alibi mencari Herman sejauh mungkin. Menghirup udara segar di atas sana setelah berbulan-bulan tidaklah buruk, terlebih setelah pengalaman terakhirnya, liburan kecil tak ada salahnya baginya.

Dengan segera dia membuka pintu ruang masuk. Hal pertama yang disadarinya adalah tidak ada penjaga di pos. Tetapi kemudian sesuatu di samping menarik perhatiannya karena warna mencoloknya.

Seorang perempuan yang memakai jas biru tengah duduk, dia diam menunduk. Dan saat dia mendongkak untuk melihat siapa yang baru masuk, Bale jelas mengenalinya.

Lucy.


Sekarang

“Aku mencari Pak Herman.” Bale berkata, menjawab pertanyaan Lucy.

“Pak Herman…” Lucy termenung. Dia tidak sempat memikirkan akan mantan atasannya yang bekerja di lantai ini. Dipikir lagi dia tidak melihatnya sedari tadi.”…Dia… tidak ada di kantornya?” Lucy mencoba mengonfirmasi.

Bale menggeleng. Dia tidak tahu itu sebenarnya, tetapi kebohongan kecil seharusnya tak masalah. “Sejujurnya aku kelelahan mencarinya. Ku rasa kau tak keberatan kalau aku ikut duduk, kan?”

Tak ada balasan dari Lucy. Bale sendiri memang tak mengharapkan balasan dan segera duduk tak jauh darinya. Setelah bersandar dan merenggangkan kakinya untuk istirahat, dia melirik ke arah Lucy yang masih tertunduk. Bale menatapnya dengan heran, seingatnya Lucy selalu memperhatikannya dengan tatapan penasaran, terlebih ke arah masker gasnya. Normalnya dia akan menanyainya tentang itu, tetapi saat ini dia tengah termenung memikirkan sesuatu. Bale merasa dia bisa menebak itu.

“Kenalanmu jadi korban di sana?”

Lucy menoleh ke Bale, sepertinya tak menduga dia mampu menebaknya. Akhirnya Lucy bersandar juga selagi menjawab, “Ya… Temanku waktu misi di lapangan. Namanya Heru Dani, agen senior.”

“Ah…” Bale berkata pelan. “Kuasumsikan kau sangat dekat dengannya, ya?”

“Entahlah… Aku cuma… tak menduga dia akan meninggal di luar sana. Aku baru saja bicara dengannya pagi ini setelah berminggu-minggu di lantai terkutuk ini…” Lucy menjawab, sedikit emosi sekilas.

Bale mengangguk, meski sebenarnya dia tidaklah terlalu peduli. “Kalau boleh ku sarankan, sebaiknya kau… pulang saja ke rumahmu dan proses ini baik-baik. Ambil cuti, atau abaikan itu dan pergi saja tak masalah. Mereka mungkin akan memakluminya.”

Lucy menggeleng, “Tidak, tidak… Heru tidaklah suka melihatku terkurung di kamar mess seharian…” Dia sedikit tersenyum saat mengatakan itu. “Dia pasti akan mengetuk dan mengecek keadaanku, menyemangatiku untuk melaluinya…”

Lucy mengusap matanya sebelum kembali berkata, “Tidak. Aku tak berniat lama-lama duduk di sini. Aku akan kembali ke sana, mengurus pemakaman Kak Heru, dan bersiap menghadapi apa pun situs ini akan berikan. Aku akan keluar dari situs terkutuk ini secepatnya.”

“Ah, aku sudah menduga kau pasti sudah melakukan itu. Sama.” Bale berkata. Dia segera beranjak ingin berdiri. Dia tidak berniat lama-lama di tempat ini mumpung dia punya alibi untuk keluar. Lucy juga sepertinya ikut berdiri mengikutinya.

“Bagaimana denganmu?” Lucy tiba-tiba bertanya padanya. “Kau punya seseorang yang berharga yang jadi korban.”

Bale menggeleng selagi terkekeh. “Mana ada… Tidak. Tidak ada. Juga, tidak ada juga dari tim peneliti Louis, jika kau penasaran juga. Aku bahkan tidak bekerja untuknya lagi.”

“Yah, persetan dengan mantan atasanmu itu, Bale.” Lucy menanggapi, sedikit tertawa karenanya. Bale perlahan tertawa juga karenanya.

Dia memang idiot, Bu Ratna.

Setelah mereka berdua perlahan berhenti tertawa, Lucy berkata, “Heh, kau tahu, terkadang sulit menebak ekspresimu di balik masker gas itu. Lagipula, kenapa kau memakainya?”

Bale diam memikirkan itu. Seiring waktu, masker gasnya kini hanyalah dekorasi wajah semata. Dia telah membuktikan berkali-kali dirinya tetap hidup hanya bermodalkan masker medis semata, bahkan sesekali dia tidak memakai apa-apa dan bernafas tanpa kendala. Masker gasnya kini hanyalah pelindung yang membatasi dirinya dari kehidupan Yayasan seutuhnya. Pengingat dari mana dia berasal, dan ke mana dia ingin pergi nantinya.

Tetapi itu terlalu rumit untuk dijelaskan dan Bale sudah sedari tadi ingin pergi keluar, jadi dia membalas singkat. “Aku cuma merasa nyaman saja mengenakannya.”

“Jadi… kau tak harus mengenakannya tiap saat?” Lucy bertanya dengan penasaran. “Aku selalu penasaran dengan wajah aslimu, jujur saja. Apa aku boleh melihatnya?”

Bale tidak memiliki alasan bagus untuk menolaknya. Dia melihat Lucy bernafas dengan normal sekilas dan memastikan sekali lagi bahwa memang udaranya aman untuk dihirup. Dia mengangkat bahu seraya meraih masker gasnya. Dia sudah beberapa kali melepasnya di depan orang – dia tidak tahu apakah Ratna dihitung juga – jadi apa salahnya dia melakukannya lagi.

“Tentu,” Bale mengiyakan. “Harus kuperingatkan, aku punya luka cukup besar di wajah sebenarnya. Dan itu bukan alasanku mengenakan masker, oke.”

“Huh, luka apa?” Lucy semakin penasaran. Samar-samar itu mengingatkannya dengan sesuatu.

“Luka ini.” Bale berkata selagi mengangkat masker gasnya. Menunjukkan luka sobekan di pipinya bersama dengan seluruh wajahnya.

Hening selama beberapa detik sebelum Lucy akhirnya berkata,

“Eh,”

Dan dengan secepat kilat dia meraih pistolnya dan menembak tepat di kepalanya. Bale terkejut dan dengan reflek menurunkan kembali masker gasnya. Meski usang, dia tidaklah pernah meremehkan kualitas masker gas GOC karena peluru yang ditembakkan Lucy berhasil dipantulkannya meski mengakibatkan kacanya retak karenanya.

Tetap saja, itu membuatnya terjatuh ke belakang. Lucy tak membuang waktu dan segera menembaknya lagi, kali ini di dadanya. Bale segera berguling dan berdiri. Tentu saja dia tengah bertanya-tanya apa tepatnya yang perempuan ini lakukan, tetapi dia lebih memikirkan untuk tetap hidup selama mungkin untuk menanyakan itu. Dia segera berlari ke pintu keluar dan secepatnya membuka sebelum menutupnya segera. Lucy segera berlari dan mencoba membukanya, tetapi Bale masih menahan pintunya.

“Apa-apaan yang kau lakukan!” Bale bertanya segera.

“Dokter Zakaria, aku ditugaskan GOC di situs terkutuk ini selama ini hanya untuk membunuhmu, pengkhianat!” Lucy berteriak di sisi seberang.

Sial.

Bale segera berlari menjauh dari pintu. Dia lurus langsung ke ruang persimpangan antara area penahanan dan lift barang. Lucy jelas mengikuti di belakangnya, jadi dia hanya punya waktu beberapa saat untuk memilih.

Dia berlari ke kiri, ke arah ruang lift barang. Dia tahu Lucy pakai pistol, dan mengetahui akurasi tembakannya, koridor panjang area penahanan akan membunuhnya. Dia harus ke lantai Keter segera.

Dengan cepat dia masuk ke lift dan menekan tombol turun. Penjaga pasti akan bertanya kenapa dia memakai lift barang, tetapi seorang perempuan gila hendak membunuhnya jelas merupakan alasan yang baik untuk menjustifikasinya.

Setelah menekannya, dia melihat Lucy masuk. Dengan cepat dia berlindung di balik panel tombol, menjauh dari pintu terbuka lift. Dia bisa mendengar suara langkah kaki Lucy mendekat dan segera bersiap-siap. Tangan Lucy muncul dan ditodongkan ke arahnya, tetapi Bale berhasil menahannya dan mendorongnya naik, menyebabkan tembakannya meleset ke udara. Lucy ikut masuk ke lift dan mencoba mengarahkannya kembali ke arahnya.

Bale jelas menang dan segera meraih kapaknya selagi tangannya menahan tangan Lucy. Tetapi karena tangannya meraih kapak, Lucy dengan segera memukul masker gasnya. Bale dapat menahan itu, jadi awalnya dia biarkan, tetapi Lucy ternyata juga mengambil revolvernya dan segera menodongkannya kembali.

Bale batal meraih kapaknya dan segera meraih tangan Lucy yang lain dan menjauhkannya. Lucy segera mencoba menendangnya, tetapi Bale sudah memprediksi itu dan menahannya dengan kakinya juga.

Lucy terlihat kesulitan dengan kedua tangannya ditahan. Lift barang tiba-tiba terbuka di samping mereka, jadi dia segera mencoba sesuatu untuk melepaskannya. Dia segera memegang erat lengan Bale dengan tangannya yang tak memegang revolver selagi tetap mencoba mengarahkan senjatanya dengan tangan satunya. Dengan segera dia mengangkat kakinya dan mencoba membuat Bale melepas genggamannya dengan cara mendorongnya menjauh dengan kakinya.

Bale jelas mempererat genggamannya, jadi Lucy mengangkat kaki keduanya dan kini keduanya tengah berpijak di perut Bale. Dengan cepat Lucy mengangkatnya dan menendang keras badannya. Genggaman Bale jelas melemah seiring suara kesakitannya sehingga Lucy berhasil melepaskan tangannya yang kosong. Lucy kembali mencoba berpijak pada badannya lagi, tetapi Bale dengan cepat meraih kapaknya dan langsung mengangkatnya, mencoba menghantam kaki Lucy dengannya.

Tetapi Lucy tidak berniat mengulangi serangannya tadi. Dengan salah satu tangannya bebas, dia langsung loncat dan menghantam wajah Bale yang tertutup masker gas. Itu menyebabkannya kehilangan keseimbangan dan dirinya mencoba mempertahankan posisinya. Dengan satu tangan memegang kapaknya dan tangan satunya masih menahan todongan revolvernya, tak ada yang yang menghentikan Lucy dari menghantam masker gasnya sekali lagi meski tangannya sudah berdarah karenanya.

Semua itu masih tak cukup untuk menjatuhkannya, jadi Lucy mengambil langkah terakhir dengan memegang erat bahu Bale dan mengangkat kaki keduanya. Dengan kaki Bale yang tengah menahan dirinya menjadi pijakan sempurna, dia menghantam dada Bale dengan dengkul kaki keduanya. Badan Bale akhirnya tak sanggup menahan itu dan dengan cepat dia terjatuh ke belakang. Tentu saja genggamannya lepas sepenuhnya. Lucy berhasil menjatuhkan Goliathnya, dan sekarang dia menodongkan ketapelnya kearahnya.

Bale tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan dengan dirinya terbaring di lantai. Dalam situasi ini, dia secara samar mendengar suara di kejauhan. Di tengah kekacauan ini, entah kenapa dia mendengar suara alunan musik merdu di dekatnya.

Suara harmonika.

“Aliman!” Bale reflek berteriak.

Lucy sudah menodongkan revolvernya ke arah Bale, tiba-tiba sebuah tangan menahan moncong senjatanya dan membelokkannya. Siapa pun itu berhasil melepaskan senjatanya dari tangannya, mengejutkannya akan itu. Dengan sekali gerakan jari tangan itu memutar revolver itu di pelindung pelatuknya sebelum tangan itu menangkap dan menodongkannya ke arah Lucy. Seorang pria yang wajahnya tertutup Balaclava hitam bermotif tengkorak yang melakukannya.

Howdy,” Dia berkata selagi berjalan mundur mendekati Bale yang perlahan mencoba berdiri. “Bukanlah duel yang adil jika cuma satu saja yang menembak.”

Lucy hanya diam menatap kesal ke arah mereka seraya mengangkat tangannya. Akhirnya Bale berdiri kembali. Dia merapikan jas labnya yang sudah kotor. Dia menatap ke arah Lucy dari balik masker gasnya.

“Jadi, ada yang mau menjelaskan apa yang terjadi di sini?” Aliman berkata, masih menodongkan revolver Lucy ke arahnya.

Bale memutuskan untuk melepas masker gasnya untuk melihat lebih jelas. “GOC.”


“Jadi… apa-apaan ini, dokter.”

Herria berkata dengan nada terganggu. Mereka semua kini di dalam ruang sebenarnya sang kepala keamanan. Jelas ada belasan botol minuman keras kosong, tetapi mereka sudah terbungkus rapi di kardus, sedikit mengejutkan Bale. Dia rasa dia meremehkan kemampuan organisasional pemabuk ini.

Bale tengah duduk di satu-satunya kursi yang disediakan Herria di seberangnya. Aliman tengah bersandar di dinding di sampingnya, awalnya memainkan harmonikanya sebelum Herria melarangnya.

Dan di samping mereka semua, Lucy berdiri. Tangannya terborgol, dan dia menunduk karenanya.

“Dia peneliti Lucia-“

Sebelum Bale selesai bicara, Herria mengibaskan tangannya dan berkata, “Lucia Amelia. Aku tahu identitasnya sejak awal ditransfer dari 84. Pertanyaanku adalah apa-apaan yang tengah terjadi tadi, dokter.”

“Dia agen ganda untuk GOC, dikirim untuk membunuhku.” Bale langsung saja menjelaskan.

Herria mengangkat bahu. “Kau sudah bilang itu tadi. Jadi, apa yang terjadi tadi sampai dia mau membuka kovernya.”

“Tunggu, kau tahu Zakaria ini pengkhianat GOC?!” Lucy tiba-tiba bertanya dengan heran.

Herria terkekeh. “Bahkan perempuan ini menyebutmu begitu, dokter.” Katanya kepada Bale. Tak memedulikan tanggapan Bale, dia menoleh ke arah Lucy dan menjawab, “Ya. Tidaklah cerdas merekrut orang buangan tanpa mengecek latar belakang kenapa dia dibuang, bukan? Sejauh yang GOC tahu, dia sudah mati. Jadi tidak ada salahnya kami mempekerjakannya sekarang. Kami perlu dia untuk mengurus urusan internal kami.”

Herria diam memberi jeda agar dia bisa meraih botol minumnya di bawah meja. “GOC tahu terlalu jauh ternyata…”

“Jadi, kita apakan dia?” Bale berkata selagi mencondongkan kepalanya ke arah Lucy. Lucy terkejut akan topik berganti ke dirinya. Dia hanya bisa menunduk menerima nasibnya.

Tetapi Herria malah berkata, “Tidak ada untuk saat ini. Jika dia memang dikirim GOC artinya aku harus menyerahkan informasi ini ke direktur kita, yang nantinya akan memprosesnya dengan PR untuk GOC di situs lain. Semua itu hanya untuk pertukaran tahanan atau informasi saja nantinya.”

Dia menatap ke arah Lucy dan menambahkan, “Bukan berarti aku tak akan menguras tiap informasi yang kau punya sebelum itu.”

Lucy hanya menatapnya dengan takut. Tetapi dia tahu dia tidak bisa melakukan apa-apa. Harapan terbaiknya adalah mengontak atasan GOC-nya di situs lamanya untuk keluar dari sini. Sementara itu dia harus bertahan dengan interogasi Yayasan sekuat yang dia bisa. Dia menegaskan dirinya agen GOC dalam hati, dan dia akan menghadapi segalanya yang mereka berikan kepadanya.

“Apa yang terjadi jika dia tidak?”

Pintu terbuka dan masuk seorang pria. Dia mengenakan seragam serba hitam dari kemeja sampai celana panjangnya. Dan sebagai tambahan, dia mengenakan kacamata hitam berbingkai bulat.

“Kau sudah dapat informasinya, Hidayat?” Herria kini duduk tegak begitu dia melangkah masuk. “Itu terlalu cepat, bahkan untuk Pak Birmanto.”

“Kau kira pria itu membuat kontak GOC-nya terbunuh hanya untuk beberapa tangkapan kasar kamera ponsel semata?” Hidayat mendekat selagi terkekeh. “Dia memintanya memfoto seluruh basis data personel aktif GOC untuk Kalimantan dan Jawa. Jika kau ingin memfoto daftar SCP Yayasan, kenapa kau tidak foto seluruh serinya termasuk punya pusat jika bisa?”

Dia menyerahkan map dokumen yang dipegangnya ke Herria, yang segera dibacanya dengan seksama. Tetapi perlahan, dia terlihat bingung dan mulai membolak-balikkan kertas dokumen di tangannya.

“Pak Hidayat,” Herria berkata seraya menyerahkan kembali dokumennya. “Selain dokumen kelulusan ICSUT Singapura, Ini dokumen kita semua di dalam sini.”

Hidayat hanya terkekeh seraya mendorong kembali dokumen di tangan Herria sambil berkata, “Baca kembali bagian tanggal untuk dokumen ICSUT dan dokumen headhunting Yayasan, sampai penugasan ke Situs-84.”

Herria membaca bagian yang dimintanya kembali. Akhirnya dia berkata pelan untuk memastikan, “Semuanya berdekatan.”

Hidayat mengangguk. “Ya, dia tidak pernah ditugaskan di fasilitas GOC sedikitpun dan langsung dikirim ke Situs-84.”

Dia menoleh ke arah Lucy yang sedari tadi menatap mereka dengan seksama. “Kapan tepatnya kau direkrut secara ofisial oleh GOC?”

Lucy mulai mencoba mengingat masa lalunya. “Seingat saya… setelah lulus saya langsung disuruh ikut penanggungjawab saya. Saya cuma ingat pernah menandatangani beberapa dokumen darinya saat sudah di Situs-84.”

Herria terlihat bingung mendengar itu dan menatap ke Hidayat seraya berkata, “Ingatkan aku kamerad, mereka dapat pelatihan espionase dan briefing apa pun dulu kan seharusnya di fasilitas GOC tempat mereka ditugaskan?”

Hidayat hanya mengangkat bahu seraya terkekeh. “Pengetahuanku mengenai mereka sama denganmu, Herria. Jadi ini antara semua cerita yang kita dengar mengenai agen ganda GOC itu palsu, mereka memakai metode baru dengan seluruh operasi GOC-nya dilakukan di fasilitas Yayasan, atau ini kasus yang unik, bukan?”

“Tetapi tentu saja,” Hidayat kini kembali menoleh ke arah Lucy yang masih memperhatikan percakapan mereka, meski kini terlihat agak bingung. “Kita bisa memulai interogasi kita dengan bertanya, siapa penanggungjawabmu di Situs-84?”

Lucy menelan ludah. Dia tahu mereka akan memintanya membocorkan informasi. Tentu saja, dia sudah menyiapkan dirinya. “Aku tak bisa menyebutkan itu.”

“Oh, kau mau melakukannya di sini?” Herria meneguk habis botolnya sebelum berdiri. Bale tersenyum di balik masker gasnya dan ikut berdiri juga. Mereka perlahan mendekati Lucy. Lucy sendiri terlihat siap, dia sudah bertekat akan menahan interogasi mereka selama mungkin.

Tetapi mereka berdua dihalangi Hidayat yang membentangkan tangannya. “Biarkan aku, tuan-tuan.” Dia berkata untuk menenangkan mereka. Dia kemudian menoleh ke arah Lucy, menunjukkan senyum misterius yang dulu pernah dia lihat saat Hidayat ada di messnya.

“Bagaimana jika ku berikan sesuatu jika kau mau memberitahukan siapa atasanmu di sana?”

Lucy menggeleng, “Maaf, tapi aku tidak perlu uang kalian!” Dia menolak keras.

Tetapi Hidayat hanya terkekeh selagi menggeleng. “Bagaimana dengan bukti bahwa kau tak pernah direkrut GOC?”

Ruangan hening selama beberapa saat. Lucy merupakan yang pertama bertanya, “Apa?”

“Kau mendengarku. Itu tawaranku.” Hidayat mengangkat bahu seraya melangkah mundur.

“Tunggu, Hidayat. Apa yang kau bicarakan?!” Herria ikut bertanya heran, tetapi Hidayat hanya diam dan tetap tersenyum ke arah Lucy.

Lucy sendiri memikirkan maksud perkataan pria berkacamata hitam di depannya. Dia menggeleng beberapa kali, berpikir bahwa ini pasti semacam trik Yayasan. Dia melirik ke arah dokumen yang Hidayat pegang. Sayangnya rasa penasaran adalah umpan sempurna bagi Lucy.

Lucy menelan ludah kembali, dia bisa bilang mereka menyiksanya untuk ini.

“Atasanku Peneliti Senior Robert Shaw.” Lucy berkata pelan.

Di luar dugaannya, terdengar umpatan kesal memenuhi ruangan. Bale jelas terlihat kesal di balik masker gasnya, Herria hanya menepuk dahinya, sedangkan agen yang tadi menghentikannya sepertinya berhenti bersandar dan perlahan tertawa. Hidayat sendiri terkekeh kembali.

“Keparat itu yang jadi atasanmu?!” Bale bertanya kesal kepadanya.

“Haha, dia ternyata memang tak mengganti namanya sejak itu…” Agen di ujung ruangan menggeleng selagi tertawa.

“Apa… kalian mengenalnya?” Lucy jelas bertanya dengan heran setelah melihat reaksi mereka.

“Ya, kau orang ketiga yang dibuangnya di sini.” Agen di ujung yang menjawab. Dia melangkah mendekati Lucy. “Perkenalkan, aku Aliman, tapi dulu dipanggil Agen Harmonika saat masih di GOC. Dia yang mengirimku ke tempat ini.”

“Tunggu, kau juga agen GOC??” Lucy bertanya heran, tetapi sesuatu terlintas di ingatannya karena nama panggilannya terdengar familiar. “Sebentar, Pak Robert bilang kau MIA di Situs-79!”

“Ya, karena dia membuangku di sini.” Aliman berkata, kali ini dia terdengar kesal. “Aku ditugaskan untuk mendampingi pria itu, tetapi dia malah mengirimku untuk tugas reconnaissance di Situs-79.”

“Kalian juga tahu kalau dia juga GOC?” Lucy bertanya heran ke arah sisa personel Yayasan.

Herria menatap ke arah Hidayat. “Yah, kami tahu.” Hidayat hanya mengangkat bahu. Sayangnya jelas terlihat bahwa mungkin cuma dia yang tahu tepatnya. Mungkin juga tidak, sulit menebaknya dengan kacamata hitamnya.

“Aku sumpah akan ku kumpulkan semua personel di auditorium dan cek satu-satu jika aku diizinkan melakukannya…” Herria bersandar di mejanya. “Apa ada agen ganda lain yang harus ku ketahui, Hidayat? Apa itu semacam pengetahuan dilarang?”

“Menggelikan…” Bale berkata pelan.

Dia awalnya tak menyadari Aliman ikut mengatakannya juga.

Baik Herria dan Bale menoleh kembali ke Aliman dan menatapnya. Setelah keheningan tak nyaman selama beberapa saat, Herria mengibaskan tangannya dan berkata, “Ah ya, dia pernah bekerja dengan Robert, bukan. Tentu saja.”

“Ya, sepertinya kode tetap berlaku bahkan setelah kau berhenti bekerja dengan mereka.” Bale mengangguk mengerti.

“Heh, aku baru tahu itu.” Aliman terkekeh.

“Tunggu,” Tiba-tiba Lucy berkata. “Jadi ada apa dengan Pak Robert tadi?!”

“Oh ya,” Herria menoleh kembali ke Lucy, “Singkat saja, dia agen ganda Insurgent. Jika tebakanku benar, kau tak pernah direkrut GOC; kau direkrut Chaos Insurgency”

“Yang benar saja! Kau kira GOC semudah itu membiarkan seorang biadab Insurgent menjadi personel mereka??” Lucy membantah keras.

“Entahlah, kau korban ketiganya. Kau mau menunggu yang keempat?” Bale membalas.

“Yang benar saja…” Lucy tak sanggup berkata-kata lagi. Dia hanya bersandar di dinding sebelum perlahan duduk, memikirkan itu semua.

“Jadi, dia tak pernah terdaftar di basis data GOC kalau begitu?” Herria berkata selagi kembali membaca dokumen di tangannya.

Hidayat menggeleng. “Kecuali itu tersedia untuk jajaran tinggi mereka, tidak ada info mengenainya di dokumen basis data dari Birmanto.” Dia berkata. “Selain sebagai lulusan mahasiswa hukum di ICSUT, Dia cuma terdaftar di organisasi kita.”

Herria mengangguk mengerti. “Tak ada kontak dengan GOC kalau begitu…” Dia perlahan melirik ke Lucy di lantai. “…Yang artinya dia personel Yayasan seutuhnya, dan hukuman eksekusi berlaku untuknya.”

Lucy jelas terkejut dan tanpa sadar mencoba menjauh dengan ekspresi takut. Tapi Hidayat tanpa disangka melangkah di antara mereka dan berkata, “Kesalahannya harus ditentukan dulu olehku sebagai HR sebelum kau memberikan hukuman, Herria.”

“Huh, jadi apa pendapatmu?” Herria bertanya heran.

Hidayat menoleh ke arah Lucy di lantai. “Apa saja tugas yang kau lakukan atas nama GOC?”

“T- Tugasku cuma dikirim ke sini untuk menangani Zakaria! Mereka menjanjikan ekstraksi begitu dia ku konfirmasi tewas.” Lucy menjawab dengan gugup.

Hidayat tersenyum, “Karena Bale masih hidup, anggapannya misimu belum selesai. Kau tidak terdaftar di GOC, artinya kau personel Yayasan. Dan dengan kau memberikan nama atasanmu yang kebetulan masih personel Yayasan juga, aku bisa menganggapmu sebagai suruhan semata, yang artinya hukuman terburuk yang kau dapatkan untuk percobaan pembunuhan atas perintah personel lain adalah…”

Dia mendekati Lucy yang menatapnya dengan takut. Refleksi kacamata hitamnya hanya menunjukkan ekspresinya yang berkeringat dingin dengan mata terbuka lebar.

“…pengasingan ke Situs-79.” Dia berkata dengan tersenyum. “Selamat datang di Situs-79.”

“…Hah?” Hanya itu yang keluar dari mulut Lucy seraya dia menatap tak percaya kepadanya.

Herria menutup mukanya, “Apa boleh buat…”

“Tunggu, bukankah kalian terlalu ringan dalam memberinya hukuman?” Kini giliran Bale yang berkomentar. Dia jelas terdengar kesal.

“Maaf dokter, tapi Lucy dari awal dan masih dihitung sebagai personel Yayasan. Sayangnya kau Insurgent duluan sebelum Yayasan, atau GOC.” Herria menjawabkan, meski dia tidaklah peduli akan hal itu.

“Kalian… serius tak melakukan apa pun denganku?!” Lucy memotong, masih tak percaya akan keputusan yang diambil mereka. “Yang benar saja, setelah semua ancaman tadi? Tidak ada hukuman?”

“Kau menginginkannya?”

Lucy menggeleng cepat dan diam tanpa sepatah kata segera. Persetan logika, keselamatannya terdengar lebih menggoda.

“Oh, kami tetap perlu sesuatu denganmu.” Hidayat berkata, “Kami perlu kau untuk atasanmu.”

“Pak Robert, kan?” Lucy mengonfirmasi.

“Menurutmu dia sendirian di Situs-84? Kita punya dua belas di 79, atau mungkin sebagian dari mereka ada di sana sebenarnya…” Giliran Herria bertanya.

Lucy jelas tidak tahu itu. Herria melirik ke samping dan bertanya, “Hidayat?”

Hidayat sendiri membenarkan kacamata hitamnya, “Satu-satunya cara mengetahuinya tentu dengan menangkapnya hidup-hidup. Tetapi kita tidak mungkin mengontak 84 untuk itu, mengetahui kemungkinan adanya agen mereka di sana…”

“Kau menyarankan operasi gelap?” Herria segera menanggapi. “84 memang situs saudari, tapi pertahanan mereka seingatku dididik Pak Birmanto sendiri.”

Hidayat diam mendengar itu seakan dia memikirkannya. Tetapi kemudian dia menepuk tangannya tiba-tiba dan berkata, “…Itu artinya kita perlu saran dia, bukan?”

Herria menghela nafas mendengar itu. Dia menoleh ke sisa personel di ruangan dan berkata, “Baik… kalian tunggu di sini sebentar dan awasi si Lucy itu. Dan si dokter juga. Dan… sejujurnya Hidayat, awasi mereka semua. Kau kepala SDM, kan?”

Dan dengan itu dia berjalan pergi ke luar ruangan, meninggalkan mereka semua dalam keheningan canggung.

Bale melirik ke arah Lucy, yang tengah menunduk mengamati borgol di tangannya. Ekspersinya tidak bisa ditebak. Dia cuma termenung menatapnya. Sejujurnya dia tidak sempat berpikir betapa nyarisnya sebelumnya tadi. Dia benar-benar tidak menduga perempuan sepertinya lah yang dikirim Insurgent untuk membersihkannya. Terlebih dia adalah penembak lengkap dengan senjatanya. Dirinya tidak memiliki rompi, hanya dua buah kapak yang bagus cuma dalam jarak dekat.

Jika saja dia tidak melihat Aliman tengah bersandar selagi memainkan harmonikanya di samping lift barang, tembakan terakhirn Lucy di lantai akan membunuhnya tanpa saksi mata. Tanpa sadar dia menepuk tangannya, mendapatkan perhatian personel lain termasuk Lucy.

“Harus ku akui, kau terlatih untuk membunuh.” Bale berkata ke arah Lucy.

“Ti…” Lucy hendak membantah, tetapi dia kembali menunduk. Selama ini pikirannya sudah kacau memikirkan terlalu banyak hal. Tembakan pertama dan keduanya ke arah Bale adalah reflek semata, tetapi begitu Bale lari, dia memutuskan untuk mengejarnya. Awalnya pikirannya hanya ingin distraksi, dia ingin melakukan sesuatu, dia ingin melampiaskan kesedihan dan kemarahannya dengan melakukan sesuatu dibanding cuma duduk diam dan meratap semata.

Tembakan ketiga di lift, dia merasa sudah terlambat untuk mundur. Dia di sini, bersama target yang selama ini dicarinya, dan dia tahu targetnya berbahaya. Dia hanya bisa fokus untuk bertahan hidup sampai salah satu diantara mereka tumbang.

Yang Bale tidak tahu adalah, saat dia berbaring di lantai dan Lucy berdiri di depannya, dia melepaskan tembakan keempatnya. Dia sudah membulatkan tekatnya, dia berniat menyelesaikan misinya sebagai agen GOC sebagaimana identitas aslinya.

Tetapi tidak ada yang keluar dari larasnya, karena tidak ada peluru lagi yang tersisa di revolvernya. Lucy tak percaya akan hal itu dan hanya menatapnya di lantai selama beberapa saat sampai senjatanya diambil agen berpenutup kepala tadi.

Dan kini dia diberitahukan bahwa selama ini dia dipekerjakan oleh Insurgent, organisasi yang dulunya menyebabkan dia berada di situasi ini sejak awal. Dia sedari awal adalah personel Yayasan yang berpura-pura menjadi agen GOC, bukanlah sebaliknya.

Mungkin inilah bagaimana cara mereka menjebak ayahku dulu…

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, memecah keheningan panjang di dalam. Herria melangkah masuk seraya berkata, “Pak Birmanto bilang kita bisa menyusupkan agen saat transfer SCP-022-ID ke Situs-84 nanti.”

“Pilihan bagus, kau bisa otorasikan izin keluar situs kepada penjaga dengan alasan pengamanan untuk layangan itu.” Hidayat berkomentar.

Tiba-tiba sebuah tangan terangkat, “Pak Herria, boleh aku izin ikut juga? Aku punya urusan personal dengan pria itu”

“Agen Senior Aliman… kau terhitung sebagai personel keamanan, bukan? Jadi yah… bisa.” Herria membalas. “Segera ke atas dan siap-siap. Kau mungkin akan kujadikan kepala tim mengingat agen lapangan senior kita terpangkas habis…”

Gladly.” Dia membalas singkat sebelum keluar ruangan dengan cepat.

Herria lalu berbalik dan menatap kembali sisa personel di ruangan. “Sekarang kita menunggu.”


“…Mengapa seekor gagak seperti sebuah meja tulis?”

“Kenapa lu tak pernah ngasih tahu apa jawaban kode autentifikasi situs sialanmu itu?”

“Kenapa kita masih belum masuk ke dalam kalau begitu?”

“Yah…”

Situs-84 tengah sibuk akan aktivitas malam itu. Meski sudah ada beberapa mobil terparkir di halaman rumah sakit besar itu, mereka sudah menghentikan penerimaan pasien baru sejak dikontak oleh Situs-79.

Kini agen situs tersebut sudah tiba menggunakan sebuah truk pengangkut berwarna hitam, hanya dikawal sebuah mobil hitam semata. Agen mereka separuhnya habis karena barang bawaan mereka semata. Mereka tengah berbicara dengan personel keamanan Situs-84 yang berani mengenakan seragam keamanan Yayasan saat keluar bangunan, mengetahui situs sudah diamankan dari sipil untuk transfer.

Tetapi mereka terlalu percaya diri akan hal itu sehingga mereka tidak menjaga perimeter, tidak mengetahui di jalanan sudah terparkir deretan mobil box berwarna putih pucat di seberang bangunan. Dan di dalam tiap mobil box tersebut, puluhan mata tersembunyi di balik kegelapan kotak kontainernya menatap ke arah rumah sakit di depan mereka.

“…Kita tungguin mereka kelar dulu di dalam.”

Kronik Situs-79

Bab 8: Dunia Imaginer(1)
« Waktu Bermain Adalah Saatnya Jatuh | Obat Gemetaran Baiknya Teh di Tangan | Nyaris Terlambat untuk ke Pesta »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License