Dan Benar, Bergelora, dan Berbahagialah Hari itu!
rating: 0+x

Rintik hujan membasahi wajah Lucy yang terbaring di tanah. Lucy membiarkannya membasuh dirinya. Dia ingin hujan membasuh segalanya: nodanya, lukanya, masa lalunya, warna rambutnya, bahkan ingatannya.

Tetapi tentu saja, tak satu pun yang benar-benar bisa membersihkannya. Lucy tahu itu, tetapi pilihan apa lagi yang dia punya.

Perlahan dia mencoba duduk. Lengan yang dipakainya untuk menopang badan terasa sakit. Hujan bahkan tak mampu membersihkan noda kemerahan di lengan kemejanya. Tak ada yang bisa dia lakukan untuk menghapus segalanya.

Dia dapat mendengar di balik hujan yang mengguyur, suara keributan yang dihasilkan para agen yang mengikutinya. Operasi mereka masih berlangsung di dalam sana, tak memedulikan badai di luarnya.

Lucy berhenti memikirkan itu. Dia perlahan mencoba berdiri. Rasa sakitnya saat ini dijadikan distraksi agar tak dapat memikirkan hal lain. Meski pelan, dia mampu menggerakkan kakinya langkah demi langkah.

Dan melangkahlah yang bisa dia lakukan. Melangkah masuk ke dalam, itu yang harus dia lakukan.

Sesuatu terlintas di pikirannya selagi dia melangkah, ‘dia harus melakukannya untuk siapa tepatnya?’. Awalnya dia menjawab untuk dirinya sendiri, yang yakin ini adalah hal yang benar. Tetapi dia sekarang berpikir, ‘benarkah itu?’. Apakah itu kebenaran yang dipercayanya, atau yang dituntun kepadanya.

Dia menjadi agen ganda karena yakin pengkhianat harus ditiadakan. Dia mengikuti Situs-79 karena yakin tirani harus dihentikan. Berpikir kembali tentang itu semua, kepercayaannya selalu diyakinkan oleh orang lain. Dia tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. ‘Apa sesuatu telah berubah terlalu jauh sampai dia tak bisa tidak menyadarinya?’.

Dia menatap tiap langkah berat yang dihasilkannya, melihat dirinya yang penuh noda dan darah. ‘Atau mungkin ini dirinya sebenarnya yang baru bisa muncul ke permukaan?’.

Dia sampai di pintu belakang kover, yang biasa digunakan untuk staf. Lucy memegang gagang pintunya. Tak ada jebakan, tak ada penguncian. Pintu terbuka seperti biasa tanpa ada halangan. Tepatnya, halangan yang seharusnya ada dalam bentuk para penjaga tengah tergeletak tak bernyawa di koridor di depannya.

Lucy tahu ini ulah Situs-79 yang bersamanya. ‘Haruskah dia bersedih, mengetahui dia awalnya bersama mereka, ataukah terus melangkah melewati musuhnya?’. Dunia tidaklah hitam putih, dan Lucy tahu itu, tetapi tepatnya dia cuma tahu teori mengenai itu. Dia ingin tahu, apakah dia di petak putih atau hitam, karena saat ini dia berdiri di atas genangan merah tanpa jawaban apakah dia harus berduka atau berdansa.

Tiap ruangan demi ruangan dan koridor yang menghubungkan, dirinya tak pernah melihat kematian sebanyak ini dan ikut perpartisipasi menambahnya. Tetapi mungkin saja, itu karena selama ini dirinya berdusta padanya sendiri. Baru sekarang dia jatuh, memecahkan topengnya. Baru sekarang, dia melihat apa yang seharusnya dia lihat. Dia adalah agen yang dikirim ke Situs-79 untuk membunuh orang, tetapi topengnya membuatnya memainkan peran peneliti tak berdosa.

Tetapi dengan topengnya terbuka, inilah dirinya sebenarnya kalau begitu. Dia pantas di Situs-79 kalau begitu.

Lucy berada di depan koridor pintu darurat sekarang, tetapi dia tak yakin dirinya dapat berjalan lebih jauh lagi. Dia besama Situs-79, jadi dia biarkan rekannya sekarang untuk menghentikan Harper. Dia merasa perlu tempat untuk benar-benar membersihkan lukanya.

Dia melirik, menyadari cahaya di samping pintu darurat. Salah satu toilet umum di lantai ini. Lucy perlahan melangkah ke arahnya.

Dia memasuki ruangan di dalam. Dengan segera dapat tercium bau darah yang kuat. Mereka memang mengalir dari salah satu bilik tertutup. Sepertinya para agen Situs-79 menyembunyikan beberapa personel di sini. Lucy tak memedulikan itu, karena dia memilih pihak yang percaya itu harus dilakukan.

Dia mulai menyalakan keran air dan membersihkan lengan kemejanya. Dia tak benar-benar membersihkannya. Dia cuma ingin mendistraksi dirinya sekali lagi.

Dia perlahan melihat ke cermin. Dia dapat melihat refleksi dirinya sekarang. Dia bukan personel Situs-84 lagi. Dia tidak ikut personel Situs-79 melawan. Dia ternyata bukanlah GOC, dia ditugaskan menyusup Yayasan, dan CI tak pernah menunjukkan eksistensinya.

Aku… siapa sebenarnya…

Dirinya berpikir seraya mengamati kaca di depannya. Saat itulah dia menyadari ada yang berdiri di belakangnya.

“Itulah… dirimu.”

Lucy tak berbalik. Dia menatap ke pantulan cermin untuk membalas.

“Kak… Heliza?”

Selain dari penampilan biasanya dengan kacamata hitam, dia mengenakan kemeja hitam yang lumayan panjang bagian bawahnya, mendekati jas. Lucy dapat melihat bahwa selain di lengannya, terdapat sedikit noda kemerahan di area dada dekat bahunya.

Dia bersandar di belakang sana, entah sejak tadi atau baru saja. Lucy tak memperhatikan, tepatnya tak memedulikan. Tetapi dia perlu distraksi, jadi sesuatu perlu dikatakan.

“Kau… ditugaskan mengawasi kami dari tim dua?” Lucy bertanya pelan.

“Nahh, tidak…” Heliza menggeleng seraya tersenyum. “Aku di tim satu bersama Birmanto.”

“Lalu… kenapa kau di sini?”

Menanggapi jawaban Lucy, Heliza perlahan menunduk seraya berkata, “I’m a squire… I’m here to inquire… what has been transpired.

“Itu tak menjawab pertanyaanku…” Lucy menanggapi kalimat khas Heliza.

“Eeh… tak perlu diseriusi. Aku di sini membawa kabar baik, kau tahu…” Heliza membalas santai. “Kami berhasil menerobos blokade.”

Lucy tak terlihat senang akan hal itu. “Jadi semua mayat di sini ulah kalian kalau begitu?”

Heliza hendak membalas cepat, tetapi dia mengamati diamnya Lucy, dia perlahan menjawab, “Sebenarnya ini semua hasil keahlianku, tetapi ku rasa kau tak terlalu mendengar itu, bukan?”

Lucy tak membalas. Heliza memandangnya, mengerti akan apa yang mungkin dipikirkannya. Dia yakin Lucy mengalami dilema mengenai seluruh operasi ini di situs asalnya. Dia harus melawan sesama rekannya. Dan di sinilah dirinya membunuh mereka.

Dia tak perlu menyalahkan dirinya sendiri untuk itu, karena itu memang tugasnya. Tetap saja, dia perlu memberikan simpati padanya.

“Aku tak sendiri kemari, tentu saja.” Heliza mencoba meringankan tindakannya sendiri. “Tetapi memang cuma mobil kami yang lolos blokade. Sisanya mungkin baru bisa kemari setelah menyingkirkan truk itu tadi dari jalan…”

“Salah satu agen yang bersamaku, kau mengenalnya. Aku tahu kalian punya sejarah satu sama lain. Kau dan agen Jerman itu.” Heliza mencoba memancing perhatian Lucy yang masih diam menatap keran. “Mau bagaimana lagi, dia memang berpengalaman menerobos pencegatan personel Yayasan”


“…Kita kedatangan boneka cadangan…”

Pintu ruang aula utama terbuka kasar, ditendang oleh seorang agen baru yang menyerbu masuk diikuti tiga agen lainnya. Mereka, agen Situs-79 yang baru datang, langsung menodongkan senapan mereka.

Dari darah yang menodai seragam mereka – meski sudah mengering – menegaskan kalau mereka merupakan personel dari tim satu yang masih segar keluar dari pertempuran utama. Mahkota daun keemasan tak lagi dipakai karena tak diperlukan, tetapi mereka tetap mengenakan atribut spesial berupa jubah merah antipeluru ekstra di punggung mereka.

“Aku… bisa mengatasi ini…”

Ermes yang sedari tadi melawan Albert menoleh ke belakang, mengamati keempat agen yang masuk. Meski mengatakan itu, tetap ada perasaan lega saat mereka tiba tepat sebelum dirinya hampir dieksekusi. Ermes tak akan mengakui hal itu, tetapi mereka semua melihat dia saja kesusahan berdiri sekarang.

Agen yang terdepan melangkah maju dan membuka helmnya. Sedikit warna pirang rambutnya terlihat dari balik helmnya. “Kau sudah pada batasnya, Ermes!” Hansel berkata tegas. Dia terus melangkah maju seraya tetap menodongkan pistolnya. “Rendra, seret Ermes mundur! Jalu, San, kalian tangani sisi kiri dan kanan lantai ini.”

Dia berdiri di hadapan Ermes yang diseret mundur oleh agen lain, berhadapan dengan lawannya tadi. “Boneka di tangan… kau Agen Albert, bukan?”

Bonekanya dianggukkan seraya dia membalas, “Ya. Aku bisa melihat kalau kau agen penting. Sayangnya aku tak memiliki persiapan untuk cadangan, sebenarnya…”

“Lucu,” Hansel membalas. “Aku persiapan Birmanto untuk pengkhianatan.”

Hansel menembak cepat boneka di tangan Albert, membuatnya menjerit kesakitan. Sesuatu tiba-tiba terjatuh dari bawah boneka itu dan menghempas lantai. Terlihat sebuah perangkat mirip remote televisi tergeletak di dekat kaki Albert selagi dia berseru kesakitan memegangi tangan – atau bonekanya – yang mulai berlumuran darah.

“Bagaimana… kau tahu-“ Ermes bertanya keheranan selagi dirinya dibantu berdiri. Dia menembaknya berkali-kali saat masih memiliki senapan, tetapi itu tak menghentikan apa-apa, bahkan gerakan Albert itu sendiri. Pria itu tak bereaksi sedikit pun dan terus terlihat menundukkan kepala seraya mengayun dengan gila bonekanya.

“Normalnya kau tembak titik fatalnya dan segalanya selesai, tetapi orang ini mampu mengabaikan seluruh luka di tubuhnya bermodal delusi semata.” Hansel menjawab sebelum Ermes selesai bicara. “Ku asumsikan remot itu yang mengendalikan seluruh senapan di sisi kita, kan?”

Hansel melihat Ermes mengangguk mengonfirmasinya. Hansel menerima jawaban itu sebelum beranjak pergi. Dia melewati Albert yang berseru kesakitan – masih melalui bonekanya meski berlumuran darah – seraya berkata, “Rendra, urus dia juga. Aku akan ke lantai atas.”

Dan dengan itu dia melangkah maju. Dia sudah mendapatkan informasi dari Birmanto mengenai situasi pada tim kedua, jadi dia tahu harus ke mana. Dengan segera dia menuju tangga darurat yang awalnya dijaga Albert tadi.


Hansel dapat merasakan getaran tiap beberapa saat selagi naik ke lantai berikutnya. Berlari cepat, dia segera sampai di sumbernya.

Onyx tengah menghindar sebisanya, melompat ke kiri dan ke kanan tanpa henti. Sebuah pertahanan terbaik menghadapi lawannya yang tengah menyerang dengan kecepatan di luar batas kenormalan. Hafi muncul dari satu sisi dinding dengan sangat cepat, menusukkan tongkat tajamnya ke arah Onyx yang lagi-lagi berhasil menghindar sebelum menghantam dinding seberang. Dan itu pun dia tidaklah menghantamnya sama sekali, dia menembusnya, menyisakan sedikit kakinya yang masih di luar dan bergetar hebat sebelum bergeser posisi. Beberapa saat kemudian dia muncul lagi dengan kecepatan serupa seakan terlontar kasar keluar.

Mengamati itu, hal pertama yang diprioritaskan Hansel adalah memprediksi arah serangannya. Setelah mengunci target, dia mengantongi pistolnya dan meraih senapan serbu sebelum segera menembak sebanyak yang dia bisa.

Hafi muncul di saat yang bersamaan dengan tembakan Hansel, mengakibatkan dia tertembak sampai terdorong jatuh.

Onyx mengambil nafas selama beberapa saat seraya menatap ke arah Hafi yang tergeletak. Akhirnya dia berdiri tegak dan menoleh ke arah Hansel yang menurunkan senapannya. “Aku tak mengharapkan bantuan, terlebih darimu.” Onyx berkata dengan nada tak senang.

“Heh, aku tak peduli. Aku cuma peduli siapa pun yang membayarku. Bersyukurlah Birmanto menugaskanku untuk jadi bantuan.” Hansel membalas remeh.

Dia melangkah mendekati Onyx yang sebisanya berdiri meski tengah terluka parah. Dia mengamati luka Onyx yang terdiri dari beberapa tikaman dan sobekan besar di area badan dan kaki. Dia tak pernah tahu batas ketahanan Onyx, tetapi sepertinya dia mendapat jawabannya sekarang. Dia kemudian mengamati Hafi yang masih tak bergerak di atas genangan darahnya sendiri. Dilihat dari dekat, sejujurnya Hansel terkesan pria selemah ini mampu membuat Onyx terpojok sejauh ini.

Dia mengamati satu hal yang sedari tadi menarik perhatiannya, sebuah perangkat besi yang terpasang di pergelangan kakinya. Dari lampunya yang menyala, perangkat itu tengah aktif. Hansel merasa dia mengenali perangkat ini dulu.

Tetapi sebelum dia dapat melihat lebih jelas, tiba-tiba Hafi merangkak menjauh secepat yang dia bisa. Dia meraih besi betonnya segera dan mencoba berdiri untuk kesekian kalinya. Onyx reflek berseru kesal seraya berlari menyerangnya segera sebelum dia berhasil.

Hafi melihatnya dengan panik, namun dia akhirnya bisa berdiri. Tetapi dengan segera dia kehilangan keseimbangannya kembali. Anehnya begitu menyadarinya, dia tersenyum ke arah Onyx dan Hansel sebelum mengarahkan salah satunya kakinya ke belakang untuk berjalan mundur.

Dan kaki itu terbenam ke lantai, diikuti dirinya yang jatuh bersamanya, menyisakan kaki satunya yang terpasang perangkat tadi di permukaan, tengah bergetar hebat seraya bergerak menjauh perlahan.

“Sial, siap-siap!” Onyx berseru seraya mengambil posisi siaga.

Sebelum Hansel sempat bicara, Hafi muncul dari tanah dengan cepat seakan terlontar keluar dan langsung mengayunkan tongkat besinya sekuat tenaga menghantam Onyx. Onyx sendiri mampu memprediksi itu sehingga dia menghindar ke samping segera.

Setelah menyerang, Hafi yang awalnya terlontar beberapa sentimeter di udara langsung terbenam kembali ke tanah begitu kakinya hendak menyentuh lantai, menyisakan kaki satunya kembali yang terpasang perangkat.

“Bangsat! Hey, Hansel! Lakukan sesuatu!” Onyx berseru seraya bersiap kembali.

Hansel memutuskan untuk tidak bicara dulu dan mulai mengambil posisi. Dia mencoba menembak kaki Hafi yang masih terlihat, tetapi tak lama baginya untuk menyadari bahwa seluruh tembakannya menembus kakinya. Meski begitu, perangkat yang terpasang di kakinya masih dapat menerima tembakkan. Hansel mengangkat senjatanya begitu menyadari hal tersebut, memutuskan untuk mengamati lebih seksama.

“Kau nunggu apa??” Onyx yang melihat Hansel berhenti menembak bertanya dengan tak sabaran.

“Aku tak bisa menembaknya.” Hansel membalas singkat, membingungkan Onyx. Setelah merasa yakin, dia baru menjelaskan, “Aku yakin yang terpasang di kakinya itu Jangkar Dimensional termodifikasi.”

“Tak peduli.” Onyx merespon tak kalah singkat. “Kau bisa menginjak siapapun yang menentangmu di situs tetapi tidak bisa menghabisi pria ini?”

Meski mendengar itu, Hansel tak melirik ke arah Onyx dan tetap fokus pada pergerakan kaki Hafi. “Aku bisa jika dia muncul kembali. Kau harus menahan serangannya yang ini.”

“Apa-“

Sebelum Onyx membalas, Hafi tiba-tiba muncul dari bawah tanah dan mengayunkan tongkat besinya secara vertikal dari atas sekali lagi. Hansel mencoba menembaknya, tetapi kali ini, entah bagaimana Hafi tak terkena tembakan seakan pelurunya melewati badannya.

Hafi tahu akan hal itu, pandangannya berfokus cukup lama ke arah Hansel sebelum dia kembali terbenam ke lantai. Serangannya sekali lagi berhasil dihindari oleh Onyx yang menyingkir ke kiri di detik-detik terakhir.

“Bagaimana bisa kau tak kena!?” Onyx bertanya dengan frustrasi, memegangi lengannya setelahnya.

“Karena memang tidak bisa! Dia intangible bahkan setelah keluar dari tanah.” Hansel menjawab. “Jadi dengar baik-baik karena ini penting. Kemampuannya unik, aku pernah melihat ini dulu!”

Seraya tetap fokus membidik dan memprediksi pergerakannya, Hansel menjelaskan, “Ada seorang taumaturgis bernama Lucius Montgomery. Kemampuannya cukup beragam, tetapi yang paling berbahaya adalah dia mampu berpindah lokasi langsung tanpa ritual apa-apa. Dia bisa memasuki kaca apa pun untuk dijadikan portal, bahkan lingkaran ritual juga bisa tanpa perlu diaktivasi. Dia bisa menyusup ke fasilitas manapun dan menghancurkannya sendirian, dan dia biasa melakukannya di pagi hari, membuatnya mendapat julukan ‘Morningstar’”

“Pria itu untungnya sudah lama tak terdengar. Tewas atau apa, aku tak tahu. Tetapi kini banyak yang mencoba mendapatkan kemampuannya. Salah satunya seseorang bernama… Luca Lorenza. Setelah rangkaian eksperimen, dia berhasil mendapat sebuah metode. Ditulis di catatannya sebagai ‘glitching’, ia merupakan sebuah metode yang di mana jika berhasil, dia mampu memaksakan dirinya menembus permukaan apapun…”

Hansel menunjuk ke arah kaki Hafi yang cukup jauh sekarang dengan moncong senapannya. “…Seperti yang lawanmu ini tengah lakukan. Entah dia berhasil atau tidak di malam itu… tetapi pria ini membantuku mengonfirmasi bahwa metodenya sendiri memang bekerja meski sepertinya itu berisiko tinggi.”

“Tetapi dia bisa ditembak, kan? Buktinya kau bisa mengenai perangkat di kakinya itu!” Onyx bertanya heran.

“Cuma itu yang bisa kutembak, tetapi kusarankan kita tak menyerang itu. Itu seharusnya merupakan Jangkar Dimensional Rūḥ al-Madyūn buatan Situs-66, meski seingatku bentuknya seperti kardus. Mungkin itu prototipe sebelum dijadikan jangkar. Fungsi perangkat di kakinya itu seharusnya cukup sederhana, mempertahankan apapun yang terikat padanya tetap di dimensi kita. Benda itu tak bisa memasuki portal mana pun yang destinasinya bukan dunia ini.” Jawab Hansel, yang sepertinya cukup berdedikasi menjelaskan panjang lebar.

“Jadi bagaimana kita mengalahkan orang ini sebenarnya??” Onyx bertanya dengan tak sabaran. Wajar saja dia cukup tegang menunggu serangan Hafi selanjutnya.

“Coba tahan langsung serangan berikutnya. Aku bisa memberikan tembakan balasan.” Hansel membalas.

“Kau ingin aku mati?? Dia sudah mempersiapkan momentum sekarang!” Onyx menolak keras.

“Momentum?”

Di saat bersamaan, Hafi muncul dari sisi kanan dinding, menusuk cepat ke arah Onyx yang sekali lagi berhasil menghindar. Begitu memasuki lantai kembali, tak lama kemudian dia kembali muncul dengan tusukan serupa dari sisi seberang dinding. Onyx menghindar sekali lagi, mengakibatkan dia berhasil masuk kembali ke sisi seberang. Hafi terus mengulang itu dengan kecepatan semakin ditingkatkannya, mungkin itulah ‘momentum’ yang dikatakan Onyx.

Hansel mencoba menembak beberapa kali. Pengalamannya bertahun-tahun menjadi spesialis kasus ini membuatnya mampu menembaknya seketika dia memunculkan kepalanya. Tetapi selain dia tak dapat ditembak beberapa saat setelah keluar, cukup sulit menembak tanpa mengenai Onyx yang menghalanginya di tengah-tengah.

“Hey, bangsat!” Onyx berseru tiba-tiba.

Sebelum Hansel bisa membalas karena yakin itu merujuk ke dirinya, Onyx melanjutkan, “Pastikan kau menghabisinya!”

Dan setelah mengatakan itu, dia mengambil ancang-ancang dengan kedua tangan yang direnggangkan, siap untuk menangkap apa pun segera.

Hafi tiba-tiba muncul di depannya dari samping. Dia menapak sekali sebelum langsung menusuk Onyx dari depan. Kali ini, Onyx bersiap menahan tusukan besi beton Hafi semampunya. Onyx berhasil menangkapnya, tetapi harus dibayar dengan dirinya ditusuk dalam di badan di saat bersamaan.

Gaya bertarung Onyx sedari dulu adalah jarak dekat. Mendekatinya hanyalah mendekati kekalahan. Jikalau pun seseorang berhasil menyerang, serangan balasan adalah kepastian. Kelemahan gaya bertarungnya cukup sederhana; jika lawannya lebih cepat atau serangan yang akan diterimanya mematikan, dia akan tamat, dan Hafi memiliki keduanya. Dia antara menghindar atau menerima serangan fatalnya seperti sekarang. Dia tahu dia tak akan mampu memberikan balasan tanpa mengambil risiko terluka parah karenanya.

Itulah kenapa langkah terbaiknya adalah menahannya agar tak bergerak, karena tanpa menunggu aba-aba, Hansel yang sudah sejak awal berlari mendekat langsung muncul dari belakang Onyx dan menembak berentet ke badan Hafi, menumbangkannya seketika.

Dia tanpa ragu menembak kedua lengan dan kaki Hafi dengan mode semi-auto senapannya, membuatnya berteriak kesakitan karenanya. Baru setelahnya dia membantu Onyx mencabut besi beton yang menembus badannya. Sebagai langkah ekstra, mereka melemparnya sejauh mungkin sampai ke ujung ruangan di belakang mereka.

“Hah…” Hansel mengembuskan nafas lega setelah selesai. “Dia lumayan susah dibunuh… sama sepertimu, kau tahu.”

“Mati sana, bangsat…” Onyx membalas. Meski mengatakan itu, dia hampir saja jatuh jika saja Hansel tak menahannya.

“Lepaskan aku… Aku harus ke atas…” Onyx masih mencoba berjalan sekuat yang dia bisa, mengabaikan seluruh lukanya yang masih segar dan mengalirkan darah.

“Tenanglah. Aku dibayar untuk ke atas juga, tetapi aku juga dibayar untuk tidak meninggalkanmu sekarat.” Hansel membalas. “Sekarang berbaring.”

Tanpa menunggu balasan, dia segera membaringkan Onyx selagi merogoh rompinya, mengambil perlengkapannya untuk menutup lukanya seadanya.

Dia tentu saja tak berniat membawa Onyx ke atas. Dia tahu tangga darurat terblokir untuk lantai selanjutnya. Dia harus mencari tangga monyet di balkon nanti setelah membius Onyx. Sayangnya dia tak tahu sebanyak apa obat bius yang diperlukannya. Lantai atas harus menunggu sebentar.


“Bagaimana bisa dia masih hidup!”

Dua kembar bersaudara Devi dan Duman tengah menyetrum Bale dengan alat setrum mereka dalam tingkatan tertinggi. Bale tentu berseru kesakitan, tetapi anehnya dia masih mampu meronta untuk keluar dari penahanan mereka berdua.

Selain rasa sakit menyengat di punggung dan dadanya, dia entah kenapa merasa sedikit panas di saku jas labnya. Dia mencoba mengingat apa yang dia simpan di sana. Dia jarang menaruh apa-apa di sana karena terakhir dia menaruh-

Mata Bale terbelalak begitu menyadari sumber panas tersebut. Dengan segera dia mendorong Duman menjauh sebelum meraih sumber panas di sakunya itu. Dia mengeluarkannya, menunjukkan sebuah belati berwarna gelap, saat ini tengah secara konstan menghasilkan percikan listrik di permukaannya.

Bale menikamkannya segera ke arah Duman, yang entah terkena kontak atau tidak – sulit mengetahuinya di tengah percikan besar yang tiba-tiba ia hasilkan – langsung membuatnya terpental menghantam dinding di belakangnya.

Menyadari itu, Bale tersenyum puas sebelum berbalik ke arah Devi, masih memproses apa yang baru saja terjadi. Sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, Bale menikamkan belati di tangannya, tetapi ditahan di pergelangan tangan oleh Devi sekuat yang dia bisa.

Devi kembali menyetrum Bale dengan batonnya, tetapi Bale hanya tertawa di tengah rasa sakitnya. “Ayo! Setrum aku!” Dia berseru bersemangat, membuat Devi semakin panik. Perlahan percikan kembali muncul di belati yang digenggamnya, Bale tak membuang waktu dan segera menyayat lengan Devi yang menahannya. Seketika Devi terpental ke samping meski tak sekuat saudaranya. Dia mengayunkan lengannya yang sedikit terbakar selama beberapa saat sebelum kehilangan kesadaran dan jatuh terbaring.

“Heh… inilah cinta, keparat.”

Bale hanya terkekeh di tengah mereka berdua, tetapi sepertinya setruman mereka selama berjam-jam menguras daya tahannya juga. Pada akhirnya dia tak sanggup lagi berdiri dan perlahan berlutut. Dia menancapkan belatinya di sela-sela keramik lantai untuk menopang dirinya dengan solid.

Dia melirik ke sekeliling. Lagi-lagi hanya dia sendiri yang bertahan di tengah ruangan sendirian, mengingatkannya pada pengalamannya dulu. Tetapi kali ini, selagi dia melirik kembali ke belati yang sekuat tenaga dia jadikan tumpuan agar dirinya tak jatuh, anehnya dia merasa dia tak sendirian.

Bale tersenyum lemah, memilih percaya dia tengah bersamanya.

Dia menatap ke arah tangga darurat di depannya. Meskipun dia ditugaskan untuk membantu tim dua menghentikan Harper, dia tidak secara spesifik diminta untuk terlibat aktif. Dia memilih diam di sini saja, mengetahui dia sudah membantu sebisanya.


“Aku… hahh… hahh… menyerah, kapten.”

Meiling terengah-engah seraya masih mengisi kembali peluru di flintlock-nya. Dia tak yakin dia bisa terus bernyanyi.

Rekannya Lukman masih terus menyanyi, meski tak senyaring di awal. Dia cuma bernyanyi untuk temponya serangannya sendiri sekarang. Awalnya memang itu efektif mengurangi performa lawannya, tetapi sekarang sepertinya sudah tak terlalu berpengaruh lagi.

Natalia kini setengah memejamkan matanya, lebih banyak menatap lantai dan pergerakan kaki dan tangannya. Dia mengurangi membidik dan memperbanyak menyerang jarak dekat. Meskipun sejauh ini dia semakin mampu beradaptasi dengan serangan Lukman, hanya dia yang tahu betapa menderitanya dirinya sekarang.

“Sialan…” Natalia menggumam.

Meski terus memukul mundur Lukman yang kini kelelahan, sebenarnya dia pun juga merasa hampir pada batasnya dan tahu dirinya harus mengakhiri ini segera.

“…Aku tak akan pernah mau mendengar lagu sedatar ini lagi…” Dia lanjut menggerutu kesal.

Saat ini satu-satunya solusi agar dia tetap bisa mood melawan adalah dengan menyamakan temponya dengan apa pun yang tengah dinyanyikan Lukman, tetapi meski mendapat harmoni, dia sangat tak menyukainya.

Saat pedangnya dan pedang Lukman kembali saling hantam dan menghasilkan percikan, Natalia menemukan titik yang tak terjaga jubah merahnya yang setebal rompi itu. Dengan tak sabar dia menunggu waktu yang tepat. Begitu pada akhir lirik, Natalia hendak menyerang seketika, tetapi pada detik itu dia merasa harus menghindar. Benar saja, Mei kembali menembak pada akhir lirik mereka, membuat Natalia harus menjauh.

“Baik, cukup sudah!” Natalia berseru kesal seraya meraih pemutar musiknya. Dia terus menghindar mundur selagi menyetel sesuatu, sampai akhirnya dia berhenti.

Lukman dan Mei melihat Natalia memejamkan matanya seraya mendongkak ke atas selama beberapa saat. Akhirnya dia menoleh ke arah mereka. “Aku tak suka menggunakan lagu OTT untuk momen seremeh ini, tetapi kalian sangaaat membuatku kesal…”

Dia perlahan melangkah pelan waspada mengitari ruangan. Lukman dan Mei ikut bergerak karenanya, mempertahankan kontak lurus menghadapinya dengan tegang. Perempuan itu jelas memakai pola baru. Lukman memutuskan untuk tetap memakai Drunken Sailor untuk patokan serangan. Meskipun kondisinya yang semakin tersudut, dia masih lumayan bersemangat karenanya.

Tiba-tiba Natalia berlari menebas liar pedang Brethenitas miliknya ke arah Lukman. Dia mengayunkannya lebih cepat dari ritmenya, membuat Lukman harus menangkisnya sementara. Tetapi karena sepertinya Natalia berbalik kembali menggunakan lagu bebas, seharusnya ada jeda di mana dia harus berhenti. Lukman sudah mengenali pola bertarung Natalia sebelumnya itu.

Tetapi jeda yang ditunggu lebih lama daripada yang dia perkirakan. Ketika Natalia menghantamkan pedangnya dengan keras untuk kesekian kalinya, dia menekannya dan mencoba mendorong Lukman. Lukman memanfaatkan ini untuk menarik pedang sabelnya dan menyingkir sebelum menikam Natalia.

“Sayang sekali kau pada akhirnya tak bisa lepas dari obsesi musikmu, jalang.” Lukman terkekeh.

Tetapi Natalia langsung mengeluarkan pistolnya dan menembak ke arah Mei. Meiling yang terkejut berhasil menghindar dengan reflek, tetapi Natalia terus menembak, mengabaikan tikaman Lukman yang semakin dalam, sampai dia berhasil mengenai badan Mei yang tengah merangkak menjauh. Natalia sepertinya menggumamkan sesuatu, mungkin lirik lagu yang didengarnya, tetapi Lukman lebih fokus ke Mei yang reflek berseru kesakitan.

Oleh karena itu, dia tak fokus pada Natalia yang membuang pedangnya untuk memukulnya dari jarak dekat. Satu hal lagi yang di luar dugaan Lukman, pukulan Natalia sangat menyakitkan dan dia ahli dalam mengayunkannya. Tak berselang lama dia tersungkur jatuh setelah menerima pukulan telak di dagunya.

Dia menatap Natalia yang masih menggumam dengan senyum puas seraya meraih kembali pedang Brethenitasnya. Dia melangkah pelan dan berirama ke arah Lukman yang mencoba merayap mundur.

Natalia langsung saja menusuk badan Lukman dengan pedang seraya menginjaknya untuk mendekat. “And I know, I know it's not your time,

Lukman mencoba menoleh ke belakang sebisanya, hanya untuk menyadari Natalia menusuknya menggunakan pedang sabelnya sendiri. Pedang Brethenitasnya sudah disimpannya di sampingnya. Dia menikam lebih dalam Lukman dan membuatnya berseru kesakitan juga. “But bye-bye~

Baru setelahnya Natalia berdiri menjauh dari badannya, membiarkan pedang Lukman tertancap di badannya sendiri. Dia melangkah mundur perlahan seraya mengamati Lukman yang perlahan tak lagi bergerak. “Inilah kenapa aku gak suka make lagu bagus gini, matinya kecepetan…”

Dia kemudian meraih perangkat pemutar musiknya dan memainkan lagu baru seraya melangkah pergi. Dia tidaklah peduli nasib mereka berdua apakah masih hidup atau tidak, yang penting mereka sudah tak bangun lagi.

Dia berjalan menuju tangga darurat. Begitu sampai, dia melirik ke tangga menuju ke lantai atas. Dia menatapnya selama beberapa saat. Tetapi kemudian dia berbalik dan mengambil tangga turun. Dia masih punya tugas lain selain mengurus penyerbuan ini.


Hilda tengah duduk terpejam, bersandar di dinding di belakangnya. Dia meraba rompinya, mengetahui terdapat beberapa vial berisi cairan putih di sana. SCP-088-ID, Harper berhasil mendapatkan stok untuk itu dari salah satu situs yang bekerja sama dengannya. Dia dan personel lain disarankan meminum itu jika terluka parah. Jelas secara tersirat Harper mengharapkan mereka melanjutkan pertarungan sampai tewas, tetapi tentu tak peduli betapa butanya loyalitas mereka, tak akan ada yang mau melakukannya. Kecuali mungkin orang-orang gila yang Harper bebaskan di bawah.

Dia secara samar mendengar suara langkah kaki mendekat. Dia punya dua tebakan siapa itu. Begitu dia melirik, dia mendapat jawabannya.

“Kau tak meminum botol itu?”

Harper melangkah mendekatinya yang masih meneteskan noda kemerahan menggenang, sedikit menginjaknya seraya dia mendekat.

“Kau pun tak akan meminumnya juga, bukan?” Hilda membalas.

Harper tak menjawab, karena mereka berdua tahu jawabannya. Dia perlahan melangkah menjauh. Hilda memutuskan untuk berkata kembali, “Kau mau ke mana?”

Harper berhenti dan membalas, “Mengambil amunisi tambahan. Aku akan bertahan di atap sesuai rencana.”

Hilda diam sejenak mendengar jawaban Harper. Dia mendongkak ke atas seraya menatap ke langit-langit. “Kau tahu, aku kembali berpikir. Menurutmu…. Apakah ini semua memang benar-benar sepadan? Pertama Lucy…. Lalu Situs-79 dan situs kita…”

Tetapi Harper sudah lama berlalu. Hilda hanya menghela nafas seraya menggeleng melihat sikapnya.


Meski beranjak pergi meninggalkannya, Harper mendengar setidaknya setengah yang Hilda tanyakan. Dia punya jawaban sebenarnya, tetapi dia tahu Hilda tak akan menyukainya. Jadi dia memutuskan untuk turun dulu seraya memikirkan jawaban alternatif.

Ini sepadan, tetapi alasannya hanya masuk akal baginya.

Dia tak ingin lagi ditatap rendah. Kini dirinya yang melihat Lucy jatuh di bawah. Cahaya kebenaran yang menyilaukannya dulu kini telah diinjaknya padam. Kini dia yang akan melihat keputusasaan personel Situs-79 begitu dia menerbangkan rudal-rudal miliknya ke situs mereka. dia yang akan tertawa di akhiran Ini yang selama ini dia inginkan.

Bukan?

Dia tahu. Dia tahu Lucy tak pernah memedulikannya sebagai teman. Setidaknya dia bisa mendapat perhatiannya sepenuhnya sebagai seorang lawan sepadan.

Dia juga tahu, entah kenapa dia merasa sedih telah menghabisi Lucy seperti itu. Dia tak pernah memahami obsesinya dulu padanya. Dirinya yang lemah itu terpana akan cahayanya, tetapi tiada bisa meraihnya. Dia mencoba memakai pendekatan sejatinya kalau begitu, tetapi dia pun tak bisa memaksanya berhenti sekarang.

Hukum itu buta, balas dendam gelap matanya. Tak peduli apa justifikasinya, dia akan tetap kehilangannya.

Itulah alasan sebenarnya dia ingin bertahan di atap. Tak ada lagi makna dan jalan lain selain mengakhiri dirinya. Dia setidaknya bisa sekali lagi satu langkah di atas situs yang merenggutnya.

Jika saja Lucy tak pernah ke sana, mereka berdua mungkin tetap memakai topeng mereka dengan Bahagia. Tetapi semua kartu telah dibuka sekarang, sudah waktunya mengakhiri permainan.

Sudah waktunya mengakhiri mimpi buruk ini selamanya.


Hilda mendengar suara langkah kaki mendekat kembali dari bawah. Harper kembali ke lantainya. Selain amunisi, dia juga membawa pedang sabel Agen Senior Lukman. Hilda bisa menebak nasib dia dan istrinya dengan melihat itu.

Harper terus berjalan melewati Hilda. Fokus menatap ke depan seakan itu satu-satunya tujuan hidupnya.

BANG

Tiba-tiba Harper merasakan sakit di salah satu kakinya sebelum kehilangan keseimbangan dan jatuh. Dia segera melirik ke belakang, mendapati Hilda menodongkan senapan runduknya yang masih mengeluarkan asap ke arahnya.

“Apa- kau mengkhianatiku??” Harper berseru marah.

Hilda hanya tertawa pelan dan serak. Baru dia menjawab, “Sekarang baru kau mendengarkanku… Jadi dengar baik-baik.”

Hilda menegakkan senapan runduknya sebagai tumpuan. “Harper, kau dulu merupakan ketua paling inkompeten yang pernah ku lihat… tetapi kau selalu melakukan apa yang benar. Itulah kenapa aku selalu membantu mendorongmu dari belakang.”

“Bukannya sudah ku bilang, ini-“

“Dengan cara yang benar.” Hilda memotong Harper yang hendak membalas dengan kesal.

Harper diam sejenak. Dia memutuskan untuk mencoba berdiri seraya menodongkan pistolnya ke arah Hilda. “Kau tahu tak akan ada yang berubah jika bukan aku yang mengubah pendekatan seperti sekarang.”

“Heh… alasan yang sama kenapa aku menembakmu.” Hilda membalas. “Aku tahu… kita sudah terlalu dalam, tetapi setidaknya aku bisa memperlambat rencanamu walau cuma beberapa menit saja.”

Harper mengamati Hilda yang masih memegang senapannya, mewaspadai jikalau dia menembak lagi. Dia melangkah mundur perlahan selagi menahan rasa sakitnya. Meski begitu, dia terkekeh pelan. “Heh… jika aku benar-benar masih hidup besok, akan kuurus pembangkanganmu nanti.”

Hilda tertawa pelan setelahnya. “Oh, takutnya~”

Harper hanya menggeleng, tetapi entah kenapa dia tersenyum. Meski begitu, dia tetap fokus pada tujuannya dan dengan segera berjalan secepat yang dia bisa begitu sudah cukup jauh dari jarak pandang Hilda.

Dia entah kenapa ingin mencoba sekali lagi, mencoba percaya pada nasib.


Heliza sudah menatap Lucy yang diam memandangi wastafel selama setengah jam lebih. Dia tak tahu harus mengatakan apa lagi padanya, tetapi dia masih tak nyaman meninggalkannya sendiri di sini setelahnya tanpa mengubah apa-apa.

Jadi dia rasa sudah saatnya giliran Lucy yang bicara, “Apa yang tengah kau pikirkan sebenarnya?”

Awalnya Heliza mengira dia akan menunggu lama untuk balasan, tetapi Lucy dengan pelan menjawab, “Aku punya banyak… banyak yang kupertanyakan…”

Dia menatap ke arah cermin, menatap dirinya sendiri. “Ketika fondasi identitasmu adalah kebohongan… ketika itu dirobohkan, apa yang tersisa? Apa yang selama ini kulakukan dengan asumsi untuk kebaikan, ternyata hanyalah langkah yang diberikan untuk kepentingan lain. Pada akhirnya kebenaran memang kabur kembali menjadi abu-abu. Akhirnya ku tak bersama siapa-siapa dan bekerja untuk siapa saja.”

“Siapa aku sebenarnya?” Lucy menggumam pelan.

Akhirnya dia terkekeh pelan sebelum melirik ke arah Heliza dari cermin dan berkata, “Maaf membuatmu mendengar ocehan tak jelasku. Aku yakin Anda punya urusan yang lebih mendesak di luar. Aku… aku di sini dulu sebelum bergabung nanti.”

Tetapi Heliza malah tiba-tiba berkata, “Lihat kembali dirimu di cermin.”

Lucy tertegun, tanpa sadar dia melihat pantulan dirinya yang berantakan kembali.

“Itulah dirimu.” Heliza berkata, “Terlepas dari segalanya, itu tetap dirimu.”

“Maksud… mu?” Lucy bertanya bingung.

“Katamu tadi, kau melakukan semua yang kau lakukan karena kau percaya itu hal yang benar, bukan? Maka itulah dirimu. Memangnya kenapa kalau kenyataan ternyata tak sesuai yang kau kira? Kau adalah peneliti yang di hari-hari pertamanya bekerja langsung campur tangan dengan urusan kotor Situs-79, dan kau mencoba membersihkannya sebisanya.” Jelas Heliza.

“Aku menembak orang, Kak.” Lucy membalas pelan.

“Apa kau punya pilihan? Jika kau punya, kau tahu kau akan memilih pilihan itu. Kau selalu tahu pilihan apa yang paling baik tergantung kondisinya.” Heliza meyakinkan.

“Aku pernah salah memutuskan pelaku, Kak.” Lucy kembali membantah.

“Dan kau tahu itu dan segera memperbaikinya. Kau selalu berusaha mencari kebenaran yang sebenarnya.” Heliza semakin menekankan.

“Aku pembohong, Kak!” Lucy berseru kesal. “Aku Insurgent! Ditugaskan ke Situs-79 untuk mengeksekusi target mereka semata!”

Hening selama beberapa saat. Lucy menahan kedua tangannya agar tak bergetar dengan memegang erat wastafel di bawahnya. Perlahan dia melirik ke arah Heliza kembali, tak tahu dia akan menjawab apa mengenai itu.

Tetapi Heliza masih tersenyum, dengan yakin dia membalas, “Karena kau tak tahu yang sebenarnya. Dan ketika kau tahu, di sinilah kau sekarang mencoba memperbaiki apa yang telah kau lakukan. Kau tak melakukan itu semua sebagai Insurgent semata, tetapi sebagai seseorang yang merasa itu hal yang benar.”

Dia menunjuk ke arah cermin sekali lagi, “Terlepas dari segalanya, itu tetaplah kau. Lucia Amelia, peneliti Yayasan. Tak ada yang berubah.”

Lucy melirik ke pantulannya sekali lagi, memikirkan perkataan Heliza sekali lagi. Tanpa sadar, dia merapikan rambutnya dengan tangannya yang masih basah. Dia meluruskan tiap bagian yang kusut dan tak rapi. Baru dia benar-benar membersihkan kedua lengan jasnya. Dan dia semakin cepat dalam melakukannya.

“Kak Heliza,” Lucy berkata, kali ini dengan tegas. “Harper berencana menembakkan rudal dari Situs… 118 ke arah Situs-79. Anda harus temukan rudal itu dan sabotase peluncurannya.”

“Eeh, kau serius?!” Heliza terkejut mendengarnya. “Albert sialan… Tunggu, aku sudah mengelilingi perimeter kover beberapa kali! Dia tak memiliki persenjataan seperti itu!”

Lucy berpikir cepat, Harper pasti menaruh sesuatu seperti itu di luar, idealnya tempat luas seperti di belakang situs.

Atau di depan.

“Mungkin dia menyembunyikannya di salah satu tenda di luar?” Lucy mencoba menebak.

Heliza tertegun, akhirnya dia membalas, “Terimakasih informasinya!” sebelum segera meraih ponselnya. Selagi dia menelpon, dia menyempatkan bertanya, “Tapi bagaimana denganmu?”

“Aku akan kembali ke atas,” Lucy berkata seraya berbalik. “Menyelesaikan-“

Tetapi begitu mengambil langkah, Lucy langsung terjatuh seraya meringis kesakitan. Rasa sakit dari seluruh badan terutama kakinya kembali mengalir di saat yang tak diinginkannya. Lucy mencoba berdiri meski dia bisa merasa tangannya gemetar untuk menahannya semata.

“Kau tak apa?” Heliza bertanya. Dirinya hendak maju menolong tetapi dia sendiri tiba-tiba tersentak dan diam sebelum kembali bersandar di dinding, entah kenapa dia terlihat menahan sakit juga.

“Aku… ngghh… harus…”

Lucy berusaha sekuat yang dia bisa menahan rasa sakit selagi berdiri kembali. Salah satu tangannya memegang erat wastafel di belakangnya untuk membantu itu.

“Kau tetap di sana! Biar kami yang cari peluncur rudalnya!” Heliza berkata dengan khawatir.

“Aku… harus hentikan… ngghh… Harper…” Lucy membalas. Perlahan mampu berdiri kembali menatap cermin di depannya.

“Kau tak akan mampu naik ke atas sana dalam keadaan seperti ini!” Sanggah Heliza.

Lucy tahu itu. Dia tahu betapa banyak rintangan yang dia dan timnya hadapi sebelumnya sampai dirinya ke atap sana. Membuatnya berpikir entah apa yang terjadi pada mereka sekarang, terutama pada Onyx. Pasti mereka mengharapkan dia di atas sana dan mengakhiri operasi ini. Itulah kenapa dia harus ke atas sana.

“Aku harus… naik. Walau cuma satu lantai saja!” Lucy berupaya berdiri lebih tegak, kali ini memegang pinggiran cermin di depannya. “Kau mengatakan… aku selalu melakukan… hal yang benar… bukan? Aku harus menghentikan Harper… dan menyelamatkan kedua situs kita.”

“Memang, tetapi ini lantai dasar, bukan lantai lima. Kau tahu itu.”

Lucy tahu itu. Dia sangat berharap ini kamar mandi lantai lima. Dia yakin setidaknya mampu menaiki satu lantai saja, bahkan jika dia harus merangkak begitu di puncak tangga. Hanya satu lantai saja.

Dia ingin keajaiban, tetapi dia tahu itu merupakan kemustahilan. Dia tak akan bisa ke atas sana dan menghadapi Harper sekali lagi. Di tengah rasa sakit dan frustrasinya, dia akhirnya berseru kesal dan menghantamkan pukulan ke kaca cermin di depannya.

Hanya untuk tangannya menembusnya.

Lucy tak tahu apa yang terjadi, tetapi tiba-tiba sesuatu menyeretnya masuk ke dalam cermin. Dalam sekali tarikan, dia terlempar keluar diiringi suara nyaring kaca pecah dan terguling di lantai. Dia mencoba berdiri, hanya untuk menyadari lantai keramik putih khas kamar mandi di bawahnya tengah tergenang darah.

Lucy tersentak dan mendapati mayat seorang pria berseragam kemeja putih bernoda merah tergeletak di tengah-tengah ruangan. Sebuah pedang tertancap di bagian perutnya, tetapi juga terdapat luka tembak di kepalanya. Entah yang mana yang membunuhnya.

Lucy mengamati sekeliling, dia masih di kamar mandi kover Situs-84. Tetapi seingatnya dia di lantai dasar. Dia menatap ke arah pasangan wastafel yang terpasang bersama dua cerminnya. Hanya satu yang pecah berkeping-keping tak menyisakan apa pun di bingkainya. Perlahan dia merangkak pelan, tak berani berdiri saat ini, sampai dia mencapai pintu keluar. Matanya tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia sangat mengenali tempatnya berada sekarang.

Koridor lantai lima.

Dengan perlahan dia mencoba berdiri, mencoba meneorikan apa tepatnya yang terjadi tadi. Dia mendekati mayat pria yang dilihatnya sebelumnya. Luka tembak membuatnya tak terlalu dapat mengenali wajahnya, tetapi dari seragamnya dia kemungkinan besar peneliti, mungkin dengan jabatan penting. Lucy juga baru menyadari kalau lehernya setengah tersayat.

Terdapat sebuah kacamata bingkai persegi dan sebuah amplop ditaruh di depan pria itu, sedikit terkena genangan darahnya. Lucy meraihnya dan segera membukanya, mengharapkan jawaban. Dia mengeluarkan selembar surat yang terbuat dari sobekan buku catatan.

‘Memalukan.’

Lucy tak mendapat jawaban apa pun. Dia membungkusnya kembali ke dalam amplop dan menaruhnya agak jauh dari genangan darahnya dengan hormat.

Saat membungkuk untuk menaruhnya, pandangan Lucy menangkap sesuatu di pojokan. Sebuah bilah kaca panjang bak pedang. Lucy tak yakin ini salah satu serpihan kaca cermin wastafel, ia terlalu tebal untuk itu.

Lucy meraihnya, menyadari bahwa ia memiliki bagian yang bisa dijadikan gagang selayaknya pedang sebenarnya. Meski sedikit menggores telapak tangannya, Lucy genggam ia dengan erat. Dia menggunakannya untuk membantunya berjalan, langkah demi langkah keluar dari ruangan dan menyusuri koridor.

Pikirannya terlintas kembali ke bagaimana bisa dia berada di lantai ini. Akhirnya dia dapat kesimpulan. Selamat datang di Wonderland, di mana ketidakmungkinan menjadi memungkinkan. Di mana kemustahilan menjadi kepastian.

Dimana mimpi akan jadi kenyataan.

Lucy tersenyum seraya mempercepat langkahnya. Sudah waktunya berjalan ke kenyataan itu.


“Heliza! Kau di mana! Nayla bilang kau kabur begitu memintanya mengambilkan perban!”

Suara ponsel dalam volume luar ruangan tidaklah direspon Heliza, yang tengah duduk di lantai dan terkejut akan apa yang dia lihat. Bingkai kosong apa yang sebelumnya terpasang cermin wastafel, dan ketiadaan Lucy yang sebelumnya di depannya.

“Ha… haha…” Heliza terkekeh pelan begitu tersadar. Dengan gugup dia meraih ponsel yang dijatuhkannya tadi sebelum mendekatkannya kembali untuk bicara.

“Aku… aku tak percaya akhirnya dapat melihatnya secara langsung…” Heliza berkata dengan gugup, tetapi bersemangat. “Taumaturgi tanpa inkantasi dan ukiran… murni dengan dirinya semata…”

“Heliza! Bicara yang jelas!” Suara di telepon tak memedulikan ocehannya.

Heliza baru tersentak dan tersadar sepenuhnya akan alasan dia pertama menelpon. Dengan segera dia berkata, “Eeh, maaf! Akan kuceritakan ini nanti, tetapi sekarang aku perlu kau mendeteksi lokasi agen yang lolos pertama tadi…”


Hansel masih sibuk menjahit dan menutupi kumpulan luka Onyx ketika dia mendengar suara langkah mendekat. Perlahan dia berdiri seraya menyiapkan senapan serbunya. Onyx yang masih setengah sadar ikut menoleh ke asal suara, hendak berdiri juga, tetapi Hansel segera menginjaknya di area yang tak terluka, memastikannya tetap berbaring di sana.

Dari balik kegelapan, seseorang berseragam peneliti muncul. Dia tidaklah terlihat terluka, kecuali di sekitar kerahnya. Dan begitu dilihat mukanya, ia tertutup masker gas.

“Bale.”

“Ah, jadi… kalian di sini saja.” Bale berkata dengan nada kelelahan. Begitu sampai di dekat mereka, dia kembali berlutut dan terbaring menghadap lantai.

“Bale! Kau tak terluka, bukan?!” Hansel yang terkejut melihat Bale roboh di depannya segera bertanya. Bale sendiri hanya mengangguk saja sebagai jawaban.

“Aku… tak digaji untuk ini…” Dia menggumam pelan.

Hansel menatapnya selama beberapa saat, memastikan dia benar-benar baik-baik saja sebelum mengangkat bahu dan mempercayai perkataannya. Dia kembali mengurus luka Onyx di sampingnya, mengabaikan penolakan Onyx sendiri yang masih setengah sadar.

Tetapi tak lama kemudian, Hansel kembali mendengar dengan samar langkah kaki mendekat. Langkah kaki yang cepat, dan kali ini, datangnya dari arah berlawanan.

Onyx dan Bale menyadari suara baru itu juga sehingga mereka perlahan berdiri – meski Hansel masih menginjak Onyx untuk tetap membaringkannya – dan bersiap.

Keluar dari koridor tangga darurat merupakan seorang perempuan berseragam gelap. Tetapi meski hanya Hansel yang mengetahui seragam yang dikenakannya, mereka semua mampu mengenali wajah perempuan itu.

“Pas, kalian semua di sini!” Heliza berseru senang, meski dia terengah-engah habis menaiki tangga.

“Bu Heliza?! Kenapa anda bisa di sini??” Hansel yang tahu keadaan Heliza sebelumnya tentu terkejut melihatnya. Sama halnya dengan kedua personel lain di sampingnya.

“Detail tak penting! Sekarang kalian perlu ikut aku ke bawah! Harper punya peluncur rudal tersembunyi di halaman depan sana, dan kita harus mematikannya!”

“Baik!” Hansel yang mendengar situasinya langsung bergegas. Dia hendak berlari turun segera, tetapi tiba-tiba dia teringat orang-orang di sampingnya sehingga dia menoleh.

“Turun sana. Kita akan aman di sini, kan? Ku rasa.” Bale berkata, masih terbaring menghadap lantai.

“Peneliti Bale, tolong bantu angkat Onyx turun.” Perintah Hansel seraya dia ikut mendekati Onyx untuk membantunya berdiri.

“…Aku tak digaji untuk ini…”


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Lucy kembali sampai di depan tangga. Tangga menuju atap. Dia melangkah pelan, berpegang erat pada bilah kaca kuat yang dipungutnya meski tangan kirinya berdarah karenanya.

Akhirnya dia mencapai pintu yang menghadapinya di puncak. Dia akan kembali menghadapi Harper. Sebelumnya, mungkin dia akan menganggap tak akan ada yang berubah, tetapi kali ini, entah kenapa dia tak bergetar saat memegang gagang pintu.

Kini dia yakin dia tak akan gagal.

Lucy segera membuka pintu itu dan melangkah memasuki area atap rumah sakit. Langit masih mengembuskan angin malam nan keras dan dingin. Bulan di langit masih tertutup awan tipis, masih tetap bersinar di baliknya.

Dan di sanalah Harper berada, masih berdiri diam, dan tak menyangka akan kembali melihatnya.

“Bagaimana… bisa…” Harper menggumam pelan dengan ekspresi tak percaya.

Lucy juga tak tahu bagaimana menjawabnya, karena jawabannya memang tak ada. Tetapi kalau begitu, dia cuma perlu membuat sendiri jawabannya.

Dengan senyum Lucy membalas, “Situs kita disebut Wonderland, Harper. Ku kira kau percaya akan keajaiban.”

Harper terkekeh, dilanjutkan dengan dirinya berseru, “Bangunlah Lucy! Tak ada hal semacam itu! Kau sudah tiada! Harper juga! Sudah waktunya aku mengakhiri seluruh mimpi buruk ini untuk selamanya…”

Dengan itu dia meraih radionya dan berseru, “Luncurkan saja!”

Begitu mengonfirmasi bahwa pesannya diterima, Harper menghempaskan radio itu ke lantai sebelum menodongkan pistolnya ke arah Lucy.

Tetapi Lucy tak lagi gemetar. Dia melangkah pasti ke arah Harper bermodalkan bilah kaca yang sedari tadi digenggamnya untuk membantu berjalan. “Kau tak bisa bangun dari mimpi dengan mengoyak segalanya… kau perlu orang lain untuk membantumu menerima kenyataan.”

Lucy meraih sesuatu di belakangnya, tangan kanannya mengeluarkan revolver yang selama ini bersamanya. “Aku akan menyadarkanmu sampai kau kembali seperti sedia kala, tak peduli kau menyukainya atau tidak.”

“Sudah ku bilang… diriku yang dulu hanyalah topeng semata. Dipasangkan dokter untuk membuatku diterima oleh kalian semua. Inilah diriku, sama sepertimu. Kau bukanlah Lucy yang dulu, tak ada gunanya mempertahankan topeng palsu itu.”

Kali ini Lucy menggeleng. “Aku tetaplah aku, tak peduli kebohongan apa pun yang disodorkan padaku, aku akan terus melangkah mencari kebenarannya. Itulah kenapa aku di sini menghadapimu. Harper yang dulu juga masih ada dalam dirimu. Tak peduli metodenya, dia hanya ingin… dia hanya ingin yang terbaik untukku.”

Harper diam selama beberapa saat. Akhirnya dia tetap kembali menodongkan pistolnya. “Aku sudah muak mendengar omong kosong ini… Kau benar-benar mau tahu apa yang sebenarnya kuinginkan?”

Dengan nyaring dia berseru kembali, “Aku, Agen Senior Harper Dominik, dengan ini akan menghabisimu atas dasar hukum yang buta, serta dendamku yang membara.”

Lucy tertegun mendengarnya, tetapi entah kenapa dia tersenyum. Dengan semangat yang mulai menyala dalam dirinya, dia membalas, “Aku, Peneliti Lucia Amelia, dengan ini akan mengakhiri perang dan kekuasaanmu yang merah darah!”

Mereka diam, memberi giliran untuk ujung senjata mereka yang bicara setelahnya.

“…Selamat tinggal…”

BANG

Harper menembak. Meskipun segala yang telah dikatakannya, dia tak memandang Lucy seraya dirinya menarik pelatuk. Dia tak tahu kenapa dia tiba-tiba berpaling, mungkin dia memang tak ingin melihat perempuan itu lagi seraya dia mati.

Tetapi dia mendengar suara pelan di kejauhan. Dengan segera dia menoleh dan mendapati Lucy masih berdiri. Tangannya menarik pelatuk revolvernya, membuat Harper kaget dan segera menghindar mundur, tetapi tak ada peluru yang terlontar. Harper diam keheranan di lantai.

Lucy sama sekali tak heran. Dia tahu dia kehabisan peluru, tetapi dia juga tahu, sudah waktunya dia percaya akan ketidakmungkinan. Enam lubang peluru yang kosong akan dia isi dengan enam ketidakmungkinan dalam hidupnya sebelum cahaya pagi menjelang.

Pertama, ada situs menakutkan di mana darah selalu mengalir tiap harinya.

Harper mencoba menembak kembali. Kali ini pandangannya tak dialihkan, dia menatap lurus ke arah Lucy yang masih maju menodongkan revolvernya. Tanpa ragu dia menembak kembali, tetapi seperti sebelumnya, tembakannya kembali meleset. Giliran Lucy yang menembak. Tak ada peluru yang terlontar.

Kedua, ada seorang peneliti tak berdosa yang tak sadar dirinya agen ganda.

Harper menyadari kalau tangannya lah yang gemetar di detik-detik sebelum dia menarik pelatuk. Dia menggenggam erat pistolnya dengan dua tangan dan siap untuk mengakhirinya. Jarinya menarik pelatuk dan dia menembak kembali.

Tetapi dia ternyata reflek memejamkan satu-satunya matanya. Seharusnya itu tak berpengaruh dengan bidikannya yang pas, tetapi lagi-lagi, Lucy tak terkena tembakan. Lucy sendiri kembali menarik pelatuknya, yang lagi-lagi tak menembakkan apa-apa.

Ketiga, semua tahanan bisa memperjuangkan kesempatan kedua mereka.

Harper tanpa sadar melangkah mundur, tetapi dia langsung tersadar akan itu. Masalahnya dia juga reflek menekan pelatuknya karena itu. Tembakannya sekali lagi meleset. Lucy masih maju dengan pasti, menembakkan ketiadaan bermodal harapan.

Keempat, aku bisa naik ke lantai lima dalam sekejap mata.

Menyadari dia sudah melakukan blunder terlalu banyak, Harper menatap tajam Lucy dan dengan segera menembak cepat ke arahnya dengan berteriak. Tetapi dengan tingkah laku emosionalnya, Lucy berhasil menghindari tembakannya. Dia kembali menembakkan revolver kosongnya.

Kelima, aku bisa menyelamatkan situsku dulu dan situsku sekarang.

Harper menembak kembali, tetapi setelah beberapa saat, dia menyadari tak ada lagi peluru yang keluar. Dia kehabisan peluru, dan dia tak mempercayainya. Dia menatap ke arah Lucy yang tengah menodongkan revolvernya ke arahnya. Dia tahu itu kosong juga, tak mungkin ada isinya.

Keenam… aku bisa menyadarkan temanku kembali.

BANG

Pistol terjatuh dari tangan kiri Harper seketika. Harper berseru kesakitan seraya memegangi bahunya yang terkena tembakan. Dia menatap tak percaya ke arah Lucy, yang balas menatap dengan yakin.

Setelah beberapa saat, Harper perlahan tertawa. Dia tak lagi memegangi bahunya yang mulai mengeluarkan darah. Tangan kanannya digerakkan ke belakang. Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan pedang sabel yang dia bawa. Lucy sendiri menyimpan kembali revolvernya dan mencoba berdiri tanpa bantuan bilah kaca yang dipegangnya, kini harus dia jadikan senjata.


“Bagaimana kita mematikan ini??”

Heliza dan sisa tim dua tengah menatap bingung ke arah sistem peluncur rudal Situs-118. Kabar terakhir yang dia dengar, Situs-118 dan personel gabungan secara resmi mundur dari pertempuran. Itu artinya bantuan tim satu akan datang, tetapi jelas ia akan memakan waktu. Harper pasti akan meluncurkannya begitu menyadari mereka mendekat.

Di depan mereka, panel kendali sudah diutak-atik Hansel, tetapi tak ada satu pun yang mampu menonaktifkannya. Hansel bilang dia menemukan dua lubang kunci dan selama mereka belum dimasukkan, rudal akan aktif kapan saja.

Tiba-tiba mereka mendengar suara radio berderak, berasal dari salah satu penjaga yang mereka habisi dan taruh di tanah saat masuk tadi. “Visua… konfi… masi… Pel… curan… mula… alam… sepul… detik…”

Tiba-tiba, mesin mulai memanas. Para personel yang ada tentu mulai panik dan mencoba menekan apa saja untuk menghentikannya. Tetapi tetap saja, tak ada yang bekerja.

“Tunggu,” Bale berkata, “Seseorang tolong setrum aku segera!”

Dia mengeluarkan belati yang tadi dipakainya. Heliza ingin mempertanyakan, tetapi Hansel dengan segera meraih baton setrum penjaga di tanah tadi dan langsung menyetrumnya setinggi mungkin.

Bale tentu berseru kesakitan, membuat Heliza, Onyx, dan bahkan Hansel yang tengah menyetrumnya kebingungan akan rencananya. Tetapi mereka lalu melihat belati yang dipegang Bale mulai mengeluarkan percikan listrik konstan.

Dan dengan teriakan penuh rasa sakitnya, Bale menancapkan belati itu ke panel kontrol di depannya, yang seketika terpanggang dan mengeluarkan asap. Seluruh lampu padam dan tak ada lagi suara yang terdengar.

“Luar… biasa…” Hansel tak percaya akan yang dia lihat.

Tetapi sebelum mereka bisa bertanya kepada Bale mengenai belatinya, tiga buah rudal yang terpasang di sana tiba-tiba menyala dan melesat naik ke atas. Tak peduli usaha mereka untuk menghentikannya, mereka terbang menembus atap tenda yang lemah.

“Apa… aku sudah mematikannya?? Bagaimana bisa??” Bale bertanya panik.

Hansel menoleh pasrah ke arah Heliza “Kita harus apa sekarang, Bu?”

Heliza menatap balik ke arah mereka semua. Setelah menelan ludah, dia berkata, “Kita berdoa.”


Lucy dan Harper sama-sama memegang pedang. Peluru mereka sudah habis, yang tersisa hanyalah tebasan dan tikaman jarak dekat. Lucy tak punya pengalaman bertarung jarak dekat sebaik Harper, tetapi dia tetap yakin dirinya bisa menang.

Seakan pikiran mereka terhubung, mereka berdua lari menyerang di saat yang bersamaan. Berteriak dan bersiap menghantamkan pedang mereka.

Tiga buah rudal Situs-118 melesat di samping mereka, tetapi tidaklah dipedulikan. Mereka terus melesat naik seakan tidak diberi destinasi, dan begitu mereka cukup tinggi di langit, begitu Lucy dan Harper akhirnya menghantamkan pedang mereka, ketiganya meledak di saat bersamaan bak kembang api perayaan.

Ledakannya segera tertiup angin malam, yang pada akhirnya, entah karena bantuan ledakan, meniupkan angin yang sedari tadi menutupi sang bulan. Membiarkannya bersinar terang menyinari atap lokasi pertarungan.

Lucy mencoba sekuat tenaga maju menebas Harper yang menahan pedang kacanya, tetapi dia tentu lebih kuat. Jika dibiarkan lebih lama, Harper akan membalikkan keadaan dalam sekejap mata. Tetapi dalam beberapa detik itu, dia menyadari desain model pedang sabel yang berlekuk. Dia memanfaatkannya dengan menyeret pedang kacanya keluar secepatnya sebelum menusukkannya ke dada Harper. Dan dia mampu menusuknya cukup dalam, seakan kaca itu sudah diasah sepanjang eksistensinya untuk tujuan itu semata.

“…Akkhh…” Harper merintih kesakitan. Pedangnya perlahan dijatuhkannya. Dia perlahan kehilangan kekuatan untuk berdiri, membuat Lucy memeluknya seraya dirinya mencabut pedang kaca itu keluar.

“Kau… berhasil, Alice…” Harper berbisik. “Kau mengalahkan… Sang Jabberwock… raja mimpi buruk Wonderland…”

Lucy tersenyum, meski air matanya mulai berlinang. “Selamat Hari Frabjous, Mad Hatter. Callooh, Callay…”

Waktu berlalu dengan hening di atap itu. Lucy menyeret Harper dan menyandarkannya di pinggiran pagar atap sebelum duduk bersandar di sampingnya. Dia memandangi puluhan mobil perlahan mendekati halaman rumah sakit, mengamati seluruh kekacauan yang telah mereka lakukan, mengamati bulan yang perlahan menghilang.

Dan mengamati kuning pagi yang perlahan menyebar, menyinari para pemimpi untuk bangun dari tidurnya untuk menjadikannya kenyataan.

Kronik Situs-79

Bab 8: Dunia Imaginer(2)
« Netralisir Sang Raja Pemimpi | Dan Benar, Bergelora, dan Berbahagialah Hari itu! |

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License