Waktu Bermain Adalah Saatnya Jatuh
rating: +2+x

Ruangan kantor pribadi yang gelap dan sunyi dipenuhi bunyi alarm ponsel mendadak pagi itu. Dengan ruangan tertutup itu memantulkan suara di dalamnya, secara efektif memenuhi ruangan dengan kebisingan alarm tersebut berhasil menarik perhatian pemiliknya yang segera meraih ponsel itu.

Cahaya ponsel yang menunjukkan pukul enam pagi menerangi wajah seorang perempuan muda yang awalnya tertidur di mejanya. Dia mengamati layarnya sekilas sebelum mematikan alarmnya, mengheningkan kembali ruangan gelap itu. Dia sengaja mematikan lampu ruangan begitu tugasnya sudah selesai. Lebih baik dia menghabiskan sisa waktunya dengan tidur saja meski cuma satu atau dua jam semata. Sebuah kebiasaan yang dia terapkan ssetelah beberapa minggu bekerja di ruang ini.

Dulu dia setidaknya ditemani atasannya setiap malam. Atasannya dulu tidaklah tinggal di luar situs. Dipikir lagi dia tak pernah melihatnya ke kamar messnya. Dia sebagian besar keluar ruangan untuk ke laboratorium atau turun ke lantai bawah. Atasan barunya berbeda yang di mana dia memilih untuk bersiap pulang begitu waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Itulah kenapa dia biasanya sudah di ruangan sejam sebelumnya. Dipikir lagi mungkin itulah hal yang normal dilakukan peneliti Yayasan umumnya.

Sekarang dia sendirian di ruangan dingin ini. Sudah pas dirinya melapis jas biru tuanya dengan jas lab juga untuk membuatnya tetap hangat, tetapi tetap saja saat bangun dia merasa kedinginan di tangannya. Seingatnya ruangan atasannya dulu tak sedingin ini, mungkin ada pengaturan pendinginnya untuk tiap ruangan. Dia tanyakan itu nanti.

Untuk sekarang, dia segera bangun dari kursinya dan berjalan bermodalkan cahaya ponsel ke sakelar lampu. Setelah ruangan terang kembali, baru dia bisa merapikan ruangannya. Dia menjauhkan sekumpulan barang berbahan besi seperti wadah dokumen dan nampan yang dia sengaja taruh tepat di depan pintu. Jika ada yang membobolnya terbuka, itu akan cukup untuk membangunkannya. Setelah itu dia mengecek kembali kerjaannya tadi malam selagi tinggal menunggu atasannya datang.

Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka. Seorang pria yang mengenakan jas hitam berlapis jas lab Yayasan melangkah masuk. “Pagi, Pak Louis.” Dia menoleh dan mencoba tersenyum kepadanya. Dia memang mengajaknya bicara tiap pagi mengenai tugas yang telah diselesaikannya, tetapi begitu sudah lewat seminggu beberapa hari dia memutuskan melaporkannya secara singkat, terkadang tanpa menoleh. Louis tentu saja mempermasalahkannya dan memintanya untuk menyapanya dengan tersenyum sebagai ‘asisten yang baik’. Perempuan itu sudah cukup banyak berdebat dengannya untuk mempermasalahkan hal itu.

Setidaknya Louis menerimanya dengan mengangguk meski dia tidak melihat kearahnya selagi dia berjalan ke kursinya, membuatnya bertanya untuk apa tepatnya dia melakukannya jika tidak dilihat juga.

“Tugasku sudah selesai, Pak. Sudah ku kirimkan juga.” Dia melanjutkan.

“Tidak ada insiden tadi malam?” Louis akhirnya bicara.

Perempuan itu menggeleng. “Tidak ada yang mencoba masuk.”

Louis mengangguk mengerti, meski dia tidaklah terlihat terkesan akan hal itu. “Coba saja kau bisa melawan juga, aku akan merindukan masa bebas dulu tanpa diganggu mereka…” Dia berkata, sepertinya tidak mengharapkan balasan dan cuma ingin berkomentar menjengkelkan semata.

Perempuan itu diam, mempertimbangkan apakah perlu mencoba berdebat kembali dengan permintaannya atau diam saja. Pada akhirnya dia memutuskan untuk membalas singkat,

“Yah, aku cuma peneliti, kan? Kenapa kau tak bayar lebih penjaga untuk itu?”

“Bisa, mungkin aja penjaga di luar sana lebih kompeten menjadi asisten dibandingkan kau.” Louis membalas dengan nada kesal selagi tetap menyiapkan komputernya.

Dirinya sudah merasa cukup berbicara dengannya. Karena barangnya sudah rapi sejak tadi, dia segera berkata, “Saya duluan kalau begitu, Pak.”

Sekali lagi, Louis hanya sibuk memperbaiki posisi kacamatanya selagi dia menghidupkan komputernya. Perempuan itu menatapnya selama beberapa saat menunggu jikalau ada yang perlu disampaikan sebelum akhirnya berjalan menuju pintu.

Begitu di luar dan memastikan tidak lagi mendengar komplain apa-apa dari dalam, dia mengembuskan nafas lega selagi segera berjalan menuju ke area mess. Akhir-akhir ini Louis tidaklah seburuk itu sebagai atasannya. Tetap saja, dirinya merasa dia tak akan akrab dengan cepat dengannya. Mungkin perlu waktu yang lama agar dia setidaknya tak bersikap menjengkelkan kepadanya.

Dia melirik ke deretan pintu yang ada pada koridor kantor pribadi yang tengah dia lalui. Kemungkinan besar karena sifatnya, Louis memiliki banyak saingan dengan peneliti senior lain yang menjadi tetangganya. Dia harus benar-benar berjaga tiap malam karena penjaga yang tadi dia singgung juga bisa dibayar rival Louis untuk membobol kantornya. Setidaknya sejak upaya pertama dan sejauh ini satu-satunya dirinya menghentikan mereka menyebabkan tidak adanya lagi percobaan serupa. Dia masih tetap melihat beberapa orang berseragam penjaga mengamati di kejauhan atau mondar-mandir tanpa tujuan jelas di depan ruangannya, sayangnya.

Dia memutuskan untuk ke kamar mandi dulu sebelum makan dan tidur. Dia putuskan untuk memakai kamar mandi umum di ujung ruangan yang menghubungkan area mess A dan B lantai itu. Jaraknya lumayan jauh, puluhan pintu kamar mess jauhnya. Dia merasa jalan-jalan kecil sesekali tak masalah.

Pada akhirnya dia memasuki area kamar mandi umum. Setelah beberapa saat, dia selesai dan kini tinggal mencuci tangannya di wastafel. Dia mengamati cermin wastafel di depannya seraya dia berjalan mendekat. Rambut panjang di belakangnya masih berwarna kekuningan emas, tetapi kini hanya berada di ujung saja. Rambutnya sudah mulai berwarna kehitaman kembali. Setengah tahun jelas akan menggantikan pewarna rambut yang diberikan temannya dulu.

Rambut kuning memang merupakan tren di kalangan personel perempuan di situs asalnya jika rambut mereka panjang. Sesuatu mengenai pendiri situs yang menyukainya karena mengingatkannya akan anaknya. Sekarang tidaklah banyak yang ingin repot-repot menjadikan rambutnya berwarna mencolok selama setahun kecuali para peneliti junior sepertinya dulu. Dia berpikir apakah dia perlu membiarkannya atau mewarnainya ulang nanti. Mungkin dia perlu bertanya temannya terlebih dahulu.

Sebelum merapikan rambutnya, dia menggulung lengan jasnya. Dia mengenakan dua jas, tetapi jas labnya lebih panjang dan mudah untuk digulung. Mengamati jas aslinya yang biru, membuatnya teringat akan organisasinya. Organisasi aslinya. Dia teringat akan tujuan aslinya dia berada di situs ini sejak awal. Dia tidaklah lupa selama ini, tetapi baru kali ini dia memikirkan kalau sudah setengah tahun dia berada di sini. Seharusnya dia menemukan targetnya dan pulang kembali ke situs lamanya. Kenapa dia tidak berusaha lebih keras membingungkannya.

Dia perlahan melihat ke cermin. Dia dapat melihat refleksi dirinya yang memakai jas lab peneliti Yayasan. Mungkin itulah alasannya. Selama ini dia lebih memilih mengerahkan segala usahanya untuk jadi peneliti Yayasan, ke lapangan menyelesaikan misinya, mendampingi penelitiannya. Dan itu karena dia menikmatinya, karena dia punya teman saat melakukannya, dan karena dia merasa memiliki tujuan dengan dampak baik yang nyata karenanya.

Jika dia menemukan targetnya, jika semua berjalan lancar dia akan kembali ke situs asalnya. Setengah tahun lumayan membuatnya terikat akan orang-orang di sini tetapi seharusnya dia bisa tetap mengontak mereka kedepannya. Dia hanya khawatir karena tugasnya adalah dia harus membunuh targetnya. Jika terjadi sesuatu dan kovernya terbongkar, dia jelas harus meninggalkan identitas Yayasannya. Dia harus mengakhiri permainan penelitinya.

Memiliki sentimen jelas merupakan hal bahaya bagi seorang agen ganda. Dia mulai berpikir, apakah dia akan tetap menjalankan misinya sampai akhir, ataukah dia mengambil risiko dan memulai hidup baru sebagai personel Yayasan.

Apa aku benar-benar… seorang personel Yayasan? Dirinya berpikir seraya mengamati kaca di depannya.

“Itulah dirimu!”

Dia terkejut seraya berbalik karena jelas bukan dirinya yang mengatakan itu. Di belakangnya tengah bersandar perempuan paruh baya yang mengenakan jas lab serupa dengannya tengah bersandar di bilik kamar mandi. Dari kacamata hitam dan poni rambutnya yang sengaja menutupi setengah wajahnya, dia mengenali perempuan itu.

“K- Kak Heliza, kan?” Dia berkata. Dia tidaklah menyadari dia termenung terlalu lama sampai ada yang memperhatikan.

Perempuan itu tersenyum seraya membalas, “Senang melihatmu lagi, Lucy.”

“Ah, ya. Sama, Kak.” Lucy hanya membalas dengan gugup, masih kaget dengan yang tadi.

“Jadi,” Heliza mulai bicara, “Kenapa kau menatap cermin itu dari tadi? Ada yang salah dengan bayanganmu?” Dia berkata seraya terkekeh mengamatinya.

Entah apakah itu candaan atau Lucy harus mulai mengkhawatirkan itu, tetapi Lucy dengan cepat membalas, “Ah, tidak. Cuma kepikiran aja mengenai penelitian pak Louis.”

Sekilas Heliza mengamatinya seakan dia tahu bukan itu alasannya termenung, tetapi dengan cepat dia tersenyum dan berkata, “Baik, aku duluan ya.”

“Ya, tentu…” Lucy berkata pelan seraya mengamati Heliza buru-buru pergi. Lucy kembali menatap dirinya di cermin, memutuskan untuk tidaklah memikirkan hal berat seperti itu di kamar mandi. Dengan segera dia mencuci tangannya sebelum keluar. Dia memutuskan untuk makan dulu sebelum istirahat dan memikirkan hal itu kembali.

Dia singgah sebentar ke kamar mess-nya dan menaruh dulu jas labnya sebelum menuju ke kantin. Buku To Kill A Mockingbird miliknya masih tergeletak di meja. Lucy memutuskan sudah waktunya untuk meletakkan kembali buku itu ke tasnya. Dia tidaklah lagi memerlukannya. Dia sepenuhnya lupa akan konten yang dia simpan di dalamnya.

Setelah mengunci kamarnya, dia segera berjalan menuju area kantin. Waktu masihlah pagi hari, jadi ada beberapa yang keluar mess-nya. Semuanya personel keamanan dari seragamnya. Peneliti sepertinya memilih pulang saja tiap jam kerjanya habis. Sayangnya itu tidak bisa untuk kasusnya yang sedari dulu tinggal di mess. Sesuatu mengenai atasan organisasi aslinya melarangnya karena adanya kemungkinan dirinya pindah situs atau bahkan pindah pulau kedepannya.

Dia terus berjalan melalui area kantor umum, membuka pintu pembatas ke area penahanan dan melaluinya. Sudah menjadi rutinitasnya sekarang untuk melalui tempat ini jika dia perlu ke kantin. Dan cuma ke sana saja tujuannya sejauh ini. Dia memang sesekali melirik ke koridor penahanan dan koridor lain, tetapi cuma sekedar untuk memuaskan rasa penasarannya saja. Dia juga tidaklah terlalu ingin ke bangsal medis yang berada di koridor tersebut. Jelas dirinya masih merasa bersalah karena insiden itu.

Saat di area penahanan, dia melihat beberapa personel berseragam agen lapangan keluar dari kantin. Meski mereka cuma berada di Lantai Safe, tidak ada kantin di atas sana, jadi wajar saja mereka ke bawah. Setidaknya Lucy tidak perlu menitip makan lagi.

Semua itu mengingatkannya dengan temannya dulu yang merupakan agen lapangan. Orang-orang yang lewat tadi meski berjumlah banyak tidak satupun yang dia kenal, jadi Lucy segera melangkah masuk ke dalam kantin dengan harapan temannya mungkin masih di dalam.

Begitu dia masuk, cuma ada seorang personel saja lagi di dalam yang tengah membelakanginya. Dia berseragam lengkap dengan helm dan mungkin sebonya juga. Sepertinya antara Lucy melewatkan temannya atau dia memang tidak turun ke bawah bersama mereka. Agen lapangan di depannya sepertinya selesai dengan urusannya di meja depan sehingga dia berbalik. Mereka saling bertatapan.

“Lucy?”

Lucy tersenyum mendengarnya. Meski seragam orang itu lengkap, Lucy yakin sepenuhnya dia siapa.

“Kak Heru!”

Lucy segera mendekatinya. Awalnya dia reflek hendak membentangkan tangannya untuk memeluknya, tetapi dia langsung sadar kalau itu akan sangat canggung. Jadi dia cuma berdiri sedikit terlalu dekat dengannya.

“Kita sudah cukup lama gak bertemu, ya. Kau akhir-akhir ini jarang turun ke lantai bawah?” Lucy memulai percakapan selagi melangkah mundur sedikit untuk memberi ruang.

“Aku memang aslinya jarang ke bawah. Biasanya memang ikut teman makan ke luar atau sekalian sambil pulang.” Heru menjawab selagi bersandar di pinggir meja. “Kau tak perlu lagi nitip makan, kan?”

Lucy hanya mengiyakan selagi tertawa kecil. Memang selama ini dia menitip makan dengan Heru atau temannya yang lain tiap hari. Tidak ada kantin di lantai atas dan dia tidak bisa turun lantai atau keluar situs kecuali saat akhir pekan saat masih jadi peneliti junior. Peraturan yang sangat merepotkannya dulu.

“Jadi, kenapa kau turun?” Lucy bertanya. Dia melirik ke arah Heru dan dengan tersenyum canda melanjutkan, “Kau ingin mengecek keadaanku?”

“Ahaha, bisa aja.” Heru terkekeh. “Maksudku, oke lah, itu juga. Tetapi kebetulan teman-temanku tadi pengen makan dulu sebelum misi, jadi sekalian aja kami semua makan bareng.”

“Ooh, misi apa?” Lucy tertarik mendengarnya. Sudah sangat lama sejak misi terakhirnya di lapangan. Dia mulai merindukan duduk bersama tim agen lapangan dan menggerebek lokasi pengguna anomali jahat di luar sana, meski Lucy sudah belajar bahwa tidak semua orang di dunia di balik Tirai seperti itu.

Heru sendiri hanya mengangkat bahu. “Bukan misi berat sih, cuma ngawasin penelitian di lapangan. Karena di luar Yayasan, itu sudah tugas agen lapangan.”

“Oh, seperti itu ya…” Lucy mengangguk mengerti. Dia cukup penasaran karena sebelum turun seingatnya tidak ada penelitian aktif.

Tetapi setelah berbicara selama beberapa saat, Heru tiba-tiba berkata, “Lucy, aku duluan ya. Sudah mau waktunya briefing sebelum pergi.”

“Eh, secepat itu? Kita baru ketemu, kan?” Lucy membalas, sedikit tak enakan. Di satu sisi dia dan Heru akhirnya bertemu lagi, jadi ini terlalu singkat. Tetapi dia ingat agen-agen lapangan lain sudah lama pergi, dan seharusnya Heru juga harus pergi bersama mereka.

Heru berpikir sejenak selagi dia merapikan seragam dan meja yang dia sandari. “Hmm… Nanti aku turun lagi, kok. Kita lanjutkan setelah misiku selesai.”

Dan dia pun melangkah pergi. Lucy menatapnya sejenak. Awalnya dia puas akan pertemuan singkat mereka, tetapi dia setidaknya ingin melanjutkannya meski hanya satu pertanyaan saja. Jadi dia ikut meninggalkan kantin dan mendekati Heru, “Jadi, apa ada anomali baru di atas sana? Seingatku terakhir sebelum turun tidak ada anomali lagi yang masuk.”

“Ya, kita mendapatkan satu baru-baru ini. Aku tak banyak dengar detailnya; saat itu ketua dan beberapa agen yang mendapatkannya. Ku dengar ia baru selesai dianalisis lab dan hendak diujikan langsung.”

“Huh, tak ada detail lain?” Lucy bertanya penasaran.

“Hmm… aku perlu tanya Ermes nanti di atas.” Heru membalas. Tetapi dia kemudian mengoreksi, “Tunggu, kan aku akan melihatnya juga nanti. Akan kuberikan detailnya nanti selesai misi.”

Mereka berjalan melalui koridor dengan cepat. Tak lama sampai mereka di pos perbatasan menuju area kantor. Lucy berpikir apakah sudah waktunya berpisah dengannya di sini.

Dia tidaklah tahu apa lagi yang harus dia katakan selain perpisahan, jadi dia mencoba memikirkan pertanyaan baru dari jawabannya sebelumnya.

“Jadi kau tak ada saat anomali didapatkan? Tapi kenapa kau dikirim bertugas sekarang?” Tanya Lucy kembali.

“Heh, bukan aku yang ngurus penugasan, kau tahu? Tapi ini cuma misi pengawasan. Kita cuma perlu mengawasi para peneliti dari Kelas-D dan memastikan semuanya berjalan lancar. Tugas penjaga pada dasarnya, tapi di lapangan.” Heru menjawab selagi terus berjalan. Kini mereka berada di ruang tunggu lantai Euclid.

Lucy ingin kembali bertanya lagi, tapi dia tidak tahu apa lagi. Dia tahu dia mulai agak memaksakan Heru untuk berbicara dengannya. Dia tidak tahu kenapa dia memaksakan diri hanya untuk bicara jika dia pun nantinya akan turun ke bawah juga.

Mungkin itu memang alasannya. Dia tidak tahu Heru sebelumnya jarang turun ke bawah, jadi awal-awalnya dia tanpa sadar menunggu tanpa kepastian. Tetapi sekarang seharusnya dia tenang saja karena Heru pasti akan turun lagi ke bawah.

Sesuatu mengenai punya teman dekat di situs ini merupakan sesuatu yang dia butuhkan saat ini. Mungkin, dia menginginkan lebih dari teman.

“Tunggu,” Lucy tanpa sadar berkata.

Heru menoleh setelah tangannya menekan tombol lift, “Ya?”

Lucy tidak tahu apa yang harus dia katakan lagi, jadi setidaknya dia bisa mengakhirinya dengan benar. “Semoga beruntung di atas sana!”

Heru menatapnya. Lucy tahu dari matanya kalau dia tengah tersenyum. “Sampai jumpa setelah misi selesai.”

Lucy membalas dengan tersenyum, melambaikan pelan tangannya. Setelah pintu lift tertutup, dia segera berlalu kembali ke kantin, menunggunya.


Setting delay-nya menjadi satu menit. SCRAMBLE jangan lupa.”

Seorang peneliti berkata kepada sesama peneliti lain yang tengah menyetel sebuah kamera besar. Enam personel Yayasan berseragam peneliti dan sekitar sepuluh agen lapangan tengah berdiam di sebuah tenda besar yang tertutup tanpa jendela. Cahaya hanya dari sekumpulan flood lamp yang telah terinstal dan dari televisi berukuran sedang yang ditaruh di meja dekat kamera.

“Siapa peneliti yang ngurus kamera itu?”

Salah satu agen yang tengah duduk berkata kepada rekannya di sampingnya. Peneliti yang dia tunjuk tengah mengatur kamera atas instruksi peneliti di sampingnya.

“Peneliti junior baru mungkin. Menggantikan Si Lucy itu.” Rekannya menjawab.

Agen tersebut mengangguk. Sejujurnya dia lumayan bosan akhir-akhir ini. Tepatnya dia kembali bosan menjalani misinya. Dia benar-benar merindukan keributan yang Lucy buat, baik di lantai atas situs maupun di lapangan. Selalu terjadi sesuatu yang menarik bersamanya.

“Semua sudah siap, minta Kelas-D untuk mulai menerbangkannya.” Peneliti yang berdiri di samping kamera berkata.

Seorang agen segera keluar tenda. Para peneliti segera mengamati dengan seksama monitor di depan mereka. Tiba-tiba agen yang tadi duduk tertawa pelan.

“Ada yang lucu, Heru?” Rekannya bertanya.

“Heh, kau tak merasa lucu melihat dua orang peneliti senior itu dan peneliti-peneliti mereka duduk diam dan menonton dengan seksama Kelas-D main layangan?” Heru menjawab.

”Aku… Tidak. Aku dengar dari temanku lokasi awal layangan terkutuk itu ditemukan praktisnya bak lokasi pembantaian. Darah dan mayat di mana-mana.“ Jawab rekannya dengan ragu.

“Selalu ada mayat dari anomali yang kita dapat, kau tahu.” Heru menjawab datar. “Aku pernah mendampingi upaya pembersihan anomali kita sebelumnya – yang sayangnya akhirnya cuma AO seingatku – yang disebar di perkampungan pinggiran kota. Mereka tidak hanya mati, mereka mati tanpa kulit mereka. Bayangkan itu.”

Rekannya jelas terkejut akan hal itu. Dengan gugup dia membalas, “Aku- aku jelas tak mau membayangkan itu.”

Heru terkekeh, “Sama. Itulah kenapa aku selalu meminta ditugaskan untuk tugas kecil seperti ini saja.”

Rekannya mengangguk setuju. Tetapi yang tidak dia tahu adalah Heru sebenarnya tidaklah sungguh-sungguh akan hal itu. Selama ini tugasnya sebagai agen lapangan hanyalah mengecek lokasi sebelum dan sesudah kejadian terjadi. Jelas tidak ada risiko, tetapi itulah masalahnya. Segalanya menjadi monoton dan membosankan baginya. Dia antara melihat target mereka dari kejauhan atau melihat dari dekat sisa darah mayat dari target mereka yang harus dibersihkan.

Heru tanpa sadar tersenyum. Lucy lumayan mendorongnya untuk lebih aktif di lapangan. Untuk mengikuti ketua mereka melacak langsung target dan berhadapan langsung dengannya. Setelah dipikir lagi, segalanya memang terasa menarik jika dilakukan bersama seseorang yang tepat. Sensasi adrenalin hasil kepanikan konstan untuk hidupnya dan perasaan puas telah berhasil mengalahkan ketidakmungkinan di hadapannya masih membekas pada dirinya.

Dan dalam hati, dia tanpa sadar berharap merasakan itu lagi suatu hari nanti.

Tiba-tiba terdengar suara ribut di depan mereka; Para peneliti tadi semuanya reflek berlari keluar tenda. Tepatnya semua orang di depan monitor berlari keluar dengan tergesa-gesa. Salah satu agen dengan cepat mencoba mengejar mereka, tetapi dia tertegun sejenak begitu melihat ke arah monitor. Dan dengan itu dia lari keluar juga.

“Efek kognitif anomali aktif!” Salah satu agen mencoba mematikan monitornya sambil menutup matanya seraya dia mendekat. Heru dan agen lain segera mengalihkan pandangan mereka dari monitor. Dia bisa mendengar satu lagi langkah kaki berlari di sampingnya.

“Aman!”

Dengan itu para agen menoleh kembali ke depan. Layar di depan mereka hitam, telah berhasil dimatikan. Para agen dengan tegang saling menoleh ke sekeliling. Mereka tahu anomali di luar itu bahaya kognitif, jadi meski mereka tahu tengah terjadi insiden di luar sana, tidak ada yang bisa dia lakukan.

Tiba-tiba terdengar suara tembakkan di luar. Suara rentetan tembakan yang artinya ada agen yang memakai senapan serbu standar di sana. Seorang agen reflek memberikan sumpah serapah mendengarnya. Itu adalah kabar buruk karena jelas akan menarik perhatian lebih banyak.

Sebelum mereka bereaksi, beberapa peluru sepertinya mengenai tenda mereka dan menghasilkan lubang segera. Untungnya arah tembakkan sedikit tinggi atau mereka akan tertembak. Sayangnya itu hanya berlaku untuk rentetan pertama, karena deretan tembakan kedua kini diarahkan kepada mereka. Beberapa agen hanya dapat menerima tembakan di rompi dan lengan mereka sebelum menunduk.

Heru mengamati sekelilingnya dan mengamati para agen yang tak mencoba melakukan apa pun selain berdiam diri. Heru melirik ke persenjataan mereka yang disandarkan di pojok. Mereka jelas membawa satu untuk tiap agen, tapi amunisi hanya boleh dari magasin yang telah terpasang. Tak ada amunisi tambahan sampai bulan depan.

Dari arah tembakannya ke tenda, dia jelas ingin menghabisi mereka semua untuk sisa amunisinya. Heru segera berkata, “Dia akan kemari membunuh kita! Apa kita tak akan menghentikannya?”

“Jangan bercanda Heru, ada anomali aktif di luar sana!” Salah satu agen yang jelas lebih berpengalaman darinya memprotes segera.

Heru diam sejenak. Dia tidak akan diam saja baik tiarap maupun bersandar dan menonton kekacauan ini selesai seperti yang selama ini dia selalu lakukan. Dia akan mengambil tindakan mulai sekarang dengan menghentikan kekacauan ini sendiri. Lucy telah memotivasinya sejak hari pertama mereka bertemu dengan berani melangkah mendapatkan tujuannya. Dia akan mengikuti langkahnya.

Heru segera berdiri dan meraih satu senapan di pojok dan segera berlari ke arah keluar tenda.

“Kau mau ke mana!? Jangan keluar!” Salah satu agen berteriak.

Dia mengabaikan teriakan protes para agen yang masih menunduk yang mencoba menghentikannya. Persetan dengan tindak disipliner jika yang dia lakukan adalah hal yang benar. Dia tersenyum memikirkan ini akan menjadi kisah yang hebat bagi Lucy begitu dia kembali dari sini hidup-hidup.

“Itu hanya layangan jatuh semata! Aku akan menunduk!” Heru berkata sebelum keluar tenda.

Dan memang itu yang dia lakukan. Dia segera melihat tanah dan dengan perlahan menaikkan pandangannya sampai dia dapat melihat badan orang-orang di kejauhan. Faktanya agen tadi tengah berlari ke arah tenda dan sepertinya menyadari Heru. Dia hampir saja menembaknya, tetapi Heru segera menembak kepalanya duluan.

Refleknya saat mengangkat senapan untuk menembak membuatnya mendongkak sedikit, dan itu cukup untuk membuatnya sekilas melihat sebuah layangan jatuh dan segera menjadi bahan rebutan para penyintas insiden di bawahnya.

Apa… itu…

Heru sekilas melihatnya dan dia tidak dapat menjelaskan apa yang dia rasakan. Dia tahu itu hanya layangan semata, tetapi saat melihatnya, dia merasa benda itu sangatlah berharga. Bak melihat sebongkah berlian sebesar layangan itu jatuh. Heru menggeleng dan perlahan mendekat beberapa langkah.

Nilai layangan itu baginya lebih dari berlian sebesar apa pun. Jika dia memilikinya, seakan tujuan hidupnya sudah selesai. Dia mulai membayangkan menghabiskan sisa hidupnya hanya menikmati memiliki benda berharga tak ternilai seperti itu.

Aku… menginginkannya…

Heru dengan cepat berlari mendekati kerumunan agen dan peneliti yang saling memukul menggunakan kayu dan batu dan stok senapan yang telah kehabisan peluru. Heru segera mengambil posisi dan membidik, memperhitungkan mana yang harus diprioritaskan untuk di tembak.

Aku menginginkannya!

Heru mulai kehilangan konsentrasi. Dia mulai tak sabaran ingin segera memegangnya. Dia merasa harus mendapatkannya segera. Dengan itu dia menembak liar. Kepala, dada, apa saja, persetan bagian tubuh mana yang ditembaknya asal kena.

Tanpa sadar pelurunya habis. Heru melihat hampir semua orang di depan sudah tergeletak dan sisanya hanya menggeliat di tanah, membuatnya tersenyum lega. Awalnya dia hendak segera berlari ke sana, tetapi dia terdiam. Dia menoleh ke tenda tadi.

Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya!

Dia tahu ada personel lain masih tersisa. Mereka masih punya senjata yang tersisa. Heru dengan cepat berbalik dan berlari. Begitu berpapasan dengan mayat agen yang dia tembak tadi, dia dengan cepat mengambil senapannya sebagai pengganti dan segera masuk.

Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya!

Dia membuka tenda itu dan segera menembak siapa pun di depannya selagi berjalan lurus menuju senapan di pojok. Para agen di sana jelas terkejut, tetapi hanya itu yang bisa mereka lakukan sebelum ditembak Heru dengan senapan barunya. Setelah belasan tembakan, tenda kini sunyi tanpa suara selain dari tetesan darah yang mulai menetes.

Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya!

Heru menatap sekilas ke sekeliling tenda memastikan semua sudah tiada. Akhirnya dia berjalan cepat dan menembak tiap agen yang ada di kepala untuk memastikannya. Baru dia lari keluar untuk layangannya.

Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya! Aku menginginkannya!





Lapangan yang awalnya hijau kecokelatan dari rumput dan tanah kini dinodai tumpukan mayat dan genangan darah. Sebuah pembantaian total dengan satu pemenang semata yang telah lama mengambil hadiahnya. Lalat mulai berdatangan seiring waktu untuk berpesta, menikmati hidangan besar hasil akhir dari keserakahan manusia dalam merebut harta.

Seseorang perlahan melangkah dari arah semak-semak di ujung lapangan. Dia berjalan pelan, mengabaikan mayat di kiri dan kanan. Setelah beberapa langkah dia berhenti, mengamati lokasi pembantaian dalam diam.

Tangannya yang berlapis sarung cokelat terkepal erat.

Dengan segera dia melangkah maju, mendekati personel Yayasan yang dia rasa paling muda dan mengeceknya. Dia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya.


Sekumpulan agen tengah duduk santai di ruang istirahat personel lapangan. Tiba-tiba seorang berseragam lengkap agen lapangan memasuki ruangan dengan tergesa-gesa.

“Siap-siap! Terjadi insiden dalam pengujian SCP-022-ID. Aku perlu tiga tim segera.”

Salah satu agen segera berdiri dan berkata, “Tunggu, agen kita di sana bagaimana, ketua?!”

Ketua mereka berpikir sejenak sebelum membalas, “…Semoga ada yang selamat. Kabarnya efek anomalinya aktif tadi dan… Dan sebaiknya kita cepat! Ayo!”

Jelas dia hendak mengatakan hal yang berbeda, tetapi semua agen terlalu sibuk bersiap untuk mendengarkan dengan seksama.

Ketua mereka tidak mengatakan apa-apa. Dia cuma menggenggam ponselnya dengan erat.

Tolong tetap hidup sampai kami sampai…


Lampiran Insiden 022-ID-A:
Pengujian 022-ID-B dilaksanakan, pengujian tidak mengantisipasi jika efek SCP-022-ID dihantarkan secara visual. Peneliti dan personel yang berjaga di luar area pengujian langsung mengejar SCP-022-ID. Rekaman yang ditinggalkan menunjukan personel bersenjata menembaki sesama personel sampai tersisa satu orang, Agen Senior H███ ████.

Yayasan baru mendapat laporan mengenai ini diperkirakan sekitar 30 menit setelah insiden ini terjadi. Bantuan personel dikerahkan untuk mengamankan lokasi pengujian dan SCP-022-ID. Begitu sampai di lokasi, rombongan dihentikan Agen H███. Agen H███ menyerang personel dan mencoba merampas kendaraan dan membawa lari SCP-022-ID. Ia berhasil dihentikan oleh Agen Ermes Scherz dengan tiga tembakan di dada. SCP-022-ID berhasil diamankan dengan total korban jiwa ██.



Kronik Situs-79

Bab 8: Dunia Imaginer(1)
| Waktu Bermain Adalah Saatnya Jatuh | Obat Gemetaran Baiknya Teh di Tangan »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License