Dear E.C,
Coba tebak! Siapa yang bertemu naga hari ini? Masih kanak-kanak, jinak dan penasaran dengan makhluk berkaki dua seperti manusia! Ah maaf, maksudku, di mata spesies mereka, manusia itu, err, kau tahulah! Hal penting lainnya, naga ini tidak memiliki sayap, dia agak berbeda dengan jenis yang selalu buku dongeng sajikan. Ada hewan lain yang belum aku ketahui namanya, ini akan menjadi tugas penting bagiku untuk mengetahui nama ilmiah dari hewan itu! Hewannya cantik, kakinya tinggi dengan jemari yang kokoh dan besar-besar. Mirip seperti kuda, namun lebih cantik dari seekor unicorn. Kadang awan di atas langit jingga tampak seperti permen kapas. Mereka membelah dengan cepat dan memantul seolah benda padat tersebut memang terbuat dari gula!
Bukan hanya itu saja, ada bunga yang fungsinya mirip seperti buah! Bisa kita makan, berserat, mengenyangkan, tapi bentuknya amat kecil. Dengan catatan, kau harus mendaki ke bukit jam dua dini hari. Jika lewat dari itu, bunganya tidak akan nampak. Aku mencobanya tadi, dan mulutku dipenuhi kebahagiaan! Agak asam karena aku memetik bunga yang terlalu muda, haha!
Hari ini aku mengumpulkan daun-daun. Kalau dikeringkan, bisa jadi pernak-pernik cantik. Aku lebih suka menghiasi buku jurnalku dengan daun warna min, jingga dan merah. Menurutmu, warna apa yang cocok untuk hiasan sampul buku?
Aku baru melihat pohon yang dihuni ratusan burung. Konon katanya, burung-burung itu akan menghiasi langit di siang hari saat musim kawin! DAN hari itu akan tiba esok! Seekor burung sempat kulihat penampakannya, kalau kau melihatnya, kau ragu akan memanggil makhluk itu burung atau elf. Tidak, tidak berwujud manusia, tapi indah sekali!
Ah, iya, kau jangan cemas. Disini damai, aman. Semuanya terkendali! Aku tidak akan mendekati bahaya apapun. Sebelum berpindah dunia, aku selalu memeriksa titik koordinat. Sudah cukup panjang surat ini kutulis. Nantikan kisahku selanjutnya, ya!
- L.M
Untuk L.M di tempat,
Aku senang mendapatkan surat darimu. Kau bertemu banyak hal menakjubkan, ya. Aku dapat membayangkannya, tapi tetap penasaran.
Warna untuk hiasan sampul buku? Aku lebih suka warna pastel.
Aku senang jika kau baik-baik saja disana. Jaga dirimu baik-baik, ya.
- Kawanmu, E.C
Dear E.C,
Dunia kali ini, menyuguhi kanvas yang telah terlukis! Aku tidak bermaksud puitis, tapi biar aku deskripsikan semampuku agar kau dapat menerima ketakjuban yang kurasakan ini.
Warna pemandangan di sini persis seperti monokrom—putih dengan abu—namun ketika kau memfokuskan penglihatan; langit, pepohonan, rerumputan, bahkan bebatuan memiliki warna mereka sendiri. Warna yang terpadu memang pucat, jadi sekilas, kupikir aku tengah berada dalam mimpi. Udaranya segar. Rerumputannya basah saat pagi, dan kering saat petang. Warna kelabu yang tersaji justru membuat jiwaku lebih rileks, dan pena yang kugenggam tak henti-hentinya menulis di kertas laporan. Keren, bukan?! Tempat yang cocok untuk ketenangan dengan warna alam yang tidak membuat matamu sakit.
Kemudian, hari ini aku tiba di dunia selanjutnya, aku terkesima untuk puluhan menit. Ya, aku tidak berbohong! Aku berlari seperti baru tahu apa itu kebebasan! Sejatinya aku berlari untuk mendekati pulau-pulau melayang. Iya! Ada di atas langit, pulau-pulau melayang! Apa kau ingat salah satu kisah dongeng yang kita baca bersama di perpustakaan? Agak lupa judulnya, namun kurang lebih isinya sama. Oh tidak tidak! Ini lebih menakjubkan lagi! Aku ingin memperlihatkan padamu juga. Rasa takjub ini tidak boleh disimpan sendiri!
Oke, soal pulau tadi. Mereka betul-betul melayang! Bedanya menetap, tidak bergeser seperti awan. Ada air terjun di atas sana, namun entah kemana air itu bermuara. Apakah menjadi awan? Atau menjadi keberkahan untuk penghuni daratan bumi—semacam sumber air? Karena ada banyak prasasti di tebing terendah di permukaan bumi. Aku meyakini pulau-pulau di atas sana sebagai kerajaan langit. Meski aku belum mempunyai bukti benar, anggap saja asumsi pertamaku! Aku akan menggambar sketsa kasarnya untukmu. Sebelum lanjut meneliti, akan kusajikan lukisan alam ke dalam kanvasku sendiri. Sampai jumpa di surat selanjutnya!
- L.M
Untuk L.M,
Ceritakan terus, jangan pernah berhenti. Rasa takjubmu, rasa antusiasmu tercurahkan lewat tulisan penamu yang agak gemetar di beberapa bagian. Aku kagum, di luar sana, di belahan dunia lainnya, terdapat banyak keindahan. Aku harap, aku dapat menyaksikannya lebih komplet.
Kapan kau akan pulang? Soal perpustakaan itu, kapan aku dapat bergabung dan menjelajahi isi perpustakaanmu?
Aku senang dan tidak sabar ingin segera mengunjungi koleksi penelitianmu.
- Tertanda, E.C
Dear E.C,
Mengenai pertanyaanmu, aku tidak tahu kapan aku akan pulang, masih banyak hal yang ingin aku lakukan di sini. Perpustakaan sudah kubangun! Tapi masih banyak rak yang kosong, aku belum begitu bangga untuk mempersilakan kau singgah. Aku berniat menambahkan buku ensiklopedia, buku bergambar, dongeng yang kuketahui dengan jelas sumbernya.
Perpustakaanku nanti akan berisi peradaban pula; kebudayaan, mistis, bentuk rumah, jenis mata pencaharian dari makhluk hidup yang aku temui. Ketika celah-celah di perpustakaanku sudah padat akan penemuan, aku akan mengundangmu ke sini! Kita bisa bersama menjelajahi isinya! Aku akan menunjukkan padamu banyak hal nanti.
Aku pun tidak sabar untuk hari itu!
- L.M
Untuk L.M,
Aku kesulitan mencari waktu senggang untuk mencermati surat yang kau kirim. Maaf sekali, butuh dua bulan lamanya. Aku disibukkan dengan pekerjaan baru, sebut saja sebuah yayasan yang masih ada kaitannya dengan penelitian dan lainnya yang berhubungan dengan hal-hal aneh. Aku akan meminta surat izin agar memudahkanku untuk bisa bertamu ke perpustakaanmu nanti.
Baik-baik di sana. Jaga kesehatanmu dan jaga keselamatanmu.
- Dari E.C
E.C,
JANGAN. PERNAH. LAKUKAN. PERJALANAN DUNIA PARAREL!
Aku mohon, jangan pernah lakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan!
Hewan mati dengan ledakan organ dalam, tumbuhan mati menyemburkan racun, makhluk hidup lainnya mati menyisakan tulang berulang … penyebab biologisnya belum aku ketahui.
Aku sudah terlibat, aku akan melakukan investigasi.
- L.M
Apa yang sedang terjadi di sana? Kau baik-baik saja? Apa situasinya sangat berbahaya? Pulanglah sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi padamu.
- E.C
E.C,
Aku tidak bisa pulang, sebelum aku menemukan sebab musababnya, kenapa bisa fenomena mengerikan ini terjadi.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di satu dunia, melainkan di dunia-dunia lainnya. Seperti letusan bom waktu, dari dunia satu beruntun ke dunia lainnya. Tentu, ada yang menerima dampak dan ada yang hanya menerima radiasi lebih sedikit. Apapun itu, situasi di belahan dunia mana pun, tetaplah kacau dan buruk.
Aku akan mengabarimu bila ada hal penting dan darurat.
- L.M
L.M,
Pertama, pulang dan laporkan hal ini ke pihak yang lebih berwenang. Jangan libatkan dirimu dalam bahaya. Lagipula, melakukan investigasi di saat kekacauan memuncak seperti sekarang ini, sama artinya dengan menantang maut, bukan?
- E.C
E.C,
Kurasa kau benar. Tapi, aku tidak bisa diam untuk yang satu ini, benar-benar terjadi di depan mataku. Aku akan berfokus padanya untuk sekarang.
- L.M
Kau sama sekali tidak berubah, ya? Susah mengubah keputusanmu. Aku akan berdoa disini agar kau selamat dan terlindungi.
- Sahabatmu, E.C
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
L.M,
Aku tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini karena pesan terakhir mu. Kau belum mengabariku apapun. Aku cemas. Kau mendengarkan saranku, bukan? Tolong setidaknya berikan kabarmu saat ini.
Apa kau baik-baik saja? Kondisimu di sana seperti apa? Apakah sudah menemukan solusi yang kau cari? Masalah selesai? Hal tersebut sudah terlewati, 'kan? Atau … malah sebaliknya? Tolong kabari aku terkait dirimu.
- E.C
E.C,
Aku tidak bermaksud membuatmu cemas berkelanjutan. Namun, terima kasih sudah mencemaskanku. Kau tampak seperti biasanya juga, tidak banyak berubah, selalu mengkhawatirkanku, tapi tidak pernah menghentikan kemauanku yang selalu bertindak keras kepala.
Dugaanmu tepat sasaran, kemungkinan terburuk jika aku melanjutkan investigasi, aku akan tiada. Namun, bukan berarti presentase keberhasilan serta-merta menjadi nol. Aku sudah berada di tahap ini, aku tidak bisa berhenti di tengah jalan. Takut? Iya, aku sangat takut. Lantas aku harus diam saja, begitu? Hanya ada aku seorang di sini, dengan segenap hati, aku akan melanjutkan apa yang sudah aku kerjakan. Aku mengantongi cara jitu, jadi, berhentilah cemas dan teruslah berdoa untukku! Aku berjuang untuk dua hal disini, salah satunya tentu agar aku bisa kembali ke sisimu seperti sebelumnya.
Kata-kataku habis. Aneh. Padahal tanganku belum mau berhenti.
Oh, hei, setelah semua ini selesai, mari bertemu di perpustakaanku! Semuanya sudah komplet, lho!
- L.M
Selain sebaris tinta hitam yang tergores tak sengaja di atas kertas kosong, ada pula titik-titik air mata yang merembes dan mengering memberikan cetakan bulat di sana. Entah sampai berapa hari akan menghilang, atau justru tetap bersarang selamanya. Yang pasti, ia tak mampu merangkai kata, tak mampu membalas surat dari kawannya. Seolah paham, apa yang akan terjadi setelah hari ini berganti.
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
`
Jas putih berkibar tatkala sang pemakai berjalan memasuki sebuah gedung. Gedung putih satu lantai dengan ornamen-ornamen yang ukirannya unik dan bernilai seni tinggi sebagai hiasannya. Dua orang berhenti berjalan, jas laboratorium dengan logo perisai dan panah di bahu mereka.
Tiga warna sebagai warna utama untuk dinding terdiri atas; hijau tua, kuning emas dan coklat kayu, dengan logo seekor ular bertengger di cabang pohon tersebut.
Salah seorang dari dua orang tadi terperanjat mengetahui warna yang dipakai, kemudian tersenyum kecil. Langkahnya dipercepat, sampailah ia di pertengahan gedung perpustakaan.
Matanya yang elok menelusuri sekeliling ruangan, mencoba untuk terbiasa dengan bentuk dan rupa dari perpustakaan—yang mana didesain begitu personal. Maniknya berhenti tepat di rak buku yang sengaja dibuat dalam bentuk huruf, yakni huruf L dan M.
"Dia pasti butuh waktu lama untuk merapihkan raknya ." Perempuan itu berbisik.
Di antara kekosongan ruang tanpa rak dan buku, berhiaslah berbagai bingkai lukisan; ada naga kecil tak bersayap, hewan mamalia cantik yang sudah diberi nama ilmiah, pemandangan berbagai dunia yang tak serupa, awan bak permen kapas, keindahan dunia monokrom, dedaunan elok yang dikeringkan dan diabadikan pula dalam bingkai, dan jangan lupakan deretan pulau melayang lengkap dengan air terjunnya.
Setelah puas menikmati suguhan, tubuh perempuan itu beranjak ke sisi lain. Ada rak persegi panjang yang khas, ia melewati rak tersebut dan terpukau melihat apa saja yang tersaji di hadapannya.
Rak dengan bentuk dua huruf juga; E dan C.
Linangan air mata turun tanpa permisi, membuat perempuan itu dan temannya yang baru saja menoleh; sama-sama terkejut.
"Elena, Kau baik-baik saja?" Kolega Perempuan tersebut pun bertanya.
Elena segera berpaling, mengusap setitik tangis yang tak sengaja tumpah. Ia menggeleng sembari mendedikasikan senyuman. "Tidak apa-apa. Isi perpustakaan ini sangat indah. Aku yakin, orang yang membangun dan memenuhi perpustakaan ini mencurahkan segenap rasa sukanya terhadap penelitian."
Elena memejam sebentar, perlahan walau buram, senyuman dan tawa riang temannya terbentuk dalam ingatan. Ia kembali membuka mata, menyatukan tangan di depan dada. "Berdasarkan dari tulisannya ini sendiri, penulisnya itu pun terlihat sangat antusias terkait karyanya."
Ia mengangguk, pamit melanjutkan urusan di sisi lain rak persegi. Sementara itu, Elena berderap ke depan, lebih tepatnya mendekati rak namanya sendiri. Bukan hanya rak dua huruf itu, kawannya pun menyiapkan tempat duduk khusus dua orang; meja bundar dengan kursi sandaran bantal, persis seperti kursi favorit mereka dulu di perpustakaan kota.
Ia duduk, mengambil satu buku, mulai membacanya, dan sekali lagi linangan air mata itu pun turun tanpa ditahan.
"Kau sudah menempati janjimu. Terima kasih banyak. Beristirahatlah dengan tenang, sahabatku."




