Logam menghantam logam, hamburan baja panas menghujani koridor suram.
Bilah parang menerkam turun, namun sosok yang dibalut baju Hazmat menangkisnya dengan sigap. Dengan pengungkit pada palu di tangan kanannya, si Hazmat mengunci bilah tajam parang musuh hitam-hitamnya. Tak membuang waktu, si Hazmat menghantamkan palu keduanya ke pangkal bilah parang, menghancurkannya berkeping-keping.
Si hitam-hitam bak ninja di depan si Hazmat tertegun menatap gagang parangnya yang patah. Bagai seorang hakim absolut, si Hazmat menjatuhkan vonis palunya ke kepala si hitam, dan penyusup itu pun tersungkur.
Lampu darurat merah menyamarkan bercak gelap yang membasahi koridor.
Napas Franz Yan memburu dibalik baju Hazmat-nya.
Dalam benaknya, Teknisi Pemeliharaan itu selalu tahu bahwa suatu hari dia akan harus mengambil nyawa, baik itu objek dalam penanganan atau manusia. Tapi "tahu" secara akal tidak berarti nuraninya siap untuk menghadapi kenyataan ketika dia benar-benar telah menghentikan nafas si hitam-hitam.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Dalam koridor yang dilewatinya, berjajar bertumpuk tubuh-tubuh senyap tak berdetak, baik hitam-hitam penyusup maupun seragam dengan lambang tiga panah. Suara tembakan dan teriakan menggema dari ujung-ujung jauh situs—Franz mengabaikan suara-suara itu, rasa bersalah mengiris jantungnya.
Senjata api tidak berguna; tidak lebih berguna dari palu atau kapak. Mereka bisa menghindar kalau tembakannya tidak dalam jarak dekat.
Franz menghentikan langkahnya. Sesuatu—seseorang berdiri di ujung koridor, jas lab putihnya pekat tersiram darah. Dua buah kapak darurat tergenggam di tangannya.
Dan signature di wajahnya, terpajang sebuah masker gas.
Tatapan bak predator buas menghujam diri Franz, ketika si masker gas menyadari keberadaannya.
"Apa kau personel Yayasan? Sebutkan nama dan posisi."
Franz menelan ludah.
"Franz Yan. Teknisi Pemeliharaan. Kita seharusnya sudah pernah bertemu."
"Aku tidak pernah melihat wajahmu, jadi aku tidak bisa yakin apakah kau orang yang sama." Si masker gas menghunuskan kapaknya ke arah Franz. "Tapi sekarang tidak ada waktu untuk itu. Idealnya kita tunggu sampai Satuan Tugas datang, tapi para begundal jadah sudah menghabisi hampir semua personel sekuriti. Hanya kita berdua tidak akan bisa menghentikan mereka, terutama jika tujuan mereka untuk menjarah isi situs ini."
"Solusinya?"
"Hulu ledak nuklir."
Masuk akal, untuk mencegah mereka menjarah situs; tapi serangan ini mendadak, jadi lumayan banyak orang yang tidak sempat masuk ke Shelter anti-nuklir…ah, lagipula di hadapan penyusup ini mereka akan mati cepat atau lambat.
Aku akan mati, cepat atau lambat.
Lebih baik kita mati mempertahankan Yayasan daripada sia-sia!
"Apa kau tahu tempat shelter-nya?" Franz Yan memberanikan diri menatap mata si masker gas. "Aku bisa memicu hulu ledaknya sendirian. Kau tidak perlu ikut."
"Tidak. Aku akan ikut denganmu. Aku tidak tahu apakah kau benar-benar loyal pada Yayasan." Si masker gas mengibaskan darah dan serpihan tubuh dari kapaknya. "Lagipula tidak ada gunanya aku selamat kalau kau mati di tengah jalan."
"Sebelah sini!" Franz Yan berteriak tersengal, berlari menyusuri koridor penuh genang saga.
Ada empat hulu ledak nuklir di situs ini, mengelilingi pembangkit listrik eksperimental tepat di jantung situs. Pembangkit listrik itu adalah satu dari segelintir tempat yang tidak pernah dimasuki Franz; pemeliharaan pembangkit yang dipasang nyaris setengah tahun lalu itu dilakukan oleh tim dibawah pengawasan langsung Direktor Situs. Yang Franz tahu, tempat itu pastinya sangat berbahaya, dan menyimpan energi sangat besar.
Dari sekian banyak prosedur penanganan di situs ini, setidaknya pembangkit itu tidak boleh jatuh ke tangan musuh!
Franz berdiri di depan pintu ganda dari baja tebal, salah satu dari empat jalur masuk ke kompleks pembangkit. Tapi dia tidak membuka pintu itu—lagipula, keycard yang dia punya tidak punya izin masuk. Franz malah lebih tertarik pada panel otorisasi pintunya, yang terdiri dari sebuah pembaca kartu pintar, papan tombol untuk memasukkan pin, dan pemindai retina.
"Jaringan komputer di dalam kompleks terpisah dari jaringan keseluruhan situs, jadi untuk memicu hulu ledaknya harus pakai akses fisik." Dengan cekatan, Franz mengungkit dan mencongkel panel otorisasi itu, dan menyambungkan sebuah komputer saku serupa smartphone konvensional ke pin dan kabel yang terekspos. "Mestinya, kita perlu masuk ke kompleks pembangkit untuk mengaktifkan hulu ledaknya, tapi kita tidak punya izin yang sesuai. Lucunya, meskipun kartuku nggak punya izin masuk, izinnya cukup untuk mengaktifkan hulu ledak. Selama otorisasinya dilakukan dalam jaringan yang sama, termasuk dari panel ini, aku bisa meledakkan situs ini ke langit ketujuh."
"Nada suaramu berubah."
"…ah, maaf. Kebiasaan lama. Aku sulit berhenti bicara kalau tentang hal seperti ini."
"Apa kau sering memikirkan tentang cara menghancurkan situs ini?"
"Hanya terkadang. Aku—"
"Mundur."
Franz merasakan dingin menembus leher pakaian Hazmatnya.
"Apa yang kau lakukan? Kau yang bilang ini satu-satunya—"
"Apa yang kau lakukan mondar-mandir ketika kau tahu situs ini sedang diserang?"
"Aku terlambat masuk shelter ketika membenarkan pipa pendingin—"
"Identifikasi Yayasan."
"Mu-10-FY-6678."
"Apa afiliasimu? Koalisi? Tidak, modus operandi ini lebih mirip Insurgency. Kelompok personel Alpha menyerang untuk menutupi operasi personel Beta meledakkan hulu nuklir. Apa yang ingin kalian capai dengan menghancurkan situs ini?"
"Seperti yang aku bilang—"
"Silence!"
"Make me."
Franz melompat rendah, melewati si masker gas. Bilah tajam kapak menoreh lubang di baju Hazmat, beberapa rambut kecoklatan mengintip keluar.
Sial. Aku masih perlu membuka beberapa level otorisasi lagi.
Untungnya, komputer Franz masih tersambung ke panel dan jaringan internal kompleks pembangkit. Jika dia memainkan kartunya dengan benar, dia masih bisa melanjutkan proses detonasi.
Satu-satu. Untuk sekarang, urusi dulu masker gas.
"Catatan, pukul 17:22, memulai usaha penangkapan personel yang mengaku sebagai Franz Yan dan diduga sebagai agen Insurgency."
"Yang menyarankan untuk meledakkan hulu nuklir kan kau duluan?!"
"Misi bisa berubah. Misi selalu berubah."
Brengsek.
Si masker gas menyerang Franz bertubi-tubi dengan kedua kapaknya. Franz hanya bisa menghindar, masih bimbang apakah dia berani untuk menangkis atau melawan balik.
Kalau aku akan tetap mati tak peduli aku melawan atau diam…
Ini adalah pilihan terakhir.
Kematian seperti apa yang akan kupilih?
Segala suara menghilang, ditelan benturan logam.
Franz menangkap kapak si masker gas di antara pengungkit palu kanannya.
Haha, memangnya aku punya pilihan?
Cahaya benderang menelan sebuah situs antah berantah di suatu lokasi di Indonesia. Api nuklir membakar belantara, menghanguskan bebatuan dan belulang seakan tak berbeda.
Detonasi bom atom di negara netral. Gelombang politik global yang dihasilkan dari peristiwa ini akan bergema hingga seabad mendatang. Bahkan dengan kuasa yang dimiliki Yayasan dan Koalisi, ada batasan seberapa besar insiden yang bisa mereka tutupi. Percik peperangan membara menjadi lautan api global….
Franz Yan tersentak terbangun di kamar mess-nya.
Apa yang terjadi?
Dia masih bisa merasakan darah keringat dan berbagai cairan tubuh menggenang dalam baju hazmatnya.
Masih bisa merasakan panas melepuh dari spektrum radiasi hulu ledak yang dipicunya.
Merasakan tajamnya bilah kapak menggigit tubuhnya.
Getar panik nyeri yang mematikan saraf-sarafnya.
Kehampaan dingin kematian yang melanda.
Kegelapan kala menutup mata.
Apakah itu semua hanya mimpi? Tidak mungkin. Anyir darah sepekat itu tidak mungkin hanya hasil imajinasiku.
Komputer saku Franz berdenting, tanda email genting masuk.
Dari: pcs.noitadnuof|ylperon.9.5O#pcs.noitadnuof|ylperon.9.5O
Kepada: pcs.ecnanetniam|nay.f#pcs.ecnanetniam|nay.f
Subjek: [URGENT] [SUMMON]
Selamat pagi.
Anda diharapkan hadir pada pukul 0800 di ruang pertemuan D-66 dek 4 SCPS Ambassador. Kegagalan untuk memenuhi panggilan ini akan ditindaklanjuti dengan tegas, termasuk namun tidak terbatas pada penahanan dan penurunan jabatan menjadi personel kelas D.
Sebuah helikopter akan dikirimkan ke situs anda pada pukul 0530.
O5-9
Surel ini dikirim secara otomatis. Harap untuk tidak membalas pada alamat ini.
Serius deh, apa yang sedang terjadi??




