Tinggalkan Segala Harapan, Engkau Yang Datang Kemari
rating: +2+x

“Tidak kusangka lu sudah S2.” Kata seorang pria berusia 30 tahunan selagi dia berjalan.

“Tuan, aku berhasil lolos jadi pegawai GO- maksudku, KOG. Sialan, kalian menerjemahkan semuanya, eh?” Kata pria yang lebih muda beberapa tahun di belakangnya.

“Haha, lu akan terbiasa, kawan. Yayasan sama halnya dengan organisasi lain; paranormal atau bukan.” Dia menanggapinya.

“Bicara mengenai itu, yang kudengar adalah tempat ini… sedikit tidak biasa.” Kata pria di belakangnya.

“Semua situs Yayasan itu spesial, apa yang membuatmu berpikir situs ini lebih unik?” Balas pria di depannya sambil tertawa kecil.

“Ku dengar situs ini… …merupakan neraka.”

Pernyataannya membuat pria di depannya tertawa. Tetapi dia tahu, selama karirnya dulu, itu tawa terpaksa.

“Nah, tidak. Ayolah, siapa yang mengatakan itu?” Tanya pria di depannya setelahnya.

“Tuan, kau kira aku tidak bicara apa-apa kepada penjaga selama tur kecil lantai Euclid ini kemarin?”

“Sheesh, tukang mengeluh… Yah, kurasa Situs-79 punya sisi buruknya, tapi percayalah, mereka cuma melebih-lebihkannya.” Pria itu menjawab.

Juga,” Pria di depannya menambahkan, “Tolong, panggil Jones saja. Tadi terdengar canggung, sumpah. Kita bakal sering ketemu nanti, kan?”

“Akan ku ingat.” Pria di belakangnya mengiyakan.

Dan mereka pun sampai di pintu besi ganda yang, begitu ditarik pria paling depan, mengarahkan mereka ke sebuah koridor luas. Pria kedua menoleh ke belakang selagi pintu tertutup secara sendirinya. Terdapat penghalang besi tebal yang tertanam di kedua sisi ujung pintu, menutup bagian engselnya sampai 1/3 sisi pintu sehingga pintu tidak mungkin bisa didorong dari sisi lainnya tanpa menghancurkan kedua penghalang itu.

Dia kembali menoleh ke depan dan menyadari pintu di depannya juga sama. Sebuah pos memakan 1/3 sudut pojok koridor di depannya. Beberapa personel keamanan berkumpul di koridor yang tengah mereka lalui. Kedua pria itu tetap berjalan lurus.

“Mereka cuma akan mengecek kartu pengenalmu ketika mau menuju area kita datang tadi. Jadi pastikan setidaknya kau memfotokopi kartumu nanti.” Kata Jones selagi menunjukkan pos di depan mereka.

“Apa itu gratis?” Tanya pria di belakangnya. Balasannya cuma suara tertawa.

“Kawan, apa KOG meminta 500 perak tiap fotokopi kertas? Tidak, itu gratis. Dan itu berlaku untuk perlengkapan kantor lain. Lu perlu kertas untuk mencetak dokumen? Tunjukan kartu pengenalmu dan pergi ke ruang persediaan kantor.” Kata Jones selagi menunjuk pintu di belakang mereka. “Ruangannya berada di sebelah kanan. Seharusnya plakat di atasnya masih terbaca.”

“Baik.” Pria di belakangnya membalas.

“Meskipun pertanyaanku tadi mengingatkanku akan sesuatu,” Jones berhenti sejenak di dekat pos. Pria di belakangnya diam menunggu apa yang akan dia katakan selagi Jones bersandar.

“Mungkin ini tidak terpikirkan bagiku atau pegawai lain yang bisa pulang jika jam kerjanya selesai, tetapi lu menetap dalam situs, kan?”

Pria yang ditanyanya menghela nafas, “Perjanjian kerjanya seperti itu. Satu tahun di sini. Mungkin bisa lebih cepat, tetapi seperti itulah.”

Jones memegang pundak pria di sampingnya selagi berkata, “Hei, tenang saja. Kalau boleh ku katakan, hampir semua pegawai lantai Keter menetap di situs. Penjaga juga sama, pada lantai mana pun dia ditugaskan.”

Tidak menunggu lama sebelum Jones melanjutkan perkataannya. “Jadi, mengenai bagian tadi, bagi personel yang memang diharuskan atau berdasarkan keinginannya tinggal di situs ini, sementara atau selama masa kerjanya, lu- ehm, formal sedikit karena penting, kau seharusnya dapat seragam standar Yayasan sebanyak paling banyak enam. Itu untuk enam hari, meski kau cuma diharuskan memakainya Senin dan saat ada acara lain, Indonesia, kau tahu. Juga jangan tanya mengenai batik, jawabannya tidak wajib dan tidak diatur – paling tidak, tidak di sini. Laundry ada di ruang teknisi; minta izin saja pada mereka untuk memakainya.”

“Kurasa aku tidak akan bisa memakai sesuatu yang bagus seperti jasmu, eh?” Kata pria satunya selagi menunjuk jas cokelat yang tengah dikenakan Jones yang tidak ditutup, menampilkan dasi hitam dan kemeja putihnya.

“Nah, mengenai ini, lu bisa nitip dengan pegawai yang tidak tinggal di sini buat ngebeli apa pun di luar. Mau baju kek, apa kek, asal ada duitnya. Tapi lu baru gajian bulan depan, jadi untuk sementara pakai kemeja itu saja.” Kata Jones yang masih bersandar selagi melihat ke jas yang dikenakannya.

“Yah, setidaknya kalian tidak menguras uang di dompetku saat mengembalikannya. Mungkin aku akan beli kaus nanti." Kata pria di sampingnya. "Heh, jadi ini lanjut tidak?” Katanya sambil menggerak-gerakkan kakinya karena pegal berdiri.

“Ah, baik. Seharusnya lu bersandar aja tadi.” Kata Jones selagi berdiri dan melanjutkan berjalan.

Dia segera berjalan menuju ujung koridor dan mendorong pintu besi ganda di depannya. Pria di belakangnya mengikutinya. Mereka sampai di area yang lumayan luas. Terdapat dua buah lift di depannya. Di sisi kiri terdapat koridor yang bercabang menjadi dua lagi di dalamnya. Di sisi kanan terdapat sebuah pintu besi ganda yang tertutup.

Sisi kanan mereka sepi, kebanyakan orang berada di sisi kiri mereka.

“Nah, kantor dan asrama letaknya di sana. Terpisah jauh dari anomali, jadi aman-aman saja.” Kata Jones selagi mulai berjalan ke sebelah kiri.

“Yang di kanan itu mengarah ke mana?” Tanya pria di belakangnya, masih berjalan pelan mengamati sekitarnya.

“Auditorium. Satu-satunya ruangan yang menghubungkan langsung lantai Safe, Euclid, dan Keter. Cuma dipakai saat ada pertemuan seluruh situs.” Kata Jones yang masih berjalan semakin jauh.

Pria itu akhirnya berada di tengah area itu. Dia memutuskan untuk berbalik dan melihat pintu tempatnya datang tadi.

Yang pertama disadarinya adalah ukiran di dinding bagian atas pintu yang seharusnya ditempati oleh plakat. Ukiran ditulis dalam bahasa Inggris, bertuliskan satu kata,

'Gate of Dis'.

“Oi, cepetan!” Suara Jones terdengar di kejauhan. Pria itu berhenti menatap ukiran di atasnya dan setengah berlari menuju ke kiri.

Selagi dia melalui simpangan koridor, dia menyadari koridor di kirinya merupakan area kantor umum di mana tiap meja hanya dibatasi sekat. Koridor kanan merupakan area kantor pribadi.

Jones terlihat sedang mengetuk salah satu pintu. Di pintu besinya hanya terdapat penanda nomor B7. Begitu pria tadi sampai di samping Jones, pintu besi itu terbuka.

Seorang pria berkacamata dengan jas dan dasi hitam membuka pintunya. “Jones! Jadwal CCTV baru?” tanyanya langsung selagi membenarkan rambutnya yang setengah berantakan.

“Ga, bukan. Kayak lu ada rencana baru aja.” Kata Jones, menjawab pertanyaan dadakan pria di depannya.

“Ya, belum sih. Jadi ada apa?” Kata pria di ambang pintu selagi menatap ke pria di belakang Jones.

“Lu dapat asisten, Keris. Ini peneliti junior…” Jones terhenti selagi mengingat kembali apa yang dia dengar pagi tadi.


“Kau antar dia ke nak Louis, ya.” Kata seorang pria tua kepada Jones di ruangannya.

“Baik.” Kata Jones kepada pria itu selagi dia beranjak keluar. Mendekati pintu, dia tidak bisa menahan rasa penasarannya dan akhirnya berkata, “Pak Herman, boleh aku bertanya?”

Herman, yang berada di belakang mejanya menjawab, “Silahkan, nak Johannes.”

“Kenapa Ker- kenapa Louis? Bapak tahu dia penyendiri, kan?” Jones akhirnya bertanya.

“Justru karena itu,” Herman menjawab, “Dia terlalu lama sendiri. Dia hanya berbicara kepadamu dan beberapa orang lain sejak insiden itu. Ku harap dia mau membuka diri lagi.”

“Seorang penyendiri yang kebelet ingin naik jabatan disatukan dengan pelarian Insurgent, kau juga ingin situs ini hancur, Pak Herman?” Jones bertanya selagi mengalihkan pandangannya dan melipat tangannya.

“…Mungkin itu yang diinginkan Direktur Stefan waktu memposisikan nak Zakaria.” Jawab Herman.

“Oh, sial. Ini pengaturan dari direktur? Yah, tidak mengejutkan sih. Maaf, aku salah sangka, Pak.” Kata Jones selagi mulai berjalan ke pintu keluar.

“Satu lagi,” Kata Herman dari belakang, mengharuskan Jones berbalik.

“KOG menganggap dr. Zakaria sudah mati. Prosedur ganti nama dinyatakan tidak memungkinkan saat ini oleh RAISA karena akan memerlukan pengubahan dokumen akademik Zakaria yang masih digunakan untuk dokumentasi Yayasan. Dewan O5 pasti gusar kepada siapa pun pengamat luar itu karena membebani RAISA sekarang.”

Herman menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan, “Intinya, kita punya alternatif; kita akan merujuk ke kode nama setiap merujuk ke dr. Zakaria. Dan nama yang dipilihnya adalah…”


“…Balefire.”

“Maaf?” Pria yang bernama Louis bertanya keheranan.

“Kode nama, Keris. Selama dia bekerja di sini, dia-“ Perkataan Jones dipotong oleh Louis yang berkata, “Bukan itu, kok aku dapat asisten?”

“Yah, tanya sendiri sana dengan Stefan. Gue cuma ngantar dia.” Jones hanya mengalihkan pandangannya.

“Keparat. Sekarang aku bakalan dapat kerja ganda.” Louis mengeluh.

Jones segera mengisyaratkan Balefire, pria di sampingnya, untuk menunggu selagi dia masuk dan merangkul Louis.

“Dengar kawan, bukannya lu ingin pindah situs secepatnya? Ku kira lu bakal senang?” Jones bertanya selagi menjauhi pintu.

“Dengan penelitian terobosan, bukan kerja ganda.” Jawab Louis dengan gusar.

“Dengar, pria itu, dia akan tinggal di sini untuk mengerjakan sesuatu bagi Direktur Stefan paling lama setahun. Selain itu, dia menganggur.”

“Jadi?” Louis bertanya tidak sabaran.

“Dia shift malammu. Pekerjakan saja dia apa pun yang kau malas lakukan. Itu gunanya asisten. Sumpah, jika gue punya satu gue suruh ketik berkas sekalian.”

Louis hanya diam. Masih mempertimbangkan.

“Ayolah, ini lebih baik daripada menunggu jadwal CCTV padam untuk membuat babak belur Onyx.”

“Entahlah, terdengar lebih menyenangkan, meski sepertinya aku harus menyewa sepuluh orang. Sumpah, tidak ada pekerja kantoran yang bisa mengalahkan lima penjaga Yayasan dalam baku hantam. Pria itu mengerikan.”

“Dan lu yang akan babak belur pada pemadaman CCTV selanjutnya jika dia tahu lu yang ngirim mereka. Jadi apa sekarang ini terdengar seperti ide bagus?”

Louis mulai berpikir sejenak. Beberapa saat kemudian, dia akhirnya berkata, “Satu pertanyaan, kenapa dia memakai masker gas?”

Jones melirik ke celah pintu yang setengah terbuka. Balefire masih berdiri di luar, mengamati sisi kiri dan kanan koridor yang kosong.

“Sebut saja bekas luka. Gue sudah lihat, sebaiknya lu kagak.” Jones menjawab cepat.

“Sekarang kau membuatku penasaran. Seburuk apa sampai dia mengenakan masker gas.” Louis berkata selagi ikut melihat ke arah pintu.

“Sobekan pipi. Ku kasih fotonya nanti, jadi maklumi saja sementara.” Jawab Jones.

“Ga, persetan mau seluruh muka kek, enak aja make atribut tidak vital. Antara dia lepas masker gas konyolnya atau lu bisa cari peneliti lain.” Kata Louis selagi berjalan ke mejanya.

“Keris, kau menyusahkanku.” Jones berkata selagi mulai berpikir. Sesaat kemudian, dia dapat ide, “Masker medis gimana? Lira makai kan kadang?”

“Kan dia kepala lab, Jones. Tapi ya sudahlah. Masih wajar.” Jawab Louis selagi menghela nafas.

“Bagus,” Kata Jones selagi berjalan keluar ruangan untuk menemui Balefire.


“Jadi…” Louis menghela nafas selagi melepas kacamatanya.

“Jadi?” Pria di depannya bertanya.

“Jadi beginilah keadaannya.” Kata Louis selagi membersihkan lensa kacamatanya.

Terdapat tiga meja di ruangan Louis. Satu meja besar untuknya, satu meja panjang berisi tumpukan dokumen tidak tertata di ujung kiri depan ruangan. Dan satu meja kecil di samping kanan mejanya yang Louis kosongkan untuk asisten barunya.

Louis duduk di kursi putarnya sementara asisten barunya tengah bersandar di dinding. Tidak ada kursi sampai logistik datang dan membawanya.

“Heh, jujur saja, aku merasa ingin merampok kursi di luar sekarang, tuan. Boleh saya duduk di meja sementara?” Asistennya berkata.

“Ga, apaan meja buat kerja dipakai duduk.” Louis menyela cepat.

“Baik.” Kata asistennya yang masih bersandar.

“Jadi, Aku Peneliti Senior Christopher Louis, dan akan ku jelaskan tugasmu di sini sebagai asistenku sekarang.” Kata Louis selagi memasang kembali kacamatanya. “Sederhana saja, kau punya satu tugas,”

“Aku ingin naik jabatan ke situs lain,” Louis memperbaiki posisi kacamatanya, “dan kau akan membantuku mewujudkannya.”

“Aku… ehm… baik, oke. Bagaimana caranya?” Tanya asisten barunya.

“Dengan terobosan! Kita akan meneliti anomali dan menemukan terobosan. Itu cara tercepat naik jabatan yang kutahu. Maksudku, aku peneliti senior sekarang. Dan itu karena menanyakan hal dasar mengenai antropologi dari makhluk yang kita punya. Banyak cara untuk menemukan terobosan baru.”

“Jadi seperti itulah,” Louis melanjutkan, “Ku harap kau siap akan revolusiku.” Dan dengan itu, Louis tiba-tiba berdiri dari kursinya.

“Kau menemukan terobosan baru akan suatu anomali? Selamat datang di revolusiku.”

Dan Louis pun berjalan ke pintu keluar. Sebelum itu, dia berkata kepada asistennya, “Aku keluar sebentar, sementara itu, pikirkan baik-baik perkataanku tadi.” Sebelum menutup pintu.

Asistennya cuma menatap pintu ruangan. Sesaat kemudian dia duduk tersandar di lantai selagi menatap ke langit-langit ruangan.

Yep, kurasa aku dapat menduga salah satu dari ketiga orang yang kalian cari. Katanya kepada dirinya sendiri, menerawang nasibnya ke depan.

Kronik Situs-79

Prolog
« Sebotol Racun Di Ujung Meja | Tinggalkan Segala Harapan, Engkau Yang Datang Kemari |

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License