Tabu Situs-79
rating: +1+x

Beberapa Tahun Silam

“Kau mungkin sudah mendengar ini dari personel senior lain, tapi akan kuceritakan lagi.”

Seorang pria berseragam personel keamanan berdiri di depan sebuah meja. Di sisi lainnya seorang pria yang lebih tua darinya duduk bersandar di kursinya. Pandangannya tak lepas dari buku yang tengah dibacanya, tetapi sesekali dia melirik ke pria di depannya.

“Meski ini cuma cerita yang diteruskan dari personel lama, tetapi anggap ini sebagai peringatan dari mantan atasan baikmu ini!”

Pria yang berdiri membenarkan posisi topi abu-abu yang dikenakannya selagi menunggu apa yang orang di depannya akan katakan.

“Jadi dengar. Di situs ini, ada sebuah tabu…”


Sekarang

Ruang interogasi Lantai Euclid Situs-79 lumayan sibuk saat itu. Sekumpulan personel keamanan menyeret masuk ke dalam ruangan setidaknya tiga orang. Dari seragamnya, mereka teknisi situs untuk lantai ini.

Kepala penahanan situs, Herria Ditya mengamati para teknisi itu didudukkan di kursi-kursi yang sudah disusun dari ruang observasi. Dia tahu kenapa mereka dijejerkan bak mau dieksekusi.

Dan mereka memang teknisnya mau dieksekusi. Personel keamanan tadi meraih jarum suntik yang Herria tahu berisi amnestik Kelas B. Sudah lebih dari enam jam sejak mereka mencoba membantu upaya pelanggaran penahanan masal situs ini karena rekan Insurgent mereka, amnestik Kelas A tidak dapat lagi digunakan.

Mereka jelas tidak akan loyal lagi ke Yayasan jika tidak diberikan amnestik. Seharusnya mereka diberi amnestik Kelas C seperti SCP-019-ID, tetapi situs ini cuma punya satu mesin tersebut dan prosesnya memakan waktu terlalu lama. Jadi Kelas B mungkin cukup.

Herria menatap mereka dari balik kaca satu arah ruangan tersebut. Para tahanan selalu seperti tengah protes akan sesuatu. Herria telah mewawancarai mereka dan mereka menyatakan termotivasi melawan Yayasan setelah Toni dijadikan Kelas-D. Itu merupakan rahasia yang terbongkar entah oleh siapa. Herria belum tahu sampai sekarang. Yang jelas berpatokan dengan itu, Herria mengambil langkah alternatif dengan hanya memberikan mereka amnestik Kelas B dan berbohong mengenai Toni nanti.

Masing-masing teknisi disuntik dan seluruh personel menunggu reaksinya. Satu persatu kehilangan kesadaran dan dibawa keluar melalui ruang observasi. Heria mengamati mereka digotong satu-satu keluar melalui pintu tersebut. Mereka akan ditidurkan di bangsal medis dan diberi alibi bahwa mereka telah melihat bahaya kognitif.

Setelah ruangan kosong, sekumpulan personel keamanan masuk kembali membawa tiga orang teknisi. Mereka giliran kedua. Herria duduk di sini mengawasi prosesnya terus berjalan.

Dia menoleh ke arah pintu yang kini tertutup rapat. Awalnya tadi dia mengajak seseorang untuk menonton acara pembuka dengan Toni Sang Insurgent dan SCP-019-ID menjadi yang pertama diberi amnestik, tetapi dia sepertinya cuma tertarik untuk itu dan keluar setelahnya. Herria tetap duduk di sini sampai semuanya selesai. Itu tugasnya.

Sebuah suara seperti benturan besi kecil tiba-tiba terdengar di belakangnya. Herria menoleh cepat; tidak ada orang di ruangan ini selain dirinya saat ini, terutama di belakangnya. Dia berdiri dan melihat ke sekeliling, tidak mengetahui dari mana sumber suara tersebut.

Mungkin cicak. Berpikiran seperti itu, Herria kembali duduk dan mengamati proses penyuntikan tiap teknisi.

Dia tiba-tiba menggerakkan tangannya ke samping kepalanya. Herria melirik telapak tangannya berhasil meraih mata pisau kecil yang berada tepat di dekat lehernya.

“Eh?!”

Herria akhirnya menoleh dan mendapati seorang perempuan berdiri di belakangnya. Dialah yang memegang pisau di dekat lehernya dan langsung menariknya dengan terkejut begitu Herria berhasil menangkapnya.

Selain kemeja putih standar staf Yayasan, dari kacamata hitam yang selalu dikenakannya, Herria bisa menebak dia siapa.

“Bu Heliza.”

Perempuan di belakangnya memasukkan kembali pisau di tangannya ke kantong celananya dan berkata, “Gagal lagi, ya… Bentar, kan aku sudah bilang panggil ‘kak’ aja!”

Tidak memedulikan kekesalan perempuan paruh baya dengan selera humor bermasalahnya di belakangnya, Herria melirik lagi ke arah pintu tadi, jelas tidak dibuka sejak personel sebelumnya keluar. Dia sudah menduga itu, ini bukan pertama kalinya peneliti senior ini berhasil muncul tepat di belakangnya entah bagaimana. Dia jelas mengejutkan Herria dan dia jelas bisa membunuhnya kalau mau.

“Kau perlu apa?” Herria kembali mengamati personel di dalam ruang interogasi menyeret keluar teknisi yang sudah diberi amnestik.

“Bio. Dia memintaku melaporkan proses pemberian amnestik.”

Pak Birmanto, ya… Herria mengangguk. “Maksudmu ‘menceritakan’ proses pemberian amnestik kepadanya?” Herria menanggapi. Dia tahu mantan atasannya itu pasti tertarik akan hal semacam ini dan mengirim Heliza untuk menontonnya untuknya karena dia sendiri tidak pernah keluar ruangannya. Dia dan perempuan ini satu angkatan rekrutan setahunya. Satu hal yang membuat Herria tidak pernah bisa menyelidiki personel satu ini adalah karena Birmanto menghalanginya, mengatakan itu diatas level izin akses dan semacamnya. Herria sendiri tidak lagi memedulikan hal tersebut.

“Yah begitu lah.” Heliza berjalan mendekati Herria dan duduk di sampingnya. “Aku ga sempat lihat pas Toni dan itu anomali diamnestik, kau keberatan menceritakannya?”

Herria mengembuskan nafas dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursinya. Setelah diam beberapa saat dia berkata, “Toni diberi amnestik Kelas F dan SCP-019-ID diberi amnestik Kelas C. Pesan terakhir pertama diberikan SCP-019-ID, yang meminta Toni duluan yang diberi amnestik. Toni meminta mereka diberi amnestik secara bersamaan. Itu saja.”

“Garing amat ceritanya kalau kau yang nyeritain.” Heliza setengah mengejek. “Jadi SCP-019-ID meminta Toni yang dieksekusi duluan, eh? Bukan dirinya?”

Herria menggeleng, mengetahui apa yang Heliza coba katakan. “Kalau menyangkut amnestik berpasangan, menurutku yang pertama dieksekusi adalah yang pertama melupakan pasangannya. Jika SCP-019-ID meminta duluan diberi amnestik seperti katamu, itu akan terlihat seperti dia yang ingin pertama melupakan Toni dari hidupnya.”

“Pasangan, ya…” Heliza mengangguk mengerti. Dia diam mengamati personel membawa masuk tiga orang teknisi lagi.

Herria melirik ke samping, ke arah Heliza yang mengamati kaca satu arah di depannya. Di antara semua kata, dan kau memilih mengatakan itu…

“Kita selalu diingatkan tabu sialan itu, kau tahu?”

Herria mengembuskan nafas mendengar perempuan di sampingnya mengatakan hal tersebut. Dia sudah menduga dia akan menyinggung subjek tersebut, jadi dia langsung berkata dengan tegas, “Hal menggelikan semacam itu tidaklah ada.”

Dia cuma bisa menepis dengan lemah; dia tahu sendiri dia tidak bisa membantah adanya sebuah tabu di situs ini. Sebuah pola, tepatnya.

“Terus menyangkal, yah… Terserah aja sih.” Heliza menanggapi.

“Kau sendiri percaya hal seperti itu?” Herria balik bertanya, masih menatap ke arah Heliza yang memilih fokus ke proses pemberian amnestik para teknisi.

“Apa kau sendiri percaya bahwa tiap pasangan di Situs-79 ditakdirkan untuk menderita?”

Heliza terkekeh, “Terdengar menggelikan, memang. Tapi tiap angkatan selalu mengalaminya. Angkatan personel sebelumnya, si Christopher itu mengalaminya juga, kan? Insiden SCP-007-ID itu?”

“Angkatan kita tidak, kan?” Herria menanggapi.

“Karena memang tidak ada, mungkin. Aku saja masih gagal dapat pacar mulai pertama di sini.” Balas Heliza, jelas meratapi dirinya dengan nada bercanda itu.

“Dan kau masih belum menyerah meski mengetahui itu.”

Heliza menggeleng dan menoleh ke arahnya, “Aku punya rencana mengakali itu, kau tahu!”

Herria berhenti menatapnya dan kembali bersandar, “Pacaran di luar situs, kan? Jujur saja, percaya tabu itu saja membuatku meragukanmu benar-benar berhasil menikah nanti.”

“Kurang ajar, kau sendiri?” Heliza tidak terima dan bertanya balik.

Herria menggeleng dan menurunkan topinya, malas mengikuti permainannya. “Sudah ku bilang tidak akan ada yang tertarik dengan pemabuk yang menghabiskan seluruh masa mudanya di pedalaman Siberia. Aku tahu diri, kau tahu.”

Heliza tertawa kecil mendengar kepasrahan Herria lagi. Tetapi akhirnya mereka diam dan mengamati personel keamanan keluar ruang observasi membawa tiga orang sebelumnya dan kembali dengan dua orang lagi. Mereka yang terakhir.

“Menurutmu, apakah kejadian ini akan terulang lagi?” Heliza bertanya.

Personel keamanan bersiap menyuntikkan amnestik kepada dua orang yang tersisa.

“Pendapatku adalah kita seharusnya mulai menyelidiki ini sebagai anomali baru. Mungkin kau bisa melakukan itu dan pindah situs.”

Kedua teknisi di ruang di depan mereka berdua telah disuntik amnestik dan mulai kehilangan kesadaran.

Heliza terkekeh, “Tidak semua tabu itu anomali, kan?”

Herria melirik ke arah Heliza. Dia hanya melihat pantulan wajahnya dari kacamata hitamnya.

“Kecuali jika ia membahayakan situs ini kedepannya.”

Dua orang teknisi yang tersisa dibawa keluar melalui ruang observasi.

Heliza berdiri dari kursinya selagi tersenyum, “Jadi pada akhirnya kau percaya juga tabu itu ada!”

Herria menoleh kembali ke arah ruang observasi yang mulai dikosongkan oleh personel keamanan yang tersisa. “Sudah Ku bilang hal menggelikan semacam itu tidaklah ada.”

Tidak ada balasan di sampingnya.

Herria berdiri dan melihat ke sekelilingnya; dia kembali sendirian di ruangan. Dia dikejutkan ketokan kaca di belakangnya dan menoleh kembali ke arahnya. Personel keamanan yang tersisisa mengetok dari balik kaca dan menunjuk ke arah pintu keluar ruang interogasi di samping, bukan pintu ruang observasi. Sepertinya dia ingin langsung mengunci ruang interogasi. Tanpa menunggu balasan Herria, dia keluar.

Herria duduk kembali menatap ruangan yang kini kosong dan gelap di depannya. Dia dengan perlahan meraih botol di samping kursinya.

“Menggelikan…”

Kronik Situs-79

Selingan 2
| Tabu Situs-79 | Ketidaktahuan Adalah Kebahagiaan »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License