Peneliti Junior dengan kode nama Balefire tengah berjalan menyusuri area kantor pribadi. Dia perlu kopi lagi dan akhirnya dia bisa mendapatkannya setelah larangan keluar diangkat. Begitu sampai di ujung area kantor, dia melihat seorang personel yang mengenakan pakaian kasual tengah berdiri di depan lift. Dia jelas bukan personel shift malam, entah apa yang dia lakukan di lantai ini. Tetapi sepertinya urusan apa pun yang dia punya sudah lama selesai dan akhirnya dia baru bisa memakai lift setelah sebelumnya baru dinyalakan.
Bale memutuskan untuk mendekatinya. Orang itu mengangkat sedikit topi hitamnya begitu mendengar suara langkah kaki mendekat, ingin tahu siapa di belakangnya.
“Topi itu, kau Agen Adrian, bukan?” Bale berkata begitu cukup dekat.
“Dokter Balefire, ya…” Adrian membalas. Masker gas yang dikenakannya – baru bisa dia pakai setelah atasannya pulang – jelas membuatnya mudah dikenali di seluruh situs. “Kau perlu apa?” Dia bertanya.
Bale menunjuk ke arah dispenser ruang tunggu lantai Euclid. “Kopi. Aku tak akan bertahan semalaman tanpa itu. Kalau kau?”
“Maksudmu?” Adrian membalas heran selagi Bale lewat di depannya.
“Kau perlu apa di lantai ini?” Bale memperjelas pertanyaannya selagi menyiapkan gelas.
Adrian berbalik selagi menjawab, “Aku ketiduran di kantin.”
“Huh, kau serius? Kau tak terkena efek SCP-065-ID?” Kini giliran Bale yang bertanya dengan ekspresi heran.
Menjawab itu, Adrian mengeluarkan sesuatu dari kantongnya; seperangkat penutup telinga. “Aku tidak suka diganggu, jadi aku sering memakai ini. Siapa sangka aku beruntung karenanya.”
Bale hanya menatapnya dari balik masker gasnya selagi menyiapkan minumannya. Dia jelas tidaklah percaya akan keberuntungan sehebat itu. Begitu dia selesai membuat minumannya, dia memegang mugnya dan berjalan mendekati Adrian.
Ada sesuatu yang ingin diujinya.
“Menurutmu,” Bale berkata pelan di sampingnya. Mug di tangannya diturunkannya sedikit, siap untuk dilempar jika diperlukan. “Apakah pelanggaran penahanan SCP-065-ID ini merupakan pengetahuan-“
Belum selesai Bale bertanya, lift tiba-tiba terbuka, mengalihkan perhatian mereka berdua.
Di dalam lift, terdapat seorang peneliti tua diikuti peneliti lain yang sepertinya merupakan asistennya.
Dari rambut pirangnya yang memudar, meski dia mengenakan jas lab putih seperti dirinya, Bale jelas mengenalnya karenanya.
“Peneliti Junior Lucy…”
Lucy sendiri tertegun menatap orang di depannya sepertinya mengenalnya. Masker gas yang dikenakannya jelas sangat khas.
“Peneliti Junior Balefire?”
“Nak Bale dan Nak Adrian, kalian ingin memakai lift?” Peneliti yang lebih tua bertanya selagi perlahan keluar.
“Ah, Pak Herman. Cuma dia, kok.” Bale berkata mewakilkan mereka berdua. Adrian segera melangkah masuk ke lift setelah kedua orang tadi keluar.
“Tadi kau bertanya sesuatu, dokter?” Adrian bertanya selagi menekan tombol.
Bale melirik cepat ke sekeliling dan menimang risiko untuk menanyakan hal tadi. Akhirnya dia berkata, “Lupakan saja.”
Adrian hanya menatapnya selagi lift tertutup, entah apa yang dipikirkannya.
“Saya asumsikan Nak Louis sudah pulang dan anda menggantikannya sekarang?” Herman berkata selagi berjalan melaluinya.
“Benar, Pak.” Bale menjawab selagi mengangguk.
“Jadi saya rasa anda tidaklah sibuk malam ini.” Herman melanjutkan. Dia kemudian mengalihkan perhatiannya ke Lucy dan berkata, “Nak Lucy tunggu di sini dulu selama saya mengecek keadaan di area pembatas. Kalian berdua mungkin bisa berbincang dulu selagi menunggu.”
Dan dengan itu Herman melangkah menjauh.
Kini tersisa Lucy dan Bale di ruang tunggu. Lucy melirik ke arah Bale dengan waspada, mengingat betapa menjengkelkannya dia saat operasi terakhir mereka. Bale sendiri melirik ke arahnya sekilas sebelum melirik ke arah minumannya. Dia ingin segera kembali ke ruangan atasannya dan melepas maskernya untuk meminumnya.
Lucy sepertinya menyadari kepala Bale yang sedikit tertunduk sehingga berkata, “Kau tak ingin meminumnya?”
Bale hanya tertawa kecil dan menjawab, “Terlalu panas, akan ku minum di dalam ruangan nanti.”
Lucy mengangguk mengerti. Dia setengah berharap bisa membuatnya membuka masker gas itu. Tetapi dia memilih untuk tidak terlalu memaksakan hal tersebut.
”Kata temanku dia mengalami trauma yang membuatnya tak bisa melepas masker gasnya.”
Lucy ingat Heru pernah mengatakan sesuatu seperti itu mengenai kenapa dia memakai masker gas. Mengetahui hal tersebut merupakan alasan kenapa Lucy merasa tak nyaman menanyakan atau bahkan memintanya untuk membukanya. Dia tahu apa yang trauma bisa lakukan kepadanya.
“Jadi,” Tiba-tiba terdengar suara dari Bale, “Kenapa kau berada di lantai ini? Maksudku, kau peneliti junior, kan? Ku kira hanya peneliti senior yang boleh turun ke lantai bawah.”
“Aku diajak Pak Herman untuk menemaninya. Jadi ku rasa tidak apa-apa aku di sini.” Lucy menjawab. “Dan bicara mengenai itu, bagaimana kau bisa dipekerjakan di lantai ini? Kau juga peneliti junior, kan?”
Bale hanya menoleh ke samping seraya menjawab, “Aku ada proyek penelitian lain yang mengharuskan untuk berada di lantai ini. Sayangnya aku tak yakin diizinkan untuk mengatakan itu kepadamu.”
Lucy mengangguk mengerti kembali. Dia juga memiliki rahasianya sendiri.
“Bagaimana rasanya bekerja dengan Pak Christopher?” Lucy kembali bertanya.
Bale terkekeh sebelum menjawab, “Atasan buruk, harus kuakui.”
Mereka tertawa kecil menyadari adanya kesamaan pendapat. Tetapi kemudian Lucy berkata pelan, “Tetapi sebelumnya kau memaksa kami menyerahkan proyek kami untuknya. Menurutku kau dan dia sama saja.”
“Seperti kataku, tidak ada salahnya mencoba menyenangkannya sedikit. Akan berakhir baik untukku setidaknya.” Bale membalas dengan enteng.
Mereka kemudian saling diam. Bale melirik ke arah pintu pembatas dan bertanya-tanya berapa lama lagi Herman akan kembali. Dia melirik ke minumannya kembali sebelum akhirnya berkata, “Jadi, ku dengar kau menembak orang.”
Lucy tertegun. Dia sedikit tidak menduga malah Bale yang duluan menjadikan traumanya sebagai bahan pembicaraan. “Yah. David mencoba membunuhku, jadi ku anggap itu sebagai upaya pembelaan diri.”
“Kau bisa menghindari semua itu, kau tahu?” Bale berkata. “Aku lebih memilih untuk tidak ikut-ikutan obsesi absurb atasanku, tetapi ku dengar kau menyelidiki insiden kucing itu sampai kepada David. Kenapa?”
“Aku tidak bisa membiarkan orang tak berdosa seperti Pak Herman mendapat ancaman mematikan seperti itu saja, kan?” Lucy membalas dengan nada kesal bak jawabannya seharusnya sudah jelas.
Di luar dugaan Lucy, Bale hanya terkekeh. “Kau cukup naif jika berpikir ada orang tak berdosa di dunia ini. Terlebih lagi di situs ini.”
Bale menoleh ke arah Lucy dan berkata, “Atasanku Louis berkata dirinya tidaklah melakukan ini semua tanpa alasan. Apa kau tahu sesuatu mengenai istrinya?”
Lucy mengangguk. “Aku tahu mengenai kondisi istrinya, tetapi aku yakin bahkan istrinya tidak akan menyetujui apa yang Pak Christopher coba lakukan untuknya.”
“Setuju mengenai itu.” Bale tiba-tiba membalas, di luar dugaan Lucy meski dia senang mendengarnya. Bale sendiri tahu atasannya terlalu obsesif mengenai seluruh upaya revolusinya. Dia juga merasa dirinya tidak akan mendapat apa pun mengenai Herman dari asistennya jika dia sudah termakan karismanya.
Setelah beberapa puluh menit kemudian, Herman akhirnya keluar dari area pembatas dan berjalan mendekati Lucy dan Bale.
“Jadi urusan Bapak sudah selesai?” Lucy bertanya saat dirasanya cukup dekat.
Herman mengangguk. Dia lalu menoleh ke arah Bale dan berkata, “Nak Bale, kami akan kembali ke atas. Maaf mengganggu anda malam ini.”
Mereka berdua berjalan menuju lift, melewati Bale. Bale sendiri merogoh ponselnya dan mencoba menekan sesuatu meski hanya dengan satu tangan. Tiba-tiba dia berkata, “Pak Herman,”
Herman menoleh seketika seraya berkata, “Ya, ada apa Nak Bale?”
Bale menatap ke arahnya, “Bicara mengenai maaf, Pak Louis masih menunggu permintaan maaf anda mengenai insiden tahun 2013. Cuma ingin memberitahukan itu. Anda bisa menyampaikannya ke saya dan akan saya teruskan.”
Lucy terlihat heran dan sepertinya siap menyanggah, tetapi Herman terlebih dahulu berkata dengan senyum, “Katakan kepadanya bahwa saya selalu merasa bersalah mengetahui bahwa saya menyebabkan istrinya terluka. Itu adalah insiden yang melukai kita semua, jadi semoga dia mau melupakan masa lalu dan menjalin hubungan baik kembali dengan saya.”
“…Baik, akan saya sampaikan.” Bale membalas.
Dan dengan itu Herman menekan tombol naik dan pintu lift pun tertutup. Bale kembali sendirian di ruang tunggu tersebut.
Dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya. Dia menyalakannya dan mematikan perekam yang sebelumnya dia nyalakan.
Antara dia tidak tahu apa yang dia lakukan,
Dia membuka hasil rekaman terbaru yang baru saja dia dapatkan. Dia memilihnya dan menekan tombol hapus setelahnya.
Atau dia memang benar sengaja mencoba menghindari untuk mengatakan kata maaf untuk insiden itu. Louis bodoh, dia bukan psikopat kalau begitu; dia sosiopat.
Bale lalu perlahan beranjak pergi dari tempat itu. Kopi di mugnya jelas sudah dingin. Sebelum memasuki area kantor pribadi, dia melirik ke arah lift sekali lagi,
Andrian, Herman, Lucy… aku lupa mencoba kode autentifikasi Insurgent kepada mereka.
Tetapi pada akhirnya dia berbalik dan kembali melangkah.
Tidak, aku sudah mencobanya ke Lucy. Jika ada satu orang yang bisa kupercaya bukanlah agen ganda, itu adalah dia.
Pertanyaannya adalah apakah suatu hari nanti dia akan membunuhku suatu hari untuk atasannya atau tidak? Satu tahun adalah waktu yang cukup lama untuk bisa menumpuk alasan untuk melakukannya.
“Anda tidak apa-apa, Pak?” Lucy bertanya dengan khawatir selagi mereka dalam lift. Dia tidaklah menyangka Bale akan menyinggung sesuatu seperti itu. Dia yakin kalau atasannya mencoba sebisanya agar terlihat tenang menjawabnya.
“Tenang saja Lucy, saya tidak apa-apa.” Herman membalas. Pintu lift terbuka dan Lucy melangkah keluar.
Sampai Lucy menyadari hanya dirinya yang keluar. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Herman masih di dalam lift.
“Anda duluan saja ke ruangan saya, Nak Lucy. Saya ada urusan di bawah.” Herman berkata selagi menekan tombol lift. Lucy tidak memiliki pilihan lain selain mengangguk. Dengan itu pintu lift kembali tertutup, menyisakan dirinya sendiri di ruang tunggu lantai Safe.
Semoga Pak Herman tidak apa-apa…
Lucy menatap lift untuk beberapa saat sebelum melangkah pergi. Sebelum memasuki area kantor pribadi, dia melirik ke arah lift sekali lagi,
Aku lupa menyinggung masker gas Bale tadi…
Tetapi pada akhirnya dia berbalik dan kembali melangkah.
Mungkin seperti kata Heru kalau dia memang memakainya karena trauma. Semoga saja wajahnya biasa-biasa saja di balik masker gas itu.
Aku tidak dengar sesuatu mengenai luka besar di pipinya, setidaknya. Aku punya waktu lama untuk mencari orang itu, semoga aku bisa menemukannya dalam setahun paling tidak.
Lift terbuka di ruang tunggu lantai Keter. Herman keluar dari lift dan segera berjalan menuju ruangan lain. Setelah beberapa saat berjalan, dia sampai di sebuah koridor besar yang memiliki pos di tengah-tengahnya. Sisi lain koridor di balik pos tersebut lebih gelap. Tidak ada lampu yang menyala di sana. Sumber pencahayaan di sana hanyalah dari puluhan obor di sepanjang dinding.
Di depan pos tersebut, berkumpul beberapa personel keamanan. Terdapat beberapa orang juga, tetapi bukannya memakai rompi, mereka memakai zirah rakitan dari besi. Lempengan besi juga sepertinya melapisi visor kuning helm penjaga mereka. Sebuah simbol lingkaran dengan dua tiga buah garis menusuk di sisi atas, bawah, dan kirinya terukir di seragam mereka.
Herman mendekati salah satu personel yang memakai topi abu-abu. Orang itu sepertinya menyadari Herman yang mendekat sehingga berbalik.
“Jadi apa kata mereka, Herria?” Herman bertanya begitu dirinya berada cukup dekat.
Herria hanya menggeleng sebagai jawaban awal. “Brethenitas menyangkal terlibat. Mereka juga tidak tahu siapa yang melepas audio SCP-065-ID ke atas. Ku rasa kita hanya bisa memercayai mereka dan meningkatkan keamanan untuk kedepannya.”
“Bukannya ada CCTV di area pembatas?” Herman bertanya.
“Kau mengasumsikan benda itu tidak hancur?” Herria hanya bertanya balik. Herman diam mendengeranya dan mengangguk mengerti.
“Bagaimana dengan ruangan lain?” Dia kembali bertanya.
“CCTV Ruang tunggu lantai Euclid ditembak, jadi yang bisa kita ketahui adalah mereka berasal dari lift.” Herria menjawab.
“Dan korbannya?” Herman melanjutkan.
“Terakhir terlihat meninggalkan area kantor umum pukul tujuh tadi. Entah apa yang terjadi saat itu, tetapi Pak Birmanto menyatakan dia tidaklah terlihat di mana pun lagi.” Herman kembali menjawab.
“Birmanto, ya…” Herman sepertinya memikirkan sesuatu. “Kau benar-benar yakin dia tidak menyembunyikan sesuatu?”
Herria sepertinya terlihat tak senang mendengarnya dan dengan cepat membalas, “Hey, hey. Sudah ku bilang itu mantan atasanku yang kau bicarakan. Aku percaya dengannya, oke. Meskipun dia sekarang bukanlah orang yang ku kenal dulu, tetapi aku menjamin mantan atasanku tidaklah mungkin mengkhianati Yayasan.”
“Baiklah jika anda percaya itu.” Herman mengangguk mengerti. “Jadi, apa yang dia lakukan saat ini?”
Herria hanya diam beberapa saat sebelum dia menjawab, “Aku tidak tahu. Dia masih tertawa tak terkendali saat aku keluar tadi.”
“Apa kau yakin tidak ada rekaman yang tersisa?”
Seorang pria tua bertanya di depan sekumpulan orang yang tengah duduk membelakanginya. Di depan mereka merupakan puluhan monitor yang menunjukkan tiap sudut situs.
Salah satu personel berbalik dan menjawab. “Rekaman auditorium bersih, Pak Birmanto. Tidak ada rekaman lain yang tersisa.”
Pria yang berdiri tadi membenarnya topi beret hijau tua yang menutupi rambut abu-abunya. “Heh, satu lagi insiden tanpa petunjuk, bukan?”
Beberapa personel yang duduk saling lirik. Mereka tahu Birmanto akan tertawa tak terkendali lagi dalam beberapa saat. Dia selalu melakukan itu untuk meredakan stresnya. Tetapi pada akhirnya dia tetap dianggap gila karenanya.
“Ya. Pelaku tidaklah diketahui.” Salah satu personel menjawab.
Terdengar suara tawa sebagai balasan. Suara tawa lepas yang jika didengar dengan seksama akan ketahuan kalau itu merupakan tawa terpaksa.
“Haha! Satu lagi insiden! Ahahahahahaha!”
Dengan perlahan dia berjalan maju mendekati monitor. Dia menghantam panel kontrol di depannya dan berkata di sela tawanya,
“Apa kau memperhatikan ini? Kau menyukai kekacauan yang kami alami? Ahahahaha!”
Mata merah kurang tidurnya menatap ke arah empat buah monitor di depannya. Menampilkan punggung seorang pria yang tengah duduk membelakangi kamera. Dia sepertinya tengah berada dengan seseorang lagi di depannya.
“Sayang sekali, sekarang sudah tengah malam! Ahahahaha!”
“Selamat beristirahat malam ini, pemirsa sekalian! Sampai bertemu malam kemudian!”
Sesosok pria berkata dari balik kelir putih SCP-020-ID. Setelah itu, tiba-tiba saja lampu blencong padam dan bayangan pria tersebut hilang. Membuat hening ruangan.
Suara tepuk tangan pelan terdengar beberapa saat kemudian. Meski ruang penyimpanan SCP-020-ID saat itu penuh beberapa peneliti dan puluhan personel dengan seragam taktis hitam yang menonton pertunjukan tersebut, hanya satu orang yang bertepuk tangan. Para personel yang mengelilinginya hanya menatapnya dalam diam tanpa ekspresi, senapan canggih digenggam dengan erat oleh tangan mereka yang memiliki logo sebuah siluet tangan yang menggenggam panah di lengan seragam mereka.
“What a great spectacle so far,”
Seorang pria kulit putih berusia 50-an dengan janggut hitam berkata dengan aksen amerika khas. Dia terlihat puas menikmati pertunjukkan di depannya tadi.
“I never get bored with the shows this country puts on.”
Suara tepuk tangan dan tawa senangnya memenuhi ruangan tersebut sampai selesai.
Kronik Situs-79
Epilog
« Hari Insiden Itu | Setelah Trompet Peringatan |




