Sebotol Racun Di Ujung Meja
rating: +4+x

“…Jadikan itu empat orang, mereka menemukan satu lagi di lapangan itu.”

“Gosong?”

“Iya. Sama seperti yang lainnya.”

“Baik, tidak ada yang selamat kecuali pria ini… Sebentar, apa matanya memang setengah terbuka seperti itu dari tadi?”

“Saya cek dulu… Bu- Bu Lira, dia sudah sadar!”

“Baguslah, kau beri tahu Pak Herria sana! Baiklah… Pak, apakah kau bisa mendengarku?”

“…”

“Pak? Pak?! Sial, sial, sialan! Pasien mengalami kejang! Ku ulangi, pasien mengalami kejang!”


Sederetan lampu koridor yang redup menerangi langkah sekumpulan orang yang tengah berdiri di tengah koridor. Tidak banyak orang melintasi koridor tersebut malam itu. Beberapa yang lewat tengah menjalani shift kerjanya. Bunyi alarm mengisi sebagian besar keheningan koridor.

Tiga orang berdiri di tengah koridor tersebut.

Direktur Situs-79, Dr. Stefan Strider, bersandar di dinding koridor. Seharusnya dia berada di ruangannya saja dan menunggu laporan, tetapi dia merasa perlu berada di situ. Kaki tua miliknya tidak sekuat dulu, mengharuskan dia bersandar di dinding. Dia tertunduk memandangi lantai yang sedikit retak karena usia. Pandangannya kosong karena entah apa yang tengah dipikirkannya.

Peneliti Senior Dr. Herman Puspito tengah berdiri di sisi seberang sang Direktur Situs, membolak-balikkan beberapa lembar kertas di papan klip yang dia pegang.

Kepala Keamanan Situs-79, Herria Ditya, berjalan bolak-balik di antara kedua sisi koridor dengan gusar. Tangan kanannya memegang sekumpulan kertas yang dia sedikit remas sehingga agak kusut.

Seorang pria berlari ke arah kumpulan tersebut. Dua di antara ketiga orang di koridor menoleh ke arahnya.

“Pak Herria, pasien sudah bisa ditanyai.” Orang tersebut berkata.

Herria berjalan mendekati orang tersebut, “Yakin ini sudah bisa?”

Herman mulai menurunkan papan klipnya dan berjalan mendekati Herria dan orang yang baru datang tersebut dan bertanya, “Jadi apa yang terjadi tadi?”

“Insiden kecil. Sudah teratasi sekarang.”

“Bagus,” Herria menyela, “Bawa dia ke ruang interogasi!”

“Pak, dia masih lemah. Kami tidak yakin-“

“Dia cuma perlu duduk dan bicara! Aku perlu informasi darinya!”

“Herria, cukup sudah.” Herman memegang pundak Herria. “Dia baru sadar, kau tidak bisa memaksanya-“

“Tuhan, dia cuma memar! Aku… ah, sudahlah.” Herria melepaskan tangan Herman dari pundaknya dan mulai berjalan ke arah yang berlawanan dengan bangsal medis.

“Kau mau ke mana?” Herman melihatnya berjalan menjauh.

“Konsultasi. Kau bicara saja dengannya di sana. Interogasi tidak dilakukan di tempat tidur.”

Herria berjalan melewati Direktur Stefan yang masih menunduk ke bawah selagi bersandar. Saat berpapasan, Stefan mengangkat mukanya.

“Kau mau ke lantai bawah saat hujan begini?”

Herria tidak berhenti, juga tidak menoleh. “Dia tidak akan keluar dari ruangannya kecuali untuk ke kantin.”

“Oh, kau sudah jadi kepala keamanan sekarang, Herria. Apalagi perlunya kau dengannya yang jadi kepala penahanan?” Herman bertanya dari kejauhan.

“Hei, hei. Dia atasanku saat masih tentara dulu, dan tidak ada orang dengan saran lebih baik selain dirinya.” Herria berhenti sejenak dan menoleh ke belakang selagi membalas.

“Ya sudahlah. Tutup telinga jangan lupa!”

Herria membenarkan posisi topi abu-abu gelapnya sebelum membalas dengan singkat, “Da.”

Herman melihat Herria berjalan menuju lift untuk beberapa saat sebelum berjalan ke arah sebaliknya. Menuju bangsal medis.


Ada dua bangsal medis yang terletak di fasilitas. Satu berada di Lantai Penahanan Kelas Euclid dan yang lainnya di Lantai Penahanan Kelas Keter. Merupakan pemborosan, tetapi dirasa perlu ada. Karena itu, bangsal medis Lantai Penahanan Kelas Euclid ada, meski berukuran lebih kecil.

Setelah berjalan selama beberapa saat, Herman sampai di pintu besi ganda bangsal medis di lantai tempatnya berada. Herman menatap plakat penanda ruangan di atasnya sebelum memegang salah satu gagang pintu dan mendorongnya.

Beberapa ranjang pasien kosong berjejer di ruangan, dipisahkan oleh gorden di antara tiap ranjang. Herman berjalan menyusuri ruangan tersebut sampai dia berada di salah satu ranjang. Salah satu staf tengah berjaga saat Herman mendekatinya.

“Nak Saimun, mana Lira?” Herman bertanya.

Saimun menoleh dan menjawab, “Bu Lira keluar tadi, ini pasien sudah tidak perlu keamanan sih katanya tadi. Jadi saya saja yang menjaga. Ntar rencananya gantian dengan Ulya nanti.”

Herman mengangguk. Dia mengalihkan pandangannya ke pasien di ranjang. Orang yang harusnya Herria interogasi tadi.

Seorang pria dengan kemeja yang mungkin awalnya putih, tetapi sekarang agak kotor di beberapa sisi. Lengan kanannya berada di atas wajahnya yang terbaring menatap langit-langit.

Satu hal yang disadari Herman adalah dia mengenakan masker gas taktis.

“Kau tidak melepas maskernya?” Herman bertanya sambil menunjuk ke arah pasien.

“Nah, mengenai itu tadi,” Saimun menepuk kedua tangannya sebelum melanjutkan, “Tadi interogasi sempat batal kan karena pasien kejang?”

“Iya, ada apa dengan itu?”

“Nah, jadi anehnya pasien nunjuk-nunjuk masker gasnya selagi menutup hidungnya. Kita pas sadar langsung aja kasih ke dia. Perlahan-lahan berhenti dia.”

“Seperti itu? Aneh sekali…”

“Fobia.”

Herman dan Saimun menoleh; orang di tempat tidur itu menurunkan lengannya dari wajahnya yang masih terbaring menatap ke atas.

“Atau apa pun semacam itu. Sebuah trauma masa lalu yang membuatku takut menghirup udara terbuka. Anggap saja PTSD.” Dia melanjutkan.

“Jadi itu alasanmu mengenakan masker gas?” Herman bertanya.

“…Ya. Jangan salah, aku juga ingin melepasnya, tetapi tanganku tidak pernah sanggup mengangkatnya.”

“Aku mengerti…”

Herman menatap ke arahnya. Beberapa saat kemudian, dia berjalan pelan ke samping ranjang sampai akhirnya dia duduk di pinggirannya.

Mereka diam beberapa saat sampai orang di ranjang mulai bertanya, “Aku di mana?”

Herman menoleh ke arah Saimun yang hanya mengangkat bahu, tidak tahu harus jujur atau mengatakan apa, sebelum menoleh ke arah orang tersebut dan berkata, “Aku- Kami tidak diizinkan untuk mengatakan itu.”

Suara tawa singkat terdengar dari balik masker gas miliknya sebelum dia berkata, “Yayasan, bukan?”

Herman dan Saimun saling pandang.

“Aku sekilas melihat beberapa selagi dibawa ke sini. Lingkaran dengan tiga garis menusuknya. Kalian tidak pernah berubah.”

“Mereka benar…” Herman menggumam.

“Aku tidak tanya detailnya, aku cuma mau tahu apakah aku masih di Sukabumi.” Dia berkata.

Herman melirik singkat ke arah Saimun, yang masih tidak tahu harus apa sebelum berkata, “…Ya. Kau masih di Sukabumi.”

Pria itu diam sejenak. “Itu menjawab pertanyaanku…”

Mereka pun kembali diam selama beberapa saat. Meski begitu, Herman mengisyaratkan Saimun untuk keluar selagi diam-diam menunjuk pria di tempat tidur itu. Mengisyaratkan dia untuk memberitahukan orang mengenai informasi yang dia dapat.

Saimun mengangguk dan berjalan keluar tanpa berkata apa-apa. Cuma tersisa Herman dan orang itu di ruangan tersebut.

Setelah beberapa saat, Herman pun mencoba memulai pembicaraan lain dengan berkata, “Jadi… kau tahu mengenai kami?”

Bukannya menjawab, orang itu malah mulai memegang pinggiran ranjang dan mulai mencoba duduk. Herman yang melihatnya secara reflek mencoba menahannya.

“Tunggu, kau masih lemah.”

“Cu- cuma memar dikit di tangan dan kaki.” Orang itu membalas selagi meringis kesakitan. Herman bisa mendengar suara pelannya dari samping.

Dia akhirnya berhasil duduk dan mulai memundurkan badannya ke belakang ranjang untuk bersandar di dinding.

“Jadi kau ke sini untuk menanyaiku?” Dia bertanya.

Herman, setelah terdiam memikirkan harus menjawab apa selama beberapa saat, berkata, “Tidak. Aku cuma mau menjengukmu awalnya tadi.”

“Heh, ku kira iya… Sepertinya kalian orang yang sabaran, ya?”

Mereka pun terdiam lagi. Pria itu melihat ke arah pintu ruangan. Herman cuma menunduk memandangi kertas yang dia pegang. Laporan singkat yang terdiri dari campuran antara prediksi SCP-020-ID dan laporan di lapangan.

“…kau bisa beri tahu namamu, nak?”

Dia diam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Herman.

“Nama ku Zakaria. Zakaria-“

Jawabannya terputus ketika tiga orang masuk ke ruangan. Herria melangkah masuk diiringi dua penjaga.

Empat orang, dengan Saimun yang kembali dengan membawa kursi roda, masuk ke ruangan.

“Jadi, apa kata Birmanto?” Herman bertanya kepada Herria yang akhirnya berada di dekatnya.

“Kabar bagus, kamerad. Dia bilang pakai kursi roda jika dia tidak bisa berjalan. Jujur, aku merasa bodoh tidak memikirkan itu… Dan kenapa dia memakai masker gas?”

Kedua penjaga mulai memegangi Zakaria. Dia cuma mencoba memosisikan diri selagi berkata, “Kurasa- kurasa kalian sudah tidak sabar lagi, heh?”

Dan dia pun dibawa oleh kedua penjaga tersebut dengan Herria yang masih berbicara kepada Herman, yang mengikuti dari belakang.

“Itu bisa memotong waktuku untuk ke sini jika tidak untuk mendengarkan cerita tugasnya dulu, kau tahu.”

“Bukannya kau tidak bisa membedakan mana yang asli dan karangannya?”

“Itu masalahnya… Tapi lupakanlah. Sekarang, kenapa dia memakai masker gas?”


Mengakses Berkas: Interogasi_26-03-2018.txt…

Pewawancara: Kepala Keamanan Situs-79 Kapt. Herria Ditya
Narasumber: Zakaria █. B█████


[MEMULAI REKAMAN]

Herria: Aku tidak percaya kita membiarkannya memakai masker gas…

Zakaria: Percayalah tuan, saya juga ingin melepasnya.

Stefan (Mikrofon): Tolong dimulai interogasinya.

Herria: Baik, baik. Sekarang, sebutkan nama dan pangkatmu.

Zakaria: Pangkat?

Herria: (Nada meningkat) Nama dan pangkat?

Zakaria: Nama saya dr. Zakaria █. B█████… Pangkat ini bagaimana-

Herria: Kita tahu kau tentara, sekarang apa pangkatmu!

Zakaria: Dengar, kurasa anda mengira…

Stefan (Mikrofon): Tetap pada daftar pertanyaan, Herria.

Zakaria: …Ini di Vietnam atau…

Herria: (Kepada Direktur Stefan) Ini ada dalam daftar pertanyaan-

Zakaria: …Semacamnya. Aku…

Stefan (Mikrofon): Tetap pada daftar pertanyaan, Herria.

Zakaria: …Tidak punya pangkat, Pak.

Herria: Baik, baik! Jabatan mu. Apa jabatan mu?

Zakaria: Jabatan? Saya seorang psikolog dari… (diam sejenak) Kurasa aku tidak bisa bohong, heh. Benar kan, Yayasan?

Herria: Semua sudah jelas dari awal. Aku berencana memotong singkat bagian itu dan langsung ke intinya. Tapi (mengangkat daftar pertanyaan) formalitas untuk rekaman.

Zakaria: Jadi apa yang harus kukatakan jika kau sudah mengetahuinya?

Herria: Misi mu. Apa yang kalian lakukan di Sukabumi?

Zakaria: Tim kami ditugaskan untuk mengak… menahan seorang buronan yang dicari organisasi kami.

(Kapt. Herria Ditya melirik ke arah kaca satu arah ruang interogasi sejenak sebelum kembali menghadap narasumber.)

Herria: Apa kau merasa familiar dengan nama berikut ini: Simon, Judas, dan Matthias?

Zakaria: Sim- Tunggu, siapa?

Herria: …Tuan Stefan?

Stefan (Mikrofon): Kau menunggu apa? Tanya lagi!

Herria: Baik, saya ulangi. Apa kau merasa pernah mendengar kata Simon, Judas, ataupun Matthias?

Zakaria: Judas…. Yudas Iskariot? Saya rasa saya tidak tahu ini mengarah ke mana.

Herria: Kau tahu ini mengarah ke mana. Sekarang sebutkan siapa rekanmu yang lain?

Zakaria: Rekan… anggota timku? Kau- sebentar, mereka terbunuh-

Herria: Tuhan, rekan dengan kode nama tersebut! Bukan mayat gosong di ruang mayat!

Zakaria: Ak- Saya sama sekali tidak tahu mengenai apa yang tengah Anda bicarakan. Dan setidaknya tunjukan empati-

Herria: Baik, baik! Sudah cukup… (Diam sejenak sebelum menoleh ke arah kaca satu arah sebelum kembali menghadap narasumber dan berdiri.) Mohon tunggu sebentar.

[REKAMAN DIJEDA]

“Aku pernah menginterogasi orang saat misi dulu,” Herria berkata selagi menatap dr. Zakaria dari kaca satu arah ruang interogasi. “Terkutuk maskernya, tetapi suaranya memang terdengar kebingungan, jika tidak menipu.”

Direktur Stefan duduk diam selagi bersandar di kursi besarnya, mengamati kaca ruang interogasi. “Paksa dia bicara.”

“Tetapi Tuan Stefan—” Herman yang berdiri di sampingnya mencoba menyanggah.

“Dia tahu kita Yayasan. Dia secara spesifik memiliki misi di Sukabumi. Kau mau tahu apalagi?” Stefan menjawab dingin. “Sekarang lakukan yang kusuruh tadi.” Dia menoleh ke arah Herria.

Herria mengangguk dan berkata, “Baik, Tuan Stefan.” Selagi kembali masuk ke dalam.

[MELANJUTKAN REKAMAN]

Herria: (Menghantam meja) Berhenti berpura-pura. Kau melakukan operasi di dekat fasilitas ini dan tahu mengenai kami. Apa tujuanmu?

Zakaria: Sudah saya bilang, seharusnya ini menjadi misi mudah. Tangkap target dan… bunuh. Tetapi… tetapi seperti yang kau lihat, nasib berkata lain.

Herria: …Sulit memercayainya. Kau bisa saja tengah menyiapkan semacam senjata dan siap menyerang situs. Lalu Tuhan mengutuk kalian dan misi kalian kacau.

Zakaria: Kami bahkan tidak tahu Yayasan memiliki fasilitas di Sukabumi. Apakah kalian punya situs di setiap kota?

Herria: Aku yang bertanya,

(Kapt. Herria Ditya berjalan mengitari meja interogasi dan mencengkeram leher narasumber dengan tangan kanannya selagi tangan kirinya memegang bagian bawah masker gasnya. Terlihat kedua tangan Zakaria berusaha menurunkan tangan kiri Herria.)

Herria: …Bukan kau.

Zakaria: Nggghh….

Herria: Ku dengar jika ini dilepas tidaklah menyenangkan, ‘dokter’. Jadi mulai katakan sesuatu-

Zakaria: Kalteng! Kalteng! Saya dari fasilitas Kalimantan Tengah!

Herria: (Melepas pegangannya) Ulangi lagi?

Zakaria: Saya… Saya berasal dari fasilitas GOC cabang Kalimantan Tengah dan diberi misi kemari. Kau beri aku telepon supaya saya bisa melapor ke sana dan mereka akan mengatakan misiku!

Herria: Koalisi… Okultisme Global?

Zakaria: Kalian menerjemahkan itu? Ah, persetanlah. Yang penting biarkan saya menghubungi mereka untuk memberitahukan kesalahpahaman ini.

Herria:Blyad

[MENGAKHIRI REKAMAN]


Seorang dengan kemeja putih berjalan cepat di koridor, melalui beberapa pintu sebelum akhirnya melewati pintu ganda yang sudah terbuka, menghubungkan koridor dengan ruang kantin Lantai Euclid.

Dia melihat sejenak di antara personel yang duduk sebelum melihat sekumpulan orang duduk di pojok. Merasa mengenali salah satunya, dia langsung berjalan ke arah mereka. Selagi dia mendekat, dia menyadari setumpuk kertas berserakan di meja mereka selagi mereka antara saling duduk diam dengan berbagai posisi atau membolak-balik beberapa kertas.

“Pak, ini hasil pengecekan lab mengenai senjata yang mereka, mayat-mayat kemarin malam, gunakan.” Pria itu berdiri selagi dia mulai membacakan ringkasannya. “Laporannya terdapat semacam cip di dalam senapan tiap orang. Semacam pelacak, tapi mati.”

Herria yang awalnya bersandar di kursi selagi menutup mukanya dengan topinya, duduk tegak selagi membenarkan posisi topinya dan berkata, “Langsung ke intinya.”

Pria itu langsung mengambil kertas urutan paling belakang dan membacanya dengan diam secara cepat sebelum berkata, “Kami menduga korban selamat yang kita bawa berasal dari KdP lain. Kemungkinan antara LEMRUSAN atau KOG, meski kami… secara personal menduga dia berasal dari KOG.”

“Selamat kamerad,” Herria langsung menyingkirkan beberapa kertas di meja sebelum menunjuk sebuah logo pada salah satu kertas. Logo KOG.

“Tebakan kalian benar dan terlambat lima jam.”

“Sudahlah, Herria.” Herman meletakan kertas yang dipegangnya sebelum berdiri dan memegang bahu pria yang baru datang itu. “Kerja kalian bagus. Katakan kami akan menyelidiki lebih lanjut mengenai hasil penemuan kalian. Selamat beristirahat.”

Pria itu mengangguk dan berjalan keluar. Herria kembali duduk bersandar dan menutupi mukanya dengan topinya.

“Jadi bagaimana dengan kontak KOG tadi?”

“Pak atasan sedang mengontak beberapa situs di Kalimantan. Situs yang pernah berutang budi pada kita, tepatnya.”

Herman terdiam beberapa saat sebelum berjalan ke kursinya. “Akan memudahkan jika kita punya agen untuk KOG cabang Kalimantan…”

Herria menggeleng, “Pak atasan mungkin punya, tetapi kurasa dia mencari tantangan.”

Herman duduk dan memajukan kursinya sebelum berkata, “Aku juga menduga itu. Birmanto sialan…”

“Hei hei, dia atasanku, Pak.” Kata Herria selagi mengangkat topinya.

“Dan aku rekan kerjanya dulu, nak. Dia veteran, tetapi seharusnya pensiun saja.”

“…setuju untuk itu. Pak atasan perlu masa istirahat.”

“Bicara tentang istirahat, kenapa kau tidak ke asrama saja dan tidur? Lanjut interogasi besok saja.”

Herria akhirnya berdiri mendengar itu dan berkata, “Kau yang perlu istirahat, kamerad. Kau sudah terjaga semalaman. Kurasa aku akan ke kantor dulu, pekerjaan.”

Herman merapikan kertas yang berserakan di meja. “Jangan khawatirkan aku, nak.”


Mengakses Berkas: Interogasi_27-03-2018.txt…

Pewawancara: Kepala Keamanan Situs-79 Kapt. Herria Ditya
Narasumber: Zakaria █. B█████


[MEMULAI REKAMAN]

Herria: Baik, interogasi lanjutan ku mulai.

Zakaria: Ku kira kita sudah selesai mengenai ini…

Herria: Kita masih mencoba mengontak organisasimu.

Zakaria: Bukannya kukatakan aku bisa mengontak mereka? Izinkan saja aku mengontak mereka supaya ini cepat selesai.

Herria: Dan mengatakan kami menahan personel mereka? Kau tidaklah cerdas, dokter.

Zakaria: …Seharusnya kalian mengatakan itu pada diri kalian sendiri dua hari yang lalu.

Herria: Aku mencoba bersikap sopan di sini, dokter.

Zakaria: Maaf untuk itu.

Herria: Baik, jadi kami masih mencoba mengontak organisasimu. Selagi itu, kami ingin kau menceritakan detail operasimu di Sukabumi. Alat pendeteksi kebohongan akan digunakan.

Zakaria: Sebentar, itu adalah rahasia. Aku tidak bisa langsung mengatakan informasi semacam itu kepada kalian begitu saja.

Herria: Dokter, kami menemukanmu di tengah lapangan saat hujan deras, dikelilingi mayat gosong. Jika kau tidak bisa mengatakan detail operasimu sebagai balasan terima kasih, anggap kami sedang memaksamu mengatakannya.

Zakaria: …Kurasa aku bisa mengatakan ke mereka kalau aku tidak mengatakan apa-apa.

Herria: Sekarang kau berpikir cerdas, dokter.

Zakaria: Heh, tapi tetap saja, aku punya syarat.

Herria: Bisa kau ulang?

Zakaria: Sebuah syarat, sederhana saja. Aku ingin seseorang mengobati entah trauma apa yang kualami ini sehingga aku tidak bisa melepas masker keparatku. Menurutmu apa ada psikolog yang bagus di situs ini?

Herria: Kau seorang psikolog, bukan?

Zakaria: Seorang dokter tidak bisa mengobati dirinya sendiri, Tuan, terutama mengobati mental. Kau perlu bantuan karena tidak ada dua pikiran yang sama seutuhnya. Itu yang kupelajari dulu. Jadi, bagaimana?

Herria: …Sebentar. (Berjalan keluar)

[REKAMAN DIJEDA]

“Rasyid mati saat insiden kodok dan belum ada penggantinya sampai saat ini.” Stefan berkata selagi mengamati Zakaria dari kursinya.

“Jadi bagaimana?”

Stefan diam sejenak sebelum berkata, “Kau urus dia nanti, Herman.”

Herman tertegun selagi berkata, “Maaf, Pak?”

“Kau sosiolog, Herman. Seharusnya kau memadai untuk saat ini.”

Herman diam sebelum menjawab, “Baik, saya lihat apa saya bisa.”

Stefan pun mengangguk kepada Herria dan dia pun kembali ke ruang interogasi.

[MELANJUTKAN REKAMAN]

Herria: Kami setujui, dokter.

Zakaria: Baik, kau mau mulai dari mana?


Herman berjalan melintasi koridor pagi itu. Setelah menyelesaikan beberapa hal, tugas tambahan barunya adalah menolong entah masalah apa yang dimiliki narasumber mereka tersebut. Setelah mencapai ruang bangsal medis, dia mengamati Zakaria tengah duduk bersandar di ranjangnya. Herman berjalan ke arahnya.

“Kau mengunjungiku?” kata Zakaria begitu dia melihat Herman mendekat.

“Kau meminta seseorang untuk membantu masalahmu, bukan?”

Zakaria hanya menatap ke atas. “Heh, apa kau mengambil pekerjaan semua orang di sini?”

Herman hanya tersenyum selagi menjawab, “Tugasku kebanyakan adalah berdialog dengan pihak luar Yayasan. Aslinya aku peneliti di bidang sosial, tetapi kita tidak banyak memiliki itu saat ini. Kau bisa mengatakan aku tidak bertugas apa pun sekarang.”

“Bukannya ‘berdialog’ dengan pihak luar itu urusan pria pemarah bertopi itu?” Zakaria menyanggah.

“Herria? Dia kepala keamanan situs ini. Jadi, urusan internal adalah urusannya dan bawahannya, termasuk mewawancarai orang dalam situs.”

Zakaria mengangguk mengerti. “Jadi, siapa namamu, tuan?”

“Herman Puspito, kau bisa memanggilku Herman saja.” Herman menjawab.

Zakaria mulai mundur dan membaringkan kepalanya. “Baik, oke. Herman, bisa kau menarik nafas untukku?”

“Uhh… Baik.” Herman menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Zakaria yang melihat hal tersebut mulai mencoba mengangkat masker gasnya. Dia cuma mengangkatnya sedikit dan menaruh jarinya untuk mengganjal celah masker gasnya.

Setelah beberapa saat, dia berkata, “Kau tahu, Tuan, ketika kau menghirup udara langsung, itu berbeda dengan ketika kau menghirupnya dengan masker gas. Terasa asing bagiku meski hanya beberapa minggu.”

Mereka diam beberapa saat sebelum Herman bertanya, “Jadi… kurasa kau bisa menceritakan mengenai kau dan maskermu itu?”

Zakaria mengangguk. “Kejadian itu sudah berminggu-minggu lalu, Tuan. Cabang tempatku bekerja mengalami… insiden dan yah, gas beracun berada di mana-mana. Cukup yakin itu racun. Aku terjebak dalam ruangan gelap dan memegang erat masker ini selama paling tidak enam jam.”

“Aku mengerti. Jujur saja, aku tidak bisa secara profesional menolongmu, tetapi anggap saja aku teman bicara.”

“Heh, kau yakin tuan? Karena kau baru saja mendeskripsikan pekerjaanku.”

Herman diam sebelum melanjutkan topik sebelumnya. “Jadi, apa kau masih merasa bahwa udara di sini merupakan gas beracun?”

“Aku tahu sebenarnya tidak. Tetapi kau harus paham tuan, paranoid tidaklah rasional. Jadi anggap saja, iya.”

Herman mengangguk sebelum berkata, “Baik, aku mengerti. Sekarang, jikalau memang ada gas beracun di sini, kenapa? Kau tahu betapa susahnya memompa gas beracun untuk secara spesifik ditargetkan kepadamu, bukan?”

“Entahlah, kurasa karena aku selalu merasa kalian ingin membunuhku?”

Herman diam sejenak, “Kenapa kami ingin membunuhmu? Kau saat ini merupakan narasumber kami dan lebih jauh lagi, jika kau sampai mati, takutnya akan terjadi kesalah-“

“Baik, bukan kalian. Maaf soal itu. Tetapi kau tahu, aku tahu beberapa orang yang mungkin ingin membunuhku.”

“…Kami pastikan tidak ada yang mengejarmu ke sini.”

Kali ini Zakaria yang diam sejenak sebelum berkata, “Kalian terlalu baik.”

“Terima kasih” Herman membalas.

“Itu bukan pujian, itu peringatan.” Kata Zakaria selagi menoleh ke arah lain.

Mereka pun diam untuk beberapa saat.

“Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Tetap sama. Dan jariku mulai sakit.” Kata Zakaria selagi melepas jari yang menahan celah maskernya.

“Kau masih belum berani melepasnya?”

“Kurasa aku akan membiasakan ini secara perlahan.”

Herman melihat ke sekeliling, menyadari jam di dinding bangsal menunjuk ke satu siang. “Jadi kurasa cukup seperti itu saja untuk pembicaraan kali ini. Jujur, aku sangat tidak berpengalaman untuk hal ini, jadi kau bisa memberitahukan jika prosedurku salah.”

“Nah, tidak buruk. Jujur saja, tidak ada bedanya dengan melakukan ini di kantor. Kerjamu bagus, Tuan.”

“Terima kasih.” Kata Herman selagi dia berdiri dan berjalan ke arah pintu selagi mengangguk kepada staf ruang medis. Zakaria hanya menatap ke arahnya sampai dia keluar ruangan sebelum menatap ke langit-langit ruangan. Dia mengangkat tangan kirinya dan mulai mengangkat maskernya lagi sedikit.


Mengakses Berkas: Interogasi_28-03-2018.txt…

Pewawancara: Kepala Keamanan Situs-79 Kapt. Herria Ditya
Narasumber: Zakaria █. B█████


[MEMULAI REKAMAN]

[MELANJUTKAN PADA MENIT 00:38:23]

Herria: …Dan apa yang kalian lakukan kepada target setelahnya?

Zakaria: Setelah dibawa keluar, kita eksekusi dia.

Herria: …Kalian langsung eksekusi dia?

Zakaria: Tentu kita sempat mengatakan sepatah dua patah kata, dia mengoceh semacam kutukan-kutukan, sampai akhirnya kita eksekusi dia.

Herria: Baik, baik. Jadi ini bagian kekacauan terjadi?

Zakaria: Ya, begitu kita tembak di kepala-

(Bip)

Zakaria: Maksudku, mereka tembak di kepala, awan gelap langsung muncul di atas kami.

Herria: Yang mana yang menembak pria itu?

Zakaria: Bulldog. Dia yang mengeksekusinya.

Herria: Baik, baik. Setelahnya apa yang terjadi?

Zakaria: Sambaran petir. Banyak sekali. Kau tidak akan bisa membayangkan berada di tempat terbuka dengan petir sebanyak itu.

Herria: Maaf, dokter. Tetapi seingatku, petir hanya menyambar tempat tinggi. Dan laporannya terdapat tiang panjang di lokasi tersebut. Kenapa petir itu bisa membunuh timmu?

Zakaria: Petir dengan anomali. Entah bagaimana bisa, tetapi mereka menargetkan kita. Kurasa kalian paham urusan semacam itu.

Herria: Tapi kenapa kau hidup, dokter?

Zakaria: Aku? Awalnya melihat satu per satu anggota tim tersambar dan tergeletak, aku tidak tahu harus apa dan cuma berdiri diam saja, tetapi akhirnya aku cuma berbaring saja.

Herria: Baik… Saat kau kami temukan, kau memiliki beberapa tulang patah dan memar di bagian punggung, bisa jelaskan kenapa?

Zakaria: Tentu karena sambaran petir-

(Bib)

Zakaria: Aku (Menarik nafas) terlempar karena sambaran petir. Terjatuh cukup keras, kurasa.

Herria: Bukannya, kau bilang kau cuma berdiri diam sebelum berbaring?

Zakaria: Aku berbaring setelah terpental kena sambaran petir, tuan. Lupa menyebutkan bagian itu.

Herria: …Apa sambaran petir bisa memberimu memar seperti itu? Dan bukan karena jatuh dari tangga kayu yang tergeletak tepat di sampingmu?

Zakaria: (Diam)

Herria: (Berdiri) …Tidak ada alibi?

Zakaria: …Ingatanku bermasalah, tetapi itu yang terjadi.

Herria: (Berjalan mendekati narasumber) Kau psikolog, dokter. Kau tahu persis cara mengakali alat pendeteksi kebohongan ini.

Zakaria: Tidak, aku tidak mencoba-

(Bib)

Herria: Itu yang ketiga. Seharusnya-

Zakaria: Baik, akan kukatakan yang sebenarnya!

Herria: Sekarang kita harus memotong rekaman ini nanti… Baik, pada titik mana kau mulai berbohong?

Zakaria: Bagian pengeksekusian target kita.

Herria: Baik, baik. Lanjutkan.

Zakaria: Tugas asli kita adalah mengeksekusi target dan cukup itu saja. Tetapi tanpa kutahu… mereka mencoba sedikit kreatif akan hal itu.

Herria: Bisa diperjelas?

Zakaria: Ingat saat ku katakan pria ini terafiliasi… apa istilah kalian tadi, KPD1 dengan nama Serpent Hand? Nah, Salah satu dari mereka mau mencoba mengaktifkan Ways atau gerbang menuju perpustakaan mereka di lokasi itu melalui informasi dari target.

Herria: KDP bukan bidangku, jadi akan ku cek nanti. (Duduk di pinggiran meja) Lanjutkan.

Zakaria: Ritualnya memerlukan sesuatu mati di ketinggian 15 meter atau lebih. Seharusnya tembak saja burung, ikat dia di tiang, dan itu akan berhasil, tetapi mereka memilih membakar target hidup-hidup di sana.

Herria: Dan apa yang terjadi?

Zakaria: …Aku harus jujur, tuan, tetapi ingatanku benar-benar kabur saat itu.

Herria: …Ku harap kau jujur dan bukannya berhasil mengakali mesin lagi, dokter.

Zakaria: Jadi, sambaran petir terjadi di mana-mana. Aku benar-benar kehabisan ide, jadi yang kupikirkan adalah aku harus menjatuhkan mayat target dari tiang.

Herria: Dan itulah kenapa kau terjatuh.

Zakaria: …Setidaknya aku berhasil menjatuhkannya.

Herria: (Berdiri) Baik, baik. Sudah cukup kurasa. Kami akan mengecek pernyataanmu tadi.

[MENGAKHIRI REKAMAN]


“Pernyataannya cocok dengan keadaan di lokasi,” Herria menenggak minuman di gelasnya. “Semua kecuali Serpent Hand, yang harus kutanyakan ke Jones.” Katanya selagi meletakan kembali gelasnya di meja.

“Ide bagus, dia pasti tahu mengenai mereka. Kapan akan kau tanyakan?” Herman yang duduk di sisi seberang selagi memakan rotinya bertanya.

“Setelah ini. Aku baru bangun tidur, kamerad. Lantai Keter kacau. Brethen membuat keributan dan aku harus memukuli mereka. Sekarang aku sedang mencari ketenangan. Menenangkan pikiran.” Kata Herria selagi mengisi dan menenggak kembali minuman dalam gelasnya.

“Tolong katakan itu bukan-“

“Ini kopi, kamerad. Terlalu pagi untuk mabuk.” Herria memotong pertanyaan Herman selagi menunjukkan isi gelasnya.

“…Herria, ini pukul 1 siang.” Kata Herman, tidak memedulikan gelas Herria yang sebenarnya berwarna bening.

“Ah sudahlah, aku ke atas. Menemui Jones dan kembali ke ruanganku. Semakin cepat tugas kita selesai semakin cepat aku tidak mendengar ocehanmu.” Kata Herria yang seketika berdiri dan terlihat tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh jika tidak berpegangan pada ujung meja besi enam kaki kantin yang kuat menahan tekanan tangannya.

Belum beberapa langkah dia berjalan, terdengar pengumuman dari interkom,

“KEPADA KEPALA KEAMANAN HERRIA DITYA, ANDA DIMINTA MENEMUI KEPALA PENAHANAN BIRMANTO TELADAN.”

Herman berdiri dan berjalan mendekati Herria, “Aku bisa mendatangi nak Johannes, kau bisa menemui Birmanto.” Katanya selagi memegang pundak Herria.

“Baik, baik.” Kata Herria yang akhirnya duduk sambil memegang kepalanya selagi menatap Herman berjalan menjauh.

“Seharusnya kau ambil kopi saja tadi, Herria.” Katanya kepada dirinya sendiri.


Sudah beberapa saat sejak Herria berjalan melintasi koridor lantai penahanan Keter. Pencahayaan koridor lebih terang dari lantai di atasnya, tetapi nuansa lantai Keter tetap terasa suram. Ukuran koridornya juga lebih luas daripada koridor lantai lain, tetapi hanya menimbulkan perasaan paranoid. Herria melihat ke sekeliling begitu mencapai salah satu persimpangan koridor.

Setidaknya mereka tenang sekarang. Pikirnya.

Dia melanjutkan berjalan selama beberapa saat sampai mencapai suatu ruangan dengan sebuah pintu berbahan besi. Plakat ‘KEPALA PENAHANAN’ di atasnya masih terbaca, meski sedikit berkarat. Herria melihat ke arah jam tangannya dan mengetok pintu dua kali.

“Ini Herria, aku akan masuk.”

Dan dia pun mendorong pintu besi itu dan masuk ke dalam ruangan. Terdapat sebuah meja kayu – dengan banyak goresan di permukaannya, dua sofa cokelat usang, dan sebuah meja besar dengan dua kursi biasa di sisi depannya dan sebuah kursi putar di sisi belakangnya. Sekumpulan rak buku menghiasi sisi ruangan.

Seorang pria dengan rambut abu-abu yang tertutupi oleh topi baret hijau tua dan cambang di kedua sisi pipinya duduk di kursi itu. Sang Kepala Penahanan Situs-79, Birmanto Teladan, duduk menghadap ke samping kiri ruangan, membaca salah satu buku tuanya. Dia menoleh ke Herria dan tersenyum selagi salah satu tangannya melambaikan tangannya, “Kemari ke sini, nak, aku punya cerita bagus untukmu.”

Herria menutup pintu besi di belakangnya tanpa berbalik. Meskipun begitu, dia menoleh sedikit ke arah kiri ruangan selagi berkata, “Bagaimana harimu, Ford?”

Terdapat seorang personel yang memegang senapan laras panjang di samping pintu. Dia melirik ke arah Herria dan mengangguk sebelum kembali menatap lurus ke depan, memandangi ruangan.

“Yah, masih sisa empat jam sebelum shift-mu selesai. Nikmati saja.” Kata Herria selagi dia berjalan ke depan. Dia memosisikan dirinya di kursi di sisi kanan.

“Baik, Pak. Cerita apalagi yang Bapak punya?”

Birmanto menyelipkan ibu jarinya ke tengah bagian buku yang sedang dia baca dan menaruhnya di meja. Dia mau mengatakan sesuatu sebelum dia terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian, dia mulai tertawa tidak terkontrol. Herria dengan sabar menunggu mantan atasannya selesai tertawa.

“Katakan, Herria, apa kau pernah melihat seorang pria biasa mengkhianati temannya untuk pertama kalinya?” Birmanto memulai percakapan.

“…Tidak pernah, Pak.”

“Heh, aku juga sama. Jadi aku cuma bisa membayangkannya.” Dan Birmanto tertawa lagi untuk beberapa saat.

“Intel Kalimantan?” Herria mencoba tebakannya untuk menyingkat waktu.

“Haha, tepat sekali.” Setelah beberapa saat, dia pun menarik nafas dan mulai memenangkan diri.

“Jadi pria malang dari situs mana yang bapak bicarakan ini?” tanya Herria.

“Sayangnya aku lupa, akan kubaca ulang nanti situs mana yang membalas tadi. Yang ku ingat cuma kita pernah memberi mereka semangka kita. Tunggu, apa sebaliknya? Lupakan. Jadi, cerita menarik, ku paksa mereka – maksudku seluruh situs Kalimantan yang ku kenal – untuk mendapatkan informasi data personel KOG cabang Kalimantan Tengah dan oh… situs ini. Situs ini cukup kreatif untuk memanfaatkan salah satu personel mereka yang punya hubungan dekat dengan seorang operatif KOG…”

“Oh, Tuhan…” Herria cuma mendongkak ke langit-langit, setengah menyimak cerita mantan atasannya dulu.


“…dan perempuan itu dieksekusi KOG kabarnya setelahnya. Hah, informan amatiran. Informan untuk pemberontak yang kulawan dulu lebih cerdas untuk menyelamatkan dirinya.” Birmanto diam sejenak setelahnya, menarik nafas setelah tertawa beberapa kali.

“Jadi, seluruh drama tadi hanya untuk beberapa lembar dokumen yang difoto dengan ponsel dan dicetak?” Herria akhirnya menanggapi cerita mantan atasannya.

“Bahaha~” Birmanto tertawa lagi, “Sudah kubilang, amatiran! Ahahaha~”

Herria menoleh ke samping. Dia tahu akal – atau tepatnya selera humor – Birmanto sedikit bermasalah karena insiden sebelum dia bekerja di sini. Rasa hormat Herria kepadanya dari dulu yang membuatnya memaklumi keadaan mantan atasannya saat ini yang tengah tertawa tidak terkendali.

Juga, meski pikirannya bermasalah, Herria tahu bukan hanya strategi penahanannya sampai sekarang yang membuat Birmanto masih disegani. Tetap saja, dia tahu dia tidak akan keluar dari ruangan ini jika tidak sedikit mendesaknya.

“Boleh aku melihat dokumennya?” Herria merasa sudah waktunya menyela.

“Oh, heh, tentu.” Kata Birmanto selagi tangan kirinya mendorong salah satu map di mejanya maju. Herria menangkapnya sebelum jatuh.

“Terima kasih, Pak.” Kata Herria selagi mulai berbalik.

“Jadi bagaimana kabar tahanan terbaru kita?” Birmanto bertanya dari belakang.

“Dokter Zakaria?” Herria menoleh, “Kondisinya membaik dan cukup kooperatif.”

“Hehe, kooperatif, eh? Berapa kali dia berbohong? Aku akan menembak diriku sendiri saat ini juga selagi tertawa jika kau bilang nol.” Birmanto berkata. Tangan kirinya meraih revolver di meja dan mengarahkannya ke kepalanya.

“Berkali-kali. Aku lebih percaya fakta lapangan dan dokumen ini daripada pernyataannya.” Kata Herria selagi mengangkat map di tangan kanannya tanpa menoleh ke belakang.

“Yah, itu nyaris.” Birmanto menurunkan pistolnya dan membuka selongsong peluru revolvernya, satu peluru di selongsong dan itu siap mengarah ke kepalanya tadi.

“Kau ingat perkataanku tadi mengenai pernahkah kau melihat ekspresi seseorang yang mengkhianati orang lain untuk pertama kalinya?”

Kali ini Birmanto menarik perhatian Herria. “Ya? Ada apa dengan itu?”

Birmanto hanya tertawa pelan selagi membuka kembali buku yang dia pegang di tangan kanannya, “Kau mungkin akan melihatnya darinya jika kau buang masker gasnya.”

“Ap… oke. Baik, terima kasih, Pak.” Kata Herria selagi bergegas ke luar.

Dia memindahkan map di tangan kanannya ke tangan kiri selagi menarik pintu besi ruangan dan berjalan keluar. Begitu di luar, dia berjalan cepat selagi mulai membaca isi map yang dia pegang. Berjalan cepat menuju ke arah lift.


Mengakses Berkas: Interogasi_29-03-2018.txt…

Pewawancara: Kepala Keamanan Situs-79 Kapt. Herria Ditya
Narasumber:Zakaria █. B█████


[MEMULAI REKAMAN]

Herria: Ya, dudukkan dia di sana!

Zakaria: Baik, ada apalagi ini? Semua yang kukatakan kemarin benar, bukan?

Herria: Semua kecuali satu hal, dokter.

(Herria berjalan mendekati Zakaria dan mencekik lehernya, Zakaria mencoba memegang tangan Herria.)

Herria: Kau tidak bilang kalau kau sudah mati, dasar pengkhianat!

Zakaria: Ap- apa?

(Herria menyeret jatuh Zakaria ke lantai)

Herria: KOG menyatakan kau dan setidaknya salah satu rekan timmu sudah mati beberapa hari sebelum operasi kalian di lapangan.

Zakaria: Tunggu, apa?

Herria: (Mengeluarkan selembar kertas dari map) dr. Zakaria dinyatakan mati pasca insiden penyerangan dari KDP Chaos Insurgency. Kau tidak bilang kalau kau mengenal mereka, dokter.

Zakaria: Ak… Aku…

Herria: Kau tahu apalagi yang tercatat di sini selain dinyatakan tewas? Kau dan setidaknya rekanmu si orang Korea dinyatakan terafiliasi dengan Chaos Insurgency selama menyerangan!

Zakaria: CI mengkhianatiku, keparat! Aku tidak membantu mereka sedikit pun selama penyerangan itu!

Herria: Kau kira kami percaya akan itu, blyad? Sekarang kami perlu seorang Insurgent untuk memberitahukan rencana organisasi kalian dan kau cocok untuk itu.

Zakaria: Keparat, aku tidak tahu apa-apa lagi mengenai mereka! Ku kira aku bisa memulai baru dari awal. Maksudku, mereka mengirimku ke sini! Penerbangan incognito dari Kalimantan ke Jawa tidak murah atau mudah! Kau kira mengapa mereka memberiku misi ini?

Herria: Entahlah, mungkin pemimpinmu memberi misi kepadamu dan tim milikmu dan menggunakan bawahannya untuk mengirimmu ke sini? Kau yang tahu, bukan aku.

Zakaria: Kalau kau bilang mereka menyatakan itu sebelum misiku, kenapa aku di sini? Kenapa mereka tidak membunuhku… (Diam)

(Hening selama beberapa saat)

Herria: …Kenapa? Kau memikirkan sesuatu, pengkhianat?

(Pada titik ini, Herman Puspito dan Peneliti Senior Johannes Prasetya memasuki ruang interogasi)

Johannes: Baik, yang mana- oh, ku asumsikan pria di lantai itu, bukan?

Herman: Cukup, nak. Angkat dia, aku sudah mendengar mengenai situasinya dari Direktur Stefan. Setidaknya biarkan Johannes menceritakan apa yang dia ketahui.

Herria: …Baik, baik. Kalian terlambat berjam-jam, kalian tahu?

Zakaria: (Mencoba berdiri) Siapa lagi kau?

Johannes: Johannes Prasetya. Spesialis bidang taumaturgi. Dan saya ahli dalam hal Serpent Hand. Sempat mengikuti seminar mengenai itu di Amerika sana.

Zakaria: Tu… tunggu, apa?

Johannes Apa kau dan timmu, maaf, benar-benar mencoba mengakses Ways menuju Perpustakaan Pengelana?

Zakaria: I… Iya. Ada apa dengan itu?

Johannes: (Menahan tawa) Maaf, maafkan aku, tetapi (tertawa) itu bodoh sekali.

Zakaria: Apa?

Johannes: Oh Tuhan, kau sungguh tidak tahu. Maaf, kawan, personel KOG tidak bisa masuk Ways. Apa kalian benar-benar tidak tahu itu?

Zakaria: …Atasan kami bilang kami adalah yang pertama memasuki Ways. Mereka bilang alasan mereka belum mencobanya adalah mereka tidak tahu knock Ways tersebut.

Johannes: Yang- (Tertawa) Maafkan aku, tetapi ini hal paling menggelikan yang pernah aku dengar. Mereka mengajarkan ini di ICSUT, lho! Dan kampus itu milik KOG!

Herria: …Kurasa aku paham apa yang terjadi di sini…

Zakaria:

Herria: Mereka mengirim tim kecil penuh pengkhianat seperti kalian untuk mengeksekusi diri kalian sendiri. Cerdas, meski tidak efisien…

Zakaria: Heh…

Herria: Ada yang lucu, pengkhianat?

Zakaria: Heheh… Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha-

(Zakaria tertawa tidak terkendali selama beberapa saat)

Herria: Blyad, (Memegang pundak Zakaria) Sadar, dokter!

(Zakaria mulai melepas masker gas miliknya dan melemparnya ke sudut ruangan)

Herria: (Mundur beberapa langkah) …astaga…

Herman: …Oh, Tuhan…

Johannes: Oh, itu mengerikan, kawan.

(Zakaria masih tertawa)

Herria: Apa yang lucu, pengkhianat?!!

Zakaria: …Sebuah lelucon yang hanya bisa dipahami antar orang mati.

Herria: Jangan kira eksekusi kecilmu membuat kita bersimpati, sekarang katakan apa rencana Insurgent di tempat ini, dokter!

Zakaria: …Kau tahu, Bulldog, nama yang kau berikan tidak cocok sekarang, karena gulungan jerami sudah terbakar api kemarin malam. Kau sebut apa jerami terbakar?

Herria: Dokter Zakaria!

Zakaria: …dokter Zakaria sudah mati, kau tengah berbicara dengan Balefire.

(Pada titik ini, Herria memukul Zakaria dengan keras di kepala. Zakaria terbaring di lantai)

Herria: …Jones, tolong matikan kamera itu.

Johannes:Ba- Baik.

[MENGAKHIRI REKAMAN]


“Bagaimana kabar mengenai dokter Zakaria, Herria?”

“Masih melantur. Dia berkomunikasi dengan baik dengan Kelas-D lain, tetapi tidak berguna bagi kita. Dia selalu meratapi dirinya sendiri.” Herria yang bersandar di samping pintu masuk ganda area sel Kelas-D berkata sebelum menenggak lagi isi botol yang dia pegang.

“Dua hari sudah lewat, kau sudah mencoba segalanya?” Direktur Stefan berdiri di depannya. Dua personel mengawal di belakangnya.

“Memukulinya tidak berguna. Aku berpikir untuk mencabut giginya, tetapi kau tahu Lira kehilangan peralatan dental ruang medis. Jadi aku mencoba cara lama dulu dengan menikam beberapa titik di tubuhnya. Tidak bekerja dan dia hampir mengarahkannya ke titik vital. Jangan tanya mengenai pengurangan makan, dia belum makan selama dua hari.”

“Tidak tertolong lagi…” Stefan mengangguk dan diam beberapa saat selagi menatap lantai. “Sudah seminggu dan aku berharap kita mendapatkan informasi apa pun mengenai masalah kita.”

Stefan menoleh ke kedua personel di belakangnya, “Bawa dia ke ruang interogasi. Kita beri amnestik hari ini dan jadikan dia Kelas-D.”

Kedua personel langsung masuk ke area penahanan Kelas-D sementara Stefan masih berdiri diam.

“Ikut aku, Herria.” Katanya selagi berjalan ke arah lain.

“Kemana, Pak?” Kata Herria selagi mulai mengikuti Stefan.

“Pengamat luar mengunjungi situs hari ini.”


Ruang tunggu lantai Euclid berbanding terbalik dengan ruang tunggu lantai Safe yang setidaknya dirawat dengan baik tiap harinya. Dua dari enam sofa rusak karena pelanggaran penahanan dan ditambal seadanya karena tidak ada yang menggunakannya selain para penjaga dan staf yang kelelahan dan kebetulan di sana. Pegas di dalam salah satu sofa bisa terlihat jelas menembus tambalan seadanya personel.

Tetap saja, Stefan mendapati seorang pria berkulit putih duduk di salah satu sofa. Rufus sang pengamat luar duduk bersandar di tempat itu. Seorang personel berpostur tegap dengan perlengkapan yang lebih lengkap di seragamnya berdiri tegak di sampingnya.

“Ah, Doktor Stefan, senang bisa melihatmu lagi.” Kata Rufus selagi berdiri dari sofa dan mencoba menjabat tangannya. Stefan pun memilih untuk menjabat tangannya kali ini.

“Ku kira kau kembali ke Amerika beberapa hari yang lalu.” Stefan berkata setelah menurunkan tangannya.

“Heh, Anda kira perjalanan antarbenua bisa dilakukan setiap saat?” Kata Rufus selagi mengajaknya ikut berjalan. “Selama di Indonesia, saya mendatangi situs lain.”

Tiap situs pada tiap pulau yang menanggung penderitaan ini? Stefan berkata dalam hati selagi mengikuti Rufus dari belakang.

“Sembilan menitip pesan untuk mengecek situasi situsnya. Tidak bisa bilang saya membawa berita baik mengenai itu.” Rufus masih berbicara selagi berjalan.

“Tidak ada kabar baik juga di sini, Pak.” Stefan membalas. “SCP-020-ID berada pada semacam masa hibernasi seminggu yang lalu. Tidak ada informasi lagi untuk sementara.”

“Setidaknya dia mengatakan satu hal penting.” Rufus berkata.

Stefan hanya menggeleng, “Ambigu dan genting. Para ‘Pasukan Pembantah Perintah’ akan mulai menyerang ‘kerajaan’ ini pada awal musim kemarau berikutnya… Kemungkinan itu April tahun depan. Jadi kita punya waktu setahun.”

“Ya, saya sudah membaca mengenai itu waktu di Papua. Bagaimana dengan pelarian Insurgent yang kalian tangkap? Di mana dia?” Tanya Rufus.

“Kita beruntung kebetulan mendapatkan Insurgent buangan, tetapi sial karena dia tidak berguna.” Stefan melanjutkan.

“Haha. Anda hanya tidak bisa memberi perjanjian yang bagus padanya. Setiap aset itu berharga, Stefan.” Kata Rufus selagi mulai mempercepat langkahnya.

Stefan menoleh cepat ke arahnya. Seperti saat kau membuat perjanjian dengan ku?

Setelah beberapa saat, mereka sampai di ruang observasi yang terhubung ke ruang interogasi. Beberapa personel, baik dalam ruang observasi maupun dalam ruang interogasi, tengah menyiapkan perlengkapan untuk amnestik. Stefan mengetok kaca observasi dan personel di dalam ruang interogasi keluar dari ruangan, menyisakan tahanan yang siap diberi amnestik.

“Beri saya beberapa saat di dalam.” Kata Rufus selagi memegang gagang pintu pembatas ruang observasi dan interogasi.

Stefan mengangguk dan duduk di kursi, tahu bahwa menjawab tidak pun tidaklah bisa menghentikannya.


Mengakses Berkas: Interogasi_31-03-2018.txt…

PERINGATAN, BERKAS HANYA TERSEDIA UNTUK PERSONEL DENGAN IZIN AKSES LEVEL 4. APA ANDA INGIN MELANJUTKAN? Y/N

Y


Mengirim permintaan…

Pewawancara: ██-█ (Dirujuk sebagai “Rufus”)
Narasumber: Zakaria █. B█████


[MEMULAI REKAMAN]

Rufus: …Jadi, Anda yang namanya Zakaria?

Zakaria: (Diam)

Rufus: …Saya mengetahui anda anggota Chaos Insurgency-

Zakaria: Mantan anggota.

Rufus: Baik, maaf atas itu. Tetapi saya di sini berniat menjadikan itu sebagai keuntungan kita berdua.

Zakaria: (Diam)

Rufus: Tidak tertarik?

Zakaria: (Diam)

Rufus: Boleh saya bertanya padamu?

Zakaria: Aku cuma korban di sini, tuan. Tidak ada yang bisa kau gali dariku.

Rufus:Does the Black Moon howl?

Zakaria: …Maksudmu?

Rufus:Knowledge forbidden?

Zakaria: Dengar, aku tidak mengerti-

Rufus: Pengetahuan dilarang?

Zakaria: (Spontan tetapi pelan) Mencurigakan… (Langsung menutup mulut)

Rufus: Memang cuma korban, eh. Beta-Class lokal.

Zakaria: Apa-apaan itu barusan?

Rufus: Yayasan memiliki metode autentifikasi apakah dia personel Yayasan atau bukan. Jika Anda setidaknya dilatih untuk menyusup di sini, Anda akan mengenali pertanyaan pertamaku. Beberapa kelompok Insurgent, karena merupakan pecahan kami dan tidak terlalu kreatif, menjadikan kutipan Paradise Lost karya John Milton sebagai metode autentifikasinya.

Rufus: Salah satunya adalah pertanyaan kedua dan ketigaku. Anda tidak merespon dalam bahasa Inggris, jadi Anda bukan agen internasional. Anda hanya merespon pada pertanyaan ketiga dengan satu kata dan pelan. Tidak terlalu loyal, eh?

Zakaria: …Aku tidak tahu akan hal itu.

Rufus: Memetika. Kau memang seharusnya tidak menyadarinya.

Zakaria: …Baik, jadi apa gunanya itu dengan apa pun yang tuan inginkan?

Rufus: Anda pernah menjadi anggota Insurgent dan tidak menyukai mereka. Kami punya penyusup Insurgent dan tidak menyukai mereka. Anda mengerti arah pembicaraan ini?

Zakaria: …Aku ingat kalian pernah menanyaiku tentang tiga nama. Mereka penyusupnya?

Rufus: Setidaknya ada tiga orang Insurgent di sini. Dan saya rasa kau bisa membantu kami.

Zakaria: …Kalau aku menolak?

Rufus: Tidak ada untungnya bagi Anda dan tidak ada untung atau ruginya bagi kami. Ingatan anda akan dihilangkan dan anda akan dijadikan subjek eksperimen.

Zakaria: …Aku memang tidak punya tujuan lagi.

Rufus: (Berdiri dan mendekati Zakaria) Anda yakin, apa tidak ada orang di luar sana yang… menunggu Anda?

Zakaria: …Semua yang ku kenal sudah mati.

Rufus: (Berada di belakang Zakaria) …Saya bisa memasukkanmu ke Perpustakaan Pengelana.

Zakaria: (Diam)

Rufus: Saya bisa membantumu menemuinya.

Zakaria: …Tidak… Tunggu, dari mana kau tahu mengenai itu?

Rufus: Saya pengamat yang baik.

Zakaria: (Diam sejenak) Apa yang membuatku harus memercayai kalian? Dan apa yang membuat kalian percaya kepadaku?

Rufus: Seperti yang saya bilang, tidak ada untungnya bagi Anda dan tidak ada untung atau ruginya bagi kami jika Anda menolak, tetapi ada untung bagi kita berdua jika Anda mau membantu kami. Bagaimana?

Zakaria: …Tugasku hanya mencari tiga orang ini?

Rufus: Saya rasa kita punya kesepakatan! (Mengulurkan tangan)

Zakaria: Kurasa tidak ada ruginya… (Menjabat tangan Rufus)

Rufus: (Menarik Zakaria mendekat) Waktu Anda satu tahun. Jika kurang satu, kami akan membunuhmu.

(SUARA TIDAK TERDENGAR KARENA TERLALU PELAN)

Zakaria: Ba… Baik.

Rufus: Bagus sekali. Selamat datang di Yayasan.

[MENGAKHIRI REKAMAN]


Stefan melihat Rufus keluar dari ruang interogasi. Ekspresinya tidak berubah, jadi dia bertanya, “Jadi bagaimana hasilnya?”

Rufus berjalan mendekati Stefan yang masih duduk di kursinya dan memandangi dia dan Herria di sampingnya sebelum berkata, “Dia akan mulai mencari penyusup kalian paling lambat lusa.”

“Maksudmu?” Stefan bertanya cepat.

“Maksudku dia akan mulai bekerja di sini paling lama setahun. Cukup waktu untuk mencari mereka, tidak?”

“Tapi- tapi dia Insurgent!” Stefan mencoba membantah.

“Tidak ada yang bisa mencari mereka lebih baik selain anggota mereka sendiri. Mantan, bahkan! Tenang saja untuk urusan birokrasinya, saya akan menyerahkan nanti ke Maria. Dia berhasil masuk GOC, jadi apa sulitnya memasukannya ke sini?”

Setelah mengatakan itu, Rufus berbalik dan bersiap keluar. Personel tegap yang mengawalnya keluar terlebih dahulu dan menahan pintu untuknya. Saat di pintu, dia berkata, “Satu hal lagi, dr. Zakaria sudah mati menurut database GOC, jadi pikirkan nama baru untuknya.”

Setelah itu, dia keluar ruangan sedangkan Stefan dan Herria masih di ruangan.

“Pak, jika aku boleh bertanya, siapa pria itu sebenarnya?” Tanya Herria yang masih menatap pintu yang sudah tertutup.

“…Pengamat luar.” Kata Stefan.

Mereka berhenti menatap pintu dan menatap kaca ruang observasi; Zakaria hanya menatap lurus sebelum perlahan menoleh ke arah kaca observasi. Setelah beberapa saat, yang dia lakukan hanya mengangkat bahu.

“…Besok hari yang panjang, Herria. Bawa dia kembali ke sel dan mabuk sana.”

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License