Beberapa tahun silam
“…Kak,”
Sebuah tangan menarik pelan rompi antipeluru yang tengah dikenakan personel di depannya. Pria di depannya tidaklah mengenakan helmnya, menunjukkan rambut pirangnya yang dipotong pendek. Saat itu dia tengah fokus mengamati sesuatu menggunakan teropongnya, tetapi kemudian mata birunya melirik ke belakang.
“Kau tidak istirahat?”
Di belakangnya merupakan seorang personel perempuan dengan rambut pirang serupa, meski lumayan tebal. Biasanya pria itu yang mengepang rambutnya agar tidak mengganggu misi, tetapi misi kali ini cukup melelahkan bagi mereka semua sehingga dia tidaklah sempat melakukan hal itu.
Perempuan itu menggeleng sebagai jawaban pertanyaan pria tadi. Kebanyakan personel lain tengah berbaring, beristirahat meski mereka semua tahu hanya untuk sementara saja. Perempuan itu terlihat gugup, mata birunya sepertinya tidak sanggup menatap kakaknya selagi dia berkata, “Menurut kakak, kita bisa menangani mereka semua?”
Pria di depannya kembali melirik ke arah target mereka sekilas. Sebuah hotel kecil setinggi tiga lantai. Di dalamnya terkonfirmasi akan terjadi perkumpulan tahunan beragam KDP kecil yang terlibat beragam tindak kriminal berbasis taumaturgis. Kemungkinan ada lima puluh orang terlibat dalam perkumpulan tersebut, jadi kekacauan pasti tak terhindarkan. Perlu beberapa hari untuk mengosongkan rumah penduduk di sekitar hotel tersebut, tetapi akhirnya mereka akan mengakhiri misi ini malam ini juga.
Satu jam dari sekarang, tiga puluh personel STG Iota-4 akan menjarah tempat tersebut.
“Hei, kita sudah sejauh ini. Kita sudah menunggu selama ini. Kita siap melakukan ini.” Dia berkata pelan, menenangkan orang di depannya dengan memegang pipinya. Kemampuan menembaknya di atas rata-rata, tetapi dia mudah gugup.
“Kita akan menyelesaikan misi ini dan pulang kembali ke situs, oke?”
Sekarang
Peneliti Junior Lucia Amelia melirik ke arah kaca mobil yang mereka tumpangi. Dirinya mengamati jalan tol yang dirinya rasa sudah mulai biasa terlihat sekarang. Cuaca cukup berawan untuk pagi hari ini, bahkan cukup gelap dibanding biasanya. Efek Monday blues, ku rasa… Lucy hanyut dalam pikirannya. Akhir pekan sudah selesai, operasinya sebelumnya kembali dilanjutkan.
Dia melirik ke arah samping kirinya, Agen Senior Heru duduk disampingnya di deret kursi belakang. Ketua agen lapangan dan atasan Heru duduk di kursi depan bersama seorang agen lain yang kini mengemudikan mobil ini. Penempatan personel per mobil untungnya menempatkan Lucy semobil dengan Heru, tetapi jika ada yang membuat Lucy bingung adalah mengapa bukan Heru yang mengemudi seperti sebelumnya. Jawaban yang diberikan Heru adalah ketua tidak memberitahukan tujuan mereka saat ini. Cukup aneh, menurut Lucy. Di belakang mereka merupakan konvoi kendaraan hitam Yayasan yang seingatnya terdiri dari lima kendaraan lagi.
Konvoi mereka keluar dari kosongnya jalan tol dan mulai memasuki padatnya area perkotaan. Lucy melihat bahwa mereka tidak menuju ke arah Depok, lokasi operasi mereka sebelumnya. Mereka bahkan tidak menuju pusat Kota; mereka mengarah ke Ciawi.
“Kau tak mencoba bertanya tujuan kita?” Lucy berbisik kepada Heru.
Heru ternyata juga mulai merasa penasaran sehingga dia mengiyakan ide Lucy dan bertanya, “Pak Ketua, apa kami bisa tahu tujuan kita sekarang?”
Ketua mereka tidak menjawab. Heru bergerak mendekati pengemudi dan bertanya, “Ermes, kau tahu kita ke mana?”
Bukannya Ermes yang menjawab, ketua mereka tiba-tiba berkata, “Akan ku katakan nanti, jangan tanya apa pun untuk sekarang.”
“Huh…” Heru membalas bingung, tetapi dia menurut dan tidak lagi bertanya. Lucy kembali menatap ke arah kaca. Pertanyaan mereka berdua tidak terjawab.
“Nom.”
Lucy menghabiskan roti yang sedari tadi dipegangnya untuk menenangkan dirinya. Dia belum sarapan tadi dan sialnya Heru berkata situs mereka tidak memiliki donat.
Mereka berkendara dalam sunyi sebagian besar waktu. Ketua sibuk mengarahkan agen yang pengemudi sesekali selagi memegang radio sehingga arahannya sampai ke seluruh konvoi. Mereka berkendara semakin jauh dari kota. Sepertinya memang hanya ketua mereka yang tahu tujuan mereka ke mana. Lucy teringat operasi terakhir mereka. Ketua tim mereka sepertinya memiliki pengalaman dengan target operasi mereka; sebuah grup perusahaan yang sepertinya pernah dijarah Yayasan tahun 90-an dulu.
Jalanan mulai sempit dengan pengemudi diarahkan ketua ke dalam jalan yang lebih kecil. Jalan kecil itu mulai minim akan kendaraan seiring perjalanan, lalu minim perumahan setelahnya.
“Parkir di sana.” Ketua menunjuk ke area lapang di samping rumah orang. Dia lalu mengambil radio dan menginformasikan mobil lain untuk berhenti selagi agen yang mengemudi segera menepi dan menginjak rem setelahnya.
“Mana?”
Akhirnya sang pengemudi bersuara setelah perjalanan panjang mereka. Lucy merasa kenal akan suara itu. Heru merujuk pengemudi mereka adalah Ermes dan dia lumayan mengenal agen itu sekarang meski mukanya tertutup helm, jadi cukup wajar kalau paling tidak dia mengenal suaranya.
“Beberapa ratus meter di depan. Aku perlu briefing dulu kepada mereka berdua.” Balas ketua selagi menunjuk ke belakang dengan jempolnya.
Ketua tidaklah berbalik ke arah Lucy dan Heru untuk itu, dia langsung saja mulai berkata, “Kita akan menemui seorang PDP yang dulunya berhubungan dengan target operasi kita. Dia kunci kita sekarang untuk mengarahkan kita ke ke mana pun petunjuk kita selanjutnya.”
Seorang PDP? Lucy mulai berpikir. Pihak Dalam Pengawasan, artinya identitasnya sudah diketahui dan kini tengah diawasi Yayasan, berbeda dengan tahanan mereka di operasi sebelumnya yang baru untuk pertama ditangkap ditangkap dan belum sempat diinterogasi lebih lanjut karena dibawa lari.
Itu mengingatkannya kembali mengenai target operasi mereka sebelumnya yang awalnya hanya merupakan sebuah geng lokal sebelum diketahui bahwa mereka sebenarnya dipekerjakan sebuah perusahaan kecil yang setelahnya diketahui bahwa mereka sebenarnya telah diserap sebuah grup perusahaan besar. Membuat Lucy berpikir bagaimana teknisnya satu orang saja cukup sebagai ujung benang untuk mereka telusuri ujung lainnya.
“Apa… apa kau mengenalnya, ketua?” Heru memutuskan untuk bertanya.
Terdengar hembusan nafas dari bangku depan. Akhirnya ketua berkata, “Tidak. Grup perusahaan ini, sebenarnya ini pertama kalinya aku berhadapan dengan mereka. Siapa mereka, sejarah mereka, siapa yang harus kutemui, aku tidak mengetahuinya.”
Lucy dan Heru jelas terlihat kebingungan mendengarnya. Heru sepertinya cukup berani untuk langsung membalas, “Jadi, PDP ini, dari mana ketua tahu kalau dia kunci kita sekarang?”
Ketua menggeleng. Dia lalu menunjuk ke arah kursi pengemudi. “Satu-satunya yang punya pengalaman menghadapi grup perusahaan itu dulu di sini hanyalah dia.”
Heru melirik ke arah Ermes, seperitnya mulai melepas ikatan helmnya. “Ermes? Kau tak pernah bilang mengenai itu!” Heru bertanya keheranan.
“Nein,” Sang pengemudi melepaskan helmnya dan meletakkannya di dashboard. “Dia tidak di sini.”
Lucy dan Heru tertegun melihat siapa yang berada di balik setir. Tidak ada di antara mereka yang menyangka melihat dia di luar situs, apalagi tepat di depan mereka sejak tadi. Lucy memegang erat pinggiran kursinya dengan salah satu tangannya sedangkan tangannya yang lain tanpa sadar meraba senjatanya. Dalam keheningan sekilas itu, Heru merupakan yang pertama bicara.
“…Agen Senior Hansel Löwe. Aku tidak tahu personel keamanan diperbolehkan untuk menyamar sebagai agen dan keluar situs.” Katanya dingin.
Hansel menunjuk kembali ke arah ketua dan berkata, “Kau bisa tanya ketuamu mengenai itu.”
“Tenangkan dirimu, Heru. Akan kujelaskan mengenai itu sekarang.” Ketua merespon.
“Yah, kau bisa mulai dengan mengatakan segalanya sejak awal seharusnya.” Heru membalas, tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Lucy juga merasakan hal yang sama, meski dia tahu posisinya.
“Dengarkan saja aku sebentar!” Ketua berusaha menjawab. “Mulai dari mana ya… Sebagai awalan, aku harus memberitahukan kepada kalian berdua kalau Hansel sebenarnya merupakan mantan STG sebelum diturunkan menjadi personel keamanan.”
Lucy kembali teringat perkataan Kepala SDM situs beberapa hari yang lalu yang mengatakan hal serupa. Mungkin Heru tidak mengetahuinya. Mungkin dia mengetahui informasi yang tidak seharusnya dia ketahui dulu. Tidaklah masalah sekarang sepertinya, karena ketua kali ini yang menginformasikan mereka.
“Kau serius?” Heru sepertinya murni terkejut mendengarnya. “Pasti demosi parah… Apa nama STG-nya?”
“Iota-4. ‘Bongkar’” Balas Hansel singkat.
Heru terlihat berpikir untuk beberapa saat. “STG Iota-4…. Aku memang pernah dengar kisah sebuah STG yang dibubarkan karena sedikit demi sedikit kehilangan anggota sampai tidak lagi bisa bekerja karena tekanan mental. Itu nama STG tersebut, bukan?”
“Satu… hilang dalam penyerbuan KDP besar-besaran, satu praktisnya hilang ditelan meja, empat terikat kabel listrik dan mati, enam-“
“Tenangkan dirimu.” Ketua mengguncang bahu Hansel beberapa kali. Hansel tertegun, menyadari dirinya melantur tadi dan membalas, “Maaf, Dilan.”
Ketua hanya mengembuskan nafas. Dia lalu melanjutkan, “KDP yang kita hadapi di pabrik sebelumnya, STG Hansel pernah menjarah mereka dulu di tahun 1998. Itulah bagaimana aku bisa menebak nama pimpinan mereka.”
“Awalnya backing Benny dulu adalah pemerintah langsung. Dengan kemunduran presiden tahun 1998, STG kami dulu akhirnya bisa memulai operasi panjang pemberantasan beragam anak perusahaan bajingan itu.” Giliran Hansel yang bicara. “Kami praktisnya menjarah seluruh perusahaan yang masih terkait dengannya. Seingatku beberapa langsung berhenti beroperasi sepenuhnya sebelum dijarah, membakar pabrik mereka dan semacamnya.”
“Benny lumanyan putus asa saat itu, dia memutuskan untuk merekrut organisasi kriminal sebagai pengganti dan terus beroperasi sampai penjarahan terakhir kami…” Hansel diam sejenak. “…tahun 2008. Dia hilang setelahnya. Meski begitu, anomali yang ia tinggalkan semuanya memakan korban. Semuanya seharusnya sudah masuk penahanan Yayasan sekarang…”
Setelah keheningan beberapa saat, ketua cukup yakin untuk melanjutkan dengan, “Baik, ku rasa aku bisa memulai briefing sekarang. PDP yang akan kita temui nanti terafiliasi dengan salah satu organisasi kriminal yang dulu direkrut target kita sebelum dijarah dan menghilang. Dia setidaknya bisa mengarahkan ke mana kita harus menyelidiki lebih lanjut nantinya.”
“Satu pertanyaan,” Heru kembali menyela. “Seingatku saat pembagian personel dalam kendaraan tadi, di sana tertulis Ermes sebagai pengemudi. Apa yang terjadi dengannya?”
“Dengar, begini…” Ketua sepertinya kesulitan menyusun alasannya. Hansel tiba-tiba berkata, “Beri tahukan saja mereka. Aku bilang aku akan mempertimbangkannya, tidak langsung melakukannya.”
Ketua menghela nafas dan berkata, “Baik. Jadi, aku sengaja melakukan itu. Seharusnya memang Ermes yang ada di sini, tetapi dia satu-satunya orang Jerman yang bisa kuganti dengan Hansel.”
“Huh, jadi sekarang kau yang melanggar peraturan, ya.” Heru terkekeh mendengarnya.
“Aku terpaksa. Aku sudah lama mendengar cerita mengenai target kita darinya dan aku tidak akan mengambil risiko yang sama kali ini.” Ketua lalu berbisik ke Hansel, “Tidak bermaksud menyinggungmu.”
“Maaf, tapi apa dia memang harus diikutkan?” Akhirnya Lucy memberanikan diri bicara. “Dia tidak harus ada di lokasi jika yang diberikannya hanya informasi, bukan?”
Lucy menghabiskan beberapa hari sebelumnya menghindari Hansel, dia tidak akan membiarkan itu terbuang sia-sia tanpa melakukan sesuatu mengenai itu terlebih dulu. Baik ketua maupun Hansel diam sejenak mendengarnya. Heru juga, meski dia menatap Lucy dengan khawatir karena berani menyarankan itu. Sesaat kemudian terdengar suara tawa dari Hansel dan suara hembusan nafas lagi dari ketua.
“Cuma itu syarat yang diberikan Hansel untuk semua informasinya. Dan sejujurnya, aku berhutang itu padanya sejak operasi terakhir.” Ketua menjawab.
“Tunggu, setidaknya kau bisa beri tahukan personel lain mengenai itu dari awal, kan?” Kini giliran Heru untuk bertanya.
“Dengar. Alasan sebenarnya tidak boleh ada yang tahu kalau Hansel di sini adalah karena dia dilarang menemui semua PDP yang berhubungan dengan penjarahan itu. Semua informasi terbaru mengenai KDP kita dan siapa pun yang terlibat ini sebenarnya terlarang baginya. Itulah kenapa dia menjadikan keikutsertaannya ini sebagai syarat untuk informasinya. Dan seperti kataku, aku tidak melihat cara lain lagi selain menerima perjanjian itu.”
Itu sedikit membuat Lucy lega karena dari tadi dia mengira Hansel bersedia bertindak sejauh ini hanya untuk menyiksanya. Tetap saja, dia merasa terganggu mengenai jawaban yang diberikan ketua. Dia melihat Heru hanya mengangguk mengerti seakan jawaban ketua sudah lengkap, tetapi tidak bagi Lucy.
“Tapi kenapa dia dilarang?” Tanya Lucy.
“Karena awalnya kita punya sekitar sebelas figur penting penjarahan itu yang menjadi PDP Yayasan sebelum Hansel mulai membunuh mereka semua sampai cuma tersisa satu. Dia akhirnya dijadikan personel keamanan dan aturan itu dibuat untuk jaga-jaga.” Jawab ketua.
“Mereka tidak membiarkanku menyelesaikan pekerjaan, sayangnya.” Hansel menambahkan.
“Seingatku dia baru 12 tahun umurnya saat jadi PDP. Dia bahkan tidak di hotel itu bersama ayahnya!” Ketua kembali berkata.
“Dan kami baru 25-an saat itu, menjarah 50 orang petinggi organisasi kriminal Jawa itu tahun 2008,” Hansel membalas dengan suara yang mulai meninggi. “Dan-“
“Baik-baik, kita tidak ingin ada ketegangan di sini.” Ketua tiba-tiba menyela. “Seperti kataku sebelumnya, aku tidak peduli mau kau apakan perempuan itu nanti, tapi tolong jangan mulai menembak sampai kami cukup jauh.”
Hansel yang awalnya sedikit condong ke arah ketua kini perlahan kembali ke kursinya. Dia hanya berkata, “Sudah ku bilang masih kupertimbangkan.”
Ketua sendiri berbalik dan berkata, “Aku akan mengarahkannya ke kediaman PDP kita – teknisnya dihitung sebagai rumah aman Yayasan juga sekarang. Demi kelancaran misi ini, aku ingin kalian berdua tidak mengatakan apa pun mengenai ini semua…”
Ketua diam sejenak menatap tajam ke arah Lucy dan Heru. Dia sepertinya juga berkeringat dingin jika diperhatikan. Dia lalu melirik ke arah Hansel sebelum kembali menghadap ke depan.
“…Tidak peduli apa yang terjadi nanti.” Lanjutnya.
Mendengar perselisihan ketua dan Hansel sebelumnya, baik Lucy maupun Heru bisa menebak apa yang akan terjadi dalam beberapa jam ke depan. Tetapi melihat ekspresi ketua, tidak ada pilihan lain bagi mereka selain mematuhinya.
Dengan itu kendaraan kembali dinyalakan. Mereka berkendara beberapa saat dalam diam sampai ketua kembali menunjuk ke tanah lapang kecil yang dipenuhi rumput untuk tempat parkir. Di sebelah tanah lapang tersebut terdapat rumah dari bata yang lumayan sederhana.
Ketua menginstruksikan bahwa hanya personel mereka saja yang turun. Sepertinya dia serius bersiap kalau ini bisa menjadi upaya pembunuhan tertutup dan apa pun yang terjadi hanya akan diketahui oleh mereka saja. Lucy dan Heru turun dari mobil dengan perasaan gugup. Hansel keluar dari mobil, dan cukup untuk membuat Lucy heran, dia tidak mempedulikan Lucy yang berdiri di belakangnya.
Mereka berempat berjalan ke rumah tersebut, dengan ketua berjalan paling depan. Mendekati pekarangan rumahnya, seorang pria berpakaian kaus biasa dan celana panjang perlahan mendekati mereka. Asalnya sepertinya dari rumah yang terletak di seberang jalan.
“Maaf, mas-mas semua, Ini ada apa ya?” Dia bertanya dengan ekspresi kebingungan. Reaksi yang wajar jika seseorang melihat sekumpulan orang berseragam taktis di seberang rumahmu. Tetapi jika ada yang mengganggu Lucy adalah, kenapa matanya seperti terpejam.
“Sarah Lorenza. Janji temu pukul sebelas atas nama Dilan Bara.” Ketua menjawab seakan dia tahu siapa yang bertanya.
Dan memang benar, pria tersebut langsung berganti ekspresi menjadi senyum dan berkata, “Dia di dalam. Aku tidak harus mengawasi kalian, kan?”
“Ya.” Ketua berkata, jelas agar rahasia mereka saat ini tidak bocor.
Pria itu lalu berjalan santai kembali ke rumah sederhana di seberang jalan. Sepertinya dia memang tinggal di sana sebagai tugasnya untuk mengawasi PDP di sana. Ketua sendiri menunggu dia cukup jauh sebelum kembali berjalan.
“Tidak ku sangka dia di sini…” Tiba-tiba Hansel berkata. Ketua menoleh ke arah Hansel. “Kau mengenalnya?”
“Kau juga mengenalnya.” Hansel membalas singkat. “Dia ‘Si Palu’.”
Ketua mengenal nama panggilan itu sepertinya. Dia menoleh cepat ke arah pria tadi yang kini sepertinya sudah masuk ke rumah seraya berkata, “Oh. Jadi dia dipindah ke sini…”
“Maaf, tapi siapa tepatnya dia tadi?” Heru memutuskan untuk bertanya mengenai itu.
Hansel berbalik dan menjawab, “Agen Senior Kang Tae-yeon. Dia personel keamanan Situs-79 Lantai Euclid sebelum sepertinya dipindah ke sini.”
“Huh.” Cuma itu komentar Lucy. Sepertinya dia sudah cukup lama bekerja di Indonesia sehingga tidak terlihat seperti personel asing. Apalagi rambutnya yang hitam juga mempersulitnya mengetahui hal tersebut.
“Kusarankan kalian waspada dengannya. Aku mengakui aku memang sering membuat keributan, tapi setidaknya kucoba untuk tidak melampaui batas. Pria itu, dia dulu membunuh orang dengan memukulinya dengan palu karena melanggar peraturan dan dia hanya tersenyum seperti psikopat.”
Kali ini Heru terkekeh, “Kau mencoba menjustifikasi diri sekarang?”
“Tidak, dia serius.” Ketua tiba-tiba menambahkan. “Kabarnya dulu saat dia menguasai situs, dia dan personel lain yang jadi bawahannya menghabisi siapa pun yang mereka suka, melanggar peraturan ataupun tidak. Taeyeon sendiri lebih memilih menggunakan palu untuk itu. Sisi terburuknya adalah dia memakai kedua sisinya, jadi kau bisa bayangkan situasi lantai Euclid dulu.”
“Tunggu, bukannya Pak Herria juga sudah bekerja di situs?” Heru kembali bertanya.
“Jujur, tahun 2000-an Pak Herria tidaklah terlalu disegani oleh personel lain, jadi Taeyeon selalu menggunakan anak buahnya untuk mengurusnya. Itu ditambah seluruh kekacauan di lantai Keter tahun itu juga.” Ketua menjawab.
“…Apa itu semacam kutukan atau semacamnya? Pertama dia, lalu kau.” Lucy berkomentar, tidak menyukai fakta bahwa keadaan situs selalu seperti itu sejak dulu sampai sekarang.
“Setiap penjaga di Situs-79 itu pasti ditugaskan di sana karena bermasalah, tetapi di antara mereka akan selalu muncul seseorang yang paling dominan untuk menguasai situs. Seakan memilih raja, kau tahu.” Hansel menjelaskan. Dia benar-benar serius menjelaskannya tanpa nada kesal mendengar komentar Lucy. “Taeyeon dipindahtugaskan keluar dari situs setelah demosiku, personel situs mulai menganggapku sebagai pemimpin penggantinya. Sebagian besar personel Jerman.”
“Tapi apa itu penyebab sehingga kau juga melakukan hal serupa sekarang?” Lucy bertanya dengan kesal.
Hansel mau menjawab, tetapi Ketua tiba-tiba menyudahi pembicaraan dengan berkata, “Kita sudah berdiri di sini terlalu lama. Simpan obrolan kalian di situs nanti. Sejujurnya aku ingin masuk ke rumah itu sekarang, mengetahui pria itu bisa mengamati kita di sini.”
Dia lalu berjalan menuju rumah di depannya. Hansel melirik ke Lucy sebentar sebelum berjalan mengikuti ketua. Entah apa ekspresinya di balik sebo hitamnya. “Kalian berdua yang memulai…” Bisik Heru kepada mereka selagi mengikuti mereka, diiringi Lucy di belakang.
Mereka kini berdiri tepat di depan pintu masuk rumah itu. Ketua segera mengetok pintu rumah itu sebelum mundur selangkah. Mereka menunggu selagi terdengar suara kunci pintu terbuka dari dalam.
Pintu lalu terbuka, di baliknya merupakan seorang perempuan yang memakai kemeja putih dan celana hitam kerja meski sedikit kusut. Dia sepertinya berusia 20-an. Sepertinya dia diberi tahukan kalau akan ada tamu nanti, tetapi yang dia lakukan hanyalah mengikat rambut panjangnya ke belakang.
“Yayasan, bukan? Tentu saja. Silahkan masuk.” Dia berkata. Dan dia berkata tanpa menatap ke arah ketua atau siapa pun. Pandangannya lurus, tetapi dia seakan tidak melihat mereka.
Setelahnya dia berjalan kembali ke ruang tamu. Saat itulah Lucy sadar bahwa dia memang tidak bisa melihat.
Mereka satu persatu mendekati meja di tengah ruang tamu. Terdapat dua buah sofa yang saling berhadapan. Perempuan itu duduk di salah satu sofa, hebatnya tanpa kesulitan. Ketua duduk di sisi seberang sofa, diikuti Heru di sampingnya. Tinggal Lucy dan Hansel yang masih berdiri di pinggir meja. Lucy melirik sekilas ke Hansel, hanya untuk menyadari dia menatap ke arahnya juga. Itu cukup untuk membuatnya langsung berupaya duduk di samping perempuan tadi. Perempuan itu sendiri sepertinya tidak keberatan.
“Langsung saja, saya kemari untuk menanyakan beberapa hal terkait organisasi yang dulu merekrut ayahmu dulu tahun 2008.” Ketua langsung berkata.
“Tunggu, kita tidak perlu rekaman?” Lucy tiba-tiba menyela.
Ketua menggeleng, “Mereka cuma akan meminta laporan pasca misi dariku, jadi aku tidak perlu merekam ini.”
Kini giliran perempuan itu untuk menjawab. “Mengenai itu, sudah ku katakan kalau aku tidak terlibat dalam operasi itu dulu. Itulah kenapa aku masih bisa ada di sini, kan? Lagi pula aku sudah memberitahukan semua mengenai apa yang kutahu setidaknya sepuluh tahun yang lalu, bukan?”
“Tapi kau pasti tahu di mana kami bisa mencari hal tersebut, bukan?” Ketua berkata. “Kami ingin tahu semua markas kalian dulu. Kau pasti tahu ayahmu memiliki dokumentasi semacam itu.”
Perempuan itu diam. Tidak bisa dikatakan dia diam menatap ketua karena dia teknisnya tidak. Dia lalu berkata, “Sebentar.” Sebelum dirinya berdiri dan berjalan ke ruangan lain. Dia tidak kesulitan mengenai hal tersebut sepertinya.
“Jadi… dia siapa, tepatnya?” Lucy merasa ada waktu untuk bertanya.
“Sarah Lorenza. Satu-satunya anak dari Luca Lorenzo, pimpinan geng kriminal spesialis penjarah rumah dulu. Modus operandi mereka adalah mengosongkan seisi rumah menggunakan ritual taumaturgi ruang dan memindahkan semuanya ke salah satu markas mereka. Modusnya sama dengan salah satu geng lain yang menculik anak-anak memakai mobil jeep beranomali, meski upaya misinformasinya lebih mudah dibanding mereka.” Hansel yang menjawab. Dia jelas tahu banyak mengenai itu. “Tugas mereka saat direkrut Benny cukup sederhana: mengosongkan lokasi saat kami jarah dulu sehingga kami tidak dapat apa pun. Mereka sangat mengganggu operasi kami dulu.”
Lucy masih tidak suka Hansel cukup dominan dalam misi ini, sesuatu mengenai rasa takut dan bencinya yang susah hilang seketika, sepertinya. Jadi dia kembali bertanya, tetapi kali ini kepada ketua. “Jadi kenapa kita harus menanyainya jika dia bilang dia sudah memberitahukan segalanya, Pak Ketua?”
“Karena kita ternyata tidak memiliki dokumentasi lengkap seluruh markas mereka dulu.” Ketua menjawab. “Kita dulu lebih tertarik kepada organisasi kriminal lain yang bersamanya, tetapi tidak kepada Benny sendiri. Itu sebabnya catatan mengenainya minim. Jika Benny benar-benar kembali beroperasi sekarang, kita perlu semua informasi yang kita bisa dapat. Ada kemungkinan kita bisa mempelajari sesuatu di sana.”
“Begitu ya…” Lucy membalas, mengakhiri seri pertanyaannya.
Mereka lalu menunggu untuk beberapa saat lagi. Cukup bisa dimaklumi oleh semua orang di sana. Setelah beberapa saat, dia akhirnya kembali membawa sekumpulan map. Dia meletakkannya di meja dan kembali duduk setelahnya.
“Aku menyimpan informasi semacam itu di map ini, cek dulu karena saat itu aku cuma bermodal ingatan.” Dia berkata.
Ketua meraih salah satu map dan membaca isinya dengan cepat. Entah apa yang dia baca, tetapi sepertinya bukan yang dia cari karena dia lalu meletakkannya kembali ke meja sebelum mengambil map baru. Dia terus melakukan hal tersebut sampai dia akhirnya mengeluarkan sebuah kertas berlipat berukuran besar dari salah satu map.
Dia lalu membuka lipatannya dan meletakkannya di meja agar semua personel bisa melihatnya. Itu adalah sebuah peta, jelas sepertinya sudah berusia cukup lama. Di peta tesebut banyak tanda lingkaran, kira-kira 30 tanda ada di sana, terpusat di kota besar termasuk Jakarta.
“Sarah, saya menemukan sebuah peta. Apa kau ingat sesuatu mengenai peta ini?” Dia berkata seraya menyodorkan peta tersebut kepadanya.
“Sepertinya. Seingatku memang ada kertas berukuran besar di salah satu map itu.” Jawab perempuan tersebut tanpa meraih peta yang disodorkan kepadanya.
“…Apa anda bisa mengonfirmasi apa tepatnya yang ditandai di peta ini?” Ketua kembali bertanya. Perempuan tersebut hanya menggeleng sebagai jawaban.
Ketua kembali mengamati peta di tangannya. “Terlalu banyak untuk dicek… Tapi ini terlihat menjanjikan.” Dia lalu menyerahkan peta tersebut ke Heru. Tangannya mencoba meraih tangan perempuan tersebut untuk dijabat seraya dirinya berkata, “Baik, saya sangat berterima kasih atas kerjasama anda.”
Dia kemudian berdiri meski tangannya tidak dijabat perempuan itu, diikuti Heru dan Lucy setelahnya. Dia lalu berbalik dan berjalan menjauh, kini berada di samping Hansel yang masih berdiri dan menatap ke bawah.
“Dia milikmu, Hansel.”
Seketika perempuan tersebut terlihat gugup. “…Hansel?”
Ketua segera menjauh dan bergegas berjalan menuju pintu keluar. Heru menatap keadaan untuk beberapa saat sebelum mengikuti ketua. Kini tinggal Lucy seorang, berdiri di antara perempuan tersebut dan Hansel.
“Kau tak perlu menyaksikan ini, Lucy.” Hansel berkata dingin. “Keluar sana. Kau tidak perlu menungguku.”
“Kau akan melanggar peraturan di luar situs juga, sekarang?” Lucy berkata. Salah satu tangannya entah kenapa terangkat untuk melindunginya.
“Dia aset Yayasan, kita bebas menggunakannya semau kita.” Balasnya. Dia tidak mengeluarkan senjata apa pun. Dia akan melakukan apa pun yang dia lakukan nanti dengan tangan kosong, sepertinya. “Dan kita sudah menyimpannya terlalu lama tanpa diapa-apakan.”
“Yang benar saja, dia manusia!” Lucy berteriak kesal. Tangannya meraba revolvernya dan siap mengeluarkannya kapan saja.
Hansel kini mulai berjalan mendekat meski hanya selangkah. “Begitu juga pengendali realita.”
Lucy tertegun.
“Begitu juga pengguna taumaturgi.” Langkah demi langkah dia mendekat. “Tipe hijau, biru, apapun istilah yang dipakai KOG, seharusnya jika seseorang bisa melakukan sesuatu yang manusia normal tidak bisa lakukan, mereka bukan lagi manusia, kan? Mereka selalu memandang rendah manusia biasa seperti kita. Jika dia yang berkuasa dan bukan kita, apa kau pikir dia akan segan untuk melakukan ini kepada kita?”
Dia berdiri tepat di depan Lucy sekarang. Lucy mulai berkeringat dingin. Apa dia tahu identitas asliku sebagai agen ganda?! Merupakan salah satu pikirannya, tetapi pikirannya yang lain adalah bagaimana dirinya kini melindungi seseorang yang mungkin saja merupakan buruan organisasinya dulu. Jenis orang yang awalnya dia benci sepenuh hati.
“Jadi minggir. Kau tidaklah tahu siapa yang kau lindungi.” Hansel berkata pelan. Lucy sendiri tanpa sadar berjalan perlahan ke pinggir selagi dirinya larut dalam memikirkan perkataan Hansel barusan.
Dia melirik perempuan tadi yang masih diam. Arah tatapannya masih lurus, tidak mengarah ke arah Hansel. “Aku ingat pertama mendengar nama itu. Orang yang katanya akan membunuhku nanti.” Dia berkata pelan. “Kau akan melakukannya sekarang?”
Hansel hanya menatapnya. Tidak ada yang melakukan apa pun. Mereka bahkan tidak saling menatap, tetapi Lucy bisa merasakan keduanya saling menunggu tindakan yang lainnya.
“Aku akhirnya bisa tidur nyenyak sekarang.” Hansel berbisik, cukup pelan meski terdengar oleh Lucy. Dia lalu berjalan mendekati perempuan itu.
Tiba-tiba, Hansel dihantam sesuatu di helmnya dari belakang. Lucy terkejut akan kejadian mendadak itu dan reflek mundur beberapa langkah. Helm Hansel baru saja dihantam sisi cakar sebuah palu.
Dan yang memegangnya adalah pria penjaga di luar tadi, kini mengenakkan rompi antipeluru standar Yayasan. Dia masih tersenyum saat ini dengan mata terpejam.
Hansel jelas bereaksi segera, tetapi sebelum tangannya sempat meraih apa pun di belakangnya, pria itu menarik palunya ke belakang. Sepertinya cakar palu itu cukup kuat tertancap sehingga helm Hansel tertarik ke belakang. Dia bahkan mulai berpijak punggung Hansel dan terus menariknya.
Lucy lalu tersadar tali helm Hansel praktisnya tengah mencekiknya karena helmnya ditarik. Hansel menyadari itu dan mencoba meraih pisau standar di rompinya. Setelah dikeluarkannya, dia langsung memotong tali helmnya dan menjauh segera.
Pria tersebut terkekeh selagi membuang helm Hansel yang tersangkut di palu yang dipegangnya. Dia melihat ke arah Hansel yang kini menunjukkan rambut pirang pendeknya. Hansel memegang pisaunya dengan erat, mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
“Ku kira dia iseng menyalakan alarm tadi. Tapi keadaan terlihat cukup serius di dalam tadi.” Pria itu akhirnya bicara. “Aku tidak menyangka akan melihat muka itu pada akhirnya.”
Lucy melirik ke arah perempuan tadi. Dia tidak menatap ke arah mereka berdua, tetapi ekspresinya jelas khawatir. Di tangannya terdapat sebuah alat kecil dengan tombol besar di permukaannya. Pasti itu pemicu alarm yang disinggung pria tadi.
Hansel tidak membalas apa pun dan langsung mencoba menikamnya dengan pisaunya secara horizontal. Tetapi pria itu mengayunkan sisi rata palunya langsung menghantam cepat ke bawah, membuat Hansel mundur dalam selangkah. Dia lalu membalik mata palunya dan mengayunkan sisi pencakar palu itu maju berkali-kali. Hansel terus berjalan mundur karenanya, tidak mendapat kesempatan untuk membalas.
Hansel tiba-tiba tersandung, terlambat menyadari dirinya sudah mencapai pintu rumah. Dia lalu melirik kembali ke depan, tepatnya ke atas. Pria itu langsung membalik mata palunya kembali ke sisi ratanya dan melemparnya tepat ke arah kepala Hansel.
Tentu dia langsung berguling menjauh, nyaris terkena lemparan palunya yang membekas di lantai kayu pekarangan rumah. Dia lalu segera berdiri dan loncat menjauh dari rumah, menjaga jarak sejauh yang dia bisa.
Pria itu sendiri perlahan keluar rumah dan meraih kembali palu yang dilemparnya. Dia berjalan pelan ke arah Hansel yang kembali berdiri selagi bersiap untuk serangan. Lucy perlahan keluar dari rumah dan memperhatikan situasi dari kejauhan. Perempuan tadi mengikuti di belakangnya dengan tangan berharap.
Tiba-tiba seseorang berlari ke arah pria itu, tangannya bersiap di depan wajahnya untuk menubruknya jatuh. Pria itu langsung mengayunkan palunya tajam meski tidak sepenuhnya terangkat. Orang yang datang tadi langsung menahan palunya dengan lengan kirinya. Mata palu tersebut menghantam tepat di tengah lengannya, langsung membuat orang itu meringis kesakitan. Dia menyempatkan untuk memukul badan pria itu dengan tangannya yang lain, tetapi rompi antipelurunya sepertinya meredam pukulannya. Orang itu lalu mundur, mendekati Hansel.
“Apa-apaan ini, Dilan?” Pria itu berkata dengan tenang. “Kau tahu Hansel dilarang ke sini, kan?”
Ketua hanya menatapnya selagi memegang lengannya yang kena hantam palu. Heru datang di belakangnya dan menodongkan senjatanya ke arah Taeyeon selagi ketua menahan sakit di tangannya. Ketua lalu menoleh ke arah Hansel dan berkata, “Kusarankan kau lupakan saja tujuanmu! Lawanmu Taeyeon! ‘Si Palu’!”
“Kau bercanda?” Hansel berteriak kesal. “Ini tujuan hidupku! Sekarang minggir!”
Hansel kini lari mendekat dan bersiap untuk kembali menikam Taeyeon. Lawannya kembali mengayunkan palunya secara horizontal. Hanya beberapa langkah darinya, Hansel langsung memutar arah pisaunya dan merenggangkan tangannya. Dengan itu dia langsung menebas cepat ke arah tangan Taeyeon. Sisi tajam pisaunya berhasil menahan gagang besi palu tersebut.
Dengan cepat dia kembali mengganti posisi tangannya sehingga dia bisa menikam kembali. Dan dengan itu dia berhasil mengenai bahu Taeyeon yang terlindungi rompinya. Begitu berhasil mengenai titik itu, Hansel dengan cepat menikam tempat tersebut empat sampai lima kali sebelum Taeyeon memukulkan palunya ke arah kepala Hansel. Dia berhasil mundur tanpa terluka.
“Ku rasa kau memang layak menjadi penggantiku di situs.” Taeyeon berkata. Dia meraba rompinya di bagian bahu, jelas berhasil disobek Hansel sampai ke badannya karena warna merah mulai menyebar di pakaiannya.
Dilan perlahan mendekati Hansel. Tiba-tiba dia menodongkan senjata ke arah kepalanya dan berkata, “Kita tidak di sini untuk membunuhnya. Jadi biarkan aku yang urus kekacauan ini sekarang sebelum kita pergi.”
Sang ketua lalu menoleh ke arah Taeyeon dan berkata, “Tindakanku terpaksa dilakukan demi kesuksesan misi ini. Saya berharap anda bisa menganggap kejadian ini tidak terjadi. Kami akan pergi segera.”
Taeyeon diam memikirkan tawaran Dilan. Awalnya itu yang dikira dia lakukan karena beberapa saat kemudian dia malah tertawa. Setelahnya dia berkata, “Yang benar saja, aku punya tugas.” Selagi mengarahkan palunya ke arah Hansel.
Dia lalu berjalan mendekati Hansel dan Dilan. Dilan sendiri melirik ke arah Hansel dan ke arah Taeyeon sebelum dirinya mundur dan berkata, “Terserah lah, ini urusanmu dan dia sekarang. Jadi semoga beruntung.”
“Tunggu, apa?” Heru di sampingnya bertanya kebingungan. “Kita akan membiarkan mereka saling bunuh?”
“Dan mengubur siapa pun yang kalah setelahnya. Aku mengharapkan kau dan teman penelitimu bisa merahasiakan itu juga nanti.” Ketua berkata.
Heru tertegun mendengarnya. Dia hanya menatap ketua sebelum menunduk dan ikut mundur. “…Ini semua salahmu, kau tahu.”
“Apapun agar misi ini tidak gagal seperti sebelumnya…” Ketua membalas pelan.
Tanpa mereka ketahui, Lucy meremas erat genggaman tangannya. Dia hanya mendengar bagian ketua memutuskan untuk tidak menghentikan perkelahian, tetapi itu cukup untuk membuatnya emosi. Dia mengamati apakah ada cara untuk mendekati mereka berdua, tetapi halaman rumah tersebut sepertinya akan bersimbah darah dalam beberapa saat. Lucy hanya bisa berdiri diam di pekarangan.
Hari mulai mendekati siang, tetapi mendung di atas mereka mulai menebal, membuat suasana makin gelap seakan siap diguyur hujan kapan saja. Dalam kegelapan itu mereka semua hanya berdiri diam mengamati Hansel dan Taeyeon kembali maju untuk menyerang. Keduanya kembali memakai trik awalnya dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.
Sebelum mereka kembali saling menyerang, Taeyeon menurunkan tangannya yang memegang palu ke bawah dan langsung mengayunkannya ke atas. Hansel bisa merasakan serangannya tadi berhasil mengait sedikit bagian rompinya dan memotongnya seperti pisau. Setelahnya baru dia ayunkan menyamping ke bawah, mengincar tangan Hansel yang memegang pisau. Pukulannya berhasil mengenai jari Hansel yang memegang erat pisau tersebut, menyebabkan Hansel menjatuhkannya beberapa meter ke belakang.
Hansel hanya berteriak kesakitan sesaat, tetapi dia lalu membalas cepat dengan menendang kaki Taeyeon dan menyebabkannya hampir jatuh. Hansel sendiri segera lari mendekati pisau yang terlempar tadi dan meraihnya dengan tangan kirinya.
“Sebuah pertanyaan, Hansel.” Taeyeon berkata, mencoba menyeimbangkan dirinya kembali. “Kenapa kau bertindak sejauh ini? Sesuatu terjadi di misi itu?”
“Heh, kau tidak membaca dokumenku mengenai itu?” Hansel membalas, meski dirinya tengah menahan rasa sakit di tangan kanannya.
Taeyeon menggeleng. “Aku memilih untuk tidak bersimpati kepada pelanggar peraturan, tapi kini kau membuatku penasaran.”
“Dua kata,” Hansel bersiap mengambil ancang-ancang. “Gretel Löwe.”
“Ah.” Cuma itu yang dikatakan Taeyeon sebelum dirinya bersiap menahan serangan Hansel selanjutnya. Kali ini Hansel tidak mencoba menikam, tetapi menebas. Taeyeon tetap menurunkan palunya dan bersiap mengaitnya seperti tadi. Hansel berhasil menghindar dan langsung menebas sisi samping badan Taeyeon, meski tidak berpengaruh apa pun. Taeyeon langsung mengayunkan sisi tumpul palunya ke arah Hansel, hanya untuk dia menghindar di belakang Taeyeon dan langsung memutar arah mata pisaunya untuk menikam rompinya beberapa kali. Taeyeon langsung mencoba menyikut Hansel, tetapi Hansel mengait pinggangnya dengan tangan kanannya dan kembali menikam.
Tidak melihat jalan lain, Taeyeon menjatuhkan dirinya ke belakang dan menimpa Hansel. Dia lalu berguling ke samping dan kini dirinya yang menjaga jarak dari Hansel. Dia jelas tengah menahan rasa sakit di dadanya.
“Mungkin aku bukan yang pertama mengatakan kalau ayahnya juga menjadi korban saat penjarahan dulu?! Atau kalau dia bahkan tidak ada di sana saat itu terjadi?” Kini Taeyeon mulai berkata dengan keras. Dan berbeda seperti sebelumnya, dia membuka matanya dan menatapnya dengan tatapan marah.
Hansel perlahan berdiri dengan berpangku pada pisaunya. “The sins of the father are to be laid upon the children.”
“Pepatahnya tidak seperti itu, 미친놈!” Taeyeon berteriak marah dan berlari mendekat selagi mengayunkan palunya berkali-kali. Tetapi gerakannya sepertinya tidak terkontrol sehingga Hansel dengan cepat menikam dari bawah. Tikamannya sepertinya mampu menusuk dengan tajam, tetapi Taeyeon sepertinya tidak peduli dan menghantamkan palunya ke bahu Hansel sehingga membuatnya terjatuh.
“Memangnya apa pedulimu dengannya?” Hansel mengait kaki Taeyeon dari bawah dan membuatnya terjatuh ke belakang juga. “Dia kriminal juga! Mereka tidak harus semuanya orang Jerman, kau tahu!”
“Katakan itu pada semua orang kalian yang membuat masalah.” Taeyeon menopang badannya dengan kedua tangannya dan mencoba berdiri.
Hansel juga mencoba berdiri hanya dengan kakinya. “Oh ya? Bagaimana dengan Peneliti Raditya yang anak buahmu habisi?”
Taeyeon tiba-tiba berhenti seakan dia tidak menduga pertanyaan itu. “Sudah ku bilang aku tidak menghukum sesuatu yang tidak ku lihat!”
Hansel merupakan yang pertama berhasil berdiri kembali, dia lalu menendang Taeyeon di badannya selagi berkata, “Aku punya proposal,”
Dia tidak menunggu balasan dan kembali menendang Taeyeon. “Kau bisa mengabaikan semua ini, seperti bagaimana kau mengabaikan kematian peneliti itu dulu, dan kita akan anggap kejadian ini tidak terjadi. Kau mungkin bisa pensiun. Kau mungkin dikembalikan ke situs sebagai penggantiku, karena aku tidak yakin mereka akan membiarkanku hidup setelah ini.”
Taeyeon sepertinya mencoba berdiri kembali, tetapi kali ini kedua tangannya tidak kuat menopangnya dan dia terjatuh. Hansel menatapnya selagi berjalan mendekat. Dia diam di depan Taeyeon yang menatapnya dengan marah selagi berusaha keras berdiri kembali.
“Berbeda denganmu, aku tidak berlebihan.” Hansel berkata. Meski begitu dia tetap menendang Taeyeon sekali lagi sebelum berjalan menjauh. Taeyeon sendiri mencoba berdiri kembali, kali ini bertopang pada palunya.
Hansel menoleh mendengar suara di belakangnya. Taeyeon entah kenapa mulai menggali tanah di depannya dengan cakar palunya. Dia hanya diam menatap upaya Taeyeon dari kejauhan. “Kau sudah gila, kau tahu? Berdedikasi sejauh mengikuti prinsip hidup sebelah mata milikmu.” Dia berkata.
Taeyeon hanya tertawa kecil, meski kemudian dia batuk berdarah. “Dedikasi, ya… Ku rasa aku bisa menyebutnya begitu.”
“Kau bisa membuat genangan dari ini!” Taeyeon mulai berbicara tak jelas. Hansel tidaklah ingin berlama-lama memandangi upaya absurb Taeyeon menggali tanah kosong. Dia kini mengalihkan pandangannya dan kembali berjalan. Tepatnya dia berjalan lurus ke arah Lucy yang masih tanpa sadar melindungi perempuan itu.
Lucy melirik ke arah perempuan tersebut, hanya menatap betapa khawatirnya dia. Dia lalu menatap ke arah Hansel yang mendekat dan berkata, “Nama orang yang kau sebut tadi, dia orang berharga bagimu, bukan?”
Hansel kini menatapnya tajam. Pisau di tangannya yang masih meneteskan darah diayunkannya beberapa kali, tetapi tidak dikantonginya. “Ku sarankan kembali agar kau tidak melibatkan dirimu dengan urusanku. Onyx tidak ada di sini. Kau sendirian.”
Lucy kini berani mengeluarkan revolvernya. Ditodongkannya ke arah Hansel, memicu rasa Déjà vu kuat karena ini kedua kalinya dia menghadapi orang yang siap mati. Tetapi dia merasa kini tujuannya menodongkan senjata bukan hanya untuk melindungi dirinya, tetapi juga untuk orang di belakangnya. “Menurutmu, apakah ini yang dia – seseorang yang kau pedulikan itu – inginkan?”
Tanpa diduga, Hansel tertawa pelan. Tetapi mereka berdua tahu, suara yang terdengar hanyalah ratapan berlapis tawa lemah.
“Tidak. Tetapi aku tidak akan pernah tidur nyenyak selama aku mengetahui tidak adanya yang bisa ku lakukan untuk membalas kematiannya.” Dia berkata.
Tiba-tiba ada yang meraba lengannya. Lucy menoleh dan menyadari perempuan di belakangnya tengah mencoba menurunkan tangannya yang tengah menodongkan senjata. “Sudah cukup, ini urusanku dengannya.” Dia berkata pelan. Satu hal yang Lucy sadari adalah dia terlihat serius sekarang.
“Sekarang menjauh dari sini. Kau sudah melakukan yang bisa kau lakukan.” Dia berkata, dengan perlahan mendorong Lucy menjauh. Lucy sendiri menatap perempuan buta itu dengan khawatir dan bersiap menolak permintaannya, tetapi kemudian perempuan itu menoleh tepat ke arah wajah Lucy. Meski matanya tidak menatap ke mata Lucy, tetapi dia tersenyum untuk meyakinkan keseriusan permintaannya. Lucy akhirnya menyerah dan berlari menjauh, kembali ke arah ketua dan Heru.
“Ini semua tidak akan terjadi jika kau tidak mengajaknya kemari.” Lucy langsung mengecam ketua begitu cukup dekat.
“Kau dan dia sama saja, Heru…” Ketua hanya membalas lemah.
Lucy menatap ketua yang mengamati situasi dengan tegang. Pria sepertinya pasti punya alasan lebih untuk membawanya selain sebagai ‘bayaran’.
“Jadi kenapa kau tidak mencoba menghentikannya, setidaknya?”
Ketua melirik ke arah Lucy untuk beberapa saat sebelum memberikan jawaban. “Dia bilang rasanya seperti rasa gatal. Seiring waktu itu berubah menjadi rasa terbakar.” Ketua berkata, tangannya tanpa sadar meraba lengannya sendiri. “Tidak peduli berapa lama pertemuannya dengan Pak Herria ataupun Pak Hidayat, dia tidak bisa berhenti terbangun di tengah malam karenanya.”
Baik Lucy maupun Heru diam mendengarkan penjelasan ketua. “Aku memberinya ember, sekarang tergantung dirinya apakah dia akan memadamkan rasa terbakar itu atau tidak.”
Secercah cahaya dari langit berhasil menembus kumpulan awan di atas mereka, menerangi pekarangan rumah itu dengan cahaya keemasan siang. Mereka bertiga diam selagi mengamati Hansel yang kini sudah sampai di depan perempuan tersebut. Mereka saling menatap, meski hanya satu yang menatap tajam penuh ketidaksabaran.
“Kuputuskan untuk mengakhirimu dengan cepat.” Hansel berkata, mengarahkan pisaunya ke arah perempuan itu. “Apa kau punya sesuatu untuk disampaikan?”
Perempuan tersebut diam, sepertinya merancang kalimat terakhirnya dengan cermat. Dia akhirnya berkata, “Baik aku maupun Pak Taeyeon berharap hari ini tidak akan pernah sampai, tetapi tetap saja kami sudah bersiap jika kemungkinan terburuk terjadi.”
Hansel terkekeh dan berkata, “Manis sekali, Frau Sarah. Jadi, kau ada rencana untuk lolos dari kemungkinan ini?”
Di luar dugaan, perempuan tersebut tersenyum sebagai jawaban dan berteriak, “Sekarang!”
Tiba-tiba, sebuah palu muncul dan melesat ke arah kepala Hansel. Dalam sedetik kejadian itu, Hansel seakan memprediksi hal tersebut dan menjauh dari arah palu itu. Tidak hanya itu, dia berhasil menangkap gagang palu tersebut di saat bersamaan.
Semua orang di sekitarnya terkejut akan hal tersebut, tetapi hanya Hansel yang terkekeh dan berkata dengan tenang, “Nyaris saja, Herr Taeyeon.”
Hansel berbalik perlahan dan melihat ke arah Taeyeon yang sudah berhasil berdiri. Dari posisi tangannya, dia seakan baru saja tengah melempar sesuatu ke bawah. Dia menatap balik ke arah Hansel dengan ekspresi terbelalak.
Cahaya matahari siang tadi menghilang kembali karena tertutup awan. Gerimis mulai turun perlahan.
“Kalian hampir saja memberikanku trauma kepala dengan ini…” Dia mengayunkan palu Taeyeon dan mengamati bagian kepala palunya, meraba pelan ukiran detail di pinggirnya. “…jika saja aku belum pernah menemui trik ini sebelumnya.”
“Tidak… mungkin…” Taeyeon terlihat tidak percaya akan apa yang dia lihat dan dengar. Dia kembali berlutut dengan keras seakan kakinya menyerah, menghantam tanah yang mulai basah karena hujan.
“Taumaturgi ruang. Aku sudah menebak itu yang kau lakukan di tanah tadi. Aku mantan STG.” Hansel berkata selagi mendekati Taeyeon. “Aku tidak tahu kalau dia bersedia mengajarimu mengenai itu, terlebih mengukir palu ini dengan mantra tersebut. Aku bahkan tidak tahu kalau dia bisa dengan kondisinya itu. Tapi, ku rasa puluhan tahun bersama berhasil membuat kalian sedekat itu.”
“Semua masuk akal sekarang,” Kini dia berdiri tepat di depan Taeyeon yang berlutut. “Kau peduli dengannya, bukan?”
Tidak ada balasan dari Taeyeon. Hansel menunggu beberapa saat memandanginya tidak lagi mencoba bangun. Akhirnya Hansel berjalan menjauh.
“Tolong,”
Hansel menoleh ke belakang. Awalnya dia menduga Taeyeon mencoba menopang dirinya berdiri dengan kedua tangannya, tetapi dia ternyata mencoba kowtow di depannya.
“Bunuh saja aku sebagai gantinya.” Dia akhirnya mengangkat kepalanya, menunjukkan dia tengah menangis. “Tolong biarkan aku menggantikannya!” Teriaknya.
Hansel melirik sekilas ke arah perempuan tadi yang juga duduk pasrah di pekarangan. Dia kembali menoleh ke Taeyeon yang masih berlutut. Akhirnya dia menghela nafas dan berkata, “Ku dengar kau psikopat, Herr Taeyeon. Kau membunuh personel Jerman, tidak peduli akan kematian peneliti muda yang anak buahmu lakukan, dan meneror situs selama beberapa tahun. Kenapa?”
“…Pengakuan.” Taeyeon membalas pelan. “Aku satu-satunya personel dari Korea, ditugaskan bersama puluhan personel buangan dari Jerman yang tengah berada pada puncak rasisme mereka. Aku dengan perlahan melindungi personel lain dari mereka, dan segalanya perlahan terasa… memuaskan. Mereka memujaku dan semacamnya.”
“Sayangnya personel di bawah perlindunganmu mulai berbalik menjadi yang menindas.” Hansel membalas. “Dan begitulah bagaimana peneliti itu mati.”
Kini Taeyeon berhenti berlutut dan mencoba duduk perlahan. “Dia berarti sesuatu bagimu juga?”
Hansel menggeleng, “Tidak. Tetapi itu saat di mana Gretel masih hidup, jadi aku masih punya moral.”
“Begitu ya…” Taeyeon membalas pelan. “Aku tidak pernah memahami itu dulu, bagaimana tepatnya rasa kehilangan seseorang. Dulu semua hanya berkisar pada apakah aku menegakkan keadilan atau tidak.”
Hujan mulai deras, tetapi itu tidak bisa menyembunyikan suara serak Taeyeon yang kembali terisak. “Aku… aku akhirnya mengerti akan rasa itu. Bagaimana rasanya punya seseorang yang kupedulikan untuk lindungi. Aku… aku bersumpah aku akan melindunginya sampai akhir. Aku bersumpah itu tugas- tidak, misiku, tidak peduli jikalau itu mungkin misi terakhirku.”
Dia kembali berlutut di hadapan Hansel. “Tolong, bunuh saja aku! Izinkan aku memenuhinya!” Teriaknya.
Hansel hanya menatapnya. Dia lalu mengangkat tinggi palu Taeyeon. Setelahnya dia melemparnya sekeras mungkin ke bawah. Palu itu menghantam keras ke permukaan di bawahnya.
Meleset beberapa senti dari kepala Taeyeon, membuatnya tertegun.
Hansel mendekatkan diri ke Taeyeon dan berkata, “Jika kau bersedia bertindak sejauh ini untuknya, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi jika kau benar-benar merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kau sayangi.”
Taeyeon hanya menatapnya selagi Hansel berjalan menjauh. Tidak ke arah perempuan tadi, dia kini berjalan ke arah ketua, Heru, dan Lucy yang dari tadi terdiam menyaksikan segalanya. “Cuaca semakin tidak bersahabat. Akan kuantar kalian ke tujuan kalian segera.”
Ketua merupakan yang pertama berhasil bicara setelah beberapa saat tertegun. “Kau… kau tidak jadi-“
“Kan sudah ku bilang,” Hansel berjalan melewati mereka, menuju ke arah mobil tanpa menoleh. “Aku cuma mempertimbangkannya saja.”
Ketua akhirnya sadar dirinya berdiri di tengah hujan dan berteriak ke arah Heru dan Lucy, “Kalian menunggu apa? Kita kembali ke mobil!”
Semua orang mulai berlari ke arah kendaraan mereka, tetapi Lucy berhenti perlahan dan menatap ke belakang. Taeyeon sepertinya berlari tadi dan kini memeluk erat perempuan tersebut. Tiba-tiba, Heru meraba bahunya, mengisyaratkan sudah waktunya pergi.
“Jika aku harus jujur, aku tidak menduga ini semua.” Heru berkata, tetapi dengan suara seakan dia lega akan hal tersebut.
Lucy memahami perasaannya dan tertawa pelan. “Sama.”
Keadaan di mobil cukup tenang. Ketua mengeluarkan peta yang didapatnya tadi dan mulai memandu jalan. Hansel tidaklah bicara mengenai apa pun. Tidak ada satu pun yang membicarakan semua kejadian tadi di mobil sepanjang perjalanan.
Hujan tidaklah menunjukkan tanda mereda juga, tetapi kini Lucy tahu di balik kumpulan awan gelap tersebut selalu terdapat cahaya terang keemasan, dengan sabar menunggu celah untuk menyinari jalan mereka kedepannya.
Kronik Situs-79
Bab 6: Remah Roti
« Guyuran Hujan Deras | Rumah Kecil Untuk Berteduh | Di Kandang Nenek Sihir »




