Franz Yan terbangun dengan nafas terburu, disambut kegelapan di ruang "penjara" yang disediakan untuknya di dek SCPS Ambassador. Butuh beberapa detik sebelum ia menyadari di mana dia berada.
Butuh beberapa detik lagi sebelum ia menyadari rasa nyeri di tangan kanannya. Franz mengedipkan mata beberapa kali sebelum penglihatannya terfokus pada belati merah yang ia genggam erat, cukup erat untuk menyebabkan rasa sakit pada telapak tangannya.
"…hah?"
Franz mengingat kembali mimpi yang baru dialaminya. Burung raksasa, dewi…dan sebuah pedang merah darah. Belati yang ia genggam memiliki warna yang sama dengan pedang di mimpi itu, dan kendati warnanya menyiratkan kebengisan, cahaya yang dipancarkan belati itu hangat dan menenangkan di mata Franz.
"Mimpi…dan kenyataan…"
Ketukan keras di pintu ruangan itu memutus benang pikiran Franz, diikuti ledakan yang mengguncang kapal.
"Kapal ini didesain untuk dapat berfungsi sebagai kantor koordinasi O5-3, dalam kondisi mendesak. Ruang komando ini lebih aman dari bunker manapun."
Franz terlalu sibuk mengamati setiap detail ruang komando SCPS Ambassador untuk mendengar ocehan kru kapal yang memandunya. Konon, kapal itu sedang diserang oleh objek tak dikenal, namun ruang komando itu adem ayem tanpa ada getaran apapun. Kemungkinan besar ada sistem kompleks pegas-pegas dan gimbal raksasa yang dapat menjaga kestabilan seluruh ruang.
Dinding dan lantai ruang komando itu terbuat dari material putih halus dingin, bak interior sebuah telur. Tidak ada tanda-tanda sambungan apapun antara tembok dan lantai kecuali di sekeliling pintu besar seukuran kontainer, seolah ruangan itu dipahat dari satu bongkahan utuh.
Keramik?
…bukan. Yayasan tidak mungkin pakai material senormal itu. Bahan ini pasti sesuatu yang gila, seperti tulang makhluk raksasa, atau darah entitas lintas-dimensi.
"Hemostill. Material non-kuantum yang terbentuk ketika waktu ‘dihentikan.’ Tapi aku cuma pernah melihat serpihan kecil hemostill, bukan sebesar ini…"
Franz menoleh ke arah suara yang baru datang, dan darahnya seakan membeku ketika dia melihat masker gas menutupi wajah seorang pria.
"Halo, Gadis yang Melompati Waktu."
Tenang dulu.
"Apa maksudmu?"
Si Masker Gas tertawa kecil.
"Si Overseer itu menanyaiku soal kejadian yang akan terjadi seminggu dari sekarang. Sebagai satu-satunya personel non-kru selain aku di kapal ini, aku asumsikan mereka juga menanyaimu. Ergo, kaulah orang yang mereka cari."
"Asumsimu absurd. Bisa saja mereka masih ada jadwal untuk menginterogasi personel lain, tapi terhalang serangan saat ini."
"Helikopter yang menjemput kau dan aku datang pagi buta. Kalau ada suspek lain, pasti mereka datangkan gelap tadi juga, tapi kenyataannya hanya ada kita berdua. Mereka pasti sudah menentukan bahwa yang mereka cari antara kau atau aku, dan jawabannya bukan aku, jadi pastinya kau."
Diingat lagi, O5-9 sudah mengetahui bahwa hulu nuklir akan dipicu menggunakan identitas Franz. Artinya, dia tahu siapa saja personel yang akan terlibat dalam peledakan situs itu.
"Yah, apapun faktanya, aku tidak berminat untuk mencari perkara saat ini. Ada masalah lain yang lebih penting—antara lain, musuh yang menghujani kapal ini."
Sebuah meja holografis besar terpasang di tengah ruangan, menunjukkan citra tiga dimensi SCPS Ambassador dikelilingi empat objek yang "mengapung" di udara. Sesekali, salah satu dari empat objek itu meluncurkan objek yang lebih kecil—misil ke arah SCPS Ambassador.
Helikopter tempur?
"Hmm. Itu teknologi Koalisi."
"Koalisi? Koalisi Okultisme Global?"
"Yup. Teknologi anti-grav. Tapi bukan berarti yang mengendalikan objek itu dari Koalisi. Bisa saja Insurgency, atau organisasi lain."
"Apakah mungkin ada yang bisa mencuri teknologi secanggih itu dari Koalisi?"
"Sebelum hari ini aku kira produksi hemostill itu teknologi eksklusif Koalisi. Tapi ternyata Yayasan punya teknologi pengolahan hemostill yang jauh lebih maju, dan ada kemungkinan justru Koalisi yang mencuri data penelitian Yayasan. Kita harus membuang prekonsepsi tentang eksklusivitas teknologi. Bahkan tembok hemostill punya mata dan telinga.
"…Lagipula, kapal anti-grav Koalisi senjata utamanya meriam railgun, bukan misil. Kalau pesawat itu benar-benar dari Koalisi, kapal ini pasti sudah tenggelam."
…Harusnya kau mulai dari situ. Franz menghela nafas frustasi, memijit pelipis kepalanya.
"Koreksi algoritma pemandu telah diunggah. Sel peluncur vertikal 9 hingga 24 siap diluncurkan!"
"Luncurkan sel 9 hingga 12; satu untuk masing-masing target. 13 hingga 24 stand-by untuk pembaruan koreksi dan peluncuran serempak." Kolonel Bellatrix memimpin laju pertempuran dari tempat duduknya, menghadap meja holografis di tengah ruangan. "Laporan tentang koreksi algoritma CIWS?"
"Masih dalam proses!"
"Tiga puluh detik! Go go go!"
…aku tidak ada kerjaan.
Franz menumpukan lengan ke meja kecil di pojok ruangan, menyangga wajahnya. Sebuah kapal perang di medan tempur tidak punya tempat untuk teknisi sipil sepertinya.
"Misil ditembakkan, tidak ada respon terdeteksi."
"Koreksi ulang radar. Siapkan senjata utama."
"Kopi?"
Suara Si Masker Gas menyela hiruk pikuk ruang komando. Dia meletakkan sebuah mug kaleng di meja di depan Franz.
"Kau dapat kopi dari mana?"
"Di pojokan ada mesin kopi."
"Kau hanya bikin satu cangkir?"
"Aku lupa kalau aku tidak bisa minum kopi." Dia mengetuk masker gasnya. "Jadi kau minum saja."
Mana mungkin kau lupa sesuatu yang menempel di wajahmu setiap saat?
Franz memandang mug kaleng berisi cairan pekat itu.
Aku jadi ingat kasus yang viral beberapa waktu lalu…
Setelah menghabiskan beberapa menit bimbang, Franz akhirnya mendorong mug itu ke tengah meja.
"Rugi sendiri." Si Masker Gas menyandarkan diri ke tembok di sebelah Franz. "Kalau ini di Koalisi, para kecoa terbang itu tak akan bertahan lima menit."
"Kau sepertinya tahu banyak sekali tentang Koalisi." Franz mengamati wajah yang tertutup masker gas itu. "Kenapa kau tak gabung saja sana ke Koalisi?"
"Kau kira aku di Yayasan ini atas keinginanku sendiri?" Si Masker Gas mengusap rambut gusar. "Aku…ah sudahlah. Tak penting. Yang penting sekarang adalah para kecoa itu. Hemostill tak bisa ditembus senjata konvensional, tapi aku tidak ingin menghabiskan berminggu-minggu di dasar laut menunggu evakuasi."
Si Masker Gas terdiam sejenak, tatapannya tajam ke arah Franz, seolah sedang menghitung jumlah rambut di kepalanya.
"Kenapa lihat begitu?"
"Selain time leap, kau punya anomali apa lagi?"
"Mana kutahu? Dari lahir aku hanya manusia biasa. Di Yayasan juga cuma teknisi rendahan."
"Kau tak bisa bohong padaku. Orang-orang sepertiku punya indra keenam untuk hal seperti itu."
"…"
Franz terdiam. Di "masa depan" yang ia tinggalkan, ia telah bekerja sama maupun bertarung melawan Si Masker Gas. Franz tahu Masker Gas memiliki pendirian teguh tentang hal yang dia yakini benar dan mutlak.
"…atau mungkin kau yang memanggil para cecurut terbang itu?" Si Masker Gas meluruskan postur, matanya tajam siaga ke arah Franz.
"Tidak!" Franz tergesa mengoreksi. "Aku tidak tahu siapa mereka, atau apa yang mereka inginkan. Aku tidak paham apa yang akan terjadi—telah terjadi satu minggu yang akan datang. Tapi yang aku tahu…"
Tangan kanan Franz menggenggam erat bahu kirinya. Sepuluh ribu perasaan melesat dalam pikirannya.
"…yang aku tahu, ada sesuatu dalam reaktor situs itu yang melampaui batas pemahaman manusia."
Franz menunjukkan belati merah darah yang diberikan dewi dalam mimpinya ke Masker Gas.
Si Masker Gas bersiul. "Aku tak tahu entitas macam apa yang ada di reaktor situs itu, tapi aku tidak ragu bahwa ini objek anomali kelas kakap. Kau bisa membangun atau meruntuhkan dinasti ratusan tahun dengan benda seperti ini."
"Kalau kau mau, ambil saja. Aku tak butuh benda anomali seperti ini!"
"Mana mungkin bisa semudah itu." Si Masker Gas terkekeh, tangannya kembali tersilang, punggungnya kembali tersandar ke tembok Hemostill halus. "Objek seperti ini jelas keramat. Kau buang ke Saturnus pun bakal kembali lagi. Apa kau tak pernah dengar istilah Mandate of Heaven? Mandat kahyangan tak bisa digugat, ditolak, atau dihindar."
"Lalu apa yang harus aku lakukan!" Franz menghantam dinding dengan tinjunya, tetes darah menyeruak dari telapak tangan yang menggenggam erat kuku jari Franz.
"Kalau kau tanya aku, kau harusnya bangga." Si Masker Gas meregangkan otot-otot di bahu dan lengannya. "Banyak raja dan kaisar di masa lalu yang mengaku punya hak memerintah dari kahyangan. Hanya segelintir yang benar-benar bertemu dewa seperti dirimu."
"..aku tak merasa hal seperti itu patut dibanggakan." Franz memandang Si Masker Gas skeptis. "Zaman para raja dan kaisar sudah lama berlalu."
"Pikiranmu terlalu sempit. Hanya karena gelar dan singgasana berubah nama bukan berarti mereka tak eksis. Di masa ke masa selalu ada pemimpin yang menggoncang dunia." Si Masker Gas mengalihkan pandangan ke meja hologram taktis di tengah ruangan. Mata Franz mengikuti.
Misil-misil meluncur dari tabung luncur vertikal, ditepis remeh oleh medan anti-gravitasi. Amunisi SCPS Ambassador sudah mencapai penghabisan.
"Duduk," perintah Si Masker Gas. Franz menurut. "Pejamkan mata dan genggam erat artefak itu. Ingat-ingat kembali entitas yang memberikannya padamu."
Franz memfokuskan pikiran pada burung api raksasa dari dalam mimpinya. Ia dapat merasakan sesuatu menghubungkan belati merah di tangannya dengan inti reaktor kapal.
Oh, jadi kapal ini juga menggunakan Exclusion Seed?
Franz merasakan suhu udara di sekelilingnya naik. Sontak, ia berdiri, mata terbelalak, sebelum berlari ke arah Kolonel Bellatrix.
Di balik masker gas, seorang pria tersenyum.
"Kau yakin mau melakukan ini?" Suara Bellatrix terngiang dari alat komunikasi di telinga Franz. "CIWS hanya bisa melindungimu selama dua menit. Setelah itu misil mereka akan bisa menghantam badanmu tanpa ampun."
"Aku harus mencoba," jawab Franz, "karena tidak ada cara lain."
"Semoga kau tidak menyesal. Mengubah mode CIWS ke pencegatan penuh dalam tiga…dua…satu!"
Laras-laras CIWS di sekeliling kapal berputar kencang, suara-suara tembakan mereka menyatu menjadi sebuah simfoni, memuntahkan ribuan peluru ke arah misil yang diluncurkan wahana para musuh. Franz seketika membuka pintu dan merangsek keluar dari interior SCPS Ambassador.
"Bangkitlah, Phoenix Laevatein!" Seru Franz sambil mengayunkan belati merahnya.
Segaris plasma pijar berbentuk bulan sabit melesat dari ujung belati Franz ke arah pesawat tempur anti-gravitasi yang meneror SCPS Ambassador. Permukaan logam dek SCPS Ambassador di sekeliling Franz seketika berpendar merah legam, cat militer melepuh mengelupas. Pegangan tangan di tepi dek dan pelbagai pernik logam melebur seketika menjadi tetesan lahar, sementara barang-barang non-logam tersulut terbakar menjadi asap dan abu.
Nasib pesawat target Franz jauh lebih mengenaskan. Medan anti-gravitasi yang dihasilkan pesawat itu memelintir aliran plasma super-panas, menghujam berkali-kali ke dalam badan pesawat. Hujan logam panas mengiringi rongsokan pesawat itu ke dalam lautan, menghasilkan awan panas yang menyapu SCPS Ambassador.




