Lift merupakan tempat yang buruk bagi seseorang dengan pengalaman buruk berada di tempat sempit.
Seorang personel Yayasan berseragam peneliti tengah berdiri diam menunggu lift antarlantai situs selesai menurunkannya ke lantai tujuan dengan tidak sabaran. Getaran pelan kotak besi itu bukanlah hal yang dipermasalahkannya. Dia hanya tidak menyukai pemandangan pintu besi lift di depannya. Mengingatkannya akan pengalaman tak mengenakannya dulu. Ketiadaan orang di lift itu semakin menambahkan ketidaknyamanannya.
Dia tahu lift yang dinaikinya hanya memakan waktu semenit, tetapi sesuatu mengenai perasaan paranoidnya membuat kakinya bergerak tak sabaran. Alasan sama yang membuatnya masih mengenakan masker gas usangnya. Dia tahu seharusnya sudah sejak lama dia tinggalkan masker gas berdarah itu, tetapi dia sudah terlanjur merasa nyaman bernafas di balik topeng teater standar industrinya.
Dia akhirnya merasakan lift berhenti bergerak. Dalam beberapa saat, pintu lift akan terbuka. Salah satu tangannya perlahan meraba gagang kapak yang selalu dia bawa sejak bekerja di situs ini, dua rekan sejatinya yang selalu menyelamatkan nyawanya. Kakinya akhirnya diam, mulai mengambil ancang-ancang perlahan dan bersiap akan kemungkinan pengkhianatan mendadak.
Lift terbuka, dan hanya seorang personel yang berdiri di depan lift. Seorang perempuan yang sepertinya mengenakan seragam personel keamanan – terlihat dari celana panjang putihnya – di balik jaket hoodie abu-abunya. Sepertinya lebih tua darinya, menebak dari tingginya dan keberadaannya di lantai ini. Dia menatap bosan ke arahnya selagi menurunkan headphone hijau tua di kepalanya dan menggantungnya di lehernya, bak keberadaannya mengganggu kenikmatannya.
Dia akhirnya berkata, “Peneliti Zakaria, bukan?”
Peneliti, ya… Sang peneliti berpikir dalam hati. Dia mengangguk, menerima perubahan baru statusnya bersamaan dengan penugasannya di lantai ini.
1 Desember 2018
“Waktumu sisa empat bulan lagi, dokter.”
“Aku tahu deadline nyawaku, Tuan Herria.” Zakaria membalas dengan jengkel. Dia tahu apa tugasnya sejak ditempatkan di situs ini, dan dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuknya.
“Lalu kenapa kau masih belum menemukan agen ganda yang kita cari?” Balas Herria.
Itu adalah pertanyaan yang membuat Zakaria heran. Mengetahui cara mengungkap siapa agen ganda yang dicarinya, dia mengira yang dia perlu lakukan adalah menunggu kesempatan yang pas. Dia sama sekali tidak menduga jawaban yang dia terima saat itu.
Dua orang personel berseragam peneliti tengah berjalan di koridor saat itu. Orang terdepan merupakan peneliti yang lebih senior, mengenakan kacamata. Sepanjang perjalanan dia terus bicara kepada seorang peneliti lain di belakangnya yang memakai masker medis tanpa memedulikan apakah dia mendengarkan atau tidak.
Dan itu merupakan hal baik bagi penelit bermasker medis itu. Biasanya, dia hanya setengah mendengarkan penjelasan apa pun yang diocehkan orang di depannya itu dengan ekspresi bosan, tetapi saat ini dia merasa sudah waktunya untuk mengakhiri siklus harian menjengkelkan ini.
“…Jadi bagaimana menurutmu?” Akhirnya dia bertanya setelah cukup lama bicara, tetapi belum menoleh kearahnya.
Zakaria tidaklah membuang waktu akan kesempatan ini. Dengar salah satu kapaknya digenggamnya dengan erat, dia bertanya, “Pengetahuan dilarang?”
Hening selama beberapa saat. Zakaria menatap atasannya yang selama ini dia curigai tengah terdiam, tak lagi berjalan. Dia siap akan balasannya.
Lawan bicaranya akhirnya menoleh, dengan ekspresi bingung dia berkata, “Hah?”
Dia kira dia siap akan balasannya.
“Hah?”
“Lu dengerin gak sih, saat ku jelaskan tadi?! Kan aku tadi bilang…” Dia berkata dengan kesal selagi terus bicara. Kali ini, Zakaria sepenuhnya tak mendengarkannya. Dia tidak menerima responnya tadi, jadi dia segera mencoba lagi dengan berkata, “Maaf pak, tadi saya kepikiran, apakah itu merupakan pengetahuan dilarang?”
“Maksudnya? Kau dengerin gak sih yang ku bilang tadi…” Dia kembali bicara panjang lebar dengan kesal. Zakaria tak memedulikan hal itu sedikitpun, dia segera memilih untuk memikirkan siapa target kecurigaannya selanjutnya.
Suara pintu ganda ruang bangsal medis yang terbuka membuat tiga orang stafnya menoleh. Zakaria segera melangkah masuk ke dalam ruangan. Dengan cepat dia langsung saja berjalan ke arah meja kepala bangsal medis lantai tersebut. Perempuan di sisi seberang meja meliriknya sekilas sebelum kembali fokus ke ponselnya.
Setelah berada di depannya, Zakaria segera bertanya – cukup nyaring agar dia yakin semua staf bisa mendengarnya, “Pengetahuan dilarang?”
Kini dia punya dua ekspektasi, pertama adalah paling tidak salah satu dari orang-orang yang tengah menoleh saat ini membalasnya dengan kalimat balasan. Dia masih menggenggam kapaknya yang tersembunyi di balik jas labnya.
Sayangnya yang terjadi adalah kemungkinan kedua, yang di mana orang di depannya hanya menatap bingung seraya berkata, “Maaf? Maksudnya?”
“Ku rasa aku mungkin terkena memetik. Anda punya amnestik untuk itu?” Zakaria sudah menyiapkan balasan untuk itu.
“Tunggu, serius?” Perempuan di depannya segera berdiri dari kursi sedangkan staf lain yang mendengarnya bergegas menyiapkan perlengkapan. “Kapan dan dari apa?” Dia bertanya serius.
“Ku rasa Kelas A cukup kok, Bu Lira. Untuk sejam terakhir saja.” Zakaria segera mencoba menenangkan situasi. Dia tahu amnestik untuk Kelas A bisa didapatkan dari sini juga sejak insiden terakhir.
Kepala bangsal medis menatapnya selama beberapa saat dengan heran dan mungkin sedikit curiga, tetapi pada akhirnya dia mengalihkan perhatiannya ke belakang dan berkata, “Ulya! Ambilin Kelas A!”
Beberapa saat kemudian, seorang staf perempuan berjilbab putih mendekati meja dan meletakkan pil Kelas A di depannya. Lira sendiri meraih sekumpulan dokumen sebelum meletakan sebuah kertas daftar pengambilan. Zakaria memahami apa yang harus dilakukan dan segera meraih pulpen di meja yang sudah disediakan.
Setelah menandatanganinya, dia hendak mengambil amnestiknya, tetapi Lira memberikan satu dokumen lagi. Yang ini merupakan surat pertanggungjawaban. “Jaga-jaga.” Lira berkata singkat sebelum kembali ke kursinya.
“Ah, tentu.” Zakaria membalas selagi menandatanganinya. Dia lalu meraih amnestik itu dan berkata, “Aku ke kantin dulu, perlu air untuk ini.”
Untungnya tidak ada yang terlalu memedulikannya pergi dari bangsal medis. Tujuannya selanjutnya sudah jelas. Dia berniat mengecek sebanyak mungkin orang tanpa menimbulkan kecurigaan.
“Ku katakan saja, Pak Herria. Tidak ada agen Insurgent lagi di lantai Euclid.” Zakaria mencoba menjelaskan.
“Kau benar-benar yakin? Nyawamu bergantung pada itu, kau tahu.” Herria bertanya, tidaklah menunjukkan rasa peduli akan masalah itu.
“Semua angkatan 2012 sudah kutanyai. Louis, Lira, stafnya, sebagian besar agen, bahkan faksi Livington! Oh, anda tak akan tahu betapa susahnya menemui pasangan itu hanya untuk mereka kebingungan saat ditanya.” Zakaria menjawab dengan peningkatan nada frustrasi.
Herria, meski sekilas terlihat tidak memedulikannya, diam selama beberapa saat selagi menatapnya. Akhirnya dia bersandar ke kursinya dan menurunkan topinya.
“Kau mau pindah lantai?” Dia bertanya.
Zakaria menatapnya, awalnya mengangguk perlahan sebelum secara verbal mengiyakannya.
“Kau yakin? Kau tidak bisa kembali ke lantai ini setelahnya.” Herria memastikan kembali.
Zakaria diam memikirkan hal tersebut. Alasannya kemari adalah untuk itu. Dia sudah kehabisan waktu, sudah waktunya mengambil risiko. Setelah menimang segala konsekuensi kedepannya, pada akhirnya, ada sesuatu yang ingin dikonfirmasinya sebelum membuat keputusan,
“Asal mereka punya kantin juga di sana.”
Herria tersenyum mendengar itu. Entah apakah itu pertanda hal baik atau tidak baginya. Herria kemudian berkata, “Untungnya kau ditempatkan sebagai asisten Louis. Penelitianmu bersamanya selama setengah tahun sudah lebih dari cukup untuk itu.”
Untuk pertama kalinya, Herria berdiri danmengulurkan tangannya yang terlapis sarung tangan hitam. “Aku bisa merekomendasikanmu untuk jadi peneliti biasa dengan itu. Selamat untuk kenaikan jabatanmu.”
“Uh, tentu.” Zakaria dengan setengah heran setengah senang mendengar itu dengan perlahan menjabat tangannya.
Setelahnya, Herria beranjak meninggalkan mejanya dan berkata, “Akan kusampaikan itu kepada Louis. Kau bisa meninggalkan ruangan sekarang. Hidayat akan memakai ruangan ini nanti.”
Zakaria mengikuti Herria keluar ruangan. Dia segera berjalan menuju area mess selagi Herria melepas tulisan “keamanan” di plakat ruangan “Kepala ___ untuk lantai Euclid” terlebih dahulu dan meletakannya di wadah di samping pintu besi itu sebelum pergi. Cukup menggelikan mengetahui mereka semua harus bergantian jika ingin menggunakannya.
Zakaria sendiri merasa sudah waktunya dia berkemas.
Zakaria melangkah ke luar dari lift dan mengamati sekeliling. Ruang tunggu lantai ini tidak jauh berbeda dari lantai Euclid. Sofa dengan beberapa per mencuat, dispenser dengan kopi sachet, dan televisi yang saat ini mati. Satu hal yang dia sadari berbeda adalah betapa dinginnya lantai ini. Menurutnya dia harus memakai jas berlapis mulai sekarang.
Dia lalu menatap ke arah perempuan berseragam personel keamanan di depannya. “Selamat datang di lantai Keter.” dia berkata.
Sesuatu mengganggu pikirannya tadi. “Ku kira nama asliku sudah diredaksi sampai level akses empat?” Dia bertanya.
Perempuan tersebut hanya mengangkat bahu dan berkata, “Sebagian besar orang di sini punya akses level empat. Bahkan Kelas E sekalipun, meski pengetahuan mereka sudah kadaluarsa. Kita praktisnya tinggal di sini, kau tahu.”
Zakaria mengangguk mengerti. Mengetahui nama lantai ini dan syarat memasukinya, dia tidaklah meremehkan satu pun personel yang berada di sini. Dia memutuskan untuk mengulurkan tangannya terlebih dahulu sebagai perkenalan. “Dan kau adalah?”
“Natalia, penjaga senior.” Dia tidak memedulikan jabatan tangannya. Dia memutuskan untuk mengenakan headphonenya kembali. “Herria memintaku menunjukkan meja kerja dan messmu di sini.”
Tanpa membuang waktu dia segera berjalan ke arah kanannya, menuju area kantor. Zakaria menurunkan tangannya dan mengangkat bahu sebelum berjalan ke arah kiri mengiringinya.
“Mejamu di sana, cari saja namamu di deretan meja itu.” Katanya selagi menunjuk area kantor umum.
Zakaria melihat area kantor umum sama saja seperti di atas, meski hanya diisi personel di deretan depan. Zakaria yakin mereka semua peneliti biasa, berdasarkan pengalamannya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah area kantor pribadi yang sepertinya lebih panjang karena ada koridor di tengah-tengah ruang pribadi yang mengarah lebih dalam. Dia sudah jadi peneliti biasa, jadi dia tidaklah lagi wajib dipasangkan dengan seorang peneliti senior. Tetap saja, ini arah tercepat menuju ruang mess.
“Sialan…”
Zakaria mendengar penjaga di depannya mengumpat. Di depan mereka adalah seorang personel lain yang lumayan menarik perhatian berjalan ke arah mereka. Seragamnya putih personel keamanan, tetapi hampir tertutup ponco hitam meski tak ada hujan. Kepalanya selain tertutup tudung ponco, juga terlindungi di balik helm taktis agen lapangan lengkap dengan masker pelindung wajahnya yang dihiasi motif X putih di kedua slot matanya.
“Apa maumu, Vec?” Natalia bertanya dengan nada tak senang.
“Menyambut personel baru!” Dia, di luar dugaan, menyambut dengan senang. Natalia hanya berkata terserah selagi menepi agar personel tersebut bisa mendekati Zakaria. Zakaria bisa melihat sekilas kalau rambutnya berwarna terang; bukan putih, tetapi mungkin krim pucat. Entah berapa usianya di balik masker itu karena suaranya terdengar bak pria paruh baya umumnya.
“Senang bisa bertemu sesama pengguna masker, meski punyamu masker gas.” Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Zakaria awalnya heran, tetapi dia menerimanya, berpikir setidaknya dia bisa menjabat tangan seseorang sekarang.
“Aku juga memakai kode nama juga. Kau bisa memanggilku ‘Vector’.” Dia memperkenalkan dirinya.
“Ah.” Itu menarik perhatian Zakaria. Seketika ada yang ingin dia coba lakukan dengan mereka berdua. “Apa nama aslimu pengetahuan dilarang?”
“Hah, tidak! Cuma itu terdengar lebih keren, bukan!” Dia menjawab dengan lancar tanpa menaruh curiga.
“Tch. Jangan hiraukan dia. Dia tak pernah memberitahukan namanya.” Natalia berkata dengan nada tak senang. Zakara setengah bersyukur kedua orang di depannya bukan agen ganda karena dia tak yakin apakah dia bisa mengalahkan mereka saat ini juga.
Mencoba mengubur pertanyaan tadi, Zakaria lanjut bertanya ke Natalia, “Jadi kau tidak tahu namanya?”
Natalia mengangkat bahu dan berkata, “Aku angkatan 2012. Dia lebih tua dariku di sini. Dia sudah di sini sebelum Brethenitas.”
“Ayolah, jangan di depan personel baru.” Vector mencoba memelas dengan nada bercanda.
“Terserah.” Natalia tak memedulikan sikapnya. “Jadi kau perlu apa? Aku perlu mengantar personel baru ini ke messnya.”
“Mengenai itu, kenapa kau tak mengajaknya memutar lewat area penahanan saja? Tunjukkan padanya di mana kantinnya!” Balasnya.
Natalia hanya terkekeh, lalu berkata, “Aku gak punya rencana ke kantin sekarang, Vec. Temui saja Felin sendiri.”
Vector menunduk, suara tertawa serupa terdengar dari masker pelindungnya selagi dia melakukan sesuatu di balik ponconya. “Atau kau punya alternatif lain?”
Kedua tangannya menggenggam dua bilah pisau taktis dari balik ponconya.
“Vec! Aku gak punya waktu untuk ginian!” Natalia kini terdengar marah. Sepertinya dia sudah mencurigai pembicaraan mengarah ke titik ini sejak awal melihatnya mendekat.
“Tapi menurutku kau punya waktu untuk mengajaknya keliling.” Vector berkata, seketika mulai mengasah kedua pisaunya dengan cepat sehingga menimbulkan percikan. Gerakan tangannya tidak lagi dapat dilihat dengan seksama.
“Tch, baik! Baik!” Natalia bergegas berjalan kembali ke ruang tunggu. Zakaria mengiringi dari belakang selagi mengamatinya berhenti dan memasukkan kembali kedua pisaunya.
“Sampaikan salamku jangan lupa!” Dia melambai dari kejauhan.
Setelah cukup jauh, Zakaria memutuskan sudah waktunya bertanya. “Jadi ada apa dengannya?”
“Dia bosan, itu yang salah dengannya.” Natalia membalas. “Saranku, hindari dia. Jika dia mendekatimu, anggap tak ada lagi yang bisa kau lakukan selain menuruti apa pun yang ingin dia ingin kau lakukan. Dia memang tidak pernah serius, tetapi jangan pernah mencoba mengujinya.”
“Begitu ya. Jadi, dia siapa sebenarnya?” Zakaria lanjut bertanya. Mereka kini sudah berada di ruang tunggu kembali dan dengan segera berjalan menuju pintu pembatas area penahanan.
“Tidak ada yang tahu namanya.” Natalia memegang gagang salah satu pintu besi di depannya. “Berdasarkan cerita, dia sudah di sini sejak awal situs diresmikan. Para penjaga lama dulu memanggilnya Si ‘Kunci Inggris’ karena dia memukuli anomali dengannya. Dan kabarnya itu salah satu anomali pertama situs ini juga. Sepertinya seiring waktu dia menggantinya karena tak suka dengan panggilan itu, jadi gantian kami yang memanggilnya itu untuk mengejeknya.”
“Begitu ya…” Zakaria membalas. Itu membuat kemungkinannya sebagai agen ganda sangatlah minim sehingga wajar saja dia tidak bereaksi.
“Lupakan dia. Sekarang, di atas masih ada pos penjaga juga kan? Jadi siapkan kartu pengenalmu. Mereka benar-benar mengeceknya di sini.” Natalia berkata selagi membuka pintu pembatas.
Zakaria mengangguk dan meraba kantongnya sebelum mengeluarkan kartu pengenalnya. Dia mengamati kartu pengenalnya yang sudah diperbarui mengikuti statusnya sebagai peneliti biasa. Dia juga menyimpan yang lama sebagai jaga-jaga, meski alasan sebenarnya adalah untuk kenang-kenangan.
Dia mengamati pintu pembatas di depannya yang tak jauh beda dari di lantai atas. Zakaria tiba-tiba menyadari ada ukiran di atas pintu tersebut, sama seperti di pintu pembatas penahanan kelas Euclid. Hanya saja, tulisannya berbeda,
‘Malebolge’.
Zakaria menatapnya selama beberapa saat sebelum berjalan mengikuti Natalia. Menunjukkan kartu pengenalnya, mereka tidak melihat sekilas seperti di lantai Euclid, tetapi harus diletakkan di meja di hadapan penjaga pos keamanan. Salah satu personelnya mengeluarkan dua pen lancet kepada mereka.
“Cek darah.” Natalia berkata singkat selagi meraih salah satunya. Dia memakainya dan meletakkan darahnya di tempat yang disediakan mereka.
“Ku asumsikan bukan untuk tujuan medis?” Zakaria berkata selagi mengikutinya.
“Sebenarnya memang bukan. Ini peraturan berlebihan dari si Birmanto untuk memastikan tidak ada penyusupan. Ini yang jadi alasan banyak yang memilih lewat area penahanan baru – yang jalannya dijaga si Wrench tadi – kalau mau ke kantin.” Natalia menjawab.
Prosesnya hanya memakan semenit sebenarnya. Salah satu personel keamanan mengibaskan tangannya, akhirnya menginstruksikan mereka aman untuk pergi dari hadapan mereka. Mereka pun membuka pintu keamanan kedua dan meninggalkan koridor pembatas.
Area penahanannya itu sendiri sedikit lebih luas dibandingkan dengan lantai di atasnya. Terdapat sebuah ruangan di tengah-tengah area, menjadikannya dua buah koridor. Natalia sepertinya memang akan mengarahkannya ke ruangan itu. Setelah cukup dekat, Zakaria akhirnya bisa membaca nama ruangan sebagai ‘Kantin’.
“Huh, lokasinya bukan di pojok seperti di lantai Euclid?” Zakaria bertanya kembali.
“Dulu di sana, tapi sekarang tidak bisa lagi digunakan.” Natalia menjawab sekilas selagi membuka pintu ganda kantin.
“Kenapa?” Lanjut Zakaria, tak puas akan jawabannya.
“Nanti kau bisa lihat alasannya.” Balasnya selagi dia masuk. Zakaria memutuskan untuk mengonfirmasinya nanti.
Karena memakan bagian tengah area penahanan, kantin lantai Keter memang lebih luas. Selain pintu arah mereka masuk, terdapat dua buah pintu lagi di sisi kiri dan kanan ruangan. Terdapat lebih banyak meja di tempat ini, tetapi hanya ada sebagian kecil personel keamanan dan peneliti yang menempatinya.
Sebagian berkumpul di pojok ruangan. Tebakannya benar mengenai apa yang mereka lakukan dari kumpulan botol tercecer dan kartu di meja. Terdapat beberapa lagi yang tengah makan atau lebih suka kesendirian. Dia sekilas bertatapan dengan seorang personel keamanan yang duduk bersandar di dinding pojok memainkan harmonika.
Dia memutuskan untuk terus berjalan mengikuti Natalia. Akhirnya mereka mendekati meja kasir, dengan Natalia segera berkata, “Fel!”
Yang membalas panggilannya adalah seorang perempuan yang, meski jelas lebih muda dari Natalia, memiliki rambut putih panjang. Dia mengenakan seragam putih dengan celana hitam, dilapisi apron dapur seperti lima pegawai kantin lainnya di dapur belakang. Dengan cepat dia mendekati meja dan berkata, “Kak Nat, mau makan apa ya?”
“Gak, ini mau ngenalin personel baru. Peneliti-“ Sebelum Natalia selesai bicara, Zakaria memutuskan untuk menyelanya dan berkata, “Kode nama Balefire. Panggil saja Bale.” Dia tidak tahu berapa banyak yang tahu nama aslinya di bawah sini, tetapi sudah saatnya untuk melakukan langkah preventif.
“Oh, kode nama? Juga masker gasnya mengingatkanku dengan Kak Vector.” Dia menanggapinya dengan ramah. “Ah, panggil aja aku Felin, aku kepala kantin di sini.”
“Ah, Wrench juga nitip salam seperti biasa.” Natalia melanjutkan, kali ini dengan nada malas.
“Tolong sampaikan terima kasih entar jika ketemu nanti, Kak!” Dia membalas dengan senang.
“Nggak, aku perlu ngajak personel baru ini keliling ke messnya. Entar dia kan makan juga nanti di sini kayak biasa.” Natalia menggeleng selagi beranjak pergi ke arah kiri.
“Oh, jadi gak mau makan dulu?” Felin mencoba menawar, tetapi Natalia pengibaskan tangannya sebagai tanda penolakan. Zakaria yang awalnya mengamati menu di sana akhirnya mengikutinya dari belakang. Sesekali dia menoleh mengamati ke belakang.
Membuka pintu kantin dari sisi kiri, dia dihadapkan dengan ruang pengujian besar, sel Kelas-D, dan sebuah koridor di tengah-tengahnya dengan pos keamanan. Entah kenapa, koridor di balik pos itu gelap gulita, hanya diterangi serangkaian obor semata. Natalia menunjuk ke arah koridor di kejauhan itu.
“Dulu di sana lokasi kantin, bangsal medis, dan laboratorium. Sekarang itu teritori Brethenitas.” Natalia berkata.
“Dan itu adalah?”
“SCP-090-ID-1.” Balasnya singkat. Zakaria mengangguk mengerti. Dia akan baca mengenai itu nanti jika sudah istirahat dan mulai bekerja di mejanya.
Mereka lalu mengitari kantin dan berjalan ke arah koridor lain. Tebakan Zakaria benar bahwa mereka tengah memasuki area istirahat teknisi dan gudang barang. Sayangnya itu mengingatkannya akan pengalaman buruknya di sana.
Satu-satunya yang berbeda adalah adanya pintu pembatas di ujung koridor. Semakin mendekatinya, Zakaria menyadari itu adalah pintu otomatis. Berbeda dari yang dilihatnya di lantai Euclid, panel tombol dan scanner kartu di dinding digantikan sebuah tombol merah dengan kamera di atasnya. Natalia menekannya dan menatap ke arah kamera dengan ekspresi tak sabar. Pada akhirnya, pintu mengeluarkan bunyi ‘klik’ keras. Natalia mendorong pintu besi tersebut dan segera masuk diiringi Zakaria.
Area pembatas – atau lebih tepatnya ruang pembatas untuk kasus ini – lebih kecil dan memang hanya sebesar ruangan. Terdapat sprinkler di atas serta beberapa pipa di pojok ruangan. Selagi Zakaria melihat-lihat sekelilingnya, Natalia mendorong pintu besi kedua di depannya dan keluar dari ruangan. Zakaria mengikuti di belakang.
Area penahanan di sini kurang lebih sama dengan yang di lantai Euclid, meski pintu tahanan hanya berderet di sisi kiri. Di ujung kiri terdapat panel kaca yang sepertinya cermin satu arah dan jelas antipeluru jika mengikuti standar Yayasan. Di ujung kanan sepertinya ruang perlengkapan kebersihan.
Natalia segera bergegas berjalan seraya berkata, “Ku sarankan kau jangan menghabiskan waktu terlalu lama di sini. Beberapa anomali bisa tertarik untuk aktif.”
Dengan cepat mereka melalui koridor sunyi area penahanan anomali kelas Keter. Natalia segera menekan panel di pintu pembatas kedua yang cukup jauh dari yang pertama. Setelah suara keras terdengar, mereka segera masuk.
Begitu keluar dari ruang pembatas, mereka berada di ruangan dengan meja panjang, ranjang dan peralatan bedah.
“Ini lab tertutup.” Natalia berkata. Selagi berjalan melaluinya dia berkata, “Lab biasa berada di sini” -selagi dia membuka pintu – “beserta bangsal medis baru di sana.” Katanya selagi menunjuk ujung ruangan. Zakaria mengangguk mengerti. Terdapat pintu di ujung lab dan ke sanalah mereka berjalan.
Begitu di buka, mereka berada di area kantor umum. Natalia mengembuskan nafas seraya berbisik, “Akhirnya…” Zakaria sendiri mencoba mencari orang yang mencegat mereka tadi, tetapi selama dia diarahkan ke area mess, dia tidak melihatnya lagi.
“Sejujurnya aku lebih memilih lewat area pembatas saja dari pada memutar seperti ini.” Zakaria berkata.
“Sama. Lagipula kau harus dikenali dulu dengan penjaga area penahanan, jadi aku tak menyarankan kau menyingkat jalan.” Balas Natalia.
Dia melirik ke arah tiap koridor mess yang terbagi jadi tiga bagian. “Aku akan ke ruanganku. Kau tahu di mana ruanganmu, kan?” Natalia bertanya kepadanya.
Zakaria mengangguk. Dan dengan itu mereka berpisah arah. Zakaria sendiri mengeluarkan kunci ruangan messnya.
Banyak orang baru untuk diinvestigasinya, banyak kerjaan juga yang menantinya, tetapi dia selalu bisa melakukannya besok. Sekarang dia ingin berbaring seharian.
Kronik Situs-79
Prolog
« Malam yang Sulit | Pria Berdarah Itu | Bunga Tak Berdosa, Berbisa »




