Pesan Masuk
SATU(1) PESAN BARU
Kepada: Christopher Louis
Dari: Stefan Strider
Subjek: Re:Proposal Penelitian Prosedur Penahanan Khusus SCP-012-ID
Kepada Peneliti Senior Dr. Christopher Louis,
Saya memutuskan untuk MENGIZINKAN pengujian lanjutan terhadap SCP-012-ID. Anda diperbolehkan melakukan pengamatan terhadap spesimen dan memberikan sugesti PPK alternatif.
Permintaan untuk menguji langsung entitas hanya diberikan jika sugesti PPK alternatif dirasa layak dicoba.
Semoga beruntung.
- Direktur Situs, Dr. Stefan Strider
”Yes!”
Terdengar suara pukulan meja yang cukup keras dari seseorang malam itu. Louis, penerima pesan tersebut, menatap layarnya dengan senyum lebar.
Asistennya yang duduk di sampingnya sempat tersentak kaget dan menoleh ke samping, memandangi atasannya yang tengah berdiri memandangi layar komputernya.
“Diterima, Pak?” Tanya asistennya.
Louis duduk di kursinya dan berkata, “Ya jelas.” Selagi masih menatap ke layarnya selama beberapa saat sebelum kembali memajukan kursinya dan mengetik di komputernya.
Asistennya cuma mengangguk dan kembali berbalik menatap komputernya sendiri, menyelesaikan ketikannya.
Itu sebelum dia mendapat suara notifikasi email masuk di komputernya.
“Itu ku kirim contoh dokumennya,” Kata Louis, menjawab pertanyaan asistennya yang belum sempat bertanya, bahkan membuka isi kontennya.
Louis berdiri dan mengambil beberapa buku dan alat tulisnya. “Tugasmu, buat dokumen itu jadi template buat di isi nanti.”
“Lah, tidak disediakan templatenya?” Asistennya bertanya.
“Kalau ada, ngapain ku kasih dokumen referensi? Mending ku ketik sendiri.” Balas Louis.
Louis memegangi barangnya dan bergegas berjalan ke arah pintu. “Aku mau ke bawah. Nanti pas aku kembali, dokumennya sudah harus selesai, ya?”
“Baik, pak.” Kata asistennya selagi membuka emailnya.
Dokumennya berupa berkas berformat .JPG. Hasil scan dari kertas.
Asistennya menoleh cepat, tetapi pintu besi ruangan tersebut sudah tertutup. Dia terdiam beberapa saat memandangi pintu ruangan yang tertutup sebelum menoleh perlahan ke komputernya, memikirkan apakah ada cara mengakali proses pengetikannya.
Asisten Louis menegakkan punggungnya dan mendekatkan kursinya ke dinding agar bisa bersandar di sana. Dia menatap ke pintu ruangan; atasannya belum kembali. Dia menoleh ke layar komputernya, mengamati hasil ketikannya yang telah dia selesaikan dalam waktu dua jam.
Dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnyna. Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari, tanggal 16 April 2018. Sudah dua hari sejak insiden SCP-012-ID yang Louis bicarakan beberapa hari yang lalu.
Dia melihat ke informasi lain di layar depan; tidak ada sinyal terdeteksi. Tidak ada kontak dengan dunia luar baginya saat ini kecuali dari televisi ruang tunggu. Dia mengingat dirinya yang ikut nonton televisi tersebut bersama beberapa penjaga yang tidak bertugas saat keluar mengambil beberapa perlengkapan kantor beberapa kali.
Dia ingin keluar, tetapi terakhir dia keluar tanpa bilang karena ingin ke toilet, atasannya salah paham dan mengiranya keluar jalan-jalan.
Yang benar saja…
Dia memutuskan untuk semakin bersandar di dinding, mencoba istirahat.
“Hey, bangun!”
Asistennya tersentak kaget dan langsung melihat ke sekeliling. Atasannya, Louis berdiri di depan komputernya.
“Kok ga dimatikan sih komputernya?! Sampai konslet hilang kerjakan gue!” Katanya setengah berteriak.
“Lah, kan cuma sebentar tadi keluar.” Asistennya yang masih setengah sadar membalas.
“Sebentar apaan? Cek itu jam berapa! Tau tidur aja kerjaannya, dasar ga guna.” Kata Louis, masih di depan komputernya.
Asistennya langsung mengecek ponselnya, jam menunjukkan pukul 10 pagi. Dia memandangi layar beberapa saat, memahami informasi yang tengah dia dapatkan dan memikirkan apa yang terjadi saat ini ditemani cahaya ponsel.
Sesaat kemudian, dia mendapat sebuah kesimpulan,
“…Tadi malam bapak langsung pulang?” Tanya asistennya.
“Memangnya yang shift malam aku ato kamu? Ga bener sama sekali…” Louis masih terus berbicara, tetapi asistennya sibuk dengan pikirannya sendiri yang tengah memberikan puluhan umpatan kasar kepada atasannya. Dia merasakan mata kanannya berkedut.
“…Woy, dokumen tadi malam siap ga?” Louis menoleh ke arah asistennya yang masih memandanginya. “Sudah dikasih waktu semalaman, lho.”
“Su… sudah, Pak.” Katanya sambil memutar kursinya ke arah komputernya dan menyalakannya.
“Kirim ke tempatku.” Kata Louis selagi mengeluarkan beberapa buku catatan dari kantongan hitam yang berada di meja.
Asistennya menunggu beberapa saat sampai komputernya nyala dan langsung mengirim berkas yang diminta begitu aplikasi bisa diakses.
Asistennya diam di kursinya, tidak tahu harus apa setelah mengirimnya. “Jadi, sekarang apa, Pak?”
“Lah, kerjaanmu sebelumnya kelar belum? Pake nanya lagi.” Louis menjawab tanpa menoleh.
Asistennya hanya mendongkak ke atas, menatap langit-langit ruangan. Nanya salah, ga nanya salah…
Sudah lima hari sejak Louis memutuskan mengambil proyek penelitian alternatif Prosedur Penahanan Khusus SCP-012-ID. Asistennya mengamati Louis tengah bersandar di kursinya, memandangi beberapa kertas dan dokumen digital anomali tersebut di layar komputernya.
Sebagai personel Yayasan, dia bisa mengakses basis data Yayasan dengan memasukan informasi dirinya. Level perizinan miliknya adalah Level 1. Personel dasar yang hanya perlu tahu apa yang dirasa perlu dan boleh diketahuinya.
Meskipun memiliki akses ke sebagian besar database Yayasan dan katalog monster yang dimilikinya, dia hanya tahu cara menanganinya, rupa, dan sifat anomalinya untuk hampir semua kasus. Dia bahkan tidak tahu di mana anomali tersebut ditahan. Bahkan SCP-012-ID tidak menuliskan lokasi penahanannya meski dia tahu persis mereka berada satu lantai di bawahnya.
Setelah berpikir sejenak, dia memutuskan untuk membuka basis data Yayasan lagi. Dia mengetikan 012-ID di pencarian dan menunggu dokumen digitalnya dimuat.
Begitu muncul, dia mengamati peringatan di halaman awal,
Dokumen berikut terbatas untuk Level 1/012
Dia selalu menemui tulisan itu di sebagian dokumen. Setidaknya level aksesnya mengizinkannya untuk membaca dokumen tersebut.
Dia mulai dengan membaca tiga informasi dasar SCP-012-ID.
KELAS PENANGANAN: KETER
KELAS GANGGUAN: 2 / VLAM
KELAS RISIKO: 4 / DANGER
Keter… Pikirnya. Satu dari lima jenis kelas penanganan SEKTA yang dia dan personel umumnya ketahui. Keter, artinya mereka konstan melanggar menahanan. Dia mengamati warna merah bagian tersebut yang bagai menegaskan bahwa ini sesuatu yang perlu diperhatikan dengan seksama.
2… Vlam… Dia mengamati gambar di sisi kiri atasnya. Dia tidak menyimak lebih dalam bagian ini, tetapi dia setidaknya ingat Kelas Gangguan adalah tingkat seberapa berisikonya anomali diketahui publik. Sepertinya anomali ini bukan masalah besar bagi mereka di bagian itu.
4… Danger… Dia cukup paham Bahasa Indonesia dan Inggris untuk memahami maksud bagian ini.
Dia beralih ke bagian Prosedur Penahanan Khususnya, permasalahan SCP-012-ID saat ini.
Prosedur Penahanan Khusus: Seluruh SCP-012-ID ditahan secara terpisah dalam satu ruangan penahanan besar di lantai penahanan Kelas Keter. Pintu penahanan harus terbuat dari besi dan hanya bisa diakses dengan izin Direktur Situs. Ruang penahanan dilengkapi dengan pintu ganda yang terbuat dari besi setebal 2 cm yang hanya bisa diakses seizin Direktur Situs. Ruangan harus dipantau kamera pengawas setiap saat untuk mengawasi kerusakan dan upaya pelanggaran penahanan.
Kerusakan yang dinilai perlu diperbaiki harus segera diajukan kepada Direktur Situs terlebih dahulu untuk pertimbangan. Perbaikan akan dilakukan dengan personel memojokkan SCP-012-ID ke sudut ruangan mengikat seluruh entitas dengan rantai di sudut ruangan selama bagian yang rusak diperbaiki. Perbaikan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin.
Prosedur Penahanan Khusus ditunda menunggu keputusan.
Ini tidak terlihat bagus… Asistennya berpikir. Dia mencoba membaca detail prosedur penahannya, mencoba memahami entitas ini.
…secara terpisah…
Mereka tidak bisa- tidak, lebih tepatnya sebaiknya tidak boleh dipisah… Ini artinya mereka bisa bekerja sama untuk membobol penahanan. Tetapi sepertinya itu bukan masalah penahanan…
Dia melanjutkan membaca detail lain di bawahnya.
…pintu ganda yang terbuat dari besi setebal 2 cm…
…Ruangan harus dipantau kamera pengawas setiap saat untuk mengawasi kerusakan…
Mereka memiliki tendensi untuk destruktif… Tetapi dia tahu di antara ratusan entri lain di basis data Yayasan, ada anomali yang lebih destruktif dari ini. Mungkin sebaiknya aku fokus ke hal lain.
Dia melanjutkan membaca detail lain di bawahnya.
Perbaikan akan dilakukan dengan personel memojokan SCP-012-ID ke sudut ruangan mengikat seluruh entitas dengan rantai di sudut ruangan selama bagian yang rusak diperbaiki. Perbaikan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin.
Setelah mengamati ketidakstabilan tata bahasa di balik coretan bagian tersebut, dia menemukan permasalahannya.
Mereka perlu cara mendiamkan mereka paling tidak selama proses perbaikan sampai selesai.
Dia merasa sudah cukup mengamati bagian PPK dan mulai membaca deskripsi entitasnya.
Sekarang sesusah apa hal tersebut…
Dia mengamati deskripsi dengan cepat, mengumpulkan poin penting anomali entitas tersebut.
24 Orang-orangan sawah hidup… Bisa meruncingkan tangannya untuk senjata… Tiap entitas terhubung dan harus terhubung… Memiliki kemampuan regenerasi, meski bisa dibunuh dengan mencopot kepalanya…
…Aktif mencari sawah.
Dia menghubungkan permasalahan pada prosedur penahanan dan deskripsi. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menemukan masalah utamanya.
SCP-012-ID akan mengupayakan mencapai sawah terdekat dengan mencoba menghancurkan ruang penahanan bersama-sama… setiap saat.
Tetapi beberapa saat kemudan dia berpikir, Di sini cuma tersedia cara membunuhnya. Dan ini bukan KOG… Apa mereka takut senjata? Yayasan punya senjata dan mereka tetap membuat masalah, jadi pasti tidak. Pasti ada cara lain menggertak mereka agar diam…
Dia mencoba membaca bagian penemuan, hanya untuk mendapati informasi minim bahwa entitas ini di dapatkan di sebuah desa. Itu saja yang tersedia untuknya, tidak ada informasi lagi.
Dia melirik ke arah atasannya Louis yang masih sibuk dengan urusannya sendiri. Dia menatap ke layar komputer atasannya yang masih membuka halaman yang sama dengan Izin Akses yang berbeda.
Setelah berpikir selama beberapa saat, dia rasa dia sudah cukup banyak mengerjakan tugasnya untuk berhak merasa bosan sedikit.
“Pak, boleh saya bertanya?”
“Apaan?” Louis setidaknya menoleh ke arahnya.
“Progress penelitian 012-ID gimana, Pak?”
“Apaan kau nanya begitu?” Louis mengalihkan pandangannya dengan nada bicara yang terdengar jengkel.
“Ya, nanya aja sih. Kalo dipendam sendiri ya pusing sendiri, kan?” Dia membujuk.
Louis masih diam, jadi dia melanjutkan, “Kan saya asisten bapak, ga ada salahnya kan ikut ngebantu?”
Louis hanya tertawa singkat, “Kayak bisa aja.” Katanya selagi menurunkan kertas yang dipegangnya. Awalnya asistennya mengira atasannya mengakhiri percakapan mereka sampai Louis melanjutkan, “Ga ada kemajuan. Asal kau tau, mereka 24 jam ga henti-hentinya mukulin pintu penahanan. Sepertinya mereka tahu itu titik terlemah ruangan mereka.”
Asistennya mengangguk mengerti. Dia punya beberapa pertanyaan mengenai SCP-012-ID.
“Bagaimana cara memotong kepala mereka? Dari yang ku baca, mereka cuma bisa dibunuh dengan memotong kepalanya.” Tanya asistennya.
“Memotong? Pfft, kau kira personel Yayasan samurai? Tidak. Kau cukup menghancurkan kepala mereka. Standarnya pakai senapan gentel di prosedur penahanan dulu.”
“Prosedur penahanan dulu?”
Louis mengangguk, “Ya, awalnya ini penelitian si keparat Herman. Sarannya adalah karena mereka mencari sawah, taruh saja di sawah. Eh, pas panen malah nyari mangsa ke luar sawah. Goblok memang.”
Asistennya mengangguk, memahami informasi tersebut sebelum melanjutkan pertanyaannya.
“Bagaimana cara personel keamanan sejauh ini menahan mereka?” Tanya asistennya.
“Awalnya mereka- ga, kau tidak diizinkan untuk tahu itu… Ehm…” Louis diam sejenak, “Intinya sekarang mereka memilih mengambil resiko merantai orang sawah tersebut selama perbaikan. Belum dijadwalkan sih, tetapi persiapan sudah dibuat.”
“Sejujurnya, mungkin… mungkin ini di luar kemampuanku. Bahkan bagiku yang peneliti bidang biologi.” Louis berkata. Dia bersandar di kursinya, memandangi langit-langit ruangan. “Besok jika tidak dapat pencerahan, kurasa akan ku sudahi saja penelitian ini. Alternatifnya memang cuma itu saja.”
Hening sejenak di antara mereka. Louis terlihat memikirkan sesuatu selagi bersandar. Asistennya memandanginya selama beberapa saat sebelum kembali menatap layar komputernya.
Tetapi dia berbalik lagi begitu mendengar suara dan dia melihat atasannya mulai merapikan barang-barangnya.
“Sudah mau pulang, Pak? Baru jam enam.” Tanya asistennya.
“Ya. Mau mikir di rumah saja.” Katanya selagi menutup tasnya. “Kelarin kerjaanmu yang lain, kek.”
Asistennya menyandarkan tangan kanannya di sandaran kursinya. “Baik.”
Louis pun berjalan ke pintu dan keluar dari ruangan. Asistennya tidak menoleh, tetapi dia mendengar pintu ruangan tertutup.
Dia melirik ke arah komputer Louis, menyadari bahwa dia pergi tanpa mematikan komputernya. Sering sudah seperti itu, tetapi biasanya dia sudah mematikan semua jendela aplikasi yang sebelumnya dibukanya.
Halaman SCP-012-ID masih terbuka.
Asistennya langsung berdiri. Biasanya dia akan langsung mematikannya jika menyadari komputer atasannya masih menyala, tetapi kali ini dia berjalan ke arah pintu terlebih dahulu. Dia dan atasannya masing-masing memegang kunci ruangan. Pintu ruangan dibukanya dan dia mengecek sisi kiri dan kanannya, memastikan koridor kosong.
Setelah itu, dia kembali menutup pintu dan kali ini menguncinya dari dalam. Dia mundur beberapa langkah dari pintu sebelum beranjak ke arah meja atasannya.
Halaman yang tengah terbuka digulirnya ke atas, menampilkan informasi umum penahanannya. Tidak ada perubahan kecuali satu hal,
Dokumen berikut terbatas untuk Level 2/012
Atasannya Louis adalah peneliti senior, level aksesnya adalah level 3. Mengalahkan batas akses dokumen ini. Asistennya berpikir sejenak, teknisnya dia tidak diizinkan untuk membaca ini, tetapi dia rasa menjadi asisten peneliti pemegang proyek penelitian anomali ini memberinya hak untuk setidaknya mendapatkan gambaran lebih luas akan anomali tersebut.
Dia putuskan untuk melanjutkan membaca.
Dia menggulir ke bawah, membaca singkat bagian PPK dan deskripsinya. Tidak ada perubahan. Dia menggulir halaman situs webnya ke bawah. Saat itulah dia mendapati ada banyak lampiran tambahan di bawahnya. Sesuatu yang baru baginya.
Dia juga menyadari ada sebuah audio dan transkrip di bagian penemuan. Dia mulai berpikir, mana yang ingin di ceknya terlebih dahulu.
Setelah beberapa saat memandanginya, dia memutuskan ke luar ruangan untuk mengambil minuman.
Jam di komputer menunjukkan pukul tiga pagi. Asisten Peneliti Senior Christopher Louis tengah mendengarkan rekaman wawancara yang diputarnya berulang selagi membaca lampiran di bawahnya. Sesuatu agar ruangan tidak sesunyi kuburan.
Dia akhirnya memahami apa yang Louis maksud dengan prosedur penahanan sebelumnya yang gagal lewat lampiran. Pria malang… pikirnya selagi membaca nama penelitinya. Peneliti Senior Dr. Herman Puspito. Dia tahu orang itu pria ramah, tetapi sempat terbesit di pikirannya saat Louis mengumpat selagi menyebut namanya.
Dia meneguk mug kopinya yang diambil dari ruang tunggu, mencoba memikirkan solusi apa pun berdasarkan informasi baru yang telah ia dapat. Setelah menghabiskan isi mug untuk kedua kalinya, dia tidak mendapatkan apa pun. Sekarang dia hanya bosan seperti layaknya hari- hari biasa.
Tetapi dia mengamati ke layar komputer atasannya dan berpikir, Bagaimana jika ku akses dokumen anomali lain?
Pada jam selarut ini, atasannya tidak mungkin kembali ke situs sampai pagi, tetapi bisa saja tindakannya terekam administrator jaringan. Apa dia ambil risikonya dan mempersiapkan alibi, atau sudahi saja untuk malam ini.
…
Setelah beberapa saat, dia menekan tombol keluar, menghilangkan seluruh jendela di layar komputernya sebelum mematikan komputernya dan mencabut kabel dayanya.
Dia memutuskan untuk mengambil kopi lagi di ruang tunggu.
Pukul Sembilan pagi tanggal 20 April 2018. Peneliti Senior Christopher Louis masuk kerja. Dia melihat asistennya tertidur di samping meja kerjanya dan menggeleng. Dia berjalan ke arah mejanya sendiri, mendapati komputernya yang mati. Dia ingat dia lupa mematikannya tadi malam. Sering seperti itu sejak dia punya asisten.
Dengan segera dia mencolok kabel daya dan menghidupkan komputernya. Hal pertama yang dia lakukan begitu komputernya siap digunakan adalah membuka Riwayat akses basis data Yayasan di komputernya. Laman terakhir yang dibuka adalah dokumen SCP-012-ID; tidak ada yang lain. Louis menoleh ke asistennya.
Setidaknya kau bisa dipercaya.
“Woy, bangun.” Kata Louis selagi menepuk pundak asistennya. “Shift selesai, kalau mau tidur di mess-mu, bukan di sini.”
Asistennya perlahan terbangun. “Pak? Maaf, Pak. Ketiduran tadi.” Dia berdiri dan meminta izin keluar dari ruangannya.
Louis cuma membalas, “Kau kembali ke sini pukul enam, ada yang ingin ku sampaikan nanti.”
Asistennya mengiyakan dan keluar dari ruangannya. Louis sendiri pun mulai mengeluarkan beberapa buku catatannya, bersiap untuk bekerja.
“Jadi,” Louis memulai percakapan. Asistennya menyimaknya dari kursinya. “Aku akan ke bawah sekali lagi sampai tengah malam, mencoba mendapatkan apa pun yang bisa ku dapat. Anggap saja ini malam terakhir penelitian ini.”
Dia diam sejenak sebelum melanjutkan.
“Sementara itu, kurasa aku bisa memercayaimu untuk membantuku lebih jauh. Aku tahu level aksesmu cuma level satu. Kau bisa baca dokumen lengkapnya di komputerku.” Katanya. Asistennya cuma mengangguk meski dia sudah melakukan itu kemarin malam.
“Ku tinggalkan juga buku catatanku di sini. Jika mungkin saja kau menemukan sesuatu, katakan saja setelah aku kembali.”
Dengan itu, dia pun pergi ke luar. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Paling tidak terdapat lima jam untuk merumuskan apa pun. Asistennya tidak membuang waktu lama dan mulai duduk di kursi atasannya. Dia meraih dan mulai membuka lembaran buku catatan Louis.
012-ID
- Makhluk biologis
- Berbahan dasar tanaman => Anggap tanaman
- Pertumbuhan cepat
Bahan penahan anomali tanaman.
- Semen Hancur jika dipukul kayu dalam jumlah banyak
- Besi? Penyok dan hancur dalam waktu lama
- Gabungan? Bisa. Desain halaman sebelah. Perbaikan tahunan. Diminta solusi penanganan entitas, bukan improvisasi ruangan!
Tidak ada informasi bagus yang bisa ditemukan asistennya. Dia cukup paham bahwa inti masalah adalah menemukan metode menahan mereka. Sepertinya Louis memulainya dengan salah.
Dia membalik ke halaman berikutnya.
Desain ruangan 1:
Halaman kedua sampai empat berisi desain kasar ruangan penahanan. Louis memusatkan campuran semen dan besi dan semen lagi pada beberapa titik. Tetapi dia tahu bukan itu permasalahannya.
Dia membalik ke halaman berikutnya.
KELEMAHAN 012-ID
Bahan SCP-012-ID adalah KAYU
Kelemahan kayu:
- Rayap Tidak bisa dikontrol
- Herbisida
Penggunaan racun tanaman memiliki potensi efektif membusukkan dan menghancurkan entitas. Sifat sentien mereka akan membuat mereka berpikir untuk menghindari cairannya.
Pasang sprinkler berisi Garlon di sekitar ruangan penahanan
Sepertinya Louis menemukan terobosan di sini. Asistennya mengamati bagian itu, memahami bahwa Louis mencoba menahan ruang gerak mereka dengan cairan beracun.
Dia melirik ke halaman berikutnya.
PERCOBAAN 18 APRIL 2018
Menyiram SCP-012-ID dengan racun pohon
HASIL
Buruk. Sifat herbisida yang lambat membuat 012-ID mampu terus beregenerasi secara konstan selama beberapa jam. Kalau dipikirkan, ini seperti menyerang mereka dengan kanker. Menyiram lebih banyak dan itu akan membunuh mereka. Entitas yang selamat membuat seluruh entitas lain lebih liar akan keberadaan cairan apa pun.
Pemberian herbisida dengan dosis lebih tinggi dan efek lebih cepat dikonsiderasikan.
Jadi itu masalahnya… Asistennya berpikir. Dia membalik ke halaman berikutnya.
Percobaan lanjutan menggunakan racun ditolak. Berisiko membuat mereka semakin agresif. Sepertinya aku perlu alternatif lain…
Dan itulah tulisan terakhir di buku catatan Louis. Asistennya menutup buku tersebut, memandangi ke dokumen di layar komputer di depannya.
Asistennya diam sejenak, bersandar di kursi.
Sebuah dilema… Dia pikir. SCP-012-ID perlu sesuatu untuk ditakuti. Herbisida dalam jumlah sedikit tidak atau terlalu lama berpengaruh terhadap mereka dan dalam jumlah banyak akan menghabisi mereka.
Dia melirik ke buku catatan Louis. Dan sekarang itu dilarang… apa alternatifnya?
Dibukanya lagi catatan Louis halaman pertama. Anggap tanaman… tidak, anggap pohon hidup. Dia membalik ke halaman berikutnya mengenai kelemahannya. Herbisida digunakan untuk membunuh tanaman. Tetapi apa ada herbisida untuk pohon?
Dia mulai duduk tegak dan mendekati meja. Kedua tangannya diletakan di meja, menahan dagunya. Kenapa tidak ada herbisida untuk pohon? Karena tidak diperlukan. Bagaimana cara membuka lahan? Penebangan? Bisa, tetapi tidak efektif dengan SCP-012-ID. Bagaimana dengan metode membuka lahan lain? Banyak berita kebakaran-“
Pikirannya berhenti di bagian itu. Sejenak kemudian, gir di otaknya bagai berjalan cepat, memikirkan segala kemungkinan yang ada.
Ketika Louis kembali ke ruangannya, dia mendapati asistennya tengah mencatat sesuatu di kertas HVS. “Menemukan sesuatu?” Katanya selagi berjalan mendekat.
Asistennya menoleh dan berpikir sejenak. Dia punya beberapa pertanyaan mengenai catatan Louis, tetapi dia perlu memikirkan mana yang paling cocok.
Setelah diam sejenak, dia berkata, “Pak Louis, kenapa mereka semua menjadi agresif saat pemberian herbisida?”
“Ah,” Louis bersandar di ujung mejanya dan melipat tangannya. “Satu hal yang baru aku dan peneliti lain baru ketahui, ternyata mereka saling merasakan apa yang dirasakan masing-masing entitas. Ini disebut nalar esa. Kesatuan pikiran. Jika satu merasa sakit, mereka semua akan sama.”
Louis menghela nafas sejenak. “Mencoba memisahkan mereka tidak berpengaruh karena ingatan mereka terhubung begitu benang keparat mereka terhubung. Aku menyadari itu saat mereka semua menyerbu dan menusuk habis botol herbisida baru yang ku gunakan pada entitas tunggal sebelumnya. Ditambah mereka membenci apa pun yang berbentuk botol sekarang.”
Jadi indra perasa dan ingatan mereka terhubung…
Cuma itu yang perlu diketahuinya. Bagai sebuah gembok telah terbuka, informasi itu membuka kemungkinan baru.
“Jadi, kau punya saran? Katakan saja, akan ku dengarkan.” Louis berkata.
“Pak Louis,” Asistennya mulai berdiri, “Aku menyarankan menggunakan api untuk mengontrol mereka.”
Louis langsung tertawa singkat, tetapi kemudian dia terlihat mulai berpikir. “Lanjutkan.”
“Herbisida, seperti yang bapak katakan di catatan, tidak memiliki efek signifikan. Itu karena efeknya tidak menghambat gerakan SCP-012-ID secara langsung. Terlalu banyak dan itu membunuh mereka. Anda perlu sesuatu di tengah-tengah. Sesuatu yang dalam jumlah sedikit cukup menyakiti mereka secara fisik hingga menghentikan pergerakan mereka dan dalam jumlah banyak cukup untuk membunuh mereka. Membakar mereka solusinya.”
Louis masih diam memikirkan hal tersebut. Akhirnya, dia mengatakan keputusannya, “Teorimu tidak menggelikan, tetapi kita tidak akan tahu kalau tidak dicoba.”
Asistennya tersenyum di balik masker medisnya, “Kurasa kita kembali dalam proyek, Pak?”
Tetapi Louis menggeleng, “Itu bagian buruknya. Aku cuma merencanakan penelitian selama seminggu. Saat ini SCP-012-ID ditahan di ruang percobaan Keter. Setelah seminggu, mereka akan dikembalikan ke ruang penahanan mereka. Dan itu tengah dilaksanakan sekarang. Kau harus tahu penggunaan ruang percobaan Keter itu harus dijadwalkan terlebih dahulu. Beda dengan lantai Euclid.”
“Te- tetapi jika ini sukses, proyek penelitian kita berhasil!” Asistennya masih tidak percaya.
“Jika itu berhasil. Jujur saja, aku tidak mengira kau memikirkan solusi apa pun, jadi kubiarkan mereka. Tetapi idemu bisa dicoba, sayangnya itu perlu diuji.”
Louis berjalan ke arah asistennya, mencondongkan dirinya ke layar komputer. “Dan kita harus cepat.”
“Kenapa?” Asistennya bertanya kebingungan.
“Lupakan, yang jelas aku akan menemui direktur situs. Aku punya solusi.” Katanya selagi berjalan cepat ke luar. “Kau siap-siap saja.”
Asistennya hanya diam di kursi, kebingungan harus apa sekarang.
Beberapa saat kemudian, asistennya merasakan kantongnya bergetar. Dia merabanya dan mengeluarkan ponselnya yang berdering.
“Kau siap-siap di ruang tunggu objek. Letaknya lurus saja setelah persimpangan koridor dekat kantin.” Kata suara Louis di ponselnya.
“Mereka mengizinkan kita menggunakan ruangannya?” Asistennya bertanya selagi meraih kunci ruangan di kantongnya yang lain.
“Tidak, tetapi Stefan mengizinkan kita mencari alternatif. Saat ini aku bersama beberapa orang tengah menuju lift objek bersama lima entitas SCP-012-ID. Kita harus cepat karena mereka tengah meronta.”
Asistennya keluar dari ruangan dan mengunci pintunya dengan satu tangan sementara tangan lainnya masih memegang ponsel. “Dan alternatifnya?”
“Kau dan sekumpulan personel akan keliling Sukabumi. Mencari lapangan yang cukup luas untuk itu. Tenang saja, lokasi situs ini terpencil.”
Sesuatu terbesit di pikiran asistennya, “Lapangan? Aku ada saran.”
“Semua berhasil dimasukan?” Tanya seorang personel yang mengenakan seragam taktis.
“Berhasil, Pak. Sekarang apa?” Balas personel dengan seragam serupa di depannya.
“Pak Louis bilang dia mengirimkan asistennya untuk mengawasi penelitian. Kita tunggu dia.” Kata personel pertama selagi menyilangkan lengannya.
“Pabrik Cipetir…”
Mata biru personel pertama menoleh ke belakang. Seorang pria dengan masker gas berjalan mendekat.
“Jadi itu kover Situs-79, eh? Sebuah pabrik tua…” Katanya selagi menoleh ke belakang.
Pria ini… Personel itu mengamatinya mendekat. Dia kenal dan pernah melihat pria itu sebelumnya, lengkap dengan masker gas miliknya.
“Agen Senior Ermes Scherz, bukan? Ku dengar kau bisa berbahasa Indonesia.” Pria itu mengulurkan tangannya. “Kau bisa memanggilku Balefire. Dokter Balefire, kalau kau mau.”
Ermes menjabat tangan pria itu dengan ekspresi kebingungan di wajahnya yang setengah tertutup sebo hitam.
“Mohon kerjasamanya dalam penelitian ini.”
Kronik Situs-79
Bab 1: Kayu Bakar
« Kesempatan Kerja | Potongan Kayu Bakar | Percobaan Malam »




