Pesta Dan Kekacauan Setelahnya
rating: +1+x

Beberapa jam yang lalu

“Hey, bangun!”

Seorang perempuan membuka matanya. Di depannya adalah seorang pria yang tengah mengguncang bahunya. Dia mengenakan seragam putih lengkap dengan rompinya. Helm dengan visor kuning dikenakannya.

Dia personel keamanan situs ini, sama seperti dirinya.

“Apa… yang terjadi?” Katanya selagi mencoba duduk, menepis tangan pria paruh baya yang memegang bahunya.

“Kau tidak ingat? Kita dipukuli seseorang tadi saat berjaga. Entah bagaimana… Oh ya, saat kita mulai sadar, kita tengah berada dalam situasi pelanggaran penahanan.” Jawab penjaga di depannya, perlahan mundur selagi mengamati sekelilingnya.

Perempuan tersebut mengamati sekelilingnya, melihat bahwa beberapa penjaga masih terbaring di lantai. Cuma dia, orang di depannya, dan dua orang yang tengah berdiri di depan pintu ruangan.

“Ini di mana?” Perempuan itu mencoba berdiri dan membersihkan lututnya dari debu.

“Ruang interview. Aku cuma bisa menyeret kalian sejauh ini saja.” Balas pria di sampingnya.

“Tapi apa yang kita tunggu? Kenapa alarm belum menyala?” Perempuan tadi lanjut bertanya.

SCP-032-ID.” Jawab pria itu dengan singkat.

“Oh…”

Keadaan pun hening. Perempuan itu berjalan mendekati pintu dengan perlahan, diikuti pria di belakangnya. Dengan isyarat tangan, sang pria di belakangnya menyuruh seorang penjaga di depan pintu untuk membuka pintunya. Orang yang diisyaratkannya mengerti dan dengan perlahan membukan pintu.

“SCP-032-ID tengah berada di depan kantin, kau berjalan perlahan ke sana dan panggil bantuan di ruang istirahat. SCP-030-ID-A tengah mencoba membobol penahanan sel lain saat ini dan kami harus menembak mereka dengan senapan bius secara berkala.” Jelas pria di belakangnya.

Perempuan tersebut bisa merasa punggungnya didorong keluar. “Peluru kami hampir habis, jadi kami cuma bisa bergantung padamu, oke? Jika kau berjalan pelan, ia tidak akan memperhatikanmu, kok.” Kata pria di belakangnya selagi dengan perlahan menutup pintu ruangan kembali.

Sang perempuan tadi cuma menatap orang-orang di belakangnya dengan tatapan takut dan sesekali menggeleng mengisyaratkan dia tidak mau. Itu tidak menghentikan mereka untuk menutup pintu rapat-rapat.

Setelah pintu tertutup dan hanya tersisa perempuan tersebut di luar, dia menoleh singkat ke belakangnya, ke arah pintu untuk beberapa saat. Tidak mengharapkan pintu itu dibuka lagi oleh mereka.

“Dasar bodoh…”

Perempuan itu lalu berbalik menghadap SCP-032-ID dengan ekspresi datar selagi menurunkan visor helmnya ke bawah. Dia mulai berjalan mendekati SCP-032-ID yang tengah membelakanginya. Tangannya mencoba meraba sesuatu di kantongnya. Sesaat kemudian, dia mengeluarkan perangkat kecil penuh kabel.

Tanpa memperhatikan arah, dia terus berjalan selagi mengutak-atik perangkat di tangannya. Saat dia berada tepat di samping SCP-032-ID yang masih tidak memedulikannya, dia melempar perangkat di tangannya tadi ke belakang.

Dia tidak menoleh, tetapi lemparannya berhasil mengenai pintu besi ruang wawancara. Suara nyaring statis seketika muncul. SCP-032-ID jelas langsung berbalik mendengar suara senyaring itu, sama sekali tidak melihat perempuan di sampingnya berjalan melaluinya.

“Sial! Bunyi apa itu!”

Perempuan itu tidak menoleh, tetapi dia mendengar suara umpatan mengiringi suara pintu terbuka, diikuti suara statis tadi hilang seketika. Dia mengangkat kedua telunjuknya seakan menunggu sesuatu.

Suara tembakan tiba-tiba terdengar di belakangnya. Perempuan itu mengayunkan jari telunjuknya mengikuti suara tembakan dan teriakan bak maestro sebelum akhirnya tertawa pelan setelah suara-suara di belakangnya berhenti. Dia mempercepat langkahnya menuju ruang istirahat penjaga.

Begitu sampai di depan pintu, dia langsung mengetoknya dengan cepat. Tidak menunggu lama sampai seorang penjaga yang tidak mengenakan helm membukakan pintu.

“Apaan sih?” Dia bertanya dengan tampang malas. Sepertinya dia baru terbangun atau semacamnya.

Sang perempuan dengan cepat menunjukkan gestur diam selagi berkata cepat, “SCP-032-ID lepas!”

Penjaga di depannya tadi langsung bereaksi dan keluar mengamati lorong koridor yang sepi. “Berapa banyak orang kita di sana dan berapa banyak lagi yang lepas?” Dia bertanya dengan pelan.

“Semua masih belum sadar. SCP-030-ID-A secara aktif mencoba membobol ruangan lain.” Balas perempuan di depannya.

“030? Awas jika kau bercanda. Tunggu di sini.” Dia langsung masuk ke dalam dan menutup pintu. Perempuan tadi tidak membuang waktu menunggu mereka dan segera menuju pintu pembatas. Pos yang berada di sana selalu sepi saat tengah malam. Penjaganya ada, tetapi tertidur di bawah.

Dia terus berjalan, membuka pintu ganda pembatas selagi menggumamkan nada lagu. Mengikuti irama langkah kaki penjaga yang sekilas dia dengar sebelum pintu tertutup.
"London bridge is falling down,"
Tidak ada yang mencoba mengejarnya. Sepertinya mereka tahu mana yang harus diprioritaskan. Mereka pasti akan mencoba mencarinya nanti, tetapi dia yakin mereka tidak akan bisa. Karena itulah dia terus bernyanyi pelan.
"Falling down, falling down"
Dia berjalan ke arah ruang auditorium yang sepi. Dia tahu tidak ada orang di sini. Tidak ada orang yang akan ke sini.
"London bridge is falling down,"
Pintu ganda besar berlapis besi di depannya tiba-tiba terbuka dengan perlahan. Ia hanya terbuka sekali dalam sewaktu. Dia berjalan masuk diiringi pintu ruangan yang kembali tertutup perlahan.
"My fair lady"


Sekarang

“Jadi bagaimana keadaan situs sekarang?”

Balefire duduk di ujung ranjangnya, masih belum sanggup untuk berdiri. Dia masih di bangsal medis. Dirinya menatap ke arah seorang dokter yang berdiri membelakanginya.

“Seperti kataku tadi, SCP-030-ID-A menjadi prioritas. Masalahnya anomali lain mengganggu upaya penahanan. Mereka berhasil menahan satu lagi tadi sesaat sebelum kau sadar, jadi sekarang yang tersisa seharusnya cuma satu SCP-030-ID-A dan SCP-032-ID.”

Balefire mengamati sekelilingnya. Ruangan lumayan dipenuhi oleh suara erangan dan rintihan pelan. Dia tahu sirene tidak boleh dihidupkan selama SCP-032-ID lepas. Lira sudah memberitahukannya mengenai itu.

“Toni tidak bisa mengakses lantai atas, kan?” Dia kembali bertanya. Lira berbalik dan menjawab, “Akses jelas dikunci begitu terjadi pelanggaran penahanan, jadi itu sisi baiknya. Sisi buruknya tidak ada bantuan yang akan datang jika keadaan menjadi lebih parah.”

Lira berhenti sejenak sebelum menunjuk ke arah para penjaga di ruangan. “Yang luka parah tidak bisa dibawa ke bangsal medis lantai Keter, contohnya.”

“Aku cuma perlu kau menjawab pertanyaan pertamaku saja…” Kata Balefire. Dia meraba bagian lukanya yang sudah dijahit dan berlapis perban. “Menurutmu apa aku bisa berjalan sekarang?”

Lira diam menatapnya seakan dia seharusnya tahu sendiri jawabannya. Jadi Balefire lanjut berkata, “Kau sendiri tahu, kan? Kalau ini bukan yang terburuk yang pernah kualami.”

Lira mengalihkan pandangannya selagi menjawab, “Seharusnya kusarankan untuk tidak bergerak paling tidak sehari, tetapi kuanggap kau punya daya tahan yang sama dengan para penjaga yang harus kembali bertugas setelah kurawat.”

“Aku tak akan bertanya bagaimana kau bisa mendapat luka itu.” Lira menambahkan dengan pelan.

Balefire dengan perlahan mencoba berdiri dan berkata, “Baguslah. Toni masih di luar sana dan aku tak ingin siapa pun memukuli kepalanya selain aku dengan kapakku.”

Lira diam mendengar hal itu. Selagi Balefire mencoba berjalan, Lira akhirnya berkata, “Apa menurutmu… Toni memang tidak dapat dimaafkan lagi?”

Sebuah pertanyaan yang tidak diduga. Balefire menatap ke arah Lira, mulai mengingat bahwa dia dan atasannya bergabung di situs ini bersamaan dengan Toni. Dia tidak tahu seberapa baik pertemanan mereka, tetapi tetap saja mengetahui seseorang yang kau kenal dekat sedang diburu tentu tidaklah mengenakan.

“…Itu tergantung Toni apakah dia akan berkooperasi atau tidak.” Hanya itu jawaban yang bisa Balefire berikan.

Lira tidak menanggapi. Dia berjalan menuju salah satu meja di samping ranjang sebelum berkata, “Herria berada di kantin. Ku sarankan kau ke sana jika mau mencoba mencari Toni.”

Balefire memegang gagang pintu keluar dan membukanya. “Terimakasih untuk itu.” Katanya selagi membukanya dan melangkah ke luar.

Dia mengamati sekelilingnya; kantin berada tepat di samping bangsal medis, jadi rutenya aman. Tetapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengintip ke area sel penahanan Euclid. Dengan perlahan dia mengamati dari balik dinding; beberapa personel keamanan sepertinya tengah berkumpul di depan pintu salah satu sel. Sebuah meja besi dari kantin telah dibalik sebagai pelindung, mengingatkannya akan insiden lepasnya SCP-014-ID-B. Entah apa yang mereka lakukan di sana.

Balefire tidak membuang waktu lebih lama lagi dan langsung melanjutkan perjalanannya ke kantin. Area kantin penuh personel keamanan dan peneliti. Meskipun banyak orang, ruangan tidak dipenuhi suara nyaring teriakan dan pembicaraan. Sepertinya SCP-032-ID masih di luar sana. Dia melihat sang kepala keamanan, Herria, tengah duduk bersandar di depan sekumpulan dokumen di meja. Dia lumayan heran tidak ada botol minuman di dekatnya, mengingat kebiasaannya.

Balefire berjalan mendekatinya, memikirkan apa yang harus dikatakannya. Dia tahu Herria menyadari keberadaannya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Baru ketika sampai di depan mejanya, Balefire akhirnya berkata, “Aku yang akan mencari Toni. Katakan di mana aku harus mencarinya.”

Herria akhirnya melirik ke arahnya dan berkata, “Aku tidak menduga kau akan bertanya seperti itu. Tidak dengan lukamu itu. Ya, kami tahu dia pelakunya. Tidak, kami belum sempat mencarinya. Dan tidak, aku tidak punya petunjuk di mana dia ataupun SCP-019-ID berada sekarang.”

Sebuah jawaban tidak berguna. Balefire hanya bisa berdiri diam di depan Herria sebelum memutuskan untuk ikut duduk di sisi berseberangan dengannya.

“Aku sudah mengupayakan SCP-019-ID agar tidak kabur. Jadi apa-apaan ini?” Balefire jelas terdengar kesal dari balik maskernya.

“Tidak ada yang menyalahkanmu, dokter. Seluruh personel penjaga sel Euclid dipukuli habis-habisan, aku bahkan tidak tahu bagaimana, apalagi siapa, tetapi jelas Toni punya bantuan internal.” Herria membalas.

“Maksudmu agen Insurgent lain??” Tanya Balefire begitu memahami apa yang Herria katakan.

“Jelas. Tapi aku cuma kenal beberapa yang memiliki kemampuan berkelahi seperti itu di situs ini. Hampir semua bekerja di lantai Keter, dengan pengecualian satu orang yang bekerja di lantai Safe. Semua tengah kami interogasi saat ini.”

Herria sudah selesai menjelaskan sisi ceritanya. Balefire diam memikirkan apa yang harus dia tanyakan selanjutnya.

Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka. Seorang personel keamanan berdiri di pintu masuk samping. Dia langsung berlari mendekati Herria sebelum melapor, “Pak Herria, Agen Rupert berhasil memasukkan kembali si pemakan kuku itu!”

“Bagus, artinya sisa tiga lagi…” Herria berkata pelan. Dia menyisihkan salah satu dokumen ke pinggir dan meletakan dokumen lain di depannya.

“Pak, mengenai Agen Rupert… dia meminta izin swasida.” Si penjaga berkata lagi.

“Kalian sudah pastikan dia selesai muntah sebelum diberi amnestik?” Tanya Herria. Sang penjaga mengangguk dan mengiyakannya. Herria mengembuskan nafas sebelum berkata lagi, “Itu artinya kalian pembohong yang buruk. Biarkan selama beberapa saat sebelum pemberian amnestik lagi.”

Jawohl!” Sang personel keamanan mengangguk paham sebelum pergi ke luar. Balefire menatap kepergiannya sejenak sebelum menoleh ke Herria dan berkata, “Anomali apa yang dia rujuk?”

Herria menatap ke arahnya selama beberapa saat sebelum memutuskan untuk berkata, “Sebaiknya kau tidak usah tahu saat ini. Yang perlu kau tahu sekarang adalah setidaknya cuma ada dua anomali di luar sana yang masih berkeliaran.”

“Aku ingin ikut jika kau berencana mencari Toni nanti.” Balefire memutuskan untuk melanjutkan percakapannya tadi.

“Kau tahu kau cuma seorang peneliti, bukan? Kau tidak bisa seenaknya meminta hal itu kepadaku.” Herria cuma menyindir permintaannya.

Balefire hanya mengeluarkan salah satu kapaknya sebagai balasan. “Kau tahu kau yang menugaskanku untuk mencari dan membawanya kepadaku. Dan aku sedang termotivasi untuk bekerja saat ini.”

Herria terkekeh sebelum membalas, “Aku kepala keamanan. Meskipun kau pengkhianat, kau tetap seorang peneliti Yayasan. Membiarkanmu di luar sana melanggar tugasku.”

Balefire hendak membantah lagi, tetapi di tengah percakapan mereka, seorang personel keamanan kembali membuka pintu dan bergegas berjalan menuju Herria. Yang dikatakannya cukup singkat,

“Pak, SCP-031-ID lepas.”

Dengan seketika Herria mengalihkan perhatiannya ke petugas tadi dan langsung meminta detailnya. “Bagaimana bisa?! Bukannya kalian sudah mengawasi semua posisi SCP-030-ID-A?”

“Kami terpojokkan SCP-032-ID, Pak. Raksaksa bertudung itu berdiri tepat di samping barikade kami. Kami baru bisa menangkap SCP-030-ID-A terakhir barusan setelah dia menjauh.“ Elak si penjaga.

“Kau bisa mulai dari kabar baik itu seharusnya. Jadi ke mana anak itu lari?” Tanya Herria. Si penjaga hanya menggeleng tanda akan ketidaktahuannya.

Herria mengembuskan nafas kesal melihatnya.

“Maaf, Pak. Jika saya boleh menambahkan lagi, personel kita terjebak di ruang penahanan SCP-032-ID. Sayangnya entitas itu sendiri tidak mau masuk dan berdiri diam di depan pintu penahanannya sendiri.” Lanjut si penjaga tadi.

Blyat…”

Herria kemudian menoleh ke arah Balefire yang sedari tadi menyimak percakapan mereka. Dia berkata, “SCP-031-ID merupakan seorang pemuda dengan paranoid tinggi terhadap kayu. Jika dia sampai melihat kayu, kita akan mengalami pelanggaran penahanan lagi. Itu saja yang kau perlu tahu. Ku rasa profesi lamamu akan berguna, jadi jika kau merasa mampu membujuknya kembali ke sel, kau bisa keluar.”

“Tanpa penjaga?”

“Kau yang meminta bukan?” Herria balik bertanya. Tetapi dia lalu menambahkan, “Tetapi kita tidak bisa apa-apa saat ini. Tidak ada yang mau mengambil risiko berhadapan dengan SCP-032-ID. Jadi kita menunggu spesialisnya.”

Balefire hanya menatapnya heran. Herria tidak menanggapi dan kembali bersandar di dinding di belakang kursinya. Balefire akhirnya ikut diam menunggu siapa pun yang Herria maksud.

Beberapa saat kemudian segerombolan orang masuk dari pintu depan kantin. Mereka mendorong maju seseorang di antara mereka. Herria langsung berdiri dan berjalan cepat ke arahnya. Balefire yang melihatnya ikut berdiri dan mengikutinya.

Begitu berada di depan orang yang paling depan, Herria langsung mencengkram kerahnya. “Enam jam menunggumu bangun tidur, makan, dan bersiap. Semoga SCP-032-ID memusnahkanmu kali ini…” Katanya pelan. Orang yang diajaknya bicara tidak membalas. Dia hanya menatap Herria dari balik visor kuningnya.

Herria lalu melepaskan kerahnya. Perhatiannya tertuju pada Balefire dan dia pun berkata, “Kau akan keluar bersama perempuan ini. Dia spesialis SCP-032-ID.”

“Huh,” Hanya itu yang Balefire katakan. Setelah dilihat lagi, meski pendek, Balefire dapat melihat rambutnya yang hitam dari sisi belakang helmnya. Antara dipotong pendek atau disembunyikannya, meski Balefire menduga kemungkinan yang pertama. Setelah melihat bagian mukanya, Balefire baru menyadari terdapat stiker kelinci putih kecil di helmnya. Dia sebenarnya tidak terlalu terkejut seorang perempuan bisa menjadi personel keamanan Yayasan, tetapi jika ada yang mengganggu pikirannya, itu adalah mengenai sikapnya yang tidak bereaksi sedikitpun terhadap Herria yang kesal padanya.

Sementara pandangannya tertuju padanya, personel spesialis tadi tidaklah memedulikannya dan berjalan melaluinya. Balefire hanya bisa memandanginya saat dia berjalan ke bagian dapur kantin dan kembali dengan membawa beberapa bilah pisau dapur yang dia masukan ke dalam kantong-kantong di rompinya. Dia berpapasan lagi dengan Balefire dan tidak memedulikannya sama sekali selagi dia berjalan menuju pintu keluar.

“Kau menunggu dia mengajakmu ikut? Dia bisu karena SCP-032-ID, jadi cepat ikuti dia.” Herria berkata tiba-tiba.

“Oh…” Hanya itu yang Balefire katakan selagi setengah berlari keluar kantin.

Dia menemui penjaga tadi yang tengah mengamati keadaan dari pinggir dinding. Belum sempat Balefire mendekatinya, dia mulai berjalan mendekati area penahanan. Tentu saja sang dokter terpaksa harus segera berlari mengiktuinya.

Kini mereka berada di depan pintu bangsal medis. Dari balik si penjaga, Balefire bisa melihat sesosok makhluk berjubah gelap di ujung koridor. Ia pasti SCP-032-ID yang dimaksud.

Fakta bahwa dia bisa melihat makhluk itu dari kejauhan mengingatkan Balefire bahwa posisi mereka terbuka saat ini. Dia bisa melihat meja kantin yang dijadikan barikade sebelumnya masih di sana tanpa adanya penjaga.

Tiba-tiba pikiran Balefire buyar begitu menyadari penjaga di depannya mengayunkan lengannya dengan cepat. Sedetik kemudian barulah dia sadar bahwa perempuan di depannya baru saja melempar salah satu pisau yang dia bawa tepat ke arah SCP-032-ID.

Sebelum Balefire bisa bereaksi terhadap apa pun, orang di depannya langsung lari ke depan. Dia tidak tahu apakah lemparan penjaga tadi kena atau tidak karena dia hanya bisa fokus mengikutinya. Dia berhenti tepat di depan pintu penahanan SCP-014-ID-B dan langsung memasukkan kode pintunya.

Balefire tidak bisa membantah apa pun dan hanya mengikutinya masuk seketika. Setelah mereka berdua masuk, penjaga tadi langsung menekan tombol penutup pintu otomatis ruangan tersebut. Sebelum pintu tertutup sepenuhnya, dia sempat mengganjalkan salah satu pisaunya di pintu, mengakibatkan pintu tidak dapat tertutup sepenuhnya.

Setelah selesai, mereka pun berdiri diam di samping pintu tersebut. Balefire hanya membisikkan satu kata, “SCP-014-ID-B?”

Balefire setengah tidak menduga orang di sampingnya menoleh ke arahnya. Dia cuma menggerakkan telunjuknya ke depan visornya. Isyarat untuk diam. Balefire memutuskan untuk tidak membantahnya dan berganti mengamati area sekitarnya. Area penahanan SCP-014-ID-B gelap gulita jikalau tidak ada cahaya masuk dari celah pintu tadi. Benar-benar mengingatkannya saat dia dan Toni pertama masuk ke sini.

Dia tidak memedulikan itu. Tidak saat tiba-tiba sesosok makhluk pucat muncul dari balik bangunan di dekatnya.

Sesosok berubah menjadi segerombol. Balefire bersiap menggenggang kedua kapaknya selagi melirik ke arah penjaga di sampingnya. Orang di sampingnya hanya berdiri diam menatap mereka selagi sesekali melirk ke arah celah pintu.

Akhirnya sesosok entitas pucat berjalan maju ke depan gerombolan. Ban lengan merah dan pistol, Balefire tidak akan bisa melupakan SCP-014-ID-B-1 sejak terakhir lolos darinya. Tentu saja ‘Sang Jagoan’ langsung menodongkan pistolnya ke arah mereka berdua.

Akhirnya perempuan di sampingnya melakukan sesuatu dengan maju beberapa langkah. Tangannya memberikan serangkaian isyarat yang entah artinya apa. Pada saat itu, sesosok makhluk lain maju ke depan juga, kali ini dia berkacamata meski tanpa kacanya. Bunyamin, tentu saja. Dia mengamati orang di depannya yang tengah berbicara dalam bahasa yang ia pahami dan langsung membalas dengan serangkaian isyarat tangan pula.

Awalnya Balefire menduga orang di depannya tengah melakukan semacam negosiasi, tetapi dia perlahan mulai mundur mendekati pintu. Begitu dia meraba dua bilah pisau, Balefire menyadari apa yang tengah dia lakukan tepatnya dan mengambil ancang-ancang. Perempuan ini ahli melempar pisau untuk target jarak jauh dan berkemungkinan tidak akan melakukannya untuk perkelahian jarak dekat melawan banyak entitas sekaligus. Jadi cuma satu dugaan Balefire mengenai apa yang akan dia lakukan.

Dengan cepat perempuan di depannya berbalik dan membuka pintu penahanan. Entitas SCP-014-ID-B yang berkumpul langsung lari. Tidaklah mengherankan karena begitu Balefire menoleh ke arah pintu, SCP-032-ID berada tepat di depan pintu masuk. Sang penjaga langsung bereaksi cepat dan melempar sebilah pisau ke arah pintu ruang pengujian. Begitu mendengar suara dentuman keras dua besi berbenturan, dia tidak membuang waktu untuk langsung berlari. Tidak lupa dia menendang pisau penyok yang tadinya mengganjal pintu penahanan. Balefire juga keluar mengikutinya. Sang penjaga menekan tombol pintu dan pintu kembali tertutup.

Tujuan mereka berlari sekarang adalah lurus ke arah barikade yang telah dipasang. Sang penjaga berlari cukup cepat, Balefire sendiri tidak yakin apakah dia bisa mengejarnya. Entah kenapa saat hampir mendekati barikade, dia langsung menarik Balefire dan loncat ke balik meja yang telah digulingkan itu. Dia kembali mengisyaratkan sang dokter untuk diam.

Keadaan tidaklah terlalu hening karena dengan samar mereka bisa mendengar suara langkah kaki berat dan samar mendekat. Sang penjaga menunjuk ke arah pintu di dekat mereka. Balefire menoleh ke belakang dan mendapati tulisan SCP-032-ID di pintunya. Mereka telah sampai.

Si perempuan tadi langsung sigap mencoba berdiri dan mendekati pintu penahanannya. Pintu tebal tersebut telah penyok di tengahnya, jelas dibuka paksa oleh penghuni ruangan itu sendiri. Mereka tidak perlu membuka apa pun dan langsung masuk ke dalam.

Berbeda dengan area penahanan SCP-014-ID-B, ruang penahanan ini memiliki pencahayaan terang bak ruang tunggu di dekat lift sana. Di dalam mereka berdua menemui dua orang personel keamanan dan seseorang yang mengenakan kemeja warna krem.

“Makan waktu cukup lama, Anna!” Salah satu dari mereka berbicara kepada perempuan di samping Balefire. Dia tidak membalas apa pun.

“Kawan, ngapain kau ke sini??” Salah satunya lagi mendekati Balefire. Yang ini mengenakan perangkat penglihatan malam atau semacam itu.

“Apa aku mengenalmu?” Balefire bertanya. Setengah tidak ingat dan setengah tidak peduli.

“Bisa aja kau ini. Ini aku, Agen Senior Ramun. Yang jaga SCP-019-ID.” Dia membalas setengah bercanda. Mungkin lega dia merasa sudah diselamatkan atau semacamnya dengan kehadiran mereka.

“Oh, yah.” Cuma itu yang Balefire katakan. Dia ingin menyindir kelalaiannya dalam lepasnya SCP-019-ID, tetapi dia tahu teknisnya dia juga menyindir seluruh personel area penahanan kalau seperti itu.

Seseorang lagi berjalan mendekati kerumunan. Dia satu-satunya peneliti di sini selain Balefire. “Baguslah kalian datang. Kita bisa mulai mencoba memancing SCP-032-ID sekarang.” Katanya. “Tapi ke mana personel kalian yang lain?”

Hening di antara Balefire dan penjaga yang datang bersamanya. Dia memang tidak bisa bicara, jadi Balefire memutuskan untuk mengambil inisiatif untuk berkata, “Cuma kami berdua yang dikirim ke sini.”

Peneliti tadi diam seakan menunggu lanjutan kata-kata Balefire, kemudian dia akhirnya berkata, “Tolong bilang kau bercanda.”

“Aku tidak ingat kapan terakhir aku bercanda.”

“Ga, gimana caranya kita menahan SCP-032-ID cuma modal dua orang saja??” Si peneliti berkata dengan frustrasi.

Seorang penjaga mengangkat salah satu tangannya untuk mendapat perhatian sebelum berkata, “Sebenarnya tidak ada personel yang mau mengurus makhluk itu selain perempuan ini. Dia selama ini berhasil kok menangani penahanan ulang SCP-032-ID berkali-kali sendirian.”

Si peneliti menatap tak percaya ke arah pria itu, lalu ke arah Anna. Dia berkata, “Kau tak akan mengatakan sesuatu?”

Tentu saja, Anna cuma diam menatapnya.

“Uhh… dia bisu.” Si penjaga terlambat menjelaskan.

“Kalian semua pasti bercanda…” Dia berjalan ke arah Anna. Tangannya merogoh sesuatu di sakunya sebelum mengeluarkan ponselnya. Dia lalu menekan beberapa hal sebelum menampilkan aplikasi catatan bawaan ponsel. “Nih, ketik sesuatu.”

Anna meraih ponselnya dengan perlahan dan menatap si peneliti beberapa saat sebelum mulai menulis.

“Heh, kenapa kalian tidak mencoba melakukan itu? Memberikannya media komunikasi kepadanya?” Tanya Balefire ke penjaga tadi.

“Percuma. Sebelum terkena efek SCP-032-ID, yang dia katakan hanyalah hinaan. Ku rasa itu balasan yang pas untuknya.” Pria di sampingnya menjawab.

Balefire mengangguk mengerti. Dia kemudian lanjut bertanya, “Sepertinya kau tahu banyak mengenainya. Jadi, siapa dia dan bagaimana dia bisa berakhir di situs ini? Maksudku apa situs ini yang membuatnya bersikap-“

“Tidak.” Si penjaga menggeleng sebelum Balefire selesai bicara. “Namanya Marianna. Agen biasa. Dulu dia dipanggil Anna. Dia di sini setelah dihukum sebagai terduga pembunuh seorang peneliti. Ku dengar motifnya diduga karena kecemburuan.” Katanya. “Itu hanya dugaan. Tidak ada bukti kalau dia bersalah, makanya dia cuma dikirim ke sini sebagai hukuman.” Dia menambahkan.

“Ah oke.” Balefire mengangguk. Yep, ini memang neraka kok.

Pembicaraan mereka membuat Balefire tak sadar kalau Anna sudah selesai menulis dan menunjukkan tulisannya ke peneliti tadi.

“Sebentar,” Peneliti tadi berjalan menjauh ke sebuah meja begitu selesai membaca tulisannya. Dia meraih sebuah buku dan berkata padanya, “Buku ini cuma berisi 50-an halaman. Kau tahu apa artinya.”

Dia lalu mengalihkan perhatiannya ke seluruh orang di ruangan. “Baik, kebetulan aku tahu prosedur penahanan SCP-032-ID. Kita bisa memancingnya untuk masuk dan tetap di sini dengan buku ini. Dia akan diam untuk membacanya sampai selesai.” Katanya selagi mengangkat buku yang dia pegang agar dapat dilihat semua orang.

“Masalahnya ini bukan buku standar untuk prosedur penahanan. Aku cuma kebetulan mengambil ini saat terjebak di ruang interogasi. Bukunya tipis, jadi kemungkinan kita cuma punya waktu sekitar satu jam untuk mengalihkan perhatiannya sebelum dia keluar lagi. Kita akan keluar lewat pintu sana begitu ia masuk.” Dia menunjuk ke arah pintu di ujung ruangan. Dia lalu menoleh ke arah Anna. “Kupercayakan padamu.”

Semua orang kecuali Anna langsung berjalan ke sisi lain ruangan. Terdapat dua pintu di ruangan ini, dengan Anna berdiri agak jauh dari pintu pertama sementara sisanya bersiap tepat di depan pintu kedua, siap membukanya. Buku tadi diletakan di lantai, tepat di depan Anna

Dengan cepat Anna melempar pisau demi pisau ke pintu besi di depannya. Rentetan suara benturan nyaring memenuhi ruangan. Pada lemparan keempat, sebuah tangan menggenggam pintu rusak tersebut. Anna langsung lari dengan lincah ke sisi lain ruangan. Personel lain juga tidak membuang waktu dan langsung membuka pintu kedua dan keluar.

“Sukses!” Ramun merupakan yang pertama bicara.

“Aku tidak percaya kita berhasil.” Si peneliti menambahkan. “Baik, ku rasa aku akan menunjukkan… Siapa kau tadi?”

“Namanya Marianna. Dulu dipanggil Anna.” Jawab si penjaga.

“Baik, trims. Namaku Darel, Peneliti umum.” Si peneliti tadi menyodorkan tangannya, mencoba berjabat tangan. Anna hanya menatap tangannya dan lalu mukanya dari balik visornya.

“Baik. Ehm. Aku akan menunjukkan di mana kau bisa mendapatkan buku untuk umpan prosedur penahanan. Letaknya seingatku di penyimpanan suplai sana. Jujur saja aku bingung bagaimana bisa kau tidak tahu letaknya.” Kata Darel selagi menggaruk kepalanya. Mereka mulai berjalan.

“Kalian lakukan apa yang kalian inginkan. Aku ingin istirahat setelah melapor ke Herria.” Kata si penjaga. “Kau ikut, Ramun?”

“Yah. Aku duluan kalau begitu. Sampai jumpa Bale.” Kata Ramun selagi mengikuti personel tadi yang setengah berlari. Mungkin bersemangat karena tugasnya sudah selesai atau mungkin karena berhasil hidup setelah berhadapan dengan entitas berbahaya seperti tadi.

Balefire kemudian melirik ke arah personel yang tersisa. Anna mengetik dengan cepat di ponsel Darel yang masih dipegangnya. Dia lalu menunjukan layarnya kepadanya.

“Disediakan duluan, ya? Wajar sih kalau begitu. Tapi jujur, kami saja dikejar oleh makhluk itu sampai terjebak di sana. Kenapa kau mau mengurus makhluk itu sendiri?”

Anna kembali mengetik. Balefire memutuskan untuk mendekati mereka selagi mereka berjalan menuju ruang penyimpanan suplai, mencoba melihat apa yang Anna ketik.

Akhirnya Anna menunjukkan layar ponselnya ke Darel. Tanggapan Darel cuma satu kalimat, “Yang benar saja…”

Balefire mencoba melihat apa yang diketik Anna.

‘Itu menyenangkan.’

“Tidak mengherankan.” Balefire menanggapi.

Darel melihat ke arah Balefire di sampingnya dan berkata, “Oh, ya. Aku belum berkenalan denganmu. Namaku Darel, Peneliti Umum. Kau?” selagi menyodorkan tangannya lagi untuk bersalaman.

“…Aku cuma bisa dipanggil pakai kode nama, jadi namaku ‘Balefire’. Kau bisa memanggilku Bale.” Katanya selagi menjabat tangannya.

“…Lantai ini adalah lelucon…” Darel melepaskan jabatannya secara perlahan. Wajahnya entah kenapa menunjukkan ekspresi pasrah. “Jadi kenapa kau ikut bersama penjaga ini?”

“Ada satu lagi anomali yang lepas. Mereka mempercayakanku untuk membujuknya kembali.” Balefire menjawab.

Darel mengangguk mengerti. Dia kini berada di depan lab lantai Euclid dan berbelok ke sisi kanan menuju ruang suplai di belakangnya, diikuti Anna dan Balefire. Baru dia melanjutkan, “Ku kira yang tadi makhluk terakhir yang lepas. Jadi, siapa yang kau cari?”

“SCP-031-ID, kalau tidak salah. Entah kenapa nama entitas yang ditahan di sini berurutan.” Jawabnya lagi.

“Itu masih menjadi misteri, ku rasa. Seluruh sistem penomoran anomali Yayasan, maksudku. Juga, sayangnya aku tidak baca entitas yang itu, jadi maaf ga bisa bantu.” Balas Darel.

Mereka kini berada di depan ruang istirahat teknisi. Ruangan penyimpanan suplai hanya bisa dimasuki lewat sini. Anna maju untuk membuka pintu ruangan. Ruangannya itu sendiri entah kenapa gelap. Sayangnya sebelum Balefire atau Darel sempat bereaksi, Anna membukanya terlalu cepat dan langsung masuk dengan tidak sabar.

Untuk sesaat tidak ada yang terjadi padanya. Dengan mengejutkan, Darel merupakan yang pertama bereaksi dan maju untuk menarik Anna ke belakang. Seperti firasat mereka yang belum sempat tersampaikan. Sesuatu yang keras langsung menghantam bahu kanan Darel. Dia tersungkur kesakitan.

Sirine ruangan ternyata masih menyala meski tanpa suara nyaringnya, menghasilkan cahaya merah selama beberapa saat yang menerangi gelapnya ruangan. Saat itulah Balefire dan Anna dapat melihat seseorang mendekati Darel yang tengah merintih dan memegang bahunya yang dipukul. Dia memegang kunci pas di tangan kanannya. Perkakas itu digunakannya untuk langsung memukuli punggun Darel. Satu lagi orang muncul dari balik kegelapan dengan cepat dan ikut memukulinya.

Anna langsung maju dan mengeluarkan salah satu pisaunya, dia menubruk jatuh salah satu dari mereka dan langsung menikamnya dengan liar.

Balefire sendiri terdiam di depan, mencoba memikirkan apa, kenapa, dan bagaimana dari kejadian di depannya. Separuh dirinya ingin masuk dan mencoba mengatasi situasi, sedangkan separuhnya lagi ingin lari.

Tetapi seseorang kembali muncul dari gelapnya ruangan. Sirine ruangan kembali menyala, menunjukkan bahwa dia seorang penjaga…

…yang tengah memegang sebuah pisau lipat.

Konflik batinnya hilang, Balefire langsung masuk ke dalam, memegang kedua kapaknya begitu lampu sirine mati.

Kronik Situs-79

Bab 4: Pelanggaran Penahanan
« Perkelahian di Jalan Verona | Pesta dan Kekacauan Setelahnya | Permintaan Duel Tybalt »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License