Peneliti Junior Lucia Amelia tengah menjalankan shift malamnya saat itu. Lucy sebenarnya tidaklah yakin dia bisa menyebut dirinya tengah menjalankan shift-nya karena saat ini dia tengah duduk di sofa yang berada di ruang atasannya. Atasannya sendiri tengah duduk di meja kerjanya dan masih mengerjakan anomali terbaru yang tim mereka dapatkan sebelumnya. Dia bersikeras dirinya yang mengerjakannya dan meminta Lucy untuk duduk santai saja di sana.
Jadi di sanalah dia berada, tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan. Dia ingin mengeluarkan ponselnya, tetapi dia sudah melakukan itu beberapa jam yang lalu, jadi dia merasa tidak nyaman untuk melakukannya lagi sepanjang malam. Alasan yang sama kenapa dia tidak memilih tidur saja, karena dia sudah tidur sepanjang hari.
Lucy mengamati meja di depannya, penuh akan tumpukan dokumen. Lucy melirik ke arah atasannya sebelum melihat-lihat isinya. Kebanyakan mengenai anomali baru tim mereka, beberapa juga berkaitan dengan sesuatu mengenai relasi dengan pemerintahan. Lucy mulai melihat secara sekilas saja tumpukan kertas putih hitam di depannya.
Lucy lanjut membolak-balik dokumen di bawah meja. Dia rasa tidak apa-apa jika dia lihat dan baca karena mereka ditaruh di tempat terbuka seperti ini. Tiba-tiba Lucy merasa dirinya meraba sesuatu yang lebih besar dari tumpukan kertas. Dengan segera dia menarik benda itu keluar agar bisa dilihatnya.
Di antara tumpukan kertas tersebut ternyata terselip sebuah buku biru muda yang sudah usang. Dia mulai teringat atasannya sering membaca buku ini saat duduk di sini. Dia melihat kovernya dan mencoba membaca judulnya.
J. Bernlef
Hersenschimmen
Lucy tidaklah tahu apa artinya itu. Dia membuka buku tersebut dan menyadari seluruh isinya dalam bahasa asing.
Lucy melirik ke arah atasannya yang masih menatap layar. Dia rasa tidak apa-apa jika dirinya memulai percakapan kecil lagi. “Pak Herman, apa ini dalam bahasa Jerman?” Dia bertanya. Bahasanya memang mengingatkannya dengan Hansel dan rekan Jermannya.
Atasannya menjawab selagi mulai berdiri dari kursinya, “Belanda, tepatnya. Aku membacanya dulu saat masih remaja."
“Bapak kuliah di sana dulu?” Lucy bertanya. Ini mengingatkannya dengan dirinya sendiri saat pertama membaca To Kill a Mockingbird.
“Benar.” Herman membalas singkat, akhirnya berada di samping Lucy. Dia meraih perlahan buku yang dipegang Lucy dan melihat isinya. Tanpa sadar dia hendak duduk, membuat Lucy segera minggir menyisakan ruang.
“Saya sering melihat Bapak membaca buku itu. Apa isinya?” Lucy bertanya lagi.
“Cerita mengenai bagaimana dementia menghancurkan hidup seseorang. Secara perlahan.” Herman membalas tanpa memperhatikannya.
“Oh.” Lucy membalas. Dia tidak menduga bacaan atasannya akan segelap itu. Lucy kira untuk orang seperti atasannya, dia lebih memilih membaca buku romansa jadul atau semacamnya.
“Selain mendeskripsikan dengan cermat bagaimana tepatnya prosesnya. Ini menceritakan bagaimana akibat seseorang meremehkan dirinya yang mulai melupakan hal sepele sampai dia menyadari bahwa itu semakin merenggut banyak hal dari dirinya termasuk identitasnya pada titik dia tidak dapat lagi menutupinya.” Atasannya melanjutkan.
“Pada akhirnya dia tidak mengenali orang di sekelilingnya. Dan orang-orang tidaklah lagi mengenali dirinya sekarang.” Atasannya mengakhiri dengan menutup buku di tangannya dan meletakkannya kembali ke bawah meja.
“Cerita romansa tragis, ya…” Lucy perlahan mengomentari.
“Seperti itu.” Herman membalas singkat selagi berdiri dan berjalan kembali ke mejanya.
Tiba-tiba, terdengar suara sirine nyaring memenuhi ruangan. Lucy tersentak mendengarnya. Ini langsung mengingatkannya saat SCP-031-ID lepas dulu. Apa si Christopher di lantai bawah merencanakan sesuatu lagi? Pikir Lucy selagi dia menunggu penjelasan interkom.
“TERJADI PELANGGARAN PENAHANAN SCP-065-ID DI LANTAI: EUCLID. PERSONEL DILARANG KERAS KELUAR DARI RUANGANNYA SAMPAI PEMBERITAHUAN SELANJUTNYA.”
“Godverdomme!” Terdengar suara nyaring dari atasannya. Dia berbalik ke arah Lucy yang tersentak kaget selagi berkata, “Nak Lucy, tolong duduk saja di kursiku sana sebentar. Saya perlu menenangkan diri.”
Lucy mengangguk dengan heran dan segera berdiri dari sofa. Dia mengamati Herman dengan perlahan duduk di sofa selagi dirinya sendiri duduk di kursi atasannya.
Mengamati atasannya, dia memutuskan untuk membaca sendiri dokumen anomali yang dirujuk interkom sebelumnya di komputer atasannya seperti pada saat pelanggaran penahanan pertama yang dia alami. Dia meraih tetikus di meja atasannya dan memunculkan halaman basis data anomali Yayasan dan mencari designasi yang disebutkan tadi.
Dokumen berikut terbatas untuk Level 3/065
Halaman terbuka pada Level Akses 3. Lucy melirik ke atasannya yang sepertinya tengah berdoa pelan. Dia tidak pernah melihatnya seperti ini, jadi dia memutuskan untuk tidak mengganggunya. Dia juga memutuskan untuk mengubah Level Akses dokumen dengan levelnya sendiri yang masih 1.
Setelah menyegarkan halamannya, Lucy menyadari halamannya lebih pendek karena beberapa informasi dihilangkan. Dengan segera Lucy membaca kalimat di bawahnya yang dari tadi menarik perhatiannya karena warnanya.
KELAS PENANGANAN: KETER
Keter?! Lucy menatap dengan gugup, tidak menduga akan melihat kelas tersebut. Dia teringat situs tempatnya bekerja saat ini merupakan situs penahanan kelas Keter, tetapi dia juga ingat peringatan tadi menyebutkan lepasnya di lantai Euclid.
Dengan perlahan dia lanjut membaca Prosedur Penanganan Khusus di bawahnya.
Prosedur Penanganan Khusus: Sampel suara SCP-065-ID disimpan di dalam penyimpanan besi di ruang penyimpanan anomali kelas Keter. Akses hanya diperbolehkan bagi personel yang telah mendapat izin dari Direktur Situs.
SCP-065-ID tidak boleh diperdengarkan kepada siapa pun selain Kelas-D untuk tujuan pengujian. Membunyikannya tanpa izin terlebih di sekitar jarak pendengaran personel lain akan dianggap sebagai upaya pembunuhan dan personel yang melakukannya akan dieksekusi di tempat.
Jikalau SCP-065-ID digunakan, ruang pengujian harus dipastikan benar-benar kedap suara. Jikalau diyakini oleh 2/3 personel yang terlibat kalau telah terjadi kebocoran efek, ruang pengujian harus dikarantina dan kontak dengan pihak Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca harus segera dilakukan untuk membuat hujan buatan di atas situs pada malam harinya untuk memastikan.
Personel yang bekerja dengan atau di sekitar SCP-065-ID diwajibkan mengenakkan APD berupa penutup telinga dan berkomunikasi melalui bahasa isyarat setiap saat. Personel yang bekerja di lantai yang sama dengan SCP-065-ID disarankan membawa APD serupa yang telah disediakan. Alarm akan dihidupkan jika terjadi hujan saat malam hari sebagai peringatan.
Sesuatu mengenai suara, ya… Lucy berpikir. Jelas tidak mungkin menahan sesuatu seperti suara, apalagi jika ia menyebar dari orang ke orang. Pemicunya sepertinya adalah hujan malam, jadi Lucy menebak di luar situs sepertinya tengah hujan sehingga efek anomalinya aktif.
Dia lanjut membaca kalimat terakhir.
SCP-065-ID-1 harus dieksekusi. Personel yang menjadi SCP-065-ID-1 diharapkan mau berkooperasi dan melakukannya sendiri.
Apa yang… Lucy tertegun. Efek anomali ini tidak bisa disembuhkan sepertinya. Ini pertama kalinya Lucy melihat sesuatu seperti itu dikatakan di PPK. Mungkin itu penyebab utama kenapa anomali ini mendapat kelas Keter.
Dia beralih ke bagian deskripsi, yang dia yakini jelas lebih pendek dari sebelumnya. Terdiri dari rangkuman bahwa ini adalah suara kodok yang membuat orang mengeluarkan suara serupa saat hujan di malam hari.
Lucy tersadar bahwa itu artinya SCP-065-ID entah bagaimana tengah tersebar di lantai Euclid saat ini. Dia berharap personel di sana sudah mengamankan semua yang terkena efeknya, tetapi seharusnya ada pemberitahuan mengenai itu jika itu memang berhasil dilakukan.
Dia mengamati atasannya kembali, masih duduk diam di sofa. Lucy merasa kalau kekhawatiran akan anomali tersebut masuk ke lantai Safe merupakan hal wajar bagi para peneliti yang sudah di sini. Mereka pasti pernah mengalami hal separah ini sebelumnya.
Lucy tahu dia tidak seharusnya menganggunya saat ini, jadi mereka berdua hanya duduk diam tanpa bicara.
“Ini bukan pertama kalinya SCP-065-ID lepas.”
Lucy menoleh, Herman tidak lagi tertunduk tetapi dia juga tidak menatap ke Lucy. Tetapi pada akhirnya dia menoleh ke arah Lucy dan tersenyum.
“Maaf membuatmu khawatir tadi. Tetapi peringatan tadi sama mengejutkannya bagiku.” Dia berkata.
Lucy menggeleng dan membalas cepat, “Tidak apa-apa, Pak. Memang seharusnya personel Yayasan bersiap untuk yang terburuk, kan?’
Herman hanya membalas dengan senyumnya. “Mereka seharusnya mematikan lift antar lantai sebelum peringatan dibuat, jadi kau bisa tenang saja sekarang.”
“Baik.” Lucy membalas.
Meski begitu, Herman tidaklah beranjak dari sofanya. Keheningan canggung kembali memenuhi ruangan. Lucy memutuskan untuk gantian bicara dengan bertanya, “Jadi, apa Bapak pernah mengalami pelanggaran penahanan pertama mereka?”
“Ya. Yang pertama itu.” Balasnya selagi mengisyaratkan ke arah komputer di depan Lucy.
“Jadi ini insiden kedua mereka?” Lucy bertanya selagi mengamati halaman di depannya.
Herman perlahan menoleh ke arahnya dengan heran, “Kau membuka versi Level Akses 1?”
Lucy mengangguk. Atasannya cuma menggeleng sebelum akhirnya tersenyum dan berkata, “Buka saja dengan Level Akses 3.”
Lucy menuruti permintaan atasannya dan segera mengubah Level Aksesnya. Deskripsi pendek anomali tadi menjadi panjang setelah halaman disegarkan. Lucy ingin membaca tambahan detail pada bagian itu, tetapi dia lebih penasaran pada lampiran-lampiran yang baru ditampilkan. Terdapat satu yang tertulis jelas bahwa itu lampiran insiden, jadi itu yang dia baca duluan.
Insiden 065-ID-1:
Dua minggu pasca didapatkannya SCP-065-ID, terjadi hujan pada tanggal 13/10/2012 pukul 00.12 WIB. Pada saat itu, semua personel yang pernah mendengarkan SCP-065-ID mengeluarkan vokalisasi nyaring di saat yang bersamaan. Ini diikuti personel lain yang berada di dekat mereka. Aksi cepat segera dilakukan beberapa personel di sana dengan menetralisir personel sebanyak mungkin. Lift dimatikan dan personel dilarang keras untuk keluar dari ruangan mereka berada.Sekitar tiga jam kemudian hujan berhenti, mengakhiri insiden tersebut. Korban jiwa mencakup: 2% personel lantai Keter, 96% personel lantai Euclid, 12% personel lantai Safe.
Lucy hanya diam mengamati paragraf terakhir, tanpa sadar menutup mulutnya. Selain matanya yang terbelalak, keringat dingin perlahan muncul di wajahnya.
“96%…?” Tanpa sadar dia berkata.
“Ya,” Atasannya membalas, sepertinya mendengarnya tadi. “Tidak ada yang tahu efeknya dulu. Jadi seharusnya korbannya tidak sebanyak itu sekarang.”
“Tapi- tapi itu artinya cuma sekitar belasan orang saja yang selamat di seluruh lantai??” Lucy bertanya segera.
Herman mengangguk. “Mereka yang beruntung adalah mereka yang tak pernah mendengar SCP-065-ID dan kebetulan tidak berada di jangkauan efeknya seperti di ruangan mereka.”
Lucy mengangguk selagi tanpa sadar menjauhi layar monitor dan larut dalam pikirannya, memikirkan bagaimana hampir semua personel lantai Euclid tewas karenanya.
Lalu Lucy tiba-tiba teringat dia.
“Tunggu,” Lucy tiba-tiba berkata, “Bagaimana dengan si Christopher di bawah? Dia penyintas insiden itu?”
Atasannya menggeleng sebagai jawaban awal. “Dia dan istrinya dulu merupakan personel dari situs lain yang ditransfer ke sini untuk mengisi kekosongan personel di lantai Euclid.”
Dia punya istri? Lucy bertanya dalam hati, mencoba mengingat saat diperkenalkan dengan Christopher. Dia tidak ingat keberadaan istrinya pernah dirujuk sebelumnya. Itu sampai dia teringat alasan kenapa orang itu ingin atasannya mati. Jones berkata penyebabnya adalah istrinya jadi korban insiden lain dan orang itu kini menyalahkan atasannya karenanya.
Dia tidak tahu apa yang terjadi sehingga keadaan menjadi seperti sekarang, jadi dia memutuskan untuk bertanya, “Jadi bagaimana ceritanya dia… ehm, menjadi seperti sekarang?”
“Insiden dengan SCP-007-ID.” Atasannya membalas, dia kembali menunduk. “Saat itu istrinya menjalankan percobaan sebagai asistenku bersama Agen David.”
Lucy memejamkan mata secara reflek. Dia tidak ingin teringat pada insiden itu lagi. Tetapi dia tidak punya pilihan lain karena memang dirinya yang bertanya.
“Itu juga merupakan insiden pertama SCP-007-ID, dan sayangnya meski tidak ada korban yang meninggal, tetap saja telah mencederai dua orang secara permanen.” Herman berkata.
“Dan itu salahku menjadikannya asisten…” Dia berbisik pelan.
Lucy menatap atasannya dengan rasa kasihan. Istri Christopher memang mengalami insiden mematikan dan Christopher sendiri tidak bisa disalahkan atas keinginan balas dendam tak berarahnya. Tetapi jelas baginya yang paling buruk nasibnya adalah atasannya yang hanya sekedar menjadi atasan semata.
Onyx pernah berkata Herman hanyalah orang baik yang dimakan kemalangan situs. Jadi Lucy rasa kini gilirannya untuk berdiri mendampinginya sebagai asistennya. Dengan perlahan dia melangkah menuju sofa dan duduk di samping atasannya yang tertunduk.
“Itu bukan salahmu, Pak. Anda orang baik yang hanya terkena hari yang buruk saja.” Lucy berkata pelan.
Mereka duduk diam selama beberapa saat. Sirine belum mati dan tidak ada pengunguman kalau insiden di luar sana sudah selesai diatasi.
“Terima kasih.” Herman membalas pelan. Kali ini menoleh ke arahnya dengan senyum.
Meski segala yang tengah terjadi, keadaan di ruangan itu tenang penuh kedamaian.
”Kyrie, eleison.”
Kronik Situs-79
Epilog
« Peringatan Hujan | Permintaan Pengampunan | Hari Insiden Itu »




