Lorong area mess Lantai Safe malam itu sunyi layaknya hari biasa. Berbeda dengan mess pada lantai di bawahnya, tidak banyak personel yang menempati ruang istirahat yang telah disediakan di sana. Personel Lantai Safe yang sebagian besar terdiri dari Peneliti biasa dan beberapa agen lapangan lebih memilih pulang ke rumah mereka sendiri atau ke kontrakan terdekat dari situs, menyisakan personel keamanan shift siang dan peneliti lain yang memilih tinggal di situs untuk yang beristirahat di sana.
Itu karena meskipun tiap ruangan mess cukup luas untuk tidak memberikan klaustrofobia, tetap saja tidak dapat mengalahkan sensasi kebebasan menghirup udara segar di luar situs. Tidak peduli kalau mereka harus menginap di kamar kos sederhana atau berkendara berpuluh-puluh kilometer untuk pulang-pergi situs, beberapa lebih memilih itu daripada memandangi dinding abu-abu dingin situs Yayasan saat pagi dan malam.
Dan memang itu adalah kemewahan yang tidak semua personel beruntung bisa dapatkan. Beberapa peneliti mungkin terpaksa bersiaga di situs, bersiap akan panggilan tugas dadakan mengenai anomali yang mereka teliti atau lembur karena mengetahui dirinya di ambang sebuah terobosan. Bahkan personel keamanan tidaklah dapat merasakan kemewahan itu sama sekali kecuali saat hari libur dan bukan shift-nya, karena jelas tidak ada yang tahu kapan situs memerlukan seluruh penjaga yang ada jika terjadi bencana pelanggaran.
Waktu sudah mendekati tengah malam dalam beberapa jam. Lorong area mess tersebut sunyi tanpa orang. Suara kehidupan hanya berasal dari kejauhan, berasal dari segelintir peneliti yang memilih lembur malam itu.
Dalam kesunyian itu, salah satu pintu ruangan mess terbuka perlahan. Pintu tersebut tidaklah terbuka sepenuhnya; dari balik celah kecil pintu yang sedikit terbuka itu, terdapat tatapan mata yang mengawasi sekeliling area di depannya.
Pada akhirnya pintu tersebut sedikit terbuka lagi dan kali ini keluarlah seorang pria yang mengenakan kaus putih yang ditutupi jaket hitam serta celana hitam panjang. Dia mengamati ke arah CCTV di ujung area mess dan menurunkan topi hitamnya sedikit agar menutupi wajahnya meski dia tahu itu tidaklah perlu dilakukan.
Dia lalu berjalan cepat menuju area kantor pribadi. Langkahnya tergesa-gesa, tetapi dia usahakan tidak membuat suara. Begitu mendekati ruangan yang bertuliskan ‘A3’, dia melambatkan langkahnya dan melirik ke bawah. Dia pernah mendengar sesuatu mengenai SCP-007-ID menanam ranjaunya di sana. Sekarang keramik pengganti yang mereka pasang sudah menyatu dengan rapi bak selalu seperti itu sejak dulu. Dia tidaklah terlalu memikirkan hal tersebut, alasannya adalah bukan dia yang melakukannya.
Dia lalu melanjutkan perjalanannya sampai ke ujung area. Dia lalu melirik perlahan ke balik dinding yang memisahkan area tersebut dengan area kantor umum. Pandangannya tertuju ke arah pintu pembatas antara ruang kantor dan ruang penahanan di depannya. Pendengarannya ditajamkannya untuk mendengar apakah ada langkah kaki mendekat. Setelah yakin tidak ada orang yang mungkin masuk, dia berjalan cepat ke seberang ruangan, menuju ruang auditorium.
Ruangan di depannya tertutup rapat. Pintu ganda besar berlapis besi di depannya berdiri kokoh bak tidak akan terbuka tak peduli seberapa keras ia dibobol. Dia tahu ini satu-satunya ruangan yang menghubungkan seluruh lantai situs selain lift.
Tidak ada lubang kunci di sana, tidak ada tempat memindai kartu juga. Pintu tersebut bersamaan dengan pintu serupa di lantai Euclid cuma bisa dibuka dari dalam. Itu artinya hanya personel dari lantai Keter yang bisa membuka pintu tersebut.
Pria tersebut sudah lama mengetahui hal tersebut. Yang dia lakukan adalah mengetok pintu besi tersebut beberapa kali. Tidak ada irama maupun ritme, cuma beberapa ketukan yang seiring waktu terdengar tidak sabaran.
Beberapa saat kemudian pintu ganda di depannya mulai terbuka perlahan. Dia menoleh ke langit-langit ruangan dan mengamati sebuah kamera CCTV di pojokan. Dia yakin siapa pun yang mengurusnya pasti seseorang seperti dirinya juga. Dia menghembuskan nafas dan melangkah masuk ke dalam. Begitu di dalam, pria tersebut menekan tombol di samping pintu tersebut, membuat pintu ganda tersebut kemudian tertutup lagi secara perlahan.
Seluruh ruang auditorium gelap kecuali di area panggung, yang saat ini merupakan sumber cahaya seluruh ruangan. Lampu memang ada, tapi dia tahu jika nekat dinyalakan akan daya yang dimakannya akan memancing perhatian teknisi.
Dibanding dengan cahaya, ruang auditorium saat ini lebih dipenuhi suara musik.
Pria tersebut menggeleng selagi berjalan menuju ke arah panggung. Dia bisa melihat seseorang barusan duduk di salah satu kursi di deretan depan. Pria tersebut berjalan langkah demi langkah menuruni anak tangga. Dia tahu orang di deretan depan sana tidaklah mungkin turun dengan cara yang sama karena tidaklah mungkin dia sampai di sana secepat itu jika anak tangga yang harus dia pijak berjumlah ratusan. Orang itu selalu memakai metode tak wajar.
Pada akhirnya dia cukup dekat dengan orang di depannya sehingga dia berkata, “Apa tidak apa-apa kau menyetel musik di sini, Kak?”
Di samping pria itu duduk seorang perempuan berambut hitam panjang yang mengenakan jaket abu-abu. Sebuah headphone berwarna hijau tua melingkar di lehernya, tidak dia pakai karena dia tengah menikmati alunan musik klasik yang berasal dari pengeras suara yang dia letakan di kursi di sampingnya.
“Ruangan ini kedap suara, bukan?” Perempuan tersebut membalas dengan santai.
Pria tersebut menggeleng sebagai balasan. Dia lalu berjalan melaluinya dan menjauhkan sebuah papan kayu yang dia curigai dipakai orang di sampingnya untuk berseluncur menuruni tangga tadi supaya dia bisa duduk di sampingnya.
“Lagi pula, kita berdua tidak akan tahu kapan dia mulai berteriak, bukan?” Perempuan di sampingnya menunjuk ke arah panggung.
Tepat di tengah panggung, terdapat seorang pria yang memakai kaus abu-abu bernoda merah di sekitar lehernya. Kepalanya tertutup kain, dia hanya bisa terbaring karena kedua kaki dan tangannya terikat tali.
Pria tersebut menatap ke arah orang di panggung seraya berkata, “Kau mencoba melawan bahaya kognitif dengan musik?”
“Hah, tentu tidak. Tapi akan membosankan kalau aku cuma mendengar keheningan, bukan?” Perempuan tersebut membalas dengan santai.
“Tapi kenapa musik klasik? Bukannya kau suka yang lebih modern?” Pria tersebut kembali bertanya.
“Karena tempatnya. Lihat tempat ini, tidak mungkin kumainkan PATD di sini, kan? Tidak, kita perlu orkestra karena ini tempat opera. Jadi ku cari sekilas apa yang cocok dan akhirnya kupakai Requiem dari Mozart. Panjangnya cocok.” Jelas perempuan itu.
Pria di sampingnya mengangguk mengerti. Dia tahu kakaknya senang mendengarkan musik jika dia rasa situasinya cocok. Itu sebenarnya adalah kemewahan yang baru mereka rasakan saat pertama bekerja di Yayasan. Pengalaman mereka berdua dengan musik dulu hanya dari radio di persembunyian milisi di Sulawesi saat mereka masih muda.
Dia sendiri dalam hati tidaklah masalah akan hal itu, dia lebih memilih mendengarkan musik apa pun yang dimainkan kakaknya daripada mendengarkan propaganda milisi dulu, terutama karena bahasa Inggris lebih mudah dipahami daripada Arab.
“Jadi… untuk apa kau memanggilku ke sini kalau begitu, Kak?” Ku kira kau bisa mengantarnya sendiri ke lantai Euclid.” Pria di sampingnya bertanya.
“Oh ayolah, sudah seminggu sejak misimu selesai. Ini kesempatan bagus untuk kita bertemu, jadi kenapa tidak sekalian saja kau ceritakan mengenai itu?” Perempuan di sampingnya meminta, jelas tertarik.
Pria di sampingnya hanya melirik ke samping, merasa kakaknya terlalu perhatian seperti biasa. “…Misi berjalan normal…”
Lalu dia terdiam, tiba-tiba teringat kalau identitas aslinya tanpa sengaja terbongkar dengan dirinya menyebutkan serangkaian kode identifikasinya kepada para personel yang bersamanya. Dia dan kakaknya sebenarnya bukan personel Yayasan murni; mereka hanya disusupkan di sini sampai perintah berikutnya. Bocornya identitas aslinya bisa saja menyebabkan masalah nanti kedepannya.
Dia diam sekilas memikirkan apakah dia harus menyinggung insiden tersebut kepada kakaknya, tetapi dia lalu teringat apa yang kakaknya lakukan saat mengetahui dirinya terluka saat misi lain sebelum ini.
Jadi dia akhirnya berkata, “…Seperti biasa.”
“Baguslah kalau begitu.” Orang di sampingnya membalas dengan senang.
Mereka duduk diam mengamati bagaimana orang di depan mereka menggeliat sesekali. Setelah beberapa menit, musik yang dimainkan perempuan tersebut sepertinya mencapai klimaksnya. Akhirnya ruangan sunyi.
“Baik,” Kakaknya berdiri dan segera berlari ke arah panggung. “Bantu aku angkat dia!”
Si pria segera berlari mengikuti kakaknya ke panggung dan keduanya menggotong orang yang tergeletak tersebut keluar dari panggung. Terdengar musik kembali dari pengeras suara, sebuah musik klasik dengan suara sopran yang semakin meningkat.
“Huh, itu masih nyala?” Si pria yang menggotong di belakang berkomentar.
“Yah, kita punya waktu kurang dari lima menit untuk sampai ke lantai Euclid sebelum Kyrie dan Dies Irae habis. Makanya aku panggil kau kemari.” Si perempuan membalas selagi mulai menaiki anak tangga. Ternyata memang cukup sulit bagi mereka berdua untuk mengangkat seseorang yang tengah meronta naik tangga.
Mendekati setengah jalan, bisa terdengar suara tunggal tadi berubah menjadi orkestra dadakan yang terus meningkat, menandakan pergantian bagian. Perempuan tersebut memukul pinggang kiri orang yang digotongnya, menyebabkannya berhenti bergerak untuk beberapa saat dan memudahkan mereka mengangkatnya.
Pada akhirnya mereka berdua sampai di depan pintu ganda yang menghubungkan Auditorium dan lantai Euclid. Perempuan tersebut melepaskan pegangannya dan mengakibatkan orang yang digotongnya jatuh. Dia segera berlari ke arah panel di samping pintu dan menekannya agar terbuka. Pada saat yang bersamaan, musik berakhir sejenak untuk berganti ke bagian berikutnya. Akhirnya perempuan tersebut menghembuskan nafas lega selagi perlahan duduk.
“Apaan tadi itu, Kak? Kau tahu aku tak akan mau menyeretnya keluar sendirian, kan?” Pria tersebut berkata dengan nada kesal.
“Maaf, Bagas. Nyempatin saja tadi.” Kakaknya membalas dengan nafas berat dan ekspresi senang. “Puas banget, sumpah. Buka ikatannya, nanti aku ke sana.”
Pria tadi menggeleng selagi menyeret orang yang digotongnya mendekati kakaknya dengan cepat dan mulai melepas kain yang menutupi kepalanya, menunjukkan wajah pria tersebut lebam dan masih sedikit bernoda darah di hidung dan mulutnya.
“Juga, bukannya aku minta jangan manggil pakai nama asli atau kode nama sampai misi kita di sini selesai. Jadi tolong panggil aku Adrian.” Pria tersebut melanjutkan selagi membersihkan muka orang di depannya dengan kain yang digunakan untuk menutupi kepalanya tadi. Orang itu sendiri hanya menatapnya dengan ekspresi kosong seakan sudah pasrah akan nasibnya.
Dan nasibnya memang sudah diputuskan jauh sebelum dia diangkat naik ke panggung tadi.
“Heh, kan tidak apa-apa kalau cuma kita berdua.” Perempuan tersebut berkata selagi perlahan berdiri dan mendekatinya.
Pria di depannya berhenti menyapu darah di wajah orang yang dipegangnya. “Kau tak akan suka jika kupanggil kau James the Greater di depan temanmu di lantai Keter, kan?”
“Baik, baik. Maaf ya, Dri.” Dia membalas selagi menepuk pelan kepalanya dengan senyum. Dia lalu mengarahkan perhatiannya ke orang di lantai dan mulai memutus ikatan tangan dan kakinya. Bukan melepaskan sampul ikatannya, memutuskan ikatannya dengan paksa dan menghancurkannya karena itu.
Perempuan itu lalu membantu orang di depannya berdiri dan menyapu sedikit pakaiannya agar terlihat tidak kusut. “Baik, kau teknisnya sudah mati dan hanya menunggu penjaga untuk menyadari itu dan menembakmu. Jadi kenapa tidak membawa sebanyak mungkin orang bersamamu sekalian? Pergi ke depan pos pembatasan dan tunggu di sana selama… selama mungkin.” Katanya.
Perempuan tersebut mendorong orang tersebut keluar ruang auditorium diikuti pria tadi di sampingnya. “Ku sarankan kau nikmati hidupmu selama yang kau bisa dan tidak mencoba apa pun selain itu, atau hidupmu hilang dalam satu kedipan.” Perempuan tersebut berkata. Pria di sampingnya mengeluarkan sebuah pistol dengan peredam seakan menegaskan poin tersebut.
Perempuan tersebut lalu berjalan kembali ke auditorium. “Jangan lupa penutup telinga, Dri.”
Pria di sampingnya mendekatkan satu tangan ke dekat telinganya dan berkata, “Kau mengatakan sesuatu?”
Hanya terdengar suara tertawa pelan selagi pintu ganda di belakang pria tersebut kembali tertutup. Pria tadi menggeleng dan mulai memakai penutup telinga kecil sebelum mendorong orang di depannya untuk segera berjalan.
Seorang pria yang wajahnya lebam duduk diam di lantai dekat dinding, tepat di antara pintu masuk ruang istirahat personel keamanan dan pintu masuk ruang tunggu yang dikhususkan untuk peneliti yang ingin mengakses ruang penahanan kelas Euclid tetapi tidak punya izin.
Dia melirik ke arah samping, terdapat pos penjaga di sana. Seharusnya ada penjaga juga di sana, tetapi dia sudah tewas ditembak saat dia melangkah masuk bersama orang yang memaksanya berada di sana.
Orang itu berada di depannya, seorang pria yang mengenakan pakaian kasual dengan topi hitamnya menutupi wajahnya selagi dia berdiri bersandar di dinding.
Tiba-tiba seorang penjaga keluar dari ruang istirahat. Dia langsung menyadari keberadaan pria bertopi tadi.
“Malam.” Dia mengangguk sebagai salam sebelum berbelok ke kiri dan sepertinya terkejut menyadari keberadaan pria satunya yang duduk di lantai.
“Eh maaf, gak melihatmu tadi.” Penjaga itu berkata. Awalnya dia hanya berjalan melintasinya, tetapi dia dengan cepat menyadari pakaian pria di lantai bernoda darah. Dia langsung mendekatinya dan berkata, “Hey, kau terluka! Ada yang bisa ku bantu?”
Pria di lantai hanya menatapnya dengan kosong. Penjaga tadi lalu mengalihkan perhatiannya ke orang di belakangnya yang bersandar. “Hey, kalian berkelahi tadi?”
Pria yang bersandar hanya mengangkat bahu, membuat penjaga tadi mulai kesal dan berkata, “Jangan main-main, aku ingin keterangan mengenai apa yang terjadi di sini tadi!”
Selagi mengatakan itu, dia teringat kalau ada pos di pojok koridor. Dia langsung menoleh, hanya untuk menyadari tidak ada orang di sana. Dia melirik ke arah pria yang bersandar tadi sebelum berlari ke arah pos tersebut. Dia cukup melihat cipratan darah di dinding pos untuk menyadari apa yang terjadi.
Dengan cepat dia berbalik ke arah pria bertopi tadi, hanya untuk menyadari orang itu tengah menodongkan pistol dengan peredam ke arahnya. Penjaga tadi tersentak, dia sadar dia tidak membawa senjata apa pun selain baton di pinggangnya. Dengan perlahan dia mengangkat kedua tangannya.
Pria bertopi tadi sudah siap menekan pemicunya ketika sesuatu menarik perhatiannya. Dia menoleh ke kanan sekilas.
Tetapi sekilas merupakan waktu yang cukup untuk penjaga tadi agar bisa menyerang maju dan menubruknya jatuh. Pistol di genggaman tangannya jatuh. Secara fisik pria bertopi tadi lebih pendek dari penjaga tadi, jadi dengan cepat penjaga tersebut meniarapkannya dan menahan tangannya ke belakang.
“Sialan, siapa kau!?” Penjaga tersebut berteriak kesal. Dia melirik ke arah pistol di dekatnya dan langsung meraihnya selagi menodongkannya ke kepalanya. “Jawab aku!”
Sebagai balasan, pria bertopi tadi hanya tertawa pelan.
“Apa-apaan kau-“ Belum selesai penjaga tersebut bicara, dia mendengar suara nyaring di belakangnya.
Pria yang duduk di lantai yang mengeluarkan suara nyaring tersebut. Diikuti oleh penjaga itu beberapa detik kemudian.
Penjaga tersebut jelas terlihat sangat kebingungan mengenai apa yang terjadi dengan dirinya. Dengan cepat dia mengarahkan pistol yang dipegangnya ke arah pria yang duduk di lantai tadi dan menembakkannya. Kemudian dia langsung mengarahkannya ke pria yang ditahannya.
“Woy, ngajak orang kok lama amat?”
Si penjaga tadi menoleh seketika saat pintu ruang istirahat terbuka dan dua orang penjaga keluar dari ruangan. Dia melirik ke orang yang di tahannya, lalu ke arah pistol yang digenggamnya, dan terakhir ke arah para penjaga yang baru keluar.
Di tengah teriakan tak terkendalinya, dia akhirnya memutuskan siapa yang harus ditembak. Moncong pistol diarahkannya ke kepalanya sendiri.
Bang
Si pria bertopi tadi tidak sempat melirik apa yang terjadi setelahnya karena dia langsung mencoba bangun dan keluar menuju area penahanan selagi para penjaga tadi mulai berteriak juga.
Area penahanan sepi tanpa ada orang. Pria bertopi tadi mempercepat langkahnya menjauhi pintu pembatas. Dia tidaklah mempedulikan apa pun lagi yang tengah terjadi di sana sekarang.
Tugasnya sudah selesai, dia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya tadi di kantin saja.
Kronik Situs-79
Epilog
| Peringatan Hujan | Permintaan Pengampunan »




