Agen Senior Ermes Scherz tidak bisa menikmati perjalanannya saat berkendara dalam rombongan menuju antah-berantah di pedalaman Jawa Barat. Tidak mengimplikasikan Jerman, tempat kelahirannya dan tempat kerjanya dulu, tidak memilki hutan juga, tapi dia merasa asing di tempat ini. Selalu seperti itu walau sudah bertahun-tahun. Hal ini tidak akan pernah berubah.
Dia dan rombongan yang dipimpinnya sedang mengarah ke satu lokasi di daerah Sukabumi. Beberapa kilometer dari situs. Tujuannya, menurut yang dia terima saat briefing, adalah untuk mengadakan penelitian terhadap salah satu entitas yang situs mereka miliki. SCP-012-ID, tepatnya. Setan-setan kecil cempreng yang tengah menghantui fasilitas tempat dia sekarang bekerja. Ermes dan lima personel lain ditugaskan untuk mengawal Peneliti Junior Balefire selama dia mengadakan penelitian.
Nama yang menggelikan. Ermes pikir. Tapi itu memang bukan nama asli peneliti junior itu. Hanya codename-nya. Dia sendiri tidak tahu nama asli orang ini. Kabarnya nama aslinya tersedia untuk personel dengan level akses 4 ke atas, jadi dia meski berstatus sebagai level 3 hanya mengetahui nama panggilannya saja. Lucu, karena orang ini bahkan hanyalah level 1, tepatnya 2/012 untuk kasus ini.
Pria ini, dr. Balefire, Ermes tahu pria ini tidaklah bergabung ke Yayasan dengan wajar. Kabar yang dirinya terima, dia dari KDP lain yang ditahan Yayasan pada suatu insiden. Dia tidak tahu apa-apa lagi selain itu. Pertama kali dia bertemu dengannya saat di kantin umum Yayasan, dua minggu yang lalu. Bukan hanya Ermes, banyak personel situs yang kebetulan berada di sana untuk pertama kalinya melihatnya. Ermes ingat Balefire dikawal seorang personel selagi dia makan. Tidak ada borgol di tangannya, tetapi dia yakin kalau personel itu, selain menunjukan ruangan-ruangan di dalam fasilitas, juga bertugas untuk mengawasi gerak-gerik pria itu. Mengingatkannya akan misi ini; enam orang untuk mengawal pria ini, dia yakin mereka di sini tepatnya untuk mengawasinya. Pria ini berbahaya, hanya saja dia belum melihatnya.
“Mereka masih di belakang kita?” Personel di sebelah Ermes bertanya.
Ermes menoleh ke belakang. Dua personel lain tertidur di kursi belakang, Ermes hanya bisa menggelengkan kepala. Lalu dia mengatur spion belakang mobil untuk melihat ke arah belakang mobil, cahaya truk terlihat jelas.
“Mereka masih di belakang, kawan.” Ermes membalas.
“Menurutmu… apa menurutmu sopir truk masih memegang kendali? Kau tahu rumornya kan mengenai dokter ini?” personel itu bertanya lagi.
Ermes terdiam sejenak sebelum meraih radionya.
“Siapa nama pengemudi truk itu?” Ermes bertanya selagi memegang radio. Personel di sebelahnya mengangkat bahu.
Memang dipilih secara acak. Ermes berkata dalam hati. Semua personel yang menemaninya, selain hanya agen dan penjaga biasa, dipilih secara acak dari personel yang tidak bertugas. Hanya dia yang mengajukan diri begitu penawaran terbuka. Sebenarnya tujuannya mengajukan diri hanya untuk mencari muka di depan pimpinan saat itu. Apa pun untuk terlihat rajin. Apa pun untuk kembali ke Jerman, atau paling tidak ke situs yang lebih baik seperti 86. Dia tidak memikirkan risiko mengurus SCP-012-ID selama pengujian saat itu.
Apalagi risiko dengan pria ini…
Ermes tersadar dari lamunannya, tangannya yang masih memegang radio mengingatkannya akan apa yang tadi ingin dia lakukan. Dia pun menekan tombol di radio itu dan mulai berbicara,
“Untuk… uhh… personel di truk, apa keadaan baik-baik saja? Ganti.” dia bertanya.
Dia menunggu beberapa saat, nyaris mulai berpikiran macam-macam, sampai ada balasan,
“Kepada personel di mobil, keadaan kondusif, ganti.” Syukurnya personel yang bersama Balefire yang menjawab. Ermes mengingat suaranya saat briefing.
“Baguslah,” Ermes reflek membalas. Tetapi kemudian muncul rasa penasaran. Dia menekan tombol lagi, “Bagaimana kondisi dokter Balefire? Ganti.”
“Uh… Baik, kurasa? Dia terlihat menikmati perjalanan, ganti.” Balasan personel tersebut membuat Ermes penasaran.
“Maksud ‘menikmati perjalanan’? Ganti.”
“Dia tengah memandang ke samping selagi menyanyikan pelan musik apa pun yang disiarkan radio. Terdengar sedikit menakutkan mendengarkan suaranya yang teredam masker gas, ganti.”
“…”
Ermes tidak bisa berkata apa-apa. Pria ini adalah misteri.
Ada satu hal lain yang Ermes perhatikan dari Balefire saat dia pertama melihatnya. Yaitu, selain kode namanya yang absurd, ditambah juga mukanya ditutupi oleh sebuah masker gas standar taktis militer yang dipakainya pada hari itu. Bukan milik Yayasan, tetapi dari KDP asalnya. Dia pun masih memakainya saat ini. Ermes sendiri tidak tahu pasti kenapa Balefire memakai masker itu, dia hanya bisa menebak ada sejarah dibalik alasannya memakai masker. Tebakan yang muncul begitu dia melihat Balefire membuka masker gasnya untuk makan.
Sobekan besar di samping bibirnya. Itu yang Ermes lihat saat itu di pipi kanan Balefire. Seharusnya dia tidak memilih makan sup waktu itu. Air sup mengalir bebas di pipi kanannya, membuat Balefire mengambil beberapa tisu untuk menutupi bagian sobek di pipinya. Ermes bersumpah, pria itu mengingatkannya pada seniornya dulu di Jerman. Pria tua dengan luka bakar di sisi kanan mukanya karena ledakan. Dia rasa sudah baik kalau pria itu tetap memakai masker gasnya, tetapi sejujurnya dia juga tidak terlalu yakin mengenai itu.
Hentakan jalan membuyarkan lamunannya. Dia tengah mengendarai mobil standar Yayasan dengan truk berisi personel lain mengikuti di belakangnya. Lokasi pengujian anehnya bukan di lapangan standar pengujian, tetapi entah kenapa dokter ini ingin melakukannya di suatu tempat di antah berantah. Alasannya, saat ditanya salah satu personel ini, karena dua hal: satu karena pengujian ini perlu dilakukan secepatnya, kedua karena alasan pribadi yang tidak dia sebutkan. Alasan pertama mungkin masuk akal, karena mereka tengah berkendara sekitar jam satu malam. Hal ini Ermes rasa di luar kendali Balefire, karena dia cuma melaksanakan perintah. Jadi dia rasa Balefire hanya bisa mencari lokasi alternatif.
“Ermes, Balefire bilang kita hampir sampai. Ganti.” Radio Ermes berbunyi. Berasal dari personel yang mengemudikan truk di belakangnya. Truk yang bermuatan lima entitas SCP-012-ID. Dia membaca dokumennya, merupakan ide buruk memisahkan lima entitas ini, jadi ini harus menjadi misi cepat karena seluruh setan kecil itu tengah meronta, tidak, mengamuk di truk. Kabarnya situasi di situs lebih parah lagi. Ermes rasa keselamatan situs bergantung pada seberapa cepat mereka menyelesaikan pengujian.
Beberapa saat kemudian, Ermes melihat area kosong. Tanah lapang yang luas. Dia juga melihat semacam benda tinggi menjulang. Apa itu… sebuah tiang? Ermes berpikir. Dia meraih radio miliknya,
“Aku melihat lapangannya. Tanya ke Balefire apakah ini tujuannya? Ganti.” Dia bertanya.
Beberapa saat kemudian, muncul bunyi kecil dari radio, dilanjutkan dengan suara,
“Ya. Kita sudah sampai. Ganti.” Terdengar balasan pertanyaannya.
Inilah dia. Ermes berkata dalam hati. Dia turun dari mobil, meminta penumpang di sampingnya membangunkan tiga personel lain yang ketiduran, dan berjalan ke arah lapangan di sebelah kanan mobilnya. Dia melihat sebentar ke arah lapangan itu, fokusnya tertuju ke tiang tinggi samar di tengah lapangan itu. Setelah itu, dia menoleh ke kiri,
Dan dia melihat Balefire berjalan ke arahnya.
Dokter Balefire berjalan ke arah tiang besi usang di tengah lapangan. Dia mengamati sisi hangus di bawah tiang itu sebelum akhirnya melepas sarung tangannya dan memegang tiang itu. Dingin. Dia melepaskan pegangannya dan berbalik membelakanginya.
Selagi berjalan menjauh, dia mendekati Agen Senior Ermes bersama beberapa personel lain yang tengah menyeret entitas SCP-012-ID dengan rantai. Mereka seharusnya tidak akan membuat masalah selama kedua tangan mereka terus dipotong sebelum sempat beregenerasi.
“Baik, dokter. Kita di sini sekarang. Apa yang akan kau lakukan?” Agen Ermes berjalan mendekati Balefire.
Balefire terdiam sejenak. Ekspresinya tidak bisa dilihat karena masker gasnya. Tetapi akhirnya dia berkata, “Agen Ermes, kan? Kau ketua personel ini, kan? Aku tadi minta dibawakan tangga sebelumnya, ah, tanya saja dia” kata Balefire selagi menunjuk personel yang tadi menjadi sopir truk.
“Minta anak buahmu membawa orang sawah itu ke tiang di sana. Pakai tangga dan ikat salah satu dari mereka di puncak tiang. Aku ingin kau ikut aku sebentar.”
“Tunggu, maksudnya bagaimana? Apa rantainya dilepas dan kita ambil salah satu?” Ermes bertanya kebingungan.
“Yah, lepas saja rantainya saat sudah di sana. Tapi biarkan benang mereka saling terhubung. Aku ingin pikiran mereka tetap terhubung dengan benang itu.” Jawab Balefire.
“Tapi- Itu susah, dokter. Membawa salah satu dari mereka ke atas tiang dan mengikatnya selagi yang lain terhubung benang dan meronta? Jangan mempersulit kami!” Balas Ermes dengan kesal.
“Potong saja kaki dan tangan yang lainnya, tapi aku ingin yang diikat di tiang badan dan kakinya utuh. Lagi pula, bukannya aku bilang minta anak buahmu untuk melakukannya? Aku ingin bicara denganmu sebentar, jadi suruh mereka melakukannya!” Ermes tidak tahu ekspresi Balefire saat mengatakannya, tapi dari intonasi dan kecepatan suaranya, dia sedikit kesal juga.
“Tap- Ah sudahlah. Kalian dengar apa kata dokter ini, jadi bawa mereka!” Ermes memerintahkan personel lainnya. Terdengar keluh kesah dari mereka, tapi bagaimanapun, baik Ermes atau Balefire satu level lebih tinggi dari mereka. Mereka pun menyeret entitas SCP-012-ID ke tiang selagi Ermes berjalan di belakang Balefire.
“Kau bisa menebak kenapa aku bisa mengenal tempat ini?” Balefire bertanya selagi berjalan mengitari lapangan. Hanya Ermes yang memegang senter dan mereka terlalu jauh dari lampu sorot yang dipasang.
“Kau pernah ke sini, kan?”
“Yep.”
Rasa penasaran Ermes muncul kembali. Mungkin waktu yang tepat…
“Jadi, dokter. Bagaimana kau bisa bergabung ke Yayasan?”
Balefire tidak menjawab. Dia berhenti berjalan dan melihat ke arah tiang, tidak, beberapa meter dari tiang sebelum akhirnya menoleh ke Ermes.
“Seharusnya lurus di depan sana ada sekumpulan bunga liar. Ambilkan aku beberapa, persetan jenisnya atau mekar tidaknya, bawakan aku beberapa ikat.” Balefire berjalan ke arah Ermes.
“Tunggu, tapi kenapa dan untuk apa?” Ermes kebingungan.
“Diamlah dan pinjamkan aku pisau milikmu” Balefire berada tepat di depan Ermes, menyebabkannya mundur beberapa langkah. Ermes langsung mengingatkan dirinya adalah agen dan yang berada di depannya hanyalah peneliti junior.
Tetapi akhirnya dia menyerahkan pisaunya kepada Balefire dan berjalan menjauh, berpikir mungkin ini berguna untuk misi, atau paling tidak menghindarkannya dari masalah dengannya.
Sekilas dia melirik ke belakang.
Dia cuma seorang dokter, kan?
Agen Ermes tengah berjalan membawa beberapa buah bunga kecil yang tengah kuncup. Dia tidak tahu pasti untuk apa, jadi dia berjalan saja membawa mereka kepada dokter Balefire yang tengah berdiri beberapa meter jauhnya.
“Ah, terimakasih, kawan.” Kata Balefire selagi mengambil bunga yang dipetik Ermes. Dia pun langsung menaburkannya ke tanah. Ermes melihat lebih saksama area yang tengah dia pijak dengan senternya, Balefire telah menggambar semacam penanda letak mayat yang sering ada di TKP dengan pisau miliknya. Dengan pisaunya berada di bagian “kepala”.
“Knock, and the Door shall open, katanya.” Balefire menggumam. Lalu dia pun berdiri selagi mengibaskan jas putihnya.
“Jadi, dokter. Mau berbicara sekarang?” Ermes berkata di sampingnya. Balefire terdiam sejenak.
“Dulu,” kata Balefire selagi menunjuk ke satu arah. “Ada gubuk kayu di sana. Didiami oleh seorang dukun.”
Lalu dia menunjuk ke arah lain, tak jauh dari tempat pertama yang dia tunjuk, “Di sana, seharusnya ada semacam gerbang menuju lokasi ekstradimensional bernama ‘Wanderer Library’, markas salah satu KDP. Kau hanya bisa membukanya dengan syarat tertentu.”
Lalu dia menunjuk ke bawah, “Dan di sini seseorang pernah mati secara konseptual.”
Lalu Balefire menatap ke arah Ermes yang kebingungan. Sesaat kemudian dia tertawa.
“Aku bercanda, kawan. Lapangan ini memang agak punya sejarah, tapi percayalah aku cuma ngelantur. Mungkin efek ngantuk.”
Ermes kebingungan mendengarnya.
“Dan oh ya, kawan. Aku tahu kau orang luar, jadi kau pernah merasakan minuman keras, bir dan semacamnya, aku ingin tahu apakah kau kebetulan membawanya?” Balefire mengalihkan pembicaraan.
“Hah, apa? Tentu saja tidak. Pimpinan akan menghukumku!”
“Tenang, aku bawa kok, di truk. Ambil saja semua dan bawa ke sini.” Kata Balefire selagi berjalan lagi.
Ermes bingung bukan main. Dia setengah berlari menuju truk dan mengecek bagian dalamnya. Ada sepuluh botol kaca dengan kain di mulut botolnya dan dua buah jeriken minyak. Ermes diam sejenak sebelum akhirnya menyadari apa yang akan dokter ini lakukan. Dia membawa satu jeriken dan dua botol menuju Balefire yang telah berada di depan tiang.
Salah satu entitas SCP-012-ID telah terikat di tiang, dengan entitas lain tergantung di bawahnya, bergerak dan meronta. Balefire memerintahkan salah satu personel naik ke atas tiang dan melumuri orang sawah itu dengan jeriken minyak sementara Ermes meminta personel lainnya untuk membawa barang yang tersisa.
“Sekarang ini bagian terbaiknya,” kata Balefire selagi berjalan mundur. "Kita tidak perlu merekam ini, memberikan kita sedikit kebebasan dalam… bereksperimen." Katanya selagi dia mengeluarkan pematik api dari kantongnya dan menyulut api di kain yang berada di mulut botol yang ia pegang. Menyalalah sebuah bom molotov.
"Bagaimana kita melakukan eksperimen ini tidak perlu dicatat secara akurat, kau tahu." Lalu dia mengambil ancang-ancang.
“Semoga lemparanku tak seburuk dulu.”
Balefire melempar molotov itu ke arah tiang. Bom itu meleset. Dia menyalakan satu botol lagi dan melemparnya, berhasil mengenai titik tengah tiang dan pecah. Api menjalar naik ke atas mengikuti tetesan minyak.
“Stereotip seorang psikolog adalah mereka memahami pikiran dan perilaku manusia.” Balefire berbalik ke hadapan personel yang berkumpul. “Pikiran manusia itu memang kompleks, aku akui. Aku membaca berton-ton buku untuk gelar ini. Tetapi ironisnya dalam praktik cenderung sederhana.”
Beberapa saat kemudian, api mulai membakar hebat orang sawah di tiang tersebut. Balefire diam mendengarkan bagaimana SCP-012-ID mulai berteriak. Sesuatu yang baru.
“Pekerjaanku dulu adalah mengendalikan anomali menggunakan rasa takut. Rasa takut adalah insting bertahan hidup. Perasaan bahwa sesuatu itu adalah ancaman terhadap diri sendiri dan memotivasi makhluk hidup untuk bertindak menghindarinya.”
Lalu Balefire menoleh ke arah tiang tempat SCP-012-ID terikat. Api memakan kaki orang sawah itu dengan cepat.
“Orang-orang sawah ini, mereka berani menerobos kalian dan siapa pun. Kalian pikir mereka tidak takut mati? Kurasa itu tidak benar. Mereka hanya tidak takut terpotong. Kenapa? Karena mereka sendiri bisa melakukannya. Mereka tidak sadar lagi jika kepala mereka terpotong, mereka mati.”
Seluruh personel diam, tidak melakukan apa pun selain memandang bagaimana orang sawah di atas tiang itu mulai hilang dimakan api.
“Lalu ku ajari sesuatu yang baru. Sensasi kematian yang baru. Bagaimana rasanya tubuh mereka hancur perlahan tanpa henti.”
Orang sawah di tiang itu, atau apa yang tersisa darinya, jatuh ke tanah, diikuti oleh jatuhnya entitas lain yang awalnya terikat dengannya. Empat entitas yang tersisa langsung berdiri. Mereka bersuara, tetapi bukan perkataan yang keluar, tetapi erangan pelan dan datar. Mereka mulai lari, disusul personel lain yang langsung mengejar mereka.
Balefire berjalan menjauh, menuju pepohonan. Mukanya menghadap ke tanah bagaikan mencari sesuatu. Sesaat kemudian, dia kembali membawa ranting pohon yang agak besar. Dia melumuri ujungnya dengan minyak dari jeriken dan membakarnya, kemudian ikut berlari mengejar orang-orangan sawah yang tersisa dengan membawa obor buatannya.
Dia berhasil mencegat arah lari mereka dan mengarahkan obor buatannya. Orang-orangan sawah itu langsung berbalik dan menjauh, hanya untuk ditangkap personel lainnya. Dengan tangan mereka belum tumbuh sepenuhnya, mereka tidaklah berdaya saat diikat.
“Halo, ya, pak. Pengujian sudah selesai dan berhasil. Fotonya sudah sampai kan?” Balefire menelpon. Seluruh entitas SCP-012-ID yang tersisa sudah dimasukkan ke dalam truk. Dan beberapa saat sebelumnya, api yang tersisa telah dipadamkan. Mereka tinggal pulang kembali ke situs.
Balefire tengah berjalan kembali ke truk Ketika Ermes mencegatnya,
“Kau belum menjawab pertanyaanku, dokter. Kau berasal dari organisasi mana sebelum ini? Aku muak dengan jawaban kriptid mu.”
Balefire hanya diam, dia kembali berhadapan tepat di depan muka Ermes. Ermes ingin berjalan mundur lagi, tetapi dia ingin jawaban.
“Aku sudah memberitahukannya.”
“Kubilang aku muak dengan jawaban kriptid mu!”
Lalu Balefire berjalan melalui Ermes tanpa menoleh lagi ke arahnya.
“Kau cuma tidak paham, tidak, kau belum paham.”
Lalu Balefire berhenti dan menoleh ke arah Ermes sekali lagi.
“Yang penting aku di sini sekarang, bersama Yayasan. Dan jujur saja, aku menyukainya.”
Balefire kembali berjalan dan Ermes masih terdiam.
Ermes tengah duduk di kursi di kantin. Perjalanan malam tadi melelahkan dan dia perlu minum. Tiba-tiba, seseorang berjalan ke arahnya.
“Permisi, aku Peneliti Senior Onyx, aku ingin bertanya sesuatu mengenai penelitian yang dilakukan oleh dr. Balefire. Kau yang mengawalnya kan?”
“Ya. Memangnya kenapa?”
“Bisa kau jelaskan apa yang tepatnya dia lakukan?”
Ermes terdiam selagi menuang minuman ke gelasnya. “Dia membakar salah satu dari orang sawah itu.”
“Tunggu, apa? Tapi kenapa?”
Ermes meneguk minumannya.
“Kau tidak akan paham pria itu, ku katakan saja.”
Kronik Situs-79
Bab 1: Kayu Bakar
« Potongan Kayu Bakar | Percobaan Malam | Dinginnya Bara Setelah Terbakar »




