Penyintas Terbaik Seleksi Tahun Ini
rating: +1+x

“Jadi, ku rasa ini pertama kita saling berkenalan.”

Dua orang duduk saling berseberangan di sebuah meja. Seorang pria muda di satu sisi, dan seorang pria yang lebih tua di sisi seberangnya. Mereka berdua mengenakan kemeja putih dan celana hitam, juga dasi biru.

Pria yang lebih tua menatap dengan cermat orang di seberangnya. Orang itu akan menjadi asistennya mulai hari ini. Memang dia yang meminta hal tersebut. Dia ingat hari saat dia memutuskan hal tersebut.


“Orang itu, dia akhirnya wisuda hari ini.”

Seorang pria berseragam rapi dengan jas hitamnya memasuki ruangannya. Postur tubuhnya lumayan besar dan atletik.

“Maaf, siapa maksudmu, Robert?” Orang di dalam ruangan tersebut bertanya.

“Orang itu, Dirgo. Kau ingat? Yang mempercepat proses seleksi dalam semalam.” Orang yang dipanggilnya Robert menjawab. Dia berjalan mendekati mejanya dan mengambil salah satu kursi. Disandarkannya kursi itu ke dinding dan dirinya duduk bersandar di sana segera.

“Dan kau tahu apa? Dia meminta ditugaskan di sini. Di Pulau Kalimantan kembali. Dia membuatku tertarik, jadi ku rasa kita bisa menerimanya di sini.” Robert berkata. Dia terlihat bersemangat menceritakan hal tersebut.

“Dan ku rasa kau juga sama tertariknya, bukan?” Dia melirik ke arah Dirgo.

Dirgo hanya mengangguk sebagai jawaban. “Sangat menarik sekali…”

Tanpa sadar, dirinya tersenyum juga. Dirgo akhirnya berkata kepada lawan bicaranya, “Kau tahu, serahkan dia kepadaku. Aku ingin mempelajarinya. Memahami orang itu.”

“Tentu saja.” Robert mengiyakan. “Juga, jika kau lupa, nama dia adalah…”


“Jadi,” Dirgo di masa kini berkata kepada pria muda di depannya, “Apa yang membuatmu memilih bekerja di Pulau Kalimantan, Zakaria?”

“Hmm…” Zakaria terlihat berpikir. Akhirnya dia berkata, “Ku rasa aku ingin sedikit lebih dekat dari rumah.”

“Begitu ya…” Dirgo membalas. Dia memang dilahirkan di pulau ini, tetapi di dokumennya tertulis kalau dia berasal dari Kalimantan Selatan; fasilitas ini berada di Kalimantan Tengah.

Sebelum itu dia dididik di Pulau Jawa sana. Dia telah menjalani program seleksi ketat yang hanya menghasilkan agen paling terbaik untuk mereka kedepannya.

Memikirkan itu, dia mengingat lagi pertama kalinya dia membaca dokumen mengenainya.


“Aku ingin melihat laporannya.”

Dirgo berkata. Dia terlihat serius saat meminta itu kepada lawan bicaranya yang duduk di sisi seberang meja.

Lawan bicaranya itu sendiri hanya terkekeh dan berkata, “Kau tahu betapa susahnya menyelundupkan laporan panti di seberang pulau sana ke fasilitas kecil kita ini, kan?”

“Kau bisa mengusahakan untuk kasus ini, maksudku ayolah, Robert! Setidaknya aku layak dapat salinanku sebagai personel berpangkat Gamma.” Dirgo mencoba menekan.

Robert sendiri memilih melirik ke arah lain. Sepertinya dia berpikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia berkata, “Kau tidak bisa menggunakannya sebagai subjek penelitian gelarmu, sayangnya.”

“Sial…” Dirgo berkata. Itu merupakan alasan kenapa dia tertarik akan hal tersebut. Tetapi akhirnya dia berkata, “Setidaknya sebagai rujukan bacaan saja.”

Robert sepertinya puas akan jawaban itu. “Aku bisa mengusahakan mendapatkan rangkuman laporan segera. Seperti biasa, hanya bisa dikirimkan secara fisik, jadi kau tetap harus menunggu.”

Dirgo kini tersenyum juga telah mendapatkan apa yang dia inginkan. “Tidaklah masalah.”


Nomor Katalog DeCIRO: FR-03/62-001

Tipe Dokumen: Rangkuman Laporan

Tanggal Diterima: 10-13-2003

Penulis: Dr. Akhmad Amandeus

Rangkuman Laporan: Pada malam pertama penerimaan calon rekrutan di fasilitas perekrutan dengan nomor seri CI03, terjadi kerusuhan di berbagai ruang di fasilitas. Para calon rekrutan saling bunuh dimulai dari jam duabelas malam sampai jam lima pagi.

Jumlah rekrutan yang awalnya terdiri dari 110 calon berkurang drastis menjadi 31 orang saja dalam waktu lima jam. Pada akhirnya proses seleksi dipercepat hari itu juga untuk mencapai hasil 25 calon seperti seharusnya.


“Anak itu luar biasa!”

Dirgo berkata dengan semangat. Dia menunjukkan bagian yang menarik perhatiannya. “Kau tahu kalau dia yang memulai seluruh kerusuhan itu, tetapi apa kau tahu kalau dia tidaklah sama sekali membunuh siapa pun? Dia hanya duduk diam di ruang kamar mandi yang dipakai berkumpul anak-anak itu sebelum memulai kerusuhan sampai selesai!”

Setelah itu Dirgo bersandar kembali ke kursinya selagi menyapu keringatnya. Dia tidak ingat merasa setertarik ini sejak pertama direkrut bekerja.

“Dan tidak ada yang menyentuhnya! Bahkan sampai proses seleksi selesai! Kau tahu batasnya cuma 25 orang, kan? Salah satu anak – dia lumayan besar – membunuh satu orang lagi, menjadikannya 24 penyintas. Dan tiba-tiba dia bersiul keras, kemudian anak itu, dia keluar dari kamar mandi tanpa noda darah sedikitpun!”

“Kau cukup tertarik dengannya, Dirgo.” Robert yang dari tadi mendengar ocehannya mengomentari.

“Kau tidak?!” Dirgo bertanya keheranan. “Dia bisa menjadi aset emas jika metode berpikirnya dilatih lagi.”

Robert hanya menggeleng. “Dia pengecut. Dia akan lari begitu tiba giliran dirinya untuk berkorban. Tujuan fasilitas itu untuk membuat agen kedepannya, bukan pekerja kantor.”

Dirgo hanya menatap lawan bicaranya dengan tatapan serius. Akhirnya dia menghela nafas dan berkata, “Aku ingin dia jadi peneliti nanti. Dan untuk itu aku ingin menjadikan diriku sebagai penanggung jawabnya nanti.”

Robert melihat keseriusan Dirgo selama beberapa saat, tetapi dia kemudian membalas, “Itu cuma pendapatku saja. Aku lebih tertarik pada seorang anak lain. Kau ingat anaknya Lucius Montgomery?”

“Oh, dia yang membantu agen kita masuk ke sini beberapa tahun lalu itu?” Dirgo menjawab, meski dia tahu kata ‘membantu’ tidaklah tepat untuk kasusnya.

“Termasuk kita juga. Jadi ku rasa aku berhutang padanya untuk menjadi penanggungjawab anaknya nanti, heh.” Robert membalas.

“Ku rasa kita hanya bisa menunggu sekarang.” Dirgo menutup selagi bersandar di kursinya. Menatap kumpulan dokumen di depannya dengan senyum. Sebuah pasfoto berada di pojok dokumen, menunjukkan foto setengah badan dari seorang anak remaja laki-laki. Ekspresinya terlihat bosan.


“Aku punya satu pertanyaan yang membuatku penasaran bertahun-tahun lalu,” Dirgo masa kini bertanya.

“Kenapa kau memulai kerusuhan di panti itu?”

Zakaria menatapnya tanpa ekspresi. Tepatnya dia terlihat bosan akan pertanyaan itu. Dia hanya menjawab singkat, “Aku hanya melakukan apa yang kalian nanti akan lakukan. Apa salahnya itu?”

Dirgo menatap lawan bicaranya. Pemuda di depannya merupakan kasus langka yang di mana dia tidaklah sempat menerima proses cuci otak dalam seleksi untuk membuatnya bergantung dan menjunjung tinggi organisasi mereka. Jika dia tidak menjaminnya dulu, pemuda di depannya pasti dieksekusi karena melakukan pembangkangan. Untungnya pada akhirnya dia kini di depannya sekarang, saling bertatap muka.

Mungkin orang itu tahu dia akan gagal proses seleksi sebenarnya sehingga dia mempercepatnya. Dia hanya tahu jawaban ujian akhir, sehingga dia meyakinkan murid lain untuk ikut mempercepatnya dengan janji kelulusan.

Itu membawa Dirgo ke sebuah pertanyaan lain: Apa dia melakukan itu semua karena murni egoisme, apakah rasa bertahan hidup tinggi. Ataukah alasan lain.

Untuk mengetahui itu, dia ingin mengadakan serangkaian sesi percakapan sebagai atasannya sampai tugas mereka semua di fasilitas ini selesai. Dia selalu ingin mempelajari orang ini.

“Jadi,” Dirgo memulai selagi menyiapkan catatannya.

Bagaimana kau mendapatkan lukamu?

Kronik Situs-79

Setan Bangkit
« ??? | Penyintas Terbaik Seleksi Tahun Ini | ??? »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License