“Jadi, ku rasa kita bisa memulai sesi kita untuk kali ini, Zakaria?”
Zakaria menunduk, menatap ke lantai keramik yang selalu dia lihat di ruang atasannya. Menatap ke meja tempat atasannya kerja. Tempat mereka selalu melakukan sesi bicara monoton ini untuknya. Dia tidak tahu kenapa mereka melakukan pembicaraan ini sekarang. Mungkin untuk menghilangkan rasa bosan terkunci di ruangan tanpa jalan keluar.
Dia mendengar suara jentikan jari. Dia sering mendengar itu beberapa bulan lalu. Dulu ada sesuatu yang selalu mengganggu konsentrasinya, mencengkram erat pikirannya dan membawanya jatuh dan jatuh, jauh ke alam bawah sadar.
Dia mengangguk, menandakan dia setidaknya masih mendengarkan pembicaraan mereka. Entah kenapa dia tidak ingin mendongkak lebih tinggi saat ini.
“Kita langsung saja ke pertanyaan pertama: ceritakan apa yang kau alami akhir-akhir ini.”
Zakaria diam memikirkannya.
Ada 13 orang berdiri di sebuah ruangan menyerupai gudang. Sebagian besar mengenakan seragam berupa kemeja biru tua berlapis rompi dan celana cargo hitam, beberapa mengenakan helm juga. Di lengan mereka, terdapat logo bintang berwarna biru. Di rompi mereka, terdapat tulisan ‘GOC’ di bagian dadanya. Mereka berdiri tegap dengan kedua tangan mereka di belakang, pose istirahat di tempat.
Ada juga dua orang yang mengenakan kemeja putih dengan dasi biru dan celana hitam panjang berdiri di ujung kanan kerumunan personel tadi. Seorang pria paruh baya, dan seorang pria yang lebih muda di sampingnya. berbeda dengan sisa orang di ruangan, mereka hanya berdiri santai. Yang lebih tua mengantongi kedua tangannya di kantong celananya, sedangkan yang lebih muda menyilangkan lengannya dengan ekspresi bosan.
Mereka semua memandangi seorang pria berseragam taktis GOC lengkap minus helmnya, menunjukkan rambut hitamnya yang cepak tentara dan wajah tegasnya. Dia memandangi kerumunan orang-orang di depannya dengan senyum kecil dan tatapan tajam.
Akhirnya dia berkata nyaring,
“…Dengan ini, kalian semua resmi menjadi agen kemajuan Sang Engineer untuk fasilitas ini. Kita semua adalah segalanya yang yang kita punya. Kita bergantung pada tiap rekan kita untuk menjalani langkah-langkahnya. Semua untuk kemajuan dunia, langkah demi langkah.” Dia berkata dengan senyum.
“Sekarang katakan apa moto kita!” Dia tiba-tiba berteriak.
Mendengarnya, semua orang di sana berteriak serentak dengan lantang, “Buat logika dari ketiadaannya!” sebagai balasan seakan itu merupakan identitas mereka satu-satunya, tidak memedulikan kemungkinan kalau ada orang yang mendengar teriakan mereka.
Hanya sang pria muda yang menyilangkan lengannya yang mempertanyakan itu, setidaknya sepengetahuannya. Tetap saja dia ikut teriak karena mau bagaimanapun, memang itu identitasnya saat ini.
“Setelah kalian keluar dari ruangan, buka amplop yang sudah kuberikan tadi. Di dalamnya adalah kode nama kalian dan tugas kalian nantinya. Jangan beritahukan kode nama kalian kecuali jika diperintahkan.” Dia mengakhiri.
“Aku Robert Shaw, dan kalian adalah Apostles-ku. Kita akan berkumpul lagi pada langkah berikutnya.”
Dan semua orang membubarkan diri dan satu persatu pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan Robert berdiri sendirian memandangi mereka pergi.
Orang-orang tadi kemudian saling berpencar, berbaur dengan personel GOC lain yang tak akan menaruh rasa curiga. Dua orang pria yang mengenakan kemeja putih tadi berjalan melalui koridor, melewati pegawai biasa lainnya yang tak akan mengetahui identitas asli mereka.
Tetapi pada akhirnya mereka berpisah di persimpangan koridor. Pria yang lebih tua tadi berjalan menuju area kantor, menuju ruangannya sendiri. Sedangkan yang lebih muda berjalan menuju area mess fasilitas. Mereka berpisah tanpa berkata apa-apa, mengetahui hanya mereka yang boleh tahu isi amplop mereka sendiri.
Di tengah koridor, Zakaria melihat seseorang berjalan mendekat ke arahnya. Awalnya dia mengira orang itu pegawai lainnya, jadi dia menunduk dan terus berjalan. Tiba-tiba, tangannya dipegang orang tersebut saat mereka berpapasan. Saat dia mendongkak untuk melihat siapa, Robert menatap balik ke arahnya.
“Perintah baru, perlihatkan amplopmu.” Dia berkata singkat.
Zakaria bingung akan permintaan itu, dia awalnya ingin menolak, tetapi dia ingat kalau perintah untuk tidak memberikan amplop itu datang dari Robert sendiri. Jadi dia menyerahkan amplopnya. Robert dengan segera membuka segelnya dan membacanya isinya. Zakaria tidaklah tahu apa yang dia baca. Akhirnya dia memasukan kertas yang dibacanya kembali ke amplop dan menyerahkannya.
“Baik, langsung hancurkan kertasnya jika kau sudah membacanya.” Robert berkata selagi menjauh. Zakaria menatapnya selama beberapa saat sebelum beranjak pergi juga.
Setelah berjalan beberapa saat, dia sampai di ruangannya dan segera masuk dan mengunci pintunya. Dia perlahan mengeluarkan amplop tadi dari kontong belakang celananya dan dibukanya amplopnya. Di dalamnya memang hanya ada secarik kertas.
Matthias
Awasi Judas
Zakaria menatap kertas itu selama beberapa saat. Akhirnya dia segera berjalan ke kamar mandi dan menyobek kertas itu menjadi potongan kecil sebelum membuangnya.
Dia sebenarnya tidak terlalu memedulikannya.
-
Bertahun-tahun sudah lewat sejak hari itu.
Zakaria mengamati dari meja kerjanya di area kantor umum. Dia bisa melihat di ujung sana adalah deretan pintu-pintu ruangan kantor para kepala penelitian. Dia mengawasi, lebih tepatnya menunggu jikalau ada pergerakan dari salah satu pintu di sana.
Setelah beberapa saat kemudian, seseorang keluar dari pintu yang diamatinya. Seorang pria yang lebih tua darinya, dengan segera bergegas berjalan menjauh hilang dari pandangan.
Bukannya dia memperhatikan juga, karena begitu melihat daun pintunya bergerak, dia langsung beranjak pergi juga dari mejanya. Dia berjalan melalui sesama personel GOC yang berpapasan dengannya, yang tidaklah mengetahui apa yang akan terjadi dalam beberapa saat setelah ini.
Dia tahu pria itu ke mana. Dia tahu tujuannya ke mana. Setelah bertahun-tahun, ini adalah awal dari akhir bagi fasilitas ini. Pada akhirnya, Sang Engineer memutuskan sudah waktunya mereka mengakhiri fasilitas ini.
Ini bukan perintah mendadak, dia dan sisa agen lainnya sudah lama menyiapkan segalanya untuk momen ini. Beberapa minggu lalu, penelitian mereka untuk halusinogen yang rencananya akan digunakan untuk melumpuhkan fasilitas sudah selesai, menghasilkan senjata berupa halusinogen jenis aerosol yang hanya perlu dihirup untuk mengaktifkan efeknya. Dan efeknya sangat tidak mengenakan berdasarkan hasil percobaan manusia yang telah dilakukannya.
Dan sekarang tugasnya adalah memasuki ruang mesin dan menyebarkan gas ciptaan mereka ke ventilasi dan akhirnya ke seluruh fasilitas. Seharusnya di sana sudah ada perlengkapannya, disediakan oleh agen lainnya. Mereka semua mendapat langkah berbeda, dan ini adalah langkahnya. Aba-abanya untuk memulai bekerja adalah pria tadi yang merupakan seniornya. Atasannya. Dia pergi untuk menjalankan langkahnya sendiri.
Setelah sampai, dia mengamati tabung kontainer gas, mesin yang diperlukan, juga sebuah masker gas. Zakaria mengembuskan nafas, dia tidaklah menyukai sesaknya memakai masker gas. Tetap saja, dia tidak ingin merasakan apa yang semua subjek tesnya rasakan saat pengujian dulu hanya karena keengganannya, jadi dia meraihnya dan mengenakannya sebelum bekerja.
Dia berada di sana cukup lama, menghabiskan kontainer demi kontainer yang disediakan di sampingnya sampai pada akhirnya tabung terakhir dikosongkannya. Ditaruhnya tabung kosong tersebut di lantai, mengamati ventilasi tempatnya menyebarkan gas itu. Dia tidak tahu apa yang tepatnya terjadi di luar sana karena ruangan ini cukup kedap suara, tetapi dia juga tidaklah ingin mengetahuinya juga.
Tidak saat ini, karena dia mendapat instruksi untuk menunggu beberapa puluh menit sebelum berkumpul dengan agen lain. Sepertinya mereka semua harus menyelesaikan langkah mereka sebelum bisa saling bertemu satu sama lain.
Dia mengamati jam di ponselnya. Setelah beberapa saat, akhirnya dia berdiri. Dia sebenarnya tidaklah percaya tugasnya sudah selesai. Dia tidaklah terlalu memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Kemungkinan besar mereka jelas akan pindah tempat, mungkin ke fasilitas GOC lain untuk melakukan ini lagi.
Dia tidaklah terlalu peduli akan hal itu, dia hanya punya satu hal yang bisa dibilang dia pedulikan.
Dengan itu dia berjalan keluar dari ruangan. Begitu dibuka, dia bisa mendengar alarm fasilitas memenuhi lorong. Dia bisa melihat darah di lantai mengalir di ujung koridor. Gas buatannya tidak dapat menyebabkan pendarahan, jadi dia tahu itu dari senjata agen mereka. Dia melepas masker gasnya di tengah koridor dan terus berjalan menuju lokasi berkumpul.
Pada akhirnya dia sampai di sebuah ruangan yang cukup luas, ruang tengah fasilitas. Di sinilah dia melihat dua belas agen ganda yang selama ini dia panggil rekan. Dia bergabung bersama mereka.
Dia bisa melihat Robert sang pemimpin pecahan kelompok mereka berdiri di tengah. Tetapi yang dia herankan adalah adanya seseorang yang berlutut di dekat kakinya, hanya bertopang pada lengannya saja. Robert memegangi kerah leher orang itu, terlihat seperti dia tengah mencekiknya dengan itu.
Saat cukup dekat baru dia sadar itu atasannya selama ini. Wajah dan kemeja putih yang dikenakannya penuh noda darah.
“Apa-apaan yang kau lakukan?” Zakaria bertanya keheranan.
Robert yang sedari tadi memandanginya, melepaskan cengkramannya dengan cara menyeretnya menjauh ke hadapannya. Dia lalu berkata, “Langkahku.”
Zakaria menatap atasannya mencoba berdiri, tetapi dia tidak bisa banyak bergerak dan kembali ambruk.
“Aku tidak tahu apa yang Engineer pikirkan, tapi dia memberikan Dirgo perintah untuk menggagalkan seluruh operasi ini.” Jelas Robert. “Aku baru menyadarinya saat agen kita mulai menembak. Kami mendapat perlawanan hebat, yang artinya gas halusinogen itu tidaklah bekerja.”
Yang benar saja… Zakaria berpikir. Dia menghabiskan semua tabung di dalam sana, dia tidak tahu apakah masih bisa membuat yang baru secepatnya, meski sepertinya mereka tidak memerlukannya lagi.
“Ada dua orang yang kucurigai, yaitu kau,” Robert menunjuk ke arah Zakaria, lalu dia menunjuk ke bawah. “Dan dia, yang tugasnya mengalirkan gas itu ke seluruh fasilitas. Tetapi aku percaya kau melakukan pekerjaanmu.”
Zakaria tidak yakin apa dia bisa menerima pujian di situasi seperti ini. Robert lalu memerintahkan agen lain untuk pergi meninggalkan ruangan. Ruangan kini hanya tersisa mereka bertiga. Robert berjalan menuju tempat alat pemadam kebakaran. Terdapat kapak di sana, dan Robert mengambilnya. Dia lalu melemparnya ke depan Zakaria.
“Tugas terakhirmu, habisi pengkhianat ini.” Robert berkata.
Zakaria tertegun. Dia diam selama beberapa saat, tetapi perlahan diraihnya kapak di lantai. Dia berjalan mendekati Dirgo yang masih tergeletak. Matanya menatap ke arah Zakaria.
“Heh, jadi… begini akhir… nya…” Dia berkata, batuk darah beberapa kali.
Zakaria diam melihatnya, mengamati kalau dia akan membunuh atasannya yang selama ini merupakan rekan terdekatnya. Dia sebenarnya enggan melakukan ini, tetapi dia melirik sekilas ke arah Robert dan akhirnya telah membuat keputusannya.
“Maaf, perintah Engineer.” Hanya itu yang terucap.
Dirgo entah kenapa tersenyum. “Senang… bekerja… denganmu…”
Zakaria menebaskan kapaknya ke punggung Dirgo dengan segera, membuatnya teriak kesakitan.
“Semoga… beruntung… dengan… perburuan… mu.” Dirgo mengucapkan kalimat terakhirnya dengan sekuat tenaga sebelum akhirnya dia menyerah pada kematiannya.
Zakaria terkejut mendengarnya dan melepas kapaknya dari genggaman. Dia memikirkan kalau sejak operasi itu, hanya Dirgo yang sepertinya peduli akan keinginan sebenarnya itu. Dan di sinilah mereka berdua pada akhirnya. Zakaria hanya termenung menatap mayatnya tanpa bicara.
Robert, sepertinya tidak mau membuang waktu dan dengan segera meraih kapak di lantai. Tiba-tiba, dia mengayunkannya dengan cepat ke arah kepala Zakaria. Zakaria berteriak terkejut menyadari dirinya menerima tebasan kapak itu dan tergeletak karenanya.
Dia perlahan menyadari masih hidup, meski dia merasakan rasa sakit luar biasa di wajahnya. Dia dengan gemetar meraba wajahnya dan menyadari pipi kanannya ditebas bersih, meninggalkan sobekan di sana.
Robert tertawa selagi Zakaria berteriak kesakitan. “Aku sangat ingin melakukan itu sejak dulu.” Dia melempar kapak berlumur darah yang dipegangnya menjauh. Dia lalu menendang Zakaria yang masih tidak bisa bereaksi.
“Tugasmu kini selesai. Jika saja kau seorang agen, akan kubawa kau pergi juga, tetapi kau hanya seorang pekerja kantoran, bukan?” Dia berkata tanpa mengharapkan jawaban. Dia lalu berjalan menjauh selagi berkata, “Sudah tugasmu mati di kantor kalau begitu.”
Dengan itu dia meninggalkan Zakaria yang masih memegangi pipinya dengan kesakitan. Perlahan dia merangkak, meraih kapak yang dilempar Robert tadi. Awalnya dia ingin mengejarnya, tetapi dia tahu dia pasti mati jika mencoba melawannya. Dia memutuskan untuk lari ke arah berlawanan dengan Robert.
Dia berjalan pelan menyusuri koridor, memegangi kapak serta pipinya. Pikirannya sangat kacau, memikirkan atasannya tadi, keinginannya, nasibnya, semuanya saling terlintas tanpa pola.
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki dengan cepat mendekat. Zakaria berbalik dengan panik, mengayunkan kapak yang dipegangnya. Di belakangnya ternyata adalah personel keamanan fasilitas, terlihat dari seragamnya. Satu hal yang menarik perhatiannya adalah dia mengenakan masker gas.
“Hey-“ Dia jelas terkejut saat Zakaria mengayunkan kapaknya ke arahnya. “Astaga, kau terluka juga? Ayo ikut aku!” Dia berkata begitu melihat lukanya. Dengan segera dia membantunya berjalan. Zakaria mengenali ke mana mereka pergi, tetapi dia tidak tahu tepatnya ke mana karena ruang medis tidak terletak di sana.
“…Heehaa…” Zakaria mencoba bicara, menyadari betapa sakitnya rasanya.
“Sama-sama, tetapi kita harus cepat. Kabarnya ada yang berhasil mencapai ruang keamanan dan nanti gas tidur akan dialirkan ke seluruh fasilitas. Semua personel sudah berada di ruang aman.” Dia menjelaskan.
Zakaria tersentak akan kata ‘gas’ dan dengan segera meronta untuk lari, mengejutkan orang yang membantunya tadi. “Kau mau ke mana? Ruang aman di sana!” Orang itu bertanya, tetapi akhirnya dia segera lari ke arah awal.
Zakaria sendiri lari cukup jauh sampai dia menyadari meski dia sampai di ruang depan fasiltas, tempat ini pasti dikunci. Dengan segera dia berbalik dan segera berlari menuju arah orang tadi.
Dia bisa melihat dua buah pintu otomatis perlahan menutup di kejauhan, jadi Zakaria menduga pasti itu ruangannya. Semakin mendekatinya, Zakaria tidak yakin dia bisa sampai di sana tepat waktu, jadi arahkan Kapak tadi ke depan pintu dan dia berhasil menahan pintu otomatis tersebut dengan kepala kapaknya.
Dia segera menyelinap di rongga pintu yang tertahan itu, menimbulkan suara protes dari dalam ruang aman.
“Woy, apa-apaan yang kau lakukan!”
Zakaria melirik, diterangi sebuah lampu di atap, terdapat enam orang di dalam ruangan kecil itu termasuk orang yang membantunya berjalan tadi. Orang yang protes akan kedatangannya mengenakan seragamg pegawai biasa, dan dia berkata dengan marah, “Cepat lepaskan ganjalan pintu itu! Kau mau kami kena gas?!”
Zakaria segera mencoba mencabut kapaknya, tetapi sepertinya tersangkut kedua daun pintu otomatis itu dengan erat. Orang yang tadi mencoba membantunya segera berdiri dan kembali membantunya mencabut kapak tersebut.
Setelah mencoba menariknya tidak berhasil, dia mencoba menendangnya beberapa kali ke atas. Tiba-tiba, kapak berhasil tertendang lepas dari pintu dan Zakaria segera menariknya masuk. Tetapi kedua pintu segera menutup cepat dan menjepit kaki orang yang membantunya itu, membuatnya berteriak kesakitan.
“Sialan!” Zakaria dan beberapa orang yang menyaksikan mengumpat dan menghantam pintu besi yang menjepit kakinya dengan erat.
“Ini gara-garamu! Seharusnya tunggu saja di luar kalau tidak sempat masuk!” Orang yang tadi memprotes kedatangannya kembali berkata. Zakaria melirik ke belakang, kapaknya digenggam dengan erat selagi dia menahan dirinya untuk tidak membalas.
“Sudah- ngghhh… tidak apa-apa.” Orang yang kakinya terjepit tadi mencoba menenangkan suasana meski kondisinya juga dalam kesulitan. “Ini cuma gas tidur aja. Yang penting kita aman di dalam sini dari penembak di luar.”
Mendengarnya, Zakaria teringat Robert yang pergi membawa sisa agen keluar fasilitas. Seharusnya tidak ada ancaman lagi di sini. Memikirkan itu membuat Zakaria perlahan menunduk dan larut dalam pikirannya. Dia kini sendirian di fasilitas ini bersama orang-orang yang organisasinya serang. Sekarang dia hanya bisa berusaha mereka tidaklah tahu akan keterlibatannya dalam bencana ini.
Tiba-tiba, terdengar suara mendesis di luar ruangan. Zakaria mengamati dari balik celah pintu dan melihat dari lubang ventilasi keluar gas secara perlahan.
“Mereka mulai memompa gas tidurnya!” Orang yang kakinya terjepit memberitahukan.
Beberapa orang mendekat untuk mengamati keadaan di luar. Beberapa terlihat gugup, mengetahui mereka terpaksa harus ikut menghirup ‘gas tidur’ yang tak bisa mereka hindari. Tetapi, hanya Zakaria yang menggeleng cepat dengan mata terbelalak. Dia tahu persis gas apa yang warnanya agak gelap seperti itu.
“Huhhh-“ Zakaria diam di tengah teriakan tak jelasnya, membuat orang-orang melihat ke arahnya. Dia jelas tidak bisa mengatakan kalau itu bukan gas tidur tanpa membuat perdebatan dan kepanikan. Mereka akan tenggelam dalam efeknya di tengah argumen mereka.
Zakaria melihat ke arah orang yang kakinya tersangkut. Dia menatap masker gas yang dikenakannya sedari tadi.
Genggaman kapaknya semakin erat, dan kemudian dia angkat.
Persetan, aku ingin hidup!
Dan dia ayunkan kapak itu.
“Jadi apa yang terjadi setelah itu?”
Zakaria belum menatap orang yang bertanya. Tatapanya masih ke lantai di bawahnya. Dia memikirkan jawaban untuk pertanyaannya.
“Aku mengambil masker gas orang itu. Itulah kenapa aku bisa bicara denganmu.” Dia akhirnya menjawab.
“Dan orang-orang di ruangan itu?”
Dia ditanya lagi. Zakaria hanya mengangkat bahu dan berkata, “Terkena efek gas.”
Zakaria terus mengayunkan kapaknya. Kini gagangnya sepenuhnya merah.
“Apa kau merasa bersalah?”
Zakaria hanya menggeleng selagi tersenyum. “Tidak. Untuk apa? Aku tidak membunuh mereka.”
Dia tidak memedulikan sanggahan. Cukup dia sendiri yang memercayai hal tersebut sudah cukup.
Dia tidaklah mendengar sanggahan. Dia hanya mendengar suara kertas saling bergesekkan. Akhirnya suara itu berhenti dan muncul pertanyaan lagi, “Tapi kenapa kau ingin hidup?”
Zakaria hanya tertawa mendengar pertanyaan bodoh itu. Dengan yakin dia berkata, “Aku punya tujuan. Aku punya keinginan.”
“Dan bagaimana dengan orang-orang itu? Mereka juga ingin hidup.”
Suara kapak jatuh ke lantai berbunyi nyaring di ruang tertutup itu. Keheningan fasilitas membiarkan gema hantamannya menyebar jauh melewati celah pintu besi di depannya, melalui koridor kosong penuh gas yang masih belum menghilang.
Kemudian terdengar suara sesuatu jatuh juga, meski yang ini terdengar lebih berat dan teredam.
“Apa pentingnya mengenai mereka?”
Beberapa jam berlalu dalam keheningan. Fasilitas kecil GOC yang terletak cukup jauh dari kota Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah yang fungsinya hanyalah sebagai pos monitor situasi pulau jelas tidaklah akan mendapat respon cepat meski merupakan fasilitas PBB.
Memakan waktu lebih dari 12 jam sebelum tim pengecek datang ke fasilitas dan memulai penyisiran akan penyintas.
Dengan perlahan mereka berjalan melalui koridor yang penuh noda merah yang mulai mengering. Agen terdepan mengamati keadaan fasilitas mereka dengan tegang.
Sebelum kemari, mereka sudah diberi penjelasan singkat mengenai fasilitas ini dulu. Pernah terjadi penjarahan kecil yang gagal, mengakibatkan GOC mulai meningkatkan kewaspadaan akan benda atau informasi apa pun yang dimiliki fasilitas ini dan meningkatkan jumlah personel di sana. Menghidupkan fasilitas ini sedikit karenanya.
Pada akhirnya tidak ada yang bisa mereka lakukan. Siapa pun yang menjarah dulu, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan sekarang. Fasilitas akhirnya tiada sepenuhnya.
Yang paling depan menajamkan pendengarannya. Dia bisa mendengar sesuatu di kejauhan.
“Baik, Zakaria. Setelah bertahun-tahun bekerja bersamamu, saya akhirnya mendapat kesimpulan akan dirimu.”
Zakaria mendengar suara buku ditutup. Dia selalu penasaran akan apa yang Dirgo catat saat bicara padanya. Dia tahu sayangnya apa pun itu, lokasi bukunya dibawa mati dirinya.
“Sederhananya, kau tak waras.”
Zakaria akhirnya mendongkak, mengamati dirinya sendiri yang tak mengenakan masker gas yang sebenarnya duduk di sisi seberang meja dari tadi.
Para agen yang menelusuri ruangan segera berlari begitu mendengar suara tertawa. Akhirnya mereka sampai di ruang aman fasilitas itu.
Terdapat banyak mayat tergeletak di sekeliling ruangan. Tetapi hanya ada seseorang di ujung seberang ruangan yang masih hidup dan tertawa pelan, menatap mereka dari balik masker gasnya.
“Haha… baiklah tuan. Kurasa kita sudah selesai. Tunjukkan pintu keluarnya kalau begitu.”
Dan dia tergeletak tak sadarkan diri.
“Ku dengar kau salah satu penyintas fasilitas itu.”
Zakaria melirik ke samping ranjangnya. Dia bisa melihat seseorang mengenakan jas hitam, meski dia tidak bisa melihat wajahnya karena pandangannya terbatas pada masker gas yang harus dikenakannya.
Dia tetap mengangguk sebagai jawaban. Luka di pipinya mulai membaik, jika itu bisa dikatakan seperti itu. Berbicara masih terasa aneh baginya, jadi dia hanya membalas dengan satu pertanyaan,
“Salah satu?”
“Ya, tentu ada penyintas lain. Mereka yang kebetulan mengunci diri di ruang mesin, di luar, dan sebagainya. Kau adalah salah satu diantara beberapa yang beruntung.”
Zakaria hanya mengangguk. Dia suka akan hal itu. Dia memang merasa beruntung masih hidup.
“Dan untuk itu, kami dari GOC memutuskan untuk memasukanmu ke tim khusus.” Pria di depannya berkata. “Kau akan dimasukan sebagai anggota Assessment Team bersama penyintas lainnya.”
Zakaria tersenyum. Dia akhirnya lepas dari tangan sang dalang. Dia akhirnya bisa mencoba berjalan menuju tujuannya sendiri.
“Misi pertama kalian akan dimulai nanti jika semua keterangan mengenai insiden telah kami dapatkan. Selamat tinggal.” Dia berkata selagi berjalan menjauh.
Zakaria kembali berbaring menatap langit-langit ruang medis. Dia tersenyum dirinya diberi kesempatan kedua. Dia akan mulai berlayar mencarinya segera. Dia yakin akan hal itu.
Kronik Situs-79
Setan Bangkit
« ??? | Penyintas Dengan Masker Gas |




