Sembilan personel Yayasan saling berdiri berjejer di tengah guyuran hujan deras. Dua mobil Yayasan terparkir di belakang mereka, meski salah satu baru saja terparkir di sana. Mereka adalah dua tim personel berbeda yang berada di sana untuk tujuan berbeda pula.
Tujuh dari personel tersebut berseragam hitam khas agen lapangan. Mereka saling memegang senapan dengan ekspresi tegang ke depan, bersiap untuk apa pun yang akan terjadi.
Di depan mereka semua, sebuah bangunan berupa ruko tua setinggi lima lantai tengah bergerak dengan liar selayaknya makhluk hidup. Rangka beton bangunan tersebut saling terikat dan terayun bak lengan dengan kecepatan berbahaya, menerbangkan reruntuhan bangunan ke sekitarnya.
Dua personel lagi yang bersama mereka merupakan peneliti Yayasan. Peneliti Junior Yayasan.
Yang satu merupakan seorang perempuan. Dia tidaklah mengenakan jas lab karena dia merasa kalau misi lapangan tidaklah mengharuskan peneliti tetap mengenakannya. Sebagai gantinya, dia mengenakan sebuah jas biru favoritnya.
Yang satu lagi merupakan seorang laki-laki. Dia terlihat bak peneliti lain pada umumnya, seragam putih, celana panjang hitam, jas lab dan sebagainya. Yang menonjol darinya hanyalah masker gas usang yang tengah dikenakannya.
Si peneliti perempuan menatap ke arah peneliti laki-laki tersebut.
”…Dan kurasa yang memakai masker gas di sampingnya itu si asistennya, Balefire.”
Satu-satunya peneliti yang dia lihat mengenakan masker gas di situs cuma pria itu sejauh yang dirinya tahu. Jadi dia yakin akan siapa si laki-laki tersebut.
Si peneliti laki-laki itu sendiri melirik ke arah peneliti perempuan yang menatapnya di sampingnya dari balik masker gasnya.
”Peneliti baru itu… si Lucy sialan itu, dia kini memimpin penyelidikan anomali terbaru situs ini saat ini.”
Seorang peneliti dari situs yang berada di lapangan. Cuma perempuan itu yang dia ketahui. Jadi dia yakin siapa perempuan tersebut.
Entah apa yang perempuan tersebut dan personel yang bersamanya lakukan di sini, tetapi apa pun yang tengah terjadi di depan mereka itu adalah urusan timnya.
“Siapa pimpinan tim mereka?” Si peneliti pria bertanya kepada agen di sampingnya, setengah berharap pertanyaannya terdengar jelas dari balik masker gasnya di tengah guyuran hujan deras dan gemuruh bangunan di depan mereka.
Agen di sampingnya sepertinya mendengar pertanyaannya dan segera bergerak ke arah salah satu personel. “Pak Ketua, tolong briefing tim kami mengenai… apa pun itu.” Dia berkata.
Si agen yang dipanggilnya ketua menjawab, “Kami tidak tahu tepatnya apa yang terjadi. Saya dan…” Dia melirik ke salah satu agen sekilas. “…Salah satu agen menemukan sebuah mayat terkubur di dalam dinding dengan bentuk abnormal di lantai tiga. Kami menduga itu memicu semacam anomali yang menghidupkan bangunan itu.”
“Mayat terkubur, anda bilang?” Si peneliti pria ikut berjalan mendekat. “Entah kebetulan atau apa, tim kami di sini karena tengah menyelidiki kasus lama mengenai penggunaan tumbal pada bangunan. Dan anehnya lokasi ini termasuk tempat penyelidikan kami.”
“Jadi itu memang pemicunya…” Sang ketua berkata pelan. “Tapi seingatku kalian tahu sesuatu mengenai penyebab petir tadi. Bagaimana kalian tahu kalau ada keris tertancap di lantai dasar yang menyebabkan sambaran petir tanpa henti tadi?”
“Akan ku jawab itu nanti, yang jelas sekarang adalah bagaimana cara kita mengeluarkan mayat itu dari beton.” Si peneliti membalas dengan cepat. “Petir itu pasti untuk memicunya agar anomali tersebut hidup atau semacamnya. Jadi satu-satunya yang kita bisa coba sekarang adalah mengeluarkan sumber anomalinya.”
Mereka berdua saling melihat ke arah bangunan yang mereka bicarakan. Melihat pemandangan mengerikan bagaimana rangka beton bangunan itu terus menyapu bersih pepohonan di sekelilingnya dalam sekali ayunan, menerbangkan bongkahan bangunan dan pepohonan yang dipukulnya dengan kecepatan mematikan.
“Arah ayunannya tidaklah berpola sama sekali. Aku sendiri tidak yakin berani mendekatinya, apalagi membahayakan agen lain untuk melakukannya.” Ketua berkata pelan.
“Tidak ada orang yang waras yang mau mendekati tempat itu. Apa tim kalian dibekali pelontar granat? Lebih baik lagi jika kalian memiliki RPG atau semacamnya.” Si peneliti kembali bertanya.
Ketua hanya menggeleng. “Sayangnya tim kami hanya menjalankan misi investigasi. Persenjataan berat situs tidak kami bawa.”
“Sial.” Si peneliti membalas singkat. “Kita tidak bisa meminta bantuan situs untuk menyerang bangunan itu dari udara?”
Ketua sepertinya mempertimbangkan hal tersebut. Akhirnya dia berkata, “Situs kita tidak memiliki helikopter untuk itu, tetapi kita bisa meminta bantuan situs lain. Mereka jelas akan mengizinkannya untuk ini.”
“Perlu izin? Anda yakin bangunan itu tidak akan membahayakan kita selama beberapa jam kedepan?” Si peneliti bertanya dengan khawatir. Bangunan di depan mereka, meski tiada henti mengayunkan bagian rangkanya, tidaklah melakukan apa pun selain itu.
“Tidak. Kita sudah cukup jauh dan makhluk itu sepertinya sudah kehabisan beton untuk dilempar.” Sang ketua membalas dengan tenang selagi meraih radionya.
Sampai tiba-tiba dia dan peneliti tadi mulai merasakan getaran dari tanah. Dari kejauhan, dinding beton lantai satu bangunan tersebut sudah sebagian besar hancur, menunjukkan rangkanya di dalamnya.
Kemudian salah satu sisi bangunan tiba-tiba terangkat; rangka di bawahnya ternyata juga bisa bergerak dan menggeliat muncul dari dalam tanah.
“Ku rasa-“
“Aku tahu itu!” Sang ketua membalas cepat siapa pun yang bertanya tadi dan langsung melaporkan keadaan kepada radio yang dipegangnya. Para agen yang awalnya siap siaga kini dalam posisi menembak, meski semuanya tahu peluru tidak akan berpengaruh sedikit pun terhadap sebuah bangunan hidup.
“Akan lebih mudah jika Sarah masih di sini tadi…” Salah satu agen berkata. Dari nadanya, sepertinya dia mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan mengajak bicara rekannya.
“Kita tidak boleh melibatkan orang biasa untuk urusan kita, Heru.” Agen lain membalasnya dengan tegas.
“Heh, bukannya sebelumnya kau menganggapnya sebagai tahanan tipe biru?” Balas agen tadi.
“Oh, diamlah-“ Agen kedua mencoba menyikutnya, tetapi lengannya ternyata ditahan peneliti yang mengajak bicara ketua tadi.
“Maaf, apa tadi kau bilang, ‘tipe biru’?” Dia berkata, menatapnya dari masker gasnya.
“Kami kemari berdasarkan petunjuk dari salah satu PDP Yayasan yang memiliki hubungan dengan kasus kami.” Ketua menjawabnya selagi berjalan mendekat. “Kami membantunya kabur dengan taumaturgi ruang sebelumnya.”
“Yah, kalian bodoh untuk itu!” Si peneliti membalas dengan nada kesal. “Taumaturgi ruang atau apa pun itu, mereka merupakan satu-satunya cara yang paling memungkinkan untuk bisa mendekati titik itu.” Katanya selagi menunjuk ke lantai tiga. Terdapat bongkahan dinding semen yang belum hancur sama meski bangunan tersebut mulai terangkat sepenuhnya.
“Itu atau keajaiban. Jika kita bisa mendekati mayat itu dan menghancurkannya, mungkin bangunan itu akan berhenti bergerak.” Dia berkata.
“Pak ketua, bagaimana dengan palu Agen Taeyeon?” Sang peneliti perempuan akhirnya bicara.
“Objek anomali?” Si peneliti laki-laki menoleh, jelas tertarik akan hal tersebut.
“Aku penanggung jawab Sarah-, ekhm, PDP tersebut. Dia membuatkanku sebuah palu yang mampu berpindah lokasi kemanapun yang ku mau melalui media cermin.” Kata agen di samping perempuan tersebut selagi mengeluarkan benda yang dibicarakannya.
Sang peneliti laki-laki meraih palu tersebut dan mengamatinya dari balik masker gasnya, meraba gagang sampai kepala palu tersebut yang penuh ukiran.
“Hey,” Akhirnya dia berkata, “Berapa banyak granat yang kita punya?”
“Enam di tiap mobil, termasuk mobil kita.” Salah satu agen berkata. “Itu artinya 12 granat jika menghitung mobil ketua.”
Peneliti tadi berjalan cepat menuju ketua. “Saya perlu tim anda untuk menyiapkan cermin sebesar mungkin yang kalian bisa temukan dan bawa kepadaku.”
Ketua hanya mengangguk mengiyakan selagi peneliti tadi berjalan kembali ke kumpulan personel yang bersamanya. “Kalian, siapkan benang dari kotak P3K tadi dan ikat granat kita dengannya.”
Masing-masing tim mulai bekerja.
“Bagaimana dengan kaca spion mobil kita?” Salah satu agen di tim pertama berkata.
Peneliti perempuan yang bersama mereka menggeleng. “Dia mengatakan kita perlu cermin sebesar yang kita punya bukan tanpa alasan. Bagaimana dengan kaca bangunan tadi?”
Beberapa personel di sampingnya secara reflek menoleh kembali ke arah bangunan. Selain bangunan tersebut kini seakan sudah terangkat sepenuhnya dari tanah dengan rangka beton di bawahnya menopangnya, rangka beton di atasnya terus terayun liar tanpa pola.
“Tidak bisa ya…” Perempuan tersebut berdiri, mendekati mobil dan mencoba melihat di balik gelapnya kaca mobil apakah ada sesuatu yang bisa digunakannya. Tidak ada sesuautu yang bisa digunakan di dalam, jadi perempuan tersebut berjalan mundur selagi mencoba memikirkan sesuatu.
Dia menatap kaca gelap mobil mereka, hanya untuk menyadari refleksinya menatap balik.
“Kita bisa pakai kaca mobil kita!” Perempuan tersebut berkata seketika. Kaca mobil Yayasan memang didesain untuk melindungi penumpangnya, baik identitasnya maupun nyawanya. Untuk itu kaca mereka bak cermin gelap.
Para agen sontak berdiri dan ikut menatap apa yang perempuan itu lihat. “Ide bagus, Lucy! Kita bisa pakai ini.” Salah satu agen berkata dengan nada senang. Dia meraba permukaan kaca tersebut dan menyapu bekas hujan di permukaannya. “Seharusnya ini cukup!”
Lucy mengangguk mengiyakan, meski agak aneh karena dia mungkin tahu siapa yang baru saja memujinya tadi. Ketua segera berlari ke arah tim kedua yang dipimpin peneliti bermasker gas tadi. Lucy mengikuti dari belakang bersama beberapa agen lain.
“Kita bisa menggunakan kaca mobil kita untuk permintaanmu.” Ketua berkata. Mereka melihat peneliti tadi sibuk melakukan sesuatu dengan agen lain.
“Tidak harus cermin asli, yah… Bagus kalau begitu, lepaskan dari mobilnya dan baringkan ke tanah.” Dia membalas.
“Maaf, tapi untuk apa?” Salah satu agen bertanya.
Si peneliti memutuskan untuk minggir sedikit, menunjukkan kalau mereka tengah menyambungkan semua granat yang mereka punya dengan gagang palu tadi menggunakan benang.
“Untuk memudahkan kita menjatuhkannya nanti.” Dia membalas singkat.
“Kau gila…” Salah satu agen yang berdiri berkata.
Tetapi mereka tidak membantah perintah tersebut. Mereka segera berlari kembali dan mulai bekerja mempreteli mobil mereka sendiri untuk mencoba melepaskan kaca tersebut dari mobilnya.
Setelah beberapa puluh menit yang sebagian besar diisi dengan penghancuran paksa pintu mobil mereka, semua persiapan akhirnya sudah tersedia. Mereka semua berkumpul membentuk formasi lingkaran. Di tengah mereka merupakan kaca mobil Yayasan yang telah mereka preteli. Agen bernama Taeyeon tadi memegang palunya dengan posisi kepala palu itu mengarah ke bawah. Enam personel lain masing-masing memegang dua granat di kedua tangan mereka; semuanya terhubung ke palu tersebut.
Mereka ternyata memiliki payung di mobil, jadi Lucy memegangnya di atas mereka untuk melindungi kaca di bawahnya dari hujan. Tersisa peneliti dengan masker gas tadi memandangi mereka dari kejauhan.
“Apa 12 granat sekaligus tidaklah berlebihan?” Salah satu agen berkata, jelas gugup.
“Kita cuma punya satu kesempatan.” Peneliti tersebut berkata. “Granat tidak didesain untuk menghancurkan beton, tetapi 12 granat seharusnya bisa melakukan sesuatu.”
“Tapi apakah kita harus mengaktifkan semuanya sekaligus?” Agen lain bertanya. Dia satu-satunya yang memakai topi di antara agen lain yang memakai helm.
“Granat juga tidak didesain untuk meledakkan granat lainnya. Ku kira kalian tahu itu.” Jawab si peneliti.
“Pertanyaan yang tepat adalah bagaimana tepatnya kau tahu itu.” Kini sang ketua sendiri yang bertanya.
Si peneliti tidaklah menjawab pertanyaan itu. “Aku akan melepas pin pengamannya, jadi kalian genggam erat pegangannya.” Dia berkata selagi bergerak mendekat. Dan dia langsung saja melepaskan pin pengaman granat tanpa rasa keraguan. Beberapa agen lain ikut melepaskan pin salah satu diantara dua granat yang mereka pegang.
“Baik, segera-“
Belum sempat dia memberikan perintah, terasa hentakan hebat di depan mereka diikuti suara gemuruh nyaring. Mereka semua menoleh cepat dan memandangi bangunan di depan mereka.
Salah satu rangka bawahnya terangkat dan menancap ke depan. Ini diikuti rangka lainnya dengan perlahan. Satu rangka demi rangka lainnya, ia mendekat ke arah mereka. Rangka atasanya masih terayun dengan cepat ke segala arah.
“Taeyeon, hitung mundur cepat!” Peneliti tersebut terdengar panik.
Kecepatan bangunan tersebut terus meningkat. Taeyeon menghitung mundur dan pada hitungan nol, dia menjatuhkan palunya sekuat yang dia bisa. Agen lain melepaskan pegangan granatnya secara bersamaan dan meloncat menjauh sebisa mereka, mengantisipasi jikalau gagal.
Peneliti tersebut mengharapkan tiga hal berjalan lancar. Dalam beberapa detik pertama, dia bisa melihat palu tersebut masuk ke dalam kaca, sebuah pemandangan melegakan. Palu tersebut menarik pula granat lain di sekitarnya dengan cepat ke dalam kaca, menghilangkan mereka dari pandangan.
Para agen yang sudah selesai memproses apa yang terjadi mengembuskan nafas lega, tetapi peneliti tadi memandangi ke arah bangunan yang mengarah kepada mereka dengan cepat. Para agen juga tidak bisa santai terlalu lama dan menyiapkan senapannya. Ketua merupakan yang pertama menembak dengan arah tembakkannya ke arah bongkahan dinding di lantai tiga, tidak menunggu reaksi. Para agen mengikutinya.
Salah satu rangka terayun dengan cepat ke depan. Jika mereka tidak beruntung, ia akan mengenai kumpulan agen di depan peneliti tersebut. Dia merasa beruntung menjaga jarak secukupnya agar tidak menurunkan semangat mereka.
Tetapi tiba-tiba terdengar suara nyaring ledakan dari bangunan tersebut yang membuatnya seakan tersentak. Suara nyaring tersebut muncul secara beruntun. Itu merupakan hal ketiga yang diharapkan peneliti itu untuk terjadi. Itu artinya Agen Taeyeon berhasil mengarahkan palunya tepat ke lokasi yang diinginkannya. Meski samar, dia bisa melihat bongkahan batu tadi tidaklah lagi terlihat.
Rangka di atasnya yang awalnya terayun liar tiba-tiba saja runtuh. Ini diikuti dengan bangunan tersebut tiba-tiba ambruk dengan cepat. Para personel berlari mundur selagi terus mengamati keadaan.
Hujan yang kini hanya sekedar gerimis membantu debu yang mengelilingi bangunan tersebut menghilang secepatnya. Pada akhirnya, setelah hujan yang cukup lama, cahaya matahari sore akhirnya berhasil menembus awan, menampilkan pemandangan bangunan ruko lima lantai di depan mereka kini hanyalah puing-puing reruntuhan bangunan semata.
“Aku menyerah, Kak Taeyeon!”
Lucy duduk di tengah puing reruntuhan bangunan yang awalnya hidup dan menyerang mereka beberapa saat yang lalu. Kini hanyalah tumpukan beton hancur, dengan rangka beton mencuat di mana-mana tidaklah lagi terhubung dan bergerak. Dia mendongkak ke atas, mengamati bagaimana langit yang setelah cukup lama tertutup awan mendung akhirnya dipenuhi warna oranye membara sore hari.
“Ahaha… Aku memang tidak minta bantu carikan, kok.” Taeyeon berkata selagi menggaruk belakang kepalanya. Dia tengah mencari palunya yang dikorbankan untuk menghancurkan bangunan tadi. Lucy awalnya mengajukan diri untuk ikut membantunya, tetapi setelah beberapa saat berkeliling dan mengecek reruntuhan di tanah, rasa lelah di kakinya sudah terlalu berat untuk tidak dihiraukan dan dia akhirnya menyerah.
Dia memperhatikan Agen Taeyeon masih mencoba mengecek reruntuhan di sekelilingnya selagi mengitari area bekas bangunan sebelumnya. Lucy lalu menyadari sesuatu dan bertanya, “Kak Taeyeon, kenapa kau terlihat seperti terpejam saat kami pertama menemui kalian?”
“Bukan terpejam.” Sebuah suara menjawab di belakangnya. “Dia menyipitkan matanya. Sebuah trik yang dia pakai sejak di situs dulu agar lawannya tidak bisa mengikuti arah gerakan matanya. Aku jujur hampir kalah kalau tidak memprovokasinya tadi.”
Di sampingnya berdiri seorang personel. Lucy sudah cukup mengenali suaranya sehingga dia tidak perlu lagi memperhatikan mata birunya untuk mengetahui identitasnya.
“Begitu ya. Akan kuingat lain kali jika kita bertarung lagi nanti, Hansel.” Taeyeon berkata selagi tersenyum.
Hansel sendiri menggeleng. “Sekali saja sudah cukup. Aku tak akan mengganggu kalian lagi. Berdoa saja aku tidak berubah pikiran.”
“Baguslah.” Taeyeon membalas, tetapi dia terdengar lega saat mengatakannya. Dia kembali mencari palunya di antara puing bangunan.
“Bagaimana denganku?”
Lucy berkata tanpa melirik ke Hansel. “Apa kau akan kembali menyerangku di tengah koridor seperti dulu?”
Lucy tidak tahu ekspresi apa yang dibuat Hansel, tetapi dia tiba-tiba mendengar suara di sampingnya sehingga dia menoleh. Hansel memutuskan untuk duduk di sampingnya.
“Personel Jerman situs kita semuanya bermasalah.” Hansel berkata. “Tanpa pemimpin yang jelas, mereka hanya akan mengacaukan situs selayaknya anak buah Taeyeon dulu.”
“Mereka hanya mengikuti orang yang mereka rasa dominan di situs, jadi aku harus mengambil alih peran Taeyeon setelah dia dipindahkan. Dan meskipun begitu, aku tidak bisa juga langsung membuat mereka berhenti mengacau. Satu-satunya alternatif yang kupunya adalah menerima pekerjaan kotor peneliti seperti Tuan Louis untuk melampiaskan sifat mengacau mereka.”
Lucy diam mendengar penjelasan Hansel. Situs-79 memang memiliki status sebagai situs bagi personel buangan dengan tiap personel pasti memiliki masalahnya sendiri sehingga bisa berakhir di sana.
Dan jika kejahatan paling dominan di situs tersebut ditumpas, ia mungkin hanya akan ditumpas oleh kejahatan dominan lainnya yang akan menggantikannya. Bak kepala sang naga legenda Hidra yang dimakan kepalanya yang lain sebelum dimakan kepala yang lain lagi ad infinitum. Dia kembali teringat bagaimana Situs-79 disebut sebagai neraka. Siapa pun yang menyadari betapa rumitnya keadaan yang telah mengakar di sana pasti akan mengatakan hal tersebut.
Membuat Lucy berpikir bagaimana tepatnya situs yang dulunya merupakan gudang anomali kelas Safe bisa berakhir seperti sekarang.
“Kau tidak menjawab pertanyaanku.” Lucy berkata pelan.
Hansel tidaklah langsung menjawab. Dia hanya duduk tertunduk dalam diam.
Perhatian Lucy tiba-tiba teralihkan oleh beberapa personel yang mendekatinya. Yang paling depan merupakan peneliti bermasker gas tadi, diikuti ketua tim dan salah satu agen lain di belakangnya. Entah kenapa, meskipun dia tahu orang itu menolong mereka tadi, Lucy merasakan firasat buruk saat melihatnya.
Begitu di depan dia dan Hansel, peneliti tersebut berkata, “Peneliti Junior Lucy, benar? Anda mewakili Peneliti Senior Herman Puspito saat ini, bukan?”
Lucy berdiri. Dia memang mengikuti para agen lapangan untuk formalitas sebagai perwakilan pemimpin proyek investigasi KDP mereka.
“Saya, Peneliti Junior dengan kode nama ‘Balefire’, mewakili Peneliti Senior Christopher Louis, ingin membuat perjanjian dengan anda.” Dia berkata.
Lucy memang tahu sejak pertama melihatnya tiba kalau orang di depannya merupakan asisten peneliti yang mencoba membunuh atasannya sejak pertama dirinya ditugaskan. Lucy mencoba untuk tidak menyamakan sang asisten dengan atasannya, tetapi mungkin mereka memang memiliki kesamaan sifat.
“Langsung saja, kami ingin mengambil alih proyek investigasi KDP anda.” Balefire berkata pelan.
“Maaf?!” Lucy membalas cepat, dengan nada tidak senang tentu saja. “Apa kau tidak waras? Kami sudah menghabiskan seminggu untuk operasi ini dan kalian pikir kalian bisa ikut menangani proyek kami karena terlibat hari ini?”
“Kurang dari seminggu, sebenarnya. Dan ku bilang mengambil alih.” Balefire menjawab tanpa ragu.
Lucy menggeleng tak percaya. “Kau bercanda? Apa yang membuatku mau menerima permintaan menggelikanmu itu?”
“Oh, saya punya alasan yang baik untuk menekan anda.” Dia berkata. Dia menyikut ketua tim di belakangnya dan sebagai balasan, ketua tim melangkah maju.
“Apa-apaan ini, Pak Ketua?” Lucy bertanya dengan bingung.
Balefire menatap ke arah personel yang berdiri di samping Lucy dan berkata, “Dia Personel Keamanan Hansel, bukan?”
Lucy menoleh ke arah Hansel. Dia hanya diam tidak mengatakan apa pun. Meski begitu, dia tidak mengenakan pelindung mata apa pun, membuat mata birunya terlihat jelas.
Dan di samping Balefire, agen yang berdiri di sampingnya memiliki warna mata yang sama.
“Ketuamu mengikutkannya pada misi ini dengan alibi kalau dia adalah Agen Senior Ermes Scherz. Akan terjadi masalah jika tim ku juga mencatat Agen Ermes terlibat di saat yang bersamaan, bukan?” Balefire berkata selagi kini menyikut agen di sampingnya.
“Aku menyarankan kau menandatanganinya.” Ketua berkata selagi menyodorkan sebuah kertas HVS. Terdapat tulisan tangan di sana, lengkap dengan tanda tangan ketua dan sepertinya tanda tangan Balefire sendiri.
Lucy mengambil kertas tersebut dan membacanya. Dengan perlahan dia meremas kertas tersebut semakin jauh dia membaca.
“Jadi…” Lucy berkata, mencoba menahan kegeramannya agar tidak terdengar. “Kami harus menyatakan ketidakmampuan kami melanjutkan operasi sehingga pihakmu berbaik hati mengambil alih?!”
“Di sana tertulis dengan berbaik hati, bukan secara paksa kan? Saya cuma menyayangkan kita tidak memiliki alat untuk mencetaknya, jadi ku harap tulisan tangan Agen Dilan beserta tanda tangannya menjadi jaminan bagus.” Balefire menjawab dengan enteng.
Salah satu lengan Lucy dengan seketika meraih kerah jas Balefire, menyebabkan ketua menahannya dengan cepat, dibantu agen disampingnya.
“Kau menyebut dirimu ketua, Pak Dilan?” Lucy bertanya dengan kesal ke arah ketua.
“Misi berjalan lancar. Hanya itu yang ku pedulikan. Perpindahan kepala peneliti bukanlah urusan agen lapangan.” Elak Dilan.
“Lancar? Sejak awal yang kau berikan cuma masalah, kau tahu?” Lucy balas mengejek.
Ketua sepertinya tersulut emosi dan siap menggerakkan tangannya, tetapi sebuah tangan lain menahannya.
“Kau serius akan melakukan itu?” Hansel berkata. Ketua sepertinya tersadar akan apa yang dia hendak lakukan tadi dan langsung mundur. “Maaf.” Dia berkata pelan.
Hansel lalu menatap ke arah Balefire. “Saya ingin membuat penawaran kepada anda untuk menutupi kehadiran saya pada operasi ini dan tetap membiarkan ini sebagai proyek penelitian Pak Herman.”
Balefire hanya menatap balik ke arah Hansel untuk beberapa saat. Beberapa saat kemudian terdengar semburan tawa dari balik masker gas yang dikenakannya.
“Kau bercanda? Kau punya apa untuk ditawarkan?” Dia akhirnya berkata setelah tawanya mereda.
“Testimoni dari Ermes mengenai percobaan malam yang kau lakukan terhadap SCP-012-ID, terutama mengenai ketidakprofesionalan prosedur percobaan tersebut.” Hansel berkata pelan.
Itu membuat Balefire tersentak sepertinya. Dia lalu menatap cepat ke arah Ermes yang menatapnya balik dengan ekspresi gugup. Ermes tahu dia memang cerita ke mana-mana mengenai itu.
“Sejauh ini, itu cuma rumor antarpersonel biasa, tetapi jika itu sampai bocor ke jajaran atas di luar situs seperti komite etnik, mungkin proyek SCP-012-ID atasanmu akan dikembalikan ke Pak Herman.” Hansel mengancam balik dengan enteng.
Balefire menatap Hansel selama beberapa saat dari balik masker gasnya. “MAD, huh…”
Sesaat kemudian dia menatap ke arah Lucy yang masih memegang kertas perjanjian tadi. “Ku kira aku bisa mendapat akhir pekan yang tenang dengan ini.”
Dia meraih kembali kertas tersebut sebelum menyobeknya sampai menjadi kepingan kecil. “Kau tidak bisa menyalahkanku mencoba itu saat aku sendiri mati-matian mencari proyek karena atasanku, kau tahu?”
“Kau tidaklah mendapat simpatiku.” Lucy membalas, masih kesal akan sikapnya tadi. Balefire hanya mengangkat bahu seakan tidak terjadi apa-apa beberapa saat yang lalu.
“Tapi aku tidak mau pulang dengan tangan kosong.” Balefire tiba-tiba berkata. Dia melirik ke arah kiri dan kanannya sebelum berkata, “Menurutmu, apakah keberadaan Agen Hansel di sini merupakan pengetahuan dilarang?”
Pertanyaannya disambut ekspresi bingung semua personel di sana. “Nah, lupakan aku bertanya. Itu pertanyaan bodoh.” Balefire membatalkan pertanyaannya tadi setelah keheningan beberapa saat sebelum berbalik pergi, tidak berniat untuk menjelaskan kenapa tepatnya dia bertanya.
Tiba-tiba dia tersentak dan berdiri diam begitu melihat langit di belakangnya.
Lucy yang masih bingung akan pertanyaannya tadi mengikuti arah pandangannya. Dia tanpa sadar tersenyum dan berkata, “Ku rasa itu akhiran yang cukup baik.”
“Heh,” Hansel ikut menatap langit sore selagi berkata, “Ini pertama kalinya aku melihat pelangi secara langsung setelah sekian lama.”
Di sisi berlawanan dengan matahari, langit sore dihiasi oleh sebuah pelangi bak memberikan mereka semua tanda selamat telah berhasil bertahan melalui badai setelah sekian lama.
“Ermes!” Balefire berkata tiba-tiba dengan nyaring, “Kumpulkan tim kita. Kita segera kembali ke situs!” Perintahnya selagi dirinya berjalan cepat ke arah mobil mereka. Kepalanya terus tertunduk sampai dia masuk ke mobil.
Lucy menatap Hansel yang berdiri di depannya. Hansel sendiri perlahan berjalan mundur dan kembali duduk di atas puing bangunan.
“Saat kubilang agar kau sebaiknya tidak terlibat konflik situs, itu merupakan peringatan yang tulus.” Hansel berkata pelan.
“Kau meminta ketidakmungkinan dariku. Aku tidaklah bisa melihat seorang yang tak berdaya seperti atasanku hidupnya terancam seperti itu.” Lucy membalas. Dia tidaklah bisa tidak membela atasannya sendiri dari ancaman rivalnya yang korup.
Hansel terkekeh. “Tidak bisa ya… Paling tidak kita bisa gencatan senjata untuk saat ini. Bagaimana menurutmu?”
Lucy menatap Hansel selama beberapa saat. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali duduk. Di sampingnya. Hansel terkekeh selagi menatapnya sekilas sebelum mengalihkan pandangannya.
“Terima kasih untuk yang tadi.” Lucy berkata pelan.
Hansel hanya mengangkat bahu. “Masalah tadi terjadi karena kehadiranku, jadi sudah seharusnya aku menolongmu.”
“Yah, terserahlah.” Lucy berkata. Akhirnya dia tersenyum selagi menikmati pemandangan sore tersebut.
“Apa yang kami lewatkan?” Dua orang agen perlahan mendekat ke arah Lucy dari arah belakang.
“Kak Heru? Kau dari mana saja?” Lucy menoleh ke belakang.
Heru hanya menunjuk ke arah Taeyeon dengan jempolnya. “Membantu mencari palunya.”
“Oh, apa kalian menemukannya?” Lucy bertanya, tidak menduga Heru yang menggantikannya mencari tadi.
Sebagai jawaban, Taeyeon mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Mereka berhasil menemukan palunya. Atau apa yang tersisa dari palu itu karena yang Taeyeon pegang adalah kepala palu tanpa gagangnya. Sisa palu tersebut jelas lepas karena granat.
“Jadi apa yang kami lewatkan?” Heru kembali bertanya, mengamati Ermes mengumpulkan sisa personel timnya kembali ke mobil.
“Tim Peneliti Balefire berterima kasih kepada kita karena membantu mereka, ku rasa.” Lucy berkata dengan senyum. “Juga, pelangi itu.”
“Heh, aku sering melihatnya akhir-akhir ini sih. Kita akan memasuki musim hujan, bukan?” Heru berkata.
“Huh, Ku kira kau jarang melihat itu. Ini pertama kali setelah sekian lama bagi Pak Hansel, kau tahu?” Lucy membalas.
“Heh,” Heru berkata selagi mendekati Hansel. “Kau berbaikan dengannya atau apa?”
“Semacam itu.” Hansel menjawab. Dia sepertinya merasa canggung akan hal itu.
Lucy juga sebenarnya tidaklah biasa dengan perubahan ini dan khawatir akan nasibnya kedepan, tetapi dia lebih memilih menikmati keadaan untuk saat ini. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia akhirnya merasakan rasa tenang tanpa bahaya menghantuinya, sesuatu yang selama ini dia inginkan sejak pertama mengajukan diri menggantikan atasannya untuk operasi ini.
Mereka menatap langit keemasan sore hari itu tanpa suara selama beberapa saat.
“Jadi ke mana sisa tim ku?”
Lucy dan beberapa personel menoleh ke belakang. Seorang lagi personel berseragam agen berjalan mendekati mereka. Selain topi hitam yang dikenakannya, tingginya yang pendek sepertinya membuat Heru langsung mengenalinya.
“Bagaimana kondisimu, Dri? Kau baru pulih sejak misi terakhir.” Dia berkata.
“Mau bagaimana lagi, si masker gas itu perlu agen untuk mendampinginya dan aku nganggur saat itu.” Agen tersebut membalas selagi berjalan melalui mereka.
“Heh, setidaknya kau pulang tanpa terluka. Ermes pasti lega mengetahui kakakmu tak akan membunuhnya.” Heru terkekeh.
Itu sepertinya membuat agen tersebut kesal. Dia langsung membalas, “Akan ku bunuh kau lalu kakakku nanti jika kalian terus mengatakan itu, kau tahu?”
Heru tidaklah menanggapi ancamannya dengan serius dan hanya mengangkat bahunya. Hansel sendiri menggeleng melihatnya. Agen itu sendiri segera berlalu, sepertinya menyadari kalau rekan timnya mungkin sudah berada di mobil.
“Ingat, keberadaan Pak Hansel di sini adalah pengetahuan dilarang!” Lucy tiba-tiba menambahkan.
“Pengetahuan dilarang? Maksudmu pengetahuan terlarang?” Heru menatap heran.
Lucy hanya mengangkat bahu. “Entahlah, aku cuma sekilas ingat pertanyaan si Balefire tadi. ku rasa ada baiknya ku teruskan.”
Sayangnya tidak ada di antara mereka yang menyadari kalau agen tersebut di saat yang bersamaan juga menjawab dengan pelan,
“Mencurigakan, tak beralasan.”
Agen tersebut seketika menyadari apa yang baru saja dia katakan dan segera berbalik, “Apa yang…”
Lucy dan Heru secara bersamaan menoleh, dengan salah satu bertanya, “Maaf Dri, kau mengatakan sesuatu?”
Agen tersebut menatap mereka, yang menatap balik dirinya dengan ekspresi bingung dan menunggu apa yang tadi dia katakan. Dia lalu menggeleng dan berkata, “Lupakan.” Sebelum berlari ke arah mobil segera.
Di samping mobil mereka, Agen Ermes tengah bersandar seraya berkata, “Adrian, kau dari mana saja?”
“Aku… uh… tadi berkeliling.” Adrian membalas, sepertinya masih tertegun karena pertanyaan tadi.
“Yah, cepat naik sana. Dokter Balefire bersikeras untuk kembali ke situs sesegera mungkin.” Ermes berkata selagi membuka pintu mobilnya. Adrian sendiri memutuskan untuk tidak memikirkan hal tersebut dan segera memasuki mobil.
Di dalam, Peneliti Junior Balefire dan agen yang mengemudikan mobil sudah siap di kursi depan. Menyadari semua sudah masuk, sang pengemudi langsung menancap gas dan melaju keluar dari area tersebut.
Satu hal yang Ermes sadari adalah kelima boneka pemanggil hujan yang digantung Balefire tadi kini tidaklah ada di sana. Ermes berpikiran kalau Balefire pasti melepasnya saat mengikat granat tadi untuk benangnya.
Yang tidak Ermes ketahui adalah sebenarnya kelima boneka tersebut kini di lantai, dicabut paksa begitu Balefire masuk kembali ke mobil. Salah satunya tengah diinjak sepatunya. Sang peneliti itu sendiri tengah bertopang dagu selagi memperhatikan jalan di depannya.
Entah apa yang tengah dipikirkannya, tetapi genggamannya pada sebuah belati yang dia pungut di tanah semakin kuat sepanjang dirinya menatap langit keemasan sore hari itu.
Kronik Situs-79
Bab 6: Remah Roti
« Di Kandang Nenek Sihir | Pelangi Setelah Hujan |




