Orang-Orang Susah
rating: +2+x

Lantai Safe Situs-79 tidaklah terasa aman bagi seseorang yang terlibat konflik dengan personel lain. Apalagi jika dia terlibat perselisihan antarfaksi.

Apalagi jika dia sudah membunuh seseorang karenanya.

Peneliti Junior Lucy Amelia berjalan keluar ruang mess-nya. Dia baru bangun tidur, meski saat ini seharusnya sudah sore. Memang seperti itulah kehidupan personel shift malam.

Selagi dia berjalan di koridor mess, dia melihat ada sekumpulan orang yang memenuhi tengah koridor, sepertinya sedang nongkrong. Beberapa bersandar, sedangkan beberapa lagi jongkok di lantai. Mereka semua mengenakan seragam personel keamanan.

Dan mereka satu per satu menatap Lucy.

Mereka pasti tahu dirinya yang menembak Agen David Widya. Meskipun David jelas merupakan orang yang mencoba membunuh Lucy dan merekayasa seluruh pelanggaran penahanan, tentu personel-personel ini tidak dapat langsung memaklumi dirinya membunuh rekan mereka.

Lucy diam sejenak menatap mereka sebelum menunduk dan mencoba melewati mereka. Dia hanya bisa berharap mereka tidak mencoba mencari masalah. Mungkin mereka orang yang memaklumi keadaannya.

Das ist die Frau?

Salah satu dari mereka berkata, tepat di samping Lucy. Lucy sendiri tahu persis itu bukan bahasa Indonesia.

Ja, die Schlampe."

Salah satu penjaga membalas. Lucy tidak tahu yang mana yang bicara tapi dia merasa kenal dengan suara itu.

Willst du sie vermasseln?

Mereka masih berbicara. Lucy kini sudah melewati tatapan canggung para penjaga itu. Meski dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan; sepertinya mereka cuma menggunjingkannya.

BANG

Lucy reflek menoleh mendengar suara besi dipukul di belakangnya. Semua penjaga tadi kini berdiri, beberapa memegang erat baton mereka. Salah satu dari mereka – yang terdepan – menurunkan tangannya yang sepertinya baru saja memukul pintu besi ruang mess di sampingnya.

Ja. Terdengar menyenangkan bukan, Frau Lucy?”

Agen Hansel… Lucy menelan ludah. Dia mengenakan helmnya, tetapi suaranya sudah cukup jelas baginya. Di antara semua orang yang mungkin dia temui pagi ini, dia harus berpapasan dengan dia dan komplotannya. Lucy tanpa sadar meraba belakangnya; dia kebetulan membawa revolver David saat ini. Dia jelas tidak segan menembakkannya jika terdesak.

Aku sudah membunuh satu bajingan tempat ini, apa bedanya membunuh satu lagi dengan alasan membela diri.

Sepertinya Hansel menyadari gestur tangan tidak wajar Lucy. Dia diam menatapnya, sama seperti Lucy yang tengah mengantisipasi tindakan apa pun yang dilakukannya. Dia lalu menaikkan tatapannya sedikit, melampaui kontak mata Lucy.

Lucy sendiri tidak tahu apa yang Hansel lihat di belakangnya. Setelah memastikan kalau menoleh sebentar tidaklah masalah, dia segera melakukannya dan mendapati bahwa tepat di ujung koridor mess, terdapat kamera CCTV di atasnya.

Awalnya Lucy menduga dia tidak berani melakukan apa pun selama CCTV itu nyala, tetapi betapa terkejutnya dia begitu hendak berbalik, Hansel menyikut keras badannya sampai terjatuh. Hansel lalu mengulurkan tangan dan berkata, “Aku menyarankan jika kau mau membunuhku, lakukan itu lusa, ku dengar CCTV mati nanti.”

Lucy menepis uluran tangan Hansel dan mencoba berdiri sendiri, tetapi kemudian Hansel menendang bahu Lucy. “Akan kuurus kau setelah menyelesaikan tugas apa pun dari Tuan Louis nanti.”

Dia lalu berjalan melangkahi Lucy. Penjaga lainnya mengikutinya di belakang, meski tidak ada yang mengikuti tindakannya. Mereka cuma melihat ke arah Lucy yang mencoba berdiri selagi melewatinya. Lucy sendiri bisa melihat mereka kembali menyimpan baton mereka.

Lucy menunggu mereka tidak terlihat lagi di ujung koridor sebelum kembali berjalan. Dia mencoba melupakan kejadian tadi dan mempercepat langkahnya ke ruang atasannya. Setelah berjalan sampai persimpangan koridor, dia berjalan ke arah kiri dan kini berada di area kantor pribadi.

Dia melintasi berderet pintu dengan plakat berbeda di sepanjang jalan. Dia belum banyak mengenal peneliti di sini, sejauh ini yang dia kenal hanyalah deret awal kantor di ujung koridor tempat ruangan Peneliti Senior Johannes, Onyx, dan atasannya sendiri. Tidak banyak ruangan di bagian ini mengingat ini untuk kantor pribadi dan bukan pekerja umum, jadi Lucy berpikir dia mungkin akan mengenal sisa personel di koridor ini nanti. Mereka semua peneliti senior, jadi Lucy pasti bertemu setidaknya salah satu dari mereka nanti.

Dia akhirnya sampai di depan pintu atasannya. Dengan pelan dia mengetok sebelum membuka sendiri pintunya. Lucy tahu suaranya tidak akan terdengar di dalam, tetapi setidaknya pemberitahuan lewat ketukan menunjukkan adab kesopanan dirinya.

Lucy memegang gagang pintunya dan mencoba masuk, hanya untuk pintu tersebut tidaklah bergerak dari posisinya. Lucy heran dan mencoba lagi, tidaklah berhasil juga. Dia lalu mencoba mengetok pintu sedikit lebih keras selagi mencoba memanggil atasannya.

“Pak Herman?”

Tidak ada balasan. Pintu juga belum bisa dibuka. Lucy tahu atasannya belum pernah mengunci pintu sejauh ini. Mungkin dia tidak mau diganggu. Atau mungkin dia tidak di ruangannya. Itu kemungkinan yang dipikirkan Lucy. Dia lebih memilih percaya pilihan pertamanya.

Dia memutuskan untuk ke ruangan di sebelahnya, ruangan Peneliti Senior Onyx. Setidaknya dia bisa menunggu di sana. Ruangannya cukup dicapai dalam beberapa langkah. Lucy dengan segera mencoba mengetuk pintu di depannya.

Tidak ada jawaban setelah beberapa saat, Lucy langsung mencoba membuka pintunya. Tidak berhasil juga, Lucy memutuskan untuk mulai memanggil penghuni ruangan beberapa kali selagi tetap mengetuk, tetapi tidak ada balasan.

Lucy mundur beberapa langkah mengamati pintu di depannya. Jelas Atasannya dan Onyx tidak di ruangan. Tetapi Lucy tidak tahu mereka ke mana. Dia menoleh ke ujung koridor; kantor terakhir di pojok adalah ruangannya Peneliti Senior Johannes. Lucy diam berpikir apakah dia mampir ke sana untuk bertanya. Dia ingat terakhir ke sana, Jones dalam keadaan kurang tidur. Entah apakah dia masih seperti itu.

“Mencari Onyx?”

Lucy menoleh mendengarnya, di sampingnya berdiri seorang perempuan berambut hitam panjang dengan seragam normal peneliti – kemeja putih dan jas lab – yang sedang memakan cemilan kacang. Dia sedikit mengingatkan Lucy dengan Peneliti Erlina yang merupakan ketua tim penelitiannya dulu, terutama poni rambutnya yang setengah menutupi wajahnya. Yang membedakan mungkin ketiadaan luka apa pun di badannya, juga rambutnya yang diikat dengan gaya kuncir kuda. Tingginya juga mungkin kurang lebih sama.

Yang mencolok adalah dia mengenakan kacamata hitam yang Lucy tidak ketahui apa gunanya di situs tertutup seperti ini. Sangat mengingatkannya dengan Kepala SDM Situs ini, Pak Hidayat. Bedanya model yang dikenakannya adalah model kacamata aviator, sedangkan Pak Hidayat mengenakan kacamata berbingkai bulat.

Perempuan di sampingnya berdiri diam selagi mengunyah kacangnya, sepertinya menunggu balasan.

“Oh iya, Bu. Saya mau menemui Pak Herman tadi, tapi tidak ada orang. Saya nyari Pak Onyx juga tidak ada.”

“Herman ya…” Perempuan tersebut mengangguk mengerti sebelum menyapukan tangannya tadi ke jas labnya dan menunjuk ke arah kanan, sepertinya ke arah ruang penahanan. “Aku tidak tahu mengenai Onyx, tapi kalau Pak Herman tidak ada di dalam, dia seharusnya ada di ruang pengujian. Pertanyaannya adalah di lantai mana…”

“Pengujian?” Tanya Lucy. Dia memang belum pernah melihat atasannya melakukan penelitian. Dia sendiri baru sadar dia belum bertanya bidang penelitiannya apa.

“Oh, ya. Cuma dua itu kemungkinannya. Ah, dia juga bisa dipanggil menemui entah siapa. Satu hal yang jelas adalah dia pasti di kantornya kalau istirahat. Jangankan pulang, pria itu hampir tak pernah ke mess-nya sendiri…” Jawab perempuan lawan bicaranya, meski kalimat terakhir merupakan gumaman semata.

Kurang membantu, tetapi setidaknya Lucy punya patokan tempat mencari sekarang. “Baik, terima kasih, Bu…” Lucy berhenti, menunggu perempuan itu menyebutkan namanya.

“Heliza Braja. Peneliti Senior. Kau?” Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Lucy pun bersalaman dengannya. “Lucy Amelia. Peneliti Junior. Saya masih lumayan baru di sini.”

“Huh, junior katamu? Tumben… Oh, juga, ga usah pakai ‘bu’, panggil ‘kak’ saja, ya.” Dia menambahkan. Dia belum melepaskan jabatan tangannya.

“Oh, maaf, tapi kakak agak kelihatan tua sih.” Lucy beralasan. Perempuan di depannya jelas berusia 40-an. Selagi bicara, Lucy berinisiatif melepaskan genggaman tangannya duluan.

“Ngg, salahkan situs ini. Aku ga setua itu kok.” Dia membalas.

…35-an, paling tidak. Kurang lebih seumuran Kak Erlina jika mengesampingkan raut mukanya. Pikir Lucy. “Jadi, ehm, Kak Heliza apa perlu sesuatu tadi jadi manggil saya?”

Heliza sepertinya menatap lurus ke arah Lucy dari balik kacamatanya. “Tidak, tapi kau menghalangi jalan.”

Lucy dengan cepat melihat tempatnya berdiri, menyadari sedikit terlambat kalau dia berdiri tepat di tengah koridor. Dia reflek menepi mendekati pintu dan berkata, “Oh, maaf!”

“Ga apa-apa, kok.” Dia membalas. Lucy berpikir dia sepertinya tidak terlalu peduli kalau dia menghalangi jalannya atau tidak. Apa mungkin dia mencari kesempatan untuk percakapan kecil dan mengambilnya begitu ada. Lucy menebak itu karena dia tidak langsung beranjak pergi dan hanya menatapnya dari balik kacamata hitamnya(mungkin). Dia juga cukup tertarik mendengar kalau dirinya seorang peneliti junior.

Apa ku coba-coba lanjutin… Lucy menatapnya berlalu.

“…Uh, Kak. Kenapa kau memakai kacamata hitam di dalam situs?”

Heliza sepertinya senang mendengarnya dan membalas, “Heh, sudah ku duga kau akan menanyakan itu! Yah, mengenai itu, ehm… anggap saja aku suka memakainya.”

Lucy mengangguk meski dia tidak terlalu mengerti apa bagusnya dia mengenakan kacamata gelap di dalam situs. Dia dan Kepala SDM Pak Hidayat, meski yang satunya belum sempat dia tanyai.

“Jadi, apa kakak tadi terburu-buru mau lewat?” Lucy bertanya saat melihat Heliza masih berdiri diam.

Heliza seakan tersentak dan mulai berjalan segera. “Tidak juga sih.” Katanya selagi melewati Lucy. “Aku duluan! Mungkin kita ketemu lagi nanti, ya!”

Lucy mengamatinya berjalan ke arah kiri, jelas menuju lift. Perempuan itu bersikap cukup bersahabat dengannya meski dirinya tadi menghalangi jalan, tetapi begitu juga dengan Pak Hidayat. Dia kepikiran kembali kenapa perempuan tersebut memakai kacamata. Sesuatu terasa aneh saat perempuan itu terlalu lama menatapnya tadi.

Setelah beberapa saat, Lucy menggeleng tersentak dari lamunannya. Dia merasa cukup lama berdiam diri di koridor dan memutuskan sudah waktunya pergi juga untuk mencari atasannya. Menuruti saran Heliza, dia mendatangi ruang pengujian lantai Safe.

Dia melewati pintu pembatas. Lucy sekilas melihat ke samping, dia tidak melihat Heru bersandar di dinding saat ini.

Yah, dia bilang sendiri kalau dia juga bisa sibuk.

Dia terus berjalan menyusuri koridor luas yang bersebelahan langsung dengan rangkaian pintu dan brankas penyimpanan anomali Yayasan. Dia akhirnya sampai di area laboratorium; ruang pengujian hanya bisa diakses melalui laboratorium.

Begitu masuk, dia melihat serangkaian meja panjang berderet. Dia teringat pertemuannya dengan pengurus SCP-033-ID di tempat ini. Ada beberapa orang tengah sibuk di salah satu meja kali ini dibandingkan terakhir kali di mana cuma Peneliti Jerry yang ada di ruangan.

Onyx berada di antara mereka.

“Kak Onyx!” Lucy setengah berlari ke arahnya. Onyx yang mendengar suaranya langsung mendongkak dan melambaikan tangannya dengan semangat, tidak peduli peneliti lain yang tengah menatapnya sejenak sebelum mengurus urusan mereka masing-masing.

“Lucy! Kau perlu apa ya?” Dia bertanya kepada Lucy yang sudah cukup dekat.

“Mencari Pak Herman. Aku tanya-tanya dia mungkin di sini. Tadi aku juga nyari kakak, tapi ga ada di ruangan juga.” Jelas Lucy selagi melihat ke sekelilingnya. Keadaan laboratorium agak sibuk, dengan dia sekilas melihat personel keluar dari ruangan dengan semacam gerbang besi. Mungkin itu ruang pengujiannya.

“Pak Herman? Dia masih di ruang penyimpanan sementara. Seharusnya dia ke sini lagi.”
Onyx berkata selagi menunjuk ke arah pintu.

“Ah, begitu ya. Tadi ruangannya terkunci masalahnya.” Balas Lucy. Dia melihat ke arah kerumunan peneliti di meja di belakang mereka dan memutuskan untuk bertanya, “Jadi, ini ada apa ya? Apa Pak Herman tidak ada di ruangan karena ini?”

Onyx melihat ke sekeliling dan menjawab, “Kita mendapat anomali baru, peneliti senior sepertiku akan mengamati jalannya pengujian.”

“Eh, anomali baru? Serius?” Lucy jelas tertarik dan menoleh lagi ke arah pintu ruang pengujian. Dia mulai teringat saat dia ikut pengujian anomali baru di situs lamanya dulu. Meskipun kebanyakan cuma kiriman situs lain dan pengujian hanyalah untuk konfirmasi, tetapi itu lumayan menarik perhatiannya dulu. Anomali terakhirnya rasanya adalah sebuah panci tak terhancurkan; menyaksikan upaya penghancurannya cukup menarik.

Tetapi Lucy mulai teringat fakta bahwa dia berada di situs penahanan kelas Keter saat ini. Meskipun dia berada di lantai Safe, entah anomali apa yang akan berada di sana. Membuat Lucy berpikir jika anomali tersebut dinyatakan lumayan aman, apakah mungkin dirinya akan melihat anomali tersebut diberikan ke situs lamanya.

“Ya, baru didapat kemarin di salah satu daerah pinggiran Depok. Kita berhasil mendapat sampelnya dan sekarang lagi diujikan.” Jelas Onyx.

“Begitu ya, jadi apa yang ada di dalam sana?” Lucy akhirnya menunjuk ke arah pintu ruang pengujian.

Onyx menatapnya sebentar, memikirkan sesuatu sebelum menjawab, “Mungkin kau tanya Pak Herman saja nanti. Kau masih peneliti junior, kan? Siapa tahu aku ga boleh ngasih tahu hal tersebut.”

“Ya sudah sih…” Lucy membalas. Dia kembali diingatkan kalau status Onyx jauh di atasnya, tidak peduli sifatnya. Dia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi di ruang pengujian, menunggu atasannya selesai mengurus apa pun urusannya di luar sana. Dia masih harus menanyakaan nasib shift-nya.

Pada akhirnya seorang pria tua memasuki ruang laboratorium. Dia seperti biasa menggenggam papan klip berisi setumpuk kertas. Lucy langsung berdiri dari kursinya begitu melihatnya.

“Pak Herman!” Lucy setengah berlari ke arahnya.

Herman melirik ke arah Lucy dan mengisyaratkannya untuk menunggu selagi dia berjalan cepat ke arah ruang pengujian. Lucy memperlambat langkahnya dan mengikuti Herman dari belakang. Herman sendiri langsung berbicara dengan tiga personel di depan pintu ruang pengujian. Herman menunjuk ke ujung ruangan yang memiliki koridor di kirinya. dan ketiga personel tadi setengah berlari ke arah koridor tersebut. Baru akhirnya dia menoleh ke arah Lucy dan mengisyaratkannya mendekat.

“Ada apa ya, Nak Lucy?” Dia bertanya begitu Lucy cukup dekat. “Ini bapak lagi mengadakan penelitian ya?” Lucy balas bertanya.

Herman mengangguk. “Kita agak sibuk saat ini, seperti yang anda lihat.” Katanya. Lucy sudah tahu bagian itu. Dia memang penasaran mengenai penelitian mereka, tetapi dia ke sini untuk menanyakan sesuatu, jadi dia langsung bertanya, “Mengenai shift saya bagaimana, ya?”

Herman mengangguk mendengarnya dan berkata, “Ah, itu… Menurut saya, anda bisa istirahat dulu untuk beberapa hari di ruangan saya. Saya mungkin akan sibuk di sini selama penelitian ini. Nak Lucy punya kunci ruangan juga, kan?”

Lucy memang memiliki kunci ruang kantor Herman di ruang messnya, tetapi tetap saja setidaknya dia mencari atasannya dulu sebelum melakukan apa pun.

“Iya, Pak. Saya punya.” Lucy menjawab pertanyaan atasannya. Herman lalu berkata, “Baik, santai saja di ruangan saya, ya.” Sebelum beranjak pergi ke koridor sebelumnya, meninggalkan Lucy seakan perkataannya tadi adalah instruksi tugas Lucy selanjutnya. Lucy sendiri sebenarnya ingin menonton pengujian, tetapi dia tidak yakin dia bisa menanyai Pak Herman di tengah kesibukannya.

Lucy menoleh ke arah Onyx dan kerumunan personel sebelumnya; sebagian besar dari mereka termasuk Onyx sudah tidak ada di sana, mungkin sudah pergi ke ruang pengujian. Lucy memutuskan untuk keluar laboratorium dan menunggu di kantor atasannya.

Koridor demi koridor dilaluinya. Pintu penahanan objek kelas Safe yang berderet di sepanjang koridor di sampingnya membuat Lucy berpikir apakah apa pun yang mereka punya di sana akan dimasukkan di salah satu pintu tersebut. Lucy sendiri belum pernah melihat pintu tersebut dibuka dan memperlihatkan interior ruang penyimpanan objek sejak awal bergabung. Ada beberapa pintu yang berukuran lebih besar dibanding pintu-pintu di sampingnya. Lucy berpikir mungkin itu untuk objek khusus. SCP-007-ID dan SCP-033-ID di simpan di lantai ini juga seharusnya, jadi itu mungkin ruangan mereka.

Lucy menoleh selagi berjalan melewati ruang istirahat teknisi, mengamati mereka berkumpul dan bersantai seperti biasa. Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan di situs ini jika tidak ada kerjaan, sepertinya. Juga jika punya teman, sepertinya.

Melewati pintu pembatas, Lucy berpikir mengenai dirinya yang mulai akrab dengan orang-orang di situs ini. Di situs lamanya dulu, dia punya teman yang sering mengajaknya bicara juga senior yang bersahabat. Teknisnya dia punya beberapa sekarang.

Membuka pintu pembatas dengan kedua tangannya, Lucy kembali teringat kalau dia dikirim ke sini karena perintah atasannya dulu. Dia jelas tidak berniat untuk berlama-lama di tempat ini, tetapi tidak ada salahnya membuat dirinya nyaman selama misi.

Dia kini berada di area kantor pribadi. Pintu ruangan Onyx dan atasannya Herman yang tertutup rapat membuat Lucy teringat kalau dia tetap harus mengambil kunci cadangan di ruang messnya. Dia menghela nafas dan setengah berlari ke arah messnya.

Selagi menyusuri koridor, Lucy memikirkan bagaimana keadaan temannya di situs lamanya selama dia di sini.

Dia mulai berpikir untuk menghubungi mereka nanti saat tiba-tiba dia terjatuh.

Lucy reflek menoleh ke samping. Seorang personel keamanan memutar-mutar batonnya selagi berjalan tanpa memedulikannya yang terjatuh. Tidak salah lagi, penjaga tersebut baru saja mengait kakinya agar terjatuh. Lucy sedikit terlarut dalam pikirannya sampai tidak menyadari kalau dia berpapasan dengannya.

Lucy mulai mendengar langkah kaki dan menoleh ke depan; dua orang personel keamanan berjalan mendekatinya.

Yang paling depan menoleh ke belakang dan berkata, “Darf ich?

Personel di belakangnya membalas, “Nein.

Mendengar hal tersebut, personel paling depan berjalan melaluinya. Kini sisa personel keamanan terakhir di depannya.

“Kau masih kesal mengenai kejadian yang lalu, Hansel?” Lucy berkata. Dia langsung mencoba berdiri sebelum Hansel sempat melakukan sesuatu, tetapi tiba-tiba seseorang menginjak punggungnya dan membuatnya terjatuh lagi.

Ich dachte, Sie könnten sich selbst darum kümmern?” terdengar suara dari belakangnya. Suara personel yang melewatinya tadi.

“Tch!” Balas Hansel. Dia langsung menghentak keras, tepat di samping kepala Lucy selagi berkata, “Sekarang tidak ada si tukang pukul Onyx untuk mendampingimu. Kau seharusnya memikirkan itu sebelum melibatkan dirimu dengan urusan kami.”

Lucy mencoba berdiri dan berkata, “Persetan dengan permasalahan kalian. Fakta kalau kalian korup adalah alasanku untuk terlibat.”

Hansel menatapnya untuk beberapa saat. Lucy tidak tahu ekspresi apa yang dibuatnya di balik visor kuning helmnya. Tetapi dia lalu berjalan melewatinya dan berkata, “Yah, aku perlu pelampiasan.”

Dan dengan itu mereka pergi menjauh meninggalkan Lucy. Lucy sendiri dengan segera bangun dan merapikan jas labnya yang pasti berdebu karena diinjak. Dia juga meraba senjata yang dia taruh di pinggangnya. Untungnya tidak terjadi apa-apa dengannya.

Lucy memutuskan untuk segera meraih kunci kantor dan beristirahat di sana. Itu pilihan terbaiknya saat ini dibanding berada di luar dan berpapasan untuk ketiga kalinya dengan mereka.

Setelah mendapatkan kunci ruangan dan dengan perlahan menyusuri koridor selagi memastikan tidak adanya serangan seperti tadi, Lucy akhirnya berhasil sampai di depan kantor atasannya kembali.

Lucy dengan segera memasukkan kunci ruangan di lubang kunci, tetapi dia berhenti sebelum memutar kuncinya.

Apa aku benar-benar akan mengurung diri di ruangan selama berhari-hari?

Dia melirik ke arah samping.

Di luar jelas tidak aman, aku jelas akan terlibat masalah lagi dengan mereka… tapi apalagi alternatif yang ku punya?

Setelah dia diam selama beberapa saat, sesuatu terlintas di benaknya,

Bagaimana kalau aku ikut penelitian Pak Herman saja?

Lucy mengangguk perlahan dan tersenyum, dia mencabut kunci kantor dan mengantonginya sebelum dia mulai berjalan cepat ke arah ruang pengujian.


Setelah beberapa saat menyusuri kembali jalannya sebelumnya, Lucy akhirnya sampai di ruang laboratorium. Suatu kebetulan bahwa atasannya Herman duduk sendiri di laboratorium. Tepatnya dia duduk di atas meja selagi menatap ke arah pintu ruang pengujian

Sepertinya dia menyadari Lucy datang dan langsung berdiri selagi merapikan jas labnya. Dia meraih papan klip di meja sebelum mendekati Lucy dan bertanya, “Nak Lucy, anda perlu sesuatu?”

Lucy sendiri tidak membuang waktu dan langsung bertanya, “Apakah saya bisa ikut bergabung dengan penelitian Bapak?”

Herman tertegun mendengarnya untuk sesaat. Dia lalu berkata, “Sebenarnya bisa, tetapi apa anda yakin? Nanti kerjanya lebih berat, lho. Anda kan baru peneliti junior.”

Sepertinya ini lebih mudah dari yang Lucy duga, tetapi dia tetap harus bisa meyakinkan atasannya untuk bergabung. Saat memikirkan alasan yang bagus, dia teringat perkataan temannya dulu saat di situs lamanya.

“Ngg, Saya dengar di situs ini kalau mau naik jabatan itu bakal cepat. Saya… ehm… tertarik dengan itu, jadi saya kira penelitian kayak gini bakal membantu karir saya.” Kata Lucy, berupaya merangkai alasan tanpa membuatnya terdengar seperti haus jabatan.

Herman hanya tersenyum seakan dia memaklumi hal tersebut. Dia lalu berkata, “Kita bisa urus itu nanti, tetapi mungkin sebaiknya anda tahu dulu apa yang kita tengah teliti.”

Dia lalu berjalan menjauh dan berkata, “Ikut aku.” Tentu Lucy mengikutinya dari belakang. Mereka kini berjalan menuju koridor kecil di samping ruang pengujian. Koridor tersebut lumayan panjang, sepertinya mengitari ruang pengujian. Di ujung koridor terdapat pintu di sisi kirinya. Herman mengeluarkan kartu aksesnya dan menempelkannya di alat di samping pintu tersebut. Pintu tersebut terbuka dari samping , menunjukkan tangga panjang ke lantai atas. Herman berjalan ke atas, diikuti Lucy di belakangnya.

Lantai atas ternyata merupakan sebuah ruangan observasi kecil yang memiliki panel kontrol di depan kaca observasi dan beragam panel kontrol lain di dindingnya dan personel saat mereka masuk. Di sisi kiri mereka terdapat kaca yang menunjukkan pemandangan ruang pengujian di bawah mereka.

“Lucy!”

Lucy yang belum selesai mengamati kondisi di bawah langsung menoleh ke arah kerumunan peneliti tadi dan menyadari Onyx di antara mereka, mencoba melewati kerumunan. Lucy sedikit meringis melihatnya menarik perhatian peneliti lain karena hal tersebut.

“Hai, Kak Onyx.” Lucy menyapa pelan, menghindari kontak mata dengan peneliti lain yang dia tidak tahu apakah masih menatapnya.

“Jadi Pak Herman, ini Lucy ikut penelitian sebagai asistenmu?” Onyx mengalihkan perhatiannya ke Herman di depannya.

“Aku yang minta, sih.” Lucy membalas duluan. “Jadi saya bawa dia untuk melihat penelitan anomali ini untuk awalan. Setidaknya ini akan jadi pengalaman yang baik untuknya.” Herman menambahkan.

Dia kemudian berjalan lagi dan berkata kepada Lucy, “Anda cukup menonton saja, tidak perlu mencatat apa pun.” Dengan itu dia berjalan menjauh.

Onyx melewati Herman dan sepertinya mengambil alih peran atasannya dengan menjelaskan, “Jadi anomali kita saat ini adalah sekumpulan kantong plastik di sana.”

Lucy melirik kembali ke arah ruang pengujian. Dia bisa melihat tiga orang pria dan dua orang perempuan berseragam oranye tengah duduk di lantai atau bersandar di dinding. Dia melihat ada meja berisi beragam kemasan produk sehari-hari di atasnya, beserta sebuah plastik putih kosong di sampingnya. Baru dia menyadari ada setumpuk plastik serupa yang masih terikat di pojok.

“Jadi ada apa dengan mereka?” Tanya Lucy selagi menunjuk ke arah ruang penahanan, tepatnya ke arah personel Kelas-D di bawah.

“Mengenai itu, tiap plastik di bawah itu berisi sekumpulan produk sehari-hari. Makanan, sabun, minyak, sembako dan sebagainya. Anehnya tidak ada satu pun yang memiliki label. Tepatnya, mereka kemungkinan awalnya punya, tetapi sepertinya dihilangkan” Jelas Onyx. “Di dalam tiap plastik itu, terdapat tulisan, ‘Telan uang sesuai harga barang yang digunakan’. Kami masih tidak tahu apa arti tulisan itu, tetapi kami punya dugaan.”

Onyx bersandar di panel kontrol, membelakangi kaca observasi. “Plastik-plastik itu ditemukan di daerah pinggiran Depok. Awalnya terdapat laporan…”

Dia terhenti dan diam sejenak untuk memikirkan sesuatu selagi menoleh ke arah Lucy. Akhirnya dia melanjutkan, “Agak susah menjelaskannya, tetapi ehm… Rumah sakit setempat mendapat laporan kalau tiba-tiba ada beberapa warga yang… kehilangan kulit mereka.”

Lucy tidak memiliki komentar untuk itu. Dia bahkan seketika mencoba sebisanya untuk tidak membayangkannya. Tetapi dia tetap mendengarkan penjelasan Onyx.

“Tidak ada yang selamat, kabarnya. Ku dengar agen lapangan yang langsung dikerahkan merasa beruntung tidak mendengar teriakan mereka saat masih hidup di ambulan. Setelah diotopsi, beberapa ternyata juga kehilangan gigi mereka. Tentu saja itu baru ketahuan setelah Yayasan ikut campur.”

Onyx menunjuk ke belakang dengan jempolnya. “Agen lapangan mengecek asal rumah warga-warga tersebut dan menggeledah rumah mereka. Mereka berhasil menyita plastik-plastik itu dari rumah mereka. Ternyata hampir satu RW mungkin yang menerima plastik itu. Warga yang beruntung belum membuka plastik itu mengatakan kalau ada mobil pick up yang membagi-bagikan plastik itu dengan gratis. Kata mereka itu bantuan sembako awal Ramadhan.”

Lucy mengepalkan tangannya mendengar hal itu. “Tunggu, apa?! Orang-orang itu… bisa-bisanya memberikan anomali berbahaya kepada mereka dengan alasan sehina itu!”

Onyx tersenyum mendengar itu dan membalas, “Kan, aku juga berpikir seperti itu!” Dia melirik ke samping setelahnya. “Senang mengetahui yang pertama kau pikirkan adalah nasib korban. Para peneliti itu, mereka seperti tidak peduli saja. Maksudku, lihat saja mereka. Aku berharap mereka membicarakan mengenai para korban setidaknya.”

Lucy mengikuti arah pandangan Onyx. Dia bisa melihat sekumpulan peneliti lain sibuk menatap pekerjaan mereka masing-masing dengan ekspresi datar. Salah satu peneliti melirik ke arah kaca observasi dan mengamatinya selama beberapa detik sebelum menutup matanya dan menggeleng. Dia lalu kembali fokus dengan kerjaannya.

Lucy mengamati itu dengan heran. “Apa mungkin mereka menghindari membicarakan hal tersebut…” Lucy berkata dengan pelan sebelum terhenti. Dia ikut melirik seperti peneliti tadi dan kembali menyadari kalau ada Kelas-D di bawah sana. Dia tiba-tiba bertanya, “Tunggu, apa Kelas-D di bawah itu, apa mereka membuka plastik itu juga?”

“Ya memang. Kami di sini dari tadi nunggu reaksi dari mereka. Satu Kelas-D memakan produk itu, satu lagi memakai sabun dari plastik itu, lalu satu lagi menggunakan pasta gigi darinya, dan begitulah. Sejauh ini belum ada tanda-tanda perubahan apa pun.” Jawab Onyx.

Lucy menelan ludah. Dia tidak tahu apakah para peneliti lain di ruangan ini lebih berpengalaman mengamati hal semacam ini dibanding dirinya, karena Lucy jelas tidak siap untuk melihat apa pun yang akan terjadi. Ku rasa memang sebaiknya menyibukan diri dengan kerjaan dari pada memikirkan nasib mereka nanti… Pikirnya, akhirnya memaklumi para peneliti yang bersamanya.

Dia berbalik membelakangi kaca. Dia lalu bertanya, “Jadi, kita menunggu reaksi sekarang?”

Onyx mengangguk. “Pengujian sudah dimulai sejak tadi pagi. Kami secara berkala ke sini setiap tiga jam, makanya tempat ini penuh. Sepertinya ini lebih penuh dibanding siang tadi. Mungkin akan tetap seperti itu sampai tengah malam.”

“Karena tulisan di plastik itu, ya?” Lucy menebak.

“Ya, entah bagaimana plastik-plastik itu akan bekerja nanti.” Onyx menjawab.

Mereka kini saling diam, dengan Lucy sesekali melirik ke kaca penahanan. Para Kelas-D di bawah terlihat santai berbincang. Lucy yakin mereka tidak diberi tahu untuk apa mereka di sana atau efek dari menggunakan produk dari plastik itu.

Lucy menggeleng pelan. Dia tahu para Kelas-D itu pantas mendapatkan apa pun yang akan terjadi dengan mereka. Kelas-D setahunya adalah tahanan mati yang memilih mengingkari hukuman kematian mereka dengan bergabung Yayasan. Lucy tidak memiliki rasa peduli terhadap orang seperti mereka.

Lucy melirk ke depan; empat orang peneliti keluar ruangan. Dia lalu melirik ke arah para peneliti yang tersisa. Mereka antara sibuk dengan kerjaan atau sibuk berbincang. Ini akan jadi malam yang panjang bagi Lucy, jadi dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya. Tidak ada sinyal, jadi dia cuma menghabiskan waktunya menunggu dengan memainkan game offline yang dia unduh sebelum masuk ke Situs-79.

Setelah beberapa saat, dia mulai lelah berdiri. Dia menoleh ke sekeliling dan mendapati hanya ada empat kursi di ruangan ini yang sudah diambil peneliti lain, jadi dia memutuskan untuk duduk di lantai.


Lucy setengah terbangun ketika mendengarkan suara ribut di sampingnya. Dia melirik dan mendapati para peneliti sedang sibuk dengan sesuatu. Salah satu peneliti tengah memegang mikrofon tertanam pada panel kontrol dengan tangan kanannya sedangkan tangan lainnya mendekatkan sebuah headphone ke dekat kepalanya.

“D-1911 apa yang kau rasakan?! D-1911, jawab! D-0914, jawab kami!” Dia berkata keras. Beberapa saat kemudian Lucy baru sadar dia memang tengah berteriak dengan panik.

“Tolong tenang! Bu Radia, tolong lakukan sesuatu di sana!” Peneliti tersebut meletakkan headphone-nya dan berkata ke belakang, “Coba kontak personel di bawah, tanyakan separah apa keadaannya.”

Lucy menoleh ke samping dan menyadari Onyx tidak ada di sampingnya. Dia lalu mencoba berdiri dan menoleh ke belakang, ingin mengamati apa yang tengah terjadi.

Sesosok sesuatu berwarna merah pekat merupakan hal pertama yang dilihatnya dan Lucy langsung kembali duduk, menyadari penuh apa itu barusan. Dia sekarang paham apa yang tengah terjadi. Dia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Meski sekilas, sosok tersebut sudah tertanam di ingatan Lucy. Semakin dipikirkan, ekspresi sosok tersebut makin jelas.

Lucy melirik kembali ke arah kumpulan peneliti tersebut. Akhirnya dia melihat Onyx di kerumunan; badannya lumayan tinggi untuk itu. Dia hanya menyilangkan tangannya selagi tetap menatap ke arah kaca observasi. Dia tidak terlihat khawatir atau jijik, malah Lucy mendapati dia terlihat cukup tenang mengamati keadaan di sana. Dia bersikap layaknya seorang peneliti senior.

Memikirkan hal itu, Lucy menunduk. Kedepannya dia tidak akan terus-terusan main aman menonton penelitian objek tanpa risiko sebagai peneliti Yayasan. Tidak jika dia ingin naik jabatan. Lalu di tengah itu Lucy malah tiba-tiba kepikiran, apakah bisa dirinya naik jabatan dari awal. Dia bukan personel Yayasan asli, hanya menunggu waktu sampai dia sepenuhnya mengkhianati Yayaasan mengikuti perintah atasan aslinya nanti.

Lucy terkekeh; cukup ironis memikirkan itu mengingat dia sendiri ke sini untuk mencari pengkhianat untuk dibunuh. Tetapi targetnya seharusnya pantas mendapatkannya.

Lucy mulai memegang pinggiran panel kontrol; mau bagaimana pun, dia akan melihat orang mati nanti, dia merasa dia harus membiasakan diri sekarang. Dengan pikiran itu, Lucy berdiri kembali dan mengamati ruang observasi, menanam pengalaman pertamanya menonton pengujian di situs kelas Keter dengan bergidik dan setengah memejamkan mata.


Pada akhirnya, segalanya kembali tenang. Lucy akhirnya berjalan mendekati Onyx. “Jadi Kak, bisa minta tolong jelaskan apa yang tepatnya baru saja terjadi tadi?”

Onyx menunjuk ke arah meja dan berkata, “Dua orang yang memakai sabun dan sampo tiba-tiba kulitnya terkelupas. Terkelupas utuh, bukan sepotong demi sepotong. Seperti pisang mungkin.”

Lucy bergidik membayangkan perbandingan dari Onyx, tetapi dia terus mendengarkan.

“Satu yang memakai pasta gigi tadi tiba-tiba giginya lepas semua. Dan katanya itu terasa dilepas dengan paksa, meski giginya terlihat berjatuhan perlahan secara alami.” Onyx melanjutkan. “Bagian anehnya adalah semua anggota tubuh tadi tiba-tiba terhisap masuk ke dalam plastik tersebut. Cuma mereka; personel tidak terpengaruh efek apa pun darinya. Setelah didekati, plastik itu kosong.”

“Jadi efek anomalinya ada pada plastik itu?” Lucy mencoba menduga. Onyx menggeleng sebagai jawaban. “Masih belum pasti. Lagi pula barang-barang itu berasal dari plastik juga. Antara mereka satu kesatuan atau memang cuma plastiknya masih belum dipastikan.”

“Yang tidak mendapat efek apa pun adalah perempuan itu yang menggunakan minyak goreng di wajan yang disediakan dan pria itu yang mengonsumsi semacam produk kornet dari plastik tersebut.” Kata Onyx selagi menunjuk dua orang Kelas-D yang sepertinya tengah diwawancarai peneliti di bawah.

“Jadi tidak semua ya…” Lucy menggumam.

“Antara tidak semua atau kita belum tahu efek mereka apa. Aku jelas berharap kemungkinan pertama.” Balas Onyx.

Mereka diam setelah itu, saling menatap kaca observasi. Lucy merupakan yang pertama untuk kembali bicara. “Jadi kapan pengujian selanjutnya.”

“Besok, mungkin. Biasanya hasil pengujian dianalisis dulu. Aku… kemungkinan akan di sini dengan mereka. Mungkin bagimu agak membosankan sih, jadi kau bisa kembali ke mess mu sampai besok. Lagi pula Pak Herman bilang tidak ada kerjaan untukmu, kan?” Tawar Onyx.

Lucy reflek menggeleng, masih ingat alasan kenapa dia ingin bergabung ke penelitian ini. Tetapi mendengar perkataan Onyx juga mengurangi motivasinya untuk tetap di sini. Sebagian besar waktunya mungkin cuma diisi dengan duduk diam di ruangan ini, mungkin mengamati para peneliti lain sampai mereka mungkin terganggu akan keberadaannya. Tidak berbeda dengan dirinya berada sendirian di kantor atasannya.

Kalau dipikir lagi, di mana atasannya?

“Sebentar, Pak Herman di mana ya?” Lucy bertanya ke Onyx. “Dia ikut keluar tadi. Mungkin di lab?” Jawabnya.

Lucy mengangguk dan berterima kasih kepada Onyx sebelum pergi ke bawah. Mungkin dia bisa membantu apa pun yang diperlukan atasannya.

Setelah keluar dari koridor kecil samping ruang pengujian, dia kini di ruang laboratorium. Ada banyak peneliti, tetapi setelah diperhatikan dengan seksama, Lucy tidak melihat atasannya di mana pun.

“Permisi,” Lucy mencoba bertanya ke peneliti terdekat yang tengah membaca sekumpulan kertas. Dia menoleh ke arah Lucy, jadi Lucy lanjut bertanya, “Apa anda melihat Pak Herman?”

Peneliti itu menoleh ke sekeliling sebelum menjawab, “Dia keluar ruangan sejam yang lalu. Belum kembali sampai sekarang.”

Itu tidak membantu Lucy, tetapi dia tetap berterima kasih selagi berjalan keluar mengikuti perkataan peneliti tadi. Dia melihat sekeliling dan mendapati ruang penyimpanan sementara lumayan sepi. Ini jelas sudah lewat tengah malam.

Dia terus berjalan menyusuri koridor, sesekali berpapasan dengan peneliti yang mungkin ingin ke laboratorium. Selagi berjalan, Lucy tidak hentinya mengamati sekeliling. Dia tidak tahu apakah Hansel atau anak buahnya tidur saat ini, tetapi dia bisa berharap demikian.

Untungnya dia berhasil melewati pintu pembatas tanpa masalah. Dia melirik ke arah area kantor umum, mendapati beberapa peneliti masih terjaga di depan monitor mereka. Dia tidak melihat atasannnya di sana.

Lucy teringat perkataan seseorang saat berada di sini mengenai atasannya,

”…Satu hal yang jelas adalah dia pasti di kantornya kalau istirahat…”

Kemungkinan paling besar dia tengah istirahat sejak sejam yang lalu. Kantornya merupakan kemungkinan yang bagus sebagai tempat mencarinya. Kini dia berada di area kantor pribadi. Setelah beberapa langkah, dia berada di depan ruang atasannya.

Lucy menatap ke lantai. Lantai keramik di bawahnya sudah lama selesai diperbaiki. Jadi kini dia berdiri di atasnya dan berpikir apakah dia masuk saja atau membiarkan dia istirahat.

Selagi dia memutuskan, di tengah koridor sunyi ini, dia bisa mendengar suara langkah kaki perlahan mendekat.

Banyak langkah kaki. Mendekat ke arahnya.

Lucy dengan segera mencoba membukanya, menyadari bahwa pintu itu terkunci. Dia langsung merogoh kantongnya dan mencari kuncinya. Dia berhasil mendapatkannya dan dengan segera mengeluarkannya. Sayangnya dia mengeluarkannya dengan tergesa-gesa sehingga kunci tersebut membentur pintu besi di depannya, membuat suara yang cukup nyaring di koridor sunyi ini.

Lucy segera membungkuk meraihnya dan langsung memasukkan kunci tersebut ke lubangnya. Tepat saat itu, dia mendengar suara di sampingnya.

“Lucy?”

Tidak ada salahnya menoleh sebelum dia memutar kunci tersebut dan masuk, jadi dia menoleh dan mendapati bukanlah Hansel yang berada di ujung koridor, tetapi Heru yang mengenakan seragam lengkap agen lapangan minus helmnya diiringi sekelompok orang berseragam hitam serupa.

Dengan hembusan nafas lega, Lucy menjawab, “Oh, Kak Heru, toh.”

Agen Heru akhirnya berada di samping Lucy dan bertanya, “Kami nyari Pak Herman. Di laboratorium ga ada, jadi ku kira dia di sini.”

“Aku juga nyari pak atasan, ku cek dulu.” Lucy berkata selagi kembali memutar kunci pintu. Dia perlahan membuka dan mendapati atasannya tengah duduk di sofa. Kedua tangannya memegang pinggiran meja.

“Ya, masuk!” Herman berkata, entah kenapa sedikit ada penekanan. Lucy masuk duluan dan berkata, “Aku bersama kak- ehm, Agen Heru. Dia ada keperluan dengan bapak.”

Herman cuma mengangguk. Dia mengusap matanya sebentar dan berkata ke Lucy, “Lain kali, ketuk dulu pintunya. Kau sedikit mengejutkanku.”

Sebelum Lucy menjawab, Heru masuk bersama dua orang agen dan berkata, “Maaf mengganggu, Pak Herman. Ku lihat kau masih bekerja pada jam segini, eh.”

“Tidak apa-apa. Saya tidak sibuk.” Herman berkata.

Heru lalu meminta salah satu agen membawakan sesuatu kepadanya selagi duduk di sisi berseberangan. Lucy sendiri berjalan mendekati Herman dan berdiri di sampingnya. Akhirnya salah satu agen menyerahkan sebuah kertas yang cukup besar dan meletakkannya di meja, menunjukkan bahwa itu adalah peta kota Depok. Hanya saja penuh lingkaran merah dan panah beserta tulisan dari spidol.

“Seperti yang ku katakan di telepon tadi, pencarian kami terhenti di daerah ini, tepatnya.” Heru menunjuk salah satu area yang dilingkari spidol merah. “Kami memperluas area pencarian sejauh dua kilometer, tetapi kami gagal mendapat gambaran penuh jalur mobil pick up itu tadi. Mereka pintar nyebarin barang tersebut di area seperti gini. Jelas minim CCTV.”

“Jadi rencananya adalah menyebar tim di lima area ini. Kita kagak tahu target mereka selanjutnya, tapi kita bisa berpatokan polanya mengikuti sepanjangan Sungai Ciliwung berdasarkan insiden awal. Rute yang mereka ambil sebelumnya juga menjadi patokan yang baik.” Jelas Heru.

Dia lalu bersandar dan berkata, “Kami akan berangkat pagi mengamati situasi. Apa Bapak akan ikut lagi?”

Herman diam sejenak mengamati peta di depannya. Dia akhirnya menjawab, “Ku pikirkan sebentar.”

Tanpa diduga, dia menoleh ke arah Lucy dan bertanya, “Anda sendiri, Nak Lucy? Apa anda perlu sesuatu?”

Lucy, tidak menyangka akan diajak bicara reflek membalas, “Maksudnya, Pak?”

“Anda kembali ke kantor ini, anda tidak kembali ke mess setelah penelitian di sana selesai?” Herman kembali bertanya.

Lucy akhirnya teringat alasan dia ke sini dan menjawab asal, “Oh, saya kira selesai penelitian saya harus kembali ke sini.”

Herman tersenyum dan membalas, “Kan saya bilang tidak ada kerjaan untuk saat ini. Saya masih agak sibuk. Anda bisa kembali ke mess atau ngejagain tempat ini.”

Perhatian Herman kini teralihkan ke arah Heru. “Jadi sejujurnya saya sendiri tidak yakin bisa ikut ke luar situs. Hasil pengujian perlu dianalisis dan anda tahu sendiri para peneliti di sini sedikit bergantung dengan saya untuk itu.” Katanya.

“Heh, dapat dipahami sih, Pak.” Heru membalas. “Jadi Bapak tidak ikut, kalau begitu.”

Herman menggeleng selagi tersenyum, “Kalau ada kontak tetapi tidak ada representatif Yayasan bisa bermasalah. Saya ikut.”

Dia lalu kembali menoleh ke arah Lucy, “Kalau ada perlu, temani saja Nak Onyx. Kunci ruangan jika kau mau pergi, ya.”

Lucy menganggguk pelan. Pada akhirnya dia sendirian di ruangan. Kembali ke mess jelas hanya akan mengundang keributan jika dia tidak beruntung. Berada di laboratorium akan membuatnya terlihat seperti pemagang tanpa kerjaan.

Dia melihat atasannya. Jelas Herman terlihat kelelahan dari matanya yang sayu. Selalu seperti itu, jika Lucy amati.

Lalu sesuatu terlintas di benak Lucy. Dia lalu mendekati Herman dan bertanya,

“Apa saya bisa menggantikan Bapak di lapangan?”

Kedua orang di kursi menatapnya untuk beberapa saat.

“Maaf?”

Kronik Situs-79

Bab 5: Rumah Jagal
| Orang-orang Susah | Bandit Kelas Coro »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License