Omong Keadilan
rating: +1+x

Kilat demi kilat dari tembakan peluru tiap agen Yayasan yang ada memenuhi ruangan tersebut. Keadaan di luar sudah mulai gelap karena mendekati sore, membuat sumber pencahayaan mereka sebagian besar adalah senapan mereka sendiri. Mereka tidaklah sempat mencari saklar tempat ruangan tersebut.

Target semua agen cuma satu, seekor makhluk raksaksa berwujud sapi tanpa kulit. Darah terus mengalir di permukaan kulitnya, tidak ada yang tahu apakah jika menunggu cukup lama, dia akan mati dengan sendirinya. Makhluk tersebut tercipta dari kumpulan korban pabrik yang tengah agen Yayasan masuki. Pemimpin tempat ini yang menjadikan mereka seperti itu dengan objek anomalus yang dibawanya kabur. Dia sudah lari, tetapi ciptaannya tertinggal di sini.

Makhluk tersebut baru saja selesai membentuk dirinya menjadi wujudnya saat ini. Agen-agen Yayasan baru saja mulai menembakinya. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sebagian besar agen Yayasan terlalu jauh dari makhluk tersebut. Mereka berada di lantai kedua yang berada di seberang ruangan, dengan segera berlari ke arahnya selagi bergantian berhenti dan menembak. Yang terdekat dengan makhluk tersebut hanyalah tiga orang: dua orang agen dan satu-satunya tahanan mereka, Arma.

“Orang itu tadi, dia bilang potong bagian kakinya, kan?” Kata Arma kepada dua orang agen yang kini tidak lagi mendampinginya karena tengah menembak makhluk di depan mereka. Dia mengatakan itu karena para agen saat ini tengah menembaki area badan makhluk tersebut.

“Terlalu berisiko untuk mendekatinya!” Salah satu agen berkata. “Pilihan terbaik saat ini adalah menembak bagian badan terbesarnya.” Agen lain menambahkan.

Setelah cukup lama ditembaki, makhluk tersebut mengeluarkan suara keras selagi menghadap ke atas. Tanpa peringatan lain, dia langsung berlari dan menabrak mesin-mesin di depannya. Jarak antara makhluk itu dan hampir seluruh agen Yayasan hanya dipisahkan mesin-mesin dan conveyor belt pabrik yang sudah hancur ditubruknya. Makhluk tersebut mengangkat kepalanya dan menggelengkannya seakan ia tengah membuang serpihan besi yang menempel di kepalanya.

Dasar bodoh! Arma mengumpat dalam hati, mengamati agen Yayasan yang menembaki area badannya dari jarak dekat sekarang. Dia berpikir kalau itu hanya membuat makhluk tersebut murka. Dia melihat kedua agen di depannya berlari ke arahnya, sepertinya untuk menembak area badan juga. Dirinya melihat ke arah gergaji besar yang tengah dia pegang sebelum kembali menatap makhluk tersebut. Beberapa saat lagi, makhluk itu mungkin akan menyeruduk para agen lagi.

Arma menggenggam erat gagang gergaji besar tersebut. Satu hal yang dipikirkannya adalah jika agen-agen ini mati, begitu pula dirinya, dan itu cukup untuk membuatnya lari berteriak ke arah makhluk itu.

Dia dengan cepat melalui kedua agen di depannya, membuat keduanya saling berlari mengejarnya selagi berteriak juga untuk menghentikannya. Tetapi Arma tetap mengikuti tujuan asalnya dan dengan cepat mengayunkan gergaji yang dipegangnya ke arah kaki belakang makhluk tersebut.

Terdapat tulang di dalam kaki makhluk tersebut, tetapi mereka tidaklah saling tersambung melainkan mencuat secara acak di antara dagingnya. Itu cukup untuk membuat hasil tebasan Arma cukup dalam sehingga hampir memutusnya. Arma dengan cepat mencoba menariknya untuk menebas lagi, tetapi dia kesulitan menariknya keluar.

Makhluk tersebut jelas merasakan rasa sakit di kakinya sehingga dia menggerakkan kaki belakangnya ke depan. Untungnya itu membantu Arma menarik gergajinya dengan cepat karena beberapa saat kemudian, makhluk tersebut menendang ke belakang dengan kecepatan mematikan. Kedua agen yang berlari tadi hampir saja kena tendangannya jika mereka tidak reflek jatuh ke belakang untuk menghindar. Mereka bisa merasakan hembusan angin singkat karena tendangan itu.

Rupanya tendangan makhluk tersebut saking kerasnya, kakinya yang setengah terpotong tadi putus dan terlempar jauh mengenai dinding di ujung ruangan dan melubanginya.

Arma tertegun untuk beberapa saat setelah menyadari dirinya berhasil menghindari tendangan mematikan tersebut. Merasa percaya diri sekarang, tak lama kemudian dia pun lari ke arah kaki belakang kedua makhluk itu yang kini tengah menjaga keseimbangannya. Dengan cepat dia menebas seperti tadi, meski tidak sekuat sebelumnya. Kali ini dia menariknya dengan menggeseknya selayaknya fungsinya sebagai gergaji.

Tentu makhluk itu bereaksi dan bersiap menendang, tetapi kali ini dua agen tadi menyeret Arma menjauh dari kaki makhluk tersebut. Benar saja, ia menendang sekuat tenaga dengan bertopang kepada kedua kaki depannya. Kakinya tidak putus seperti tadi karena tebasan Arma memang tidak cukup kuat, tetapi sepertinya tebasan Arma tadi tetap berpengaruh karena begitu kaki belakangnya kembali memijak tanah, kakinya patah seketika karena tidak mampu menahan beratnya dengan kondisinya sekarang.

Kedua agen tersebut sepertinya memprediksi hal tersebut sehingga mereka dalam jarak aman begitu makhluk tersebut jatuh dengan keras.

“Lepasin gue! Gue tinggal motong lehernya!” Arma mencoba melepas pegangan agen tersebut. Salah satu agen menatap ke arah agen lain tanpa mengatakan apa pun sebelum dia melepaskan genggamannya, diikuti agen satunya. Arma segera berlari ke arah kepala makhluk tersebut, diikuti kedua agen tersebut di belakangnya yang mulai mengeluarkan pisau mereka.

Mereka bertiga akhirnya bertemu kembali dengan sisa agen Yayasan lain yang dipimpin ketua mereka. “Potong lehernya!” Salah satu agen berteriak selagi menunjuk ke arah makhluk tersebut yang kini mencoba berdiri kembali.

Mereka tidak menunggu balasan; Arma langsung bekerja dengan menebas leher makhluk tersebut dan menggergajinya. Dua agen lain mulai menikam dan mencabik-cabik bagian yang belum ditebas Arma.

“Yang masih punya peluru, tembak kepalanya!” Ketua memerintah kepada agen lain. Mereka tidak menyerang bagian leher, tetapi kepalanya merupakan target yang lebih pantas diserang dibandingkan badannya seperti tadi, apalagi mereka cukup dekat sekarang. Agen yang sepertinya kehabisan peluru mengeluarkan pisaunya dan mulai mencabik juga.

Makhluk tersebut kini mencoba melawan dengan menggoyangkan kepalanya. Beberapa agen terpental karenanya, tetapi yang bertahan memutuskan untuk terus mencabik. Sedikit demi sedikit, leher makhluk tersebut terkikis. Darah mengalir deras dari lukanya.

“Ini kita amankan atau netralisir?” Salah satu agen bertanya. “Netralisir. Kita punya bel mereka.” Balas ketua.

Mereka teknisnya masih manusia, meski tergabung jadi satu seperti itu. Siapa yang tahu apakah mereka sadar dan merasakan apa yang tengah terjadi pada diri mereka sekarang. Membunuh mereka adalah pilihan terbaik.

Salah satu agen yang mendampingi tahanan mereka tadi berlari mendekati ketua. Dia berkata, “Lapor pak, kami tadi berpapasan dengan seseorang. Kemungkinan dia pimpinan tempat ini.”

“Yah, memang dia pimpinan perusahaan ini. Dia kabur setelah loncat dari jendela.” Ketua mengiyakan. “Kalian tidak menghentikannya?”

“Pak, kami berhadapan dengan makhluk itu tepat di depannya. Tahanan kita ingin mengejarnya tadi, tetapi kita tidak bisa mengambil risiko kehilangannya, kan?” Elak agen tersebut.

“Hmm… pemikiran bagus. Kau tahu prioritas, setidaknya.” Balas ketua.

“Tetapi saya dapat informasi lain darinya,” Agen tersebut menambahkan, “Katanya potong kakinya dan penggal lehernya jika ingin membunuhnya. Makanya kami memutuskan menyerang kakinya terlebih dahulu.”

Agen tersebut melirik sekilas ke arah tahanan mereka, Arma, yang masih menebas makhluk tersebut sekuat yang dia bisa. “Dia yang bersikeras untuk melakukannya, kau tahu.” Agen tersebut menunjuk ke arahnya.

Ketua menoleh ke arah tunjukan agen tersebut sebelum kembali menatap agen di sampingnya. “Kau tidak ke sini hanya untuk memuji tahanan kita, kan?” Ketua bertanya setelahnya.

“Maksudku, dia menyelamatkan hidup kami, teknisnya. Tapi memang bukan itu tujuanku ke sini, Pak. Maaf agak melenceng pembicaraannya.” Agen tersebut menggaruk rambutnya yang tertutup helmnya. “Pimpinan perusahaan tadi, dia bilang bakar makhluk itu untuk membuatnya mati sepenuhnya.”

“Menarik. Akan kuminta seseorang membawa satu pelontar api Lantai Keter kemari bersama dengan backup kita nanti. Terima kasih.” Balas sang ketua selagi mulai mengeluarkan radionya.

Makhluk itu sendiri mulai perlahan berhenti meronta. Lehernya sudah setengah terpotong dan masih terus dipotong para agen dan tahanan mereka. Agen-agen Yayasan sendiri sudah berhenti menembak sekarang dan ikut membantu memotong. Pada akhirnya kepala makhluk itu terputus, jadi ia seharusnya sudah sangat mati sekarang.

Salah satu agen berjalan menjauh dari kerumunan agen-agen Yayasan lain. Dia berjalan ke belakang, ke arah seorang personel yang mengenakan jas biru gelap yang tertutup rompi antipeluru. Dia Lucy Amelia, satu-satunya peneliti di antara para personel pada operasi ini. Dia tengah duduk di ujung conveyor belt, dengan pandangannya ke lantai, larut dalam pikirannya sendiri sepertinya.

“Memikirkan sesuatu?” Agen tersebut bertanya.

Lucy hanya menatap ke arahnya sesaat sebelum menggeleng. Dia tidak menjawab dengan kalimatnya dan kembali menatap ke lantai.

Agen tersebut tidak mencoba bertanya segera, tetapi dia berjalan ke sampingnya terlebih dahulu dan duduk di sampingnya.

“Kau masih personel junior. Apa pun yang kau pikirkan, itu hal yang wajar untuk dikatakan.” Dia kembali berucap.

Lucy diam sejenak, seakan enggan menjawab pertanyaannya. Tetapi akhirnya dirinya berkata pelan, “Menurutmu kenapa mereka tega melakukan ini semua, Kak Heru?”

Agen tersebut tidak langsung menjawab pula. Dia memandangi rekan agennya yang lain tengah mengamati bangkai besar makhluk yang dilawan mereka barusan. Ini sejujurnya merupakan pemandangan yang langka bagi dirinya sendiri, dan ini jelas pengalaman pertama Lucy di lapangan. Tingkat kengerian penggunaan anomali yang mereka saksikan sebelumnya terkadang membuat orang bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa melakukan tindakan semacam ini.

“Sederhana,” Heru akhirnya menjawab. “Keputusasaan.”

Lucy kembali menatap Heru, kali ini dengan ekspresi bingung selagi Heru terus menjelaskan, “Tidak semua orang menggunakan cara jujur dalam mencari uang, bukan? Perusahaan ini seharusnya sudah bangkrut, tetapi mereka terus memaksa beroperasi untuk tetap hidup. Nah, bedanya di sini adalah mereka diberikan anomali oleh pihak ketiga. Pada akhirnya mereka hanya manusia biasa yang mendapat kesempatan luar biasa untuk sesuatu.”

“Kau cukup simpatis dengan mereka, kau tahu.” Lucy berkomentar.

Heru terkekeh mendengarnya. “Karena aku paham rasanya. Aku sendiri dari keluarga yang… yah, menengah ke bawah, lah. Dulu gagal masuk kepolisian karena itu, untungnya Yayasan yang merekrutku. Ku rasa aku belum pernah bilang kalau aku sedikit materialistis.”

Lucy melirik ke arahnya. “Apa itu hal buruk bagimu?”

Heru hanya menggeleng selagi tersenyum. “Tidak, malah itu yang membuatku bisa memahami orang-orang seperti target kita.”

Lucy diam memikirkan perkataan Heru. Dia memang setuju bahwa jika sebuah anomali jatuh ke tangan yang salah jelas akan berbahaya bagi masyarakat biasa. Itulah kenapa dia sangat membencinya. Itulah kenapa dia tidak masalah dipaksa bergabung GOC sejak muda.

Tetapi tetap saja, yang menggunakannya pada akhirnya hanyalah orang biasa. Seperti kata Heru tadi, orang biasa pun jika mengetahui potensi anomali yang didapatnya, dia pun bisa sangat destruktrif setingkat Tipe Biru. Seorang pimpinan pabrik bangkrut pun bisa menjadi semacam pemimpin kultus dalam semalam.

Tidak ada habisnya selama anomali masih ada di dunia.

“Jadi, kau bilang anomali bel mereka itu diberikan oleh pihak ketiga?”

Heru mengangguk. “Ketua mencurigai hal tersebut. Dia sepertinya familiar dengan entah apa yang bos perusahaan tadi katakan.”

“Jadi kita mencari pihak ketiga ini, ya…” Lucy berkata pelan, masih larut dalam pikirannya.

Heru kini memperhatikan keadaan Lucy yang masih termenung. Akhirnya dia memutuskan untuk berdiri. Sebelum menjauh, dia berkata, “Semangat sedikit, kita semakin dekat dalam menangkap dalang di balik ini semua dan mengakhirinya.” Dengan ekspresi tersenyum. Dia lalu kembali mendekati kerumunan agen lainnya.

Lucy menatap Heru dari kejauhan. Semakin dekat, ya… Lucy berpikir. Itu memang membuatnya merasa sedikit lebih baik. Mengetahui bahwa dia selangkah lebih dekat untuk menghentikan siapa pun di balik kejahatan ini.

Dia pun beranjak, mendekati para agen di depannya dengan tersenyum.


“…Jadi ini pemandangan umum bagi kalian?”

Tahanan mereka, Arma yang menanyakan itu selagi memandangi para agen masih mengamati dan mengambil sampel dari bangkai di depan mereka. Di sampingnya adalah Lucy, berdiri menemaninya karena dia satu-satunya perempuan di sini selain dirinya. Heru masih sibuk dengan ketua tim.

“Ya. Ku harap kau bisa mengerti kenapa kami… agak keras terhadap kalian sebelumnya.” Lucy menjawab. Dia sudah bertanya ke Heru apakah dirinya bisa mengajak bicara tahanan mereka, terutama menyangkut dunia anomali dan semacamnya dan Heru membolehkan karena dia akan diberi amnestik dan diserahkan ke kantor kepolisian lokal yang sudah ditanam agen Yayasan.

Lucy menatap ke arah kaki dan dan lengan perempuan tersebut yang sudah diperban. Perbannya sudah memerah dan mungkin akan diganti begitu mereka kembali ke mobil setelah bantuan datang nanti.

“Wajar, kan. Maksudku, awalnya gue kira kalian Brimob gitu. Mana gue tahu kalau kalian emang ngelawan setan beneran kayak gini.” Arma berkata selagi meraba lengannya yang diperban. Sepertinya dia masih merasakan sensasi lukanya saat melakukan itu. Entah bagaimana dia bisa menebas makhluk itu sebelumnya. Pantas dia bisa mendengar teriakannya dari kejauhan saat menebas makhluk itu.

Lucy sebenarnya tidak mengharap tindakannya dimaklumi. Dia memang merasa tindakannya sebelumnya terlalu berlebihan. Seakan insting bertahan hidupnya mengambil alih dirinya sesaat.

Rasanya sama seperti saat dirinya menghadapi Agen David untuk pertama kalinya. Bayangan dirinya merangkak hanya untuk membunuhnya terbayang kembali.

Mereka berdua akhirnya saling diam.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara dari luar. Suara beberapa kendaraan yang tiba-tiba berhenti setelah beberapa saat. Rasanya Lucy sempat mendengar kalau personel bantuan akan segera tiba. Mungkin itu mereka.

Pintu besar pabrik terbuka perlahan, menunjukkan suasana di luar sudah gelap. Seorang berseragam agen Yayasan lah yang membukanya. Dia tidak mengenakan rompi antipeluru, membuat Lucy berpikir itu agen yang rompinya dia pinjam saat ini. Dia berjalan mendekati mereka.

“Hei, apa personel tambahan sudah tiba?” Ketua bertanya dari kejauhan. Peronel itu mengangguk selagi terus melangkah mendekat. Dia berjalan melewati Lucy dan mendekati Arma.

“Tolong ikut aku sebentar ke luar.” Agen tersebut berkata. Arma mengangguk dan berdiri sebelum mendekati agen tersebut. Agen tersebut memegang lengan Arma dan membawanya keluar.

“Hei tunggu, tahanan mau kau bawa ke mana?” Teriak ketua tiba-tiba yang di mana dia langsung berjalan cepat untuk mendekati agen tersebut.

Di luar dugaan, agen tersebut langsung mengeluarkan pisau dari kantongnya. Bukan pisau standar Yayasan, tetapi pisau dapur. Diarahkannya ke leher perempuan tersebut. Semua termasuk Lucy yang berada di sampingnya terlonjak kaget. Lucy sendiri langsung menodongkan revolvernya ke arah agen tersebut. Diikuti oleh sepertinya seluruh agen di ruangan tersebut.

“Apa-apaan yang kau lakukan! Turunkan pisaumu!” Ketua berteriak, tetapi dia berhenti mendekat.

‘Agen’ tersebut tidak menjawab dan dengan cepat menyeret Arma yang kini meronta mundur ke belakang. Sesaat kemudian, muncul cahaya terang dari luar bangunan, sepertinya dari lampu depan mobil di luar.

Sekumpulan sosok muncul dari balik pintu. Cahaya mobil yang menyilaukan agen-agen membuat mereka cuma bisa melihat siluet orang-orang tersebut. Pria yang menyandera Arma melirik ke belakang dan terus mundur ke arah mereka.

“Selamat malam, semuanya.” Terdengar suara pria dari mereka. Tetapi suara tersebut terdengar bukan seperti suara yang keluar langsung dari mulut mereka, melainkan sepertinya melalui alat elektronik yang diperkeras.

“Tidak ku percaya kita bertemu lagi di zaman yang berbeda, eh?” Suara tersebut berkata. Terdengar suara tawa serak darinya. “Kalian masih bernama SCP Foundation, kan? Masih ingat saya?”

Dia tahu mengenai kita? Lucy tersentak. Dia melirik ke arah agen-agen lain. Mereka jelas terlihat tegang. Ketua juga, meski dia lebih terlihat memikirkan sesuatu.

“Kau,” Ketua merupakan yang pertama membalas. Sepertinya dia tadi memikirkan harus membalas apa. “Apa kau yang bernama ‘Benny T’? Pemimpin grup perusahaan ini?”

Tidak langsung ada balasan, tetapi beberapa saat kemudian terdengar tawa darinya. “Kita punya veteran di sini! Kamu dari mana? Penjarahan 90-an? 80-an? Pak Holim, yang ngomong ini masih muda atau sudah tua seperti anda?”

Tidak terdengar jawaban orang yang ditanyanya, tetapi kemudian terdengar balasan, “Oh, gitu. 90-an kalau begitu. Masih hidup ternyata, ya? Gimana rasanya?”

“Diam!” Ketua berteriak. “Apa yang kalian inginkan!”

Terdapat jeda lagi sebelum terdengar tawa keras dari ujung ruangan. Itu berlangsung beberapa saat sampai ketua tidak sabaran lagi dan menembak ke arah langit. Sayangnya bukannya suara tawanya berhenti, tetapi malah tiba-tiba terdengar bunyi tembakan balasan dari arah pintu. Percikan cahaya terlihat dari siluet mereka. Para agen langsung berlindung, beberapa di balik bangkai makhluk tadi, beberapa lagi seperti Lucy bersembunyi di balik mesin-mesin pabrik.

“Tentu saja, saya ingin kekayaan.” Suara tersebut akhirnya menjawab. “Tetapi saat ini, kami cuma ingin menjemput aset kami.”

Lucy melirik sekilas ke arah mereka. Arma sudah tidak terlihat lagi. Mereka berhasil membawa kabur satu-satunya petunjuk mereka untuk kasus ini.

“Sampai jumpa lagi.” Terdengar salam perpisahaan darinya di tengah suara tembakan. Tiba-tiba cahaya menyilaukan dari pintu masuk padam, diikuti suara mobil melaju. Para personel termasuk Lucy langsung berlari ke arah pintu mengikuti mereka.

Hal pertama yang mereka sadari adalah ternyata ada lebih dari satu mobil yang melaju keluar halaman pabrik barusan. Hal kedua adalah mobil mereka sendiri tengah terbakar. Mereka sepertinya telah memecahkan salah satu jendela dari tiap mobil Yayasan yang antipeluru dan membakar bagian dalamnya.

Lucy mendekati mobil yang dia dan tim Heru tumpangi, mudah dikenali karena sisi depannya yang penyok. Di dalam, terdapat sebuah mayat terbakar di kursi belakang. Lucy menutup mulutnya begitu dia sadar itu siapa.

“Sialan!” Ketua berteriak. Dia menembaki mobil terakhir yang melaju keluar, entah kena atau tidak. Sang ketua akhirnya berhenti berlari dan kini berdiri diam, menatap langit.

“Berikan aku radio kita.” Dia akhirnya berkata dengan tenang. “Kita akan mengejar mereka segera.”

Lucy menatap ketua dari kejauhan, lalu kembali ke arah mobil mereka tadi.

Kami akan mengakhiri kejahatan ini, tunggu saja di alam sana.

Tanpa sadar dirinya meneteskan air mata lagi selagi mengatakan itu dalam hati.


Lucy dengan perlahan mengaduk-aduk sendok tehnya. Dia mengamati pemandangan di sampingnya, jalanan yang cukup ramai siang itu. Mungkin karena ini memang sudah mulai akhir pekan.

Sudah dua hari sejak misi yang awalnya dia ikuti karena menghindari masalah internal situs. Mereka tidak berhasil menemukan siapa pun yang menyerang mereka malam sebelumnya. Sehari setelah misi, Lucy teknisnya dipaksa atasannya untuk beristirahat karena dia sedikit memaksakan diri untuk mencari petunjuk berikutnya untuk kasus tersebut.

Lucy menghela nafas, dirinya tidak menyangka misi yang dia ikuti sebagai pelariannya itu malah membuatnya terlibat masalah eksternal Yayasan. Tetapi dia tidak sedikitpun menyesalinya, yang ada malah dia semakin bertekad untuk menyelesaikan kasus kejahatan ini.

“Maaf lama.”

Lucy melirik ke arah kursi. Di ujung meja bundarnya, seorang perempuan berambut hitam pendek yang mengenakan kemeja cokelat duduk selagi meletakan cangkir kopinya di meja. Dia Hilda, temannya dari situs asalnya.

Sudah beberapa minggu mungkin sejak dia bekerja untuk Situs-79. Setelah segala omong kosong yang dia hadapi, beberapa hari santai bersama dua orang temannya merupakan pelarian yang lebih baik.

“Ga apa, kok. Harper masih belum mesan?” Lucy meminum tehnya. Dia bukan tipe yang suka begadang, kopi bukan minuman favorit baginya karena itu.

“Yah, dia di belakangku. Ku tawarin mau pesan bareng aja, tapi dianya ga mau.” Balas Hilda.

“Begitu ya…” Lucy mengangguk. Dia melirik ke arah pintu kafe yang dia dan temannya tengah datangi untuk siang ini. Dia lalu melirik ke arah Hilda dan bertanya, “Menurutmu dia akan lama?”

Hilda mengangkat bahu selagi tersenyum. “Kau tahu dia, kan? Bakalan lama.”

Lucy mengangguk mengerti kembali. Dia lalu berkata pelan, “Kau tak akan bertanya mengenai pengalamanku di Situs-79”

Hilda sepertinya tidak menduga Lucy akan mengatakan hal tersebut. Dia lalu berkata, “…Sebenarnya aku juga penasaran, tapi ku rasa kau ga akan mau membicarakannya.”

Lucy mengembuskan nafas. “Rumornya benar. Baru beberapa hari yang lalu, terjadi insiden pembunuhan di situs.”

“Benarkah? Kau terlibat?” Hilda terkejut mendengarnya.

“Ngg, tidak. Maksudku, pelakunya sudah jelas, jadi tidak ada misteri semacamnya. Heh.” Lucy berhenti sejenak di tengah ceritanya. “Masalahnya, pelakunya tidak dihukum apa pun.”

“Serius?”

Lucy mengiyakan. Hilda diam sejenak, meminum kopinya sebentar sebelum akhirnya berkata, “Lumayan berat bagimu, ku rasa. Maaf mendengarnya.”

“Bagaimana denganmu?” Lucy bertanya tiba-tiba. “Kau ingin ke sana, kan? Apa kau masih tertarik ke sana.”

Hilda mengembuskan nafas sebelum menjawab, “Sebenarnya tidak, tetapi aku bersedia mengambil risiko untuk naik jabatan, dapat gaji sebanyak mungkin, lalu pensiun dini dan cari pekerjaan yang lebih baik.”

“Wow, itu… rencana hidup yang cukup detail.” Lucy tertawa kecil, diikuti Hilda. “Setuju mengenai itu.” Mereka berdua pun meminum minuman mereka kembali.

“Aku ada pertanyaan lain, tapi mungkin agak kurang mengenakan.” Lucy berkata kembali. Hilda membalas, “Tanyakan saja.”

Lucy diam sejenak, menghela nafasnya sebelum berkata, “Kejadian pembunuhan itu membuatku berpikir, jika kau dalam situasi hidup mati, apa kau akan membunuh lawanmu? Bagaimana menurutmu rasanya?”

Hilda diam menatap Lucy. Meski cuma personel keamanan situs berisiko rendah, dia sepertinya mengerti yang Lucy rasakan dari matanya. “Ku rasa jika bisa menghindarinya, kau akan menghindarinya, bukan?”

“Jika tidak?” Lucy membalas cepat.

“…Ku rasa itu takdir. Kau tidak boleh menyalahkan siapa pun termasuk dirimu sendiri. Kau hanya perlu terus melangkah maju untuk kedepannya, ku rasa. Tinggalkan sejauh mungkin pengalaman gelap itu.” Hilda menjawab. Dia minum kembali.

Lucy hanya mengangguk sebagai balasan. Dia mengaduk tehnya selagi larut dalam pikirannya sendiri. Dia memang terlalu terikat dengan masa lalu, dengan dirinya menembak Agen David. Dia masih punya targetnya untuk ditembak kedepannya, jadi mungkin dia harus maju dan memikirkan hal tersebut.

“Ku rasa jika bisa menghindarinya, kau akan menghindarinya, bukan?”

Perkataan Hilda tiba-tiba terlintas di benaknya. Siapa sebenarnya targetnya sehingga harus dibunuh. Apa dia harus di bunuh? Bos perusahaan yang digrebeknya sebelumnya, mereka mengubah orang jadi hewan karena perusahaan mereka bangkrut dan dikendalikan orang lain yang lebih jahat dari mereka. Bagaimana dengan targetnya sendiri? Lucy tak hentinya berpikir mengenai itu.

“…Lucy?”

Lucy tersentak, menyebabkan sendok tehnya sedikit menciprati kemeja biru tuanya dengan teh. “Maaf, hanya kepikiran saja.” Dia berkata.

Hilda tersenyum dan berkata, “Sudah, nanti saja pikirkan kedepannya. Sekarang kan kau mau menikmati liburan?”

Lucy mengangguk selagi tersenyum sebelum meminum tehnya. Hilda benar, sebagai personel junior, dia cuma bisa keluar situs saat akhir pekan jika tidak ada tugas. Untungnya atasannya cukup baik hati untuk tidak membuatnya kerja di akhir pekan seperti atasan di situs lamanya.

“Jadi,” Hilda berkata, kali ini dengan bersemangat, “Ada cowok yang dekat sama lu kagak di sana?”

Lucy menyemburkan tehnya ke samping. “Eh?! Ngg, maksudmu?”

Hilda hanya tertawa. “Maksudku, dulu kan Harper yang kadang ngajakmu makan dan semacamnya. Ini apa ada penggantinya di sana?”

Lucy menyapu bekas minuman di mulutnya selagi menjawab, “Heh, gue dan Harper itu cuma temenan baik aja. Jangan dianggap macam-macam, lah!”

Lucy minum kembali kali ini. Setelah itu dia menatap gelasnya selagi tersenyum. “Tapi memang ada sih senior yang sama baiknya ama Harper.”

“Eeh, siapa? Siapa?” Hilda terdengar bersemangat selagi Lucy menceritakan mengenai temannya di Situs-79.

Terdengar lemparan koin sekilas sebelum ditangkap. Telapak tangan yang menangkap koin itu terbuka perlahan, menunjukkan sisi belakang koin yang bergambar garuda.

Harper menatap telapak tangan kanannya. Tangan kirinya memegang beberapa roti dan gelasnya sendiri. Dia melirik ke samping.

Lucy dan Hilda saling tertawa tepat di sampingnya. Dia jelas mendengar semuanya dan telah lama berdiri di balik dinding di samping mereka, melempar koin kembalian yang dia terima berkali-kali. Dia mengamati mereka, menunggu waktu yang pas untuk kembali agar tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka. Entah kenapa tiap dia bergabung, Lucy dan Hilda tidak berbicara dengan semangat seperti sekarang.

Harper mengembuskan nafas dan melirik kembali, mereka sudah selesai bicara dan kini saling minum. Harper melirik ke arah koin di telapak tangannya dan meremas telapak tangannya kembali.

“Heh, aku ga masalah kok.” Dia berbisik selagi mengantongi koin tersebut. Dia lalu berjalan cepat ke meja mereka dan berkata, “Maaf lama, aku ke toilet tadi.”

“Pantesan lama. Kirain ada urusan di situs dan ninggalin kita.” Hilda tertawa, diikuti Lucy.

“Haha… tenang saja, di situs ada aja yang ngegantiin, kok.” Harper ikut tertawa. Mereka saling berbicara dan tertawa kemudian, menikmati kedamaian akhir pekan untuk saat ini.

Kronik Situs-79

Bab 5: Rumah Jagal
« Bisnis Untuk Menjagal | Omong Keadilan |

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License