Monoton
rating: +2+x

Diusapnya rambut anaknya, perlahan, ke belakang, lagi, dan lagi, dan lagi.

Iya, fajar telah menyingsing beberapa waktu lalu, tapi dirasanya, semenit lagi masih bisa dinikmatinya sebelum ia harus berurusan dengan ombak kesibukan manusia di pagi hari.

Lelah, tapi melihat anaknya masih bisa terlelap begini, seakan letih dan lesunya lenyap begitu saja… tapi, sayangnya hal itu tak bisa memunculkan angkot jurusan Kota di depan rumahnya.

"'Nak?"

"Mmh…"

"Bunda pergi dulu ya nak?"

"…"

"Nanti di sekolah, tunggu sampe Mang Abdul jemput, ya?"

"…"

Ya sudahlah, 'ku tulis aja.


'Tiap hari, beda kesibukannya.'

… begitu kata orang, atau, menurutnya, begitu bualan orang.

Sopir angkot kurang ajar? Tadi sudah, meski bukan angkot yang dinaikinya.

Angkot tabrak lari? Belum, sih, tapi ia yakin minggu ini pasti ada satu.

Atasannya ngamuk tanpa sebab? Tunggu aja dulu, paling habis istirahat Dzuhur.

Kepala kantor melecehkan pegawai wanitanya? Bisa aja nanti sore, 'kan?

Kalau calon tukang suap yang muncul selaku bapak-bapak di depannya bagaikan trik seorang penyulap?

Ia enyahkan selintas pikiran ini dari otaknya sembari mengisyaratkan pria tersebut untuk mengikutinya ke salah satu meja kosong dari sederet meja-meja di pojok ruangan.

Foldernya ditaruhnya, penanya disampingnya, ia tarik kursinya, duduk di atasnya, dan mempersilakan lawan bicaranya.

"Pak, saya yakin jika bapak mau transparan, siang hari kita bisa produktif."

"Mbak, saya 'kan udah bilang, ini laporannya itu yang saya terima langsung dari bos saya. Lagian, perhitungan pembayarannya sesuai, 'kan?"

"Betul, betul."

"Lho, kalo gitu, masalahnya di mana?"

"Haruskah saya perjelas?"

"Saya bener-bener nggak paham masalahnya di mana, mbak."

Ia paham model orang begini: pura-pura goblok, terkuak kedoknya, baru deh nyodorin segepok uang sejumlah puluhan juta dari tas koper yang ditentengnya.

"Pak, Proms', Ether's, & Theus sudah bubar tiga tahun yang lalu. Gimana caranya ada 'Pembayaran kepada Entitas Terkait'? Perusahaan bapak tak punya saham di mana-mana, dan ya, sudah saya cek."

"Ayolah mbak…"

"Nggak. Saya mohon bapak beri laporan keuangan yang sebenarnya saja."

"Mungkin mbak bisa pertimbangkan ulang kalo saya…"

Seperti dugaannya tadi, tas koper itu disodorkan oleh pria tersebut di wajahnya.

"Saya nggak berminat."

"Hah?!"

"Saya tahu sembako mahal, dan saya tahu juga ini koper isinya setidaknya cukup untuk keseharian saya dan keluarga buat setahun ke depan, tapi nggak usah, pak. Kalau bapak bersikeras ngasih ini, mending sama yang kurang mampu…"

Ia berdiri, menggenggam folder dan pena miliknya, dan, sebelum berbalik, menyarankan dengan sarkas, "… Atau rekan-rekan saya yang lain."


Ia pulang dan disambut dengan kiamat.

Tembak-menembak, jelas rekan-rekan suaminya. Harusnya kayak penangkapan para penyelundup seperti biasa, kata mereka. Tapi jumlah dan persenjataannya, kali ini, berbeda dari biasa, ungkap mereka. Jangan dibuka petinya, mbak, ujar (mantan) atasan suaminya.

Pemakamannya cepat, dan kedua mertuanya saja nyaris tak bisa meratap di depan peti anak bungsunya. Orangtuanya sendiri tak ia undang, toh mereka memang nggak pernah setuju nikah beda suku. Ya… ia tetap kabari, dan mereka tetap bersedih, tapi apakah karena bersimpati pada anak mereka atau karena pundi-pundi menantunya hilang bersama nyawanya … ia tak mau cari tahu.

Hari itu, ia tak menangis. Tuhanlah yang tahu esoknya bagaimana.




Dikecupnya kening anaknya.

Iya, sudah jam enam lewat lima, tapi dirasanya, beberapa menit ketenangan masih bisa diresapinya sebelum ia harus bersenggol-senggolan dengan lautan manusia pengembara kereta di pagi hari.

Lelah, tapi melihat anaknya yang kini beranjak remaja bisa tertidur pulas begini, seakan capeknya tak terasa… namun, kebahagiaan ini tak bisa memunculkan ojek langganannya jika nggak ia telpon.

"Nak?"

"Hngh…"

"Bunda pergi dulu ya?"


'Tiap hari, beda kesibukannya.'

… begitu kata orang, atau, menurutnya, begitulah dusta manusia.

Penumpang kurang ajar? Tadi sudah, dengan mulut comberan yang menjadi magnet bogem mentah penumpang lain.

Ojek ricuh sama bajaj? Belum sih, tapi ia yakin minggu ini pasti ada kejadian.

Atasannya ngamuk-ngamuk kayak kesurupan? Tunggu aja dulu, palingan agak siangan.

Kepala kantor melecehkan pegawai wanitanya? Mungkin aja nanti sore, 'kan?

Kalau setan dalam wujud akuntan yang ia tahu, ia tahu, entah dari kegundahan hatinya atau berkas-berkas berlabel RAHASIA yang dicurinya, terlibat dengan sobekan kertas bercapkan Marshall's Chartered Demos yang ia temukan pada onggokan gosong mayat suaminya?

Terkutuklah!

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License