Malam itu bulan bersinar di langit yang keruh akan awan tipis. Sebuah pemandangan yang baik untuk dilihat di pelataran rumah yang berdekatan dengan persawahan luas. Dalam kesunyian malam, seseorang bisa menatap langit yang jernih jika dia beruntung dan akan terpaku menatapnya, melupakan waktu, teknologi, segalanya untuk sesaat atau bahkan berjam-jam.
Mungkin itulah yang akan dilakukan mereka pada zaman dahulu. Tidak memiliki apa pun, tidak melakukan apa pun, tidak memikirkan apa pun. Menatap langit hanya untuk menghabiskan waktu. Betapa menyenangkannya keadaan itu.
Malam itu memang memiliki pemandangan yang bagus, tetapi tiada ketenangan yang bisa didapat. Suara alam yang penuh kehidupan hewan dan serangga kecil bercampur dengan suara langkah kaki, serangkaian percakapan biasa sampai perintah nyaring, beberapa panggilan telepon dan radio, dan suara tepukan berkali-kali.
Direktur Situs-79, Dr. Stefan Strider, berulang kali menepuk udara kosong. Dia sudah membawa losion anti nyamuk kali ini, mengingat malam sebelumnya dia tidaklah tahan berada di lokasi dan memilih kembali ke situs. Tetapi meskipun dia tidak lagi merasakan gatal luar biasa, suara segerombolan nyamuk yang mengitarinya cukup untuk membuatnya gila jika dia tidak bertindak.
Meskipun pada akhirnya, setelah membunuh beberapa nyamuk, dia kelelahan dan mengistirahatkan tangannya sebagaimana kakinya setelah berjalan berkali-kali seperti personel lainnya di lokasi selagi menghindari dikerumuni nyamuk.
Dia ingin kembali ke dalam fasilitas penyimpanan atau ke situs atau ke mana pun selain di luar sini. Tetapi dia harus menunggu seseorang yang seharusnya datang sebentar lagi. Dia seharusnya sudah di Sukabumi setelah panggilan terakhirnya di telepon. Stefan melihat ke sejarah panggilan di telepon genggam lipatnya, panggilan terakhir darinya beberapa jam yang lalu. Tentu saja, dari nomor tidak dikenal.
Mungkin dia singgah dulu di tujuh-sembilan… Pikir Stefan. Dia merasa keberatan menunggu, tapi dia tahu persis jabatan orang yang ditunggunya lebih tinggi darinya. Jika dia berkata untuk menunggu di depan fasilitas, Stefan akan mematuhinya tanpa menegosiasikannya. Dia atasannya. Teknisnya, dia atasan semua personel di sini.
Tiba-tiba, Stefan mendengar suara ribut di belakangnya, dia menoleh dan mendapati beberapa personel berjalan ke arah jalan setapak. Dia melihat ke sisi seberang dari persawahan; rombongan personel datang dan Stefan melihat orang yang dia tunggu. Seorang pria berkulit putih dengan janggut hitam berusia sekitar 50-an. Orang Amerika.
Stefan pun berdiri untuk menyambutnya.
“Ah, Doktor Stefan, senang bisa melihatmu lagi.” Orang itu berkata. Aksen Amerikanya terdengar jelas dan asing dalam kalimatnya yang berbahasa Indonesia.
“Mister Rufus, this time. Correct?” Stefan meyakinkan identitas orang yang berada di depannya.
Rufus, orang yang dirujuk Stefan, hanya tertawa kecil dan menjawab, “Pak Stefan, gunakan saja bahasa. Saya sudah melatihnya dengan baik.”
Ekspresi Stefan tetap datar meskipun Rufus tersenyum dan mencoba mencairkan suasana.
Tidak, dia tidak benar-benar mencoba. Sama sekali tidak peduli.
“Ya sudahlah kalau begitu. Mari ikut saya, Pak.” Kata Stefan akhirnya selagi berbalik.
“Tidak ada jabat tangan? Sudah lama sejak kita terakhir bertemu langsung.” Stefan berbalik dan melihat Rufus menyodorkan tangannya untuk dijabat selagi dia berbicara. Stefan tidak melihat pilihan lain selain menjabat tangannya, yang dia lakukan tanpa melihat ke arah Rufus. Dia bisa melihat tangannya lebih berkerut dari tangan Rufus. Faktor usia.
Setelah Rufus melonggarkan genggamannya, Stefan segera melepaskan tangannya dari genggamannya dan kembali berkata, “Sekarang mari ikut saya, Pak.” Sebelum berbalik kembali ke arah fasilitas.
Kuharap aku punya sedikit keberanian untuk membawa pisau dan menikamnya.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam fasilitas penyimpanan. Sebuah rumah kayu sederhana di tengah sawah. Anomali yang sebenarnya tersimpan di rubanah rumah ini. Seisi rumah ini memiliki interior sederhana; tidak ada perabotan selain beberapa kursi untuk duduk. Meskipun dinding luarnya kayu, dinding dalam dan lantainya dari beton. Jikalau tempat ini diserang, hanya bagian luar yang hancur, mengubur anomali jauh tersembunyi di bawah tanah, di bawah reruntuhan bangunan.
Keduanya masuk ke dalam sebuah ruangan yang lumayan luas. Banyak garis kuning dan hitam di pinggirannya. Terdapat tiga tombol yang berjejer secara vertikal di dinding ruangan tersebut, dengan tombol teratas bergambar panah menunjuk ke atas, ke bawah, dan sebuah tombol merah.
Stefan menekan tombol dengan panah ke arah bawah dan suara gemuruh mesin terdengar, berasal dari lift barang hidrolik yang cukup besar yang tengah mereka pijak dan mencakup sebagian besar ruangan. Mereka pun turun perlahan ke rubanah fasilitas.
Sebuah ruangan yang luas, terkecuali ruang penyimpanan anomalinya yang mengambil sisi pojok kanan ruangan, dihalangi oleh tembok dan pintu besi. Sisa ruangan merupakan sebuah ruang luas yang acak. Sekumpulan meja kerja di situ, generator diesel cadangan di sana, personel di mana-mana, kabel dan kertas juga, dan sebuah lorong yang dihalangi oleh gerbang besi besar di ujung ruangan.
“Kapan inspeksi terakhir lorong darurat itu?” Rufus tiba-tiba bertanya sambil menunjuk gerbang besi di ujung. “Kemarin, begitu SCP-020-ID aktif. Setidaknya ada alasan untuk mengecek lampu lorong.” Stefan menjawab. “Tidak ada masalah, Pak.” Stefan menambahkan.
“Kau tetap tidak ingin menambahkan pendingin ruangan di sana?” Rufus kembali bertanya. Tidak ada jawaban untuk beberapa saat. “Kau tahu jawabanku, Pak.” Jawab Stefan selagi berjalan ke arah peneliti yang menghampirinya.
Selagi Stefan berbicara dengan bawahannya, Rufus berjalan mendekat ruang penyimpanan anomali. Di situlah SCP-020-ID disimpan. Sebuah layar pertunjukan wayang yang bisa memunculkan dalang yang menceritakan kejadian langsung dari konflik berdarah di Jawa dari berbagai sudut pandang. Stefan meliriknya sekilas sebelum mengambil sekumpulan kertas yang diserahkan oleh peneliti itu.
Menikmati mainan barumu?
Stefan berjalan ke arah Rufus yang sudah masuk ke dalam ruangan penyimpanan. Dia tengah memandangi SCP-020-ID yang tengah memainkan lakonnya dengan semangat, sesekali menggerakkan wayang di tangannya dengan liar.
“Stefan, kau bisa berbahasa Jawa?” Rufus berkata tanpa berbalik. “Sama sekali tidak, Pak.” Stefan berdiri di samping Rufus.
“Katakan apa yang kita ketahui sejauh ini.”
Stefan membuka lembaran yang dia pegang, “Kita mulai dari hari pertama. Peristiwa Pagelaran terjadi dua hari yang lalu, dimulai dengan SCP-020-ID-A menceritakan cerita yang sangat tidak wajar. Lakon dimulai dengan SCP-020-ID-A mengeluarkan wayang, puppet, yang, patut dicatat, setingkat raton atau raja dan dewa. Kings and Gods’ class. Ini diikuti dengan SCP-020-ID-A mengeluarkan wayang-wayang kecil yang statusnya tidak jelas. Semua wayang yang dikeluarkan berwarna hitam.”
“Setelah analisis bahasa… kami baru mengetahui ini kemungkinan dari perspektif KDP, our terms for GoI by the way, dengan nama Chaos Insurgency. Asumsi yang didapat dari dua hal: pertama, penyebutan kata ‘prajurit pembantah perintah’ beberapa kali yang mengasumsikan itu adalah nama mereka. Memang ambigu, makanya kami kirim datanya kemarin untuk klarifikasi. Pihak di atas menerima kemungkinan itu.”
Rufus mengangguk, “Dewan lain setuju untuk… percaya kemungkinan terburuk. Seperti yang Anda lihat kemarin, 6 setuju, 4 tidak setuju, dan 3 abstain.”
“Faktor kedua juga sudah kalian ketahui, yaitu dari faktor wayangnya. Wayang raton itu dipanggil SCP-020-ID-A sebagai ‘Raja Arsitek’ atau ‘pembangunan’. Dan raja itu memberi ‘titah’ atau perintah berurutan kepada tiga wayang lain. Lucunya, seperti yang Bapak dan dewan lain ketahui, SCP-020-ID-A sempat tersendat beberapa saat sebelum menyebutkan tiga nama: Simon, Judas, dan Matthias. Dan sampai sekarang kami tidak tahu apa-apa mengenai ini-”
“Mereka kode nama, tuan-tuan.”
Stefan dan Rufus menoleh ke belakang, melihat siapa yang berbicara; seorang personel beberapa tahun lebih muda dari Stefan masuk ke dalam ruang penyimpanan.
“Dr. Herman…”
“SCP-020-ID-A pada awalnya kebingungan dalam mengenalkan ketiga orang ini. Kode nama ketiga orang ini mengambil unsur abrahamik yang antara SCP-020-ID-A tidak ketahui atau tidak bisa gambarkan dalam bahasa Jawa. Akhirnya dia menganggapnya sebagai nama.” Herman menjelaskan selagi dia berjalan mendekati Stefan dan Rufus. Rambut abu-abu gelapnya sedikit berantakan saat itu dan raut mukanya terlihat lelah, selalu seperti itu sampai orang bisa mengira dia sedang bersedih jikalau tidak sering melihatnya.
“Ini Peneliti Senior Herman Puspito, salah satu peneliti anomali ini.” Stefan berjalan ke samping untuk memperkenalkan Herman. “Herman, ini… Pak Rufus. Dia pengamat luar yang… ditugaskan untuk mengamati Peristiwa Pagelaran dan melaporkannya ke pusat.”
“Aku ingat namamu… Salah satu penyintas insiden kodok itu, kan?” Rufus mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Herman.
Herman menjabat tangan Rufus, “Pengamat luar… Senang berkenalan denganmu, Tuan. Meski saya bingung dari mana Anda mengetahui hal itu, saya berharap Anda mencoba untuk tidak mengungkit insiden tersebut.” Mereka tidak terlalu lama berjabat tangan karena Herman menarik tangannya perlahan setelahnya.
“Melanjutkan bagian titah tadi, ketiga wayang tadi menemui ‘Raja Pembangunan’ itu satu per satu dan mendapat perintah yang berbeda. Wayang ‘Simon’ diperintahkan untuk mengamati dan melaporkan keadaan ‘perang’ kepada ‘pembawa pesan’ lain. Wayang ‘Judas’ diperintahkan untuk ‘memadamkan lentera’ kerajaan musuh. Dan wayang ‘Matthias’ diminta mengawasi wayang Judas. Sangat membingungkan. Tidak ada elaborasi lebih mengenai bagian ‘musuh’ ini, tetapi pasti fasilitas Yayasan. Kurasa itu kewenanganmu untuk memperingatkan seluruh direktur situs di Jawa.” Stefan menyelesaikan laporannya.
“Akan ku diskusikan hal ini nanti. Tetapi bagaimana mengenai arti kode nama mereka? SCP-020-ID-A tidak tahu, tapi kalian mungkin memikirkan sesuatu mengenai itu, tidak?” Rufus kembali bertanya.
Stefan melihat ke arah Herman, mengisyaratkan kepadanya untuk menjawab pertanyaannya.
“Pendapatku, sang ‘raja’ merujuk kepada antara Simon the Zealot atau Simon ayah Judas, Judas Iscariot, dan Saint Matthias. Mengingat hubungan antara mereka bertiga.” Herman menjawab.
Rufus mengangguk sejenak. “Kau pria yang religius, nak?” Herman hanya menggeleng pelan. “Tidak, Pak. Saya hanya mengetahuinya dengan baik.”
Hening sejenak, ketiga orang tersebut saling memandang ke arah acak sampai Rufus menemukan topik lanjutan, “Jadi bagaimana dengan pertunjukan yang ini?” Katanya selagi menunjuk SCP-020-ID-A yang tengah menggerakkan wayang selagi berkata nyaring dalam bahasa Jawa.
“Kami masih menunggu staf itu menerjemahkan perkataannya, lalu menganalisisnya seperti kemarin. Hasil paling lambat kami berikan pagi ini.”
“Ya, tapi apa yang kita ketahui sejauh ini?” Rufus bertanya.
“Beberapa hal. Wayang yang digunakan SCP-020-ID-A tidak berwarna hitam pekat, tetapi merupakan seragam hitam dan putih. Kami masih belum tahu identitas para wayang tersebut, tetapi kami bisa menduga beberapa kemungkinan.”
Herman diam sejenak selagi melihat ke arah kedua orang di depannya sebelum kembali bicara.
“Hal lainnya, SCP-020-ID-A sempat menyebutkan ‘Tanah Sukabumi’ di pembukaannya… Mengartikan lakonnya kemungkinan memiliki hubungan di sini.”
Herman mendapat perhatian keduanya.
“Tunggu, apa? Maksudnya sesuatu tengah atau akan terjadi di sini? Di Situs-79?”
“Tenang dulu, Pak. Dia tidak menyebut tujuh sembilan, atau apa pun mengenai Yayasan.”
“Tapi satu-satunya situs di daerah ini cuma di situs kita! Aku sumpah situs terkutuk ini….”
“Itulah kenapa saya keluar dan menginformasikan hal ini kepada personel kita di luar tadi. Kami hanya menunggu hasil.”
Hening sejenak sebelum akhirnya Rufus ikut berbicara, “Jadi ada informasi lain yang bisa didapatkan?”
Herman menggeleng, “Seperti kata saya, paling lambat kami berikan hasil analisis kami saat pagi. Tetapi terjemahan kasarnya akan kami berikan selesai pertunjukan.”
Rufus membalas dengan anggukan tenang sebelum berkata, “Saya mengerti, kita hanya bisa menunggu untuk saat ini. Silakan lanjutkan pekerjaanmu.”
Hening sejenak sebelum Herman mengangguk dan kembali berjalan. Rufus melirik ke arah Herman yang terus menunduk sebelum mendekati dua personel yang mengamati SCP-020-ID-A memainkan wayangnya di belakang layar selagi dia dan Stefan berjalan keluar.
Begitu di luar, Rufus memutuskan untuk berjalan langsung ke arah lift. Stefan berjalan mengikutinya dari belakang. “Jadi inspeksimu sudah selesai begitu saja, Pak?” Stefan bertanya selagi mereka masuk. Rufus tidak menggubris pertanyaan Stefan dan malah berkata, “Anak itu seharusnya kau jadikan asisten direktur, kau tahu. Paling tidak kepala peneliti situs. Itu akan membuat usahanya bertahan hidup di sini terbayarkan.”
Stefan menekan tombol ke atas, “…aku tidak ingin memberinya jabatan yang hanya berguna di situs yang tengah sekarat ini. Dengan pengalamannya, dia bisa naik jabatan di tempat lain dengan segera.”
Mereka terdiam sampai lift sampai di lantai dasar fasilitas. Rufus menghela nafas, “Menurutmu kemungkinan serangan yang kau laporkan kemarin adalah hari pembalasan yang kau teorikan?” Rufus bertanya selagi mereka keluar ruangan.
“Kau tahu hari itu sudah dekat, Pak. Bertahun-tahun mengamati proyek terkutukmu pasti membuatmu berpikir teori itu benar.” Stefan kembali menjawab. Mulai ada percikan bara dari nada dinginnya. “Situs-79 sudah mencapai titik terendahnya. Alam akan melakukan penyetelan ulang sebentar lagi.”
Rufus menghela nafas, “Kukira insiden besar itu hari penyetelan ulang yang kau terus katakan?” Stefan hanya menggeleng pelan, “Tidak, tidak semua personel yang terdampak. Situs ini masih berdiri.” dia berkata. “Separuh situs terkena dampaknya, nak. Kau ingin yang mati seluruh situs?” Rufus berkata dengan intonasi sedikit lebih tinggi. Dia mulai memijat dahinya. Stefan terdiam dan melanjutkan berjalan.
Mereka berada di luar bangunan sekarang. Langit keruh malam sudah tidak ada lagi dan bulan bersinar tanpa awan tipis yang menutupinya. Rufus menatap langit, lalu ke arah Situs-79 untuk beberapa saat .
“Kau masih ingat saat kubilang Situs-79 merupakan gudang penyimpanan anomali kelas Safe dulu?” Stefan bertanya. Rufus mengangguk, “Aku ingat kau dulu tidak percaya kalau situs pengamanan Euclid yang akan kau pimpin awalnya salah satu situs teraman di Indonesia. Kau skeptis akan proyek anomali yang akan kau tangani saat itu, mengatakan itu hanyalah sekumpulan hipotesis absurd.” Rufus berkata.
“Aku menyesali saat itu untuk seumur hidupku.” Stefan mulai menunduk selagi berbicara. “Anomali itu, proyek terkutukmu. Degradasi situs ini terjadi begitu cepat. Tiba-tiba tempat ini jadi situs pengamanan Keter berbahaya sebelum aku menyadarinya. Tiba-tiba, semuanya terlambat sebelum aku sempat keluar dari sini. Situs ini telah mengikatku…”
Rufus melihat Stefan mulai duduk dan terdiam beberapa saat.
“…dan istrimu.” Rufus melanjutkan.
Dia ikut duduk di samping Stefan. “Tidak ada yang bisa kulakukan untuk menebusnya selain menjadikanmu direktur situs seumur hidup. Itu bahkan tidak cukup untuk mendapatkan maaf darimu.”
Rufus diam sejenak, menunggu reaksi apa pun.
“Jika hari penyetelan ulang itu telah tiba, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Safe dulu, Euclid jika sempat, dan beberapa Keter di daftar. Evakuasi mereka menggunakan terowongan itu. Setelahnya, kau kuperbolehkan meledakan situs. Membakarnya. Apa pun yang kau mau. Semua terserah padamu. Situs kuserahkan kepadamu.”
Rufus mencoba lagi, menunggu reaksi apa pun.
“Semua tergantung pada kesiapanmu untuk mengakhiri proyek ini.”
Setelah mengatakan itu, Rufus diam. Tidak lagi memutuskan untuk memancing reaksi. Dia hanya bisa menunggu. Setelah beberapa saat, kepala Stefan yang tertunduk mulai mendongak.
“Merataplah jika kau ingin tetap hidup di sini.” Stefan mulai menatap langit. “Terus meratap akan permintaan maaf. Dan merataplah jikalau tetap ingin berlagak layaknya manusia beradab.”
Itulah hukum situs milikmu sekarang.
Stefan melihat ke arah Rufus, “Tetapi tetap saja, aku akan mempertahankan situs ini sampai akhir masa jabatanku.” Katanya. Tidak ada senyum yang dia tampilkan, hanya keyakinan di suaranya yang tegas. Itu cukup bagi Rufus sehingga dia tidak lagi melihat ke arah Stefan.
Aku harus tetap hidup; tidak akan kubiarkan situs lain menjadi inang bagi proyek terkutukmu.
Mereka akhirnya saling diam, saling menatap langit malam. Memikirkan karma yang telah mereka dapatkan. Memikirkan apa rencana alam selanjutnya.
Di tengah hiruk pikuk malam, mereka menatap langit yang jernih dan terpaku menatapnya, melupakan segalanya untuk sesaat.
“…dan Pak Dalang mengakhiri pertunjukannya setelah mengatakan itu.”
Herman hanya mengangguk setelah mendengarkan peneliti di depannya menjabarkan hasil terjemahan lakon SCP-020-ID-A malam itu. Jam sudah menunjukkan pukul 00:48 WIB. Herman mengambil transkrip lakon yang telah diterjemahkan tersebut dan bergegas berjalan menuju lift.
Begitu naik ke atas, dia melihat Direktur Stefan dan Pak Rufus duduk di pinggir sawah. Menyadari ada yang mendekat, Stefan berbalik dan melihat ke arah Herman yang setengah berlari mendekat. Stefan pun berdiri, diikuti oleh Rufus.
“Pak, transkrip Peristiwa Pagelaran hari ini sudah diterjemahkan. SCP-020-ID-A berfokus pada semacam operasi yang dilakukan beberapa personel tanpa afiliasi jelas. Mereka diceritakan mencoba melakukan ritual dengan mengikat seorang ‘sakti’ di atas tiang untuk membuka ‘gerbang dunia lain’. Sebelum kami bisa mendapat informasi lebih, SCP-020-ID-A tiba-tiba mengakhiri pertunjukannya tepat tengah malam. Kemungkinan besar mereka yang diceritakan ini anggota Insurgent, Pak.” Herman melaporkan.
“Tunggu, apa? Kemarikan dokumen itu!” Stefan membaca cepat transkrip yang dia ambil dari Herman. Rufus ikut membaca dari belakang. Tiba-tiba, ponsel Stefan berbunyi. Dia meraih dan membukanya dengan satu tangan selagi fokus membaca transkrip yang dia pegang di tangan lainnya.
“Pak, intel melaporkan ada asap muncul beberapa kilometer dari sini. Meminta izin untuk mengirim personel untuk mengecek.”
Dan memang benar, langit cerah malam itu kembali keruh, tenggelam dalam asap tipis yang mulai membumbung tinggi.
Kronik Situs-79
Prolog
| Menunggu Yang Ditakutkan | Di Depan Gerbang Neraka »




