Menggenapkan Keganjilan
rating: +1+x

“Satu apostle telah tumbang.”

“Sayangnya Toni bukan apostle yang sebaiknya tumbang. Dia berguna. Dia sepemahaman. Dia bisa membantuku.”

“Tidak, Doubtful Thomas mendapat julukannya karena dia tidak akan percaya sebelum melihat bukti nyata. Jika mereka menunjukkan bahwa mereka menepati janji mereka, Toni akan lebih dari bersedia untuk membantu mereka.”

“…setidaknya satu apostle telah tumbang.”


Direktur Stefan membuka pintu ruangannya. Dia melihat sesosok pria berjalan mondar-mandir di tengah kegelapan ruangan dan memutuskan untuk menyalakan sakelar lampu ruangan.

“Tuhan, apa kau tidak memikirkan untuk menyalakan lampu ruangan, Herman?” Kata Stefan selagi berjalan mendekati mejanya.

Herman yang awalnya berjalan bolak-balik berhenti dan akhirnya duduk di kursinya. “Maaf, Tuan Stefan. Saya kira anda ingin sedikit penghematan daya.”

Stefan hanya menggeleng pelan selagi berjalan ke mejanya. Dia lalu duduk di kursi besarnya dan bersandar. Dia memejamkan matanya dan diam mengistirahatkan dirinya sejenak di kursi tersebut. Herman hanya diam menunggu dengan sabar.

Stefan akhirnya berkata, “Jadi, apa yang ingin kau sampaikan?” dengan tetap bersandar pada kursinya; dengan matanya tetap terpejam.

Herman mendekatkan kursinya ke meja sebelum berkata, “Tuan Stefan. Saya ingin membicarakan mengenai penggantian personel Lantai Euclid atas nama Toni Ivansyah yang saat ini dijadikan Kelas-D.”

Stefan mengangguk mengerti. “Kau sudah mengurus seluruh celah kekosongannya, kan?”

“Semua termasuk proyeknya. Tinggal mengisi kekosongan kuota peneliti di lantai euclid.”

Stefan kembali mengangguk. Dia memutar kursi putarnya dan berkata, “Aku mengerti. Aku akan mengontak situs mitra kita.”

“Mengenai itu,” Herman menyela, “Bolehkah saya menyampaikan pendapat saya?”

Stefan tidak membalas segera dan sepertinya berpikir sebelum berkata, “Katakan.”

Herman menunduk untuk beberapa saat. Akhirnya dia berkata, “Bisa saya sarankan kita tidak meminta personel lagi dari situs Jerman?”

Sekali lagi, Stefan tidak langsung membalas. Dia diam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Jelaskan.”

“Kita memang menerima personel dari mereka pascainsiden besar terakhir situs, tetapi mereka semua ditempatkan di keamanan. Untuk peneliti, bukannya kita selalu mencari personel terbaik dan bukan personel buangan dengan catatan disipliner parah?”

Stefan tetap diam. Herman dengan sabar menunggu balasannya. “Untuk apa personel terbaik bagi situs sekarat?”

Herman mengalihkan pandangan dan menghembuskan nafas dengan keras sebelum kembali memandang Stefan dan berkata, “Dengan hormat Tuan Stefan, jika kau ingin situs mati bersamamu, katakan saja dan saya akan langsung menuntun personel keluar dari situs saat ini juga dan meledakannya dengan tuan berada di dalam.”

Sekali lagi hening sejenak dari keduanya sebelum Stefan memecah keheningan dengan berkata, “Sudah lama sejak kau menunjukkan emosi, eh Herman?”

Lalu dia memutar kursinya kembali menghadap Herman dan menatapnya. “Tidak, aku tidak akan mati dan membiarkan situs ini menjadi pemakaman. Ku rasa kau juga berpikiran sama. Masalahnya, situs mana yang bersedia mengirimkan peneliti ‘terbaik’ mereka ke sini? Saat itu keadaan memang genting dan O5 memaksa mereka secara tak langsung. Sekarang mungkin Birmanto bisa saja memaksa situs dalam pengaruhnya untuk memberikan kita personel mereka, tetapi ada kemungkinan mereka akhirnya merasa muak dan melapor ke O5.”

“Bukankah Situs-79 punya situs saudari?” Herman mengacungkan kertas yang dia pegang dari tadi, “Sang Kapal Putih?”

Stefan mengalihkan pandangannya, “Situs-84. Tentu saja…”

“Mereka secara praktis putus asa ingin membantu kita bukan? Meskipun saya benar-benar tidak tahu kenapa mereka begitu ingin menolong kita.”

“Direktur mereka alasannya, Herman.” Stefan menjawab, “Dia temanku dulu sebelum jadi direktur.”

Herman mengangguk mengerti. “Jadi bagaimana menurutmu? Mereka senang dan kita senang.”

“Jadi ku katakan mereka kalau kita perlu seorang peneliti untuk-“

“Peneliti junior.” Herman membenarkan. Stefan menghentikan perkataannya dengan heran.

“Turunkan satu peneliti biasa Lantai Safe ke Euclid sehingga yang kosong adalah untuk lantai tersebut. Saya tidak ingin melihat personel malang yang mereka kirimkan ke sini tumbang secepat itu.”

Stefan hanya menggeleng, tetapi lalu dia berkata, “Baik, kau tinggal tunggu siapapun yang mereka kirim nanti.”

“Terima kasih, Tuan Stefan.” Herman berdiri dari kursinya dan berjalan keluar.

Stefan diam melihatnya keluar ruangan sebelum memutar kursinya kembali menghadap dinding di belakangnya dan mulai memejamkan matanya lagi.

“Siapa yang akan kau korbankan, Ishak…” Dia menggumam.


Pintu lift ruang masuk Situs-79 terbuka saat itu. Dua orang personel keamanan keluar dengan bergegas terlebih dahulu sambil menenteng dua tas besar dan satu tas kecil. Suara keluhan terdengar dari salah satu personel selagi mereka berdua berjalan cepat menuju pintu keluar ruang tersebut.

Seorang pria dengan jas cokelat dan kemeja putih adalah yang selanjutnya berjalan keluar dari lift. Dia melihat ke sekeliling sebelum berjalan lurus ke depan.

“Sekarang kita bisa mulai dengan perkenalan. Namaku Johannes Prasetya, peneliti biasa. Kau bisa memanggilku Jones. Gue yang akan mengajakmu berkeliling di sini.” Kata pria tersebut. Dia berhenti berjalan dan menoleh ke belakang.

Sepasang sepatu hitam terlihat keluar dari lift tersebut dan berjalan ke depan mendekatinya.

Jones menepuk tangannya, “Jadi, selamat datang di Lantai Safe Situs-79. Kau mau duduk dulu atau langsung aja?”

Orang yang keluar dari lift tersebut mengenakan celana hitam dan jas biru gelap yang dikancing rapi.

“Yakin? Ya sudah, ku antar langsung ke area kantor kalau begitu.” Kata Jones selagi lanjut berjalan. “Kau mau minum mungkin? Ada dispenser dan gelas plastik di sana. Juga sekumpulan kopi saset.” Dia berbalik lagi dan menunjuk ke arah dispenser galon ruang tunggu lantai safe.

Orang di belakangnya tidak menyahut. Rambut yang semakin berwarna kekuning-kuningan mendekati ujungnya terurai panjang di balik punggungnya.

“Oke, selesaikan dulu yang ada.” Jones berkata. Dia berbalik kembali ke arah depan, hanya untuk menyadari ada etalase kaca kecil di depannya. “Ah, ini semacam hiasan ruang tunggu, jika kau bingung.” Dia memegang sisi atas etalase di depannya dan berjalan di samping.

“…!!!!” Orang di belakangnya tiba-tiba tersentak, diikuti dengan dia mulai batuk-batuk.

“Sial, kan sudah kubilang duduk dulu kalau lagi makan.” Jones langsung berjalan ke dispenser.

“Maaf, uhuk, kan tadi dibolehin nyempetin makan, Pak Jones.” Terdengar suara feminin darinya.

Perempuan yang diajak bicara Jones duduk dan meletakan kotak makananya di sampingnya. Jones menyodorkan gelas plastic berisi air kepadanya yang langsung dia ambil dan minum sampai habis.

“Ya tadi itu kasihan aja sih, bilangnya belum makan pagi. Ya sudah, makan aja ga apa-apa. Tapi seharusnya duduk aja tadi bentar.” Jones menggaruk belakang kepalanya.

“Ya cuma enam donat aja. Tinggal satu saja lagi nih.” Perempuan itu membalas. “Lagian itu apaan, bikin kaget aja tadi.” Lanjutnya selagi menunjuk ke arah kirinya.

Jones menoleh dan melihat ke arah etalase yang berada di dekatnya. Di dalam etalase tersebut terdapat sebuah otak manusia utuh yang ditopang dua buah tongkat besi di bawahnya sehingga seluruh bagiannya bisa dilihat. Dari warnanya, sudah terlihat otak tersebut diawetkan sehingga tidak membusuk lebih jauh. Di bagian depan atas otak itu, terdapat sebuah kerambit berkarat dengan gagang kayu berukir yang menancap setengahnya.

“Itu?” Tanya Jones selagi menunjuk ke etalase. “Seperti kataku tadi, anggap saja itu ikon Situs-79. Pada awal-awal situs ini berdiri dan dipimpin Direktur Adjiman Wicaksono, situs ini kabarnya menangani mayat hidup era Orde Baru. Otak itu milik salah satu spesimennya. Gue gak tahu nasib mereka, tetapi tidak ada lagi sisa keberadaan mereka di situs ini selain otak itu.”

“Tapi kenapa disimpan?” Perempuan itu bertanya. Matanya tak lepas dari etalase itu.

“Kau lihat bagaimana benda tajam itu menancap? Bentuknya melengkung tajam kayak angka tujuh. Dan batang otak di belakangnya yang memanjang turun dan melengkung di lantai, membuat keseluruhan otak tua itu membentuk angka sembilan, kan? Tujuh sembilan; itu yang personel lama katakan.”

“Kalian personel 79 memang seaneh yang kami duga…” Perempuan itu mengomentari.

Jones hanya tertawa, “Yeah, semua situs punya keanehannya, meski gue tidak tahu mengenai 84.”

Perempuan itu hanya mengangkat bahunya selagi mengunyah makanannya. Setelah menghabiskannya, dia menutup kotak makanan yang dipegangnya dan berdiri untuk berjalan menuju tempat sampah.

Jones menunggunya selesai di depan pintu menuju ruang lain. Begitu perempuan itu sudah membuang sampahnya, dia berkata, “Kita lanjut ke ruangan lain, nanti istirahat di mess-mu saja.”

Dan dengan itu dia membuka pintu ke sebuah ruangan yang lebih luas. Jones menahan pintu antarruangan, menunggu perempuan di belakangnya lewat. “Kau duluan.”

Perempuan di belakangnya berjalan menuju Jones, tetapi mendekati pintu, dia melambatkan lajunya dan akhirnya berhenti dengan mukanya mendongkak ke atas pintu. Terdapat ukiran di atas pintu tersebut dalam Bahasa Inggris.

“River Styx?” Tanyanya.

Jones hanya mengalihkan pandangannya, “Acuhkan saja. Tulisan itu sudah ada sejak dulu.”

Perempuan itu tidak mengalihkan pandangannya, “Kenapa ditulis di sana?”

Jones masih tidak menghiraukannya, “Entahlah, seperti kataku, tulisan itu sudah ada sejak dulu.”

“Dan bukan karena kalian menganggap tempat ini sebagai neraka?” Dia terus menekan dengan pertanyaan.

“Saya sarankan anda untuk tidak bertanya lebih lanjut mengenai integritas situs.” Nada suara Jones berubah menjadi dingin, “Sekarang sebaiknya kita lanjutkan, oke?”

Perempuan tersebut sedikit tersentak melihat perubahan sikapnya sebelum akhirnya mengiyakan dan berjalan melintasi pintu tersebut.

Menuju dunia bawah, kurasa… Pikir perempuan itu.

Sebuah ruangan luas dengan banyak kontainer besi berjejer di pojok ruangan. Ada satu atau dua orang berseragam putih dengan helm pekerja berdiri di dekat kontainer tersebut saling berbincang.

“Ini adalah ruang penyimpanan sementara anomali baru atau pindahan.” Kata Jones. “Kau akan sering lewat sini nanti, karena ruang penelitian di sana.” Katanya selagi menunjuk ke sebelah kanannya. Terdapat sebuah pintu ganda yang bersebelahan dengan mereka di sebelah kanan.

“Tapi area kantor berada di sebelah sini.” Lanjut Jones yang mulai berjalan ke depan. Terdapat sebuah pintu ganda juga yang berada di depan mereka. Perempuan di sampingnya mengikutinya berjalan.

Jones membuka pintu ganda tersebut dan berjalan memasuki ruang di depannya. Kini mereka berada di sebuah ruangan berukuran sedang dengan tiga buah pintu ganda termasuk pintu yang mereka buka tadi.

Jones berjalan cepat mendahului perempuan di sampingnya sebelum berbalik dan berhenti di hadapannya, “Di sebelah kiri mu adalah lift barang dan anomali dan sebelah kanan adalah sisa ruangan.” Katanya.

Dia lanjut membuka pintu menuju ruangan lainnya. Perempuan di belakangnya mengikutinya.

Mereka kini berada di semacam koridor luas dan panjang. Di sisi kanan mereka, berjejer pintu-pintu. Perempuan di belakang Jones berjalan mendekati salah satu pintu di dekatnya; terdapat plakat di atas setiap pintu tersebut.

Semua pintu memiliki sederet nomor di plakatnya.

Perempuan tersebut langsung tersentak mundur beberapa langkah, menyadari dengan jelas arti deretan nomor tersebut.

“Kalian menyimpan anomali kalian di koridor?!” Dia segera bertanya.

Jones menoleh ke sampingnya, “Hm? Ya? Gue pernah di situs di Amerika sana, ruangan beberapa anomali juga terdapat di koridor, kok. Itu normal.”

“Tapi, apa benar-benar tidak bahaya? Maksudku, kan orang lewat sini setiap saat kalau mau keluar situs. Kecuali kalau ada lift lain di sana, tetapi tetap saja berbahaya.” Lanjut perempuan itu.

“Mereka tidak berbahaya, kok. Pasif semua. Sama seperti anomali safe di situs asalmu, kok.” Jones meyakinkan.

Perempuan itu ingin membantah, tetapi dia tidak ingin membuat pemandunya kesal lagi. Jadi dia hanya diam mengiyakan dan menoleh ke kirinya.

Terdapat sebuah ruangan luas di sebelah kirinya. Satu hal yang menarik perhatiannya adalah selain beberapa orang berseragam abu-abu, terdapat beberapa orang dengan seragam taktis gelap mulai dari rompi sampai helmnya.

Jones mengikuti arah pandangan perempuan tersebut dan berkata, "Di sana ruang istirahat personel. Untuk teknisi sebenarnya, tetapi semua personel lapangan nongkrong di sana juga.”

“Dan untuk personel keamanan?” Tanya perempuan tadi selagi masih mengamati orang-orang di ruang kirinya, mencoba mencari personel berseragam putih dengan visor kuning khas penjaga seperti yang dia lihat saat awal datang.

“Lantai di bawah. Mereka tidak terlalu banyak kerja di sini selain berpatroli, jadi mereka berkumpul di bawah.”

“Apa kalian benar-benar serileks itu?” Dia masih bertanya.

Kali ini Jones tersenyum, “Seperti namanya, lantai ini merupakan lantai teraman di situs ini. Keadaan tidak terlalu beruntung di bawah.”

Tidak ada pertanyaan lagi. Jones melanjutkan perjalanan. Mereka berjalan melewati jejeran pintu berisi entah sekumpulan brangkas atau satu anomali kelas safe di lantai tersebut.

Yang menyambut di ujung koridor adalah sebuah pintu ganda. Jones menarik salah satu pintu di depannya dan masuk, diiringi perempuan di belakangnya.

Mereka berada di pertigaan lagi; di depan mereka terdapat lift sedangkan di sisi kiri dan kanan mereka terdapat ruang lain. Di sisi kiri terdapat koridor yang bercabang jadi dua lagi di dalamnya, sedangkan di sisi kanan terdapat sebuah pintu besi ganda yang tertutup.

“Kita sampai di ruang tunggu lantai safe. Sebelah kanan itu auditorium. Cuma dipakai untuk pertemuan seluruh personel situs. Menghubungkan seluruh lantai, kau tahu. Sebelah kiri baru area kantor dan asrama.”

Kemudian Jones melangkah ke arah kiri, diikuti perempuan di belakangnya yang masih menatap ke arah pintu ganda menuju auditorium yang sepi tanpa seorang pun di sisi kanannya.

Perempuan tersebut menoleh kembali ke depan, baru menyadari kalau area kantor yang mereka datangi terpisah jadi dua koridor berbeda. Dia bisa melihat sekumpulan meja berbataskan sekat berderet di koridor kirinya selagi mereka berjalan ke koridor di kanan.

Di sepanjang koridor tersebut berderet pintu lain lagi dari besi. Yang ini hanya dihiasi penanda berupa kombinasi huruf dan nomor.

“Ini ruanganku, jika kau perlu sesuatu, ketuk saja. Tapi kalau mau ngobrol aja, pas gue selesai kerja aja.” Jones berhenti sejenak dan berkata selagi menunjuk ke pintu ruangannya, tertera penanda A1 pada pintu besi itu.

Jones kembali lanjut berjalan, “Karena kau masih berstatus peneliti junior, kau akan dipasangkan dengan peneliti senior yang kebetulan memerlukan peneliti junior. Dan kau ditugaskan dengan…”

Mereka berhenti di pintu ketiga, bertuliskan A3.

“…Peneliti Senior Herman Puspito.”

Jones mengetuk pintu besi tersebut. Suara ajakan masuk terdengar samar dari balik pintu, jadi dia langsung membuka pintu di depannya. Dia lalu masuk ke dalam diiringi perempuan di belakangnya.

Di depan mereka duduk seorang pria tua yang tengah memandangi beberapa lembar kertas di belakangnya. Begitu melihat mereka berdua, dia menurunkan kertas di tangannya dan berdiri selagi berkata, “Senang akhirnya bisa bertemu denganmu,”

Dia menyodorkan tangannya, “Namaku Herman Puspito, salam kenal.”

Jones menatap perempuan itu yang mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Herman dengan senyum tipis di mulutnya.

Meskipun matanya menunjukkan ekspresi sebaliknya.


“Jadi kau yang akan menerimanya?” Jones berkata dengan nada tidak senang. Dia melipat tangannya, berdiri di depan sebuah meja.

“Hanya aku pilihan yang ada.” Suara pelan Herman dari sisi lain meja tersebut cukup terdengar oleh Jones di ruangan sunyi ini.

“Aku tidak ingin dia terjebak dalam ketegangan antar Nak Onyx dan Louis di bawah. Nak Indra masih di luar situs bersama Peneliti Usrir, Nak Heliza… Kita berdua tahu dia bukan pilihan yang baik untuk personel baru, Nak Darel memang baru jadi Peneliti Senior tetapi langsung dipindahkan ke Euclid menggantikan Toni, dan kau sendiri mengatakan padaku kalau kau tidak ingin personel junior.” Dia melanjutkan. Kedua tangannya yang tertutup menahan dagunya.

Jones hanya diam. Dia ingin membantah, mengatakan apa pun alasan dirinya menentang keputusan itu, tetapi dia tahu itu terdengar tidak rasional. Bahkan dia merasa separanoid Louis.

Tetapi tetap saja…

“Jadi siapa yang mereka kirim?” Jones memutuskan untuk bertanya. Setidaknya dia tahu siapa yang dia harus kasihani.

Herman menurunkan kedua tangannya ke meja dan tersenyum, “Kau ingat kasus pembunuhan Peneliti Senior Oki Susesto?”

Jones tertegun mendengar kasus itu. Bukan kasus di Situs-79, tetapi Situs-84. Masih baru dua tahun juga. Hanya beberapa situs terdekat yang tahu mengenai kasus itu. Semua orang yang tahu kasus itu mengenali siapa yang Herman sebenarnya coba rujuk.

“Maksud anda dia?” Hanya itu yang ingin dipastikan Jones.

“Ya. Perempuan muda itu. Dia mengungkap kebenaran kasus pembunuhan itu, kau ingat?” Herman berkata, dia menoleh ke arah lain, mengingat kembali kasus itu.

“Ya, aku dengar sih mengenai ceritanya.” Jones sedikit lega mengetahui dia setidaknya mengenal sedikit personel baru yang akan dikirim ke sini. Tetapi sesuatu tiba-tiba mengganggu pikirannya.

“Tunggu, sial. Ku dengar dia banyak tanya. Dia pasti akan banyak bertanya saat sampai di sini. Kau tahu betapa susahnya aku menahan supaya rumor yang keluar dari situs ini hanya rumor baik, kan?”

Herman menggeleng, masih tersenyum melihat reaksi Jones, “Tidak ada yang menugaskanmu untuk menjaga alur informasi situs ini, Jones.”

“Kau tahu apa misiku sejak insiden ledakan itu, Herman.” Jones berkata dengan kesal.

“Aku tahu itu.” Herman membalas. “Dan menurutku dia bisa membantumu. Membantu situs ini menjadi lebih baik. Hanya diam menyimpan keburukan tidak akan membantu memperbaiki keadaan.”

Jones tidak merespon. Dia diam berpikir untuk beberapa saat. Akhirnya dia menurunkan kedua lengannya. “Baik, jadi aku yang akan menyambutnya besok, kan?”

Herman mengangguk, “Ya. Cukup bawa dia ke kantorku saja.”

“Baiklah.” Jones memutuskan untuk meninggalkan ruangan. Dia menundukan kepalanya sebentar dan berbalik berjalan menuju ke arah pintu keluar.

“Oh ya,” Jones berbalik tiba-tiba. “Aku… jujur saja lupa namanya. Aku cuma ingat kasus yang ditanganinya, itu saja.”

“Tentu,” Herman membalas. Dia mengambil salah satu kertas di mejanya dan mendekatkannya ke wajahnya agar bisa membacanya. Pasfoto kecil seorang perempuan di usia 25 tahunannya terlihat di pojok kiri atas. Rambutnya yang berwarna hitam menyentuh bahunya yang mengenakan jas biru gelap. Herman melirik ke samping pasfoto itu, ke bagian namanya.

“Nama lengkapnya adalah…”


“…Lucia Amelia. Panggil saja saya Lucy, Pak.”

Perempuan di depan Herman menjabat tangannya. Mereka bersalaman untuk beberapa saat.

“Kita akan mulai bekerja besok, jadi kau istirahat saja dulu untuk hari ini.” Kata Herman. Dia menoleh ke Jones, “Nak Jones, mengenai ruangannya?”

Jones, bagai terbuyarkan dari lamunannya, langsung merespon cepat, “Hm? Ruangan? Pintunya tidak dikunci. Kuncinya di dalam messnya. Kau sudah diberi tahu mengenai segala hal teknisnya, kan?”

Lucy mengangguk, “Segalanya sama seperti di situs manapun, kan? Aku tinggal di situs sepanjang waktu kecuali akhir pekan sampai aku jadi peneliti independen.”

“Tidak, bukan itu. Ruang messmu nanti. Ruanganmu nanti ada di nomor 19. Nanti setelah keluar dari ruangan ini kamu belok kanan. Nanti ada persimpangan koridor, kau pergi ke kiri lalu ke kanan lagi. Cari ruangan nomor 19. Itu ga dikunci, kok. Barangmu tadi yang diantar penjaga sudah di sana seharusnya.” Jones menjelaskan.

“Oh. Baik, terimakasih.” Lucy membalas

Herman kembali menoleh ke Lucy, “Kau boleh pergi sekarang. Kita mulai bekerja bersama besok jam enam sore, ya?”

Lucy mengangguk, mengucapkan salam, dan berjalan keluar ruangan. Jones dan Herman menatapnya berjalan keluar, masing-masing memiliki pikiran berbeda akan keadaan kedepannya Situs-79 dengan dia bergabung.


Lucy berjalan menyusuri koridor yang dikelilingi ruangan mess. Dia melihat ke kiri dan kanan, mencari nomor ruangannya. Seorang personel dengan baju kemeja putih berjalan dari arah depannya. Lucy mengangguk sekali saat mereka berpapasan sebelum mereka berjalan ke arah berbeda.

Meski sudah berpapasan, Lucy menoleh ke belakang, terus menatap ke arah personel itu sampai dia sampai di persimpangan koridor. Dia tidak menyadari Lucy memandanginya sepanjang waktu.

Lucy akhirnya menoleh kembali ke depan dan menemukan ruangan messnya di ujung kiri koridor. Ada pertigaan di depannya, tetapi hanya mengarah ke ruang janitorial dan kamar mandi. Lucy mencoba membuka pintunya dan memang tidak terkunci seperti kata Jones.

Dia masuk ke dalam. Lampu ruangan tidak menyala; ruangannya gelap gulita. Dengan bantuan cahaya dari koridor, dia bisa melihat barang-barangnya ada di atas tempat tidurnya. Dia juga menemukan sakelar lampu ruangannya di dinding dan menekannya.

Tidak ada jendela di ruangannya, dia sudah terbiasa akan itu. Dia melihat bagian lain dari ruangan; terdapat pintu yang menghubungkan ke kamar mandi dan sebuah lemari besar. Terdapat sebuah meja dengan cermin dan kursi juga di samping tempat tidurnya.

Tidak ada kamera pengawas di sudut ruangannya.

Dia mendekati pintu ruangannya dan berniat menutupnya. Saat itu dia menyadari bahwa kunci ruangannya tertancap di sisi lain lubang pintunya. Lucy menatapnya sejenak sebelum menutup pintu ruangannya sepenuhnya. Tangan kanannya memegang kunci ruangannya.

Dia memutar kuncinya.

Dia berjalan menjauh, menuju ranjangnya dan menggenggam tasnya yang paling kecil. Dia membuka ritsletingnya dan melihat ke dalam isinya. Setelah melihatnya, Lucy memasukkan tangannya ke dalam tas untuk meraih konten di dalamnya.

Dia mengeluarkan sebuah tempat pensil kain berwarna cokelat dan berjalan untuk menaruhnya di meja. Selanjutnya dia kembali merogoh isi tasnya, yang kali ini dikeluarkannya adalah sebuah buku tebal. Dia menatap buku itu sambil menggeleng.

Bisa-bisanya mereka tidak mengeceknya…

Dia kembali berjalan untuk meletakan buku tersebut di meja dan kali ini dia menyeret kursi di sampingnya untuk mendekati meja untuk dia duduki. Dia akhirnya menggenggam buku tersebut dan melihat sampul depan nya.

To Kill a Mockingbird, karya Harper Lee. Versi terjemahan Bahasa Indonesia. Lucy memandanginya, mengingat masa kuliahnya membeli buku ini karena iseng dan penasaran akan kenapa novel ini dilarang di Amerika Serikat. Dia ingat mendapat pemahaman dan gambaran akan ketidakadilan rasial di sana pada latar tahun novel itu selama membacanya. Upaya Scout, saudaranya, dan ayahnya melawan hal tersebut membuatnya tertarik membaca buku yang awalnya dia dapatkan karena penasaran sampai habis.

Dia sudah tidak tertarik lagi membacanya sekarang, apalagi saat ini.

Dia membuka buku itu dan langsung mencari awal bab sembilan. Halaman yang dicarinya didapatkan dengan cepat bukan karena ingatan lampaunya, tetapi karena permukaan pasfoto kecil yang Lucy selipkan di tengah halaman membuatnya mencuat di antara halaman lain. Lucy mengambil benda yang dia selundupkan masuk ke situs itu dan menatap wajah di pasfoto tersebut.

Seorang pria muda dengan rambut disisir rapi ke arah kiri. Dia memakai kemeja putih dengan dasi biru, ekspresi wajahnya datar dan dia terlihat bosan. Terdapat tulisan tangan di bawah pasfoto itu bertuliskan,

‘Zakaria, awal bergabung.’

Dia meletakan pasfoto itu di meja dan menutup buku novelnya. Dia kini meraih kotak pensil kainnya dan membuka ritsletingnya. Dia mulai meraba isi kotak pensilnya dan mengeluarkan sebuah pulpen tekan berwarna hitam.

“Cukup todongkan,” Lucy berbicara pada pasfoto di meja. Jempol kanannya menekan pulpen yang digenggamnya dan mulai mencoret muka di pasfoto itu.

“Dan tembak,” Dia mencoret-coret bagian pipinya, membuat lengkungan pada salah satu sisinya.

“Dan aku bisa keluar dari neraka ini.” Dia meletakan pulpennya ke samping setelah selesai dan mengamati pasfotonya sekarang. Memastikan wajahnya sekarang terlihat cocok dengan deskripsi atasannya akan wajah Zakaria pascainsiden situs KOG di Kalimantan.

“Dasar pengkhianat…”

Kronik Situs-79

Selingan 1
| Menggenapkan Keganjilan | Kisah Dua Kapal »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License