Seorang pria berdiri di depan ruangan mess Lucy. Dari celana panjang sampai kemejanya berwarna hitam. Lucy lebih bingung kenapa dia mengenakan kacamata hitam di situs gelap ini.
Pria di depannya tersenyum ke arah Lucy dan berkata, “Aku berbicara dengan Lucia Amelia, bukan?”
“Ah, ya. Itu saya! Ada apa ya tuan…” Lucy memberi jeda agar pria di depannya memperkenalkan dirinya.
“Hidayat. Kau bisa memanggilku begitu.” Jawabnya.
Huh, nama Islam. Lucy awalnya menduga dia pastor situs ini. Itu jika ada; dia belum bertanya.
“Baik, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?” Lucy bertanya.
“Sebaiknya kita bicarakan di dalam. Boleh aku masuk?” Dia berkata.
Lucy segera menyingkir dari depan pintu dan mempersilahkannya masuk. Pria di depannya masuk ke dalam. Dia mengamati ke sekeliling ruangan. Awalnya Lucy mengira dia akan duduk di kursinya, tetapi dia mendekati ranjangnya dan akhirnya duduk di pinggirannya.
“Ada yang ingin kuberitahukan kepadamu,” Dia berkata. Lucy berdiri diam menunggu apa yang dia akan katakan.
“Hansel tidak bersalah.”
Pria tersebut tetap tersenyum, sementara Lucy jelas kebingungan mendengarnya.
“A- apa maksud anda??” Segera Lucy bertanya kepadanya.
“Dia bersamaku di ruanganku selama insiden.” Dia melanjutkan.
“Tunggu, tunggu! Bapak ini personel apa? Kepala keamanan?” Lucy masih mencoba memproses perkataanya.
“Aku kepala SDM situs ini.” Dia menjawab dengan singkat. Dia tidak mengeluarkan kartu pengenal atau apa pun, cuma berkata seperti itu dan diam menunggu balasannya.
“Kepala SDM?” Lucy tak mengerti jawabannya. Bukannya dia cuma bertugas mengurus personel ba-
Sesuatu terlintas di pikiran Lucy. Entah kenapa dia tidak memikirkan ini sebelumnya.
“Ya, itu artinya keputusan apa pun mengenai personel di sini berasal dariku. Perekrutan, penaikan jabatan, hukuman, eksekusi, aku yang mengatur hidup dan matinya kalian semua.”
Itu yang Lucy sekilas pikirkan. Dia baru ingat dia berada di situs yang sama sekali tak bermasalah membunuh satu sama lain.
Kepala SDM mungkin bukan jabatan biasa… Dia mengamati pria di depannya.
Tunggu, apa dia punya batasan mengenai apa yang didefinisikannya sebagai personel yang diaturnya?
Lucy tidak tahu apakah pria di depannya menatap balik ke arahnya karena kacamata hitamnya.
Dan juga..
“Apa maksud anda mengatakan Hansel bukan pelakunya?” Lucy tidak peduli dia kepala SDM atau direktur situs sekalipun. Dia tidak melakukan kesalahan dengan mempertanyakan pernyataannya, dia cuma ingin mengejar kebenaran.
“Hansel merupakan mantan STG, kau tahu?” Pria tersebut menjelaskan, “Ketika anggota timnya satu persatu habis dalam misi, tekanannya dirasa terlalu berat dan STG tersebut dibubarkan.”
“Sayangnya seluruh penderitaan yang dialaminya tidak hilang dalam semalam. Tidak juga dalam seminggu, sebulan, atau setahun. Dia perlu sesuatu untuk menghalau pikirannya. Itulah kenapa dia melakukan seluruh pekerjaan kotor di situs ini. Kau bisa bilang dia sedikit mencari mati juga.”
Lucy diam mendengarnya. Tentu saja mendengarkan cerita dari prespektif berbeda selalu mengejutkannya.
Tetapi tetap saja,
“Dan apa hubungannya denganmu dan seluruh insiden ini?” Lucy bertanya padanya.
“Sebagai kepala SDM, aku tentu harus mendengarkan permasalahan personel agar mereka bekerja dengan efisien, bukan? Kebetulan pada hari itu dia di ruanganku.” Jawabnya.
“Tapi sampai kapan? Aku punya saksi yang mengatakan dia berjalan menuju area mess selama protokol pertama dijalankan. Terlebih lagi dia melewati area kantor pribadi, jadi dia pasti tahu sesuatu.” Tekan Lucy padanya.
“Ya, kau benar.” Balas pria tersebut. “Dia memang mengetahui retakan SCP-007-ID-1.”
“Lalu kenapa kau bilang-“ Kata-kata Lucy terhenti begitu dia memproses jawabannya. “Tunggu, maksudmu retakan itu sudah ada sebelum dia lewat?
Pria di depannya mengangguk, mengonfirmasi perkataan Lucy.
“Tapi itu absurb! Apa- apa buktinya?” Tanya Lucy lagi. Dia tidak akan memakan mentah-mentah perkataan pria ini.
“Aku melihatnya.” Lagi-lagi dia menjawab singkat.
“Dari CCTV, tentu saja.” Lanjutnya.
“Kau punya akses ke CCTV??” Lucy bertanya setengah terkejut. Dia ingat Jones berkata bahkan kepala keamanan perlu izin untuk mengaksesnya.
Tidak, Lucy menggeleng, Pria ini kepala SDM, alasannya pasti berkaitan dengan personel, jadi dia pasti diizinkan mengaksesnya untuk tugasnya.
“Ya, benar.” Akhirnya dia menjawab.
Lucy diam sejenak sebelum memberanikan diri bertanya, “Jadi siapa pelakunya?”
Ruangan hening untuk beberapa saat. Lucy menunggu jawaban atau apa pun dikatakan olehnya, tetapi pria di depannya akhirnya cuma berdiri. Dia merapikan pakaiannya dan mulai berjalan mendekati Lucy.
Dia melewati Lucy. Lucy menatapnya selagi dia berjalan menuju pintu.
“Kau bisa mencarinya sendiri.” Dia akhirnya berkata.
“Tunggu, tapi kenapa? Kenapa kau tidak bisa memberitahukan kebenarannya?” Lucy tak menyerah dan menghadap ke arahnya. “Apa karena peraturan aneh situs ini atau semacamnya?”
“Ah, tidak, tidak. Sederhana saja,” Dia memegang pintu ruangan Lucy dan membukanya. “Aku senang mengamati kalian menghadapi nasib kalian. Aku tidak ingin terlalu ikut campur dan mengganggu nasib kalian.”
Dia tetap tersenyum ke arah Lucy, membuatnya semakin kesal mendengar hal tersebut. “Sialan kau cuma enak-enakan duduk dan mengamati kami saling membunuh satu sama lain!”
“Aku suka mendengar semangat hidupmu. Tetap hidup besok, ok!” Dia melangkah keluar.
“Tunggu!” Lucy menahannya di saat terakhir. Untungnya dia berhenti menutup pintu. “Hansel tahu ada retakan di depan ruang Herman. Kenapa dia tidak memberitahukan apa pun? Aku menduga dia pelakunya karena itu.” Tanya Lucy, murni ingin tahu.
“Menurutmu apa lagi pilihan yang dia punya? Dia bermusuhan dengan Onyx, tetapi dia sebenarnya tidak punya dendam pribadi pada Herman sampai merencanakan hal sekompleks itu. Yang dia bisa lakukan cuma diam saja.”
Dengan itu pun, pria tersebut menutup pintu ruangan mess Lucy, meninggalkannya berdiri diam menatap pintu. Dia tidak percaya dia menuduh orang yang salah. Sekilas semua bukti yang dia punya memang selaras menunjukkan Hansel pelakunya,
Tetapi…
“Kau kira aku cukup bodoh untuk membawa barang bukti ke depan ruangan mess-ku sendiri dan berkata aku pelakunya?”
Lucy menoleh ke arah pintu. Dia meraih ponselnya, ‘Jam 06:04’ tertulis di layarnya. Dia masih punya waktu dua belas jam untuk mengungkap kasus ini sesuai yang dijanjikannya. Dengan itu dia melangkah cepat ke luar.
Seperti penyelidikan pertamaku, Lucy membuka pintu ruangannya. Aku akan membuktikan terduga pelaku tidak bersalah dalam kasus ini. Dan dia pun keluar untuk menuntaskan penyelidikannya.
Selagi berjalan, Lucy mengingat kembali sampai mana penyelidikan aslinya sebelum perhatiannya terbagi ke Hansel.
Peneliti Jerry! Tentu saja! Dia menjentikkan jarinya karena berhasil mengingatnya. Dia harus bertanya kepada para peneliti di area kantor umum lagi untuk mengetahui keberadaannya.
Begitu sampai, dia melihat area kantor lumayan sepi. Sepertinya mereka kembali ke mess mereka masing-masing… Pikir Lucy.
“Permisi.”
Sebuah suara dari samping sedikit mengagetkan Lucy. Perempuan di belakangnya adalah salah satu dari tiga peneliti yang dia dan Onyx tanyai sebelumnya. Dia memegang segelas kopi yang uapnya masih terlihat.
Lucy menyadari dia berdiri di tengah-tengah area dan mungkin menghalangi jalurnya, jadi dia menepi segera. Selagi dia lewat, Lucy menyempatkan untuk bertanya, “Maaf, bisa aku bertanya sebentar?”
Perempuan tadi berhenti sejenak untuk mengiyakannya. Lucy langsung saja melanjutkan bertanya, “Apa kau mengenal peneliti bernama Jerry?”
Dari ekspresinya, dia sedikit terkejut mendengar nama itu. Itu diikuti dengan dia bertanya balik, “Si Jerry? Kau yakin?”
Lucy mengangguk. “Ya, apa ada sesuatu tentangnya?”
Perempuan di depannya menggeleng, “Ga, cuma jarang aja. Ga banyak yang nyariin dia kecuali buat kerjaan.”
Itu kedua kalinya Lucy mendengar hal tersebut. Memang ada sesuatu mengenai orang itu yang harus diselidikinya.
“Ya, aku perlu menanyainya beberapa hal. Apa kau tahu di mana dia sekarang?” Tanya Lucy.
“Kau ga tau? Dia kalau tidak di sini ya di lab. Seharusnya dia di sana sekarang.” Jawabnya.
Sesuatu membuat Lucy bingung, jadi dia bertanya lagi, “Dia tidak ke mess-nya?”
Perempuan di depannya mengangkat bahunya. “Dia biasa ketiduran kalau tidak di sini ya di sana.”
Lucy berterimakasih sebelum beranjak pergi segera. Dia berjalan cepat ke arah pintu pembatas, tidak ingin berpapasan atau kehilangan dia seperti kemarin.
Dia membuka pintu pembatas dan mengamati area penahanan masih sepi seperti biasa. Bahkan lebih sepi dari sebelumnya karena kali ini cuma ada seorang dua orang penjaga saja yang lalu-lalang di depannya.
“Siapa lagi yang kau cari kali ini?”
Lucy menoleh ke samping dan mendapati seorang personel berseragam hitam bersandar di sisi kirinya. Lucy langsung mengenali wajahnya.
“Kak Heru?”
Heru cuma menoleh ke arah samping, seakan menunggu seseorang. Setelahnya dia kembali menatap Lucy dan berkata, “Kau mau melanjutkan penyelidikanmu lagi?”
Lucy tentu saja terkejut. Dia tahu dari mana? Pikir Lucy. Dia langsung menanyai mengenai itu. “Ya, tapi sebelumnya kenapa kau mengira seperti itu awalnya?”
“Kami dicegat Kepala SDM situs ini saat membawa Hansel ke ruang kepala keamanan. Pria itu entah bagaimana masuk ke lift seakan tahu kami di dalam dan mengatakan kalau dia mengambil alih pengurusan kasus Hansel dan meminta kami membawanya ke ruang dia saja. Dia sendiri tetap di lift sementara kita keluar. Dari penanda liftnya dia menuju ke atas. Entah apa yang dia lakukan, tetapi melihatmu kembali ke sini meski tanpa kepentingan lagi, ku rasa itu tebakan yang bagus.”
Pak Hidayat mencegat mereka di lift? Tunggu…
“Aku melihatnya. Dari CCTV, tentu saja.”
Itu yang dikatakan Hidayat sebelumnya. Lucy tidak tahu sebebas apa dia dalam mengakses CCTV, tetapi itu bukan ketidakmungkinan.
“Kurasa tebakanmu lebih seperti deduksi. Dan lumayan bagus, pula.” Balas Lucy. Dia jujur mengenai itu; pria ini mampu menganalisis keadaan dengan baik seperti dirinya. Mungkin lebih. Tidak heran dia bisa menjadi agen senior.
“Ku rasa biasa-biasa saja.” Dia menggeleng, tetapi tersenyum mendengarnya. “Jadi, apa tepatnya yang dikatakannya?”
Lucy menghembuskan nafasnya, “Dia datang ke ruanganku dan tiba-tiba saja mengatakan Hansel tidak bersalah. Dengan bukti pula.”
“Heh, jadi kita mendatanginya tadi sebenarnya tidak bermakna apa-apa?” Heru bertanya, meski dari nada bicaranya dia cuma bercanda menanyakannya.
“Yah, kasian juga Hansel takut setengah mati karenanya.” Balas Lucy. Meskipun dia ingat pisau yang ditempelkan Hansel ke lehernya, dia juga ingat betapa gugupnya dia berhadapan dengan Onyx.
“Heh, setuju untuk itu.” Heru diam sejenak sebelum melanjutkan. “Jadi, penyelidikanmu kembali ke nol?” Tanyanya.
Lucy menggeleng. “Tidak. Sebelum Hansel, ada seseorang yang ingin ku tanyai. Seorang peneliti bernama Jerry. Dia meneliti SCP-033-ID, jadi aku awalnya ingin bertanya bagaimana mereka bisa kabur. Kau mengenalnya?”
Alih-alih menjawab, Heru langsung berdiri dan berkata, “Kau bisa mulai dari dia seharusnya, pria itu pernah jadi simpatisan Louis.”
“Tunggu, apa?”
“Dia eks peneliti proyek SCP-014-ID-B, salah satu spesimen yang kita punya di bawah. Tetapi akhirnya tugasnya habis dan dia tidak lagi diperlukan di proyek. Sekarang dia gila-gilaan riset spesimen lain seperti SCP-033-ID demi naik jabatan sendiri.” Terang Heru.
“Jadi dia memang ada hubungan dengan dalangnya! Baik, aku akan menanyainya sekarang.” Lucy bergegas berjalan menjauh, tetapi baru beberapa langkah, dia berhenti dan berbalik ke arah Heru. “Kau, uhh… kau keberatan mendampingiku menemuinya?”
Seharusnya Lucy saja bisa ke sana sendiri, tetapi ingatannya akan Hansel yang mengancam nyawanya masih segar.
Heru mengangkat bahu dan tersenyum. Dia menegakkan dirinya setelah cukup lama bersandar di dinding dan berkata, “Oke lah.” Selagi berjalan mendekati Lucy.
Lucy lega mendengarnya dan berjalan duluan.
Ruang uji dan laboratorium lantai ini digabungkan dan hanya dibatasi dinding. Dikatakan digabung karena ruang pengujian hanya bisa diakses melalui laboratorium.
Begitu masuk, Lucy hanya melihat seorang pria yang mengenakan jas lab tengah berdiri membelakanginya. Cuma dia yang ada di ruangan ini untuk entah berapa lama. Kertas-kertas berserakan di meja besi di depannya, Sebuah gelas kosong di sisi kanannya, dan rambutnya sedikit berantakan.
Lucy memutuskan mencoba keberuntungannya dan langsung bertanya, “Peneliti Jerry, bukan?”
Pria di depannya langsung menoleh. Dugaan Lucy benar mengenai pria di depannya mungkin kurang tidur. Selain matanya yang sayu, terdapat band-aid dengan kapas di pipi kirinya.
“Itu aku, kau perlu apa?” Dia, berbeda dari yang Lucy duga, membalas dengan wajar tanpa nada terganggu atau semacamnya.
“Namaku Lucy, aku ingin mengetahui lebih lanjut mengenai insiden lepasnya SCP-033-ID kemarin. Kau yang bertanggung jawab atas mereka, bukan?”
Ekspresi pria di depannya berubah seketika menjadi gugup, terbukti dari matanya yang langsung terbelalak dan postur badannya yang langsung merapat ke meja yang sekarang di belakangnya.
“Aku- Aku sudah mengatakan itu kecelakaan! Aku terluka karena mereka!” Balas Jerry selagi menunjuk luka di pipinya. Lucy mau membalas pernyataannya, tetapi pria di depannya langsung melepas jas labnya dan menunjukkan lengan kirinya yang diikat perban.
Lucy awalnya ingin membalas pernyataannya, tetapi dia ingin bertanya lagi. “Kenapa kau terluka?” Dia bertanya.
“Tentu saja karena kait laba-laba itu, apa lagi?” Dia mulai berkata dengan nada kesal.
“Bagaimana bisa?” Lucy menekan lebih lanjut.
Jerry diam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Aku sudah mengaku itu kesalahanku tidak menghitung jumlah entitas dengan benar dan beberapa berkeliaran dengan bebas. Jadi aku tidak perlu menceritakan pengalaman memalukan ini lagi kepadamu, oke?”
Lucy mengamati pria di depannya yang kembali mengenakan jas labnya dan berbalik. Dia terlihat kelelahan dan ingin mengakhiri pembicaraan ini secepat mungkin.
Itulah kenapa Lucy curiga dia ingin mengakhiri percakapan mereka sebelum kemampuan berpikirnya dihabisi rasa lelahnya.
“Berapa lama kau meneliti SCP-033-ID?” Lucy kembali bertanya.
Jerry berbalik dengan ekspresi kesal bercampur kelelahan. “Sialan, kau masih di sini?!”
“Jawab saja pertanyaanku. Berapa lama kau meneliti mereka?”
Pria di depannya terlihat berpikir keras. Setelah menggumam beberapa kali, dia menjawab, “Dua tahun. Dia salah satu spesimen yang kuambil untuk penelitian luang. Heh, siapa tahu aku bisa memahami pola deviasi mereka dulu.” Jerry menatap ke arah Lucy sekilas, lalu dia kembali terkekeh, “Ku rasa peneliti rendah sepertimu tidak akan paham pentingnya hal itu.”
Jika itu percobaan untuk mengejek, akan kubalas kau. Pikir Lucy selagi tetap menatapnya dengan ekspresi tenang.
“Dengan waktu selama itu bersama mereka, berapa kali kau tak sengaja melepaskan mereka?”
Lucy bisa lihat dia tidak menduga pertanyaan itu. Ekspresi kagetnya berganti dengan amarah seketika. “Dasar rendahan! Aku profesional! Mereka lepas karena kesialanku saja!” Balas pria di depannya dengan kesal.
“Itu yang membuatku bingung. Semua orang yang kutanyai mengatakan kau sudah biasa memaksakan dirimu sendiri. Jadi bagaimana bisa yang kemarin itu berbeda?” Lucy semakin menekannya perlahan.
“Kau pernah dengar pepatah ‘Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga.’?” Dia membalas dengan sengit.
“Dan kau tidak mencoba meminimalisir lokasi kaburnya mereka?” Tanya Lucy lagi.
“Kau gila atau apa? Mereka pelompat cepat! Perlu waktu lama untuk menangkap mereka semua.” Nafas pria di depannya mulai cepat.
“Dan bagaimana kau sendiri bisa terluka karena kait mereka?” Lucy tidak menyerah.
“Mereka mengejutkanku! Sudah ku bilang itu kesalahanku mereka kabur!” Dia berkata dengan intonasi tinggi.
Lucy diam mengamati pria di depannya. Akhirnya dia berbalik dan berkata, “Untuk seorang ‘profesional’, kau lumayan pasrah melihat karirmu hancur secepat itu. Kau bisa katakan selamat tinggal pada promosi yang kau incar.”
“Tunggu! Apa?!” Lucy berbalik begitu mendengar pria di depannya berkata kebingungan. Mereka berdua saling tatap. Menyadari apa yang Lucy coba lakukan, pria di depannya tersenyum dan berkata, “Maaf saja, aku punya karir menjanjikan untuk menjamin tujuanku.”
“Eh, bagaimana bisa?” Lucy pura-pura terlihat heran.
“Peneliti rendahan sepertimu tak akan paham cara mengambil risiko demi karir yang lebih baik.” Dia berkata dengan percaya diri.
Lucy balas tersenyum kearahnya. “Dengan ‘risiko’ maksudmu dengan mengorbankan penelitian SCP-033-ID?”
“Tentu saja!” Dia berkata dengan yakin.
Dia, setelah ditendang berkali-kali, akhirnya masuk ke lubang jebakan.
“Jadi kau sengaja membuat mereka lepas?”
Pria di depannya diam sejenak. Lalu bak petasan, dia terbelalak dan reflek menutup mulutnya sebelum berbalik cepat dan menghantam meja.
Lucy berjalan pelan mendekatinya.
“Alibimu bagus, tetapi mengetahui ‘profesional’ sepertimu melakukan kesalahan separah ini tetap saja membuatku curiga. Ditambah kau lumayan pasrah mengenai semua ini, mengingat dari yang ku dengar kau tidak akan mungkin mentoleransi kesalahan separah ini dengan tujuanmu itu. Kau bisa saja menutupi insiden ini, menyewa orang untuk membuat alasan palsu, atau paling tidak menyalahkan sesuatu, tetapi kau terima langsung bahwa kau murni salah karena ceroboh. Jadi, hipotesisku kau ditawarkan kompensasi yang lebih besar dan menjanjikan.”
Dia kini berada di belakang pria tersebut.
“Christopher, bukan? Dia perlu kau merekayasa kaburnya SCP-033-ID untuk membuat protokol rangkap sehingga tidak ada yang bisa bergerak. Entah apa yang dijanjikannya padamu.”
Pria di depannya menoleh perlahan ke belakang. Dia tersenyum kesal. “Setan sialan. Itu cuma teori gilamu saja. Kau tidak bisa membuktikan itu kepada siapa pun.”
Lucy mengangkat bahunya dan berbalik. “Aku cuma perlu meyakinkan diri sendiri.”
Dia melangkah menuju pintu keluar. Di depan pintunya, Lucy menoleh sekali lagi dan berkata, “SCP-033-ID bukan apa-apa jika SCP-007-ID tidak ikut lepas. Aku cuma ingin mengetahui sisi ceritamu saja.”
Lucy keluar dan menutup pintunya. Pria tadi akhirnya terduduk ke lantai selagi tetap menatap ke arah pintu.
“Setan cerdas…”
Setelah beberapa malam sebelumnya, Jerry kali ini tidur dengan lelap di lantai laboratorium karena akumulasi kelelahannya selama ini.
“Bagaimana interogasinya?”
Lucy menoleh ke arah Heru yang bersandar di samping pintu laboratorium.
“Hampir gagal. Pria itu tangguh.” Lucy membalas dengan senyum pasrah.
“Heh, ku kira Jerry lebih mudah daripada Hansel. Dan Hansel saja tidak bersalah.” Heru berdiri dan berjalan di samping Lucy.
“Dia berbanding terbalik dengan Hansel. Entah apa perjanjian yang dia buat, tapi dia bersedia menerima segala konsekuensi pelanggaran penahanan SCP-033-ID. Sudah untung dia ga sadar aku pancing tadi.” Balas Lucy.
“Yah, tidak bisa dipaksakan lagi ya…” Heru mengangguk mengerti. Dia menatap ke langit-langit koridor sebelum bertanya, “Jadi siapa tersangkamu selanjutnya?”
“Tentu saja penyebab kaburnya SCP-007-ID.” Lucy menjawab.
“SCP-007-ID? Dia tidak dalam penelitian aktif, jadi tidak ada peneliti yang bisa kau tanyai.” Respon Heru mendengarnya.
“Bukan, aku sudah menanyai personel spesialis penahanan SCP-007-ID. Agen David Widya. Katanya penyebab kucing itu kabur karena ketiadaan kotak pasirnya. Jadi mungkin aku akan mulai menanyai staf logistik.”
“Agen David, ya… Satu lagi orang yang cukup mencurigakan bagiku, meski dia lebih ke arah menjauhi Herman dan asistennya.” Heru menganggapi. “Tapi tadi kau nyari staf logistik? Jadi kau mau menanyai mereka?” Lanjutnya selagi mengisyaratkan beberapa personel dengan kemeja putih.
“Kurasa? Aku aja baru tahu mereka staf logistik, jadi terima kasih untuk infonya.” Lucy berterimakasih padanya.
“Yah, aku sendiri ga yakin ada yang bisa ditanyai secara spesifik, tetapi kau coba saja sana.”
Ruang penyimpanan sementara lokasinya berdampingan dengan ruang laboratium. Bahkan sebenarnya personel harus melewati ruang penyimpanan sementara dulu sebelum menuju laboratorium. Selagi berjalan, Lucy bisa melihat beberapa kontainer tertumpuk di pojok, berdampingan dengan lusinan kardus beragam ukuran. Dua buah forklift terparkir di pojok ruangan.
Meski masih pagi, sudah ada beberapa orang lalu-lalang memindahkan kardus. Setelah melihat sekeliling, Lucy memutuskan untuk mendekati salah satu personel yang sedang mengamati ponselnya, Heru hanya bersandar di dinding di belakangnya.
“Maaf, Pak. Apa saya bisa nanya sebentar?” Lucy memulai pembicaraan dengannya.
Pria di depannya mengalihkan perhatiannya ke Lucy dan berkata, “Ya, Mbak? Ada yang bisa saya bantu?”
“Apa anda tahu mengapa pengiriman pasir untuk SCP-007-ID tidak tersedia?” Lucy langsung bertanya.
Pria di depannya dengan ekspresi bingung menjawab, “Wah, kalau soal itu saya nggak tahu, Mbak. Itu biasanya yang ngemanajemen semuanya pak atasan.”
“Uhh… Dan ‘pak atasan’ ini siapa, ya? Apa dia ada di situs?” Lucy mencoba bertanya lagi.
Pria di depannya menggeleng, “Kepala logistik situs. Dia pulang pas jam sembilan. Tapi seharunya pagi ini dia datang, kok. Briefing pagi biasanya. Yang susah itu biasanya mencari dia pas siang.” Jelasnya.
“Baik, terima kasih, pak!” Lucy mengangguk dan mendekati Heru. “Merka bilang aku harus menemui kepala logistik. Apa mungkin kau tahu si kepala logistik ini siapa?” Tanya Lucy begitu dia cukup dekat.
“Kepala logistik ya… kalau ga salah Pak Andreas Basrian. Jujur aku pun ga pernah liat muka dia.” Heru menjawab selagi menoleh ke arah pintu keluar. “Mungkin jika kita tunggu di ruang masuk kita bakal tahu.” Lanjutnya.
“Bisa sih.” Lucy mengiyakan. Mereka berdua berjalan lagi ke sisi ujung ruangan. Pintu menuju ruang masuk situs berada di ruang yang sama, jadi mereka cukup berjalan sebentar.
Lucy masih ingat hari pertamanya di situs ini. Saat dia melewati ruangan ini dan mengamati lingkungan barunya saat itu. Lingkungan situs-79 mulai familiar di matanya sekarang, tetapi masih banyak yang Lucy belum kenal di situs ini, meski dia baru di satu lantai saja.
Di depan pintu ruang masuk, Lucy kembali berinisiatif membuka duluan pintunya. Mungkin karena rasa tidak sabarannya. Tetapi baru setengah badan Lucy masuk ke dalam, dia mendengar bunyi dari arah belakangnya dan menoleh. Heru yang berdiri di belakangnya juga menoleh seketika.
Di belakang mereka, pintu besar dan lebar yang mengarah ke koridor terbuka. Dua orang personel berseragam putih mendorong troli barang yang memuat setumpuk tinggi kardus dengan cepat. Mereka berdua bergerak menuju pojok ruangan yang berisi sekumpulan kontainer.
Seorang pria lain keluar dari pintu koridor. Dia mengenakan jaket hitam dan celana coklat gelap. Satu hal yang Lucy amati adalah pria di depannya mengenakan helm motor jenis full-face berwarna hitam gelap sampai ke visornya. Entah Lucy salah lihat saja atau visornya seperti bekas disapu dari embun.
Dia juga memegang setumpuk papan klip, jadi Lucy memutuskan untuk mencoba bertanya padanya.
“Uhh… Permisi, Pak. Boleh saya bertanya sebentar?”
Pria di depannya menoleh cepat dan langsung berkata, “Boleh! Silahkan, ada yang bisa saya bantu?”
Lucy bisa mendengar nada bersemangat dari pria di depannya. Ini masih pagi, dia tidak merasa mengantuk atau apa? Pikirnya. “Apa Bapak adalah kepala logistik situs ini?”
Pria di depannya tertawa dan berkata, “Ya. Saya kepala logistik situs ini. Kau perlu informasi atau semacamnya?”
Pagi amat datangnya… Pikir Lucy. Dia lalu berkata, “Saya langsung saja; apa anda tahu mengenai kenapa pasir untuk SCP-007-ID tidak tersedia beberapa hari ini?”
“Pasir SCP-007-ID? Bentar… Oh! Ahaha, untuk kotak pasir kucing itu, kan? Ya. Memang ada kendala dengan supliernya sih.” Dia menjawab.
“Supliernya ya… mereka swasta kan?” Tanya Lucy lagi. Dia jujur penasaran mengenai bagian itu. Dia pernah mendengar Yayasan mengontrak perusahaan swasta untuk urusan logistik mereka. Itulah kenapa personel level 0 ada.
“Ya. Kendalanya biasanya beragam, tapi kali ini katanya karena masalah transportasi saja.” Balasnya.
“Transportasi…” Gumam Lucy. Tidak mungkin Si Christopher ini bertindak sejauh mengacaukan logistik untuk insiden ini… tidak, mungkin saja. Cuma terlalu berisiko bergantung pada ini saja. Apa Christopher ini memiliki rencana cadangan? Dan secerdas apa dia merancang ini semua? Lucy larut dalam pikirannya.
Dia lalu tersadar telah melamun selama beberapa saat di depan kepala logistik. Dia langsung berkata, “Baik, terima kasih Pak, cuma itu yang ingin saya tanyakan. Maaf mengganggu aktivitas Bapak.”
Lucy berbalik untuk menjauh. Jika kendalanya memang dari sananya, dia tidak bisa menyelidikinya karena terlalu jauh. Artinya bagian SCP-007-ID memang murni insiden…
“Eh, bentar.” Lucy mendengar suara di belakangnya dan menoleh. “Tadi kamu nanya mengenai pasir SCP-007-ID buat apa?” Tanya Andreas si kepala logistik.
“Yah… SCP-007-ID kan kabur kemarin. Jadi saya ingin tahu kenapa bisa kabur gitu. Penasaran saja sih.” Jawab Lucy. Dia tidak yakin dia bisa menjelaskan seluruh kemungkinan konspirasi pembunuhan yang diselidikinya.
“Saya juga bingung mengenai itu.” Balasnya. “Biasanya tidak ada kendala kalau stok pasir bermasalah. Personel spesialis biasanya make aja pasir di luar yang udah disterilkan kalau memang darurat. Juga bahkan biasanya ada aja mereka nyimpan cadangan buat keadaan kayak gini saking malasnya mereka, tapi entah kenapa udah habis minggu ini.”
“Tunggu, kau serius? Ku dengar dari Agen David kalau Yayasan melarang mengambil pasir dari luar.” Lucy terkejut dan mengonfirmasi pernyataannya selagi memprosesnya.
“Ya, Si Widya kepalanya kan? DIbolehkan kok. Tapi proses sterilisasinya mungkin yang membuatnya berkata begitu padamu. Timnya aja lumayan pemalas, kau tahu. Jadi dia selalu meminimalkan penggunaan pasir secara optimal agar mereka tidak perlu keluar mencari pasir.” Tegas Andreas.
“Aku… Aku mengerti. Terima kasih banyak atas informasinya, Pak.” Dia langsung berlari menuju Heru yang berdiri menunggunya selagi bersandar.
“Jadi bagaimana?” Tanya Heru yang melihat Lucy mendekatinya.
“Kita kembali ke titik awal.” Lucy berkata.
“Dalam artian baik.” Lanjutnya.
Mereka berdua berdiri di depan sebuah pintu. Bukan sembarang pintu, pintu ruang mess. Lucy menoleh ke arah Heru yang mengangguk. Lucy pun kembali menatap ke depan dan mulai mengetok pintu besi di depannya.
Setelah beberapa saat, pintu terbuka dan seseorang berdiri di sisi lainnya. Agen Senior David Widya. “Ah, kau asisten Herman kemarin, bukan? Kau perlu sesuatu pagi-pagi begini?” Dia bertanya.
Hanya Lucy yang berdiri di depan pintu; Heru bersandar di samping pintu. Itu memang rencana Lucy; dia tidak ingin David terintimidasi akan adanya personel lain yang mengawasinya. Mungkin dia akan mengaku jika cuma Lucy yang ada di depannya. Semoga saja dia tidak keluar ruangan dan menoleh ke samping.
“Ya, ada yang ingin ku tanyakan lagi mengenai detail kaburnya SCP-007-ID. Kau punya waktu untuk itu?” Lucy bertanya kepadanya.
“Oh, tentu! Silahkan masuk! Di dalam aja.” Dia menepi agar Lucy bisa masuk.
Lucy tidak menduga dia dibolehkan masuk olehnya. David sepertinya tidak mencoba menyembunyikan apa pun darinya. Lucy sejenak ragu apakah dia masuk saja sekalian mengecek sekeliling ruangannya atau tidak. Tetapi akhirnya, matanya melirik ke arah Heru sebentar sebelum masuk ke dalam.
Ruangan David cukup sederhana, terdiri dari kasur, lemari, meja, dan kursi seperti halnya ruangan Lucy. Ada laptop di atas mejanya bersama beberapa perlengkapan lain. Ranjangnya belum dirapikan, sepertinya dia baru bangun. Lantainya lumayan berantakan juga dengan adanya beberapa pakaian di lantai.
David menutup pintu ruangannya dan berjalan menuju mejanya tadi. Dia membalik satu kursinya dan berkata, “Kau bisa duduk di sini.” Dia sendiri menuju ke ranjangnya dan duduk di pinggirannya. Mengingatkan Lucy dengan kejadian tadi pagi antar dirinya dan Kepala SDM, Hidayat tetapi kali ini gilirannya yang mewawancarai orang.
“Jadi,” David berkata, “Aku sudah mengatakan detailnya sebelumnya. Jadi ada masalah apa lagi?”
“Mengenai itu, kau tidak mengatakan seluruh detailnya.” Kata Lucy. Dia tidak tahu apa yang terjadi jika dia mengatakan kebenaran yang dia temukan sebelumnya kepadanya sekarang yang tengah bersikap baik padanya, tetapi dia punya firasat buruk mengenai itu.
“Pertama, kau bilang Yayasan melarang penggunaan pasir selain dari suplai. Tetapi saat kutanyakan kepada kepala logistik, katanya Yayasan memperbolehkan hal itu. Kenapa bisa kontradiksi gitu?”
David hanya tersenyum dan tertawa kecil, membuat Lucy lumayan gugup. Dia lalu berkata, “Harusnya ku katakan itu saat kita bertemu sebelumnya, tetapi kita memang pemalas. Makanya aku diberi tindak disipliner. Ku rasa aku cuma menghindari dicurigaimu karena itu.”
Lucy diam memikirkan apa yang harus dia katakan berikutnya, karena itu mungkin akan mengakhiri alibinya.
“Itu alasan yang sama kenapa kau tidak bilang kalau kau keluar dari ruang istirahat teknisi selama Protokol Sungai Keruh berjalan?”
David tidak menjawab apa-apa.
“Aku sudah menanyai beberapa personel yang berada di area penahanan selama pelanggaran kemarin. Seluruh anggota timmu dan personel keamanan tentu saja mendukung alibimu, tetapi dua teknisi dan seorang staf kebersihan mengaku melihatmu berkeliaran di koridor saat itu. Setelah ku konfirmasi ulang ke tiap saksi sebelumnya, balasan mereka mulai bervariasi, dalam artian inkonsisten satu sama lain.”
Lucy menunggu David mengatakan apa pun. Sejauh ini dia menatap Lucy seakan menunggu sesuatu, yang mulai membuat Lucy gugup.
“Kau keberatan mengatakan kebenaran ceritamu kepadaku?” Lucy mencoba menekannya lagi. Menunggu reaksi apa pun darinya.
David hanya mendongkak ke langit-langit dan terkekeh. Tetapi kemudian dia berkata, “Ku rasa kau perlu mendengarnya.”
Dia menatap ke arah Lucy selagi mulai bercerita, “Awalnya aku dan beberapa temanku ngobrol di ruang istirahat teknisi. Lalu seperti yang kau tahu, SCP-033-ID keluar dari penahanannya dan kami tidak boleh keluar dari ruang itu. Tapi aku bosan luar biasa, jadi aku keluar dari ruang teknisi dan berjalan menuju area penyimpanan barang.”
“Tunggu, kenapa kau-“ Lucy mencoba untuk menyela, tetapi David mengisyaratkan dia untuk terus mendengarkannya.
“Jadi, seperti kataku tadi, aku menuju area penyimpanan barang. Kuputuskan untuk mengambil makanan kucing dan mengunjungi temanku selagi menunggu protokol selesai.”
Makanan kucing?? Tetapi itu artinya… Lucy diam selagi dia terus mendengarkan David.
“Ku datangi ruang penahanan kucing kecilku, tetapi protokol melarangku membuka pintunya. Jadi ku ketok pintunya dan kupanggil dia sebanyak mungkin keluar. Kucing itu bersemangat sekali menggali ruang penahanannya sendiri untuk menemuiku!” David terus berbicara.
Lucy tak sadar memegang erat pinggiran kursinya selagi terus mendengarkan David bicara, tidak tahu apa yang terjadi.
“Begitu dia di luar, aku angkat dia dan kami berdua berjalan menuju area kantor. Semua orang sibuk di area lepasnya SCP-033-ID, jadi kami memutuskan untuk mendatangi teman lama kami. Ku turunkan dia tepat di depan ruagan Herman dan kutaburi makanan kucing tadi. Aku tahu dia perlu kotak pasirnya setelah makan, jadi kutaburi juga depan ruangan Herman dengan pasir cadangan kami! Kami lumayan pemalas kau tahu?” David tertawa kecil di sela-sela ceritanya. “Lalu aku kembali ke area penahanan dan menunggu kembang api.”
David akhirnya diam dan menatap Lucy, menunggu balasannya. Lucy diam tidak tahu harus berkata apa mendengar semua itu. Dia akhirnya memutuskan berkata, “Kau… kau tahu kau baru saja mengakui kejahatan apa pun yang kau lakukan, kan?”
“Tentu saja! Itu yang kau inginkan, bukan?” Katanya selagi tertawa.
“Kau sama sekali tidak mencoba membela diri?!” Lucy bertanya dengan kesal. Dia mengumpulkan cukup bukti untuk membungkam apa pun alibi yang disiapkannya, tetapi pria di depannya menyerah tanpa pembelaan apa pun.
David diam mendengar itu, dia tiba-tiba berbaring di ranjangnya dan berkata, “Kau pernah bermain Minesweeper?”
“Uhh…” Lucy tidak menduga ditanyai seperti itu, “Ku rasa? Tapi apa hubungannya??”
“Aku sendiri lumayan terobsesi memainkannya pada tahun-tahun pertamaku menjadi pengurusnya. Cukup sederhana, kau membersihkan tiap petak berdasarkan petunjuk petak sebelumnya yang sudah dibuka. Jika kau memilih petak yang benar, petak lain akan terbuka dengan sendirinya. Kau paham maksudku?”
Lucy untuk beberapa saat tidak tahu David kembali menunggu balasannya, yang dia langsung balas dengan, “Logika macam apa itu?? Kau baru saja mengakui upaya pembunuhan, apa kau sepasrah itu?”
“Untuk menemukan semua ranjau di Minesweeper kau harus yakin pada tiap langkahmu. Jika kau datang kemari, aku sudah tahu kalau kau menemukan cukup bukti untuk menuduhku. Jadi untuk apa aku menundamu lebih lanjut bagai lag pada aplikasi?”
Lucy diam, terkejut akan seberapa pasrahnya David. Seakan dia memang menunggu Lucy untuk datang dan mengakhiri kasus ini. Sekilas Lucy berpikir apakah dia melakukan apa yang Jerry lakukan sebelumnya, yaitu mengorbankan dirinya agar dia tidak bisa membuktikan apa pun lagi, tetapi untuk kasusnya, dia secara praktis mengatakan dia dibalik segalanya.
“Apa kau merasa bersalah pada Herman sehingga kau mengaku?” Lucy bertanya lagi.
David menegakkan dirinya kembali ke posisi duduk, “Tidak, Aku memang ingin membunuhnya.” Katanya sambil tersenyum ke arah Lucy.
Ada pistol di genggamannya.
Lucy tersentak melihatnya dan meremas pinggiran kursi dengan kuat. Apa?! Tapi kapan?? Apa saat dia berbaring tadi??
“A… Apa yang akan kau lakukan dengan pistol itu?!” Lucy berteriak. Dia berharap suaranya cukup nyaring sehingga terdengar sampai ke luar.
Pistol di genggaman David adalah jenis Revolver. Hanya ada enam peluru, tetapi jarak Lucy dan David terlalu dekat. Dia juga tidak berencana untuk mengeksekusinya secara tertutup dengan memilih Revolver yang tidak bisa diberi peredam. Sepertinya dia percaya ruangan ini kedap suara karena tidak ada reaksi apa-apa dari luar setelah dia berteriak. Lucy sekali-kali melirik ke arah pintu sedangkan David menatap lurus ke arahnya, masih belum menjawab pertanyaan Lucy.
“Katakan padaku, Lucy. Saat kau bermain Minesweeper, apa kau taruh bendera penanda di atas ranjau atau tidak?” David malah mengatakan kepadanya.
Lucy tidak ingat kapan terakhir kali dia memainkan permainan jadul itu, jadi dia menjawab asal, “Tidak. Aku… Aku tidak menaruh penanda.”
David tersenyum mendengarnya. “Yah, aku sendiri tidak suka menaruh penanda pada ranjau. Bukannya jika diberi tekanan, mereka akan meledak? Jadi kenapa kau menaruh penanda di atas mereka?” Katanya selagi mengayunkan pistolnya saat bicara.
Tetapi kemudian dia menodongkannya kembali ke arah Lucy. Dengan tatapan tajam dia berkata, “Jika kau tahu ada ranjau di suatu petak, kau seharusnya jangan menyentuhnya. Sama seperti sekarang; jika kau tahu aku pelakunya, seharusnya kau jangan kemari dan urus urusanmu sendiri. Jika kau ikuti saranku, kau setidaknya tak akan tahu kalau kau akan mati karenanya.”
Dia menarik palu pemukul revolvernya. “Tapi di sinilah kau, menaruh penanda padaku. Tentu saja ranjau akan meledak di hadapanmu.”
Pria di depannya benar-benar berniat membunuhnya. Lucy berpikir cepat mencoba memikirkan apa pun untuk lolos dari ancaman tembakan di depannya. Dia pernah mendapat pelatihan beladiri termasuk cara menghindari todongan senjata, tetapi dia tidak bisa berpikir jernih dan malah mengira cara menghindar dari pistol otomatis berbeda dengan jenis revolver.
“Aku berniat menyelesaikan semuanya malam ini. Herman harus mati untuk dosanya.” David masih sempat bicara.
Dalam detik-detik itu, dia teringat bagaimana Heru menghalau tiga senapan yang ditodongkan ke arahnya sebelumnya. Dia ingat Heru menunduk dan memanfaatkan panjangnya senapan personel tersebut sehingga dia bisa mendorongnya ke atas.
Masalahnya, David memakai pistol. Jikalaupun Lucy menunduk, dia tidak akan bisa meraih revolver yang dipegangnya.
David masih belum menarik pelatuk dan mereka berdua masih saling menatap.
Persetan, yang penting menghindar dari arah tembakannya!
Dengan segera Lucy menunduk ke depan. David langsung merespon dengan menembakkan tembakan pertamanya. Pelurunya mengenai kursi yang Lucy awalnya duduki.
Lucy berada di bawah revolver David. Dia tahu dia tidak akan bisa merebutnya, jadi yang dia lakukan adalah memukulnya dari samping dengan kepalan tangan kirinya. Lucy berharap pistol itu jatuh dari genggamannya.
Tetapi genggaman David cukup kuat sehingga pukulan mendadak ke moncong senjatanya tidak membuatnya melepaskannya. David mencoba menembak lagi, tetapi kemudian dia kehilangan keseimbangan dan jatuh. Tembakannya kali ini mengenai pintu besinya ruangannya sendiri.
Lucy terkekeh meski sedikit tertimpa David. Tangan kanannya menggenggam erat salah satu kaki palsu David setelah mendorongnya sehingga kehilangan keseimbangan.
David tidak membuang waktu dan mencoba menegakkan dirinya segera. Lucy tidak tinggal diam dan langsung mencoba melepas kaki palsu David.
“Percuma!” Teriak David selagi dia mencoba berbalik dan mengarahkan senjatanya ke arah Lucy. Lucy sendiri baru melihat kaki palsunya menancap ke dagingnya. Dia harus memotong kaki David seutuhnya kalau mau melepasnya.
Lucy yakin dia akan tertembak jika mencoba berdiri, jadi dia langsung berguling ke arah kirinya. David menembak lagi, tetapi kembali meleset.
Lucy mencoba berdiri secepat mungkin dan langsung menendang pistol di tangan David sekeras yang dia bisa. Kali ini senjata itu terlepas dari genggaman David dan menabrak dinding. Lucy sekilas melihat bekas penyok tembakan sebelumnya pada pintu besi ruangan David. Dia juga baru mendengar suara dobrakan pintu beruntun dengan teriakan samar.
Tetapi Lucy tidak membuang waktu dan langsung berlari lagi ke arah senjata David tadi terlempar. Diraihnya dengan cepat revolver itu dan ditariknya palunya. Dia langsung menodongkannya ke lantai. Ke arah David yang tengah merayap dengan tangannya.
“Sialan, sialan, sialan!” Lucy berteriak kesal padanya. “Aku tidak ingin membunuhmu! Aku juga tidak ingin dibunuh olehmu! Apa kita harus saling membunuh di situs neraka ini?”
David terus menyeret dirinya maju perlahan selagi berkata, “Kau tak akan bisa bertahan hidup di sini utuh-utuh tanpa itu. Aku mempelajarinya dengan bayaran kedua kakiku. Kau bisa mempelajarinya dengan bayaran nyawaku.”
Lucy mundur perlahan, meski dengan segera punggungnya menabrak dinding. Dia diam menatap David yang mencoba berdiri secara perlahan.
“Apa kau tak ingin hidup?! Apa kau ingin mati separah itu!” Lucy semakin keras berteriak.
David tetap tersenyum. “Hidupku ku dedikasikan untuk balas dendam. Antara itu atau aku mati. Apa gunanya hidup jika aku tidak membalaskan dendamku.”
Persetan dengannya, aku di sini untuk misi! Aku tak boleh mati di tangannya!
Lucy merasa tangannya gemetar sehingga dia menggunakan kedua tangannya untuk menopang revolvernya. Setelah beberapa tarikan nafas, dia semakin tenang. Dia mulai ingat pelatihan menembaknya dulu. Mengenai kepala David merupakan kepastian.
Jika ku tarik pelatuknya, ini akan jadi pembunuhan pertamaku…
Palunya sudah ditarik, diam menunggu pelatuknya. David bergerak cepat ke arahnya. Yang terjadi berikutnya menunggu keputusan Lucy.
Bang
Suara letupan keras terdengar, diikuti keheningan. Lucy mengamati dengan kedua matanya bagaimana tembakannya mengenai kepala David. Dia bahkan tidak reflek memejamkan mata, bak dia memang terlatih untuk ini.
Semua berakhir dalam sekejap. David tidak bergerak lagi setelah terjatuh. Darah mengalir di lantai. Lucy sendiri juga tidak bergerak. Tangannya masih menodongkan senjata ke arah David.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan suara nyaring, mengejutkan Lucy sampai dia melemparkan senjata David ke udara. Di depan pintu, dia bisa melihat sekilas banyak personel berseragam hitam di luar. Satu personel masuk duluan dengan tergesa-gesa sebelum terdiam seketika melihat mayat David di lantai. Pria itu menoleh ke samping dan Lucy mengenalinya; dia Heru, dengan ekspresi khawatir.
Heru langsung berjalan cepat ke arahnya dan langsung bertanya, “Apa yang kau lakukan???” selagi memegang bahunya.
“Di- Dia…” Lucy hanya menunjuk ke arah David. Hanya itu yang bisa dia lakukan.
Heru hanya menunduk dan menghela nafas. “Sialan! Sudah terlambat…”
Dia langsung menarik Lucy ke luar. Saat berpapasan dengan personel lain yang berdiri di depan pintu, dia berkata, “Tunggu Herria, dan seseorang tolong bungkus dia!”
Dia berjalan ke luar selagi menuntun Lucy tanpa berbalik. Sesampainya di luar, dia melepaskan pegangannya. Dia lalu berkata dengan pelan, “Tangan mana yang kau pakai untuk menembak?”
Lucy menyodorkan tangan kanannya dan Heru memegangnya. Dia mengamati tangan Lucy sejenak sebelum melepaskannya. Dia lalu bersandar di dinding tanpa berkata apa-apa.
Lucy sendiri masih tidak tahu bagaimana menyikapinya. Dia ingin merasa bersalah, tetapi dia tetap hidup karenanya. Dia hanya berpikir betapa mudahnya melakukannya. Dia mendekati dinding, tetapi tidak bersandar.
Mereka diam mendengarkan personel berseragam hitam dan putih ribut di samping mereka.
“Maaf…”
Tidak ada balasan.
Kronik Situs-79
Bab 3: Ladang Ranjau
« Daerah Dilanda Perang | Melewati Ladang Ranjau | Bendera Merah di Atas Petak »




