Langit sore hari itu terselimuti hamparan awan kelam yang membentang luas, bak siap mencurahkan hujan deras kapan saja. Bulan sudah lama mendekati pertengahan musim hujan. Lampu-lampu jalan mulai menyala, tiada menunggu malam tiba karena sore sudah menggantikannya. Aspal mulai basah, terkena tetesan air yang masih terlalu kecil untuk disebut hujan.
Sukabumi tidaklah berbeda dengan daerah lainnya dalam musim hujan ini. Kehidupan siang seharusnya sudah mulai berganti dengan malam, tetapi terhenti prematur karena cuaca. Trotoar hanya dilalui oleh orang yang tergesa mencapai tujuan mereka, atau yang terdiam, tiada jalan pulang. Jendela rumah maupun etalase pertokoan menyajikan pemandangan tersebut kepada penghuni dan tamu mereka di dalam kehangatan bangunannya.
Jalanan tampak lengang, hanya beberapa kendaraan yang terlihat melaju dengan tergesa, mencoba menghindari takdir cuaca tak terhindarkan. Bahkan di dalam kenyamanan naungan kendaraan roda empat, pengemudinya tahu bahwa jikalau mereka berada di jalanan, pada akhirnya mereka harus berhenti di tujuannya dan turun menerobos hujan.
Di antara kendaraan di jalanan, sebuah truk kontainer melaju di jalanan kota. Jika ada yang benar-benar memperhatikan, sebuah mobil hitam di depan dan belakangnya sebenarnya merupakan iring-iringan yang mengawal truk itu.
Di dalam truk, terdapat dua orang penumpang. Seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam hitam memandangi pemandangan di sebelah kiri jendelanya. Seseorang lagi yang lebih muda darinya fokus mengemudikan truk. Dia memang disuruh untuk itu.
“Itu dia…”
Yang lebih tua berkata pelan, menggumam. Dia meraih radio dan membunyikannya sebelum berkata singkat, “Wellerman coming.” Dia lalu meletakkan kembali radionya.
Dia lalu menunjuk ke sebuah bangunan tinggi di sisi kanan jalan. Sebenarnya merupakan sebuah bangunan lima lantai dengan bangunan dua lantai di kiri dan kanannya memanjang ke belakang. Meski terdapat banyak jendela, tetapi tidak ada cahaya yang lolos di balik tirainya. Halaman depannya lah yang menunjukkan tanda kehidupan; mobil parkir berderet di halamannya dengan orang-orang berpayung lalu lalang di parkiran tersebut.
Semua itu terlindung di balik pagar dengan penanda bangunan. Tidak ada simbol, cuma ada kalimat besar yang bertuliskan “Rumah Sakit Cermin Permata”
Itu merupakan penanda paling jelas bagi mereka yang mengenalinya.
“Itu Situs-84. Rumah sakit swasta milik Yayasan.” Jelas yang lebih tua. Dia tetap memandang ke sisi kiri jalanan. “Didirikan pada tahun 2004 oleh direktur pertamanya, Dr. Khairul Lais. Lokasinya cukup baik di antara Bogor dan Sukabumi. Mereka spesialis amnestik dan perawatan personel besar-besaran, juga sumber uang yang lumayan bagus. Tapi hanya mereka yang perlu itu…”
Yang muda hanya menatap dengan penasaran situs yang ditunjuk rekannya tadi. “Anomali apa yang ditahan di sana?” Tanyanya pada akhirnya.
Yang lebih tua hanya terkekeh. “Kelas aman saja. Tempat itu hanya gudang penyimpanan bagi anomali sisa mereka.”
“Yayasan?” Yang lebih muda mencoba memperjelas siapa tepatnya yang tengah dirujuknya.
Dia hanya dibalas dengan gelengan kepala. Pria paruh baya yang menjadi rekannya akhirnya berbaring di sandaran kursi kendaraan.
“Situs-79.”
“Ah.” Yang mengemudi mengangguk mengerti. “Tujuan kita.”
Melewati Situs-84, mereka melaju menyusuri jalanan. Hari sudah malam, dan hamparan awan gelap tadi sudah mulai menjatuhkan muatannya. Seluruh daerah diguyur hujan deras. Itu tidaklah menghentikan truk kontainer mereka sedikitpun.
Mengamati perjalanan yang masih panjang, pria yang lebih tua tadi kembali bicara. “Jadi, apa yang kau tahu mengenai Situs-79?”
“Situs-79, situs Yayasan spesialis kelas Keter.” Balas rekannya, sepertinya terlihat gugup dan mencoba menjawab sebaik mungkin.
“Dan?” Seperti yang diduga pria tua itu, selalu ada yang kurang jika seseorang menjelaskan Situs-79 untuk pertama kalinya.
Rekannya diam selama beberapa saat. Akhirnya dia berkata, “Kabarnya ia dijuluki… neraka.”
“Benar.” Pria yang lebih tua membalas. Dia tidak terlihat senang akan jawabannya, tetapi lebih ke arah terganggu atas itu. “Situs-79 adalah situs yang sangat, sangat buruk. Semua personel situs awam seperti 86 mengetahui julukannya itu, tetapi mereka tidaklah ingin bersusah payah mengetahui kenapa ia mendapat julukan itu. Tidak, hanya situs seperti situs kita yang pernah mengotori tangannya di urusan gelap Yayasan yang tahu sedikit kebenaran neraka itu.”
“Sejujurnya ia adalah sampah bagi Yayasan.” Dia masih menjelaskan, tetapi rekannya bisa mendengar nada tak senangnya makin kuat. “Situs itu merupakan situs pembuangan personel bermasalah. Pecandu, pembuat onar, pembunuh, semua ditampung di Situs-79. Sayangnya mereka semua tidak cepat mati dalam mengurus monster di sana.”
“Be… begitu ya…” Yang lebih muda mengangguk. Dia tidak tahu apakah harus memercayai rekannya yang lebih berpengalaman itu atau tidak.
“Jadi, apa tepatnya yang kita antar ini?” Si pengemudi bertanya, menunjuk ke belakang.
Yang lebih tua diam sejenak, mengamati spion truk mereka. Dia tahu anak muda itu merujuk ke kontainer yang mereka tengah kirimkan.
“Kau tahu beberapa hari lalu Yayasan berhasil menangkap entitas anomalus di langit kota, kan? Penyebab munculnya histeria misterius akhir-akhir ini saat mendung. Ia penyebabnya. Ku dengar mereka pakai helikopter untuk menangkapnya. Pada akhirnya, ia berakhir di situs kita untuk diantar ke Situs-79. Sepertinya apa pun anomalinya cukup pantas untuk dibuang ke situs sampah itu ku rasa, kita hanyalah truk sampah mereka.” Jelasnya.
Si pengemudi mengangguk mengerti, dia kini mulai merasa sedikit gugup setelah mengetahui hal itu. “Apa… apa makhluk yang kita bawa ini… apa ia bisa lepas di belakang sana?”
Pertanyaannya dibalas dengan tawa meremehkan dari rekannya. “Tentu tidak. Kontainer spesial itu mampu menahan kadal itu dulu, apalagi apa pun yang mereka tangkap kemarin.”
“Tapi, bagaimana cara kita melepaskannya ke ruang penahanannya nanti?” Si pengemudi kembali bertanya.
“Hey, sudah ku bilang itu bukan urusan kita. Kita cuma mengantarnya.” Rekannya membalas dengan jengkel.
“Oh, ya. Maaf, Pak.” Si pengemudi membalas cepat dan segera kembali fokus mengemudi.
Setelah mencapai belokan dan mulai memasuki area minim penduduk, gelapnya jalan hutan tanpa penerangan dan derasnya hujan memaksa mereka berkendara dengan hati-hati di jalanan yang semakin mengecil.
Pada akhirnya mereka dapat melihat cahaya di kejauhan. Mereka sampai di halaman depan kover Situs-79. Sebuah pabrik yang terlihat terbengkalai, di suatu tempat di lapangannya terdapat palang yang bertuliskan “Pabrik Tjipetir, Sukabumi.” Sebuah tanda yang jelas bagi mereka yang mengenalinya.
Dua mobil yang mengawal truk kontainer menepi, membiarkan truk maju lebih jauh. Di depan pagar besi menuju pabrik, si pengemudi menghentikan truknya atas aba-aba rekannya. Yang lebih tua segera meraih payung di belakang kursinya sebelum keluar dari truk terlebih dahulu, diiringi si pengemudi setelah mematikan mesin.
Sang personel yang lebih muda tadi mengamati bagaimana personel Situs-79 hanya mengenakan kaus oblong biasa selagi mereka mulai berkerumun di depan pagar. Tetap saja dia bisa melihat baton standar khas personel keamanan terikat di pinggang mereka. Dia berdiri di belakang rekannya tadi yang sepertinya menunggu seseorang.
Pada akhirnya seseorang berjalan mendekat. Dia mengenakan jaket hoodie hitam yang melapisi kausnya serta celana jeans biru gelap yang sedikit sobek. Dia tidaklah membawa payung, membuatnya basah kuyup selagi dia berjalan. Yang dipegangnya malah sebuah tongkat besi hitam panjang dengan ujungnya melebar dan rata bak sebuah dayung. Dia memegangnya dengan tangan kanannya dan menahan sisa tongkat itu di bahunya. Dia akhirnya sampai di depan mereka. Saat itulah si personel muda menyadari pria di depannya lumayan jangkung.
“Anomalinya di dalam?” Orang itu bertanya singkat.
Rekan personel muda tadi mengangguk sebagai konfirmasi. Pria yang baru datang tadi lalu berkata, “Baik, kami ambil alih dari sini.”
Tangan kirinya diulurkannya, dibukanya seakan dia menunggu sesuatu. Rekan pengemudi tadi segera menyenggol si personel muda di sampingnya, mengisyaratkannya untuk menyerahkan kunci truknya. Dengan tergesa-gesa dia menurut dan memberikannya ke rekannya, yang kemudian ia serahkan ke pria berjaket tadi, yang kemudian dia lemparkan ke salah satu personel Situs-79 di dekat truk. Personel itu segera naik dan menyalakan kembali mesin truk.
Kedua personel pengantar tadi menepi dan mereka berdua mengamati truk itu memasuki halaman situs, diiringi serangkaian personel yang berkerumun tadi.
“Sudah lama sejak situs kalian mengunjungi kami. Bagaimana kabar Situs-118?” Pria berjaket itu memulai basa-basi, tidak memedulikan dirinya yang masih diguyur hujan.
Personel pengantar tadi mencoba mengamati rekannya, tetapi sepertinya dia enggan menjawab. Jadi dia memutuskan membalas, “Keadaan situs kami baik, kok.”
Lawan bicaranya diam selama beberapa saat, mengamati personel muda itu. Akhirnya dia berkata, “Dia personel baru?”
Akhirnya rekannya membalas, “Ya. Aku penanggungjawabnya.” Dan suaranya menegaskan dia tidak ingin melakukan pembicaraan kecil ini.
“Ah, ku rasa perkenalan diri diperlukan kalau begitu.” Pria berjaket itu berkata. Dan kini dia tersenyum selagi mengulurkan tangannya.
“Ehm, Agen Junior Junaid Shauqi, Loader Situs-118.” Personel muda itu dengan gugup mencoba menggenggam tangannya dan menyadari kalau dia mengulurkan tangan kirinya karena tangan kanannya memegang tongkat mirip dayung itu. Akhirnya dia memutuskan untuk menggenggamnya dengan tangan kiri juga.
“Panggil saja Karun.” Dia membalas lebih singkat dari yang Junaid duga. Dengan segera dia melepaskan genggaman tangan mereka.
“Dan ku rasa kita sudah berkenalan saat briefing kan, Johnny?” Karun berkata selagi menyebutkan nama rekannya tadi. Yang ditanya hanya diam menatapnya.
Terdengar suara ribut di kejauhan, berasal dari kerumunan personel situs yang mengurus kontainer mereka. Karun menatap ke proses pemindahan anomali selama beberapa saat, akhirnya dia kembali berkata, “Aku mengharapkan kalian menyelundupkan Hoplites lagi di dalam sana, sebenarnya.”
“Tch,” Terdengar suara kesal dari pria paruh baya di sampingnya. “Salahkan anomali kalian untuk itu.”
“Aw, kalian menyerang kami dan menyalahkan kami karenanya?” Karun menyanggah selagi terkekeh. Dia melirik ke personel muda sekilas sebelum menatap ke arah penanggungjawabnya dan berkata, “Kau sudah cerita padanya kalau situs kalian menyerang kami dulu?”
Lawan bicaranya hanya mengangkat bahu dan membalas, “Mungkin, jika kau mau menjelaskan bagaimana kau bisa dibuang ke situs ini.”
Karun hanya menggeleng dan menjawab dengan senyuman, “Kau menyakitiku, kau tahu? Aku bukan transferan. Aku asli direkrut Yayasan untuk Situs-79. Kau yang seharusnya mengajarkan anak buahmu untuk tidak berprasangka buruk terhadap orang lain.”
“Tch.” Hanya itu balasan yang didapatnya.
Setelahnya hanyalah keheningan canggung bagi sang personel muda. Dia sebenarnya ingin bertanya mengenai tongkat mirip dayung yang dipikul Karun, tetapi dia merasa rekannya tidak ingin mendengar pembicaraan lain darinya. Dia hanya bisa berdiri diam di bawah naungan payungnya, tidak berani melanjutkan pembicaraan.
Suara mesin truk akhirnya terdengar selagi ia dihidupkan. Setelah beberapa jam, sepertinya anomali yang dibawa dua orang personel tadi sudah dimasukkan ke dalam situs. Cuaca masih mengguyurkan hujan, tetapi kini mendekati gerimis semata. Salah satu personel situs-79 mengemudikan truk itu keluar dari halaman situs dan menghentikannya tak jauh darinya.
Dua orang personel pemilik truk itu segera naik sementara personel Situs-79 tadi turun dan berdiri di samping Karun. Orang itu hanya melambaikan tangan kirinya selagi truk itu mulai menjauh dari situs.
“Pak, saya sebenarnya ingin bertanya,” Junaid memutuskan untuk akhirnya bertanya selagi dia mengemudi. “Si Karun tadi, dia siapa? Sepertinya dia personel baik-baik saja.”
Sejujurnya, dia tidaklah melihat keburukan apa-apa dari Situs-79 yang selalu dirumorkan selama kunjungan singkatnya selain dari rasa anehnya mengamati orang itu rela basah kuyub tanpa payung selama mereka menunggu proses pemindahan anomali selesai.
Rekannya hanya meliriknya. Dia diam memikirkan bagaimana menyampaikan jawabannya tanpa terdengar seperti dirinya mencoba membual. Dia tahu seseorang tidak akan bisa menemukan keburukan Situs-79. Berdasarkan pengalamannya, keburukannya sendiri lah yang bisa menunjukkan keberadaannya.
“Yang kita ajak bicara tadi Agen Senior Karun. Dia ketua tim keamanan kover Situs-79. Kabarnya dia ditugaskan setelah insiden Hari Isthmia. Hari dimana beberapa Loader dan Penombak situs jadi kultus gila karena anomali situs sialan itu, jauh sebelum kau jadi personel.” Jelas rekannya.
“Saya mendengar sekilas mengenai itu tadi. Tapi kenapa Bapak menyalahkan mereka karenanya?” Junaid bertanya lagi, merasa tidak puas akan jawabannya.
Rekannya hanya mengembuskan nafas. “Jika kau sudah jadi personel senior sepertiku, kau akan menyadari kalau mereka sebenarnya menjebak kita. Tidak mungkin foto SCP-090-ID tiba-tiba saja dimiliki oleh seorang Loader di dalam situs. Ada yang menyelundupkan foto itu dan menunjukkannya kepadanya, dan sekarang kita berhutang banyak ke Situs-79 karenanya.”
Junaid hanya diam. Dia memang merasa itu hanya teori konspirasi semata, tetapi dia tidak yakin rekannya mencoba menghasutnya untuk ikut membenci situs itu. Meski masih dalam pelatihan, dia yakin penanggungjawabnya mencoba memperingatinya untuk kebaikannya.
Mungkin saat dia sudah jadi Loader senior seperti rekannya, dia akan mengerti mengenai keadaan Situs-79 sebenarnya. Mungkin pandangannya akan berbeda, mungkin juga tetap sama.
“Tapi kalau saya boleh berpendapat, itu tidak membenarkan Bapak untuk membenci setiap personel di sana.” Junaid mencoba menyarankan. “Si Karun tadi, dia mencoba bersikap ramah kepada Bapak, bukan?”
Rekannya hanya terkekeh. Satu lagi pelajaran hidup yang dia pernah lihat adalah untuk tidak memercayai seseorang yang bersikap ramah dari situs terkutuk itu. Pada akhirnya dia memutuskan untuk membalas, “Aku lebih ke arah gugup, sebenarnya. Dayung yang dibawanya itu bisa dipakai mencincang orang. Kabarnya keahliannya itulah alasan kenapa Yayasan merekrutnya.”
Junaid hanya melirik ke arahnya selama beberapa saat. Dia tahu kalau itu memang terdengar sebagai omong kosong.
“Yah, mungkin kau bisa mengonfirmasinya nanti jika kau ditugaskan kembali ke sana.” Rekannya menambahkan.
“Baik kalau begitu…” Balas Junaid dengan pasrah, tidak lagi tertarik mendengar rumor dari situs itu. Tetapi dia memang berharap lebih sering bisa mengunjungi situs terpencil itu kembali untuk mendapatkan jawabannya sendiri.
Mereka pun berkendara menyusuri gerimis malam, dari ‘neraka’ kembali ke situs mereka.
“Kau tahu, aku menahan diri untuk tidak memenggalnya dan menyebutnya sebagai insiden.”
Karun berkata kepada salah satu personel keamanan luar situs yang mendampinginya selagi mereka berjalan kembali ke kover situs.
“Lakukan saja sebenarnya jika anda mau, ketua.” Personel itu membalas. “Hujan akan mempermudah kita mengaburkan buktinya.”
“Haha, aku tidak serius, kok. Pak Birmanto melarangku bertindak jika tidak diserang. Aku cuma memikirkan apakah perkataannya tadi dihitung atau tidak.” Jelas Karun.
Personel di sampingnya hanya mengangkat bahu. “Tawaranku masih terbuka jika kau ingin mencegat mereka.”
“Heh… ku kira proses transfer tadi sudah cukup mengobati kebosanan.” Karun terkekeh. “Jadi awan tadi sudah aman di kotak penahananannya?” Dia mencoba mengalihkan topik pembicaraan sebelum terlambat.
“Oh tentu, seharusnya ia sudah disambut personel lantai Keter sekarang. Sejujurnya aku mengharapkan sedikit perlawanan dari calon anomali Keter kita…” Jawab personel di sampingnya. Mereka akhirnya sampai di bawah naungan pabrik tua yang menjadi kover mereka.
Karun menatap ke arah lift barang di dalam ruangan selama beberapa saat. “Pasti menyenangkan di bawah sana, kau bisa bebas memotong siapa saja dan terjaga semalaman karenanya. Tidak ada penumpang bagi kapal feri pada malam-malam seperti ini.” Dia bicara, setengah melantur karena rasa ngantuknya. Mencoba hujan-hujanan tidaklah membuatnya terjaga sedikitpun.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam pabrik, untuk kembali diam memonitor sekeliling dan tertidur karenanya. Terjebak dalam limbo, ketiadaan makna kehidupan. Mereka semua yang bekerja di luar perlu adrenalin. Monotonisme operasi harian pabrik dan keheningan malam cukup untuk membuat mereka setengah gila dan mengharapkan insiden apa saja terjadi di atas sana.
Dan mereka tahu Yayasan sengaja menempatkan mereka di sana. Itulah tawarannya terhadap mereka. Tugas menjaga situs Keter dulu merupakan tawaran menggiurkan bagi mereka, terlebih mengetahui ia baru saja diserang dan mereka diizinkan melakukan apa saja untuk alasan keamanan. Mereka ingat ada penekanan pada kata apa saja itu dulu saat ditawarkan.
Tetapi mereka juga akhirnya tahu sekarang, sebenarnya inilah bentuk hukuman Yayasan terhadap mereka. Overwork, Overdose, or Overkill yang menjadi slogan mereka adalah alasan kenapa mereka sendiri bisa berakhir di sini.
Dan ketiadaan aktivitas di pelosok hutan jauh dari pusat kota Sukabumi ini adalah siksaan yang pas bagi mereka.
Karena pada titik teratas pun, neraka tetaplah neraka.
Seorang personel keamanan berdiri di depan lift barang. Di depan kerumunan personel keamanan yang menyiapkan pemindahan anomali baru mereka. Dia mengamati proses pemindahan selama beberapa saat sebelum berbalik.
Selagi membenarkan posisi topi abu-abu usangnya, dia berkata, “Pesanan anomali kognitifmu sudah tiba, Девушка.”
Dua ketukan cepat dari tongkat yang menghantam lantai terdengar sebagai jawaban.
Kronik Situs-79
Prolog
| Malam yang Sulit | Pria Berdarah Itu »




