Malam Kebakaran
rating: +2+x

Malam hari merupakan waktu istirahatnya seseorang dari aktivitas yang telah dilakukannya sepanjang hari. Itulah kenapa malam lebih hening akan suara aktivitas manusia. Terlebih lagi di lokasi yang jauh dari dunia modern, terisolir dan masih berbatasan dengan alam. Sebaliknya, ia hidup akan suara kehidupan alam malam. Dan perbedaan tersebut semakin terdengar jelas seiring jarum waktu bergerak maju mendekati tengah malam menuju pagi.

Di sebuah kampung kecil dekat hutan, kebanyakan penduduknya sudah tidur. Malam di sana hening, hanya berhiaskan suara serangga dan hewan kecil di sekelilingnya. Lampu pijar redup di depan beberapa rumah merupakan satu-satunya sumber cahaya jalanan kecil mereka yang sunyi tanpa orang lalu-lalang.

Tiba-tiba, itu semua berubah seketika dengan bunyi nyaring mesin menggertak malam.

Cahaya lampu depan sebuah mobil pick-up tua menyinari jalan kecil kampung itu, ditenagai mesinnya yang menghasilkan suara berisik dari knalpot berkaratnya. Selain seorang pengemudi dan seorang lagi di kursi sampingnya, terdapat tiga orang lagi di atas bak pick-up tersebut. Bersama mereka seorang anak laki-laki berusia 14 tahun, kedua tangannya terikat tali tambang.

Di sisi belakang pick-up, berdiri beberapa orang pria lainnya. Beberapa di antara mereka memakai jas. Mereka hanya diam menatap ke arah penumpang pick-up itu bersiap pergi.

Anak itu sendiri menatap balik ke arah mereka. Tidak ke arah kerumunan orang di depannya, tetapi kepada seseorang di tengah-tengah mereka. Dia hanya menatap tajam ke arahnya. Mobil pick-up itu perlahan mulai bergerak menjauh, berguncang beberapa kali karena jalanan kampung yang tak rata.

Anak itu tidaklah memedulikan hal tersebut. Dia terus menatap ke arahnya sampai mereka hilang menjauh memasuki area hutan.


Suasana sebuah pemukiman akan berubah baik sedikit maupun drastis dengan mengikuti populasi dan keperluannya. Sebuah kampung kecil umumnya tidaklah banyak berubah bahkan dalam waktu sepuluh tahun. Tidak ada pertambahan dalam jumlah rumah, tetapi terdapat satu atau dua rumah tua, terbengkalai tanpa penghuni. Penghuninya antara sudah mencari kehidupan yang lebih baik di kota terdekat atau sudah di kehidupan lainnya. Tidak ada alasan untuk mendatangi kampung itu…

…kecuali bagi penghuni dan mantannya.

Suara berisik kendaraan perlahan terdengar di kejauhan. Beberapa orang yang tengah main kartu di serabi rumah menoleh untuk melihat ke arah jalan masuk kampung. Tidak terlihat apa-apa selain jalanan hutan nan gelap, jadi entah apa dan berapa banyak kendaraan yang mendekat sehingga menghasilkan bunyi nyaring dari kejauhan membuat mereka mulai bertanya-tanya.

Pada akhirnya terlihat cahaya kuning menyinari dari sela-sela batang pepohonan. Sebuah mobil jeep memasuki kampung. Kemudian muncul mobil jeep kedua, dan akhirnya yang ketiga. Mereka langsung saja berhenti dan mematikan mesin mereka di tengah jalanan kampung. Beberapa saat kemudian, beberapa orang mengenakan seragam taktis hitam keluar hampir serentak dari mobil. Mereka jumlahnya sebanyak 12 orang, mengenakan perlengkapan lengkap dari rompi sampai helm serta masker gasnya.

Sebagian besar menenteng senjata laras panjang, dan salah satu dari mereka menembakkannya ke udara, memecah kesunyian malam yang tenang.

Beberapa orang bersenjata tersebut mulai bekerja, menembakkan senjata mereka dan membuat keributan, memaksa orang-orang kampung satu-persatu berlarian keluar. Beberapa juga mulai memasuki rumah kayu sederhana mereka dengan menendang pintu rapuh yang terpasang, untuk beberapa saat kemudian menyeret penghuninya keluar tanpa memedulikan teriakan mereka.

Dua orang pria yang tidak ikut bekerja memilih untuk berjalan-jalan menyusuri jalan kampung, mengamati aktivitas biadab rekan mereka.

“Apakah masker gas ini tetap harus dipasang, Pak Robert?” Pria di belakang berkata dengan nada kesal.

“Meskipun misi ini tidaklah ada, kau harus tetap menganggap ini misi eksekusi GOC standar, Zakaria.” Balas pria terdepan. “Tidak boleh ada kelonggaran, apalagi kegagalan.”

“Tch.” Zakaria reflek membalas. Dia tahu perkataan terakhir itu personal untuknya. Dia memang tidak cocok untuk ini semua. Dia hanya pekerja kantoran yang jelas tidaklah akan cocok untuk operasi militer.

Sama sekali tidaklah cocok.

Robert sepertinya menyadari tingkah laku orang di belakangnya. Dia berkata, “Lupakan saja yang sudah lalu. Aku membawamu ke sini untuk melupakan itu semua, kau tahu.”

“Ku kira kita ke sini karena perintah Engineer?” Zakaria membalas.

Robert hanya tertawa pelan sebagai pembuka jawaban. “Memang. Setiap langkah yang diberikannya harus diikuti seluruh agen yang tersedia. Tapi bukan berarti kita tidak boleh menikmati prosesnya.”

Dia menoleh ke arah Zakaria. Entah apa ekspresinya di balik masker gasnya. “Dan jangan bohong, aku tahu kau yang paling bersemangat untuk misi ini.”

Tidak ada balasan dari Zakaria. Mereka melanjutkan berjalan menikmati pemandangan orang-orang kampung diseret dan dikumpulkan di tengah-tengah kampung. Orang-orang bersenjata mengelilingi mereka bak pembawa kematian. Dua orang tadi mengamati dari kejauhan.

“Kau tahu aku tidak melakukan ini tanpa maksud lain, bukan?” Robert berkata tiba-tiba. Zakaria tahu itu ditujukan kepadanya. Dia mengangguk dan diam menunggu lanjutannya.

“Ku dengar subjek penelitianmu dulu saat kuliah adalah mengenai improvisasi sebuah percobaan psikologis untuk bisa menghasilkan efek phobia permanen, benar?”

Zakaria sedikit tersenyum mendengar pencapaiannya dulu. “Big Albert, ya. Tidak permanen sayangnya, tapi jika tidak ditangani yah… seharusnya bisa saja. Aku tak berhasil menemukan metode yang pas dulu.”

“Ku baca di jurnal kalau kau hanya menggunakan halusinogen standar, kenapa?”

Zakaria hanya terkekeh. “Jujur saja, itu cuma berdasarkan pengetahuan dasarku atas subjek tersebut. Terlebih kalian sendiri yang bilang tulis saja apa pun yang kuinginkan karena aku sudah pasti lulus, sejauh itulah motivasiku menelitinya.”

Robert mengangguk mendengarnya. Dia lalu berkata, “Aku dapat perintah lanjutan dari Sang Engineer. Dalam waktu setahun, tugas kita di fasilitas GOC itu akan berakhir, dan Sang Engineer menginginkan kita menghancurkan total tempat itu.”

Zakaria tidaklah terlalu memedulikan hal itu. Dia sudah merasa terbiasa dipindah-pindah ke tempat jauh. Dia tidaklah memedulikan di mana dia akan ditempatkan nantinya.

Dia sebenarnya tahu ingin ke mana, tetapi dia sudah lama sadar akan ketidakmungkinan mengetahui ke mana tepatnya.

“Jadi,” Robert melanjutkan, “Kenapa tidak kita habiskan membuat sesuatu yang berguna untuk memudahkan kita nanti? Kita cuma berjumlah 13 orang termasuk Dirgo di fasilitas, kita tidak mungkin menghancurkan sebuah fasilitas GOC dengan jumlah kita sendiri, bukan?”

Langsung ke intinya, keparat… Zakaria mengumpat dalam hati, mulai tidak sabaran dan mencoba tidak menampakkannya saat mengangguk.

“Jadi Dirgo sebenarnya mempunyai proyek penelitian yang berdasarkan pada penelitianmu dulu itu, sebuah gas halusinogen yang mampu mengurus para personel lain sehingga kita membantai mereka dengan mudah. Kau, tentu saja akan ditempatkan bersamanya. Jadi aku mengharapkan kontribusimu.” Dia akhirnya menyimpulkan.

Zakaria mengangguk mengerti. Yang dia pahami cuma itu artinya dia tidak perlu keluar fasilitas lagi. Dia tahu tidak ada alasan dia perlu di luar lagi. Tidak ada keinginan untuk mengarahkan tujuan.

Robert sendiri merasa puas akan anggukan itu. Dia mendorong Zakaria perlahan selagi mereka mendekati kerumunan orang yang telah dikumpulkan rekan-rekan mereka sebelumnya.

Begitu kedua orang tadi sampai di depan mereka, beberapa orang bersenjata menyeret seorang pria paruh baya keluar dari kerumunan. Dia hanya mengenakan kaus putih pudar dan sarung. Kedua tangannya sudah terborgol dan kepalanya tertutup karung.

“Dia kepala kampung yang baru. Kau mau mengulang masa lalu? Anggap ini hadiahku.” Kata Robert dengan nada membujuk.

Zakaria sendiri tidaklah peduli seperti dulu. Ini bukanlah pertama kalinya dia di sini. Dirinya yang dulu pasti akan bersemangat menerima kesempatan kedua melakukan hal yang sama. Sayangnya dulu dia tidaklah kreatif.

“Hadiah?” Zakaria bertanya selagi memegangi lengan pria yang terikat tadi.

“Hadiah perpisahan. Aku akan merindukan mengajakmu ke misi, meski baru dua kali sejauh ini.” Robert menjawab.

Zakaria memandanginya selama beberapa saat. Mereka saling menatap dari balik masker gas mereka, meski hanya Zakaria yang penasaran apa ekspresi sebenarnya yang tengah dibuat atasannya itu. Pada akhirnya dia berkata pelan, “Terima kasih.” dan menyeret orang yang terikat tadi menjauh.

“…Sekarang apa yang harus ku lakukan denganmu…” Robert mendengarnya menggumam selagi dia menjauh dari pandangan dan menghilang di belakang salah satu rumah.

Salah satu orang yang bersenjata perlahan berjalan mendekati Robert dan bertanya kepadanya, “Jadi ada apa dengan ‘anak spesial’ itu? Ku dengar kita dua kali ke sini hanya untuknya.” Dia tidaklah terlalu senang saat menanyakannya.

“Dekatkan temanmu dan musuhmu mendekat.” Robert membalas. “Aku membencinya. Dia merasa dirinya lebih baik dibanding kalian semua meski cuma berada di fasilitas setiap hari, tetapi sejujurnya dia memang aset berharga untuk saat ini. Lebih baik membuatnya tetap senang bekerja selama mungkin.”

“Dia pintar.” Salah satu pria bersenjata mendekat. “Kita semua tidak akan berada di sini kalau dia tidak melakukan aksi gilanya malam itu.”

Pria tadi mengangguk menyetujui hal tesebut. Dia lalu berjalan menjauh, puas akan balasan pertanyaannya. Robert sendiri mengamati orang-orang yang mereka kumpulkan di tengah kampung. Orang-orang kolot baginya yang tidak dia mengerti kenapa bermukim lagi di tempat ini.

Mereka pernah ke sini. Mereka membakar habis tempat ini beserta penghuninya, dan Yayasan menyapu bersih eksistensinya. Seharusnya mereka menabur garam juga hari itu. Robert mengembuskan nafas, menimbulkan suara keras di masker gasnya. Setidaknya dia bisa memakai mereka untuk membujuknya kali ini. Pikirnya.

Dia merasa ada yang berubah dari Zakaria pasca misi terakhir mereka. Dia jadi lebih sering larut di pikirannya sendiri. Dia kira membawanya kembali ke sini akan menyalakan kembali semangat kerjanya, tetapi reaksinya tadi sebenarnya sangat mengecewakan.

Dia ingat saat pertama kalinya kemari atas usul Zakaria. Mereka tengah menjalankan perintah Sang Engineer saat itu dan perlu pemukiman untuk dikorbankan. Sesuatu untuk memancing Yayasan. Di sinilah lokasi yang dipilih dulu. Dia ingat Zakaria sangat bersemangat saat berada di sini. Sesuatu mengenai kampungnya, Robert tidaklah memedulikan itu sebenarnya.

Robert perlahan tersenyum. Satu hal yang dia ingat adalah betapa terlibatnya dalam misi. Dia sendiri yang menyiram bensin ke penghuni kampung dulu selagi tertawa. Dia memberi pidato di depan mereka bak dia sudah menyiapkannya sejak pertama meninggalkan kampung ini. Dia menikmati pemandangan para agen membakar orang hidup-hidup saat itu. Satu hal yang Robert ketahui saat itu adalah jika motivasinya tepat, dia adalah agen terbaik yang bisa dia minta.

Perlahan senyumnya hilang. Zakaria tidaklah bersemangat saat dia mengumumkan akan kembali ke kampung ini. Dia bahkan tidak memedulikan proses misi. Setan yang dulunya membawa neraka ke hunian manusia kini sudah padam apinya.

Robert berjalan menjauh perlahan, menuju ke arah Zakaria pergi tadi. Dia penasaran apakah setidaknya dia menikmati hadiahnya tadi. Dulu ada asap dan api yang memudahkannya mengikuti jejak kehancurannya, tetapi kini setelah beberapa saat berjalan mengikuti suara samar dengan bermodalkan senter semata, Robert akhirnya berhasil menemukan Zakaria di tengah hutan tak jauh dari kampung.

Zakaria sendiri tidaklah memedulikan kedatangan Robert, dia sepertinya tengah mengambil ancang-ancang untuk melempar sesuatu. Robert lalu menyinari ke atas dan mendapati orang yang diberikannya tadi dipakaikan kain besar yang menutupi seluruh badannya. Kakinya diikat oleh tali tambang yang dikaitkan di ranting pohon besar, membuatnya tergantung terbalik setidaknya lima meter di udara. Dia tidak akan mati karena itu.

“Setidaknya kau masih menggantungnya.” Robert berkata selagi mendekatinya.

Zakaria melempar batu ke arah orang yang digantungnya, sayangnya meleset. “Kalau dulu ku gantung terbalik, dia akan mati lebih lama.” Dia berkata, tidak melihat ke arah Robert.

“Kau tak membakarnya?” Robert bertanya selagi mengamati pria yang digantungnya. Sebenarnya dia lumayan terkesan Zakaria bisa menggantungnya setinggi itu sendirian. Dulu dia meminta orang untuk melakukannya.

“Aku mencoba memanggil hujan.” Balas Zakaria. “Ku dengar teru teru bōzu terbalik mampu melakukannya.”

“Ah, jadi itu kenapa dia terbalut kain.” Robert mengangguk mengerti. “Jadi tidak ada rencana membakar kampung kali ini?”

Zakaria menggeleng selagi mengambil batu lagi untuk dilempar.

“Tidak? Meskipun ini tempat yang kau paling benci dulu? Tempat di mana malam itu kau tertawa bahagia untuk pertama kalinya saat membakarnya?” Robert mencoba membujuk.

Zakaria diam selagi mengambil ancang-ancang kembali. Dia kemudian melemparnya, kali ini berhasil mengenai badannya dan membuat orang itu menggeliat liar beberapa saat.

Zakaria diam tak bergerak menyadari dia berhasil mengenainya. Dia dengan perlahan berdiri tegak, masih membelakangi Robert. “Aku lahir di sini, tak pernah mengenal kebahagiaan seutuhnya. Selalu diambil mereka sebelum aku meresapinya. Aku ditarik dari perapian sebelum tubuhku berhenti gemetar karena kedinginan. Dan aku ditarik terus sampai ke luar rumah, ke dinginnya angin malam.”

Zakaria mengembuskan nafas panjang, terdengar dari masker gasnya. Dia seakan tidak ingin mengungkit hal itu, bahkan dia tidak ingin memikirkannya.

Dia mengamati tangannya yang tadi melempar batu. “Aku ingin merasakan kehangatan itu sepenuhnya. Akhirnya itu menjadi tujuanku satu-satunya. Ingat saat ku katakan pepatah dari Afrika pada malam itu padamu, aku ingin mengambilnya kembali itu semua dari mereka. Seluruhnya.” Dia berkata selagi mengepalkan erat tangan tersebut.

Tetapi kemudian dia melepaskan genggamannya dan menurunkan lengannya dengan lemah. “Ku kira kebahagian terbaik adalah saat berhasil melampiaskan dendam hidupmu. Mematahkan rantai yang membelenggu badanmu.” Katanya. “Sayagnnya itu cuma kebahagian yang bisa didapatkan sekali saja. Aku merasa… kosong setelahnya.”

Dia berbalik menghadap Robert. Kaca dari masker gasnya memantulkan cahaya senternya. “Ternyata ada sumber kebahagiaan lain, saat kau memiliki sesuatu yang berharga dalam hidupmu. Sesuatu yang bisa kau rasakan tiap saatnya. Aku menginginkan kebahagiaan seperti itu sekarang.”

Robert tahu persis apa yang dia bicarakan. Dan dia tidak menyukai itu. Tidak dengan nada suara penuh harapnya. “Apa pun itu, dia sudah hilang ditelan kegelapan lautan kematian. Sudah saatnya kau mencari sumber kebahagiaan baru.”

Zakaria diam, membuat Robert berpikir dia tengah memikirkan perkataannya. Dia akhirnya berlalu melewati Robert. Di belakang badannya, dia berkata, “Aku tahu pausku masih di bawah sana. Aku akan berada di atas lautan itu, siap menombak dan menyeretnya naik ke kapalku begitu terlihat di permukaan.”

Robert memandanginya berjalan menjauh kembali ke tengah kampung. Dia melirik ke arah pria yang tergantung tadi. Kemudian, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan pematik api. Dia menyalakannya dan mendekatkanya ke kain pria tersebut. Setelah mulai terbakar dan pria itu berteriak, dia berjalan menjauh dengan kesal.

Suara guntur terdengar dari kejauhan, meski tanpa kilat. Langit malam yang menjadi sumber cahaya alami tertutup kumpulan awan hitam pembawa hujan, seakan menjawab upaya pemanggilan Zakaria sebelumnya. Robert mempercepat langkahnya, semakin malas berada di sini lebih lama lagi.

Dia akhirnya kembali ke tengah kampung. Zakaria sudah ada di sana, memandangi penghuni baru kampung yang mereka dulu musnahkan. Mengingatkannya dulu kalau Zakaria juga memandangi mereka seperti itu. Dulu Robert tidaklah mengetahui apakah dia tersenyum gila atau menatap penuh kebencian di balik masker gasnya, tetapi sekarang dia yakin dia hanya menatap mereka dengan tatapan kosong. Pikirannya jelas tidak mau memikirkan nasib mereka sedikitpun sekarang.

“Jadi mau kau apakan mereka?” Robert bertanya, masih berbaik hati membiarkannya memutuskan nasib mereka.

‘Bakar yang laki-laki, sedangkan tembak habis sisanya.’ Adalah permintaan yang Robert harapkan keluar darinya seperti dulu. Sayangnya Zakaria hanya berkata, “Bawa mereka semua. Kita perlu subjek untuk eksperimen nanti.”

“Heh, sayangnya aku yakin kau tahu kita tidak mungkin menahan orang sebanyak ini.” Robert berkata. Ada sekitar 50-an orang yang mereka kumpulkan di tengah kampung. “Aku menentukan kalau kau cuma bisa membawa sepuluh.”

“Terserah.” Zakaria membalas. “Pilih saja, tapi bagi rata. Aku akan menunggu di mobil.” Katanya selagi berjalan menjauh.

“Kau pikir kau mau ke mana?!” Robert mulai kehilangan kesabarannya akan Zakaria. “Kau kuperintahkan berada di sini dan mengawasi operasi sampai selesai!”

Zakaria akhirnya berbalik dan mengamati sesama rekan-rekannya. Akhirnya dia berkata. “Aku menerima perintah dari Sang Engineer sepertimu, bukan dari dirimu.”

Dan Zakaria berjalan menjauh. Tidak peduli akan teriakan marah Robert yang memberi perintah pergerakan. Tidak peduli akan teriakan penghuni kampung yang memenuhi malam. Tidak peduli akan kobaran api besar di belakang.

“Dengar, kalian semua!”

Zakaria tersentak, merasa familiar akan sesuatu. Dia perlahan menoleh ke belakang. Di depan kobaran api rumah-rumah yang terbakar, berdiri seorang pemuda yang tengah mengangkat kepalan tangannya tinggi membelakanginya.

Dia melihat dirinya di masa lalu. Dikelilingi rekan-rekan operasi dulu. Malam keakraban pertama mereka, seperti yang Robert dulu bilang.

“Aku adalah tangan kanan sang keadilan!” Anak itu berteriak lantang. Dia menurunkan tangannya tadi ke wajahnya. Zakaria tahu dia melepas maskernya meski seharusnya tidak boleh dia lakukan. Alasannya dulu adalah karena mereka memang semuanya mati, jadi tidaklah masalah bagi mereka.

“Dan aku setan yang kalian lupakan.” Zakaria melihatnya melempar masker gas itu. Terlalu berlebihan pikirnya. “Ya, dan aku pernah bilang dalam hati, aku akan kembali suatu hari nanti. Dan seperti yang kalian lihat, aku kembali, membawa neraka bersamaku!”

Anak itu lalu tertawa. Zakaria tahu dia tertawa mengamati ekspresi para penduduk kampung dulu. Sebenarnya dia tidaklah tahu apakah mereka mengenalinya atau tidak dulu, tetapi Zakaria di masa lalu sudah puas bisa menampakkan dirinya yang baru pada mereka.

Zakaria akhirnya berbalik.

Anak naif… Dia berpikir.

Kau bukan orang besar. Kau cuma gelandangan yang berjabat tangan dengan setan. Kau berdiri tinggi di depan mereka karena kau cuma boneka tangan, diangkat oleh dalang. Bergerak hanya jika diinginkannya.

Dia menatap ke telapak tangannya.

Dia tahu tidak ada yang bisa dia lakukan di hari operasi mereka itu. Dia tidak bisa melawan, hanya bisa melambatkan akhir yang sudah ditentukan.

Hanya saat kau ingin berjalan sendiri baru kau menyadari… kau tidak bisa bergerak tanpanya.

Dia merasakan sesuatu di lengannya dan mengamatinya; sebuah tetes hujan kecil. Dia menatap ke langit dan melepaskan masker gasnya, membebaskan dirinya menikmati hujan malam yang segera turun dengan derasnya.

Dia tidak tahu apakah dia benar-benar bisa menemukannya kembali. Makanya dia berusaha menikmati sedikit kenangan tentangnya. Hanya itu yang dia bisa lakukan sekarang.

Kronik Situs-79

Setan Bangkit
« ??? | Malam Kebakaran | ??? »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License