Langit-langit ruangan.
Langit-langit ruangan merupakan hal pertama yang dilihat Peneliti Junior Balefire. Dia sudah merasa familiar dengan tempat ini, mengingat ini ruangan pertama yang dia lihat. Dia tidak dapat merasakan kapak yang biasa dia sangkutkan di samping badannya. Kalau jas labnya dia ingat dia menggunakannya untuk menutupi penglihatan SCP-032-ID, jadi dia bisa menduga jasnya mungkin disimpannya. Untuk kapaknya, dia mulai mencari dengan melihat ke sekelilingnya, sekaligus ingin tahu siapa yang mendampinginya kali ini.
Asisten Dokter Saimun ada di dekatnya, meski dia tengah sibuk di depan salah satu meja dan membelakanginya.
“Uhuk!” Balefire mencoba mendapatkan perhatiannya. Saimun menoleh ke belakang dan akhirnya menyadari Balefire telah sadar.
“Pak Za- Ehm, Balefire. Kau akhirnya sadar setelah setengah hari. Apa kau perlu sesuatu?” Dia berkata selagi bergegas mendekat.
“Setengah hari?” Balefire mencoba duduk dengan bertopang dengan tangannya dulu, tetapi tiba-tiba dia mulai merasakan rasa sakit di bahu kirinya. Dia baru teringat akan tikaman Toni dan sekarang dia terpaksa menahannya selagi memegang bahunya. Dia juga mulai merasakan sensasi yang lebih kecil di lengan kanannya, jadi dia menurunkannya segera dan membaringkan diri lagi. Balefire mengangkat perlahan tangan kanannya dan mengamati bahwa ia terbalut perban. Sepertinya sudah dijahit juga.
“Ya. Kau kekurangan darah dan kelelahan. Bu Lira bilang jangan sampai dia memaksakan dirinya lagi untuk sekarang atau jahitannya akan lepas.” Kata Saimun. “Bahkan aku pun bingung kenapa kau mau aja sakit-sakitan begitu sebelumnya.”
“Yah… Aku pernah mengalami yang lebih buruk.” Jawab Balefire dengan enteng.
Saimun menggeleng sebelum berkata, “Yah, aku juga ingin tahu bagaimana kau bisa tersambar petir di punggungmu itu?”
Balefire mengangkat bahu – meski salah satunya menyakitkan – dan menjawab, “Taumaturgi. Tapi persetan dengan itu, mana Lira?”
“Lira sibuk mengantar personel terluka parah ke lift. Mereka akan dipindah ke lantai Keter. Aku yang menjahitmu tadi.” Jawab Saimun.
“Hm, jadi sudah tenang sekarang…” Balefire menggumam. Dia lalu melanjutkan bertanya, “Bagaimana mengenai Toni dan SCP-019-ID?”
Saimun mengembuskan nafas dan berkata, “Aku ga tau. Katanya dia lagi ditahan.”
“Heh, mereka belum mengeksekusinya?” Balas Balefire. Sebelum Saimun sempat menjawab, Balefire melanjutkan, “Bagus sih. Ku harap aku bisa melihat eksekusinya jika itu terjadi. Menurutmu apa aku bisa berjalan sekarang?”
“Jelas tidak! Tanganmu baru dijahit, aku tak ingin disemprot Bu Lira lagi karena ga ngawasinmu.” Saimun menolak keras.
“Aku bertanya mengenai berjalan, kan? Kau pikir aku berjalan pakai kaki dan tangan?” Balefire membalas argumennya.
“Tapi- tapi kau masih lemah!” Saimun masih mencoba menahannya.
Itu tidak menghentikan Balefire bergerak ke pinggiran ranjangnya dan mencoba berdiri. Selama dia tidak kehilangan keseimbangan, tidak akan ada masalah. Saimun sendiri seperinya menyerah memintanya istirahat.
Setelah melihat kesekeliling lagi, Balefire masih tidak menemukan kapaknya. Sepertinya Lira cukup baik untuk tidak mengambil kapaknya selama merawatnya.
“Uhh, Saimun, ke mana kapakku?” Tanyanya setelah beberapa saat.
“Oh, dibawa Pak Herria tadi.” Jawabnya selagi menunjuk pintu keluar.
Balefire mengembuskan nafas sebelum berjalan pelan ke arah pintu. Belum dia sempat membukanya, pintu ganda itu terbuka sendiri.
Herria berdiri di depannya.
“Ku lihat kau sudah baikan, dokter.” Katanya. Kedua tangannya berada di dalam kantongnya.
“Aku menyelesaikan tugasku, bukan?” Balefire membalas.
Herria mengangkat salah satu alisnya, seakan tidak menduga balasannya. “Tidak ku sangka, kau bisa saja memanggil bantuan tetapi kau memilih melawannya langsung. Kau tahu itu tidaklah cerdas, bukan?”
“Ku harap kalian mengeksekusinya kali ini. Ku dengar dia ditahan.” Balefire berkata dengan dingin, tidak memedulikan pertanyaan Herria seakan perkataannya tadi seharusnya menjawabnya.
“Personel tidak muncul dari pohon, dokter. Kita akan mengeksekusinya, tetapi bukan dengan membunuhnya.” Herria berkata. Ini membuat heran Balefire.
“Maksudmu?” Balefire bertanya segera.
“Kita akan menghapus total ingatannya.” Jawab Herria tak kalah singkat.
Menghapus ingatan? Balefire sedikit bingung akan ucapannya. Dia pernah mendengar metode operasi Yayasan melibatkan ‘penghapusan ingatan’ saat di KOG dulu.
“Ya, kau tak tahu mengenai amnestik?” Tanya Herria.
Teknisnya Balefire tahu gambaran kasarnya, tetapi tidak ada salahnya bertanya. “Tidak, aku sama sekali belum pernah mendengarnya.”
“Amnestik merupakan metode penghapusan ingatan menggunakan bahan yang… yah, kita sebut saja amnestik. KOG tidak memberitahukan itu padamu, ku rasa.” Jelas Herria. Bagian terakhir perkataannya sesuai dengan yang Balefire ingin dia pikirkan.
“Sangat menarik, kau keberatan menjelaskan bagaimana tepatnya ia bekerja?” Balefire bertanya lebih jauh, karena yang ini dia tidaklah ketahui.
Herria terkekeh, “Bukankah lebih cerdas untuk menyelesaikan misimu dulu sebelum meminta macam-macam?”
“Kau benar.” Tanggap Balefire mendengarnya. Dia kemudian teringat sesuatu dan bertanya, “Jadi kapan kau akan melakukannya? Menghapus ingatan Toni itu?”
Herria tersenyum, dia seakan sudah mengantisipasi pertanyaan ini. “Ku rasa kau tertarik untuk ikut menontonnya.”
“Tentu saja.”
Herria berbalik dan berjalan menjauh seakan mengharapkan Balefire mengikutinya. Tentu saja dia mengiringinya, meski agak lambat karena kondisinya.
“Kata Saimun kau mengambil kapakku. Boleh aku memintanya kembali?” Balefire bertanya di belakang.
Herria tidak menoleh ke arahnya. “Kau tahu peneliti dilarang membawa senjata, kan?”
“Senjata itu membuatku tetap hidup jika aku tidak sengaja ketemu Insurgent lagi.” Balas Balefire.
Herria mengangguk mengerti untuk beberapa saat. Dia akhirnya berkata, “Senjatamu ku titipkan di pos pintu pembatas. Aku memang punya firasat kau akan punya alasan yang bagus untuk mengambilnya kembali.”
Mereka tidaklah berjalan menuju ruang penahanan Kelas-D, tetapi langsung menuju ruang observasi. Itu artinya saat ini Toni berada di ruang interogasi di sebelahnya. Balefire teringat interogasi pertama Toni di ruangan tersebut. Herria membuka pintu ruangan dan duluan masuk.
Berdiri di depan pintu mengingatkan pembicaraan Balefire dengan Toni sebelum itu seharusnya menjadi terakhir kalinya mereka bertemu.
Setidaknya aku memenuhi permintaanmu. Balefire mengangkat bahu sekilas dan berjalan masuk.
Di dalam ruangan ada seorang personel keamanan yang tengah berbicara dengan Herria. Balefire melangkah masuk untuk melihat lebih jelas. Herman tidak terlihat di ruangan ini. Sepertinya Herria saja petinggi situs yang dapat menghadiri. Perhatiannya lalu teralihkan ke arah cermin satu arah yang memenuhi sisi dinding di sampingnya.
Empat orang personel keamanan berada di ruang interogasi. Dua orang berseragam oranye didudukan di tengahnya. Yang satu merupakan Toni sedangnya yang lainnya adalah Rina.
“Huh..” Reflek Balefire berkata. Dia tidak menduga Rina juga ikut dieksekusi. Mereka sepertinya diikat di kursi mereka sedangkan para penjaga di belakangnya tengah menyiapkan semacam alat.
Balefire kemudian mengamati ke sekeliling ruangan dan mendapati ada kamera di depannya. Kamera itu menghadap lurus ke arah ruang observasi, sepertinya belum nyala karena seharusnya ada kelap-kelip merah di atasnya.
Dia kembali melihat ke arah kaca selagi berjalan menuju kursi berderet di ruang observasi. Dia mengamati Toni yang terlihat termenung. Apa dia menyesal? Apa dia kesal? Balefire duduk dan bersandar di kursi selagi memikirkan hal tersebut.
“Baik, bilang mereka untuk memulainya!” Herria tiba-tiba berkata selagi berdiri di depan serangkaian panel di depan kaca. Spesifiknya dia berbicara pada mikrofon di panel tersebut.
Ini semua bak Déjà vu bagi Balefire. Dia ingat melihat Toni duduk di ruang itu, meskipun hanya dia saat itu. Dia ingat mengira ini kali terakhir dia melihat Toni. Dia ingat pandangan pasrah tersebut.
Tidak.
Di wajah Toni bukanlah rasa pasrah, Balefire bisa melihat senyum tipis di wajah Toni. Dia juga melihat hal yang sama saat Toni pertama ditahan, meski dilupakannya saat itu.
Kenapa…
Para penjaga sudah siap dengan semacam suntikan di samping mereka berdua. Toni sepertinya mengatakan sesuatu kepada Rina, tetapi tidak terdengar karena beda ruangan.
“Toni Ivansyah. Berdasarkan pengakuanmu sebelumnya, kau telah melakukan pelanggaran penahanan dengan melepaskan SCP-030-ID yang melakukan pelanggaran penahanan kepada anomali lain di situs. Ini dilanjutkan dengan upaya melarikan diri bersama salah satu anomali Yayasan dengan designasi SCP-019-ID dari situs.” Herria berkata di mikrofon.
“Ini juga termasuk pelanggaran lain seperti mempengaruhi personel Yayasan untuk berkooperasi denganmu dan juga menjalin hubungan dengan anomali.” Lanjut Herria. Dia terdengar profesional dalam menyampaikannya. Kalau tidak sedang direkam, dia mungkin akan terdengar kesal saat ini.
Herria menekan sesuatu di mikrofonnya, membuat salah satu lampu kecil di panel mati. Dia lalu mendekatkan diri ke panel dan berkata, “Subjek Toni Ivansyah akan diberikan Amnestik Kelas F dan diberikan designasi Kelas-D, sedangkan Subjek SCP-019-ID akan diberikan Amnestik Kelas C untuk penghapusan selektif.”
Dia lalu kembali menyalakan mikrofonnya – terbukti dengan lampu kecil tadi menyala kembali begitu Herria menekan tombol sebelumnya – dan berkata, “Apa ada hal yang ingin kalian berdua sampaikan sebelum pemberian amnestik dilakukan?”
Balefire melihat Rina sepertinya mengatakan sesuatu kepada penjaga. Penjaga yang diajaknya bicara meminta penjaga lain mengambilkan sesuatu. Mereka membawa semacam mikrofon kecil dan mendekatkannya ke Rina.
Toni sepertinya mendebatkan sesuatu ke Rina, terlihat dari ekspresinya yang frustrasi. Setelah Rina menggerakkan kepalanya beberapa kali – mengingat kepalanya masih tertutup helm sehingga Balefire tidak dapat melihat ekspresinya dan mengetahui apa yang dia katakan, Toni sepertinya kalah argumen dan mengangguk. Penjaga tadi kembali menyodorkan mikrofon ke arah kepala Rina.
“Saya ingin Mas Toni yang diberi amnestik duluan.” Terdengar suara feminim Rina.
Mikrofon kini diarahkan ke arah Toni. Dia menatap ke arah Rina sejenak sebelum akhirnya berkata, “Apakah memungkinkan jika diberikan secara bersamaan?”
Herria mengembuskan nafas kesal, sayangnya dia tidak mematikan mikrofonnya. Dia langsung berkata, “Amnestik memang diberikan bersamaan. Makanya ada empat personel yang bersama kalian.” Suara frustrasi normalnya bisa terdengar.
Rina dan Toni terlihat tertawa, membuat Balefire bingung. Toni kemudian mendekatkan dirinya ke mikrofon di depannya dan berkata, “Aku yakin kau mendengar ini, mate. Aku minta maaf sudah menyusahkanmu selama ini. Sampaikan juga permintaan maafku kepada yang lain, kepada Lira dan Louis juga!”
Toni jelas berbicara kepada Balefire, percaya penuh dia berada di balik cermin satu arah di depannya. “Ku rasa ini terakhir kita bertemu, right?” Katanya. Dia menunduk sejenak sebelum tersenyum, menunjukkan gigi depan atasnya yang tidak ada. “Beberapa minggu ini cukup menyenangkan, innit?”
Tidak ada reaksi dari Balefire. Toni juga tahu dia tidak akan melihatnya. Dia lalu mengatakan sesuatu kepada penjaga. Penjaga tersebut lalu mengangguk ke arah cermin dan menjauh membawa mikrofonnya. Sepertinya sudah waktunya.
Dua orang personel berdiri di samping mereka berdua. Toni dan Rina saling berhadapan, sepertinya mengatakan pesan terakhir kepada pasangannya.
“Pemberian amnestik akan dilaksanakan.” Kata Herria.
Personel di kedua sisi mereka menyuntikkan sesuatu ke badan mereka. Setelah itu mereka mundur selagi terus mengawasi mereka.
“Pemberian amnestik telah selesai.” Herria mengakhiri. Dia mematikan mikrofonnya dan berjalan menuju kursi menemani Balefire.
“Acara sudah selesai, kamerad. Kau mau tetap di sini?” Dia berkata selagi duduk sedikit jauh darinya.
Toni merupakan orang pertama yang hampir jatuh kehilangan kesadaran. Dia segera ditahan oleh penjaga di sampingnya. Penjaga lain di belakangnya langsung membantu membaringkannya ke lantai. Dia lalu digotong ke luar ruang interogasi. Balefire melihat dia dibawa pergi sampai tidak terlihat lagi di balik pintu. Sepertinya pesan perpisahan yang tadi memang merupakan yang terakhir.
Dia melihat ke arah Rina yang masih diawasi personel keamanan. Setelahnya beberapa saat menatapnya, Balefire lalu berdiri dari kursinya.
“Aku tidak puas.”
Hanya itu yang dikatakan Balefire selagi berjalan keluar tanpa berbalik lagi.
Terlalu cepat…
Balefire sudah kehilangan ketertarikan menonton sisanya.
Terlalu mudah…
Balefire berhenti dari lamunannya dan mendapati di depan pintu masuk bangsal medis, Lira dan atasannya Louis tengah berbicara. Balefire memutuskan untuk mendekati mereka.
“Oh, hai Balefire!” Lira yang pertama melambai. Louis menoleh ke arahnya meski hanya menatapnya saja.
“Kenapa, Bu Lira?” Tanya Balefire setelah berjalan cukup dekat.
“Itu… Itu tadi Toni kan, yang dua orang penjaga tadi bawa. Mereka berjalan langsung ke lift. Mungkin ke Lantai Keter…” Lira terdiam sejenak, larut dalam pikirannya sendiri sebelum menyelesaikan perkataannya, “Kau tahu bagaimana nasibnya kedepannya?”
“Pak Herria mengatakan dia akan dijadikan Kelas-D. Itu saja yang ku tahu.” Balefire berkata.
“Kelas-D untuk Lantai Keter sama saja dengan eksekusi mati.” Louis ikut bicara. Lira hanya diam mendengarnya. Dia menoleh ke Balefire sebelum bertanya lagi, “Apa dia mengatakan sesuatu? Semacam pesan perpisahan atau sejenisnya, heh.” Dia mencoba menperbaiki suasana. Atau mungkin perasaannya sendiri.
Balefire diam mendengar pertanyaan Lira. Setelah beberapa saat, dia berkata pelan,
“Dia mengutuk kalian semua. Yayasan dan semuanya.”
Kau mempermainkanku sekali, Toni. Bukankah ini adil?
“…Sudah ku katakan pengaruh anomali itu buruk kalau berlebihan.” Louis menjadi yang pertama bicara. “Kau hanya perlu meneliti mereka dan naik jabatan ke situs yang lebih layak.”
“Sayang sekali… Dia dulu orang yang… orang yang baik, bukan?” Lira menambahkan dengan suara pelan. Dia mengusap matanya sejenak, jelas bahwa dia mulai meneteskan air mata.
“Maaf.”
Dan dengan itu, Lira berjalan tergesa-gesa ke dalam bangsal medis. Balefire dan Louis menatap ke arah pintu yang perlahan tertutup.
“Ku rasa urusanmu sudah selesai sekarang.” Louis kini berkata kepada Balefire. “Langsung ke ruangan, kita punya penelitian baru untuk dilakukan.” Lanjutnya selagi mulai berjalan. Balefire jelas mengikutinya segera.
“Penelitan baru pada SCP-014-ID-B?” Tanya Balefire selagi mereka berjalan.
“Kan ku bilang penelitian baru. Tim Herman mendapat terobosan anomali baru kemarin. Peneliti baru itu… si Lucy sialan itu, dia kini memimpin penyelidikan anomali terbaru situs ini saat ini. Kita tidak akan ketinggalan dan akan membalap mereka.” Jawab Louis dengan kesal.
Ah, kita kembali ke dunia penelitian kompetitif ini lagi…
Mereka kini sampai di pos pembatas ruangan. Penjaga tidak bereaksi sama sekali, seakan mereka tidak perlu tahu apa pun selain bahwa orang yang lewat adalah Louis. “Pak, izin ngambil barang sebentar di pos pembatas!” Kata Balefire selagi berhenti di depan pos. Louis menoleh sekilas ke belakang sebelum membuka pintu pembatas dan keluar duluan.
“Pak Herria menitipkan kapak-kapakku di sini, bisa ku ambil kembali?” Kata Balefire kepada penjaga di depannya.
Penjaga tersebut menunduk dan meletakan dua buah kapaknya di meja di depannya. Dia tidak mengatakan apa pun dan kembali duduk di kursinya. Balefire sendiri meraih kedua kapaknya dan meletakkannya di sampingnya.
Balefire berkata pelan selagi membuka pintu di depannya dan setengah berlari mengejar atasannya,
“Entah apa yang perempuan pirang itu lakukan di atas sana kali ini…”
Kronik Situs-79
Bab 4: Pelanggaran Penahanan
« Permintaan Duel Tybalt | Makam dan Racun Untuk Berdua |




