Lupa
rating: +9+x

Aku lupa.

Ja, aku lupa. Tapi tak salah pula, sebab anak muda, dari mana pun asal mereka, senantiasa merasa tahu semua.

Ja, aku lupa. Lupa djika uang bukan segalanja, lupa djika tjara² tjepat ada harganja.

Ja, aku lupa. Sekali lagi, tak sepenuhnja salah djuga, karena nasehat orang tua masuk kuping satu dan keluar kuping satunja.

Ja, aku lupa. Lupa bilamana alam itu udzur, dan manusia pendek ingatan, djuga umur.

Ja, aku lupa. Masih menolak salah, meski seperkawanan tidak semua sepakat dan hanja butuh satu "tidak" supaja tak mengikat.

Ja, aku lupa. Lupa segala kisah dan cerita, jang terdahulu dan lampau tentang manusia.

Ja, aku lupa. Sekian kalinja merasa tak berdosa, karena harta bak sudah di depan mata, tjukup mentjari tanpa perlu kerdja.

Ja, aku lupa. Lupa adjaran agama dan tuturan legenda, serta semua pembeladjaran di dalamnja.

Ja, aku lupa. Tetap teguh membenarkan perilaku diri, apalagi jang perlu ditjari (dan ditjuri!) djelas sekali: besi.

Ja, aku lupa. Lupa bagaimana kita kini berada, pada perdjuangan dan derita menudju merdeka.

Ja, aku lupa. Tak mungkin mengaku salah, walau tak lelah bantu ini itu semuanja, perlengkapan dan denah dan arah.

Ja, aku lupa. Lupa seribu satu derita: abai pada sengsara sesama manusia jang begitu hebatnja.

Ja, aku lupa. Tentu 'ku tak berbeban salah maupun dosa; masakan harta kulepas hanja gegara ada tengkorak manusia di bawah rel kereta?

Ja, aku lupa, bagaimana rasa girangnja kita semua setelahnja, dan

Ja, aku lupa, bagaimana tjepatnja kita susuri itu djedjak rel kereta, dan

Ja, aku lupa, bagaimana tjara turun kita jang begitu tjerobohnja, dan

Ja, aku lupa, bagaimana gesitnja tebasan kita pada tumbuhan, kiri kanan, dan

Ja, aku lupa, bagaimana kerasnja sumpah serapah kebahagiaan kita, dan

Dan …

Dan ja, aku tidak lupa, ketika puluhan tulang belulang bangkit dari kubur deritanja,

Dan ja, aku tidak lupa, ketika tungkai ratusan didjulurkan dan belatung djutaan disodorkan,

Dan ja, aku tidak lupa, ketika ditatap rasa lapar jang tak terkira dari lubang mata,

Dan ja, aku tidak lupa, ketika tiap sentuhan mereka patahkan tangan dan putuskan kaki,

Dan ja, aku tidak lupa, ketika 'ku sendiri (hati tjiut dan ternjata pengetjut!) pun kabur berlari,

Dan ja, aku tidak lupa, ketika 'ku lihat hasrat terpuaskan: makan, makan, makan kalian! Gigi tjabik kiri, tangan tjabik kanan; dada habis dan paha terkikis; paru lezat dan usus nikmat! Tak perlu banjak memilih: betis, lengan, djantung, rusuk, djari! Pesta, pesta raja: bak belatung sambal berlumur darah, makan kalian semua tanpa sisa, libas seluruhnja dan telan tiada!

Oh ja, 'ku takkan lupa, bagaimana lapar tertjukupi sehabis mati tanpa arti di podjok derita Nusantara:
Kini kenjang, sekenjang-kenjangnja ribuan pasang tulang-belulang—para hamba-paksa negeri Sakura!

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License