Luka Lama, Luka Baru, dan Luka Yang Akan Datang
rating: +1+x

“Bagaimana kau mendapatkan lukamu?”

“Luka?” Seorang pria muda menjawab. Dia mengusap dagunya selagi berpikir apa maksud pria yang lebih tua yang tengah duduk di sisi seberang meja.

Dia tidaklah memiliki luka apa pun.

“Maaf, aku tidak mengerti apa maksud pertanyaanmu.” Pria yang lebih muda akhirnya berkata.

“Kebencianmu. Luka hatimu.” Orang di depannya menjawab. “Kau tak perlu berbohong. Kita berdua psikolog, meski untuk kasusmu cuma gelar semata.”

“Menggelikan…” Yang muda berkata pelan selagi terkekeh. “Kalau begitu kau pun tahu, seperti yang orang biasa katakan…”

“…Aku tidak punya hati.”

Pria di depannya hanya tersenyum. Dia kemudian berkata, “Kau tahu, saat kau pertama ditugaskan di sini. Aku membaca dokumenmu.”

“Isinya sangat menarik perhatianku dulu sehingga aku memutuskan untuk menjadi atasanmu.” Lanjutnya.

“Begitu ya,” Pria yang muda tersenyum. “Jadi aku cukup menarik diantara para idiot yang kalian terima?”

“Kau orang pertama yang berani mempercepat seleksi dalam satu malam.” Lawan bicaranya berkata. “Dan hanya orang yang tak memiliki apa-apa yang berani mengambil risiko sebesar itu.”

“Jadi katakan, apa yang menyebabkanmu berjalan sampai sejauh ini? Apa yang membunuh hatimu?”

Pria muda di ujung meja diam. Kemudian dia perlahan terkekeh. Akhirnya dia berkata, “Bapakku seorang pemimpin… dan seorang tirani. Suatu malam dia bertingkah cukup liar dari biasa. Emak hanya bisa bicara untuk membela dirinya.”

Dia tertawa pelan. “Dia tidak menyukainya. Tidak, sedikit, pun.”

Dia bersandar di kursinya. “Jadi aku hanya menyaksikan dia memukulinya dan melampiaskan segalanya. Setelah dia tidak bergerak, dia berjalan ke arahku dan dia berkata, ‘Kau peduli dengannya?!’. Dan dia memukuliku juga selagi menanyakan itu.”

Pria yang lebih tua menatap lawan bicaranya yang tersenyum selagi menceritakan hal itu. Akhirnya dia berkata, “Kau tahu aku bisa mengetahui kalau orang bohong atau tidak.”

“Artinya kau tahu aku mengatakan yang sebenarnya.” Yang muda hanya mengangkat bahunya.

“Senyum itu sebuah kebohongan, sebagai permulaan.”

Pria muda itu hanya menatapnya selagi senyumnya memudar. Mereka diam saling menatap.

“Terserah kau saja.” Katanya selagi berdiri dari kursinya dan berjalan menjauh.


“Bagaimana kau mendapatkan lukamu?”

Seorang pria tersentak begitu mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. Dia menoleh ke arah orang yang bertanya selagi bertanya, “Maaf, anda mengatakan sesuatu, Pak Louis?”

“Tadi gue nanya, lu dapat tu luka gede dari mana sih, Bale?” Louis menjawab. Dia tidak menatap ke arahnya, melainkan ke arah monitornya. Sepertinya dia perlu sesuatu untuk mengisi keheningan ruangan mereka.

Bale sendiri kembali ke monitornya. Dia berpikir sebentar selagi mengusap dagunya. Masker medis yang kini harus dikenakannya terasa sedikit mengganggu baginya.

“Aku punya pacar dulu.”

Terdengar suara berisik di sebelahnya, seperti suara kursi berputar. Itu diikuti suara Louis yang bertanya, “Kau serius? Kau?”

Bale hanya terkekeh. “Yah, kau bisa bilang begitu.”

“Jadi, dia selalu khawatir denganku yang sedikit workaholic. Dia merupakan seseorang yang berjiwa bebas. Sayangnya itu menyebabkan dirinya mendapat masalah dengan orang lain, dan suatu hari orang-orang itu memojokkannya. Untungnya aku ada di sana untuk menolongnya.”

Dia tertawa pelan. “Dan dia lari meninggalkanku.”

Dia menjauh dari monitor. “Dia menikamku dan lari menjauh, meninggalkanku untuk mati di sana sementara dia di luar sana.”

Bale tidaklah peduli Louis menatapnya selagi dirinya menceritakan hal itu. Akhirnya Louis berkata, “Lu nyoba ngehina gue?”

“Maaf?” Bale memutuskan untuk menoleh ke arahnya.

Louis menatapnya untuk beberapa saat. Akhirnya dia berbalik dan berkata “Entahlah, ceritamu itu lho, mengingatkanku akan Stellia… dan gue…”

Tiba-tiba dia tersentak dan berkata, "Ah, udah! Sana balik kerja!"

Bale memutuskan untuk kembali menatap ke arah monitor.

“Terserah kau saja.” Katanya selagi mengangkat bahu dan kembali bekerja.


“Bagaimana kau mendapatkan lukamu?”

Seorang perempuan bertanya. Orang yang tengah duduk di sampingnya mengenakan jas lab khas peneliti. Dia menatap ke samping, mengamati perempuan tersebut yang mengenakan pakaian teknisi situs. Akhirnya dia bertanya, “Maksudmu?”

“Luka pipimu itu. Bagaimana kau mendapatkannya, Zakaria?” Dia bertanya.

Zakaria hanya menatapnya selama beberapa saat selagi meraba pipinya yang terluka. Tetapi dia kemudian kembali fokus ke makanan kantin di depannya.

“Kecelakaan kerja.”

Tidak ada balasan untuk beberapa saat. Zakaria merasa penasaran akan itu sehingga dia melirik ke arahnya. Perempuan di sampingnya sepertinya tengah memikirkan sesuatu karena jawabannya.

Lebih mudah dari biasanya…

“…Maaf bertanya mengenai itu…” Dia mendengar suara pelan.

“Terserah kau saja.” Katanya selagi mengangkat bahu dan fokus ke makanannya.

Kronik Situs-79

Setan Bangkit
« ??? | Luka Lama, Luka Baru, dan Luka Yang Akan Datang | ??? »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License