Kisah Dua Kapal
rating: +1+x

“Kamera siap?”

“Tampilan jernih.”

“Baik… mulai.”


“…Percobaan nomor 14, pengeboran objek untuk mengetahui efek resistensinya terhadap energi kinetik dari bor.”

Seorang perempuan memegang alat perekam selagi dia bicara. Meskipun hanya sedikit saja selisihnya, dia adalah yang paling tinggi di antara empat orang laki-laki dan satu orang perempuan di ruang pengujian. Rambutnya yang hitam panjang terlihat kusut semakin mendekati ujungnya.

“Sebagai catatan, mata bor diposisikan agar menyentuh permukaan objek sehingga sudah ada kontak fisik terhadap kedua objek selama pergerakan bor.”

Dia masih belum melepaskan alat perekam yang dipegang tangannya yang diselimuti sarung tangan kulit berwarna cokelat. Tangan kirinya mengisyaratkan orang di depannya untuk mulai menyalakan mesin bor duduk di depan mereka.

Di meja mesin bor tersebut, tergeletak panci dengan satu gagang yang sudah dimiringkan. Berbahan besi, terlihat dari warna gelap dan cahaya lampu ruangan yang dipantulkannya. Mata bor menyentuh sisi pinggirannya, bersebelahan dengan area tidak rata berpermukaan rusak berdiameter sekitar 1 cm hasil dari percobaan sebelumnya.

Bor terus berputar di atas panci tersebut dan akhirnya mulai memercikan api, menandakan lawan bor tersebut memiliki kepadatan sepadan. Orang yang mengoperasikan bor di sisi seberang meja terus mencoba memutar pegangan yang berada di sisi kiri alat untuk menurunkan posisi bor, tetapi terlihat bahwa dia tidak berhasil sedikitpun dari tampangnya yang kesulitan dan posisi kedua tangannya yang tidak bergerak sama sekali semenjak awal.

Orang kedua yang berdiri di dekatnya ikut mencoba memutar pegangannya juga, tetapi posisi pegangan tetap tidak berubah.

Perempuan yang memegang perekam tersebut memandangi mereka. Bisikan kecil terdengar darinya.

“…Empat puluh tujuh, empat puluh delapan, empat puluh sembilan…”

Dia terus memandangi mereka berusaha sekuat tenaga memutar pegangan bor sembari terus menghitung.

“…lima puluh sembilan, enam puluh. Baik, hentikan bornya.”

Orang kedua yang ikut mencoba membantu tadi mundur sementara rekannya yang pertama bekerja tadi langsung melepas pegangannya dan mematikan bornya.

Dia menarik pegangan tadi ke arah sebaliknya tanpa kendala sedikitpun. Setelah bor benar-benar mati, dia menarik keluar panci tadi dan meletakannya di meja.

Semua orang, termasuk perempuan tadi mendekati meja untuk melihat hasil pengeboran barusan.

Tidak ada bekas sedikitpun dari pengeboran tadi.

Suara hembusan nafas keluar dari perempuan tersebut sebelum mendekatkan perekam di tangannya dan berkata,

“Hasil pengeboran kali ini juga tidak menunjukkan efek apa pun pada objek. Penggunaan tekanan bergaya kinetis dinyatakan tidak bekerja. Pengujian akan terus dilakukan.”

Dia akhirnya mematikan perekamnya dan meletakannya di meja. Dia kini menatap orang-orang di sekitarnya.

“Tugas kalian sudah selesai sekarang, kalian boleh pergi.” Katanya.

Orang-orang di ruangan mulai keluar dari ruang pengujian. Yang tersisa di ruangan hanyalah perempuan tadi dan seorang perempuan lain yang lebih muda dan pendek darinya. Dibalik jas lab yang dikenakannya, dia mengenakan celana hitam dan kemeja putih yang dilapisi jas biru tua. Rambutnya yang sepertinya pada awalnya diwarnai kuning emas sudah lama pudar, menyisakan setengah warna kuning kecokelatan di pertengahan rambut panjangnya.

“Ga ikut keluar, Kak Erlina?” Perempuan muda itu berkata.

Orang yang ditanyanya awalnya menggeleng, “Nungguin orang ngambil rekaman percobaan dulu. Kau duluan aja, Lucy.”

“Ga perlu ditungguin ga ke mana-mana juga rekamannya, kan?” Lucy kembali menawarkan.

Erlina diam mempertimbangkannya sebelum pada akhirnya berkata, “Ya sudah.”

Dia ikut melangkah keluar bersama Lucy. Mereka berjalan beriringan di koridor panjang berwarna abu-abu yang diterangi sederet cahaya lampu di atas mereka.

Lucy menatap sekilas ke arah sarung tangan kulit yang dikenakan Erlina sebelum melihat ke arah wajahnya. Rambutnya yang disisir ke kanan tidak bisa sepenuhnya menutupi sekumpulan bekas luka goresan di sisi kanan wajahnya, apalagi di sisi kirinya. Lucy kembali melihat ke arah sarung tangan kulit Erlina, mengetahui kedua tangan dan lengannya juga mungkin dipenuhi bekas luka goresan. Erlina tidak pernah mau membuka kedua sarung tangannya di depan siapa pun dan selalu mengenakan jas labnya yang menutupi seluruh lengannya.

Sebuah insiden lama, setahun sebelum Lucy bekerja di sini. Erlina merupakan satu diantara dua peneliti junior yang terkena insiden dengan salah satu objek yang diteliti mereka. Ternetralisir, tetapi karena meledak dan membuat kaca pembatas ruang pengujian dan observasi pecah menjadi ratusan keping. Pecahan kaca tersebut kabarnya menghujani dua orang peneliti junior yang mengamati percobaan tersebut.

Erlina adalah korbannya, dan cuma dia yang selamat; rekannya tidak beruntung karena terkena pendarahan di titik vital. Erlina juga beruntung mengenakan kacamata pelindung berbahan plastik dan kebetulan memegang papan klip yang melindungi bagian dadanya. Tetap saja, beberapa lukanya terlalu dalam sehingga dia mendapat cukup banyak jahitan di mana-mana.

Sekarang dia sudah menjadi peneliti biasa, dan Lucy yang saat ini masih peneliti junior ikut bekerja membantu penelitiannya.

“Jadi, selanjutnya apa, Kak?” Lucy memutuskan untuk membuka pembicaraan, “Penelitian tadi, selanjutnya apa?”

“Yah, benda itu kebal tekanan, cukup umum. Selanjutnya adalah melanjutkan kesuksesan percobaan sebelumnya.” Erlina membalas.

“Percobaan 12?” Tebak Lucy.

Erlina mengangguk, “Ya, cairan asam. Mampu merusaknya sedikit. Seperti hipotesisnya, artinya benda itu bukannya memiliki tingkat densitas tinggi, tetapi tidak terpengaruh gaya kinetis yang diberikan terhadapnya. Alasan mengapa segala jenis peluru sampai bor tidak berpengaruh sama sekali padanya.”

“Heh, pantas ditemukan saat tawuran dulu. Entah siapa yang membuat itu…” Lucy menanggapi, mengingat bagaimana panci itu didapatkan.

“Tidak peduli siapa yang membuatnya, ini cuma satu dari ratusan benda takterhancurkan yang kita punya.”

Lucy berpikir sejenak, “Jadi ia akan berakhir di daftar objek beranomali saja?”

Kali ini terdengar hembusan nafas dari Erlina, “Kemungkinan besar iya. Kecuali ada properti anomali lain yang menarik darinya, dia tidak akan mendapat designasi dan PPK standar SCP biasa.

Mereka kini ada di persimpangan koridor, Lucy yang mau melangkah ke kanan awalnya ingin bertanya tujuan Erlina, tapi melihatnya yang juga ikut menuju ke kanan, Lucy tahu tujuan mereka sama.

“Jadi, apa rencana percobaan berikutnya, Kak?” Lucy mengganti pertanyaannya.

“Membakarnya.” Erlina membalas singkat. Lucy hanya menatapnya bingung.

Erlina menyadari kebingungan Lucy dan melanjutkan, “Konsentrasi api pada satu titik mungkin mampu melubanginya. Patut dicoba, bukan?”

“Yah, bisa sih.”

Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda di sisi kiri koridor. Plakat bertuliskan ‘Kantin’ berada di atas pintu tersebut. Lucy memutuskan untuk membukanya dan menahan pintu untuk seniornya masuk.

“Aku akan mengambil sup, kau?” Erlina bertanya selagi berjalan mendahuluinya.

“Kali ini bakso seporsi dan seperti biasa, donat sekotak.”

Erlina duluan mengantri, diikuti Lucy dibelakangnya; ada dua orang lagi di depan mereka. Selagi menunggu, Lucy melihat ke sekelilingnya. Beberapa orang – entah pakai jas lab atau tidak – memenuhi beberapa meja kantin. Dia juga melihat satu-dua orang dengan seragam putih yang ditutupi rompi hitam. Helm dengan visor kuning khas personel keamanan Yayasan diletakan entah di meja atau di samping mereka selagi mereka makan.

Tidak ada yang merokok di kantin, karena semua personel tahu mereka hanya boleh melakukannya di tempat yang dikhususkan. Sebagian personel lain yang tidak dia lihat mungkin menghabiskan waktunya di luar situs.

Di tengah fokus pikirannya yang tengah memandangi kehidupan situs, dia menyadari Erlina yang berada di depannya sudah mulai berjalan menjauh. Kini gilirannya untuk maju.

Dia sudah siap memesan ketika dia mendengar namanya dipanggil dari belakang.

“Lucy! Sini bentar!”

Lucy tentu saja menoleh ke belakang; di belakangya melambai seorang perempuan dengan rambut pendek di dekat pintu. Seragam yang dikenakannya adalah seragam putih personel keamanan. Bukan seragam putih personel situs, tetapi seragam putih satpam umum.

Lucy menoleh kedepan sekilas, memutuskan pesanannya bisa menunggu selagi dia keluar dari antrian untuk mendekati orang yang memanggilnya.

“Kenapa, Da?” Lucy bertanya padanya.

“Harper nyari lu tadi. Padahal kan gue baru juga turun dan pengen makan dulu sebelum istirahat selesai. Untung aja lu memang di kantin, jadi gue ga perlu nyari jauh-jauh.” Dia menatap ke arah kirinya.

“Hahhh… Harper. Mo ngajak makan siang lagi dia?” Lucy merespon dengan malas.

“Yah, kalau iya, dia juga yang bakal bayarin.” Balas lawan bicaranya.

“Dia palingan ngajak makan di kantin atas doang. Kan ribut jam segini.” Lucy membantah.

Perempuan di depannya mengangguk paham, “Ya memang lagi jam istirahat kerja sih. Tapi kalo lu tolak ga masalah, kan?”

Lucy menggeleng, “Masalahnya gue yang ga enakan ma dia. Lu tau sendiri kan, Da?”

Lawan bicaranya hanya mengangkat bahu, “Ya sudah, itu dia nunggu di simpangan koridor. Gue makan dulu ya, Luc. Nyempetin waktu istirahat sebelum balik ke atas.”

Lucy mendorong salah satu pintu di depannya dan berkata, “Yah, makasih ya, Hilda.”

Mereka pun masing-masing berjalan ke arah yang berlawanan. Lucy kembali berjalan menyusuri koridor. Dia beberapa kali berpapasan dengan personel lainnya yang menuju ke kantin. Dia lebih memilih makan siang di kantin situs; lebih tenang daripada di atas, mau di manapun itu.

Di ujung koridor Lucy bisa melihat seseorang berdiri di ujung koridor. Dia cuma bisa melihat bagian belakangnya yang Sebagian besar ditutupi jas coklatnya, tetapi dari buku tebal berwarna gelap yang selalu dipegang tangan kanannya, Lucy tahu itu Harper. Hanya dia yang membawa buku peraturan situs ke mana pun dia pergi.

“Tadi nyari, Har?” Lucy bertanya dari belakang.

Harper tersentak sejenak sebelum langsung berbalik. Dia mengenakan kemeja putih seperti Sebagian besar personel lain di situs ini. Dia beberapa tahun lebih tua darinya.

“Eh, Lucy. Iya.” Dia berkata tiba-tiba.

Satu hal yang Lucy baru sadari adalah ekspresi Harper terlihat khawatir. Jadi dia langsung bertanya, “Ada apa memangnya, Har?”

Harper tidak langsung menjawab. Dan setelahnya dia malah balik bertanya, “Lucy, lu beberapa hari ini ga buat masalah apa-apa, kan?”

Lucy tentu saja terkejut mendengar pertanyaan itu dan langsung membalas, “Eh, ga ada. Kerjaku seperti biasa sih. Emangnya ada apa?”

Lucy tahu Harper bukan personel biasa; dia adalah kepala keamanan situs ini. Teknisnya atasan seluruh personel keamanan termasuk temannya Hilda. Uniknya adalah dia tidak bersikap berwibawa setingkat jabatan tingginya dan malah seringnya terlalu banyak bertanya dan menyerahkan tugasnya ke bawahannya.

“Jadi tadi gue dipanggil direktur ke ruangannya dan diminta untuk manggil lu ke ruangannya.” Harper menjelaskan.

“Pak Direktur nyari gue? Kenapa?” Lucy sontak bertanya kebingungan.

“Nah itu, tadi gue nanya buat apaan, dibilang panggil aja dulu. Tapi dari mukanya gue ada firasat buruk sih.” Jawab Harper selagi menggaruk kepalanya.

“Jangan ditakut-takuti gue, oy.” Lucy merespon dengan kesal, raut khawatir mulai muncul juga di mukanya.

“Ya, tenang aja. Jika lu ga bikin masalah apa-apa, ga usah khawatir, kan?” Kali ini dia menoleh ke arah lain, “Gue takutnya kalau lu dikasih proyek berbahaya aja.”

Lucy menggeleng, “Nahh, gue ga yakin atasan gue bakal ngizinkan itu. Tapi ya sudah.” Dengan itu dia beranjak menuju ruangan direktur. Dia tidak terlalu memikirkan perkataan Harper; dia tahu sifatnya yang over reaktif. Tetap saja, dia penasaran apa yang direktur ingin sampaikan dengannya.

Ruang direktur berada di pojok situs ini. Cukup memakan waktu, tetapi dia sampai di ruangannya. Penjaga di depan ruangannya sepertinya mengharapkan kedatangannya sehingga menepi untuk membiarkannya membuka pintu dan masuk ke dalam.

Sebuah meja besar berada di ujung ruangan itu. Di satu sisi terdapat dua kursi berbantal kulit hitam dan di sisi lainnya terdapat sebuah kursi dengan sandaran lebih tinggi. Duduk di sana seorang pria tua dengan rambutnya yang keseluruhannya sudah putih. Dia memakai kacamata dan jas putih. Pandangannya lurus ke arah Lucy yang baru masuk ke ruangan.

Papan nama di mejanya terbuat dari kayu berlapis plastik. Tertulis di sana,

Direktur Situs-84
M. Ishak

Keduanya tidak berkata apa-apa untuk sesaat. Lucy menutup pintu ruangan dulu dan duduk di kursi sebelah kirinya. Baru dia berkata, “Jadi, ada perlu apa ya, Pak Direktur?”

Sang Direktur tidak langsung menjawab, dia mulai menunduk dan mengambil sekumpulan kertas di mejanya.

“Lucia, bagaimana pendapatmu mengenai situs ini selama karirmu di sini sejauh ini?” Dia bertanya.

Lucy, merasa dia mencoba membuka pembicaraan, membalas, “Situs ini menurut saya merupakan situs yang baik. Cukup aman dan tenang. Bagian bawah, tentu saja. Bagian atas selalu sibuk 24 jam.”

Sang direktur mengangguk. Dia melanjutkan, “Begitu ya… Memang tenang. Tetapi kita harus siaga setiap saat karena kita tidak tahu kapan kita diperlukan nanti.”

Lucy tahu apa yang dia maksud, “Oleh 79?”

Kali ini Sang Direktur mengangkat mukanya untuk menatap Lucy, “Itulah tujuan situs ini ada dari awal.”

Lucy tahu itu. Situs-84 adalah situs saudari mereka. Selain menjadi gudang penyimpanan objek anomali kelas rendah, Situs-84 harus siap membantu Situs-79 jikalau memerlukan pendampingan, entah dalam hal tambahan personel darurat atau penanganan personel terluka berskala masif.

Itulah mengapa kover situs ini adalah rumah sakit.

“Dan kali ini adalah kehormatanmu, Lucia.” Sang Direktur melanjutkan. “Kau yang akan menolong Situs-79 nanti.”

Entah kenapa Lucy tidak langsung tersentak. Tetapi tetap saja keringat dingin mulai mengalir di wajahnya. Dengan senyum gugup, dia mencoba mengonfirmasi apa yang dia dengar, “Maksud Pak Direktur?”

Kali ini Sang Direktur kembali menunduk menatap kertas-kertas yang masih dipegangnya. “Situs-79 mengontak baru-baru ini. Mereka perlu seorang peneliti junior dan ingin tahu apakah kita bisa membantu mereka mengenai itu. Keputusan akhir adalah kau yang akan berkesempatan membantu mereka.”

Lucy baru sadar tangannya gemetaran setelah tersadar dari lamunannya. “Saya?”

“Apa ada yang ingin kau sampaikan?” Lucy tidak sanggup menatap Sang Direktur meski dia tahu dia aslinya pria ramah.

Dia ingin menolaknya saat itu juga. “Tidak, saya cuma ingin tahu detailnya.”

Sang Direktur tidak merespon tanggapannya. Dia hanya diam sejenak sebelum akhirnya berdiri. Melangkah membelakangi kursinya, dia berdiri diam mengamati sebuah lukisan besar di belakangnya. Sebuah lukisan yang menggambarkan dua buah kapal layar di tengah badai.

“Apa pendapatmu mengenai Situs-79?”

Lucy tahu Sang Direktur akan menanyakan hal itu, dia sudah menyiapkan jawabannya.

“Situs berkeamanan tinggi terbaik-“

“Apa pendapatmu mengenai Situs-79?” Sang Direktur memotongnya untuk menekankan poin itu.

Lucy tahu direktrurnya cukup pengertian, dan dia tidak ingin mengetes kesabarannya.

“Sebuah neraka. Itu yang ku dengar.” Jawab Lucy.

Sang Direktur akhirnya menoleh ke arah Lucy dan tersenyum, membelakangi lukisan tadi. “Sayangnya seperti itu kenyataannya.”

Dia akhirnya kembali duduk. Lucy bisa menebak apa yang akan dikatakannya selanjutnya.

“Lucy, ingatkah kau mengenai kisah dua buah kapal?”

Lucy menghela nafas; dia tahu kisah itu. Sang Direktur selalu menceritakannya kepada personel baru situs ini. Meski cuma sekali saja mendengarnya, Lucy ingat sebagian besar kisahnya. Oleh sebab itu dia mengangguk.

Sang Direktur berbalik ke belakang, menatap lukisan di belakangnya lagi. “Terdapat dua buah kapal mengarungi lautan.”

Lucy menunduk. Dia akan menceritakannya lagi…

“Kapal terdepan berukuran besar, dengan lambungnya dicat penuh ornamen berwarna merah. Layarnya yang megah mengembang tertiup angin. Di belakangnya berlayar kapal lebih kecil dengan ornamen dan layar berwarna putihnya.” Sang Direktur terus bercerita.

“Sang kapal merah terus berlayar menembus ombak ganas lautan, melewati badai dan topan, dan ancaman apa pun di depannya. Dan kapal putih di belakangnya dengan aman mengikuti jalur pelayaran kapal di depannya. Karena semua itu, kapal merah terus mendapat kerusakan di lambungnya.”

“Sang kapal putih selalu mencoba untuk menyejajarkan posisi kapalnya untuk membantu perbaikan kapal merah, tetapi kapal merah tersebut tidak pernah mau melambat. Entah kenapa, sang kapal merah selalu ingin di depan kapal putih. Mungkin rasa peduli, mungkin rasa egois, mungkin rasa iri. Sang kapal merah terus berlayar maju tanpa berhenti.”

Akhirnya dia kembali menatap Lucy, “Suatu hari, kerusakan kapal merah sudah terlalu parah dan tiba-tiba saja lambungnya hancur. Kapal putih yang hampir mendekatinya pada akhirnya tidak sempat melambatkan diri sehingga menabrak kapal merah dari belakang. Keduanya akhirnya tenggelam.” Dia akhirnya mengakhiri ceritanya.

Lucy tidak memiliki komentar atas akhir ceritanya. Dia menunggu poin Sang Direktur selagi memikirkan nasib dirinya sendiri kedepannya.

“Direktur Situs-79 merupakan teman baikku dulu, setidaknya aku menganggapnya begitu.” Sang Direktur melanjutkan. “Sayangnya dia pria yang keras kepala. Aku tahu betapa susahnya menangani Situs-79 pasca statusnya dinaikan jadi situs penahanan keter, makanya aku terus menawarkan bantuan kita pada mereka.”

“Sayangnya kita bahkan tidak ikut berkontribusi pasca insiden besar terakhir mereka. Kita hanya bisa membantu dengan menjadi gudang anomali mereka.”

Itu menarik perhatian Lucy yang tengah putus asa mencoba memikirkan hal lain selain karirnya. Kepopuleran Situs-79 memang bukan dalam artian baik, tetapi tetap saja situs itu populer. Banyak situs mengirimkan anomalinya ke sana entah kenapa. Lucy awalnya mengira mereka cuma menaruh anomali di sana karena namanya saja kebetulan terkenal meski pada akhirnya Lucy tahu Situs-79 awalnya adalah situs penahanan kelas safe seperti Situs-84 saat ini sehingga wajar saja mendapat perlakuan seperti itu.

Tetapi Situs-79 mendapatkan terlalu banyak dan akhirnya memilah-milah anomali mana yang pantas disimpan di situs itu; Lucy sendiri tidak tahu apa kriterianya. Sisa anomali yang diterima Situs-79 berakhir di situs ini meskipun dokumen artikel anomalinya menyatakan mereka masih di Situs-79.

“…Tapi akhirnya kesempatan itu datang.” Sang Direktur kembali membuyarkan lamunan Lucy. “Kau akan mulai tinggal dan bekerja di sana besok. Apa ada yang ingin kau tanyakan?”

Lucy awalnya ingin langsung saja menolak, tetapi dia tak kuasa menahan dirinya untuk tidak bertanya.

“Kenapa saya, Pak?” Dia mencoba agar getaran di suaranya tidak terdengar jelas.

Sang Direktur diam. Ekspresi wajahnya bukanlah amarah, tetapi iba. Dengan lembut dia menjawab, “Kau adalah anak yang baik, Lucy. Personel yang aku yakin bisa membawa perubahan. Aku dan atasanmu rasa kau bisa membawa perubahan itu ke situs temanku yang diterjang badai.”

Satu kata dari Sang Direktur menarik perhatiannya, “Apa pendapat atasan saya mengenai pemindahan ini?” Dia bertanya cepat.

Sang Direktur diam sejenak sebelum membalas, “Dia yang menyarankan dirimu untuk dikirimkan ke Situs-79.”


“Tapi itu kan ga adil!”

Suara Hilda terdengar nyaring di koridor sepi yang tengah dia, Lucy, dan Harper lewati. Mereka berdua sudah mendengar dari Lucy mengenai keputusan mendadak direktur saat Lucy kembali ke kantin tanpa memesan apa pun. Dan kini Lucy tengah berjalan menuju ruang atasannya.

“Itulah kenapa gue mau nanya langsung ke dia.” Lucy berjalan bergegas dengan tangan terkepal. Awalnya dia pasrah menganggap ini adalah keputusan absolut dari direktur, tetapi mendengar bahwa atasannya yang merekomendasikan dirinya, dia harus menghadapi atasan langsung untuk menanyakannya.

“Tapi kenapa lu yakin mau ngajuin banding ke dia?” Harper yang berjalan di paling belakang bertanya.

“Yang jelas dia ga bisa seenaknya gitu, dong!” Hilda kembali membantah, sudah lama tidak memedulikan fakta bahwa Harper adalah atasannya. “Seharusnya dia minta pendapat Lucy dulu sebelum mengirimnya ke-“ Hilda diam sejenak. Dia melihat ke sekeliling sebelum melanjutkan dengan pelan, “…neraka itu.”

Meskipun semua personel Situs-84 sudah pernah mendengar kisah dua kapal dari direktur, tetap saja julukan yang populer digunakan untuk merujuk Situs-79 adalah neraka. Semua situs terdekat sampai situs di Jakarta pun menjulukinya begitu. Rumor yang menjustifikasi julukannya memang banyak, tetapi tidak ada konfirmasi apa pun mengenai kebenaran rumor tersebut.

“Yah… mau bagaimana pun, Lucy cuma bisa mengiyakan atasannya, kan?” Harper membalas dengan pasrah.

“Harper, sudahlah.” Lucy mengakhiri perdebatan mereka berdua. Dia mencoba menahan kekesalannya di hadapan mereka.

Mereka bertiga sudah berada di area kantor. Banyak meja dengan sekat berada di sekeliling mereka. Lucy mulai mempercepat langkahnya untuk menuju ke ruang atasannya yang merupakan ruangan tersendiri, bersama peneliti senior lainnya yang terpisah dari kantor umum.

“Gue duluan ya.” Lucy menoleh ke belakang. Tangannya menggenggam gagang pintu dan dia pun masuk ke ruang atasannya.

Sebuah ruang kecil yang hanya berisikan beberapa rak dan seperangkat meja dan kursinya. Di depannya duduk seorang pria berusia 60-an yang mengenakan jas hitam yang tengah menulis sesuatu di kertas. Meski warna putih rambutnya sudah menjalar melampaui dahi berkerutnya sampai ke janggutnya, bahunya yang lebar membuatnya terlihat lebih muda.

Dan berbahaya.

Lucy menutup pintu ruangan, menyadari bahwa kunci ruangan masih berada di lubangnya. Dia langsung menguncinya begitu pintu sudah tertutup rapat.

“Jadi, penelitian panci mu sudah selesai sekarang?” Dia berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya dan menunggu Lucy duduk.

Lucy juga tidak berniat untuk duduk, karenanya dia langsung membalas, “Apa maksudmu memindah situs operasiku, Pak Robert?”

“Jadi kau sudah mendengarnya.” Dia tidak mengubah nada bicaranya juga.

Tangan Lucy mulai memegang sandaran kursi di sampingnya, “Perjanjiannya adalah aku bekerja untukmu di sini. Jadi kenapa kau mengirimku ke situs itu?”

Dia diam sejenak, keduanya saling bertatapan. Akhirnya giliran dia yang bicara.

“Perjanjiannya adalah,” Dia berhenti menulis, “Setelah kau lulus dari ICSUT, kau akan menjadi agen internal GOC di dalam Yayasan. Tidak ada detail kau akan ditempatkan di mana.”

“Ku kira itu sudah ditetapkan dengan aku ditugaskan di sini bersama kau.” Lucy membalas dengan emosi.

Atasannya kembali lanjut menulis, “Situs terakhirku adalah di Kalimantan, dan itu baru beberapa tahun lalu. Kau harus terbiasa dengan kehidupan ini.”

“Tetap saja, kenapa bukan kau saja yang pergi? Kau kan yang lebih senior?” Lucy kembali membantahnya.

“Jika mereka memerlukan peneliti senior, aku yang pergi.” Dia kembali menjawab. “Sayangnya mereka perlu peneliti junior.”

Lucy menggenggam erat sandaran kursi yang dipegangnya, “Sialan…”

Atasannya melirik ke arah Lucy sekilas sebelum lanjut menulis dan berkata, “Kenapa? Kau terlalu terikat di situs ini?”

Lucy mengalihkan pandangannya. Itu salah satu alasannya, alasan lainnya tentu saja karena situs tujuannya.

“Tidak. Hanya saja apakah kau kira aku sanggup bertahan di Situs-79?”

“Cukup lama sampai kau menyelesaikan misi ini.” Dia membalas, mendapatkan perhatian Lucy.

Setelah menatap atasannya untuk beberapa saat, akhirnya Lucy memutuskan untuk duduk. “Oke, beritahukan aku detailnya.”

Atasannya hanya mengulurkan tangannya untuk meraih sesuatu di antara tumpukan kertas di mejanya. Akhirnya dia mengeluarkan secarik kertas kecil dan meletakannya di depan Lucy. Sebuah pasfoto.

“Sekumpulan pengkhianat GOC terafiliasi Insurgent baru-baru ini dieksekusi di daerah sekitar sini. Mereka biang kerok insiden besar di fasilitas Kalimantan yang lalu. Sayangnya ternyata satu orang masih hidup.” Dia menunjuk ke pasfoto di meja, “Ini adalah Dokter Zakaria. Dia saat ini berada di Situs-79. Berkas lengkapnya ada di sini, sayangnya kau tidak bisa membawa semuanya.”

Lucy meraih pasfoto di meja dan menatapnya, “Jadi aku hanya perlu merencanakan dan mengeksekusinya?”

Atasannya kembali menulis, “Tidak, todongkan dan tembak pun tidak masalah. Kami akan mengurus sisanya dan kau akan kembali bekerja di sini seperti biasa.”

Lucy diam sejenak mempertimbangkan hal tersebut. Akhirnya dia pun berkata, “Apa ada agen lain di sana atau cuma aku sendirian?”

Pertanyaan itu membuat atasannya berhenti menulis dan meletakan pulpennya. Dia terlihat memikirkan sesuatu sebelum berkata, “Sebenarnya ada, tetapi dia sudah dianggap MIA. Jadi kau memang satu-satunya untuk Situs-79 saat ini.”

“Tunggu tunggu, kau mengatakan padaku kalau kau pernah mengirim agen ke sana dan dia hilang tanpa jejak?!” Lucy menyela seketika.

“Dan tanpa kabar. Dia adalah agen senior dengan kode nama Harmonika. Selagi kau di sana, mungkin kau juga bisa mencari tahu informasi apa pun mengenai dia.”

Lucy meletakkan kembali pasfoto yang dia pegang, “Kau kejam, Pak. Kalian semua. Aku tidak siap untuk misi seberbahaya ini.”

Atasannya masih tidak memperhatikannya, tetapi dia berkata, “Kau harus siap. Lagi pula, kau tidak punya pilihan lain.”

Lucy diam, mengetahui atasannya benar. Dia terpaksa menjadi agen mereka pasca lulus ICSUT yang memang dibiayai mereka.

“Kau tidak perlu mengingatkanku lagi.” Lucy menunduk.

“Tidak,” Atasannya menyela, “Harus ku ingatkan lagi satu-satunya alasan kau dan ibumu masih hidup pasca ayahmu si tipe biru itu membobol fasilitas kami dengan biadab Insurgent itu adalah karena kami percaya kau punya bakatnya, meski masih belum muncul.”

“Kau tahu ayahku terpaksa…” Lucy membela dirinya dan keluarganya, tetapi dia tahu itu tidak akan pernah cukup.

“Sudahlah. Jadilah anak baik dan turuti perintahmu. Kau akan kembali ke sini jika tugasmu selesai.”

Lucy memikirkan perkataan atasannya untuk beberapa saat. Akhirnya dia pun mengangguk. “Kapan aku mulai?”

“Dua hari mulai sekarang. Sekarang kau bisa kembali istirahat, kubebaskan kau dari semua tugas.”

Lucy mengannguk dan berdiri dari kursinya. Dia pun melangkah keluar menuju pintu ruangan. Atasannya memandangnya sampai dia selesai menutup pintu dari sisi luar sebelum kembali lanjut menulis.

Di luar, Lucy bertemu dengan Hilda dan Harper yang tengah duduk bersandar di lantai menunggunya. Hilda langsung berdiri begitu pintu terbuka dan melihat Lucy keluar dari ruangan.

“Jadi, apa kata Pak Shaw?” Hilda bertanya.

Lucy menatap mereka berdua sejenak. Akhirnya dia berkata, “Aku dipindah untuk membantu sebuah proyek. Seharusnya aku akan kembali ke sini jika sudah selesai.”

Lucy bisa melihat mereka menghembuskan nafas lega sebelum Hilda berkata, “Yah, bagus sih kalau kagak permanen.”

“Jadi kapan kau mulai ke sana?” Giliran Harper yang bertanya.

“Lusa, seharusnya.” Lucy menjawab. “Pak Robert juga membebaskanku dari semua tugas supaya aku siap-siap.”

Kedua teman Lucy mengangguk mendengarnya. Perlu beberapa saat keheningan sampai Hilda yang memutuskan untuk berkata, “Lu tau? Kita punya setidaknya satu orang yang bisa ditanyai mengenai Situs-79 di sini, kan?”

Lucy paham yang dia maksud. Biasanya memang bukan personel Situs-84 yang pindah ke Situs-79, tetapi sebaliknya. Satu lagi hal yang Lucy herankan adalah personel dari Situs-79 yang pindah ke situs lain biasanya berpangkat senior semua, baik peneliti maupun agen. Situs-84 biasanya merupakan situs transit sebelum mereka dipindah ke situs yang lebih bagus lagi.

Lucy juga ingat fakta bahwa sedikit sekali personel yang keluar dari situs neraka itu. Metode apa pun untuk penyisihannya pasti berkontribusi pada julukannya.

Lucy dan dua orang temannya berjalan lagi, tujuan mereka kali ini adalah satu-satunya personel senior alumni Situs-79 yang menolak pemindahan ke situs lebih tinggi dan memutuskan bekerja di sini.

Tentu saja bekerja dengan jabatan kedua tertinggi sebagai wakil direktur situs.

Mereka memutar kembali menuju ruang wakil direktur yang berdekatan dengan ruang direktur. Hilda yang berjalan di depannya; dia lumayan sering berbicara dengannya. Lucy pernah bertanya apa yang mereka bicarakan.

“Jadi Hilda,” Lucy berkata dari belakang, “Apa lu mau sekalian ngajuin pindah situs lagi?”

Hilda menoleh ke belakang dan menggeleng, “Lu udah dikirim ke sana, mereka mana nyari lagi. Lagian kelihatannya gue perlu menunggu personel keamanan yang mati.”

Lucy mengangguk mengerti. Berbanding terbalik dengannya, Hilda lah yang ingin dikirim ke sana.

“Kenapa sih lu pengen amat pindah ke Situs-79, Da?” Harper yang masih berada paling belakang bertanya.

Kali ini Hilda tidak menoleh ke belakang dan langsung saja menjawab, “Kan sudah gue bilang, gue emang suka situs ini, tapi ga ada tantangannya gitu. Gue udah lulus pelatihan make senapan runduk, lho, yakali jadi satpam doang.”

Lucy kali ini menggeleng, dia tahu Hilda mengincar naik jabatannya yang terkenal cepat. Lagipula…

“Kan Situs-79 di bawah tanah; mereka mana perlu penembak jitu.” Lucy menyanggah.

Hilda mengangkat bahunya, “Yang penting ada kerjaan daripada ketiduran jaga pos di atas.”

Bersamaan dengan itu, mereka akhirnya sampai di depan ruang wakil direktur, satu ruangan lebih dekat daripada ruang direktur. Hilda mengetok pintunya dan masuk duluan, diikuti Lucy di belakangnya. Harper sendiri diam menunggu di luar.

Setelah masuk, yang duduk di depan mereka berdua adalah sang wakil direktur situs; seorang perempuan berusia sekitar 60-an, dengan keriput jelas terlihat di wajah tuanya. Dia membenarkan posisi kacamatanya dan sedikit condong ke depan saat mereka masuk, mencoba mengenali mereka mungkin.

“Ah, ehm. Nak Hilda bukan?” Dia berkata. Hilda mengangguk dan berkata, “Iya, Bu Miriam. Ini saya bawa teman saya, Lucia. Kami ada yang ingin ditanyakan.”

Lucy hanya mengangguk dan tersenyum ke arah perempuan tua di depannya. Mereka masing-masing duduk di dua kursi di depannya.

“Jadi, Nak Hilda mau bertanya mengenai kemungkinan pindah situs lagi?” Miriam bertanya.

Hilda menggeleng selagi tertawa kecil, “Sayangnya teman saya ini yang bakal dipindah ke sana. Kami ke sini ingin minta saran semacamnya gitu. Saran buat peneliti bisa bertahan di Situs-79.” Katanya selagi memegang pundak Lucy mendadak, membuatnya tersentak.

“Ah, namamu Nak Lucy, kan?” Miriam bertanya.

“Benar, Bu.” Lucy mengiyakan. “Atasan saya menugaskan saya untuk proyek di sana. Sementara saja sih, jadi saya yah… ingin tahu saja kehidupan di situs itu gimana.”

“Ah, saya mengerti…” Miriam diam sejenak selagi mulai menatap ke arah lain. Mungkin memikirkan harus memulai dari mana.

“Satu hal yang harus kau ketahui adalah kau tidak akan ditempatkan di lantai apa pun selain safe.” Miriam berkata. “Situs-79 memiliki tiga sub lantai, yaitu safe, euclid, dan keter. Itu bukan resmi, cuma penamaan umum saja. Mereka juga punya kebiasaan ketat mengenai penempatan personel, dengan personel baru selalu ditempatkan di lantai safe.”

“Anda yakin, Bu?” Lucy bertanya setengah ragu setengah harap. Dia suka nama lantai yang akan dia tempati.

“Yakin.” Perempuan tua di depannya tersenyum. “Situs-79 tidak seburuk itu, kok.”

Lucy perlahan mengangguk, meski semangat dadakannya mulai memudar juga mendengar kalimat terakhirnya. Mungkin saja wakil direktur mencoba menenangkannya saja dengan tidak mengatakan seluruh kebenarannya. Satu hal muncul di pikiran Lucy selagi dia memikirkan hal itu.

“Bu Miriam,” Lucy berkata, “Kenapa Situs-79 sebenarnya dijuluki Neraka?”

Miriam kembali terlihat berpikir seperti tadi. Akhirnya dia berkata, “Kalau kata suamiku dulu di sana, dia bilang Situs-79 bagai berfungsi sebagai pembersih dosa personel yang dikirimkan ke sana karena kesalahan mereka. Kau lihat sendiri kan mereka yang keluar adalah personel terbaik?”

“Itu… cukup filosofis.” Lucy menanggapi. “Kalau menurut Bu Miriam sendiri? Kan Bu Miriam pernah bekerja di sana juga?”

“Sayangnya saya sendiri minim pengalaman berkesan selama di sana. Keburu suami saya mengajukan saya pindah situs.”

Lucy menghela nafas. Dia ingin menanyakan lebih detail lagi mengenai pengalamannya, tetapi selain dia tidak ingin memaksakan perempuan tua di depannya untuk mengingat apa yang Lucy anggap masa kelamnya dulu, dia juga ingat diri kalau perempuan di depannya ini wakil direktur situs.

“Yah… Sepertinya dia pria yang baik, ya?” Lucy mengalihkan topik.

“Dia masih bekerja di sana, kau tahu. Mencoba membuat situs menjadi lebih baik.” Miriam membalas.

“Senang mendengarnya. Semoga saya juga bisa bertemu dengannya nanti.” Lucy mulai beranjak untuk pergi. Dia tidak tahu apalagi yang ingin ditanyakan. Hilda yang melihatnya ikut berdiri dan berkata, “Terima kasih sudah mau cerita pengalaman Ibu. Kami keluar, ya.”

“Oh, tidak apa-apa,” Miriam ikut berdiri selagi Lucy dan Hilda berjalan keluar, “Juga, satu hal lagi Nak Lucy.”

Lucy berhenti di depan pintu dan berbalik. Tangannya sudahh setengah membuka pintu ruangan. Hilda berjalan duluan keluar.

“Ya, ada apa, Bu Miriam?” Tanya Lucy segera.

“Tidak sulit mengenali suamiku. Jika kau ketemu dengannya, sampaikan salamku padanya, ya?”

Lucy mengangguk selagi berjalan ke luar untuk menutup pintu, “Ya, akan saya sampaikan jika memang ketemu dengannya.”

Suara pintu tertutup entah kenapa terdengar nyaring.


Lucy terbangun dari ranjangnya tiba-tiba. Dia langsung duduk dan menatap ke sekelilingnya, menyadari dia tidak berada di mess Situs-84. Dia masih mengenakan kaus putih dan celana pendeknya seperti biasa. Dia lalu melihat tiga buah tas yang sudah kosong di pojok dinding ruangannya. Seketika dia ingat,

Dia berada di Situs-79.

Dia kembali berbaring di ranjangnya.

Cuma todongkan dan tembak… Dia kembali teringat kata atasannya.

Dia menatap langit-langit kamarnya. Atasnnya mengatakan itu padanya karena dia tahu Lucy mempunyai kemampuan menembak yang bagus, buah hasil pelatihan sampingan dari GOC. Tetapi tetap saja, dia harus merencanakan dan mengeksekusi seseorang.

Seharusnya tidak lama.

Dia kembali menutup matanya untuk mencoba tidur, menolak memikirkan apa pun untuk malam itu.

Kronik Situs-79

Selingan 1
« Menggenapkan Keganjilan | Kisah Dua Kapal |

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License