Ketidaktahuan Adalah Kebahagiaan
rating: +2+x

Beberapa tahun silam

“Aku harus jujur denganmu,”

Seorang perempuan berseragam personel keamanan berdiri berhadapan dengan seorang pria yang mengenakan jas lab. Ekspresi sang pria menyelipkan sedikit kebencian di wajahnya, sedangkan orang yang diajaknya bicara jelas terlihat kebingungan. Suara pria itu terdengar antara kesal atau sudah lelah akan sesuatu.

“Tolong jangan mencoba mendekatiku lagi.”

Perempuan di depannya menatapnya dengan terkejut. “Tapi kenapa?!” Dia bertanya cepat. Dia ingin mendekat, tetapi sang pria mundur beberapa langkah.

“Kau mengikutiku ke mana-mana! Ke kantin, ke pintu keluar, ke kamar mandi, bahkan! Dan kau bahkan mencoba sembunyi! Kau kira aku tak menyadarinya dari balik helm penjagamu? Itu membuatku, entahlah, gugup?”

Perempuan di depannya masih menatapnya dengan bingung. Dia tidak tahu kenapa dia tidak boleh melakukannya. Dia menyukainya, dan dia kira pria itu juga.

“Tapi aku menyukaimu! Kok aku ga boleh mengikutimu?”

Lawan bicaranya terlihat terkejut mendengarnya, tetapi lalu terlihat jijik dan berkata, “Ga ada orang waras yang ngelakuin gituan! Dah, jangan mencoba mendekatiku lagi! Aku akan lapor atasanmu nanti.”

“Aku- aku minta maaf untuk itu.” Dia menundukkan kepalanya dan memelas. Lalu dia melihat ke arahnya kembali dan berkata, “Jadi, apa- apa kita bisa ketemuan nanti? Di kantin?”

“Eh, ngapain?!” Dia berkata dengan jengkel, jelas tidak benar-benar bertanya. “Dah lah. Jangan coba-coba mendekatiku lagi. Aneh ah.”

Perempuan itu tertegun mendengar kata terakhir yang pria itu katakan selagi berjalan menjauh dengan cepat.

Aneh, katanya…

Dia cuma menatap kosong ke arah koridor yang kini kosong tanpa orang.


Perempuan itu kini menatap ke arah sebuah meja yang berjarak jauh darinya di kantin. Dia hanya bisa mengamati dari kejauhan pria tadi, kini meletakkan makanannya di meja dan mulai makan. Perempuan itu sendiri duduk sendirian di mejanya. Memang selalu seperti itu dari dulu.

Tetapi kini ada seorang perempuan lain yang mengenakan jas lab yang kini duduk di sebelah pria itu. Mereka sepertinya berbicara dengan bebas. Berbanding terbalik dengan dirinya tadi. Sang pria terlihat tersenyum senang saat bersamanya. Dia menyukai senyum itu, tetapi dia tidak memahami kenapa dia tidak pernah tersenyum kepadanya.

Kenapa perlakuannya berbeda dengannya. Kenapa dia lebih peduli dengan perempuan itu. Dia lebih memedulikan pria itu daripada perempuan itu. Dia yang lebih sering mengamatinya daripada dia. Jadi kenapa, pikirnya.

Dia terus memandangi mereka selama setengah jam sampai mereka selesai makan. Ini seharusnya hal biasa baginya, tetapi kenapa kali ini terasa menyakitkan baginya.

Kedua pasangan itu beranjak pergi dan dia mengamati mereka pergi. Sesaat kemudian perempuan itu berdiri juga dari kursinya dan berjalan menuju kantin. Dia berjalan ke dalam dapur, menganggap bahwa sebagai personel keamanan, mereka seharusnya akan memakluminya.

Dia mengamati wadah penyimpanan pisau dapur selama beberapa saat. Para staf kantin sibuk lalu lalang di belakangnya, tidak memedulikan seorang personel keamanan di dapur mereka. Perempuan itu mengambil sebilah pisau dan memasukkannya di rompinya. Dia keluar dari kantin setelahnya.


“Agen Marianna,”

Perempuan itu menatap tiga orang pria berseragam jas hitam berdiri di balik meja besar. Dia sendiri berdiri di sisi lain meja tersebut. Dia dan mereka saling menatap, mereka yang menatapnya memiliki tatapan ketidaksenangan, sedangkan dia sendiri tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

“Kami di sini ingin menanyaimu mengenai pembunuhan dua orang peneliti di sel Kelas-D.”

Salah satu di antara mereka menunjukkan foto dua orang personel – mayat personel – ditumpuk jadi satu, pisau menancap di atas leher mayat teratas. Jas lab putih mereka didominasi merah darah.

“Salah satu Kelas-D kabur beberapa jam lalu dan berkeliaran di koridor. Dia sudah diamankan. Dia tidak memberitahukan siapa yang melepasnya. Lidahnya juga dipotong oleh siapa pun itu. Saat mengembalikannya ke sel Kelas-D barulah kami menemukan mayat mereka.”

“Lalu apa hubungannya denganku?” Perempuan itu menjawab tanpa ekspresi.

“Pake nanya-“ Salah satu pria di depannya seakan ingin maju, tetapi ditahan pria di tengah. Pria di tengah tersebut lalu menjawab. “Kami mendapat informasi kalau anda mungkin memiliki hubungan dalam kasus ini.”

Si perempuan tetap menatap dengan tenang. “Aku tidak mengenal mereka.”

Si pria di tengah menghela nafas sebelum dengan pelan menginstruksikan pria di sampingnya tadi mengambil sebuah foto. Foto dirinya saat di dapur tadi pagi, tangkapan kamera CCTV.

“Pisau yang tertancap di mayat mereka adalah pisau dari dapur kantin kita. Dan anda berada di sana. Anda mau mengakui sesuatu?”

Si perempuan masih menatap mereka, tidak menunjukkan ekspresi gugup atau marah. Hanya diam menunggu mereka selesai dan melanjutkan menjawab seakan hal tersebut tidak berarti apa pun.

“Tapi aku di kamar mess ku.” Katanya. Dia tahu mereka tidak bisa membuktikan dia keluar dari kamar mess.

“Kami tidak bisa membuktikan itu karena entah bagaimana kabel CCTV area mess putus, sayangnya. Tetapi jelas itu dipotong pisau. Mungkin oleh pisau yang sama yang digunakan untuk membunuh mereka. Apa kau memiliki sesuatu untuk dikatakan mengenai itu?”

“Aku tidak tahu itu.” Perempuan itu terus mengelak.

Para pria di depannya saling berbicara satu sama lain, salah satu dari mereka terdengar lebih nyaring sehingga bisa didengarnya.

“Kita bisa tetap menahannya! Gak masalah!”

Perempuan itu tidaklah peduli. Dia ingin semua ini cepat selesai. Dia meraba kantongnya, menyesali tidak membawa apa-apa untuk mempercepatnya.

Mereka akhirnya kembali fokus kepada orang di sisi lain meja mereka dan yang tengah berkata, “Ku beri kesempatan terakhir untuk mengakui perbuatanmu.”

Perempuan itu diam sejenak, jelas tidak mempertimbangkan apa pun karena dia menjawab, “Aku tidak melakukan apa-apa.”

Pria di tengah mengembuskan nafas. Dia menoleh ke kiri dan kanannya sebelum akhirnya berkata, “Dengan bukti bahwa kau mungkin terlibat, kami bisa saja menjatuhimu hukuman mati karena pembunuhan ini.”

Perempuan itu tetap tenang mendengarnya. Dia tidak memedulikan hal tersebut lagi. Dia berpikir dia akan mati tak berdosa.

“Tetapi karena bukti masih kurang kuat, hukumanmu diturunkan menjadi dipindah ke situs lain.” Pria tersebut melanjutkan. Pria di sampingnya menatap ke arah rekannya dengan tidak senang begitu mendengarnya. “Kau akan dipindah ke Situs-79 pagi ini juga. Anda boleh meninggalkan ruangan ini dan mengemasi barangmu. Personel akan menjemputmu nanti.”

“Baik.” Dia membalas singkat. Tidak menunjukkan rasa lega akan perubahan hukumannya juga.

“Baguslah kau cuma pindah situs, dasar pembunuh!” Teriak pria di samping selagi dia berjalan keluar.

Perempuan itu berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Dia menatap lurus ke arah pria yang meneriakinya dengan tatapan kosong, mempertimbangkan untuk membunuhnya pagi ini atau tidak.

Setelah beberapa saat, dia memutuskan untuk kembali berjalan.


Sekarang

Perempuan itu tiba-tiba tersadar begitu badannya terasa ditarik.

Dia membuka matanya secara perlahan, tiba-tiba merasakan rasa nyeri di kepala. Seorang pria yang mengenakan jas lab tengah jongkok di sampingnya. Jelas dia seorang peneliti. Dia banyak bergerak.

Rasa sakit di badannya mulai meningkat dan dia kembali memejamkan matanya. Dia mulai ingat samar-samar apa yang terjadi.

Dia dipukuli sekumpulan orang sebelumnya. Mungkin oleh benda tumpul berat. Dia berpikir apakah mungkin palu atau kunci inggris yang mengenainya, atau mungkin keduanya. Dia akan menikam siapa pun yang melakukan itu nanti.

Tetapi pikirannya terhenti di situ. Dia ingat dia menikam seseorang sebelum itu. Dia tidak peduli kenapa orang-orang memukulinya, dia rasa itu kewajaran. Yang dia herankan adalah kenapa dia ingat menikam seseorang berkali-kali. Teorinya mungkin orang tersebut menghinanya lagi.

Perempuan itu reflek menggeleng, meski tidaklah mampu sepenuhnya melakukan itu karena rasa sakitnya. Dia mulai mengingat sesuatu yang lain. Sesuatu yang terjadi sebelum semua itu.

Orang yang ditikamnya awalnya memukuli seorang pria. Pria yang dia mulai ingat sebelumnya menariknya keluar ruangan. Dia bertanya-tanya apa karena pria tersebut melakukan hal tersebut, dia dipukuli. Dia ingat baru menikam orang yang memukuli pria itu setelahnya. Dan kejadian setelahnya lagi.

Dia dengan perlahan membuka matanya lagi. Dia mengenali suara itu. Pria yang diingatnya tadi ternyata si peneliti yang berada di sampingnya.

Peneliti di sampingnya menoleh cepat ke arahnya, sepertinya belum menyadari dia sudah sadar karena dia menoleh kembali ke arah depan. “Apa kau kebetulan punya minyak angin?” Dia bisa dengan samar mendengarnya bicara.

Dia bisa mendengar sekilas lawan bicara peneliti itu berkata, “Kau seharusnya seret dia ke bangsal-“

Perempuan itu tidak sempat mendengar akhir katanya karena tiba-tiba dinding di belakangnya bergetar. Sesaat kemudian, pintu ruang teknisi terbuka kasar, membuatnya terjatuh karena terkejut. Peneliti di depannya juga sama, meski dia bisa bertopang dengan tangannya.

Dia melihat lawan bicara peneliti di depannya lari selagi menyeret sesuatu(atau seseorang) menjauh. Beberapa saat kemudian, sosok bersiluet seperti manusia muncul dari pintu dan dengan perlahan melangkah menjauh, tidak menghiraukan mereka berdua. Makhluk besar itu mulai mengingatkannya dengan entitas yang dia sering urus.

Setelah yakin mereka benar-benar tidak dihiraukan, peneliti di depannya berbalik dan mendekati dirinya. Dia mulai menepuk pipinya, jelas mengagetkannya dan dengan reflek membuatnya memukul balik.

“Oh baguslah! Kau sudah siuman!” Dia berkata. Sepertinya dia senang, terbukti dia tersenyum saat mengatakannya. “Baik, tinggal mengantarmu ke bangsal medis. Tenang saja, aku bawa buku prosedurnya.”

Kenapa kau terlihat senang? Perempuan tersebut bingung, tetapi dia tidak sempat berpikir panjang karena pria tersebut langsung mengangkatnya. Tidak menyeretnya, dia malah merangkulnya, di luar dugaan perempuan itu.

Dengan cepat dia berjalan. Jelas dia sendiri kesakitan dengan tiap nafas berat setiap langkahnya. Dia ingin bertanya, tetapi dia meragukan pria ini paham bahasa isyarat.

Mereka tiba-tiba berhenti di akhir koridor. Perempuan tersebut menoleh ke pria yang merangkulnya. Pria itu menatap lurus ke depan. Dia lalu ikut melihat ke depan.

Makhluk besar tadi dengan cepat berubah menjadi debu beterbangan. Di ujung koridor berdiri makhluk besar lain yang mengenakkan jubah gelap.

SCP-032-ID, Musuh bebuyutannya.

“Terlambat…” Dia bisa mendengar pria di depannya berbisik gugup.

Perhatian SCP-032-ID sepertinya teralihkan kepada sesuatu di sebelah kanan. Makhluk tersebut secara perlahan berjalan ke arah sana. Mereka berdua mengamati dengan diam selagi ia berjalan dengan lambat.

Tiba-tiba, pria yang merangkulnya mulai merogoh rompinya. Secara insting dia langsung menepuk tangan pria tersebut, meski lemah. “Ow, maaf, maaf! Tapi kau pasti masih punya pisau, kan?” Pria tersebut berkata. Belum sempat dijawab, pria tersebut berhasil meraih sebilah pisau dari rompinya. Rasanya itu adalah pisau terakhir yang dia bawa.

“Pegangan yang erat!” Pria tersebut setengah berbisik. Perempuan tersebut tahu apa yang pria ini ingin lakukan dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa gugup.

Dengan cepat dia mencoba berlari selagi merangkulnya, berlari tepat di belakang entitas tersebut. Jelas makhluk itu menyadarinya, tetapi entah karena keberuntungan atau apa sehingga makhluk itu menoleh ke arah yang berlawanan dan tidak melihat mereka yang kini melewatinya.

Bangsal medis lantai Euclid tepat di sebelah kantin, dan itu artinya mereka harus melalui seluruh sisi samping kantin dulu. Seharusnya mereka aman saat ini, tetapi pria yang merangkulnya mulai mengangkat pisau yang diambilnya tadi. Dia benar-benar akan membuat keributan untuk memancing makhluk tersebut.

Sebelum perempuan itu bisa menghentikannya entah bagaimanapun caranya, pria tersebut keburu melemparkan pisau tersebut ke arah makhluk itu yang kini menoleh ke arah mereka. Entah bagaimana tetapi lemparannya tepat mengenai tengah makhluk itu, membuatnya sedikit mendongkak seakan menegaskan lemparan pisau itu tepat mengenai dahinya.

Itu merupakan pemandangan langka, bahkan bagi perempuan itu sendiri yang sudah mengurusnya bertahun-tahun. Dia tidak bisa berhenti bolak-balik menatap makhluk itu lalu ke arah pria di depannya lalu kembali ke makhluk itu selagi berjalan. Dia baru berhenti begitu pria tersebut mendorong masuk ke bangsal medis.

“Tolong! Ada agen terluka!” Dia mencoba mendapat perhatian, meski cuma berani setengah berteriak saja. Seorang staf medis langsung berlari ke arah mereka dan membantu perempuan tersebut berbaring di satu-satunya ranjang yang masih tersedia di saat tersebut.

Setelah selesai, dia sepertinya berbicara pelan kepada staf medis tersebut selama beberapa saat. Pembicaraan mereka sepertinya berubah menjadi perdebatan mengenai sesuatu. Si pria akhirnya mengangguk dan berlari meninggalkan staf tersebut. Staf medis itu sendiri mulai melepas rompinya.

Dia bisa sekilas melihatnya berlari membawa sesuatu ke luar, tetapi dia tidak kuat lagi untuk menolehkan kepalanya. Tidak saat tempat tidur ini entah kenapa terasa nyaman baginya.


Perempuan itu kembali membuka matanya perlahan. Rasanya tidurnya cukup nyenyak. Dia baru nyadari rasa nyeri di punggungnya setelah mencoba bangun. Dia juga mulai ingat kalau kepalanya sakit sekali tadi, meski sekarang tidak.

Dia menoleh dan mendapati seorang pria dengan jas lab duduk bersandar di pinggir ranjangnya. Dia ingat pria ini yang membawanya sampai ke sini. Sepertinya dia ketiduran. Perempuan itu menyentuh kepalanya dengan pelan. Berkali-kali sampai dia bangun.

“Huh? Oh?” Pria tersebut menoleh dan sepertinya tersenyum lega. “Kau sudah sadar, Anna.”

Anna mencoba mengatakan sesuatu secara isyarat, lupa kalau pria tersebut tak memahaminya. “Oh, kau ingin mengatakan sesuatu? Sebentar,” Dia berkata saat menyadari apa yang perempuan di depannya coba lakukan. Dia segera meraih kantongnya dan mengeluarkan ponselnya. Dia lalu menyodorkannya ke Anna.

Anna mengambilnya dan mulai mengetik cepat di aplikasi catatan yang tersedia. Setelah selesai, dia menunjukkannya kepada pria tersebut.

‘Kenapa kau membawaku ke sini?’

Pria tersebut terlihat bingung membaca pertanyaan Anna dan berkata, “Maksudmu? Kau jelas pingsan dipukuli orang-orang di ruang penyimpanan tadi. Jangan bilang kau tidak merasakan sakit atau omong kosong semacam itu.”

Perempuan tersebut menggeleng cepat dan kembali mengetik di ponsel pria tersebut. Dia kembali menunjukkan tulisannya.

‘Tidak, kenapa kau tidak meninggalkanku saja?’

Pria tersebut masih terlihat bingung dan membalas, “Yang benar saja, kau mau mati ditinggal di sana?”

Anna cuma diam mendengarnya. Dia dengan perlahan menyerahkan kembali ponsel pria tersebut dan memutuskan untuk berbaring saja selagi memikirkan jawabannya tadi.

“Kau tahu, aku awalnya bekerja untuk lantai Safe.” Pria tersebut memutuskan ini gilirannya bicara. “Ini adalah pelanggaran penahanan pertamaku. Di hari-hari pertama aku bekerja di lantai ini. Aku tidak tahu apakah itu hal biasa di sini karena aku juga jarang bicara dengan penjaga, jadi tentu ku anggap itu sebagai situasi hidup mati.

“Aku juga tidak tahu pola pikir kalian di sini, tapi bagi orang luar sepertiku, jelas-” Pria tersebut terhenti bicara karena perempuan di ranjang tersebut memeluknya dari belakang. Pria tersebut awalnya tidak tahu kenapa dan harus bagaimana, tetapi dia lalu mengangkat bahu.

Mungkin ini caranya bilang terima kasih?

Setelah beberapa saat, pria tersebut mencoba melepaskan rangkulannya dan baru menyadari kalau perempuan di belakangnya ketiduran lagi.


Kepala Keamanan Herria sering duduk sebentar di kantin lantai Euclid bersama beberapa personel keamanan kepercayaannya yang tengah melaporkan situasi lantai tersebut; mata-matanya untuk mengawasi keadaan jikalau terjadi kerusuhan atau apa. Dia hanya bisa menyalahkan seseorang untuk rasa kewaspadaan tersebut.

“Hei, hei. Lihat!” Salah satu personel berbisik, dia menunjuk ke arah belakangnya. Herria dan personel lain menoleh ke arah yang ditunjuknya.

“Bukannya itu…”

“Ngapain dia…”

Mereka melihat di pojok ruangan seorang personel keamanan duduk sendiri tanpa memakan atau meminum apa pun. Yang menarik perhatian mereka adalah stiker kelinci putih di helmnya.

“Tidak setiap hari kau melihat Anna makan siang di kantin, bukan?” Salah satu personel berkata.

“Aku tidak yakin dia di sini untuk makan. Mejanya kosong.” Balas personel lain.

Herria melirik ke arah dua orang personel di sampingnya saling berbisik. Dia lalu menatap lurus ke arah Anna. Tiba-tiba perempuan tersebut menolehkan kepalanya sedikit ke samping, ke arah meja Herria. Herria sendiri dengan perlahan menurunkan topinya.

Saat dia mengankat topinya lagi, perempuan tersebut sudah tidak ada di mejanya. Pintu kantin bergerak menutup dirinya sendiri setelah sepertinya dibuka seseorang tadi.

Herria meraba samping kursinya dan meraih sebuah botol. Diambilnya sebuah gelas di meja dan dituangkannya minuman berwarna bening dari dalam botol tersebut ke gelasnya.

“Persetan dengan nasihatmu, Herman. Aku perlu ini.”

Dia meminumnya.

Kronik Situs-79

Selingan 2
« Tabu Situs-79 | Ketidaktahuan Adalah Kebahagiaan |

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License