Terdapat sebuah ruangan yang berfungsi sebagai ruang tunggu untuk setiap lantai Situs-79. Hal pertama yang dilihat orang begitu keluar dari satu diantara dua lift yang menghubungkan tiap lantai situs itu adalah sebuah ruangan luas dengan pintu ganda besar di ujung ruangan dan dua koridor di kedua sisinya.
Perabotan tiap area masuk lantai, meski berbeda dalam jumlah atau kualitas, tetap terdiri dari beberapa sofa, meja, dan televisi. Lantai Safe, spesifiknya, memiliki kulkas, dispenser galon, dan beberapa bungkus kopi dan gelas plastik. Hanya penjaga dan tamu yang menggunakan sofa di situs itu.
Tidak banyak orang berada di ruangan tersebut sore itu. Para personel yang telah menjalani shift paginya tidak keluar menggunakan lift di ruang tunggu lantai Safe setelah sore untuk pulang. Ada akses keluar lain yang berada di sisi lain situs. Di bawah sejumlah lampu yang menemani sepinya ruangan, dua orang berdiri di depan lift.
“…Saat ini mereka tengah kembali ke situs.” Kata seorang di antara mereka. “Begitu sampai, mereka akan langsung turun ke lantai Keter. Personel medis sudah siaga di bawah sana untuk personel yang terluka. Personel tewas akan di bawa ke bawah juga setelah pembersihan area penahanan. Herria akan menanyai mereka.”
“Tidak, aku saja yang turun ke bawah.” Kata lawan bicaranya yang lebih muda. “SCP-012-ID adalah tanggung jawabku, dan aku perlu di sana untuk mereka.”
Pria yang lebih tua diam sejenak sebelum berkata, “Mereka bukan tanggung jawabmu lagi, Herman. Dengan cacatnya prosedur keamananmu, kita kembali ke titik nol.”
Herman mengangguk. “Maaf mengecewakanmu, Direktur Stefan. Akan ku teliti perubahan perilaku SCP-012-ID ini dan merumuskan prosedur-”
“Oh demi Tuhan, Herman! Menyerahlah! Situs ini sekarat dan kau hanya memperlambatnya!” Kata Stefan selagi mengibas tangannya.
“Aku cuma ingin meminimalkan kemungkinan bencana situs ini. Kita cuma perlu tahu apa yang makhluk-makhluk itu inginkan.” Balas Herman
“Mereka ingin sawah, kita beri mereka sawah. Sekarang mereka membunuh semua orang dan menaruh mereka di sawah mereka! Apa-apaan itu?” Tanya Stefan dengan sengit.
Herman tidak membalas selama beberapa saat.
“Beri aku kesempatan untuk meneliti mereka. Merumuskan prosedur yang aman,” Herman melirik ke kiri dan kanan mereka sebelum melanjutkan. “Untuk memuluskan aktivitas personel kita.”
Stefan diam sejenak selagi mempertimbangkan.
“Kita tidak ingin memiliki anomali yang tidak bisa dikendalikan, bukan?” Herman melanjutkan selagi mencondong diri mendekati Stefan.
Stefan masih diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengatakan, “Sementara kita simpan mereka di ruang penahanan lama mereka. Beberapa minggu untuk menghilangkan trauma beberapa personel. Rumor beredar cepat di sini seperti yang kau tahu, Herman. Tidak ingin kau digunjingkan bermain dengan kematian lagi meskipun itu untuk kebaikan mereka, bukan?”
“Tentu. Rencanaku adalah menunggu personel pulih dulu. Menanyai mereka setelahnya.” Kata Herman.
“Heh, meski Jaret merupakan dokter bedah terbaik kita, akan sulit mengeluarkan semua serpihan kayu di dalam tubuh personel itu dalam waktu singkat.” Stefan membalas.
“Tidak masalah. Jadi apa kita langsung ke lantai Keter sekarang?” Herman mengalihkan topik.
“Tentu. Aku belum mendengar pengumuman kedatangan mereka.” Kata Stefan selagi mulai berjalan menuju lift.
Setelah beberapa saat menekan tombol, pintu lift terbuka. Tidak ada orang di dalam lift sehingga mereka berdua langsung masuk ke dalam. Herman menekan tombol nomor tiga dan pintu lift mulai tertutup, membawa mereka turun.
Sementara itu, dari lorong pintu koridor kiri yang menghubungkan ruang tunggu dengan area kantor, seorang pria yang lebih muda dari kedua pria sebelumnya mengintip pelan melalui ujung koridor, mengamati ruang tunggu.
Setelah beberapa saat, dia keluar dari persembunyiannya dan berjalan ke arah lift.
“Untung aku mengunjungi Jones di ruangannya tadi,” Kata pria itu kepada dirinya sendiri selagi membenarkan posisi dasinya yang miring karena mengintip tadi.
“Direktur Stefan selalu berkata dengan intonasi tinggi. Dasar pria tua yang tidak ingat umurnya…” katanya lagi selagi merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena mengintip tadi juga.
“Dan tidak kompetennya Herman selalu membuat orang lain terbunuh.” Katanya selagi menekan tombol lift dengan tangan kanannya dan merapikan jas hitamnya dengan tangan kirinya.
“…Yah, sekarang giliran revolusiku.” Pintu lift terbuka, tidak ada orang di dalam. Pria itu tersenyum dan memperbaiki posisi kacamatanya selagi melangkah masuk.
Sebuah ponsel berdering nyaring tiba-tiba. Sebuah tangan terulur untuk memegangnya. Pria pemilik tangan tersebut melihat layar depan ponsel tersebut. Sebuah panggilan masuk. Dia menghela nafas sejenak sebelum menerima panggilan tersebut dan menyalakan suara luar selagi melangkah menjauh.
“Hei! Kau di mana? Seharusnya kau sudah di sini!” kata suara dari ponselnya dengan nyaring.
“Baru pukul lima, Pak Christ. Lagi siap-siap ini.” Kata pria tersebut selagi merapikan dasinya.
“Ga ada alasan, ini penting. Cepetan ke sini!” Dan panggilan pun ditutup dari sana. Pria tersebut hanya geleng-geleng kepala selagi mengenakan masker medis.
Dia akhirnya melangkah kembali ke tempat ponselnya dan mencabutnya dari pengisi daya untuk mengantonginya. Setelah itu dia mematikan lampu dan diam sejenak di depan pintu.
“Baik, tidak ada gas beracun… Percaya Yayasan…” Katanya selagi menggenggam gagang pintu di depannya. Dia pun akhirnya membuka pintu ruangannya.
Begitu di luar, dia mengunci kamar messnya dan berjalan menuju koridor. Dia mengamati pintu-pintu di sisi kiri dan kanannya selagi berjalan. Tidak yakin apakah ada yang menempati kamar tersebut. Dia tahu beberapa mess ditempati penjaga atau agen, dia pernah melihat mereka beberapa kali. Berpapasan beberapa kali.
Dua orang pria memakai kaus hitam berjalan menuju arah yang berlawanan dengannya. Tidak ada kata yang diucapkan saat berpapasan. Pria itu diam dan terus berjalan ke depan.
Setelah beberapa saat berjalan, dia sampai di persimpangan koridor. Dia tetap lurus karena area kantor pribadi berada di sisi seberang.
Akhirnya setelah melalui beberapa pintu, dia sampai di ruangan atasannya. Dia mengetok pintu besi ruangan itu. “Pak Christ?”
“Masuk aja cepat!” Jawab suara di balik pintu. Pria tersebut langsung membuka pintu dan masuk ke dalam.
“Jadi ada apa, pak?” Tanyanya.
“Pertama, tolong jangan panggil Christ lagi kalo ga bisa nyebutnya dengan benar. Panggil saja Louis.” Kata pria di ujung meja, terpaku menatap layar komputernya.
“Nama belakang anda? Baik, Pak Louis.” Kata pria yang masuk selagi menutup pintu. Dia pun berjalan ke meja kecil di sisi kiri meja besar Louis. Dia menyeret kursinya dan duduk.
“Anda belum siap-siap pulang, pak?” Pria itu bertanya. Sebenarnya dia cuma berniat memastikan apakah atasannya akan memberi tugas baru atau dia akan begadang malam itu untuk menyelesaikannya sendiri.
“…Aku akan begadang untuk beberapa malam …” katanya tanpa melepaskan pandangan dari komputer.
Tidak ada kata yang dikatakan pria di sampingnya. Tetapi dia tersenyum dari balik maskernya selagi menyalakan komputernya.
“…Begitu juga denganmu saat pagi.” Kata Louis melanjutkan. Senyum pria di sampingnya memudar.
“Maksudmu, pak?” Tanyanya kebingungan.
“Aku mengajukan penelitian terhadap SCP-012-ID, salah satu spesimen kita. Dan jika diterima, kita perlu melakukan ini secepatnya.”
Louis akhirnya berbalik dan berkata, “Ini kesempatanmu untuk bekerja langsung sebagai asistenku dan membuatku terkesan.”
Asistennya menjawab singkat, “Ya.”
Tetapi itu karena dia tengah berpikir, Kesempatan mempelajari bagaimana Yayasan bekerja dan koleksi mereka? Tentu, kenapa tidak. Tugas baru, tetapi terlalu menarik untuk ditolak…
Kronik Situs-79
Bab 1: Kayu Bakar
| Kesempatan Kerja | Potongan Kayu Bakar »




