Mengakses Berkas: Interogasi_06-05-2018.txt…
…
…
Pewawancara: Kepala Keamanan Situs-79 Kapt. Herria Ditya
Narasumber: Peneliti Toni Ivansyah
[MEMULAI REKAMAN]
Herria: Baik, interogasi terhadap Peneliti Toni Ivansyah atas kemungkinan afiliasinya dengan Kelompok Dalam Pengawasan Chaos Insurgency ku mulai
Toni: (Diam)
Herria: …Apa kau mengakui bahwa kau memiliki afiliasinya dengan Kelompok Dalam Pengawasan Chaos Insurgency?
Toni: …Benar.
Herria: Kau tidak menyangkalnya?
Toni: Kau menaruh pendeteksi kebohongan di sini. Lagi pula, aku pantas mendapatkan ini.
Herria: Baik, baik. Jadi, sejak kapan kau menjadi anggota mereka? Mulai dari awal, sebelum transfer 2012?
Toni: Tidak, setelahnya. Setelah ditransfer ke 79.
Herria: …Begitu, ya… Jadi kau punya perekrut di sini, eh. Bisa jelaskan bagaimana tepatnya kau bisa dijadikan Agen Insurgent?
Toni: Itu bagian paling absurbnya. Aku cuma mendapati sobekan kertas di ruanganku berkali-kali selama Proyek Re-CAPTCHA. Semacam pesan yang di mana mereka selalu mengatakan betapa korupnya Yayasan dan keharusannya untuk memberontak. Memang mencurigakan, tetapi… kau bisa bilang mereka antara hebat dalam meyakinkanku atau terdapat memetik di tiap kertas itu sehingga aku tidak melaporkannya. Oh, mereka menyuruhku untuk menelan kertas itu, By The Way, tapi yang benar saja, jadi ku bakar saja.
Toni: Pengecualian untuk pesan kedua terakhir, mereka memberiku amplop kecil yang didalamnya ada surat persetujuan bergabung bersama gerakan mereka. Bahkan ada tulisan Insurgent di sana. Tapi, entahlah. Saat itu ku pikir aku sudah terlalu dalam untuk masalah ini, jadi apa lagi pilihanku selain mengiyakan penawaran mereka. Mereka meminta tanda tanganku dan itu saja.
Herria: Dan kau memusnahkannya?
Toni: Tidak, seperti kata ku tadi, yang ini berbeda. Mereka bilang lift akan terbuka pada tengah malam hari itu dan aku perlu menaruh amplop itu di sana jika aku setuju bergabung mereka. Jadi aku tunggu sampai tengah malam di ruang tunggu kita dan pas tengah malam, pintu lift terbuka tanpa ada siapa-siapa. Jadi yah, ku masukan saja amplop itu dan pergi dari situ.
Herria: Kau tidak mencoba menyelidiki lebih lanjut?
Toni: Lift itu turun ke lantai keter, mate. Lagi pula aku tidak peduli itu sampai kepada mereka atau tidak, meski ternyata sampai ke mereka. Anggap saja aku iseng mengisinya saat itu.
Herria: Tidaklah cerdas sama sekali… Lalu apa yang terjadi setelahnya?
Toni: Aku dapat surat terakhirku dari mereka keesokan harinya. Mereka cuma memberitahukan aku resmi bergabung mereka dan memintaku menunggu. Jadi, seperti itulah.
Herria: …Perekrutan yang cukup sederhana… Jadi teknisnya kau cuma menaruh namamu dan kau sudah jadi Insurgent?
Toni: Semacam itulah. Aku mencurigai memetik berperan dibalik layar.
Herria: Seharusnya kau melapor dari awal. Yang membawaku pada pertanyaan berikutnya, kenapa?
Toni: …Karena persetan memetik atau tidak, ku rasa mereka ada benarnya.
Herria: Itu yang ku curigai. Tapi apa yang membuatmu berpikir seperti itu?
Toni: (Diam)
Herria: (Mengambil selembar kertas) Aku mengumpulkan beberapa data dirimu di sini. Kau memilih ditransfer ke situs ini karena ayahmu mati saat insiden itu kan?
Toni: (Diam)
Herria: Kalau itu tentang ayahmu, dia-
Toni: (Memotong) Bukan kematiannya! Aku juga tidak bisa menyalahkan kalian.
Herria: Untungnya kau mengerti. Insiden itu memang memakan korban jiwa-
Toni: (Memotong) Tidak, aku membicarakan proyek ayahku sebelum insiden itu.
Herria: Maksudmu?
Toni: Sebelumnya ayahku diisolasi karena tendensi swasida, kan?
Herria: Oh, tuhan. (Mematikan mikrofon ke ruang observasi)
Herria: (Mengambil selembar kertas) Kau membicarakan insiden L███W████ 2010?
Toni: Byproduct proyek AIC Yayasan dengan bahaya informasi yang membuat separuh penelitinya jadi kultus gila dan separuhnya lagi mempunyai tendensi swasida, kan?
Herria: (Menurunkan kertas di tangannya dan meraih ke belakangnya) …Tolong jangan sebut nama apa pun atau aku harus menembakmu mati di sini.
Toni: Tenang, aku juga tahu peringatannya. Lagi pula kita membicarakan ayahku di sini, yang sayangnya terlibat proyek itu.
Herria: …Ayahmu genius komputer saat itu sampai jadi salah satu perwakilan Indonesia untuk proyek itu. Tidak ada yang tahu proyeknya akan berakhir seperti itu.
Toni: Seperti yang ku bilang tadi, aku tidak bisa menyalahkan kalian untuk itu. Ayahku lebih memilih mati saat insiden itu terjadi.
Herria: …Baik, ku rasa kita aman sekarang. (Menyalakan mikrofon ke ruang observasi) Jadi kenapa? Kau bilang selama Proyek Re-CAPTCHA, bukan?
Toni: Benar.
Herria: (Mengambil setumpuk kertas) …Proyek itu dimulai tahun 2015 sampai sekarang. Jadi dengan mempertimbangkan itu… (Membolak-balik kertas) Kau punya beberapa sejarah disipliner, tetapi dengan mempertimbangkan itu tadi, ada satu yang mencolok pada tahun 2016.
Herria: (Menurunkan setumpuk kertas) Pemaksaan masuk ke ruang penahanan SCP-019-ID. Dia alasanmu?
Toni: Tepat sekali.
Herria: Jadi itu… Kabarnya sampai Direktur Stefan terlibat… Aku mendengar rumor mengenai itu, Toni. Dan ku pikir kau lebih cerdas dari ini.
Toni: Kita bisa membuatnya normal lagi. Kita bisa menghilangkan tato sialan di wajahnya!
Herria: Tugas kita mengamankan, menahan, dan-
Toni: Ini- Ini yang ku maksud dengan korup. Dia bisa hidup normal lagi tetapi kalian lebih memilih menjadikannya monster dengan mengurungnya di sini sampai, entahlah, seumur hidup?
Herria: Lagi pula tidak ada yang bersedia mengoperasinya. Mengoperasinya adalah swasida.
Toni: …Itu tawaran Insurgent kepada ku.
Herria: Jadi seperti itu… Dan kau percaya mereka? Mereka bisa saja mempekerjakanmu entah untuk apa dan membunuhmu setelahnya.
Toni: Aku ambil risiko itu.
Herria: Kau gila, Toni. Kau bersedia membahayakan situs ini beserta seluruh personel di sini untuk janji kosong?
Toni: Salah kalian untuk itu.
Herria: (Menghantam meja, lalu diam sejenak) Kau tahu apa yang terjadi setelah ini, bukan?
Toni: Kalian akan membunuhku?
Herria: Kalau seperti itu, sudah ku lakukan dari tadi. Tapi tidak, kami perlu kau menyebutkan rekanmu yang lain.
Toni: Sudah ku bilang ke Balefire dan kau tadi, aku tidak kenal siapa pun mereka ini. Mereka memberiku kertas dan seperti itu saja.
Herria: Sialan. Sepertinya kita masih kurang dua orang lagi…
Toni: Tunggu, kalian tahu jumlah pastinya?
Herria: Semacam itu. Yang mengingatkanku, apa mereka memberimu panggilan atau kode nama?
Toni: Kode nama? Sebenarnya ada…
Herria: Bagus, apa kode namamu?
Toni: Mereka memberiku kode nama Thomas.
Herria: Baik itu- Maaf, bisa diulang.
Toni: Yeah, mereka menuliskan di pesan terakhir mereka kalau kode namaku adalah Thomas.
Herria: …Bisa kau tunggu sebentar?
(Herria berdiri dan meninggalkan ruangan)
“Apa maksudmu dua belas?” Herria bertanya mendadak, tidak menduganya.
Herman yang tengah memegang sekumpulan dokumen memandangi reaksi mendadak Herria.
“Mempertimbangkan polanya, Toni diberi kode nama dari Thomas the Apostle. Ini mengimplikasikan setidaknya ada dua belas agen Insurgent di situs ini termasuk tiga nama yang kita cari sebelumnya.”
“Tapi- Tapi perjanjiannya cuma ada tiga orang yang perlu aku cari!” Balefire yang berdiri di pojok juga ikut bertanya dengan nada kesal.
“Tenang dulu, kamerad. Kau juga baru diizinkan keluar oleh Lira pagi ini, kan?” Herria berjalan mondar-manding di ruang observasi. “Sialan, jika Stefan mendengar ini…”
“Jadi sekarang apa?” Balefire bertanya lagi.
Herria diam sejenak, “Mengurus Toni dulu.” Lalu dia masuk kembali ke ruang interogasi.
Herria: Baik. Jadi kita sudah selesai. Kau tidak akan dibunuh, sekali lagi. Kami hanya akan menahanmu sampai waktu tidak ditentukan.
Toni: …Aku tetap pantas mendapatkan ini.
Herria: Yah, aku mendengarmu. To-
Toni: Kau bisa menyampaikan pesan?
Herria: Untuk siapa? SCP-019-ID?
Toni: …Ku rasa kau tidak akan mengizinkan itu. Tidak, ini untuk Bale.
Herria: Balefire? Dia di luar. Kau katakan saja langsung.
Toni: Oh, baiklah.
Herria: Baik. (Kepada penjaga) Bawa dia keluar.
[MENGAKHIRI REKAMAN]
Balefire mengamati Toni dituntun keluar oleh dua orang penjaga. Kedua tangannya diborgol dan dia tidak mengenakan topinya. Mereka saling pandang sejenak.
“Hey, mate.” Toni berkata kepada Balefire. “Kau keberatan mendekat sebentar?”
Balefire awalnya berpikir untuk menolak, tetapi dia rasa dia perlu mendengar apa yang Toni akan katakan. Dia berjalan ke sisi lain ruangan; mendekati Toni yang dituntun ke pintu keluar.
“Maaf soal lukamu, mate. Ku rasa itu tidak terhindarkan jika kita berseberangan arah, eh.” Toni mengamati bekas luka Balefire yang diperban Lira. Balefire sendiri beruntung Toni cuma menggunakan pisau lipat kecil dan tidak menikamnya dengan kuat.
“Yah, aku beruntung kau tidak mengincar leher. Tikaman cepatmu mungkin bisa membunuhku kalau begitu.” Balefire mengalihkan pandangannya, menghindari pembicaraan canggung ini.
“Bagaimana Lira?” Tanya Toni tiba-tiba.
Balefire menoleh ke arahnya, “Bu Lira? Dia terkejut kita berkelahi. Aku belum mengatakan apa pun mengenai… kau.”
Toni cuma mengangguk pelan dan menoleh ke arah lain. Dia berkata tanpa melihat Balefire, “Boleh aku minta tolong padamu?”
“Apa?”
Toni akhirnya menatap Balefire, “Tolong jangan bilang siapa pun aku agen Insurgent.”
Tidak ada balasan dari Balefire, tidak untuk beberapa saat. Personel keamanan mulai membawa Toni keluar.
“Aku tidak yakin bisa menjanjikan itu.” Balefire akhirnya berkata.
“Aku percaya padamu, mate!” Toni berkata selagi didorong penjaga ke luar.
Lalu pintu ruang observasi tertutup. Menyisakan dia berdiri di depan pintu.
“Kerja mu bagus, nak.” Sebuah tangan yang menyentuh pundaknya dan suara pelannya membuat Balefire menoleh. Herman berada di belakangnya. Dia ke sini sejak awal interogasi tadi mewakili Direktur Stefan.
“Kau langsung menghadap direktur?” Balefire bertanya kepadanya yang melangkah keluar.
“Ya. Dia tidak akan senang mendengar ini…” Herman berhenti sejenak di depan pintu yang sudah dibukanya. Beberapa saat kemudian dia berjalan menjauh.
Balefire menahan pintu tadi dan ikut berjalan keluar ruangan. Dia berjalan pelan, menahan rasa sakit lukanya selagi pintu di belakangnya tertutup.
Kau pernah menahan keris di punggung, kau pasti bisa menahan pisau lipat kecil…
Dia mendengar pintu di belakangnya terbuka lagi dan menoleh.
“Tidak ada yang tahu kalau kau yang menahan Toni selain beberapa orang. Ini agar agen Insurgent lain tidak tahu pasti siapa yang melakukannya. Maksudku, memang jelas kau, tapi sedikit anonimitas tidaklah buruk.” Herria berkata kepadanya.
“Jadi apa yang harus ku katakan mengenai Toni?” Balefire bertanya.
“Tidak ada, sebenarnya. Aku akan bicara dengan Lira, mengamnestik penjaga yang melihatmu kemarin malam, dan Herman akan mengurus sisanya seperti nasib proyek Toni saat ini.”
“Tetapi,” Herria menghela nafas sejenak selagi memperbaiki posisi topinya, “Harus ada yang mengabari SCP-019-ID.”
Balefire heran mendengarnya, “Kenapa?”
“Karena jika dia mulai bertanya-tanya di mana keberadaannya, dia mungkin melanggar penahanan, dan aku yang kerepotan.” Herria menjawab.
“Kau pernah bertemu dengannya?” Herria lanjut bertanya.
Balefire mengiyakan. Malam sebelum penyusupan ke ruang penahanan SCP-014-ID-B masih berbekas di ingatannya.
“Aku tidak peduli bagaimana kau menjelaskan keadaan Toni padanya, tapi usahakan dia tidak akan mencoba melanggar penahanan nanti.”
“Akan ku pikirkan.” Balefire mengiyakan. “Dan mengenai misi ku? Setelah situasi berubah seperti ini?”
“Tidak.” Herria menjawab cepat, membuat Balefire menatapnya kebingungan menunggu penjelasan.
Herria mengetahuinya tanpa menoleh ke arahnya dan melanjutkan, “Apa? Pendapatku, tidak ada yang berubah sebenarnya. Kau tetap harus mencari tiga orang seperti sebelumnya, termasuk si ‘Judas’ ini yang paling mengancam karena dia yang kemungkinan akan memulai segalanya. Jika kau menemukan agen lain, laporkan saja kepada ku.”
Setelah mengatakan itu, Herria mulai berjalan menjauh. Balefire memutuskan bersandar di dinding ruang observasi dulu sebelum melakukan itu, mencoba merumuskan apa pun untuk dikatakan.
Setelah beberapa langkah, Herria berbalik ke arah Balefire dan berkata, “Satu hal lagi,”
Balefire menoleh ke arahnya. Herria melanjutkan, “Saranku, kau fokuskan pencarian pada personel yang direkrut seangkatan dengan Toni. Ini termasuk Lira dan atasanmu Louis.”
Herria berbalik dan kembali berjalan, “Insiden itu memang dari dulu dicurigai direkayasa. Dan kita mungkin saja kebanjiran penyusup karenanya.”
Balefire diam mengamati dia yang berjalan ke seberang, ke arah bangsal medis lantai euclid tempat Lira bekerja. Dia memutuskan untuk mulai berjalan ke arah ruang penahanan euclid.
Selagi berjalan, dia mengamati pintu sel yang berada di kiri dan kanannya.
Dia melihat pintu sel SCP-014-ID-B di sebelah kirinya, mengingatkannya akan malam dia dan Toni menyusup masuk ke kampung koloni tersebut. Memang Toni yang mengajaknya masuk ke dalam, tetapi dia juga yang menyelamatkan nyawanya saat dikepung penghuni koloni kampung buatan itu.
Lalu dia menoleh ke kanan, pintu sel bertuliskan SCP-019-ID di sebelah kanannya.
“Tunggu!”
Balefire menoleh, seorang personel keamanan berlari ke arahnya. Dia mengenakan semacam alat penglihatan malam sebagai pengganti visor kuning khas penjaga, menutupi separuh atas wajahnya. Sebo hitam menutupi separuh bawah wajahnya. Entah dari mana dan kenapa dia berlari mendekat.
“Agen Senior Ramun Sulaiman, salam kenal.” Katanya begitu sudah sampai di samping Balefire. “Pak Herria mengirimku untuk jaga-jaga. Mohon lanjutkan dengan hati-hati.”
Kemudian dia langsung menodongkan senapan biusnya ke arah pintu sel dan diam menunggu. Balefire memutuskan untuk menghiraukannya. Dia menarik nafas dan memikirkan harus mengatakan apa kepada SCP-019-ID.
Haruskah aku bohong, seperti yang selalu ku lakukan?
Haruskan aku jujur? Untuk kebaikannya?
Balefire diam memandangi pintu kemudian ke arah penjaga di sampingnya dan kembali ke pintu di depannya. Penjaga tersebut hanya diam siap siaga tanpa bergerak.
Dia mulai mengulang semua yang Toni pernah lakukan sebelumnya; dia mengetok tiga kali dan menggeser gerendel penutup jendela dan slot makanan di pintu sebelum membuka keduanya. Penjaga di sampingnya langsung merapat ke dinding dengan tetap mengarahkan senapannya ke arah pintu.
Sesaat kemudian, visor kuning SCP-019-ID terlihat dari jendela. “Mas Bale? Ada apa ya?” Tanyanya.
“Rina, bukan?” Balefire menoleh sejenak, memastikan penjaga di sampingnya tidak terlihat dari sudut pandang Rina. “Jadi, ada yang ingin ku bicarakan mengenai Toni.”
“Mas Toni? Mas Toni kenapa-napa?” Balefire setengah tidak menduga reaksi terkejut dan gugup Rina akan secepat ini.
“Tenang saja, Toni baik-baik saja, tetapi dia tidak bisa mengunjungimu lagi.” Jawab Balefire.
“Oh syukurlah…” Rina berkata dengan lega, “Tapi kenapa? Juga Mas Toni di mana? Saya belum lihat dia sejak dua hari yang lalu. Saya kira ada apa-apa.”
Balefire diam untuk beberapa saat, dia tahu sudah waktunya mengambil keputusan. Antara mencari kebohongan atau mengatakan yang sebenarnya.
Setelah beberapa saat, Balefire akhirnya telah memutuskan,
Demi kebaikan Yayasan dan dirimu, Toni.
“Toni… mendapat proyek penelitian baru dan dia harus keluar situs untuk beberapa… bulan mungkin.” Kata Balefire.
“Beneran? Ku kira Mas Toni sudah muak dengan proyek apa pun…” Balas Rina dengan nada terkejut.
Jadi kenapa Herria menyinggung Toni mengambil proyek saat ini? Pikir Balefire saat mendengar balasan Rina. Dengan segera dia memikirkan balasan selanjutnya.
“Mengetahui dia, mungkin dia melakukan ini untukmu.” Jawab Balefire.
“Tapi kenapa dia menyampaikannya lewat Mas Bale?” Tanya Rina akhirnya.
Balefire sudah menduga dia akan menanyakan itu, jadi dia menjawab, “Dia bersama beberapa penjaga saat itu dan terburu-buru. Aku cuma kebetulan berada di dekatnya dan dia memberitahukanku untuk mengabarimu.”
“Oh begitu.” Rina diam sejenak. Balefire tidak tahu apa yang dia pikirkan sampai dia akhirnya berkata, “Ku rasa dia memercayaimu, Mas Bale. Dia tidak akan mau mengirim pesan lewat perantara karena berisiko, jadi ku rasa dia memang percaya padamu.”
“Bagus lah.” Balas Balefire.
Setidaknya hanya ini yang bisa ku lakukan untukmu, Toni.
“Ku rasa aku akan menemuimu lagi, tetapi tidak sesering Toni. Akan ku kabari jika dia mengirim pesan juga.” Lanjut Balefire. Dia tahu itu janji kosong, tetapi apa pun untuk tetap membuatnya tenang.
“Baik, hati-hati ya, Mas Bale!” Balas Rina yang perlahan mundur.
Balefire pun menutup jendela dan slot makanan ruang penahanan SCP-019-ID. Dia lalu mundur, memikirkan segala yang telah dia lakukan tadi.
“Ku kira aku harus menyalakan SCRAMBLE tadi.” Kata suara di sampingnya. Balefire menoleh dan baru ingat ada seorang personel keamanan yang mulai menurunkan senjatanya.
“Kerjamu bagus, kawan. Jujur aku sendiri masih baru dalam menangani bahaya kognitif.” Lanjutnya.
“Jadi tugas kita selesai, eh?” Kata Balefire.
Personel itu menggeleng, “Nah, aku ditugaskan mengawasinya mulai sekarang. Jadi aku akan mulai berjaga di sini.”
Balefire menghadap ke arahnya, “Mulai sekarang kau yang menjadi teman bicaranya menggantikan Toni. Dia terbiasa diajak bicara, sialnya, jadi usahakan ajak dia bicara sesekali. Jangan terlalu sering juga atau kau akan berakhiran seperti Toni.”
“Aku mengerti, kawan. Kau tidak menjadi personel senior tanpa pengalaman.” Katanya dengan bangga. Lalu dia menoleh ke arah lain dan berkata dengan pelan, “Meski hanya pengalaman menangani Safe.” Dan dia kembali menoleh ke arah Balefire, “Kau tenang saja, aku terlatih untuk ini.”
Balefire hanya menggeleng dan membalas, “Terserah. Tugasku sudah selesai.”
Dan dia pun berjalan menjauh dari lokasi. Meski begitu, setelah beberapa saat berjalan, dia menoleh kembali ke belakang, ke arah pintu besi SCP-019-ID yang dijaga seorang personel keamanan di sampingnya, berpikir sampai berapa lama kebohongan akan Toni bisa terus dia pertahankan.
Tiba-tiba, masker gas Balefire ditarik ke belakang. Balefire yang terkejut langsung memegang maskernya dan bernafas gugup selagi menoleh siapa yang melakukannya.
“Mentang-mentang aku ga masuk, dipakai lagi ini masker norak.”
Peneliti Senior Louis berdiri di belakangnya. Tangan kanannya yang sepertinya menarik masker gas Balefire tadi dimasukannya ke kantong celananya.
“Pak Louis, anda sudah mulai kembali bekerja?” Tanya Balefire setelah merasa nafasnya sudah teratur.
“Ya jelas. Kamu kira aku berhenti kerja apa? Tadi kamu ku cari-cari ga ada, lho. Tinggalin notes atau apa kek kalau dipanggil ke ruang lain seperti tadi.”
Balefire menoleh ke arah lain mengetahui atasannya masih sempatnya mencari-cari kesalahannya. “Tadi saya memang mendadak dipanggil sama Pak Herria untuk urusannya.”
“Yah, tadi dia masuk ke bangsal medis buat ngasih tahu Lira yang ngobatin kamu. Kebetulan aku di sana buat nanyain insiden SCP-014-ID-B sebelumnya.” Kata Louis selagi menoleh ke belakang, sepertinya ke arah bangsal medis.
“Apa yang dikatakan Pak Herria?” Balefire bertanya.
“Dia bilang Toni terafiliasi organisasi di luar Yayasan dan menyerang beberapa orang termasuk kamu.” Jawab Louis.
Dia diam sejenak dan menoleh lagi ke belakang, kali ini ke arah ruang area penahanan Kelas-D yang di mana Toni akan dipindahkan ke sana.
“Jujur aku tidak terlalu dekat dengan Toni. Itu karena jarang ketemu sih. Tapi aku tahu dia kabarnya dekat dengan salah satu anomali. Namanya Rina kalau tidak salah.” Kata Louis.
Balefire menunjuk pintu sel SCP-019-ID di belakangnya dengan jempol kirinya, “Aku baru dari selnya, pak. Tadi Pak Herria bilang seseorang harus mengabarinya mengenai Toni.”
“Baguslah.” Louis masih menatap ke arah pintu sel.
Balefire merasa jawabannya tak wajar, “Kenapa?”
Kali ini Louis kembali melihat ke arah Balefire, “Jujur aku juga tidak terlalu suka dengannya. Dia punya subjek penelitian yang pas dan kooperatif yang bisa menaikkan statusnya jadi peneliti senior. Tetapi aku melihat dia malah menjadi semacam… pemberontak terhadap Yayasan dengan membuat masalah di tiap kesempatan.”
Kata ‘Pemberontak’ yang diucapkan Louis membuat Balefire ingat akan teori awalnya terhadap Louis saat pertama bertemu dengannya. Mengingat caranya membongkar identitas ganda Toni, dia ingin mencobanya ke Louis
“Pengetahuan dilarang?” Tanya Balefire tiba-tiba.
“Me- Ouch, ow, kegigit lidah.” Kata Louis spontan. Balefire langsung meraih kapak yang disembunyikan di balik jas putihnya dan bersiap selagi mengamati Louis yang membuka mulutnya kesakitan. Dia ingat apa yang Toni katakan beberapa hari yang lalu,
“Kau harus menggigit lidahmu dengan kuat supaya kau tidak merespon secara otomatis.”
Akhirnya Louis berhenti dan diam sejenak selagi menunjukan ekspresi tidak nyaman dan menatap ke bawah. “Maaf, tadi aku ga nyimak, tadi nanya apa?” Louis balik bertanya dan menatap ke arah Balefire.
Balefire diam sejenak sebelum menurunkan tangannya dan berkata, “Tidak jadi, pak.”
“Baik, aku, ehm, aku ke tempat Lira dulu, ga sengaja kegigit lidah tadi. Kamu nanti masuk ya pas shift-mu.” Kata Louis sebelum dia berjalan tergesa-gesa ke bangsal medis.
Semua bukti di depan mata, kenapa aku tidak langsung menuduhnya?
Balefire menatapnya berjalan menjauh.
Nah, sebaiknya aku menunggu. Biarkan burung dalam tangkapan bebas agar dia terbang kepada sebelas burung lain di pohon persembunyian mereka.
Lalu dia akhirnya berjalan mengiringi Louis dari belakang.
Kronik Situs-79
Bab 2: Sang Jagoan
« Kisah Seekor Tikus Tanah | Kembang Desa Yang Ditinggalkan |




