Kejahatan Situs Bernomor Tujuh Sembilan
rating: +1+x

Umumnya tidaklah diketahui apakah hari tengah siang ataukah malam jika seseorang tengah berjalan di tengah koridor situs, terlebih jika sebuah situs tersebut tertanam di bawah tanah. Orang tersebut tentu akan mampu mengetahui waktu di ponsel atau di ruang lain yang memiliki jam dinding nantinya, tetapi selama mereka masih melangkah di koridor, waktu tidaklah relevan sampai orang itu keluar.

Lucia “Lucy” Amelia, seorang perempuan berambut pirang nan warnanya mencolok dibandingkan warna monoton dinding situs, tengah berjalan melalui koridornya. Meski dia hanya melangkah biasa, ekspresinya penuh antisipasi, seakan hendak mencapai sebuah tujuan.

Dirinya berjalan melalui pintu demi pintu besi di samping kiri dan kanannya, tak dia tahu apa isinya, tak dipikirkannya jawabannya. Meski begitu, dia tidaklah sampai ke ujung koridor. Dia terus melangkah dengan ekspresi yang sama, melalui pintu demi pintu yang sama.

Tetapi kemudian ada pintu yang terbuka di samping kirinya. Lucy jelas tertarik dan menoleh ke arahnya. Saat dia mencapai pintu tersebut, di dalamnya hanyalah ruang yang sangat gelap, tak ada cahaya secercah pun bahkan cahaya lampu koridor tak mampu memberikan penerangan masuk selain beberapa sentimeter semata.

Lucy tidaklah sadar meski dia tengah memandangi pintu itu, dia tetaplah berjalan lurus menyusuri koridor. Dia seakan berjalan di tempat, tetapi dia merasa berjalan seperti biasa. Tetapi Lucy tak menengok ke bawah untuk memperhatikan, dia entah kenapa merasa ingin tetap menatap ke arah ruang kosong itu.

Tak berselang lama, sesuatu perlahan muncul dari kegelapan. Dia sepertinya seorang perempuan tinggi yang mengenakan jas lab peneliti, tetapi detail sisa termasuk wajahnya tertutupi rambut panjangnya.

Dengan suara tegas dia berkata, “Musuh kita yang sebenarnya, masih belum menunjukkan dirinya.”

Dan dia kembali kedalam kegelapan.


Tiba-tiba Lucy tersentak bangun dan segera duduk. Setelah beberapa saat menarik dan mengembuskan nafas, dia akhirnya menyadari dirinya di salah satu ruang pasien rumah sakit yang menjadi kover situsnya, Situs-84. Dia melirik ke jendela ruangan yang masih dilindungi jeruji besi. Cahaya matahari bersinar terang memenuhi ruangan. Dilihat lebih jelas, cahayanya agak jingga.

Lucy melirik ke sekeliling, tak ada penanda waktu di ruangannya berada. Dia hendak meraih ponselnya kalau begitu, hanya untuk tertegun menatap lengannya. Baru pada saat itulah dia menyadari betapa banyaknya perban yang terpasang di lengan dan kakinya. Saat ini dia tidaklah terlalu merasa sakit, tetapi mungkin itu efek obat atau semacamnya.

Dia perlahan ingat dia dituntun turun dari atap, samar-samar mengingat dirinya terbaring di ranjang pasien selagi beberapa personel membawanya menyusuri koridor untuk dirawat. Mungkin pada saat itu dia sudah tak sadarkan diri lagi dan akhirnya terbangun di sini mengenakan baju pasien.

Lucy perlahan mencoba ke pinggir ranjang dan menapakkan kakinya di lantai, lalu mencoba berdiri sebisanya. Rasa sakit mulai muncul sekarang dari kedua kakinya yang dibalut perban cokelat, makanya dia berpegang pada pinggiran ranjang. Dia menatap ke depan dan mendapati pakaianya yang masih kotor kemerahan dilipat seadanya di atas meja standar ruangan.

Dengan kesadarannya semakin kuat tiap saat terlewat, pertanyaan-pertanyaan mengenai apa saja yang telah terjadi mulai mengalir kembali. Salah satu hal yang terlintas di pikirannya adalah mimpinya tadi. Meski samar, untungnya cukup segar untuk dapat dipertahankan.

Setelah menatap kosong dan menghabiskan beberapa menit diam termenung, Lucy perlahan mencoba mendekati meja. Dia meraih pakaiannya, tetapi dia hanya mengambil jas birunya. Dikenakannya jas itu perlahan meski sisanya adalah pakaian pasien. Dia lalu melangkah pelan ke pintu keluar.

Pertanyaan-pertanyaan yang dimilikinya tak akan terjawab jika dia hanya diam saja.


“Hey, tetap di sana dan jangan mendekat!”

Seorang penjaga yang berdiri di dekat sebuah pintu berkata tegas. Tangannya memegang senapan standar, tetapi tidak ditodongkan; hanya disiagakan, karena di depannya hanyalah seorang perempuan berambut pirang tak bersenjata.

“Kau mau apa?” Penjaga itu bertanya segera.

“Aku perlu bicara dengan tahanan di dalam.” Lucy membalas.

Di depannya adalah pintu ruang isolasi rumah sakit, yang sepengatuannya kini dijadikan sel penahanan sementara situsnya.

Penjaga yang menjaga pintu tersebut hanya terkekeh, “Kau tahu aku tak mungkin mengizinkan siapa pun yang tak berwenang untuk masuk ke sel tahanan, kan?”

“Bagaimana kalau fakta bahwa aku yang menembak tahananmu?”

Penjaga tersebut diam selama beberapa saat. Akhirnya dia berkata, “Birmanto mengirimmu untuk menyelesaikan tugas?”

“Apa? Tidak!” Lucy menyanggah segera. “Dengar, aku cuma ingin bertanya saja di dalam. Sebentar saja!” Bujuknya.

Penjaga tersebut akhirnya mengangkat bahu dan perlahan berbalik seraya meraih kunci pintunya. Akhirnya dia membukanya dan mempersilahkan Lucy masuk. Lucy sendiri tak membuang waktu untuk itu.

Di dalam, terdapat seorang pria tengah berbaring di satu-satunya ranjang yang ada. Dia juga mengenakan pakaian pasien dan penuh perban seperti Lucy. Bedanya dia perlu lebih banyak perban di setengah wajahnya.

Di sampingnya, tanpa Lucy duga, terdapat seorang perempuan berambut pendek yang tadinya duduk di lantai, kini segera berdiri begitu menyadari ada yang masuk. Dan begitu menyadari identitas orang itu adalah Lucy, dia reflek berkata dengan suara seraknya, “Oh, Lucy?”

“Hilda!” Lucy juga reflek berkata, “Aku tak tahu kau juga di dalam!”

Awalnya Hilda hendak merentangkan tangan ingin berpelukan, tetapi dengan segera diturunkannya begitu dia mengingat kembali apa yang dia telah lakukan. Dia hanya meraba lengannya saja. Lucy tidaklah memedulikan itu dan memeluknya segera. Setelah semua yang terjadi, dia merindukan sahabatnya dulu. Hilda tak menyangka itu, tetapi perlahan dia memejamkan matanya dan ikut memeluknya dalam diam.

Setelah beberapa saat, mereka akhirnya saling mundur dan menatap sekeliling dengan canggung. Lucy memutuskan untuk menjadi yang pertama bicara. “Jadi… bagaimana luka tembakmu?”

Hilda menunjukkan bahunya yang terbalut perban kemerahan seraya membalas, “Masih sakit, tetapi percaya atau tidak, prosedur pengobatan Yayasan ampuh menyembuhkan luka sampai menghilangkan bekasnya… jika tidak parah.”

Dia melirik ke bawah saat mengatakan kalimat terakhirnya. kemudian dengan segera dia mengalihkan topik dengan berkata, “Bagaimana dengan lukamu itu, Lucy?”

“Entah kenapa tidak sesakit yang ku kira…” Jawab Lucy seraya melirik ke kaki dan tangannya. “Tetap sakit saat digerakkan sih…”

“Hm, mengejutkan… Perawatan lebih bagus, seperti yang kucurigai situs besar miliki.” Komentar Hilda seraya dia menatap luka Lucy dan mengangguk mengerti.

Lucy mengiyakan dalam diam. Dia mengalihkan pandangannya ke arah pria yang terbaring di samping mereka. Ditatapnya dia selama beberapa saat sebelum Lucy bertanya pelan, “Bagaimana dengan Harper?”

Hilda menoleh ke arah Harper sekilas sebelum berbalik ke Lucy dan menjawab, “Syukurnya lukanya tidaklah membahayakan. Kau mau bicara dengannya?”

Lucy menggeleng, “Ah, tidak! Tidak- Tunggu, maksudku, ya! Rencananya seperti itu, tetapi ku lihat dia masih belum sadar…”

“Oh,” Hilda merespon singkat sebelum melangkah cepat ke samping ranjang Harper. Dengan tiba-tiba dia menepuk pelan wajah Harper yang tak tertutup perban seraya berkata, “Sana ngomong, Har. Mumpung Lucy ada.”

Ini diikuti dengan Harper bereaksi dengan mengibaskan kasar tangannya seraya berseru kesal, “Hilda, aku akan mengeksekusimu segera setelah aku mampu duduk nanti!”

“Yah, dan kau akan mati kebosanan bicara dengan dinding setelahnya.” Hilda membalas enteng. Dia lalu menoleh kembali ke Lucy. “Maaf. Apa kau tahu, dia punya kebiasaan buruk berpura-pura tak ada ketika kita berdua bicara.”

Menoleh sekilas ke Harper, dia berkata singkat, “Kita tetap teman, kau tahu?”. Baru setelahnya dia mempersilahkan Lucy mendekat.

Lucy sendiri melangkah perlahan sampai ke samping ranjangnya. Dengan ragu dia menyapa pelan, “Hai… Harper. Bagaimana… ehm… apa kau masih merasa sakit?”

Lucy sama sekali tak tahu harus memulai dengan apa. Dia tahu dirinya praktisnya menikam Harper tepat mengenai dadanya di atap itu. Yang dipikirkannya saat menyeretnya ke pagar pinggir atap adalah harapan setidaknya Harper melihat matahari terbit untuk terakhir kalinya. Dia akan menangis jika dia bisa waktu itu. Saat bangun tadi entah kenapa dia masih mengira Harper hidup, dan ironisnya malah terkejut ketika para agen Situs-79 di ruang utama mengiyakannya. Dia ingin bersyukur dan memeluk Harper segera, tetapi tentu saja kecuali mereka berdua menerima amnestik kelas C dan melupakan segalanya yang terjadi selama seminggu terakhir, itu akan sangat canggung dan tak mungkin terjadi.

Sejujurnya dia mulai berharap itu akan terjadi, tetapi saat ini, dia harus menunggu jawaban pertanyaan seadanya tadi.

“Selalu. Tetapi yang terbaru masih lebih menyakitkan.” Harper berkata seraya menunjuk dengan jempol titik lukanya, bekas tusukan senjata Lucy. “Bagaimana kau bisa meleset sejauh ini ke bawah jantung?”

Sebelum Lucy bisa memikirkan jawaban yang pas, Hilda langsung menyela, “Dia hanya sarkas. Seperti yang kau lihat, dia senang mengetahui dirinya masih hidup.”

Mengabaikan dua orang di depannya bertengkar, Lucy merasa lega melihat mereka bertiga saling bicara seperti dulu. Tetapi tetap saja, dia perlu bicara serius dengannya.

“Maaf… maaf aku hampir membunuhmu, Harper…” Lucy berkata pelan, penyesalan mulai muncul dalam nadanya.

“Untuk apa?” Harper membalas. “Meskipun kau mengatakan itu, kau tahu kau tak bisa melakukan apa pun selain itu… karena pilihannya hanyalah aku atau dirimu.”

“Tidak,” Lucy membantah segera, “Itu adalah keputusasaan. Aku seharusnya langsung bicara padamu setelah insiden itu, tetapi ketika aku memberanikan diri menghadapimu… jarak kita terlalu jauh.”

Harper hanya diam, sepertinya termenung memikirkan kembali kejadian di malam itu. Tak lama setelahnya, dia berkata pelan. “…Kita sudah menyatakan di sisi mana kita berdua berada saat di atas sana. Sekarang hanyalah hasil pemenangnya.”

Lucy jelas tak menerima itu, jadi dia berkata lagi, “Jadi… setelah semua yang terjadi. Aku cuma punya satu pertanyaan: Kenapa, Harper? Kenapa kau mau mengakhiri segalanya malam itu? Kau bersedia mengoyak veil dengan rudal untuk menghancurkan Situs-79, menghancurkan dirimu sendiri karenanya… Kenapa?”

“Kenapa kau bertanya lagi?” Harper menolak menjawab. Nadanya terdengar mulai terganggu karenanya. “Sudah ku bilang berkali-kali, Situs-79 harus dihancurkan!”

Lucy menggeleng. “Seseorang tidaklah memiliki rencana sebesar itu dalam sehari-dua hari semata. Semuanya… semuanya personal, bukan? Seluruh alasan lain, mereka hanya justifikasi semata.”

Harper ingin membantah, tetapi hanya gumaman yang keluar dari mulutnya sebelum dia perlahan diam. Dia melirik ke Lucy, yang tengah menatapnya dengan sabar dan penuh kepedulian. Harper reflek menoleh menjauh.

Tetap saja, akhirnya dia tak sanggup membendungnya.

“Aku… aku takut kehilanganmu di dalam sana.”

Harper kemudian melanjutkan dengan pelan dan serak, “Ketika Insurgent menyerbu situs… Agen Situs-79 juga terlibat. Dr. Robert juga terlibat, kau- Kau mungkin tahu itu…”

“Aku tak tahu siapa yang harus kupercaya. Aku tak bisa menahan penyerang kita begitu saja; aku harus membuat pernyataan! Dan di tengah kekacauan itu… Aku teringat padamu.”

Harper kembali menatap langit-langit ruangan. “Aku harus memperingatkanmu. Robert yang menaruhmu di sana, mungkin aku bisa melakukan sesuatu untuk membantumu keluar. Aku… tak bisa meminta direktur mengontak Situs-79. Dia naif.”

“Beberapa hari aku tak tahu harus apa, sampai akhirnya kau sendiri yang meminta kemari. Tentu aku langsung menerimanya. Mungkin kau punya rencana juga. Mungkin saat itu aku juga sedang merancang cara agar kau tak perlu lagi kembali ke sana… hanya untuk kau datang bersama orang itu ternyata.”

“Harper, dia… dia hanya temanku di sana, oke.” Lucy mengoreksinya segera.

Harper membalas, “Kau tahu aku tak bisa memercayai itu, kan?”

Lucy tak bisa menyanggah itu. Dan dengan itu Harper lanjut bicara, “Melihat dia yang terlalu mendekatkan dirinya padamu, saat itulah aku sadar kalau kau… tak bisa melakukan apa-apa. Terlebih mengetahui mereka mencoba mengeksekusi direktur dan dirimu di ruangan itu.”

Lucy menangkap sesuatu dari perkataan Harper dan segera menyela, “Tunggu, kau tahu apa yang terjadi di ruangan itu? Ku kira kau menyalahkanku untuk itu?!”

“Aku selalu menyalahkan Situs-79, aku tahu mereka pasti menjeratmu agar terlibat juga.” Harper menjawab.

Lucy menghela nafas seraya menggeleng. Dia lalu kembali bertanya. “Jadi apa yang kau tahu mengenai insiden itu sebenarnya?”

“Tidak banyak.” Balas Harper. “Penyadap yang kupasang di meja direktur rusak karena ledakan itu. Tetapi CCTV koridor–yang untungnya kuperbanyak–merekam siapa pelaku yang membawa laptop itu.”

“Itu- itu berita bagus!” Lucy terdengar mulai bersemangat. Tetapi dia segera membaca situasi dan segera menenangkan dirinya. “Di mana aku bisa mengaksesnya?”

“Itu masalahnya… Situs-79 menjarah segalanya, dan aku tak berencana hidup sejauh ini, jadi arsipnya antara masih di ruang pengawas atau sudah dibawa orangmu kembali ke situs terkutuk itu.” Harper menjawab pasrah dan terdengar sedikit kesal juga.

“Ah… baik…” Lucy tak tahu harus apa dengan informasi itu. Dia bisa mencoba mengecek ke ruangan penjaga, mencoba apa dia boleh masuk atau tidak, tetapi seperti kata Harper, mungkin saja rekaman-rekaman miliknya tak lagi ada.

Harper tanpa disangka menoleh ke arah Lucy. Dengan tatapan serius dia berkata, “Kau tak bisa memercayai mereka semua, Lucy. Kau harus mencari kebenarannya sendiri.”

Lucy sempat tertegun, tetapi kemudian dia berkata dengan yakin, “Itulah aku, Harper. Selalu seperti itu”

Lucy mungkin salah lihat, tetapi dilihatnya Harper sekilas tersenyum sebelum kembali menatap langit-langit ruangan.

“Seluruh perjanjian yang ku buat, ancaman yang ku katakan, seluruh perang ini… hanya untuk mengeluarkanmu dari sana. Tetapi pada akhirnya, meski di tengah perang pun, malah kau yang memimpin didepan mereka, berdiri menemuiku lagi dan lagi bahkan setelah kutembak jatuh.”

Harper mulai terkekeh pelan. “Pada akhirnya aku tak bisa apa-apa…”

“Kau memulai perang, kau tahu.” Lucy menanggapi, entah kenapa dirinya mulai tersenyum. “Dan karena perang itu untukku, aku bertanggung jawab membereskan kekacauanmu.”

Harper kembali terkekeh. ”Pantas dia memujamu…”

Dia, ya…” Lucy menggumam pelan setelah mendengar kata itu. Dia lalu bertanya, “Apa… aku akan bertemu lagi dengannya? Harper yang dulu?”

Harper memejamkan matanya. Dengan enggan dia menjawab, “Hanya ada aku untuk sekarang. Situasi masih terlalu berlebihan baginya. Aku… tak yakin kapan suara kecil itu akan kembali.”

“Begitu ya…” Lucy menanggapi pelan.

“Mungkin suatu hari, ketika situs tak lagi memerlukan dominasi.” Harper kembali membuka matanya, kali ini memantulkan secercah harapan. “Atau suatu hari, ketika situs tak menginginkan lagi tirani.” Lalu ditutupnya kembali matanya.

Lucy diam selama beberapa saat, memastikan tak ada lagi yang dapat disampaikan. Akhirnya dia berkata, “Sampai jumpa lagi, Harper. Semoga… hukumanmu diringankan nantinya.”

Harper mengibaskan tangannya dengan enteng seraya berkata, “Aku membaca buku-buku dan arsip hukum Yayasan untuk bacaan malam. Kita akan bertemu lagi, ku pastikan itu. Akan kubuktikan diriku sekali lagi agar dapat berada di sisimu nanti.”

“Anjirlah kau masih sempat menggodanya…”

Hilda yang sedari tadi diam bersandar di lantai akhirnya bicara untuk mengomentari. “Juga, sampai jumpa lagi, Lucy! Berdoa Harper tak mengacaukan testimoninya nanti di depan komite disipliner!”

Lucy melambai ke arah mereka dengan senyum. Dia sebenarnya ragu apakah dapat bertemu kembali dengan teman-temannya lagi, tetapi sudah saatnya dia percaya akan kemungkinan, baik yang kecil sampai mustahil sekalipun.

Dia pun melangkah keluar dari ruang penahanan mereka berdua. Lucy langsung berbelok dan berniat keluar dari koridor dan langsung ke ruang keamanan. Meski pernah bekerja di sini selama beberapa tahun, dia tak ingat pasti apakah ada ruang penjaga di lantai kover atau cuma ada di sublantai. Dia harus melewati resepsionis di depan dulu dan melihat denah rumah sakit yang menjadi kover mereka.

Saat dia tengah melangkah, dia menyadari adanya sesosok pria tinggi yang mengenakan kemeja putih kusut dan celana kerja gelap. Semakin mendekat, Lucy menyadari dia juga tengah melihat denah rumah sakit sepertinya. Baru saat dia sudah cukup dekat, Lucy mengenali postur dan wajah orang tersebut.

“Kak… Onyx?”

Pria yang dipanggilnya itu tersentak dan segera menoleh ke arah Lucy. “Ah, hai Lucy!”

Lucy akhirnya sampai di samping Onyx dan ikut menatap denah rumah sakit di depan mereka. “Apa ada yang kau cari, Kak?”

“Huh, sebenarnya, iya.” Onyx membalas dengan ekspresi terkejut. “Kau dulu kerja di sini kan? Di mana tepatnya kapel RS Cermin Permata berada?”

Lucy menatap heran ke arah Onyx seraya berkata, “Huh, kau mencarinya untuk apa?“

“Aku mempelajari sejarahnya, jadi aku tertarik ingin melihatnya langsung.” Onyx menjawab, entah kenapa sedikit terdengar bersemangat.

Atau tak sabar.

Lucy menoleh kembali ke denah di depannya. “Yah, kau tak akan menemukannya di sana. Ia bangunan tersendiri, letaknya paling pojok kanan di belakang sana. Cek saja.”

“Ah, begitu ya…” Onyx mengangguk. Dia segera berbalik dan bergegas pergi. Meski begitu dia menyempatkan diri menoleh ke belakang dan melambai seraya berkata, “Baik, terima kasih Lucy!”

Lucy hanya balas melambai sampai Onyx kembali berbalik dan pergi. Dia lalu kembali fokus mengamati denah di depannya, memastikan keberadaan ruang penjaga tadi.

Tiada di antara mereka berdua yang tahu jika itu mungkin saja pertemuan terakhir mereka. Tentu saja karena itu tak mungkin terjadi setelah mereka baru saja berhasil mengakhiri ancaman terakhir mereka. Tetapi tetap saja, kemustahilan bekerja dua arah.


Langit perlahan semakin gelap, menandakan jelas bahwa matahari yang semakin tenggelam tengah menyinari cahaya sore saat ini. Tetapi meski begitu, semakin teranglah cahaya kejinggaannya.

Dan cahaya itu menyinari Onyx yang perlahan mendekati kapel rumah sakit yang dicat putih pucat dengan dekorasi minimal, terlihat sedikit tak terawat malah. Kedua pintu kayunya terbuka lebar dan Onyx tak membuang waktu untuk segera memasukinya.

Deretan kursi-kursi yang seharusnya berada di sepanjang ruangan tidaklah ada. Onyx sudah melihat beberapa diletakkan di pinggir bangunan, sisanya disandarkan di sepanjang pojokan. Di depannya adalah ruang kosong nan luas sampai ke altar.

Entah kenapa, kedua lilin di sana menyala. Onyx mendekatinya perlahan seraya mengepalkan tangannya dengan erat. Dia mengambil ancang-ancang sampai akhirnya dia cukup dekat untuk melihat apakah ada orang di sana.

Tak ada orang di sana.

Tiba-tiba pintu yang dia lewati tadi tertutup, menghasilkan hentakan nyaring karenanya. Onyx jelas tersentak dan langsung berbalik seraya mengambil posisi siaga seketika. Ruangan kehilangan cahaya terang dari pintu masuk, tetapi kini tiap kaca patri di dinding gantian menyinari ruangan dalam beragam warna samar.

Dan di balik bayangan yang tercipta, seorang perempuan dengan hoodie dan headphone tua melangkah menjauhi pintu seraya menodongkan pistol ke arahnya. “Kau tak akan pernah menang melawan Vector jika selalu berhasil dikejutkan seperti ini.”

“Bagaimana kau tahu Vector pernah melawanku, Natalia?” Onyx bertanya heran, perlahan menurunkan kepalan tangannya.

“Tunggu, dia tak pernah membandingkanku denganmu waktu bertarung?! Akh, laso…” Natalia mengumpat kesal. “Wrench itu selalu berkata aku tidaklah sekuat dirimu. Kau harus tahu berapa kali dia memaksaku melawannya karena itu!”

Onyx perlahan keluar dari altar. “Jadi kau ingin melawanku kalau begitu?” Dia berkata. “Kau memintaku kemari ke sini sore ini hanya untuk pemerasan semata?”

“Ah, tidak. Kita ke intinya kalau begitu.”

Natalia perlahan menurunkan headphone-nya. Dia kini menstabilkan pistolnya dengan kedua tangannya. “Ke mana Insurgent membawa adikku, sialan?!”

Onyx tertegun. Dia melirik ke sekeliling sebelum mencoba berkata, “Aku… aku tak tahu kenapa kau menanyakan itu padaku.”

Natalia hanya menatapnya tajam, tetapi dia hanya mengatakan dua hal, “Pengetahuan dilarang?”

Seketika Onyx membalas,

Mencurigakan, tak beralasan.
Kenapa Yang Kuasa iri terhadap mereka akan hal itu?

“Tak perlu repot berpura-pura. Kau dijual Judas.” Natalia berkata tegas.

Onyx hanya diam setelah terpaksa membalas kode verifikasi tersebut. Tangannya perlahan diangkat kembali ke posisi siap menyerang. “Kau tahu siapa pengkhianat itu nantinya? Orang yang akan menggagalkan seluruh Langkah kita nantinya?”

Baru Natalia tersenyum meski tatapannya kini mulai tak sabaran. “Bagaimana kalau kita bertaruh untuk itu. Jika kau mengalahkanku, akan kuberi tahu apa yang ku tahu, tetapi jika aku mengalahkanmu, beritahukan di mana markas Insurgent berada.”

Jeda sejenak.

“Tentu.” Onyx mengiyakan singkat.

Dan dengan itu dia seketika melesat maju dengan tinju siap dihantamkannya ke wajah Natalia. Dia tak mengkhawatirkan todongan pistolnya, dia bisa menghindarinya.

Natalia masih tersenyum, tetapi begitu Onyx sudah cukup dekat, tiba-tiba dia melempar pistolnya tepat ke arah Onyx dan membuatnya terkejut. Memerlukan sesaat baginya untuk fokus kembali, hanya untuk menyadari Natalia sudah meraih pedang Brethenitas di sampingnya dan mengayunkannya segera dalam sekali gerakan semata.

Onyx langsung mundur, tetapi Natalia terus menebas maju. Mendekati dinding di sampingnya, Onyx menggunakan kursi panjang yang tergeletak untuk pijakan meloncat ke samping tepat saat Natalia mengayunkan pedang ke arahnya, mengakibatkan Natalia hanya menebas kursi kayu.

Tanpa membuang waktu Onyx segera melontarkan pukulan kembali, tetapi Natalia menghindar dengan segera menunduk melewati pedangnya dan langsung mengayunkannya kembali begitu di sisi sebelahnya.

Onyx kembali dipaksa mundur. Dia melirik sekilas ke bekas loncatannya tadi. Setelah mundur beberapa langkah, dia menginjak kursi panjang di sampingnya kembali dan loncat sejauh mungkin ke tengah ruangan, sedikit terguling sebelum dirinya berdiri kembali segera.

“Apa yang kau lakukan, loncat seperti anjing kegirangan?” Natalia mengejeknya seraya memosisikan dirinya. Meski mengatakan itu, dia tak sedikitpun menurunkan kewaspadaannya.

Onyx perlahan mengitarinya. Keduanya saling menjaga jarak. Natalia mulai curiga kenapa Onyx mencoba melangkah ke sisi berlawanan, jadi bermodal firasat, dia langsung mengayunkan pedangnya dan mencoba menghentikan Onyx ke sisi samping.

Tetapi Onyx langsung meluncur tepat di bawah ayunan pedang Natalia sampai kakinya menghantam kursi yang tadi ditebas serangannya. Dengan sekuat tenaga dia menghantam retakan bekas pedang Natalia di kursi dengan kakinya sampai membelah kursi kayu itu jadi dua. Dia lalu meraih dan menggenggamnya dengan kedua tangannya untuk dijadikan perisai yang seketika mampu menahan tebasan vertikal Natalia setelahnya.

Tanpa membuang waktu, Onyx langsung mendorong Natalia yang pedangnya tersangkut di kursi sampai ke tengah ruangan. Natalia melangkah mundur secepat yang dia bisa agar tidak jatuh dan mengakhiri nasibnya.

Untungnya begitu di tengah ruangan, Onyx akhirnya berhenti; sepertinya momentumnya habis. Natalia langsung mencoba menekan pedangnya sedalam mungkin, bukan untuk membelah potongan kayu di kedua tangan Onyx, tetapi menahan dirinya agar dapat berayun ke samping badannya sebelum menendang belakang lututnya dengan kedua kakinya sekuat tenaga.

Onyx langsung jatuh seketika, dan di saat yang bersamaan, Natalia ikut mencabut ke atas pedangnya seiring ayunannya ke belakang. Dia langsung mengayunkan pedangnya seraya berbalik, sebelum langsung loncat ke badan Onyx yang tengah terbaring, mencoba menikam lehernya.

Onyx, yang hanya memiliki sesaat untuk bereaksi di bawah tindihan mendadak Natalia di badannya, dengan segera meraih kembali papan kayu kursi tadi dan menggenggamnya dengan kedua tangannya di atas kepalanya. Meski Onyx menahannya dengan sekuat tenaga, tikaman pedang Natalia langsung menembus kayu tersebut.

Berhenti tepat di atas lehernya karena gesekan menahan momentumnya sampai di situ.

Jeda selama beberapa saat, dengan keduanya saling terengah-engah.

“Aku… menang.” Natalia berkata dengan senang. Meski dia berkeringat dan matanya terlihat liar, dia tersenyum lebar menyadari keunggulannya.

Onyx langsung menghantam kayu yang dipengangnya, membuat papan itu beserta pedang Natalia terlontar ke samping. Ini diikuti hantaman kedua ke arah perut Natalia. Tetapi Natalia bereaksi lebih cepat dan dengan segera menjauh dari Onyx.

“Hey, hey, hey… aku menang, oke? Kau sudah mati jika aku tidak menahan diri! Atau mengalami pendarahan hebat di leher… Yang jelas aku menang! Jangan jadi pecundang masam!” Natalia perlahan mundur. Meski kemenangannya, jika Onyx nekat melanjutkan, itu akan sangat buruk baginya karena pedangnya terlontar jauh dan pistolnya dia lempar jauh. Natalia biasanya percaya diri akan tinjunya, tetapi jelas tidak jika lawannya dia.

Onyx perlahan berdiri, membuat Natalia semakin gugup. Dia mengamati pedangnya dipukul cukup jauh, sepertinya menghantam dinding samping. Dia memberanikan diri melirik ke samping dan mendapati pistolnya yang tadi dia lempar tergeletak dekat altar. Natalia hanya memejamkan mata menerima nasibnya.

Tetapi setelah merapikan pakaiannya yang kusam. Onyx berkata pelan, “Baik, kau menang kalau begitu.”

Natalia hanya terkekeh lega.

Onyx lalu melanjutkan, “Tetapi masalahnya di sini adalah aku ditugaskan Langkah untuk bekerja di situs. Aku tidaklah tahu markas operatif CI di luar sana. Ku kira mereka sel tersendiri.”

“Yang bener aja!” Natalia berseru kesal ke langit-langit. Dia lalu duduk kelelahan. “Rencana B kalau begitu, lacak manual. Akh, sialan!”

Onyx tak tahu harus apa sekarang. Dia menginginkan informasi yang dimiliki Natalia, tetapi dia punya rasa keadilan tinggi yang menghormati kemenangannya. Dia memutuskan untuk beranjak pergi kalau begitu.

“Tunggu,”

Onyx berbalik segera. Dia melihat Natalia tengah perlahan berdiri juga seraya berjalan menuju senapannya. Dia tak tahu apa yang perempuan itu inginkan darinya, tetapi dia mulai siaga kembali.

“Aku mungkin bisa tetap menjalankan rencana A untuk menemukan markas Insurgent.” Kata Natalia. Dia terdengar mulai bersemangat

Bingung, Onyx bertanya “Dan itu adalah?”

Seraya membungkuk untuk mengambil pistolnya. Natalia menjawab, “Memenuhi perjanjianku dengan Judas untuk menyingkirkanmu.”

Onyx langsung tegang dan mengambil ancang-ancang untuk memotong jarak secepat mungkin, tetapi Natalia hanya menyimpan pistolnya sebelum berbalik. “Oleh karena itu, aku perlu kau untuk tidak lagi kembali ke situs! Hey, kau bahkan bisa menemaniku ke markas mereka kalau mau!”

“Aku jelas tidak bisa.” Onyx menolak tegas. “Langkah mengharuskan aku di situs sampai Langkah berikutnya kuterima.”

“Huh, spesifik seperti itu ya…” Natalia menanggapi dengan penasaran. “Aku dan Adri juga dapat lembaran instruksi itu – dan itu satu-satunya yang kami terima sampai sekarang – tetapi yang tertulis di sana cuma permintaan menunggu saja. Mungkin karena kami cuma operator kontrak. Jadi apa saja perintah di kertasmu?”

“Tunggu, kita tak boleh saling mengetahui perintah yang diterima masing-masing, kan?” Sanggah Onyx.

Natalia balas menyanggah, “Hey, aku menang kan tadi? Jadi aku bisa bertanya apa pun padamu untuk membantuku mencari lokasi markas kita. Mungkin ada informasi tambahan di kertasmu – meski mungkin juga tidak – tetapi aku tak akan tahu jika tak kau beritahu, bukan?”

Memikirkan perkataan Natalia, Onyx diam berpikir beberapa saat. Akhirnya dia menjawab, “Matthias, Awasi Judas. Cuma itu saja.”

“Ah sialan,” Natalia kembali gusar. Tetapi dia menyadari sesuatu dan segera berkata, “Tunggu, kau tak perlu di situs kalau begitu!”

Onyx menggeleng, “Aku harus mencari Sang Judas ini. Seluruh Langkah agen kita yang lain dalam bahaya selama dia belum ditemukan.”

“Nahh, itu cuma kau yang terlalu berdedikasi.” Natalia mengibaskan tangannya untuk menyanggah itu.

“Tetapi kau mengontaknya, kan?” Onyx berkata, “Artinya dia memang ada!”

Natalia kembali mengangkat bahu seraya membalas, “Nah, sejujurnya… entah siapa pun orang itu, awalnya dia mengontakku lewat lembaran mirip perintah biasa. Bahannya nyaris mirip, tetapi entah kenapa terasa… salah. Ah, ya. Perintahnya juga lebih… ‘terbuka’. Biasanya diawali dengan kode nama – aku dikasih James the Greater, BTW, salam kenal – lalu isi perintahnya.”

Natalia menatap Onyx baik-baik seraya berkata, “Yang ini cuma ada perintah, ‘Eksekusi Onyx Pramono’.”

Onyx hanya tertegun, dalam sunyi menunjuk dirinya untuk memastikan dengan Natalia. “Iya. Tenang saja, aku tahu itu perintah palsu dan kau hidup keesokan harinya, jadi sama-sama!” Natalia lanjut bicara. “…Sampai malam pemindahan SCP-022-ID. Aku tiba-tiba saja didatangi penjaga yang dipimpin oleh si Herria sendiri. Dia mengatakan adikku terlibat operasi gelap dan kabur tanpa jejak, kemungkinan bersama Insurgent. Yang memang benar, tetapi tidak tanpaku! Itu melanggar perjanjian kita di awal!”

Natalia masih lanjut bercerita seraya bolak-balik di tengah ruangan. “Jadi di sanalah aku, duduk di sel mendengarkan Stressed Out seraya menunggu dengan cemas nasib adikku ketika ada selembar kertas terselip masuk. Yang ini praktisnya lipatan kertas HVS biasa, tetapi tertulis bahwa aku perlu memastikan kau tidak kembali ke situs dan aku akan diarahkan ke markas tempat adikku berada. Dan yang ini, yang ini baru ada tulisan pengirimnya. Judas. Sepertinya dia khawatir kalau aku akan mengabaikan yang ini juga kalau tidak.”

Natalia akhirnya berhenti berjalan dan langsung menepuk tangannya seraya berkata, “Dan di sinilah kita! Jadi, kau berkenan pergi bersamaku sekarang?”

“Entahlah, itu terasa… salah.” Onyx membalas dengan tak yakin.

“Heh, tahu apa kau mengenai salah dan benar. Kau agen ganda; antara separuh hidupmu salah atau separuhnya lagi yang salah.” Natalia menanggapi dengan tak peduli.

Tetapi Onyx termenung mendengar itu. Dia perlahan melangkah ke samping, ke arah salah satu kursi yang dijejerkan di pinggir sebelum duduk di salah satunya. Akhirnya dia berkata, “Kau tahu, aku tidaklah pernah memikirkan itu, atau mungkin aku mencoba menghindari itu.”

Dia lalu melanjutkan, “Berbeda darimu, aku dibesarkan organisasi CI sedari kecil. Sedari dulu misi Insurgent adalah mengakhiri korupnya Yayasan. Tentu saja aku setuju dengan itu. Untungnya ditugaskan di 79 membantu menegaskan itu lebih jauh. Aku jijik pada mereka. tak sabar ingin menghabisi mereka semua nantinya…”

Natalia tanpa sadar merinding, tetapi dia juga terlihat bersemangat. Dia membiarkan Onyx lanjut berbicara. “Tetapi perlahan aku mengenal mereka. Atasanku Herman, Jones, bawahanku. Tak semua sebusuk sisa personel di sana. Masih ada yang namanya… keadilan.”

“Dan yang paling mengubah pikiranku adalah dia, Lucia.”

“Gadis pirang itu, ya. Ku lihat kalian memang dekat.” Natalia menanggapi.

Onyx mengiyakan seraya tersenyum. “Dia adalah satu-satunya orang yang paling memperjuangkan apa yang dia percaya benar. Dia menolong orang tak berdaya seperti atasanku, berkeliling situs dan bicara dengan banyak orang untuk mencari bukti, dan dengan itu mendapatkan keadilannya. Aku selalu ingin seperti dirinya, tetapi… sejujurnya pikiranku terlalu sederhana untuk hal kompleks seperti itu untuk mewujudkannya. Itulah kenapa aku memilih mendukungnya.”

Natalia sedari tadi menyimak Onyx menjelaskan dengan senang rekan kerjanya. Dia mengangguk sekilas bak memahaminya sebelum akhirnya menanggapi, “Baik, ini pendapatku.”

“Sebaiknya, kau memang perlu keluar dari situs sekarang.”

Sebelum Onyx membantah lagi, Natalia menjabarkan pendapatnya lebih jauh. “Situasi semakin berubah drastis. Perintah akhir sepertinya semakin dekat. Kau tak ingin berada di situs dan ikut mengeksekusi Lucy dan para personel Yayasan bersama agen Insurgent lain yang menyerbu, kan?”

“Tentu… tidak.” Onyx perlahan ragu dalam menjawab. “Tetapi aku tidak bisa pergi juga. Aku tidak ingin mengkhianati organisasi yang membesarkanku selama ini. Itu jelas tidaklah adil.”

Natalia terkekeh seraya membalas, “Kau tak mengkhianati apa pun. Perintah yang kau terima cuma awasi Judas, kan? Ku asumsikan kau sendiri pun tak tahu siapa orang itu sampai sekarang.”

“Aku punya tebakan, tetapi… Lucy membuktikan kalau tebakanku mungkin saja salah.” Onyx menjawab.

“Tebakanku salah satu diantara duo kepala situs itu. Sumpah, mereka kayak punya rencana di atas rencana…” Natalia menggumam sejenak. “Oke, mengesampingkan itu. Itu artinya kau tidak tahu siapa Judas ini, kan? Itu artinya sampai sekarang kau belum menjalankan langkahmu, kan?”

Onyx diam memikirkan itu. Natalia kemudian melanjutkan, “Saat ini seseorang yang mengaku Judas mengontakku untuk menyingkirkanmu dari situs. Itu artinya lewatku, kau bisa mengawasi pergerakan Judas, kan?”

“Ohh…” Onyx reflek berkata saat dia mendengarnya.

“Perintahmu tak memberi spesifik kalau kau harus di situs untuk itu, jadi kau bisa ikut aku dan mungkin si Judas ini akan menunjukkan diri! Atau mungkin tidak, tetapi jika dia cukup bodoh untuk menampakkan dirinya, kita bisa habisi dia begitu dia mengarahkanku ke markas.” Natalia menyimpulkan dengan semangat. “Atau tidak juga, kau cuma diperintahkan untuk mengawasi, kan…” Dia menggumam setelahnya.

Natalia menggelengkan kepalanya agar fokus kembali sebelum akhirnya berkata, “Jadi bagaimana, kau mau ikut denganku sekarang?”

Onyx yang sedari tadi diam memikirkan tiap perkataan Natalia tidaklah bersuara untuk beberapa saat. Akhirnya dia perlahan berdiri dari kursinya dan merapikan kembali seragamnya. Natalia menunggu dengan sabar, tetapi tangannya perlahan memegang kembali pistolnya.

Onyx berdiri diam menatap langit-langit kapel. Cahaya kaca patri mulai redup, dan sakelar lampu kapel tidaklah mereka hidupkan. Dia akhirnya menoleh ke arah Natalia.

“Kapan kita pergi?”

Semakin kegelapan jatuh, senyum lebar Natalia terlihat samar. “Sekarang. Para kepala situs sedang rapat di ruang utama rumah sakit. kita perlu pergi sejauh mungkin dari situs ini sebelum mereka menyadari kita hilang. Aku berharap si Judas itu punya cara mengontakku nanti, jadi kita coba ke Bogor dulu untuk beberapa malam. Jika tak ada jawaban aku akan mulai rencana B dan kita akan sibuk setelahnya.”

“Rencana sederhana.” Onyx menanggapi dengan singkat. “Tunjukkan jalannya kalau begitu.”

Natalia dengan senang hati melangkah ke arah Onyx dan menuntunnya keluar dengan menepuk bahunya.

“Tapi kita perlu matikan ponsel nanti. Tarik tunai dulu dan beli ponsel baru jika kau mau.”

“Punyaku cuma dipakai khusus penelitian. Tak ada masalah membuangnya sekarang.”

“Sama, tetapi aku perlu musik atau aku mati kebosanan. Ah, dipikir-pikir dengerin lagu sambil mancing lumayan juga. Sensasi mendengarkan lagu santai di momen yang pas sama kuatnya dengan lagu untuk menghabisi orang. Kau tak keberatan kita cari penginapan dekat sungai, kan?”

Pintu kapel kemudian terbuka, menunjukkan siluet dua orang melangkah keluar darinya sebelum tertutup perlahan.

“Terserahmu.”


Lucy tertegun mengamati dengan seksama layar di depannya.

Ternyata memang ada ruang keamanan di kover situs, dan untungnya juga ia mencakup seluruh lantai yang ada. Beberapa monitor di antara puluhan monitor lain di depannya terlihat baru, sepertinya ditambah Harper baru-baru ini. Tetapi jika cuma untuk melihat rekaman, satu saja bisa di pakai.

Lucy tengah mengamati dengan seksama rekaman kamera yang ditangkap CCTV ruang resepsionis di pintu masuk. Harper menambah dua kamera tambahan di sana, jadi mereka punya empat untuk tiap sudut ruangannya.

Setelah melihat beberapa adegan berdarah yang terekam tadi malam, Lucy berhasil menemukan rekaman untuk hari insiden itu. Dia menyaksikan dirinya dan personel lain kabur dari situs di hari itu, melihat Hilda menodongkan senapan runduknya sebelum menurunkannya dengan lemas. Lucy kembali merasa bersalah, tetapi itu digunakannya untuk memotivasinya mencari kebenarannya.

Sampailah dia pada titik ini. Tak lama setelah tim mereka diizinkan masuk, ada seorang personel baru yang tergesa-gesa masuk seraya menenteng tas besar di bahunya. Para penjaga jelas terlihat bertanya, tetapi apa pun yang dikatakannya, mereka sepertinya percaya dan membiarkannya masuk. Dia tengah mengenakan seragam personel keamanan seraya dia masuk, tetapi untungnya bagi Lucy, dia tidak mengenakan pelindung kepala.

Lucy tidak mengenalnya, tetapi dia seorang perempuan berambut panjang yang poninya dipotong lurus. Meski resolusinya agak kurang jelas saat diperbesar, Lucy dapat melihat matanya sipit. Dia tak dapat mendengar apa pun dari rekaman, tetapi dia dapat melihat jelas apa yang perempuan itu lakukan. Dia segera menaruh tas besarnya di meja resepsionis. Lalu dia mengeluarkan helm dan rompi personel keamanan dari dalam tasnya. Baru setelahnya, dia mengeluarkan laptop jebakan itu dan membawanya pergi, meninggalkan tas kosongnya di sana.

Lucy mencoba mencari ke mana perempuan itu pergi, tetapi sepertinya dia membaur cukup baik dengan para penjaga keamanan yang diperintahkan Harper untuk mengejar mereka. Itu saja bukti Lucy satu-satunya, makanya Lucy tengah memutar balik rekaman tadi dan mengamati momen dia masuk dengan sungguh-sungguh, mencari sesuatu yang mungkin dia lewatkan.

“Sesuatu menarik perhatianmu?”

Lucy tersentak dan segera berbalik. Tangannya reflek meraba revolvernya meski kehabisan peluru. Tetapi di depannya ternyata adalah seseorang yang dia kenal.

“Ya, Pak Hidayat.” Lucy berkata singkat. Dia merasa tak nyaman tak dapat melihat ekspresinya karena kacamata hitam itu, jadi dia kembali berbalik ke layar monitor seraya berkata, “Seperti yang Anda lihat di sini, setelah tim kita masuk, datang seorang personel lain yang tidak dikenal. Dia yang bertanggung jawab membawa laptop berisi rekaman SCP berbahaya itu.”

Hidayat tidaklah bereaksi banyak. Dia tetaplah tersenyum tipis seraya mengangguk mengerti. Akhirnya dia berkata, “Saya sudah menyaksikannya. Penyelidikan tentu akan dilakukan setelah keadaan kembali normal. Untuk sementara, kita amankan saja dulu barang buktinya.”

Lucy jelas heran, dia mencoba menegaskan kembali. “Tetapi Pak, jika kita menemukan perempuan itu segera, kita dapat menghentikan apa pun rencana besar yang akan terjadi nantinya!”

Hidayat hanya membalas tenang, “Itu saran, atau perintah?”

Lucy tersentak, dia tak tahu harus mengatakan apa. Pada saat itu, dia teringat kembali perkataan Harper.

Tidak peduli dia mengatakannya dengan maksud buruk, ada kebenaran di baliknya.

“Saya mengerti… Pak.” Lucy berkata. Dia merasa Hidayat menunggunya pergi dari sana, jadi dia pun melangkah keluar.

Dia berpapasan melewati Hidayat tanpa bicara lagi setelahnya. Awalnya Lucy mengira urusan mereka selesai, tetapi Hidayat menghentikannya sebelum dia melangkah lebih jauh.

“Kau tak merekam apa pun dengan ponselmu, kan?”

Lucy segera berbalik gugup. Diam terlalu lama akan membuatnya curiga, jadi dia menjawab segera setenang mungkin, “Tidak, Pak.”

Tentu saja Lucy merekamnya. Dia mencoba mempersiapkan dirinya untuk menghapus rekamannya secepat mungkin begitu dia membuka ponselnya tanpa ketahuan. Harapannya adalah Hidayat cukup puas melihat galerinya kosong sehingga tak mengecek berkas sampah nantinya.

Tetapi Hidayat hanya mengangguk seraya berkata, “Baguslah. Ada hal penting yang perlu disampaikan di aula kepada kalian dan para personel Situs-79 lainnya, jadi pergi ke sana segera.”

Lucy segera mengangguk dan berbalik pergi. Tentu saja Lucy tak percaya Hidayat percaya padanya semudah itu, tetapi berdiri terlalu lama juga mencurigakan, jadi dia meninggalkannya segera.

Lucy dan Hidayat memiliki pikiran yang sama selagi mereka semakin menjauh,

Dia tahu.


Lucy kembali berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Ternyata jika seseorang fokus akan sesuatu, dia dapat melupakan rasa sakit hasil operasinya. Lucy baru menyadari itu setelah mengamati dirinya bolak balik dari satu sisi bangunan ke sisi lainnya.

Tetapi pikirannya perlahan kembali memikirkan hal lain lagi. Dia masih curiga Hidayat tahu apa yang dia lakukan, tetapi mungkin saja ada hal lain yang lebih mendesak di pikirannya. Sesuatu seperti apa pun yang akan diumumkan nanti di ruang utama.

Setelah beberapa saat berjalan, dia sampai kembali di resepsionis. Sebenarnya dia bisa saja langsung ke ruang utama, tetapi dia ingin lewat jalan panjang untuk mengecek sekali lagi apakah ada bukti lain yang tersisa. Itulah kenapa dia kepikiran bagaimana ceritanya dia bisa lupa rasa sakitnya tadi.

Tetapi sayangnya, tidak ada lagi tas yang ditinggalkannya. Sepertinya antara Harper atau Situs-79 yang membuangnya. Lucy melirik ke belakang, mengamati pintu kaca nan hancur dan menunjukkan suasana malam di luar.

Mungkin juga CI atau siapa pun di balik ini semua.

Setelah mengamati sekilas sekelilingnya. Lucy menghela nafas dan meninggalkan meja resepsionis. Dia mulai dapat merasakan rasa sakitnya kembali, jadi sebaiknya dia pergi ke ruang utama selagi masih memiliki adrenalin untuk meredamnya.

Dia kembali berjalan, untungnya jaraknya lebih dekat sekarang. Dia dapat melihat ruangan utama dari sini, jadi tentu saja tak memakan waktu lama untuk dirinya agar sampai ke depan ruangan. Saat dia tepat hendak melangkah masuk, seorang perempuan berseragam peneliti tiba-tiba muncul keluar dengan tergesa-gesa dan menabraknya. Lucy hampir saja jatuh jika saja dia tak berpegangan ke dinding di sampingnya.

Lucy mengamati dia memiliki rambut hitam panjang yang dikepang. Dia tidak mengenalinya, mungkin karena kacamata dengan bingkai bulat besar yang dikenakannya. Saat menabraknya, dia tengah membawa beberapa kertas dan sebuah buku catatan tebal yang dengan segera dia ambil satu persatu dengan panik.

Memang perempuan itu yang menabraknya, tetapi Lucy tetap bertanya, “Ah, apa kau tak apa-apa?

Setelah mengambil lembaran terakhir yang tercecer, dia tak menjawab pertanyaan Lucy, tetapi langsung menunduk dan berseru “Maaf!” dengan nada menyesal dan gugup. Dia melirikmu sekilas sebelum bergegas pergi seperti sebelumnya tadi.

Lucy menatap kearahnya selama beberapa saat sebelum sebuah suara berseru memanggil namanya. Lucy menoleh dan mendapati Kepala Penahanan Birmanto, Kepala Keamanan Herria, serta beberapa personel Situs-79 lain yang terlibat termasuk Hansel sudah berkumpul di sana. Birmanto lah yang sepertinya memanggil Lucy masuk, karena Herria tengah berbicara dengan Hansel dan personel lain dengan ekspresi serius.

Lucy pun melangkah masuk. Di saat yang bersamaan, seorang peneliti pria lain masuk ke dalam bersama dengan Hidayat. Bale.

“Baik, semua sudah di sini, kan?” Birmanto berkata kepada Hidayat, tetapi dia tidak mengharapkan jawaban untuk retoriknya. Dia langsung melanjutkan, “Kita akan kembali ke Situs-79 segera. Jika yang dikatakan Rukminah tadi benar terjadi, situasi semakin tak terkendali di sana.”

Sepertinya Lucy melewatkan detailnya, karena Birmanto kemudian menoleh ke arah Herria dan personel yang bersamanya, “Kalian fokus memastikan akses aman untuk kita turun saja. Serahkan saja lantai Safe kepada mereka sekarang. Kita tinggalkan Hansel dan timnya di lantai Euclid untuk menyelamatkan mereka, lalu langsung ke perbatasan baru Brethenitas.”

Herria mengangguk. Birmanto lalu melirik ke arah Hidayat dan melanjutkan, “Kau yakin tidak bisa kembali ke situs dalam waktu sehari dua hari nanti?”

Hidayat menggeleng seraya tersenyum. “Aku menangani satu situs. Paling cepat tiga hari sampai seminggu urusanku di sini baru selesai.”

Birmanto kembali menoleh ke sisa personel dan menanggapi, “Baik, kau dengar dia, dia tidak ikut jadi jangan bertanya nanti. Kita fokus akan kecepatan di sini, jadi kita langsung saja.”

Dan dengan itu Birmanto segera beranjak berdiri, diikuti seluruh personel lain. Lucy dan Bale saling pandang sekilas sebelum mengikuti mereka yang perlahan mempercepat langkah mereka keluar.

Mereka masuk ke mobil dalam cepat dan diam, tetapi jelas mereka berdua perlahan gugup akan apa pun yang tengah terjadi sekarang. Mungkin Situs-79 bukanlah situs terbaik di seluruh pulau, atau bahkan se-Indonesia, tetapi itu tetaplah situs mereka. Lucy tak dapat melihat ekspresi Bale yang duduk di sampingnya, tetapi dia merasa begitu. Meski Heru tidak lagi di sana, meski Onyx aman bersama mereka, tetap saja ada personel lain yang masih tinggal di dalam situs seperti mantan atasannya dan mantan atasan Bale. Semoga saja mereka baik-baik saja.

Dipikir lagi, dia tidak melihat Onyx, tetapi mungkin saja dia naik kendaaran lain. Lucy tak terlalu memikirkannya lagi karenanya.


Begitu mereka kembali, kover pabrik mereka masih terlihat kosong, meski seluruh kekacauan yang mereka tinggalkan sebelumnya telah dibersihkan. Seluruh personel segera keluar dari kendaraan mereka satu persatu dan langsung masuk. Birmanto dan Herria berjalan paling depan, mungkin karena status mereka, diikuti Hansel dan rombongan personelnya. Lucy dan Bale berjalan di belakang mereka.

Birmanto melirik sekilas ke belakang. Dia lalu mengarahkan tangannya ke arah samping. Hansel dan timnya segera bergegas ke arah tunjukkan Birmanto. Tersisa mereka berempat sekarang. Sedikit aneh bagi Lucy karena mereka punya dua lift depan, jadi semua orang pasti muat jika dipaksakan. Mungkin Birmanto punya rencana untuk mereka, jadi untuk sekarang hanya mereka berempat yang masuk ke dalam.

Saat di dalam lift, Birmanto hanya berkata singkat, “Bale, lepaskan topengmu. Lucy, berdiri di belakang Bale sekarang.”

Mereka berdua langsung menurut. Lucy melihat sekilas luka tebasan Bale seraya dia berjalan, mengingatkannya akan kali pertama dia melihatnya. Rasa bersalah dan canggung kembali muncul sedikit, tetapi Bale tak memedulikan Lucy sama sekali, jadi dia rasa situasi sekarang lebih penting dibanding itu.

Tepat setelah mereka selesai melakukan apa yang Birmanto minta, pintu lift terbuka dan kumpulan personel keamanan mengacungkan tombak jarahan situs sebelumnya ke arah mereka.

Bale dan Lucy sedikit tersentak, tetapi Birmanto dan Herria tak bergeming karena mereka memang tahu kondisinya. “Mundur! Kami ingin menemui Haikal seperti yang dijanjikan!” Herria berseru.

Para penjaga yang mengancam mereka saling lirik sebelum akhirnya memberi ruang di tengah agar mereka lewat. Bale dan Lucy mengamati sekeliling mereka, meski Bale lebih ke arah penasaran dan Lucy ke arah gugup. Lucy melirik ke arah dua orang personel senior di depannya, mendapati Birmanto menatap serius ke depan dan Herria sangat, sangat kesal.

Begitu mereka keluar dari ruang tunggu, mereka mendapati dua kelompok personel tengah saling menodongkan senjata. Di satu sisi adalah Hansel dan timnya yang berseragam agen lapangan muncul dari arah lift barang, sedang menodongkan senapan mereka. Di sisi lainnya, kumpulan personel keamanan tengah menodongkan senapan bius, tombak jarahan, dan senjata lain yang mereka punya ke arah mereka. Di depan para penjaga itu berdiri seorang pria paruh baya yang mengenakan topi beret biru dan masker gas standar Yayasan. Warnanya lebih gelap dari masker tua Bale dan ia dilengkapi kaca merah yang lebih canggih.

Birmanto, Herria, Bale dan Lucy perlahan melangkah keluar dengan waspada selagi dituntun personel di belakang mereka. Saat itulah Lucy menyadari bahwa terdapat gambar sekarang di dinding pucat nan luas di samping mereka.

Sebuah garis horizontal merah besar yang dicat kasar, dengan kedua sisinya memanjang turun ke bawah, terhubung ke kumpulan noda kemerahan kasar di bawahnya. Dilihat dari jauh, ia membentuk bendera negara mereka.

Dengan sebuah tulisan di bagian ‘putih’nya, ditulis dalam warna ‘merah’ serupa,

’BERSIAP’

Pria yang memimpin para penjaga itu melangkah maju seraya berkata dengan nada senang, “Wes seneng rek, kowe kabeh akhire iso ndelok dekorasi kuwi… Saiki ayo langsung wae, tak rembug masalah sing mau!

Birmanto hanya membalas, “Agen Senior Haikal, antara kita diskusikan perjanjian kita dalam Bahasa Indonesia atau aku akan memakai Bahasa Aceh saja.”

Haikal hanya tertawa angkuh, dia membalas, “Heh, yo wes, apa pun asal bukan bahasa transferan!”

Birmanto lalu memulai diskusinya, “Jadi kau dan seluruh anak buahmu menguasai seluruh lantai sekarang. Bagaimana para peneliti yang ada?”

“Aku tidak akan mengganggu sesama orang kita!” Haikal meyakinkan, meski sangat meragukan. “Sayangnya, Londo Ireng tetap perlu dikasih pelajaran…”

“Itu termasuk kami?” Birmanto menanggapi singkat.

Haikal hanya terkekeh. “Itu tergantung apakah kalian mengikuti perjanjian yang kuminta gadis itu sampaikan atau tidak.”

Birmanto diam sejenak. Akhirnya dia berkata, “Sampai kita bisa menemukan solusi yang lebih permanen, kami tidak akan menyentuh lantai Safe. Seluruh personel luar negeri akan kuposisikan mundur ke lantai bawah.”

Wes! Turun sono!” Haikal memberi gestur mempersilahkan mereka lewat ke ruang utama.

Birmanto memberi isyarat untuk segera bergerak. Baik tim mereka maupun tim Hansel segera bergegas. Mereka melewati kumpulan penjaga tersebut tanpa saling kontak mata lagi, karena hanya amarah yang terpercik nantinya.

Begitu mereka sudah sampai di koridor, Lucy memutuskan untuk berinisiatif bertanya, “Maaf saya melewatkan apa pun yang bapak diskusikan, tetapi apa yang terjadi saat ini, Pak?”

Herria menjawab, “Dengan Hansel keluar situs untuk misi kita bersama agen senior lain untuk mengisi kekosongan agen lapangan, personel Jerman kehilangan kekuatan mereka dalam sekejap. Ini dimanfaatkan Agen Senior Haikal Satria untuk memobiliasi penjaga lokal untuk membalik dominasi lantai Safe. Dan dia berhasil untuk itu.”

“Dan para peneliti lain? Pak… Herman?”

Birmanto terkekeh seraya berkata, “Peneliti Senior Johannes berhasil mengamankan seluruh peneliti senior ke lantai bawah. Penelitan ditiadakan sepenuhnya.”

“Anak buahku kuperintahkan turun juga. Kita meninggalkan lantai Safe sepenuhnya untuk sekarang.” Hansel menambahkan.

Mereka sampai di pintu pembatas yang segera mereka buka. Hal pertama yang menyambut mereka adalah batang pohon pinang, dengan mayat empat orang berambut pirang tergantung di atasnya. Jika situs Yayasan tidaklah steril, lalat pasti sudah mengerumbuni mereka.

Mereka jelas memilih untuk mengabaikan itu dan langsung fokus menuju ke lift. Itu termasuk Lucy yang tak ingin melihat pemandangan menjijikkan itu lebih lama, jadi dia melirik ke arah kantor umum dan pribadi. Tak ada peneliti yang duduk sama sekali, hanya ada sekumpulan penjaga yang duduk lesehan di atas meja kerja yang sudah dikumpulkan jadi satu, saling merokok meski di dalam situs dan malah menghancurkan alat deteksi asap untuk itu, saling berbincang nyaring dalam Bahasa Jawa dan saling tertawa dalam obrolannya.

Begitu mereka masuk lift, giliran Bale yang bicara, “Kenapa kita tidak hentikan mereka? Mereka cuma kumpulan penjaga dan hanya menguasai satu lantai.”

Herria membalas, “Tentu saja, hanya setelah kita bisa mengendalika dua lantai lainnya.”

Sebelum salah satu diantara mereka bisa bertanya, pintu lift terbuka dan menunjukkan lantai Euclid yang kini diisi beberapa orang. Bale mengenali dokter mereka, Lira tengah bolak-balik tak sabaran di depan pintu pembatas. Dilihat lagi selain dia tak mengenakan jas labnya, rambutnya setengah lebih pendek dan hanya diikat tali semata. Sesuatu pasti terjadi saat upaya penerobosan. Lucy juga melihat perempuan yang ditabraknya tadi melihat ke arah mereka sebelum bergegas pergi ke area kantor pribadi.

Dan di depan mereka, seorang pria mendekati mereka. “Pak Herria, senang kalian berhasil lewat!” Dia berkata dengan lega.

“Langsung saja Jones, bagaimana keadaan Louis dan Frederick?” Herria langsung bertanya.

“Situasi terkendali saat ini. Judy begitu datang langsung menodongkan senapan gentelnya ke arah mereka. Kami berhasil menjanjikan tak akan memasuki area penahanan sampai kalian meluruskan insiden ini dan untungnya mereka puas akan itu.“ Jones menjelaskan.

Herria mengangguk mengerti. Kini giliran Birmanto yang bertanya, “Baik, Louis dan Frederick tertahan di ruang Frederick sendiri, kan. Di mana Herman kalau begitu?”

“Dia ke bawah, ingin membantu negosiasi dengan Brethenitas.” Balas Jones.

Tiba-tiba saja terdengar keributan dari arah kantor pribadi. Mereka menoleh dan mendapati Louis berada di koridor, yang saat ini juga menjadi lokasi berkumpulnya anak buah Hansel, melangkah mendekati mereka.

“Baguslah kalian datang, aku tak tahu berapa lama aku bisa tahan di ruangan diktaktor itu!” Louis langsung komplain. “Para penjaga itu menghancurkan pintu ruanganku dan memaksa masuk saat tengah malam! Dan aku tak melakukan apa-apa, sumpah! Kalian harus menghukum mereka!”

Tiba-tiba, sebuah tangan memegang bahu Louis. Louis jelas tersentak dan menoleh ke belakang, mendapati Cyra berdiri di sampingnya sekarang. “Louis… Kau masih utuh sampai sekarang karena kemurahan hati kami membuka pintu ruangan saat kau lari seperti tikus di koridor, jadi tolong tetap jaga mulutmu.” Cyra memeganginya dengan senyum, tetapi mulai mencengkram bahunya. “Aku tak suka bau tikus bakar.”

“Aw, aw, aw! Kau lihat, kita tak yakin berapa lama bisa bekerja sama, jadi lakukan sesuatu!” Louis berseru panik.

Birmanto menoleh ke Herria dan berkata, “Sepertinya kita tetap perlu mendatanginya.”

“Tiap menit berharga Pak, langsung saja.” Herria membalas. “Cyra, amankan Louis kembali ke ruang kalian.”

“Aiieeeee-“ Louis berseru seraya ditarik Cyra yang dengan senang hati menyeretnya kembali ke dalam.

Mereka berdua pun langsung bergegas mendekati pintu pembatas. Lira yang sedari tadi mondar-mandir berkata pada mereka begitu cukup dekat, “Izinkan aku ikut! Aku harus tahu apakah dia baik-baik saja. Lagi pula aku mungkin bisa meyakinkannya.”

Birmanto melirik sekilas ke arah Herria. Herria begitu menatapnya hanya dapat menunduk. Jadi Birmanto lah yang mengiyakannya. Mereka semua membuka pintu pembatas, hanya untuk mendapati beberapa penjaga sudah berjaga di hadapan mereka. Mereka hanya menggenggam erat baton standar sebagai senjata untungnya.

Satu hal unik yang Bale dan Lucy sadari adalah di lengan mereka terikat perban putih. Dari penempatan dan keseragamannya, itu jelas menyimbolkan sesuatu.

Salah satu di antara mereka maju dan berkata, “Pak, kami di sini menuntut keadilan atas penyerangan dokter Radia! Para penjahat di dalam sana harus dieksekusi juga!” Sorakan persetujuan mengikuti penjaga itu.

Herria balas maju dan membalas, “Kami akan mengambil testimoni dari Radia dulu sebelum membuat keputusan. Jadi izinkan kami lewat.”

Para penjaga saling menatap dan mengangguk sebelum membiarkan mereka lewat. Mereka tak seberbahaya anak buah Haikal di atas, tetapi jumlahnya tetap akan memberi masalah jika mereka memutuskan untuk melawan. Sepertinya Birmanto dan Herria memilih menghindari itu.

Lira berjalan lebih cepat dibanding mereka, jadi dialah yang membuka pintu ganda bangsal medis. Lucy teringat pengalaman buruknya di sini dengan kedua asisten Lira. Mungkin Lira bisa membuat mereka memaafkannya, atau jika tidak dia akan meminta maaf pada mereka nanti.

Tetapi dia teringat kembali, bukankah yang menyebabkan mereka terluka adalah Radia. Bagaimana mereka menyikapi itu membuat Lucy penasaran.

Begitu Lira membuka pintu, di dalamnya, Radia berdiri di tengah ruangan. Satu-satunya yang berbeda darinya adalah dia kini megnenakan jas lab yang agak terlalu lebar, sehingga jika dia bergerak ia akan terhembus lebar ke belakang.

“Lira!”

Radia langsung berjalan cepat ke arah Lira dan memeluknya. “Aku merindukanmu!” Dia berkata dengan isak bahagia.

Tak ada yang tahu bagaimana menyikapi situasi ini. Tetapi Lira memutuskan untuk memeluknya juga dengan lega.

Dan bicara tentang lega, Lira langsung bertanya, “Ku dengar dari Birmanto kalau kau diserang saat tengah berjaga di tengah malam!”

“Iya! Lira, mereka tak suka aku di sini…” Radia berkata dengan sedih.

“Maaf, kau tak seharusnya terlibat dengan perang faksi di sini…” Lira berkata, sedikit menyesal dalam suaranya.

Tetapi Radia menggeleng, “Bukan…” Dia menatap Lira dengan berlinang air mata dan berkata, “Asistenmu, Ulya dan Saimun yang menyerangku.”

Dengan segera Lira melepas Radia dan berseru, “Apa!? Tak mungkin itu mereka!”

Suara nyaring Lira mengundang perhatian para penjaga, jadi Herria mencoba menahan mereka. Radia melanjutkan ceritanya, “Benar! Ulya mencoba menusukku dengan pisau bedah sedangkan Saimun menyekapku di ranjang! Aku mencoba membebaskan diri, tepat saat Ulya menikam ke arahku! Dia menusuk Saimun dan membunuhnya!”

“Tidak, tidak! Ulya dan Saimun tak mungkn melakukan itu!” Lira berseru menolaknya.

“Para penjaga melihatnya! Mereka melihat Ulya yang berlumuran darah di sana dengan aku tergeletak di lantai dengan ketakutan!” Radia bersikeras juga seraya menunjuk ke salah satu ranjang kosong. Apa pun yang dibicarakannya sudah dibersihkan sepertinya.

“Tidak! Itu tidak mungkin!” Lira mencoba menegaskan kembali, meski semua orang bisa mendengar kalau dialah yang perlu diyakinkan.

“Lira…” Radia mencoba menyentuh pundak Lira dengan lembut. “Aku… aku tidak tahu beban apa yang kalian semua alami di bawah sini. Tetapi aku berjanji, aku bisa menjadikan lantai ini menjadi lebih baik. Dan aku tahu ini saat saat yang berat bukan hanya untukku, tetapi juga dirimu juga.”

Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah para penjaga yang berkumpul dan mulai berdiri. “Dan kalian juga! Aku ingin mengakhiri perang faksi berbahaya ini! Aku ingin tidak ada lagi penjaga yang dilarikan masuk kemari karena diserang sesama penjaga! Kita bisa menghentikan kekerasan di sini selamanya!” Dia berseru.

Para penjaga di belakang bersorak. Hanya lima personel di depannya yang tidak. Dia menoleh ke Radia sekali lagi, “Dan aku ingin kita bekerja bersama kembali. Aku ingin kita berteman seperti dulu lagi. Kau mau bekerja bersamaku?”

Lira tak tahu harus apa, tetapi dia sudah kehilangan cukup banyak. Dia tidak mau kehilangan teman terakhirnya.

Dia menggenggam tangan Radia dalam diam. Penjaga bersorak untuk mengisinya.

Radia mengalihkan perhatiannya ke arah Birmanto dan Herria. “Jadi, aku harap kalian bisa membantu mengakhiri konflik ini juga. Kalian mau membantu itu, kan?”

Birmanto dan Herria saling pandang. Herria menunjuk jam tangannya dan mengisyaratkan waktu mereka semakin berkurang. Birmanto segera membuat keputusan cepat. “Baik, saya menempatkan Kepala Keamanan Herria untuk mengawasi lantai ini untuk kelancaran urusan kalian.”

Para penjaga bersorak puas. Herria sendiri segera berbisik, “Pak, ini bukan bagian dari rencana!”

Birmanto balas berbisik, “Situasi juga lebih parah dari rencana. Biar aku yang menangani urusan di bawah sampai kau yakin situasi di sini stabil.”

Dia lalu berkata, “Bale, Lucy, ikut aku. Kita punya urusan terakhir di bawah.”

Dan mereka bertiga pun beranjak pergi. Herria sendiri menghela nafas dan segera membubarkan penjaga yang berkumpul.

Tersisa Radia yang memeluk Lira yang tengah menangis. Sayangnya Lira tak dapat melihat Radia tersenyum puas selagi pintu bangsal medis tertutup.

Apakah kau menyesal sekarang?


Lift akhirnya berhenti di lantai terbawah. Birmanto melangkah keluar, diiringi Bale dan Lucy. Mereka bertiga kembali melihat wajah yang dikenal. Herman yang berdiri di depan pintu pembatas tengah menatap khawatir ke arah mereka.

“Bagaimana keadaannya Herman?” Birmanto tak membuang waktu langsung bertanya seraya dia mendekatinya.

“Tak ada perubahan. Tetapi tetap mengkhawatirkan.”

Mereka akhirnya memasuki pintu pembatas. Awalnya Bale mengira mereka akan ditodongkan senjata kembali, tetapi keadaan masih terkendali di dalam.

Tetapi Birmanto tetap mengisyaratkan mereka untuk mengecek darah, sedikit membingungkan Lucy karenanya.

Mereka berjalan sampai di depan area pembatas Teritori Brethenitas. Di depannya, lima orang personel berzirah besi keemasan yang Bale kenal dengan baik dalam artian yang tak baik berdiri berbaris. Sekuritas Angelika Brethennia.

“Kau sangat-sangat berani melakukan ini, SCP-090-ID-1.” Birmanto berkata. Kali ini, mereka dapat merasakan amarah di baliknya.

“Ini perintah dewan kami yang menginginkan hanya keadilan Sang Bunda Brethennia semata.” Ketua Angelika berkata, “Kami akan melepas seluruh Normalis yang kami tawan hanya untuk Sang Setan Bertopeng semata.”

Birmanto menatap ke arah ketua Angelika sesaat, tetapi perempuan itu tidaklah bergeming. Akhirnya, dia berbalik ke arah Bale dan Lucy yang mengamati di belakang mereka.

“Sepertinya kau harus masuk ke neraka terdalam kami sekali lagi, heh.”

Kronik Situs-79

Bab 7: Perburuan Penyihir(2)
| Kejahatan Situs Bernomor Tujuh Sembilan | Keadilan Bunda Brethennia »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License