“Sialan, berapa lama lagi larangan keluar akan diturunkan?” Suara kesal terdengar di ruangan itu.
Asalnya dari seorang peneliti Yayasan yang kini tengah berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan. Dia sesekali memperbaiki posisi kacamatanya. Sesekali dia melirik ke jam tangan di lengan kirinya.
“Kau lebih mengkhawatirkan itu daripada fakta bahwa anomali kelas Keter lepas di sini?!” Balas suara lainnya.
Asalnya dari seorang peneliti lain yang mengenakan masker medis yang tengah duduk di pojok ruangan. Dia tidak melirik ke arah pria satunya saat menanggapi perkataannya. Tatapannya mengarah ke bawah, berfokus pada kedua tangannya yang tengah membuat boneka kecil dari dua tisu yang diikat dengan benang. Salah satu tangannya terbalut perban, sengaja dia gores dengan kertas sebelumnya agar bisa mendapatkan jarum dan benang untuk boneka itu. Dan dari keringat dinginnya, dia terlihat bak dia harus membuatnya secepat mungkin.
“Anomalinya merupakan bahaya kognitif. Seharusnya kita aman di sini.” Peneliti pertama menjawab. “Tapi yang ngeselin adalah mereka memakan waktu terlalu lama! Aku tidak berniat lembur hari ini, kau tahu?”
“Aku lebih terkejut mengetahui anda ingin pulang tengah malam ini. Saat hujan, pula.” Peneliti kedua membalas.
“Kan situs ini bisa ngantar sampai ke depan jalan sana. Yang benar saja kau kira aku mau naik motor hujan-hujanan di jalan setapak sana.” Si peneliti pertama menjawab dengan kesal seakan pertanyaannya tidaklah bermakna.
Peneliti kedua hanya mengangkat bahu seraya berkata, “Ya sudah. Setidaknya ku sarankan Bapak untuk duduk saja menunggu. Mereka tidak akan mempercepat proses penahanan ulang karenamu, bukan?”
Lawan bicaranya perlahan berhenti berjalan dan menatapnya selagi berkata pelan, “Apaan sok ngatur…” Meskipun dia kemudian menuruti sarannya dan duduk di kursinya sendiri.
Kedua orang peneliti itu diam selagi menunggu pengumuman berikutnya dari interkom. Peneliti yang memakai masker medis akhirnya selesai membuat boneka dari tisu tersebut dan menggantungnya di mejanya. Terbalik, karena dia percaya itu mampu membuat hujan cepat berakhir.
Akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri keheningan dengan bertanya, “Jadi, Pak Louis, ini juga pengalaman pertama anda menghadapi lepasnya anomali Keter?”
Louis membenarkan posisi kacamatanya dan membalas, “Sebenarnya iya. Aku sudah berpengalaman dengan lepasnya anomali kelas Safe atau Euclid sampai pada titik aku sendiri yang membuatnya. Heh. Tapi kalau Keter, ini memang pengalaman pertamaku juga.”
“Bapak memang pantas mendapat jabatan peneliti senior, memang.” Peneliti dengan masker medis berkata.
“Tentu saja, kau pintar bisa menyadari itu, Bale.” Louis menanggapi. Jelas senang mendengarnya.
Bale sendiri melirik ke samping mendengarnya. Dia sengaja memujinya agar Louis bersedia untuk terus bicara. Alasan pertama adalah dia perlu informasi lebih mengenai dirinya, alasan kedua adalah dia mulai merasa bosan.
“Jadi, berapa lama anda sudah menjadi peneliti di situs ini, Pak?” Bale lanjut bertanya.
Louis terlihat berpikir mendengar pertanyaan tersebut. Akhirnya dia membalas, “Kau tahu, aku dan istriku dulu ditransfer ke situs ini tahun 2012 karena pelanggaran penahanan pertama SCP-065-ID, anomali Keter yang kebetulan tengah lepas saat ini. Dulu situasinya lumayan kacau karena hampir seluruh personel lantai ini jadi korban. Mereka menyebutnya Insiden Kodok di situs sini.”
“Huh, seluruhnya? Anda serius? Tidak tertulis di sini.” Bale membalas selagi menunjukkan dokumen anomali tersebut di monitor komputernya.
“Ya jelas, Level Aksesmu masih 1. Kagak bakalan muncul lampiran dan semacamnya.” Louis membalas.
Bale menatap ke arah pilihan untuk mengatur Level Akses dokumen tersebut. Dikarenakan dia hanyalah seorang peneliti junior, dia cuma bisa mengakses semua dokumen dengan Level Akses 1. Sebenarnya dia sudah mendapat informasi yang cukup mengenai anomali tersebut, tetapi sesuatu mengenainya terasa familiar. Dia kemudian melirik ke arah Louis dan berpikir perlukah dia membujuknya untuk menunjukkan dokumen tersebut dalam versi Level Akses yang lebih tinggi.
Tetapi dia menggeleng. Alasan awal dia menanyakan masa lalu Louis adalah untuk mengetahui lebih jauh mengenai dirinya. Jika beruntung, dia bisa tahu sesuatu mengenai personel lain yang direkrut bersamaan dengannya seperti Lira.
Dan dia rasa dia bisa mulai dari istrinya.
“Jadi, apa yang terjadi dengan istri anda? Saya dengar dari Bu Lira dia mengalami insiden sehingga tidak lagi bekerja di situs ini.”
Terdengar suara hantaman meja, sedikit membuat Bale tersentak. Bale menatap Louis yang terlihat kesal akan pertanyaan tersebut. Tetapi dari arah pandangannya yang menunduk, untuk pertama kalinya dia tidak mengarahkan amarahnya kepada Bale.
“Herman keparat! Dia biang masalahnya!” Louis berkata dengan keras.
“Yah, saya sudah mendengar itu sejak awal bekerja di sini. Apa tepatnya yang dia lakukan dulu?” Bale membalas, setengah kesal mendengar hal yang sama berulang-ulang.
Di luar dugaan Bale, Louis diam untuk beberapa saat. Dia sepertinya serius akan menceritakan masa lalunya bekerja di situs ini bersama istrinya dulu. Bale hanya menatapnya dengan rasa penasaran yang mulai muncul.
“Saat pertama ditugaskan di sini, istriku Stellia ditugaskan sebagai asisten Herman. Dia masih peneliti junior, makanya dia dipasangkan. Sayangnya saat itu aku masih peneliti biasa, hanya peneliti senior yang boleh mengambil asisten.” Louis menjelaskan.
Dia melirik menjauh selagi melanjutkan, “Ku kira tidaklah masalah. Seharusnya dulu aku sadar kalau dia itu psikopat. Dia mempekerjakan Stellia seperti babu saat itu dan sialnya, kami berdua tidaklah menyadarinya.”
“Huh, menarik…” Bale menyimak dengan seksama.
“Puncaknya adalah insiden Sabtu Gelap 2013. Saat itu, SCP-011-ID mengalami lonjakan listrik pertamanya dan mematikan listrik lantai kelas Safe. Ini mengakibatkan beberapa anomali lepas saat itu.” Louis melanjutkan.
Entah dia menyadari atau tidak, tetapi Louis mulai terlihat bak menahan amarah selagi dia berkata, “Herman gila itu… dia memaksakan Stellia melanjutkan penelitiannya di tengah pelanggaran penahanan. Dia berhasil membujuknya, mengatakan yang lepas hanya ‘seekor kucing’ semata sehingga tidak ada alasan untuk tidak bekerja. Salah satu anomali yang lepas saat itu memang SCP-007-ID dan- dan sialnya… kucing itu menanam ranjau. Agen yang mengawalnya… dia yang menginjaknya…”
Louis diam selama beberapa saat. Bale kini tidak yakin apakah dia mencoba menahan amarah atau tangisan. Akhirnya dia berkata, “Stellia menjadi korban ledakan ranjau SCP-007-ID bersama agen itu. Dia… dia buta karenanya.”
Bale menatap Louis yang menunduk untuk beberapa saat sebelum memberanikan diri untuk berkata, “Maaf, Pak. Tapi apa tidak berlebihan kalau anda menyalahkan keseluruhan insiden ini kepada Pak Herman sampai sekarang?”
Terdengar hantaman meja, diikuti teriakan kesal Louis. “Keparat gila itu tidaklah peduli dengannya! Tidak sedikitpun dia meminta maaf atau apa pun sejak hari itu! Dia menganggapnya sebagai kecelakaan dan meminta kami menerimanya!”
“Dan semua orang… semua orang malah menganggap aku yang gila. Pria ini, pria ini adalah psikopat yang memakai topeng orang tak berdosa! Dia yang memaksanya melaksanakan penelitian di tengah pelanggaran penahanan! Dia!” Louis terus meracau.
Akhirnya setelah mengambil nafas beberapa kali setelah teriakannya. Dia akhirnya berkata pelan. “Sebuah permintaan maaf. Itu saja yang ku ingin dengar darinya. Aku akan pergi dari situs ini selamanya setelah itu.”
“Ku kira anda tidak bisa pindah situs?” Bale menyanggah.
Louis menggeleng sebagai jawaban. “Herman… dia menolak pindah dari situs ini meskipun jabatan dan karismanya. Menurutmu kenapa?”
Bale tidak menjawab, jadi Louis lah yang menjawab, “Teoriku, itu karena dia ingin jadi penguasa di situs ini. Dia merasa dirinya di atas semua personel di sini. Itulah kenapa aku menyebutnya gila. Hanya orang gila yang mau berada di sini secara sukarela.”
“Tapi anda sepertinya juga enggan untuk pindah situs bukan?” Bale membalas.
“Ya. Aku selalu berkata pada peneliti lain aku ingin pindah situs agar mereka mau ikut membantuku. Kenyataan sebenarnya adalah aku akan mencoba merebut posisi itu, menjadi penguasa situs ini. Sebuah revolusi. Aku bisa membantu peneliti lain naik jabatan dan semacamnya dengan harapan aku dihormati sepertinya juga. Aku bersedia mengambil penelitian sebanyak mungkin untuk itu.” Louis menjawab. Dia terdengar tegas mengatakannya.
“Ku rasa aku juga gila… tetapi sepertinya hanya itu cara yang memungkinkan untuk mengalahkannya… Satu permintaan maaf. Itu saja.”
Setelah mengatakan hal tersebut, ruangan hening. Louis sepertinya tidak lagi ingin mondar-mandir selagi menunggu. Bale sendiri mengangkat bahu dan berbalik kembali ke arah mejanya, memutuskan untuk membuat boneka kedua.
Pada akhirnya, interkom mengeluarkan pengunguman,
“SEMUA SCP-065-ID-1 TELAH DIKONFIRMASI BERHASIL DINETRALISIR. PERSONEL DIPERBOLEHKAN BERAKTIVITAS KEMBALI”
Bale menatap Louis yang perlahan berdiri dan mengemasi barangnya. Dia lalu melangkah menuju pintu keluar. Tetapi sebelum membuka pintu, dia berkata pelan, “Jujur saja, kau psikolog, kan? Apa kau anggap aku berlebihan dengan semua ini? Apa ini kompetisi yang bisa kumenangkan?”
Bale hanya diam menatapnya balik. Akhirnya dia menjawab, “Ku rasa Yayasan tidaklah memiliki masalah dengan obsesimu selama kau tetap bekerja. Seperti yang ku katakan pada David, kau perlu tujuan hidup jika kau ingin hidup.”
Louis hanya mengangguk perlahan sebelum berkata, “Matikan komputerku dan selesaikan tugasmu.” Dengan itu dia membuka pintu keluar dan pergi. Setelah dia meninggalkan ruangan, hanya Bale yang berada di ruangan tersebut.
Bale berdiri dan memastikan ruangan sudah terkunci sebelum melangkah menuju ke komputer Louis. Dia ternyata membuka dokumen SCP-065-ID sebelumnya. Level Aksesnya adalah 3.
Bale mengangkat bahu dan menggulir tetikus ke bawah. Selagi duduk di kursi Louis, dia membaca perlahan bagian deskripsinya yang tiga paragraf lebih panjang dari versi Level Akses 1. Dia jelas merasa familiar dengan anomali tersebut.
Pada akhirnya dia mencapai bagian penemuan. Dari ekspresinya, akhirnya dia menemukan kenapa dia merasa familiar dengannya. Suara tawa kecil yang perlahan semakin nyaring muncul dari balik masker medisnya.
“Heh… ternyata benda itu disimpan di sini…”
Bale mengetahui banyak hal mengenai situs ini malam itu. Situs ini ternyata memiliki banyak hal menarik baginya.
Kronik Situs-79
Epilog
« Permintaan Pengampunan | Hari Insiden Itu | Setelah Trompet Peringatan »




