Hanya Mimpi Belaka
rating: +4+x

Silfie terbangun di atas kasurnya. Dia mencoba mengingat mimpinya sembari menyiapkan perlengkapannya untuk hari ini dan segera berangkat ke tempat kerjanya seperti hari-hari biasanya.

Dia menaiki angkutan umum yang sudah berada di depan kediamannya. Supirnya berbalik dan menjalankan kendaraan begitu melihat Silfie sudah masuk di belakangnya, sama sekali tidak ada penumpang di dalamnya.

Seperti sering terjadi biasanya, angkutan umum itu langsung berangkat setelah Silfie menaikinya.

Angkutan umum itu melewati kota besar yang kemudian berubah menjadi desa pinggiran yang kecil semakin jauh angkutan umum itu berangkat. Jalur yang sama yang selalu dia lewati.

Beberapa waktu berlalu Silfie tidak terlihat bergerak dari posisinya sedikitpun, kesadaran Silfie sudah terjatuh di alam bawah sadarnya semenjak angkutan umum itu bergerak.

Angkutan umum itu berhenti di dekat hutan yang gelap tapi pada saat bersamaan terlihat segar. Bahkan kicauan burung yang datang jauh dari hutan tersebut dapat terdengar. Tempat yang sama angkutan umum itu berhenti di hari-hari lainnya

Silfie terbangun dari mimpinya mengetahui dia sudah sampai di lokasi tujuannya.

Walau tidurnya yang cukup panjang, Silfie tidak mengingat mimpinya sama sekali.

Silfie turun dari angkutan umum tersebut tanpa membayar atau melihat kepada supirnya. Angkutan umum itu langsung berangkat pergi tepat setelah Silfie turun dari sana, seperti yang sudah biasa terjadi.

Silfie memasuki hutan.

Ada banyak jalan setapak yang bercabang di dalam hutan tersebut, hampir semua jalan tersebut menunju kepada kesesatan.

Akan tetapi Silfie melewati jalan yang benar setiap kalinya, jalan yang sama yang dia selalu lewati tiap saat.

Suara kicauan dari berbagai jenis burung datang dari segala arah. Di ikuti dengan suara-suara lain seperti langkah hewan yang berjalan di sekitarnya.

Di ujung jalan setapak tersebut terdapat bangunan militer yang cukup besar, di sekitar halamannya terdapat tenda dan berbagai kendaraan militer. Orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya pun menggunakan pakaian militer yang khas negeri ini.

Silfie berjalan memasuki banguan tersebut.

Tidak seperti di luar, di dalam bangunan tersebut dapat suara yang yerdengar sangat berbeda.

Teriakan, tangisan, suara orang sedang beribut atau bahkan raungan dapat terdengar dari tembok dan lantai bangunan tersebut.

Tapi bagi Silfie itu hanya pengalaman yang sama yang dia selalu ulangi terus menerus dalam kehidupannya.

Silfie menaiki tangga. Suara yang berantakan sebelumnya semakin menghilang dan yang tersisa hanyalah kicauan burung dari luar.

Tangganya berhenti. Silfie berjalan menelusuri lorong putih yang hanya memiliki beberapa ruangan di sekitarnya.

Silfie memasuki ruangan yang paling ujung.

Ruangan tersebut hanya dipenuhi oleh dinding dan perabotan berwarna putih. Kicauan burung yang sebelumnya dapat terdengar jelas melewati jendela yang berada di belakang kursi dan meja di depannya.

Silfie duduk di atas kursi tersebut dan menunggu.

Suara ketukkan jarum jam semakin jelas bersamaan dengan waktu yang berlalu. Silfie masih belum merusak posisik duduknya.

Tok, tok, tok

Ketukkan pintu merusak irama jam yang sebelumnya terdengar.

"Masuk."

Pintu terbuka. Seseorang yang menggunakan jas hitam yang sama seperti yang digunakan Silfie memasuki ruangan dengan tumpukan kertas.

"Huh. Kau tidak bosan?"

"Kau pikir apa yang bisa aku lakukan selain ini?"

"Entahlah, menghibur diri?"


Silfie terbangun di dalam kantornya.

Tumpukkan kertas sudah berada di atas mejanya dan pintu di depannya telah tertutup.

Tepat ketika Silfie akan mengambil selembar kertas di atas mejanya suara panggilan dari telepon yang berada di atas meja menangkap perhatiannya.

Silfie menjawab panggilan tersebut.

"Yap."

"…, Lokasi dan waktu biasanya?"

"Baiklah."

Silfie beranjak dari kursinya.

Dia menelusuri langkahnya menuju luar bangunan. Di depannya terdapat mobil jip yang telah menunggunya.

Silfie memasuki mobil jip tersebut dan mobil tersebut langsung bergegas untuk berangkat.

Mobil tersebut menelusuri sisi lain hutan malam. Kicauan burung sebelumnya sudah berubah menjadi suara burung hantu. tanpa di sadari mobil tersebut sudah memasuki pintu masuk kota yang cukup besar.

Memasuki kota tersebut kesunyian malam langsung menghilang karena lampu jalan yang terang dan suara canda-tawa dari orang-orang di sekitar jalanan.

Mereka dapat terdengar sangat jelas. Saling berbagi cerita dan menghilangkan penat dengan tawa dan senyuman.

Silfie yang berada di dalam mobil jipnya melihat keluar lewat jendela di sampingnya. Akan tetapi tatapannya kosong dan kesadarannya sekali lagi tenggelam dalam dunia bawah sadar yang dia senangi.

Waktu berlalu dengan cepat. Mobil tersebut berhenti dan Silfie terbangun. Dia tidak dapat mengingat sedikitpun yang dia mimpikan sepanjang perjalanan.

Di depannya terdapat banguan pencakar langit menusuk awan malam yang gelap. Dapat terdengar langkah banyak orang lalu lalang di dalamnya.

Silfie memasuki pintu utama bangunan tersebut. Dia memasuki sebuah lift yang tidak jauh darinya dan mengetuk beberapa tombol di lift tersebut.

Setelah menekan tombol terakhir suara ketikkan dapat terdengar di dalam lift tersebut sebelum itu bergerak ke bawah.

Tidak lama kemudian lift tersebut akhirnya sampai di yang sepertinya adalah lantai paling bawah.

Pintu lift tersebut terbuka menunjukkan suasana yang sangat berbeda dari suasana yang berada di lantai sebelumnya.

Tidak banyak orang berlalu-lalang di sekitarnya dan semua orang di sana menggunakan jas lab yang sama seperti orang-orang di dalam bangunan militer sebelumnya pakai.

Silfie keluar dari lift tersebut dan menelusuri lorong-lorong yang cukup besar. Walau suasananya mirip, tidak terdengar banyak suara seperti di dalam bangunan militer sebelumnya.

Silfie memasuki sebuah ruangan yang berisikan orang-orang yang berjumlah tidak lebih dari jumlah jari tangannya. Mereka menggunakan jas lab akan tetapi terlihat sangat rapih.

Silfie duduk di salah satu kursi yang dia biasa duduki.

"Sudah semuanya? Baiklah kalau begitu kita mulai saja…"

Selama pertemuan ketika orang-orang saling berbicara Silfie menyandarkan kepalanya kepada tangannya dan menatap dengan tatapan kosong tanpa mendengarkan hal yang sama selama berulang-ulang.

Silfie sudah tenggelam dalam alam bawah sadarnya kembali.

Waktu berlalu sangat cepat. Silfie terbangun mengetahui pertemuan tersebut diistirahatkan. Lagi, Silfie tidak mengingat mimpinya, tapi dia tau mimpi tersebut sangat menyenangkan di bandingkan dengan mimpi lainnya.

Silfie beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan lalu menelusuri lorong kembali untuk pergi ke kantin Situs tersebut.

Tanpa saling berinteraksi, pengurus kantin tersebut memberikan Silfie es krim kecil seperti yang sering Silfie makan.

Silfie duduk di tempat duduk yang kosong dan tanpa memakan es krimnya dia melipat tangannya di atas meja dan menyandarkan kepalanya di sana.

Matanya ditutup perlahan. Silfie tertidur lelap.

Getaran dari telepon genggamnya membangunkannya. Silfie terbangun dari mimpinya, pandangannya masih kabur dan kepalanya masih pusing.

Silfie menutup matanya rapat-rapat sebelum membukanya kembali. Pandangannya sudah kembali normal dan kepalanya sudah tidak pusing.

Kau ingat…

Silfie mendadak terdiam karena terkejut dengan apa yang berada dalam ingatannya.

Kau selalu ingin mimpimu menjadi nyata kan?

Silfie mengingat mimpinya.

Tapi kau melupakan mimpi yang kau ingin wujudkan.

Silfie ingat. Dia melihat dirinya tertembak, dia melihat dirinya tertabrak, dia melihat dirinya tertusuk, dia melihat dirinya terjatuh, dia melihat dirinya mati.

Jadi sekarang kau ingat apa yang kau selalu inginkan?

Silfie meraih sakunya. Sebuah pistol sudah berada di dalam saku miliknya walau dia tidak mengingat membawanya.

Lampiaskan saja.

Dia mengambil pistol tersebut. Silfie menodongkan pistol tersebut kepada dagunya.

Tangannya bergetar, air matanya mulai mengalir. Tapi ekspresinya menunjukkan kebahagiaan.

Bang!

Pelatuknya ditekan.

Rasa sakit dari dagu sampai ke atas kepala dapat dirasakannya. Tapi dia masih sadar.

Jangan takut jika kau hanya bisa melampiaskannya satu kali.

Dapat terdengar seseorang terjatuh di belakangnya. Dengan rasa sakit yang masih dapat dirasakan, Silfie memutar pandangannya ke belakang.

Seseorang berpakaian seperti tentara tergeletak di lantai. Darah keluar dari kepalanya.

Karena ini hanyalah mimpi belaka.

Silfie memegang pistolnya kembali. Dia menodongkan pistolnya di depan dahinya sekarang.

Bang!

Pelatuknya ditekan

Rasa sakit yang lebih parah dapat terasa di kepalanya. Pada saat bersamaan pria berbaju tentara lain terjatuh dengan luka tembakan di dahinya.

Suara sirine dapat terdengar diikuti dengan lampu yang berubah merah setelah kedua pria dengan pakaian tentara tersebut terjatuh.

Silfie menghampiri salah satu mayat tersebut dan mengambil senjata yang berada dalam pegangan mayat itu dan menodongkannya kepada dirinya sendiri.

Dia mulai menembak.

Suara orang berjatuhan dapat terdengar di sekelilingnya. Kebahagiaan dapat terlihat di mukanya walau seluruh tubuhnya di penuhi rasa sakit.

Dia mulai berjalan sambil menembaki dirinya sendiri.

Korban demi korban berjatuhan.

Silfie memasuki sebuah ruangan. Hanya terdapat satu orang di sana.

Bang!

Suara pelatuk yang ditekannya bergema di ruangan tersebut.

Tubuhnya bergetar dari rasa sakit yang dia rasakan di seluruh tubuhnya. Otot-ototnya menjadi kaku.

Silfie terjatuh.

Hampir semuanya sudah tiada. Sementara dia masih sadar dengan rasa sakit yang dia rasakan. Dia sudah sejauh ini, tapi tetap saja dia merasa ada yang kurang.

Silfie meraih pistol didepannya yang awalnya terjatuh dari genggamannya. Dia menodong pistol tersebut ke kepalanya.

"Mungkin… Ini yang terakhir..?"

Bang!

Peluru terakhir keluar dari pistol tersebut


Silfie terbangun di dalam kantornya.

Dia melihat sekelilingnya

Tembok berwarna putih kantornya berubah menjadi tembok yang di penuhi warna. Kicauan burung berubah menjadi suara indah dari seorang wanita.

Silfie melihat ke depannya. Seseorang yang tinggi berjas hitam sedang berdiri didepannya.

Aku harap kau tidak melupakanku lagi.

Silfie dapat merasakan kehangatan tangan yang mengusap rambutnya.

Karena aku tidak akan meninggalkanmu lagi.

Silfie melihat ke atas untuk sekilas. Dia tidak dapat melihat kepala orang tersebut dengan jelas karena pandangannya yang kabur.


Silfie terbangun di dalam kantornya.

Bagian di sekitar matannya terasa basah. Air mata masih keluar sedikit demi sedikit dari matanya.

Silfie mengusap air matanya dengan senyuman dan mengambil selembar kertas dari tumpukan kertas yang berada di atas mejanya.

Terdapat sebuah tempat es krim di dekat tumpukan kertas tersebut dengan es krim di dalamnya yang sudah mencair.

Silfie tidak menghiraukan itu dan lanjut bekerja.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License