Guyuran Hujan Deras
rating: +1+x

Dalam Yayasan, pelanggaran penahanan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari sebuah situs. Ia layaknya penyakit bagi manusia, sesekali menyerang tubuh mereka. Tidak bisa dihindari, hanya bisa ditunda selama mungkin.

Dan layaknya manusia itu sendiri, meski dirinya baru sembuh dari sebuah penyakit, dia harus melanjutkan hidupnya seperti biasanya. Sama halnya dengan situs Yayasan; meski baru saja terjadi pelanggaran penahanan yang merusak satu lantai situs, begitu keadaan dinyatakan kondusif, hiruk-pikuk situs harus berlangsung kembali keesokan harinya.

Meski merupakan salah satu personel yang terluka saat insiden pelanggaran penahanan sebelumnya, Peneliti junior dengan kode nama ‘Balefire’ tersebut harus menghabiskan akhir pekannya lembur di ruang atasannya.

Atasannya juga terluka saat insiden tersebut, tetapi sesuatu mengenai rivalnya yang berhasil mendapatkan anomali baru di luar situs membuatnya langsung bekerja kembali begitu keadaan kondusif. Balefire sebagai asistennya terpaksa ikut membantunya.

Di atas meja atasannya merupakan setumpuk dokumen berkaitan dengan proyek penelitian lama atasannya. Atasannya memutuskan kalau mencari anomali baru untuk bersaing dalam penelitian merupakan untung-untungan sehingga dia memutuskan untuk menggali proyek lamanya yang mungkin bisa dilanjutkan dengan kemampuannya sekarang.

Mereka menghabiskan seharian sebelumnya untuk mengambil itu semua dari arsip dan seharian lagi untuk memilah beragam dokumen tersebut. Balefire tidak kembali ke ruang messnya selama dua hari, tetapi begitu pula atasannya. Mereka tidur bergantian di dalam ruangan selama beberapa hari tersebut.

“Ku rasa yang ini memang tidak memungkinkan.” Atasannya tiba-tiba berkata selagi mengembuskan nafas. Dia meletakan setumpuk dokumen di depannya menjauh. Asistennya ikut mengembuskan nafas. Meski menghabiskan waktu enam jam untuk mempertimbangkannya, akhirnya itu merupakan proyek kelima atasannya yang dirasanya terlalu berat untuk dilanjutkan. Dia sudah mengeluhkan hal itu saat proyek kedua disisihkan, tetapi atasannya hanya meneriakinya dengan kesal.

Atasannya kini meraih sebuah dokumen dari tumpukan dokumen lain yang belum tersentuh. Dia membacanya sekilas sebelum mungkin mempertimbangkannya dengan asistennya seperti sebelumnya. Tetapi dia tiba-tiba merapikan posisi kacamatanya dan duduk seketika selagi membaca dengan intensif.

Sesaat kemudian dia terkekeh, sesaat kemudian dia tertawa lepas. Asistennya hanya memandanginya dalam diam, tetapi di balik masker medisnya dia tersenyum, merasakan firasat baik.

“Gue hampir lupa penelitian ini.” Kata Atasannya selagi mengangkat dokumen di tangannya. “Ini adalah penelitian mengenai kemungkinan aktivitas okultisme dalam proyek pembangunan. Berbeda dengan sebelumnya, yang ini belum dilakukan sama sekali. Rasanya saat itu aku mendapat terobosan lain dengan SCP-014-ID, jadi ini terlupakan.”

Meski terdengar menjanjikan, Balefire memikirkan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuatnya berkeringat dingin. “Jadi, Pak Louis, itu sama sekali belum ada apa-apanya? Tidak ada investigasi lokasi, wawancara, atau semacamnya?”

“Tidak juga, di sini sudah terdokumentasi garis besar proyek dan kontak narasumber pertama untuk diwawancarai. Alasan aku meninggalkan proyek ini dulu mungkin antara karena aku tidak punya waktu menemuinya atau penelitian SCP-014-ID terlihat lebih menjanjikan. Yang jelas kita beruntung di sini.” Louis tersenyum senang selagi menyodorkan dokumen di tangannya.

“Begitu ya…” Balefire menerimanya dengan senyum terpaksa, tak sadar dia memakai masker. Itu sesuai yang dikhawatirkannya. Berbeda dengan SCP-012-ID, tugasnya kini dimulai dari nol. Itu bukan sesuatu yang baik baginya mengingat dia di situs ini untuk tujuan berbeda. Sekarang dia berkemungkinan terjebak penelitian panjang selama berbulan-bulan bersama atasannya.

“Jadi, apa tepatnya tugasku?” Balefire akhirnya bertanya selagi meletakkan dokumen tersebut di meja. Louis mencondongkan dirinya ke depan dan menunjuk sebuah paragraph di dokumen itu, “Seperti yang tertulis di sini, aku belum mewawancarai narasumberku. Dia adalah seorang mantan pimpinan perusahaan kecil yang sudah bangkrut saat itu. Aku tidak ingat bagaimana tepatnya aku mendapatkan kontaknya, tetapi katanya dia memiliki sesuatu mengenai anomali yang kuteliti dulu.”

Louis akhirnya kembali duduk di kursinya sendiri dan berkata, “Tugasmu kali ini sebagai asisten adalah mewawancarai pria ini. Akan kucoba telepon dia terlebih dahulu nanti, tetapi jika dia tidak bisa dihubungi, semoga saja data di sini termasuk alamatnya tidak berubah. Jika rumahnya kosong, kau bisa mencoba mencarinya, ku rasa. Kau sanggup melakukannya, bukan?”

“…Iya, Pak.” Hanya itu yang bisa Balefire jawab. Dia memang sudah menduga ini akan terjadi. “Jadi kapan aku akan pergi?”

“Pukul dua belas siang ini.” Balas atasannya dengan cepat. Sepertinya dia sudah memikirkan hal tersebut tadi.

Masih ada waktu istirahat. Balefire berpikir selagi berjalan pelan ke sofa. Dia ingin kembali ke ruang mess-nya, tetapi dia tidak ingin mendengar komplain atasannya mengenai dirinya meninggalkannya tanpa perintah, jadi berbaring di sana merupakan pilihan baik.

“Eh, ngapain kau!” Atasannya tiba-tiba berkata nyaring. Balefire menghela nafas selagi berbalik dan berkata, “Saya kira saya bisa istirahat sebentar sebelum pergi, kan?”

“Yang benar saja?! Ini rapikan dulu dokumen yang sudah dipilah! Kita urus dulu biar entar kagak numpuk.” Kata Louis selagi menepuk tumpukan dokumen di samping meja yang tingginya hampir menyamai meja itu sendiri.

Balefire menghela nafas berat sebelum mengembuskannya sebelum berjalan kembali ke arah meja. Dia juga sudah menduga ini mungkin akan terjadi, dan dia tidak suka tebakannya benar lagi kali ini.


“Semua personel sudah siap?” Tanya seorang personel yang berseragam hitam taktis.

Di depannya cuma ada seorang agen yang tingginya lebih pendek darinya. Dia mengenakan topi hitam dan bukan helm taktis seperti dirinya. “Cuma ada kau, aku, sopir mobil dan peneliti itu nanti, Ermes.”

“Yah, aku tahu, Dri. Tapi mana peneliti itu?” Ermes bertanya kembali. Dia tahu siapa yang dirinya tunggu. Ini kali kedua dirinya mendampingi peneliti junior itu. Ini tidak terasa bak déjà vu karena sebelumnya mereka berkendara ke pedalaman hutan Sukabumi di tengah malam. Mereka akan berangkat siang, meski langit tengah mendung bak siap mengguyur habis situs kapan saja.

Ermes juga tidak ditugaskan untuk mengawalnya karena keinginannya kali ini. Hanya dia dan beberapa agen lapangan lain yang ada di situs tadi. Agen-agen berpengalaman saat ini tengah terlibat operasi penyelidikan yang berkaitan dengan anomali baru yang di dapat situs ini beberapa hari yang lalu. Entah kenapa dirinya tidak diikutkan dalam operasi tersebut. Baik agen di depannya maupun sopir kendaraan Yayasan nanti masih seorang agen biasa, jadi wajar mereka tidak diikutkan. Terutama agen di depannya ini; dia baru saja pulih setelah ikut operasi sebelumnya. Seharusnya dia tidak ikut, tetapi mereka kekurangan orang untuk misi ini.

Berbeda dengannya, dirinya adalah agen senior. Seharusnya dia diikutkan bahkan jika dia tidak mau. Itu cukup membuatnya bingung, tetapi ketua mereka tidak mengatakan apa pun mengenai itu, jadi dia akhirnya berhenti mempertanyakannya.

“Yeesh, cuaca yang sangat buruk!”

Terdengar suara di sampingnya. Baik Ermes maupun agen di depannya menoleh ke samping. Peneliti Junior Balefire tengah berjalan mendekati mereka. Selain jas lab putih yang menutupi kemeja putihnya, dia kembali mengenakan masker gas khas miliknya. Setahu Ermes, dia bisa saja dan memang sering mengenakan masker medis di dalam situs, jadi dia tidak tahu untuk apa dia mengenakan masker gas tersebut kembali.

Ermes memutuskan untuk tidak mengacuhkan hal tersebut dan membalas, “Cuaca memang agak kurang bersahabat beberapa hari ini, dokter.”

Balefire terdiam untuk beberapa saat sebelum dia berkata, “Ooh, kau Agen Ermes, bukan? Sebuah kebetulan, atau memang ditugaskan?” selagi berjalan mendekat.

“Kebetulan.” Ermes membalas dengan cepat. Dia merasa sudah cukup muak dengan teka-teki dokter ini sejak malam penelitian tersebut.

Balefire kini berdiri di antara dia dan agen di sampingnya. Dia hanya diam menatap Ermes untuk beberapa saat dari balik masker gasnya. Lalu dia beranjak pergi menuju kendaraan selagi berkata, “Begitu ya. Yah, kalau begitu, sekali lagi mohon kerjasamanya untuk penelitian kali ini.”

Ermes melirik ke arah agen di sampingnya yang hanya meangkat bahunya. Dia mengembuskan nafas sebelum ikut berjalan juga ke arah kendaraan Yayasan diiringi rekannya. Balefire membuka pintu kursi depan di samping sopir, jadi Ermes segera masuk lewat pintu penumpang beserta agen tadi.

“Mereka benar-benar hanya mengirim kita berempat?” Agen yang mengemudi tiba-tiba bertanya. Ermes tahu itu ditujukan kepadanya karena cuma dia personel senior di sana. “Ya, ini cuma tugas wawancara saja. Kita cuma mendatangi rumah narasumber lalu pulang.” Jawab Ermes

Pengemudi mobil tersebut hanya mengangguk sebelum mulai beranjak pergi. Ermes sendiri mulai meraba perlengkapannya, dia mengeluarkan pistolnya perlahan. Meski dia berkata ini cuma tugas wawancara, dirinya tahu kalau meremehkan hal tersebut merupakan tindakan bodoh.

Dia lalu melirik ke arah Balefire. Dokter itu sepertinya tengah sibuk melakukan sesuatu di kursi depan. Sesaat kemudian, Balefire menoleh ke belakang dan bertanya, “Kalian ada yang punya benang?”

“Benang?” Rekan Ermes merupakan yang pertama bertanya. Balefire mengangguk sebagai jawaban. Ermes tidak tahu untuk apa dia mencari hal tersebut. Dia menggeleng dan berkata, “Tidak ada. Aku tidak tahu kau perlu benang untuk wawancara ini?”

“Memang tidak. Itu untuk cuaca sialan ini. Apa mobil ini tidak punya kotak P3K?” Balas Balefire.

Ermes berpikir sejenak. Setengah memikirkan maksud perkataan dokter itu, setengahnya lagi mengingat di mana kotak tersebut di simpan. Yayasan memang punya hal itu di setiap mobil agen mereka, setahunya. Dengan itu dia mencoba meraba bagian bagasi mobil. Dia akhirnya melihat sebuah kotak putih kecil dengan simbol tambah berwarna merahnya berada di samping perangkat untuk merekam.

Ermes meraih kotak itu dan membukanya. Tidak terduga olehnya, terdapat benang di dalam kotak itu. Sepertinya Balefire sudah mengetahui hal tersebut. Dia lalu menyodorkannya ke Balefire, yang kemudian diambilnya sebelum kembali sibuk dengan entah apa urusannya di depan sana.

Ermes merasa malas menanyakan apa yang tengah dokter itu lakukan, jadi dia diam saja. Pengemudi di samping Balefire sepertinya dapat melihat apa yang dokter itu lakukan sehingga dia berkata, “Heh, yang benar saja? Kau percaya hal begituan?”

“Jadi ini bukan termasuk anomali Yayasan, ya?” Balas Balefire. “Antara itu atau kita tidak memiliki izin untuk mengetahuinya, sih. Sebuah kucing Schrödinger, bukan?”

Dia lalu mengangkat perlahan sesuatu yang dikerjakannya tadi. Terikat benang, sebuah tisu yang menyelimuti sesuatu diikat sedemikian rupa sehingga menyerupai sesosok hantu tengah digantung.

“…Teru teru bōzu? Kau serius, dokter?” Ermes berkomentar. Dia memang orang Jerman, tetapi dia sepertinya pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya.

“Sheesh, kau juga? Tidak ada masalahnya percaya, bukan? Siapa tahu ini memang anomali beneran.” Balefire membalas. Dia menurunkan pegangan tangan di sampingnya, sepertinya untuk mengikatnya.

Tetapi ikatannya tidak seperti yang Ermes duga.

“Kau… menggantungnya terbalik? Setahuku untuk mencegah hujan tidak diikat seperti itu…” Ermes bertanya dengan bingung. Seingatnya boneka dari tisu itu harusnya cukup diikat seperti biasa saja dan mungkin akan berfungsi, bukan sebaliknya.

“Mencegah hujan? Heh, tidak. Aku mencoba menurunkannya.” Jawab Balefire selagi terus mengikatnya. “Mendung bagiku adalah pertanda buruk. Tanda kalau kesialan akan terjadi. Kesialan itu akan berakhir jika hujan sudah turun dan hari cerah kembali. Itu yang kupercaya sejak kecil.”

“Sejak kecil, ya…” Ermes berkata. Dia lumayan terkesan kepercayaan masa kecilnya masih tetap dipercayanya sampai sekarang.

“Jangan salah. Aku tidak akan percaya omong kosong ini jika saja hidupku tidak selalu dilanda sial saat mendung.” Balefire melanjutkan, secara kebetulan membalas dugaan dalam pikiran Ermes.

“Begitu ya…” Hanya itu yang dibalas Ermes. Dia memutuskan untuk diam dan istirahat selagi Balefire sepertinya tengah membuat boneka kedua. Tujuan mereka panjang, jadi upaya apa pun untuk menghabiskan waktu terasa masuk akal.


Setelah beberapa jam, mobil Yayasan yang ditumpangi Balefire akhirnya sampai di depan sebuah rumah model jadul dari kayu. Selain rumah-rumah di sini cukup berjauhan dan dibatasi semak belukar yang terhubung langsung ke arah hutan, jalanannya juga kecil dan lumayan tidak rata, melambatkan waktu tempuh mereka sebelumnya.

Balefire merupakan yang pertama turun. Hal pertama yang dirasakannya adalah tetesan air yang perlahan berjatuhan dari langit. Balefire tersenyum selagi melirik ke belakang. Lima buah boneka terbalik itu seharusnya cukup untuk menjatuhkan hujan.

Tidak perlu mesin itu, ternyata. Akan ku katakan itu nanti.

Para agen juga turun satu persatu. Mereka tidak membawa senjata besar, tetapi mereka tetap membawa pistol di pinggang mereka. Ermes membawakan perangkat merekam yang diperlukan. Balefire sendiri membawa kedua kapaknya yang tersembunyi di balik jas labnya.

Dengan perlahan dia diikuti beberapa agen mendekati pintu rumah tua di depannya. Dua agen berdiri di samping pintu sedangkan Balefire cukup berani untuk berdiri tepat di depan pintu dan mengetuknya selagi berkata, “Permisi, apa ada orang?”

Tidak ada balasan, jadi Balefire mencoba mengetoknya lagi. Dia mengamati rumah ini cukup terurus, jadi seharusnya penghuninya masih tinggal di sini. Balefire berbalik, masih belum ada balasan. Balefire menghela nafas; jika ketukan ketiga ini tidak mendapat balasan, dia akan menyuruh agen-agen ini untuk membobol pintunya.

Tiba-tiba terdengar suara dari dalam. Balefire reflek mundur beberapa langkah. Tangannya perlahan meraba salah satu kapaknya. Bukan senjata efektif untuk situasi ini, tapi cuma ini yang paling sering dia pakai. Para agen juga masih siaga.

Beberapa saat kemudian muncul seorang kakek tua yang membuka pintunya. Dia entah kenapa mengenakan kemeja putih dilapisi jas cokelat usang dan celana panjang kerja. Mungkin karena atasannya mengontaknya sebelum misi ini dilakukan. Masih bagus orang ini ternyata bisa dihubungi dan mengingat atasannya setelah bertahun-tahun.

Orang itu menatap ke arah Balefire untuk beberapa saat, mungkin karena masker gasnya. Akhirnya dia berkata, “Kalian dari pemerintah, kan? Silahkan masuk.” Sebelum berjalan kembali ke dalam. Balefire melirik ke dalam dan mendapati ruang tamunya cukup rapi meski terdapat sarang laba-laba di langit-langit ruangan. Balefire menoleh ke arah Ermes di sampingnya dan mengisyaratkan dengan gerakan kepala kalau dia ikut masuk bersamanya. Ermes mengangguk dan menyiapkan perangkat perekam selagi mengiringi Balefire dari belakang.

Mereka saling duduk di sofa tua ruangan tersebut. Balefire bisa melihat warna sofa tersebut sudah pudar, dengan debu di pojokannya. Permukaan sofa kulit itu juga terkelupas dan dijahit di beberapa titik. Ermes meletakkan alat perekam di meja terlebih dahulu sebelum berdiri di samping Balefire. Terdapat sebuah nampan berisi empat gelas kaca berisi teh juga di meja juga beberapa map. Balefire menatap gelas-gelas tersebut, tidak berencana untuk meminumnya sama sekali.

Orang itu membuka sebuah map yang diletakkannya di meja. Dia berkata, “Sudah lama sejak orang kalian ke sini. Dulu rasanya yang datang itu pakai kacamata rasanya.” Dia tersenyum melihat Balefire dan melanjutkan, “Baru kali ini saya melihat orang memakai masker gas.”

Balefire tidak memedulikan komentarnya dan lanjut berkata, “Ya. Maaf kami sebelumnya meninggalkan kasus ini sebelumnya, dulu ada kasus yang lebih mendesak untuk diurus. Sekarang mereka mengirim saya untuk melanjutkan kasus ini.”

Kover atasannya dulu adalah mereka merupakan agen pemerintah yang mendapat laporan rumor prosedur tak wajar dalam pembuatan bangunan. Setidaknya kover itu masih bisa dipakai Balefire sampai sekarang.

“Anda bisa memanggil saya…” Balefire terdiam sejenak. Antara nama asli atau kode nama, dia berpikir untuk beberapa saat sebelum berkata, “…Bale. Jadi, apa yang ingin anda informasikan?”

“Dulu saya ingin melaporkan detail malapraktik yang dilakukan kompetitor perusahaan saya dalam proyek mereka.” Pria tua itu menunduk dalam diam setelah mengatakan hal tersebut. “Tapi setelah bertahun-tahun saya pikirkan, saya mau jujur saja; ini sebenarnya malapraktik perusahaan kami.”

“Anda pimpinan- maaf, mantan pimpinan perusahaan… PT. Bangun Bentang Nusantoro, bukan? Bagaimana tepatnya sebuah perusahaan kontruksi melakukan malapraktik?”

Pria tua itu menatap Balefire meski dia memakai masker gas. “Kami memakai tumbal manusia dalam kontruksi kami.”

Itu menjelaskan perjanjiannya dengan atasan dulu. Balefire mengingat kembali detail kecil yang dikatakan atasannya. Dia berkata dulu satu-satunya syarat pria ini mau memberikan informasi ini adalah pembicaraan mereka dirahasiakan dan dia tidak akan dibebankan tanggung jawab apa pun darinya.

“Jadi… itu semacam ritual atau semacamnya?” Balefire memutuskan untuk bertanya.

Pria itu mengangguk sebagai jawaban. “Perusahaan saya dulunya bekerja sama dengan sebuah grup perusahaan. Saya sekarang lupa apa namanya, mungkin karena sudah lama, tetapi mereka yang memerintahkan kami untuk menambahkan ritual ke proyek yang kami tangani.”

“Begitu ya, bisa anda jelaskan apa tepatnya ritual yang kalian lakukan ini?” Balefire melanjutkan.

Pria tua tersebut terdiam untuk beberapa saat. Dia selalu terlihat gugup seakan apa yang dia katakan akan terdengar melewati batas tindak manusiawi. Tidak mungkin lebih buruk dariku. Pikir Balefire selagi menatapnya dari balik masker gasnya. Tidak akan ada yang bisa menyaingi malam itu.

“Kami mengadakan ritual sesat di tempat kontruksi dengan mengorbankan salah satu kuli kami. Kami… kami menimbunnya dalam dinding hidup-hidup.”

Meh.

“Dan apa hasil dari ritual ini?” Balefire melanjutkan. Kalaupun dia tidak memakai masker gas, ekspresinya juga tidaklah terkejut sama sekali akan tindakannya.

“Kata mereka ini untuk menguatkan struktur bangunan. Membuatnya tahan gempa dan berdiri kokoh bertahun-tahun lamanya. Kata mereka dulu, jiwa manusia yang disatukan dengan bangunan lah yang membuatnya tetap bertahan selamanya.”

Balefire terkekeh. “Apa kalian bisa membuktikan hal semacam itu?”

Pria tua itu tidak langsung menjawab. Dia mengeluarkan salah satu map lain di meja. Di dalamnya terdapat peta Provinsi Jawa Barat yang sudah menguning termakan usia. Terdapat banyak tanda lingkaran di berbagai tempat di sepanjang peta, kebanyakan terkonsentrasi di daerah kota.

“Ini peta yang saya buat dulu sebelumnya beberapa tahun yang lalu. Ini semua merupakan bangunan yang ditangani perusahaan kami dengan ritual itu seingat saya. Cuma ini yang saya bisa berikan untuk kalian.”

Pria tua itu menyodorkan map berisi peta tersebut kepada Balefire. “Saya punya satu permintaan lagi,” Dia berkata, sedikit mengangkat map yang dipegangnya. “Tolong keluarkan mayat di bangunan-bangunan tersebut dan kubur mereka dengan benar. saya tidak punya cukup kuasa untuk melakukannya.”

Dia menatap Balefire dengan tatapan memohon. Balefire menatap balik dari masker gasnya untuk beberapa saat sebelum meraih map tersebut darinya. Dia mengamati peta di dalamnya, menghitung setidaknya ada lebih dari tiga puluh titik tergambar. Matanya tertuju ke salah satu titik yang terisolir dari kumpulan titik lainnya.

“Titik ini,” Balefire meletakkan kembali peta tersebut dan menunjuk satu titik yang dilihatnya tadi. “Ini dekat sini?”

Pria tua tersebut mencondongkan dirinya perlahan dan mengangguk. “Iya. Itu dulu merupakan tiga ruko saling berdampingan berwarna kuning dan biru di tengah, masing-masing lima lantai. Seingat saya nomor yang tertera di sana dulu adalah 1620. Ini sebenarnya salah satu proyek pertama perusahaan kami yang memakai ritual. Sekarang karena jalan ke sana agak rusak dan sudah dibangun jalan alternatif, ruko itu terbengkalai sekarang.”

Ermes ikut mendekatkan dirinya untuk mengamati peta tersebut. “Jaraknya kira-kira beberapa kilometer dari sini. Akan kutanya agen yang mengemudi, sebentar. Kau mau mengeceknya?”

Balefire mengangguk, membuat Ermes segera beranjak pergi. Balefire sendiri mengangkat alat perekam tersebut. Dia tahu rekaman pada umumnya lebih panjang dari ini, dia bahkan belum bertanya mengenai detail perusahaan mereka. Tetapi dia bisa menanyakan detail lain itu nanti.

Lagi pula, dia perlu mengecek sepantas apa anomali ini untuk diteliti terlebih dahulu. Dia tidak akan mewawancarai seseorang berjam-jam hanya untuk mengetahui nantinya subjek penelitian mereka hanyalah kepercayaan semata dan mereka harus melakukan omong kosong ini lagi untuk subjek penelitian selanjutnya.

“Untuk sekarang, kami akan mengecek dulu lokasinya. Apa kau tahu di mana kalian menanam ‘tumbal’ kalian di bangunan tersebut?” Balefire berkata

“Seharusnya di lantai tiga ruko di tengah. Kami selalu menimbunnya di tengah bangunan. Seingat saya ada dinding yang cukup tebal di sana, kami menimbunnya di sana.”

“Baik, itu saja yang kuingin ketahui. Terimakasih atas kerjasamanya, Pak.” Balefire menjabat tangan pria tua tersebut selagi tangannya yang lain mematikan rekaman.

Ermes kemudian muncul bersama seorang agen lain. Dia berkata, “Jaraknya sekitar tiga puluh menit dari sini. Kau mau ke sana?”

“Ya, kita sudah selesai di sini.” Balefire mengiyakan. Dia lalu beranjak pergi. Beberapa langkah dia berjalan menuju pintu, dia merasakan ada yang memegang pergelangan tangannya. Dia menoleh dan mendapati pria tua itu yang melakukannya.

“Tolong, kubur mereka semua dengan layak. Itu saja yang saya minta.”

Balefire perlahan melepaskan pegangan pria itu. Dia lalu berjalan keluar tanpa membalas.


Mereka berjalan melalui sepetak jalan yang kini mulai tertutup dedaunan. Bangunan di pinggir jalan antara merupakan rumah sederhana atau bangunan besar yang kosong terbengkalai. Jalanan juga dipenuhi lubang jalan sekarang, membuat mobil hitam Yayasan yang ditumpangi Balefire menerobosnya dengan perlahan.

“Lupakan setengah jam, kita akan sampai di sana dalam satu jam.” Balefire berkomentar selagi menatap ke arah kaca. Hujan masih berupa gerimis kecil, entah kenapa membuat Balefire merasa tak nyaman selagi dirinya melihat betapa gelapnya langit saat ini walaupun seharusnya masih tengah hari. Meski begitu, dia tidak lagi membuat boneka tambahan untuk digantung.

“Dia tidak bilang tujuan kita tidak terbengkalai, bukan?” Ermes membalas di belakang. Balefire mengembuskan nafas mengetahui kebenaran hal tersebut. Duduk diam dan merasakan goyangan tiap lubang mulai terasa mengganggu baginya.

“Seharusnya beberapa saat lagi kita sampai, jika peta usang ini benar.” Agen yang mengemudi menambahkan. Dia meletakan peta yang mereka terima sebelumnya di dashboard mobil.

“Begitu ya…” Balefire berkata. Dia mengamati jalanan di depannya. Peta tadi, seiringan dengan Google Maps menunjukkan bahwa seharusnya jika mereka lurus terus, mereka akan menemukan ruko tersebut. Lurus lebih jauh dan mereka akan menemukan jalan kota kembali.

Tiba-tiba, kilat petir terlihat tak jauh di depan mereka, membuat agen yang mengemudi dan Balefire tersentak dan membuat sang pengemudi menginjak rem. Kurang dari sedetik suara guntur nyaring terdengar memenuhi mobil.

“Anjing!” Agen di sampingnya reflek berteriak kaget. Mereka terhenti di tengah jalan. Masing-masing personel menenangkan dirinya untuk beberapa saat. Beberapa saat kemudian sang pengemudi menjalankan lagi mobilnya.

Sebelum dia sempat menginjak pedal gas, kilat terlihat lagi tepat di depan mereka. “Yang benar saja!?” Ermes berteriak kaget selagi guntur kedua terdengar sama nyaringnya seperti yang pertama.

Tidak menunggu waktu lama, petir terjadi ketiga kalinya. Para personel mengamati dengan tegang bagaimana petir tersebut menyambar titik yang sama berkali-kali. Hujan juga mulai semakin deras melanda. Tidak ada yang tahu kalau Balefire lah yang paling terbelalak melihatnya dari balik masker gasnya.

Apa yang…

Tiba-tiba terdengar suara radio berderak. Agen yang memegang kemudi dengan cepat meraihnya. “Ini Agen Senior Dilan Bara! Kami meminta bantuan semua personel terdekat yang kebetulan berada di daerah Cisarua dan sekitarnya! Kami tengah menghadapi fenomena anomalus di ruko terbengkalai, ditandai dengan sambaran petir tanpa henti di daerah ini!”

“Pak ketua?!” Ermes segera mendekati kursi depan. “Tunggu, bagaimana mereka bisa ada di sini juga?” Agen di sampingnya ikut menanggapi, meski dia tidak ikut mendekat.

Balefire dengan cepat berkata kepada personel yang memegang radio, “Balas dan tanya apa yang terjadi, cepat!”

Agen tersebut menatap Balefire sekilas sebelum merespon, “Agen Samson di sini, beserta Agen Senior Ermes dan Agen Adrian. Kami kebetulan berada di daerah yang sama dan kemungkinan besar sangat dekat. Tolong beri tahukan kondisinya!”

“Kami tengah menyelidiki salah satu ruko terbengkalai sebagai lanjutan sebuah kasus yang kami tangani sebelumnya. Tiba-tiba petir menyambar bangunan ini berkali-kali. Bangunan ini juga mulai bergetar. Kami tidak akan bisa keluar dari sini karena petir terus menyambar tempat ini! Mohon bantuan kendaraan besar untuk membuat jalur pelarian!”

Balefire mendekat dan berkata, “Katakan kepada mereka untuk mencari apakah ada keris tertancap di lantai dasar ruko itu! Lakukan saja!”

Agen itu menatap bingung sesaat sebelum meneruskan hal tersebut ke radio. Tak terduga olehnya, terdengar balasan berupa, “Kami menemukannya! Bagiamana kalian tahu dan apa yang harus kami lakukan dengannya?”

“Tendang sejauh mungkin! Lakukan secepat mungkin juga!” Balas Balefire seakan dirinya yang bicara kepada radio. “Kami bersama Peneliti Junior Balefire di sini. Dia meminta kalian untuk menendangnya sekuat tenaga dengan cepat!” Agen tersebut meneruskan.

“Harus ditendang! Kalian akan tersambar jika mencoba mencabutnya!” Balefire menambahkan.

Tidak terdengar balasan untuk sesaat. Petir di depan mereka sepertinya berhenti menyambar sekarang. Akhirnya terdengar suara, “Sepertinya itu berhasil. Katakan posisi kalian agar-“ Suara dari radio terputus sesaat. Balefire bisa mendengar suara bergemuruh dari kejauhan. Bukan suara guntur lagi, tetapi seakan seperti suara sebuah bangunan tengah roboh.

“Ketua! Ketua! Tolong balas!” Agen di samping Balefire terus berteriak. “Kau tunggu apa? Asalnya pasti dari ruko tujuan kita! Tancap gas!” Balefire mencoba menekannya. Agen tersebut mengangguk dan segera menginjak gas, tidak lagi memedulikan lubang-lubang di jalan.

Balefire mengamati bagaimana jalanan di depan mereka kini mulai diguyur hujan lebat. Dari kejauhan, dia bisa melihat sesuatu yang besar tengah bergerak. Dia tidak memedulikan itu sama sekali.

Pikirannya terfokus akan hal berbeda.

Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar! Aku benar!

Dia memang masih hidup!


Sebuah telepon berbunyi di dalam sunyinya ruangan. Sebuah tangan berkerut meraihnya dan membuka telepon lipat tersebut.

“Ya, mereka memang ke sini tadi.”

Pria tua yang Balefire temui berkata kepada siapapun orang di ujung sambungan teleponnya. Dia menatap ke kaca rumahnya yang diguyur hujan. Petir sesekali menghiasi pemandangan suram langit, tetapi tidak terlihat ekspresi takut di wajahnya. Hanya tatapan pasrah.

“Saya sudah arahkan mereka ke sana, jadi tolong, jangan ganggu keluarga saya lagi.”

Dia menutup telepon dan meletakkannya di lemari yang terletak di sampingya. Selain ponsel lipat tersebut, terdapat sebuah bingkai foto besar yang menggambarkan pria tua tersebut berdiri di antara pasangan laki-laki dan perempuan yang lebih muda darinya di sekelilingnya. Di bawah mereka semua, terdapat anak-anak berdiri berjejer di bawah masing-masing pasangan. Sebuah foto keluarga besar.

Di bawah bingkai foto tersebut, terdapat sebuah tongkat panjang dari logam tergeletak.

Sebuah penangkal petir usang.

Kronik Situs-79

Bab 6: Remah Roti
| Guyuran Hujan Deras | Rumah Kecil Untuk Berteduh »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License