Gudang Zainuri
rating: 0+x

oleh Rigen


Gudang di belakang rumah Zainuri berlantaikan tanah. Rumah Zainuri sendiri sudah dikeramik beberapa tahun lalu, tapi Zainuri dan istrinya tak pernah merasa perlu untuk memperindah lantai gudang kecil itu, apalagi mengingat barang-barang yang tersimpan di dalamnya. Demikianlah, satu bangunan di halaman belakang Zainuri masih berlantai tanah.

Entah mengapa, keputusan sepele ini mengundang desas-desus di antara para tetangga. Mungkin memang dari sana-nya watak para warga terbiasa menggunjing urusan orang lain. Padahal, rumah Zainuri sama saja dengan tetangga-tetangganya. Hanya gudang kecil berlantai tanah itu yang mengundang gosip picisan.

Kalau mereka mau, mudah saja bagi mereka untuk bertanya pada Zainuri dan melihat ke dalam gudang itu. Takkan ada hal aneh yang akan mereka temukan, selain perkakas-perkakas logam dan kayu untuk merawat halaman.


"Jeng, sudah dengar belum?" Ujar salah satu ibu-ibu tetangga Zainuri, memulai gosip baru di sekeliling penjual sayur. "Soal gudangnya pak Zainuri itu!"

"Nggak bosen bu, ngebahas gudangnya pak Zainuri terus?" Bapak penjual sayur menyela.

"Yee, kalau nggak ada yang bisa dibahas ya nggak saya bahas!" Ibu-ibu itu menjawab ketus. "Masalahnya tiap hari ada kabar baru, harus selalu ap-tu-det!"

Si penjual sayur memilih bungkam. Mungkin pendapatnya lebih baik bahasan tentang gudang misterius itu daripada gosip-gosip lain: setidaknya rumpi-rumpi topik ini takkan menjalar jadi fitnah yang aneh-aneh. Nanti juga mereka bosan sendiri.

"Jadi, kabar barunya apa, Bu Lis?" Pelanggan sayur lainnya mendesak ibu-ibu pertama tadi untuk melanjutkan ceritanya.

"Itu, malam Jumat lalu, pak Jatmiko kan lewat depan rumah pak Zainuri. Tiba-tiba ada cahaya merah dari belakang rumahnya, pas di tempat gudang itu!"

"Ah, kirain apa. Itu mah kembang api, anak-anak masjid ngerayain habis khataman," Bu Yuni, ibu dari salah satu pemuda amir masjid, menyela sambil terkekeh. "Pas mereka mau ngerayain di depan masjid keburu diusir duluan sama pak Haji Jamal."

Para pelanggan sayur lainnya menyuarakan kekecewaan mereka serempak.


Meski sudah berkali-kali dibuktikan salah, Bu Lis dan kawan-kawan pelanggan sayur lainnya masih kelewat yakin bahwa gudang kecil di belakang rumah Zainuri menyimpan rahasia atau misteri. Sesekali bahkan ada orang-orang yang mengintip atau menyelinap ke gudang Zainuri, mencari-cari cela dan alasan untuk menggubah gosip baru.

Tentu saja, orang-orang yang menyelinap ke gudang Zainuri hanya akan menemukan barang-barang yang biasa saja. Namun, dalam rangka menjadi bintang siklus gosip hari itu, mereka akan membual-bual cerita yang tak jarang melampaui batas nalar. Cerita-cerita itu hampir tak pernah konsisten satu sama lain, tapi kebenaran sudah lama tidak menjadi fokus lingkar gosip tetangga Zainuri.

Istri Zainuri mulai gusar. Selain harus berurusan dengan orang-orang yang sesuka hati keluar masuk halaman rumahnya, istri Zainuri juga harus mendengar desas-desus tanpa henti ke mana pun ia pergi. Desas-desus yang ia dengar penuh dengan kebohongan dan tak berdasar, namun terlalu melelahkan untuk dikoreksi satu-per-satu. Akhirnya, istri Zainuri tak tahan lagi dan mengadu pada suaminya.

"Aku risih mas, orang-orang seenaknya mondar-mandir, ngintip sana-sini."

"Ya mau gimana lagi dek? Kalau aku marahin mereka malah makin ngeyel nanti."

"Terus mas mau diam saja? Nggak ada usaha cari solusi?"

Zainuri menggaruk kepalanya. Masalah mentalitas massa susah untuk diatasi—seperti kata penulis kenamaan Jonathan Swift, orang-orang tak bisa dilogika keluar dari posisi dan pendapat yang tak dicapai melalui logika.

"…gini deh. Besok aku panggil pak Udin lagi, biar gudang belakang itu dikeramik juga."


Sayangnya, memasang keramik di gudang itu gagal untuk membendung gosip-gosip picisan tetangga Zainuri. Sebaliknya, rumor mereka semakin menjadi-jadi.

"Tuh kan jeng," mulai Bu Lis. "Kemarin pak Zainuri manggil pak Udin buat masang keramik di gudangnya! Pasti pak Zainuri nyembunyiin sesuatu di bawah gudang itu!"

"Ah masa sih bu?" Salah satu ibu-ibu yang lain menyanggah. "Paling juga pak Zainuri cuma capek digosipin mulu sama Bu Lis."

Bapak tukang sayur tertawa kecil.

"Kalo nggak ada yang disembunyiin kenapa harus peduli?" Bu Rina membela kawan dekatnya, Bu Lis. "Kalau gosip Bu Lis cuma omong kosong, nggak mungkin pak Zainuri sampai rela keluar uang buat nutup-nutupin alasan lantai tanah di gudangnya!"

Bapak tukang sayur yang menyaksikan perdebatan di sekeliling gerobaknya menggaruk kepala. Kalau para ibu-ibu penggosip itu bukan pelanggan setia sayur-mayurnya, mungkin sudah lama dia melabrak gunjingan liar tentang gudang pak Zainuri. Sayangnya, dapur bapak tukang sayur itu masih perlu lembar uang mereka untuk dapat mengepul.


Istri Zainuri sendiri sudah lama tak membeli sayur di gerobak keliling bapak tukang sayur itu. Memang dari dulu istri Zainuri lebih suka pergi ke pasar pagi-pagi, ketimbang menunggu gerobak yang agak siang. Sekalian olahraga, katanya. Dan semenjak gosip tentang gudang Zainuri menyebar, istri Zainuri berhenti sama sekali membeli sayur di gerobak keliling itu.

Kendati demikian, istri Zainuri tak berhasil sepenuhnya menghindari isi gosipan dari lingkar sosial Bu Lis. Setiap kalimat yang ia dengar membikin hatinya semakin terbakar, setiap isu desas desus baru menyulut amarah ke ubun-ubun.

"Mas, bongkar aja mas, gudang belakang itu mas!" ujar Istri Zainuri, setengah menangis.

"Terus barang-barang di dalamnya mau ditaruh mana dek?"

"Ya taruh di dalam rumah kek, dikubur kek, di atas genteng kek! Aku sudah gak peduli mas! Gak kuat hati aku dengerin tiap hari mas!"

Istri Zainuri membanting pintu kamar mereka, meninggalkan Zainuri sendirian.

Di luar, awan mendung gelap mulai berkumpul, diiringi guntur yang sesekali menggelegar: tanda hujan akan segera tiba. Istri Zainuri mengabaikan semua itu dan bergegas ke dalam gudang di belakang rumahnya, mengacak-acak perkakas untuk mencari sesuatu. Luka dan lecet tak ia pedulikan, meski karat-karat perkakas itu menyesap ke dalam aliran darahnya.

Akhirnya dia menemukan benda yang ia cari: sebuah kapak dengan gagang panjang, didesain untuk memotong batang pohon. Tak membuang waktu, istri Zainuri keluar dari gudang dan mulai mengayunkan kapak itu sekuat tenaga ke papan-papan kayu yang menyusun tembok gudang. Hujan deras yang turun entah sejak kapan menutupi suara keras hantaman kapak, membelah kayu seiring petir yang menyeruak dari balik awan.

Ketika hujan mulai reda dan Zainuri keluar dari rumah, ia menemukan istrinya basah kuyup oleh air hujan, dikelilingi puing-puing reruntuhan kayu dan perkakas kebun berkarat.

Zainuri memeluk istrinya.

"Dek, kita pindah yuk?" bisiknya pelan.


Rumah Zainuri kini kosong melompong. Tak satupun perabot tersisa, diboyong ke rumah baru mereka di kota asal Zainuri. Awalnya mereka ingin mengontrakkan rumah itu, tapi citra tempat itu sudah terlanjur dikotori oleh mulut-mulut tetangga mereka. Akhirnya mereka membiarkannya kosong, meninggalkan nasibnya ke serangga-serangga dan tumbuhan liar.

Sepetak keramik tertinggal di halaman belakang, tempat gudang kecil terkutuk dulu pernah berdiri. Sesekali masih ada orang-orang yang mencoba mengungkit keramik-keramik itu, tapi pekerjaan pak Udin tak pernah separuh-separuh. Keramik itu masih terpatri kuat, bahkan bertahun kemudian.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License