Episode Pantai Kronik Situs 79
rating: +3+x

Siang itu angin laut berhembus lembut ke arah pantai. Hamparan pasir putih yang akhirnya bertemu ombak laut jelas mengindikasikan tempat tersebut sebagai pantai. Beberapa pohon kelapa yang menaungi sekitarnya terayun pelan daunnya karena angin tersebut. Memang bukan angin kuat karena langit di atasnya cerah minim awan, menampakkan teriknya matahari siang itu.

Air laut yang jernih dan berkilauan karena cahaya Mentari membentang di sisi lainnya. Langit biru muda di atasnya menunjukkan perbedaan warna yang kontras dengan langit biru tua lautan di bawahnya. Gelombang ombak terus bergerak dibawa angin, semakin meninggi setiap mendekati permukaan sebelum menjadi ombak pantai. Akhirnya suara gemuruhnya terdengar begitu menyentuh permukaan pantai.

Tetapi ombak tesebut tidaklah hancur karena menghantam permukaan berpasir pantai, melainkan karena deretan kawat berduri di depannya.

Di sinilah kenormalan pantai umum berakhir. Selain ketiadaan orang yang menikmati keadaan pantai, terdapat sebuah parit buatan yang panjangnya membentang berpuluh-puluh meter, lengkap dengan kawat silet penuh durinya di sisi parit tersebut tepat di depan ombak laut.

Di dalam parit tersebut, beberapa orang tengah bekerja dengan pakaian biasa. Beberapa orang yang paling depan terus menggali pasir di depan mereka dengan sekop, memperpanjang parit yang mereka tempati. Sedangkan itu, orang-orang di belakangnya mengangkat pasir yang sudah digali ke atas dan merapikan sisa galian di belakangnya. Sesekali mereka memasukkan tangan mereka ke dalam pasir di permukaan parit, mengeluarkan satu meter kawat silet dari dalam pasir. Begitu galian mereka cukup jauh, mereka seakan berjaga-jaga akan sesuatu sebelum dengan cepat mencoba memasangkan kawat silet tersebut di sisi parit mereka. Mereka terus mengulang kegiatan tersebut, tidak memedulikan tangan mereka yang berdarah tiap menggenggamnya.

Setiap kali ombak menghantam kawat yang mereka pasang, ia langsung hancur, pecah seketika bak balon yang diisi air begitu bersentuhan. Orang-orang di bawah berteriak selagi mencoba menghindari percikan air dari atas dengan merapat ke dinding parit.

Dan di atas parit tersebut, terdapat sekumpulan orang lagi tengah berjalan selagi mengamati mereka. Berbeda dengan warga biasa di bawah, orang-orang yang mengamati mereka dari atas mengenakan seragam taktis gelap sampai ke helmnya minus senjatanya. Sebuah logo lingkaran dengan tiga panah menusuknya terukir di lengan seragam mereka.

Tiba-tiba beberapa menoleh ke belakang. Sekelompok orang lagi mendekati mereka. Sekumpulan personel berseragam juga, meski dipimpin oleh seseorang yang mengenakan jas putih khas jas lab. Aspek taktis darinya hanyalah dari masker gas yang dikenakannya.

“Asisten Peneliti Senior Christopher, bukan?” Salah satu personel yang sudah ada di sana duluan bicara.

Peneliti yang diajaknya bicara mengangguk sebagai jawaban. Dia berjalan melalui kumpulan agen di depannya sebelum mengamati suasana pantai di depannya. Dia mengembuskan nafas pelan. Tidak ada yang tahu kalau dari balik masker gas yang dikenakannya, dia menatap hamparan pantai yang dicemari parit dan kawat silet tersebut dengan kecewa.

“Kampret…”


Beberapa jam yang lalu

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Seorang berseragam peneliti memasuki ruangan dengan tergesa-gesa. Dia membenarkan kacamatanya selagi meletakkan setumpuk kertas yang sebelumnya dipegangnya.

“Bale,” Dia berkata dengan nada antara semangat atau tidak sabaran. Orang yang dipanggilnya menoleh dari monitornya dan membalas, “Ya, Pak Louis?”

“Kita dapat penelitian!” Dia berkata. Dia tidak terdengar senang saat mengatakan itu, lebih ke arah gugup.

Bale hanya mengembuskan nafas dari balik masker medis yang dikenakannya. Dia jelas tidak senang mendengar itu. Dengan tak bersemangat dia berkata, “Di mana?”

Dia tahu jika atasannya dapat penelitian, dirinya yang dikirim untuk melakukannya.

“Percaya atau tidak, pantai.” Louis menjawab.

Bale tertegun. Itu jelas meleset dari tebakan awal di pikirannya yang berkisar antara menyusuri hutan atau mendaki gunung. Tetapi kemudian dia ingat dia pernah membaca mengenai H. P. Lovecraft sehingga dia berkata pelan,

“Apa… anomalinya?”

Louis membolak-balik kertas di meja dan menjawab, “Beberapa orang… membuat kontruksi dari pasir. Di sini tertulis masyarakat sudah diamankan meski masih ada orang tersisa yang masih di lokasi.”

Bukan anomali laut, ya… Bale merasa tenang sedikit. Jika orang-orang yang terlibat sudah diurus agen yang ada di lokasi, artinya dia di sana seharusnya hanya untuk inspeksi. Anomalinya pasti kecil sehingga masyarakat mudah diamankan pikirnya.

Lagi pula, dia sudah lama tidak melihat laut. Sedikit waktu istirahat di luar situs tidaklah terdengar buruk, malah sebaliknya. Dia merasa sedikit paparan sinar matahari merupakan sesuatu yang diperlukannya setelah terkurung di ruang dingin ini untuk waktu lama. Dia tanpa sadar mengangguk selagi tersenyum di balik masker medisnya selagi membayangkan suasana pantai yang sering ditunjukkan di televisi.

Dengan pikiran seperti itu, Bale akhirnya berdiri dari kursi kecilnya di pojokan dengan rasa semangat dan berkata, “Baik, kapan aku bisa berangkat?”


Sekarang

“Anda mengatakan sesuatu?” Salah satu agen membuyarkan lamunannya.

Bale dengan cepat menggeleng. Dia mengamati area pantai yang teknisnya sebelas duabelas seperti area konstruksi, semacam hinaan terhadap sisa pemandangan indah yang ada. Bale mengembuskan nafas pasrah dan mendongkak ke atas. Setidaknya cuacanya cerah, pikirnya.

“Ah, Pak Christopher!”

Bale menoleh ke belakang. Atasannya berjalan pelan di belakangnya diiringi sisa personel lain.

“Sejujurnya, tumben anda ikut ke lapangan, Pak Louis.” Bale berkata begitu atasannya cukup dekat.

Louis hanya terkekeh dan membalas, “Kau kira gue akan milih di situs aja? Enak aja, dah lama gue gak ke pantai.”

“Begitu ya,” Bale menanggapi selagi berbalik. “Ini pertama kalinya saya di pantai.”

“Huh, kau serius? Kau tak pernah ke pantai sekalipun?”

Bale mengangguk. “Saya pernah ke dermaga beberapa kali, tapi kalau ke pantai belum pernah. Belum ada kesempatan.”

Louis hanya mengangguk memahaminya. Dia lalu berkata, “Tapi gue ingatkan saja, kita tidak di sini untuk liburan. Tugasmu adalah mewawancarai beberapa orang di parit sana dan lakukan observasi. Ini tidak ada bedanya dengan tugas biasa.”

“Tentu.” Bale mengangguk. Dia memang tidak mengharapkan bisa bersandar dengan santai di kursi panjang dinaungi payung dan meminum kelapa seperti yang dia sering tonton di TV. Atasannya jelas tidak akan mengizinkan itu. Dia melangkah menuju parit di depannya.

Tetapi setelah beberapa saat melangkah, sesuatu terbesit di pikirannya.

“Tunggu, jadi tugas bapak di sini untuk-“ Bale berbalik, hanya untuk melihat kalau Louis sudah duduk di kursi panjang yang entah dari mana dia dapatkan, meski dilihat dari agen di sampingnya yang menyodorkan minuman, jelas dia yang menyiapkannya. Lengkap dengan payungnya.

“Apa? Gue ngawasin kau kerja di sini. Sudah sana kerja!” Louis berkata selagi menyerahkan sejumlah uang ke agen di sampingnya.

Mata kanan Bale berkedut tanpa sadar.

Dia lalu memutuskan untuk mengabaikannya dan berjalan kembali ke arah parit. Dia mendekati salah satu agen yang tengah berjaga mengamati parit.

“Huh, ada personel kita juga di sana?” Bale berkata tanpa sadar. Dia menatap beberapa personel berseragam agen serupa tengah ikut menggali parit di bawah. Sarung tangan mereka sudah berwarna kecokelatan menandakan mereka sudah cukup lama bekerja di parit itu.

“Ya, beberapa personel yang pertama merespon. Mereka terjebak di sana saat mengevakuasi warga. Semuanya menolak naik ke atas.” Agen tersebut menjelaskan.

Bale lalu berjalan mendekati ujung parit, memastikan dirinya tidak terlalu dekat agar tidak jatuh sebelum memanggil agen yang dilihatnya. “Hey, kalian!”

Beberapa orang menoleh termasuk agen-agen yang dia ingin ajak bicara. Bale melambaikan tangannya dan mengisyaratkan para agen tersebut mendekat.

“Jadi, apa-apaan yang kalian lakukan di bawah sana? Bukannya kalian harusnya mengamankan orang-orang di sana?” Tanyanya.

“Awalnya begitu, tetapi begitu kami turun ke sini, entah kenapa suara ombak terdengar sangat nyaring di atas.” Salah satu agen menjelaskan. “Orang-orang di sini, mereka bilang kalau air laut di atas mengenai kulit akan terasa sakit. Jika kita tidak memasang barikade di atas, air laut akan masuk ke parit dan kita akan mati!”

“Dan kalian percaya akan itu? Kalian agen Yayasan!” Bale kembali bertanya dengan heran.

Salah satu agen menggeleng dan berkata, “Kami lebih memilih untuk tidak mengambil risiko. Tidak dengan suara ombak senyaring itu.”

“Nyaring…” Bale menggumam. Dia berdiri dan mengamati ombak yang menghantam kawat. Dia memang belum pernah ke pantai sebelumnya, tetapi suara ombak tidaklah terasa aneh.

“Di atas sini suara ombak cukup normal, menurutmu jika harus membandingkan, seperti apa suara ombak terdengar?”

Salah satu agen mendekat, “Mirip seperti suara roket RPG saat mengenai target.”

Itu cukup nyaring… pikir Bale. “Selain suara, apa ada hal lain yang kalian rasa tidaklah wajar begitu kalian masuk parit?”

“Uhh… apa saat ini tengah mendung? Langit tertutup awan di bawah sini.” Salah satu lagi menjawab.

“Yeeesh, kau tak melihat matahari seterik itu? Langit bersih tanpa awan dan aku kepanasan berdiri di sini. Sialnya ini bahkan belum pukul satu.” Bale berkata.

“Entahlah, kau terlihat cukup gelap dari sini.” Agen tersebut mengangkat bahu.

Bale merasa sudah cukup bertanya sehingga dia menjauh dari parit. Dia mendekati agen yang berjaga sebelumnya dan bertanya, “Kau bisa mengontak agen di sana? Aku perlu bicara dengan Louis” selagi menunjuk ke arah agen yang tengah berdiri di samping atasannya Louis – masih santai bersandar, sepertinya memakai kacamata hitam sekarang.

Agen tersebut mengangguk dan mengeluarkan radionya. Setelah beberapa saat, dia menyodorkan radio di tangannya kepada Bale.

“Halo, Pak Louis.” Bale berkata.

Terdengar balasan singkat setelahnya, “Apaan?”

“Saya sudah mewawancarai orang-orang di parit ini. Mereka sepertinya terkena efek bahaya kognitif. Mereka menyatakan kalau suara ombak senyaring suara ledakan dan cuacanya gelap.” Bale menjelaskan apa yang dia ketahui.

“Kognitif ya… ya udah, catat sana.” Balas atasannya dengan singkat.

“Ngg, mereka juga bilang jika mereka terpapar air, mereka akan mati. Menurutku mereka terkena aquafobia begitu masuk ke parit.”

Radio kemudian berderak, “Apa kau sudah konfirmasi itu?”

“Maaf?” Bale bertanya.

“Klaim mereka? Apa airnya memang berbahaya bagi mereka atau itu cuma efek bahaya kognitif?” Louis memperjelas pertanyaannya.

Bale hanya menggaruk kepala dengan bingung. “Uhh, saya tidak tahu mengenai itu. Apa kita perlu mengontak peneliti lain di bidang kognitif?”

“Ngapain?! Lu ambil aja air laut sana, tes ama mereka! Susah amat.” Louis menjawab dengan nyaring dan kesal, menimbulkan suara serak di radio karenanya.

“Baik.” Bale membalas singkat sebelum menyerahkan radio yang dipegangnya kembali ke agen tadi, malas mendengarkan kritik atasannya lebih lanjut. Dia melangkah kembali mendekati parit, lautan berada di sisi seberang. Bale melirik ke arah samping, awalnya dia berpikir untuk mengitari parit, tetapi ujung parit dirasanya sudah terlalu jauh.

Bale lalu kembali menoleh ke depan, lebar parit mungkin sepanjang tiga atau empat meter. Dia melirik ke belakang dan mendapati ada batang pohon kelapa di tanah. Panjangnya jelas lebih dari 10 meter.

“Kau, panggil agen lain untuk mengambil batang pohon itu dan bawa ke sini. Kita akan perlu jembatan untuk penelitian ini.” Bale memberi arahan. Agen tersebut segera bergerak selagi Bale kembali menoleh ke depan. Bukan ke arah parit kali ini, tetapi ke arah pemandangan laut di depannya.

“Persetan…” Dia bergumam sebelum duduk di pasir dan bersandar. Lebih baik mendapat pengalaman kurang seperti yang diharapkan daripada tidak sama sekali.

Beberapa saat kemudian, empat agen berjalan mendekatinya, menyebabkan Bale kembali berdiri segera. Dengan instruksinya, para agen mengambil ancang-ancang sebelum melempar batang pohon yang mereka bawa. Untungnya ujungnya berhasil mencapai ke sisi seberang.

“Baik…” Bale menggumam. Dia hanya perlu berjalan melewati parit lalu mengambil beberapa botol air untuk pengujian. Dia merayap perlahan di atas pohon tersebut. Para agen menahan ujung batang pohon agar tidak bergerak selama dia melintas.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari batang pohon di bawahnya. Bale terdiam seketika, matanya perlahan melirik ke bawah. Dia lalu melirik ke belakang, ke arah para agen yang sama terlihat kebingungan dan gugup juga.

“Eh, bentar…“

Dan kemudian, batang pohon tersebut seketika patah menjadi dua, tepat saat Bale berada di tengah-tengah.

Teriakan sumpah serapahnya menggema sebelum dia menghantam dasar parit.


Siang itu angin laut berhembus lembut ke arah pantai. Memang bukan angin kuat karena langit di atasnya masih cerah minim awan, masih menampakkan betapa teriknya matahari siang itu. Gelombang ombak dari laut biru terus bergerak terbawa angin, tidaklah berhenti sekalipun menuju pantai. Suara gemuruhnya terdengar begitu menyentuh permukaan pantai.

Masih menghantam kawat berduri yang semakin panjang tiap jam.

Orang-orang di parit sudah cukup lama menggali parit tersebut. Digerakkan oleh rasa takut, atau termotivasi akan adanya tujuan dan arahan setelah terjebak di parit tersebut berjam-jam, mereka terus menggali dan memasang kawat silet yang mereka terus ambil dari pasir seakan tidak ada batasan akan itu.

Personel Yayasan masih berjaga di atas parit, beberapa mengamati parit sedangkan beberapa lagi mengamati sekeliling pantai. Tiba-tiba beberapa menoleh ke belakang. Sekelompok orang lagi mendekati mereka. Sekumpulan personel berseragam juga, meski dipimpin oleh seorang perempuan berambut pirang pudar yang mengenakan jas biru tua. Di belakangnya seorang pria tinggi yang mengenakan kemeja putih berjalan tak jauh di belakangnya.

“Peneliti Senior Onyx, ya?” Salah satu personel yang sudah ada di sana duluan bicara.

Perempuan di depan terus berjalan diikuti seorang agen yang ikut bersamanya. Perempuan itu tahu peneliti di belakangnya yang mereka perlukan. Dia di sana hanya sebagai asisten.

Dia berjalan melalui kumpulan agen di depannya sebelum mengamati suasana pantai di depannya. Dia mengembuskan nafas pelan. Dia tidak mengatakan apa pun, hanya menatap hamparan pantai yang dicemari parit dan kawat silet tersebut dengan kecewa.

“Tidak seperti yang kau bayangkan, Lucy?” Agen yang mengikutinya tadi akhirnya bicara. Dia sepertinya mencoba untuk tidak tertawa.

Lucy mengangguk. Dia tahu senyumnya palsu karena matanya menunjukkan dengan jelas kekecewaannya.

“…Hiks. Ya…”


Beberapa jam yang lalu

Suara ketukan terdengar dari arah pintu. Beberapa saat setelah itu, seorang perempuan berambut pirang yang masih mengenakan kaus biasa berjalan mendekati pintu tersebut dan membukanya.

“Kak Onyx?” Dia berkata dengan nada heran. “Ada apa ya, Kak?

Seorang pria yang mengenakan jas lab khas peneliti berdiri di depannya. “Lucy, ku dengar kau di ruang tunggu tadi. Kau baru aja masuk mess, kan?”

Lucy mengiyakan perlahan dengan heran. Dia ingat dia baru saja selesai makan siang tadi. Dia mencoba mengingat apa ada sesuatu yang dilakukannya sehingga Onyx mencarinya.

“Baguslah, ku kira aku mengganggu waktu tidurmu.” Dia berkata dengan nada lega. “Kau keberatan untuk membantuku dalam penelitian ke luar situs sebentar?”

“Huh…” Lucy membalas tanpa sadar. Tidak biasanya Onyx meminta tolong langsung dengannya, apalagi sampai mencarinya.

“Aku perlu kau mengonfirmasi sesuatu di lapangan. Ini berkaitan dengan… uhh… sesuatu yang kau kerjakan sebelumnya.”

Onyx sepertinya bukan mencoba misterius, dia memang sepertinya kebingungan mendeskripsikan apa yang dia bicarakan. Lucy mencoba mengingat apa yang terakhir dia kerjakan. Misi terakhirnya di lapangan adalah investigasi KDP. Mungkin sesuatu mengenai itu… pikir Lucy.

Lucy menatap ke Onyx dan mencoba memperjelas dengan bertanya, “Lokasinya di mana, Kak?”

“Daerah pantai di… Agrabinta, kalau tidak salah? Yang jelas karena lokasinya tercatat di Kabupaten Cianjur, bakal diurus Situs-79.”

“Tunggu, di pantai?” Lucy bertanya, terdengar jelas dia mulai tertarik. Pikirannya dengan cepat beralih dari pengalaman misi terakhir yang ditanganinya menjadi pengalaman sebelumnya dia ke pantai. Terakhir dia ke sana saat liburan kuliah. Itu sudah beberapa tahun lalu, jadi dia merasa bersemangat begitu mendengarnya.

“Uh… Lucy?” Onyx bertanya, melihat Lucy sepertinya tidaklah lagi memperhatikan perkataannya. Dan dia memang benar, Lucy masih memikirkan dia bersandar di pantai memandangi laut lepas sampai sore.

Sampai akhirnya dia tersentak dan baru sadar dia masih di situs dengan Onyx masih di depannya.

“Ah! Maaf, Kak. Kau bilang apa tadi?” Lucy berkata, sedikit malu karenannya.

“Jadi, apa kau bisa menemaniku-“

Belum sempat Onyx menyelesaikan perkataannya, Lucy mengangguk dan berkata, “Ya, bisa Kak. Tunggu bentar aku siap-siap dulu!” Sebelum menutup pintu dengan cepat.


Sekarang

“Ah… beginilah hidup…” Louis berkata pelan. Dia memandangi ke arah pantai, mencoba tidak memedulikan galian parit di depannya dan hanya berfokus ke laut saja.

“Lu tau, gue dulu ada rencana ngebawa istri ke Bali.” Louis terus bicara, sepertinya kepada agen yang berjaga di sampingnya. “Sayangnya tidak bisa sekarang.”

Dia menunduk untuk meminum kelapa di sampingnya. “Itu salah Herman, kau tahu.”

Dia meletakkan kembali minumannya dan kembali bersandar. Sesuatu di sudut matanya menarik perhatiannya dan dia menoleh. Seseorang yang mengenakan jas lab berdiri di sampingnya.

“Bale? Kau sudah selesai? Ngomong dong di radio!” Dia berkata dengan kesal.

Tiba-tiba, sesosok tubuh jatuh ke tanah. Louis tersentak dan duduk seketika. Seorang agen tergeletak tak jauh darinya, jelas agen yang berdiri di sampingnya tadi.

Tiba-tiba, payung di atasnya terlempar. Louis reflek menutup matanya karena silau. Dengan perlahan dia membuka matanya kembali.

Onyx berdiri di sampingnya, menatap langsung ke arahnya.

“Keparat!” Louis berteriak kaget selagi melompat menjauh. Dia berguling beberapa kali sebelum secepatnya berdiri. Para agen di sekitarnya juga mulai berlari mendekat begitu mendengar keributan.

“Kalian! Amankan orang gila itu dan akan kubayar kalian sejuta!” Louis berkata dengan panik.

Dua orang agen yang paling depan saling menatap sebelum mengeluarkan pistolnya dan berkata, “Diam di tempat! Anda terbukti tengah berupaya melukai sesama personel Yayasan!”

Onyx menatap para agen di depannya. Dia tidak bicara, tetapi dia mulai membunyikan jarinya.

Para agen diam menatapnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya salah satu dari mereka berkata, “Dapat dipahami, semoga hari anda menyenangkan.”

Dan mereka pun mengantongi senjata mereka dan berjalan menuju arah laut, sejauh mungkin dari mereka.

“Woy! Kalian kemana?!” Louis berkata dengan frustrasi.

“Ngg, sudah waktunya ngecek orang di parit.”

“Maaf, gue ga dibayar buat ini.”

“Ga tau, saya pura-pura ga liat!”

“Tiba-tiba pengen ngewujudkan cita-cita jadi kapal laut.”

Para agen membuat alasan seadanya selagi berjalan menjauh dengan cepat, meninggalkan Louis yang hanya menatap mereka dengan tatapan tak percaya. Louis akhirnya pasrah menatap ke depan.

“Kemana Hansel saat kau memerlukannya, sialan…”


Sebuah mimpi.

Dia tengah berada di hutan

Dia kenal jalan setapak yang dia lalui, pepohonan di hutan ini. Dia mengenalnya sejak kecil. Begitu juga dengan adiknya. Dia menatap ke depan.

Di depannya berdiri seorang perempuan berambut pirang. Perempuan tersebut membelakanginya. Dia mengenakan gaun coklat usang, ayah mereka memang tidaklah berkecukupan.

Perempuan tersebut berbalik. Dia tidak dapat melihat wajahnya, tetapi dia yakin sekali perempuan tersebut tersenyum.

Bibirnya bergerak, seakan dia akan mengatakan sesuatu.

Tiba-tiba, dia ditubruk jatuh dari samping oleh seseorang yang mengenakkan jas lab dan terpental ke jurang gelap bak tanpa dasar yang tiba-tiba berada di samping jalan sepetak. Orang itu langsung memegang bahunya dan menggoyangkannya selagi menatapnya dari balik kacamatanya.

“Hansel!”

Hansel tiba-tiba tersentak. Matanya melihat sekeliling; pemandangan gelap kamar messnya sudah lama familiar baginya.

Dia akhirnya sadar yang barusan itu mimpi.

Scheiße!” Hansel berteriak kesal, tidak tahu apakah yang barusan tadi mimpi buruk atau mimpi bagus yang tiba-tiba terpotong.

Dia kembali berbaring dengan kesal,

Aku benar-benar harus mempertimbangkan untuk berhenti bekerja untuk Louis…


Kembali ke keadaan di pantai, Louis masih berdiri membeku sedangkan Onyx masih diam seakan ada yang ditunggunya. Yang membatasi mereka hanyalah kursi panjang di tengah-tengah mereka.

“Aku punya satu pertanyaan,” Onyx berkata pelan, “dari mana kau tahu mengenai penelitian ini?”

“Gue… uhhh… mendengarnya dari personel lain.” Louis menjawab, dia jelas berkeringat gugup.

“Tapi bagaimana ceritanya dokumen-dokumen untuk penelitian itu hilang dari mejaku dan tiba-tiba kau ada di sini?” Onyx kembali bertanya, kali ini dengan penekanan.

“Uhh… ehm, itu cuma pikiranmu doang?” Louis membalas.

“Lihat, ini sebabnya aku membawamu, Lucy.” Onyx berkata dengan kesal selagi melirik ke Lucy di belakangnya. “Menurutmu aku benar atau tidak?”

Lucy sendiri akhirnya paham apa yang Onyx maksud dengan sesuatu yang kau kerjakan sebelumnya. Lucy mengembuskan nafas sebelum hendak menjawab, tetapi kemudian dia melihat Louis di kejauhan. Dia memberikan gestur menunjuk dirinya sendiri sebelum menunjukkan gestur potong leher. Dia jelas gugup di sana.

Pada satu sisi, Lucy berpikir dia pantas mendapatkannya, tetapi dia kemudian melirik ke arah agen yang tengah tergeletak di sampingnya yang masih tidak bergerak(masih bernafas) dan berpikir kalau dia tidaklah sepantas itu untuk mendapatkannya.

“Ku rasa… ehm… kau meninggalkannya di luar?” Lucy menjawab perlahan.

“Huh, tidak mungkin. Aku di ruangan saja sebelum dokumen itu hilang.” Onyx membalas dengan bingung.

“Tapi tidak mungkin hilang di depan mata, kan? Kak Onyx ke mana saja saat di luar ruangan?” Lucy lanjut bertanya.

Onyx berpikir sebentas selagi menjawab, “Awalnya ke kamar mandi… lalu ruang penelitian… ah, tadi ada ke luar situs sebentar… ruang tunggu… ke kamar mandi lagi… lalu ke ruang penelitian…”

“Ngg, ku rasa jika tertinggal di salah satu tempat itu, jika Pak Christ tidak sengaja memungutnya itu bukan salahnya, kan?” Lucy berkata.

“Sial… kau benar…” Onyx kelihatannya tidaklah senang akan kemungkinan itu, tetapi kemudian dia menoleh ke arah Louis dan berkata, “Baik, ku rasa kau tidaklah salah. Sekarang tunjukkan di mana kau taruh dokumen-dokumen itu.”

“Di mobil Yayasan di parkiran.” Louis menunjukkan arahnya. Onyx lalu berjalan segera ke arah tersebut.

Lucy hanya memandangi Onyx yang menjauh, memikirkan apakah harus dia ikuti atau tunggu saja dia kembali. Dia tiba-tiba menyadari Louis berjalan mendekatinya.

“Noh,” Louis meletakkan lembaran uang seratus ribu di kursi. “Terima kasih sudah menyelamatkanku tadi.”

Lucy menggeleng selagi menatapnya, “Tidak, aku tidak perlu uangmu. Aku ingin kau berhenti mengganggu atasanku Herman.”

“Tutup indramu dengan itu.” Louis berkata selagi berjalan menjauh, tidaklah memedulikan uang yang dia letakkan tadi.

Lucy menatap lembaran uang di meja. Jumlahnya jelas sejuta. Tetapi dia enggan memungutnya; dia tidak akan merendahkan dirinya kepada orang yang menyakiti orang terdekatnya.

“Uhh, apa itu bayaranku?”

Lucy menoleh ke belakang, agen yang tergeletak tadi sudah sadar dan perlahan berdiri selagi memegangi kepalanya.

“Tidak, ini untukku.” Lucy menjawab selagi mengantongi uang tersebut. Dia berpikir setidaknya dia bisa beli sepuluh kotak donat merek ternama dengan ini.

Dia lalu berjalan perlahan mendekati laut. Mengamati parit yang Onyx bilang merupakan fokus anomali yang diteliti sebelumnya jelas bukan liburan yang dipikirkannya, tetapi setidaknya dia kini ada di pantai. Akhirnya dia sampai di tepi parit.

Lucy melihat beberapa orang tengah bekerja di parit tersebut, antara menggali parit atau memasang kawat.

Tiba-tiba Lucy tersadar ada beberapa orang yang mengenakkan seragam agen Yayasan ikut bekerja di sana.

Lucy lalu menyadari ada beberapa orang agen Yayasan, dan ada seorang peneliti Yayasan di bawah sana. Dan dari masker gas yang dikenakannya, dia tahu itu siapa,

“Balefire, itu kau?” Lucy setengah berteriak. Bale yang saat itu tengah membuat boneka gantung untuk kesekian kalinya seketika mendongkak. “Kau, Peneliti Junior Lucy bukan?”

“Apa yang kau lakukan di bawah sana?”

“Aku tengah mencoba mewawancarai mereka ketika tiba-tiba aku terjatuh ke parit. Di bawah sini terdapat efek kognitif di mana suara ombak terasa seperti ledakkan meriam. Cukup lucu mengamati kau di atas sana baik-baik saja meskipun suaranya.” Bale menjelaskan.

“Kau dan agen-agen itu tidak mencoba naik?” Lucy bertanya dengan heran.

Bale hanya menggeleng, “Kau akan paham betapa ngerinya di atas sana jika kau di bawah sini.”

“Oh ayo lah, kau tahu itu cuma bahaya kognitif, mungkin hilang jika kau sudah naik.” Lucy berkata selagi mencoba berlutut. “Sekarang genggam tanganku. parit ini tidaklah tinggi dari bawah sana, kan?”

“Tidak, aku memilih di sini saja.” Bale membalas selagi terus bekerja.

Lucy mengembuskan nafas. “Ya sudah sih.” Katanya sebelum mencoba berdiri.

Tiba-tiba saja, pasir yang dipijaknya ambruk ke parit.

“Eh,”

Cuma itu yang Lucy sempat katakan sebelum terguling ke dasar parit.


“Hei, ke mana Lucy tadi?” Onyx berkata selagi kembali ke pantai.

“Entahlah, mungkin dia pulang mengetahui kau cuma membawanya untuk meyakinkan teori gilamu.” Louis membalas dari jarak aman.

“Kenapa kau tidak pulang juga, ini bukan penelitianmu, Keris.” Onyx membalas dengan kesal.

“Aku punya sepuluh kali lipat pengalaman melakukan penelitian lapangan dibandingkan denganmu, hanya karena kau yang merespon bukan berarti kau pantas menerima proyek ini.” Louis menjawab dengan nada mengejek.

“Apa maksudmu? Mereka memanggilku karena mereka mengira pembuat anomali ini mencoba mereplikasi D-Day di Normandia.” Onyx berkata.

“Huh…” Louis membalas tanpa sadar, itu terdengar masuk akal baginya.

“Tetapi mengamati lebih lanjut, tidak ada blok Poros seperti Perang Dunia kedua. Saat itu aku menyadari kalau musuh pembuat anomali sebenarnya adalah air itu sendiri. Dia pasti berpengalaman di bidang sejarah Roma dan mencoba mereplikasi cerita Caligula memerangi lautan. Meski itu tidaklah masuk akal karena seharusnya mereka seharusnya melakukannya di Laut Selatan, jadi kemungkinan penciptanya tinggal di daerah ini. Itu juga meningkatkan kemungkinan kalau penciptanya merupakan anartis AWCY jika memikirkan ini sebagai proyek seni.”

Onyx akhirnya selesai menjelaskan teorinya sebelum melirik ke arah Louis yang sepertinya tertegun. Menyadari Onyx menatapnya, Louis tersadar dan berkata, “Terkadang aku lupa kalau gelarmu di bidang sejarah mengingat betapa seringnya kau dipukul di kepala.”

Dan setelah mengatakan itu, mereka kejar-kejaran selama beberapa saat, dengan Louis memimpin dengan mencoba untuk tidak mati.

Akhirnya Louis berlari dan menyadari kalau dia berdiri di tepi parit. Dia menoleh ke belakang dan menyadari Onyx semakin dekat ke arahnya. Louis menarik nafas perlahan dan bersiap. Begitu Onyx cukup dekat untuk mulai memukul ke arahnya, Louis menghindar ke samping. Onyx terlambat menyadari dia berlari tepat ke arah parit.

“Aku menang.” Louis berkata dengan senyum selagi memperbaiki kacamatanya sehingga memunculkan refleksi cahaya matahari darinya.

Tiba-tiba, jasnya ditarik dan dia ikut diseret jatuh ke parit. Selagi berteriak sumpah serapah.


“Baik, itu yang terakhir.”

Peneliti Senior Herman berjalan keluar dari tenda. Pemandangan di luar tenda merupakan senja indah yang dipantulkan lautan. Kawat silet yang berderet memantulkan cahaya sore sehingga terlihat berkilau.

Herman memperbaiki postur punggungnya, dia sudah duduk di dalam tenda di ujung pantai selama berjam-jam, mewawancarai dan memberikan amnestik kepada setiap warga yang menjadi korban.

Seorang agen berlari ke arahnya. Herman menoleh ke arahnya dan berkata, “Kita sudah selesai untuk hari ini. Kemasi dokumen yang ada.”

“Maaf, Pak.” Agen tersebut berkata setelah cukup dekat dengannya. “Apa bapak meminta peneliti lain untuk mendampingi Bapak?”

“Ya, Peneliti Senior Onyx sebenarnya yang cocok untuk ini, jadi saya mengontaknya. Saya di sini cuma untuk wawancara.” Jawab Herman selagi tersenyum.

“Yah, mengenai itu…” Agen tersebut mencoba menyusun kata. “Mereka ada di parit.”

Hening sejenak.

“…Maaf?” Herman bertanya, masih mencoba tersenyum.

“Yah, mereka terjatuh ke parit. Oke lah aku tinggal makan mi sebentar, tapi saat aku kembali, para agen bilang mereka jatuh ke parit.”

"Tunjukkan padaku"

Herman lalu segera mengikuti agen tersebut. Setelah beberapa saat, mereka akhirnya sampai di ujung parit. Di bawah sana, Peneliti Senior Onyx terlihat ikut menggali parit dengan warga lain yang menentang diangkat. Dia terlihat bersemangat melakukan itu. Terdapat juga Penelti Junior Lucy tengah memindahkan hasil galian ke pinggir parit, jas biru yang tadi dipakainya diikatkannya di pinggangnya, sepertinya untuk menghindari agar tidak kotor karena kausnya sudah kusam. Dari ekspresinya, dia jelas panik di bawah sana.

Herman kemudian menyadari kalau ada peneliti lain di sana. Peneliti Junior Balefire tengah sibuk menggerakan tangannya dan menunjuk-nunjuk bak tengah memberikan perintah selagi dirinya duduk dan mengikat boneka dari tisu. Menyadari adanya Bale, Herman mencari ke sekelling dan menemukan atasannya Bale, Peneliti Senior Christopher Louis tengah tergeletak di lantai parit(masih bernafas).

Herman akhirnya mengembuskan nafas pasrah, “Siapkan ekskavator tadi.”

Akhirnya setelah beberapa jam, semua personel terlibat sudah diangkat dari parit. Sayangnya hari sudah malam sehingga mereka tidak sempat menikmati senja di pantai.

Mereka juga tidak bisa menikmati pemandangan malam di pantai karena hujan mengguyur seketika. Bale hanya bisa menaruh belasan Teru teru bōzu terbalik buatannya tadi di jas labnya untuk sementara sampai menunggu tempat kering untuk membakarnya. Dia berharap Lucy yang dari tadi mengutuk cuaca selagi mengayunkan Revolvernya tidaklah menyadari siapa yang menyebabkan cuaca tersebut.

Kronik Situs-79

Episode Pantai Kronik Situs-79

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License